Anda di halaman 1dari 15

11

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Thalassemia
Thalassemia adalah kondisi sel darah merah dengan sintesis dari salah satu

rantai hemoglobin mengalami kegagalan, tinjauan ulang mengenai rantai dan

Thalassemia digunakan untuk mengidentifikasi abnormalitas pada rantai globin

secara perlahan. Thalassemia biasanya disebabkan oleh mutasi pada gen bagian

promotor, intron, atau ekson, yang mengacu pada splicing dari mRNA sehingga

protein yang rusak masuk ke dalam tahap translasi. Thalassemia mayor dan

Thalassemia minor dibedakan dari gen homozigot dan heterozigot yang di

ekspresikan (Halliwell dan Gutteridge, 1999).


Penderita Thalassemia mayor hidupnya akan tergantung pada transfusi

darah, karena umur sel darah merahnya tidak panjang. Sel darah merah pada

orang normal umurnya 120 hari, namun pada penderita Thalassemia sel darah

merahnya hanya berumur satu sampai dua bulan (Wahidijat, 2008). Penderita

Thalassemia mayor dapat bertahan dengan transfusi darah yang teratur untuk

mempertahankan kadar Hb diatas 11 g/dl (Mujiyanti, 2006). Banyak kasus

Thalassemia meninggal karena transfusi, seperti kelebihan zat besi dan penyakit

yang didapat dari donor (hepatitis B, hepatitis C, dan HIV (Wahidijat, 2008).

2.2 Eritrosit
Eritrosit adalah sel darah merah yang mengandung hemoglobin dan

membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Sel ini berbentuk lempeng

bikonkaf yang meningkatkan area permukaan sel sehingga memudahkan difusi

oksigen dan karbon dioksida. Bentuk ini dipertahankan oleh suatu sitoskeleton
12

yang terdiri atas protein. Diameter eritrosit biasanya sekitar 7,8 mikrometer,

dengan ketebalan 2,5 mikrometer pada bagian yang paling tebal dan hanya 1

mikrometer pada bagian tengah. Volume rata-rata eritrosit adalah sekitar 90

sampai 95m3. Bentuk eritrosit dapat berubah-ubah ketika melewati pembuluh

kapiler karena sel normal memiliki membran yang sangat kuat untuk menampung

banyak bahan material di dalamnya, maka perubahan bentuk tersebut tidak akan

merenggangkan membran secara hebat, dan sebagai akibatnya tidak terjadi

pecahnya sel seperti sel lain pada umumnya (Guyton, 1990).


Molekul hemoglobin terdiri atas suatu protein globin dan suatu gugus

heme yang mengandung besi seperti yang terlihat pada Gambar 2.1. Hemoglobin

dalam darah dapat mengikat oksigen dari udara dan membentuk oksihemoglobin

dan diedarkan ke seluruh sel dalam jaringan-jaringan dan digunakan untuk

memperoleh energi. Proses ini dapat dihambat oleh adanya gas CO. Hemoglobin

akan mengikat CO karena ikatan hemoglobin dengan CO lebih kuat daripada

ikatan hemoglobin dengan oksigen. Hemoglobin mengikat oksigen melalui Fe

yang terdapat pada bagian heme (Poedjiadi, 1994).


13

Gambar 2.1 Hemoglobin Manusia (Sumber : Gupta et al., 2011)

Sel darah merah dibentuk di dalam sumsum tulang, kemudian beredar ke

seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah. Jumlah eritrosit dalam darah relatif

konstan, artinya sel darah merah baru dibentuk pada kecepatan yang sama dengan

rusaknya sel lama. Sel darah merah dapat bertahan selama 120-125 hari dalam

peredaran, kemudian sel tersebut mengalami kerusakan. Kira-kira 0,8 % dari

seluruh eritrosit mengalami kerusakan dan dibentuk setiap hari (Poedjiadi, 1994).
Apabila suatu sel rusak, Fe akan dilepaskan dari hemoglobin, kemudian

bergabung dengan transferin untuk disimpan dan digunakan lagi oleh tubuh.

Transferin ialah suatu protein yang terdapat dalam plasma dan mampu mengikat

Fe secara reversibel. Zat besi yang dilepaskan dari hemoglobin kira-kira 20

sampai 25 mg setiap hari. Dalam makanan yang normal, terdapat kira-kira 12

samapai 15 mg yang dapat diabsorbsi oleh usus. Dengan demikian apabila Fe

yang dilepaskan dari hemoglobin tidak digunakan lagi secara efisien, akan terjadi

kekurangan sejumlah besar Fe yang berbahaya.


14

Jumlah Fe dalam tubuh bergantung pada ukuran badan dan tingkat

hemoglobin, namun diperkirakan antara 2-6 g. Sebagian besar Fe terdapat dalam

hemoglobin (65%) dan dalam persediaan (25%) sebagai feritin dan hemosiderin.

Sisanya terdapat dalam mioglobin, sedikit dalam plasma dan cairan ekstrasel. Zat

besi yang terdapat dalam makanan diabsorbsi di semua bagian jalur pencernaan

makanan, tetapi yang banyak ialah duodenum. Zat besi diabsobsi dalam bentuk

ion Fe2+ dan langsung masuk ke dalam sistem sirkulasi darah. Antara 500-1500

mg Fe tersimpan dalam sel hati, limpa , dan sumsum sebagai feritin dan

hemosiderin. Feritin adalah protein yang larut dalam air, terdiri atas apoferitin dan

kompleks ferihidroksida-fosfat. Kelebihan besi yang tidak tertampung oleh feritin

disimpan sebagai hemosiderin yang tidak larut air. Pemasukan Fe yang terus

menerus ke dalam tubuh, menyebabkan tertimbunnya hemosiderin dalam hati,

karena tubuh tidak dapat mengeluarkan kelebihan Fe. Akibat akumulasi

hemosiderin dalam hati dapat membahayakan atau merusak organ tersebut

(Poedjiadi, 1994).

2.3 Metabolisme Zat Besi


Zat besi merupakan komponen dari berbagai enzim yang mempengaruhi

metabolisme di dalam tubuh. Metabolisme zat besi ditujukan untuk pembentukan

hemoglobin (Muhammad dan Sianipar, 2005). Kadar zat besi total yang terdapat

di dalam tubuh laki-laki dewasa 4-5 g dan pada wanita 3-4 gr. Enam puluh lima

persen terdapat sebagai komponen hemoglobin, 25% disimpan di dalam sistem

retikuloendotelial, sekitar 10% sebagai besi essensial jaringan lainnya

(mioglobin, enzim yang mengandung besi, sitokrom) dan hanya 0,1% terkandung

dalam plasma. Akumulasi zat besi dapat terjadi pada penderita anemia, penderita
15

hepatitis, dan Thalassemia yang memiliki hemoglobin abnormal dan hemolisis

(Baron, 1990).
Akumulasi zat besi pada hati bisa dideteksi dengan biopsi hepar. Semua

zat besi disimpan dalam bentuk feritin atau hemosiderin. Feritin merupakan

kompleks besi-protein yang essensial dan terdapat pada hampir semua jaringan

terutama dalam hepar, limfa, dan sumsum tulang belakang. Dalam hepar

kebanyakan feritin disimpan dalam sel parenkim, sedangkan dalam jaringan lain

seperti limfa dan sumsum tulang belakang disimpan dalam sel fagosit

mononuklear. Zat besi yang ada dalam hepatosit berasal dari transferin plasma,

sedangkan besi yang ada dalam sel fagosit mononuklear diperoleh dari pemecahan

eritrosit. Feritin berasal dari cadangan besi tubuh, sehingga kadar feritin dapat

dijadikan indikator kebutuhan cadangan besi tubuh (Baron, 1990).


Zat besi asal makanan yang dapat diserap di jejunum berkisar 1-2 mg dan

sebanyak itu pula yang dapat hilang melalui keringat, urin dan tinja. Zat besi yang

terkandung dalam sirkulasi darah akan terikat oleh transferin sebagai protein

pengangkut. Kadar normal transferin plasma ialah 250 mg/dl, secara laboratoris

kadar transferin dijadikan parameter jumlah kapasitas maksimal protein mengikat

besi. Total besi yang terikat transferin ialah 4 mg atau hanya 0,1% dari total besi

tubuh. Sebanyak 65% zat besi diangkut transferin ke sumsum tulang yang

memiliki banyak reseptor untuk transferin (Muhammad dan Sianipar, 2005).


Dalam kondisi normal zat besi dapat dimanfaatkan untuk membentuk sel

darah merah baru yang diprodukasi oleh tubuh, namun kelebihan Fe akan

berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan hati, jantung, pankreas, dan

bersifat toksik bagi tubuh, karena dapat menghasilkan radikal bebas yang dapat

merusak jaringan tubuh (Wood, 2004).


16

Kondisi kelebihan zat besi sangat berperan dalam terjadinya stress

oksidatif. Hal ini disebabkan zat besi merupakan katalis peroksidasi melalui jalur

Fenton yang menyebabkan kerusakan berbagai komponen membran sel darah

merah, protein, dan lainnya. Logam transisi mendorong proses autooksidasi,

karena logam bekerja sebagai peroksidan dalam transfer elektron yang

membentuk radikal bebas. Terjadinya denaturasi hemoglobin membuktikan bahwa

berlimpahnya produksi radikal bebas dalam kondisi kelebihan zat besi (Lautan,

1997).

2.4 Radikal Bebas


Radikal bebas adalah suatu atom, gugus, atau molekul yang memiliki satu

atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada orbit paling luar, termasuk atom

hidrogen, logam-logam transisi, dan molekul oksigen. Adanya elektron tidak

berpasangan ini, menyebabkan radikal bebas secara kimiawi menjadi sangat aktif.

Radikal bebas dapat bermuatan positif (kation), negatif (anion), atau tidak

bermuatan (Halliwell dan Gutteridge, 1999).


Menurut Halliwell dan Gutteridge (1999), beberapa jenis radikal bebas

yang ada di dalam tubuh adalah,


1. Anion Superoksida Radikal (O2*)
Radikal ini merupakan hasil reduksi satu elektron oksigen dan dapat

terjadi hampir pada semua sel aerobik yang menjalankan rantai

transpor elektron pada mitokondria. Mekanisme terbentuknya anion

superoksida pada rantai transpor elektron disebabkan oleh adanya

1-3% elektron yang terlepas selama proses rantai transpor elektron.

Sisi kedua dari pembentukan anion superoksida pada rantai transpor

elektron adalah pada NADH yang merupakan katalis dari pelepasan


17

ion hidrogen dari substrat ke molekul NAD+, yang selanjutnya akan

masuk ke reaksi kimia oksidatif membentuk ATP.


2. Hidrogen Peroksida (H2O2)
Hidrogen peroksida merupakan oksidan lemah yang relatif

stabil tetapi dengan adanya ion logam transisi, senyawa ini dapat

membentuk radikal bebas. Senyawa ini larut dalam air dan berdifusi

dengan cepat di dalam dan di antara sel.


Hidrogen peroksida yang tidak dikehendaki di dalam sel, baik

yang berasal dari reaksi yang terjadi di dalam tubuh maupun yang

berasal dari makanan, dihilangkan dengan bantuan enzim katalase dan

glutation peroksidase. Stress oksidatif yang disebabkan oleh H2O2

terjadi secara tidak langsung dan dibantu oleh beberapa ion logam.

Reaksi yang terjadi di dalam tubuh yang melibatkan H2O2 adalah

reaksi Fenton berikut :


Fe (III) + O2 Fe (II) + O2
Fe (II) + H2O2 OH* + OH- + Fe (III)
Hidrogen peroksida yang ke dalam membran akan bereaksi dengan Fe

dan Cu dan membentuk yang lebih reaktif seperti OH*. Hidroksil

radikal banyak merusak DNA di dalam sel.


3. Hidroksil Radikal (OH*)
Hidroksil radikal adalah oksigen radikal yang paling reaktif

dengan potensi reduksi yang tinggi. Senyawa ini dapat terbentuk dari

H2O2 yang dikatalis oleh ion Fe.


H2O2 + Fe2+ OH* + Fe3+ + OH*
Hidroksil radikal beraksi dengan molekul dalam sel hidup, seperti

gula, asam amino, fosfolipid, basa DNA, dan asam organik.


Sumber radikal bebas bisa berasal dari proses metabolisme dalam tubuh

(internal) dan dapat berasal dari luar tubuh (eksternal). Dari dalam tubuh

mencakup superoksida (O2*), hidroksil (*OH), peroksil (ROO*), hidrogen


18

peroksida (H2O2), singlet oksigen (1O2), oksida nitrit (NO*), dan peroksinitrit

(ONOO*) (Halliwell dan Gutteridge, 1999). Sumber radikal bebas, baik

endogenus maupun eksogenus terjadi melalui sederetan mekanisme reaksi. Reaksi

tersebut diawali dengan pembentukan awal radikal bebas (inisiasi), lalu

perambatan atau terbentuknya radikal baru (propagasi), dan tahap akhir

(terminasi), yaitu pemusnahan atau pengubahan menjadi radikal bebas stabil dan

tak reaktif. Sumber endogenus dapat melewati autooksidasi, oksidasi enzimatik,

fagositosis dalam respirasi, transpor elektron di mitokondria, dan oksidasi ion ion

logam transisi. Radikal bebas yang bersumber dari oksidasi ion logam dapat
2+
terlihat pada reaksi Haber Weiss : Fe + H2O2 Fe3 + *OH + OH -. Pada reaksi

tersebut Cu dan Fe memfasilitasi prosduksi singlet oksigen dan pembentukan

radikal OH (Sofia, 2007).


Radikal bebas pada umumnya dapat mempunyai efek yang sangat

menguntungkan, seperti membantu destruksi sel-sel mikroorganisme dan kanker.

Akan tetapi, produksi radikal bebas yang berlebihan dan produksi antioksidan

yang tidak memadai dapat menyebabkan kerusakan sel-sel jaringan dan enzim.

Kerusakan jaringan dapat terjadi akibat gangguan oksidatif yang disebabkan oleh

radikal bebas asam lemak atau dikenal sebagai peroksidasi lipid. Aktivitas radikal

bebas dapat menjadi penyebab atau mendasari berbagai keadaan patologis. Di

antara senyawa-senyawa oksigen reaktif, radikal hidroksil (OH*) merupakan

senyawa yang paling berbahaya karena mempunyai tingkat reaktivitas sangat

tinggi. Radikal hidroksil dapat merusak tiga jenis senyawa yang penting untuk

mempertahankan integritas sel yaitu:


19

(1) Asam lemak tak jenuh jamak (PUFA) yang merupakan komponen

penting fosfolipid penyusun membran sel


(2) DNA, yang merupakan piranti genetik dari sel.
(3) Protein, yang memegang berbagai peran penting seperti enzim,

reseptor, antibodi, pembentuk matriks, dan sitoskeleton (Halliwell dan

Gutteridge, 1999 dan Papas, 1999).


2.5 Peroksidasi Lipid
Peroksidasi lipid merupakan sesuatu tanda terjadinya kerusakan oksidatif.

Peroksidasi lipid dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas yang akan

menyerang membran sel sehingga dapat menyebabkan integritas sel terganggu

(Kamat dan Devasagayam, 1998; Dayanandan et al., 2001).


Salah satu hasil dari peroksidasi lipid adalah malondialdehida (MDA).

Malondialdehida merupakan produk oksidasi sekunder lemak tidak jenuh

sehingga MDA merupakan tanda terdapatnya radikal bebas di dalam tubuh

(Ohkawa dkk., 1979). Akumulasi MDA dalam tubuh dengan kadar tinggi dapat

bersifat toksik bagi tubuh. Pemberian aflatoksin B1 dapat menyebabkan

peningkatan kadar MDA pada homogenat hepar (Shen dkk., 1995).


Rantai reaksi oksidasi lipid oleh radikal bebas terbagi menjadi beberapa

tahap, yaitu:
1. Tahap inisiasi; pada tahap ini radikal bebas menyerang lipid sehingga

terbentuk radikal lipid.


X + LH (lipid) XH + L (radikal lipid)
2. Tahap propagasi; radikal lipid yang telah terbentuk akan bereaksi

dengan oksigen sehingga membentuk radikal peroksil yang selanjutnya

akan mengubah atom hidrogen dari molekul lipid lain. Reaksi tersebut

akan menghasilkan lipid hidroperoksida serta radikal lipid lain.


L + O2 LO2 (radikal peroksil)

LO2 + LH LOOH (lipid hidroperoksida) + L
20

3.
Tahap terminasi; rantai reaksi ini berakhir jika radikal lipid maupun

radikal peroksil diredam oleh antioksidan, atau jika dua radikal peroksil

bereaksi sehingga membentuk produk non radikal.


LO2 + LO2 O2 + produk non radikal (Papas, 1999)

2.6 Antioksidan
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menghambat spesies oksigen

reaktif, spesies nitrogen, dan radikal bebas lainnya sehingga mampu mencegah

penyakit-penyakit degeneratif seperti kardiovaskular, kanker, dan penuaan.

Senyawa antioksidan merupakan substansi yang diperlukan tubuh untuk

menetralisir radikal bebas dan mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal

bebas terhadap sel normal, protein, dan lemak. Senyawa ini memiliki struktur

molekul yang dapat memberikan elektronnya kepada molekul radikal bebas tanpa

terganggu sama sekali fungsinya dan dapat memutus reaksi berantai (Halliwell

dan Gutteridge, 1999).

2.6.1 Enzim Antioksidan


Enzim antioksidan atau antioksidan endogenous enzimatik adalah SOD,

katalase, dan GPx.

2.6.1.1 Superoksida Dismutase (SOD)


Superoksida Dismutase (SOD) adalah enzim yang terdapat di mitokondria

dan sitosol. Enzim ini mengkatalis dismutasi radikal anion superoksida (O2)

menjadi hidrogen peroksida (H2O2) dan oksigen (O2).


2O2* + 2H+ H2O2 + O2
Enzim superoksida dismutase memerlukan tembaga (Cu), seng (Zn), besi

(Fe), mangaan (Mn), atau nikel (Ni) untuk fungsi katalitiknya (Fridovich, 1998).

Enzim ini bersifat tidak stabil terhadap panas, cukup stabil pada kondisi basa, dan
21

masih mempunyai aktivitas walaupun disimpan sampai lima tahun pada suhu 5oC.

Menurut Haliwell dan Gutteridge (1999), aktivitas SOD pada mencit ditemukan di

hati, eritrosit, ginjal, darah, jantung, otak, dan paru-paru.

2.6.1.2 Katalase
Katalase adalah enzim yang disusun oleh lebih dari 500 asam amino dan

memiliki gugus forfirin atau dikenal sebagai hemoprotein. Enzim ini mengatalis

senyawa hidrogen peroksida (H2O2) menjadi oksigen (O2) dan air (H2O). Menurut

Haliwell dan Gutteridge (1999), aktivitas katalase optimal pada pH 7 dan

meningkat dengan meningkatnya akumulasi H2O2. Enzim katalase mampu

mengkonversi 40 juta molekul hidrogen peroksida menjadi molekul air dan

oksigen setiap detiknya.


2H2O2 (Katalase) 2H2O + O2
Katalase bekerja sama dengan GPx untuk mengkonversi H 2O2 menjadi

H2O dan O2. Disamping itu, enzim katalase juga mampu mendetoksifikasi

senyawa formaldehid, fenol dan alkohol. Katalase dengan konsentrasi yang tinggi

ditemukan pada hati, darah, ginjal, otak, paru-paru, jaringan adiposa, dan kelenjar

adrenal (Haliwell dan Gutteridge, 1999).


2.6.1.3 Glutathion Peroksidase (GPx)
Glutathion Peroksidase (GPx) adalah selanoprotein yang terdiri atas empat

sub unit protein mengandung satu atom selenium yang mengkatalis reaksi reduksi

H2O2 menjadi air (H2O) melalui oksidasi tripeptida glutation (GSH). Selain itu,

enzim GPx juga dapat menghilangkan lipid peroksida dari membran sel. Enzim

ini terdapat pada sitosol dan matrik mitokondria dari beberapa sel (Wijaya, 1996).
2GSH + H2O2 (GPx) GSSG + 2H2O
LOOH + 2GSH GSSG + H2O + LOH
Pada jaringan tikus, GPx terkandung di eritrosit, hati, plasma, jantung,

limpa, ginjal, paru-paru, dan otot.


22

2.7 Kayu Secang (Caesalpinia sappan, L.)


2.7.1 Klasifikasi (Tjitrosoepomo, 2000)
Kerajaan Plantae
Divisi Magnoliophyta
Kelas Magnoliopsida
Bangsa Fabales
Suku Caesalpiniaceae
Marga Caesalpinia Gambar 2.2. Caesalpinia sappan L.
Jenis Caesalpinia sappan, L (Sumber : Winarti dan Nurdjanah)

2.7.2 Deskripsi
Tumbuhan secang merupakan tumbuhan perdu dengan tinggi 5-10 meter,

mempunyai daun mejemuk menyirip yang panjangnya mencapai 50cm, setiap

sirip mempunyai 10-20 pasang anak daun, dengan panjangnya 10-25 mm, anak

daun tidak bertangkai dan lonjong. Bunga berwarna kuning, mahkota berbentuk

tabung, berbulu, stamen 10 buah. Buah berwarna kuning kehijauan pada waktu

muda dan polong berwarna hitam panjang 8-10 cm, lebar 3-4 cm, berisi 3-4 biji

(Wardiyono, 2008).

2.7.3 Kandungan Kimia


Zat-zat kimia yang terkandung dalam kayu secang diantaranya yaitu

homoisoflavonoid, tannin, asam galat, resin, resorsin, pewarna merah sappanin,

protosappanin A dan B, sappankhalkon, sappanon A, sappanon B dan minyak

atsiri. Sedangkan bagian daun dari tanaman ini mengandung minyak atsiri 0,16-

0,20% dan tannin 19% dan 44% pada buah polongan (Wetwitayaklung et al,

2005).
23

Safitri (2002) telah mengisolasi lima senyawa aktif antioksidan dari batang

kayu secang (C. sappan L) : 7,11b-dihidrobenz[b]indeno[1,2-d]piran-3,6a,9,10,

(6H)tetrol(brazilin),7,11bdihidrobenz[b]indeno[1,2d]piran3,6a,10,11(6H)-tetrol

(isobrazilin), 1',4'-dihidrospiro[benzofuran-3(2H),3'-[3H-2]benzopiran]-

1',6',6',7'tetrol,3[[4,5dihidroksi2(hidroksimetil)fenil]metil]23dihidro3,6benzofuran

diol dan campuran stereoisomer (7R,7S)-7,8-dihidro-3,7,10,11-tetrahidroksi-6H-

dibenz[b,d]oksosin-7-metanol(7R-,7S-protosapaninB).

Karakterisasi sifat antioksidan senyawa-senyawa aktif tersebut dilakukan

secara in vitro dengan menggunakan beberapa metode yaitu: kemampuan

menghambat aktivitas xantin oksidase, kemampuan meredam radikal anion

superoksida, kemampuan meredam radikal bebas hidroksil, dan indikasi sebagai

kelator ion besi. Mekanisme reaksi radikal 5 senyawa aktif`antioksidan dalam

ekstrak kayu secang adalah reaksi substitusi yang diawali dari pelepasan radikal

hidrogen dari gugus OH yang akan bereaksi dengan radikal lipid (LOO*, L*)

membentuk produk stabil. Inti aromatik yang tersubstitusi radikal lipid akan tetap

berada dalam sistem aromatiknya untuk memertahankan kestabilan strukturnya,

sebagai contoh mekanisme senyawa donasi 1 elektron (Safitri, 2002).

2.8 Granul

Granul adalah gumpalan dari partikel-partikel kecil, umumnya berbentuk

tidak merata dan menjadi seperti partikel tunggal yang lebih besar, umumnya

berkisar antara ayakan 4-12 mesh (Ansel, 1989). Granul dapat bersifat instan dan
24

cepat larut, sehingga cocok digunakan untuk pembuatan larutan secara cepat

(Lachman et al, 1994).


Dari bahan asal yang sama, bentuk granul biasanya lebih stabil secara

fisik dan kimia daripada serbuk saja. Setelah dibuat dan dibiarkan berapa waktu,

granul tidak segera mengering atau mengeras seperti balok bila dibandingkan

dengan serbuknya. Hal ini karena luas permukaan granul lebih kecil dibandingkan

serbuknya. Granul biasanya lebih tahan terhadap pengaruh udara. Granul lebih

mudah dibasahi (wetted) oleh pelarut daripada berberapa macam serbuk yang

cenderung akan mengambang di atas permukaan pelarut. Sehingga granul lebih

disukai untuk dijadikan larutan (Ansel, 1989).

Granul memerlukan bahan tambahan untuk memperoleh sifat fisik dan

mekanik, sehingga mempermudah proses pembuatan granul dengan kualitas yang

baik. Pemilihan bahan tambahan yang akan digunakan harus memperhatikan sifat-

sifat bahan tambahan. Bahan tambahan tersebut terdiri atas bahan pengisi, bahan

pengikat dan bahan pemanis (Hasanah, 2006).

Bahan pengisi adalah bahan yang ditambahkan agar diperoleh suatu bentuk,

ukuran dan volume yang sesuai. Bahan pengisi merupakan komponen penting

untuk zat yang berkhasiat dan jumlahnya sangat kecil. Bahan pengisi yang

digunakan harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu (1) non toksik, (2) tersedia

dalam jumlah yang cukup di semua negara tempat produk itu dibuat, (3) harganya

cukup murah, (4) stabil secara fisik dan kimia, (5) bebas dari segala jenis mikroba.

Penambahan bahan pengisi bertujuan agar diperoleh suatu bentuk, ukuran dan

volume yang sesuai. Bahan pengisi yang umum digunakan antara lain sukrosa,

laktosa, manitol, sorbitol dan selulosa. Sukrosa merupakan bahan pengisi yang
25

paling banyak digunakan karena harganya murah dan tidak bereaksi dengan

hampir semua bahan obat, baik yang digunakan dalam bentuk hidrat ataupun

anhidrat (Lachman et al., 1994).

Bahan pengikat merupakan bahan pembantu yang bertanggung jawab untuk

kekompakan dan daya tahan dari granul. Pemakaian bahan pengikat disesuaikan

dengan bahan aktif untuk pembuatan granul. Bahan pengikat yang ditambahkan

sebaiknya tidak terlalu banyak karena beberapa bahan pengisi juga dapat dipakai

sebagai bahan pengikat. Contoh bahan pengikat adalah polivinilpirolidon,

sukrosa, gelatin dan pasta amilum (Lachman et al., 1994).