Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

GEL

MAKALAH INI DIBUAT UNTUK MEMENUHI TUGAS DARI MATA PELAJARAN


FARMASETIKA

DISUSUN OLEH

KELOMPOK 4

1. ANDI SEPTIANI
15 01 01 085
2. ANGGY UTAMA PUTRI
15 01 01 087
3. DEWATI BINA SARI
15 01 01 092
4. KOKO NUSFERRY
14 01 01 024
5. MESY YULIA APRILIA
15 01 01 104
6. SHINTIA RUKMANA
14 01 01 150
7. SUCI SORAYA
15 01 01 120

DOSEN PENGAJAR : KIKI AMALIA, S.FARM,. APT

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI BHAKTI PERTIWI


PALEMBANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan karunianya

kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini dengan judul, GEL

Penulis sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena

itu kami mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca, dan dosen demi penyempurnaan

makalah ini dimasa yang akan datang dan untuk perkembangan dan kemajuan akademik penulis.

Akhirnya penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semuanya.

Palembang, 07 Agustus 2017


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................... 2

DAFTAR ISI.......................................................................................................................... 3

BAB I : PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang.........................................................................................................4

1.2 Tujuan Penulisan.....................................................................................................5

1.3 Rumusan masalah....................................................................................................5

1.4 Manfaat...................................................................................................................5

BAB II : PEMBAHASAN

2.1 SEDIAAN GEL......................................................6

2.2 KEUNTUNGAN DAN KEKURANGAN DARI SEDIAAN

GEL.......................................................................................................................14

2.3 FORMULASI SEDIAAN

GEL.........................................14

2.4 EVALUASI GEL..21

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN......................................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Gel merupakan sediaan semipadat yang jernih, tembus cahaya dan mengandung zat aktif,
merupakan dispersi koloid mempunyai kekuatan yang disebabkan oleh jaringan yang
saling berikatan pada fase terdispersi. Dalam industri farmasi, sediaan gel banyak digunakan
pada produk obat-obatan, kosmetik dan makanan. Polimer yang biasa digunakan untuk membuat
gel-gel farmasetik meliputi gom alam tragakan, pektin, karagen, agar, asam alginat, serta bahan-
bahan sintetis dan semisintetis seperti metil selulosa, hidroksietilselulosa, karboksimetilselulosa,
dan karbopol yang merupakan polimer vinil sintetis dengan gugus karboksil yang terionisasi.
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, gel kadang-kadang disebut jeli, merupakan sistem
semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul
organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
Menurut Formularium Nasional, gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi
yang dibuat dari zarah kecil senyawa anorganik atau makromolekul senyawa organik, masing-
masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan.
Menurut Ansel, gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari
suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang terkecil atau molekul organik yang
besar dan saling diresapi cairan.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka dirumuskan masalah sebagai


berikut :
1. Apa itu sediaan gel?
2. Apa keuntungan dan kekurangan dari sediaan gel?
3. Contoh formula obat dari sediaan gel?
4. Apa saja Evaluasi gel ?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah :


1. Untuk mengetahui sediaan gel
2. Untuk mengetahui keuntungan dan kekurangan dari sediaan gel
3. Untuk mengetahui contoh formula obat dari sediaan gel
4. Untuk mengetahui Evaluasi gel

1.4 Manfaat

Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan ini adalah pembaca dapat mengetahui
sediaan gel, kegunaan, keuntungan dan kerugiaan dari sediaan obat gel. Selain itu, diharapkan
pembaca dapat mengetahui bagaimana formulasi dan evaluasi gel.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sediaan gel

Gel merupakan sediaan semipadat yang jernih, tembus cahaya dan mengandung zat aktif,
merupakan dispersi koloid mempunyai kekuatan yang disebabkan oleh jaringan yang
saling berikatan pada fase terdispersi. Dalam industri farmasi, sediaan gel banyak digunakan
pada produk obat-obatan, kosmetik dan makanan. Polimer yang biasa digunakan untuk membuat
gel-gel farmasetik meliputi gom alam tragakan, pektin, karagen, agar, asam alginat, serta bahan-
bahan sintetis dan semisintetis seperti metil selulosa, hidroksietilselulosa, karboksimetilselulosa,
dan karbopol yang merupakan polimer vinil sintetis dengan gugus karboksil yang terionisasi.
Menurut Farmakope Indonesia edisi IV, gel kadang-kadang disebut jeli, merupakan sistem
semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul
organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
Menurut Formularium Nasional, gel adalah sediaan bermassa lembek, berupa suspensi
yang dibuat dari zarah kecil senyawa anorganik atau makromolekul senyawa organik, masing-
masing terbungkus dan saling terserap oleh cairan.
Menurut Ansel, gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari
suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang terkecil atau molekul organik yang
besar dan saling diresapi cairan.

Gel Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV dibagi menjadi dua golongan yaitu :

a. Gel sistem fase tunggal Gel fase tunggal terdiri dari makromolekul organik yang
tersebar sama dalam suatu cairan sedemikian hingga tidak terlihat adanya ikatan
antara molekul makro yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal dapat dibuat
dari makromolekul sintetik misalnya karboner atau dari gom alam misanya
tragakan .

b. Gel sistem dua fase Dalam sistem dua fase, jika ukuran partikel dari fase
terdispersi relatif besar, massa gel kadang-kadang dinyatakan sebagai magma
misalnya magma bentonit. Baik gel maupun magma dapat berupa tiksotropik,
membentuk semipadat jika dibiarkan dan menjadi cair pada pengocokan. Sediaan
harus dikocok dahulu sebelum digunakan untuk menjamin homogenitas .
2.1.1 Sifat dan karakteristik gel adalah sebagai berikut (Disperse system):

1. Swelling
Gel dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorbsi larutan
sehingga terjadi pertambahan volume. Pelarut akan berpenetrasi diantara matriks gel dan
terjadi interaksi antara pelarut dengan gel. Pengembangan gel kurang sempurna bila
terjadi ikatan silang antar polimer di dalam matriks gel yang dapat menyebabkan
kelarutan komponen gel berkurang.
2. Sineresis.
Suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi di dalam massa gel. Cairan yang
terjerat akan keluar dan berada di atas permukaan gel. Pada waktu pembentukan gel
terjadi tekanan yang elastis, sehingga terbentuk massa gel yang tegar. Mekanisme
terjadinya kontraksi berhubungan dengan fase relaksasi akibat adanya tekanan elastis
pada saat terbentuknya gel. Adanya perubahan pada ketegaran gel akan mengakibatkan
jarak antar matriks berubah, sehingga memungkinkan cairan bergerak menuju
permukaan. Sineresis dapat terjadi padahidrogel maupun organogel.
3. Efek suhu
Efek suhu mempengaruhi struktur gel. Gel dapat terbentuk melalui penurunan temperatur
tapi dapat juga pembentukan gel terjadi setelah pemanasan hingga suhu tertentu. Polimer
separti MC, HPMC, terlarut hanya pada air yang dingin membentuk larutan yang kental.
Pada peningkatan suhu larutan tersebut membentuk gel. Fenomena pembentukan gel atau
pemisahan fase yang disebabkan oleh pemanasan disebut thermogelation.
4. Efek elektrolit.
Konsentrasi elektrolit yang sangat tinggi akan berpengaruh pada gel hidrofilik dimana ion
berkompetisi secara efektif dengan koloid terhadap pelarut yang ada dan koloid
digaramkan (melarut). Gel yang tidak terlalu hidrofilik dengan konsentrasi elektrolit kecil
akan meningkatkan rigiditas gel dan mengurangi waktu untuk menyusun diri sesudah
pemberian tekanan geser. Gel Na-alginat akan segera mengeras dengan adanya sejumlah
konsentrasi ion kalsium yang disebabkan karena terjadinya pengendapan parsial dari
alginat sebagai kalsium alginat yang tidak larut.

5. Elastisitas dan rigiditas


Sifat ini merupakan karakteristik dari gel gelatin agar dan nitroselulosa, selama
transformasi dari bentuk sol menjadi gel terjadi peningkatan elastisitas dengan
peningkatan konsentrasi pembentuk gel. Bentuk struktur gel resisten terhadap perubahan
atau deformasi dan mempunyai aliran viskoelastik. Struktur gel dapat bermacam-macam
tergantung dari komponen pembentuk gel.

6. Rheologi
Larutan pembentuk gel (gelling agent) dan dispersi padatan yang terflokulasi
memberikan sifat aliran pseudoplastis yang khas, dan menunjukkan jalan aliran non
Newton yang dikarakterisasi oleh penurunan viskositas dan peningkatan laju aliran.
1.1.2. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam formulasi

1. Penampilan gel: transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang terdispersi,
dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel koloid yang
mempunyai struktur tiga dimensi.
2. Inkompatibilitas dapat terjadi dengan mencampur obat yang bersifat kationik pada
kombinasi zat aktif, pengawet atau surfaktan dengan pembentuk gel yang bersifat anionik
(terjadi inaktivasi atau pengendapan zat kationik tersebut).
3. Gelling agents yang dipilih harus bersifat inert, aman dan tidak bereaksi dengan
komponen lain dalam formulasi .
4. Penggunaan polisakarida memerlukan penambahan pengawet sebab polisakarida bersifat
rentan terhadap mikroba .
5. Viskositas sediaan gel yang tepat, sehingga saat disimpan bersifat solid tapi sifat soliditas
tersebut mudah diubah dengan pengocokan sehingga mudah dioleskan saat penggunaan
topical .
6. Pemilihan komponen dalam formula yang tidak banyak menimbulkan perubahan
viskositas saat disimpan di bawah temperatur yang tidak terkontrol .
7. Konsentrasi polimer sebagai gelling agents harus tepat sebab saat penyimpanan dapat
terjadi penurunan konsentrasi polimer yang dapat menimbulkan syneresis (air
mengambang diatas permukaan gel) .
8. Pelarut yang digunakan tidak bersifat melarutkan gel, sebab bila daya adhesi antar pelarut
dan gel lebih besar dari daya kohesi antar gel maka sistem gel akan rusak.

1.1.3. Komponen Gel

1. Gelling Agents (Pustaka : Dysperse System, vol. II, page 499-504)

Sejumlah polimer digunakan dalam pembentukan struktur berbentuk jaringan yang merupakan
bagian penting dari sistem gel. Termasuk dalam kelompok ini adalah gum alam, turunan
selulosa, dan karbomer. Kebanyakan dari sistem tersebut berfungsi dalam media air, selain itu
ada yang membentuk gel dalam cairan nonpolar. Beberapa partikel padat koloidal dapat
berperilaku sebagai pembentuk gel karena terjadinya flokulasi partikel. Konsentrasi yang tinggi
dari beberapa surfaktan nonionik dapat digunakan untuk menghasilkan gel yang jernih di dalam
sistem yang mengandung sampai 15% minyak mineral.

Berikut ini adalah beberapa contoh gelling agent :

A. Polimer (gel organik)


a. Gum alam (natural gums)

Umumnya bersifat anionik (bermuatan negatif dalam larutan atau dispersi dalam air),
meskipun dalam jumlah kecil ada yang bermuatan netral, seperti guar gum. Karena
komponen yang membangun struktur kimianya, maka natural gum mudah terurai
secara mikrobiologi dan menunjang pertumbuhan mikroba. Oleh karena itu, sistem
cair yang mengandung gum harus mengandung pengawet dengan konsentrasi yang
cukup. Pengawet yang bersifat kationik inkompatibel dengan gum yang bersifat
anionik sehingga penggunaannya harus dihindari.

Beberapa contoh gum alam :

1. Natrium alginate

Merupakan polisakarida, terdiri dari berbagai proporsi asam D-


mannuronik dan asam L-guluronik yang didapatkan dari rumput laut coklat dalam
bentuk garam monovalen dan divalen. Natrium alginat 1,5-2% digunakan sebagai
lubrikan, dan 5-10% digunakan sebagai pembawa.

Garam kalsium dapat ditambahkan untuk meningkatkan viskositas dan


kebanyakan formulasi mengandung gliserol sebagai pendispersi.

Tersedia dalam bebrapa grade sesuai dengan viskositas yang


terstandardisasi yang merupakan kelebihan natrium alginat dibandingkan dengan
tragakan.

2. Karagenan

Hidrokoloid yang diekstrak dari beberapa alga merah yang merupakan


suatu campuran tidak tetap dari natrium, kalium, amonium, kalsium, dan ester-
ester magnesium sulfat dari polimer galaktosa, dan 3,6-anhidrogalaktosa.

Jenis kopolimer utama ialah kappa, iota, dan lambda karagenan. Fraksi
kappa dan iota membentuk gel yang reversibel terhadap pengaruh panas.

Semua karagenan adalah anionik. Gel kappa yang cenderung getas,


merupakan gel yang terkuat dengan keberadaan ion K. Gel iota bersifat elastis dan
tetap jernih dengan keberadaan ion K.
3. Tragakan

Menurut NF, didefinisikan sebagai ekstrak gum kering dari Astragalus


gummifer Labillardie, atau spesies Asia dari Astragalus.

Material kompleks yang sebagian besar tersusun atas asam polisakarida


yang terdiri dari kalsium, magnesium, dan kalium. Sisanya adalah polisakarida
netral, tragakantin. Gum ini mengembang di dalam air.

Digunakan sebanyak 2-3% sebagai lubrikan, dan 5% sebagai pembawa.

Tragakan kurang begitu populer karena mempunyai viskositas yang


bervariasi. Viskositas akan menurun dengan cepat di luar range pH 4,5-7, rentan
terhadap degradasi oleh mikroba.

Formula mengandung alkohol dan/atau gliserol dan/atau volatile oil untuk


mendispersikan gum dan mencegah pengentalan ketika penambahan air.

4. Pektin

Polisakarida yang diekstrak dari kulit sebelah dalam buah citrus yang
banyak digunakan dalam makanan. Merupakan gelling agent untuk produk yang
bersifat asam dan digunakan bersama gliserol sebagai pendispersi dan humektan.

Gel yang dihasilkan harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat
karena air dapat menguap secara cepat sehingga meningkatkan kemungkinan
terjadinya proses sineresis.

Gel terbentuk pada pH asam dalam larutan air yang mengandung kalsium
dan kemungkinan zat lain yang befungsi menghidrasi gum.

b. Derivat selulosa

Selulosa murni tidak larut dalam air karena sifat kristalinitas yang inggi.
Substitusi dengan gugus hidroksi menurunkan kristalinitas dengan menurunkan
pengaturan rantai polimer dan ikatan hidrogen antar rantai.

Derivat selulosa yang sering digunakan adalah MC, HEMC, HPMC,


EHEC, HEC, dan HPC.
Sifat fisik dari selulosa ditentukan oleh jenis dan gugus substitusi. HPMC
merupakan derivat selulosa yang sering digunakan.

Derivat selulosa rentan terhadap degradasi enzimatik sehingga harus icegah


adanya kontak dengan sumber selulosa. Sterilisasi sediaan atau penambahan
pengawet dapat mencegah penurunan viskositas yang diakibatkan oleh
depolimerisasi oleh enzim yang dihasilkan dari mikroorganisme. Misalnya : MC,
Na CMC, HEC, HPC

Sering digunakan karena menghasilkan gel yang bersifat netral, viskositas


stabil, resisten terhadap pertumbuhan mikroba, gel yang jernih, dan menghasilkan
film yang kuat pada kulit ketika kering. Misalnya MC, Na CMC, HPMC

c. Polimer sintetis (Karbomer = karbopol)

Sebagai pengental sediaan dan produk kosmetik.

Karbomer merupakan gelling agent yang kuat, membentuk gel pada


konsentrasi sekitar 0,5%. Dalam media air, yang diperdagangkan dalam bentuk
asam bebasnya, pertama-tama dibersihkan dulu, setelah udara yang terperangkap
keluar semua, gel akan terbentuk dengan cara netralisasi dengan basa yang sesuai.

Dalam sistem cair, basa anorganik seperti NaOH, KOH, dan NH4OH
sebaiknya ditambahkan.

pH harus dinetralkan karena karakter gel yang dihasilkan dipengaruhi oleh


proses netralisasi atau pH yang tinggi.

Viskositas dispersi karbomer dapat menurun dengan adanya ion-ion.

Merupakan gelling agent yang kuat, maka hanya diperlukan dalam


konsentrasi kecil.

B. Polietilen (gelling oil)

Digunakan dalam gel hidrofobik likuid, akan dihasilkan gel yang lembut, mudah tersebar,
dan membentuk lapisan/film yang tahan air pada permukaan kulit. Untuk membentuk gel,
polimer harus didispersikan dalam minyak pada suhu tinggi (di atas 800C) kemudian
langsung didinginkan dengan cepat untuk mengendapkan kristal yang merupakan
pembentukan matriks.

C. Koloid padat terdispersi


Mikrokristalin selulosa dapat berfungsi sebagai gellant dengan cara pembentukan
jaringan karena gaya tarik-menarik antar partikel seperti ikatan hidrogen.

Konsentrasi rendah dibutuhkan untuk cairan nonpolar. Untuk cairan polar


diperlukan konsentrasi yang lebih besar untuk membentuk gel, karena adanya kompetisi
dengan medium yang melemahkan interaksi antar partikel tersebut.

D. Surfaktan

Gel yang jernih dapat dihasilkan oleh kombinasi antara minyak mineral, air, dan
konsentrasi yang tinggi (20-40%) dari surfaktan anionik. Kombinasi tersebut membentuk
mikroemulsi. Karakteristik gel yang terbentuk dapat bervariasi dengan cara meng-adjust
proporsi dan konsentrasi dari komposisinya. Bentuk komersial yang paling banyak untuk
jenis gel ini adalah produk pembersih rambut.

E. Gellants lain

Banyak wax yang digunakan sebagai gellants untuk media nonpolar seperti beeswax,
carnauba wax, setil ester wax.

F. Polivinil alkohol

Untuk membuat gel yang dapat mengering secara cepat. Film yang terbentuk sangat kuat
dan plastis sehingga memberikan kontak yang baik antara obat dan kulit. Tersedia dalam
beberapa grade yang berbeda dalam viskositas dan angka penyabunan.

G. Clays (gel anorganik)

Digunakan sebanyak 7-20% sebagai basis. Mempunyai pH 9 sehingga tidak cocok


digunakan pada kulit. Viskositas dapat menurun dengan adanya basa. Magnesium oksida
sering ditambahkan untuk meningkatkan viskositas. Bentonit harus disterilkan terlebih
dahulu untuk penggunaan pada luka terbuka. Bentonit dapat digunakan pada konsentrasi 5-
20%. Contohnya : Bentonit, veegum, laponite

2. Bahan tambahan

a. Pengawet

Meskipun beberapa basis gel resisten terhadap serangan mikroba, tetapi semua gel mengandung
banyak air sehingga membutuhkan pengawet sebagai antimikroba. Dalam pemilihan pengawet
harus memperhatikan inkompatibilitasnya dengan gelling agent.
Beberapa contoh pengawet yang biasa digunakan dengan gelling agent :

Tragakan : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,05 % w/v

Na alginate : metil hidroksi benzoat 0,1- 0,2 % w/v, atau klorokresol 0,1 % w/v atau asam
benzoat 0,2 % w/v

Pektin : asam benzoat 0,2 % w/v atau metil hidroksi benzoat 0,12 % w/v atau klorokresol
0,1-0,2 % w/v

Starch glyserin : metil hidroksi benzoat 0,1-0,2 % w/v atau asam benzoat 0,2 % w/v

MC : fenil merkuri nitrat 0,001 % w/v atau benzalkonium klorida 0,02% w/v

Na CMC : metil hidroksi benzoat 0,2 % w/v dgn propil hidroksi benzoat 0,02 % w/v

Polivinil alkohol : klorheksidin asetat 0,02 % w/v

Pada umumnya pengawet dibutuhkan oleh sediaan yang mengandung air. Biasanya digunkan
pelarut air yang mengandung metilparaben 0,075% dan propilparaben 0,025% sebagai pengawet.

b. Penambahan Bahan higroskopis

Bertujuan untuk mencegah kehilangan air. Contohnya gliserol, propilenglikol dan sorbitol
dengan konsentrasi 10-20 %

c. Chelating agent

Bertujuan untuk mencegah basis dan zat yang sensitive terhadap logam berat. Contohnya EDTA

2.1.4 Kegunaan

Gel merupakan suatu sistem yang dapat diterima untuk pemberian oral, dalam bentuk
sediaan yang tepat, atau sebagai kulit kapsul yang dibuat dari gelatin dan untuk bentuk
sediaan obat longacting yang diinjeksikan secara intramuscular .
Gelling agent biasa digunakan sebagai bahan pengikat pada granulasi tablet, bahan
pelindung koloid pada suspensi, bahan pengental pada sediaan cairan oral, dan basis
suppositoria .
Untuk kosmetik, gel telah digunakan dalam berbagai produk kosmetik, termasuk pada
shampo, parfum, pasta gigi, kulit dan sediaan perawatan rambut .
Gel dapat digunakan untuk obat yang diberikan secara topikal (non streril) atau
dimasukkan ke dalam lubang tubuh atau mata (gel steril).

2.2 Keuntungan dan Kekurangan Sediaan Gel

Keuntungan sediaan gel :

Untuk hidrogel : efek pendinginan pada kulit saat digunakan; penampilan sediaan yang
jernih dan elegan; pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan film tembus
pandang, elastis, daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga pernapasan pori
tidak terganggu; mudah dicuci dengan air; pelepasan obatnya baik; kemampuan
penyebarannya pada kulit baik.

Kekurangan sediaan gel :

1. Untuk hidrogel : harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga
diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar gel tetap jernih pada
berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang ketika
berkeringat, kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan harga lebih
mahal.
2. Penggunaan emolien golongan ester harus diminimalkan atau dihilangkan untuk
mencapai kejernihan yang tinggi.
3. Untuk hidroalkoholik : gel dengan kandungan alkohol yang tinggi dapat menyebabkan
pedih pada wajah dan mata, penampilan yang buruk pada kulit bila
4. terkena pemaparan cahaya matahari, alkohol akan menguap dengan cepat dan
meninggalkan film yang berpori atau pecah-pecah sehingga tidak semua area tertutupi
atau kontak dengan zat aktif.

2.3 FORMULA SEDIAAN GEL

2.3.1. Formula Umum/standar

R/ Zat aktif

Basis gel

Zat tambahan

2.3.2. Formula Basis Gel

CONTOH BASIS FORMULA GEL

1. R/ Ichtimol 2g
Tragakan 5g

Alkohol 10 mL

Gliserol 2g

Air hingga 100 g

Buat 50 g

Metoda pembuatan:

Disiapkan untuk 60 g sebagai antisipasi kehilangan dalam proses

Botol ditara dan siapkan mucilago tragakan dengan 33 mL air

Ichtimol, gliserol dan 10 mL air dicampurkan, kemudian tambahkan mucilage tragakan,


lalu diaduk/dikocok

Berat diadjust dengan air, kemudian dikocok kembali, lalu dimasukkan ke dalam wadah

Pembuatan mucilage tragakan :

Pembawa disiapkan

Botol bermulut lebar dikalibrasi, dikeringkan di dalam oven kemudian dinginkan

Alkohol dimasukkan kemudian tambahkan tragakan (jangan terbalik karena akan


mengakibatakan terjadinya pengentalan) kemudian dilakukan pengocokkan untuk
mencampurkan

Ditungkan kedalam wadah yang berisi pembawa, lalu ditutup dan dikocok segera

Volume digenapkan, lalu dicampurkan dan dimasukkan kedalam wadah untuk


penyimpanan

2. R/ Na-alginat 7g

Gliserol 7g

Metil hidroksi benzoate 0,2 g

Ca-glukonat 0,05 g

Air hingga 100 g

Catatan : basis ini harus disimpan semalam sebelum digunakan


Metoda pembuatan :

Na-alginat dibasahkan dengan gliserol dalam mortir

Pengawet dan Ca-glukonat dilarutkan ke dalam 80 mL air dengan bantuan pemanasan,


lalu dinginkan hingga 60 C dan diaduk atau distirer cepat

Campuran Na-lginat-gliserol ditambahkan ke dalam vorteks dengan jumlah sedikit, lalu


diaduk lebih lanjut hingga homogen, kemudian dimasukkan ke dalam wadah

2.3.3 Formula gel

(Pustaka : Liweberman, Herbert A., martin M. R., Gilbert S. B., 1989.Phamaceutical


Dosage Forms Disperse System, Vol II, Macel Dekker Inc., New york. Hal 504-506)

1. Gel minyak mineral

R/ Polietilen 10 %

Minyak mineral 90 %

Cara pembuatan ;

Dicampurkan dan aduk atau kocok. Campuran dipanaskan hingga 90 C campur hingga
homogen, lalu dinginkan dengan cepat melalui pengadukan.

2. Gel efedrin sulfat

R/ Efedrin sulfat 10 g

Tragakan 10 g

Metil salisilat 0,1 g

Eucalyptol 1 mL

Minyak pine needle 0,1 mL

Gliserin 150 g

Air 830 mL

Cara pembuatan :
Efedrin sulfat dilarutkan ke dalam air dan ditambahkan gliserin, tragakan, kemudian komponen
lainnya. Campurkan dengan baik dan simpan dalam wadah tertutup baik selama 1 minggu
dengan

pengadukan.

3. Clear gel
R/ Minyak mineral 10 %
Polioksietilen 10 oleil eter 20,7 %

Polioksietilen fatty gliserida 10,3 %

Propilen glikol 8,6 %

Sorbitol 6,9 %

Air 43,5 %

Cara pembuatan :

Semua komponen dipanaskan kecuali air hingga 90 C, kemudian air dipanaskan secara terpisah
hingga 85 C. Air dicampurkan ke dalam komponen lain tersebut dengan pengadukan, lalu
dinginkan hingga 60 C

4. Gel zinc oksida


R/ Karbomer 934 P (karbopol 934 P) 0,8 %
NaOH (larutan 10 %) 3,2 %

ZnO 20 %

Air 76 %

Cara pembuatan :

Karbomer didispersikan ke dalam air, kemudian ditambahakan NaOH dengan pengadukan yang
lambat untuk menghindari penyerapan /penjerapan udara. Kemudian tambahkan ZnO dan
campurkan hingga homogen

5. Gel sun Screening


R/ Etanol 53 %
Karbomer 940 1%
Gliseril-p-amino benzoat 3%

Monoisopropanolamin 0,09 %

Air 52,91 %

Cara pembuatan :

Karbomer 940 didispersikan ke dalam alcohol dan giseril-p-amino benzoat dilarutkan ke dalm
larutan. Secara perlahan Monoisopropanolamin ditambahkan. Kemudian secara perlahan-lahan
ditambahkan air dan dikocok dengan seksama untuk menghindari penyerapan udara, larutan akan
jernih dan terbentuk gel.

6. Gel hidroksi peroksida


R/ Poloksamer F-127 25 %
Hidrogen peroksida (larutan 30 %) 10 %

Air murni 65 %

Cara pembuatan :

Air dipanakan hingga 40-50 F dan disimpan pada wadah pencampuran. Poloksamer F-127
ditambahkan secara perlahan dengan pengadukan yang baik kemudian pengadukan dilakukan
kembali hingga larutan terbentuk. Temperatur dijaga pada suhu 50 F. Tambahkan larutan
hydrogen peroksida dingin secara perlahan dengan pengadukan yang baik. Lalu pindahkan ke
dalam wadah dan disimpan dalam temperatur ruangan hingga cairan menjadi gel yang jernih.

7. Basis clear Jelly


R/ Na-alginat 3g
Metil paraben 0,2 g

Natrium heksametafosfat 5g

Gliserin 10 g

Air murni 100 g

Cara pembuatan :

Metil paraben dilarutkan ke dalam gliserin dengan penambahan panas. Kemudian ditambahkan
air ke dalm gliserin yang hangat dengan pengadukanm yang cepat, kemudian Natrium
heksametafosfat dilarutkan ke dalam larutan. Lalu ditambahkan Na-alginat dengan pengadukan
cepat yang kontinu hingga terl;arut sempurna.

2.3.4 PERHITUNGAN FORMULA


Perhitungan formula gel :
Mengacu pada salep!!!

2.3.5 METODA DAN PROSEDUR PEMBUATAN

Proses pembuatan (Pustaka : Lachman, Disperse System Vol. 2):

1. Timbang sejumlah gelling agent sesuai dengan yang dibutuhkan

2. Gelling agent dikembangkan sesuai dengan caranya masing-masing

3. Timbang zat aktif dan zat tambahan lainnya

4. Tambahkan gelling agent yang sudah dikembangkan ke dalam campuaran tersebut atau
sebaliknya sambil diaduk terus-menerus hingga homogen tapi jangan terlalu kuat karena akan
menyerap udara sehingga menyebabkan timbulnya gelembung udara dalam sediaan yang
nantinya dapat mempengaruhi pH sediaan.

5. Gel yang sudah jadi dimasukkan ke dalam alat pengisi gel dan diisikan ke dalam tube sebanyak
yang dibutuhkan

6. Ujung tube ditutup lalu diberi etiket dan dikemas dalam wa dah ynag dilengkapi brosur dan
etiket

Wadah Gel
Gel lubrikan harus dikemas dalam tube dan harus disterilkan
Gel untuk penggunaan mata dikemas dalam tube steril.
Gel untuk penggunaan pada kulit dapat dikemas dalam tube atau pot salep.
Wadah harus diisi cukup penuh dan kedap udara untuk mencegah penguapan.

2.3.6. PEMBUATAN GEL STERIL


Metoda sterilisasi :
Gel steril digunakan untuk penggunaan mata dan untuk lubrikan alat/kateter yang
dimasukkan ke dalam tubuh. Gel disterilkan dengan metoda sterilisasi awal yaitu bahan awal
disterilkan masing-masing kemudiaan dibuat secara aseptic. Gel kemudian di masukkan ke
dalam wadah yang steril.

Cara lain gel dapat disterilkan dengan metoda sterilisasi akhir dengan radiasi sinar
gamma Co60.

Metoda sterilisasi wadah


Wadah untuk gel sterl adalah tube yang terbuat Dari logam. Tube disterilkan dengan
metoda panas kering, yaitu dengan pemanasan 160 C selama 1 jam.

Contoh formula gel steril :

Pilokarpin Hidroklorida (Sediaan Gel untuk Mata)

R/ Pilokarpin HCl (zat aktif) 4%

Benzalkonium klorida (pengawet) 0.08%

Dinatrium edetat (chelating agent)

Karbomer 940 (gelling agent)

Natrium hidroksida (adjust pH) qs

dan atau

Asam Hidroklorida (adjust pH) qs

Air murni (purified water) qs 100 mL

Cara Pembuatan :

Karbomer didispersikan ke dalam sebagian air dan disterilisasi dalam autoklaf. Pilokarpin
HCl, dinatrium edetat, dan benzalkonium klorida dilarutkan dalam air yang berbeda. Larutan ini
kemudian disterilisasi dengan metode filtrasi membran. Dispersi karbomer kemudian
ditambahkan ke dalam larutan pilokarpin pada kondisi aseptik. Volume akhir disesuaikan dengan
menambahkan air steril, juga dilakukan pada kondisi aseptik. Produk yang sudah jadi kemudian
diisikan ke dalam tube gel untuk mata yang sebelumnya sudah disterilkan, dilakukan pada
kondisi aseptik.
Pustaka : Avis, Lieberman, Lachman, 1993. Pharmaceutical Dosage Forms, Parenteral
Medication, Vol. II, 2nd Ed. Hal. 576

2.4 EVALUASI GEL


(Total perkiraan yang dibutuhkan 20 tube)

A. Evaluasi fisik

1. Penampilan (Diktat teknologi likuida dan semisolid hal.127)

Yang dilihat penampilan, warna dan bau.

2. Homogenitas ( Diktat teknologi likuida dan semisolid hal.127)

Caranya: oleskan sedikit gel diatas kaca objek dan diamati susunan partikel yang
terbentuk atau ketidak homogenan.

3. Viskositas/rheologi (lihat lampiran martin, Farfis hal 501)

Menggunakan viscometer Stromer dan viscometer Brookfield.

4. Distribusi ukuran partikel

Prosedur :

sebarkan sejumlah gel yang membentuk lapisan tipis pada slide mikroskop

Lihat di bawah mikroskop

Suatu partikel tidak dapat ditetapkan bila ukurannya mendekati sumber cahaya

Untuk cahaya putih, suatu mikroskop bisa dapat mengukur partikel 0,4 0,5 m.
Dengan lensa khusus dan sinar UV, batas yang lebih rendah dapat diperluas sampai 0,1

5. Uji Kebocoran ( Lihat Lampiran FI IV Hal. 1096)

6. Isi minimum (Lihat Lampiran FI IV hal.997)

7. Penetapan pH (Lihat Lampiran FI IV hal 1039)

8. Uji pelepasan Bhan aktif dari sediaan gel (Pustaka TA Ivantina Pelepasan
Diklofenak Dari Sediaan Salep)

Prinsip : mengukur kecepatan pelepasan bahan aktif dari sediaan gel dengan cara
mengukur konsentrasi zat aktif dalam cairan penerima pada waktu-waktu tertentu
9. Uji difusi bahan aktif dari sediaan gel (Pustaka TA Sriningsih Kecepatan difusi
kloramfenikol dari sediaan salep)

Prinsip : Menguji difusi bahan aktif dari sediaan gel menggunakan suatu sel difusi
dengan cara mengukur konsentrasi bahan aktif dalam cairan penerima pada selang waktu
tertentu)

10. Stabilitas gel (Dosage Form, disperse system vol.2 hal 507) 1 tube

a. Yield value suatu sediaan viskoelastis dapat ditentukan dengan menggunakan


penetrometer. Alat ini berupa logam kerucut atau jarum. Dalamnya penetrasi yang dihasilkan
dilihat dari sudut kontak dengan sediaan diwawah suatu tekanan. Yield value ini dapat
dihitung dengan rumus :

SO = yield value

m = massa kerucut dan fasa gerak (g)

g = percepatan gravitasi

p = dalamnya penetrasi (cm)

n = konstanta material mendekati 2

Yield value antara 100-1000 dines/cm2 menunjukkan kemampuan untuk mudah tersebar.
Nilai dibawah ini menunjukkan sediaan terlalu lunak dan mudah mengalir., diatas nilai ini
menunjukkan terlalu keras dan tidak dapat tersebar.

b. Dilakukan uji dipercepat dengan :

Agitasi atau sentrifugasi (Mekanik)

Sediaan disentrifugasi dengan kecepatan tinggi (sekitar 30000 RPM). Amati apakah
terjadi pemisahan atau tidak(Lachman hal 1081)

Manipulasi suhu

Gel dioleskan pada kaca objek dan dipanaskan pada suhu 30, 40, 50, 60, 70 C. Amati
dengan bantuan indicator (seperti sudan merah) mulai suhu berapa terjadi pemisahan, makin
tinggi suhu bearti makin stabil)
B. Evaluasi kimia
Identifikasi zat aktif (sesuai dengan monografi FI IV/kompendia lain)

Penetapan kadar zat aktif (sesuai dengan monografi FI IV/kompendia lain)

C. Evaluasi biologi
Uji penetapan potensi antibiuotik (lihat lampiran FI IV hal 891)

Uji sterilitas (lihat Lampiran FI IV Hal 855)


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Gel merupakan sediaan semipadat yang jernih, tembus cahaya dan mengandung zat
aktif, merupakan dispersi koloid mempunyai kekuatan yang disebabkan oleh jaringan
yang saling berikatan pada fase terdispersi.
2. Keuntungan sediaan gel :efek pendinginan pada kulit saat digunakan; penampilan
sediaan yang jernih dan elegan; pada pemakaian di kulit setelah kering meninggalkan
film tembus pandang, elastis, daya lekat tinggi yang tidak menyumbat pori sehingga
pernapasan pori tidak terganggu; mudah dicuci dengan air; pelepasan obatnya baik;
kemampuan penyebarannya pada kulit baik.
Kekurangan sediaan gel : harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air ,
Penggunaan emolien golongan ester harus diminimalkan atau dihilangkan untuk
mencapai kejernihan yang tinggi, gel dengan kandungan alkohol yang tinggi dapat
menyebabkan pedih pada wajah dan mata, penampilan yang buruk pada kulit bila
terkena pemaparan cahaya matahari, alkohol akan menguap dengan cepat dan
meninggalkan film yang berpori atau pecah-pecah sehingga tidak semua area tertutupi
atau kontak dengan zat aktif.
3. Formula Umum/standar biasanya terdiri dari Zat aktif, Basis gel, dan Zat tambahan.
4. Evaluasi gel, yaitu :
Evaluasi fisik
Evaluasi kimia
Evaluasi biologi
DAFTAR PUSTAKA

http://apotecherry.blogspot.co.id/2011/05/sediaan-gel_3072.html
https://chulpetals.wordpress.com/2013/12/13/makalah-gel-lengkap-dengan-literatur/
https://chulpetals.wordpress.com/2013/12/13/makalah-gel-lengkap-dengan-literatur/