Anda di halaman 1dari 16

TUGAS MAKALAH OBSTRUKSI USUS

Disusun oleh :

Eva Kusumayu P.P


ST162021

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Obstruksi intestinal merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang
sering dijumpai, merupakan 60--70% dari seluruh kasus akut abdomen yang
bukan appendicitis akuta. Penyebab yang paling sering dari obstruksi ileus adalah
adhesi/ streng, sedangkan diketahui bahwa operasi abdominalis dan operasi
obstetri-ginekologik makin sering dilaksanakan yang terutama didukung oleh
kemajuan di bidang diagnostik kelainan abdominalis.
Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana
merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi
usus (Sabara, 2007). Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia
didiagnosa ileus (Davidson, 2006). Di Amerika diperkirakan sekitar 300.000-
400.000 menderita ileus setiap tahunnya (Jeekel, 2003). Di Indonesia tercatat ada
7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap dan
7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004 menurut Bank data Departemen
Kesehatan Indonesia.

B. Rumusan masalah
1. Apa pengeertian dari obstruksi usus?
2. Apa etiologi dari obstruksi usus?
3. Apa manifestasi dari obstruksi usus?
4. Apa patofisiologi dari obstruksi usus?
5. Apa pemeriksaan penujang dari obstruksi usus?
6. Apa komplikasi dari obstruksi usus?
7. Bagaimana penatalaksanaan dari obstruksi usus?
8. Bagaimana asuhan keperawatan obstruksi usus?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang
traktus interstinal. Obstruksi usus dapat diartikan sebagai kegagalan usus
untuk melakukan propulsi (pendorongan) isi dari saluran cerna. Kondisi
tersebut dapat terjadi dalam berbagai bentuk baik yang terjadi pada usus
halus maupun usus besar (kolon). Obstruksi usus dapat akut dengan
kronik, partial atau total. Terdapat 2 jenis obstruksi usus: (1) Non-
mekanis (mis: ileus paralitik atau ileus adinamik), peristaltik usus
dihambat akibat pengaruh toksin atau trauma yang mempengaruhi
pengendalian otonom motilitas usus; (2) Mekanis, terjadi obstruksi di
dalam lumen usus atau obstruksi mural yang disebabkan oleh tekanan
ekstrinsik.
B. Etiologi
Obstruksi non-mekanis atau ileus adinamik sering terjadi setelah
pembedahan abdomen karena adanya refleks penghambatan peristaltik
akibat visera abdomen yang tersentuh tangan. Refleks penghambatan
peristaltik ini sering disebut sebagai ileus paralitik, walaupun paralisis
peristaltik ini tidak terjadi secara total. Keadaan lain yang sering
menyebabkan terjadinya ileus adinamik adalah peritonitis. Atoni usus dan
peregangan gas sering timbul menyertai berbagai kondisi traumatik,
terutama setelah fraktur iga, trauma medula spinalis, dan fraktur tulang
belakang.
Penyebab obstruksi mekanis berkaitan dengan kelompok usia yang
terserang dan letak obstruksi. Sekitar 50% obstruksi terjadi pada kelompok
usia pertengahan dan tua, dan terjadi akibat perlekatan yang disebabkan
oleh pembedahan sebelumnya. Tumor ganas dan volvulus merupakan
penyebab tersering obstruksi usus besar pada usia pertengahan dan orang
tua. Kanker kolon merupakan penyebab 90% obstruksi yang terjadi.
Volvulus adalah usus yang terpelintir, paling sering terjadi pada pria usia
tua dan biasanya mengenai kolon sigmoid. Inkarserasi lengkung usus pada
hernia inguinalis atau femoralis sangat sering menyebabkan terjadinya
obstruksi usus halus. Intususepsi adalah invaginasi salah satu bagian usus
ke dalam bagian berikutnya dan merupakan penyebab obstruksi yang
hampir selalu ditemukan pada bayi dan balita. Intususepsi sering terjadi
pada ileum terminalis yang masuk ke dalam sekum. Benda asing dan
kelainan kongenital merupakan penyebab lain obstruksi yang terjadi pada
anak dan bayi.
a. Mekanis
1) Adhesi/perlengketan pascabedah (90% dari obstruksi mekanik)
2) Karsinoma
3) Volvulus
4) Intususepsi
5) Obstipasi
6) Polip
b. Fungsional (non mekanik)
1) Ileus paralitik
2) Lesi medula spinalis
3) Enteritis regional
4) Ketidakseimbangan elektrolit
5) Uremia

C. Manifestasi klinis
a. Obstruksi Usus Halus
1) Gejala awal biasanya nyeri abdomen sekitar umbilicus atau bagian
epigastrium yang cenderung bertambah berat sejalan dengan beratnya
obstruksi dan bersifat intermitten. Jika obstruksi terletak di bagian
tengah atau letak tinggi dari usus halus maka nyeri bersifat konstan.
2) Klien dapat mengeluarkan darah dan mucus, tetapi bukan materi
fekal dan tidak terdapat flatus.
3) Umumnya gejala obstruksi usus berupa konstipasi, yang berakhir
pada distensi abdomen, tetapi pada klien dengan obstruksi parsial
biasa mengalami diare.
4) Pada obstruksi komplet, gelombang peristaltic pada awalnya menjadi
sangat keras dan akhirnya berbalik arah dan isi usus terdorong kearah
mulut.
5) Apabila obstruksi terjadi pada ileum maka muntah fekal dapat
terjadi. Semakin kebawah obstruksi dibawah area gastrointestinal
yang terjadi, semakin jelas adanya distensi abdomen.
6) Jika obstruksi usus berlanjut terus dan tidak diatasi maka akan terjadi
shock hipovolemia akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma,
dengan manifestasi klinis takikardi dan hipotensi. Suhu tubuh
biasanya normal tapi kadang-kandang dapat meningkat. Demam
menunjukkan obstruksi strangulate.
7) Pada pemeriksaan abdomen didapatkan abdomen tampak distensi
dan peristaltic meningkat. Pada tahap lanjut dimana obstrusi terus
berlanjut, peristaltic akan menghilang dan melemah. Adanya feces
bercampur darah pada pemeriksaan rectal toucher dapat dicurigai
adanya keganasan dan intususepsi.
b. Obstruksi Usus Besar
1) Nyeri perut yang bersifat kolik dalam kualitas yang sama dengan
obstruksi pada usus halus tetapi intensitasnya jauh lebih rendah.
2) Muntah muncul terakhir terutama bila katup ileosekal kompeten.
Pada klien dengan obstruksi di sigmoid dan rectum, konstipasi dapat
menjadi gejala satu-satunya dalam satu hari.
3) Akhirnya abdomen menjadi sangat distensi, loop dari usus besar
menjadi dapat dilihat dari luar melalui dinding abdomen.
4) Klien mengalami kram akibat nyeri abdomen bawah. (suratun &
lusianah, 2010. Hal. 339 )
D. Patofisologi
a. Obstruksi usus halus
Akumulasi isi usus, cairan, dan gas terjadi di daerah diatas usus yang
mengalami obstruksi. Distensi dan retensi cairan mengurangi absorpsi
cairan dan merangsang lebih banyak sekresi lambung. Dengan
peningkatan distensi, tekanan dalam lumen usus meningkat,
menyebabkan penurunan tekanan kapiler vena dan arteriola. Pada
gilirannya hal ini akan menyebabkan edema, kongesti, nekrosis, dan
akhirnya ruptur atau perforasi dari dinding usus, dengan akibat
peritonitis.
Muntah refluks dapat terjadi akibat distensi abdomen. Muntah
mengakibatkan kehilangan ion hidrogen dan kalium dari lambung,
serta menimbulkan penurunan klorida dan kalium dalam darah, yang
akhirnya mencetuskan alkalosis metabolik. Dehidrasi dan asidosis
yang terjadi kemudian, disebabkan karena hilangnya cairan dan
natrium. Dengan kehilangan cairan akut, syok hipovolemik dapat
terjadi.
b. Obstruksi usus besar
Seperti pada obstruksi usus halus, obstruksi usus besar mengakibatkan
isi usus, cairan, dan gas berada proksimal disebelah obstruksi.
Obstruksi dalam kolon dapat menimbulkan distensi hebat dan
perforasi kecuali gas dan cairan dapat mengalir balik melalui katup
ileal.
Obstruksi usus besar, meskipun lengkap, biasanya tidak dramatis bila
suplai darah ke kolon tidak terganggu. Apabila suplai darah terhenti,
terjadi strangulasi usus dan nekrosis (kematian jaringan); kondisi ini
mengancam hidup. Pada usus besar, dehidrasi terjadi lebih lambat
dibandingkan pada usus kecil karena kolon mampu mengabsorpsi isi
cairannya dan dapat melebar sampai ukuran yang dipertimbangkan
diatas kapasitas normalnya.
E. Pemeriksaan penujang
a. Laboratorium
Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan
diagnosis, tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat
ringannya dan membantu dalam resusitasi. Pada tahap awal,
ditemukan hasil laboratorium yang normal. Selanjutnya ditemukan
adanya hemokonsentrasi, leukositosis dan nilai elektrolit yang
abnormal. Peningkatan serum amilase sering didapatkan. Leukositosis
menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi, tetapi hanya terjadi
pada 38%-50% obstruksi strangulasi dibandingkan 27%-44% pada
obstruksi non strangulata. Hematokrit yang meningkat dapat timbul
pada dehidrasi. Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit.
Analisa gas darah mungkin terganggu, dengan alkalosis metabolik bila
muntah berat, dan metabolik asidosis bila ada tanda-tanda shock,
dehidrasi dan ketosis.
b. Radiologik
Adanya dilatasi dari usus disertai gambaran step ladder dan air
fluid level pada foto polos abdomen dapat disimpulkan bahwa
adanya suatu obstruksi. Foto polos abdomen mempunyai tingkat
sensitivitas 66% pada obstruksi usus halus, sedangkan sensitivitas
84% pada obstruksi kolon.
Pada foto polos abdomen dapat ditemukan gambaran step ladder dan
air fluid level terutama pada obstruksi bagian distal. Pada kolon bisa
saja tidak tampak gas. Jika terjadi stangulasi dan nekrosis, maka akan
terlihat gambaran berupa hilangnya muosa yang reguler dan adanya
gas dalam dinding usus. Udara bebas pada foto thoraks tegak
menunjukkan adanya perforasi usus. Penggunaan kontras tidak
dianjurkan karena dapat menyebabkan peritonitis akibat adanya
perforasi.
CT scan kadang-kadang digunakan untuk menegakkan diagnosa pada
obstruksi usus halus untuk mengidentifikasi pasien dengan obstruksi
yang komplit dan pada obstruksi usus besar yang dicurigai adanya
abses maupun keganasan.
F. Komplikasi
a. Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium
sehinnga terjadi peradangan atau infeksi yang hebat pada intra
abdomen.
b. Perforasi dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi selalu lama
pada organ intra abdomen.
c. Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan
baik dan cepat.
d. Syok hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume
plasma.
G. Penatalaksanaan
a. Obstruksi usus halus
Dekompresi usus melalui selang usus halus atau nasogatrik
bermanfaat dalam mayoritas kasus. Apabila usus tersumbat secara
lengkap, maka strangulasi yang terjadi memerlukan intervensi bedah.
Sebelum pembedahan, terapi IV diperlukan untuk mengganti
penipisan air, natrium, klorida, dan kalium.
Tindakan pembedahan terhadap obstruksi usus sangat tergantung
pada penyebab obstruksi. Penyebab paling umum dari obstruksi,
seperti hernia dan perlekatan, prosedur bedah mencakup perbaikan
hernia atau pemisahan perlekatan pada usus tersebut. Pada beberapa
situasi, bagian dari usus yang terkena dapat diangkat dan dibentuk
anastomosis. Kompleksitas prosedur bedah untuk obstruksi usus
tergantung pada durasi obstruksi dan kondisi usus yang ditemukan
selama pembedahan.
b. Obstruksi usus besar
Apabila obstruksi relatif tinggi dalam kolon, kolonoskopi dapat
dilakukan untuk membuka lilitan dan dekompresi usus. Sekostomi,
pembukaan secara bedah yang dibuat pada sekum, dapat dilakukan
pada pasien yang berisiko buruk terhadap pembedahan dan sangat
memerlukan pengangkatan obstruksi. Prosedur ini memberikan jalan
keluar untuk mengeluarkan gas dan sejumlah kecil rabas. Selang
rektal dapat digunakan untuk dekompresi area yang ada dibawah usus.
Tindakan yang biasanya dilakukan, adalah reseksi bedah untuk
mengangkat lesi penyebab obstruksi. Kolostomi sementara atau
permanen mungkin diperlukan. Kadang-kadang anastomosis ileoanal
dilakukan bila pengangkatan keseluruhan usus besar diperlukan.
penatalaksanaan penting yang dapat dilakukan pada penderita
obstruksi usus adalah:
1) Dekompresi usus yang mengalami obstruksi: pasang selang
nasogastrik
2) Ganti kelilangan cairan dan elektrolit: berikan ringer laktat atau
NaCl dengan suplemen K+
3) Pantau pasien-diagram keseimbangan cairan, kateter urine,
diagram suhu, nadi, dan napas regular, pemeriksaan darah.
4) Minta pemeriksaan penunjang sesuai dengan penyebab yang
mungkin
5) Hilangkan obstruksi dengan pembedahan jika:
a) Penyebab dasar membutuhkan pembedahan (misalnya hernia,
karsinoma kolon)
b) Pasien tidak menunjukan perbaikan dengan terapi konservattif
(misalnya obstruksi akibat adhesi); atau
c) Terdapat tanda-tanda starngulasi atau peritonitis.

H. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian
a. Keluhan utama
Biasanaya klien datang dengan keluhan sakit perut yang hebat,
kembung, mual, muntah, dan tidak ada BAB/defekasi yang lama.
b. Riwayat penyakit sekarang
1) Perubahan BAB sejak kapan? (frekunsi, jumlah, karakteristik)
2) Sakit perut? Kembung?
3) Mual, muntah? (frekuensi, jumlah, karakteristik)
4) Demam?
5) Bisa flatus?
6) Apakah diberi obat sebelum masuk RS?
c. Riwayat penyakit dahulu
1) Ada atau tidak riwayat tumor ganas, polip, peradangan kronik
pada usus?
2) Riwayat pernah dioperasi pada daerah abdomen?
3) Apakah ada riwayat hernia?
4) Apakah pernah mengalami cedera/trauma abdomen?
d. Pemeriksaan fisik
1) Inspeksi
a) Apakah klien tampak sakit, meringis
b) Ada muntah? Kaji warna dan karakteristik. Biasanya muntah
fekal
c) kelihatan sulit bernapas karena kembung?
d) Distensi abdomen
e) Tonjolan seperti bengkak pada abdomen
2) Auskultasi
Pada awal, bising usus cepat meningkat di atas sisi obstruksi,
kemudian bising usus berhenti.
3) Perkusi. timpany
4) Palpasi. Nyeri tekan
e. Pengkajian pola Gordon
1) Aktivitas atau istirahat
Gejala : Kelelahan dan ngantuk.
Tanda : Kesulitan ambulasi
2) Sirkulasi
Gejala : Takikardia, pucat, hipotensi ( tanda syok)
3) Eliminasi
Gejala : Distensi abdomen, ketidakmampuan defekasi dan Flatus
Tanda : Perubahan warna urine dan feces
4) Makanan atau cairan
Gejala : anoreksia,mual atau muntah dan haus terus menerus.
Tanda : muntah berwarna hitam dan fekal. Membran mukosa pecah-
pecah. Kulit buruk.
5) Nyeri atau Kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen terasa seperti gelombang dan bersifat kolik.
Tanda : Distensi abdomen dan nyeri tekan
6) Pernapasan
Gejala : Peningkatan frekuensi pernafasan,
Tanda : Napas pendek dan dangkal

2. Diagnosa keperawatan
a. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan nyeri dan distensi
abdomen
b. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
cairan aktif
c. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan gangguan absorpsi
d. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intralumen
usus
e. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan

3. Intervensi
a. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan nyeri dan distensi
abdomen ditandai dengan: nafas pendek dan dangkal
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
diharapkan pola napas klien kembali efektif
Criteria hasil:
1) RR dalam batas normal (16-20x/menit)
Intervensi:
a. Pantau frekuensi dan kedalaman pernapasan klien
b. Kaji tanda-tanda vital
c. Berikan posisi semi fowler
d. Ajarkan klien teknik relaksasi napas dalam untuk memperbaiki pola
pernapasan
e. Berikan oksigen sesuai indikasi

b. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan


cairan aktiv
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24 jam
diharapkan kekurangan volume cairan dapat dicegah
Criteria Hasil:
1) Tidak mengalami haus yang tidak normal
2) memmbran mukosa lembab
3) Konsentrasi urin normal (1.015-1.03 g/ml)
4) Hematokrit dalam batas normal (40-48 % pria ; 37-43 % wanita)
Intervensi:
a. Pantau frekuensi kehilangann cairan pasien.
b. Kaji pasien adanya rasa haus, kelelahan, nadi cepat, turgor kulit
jelek, membrane mukosa kering.
c. Berikan perawatan mulut secara teratur.
d. Tingkatkan asupan oral, misalnya sediakan jus/es kesukaan pasien.
e. Berikan penjelasan kepada keluarga mengenai pentingnya intake
cairan dalam kondisi seperti ini.
f. Kolaborasi berikan cairan 0,9 % NaCl (normal salin) atau ringer
laktat

c. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan gangguan absorpsi ditandai dengan: nyeri abdomen, cepat sekali
kenyang setelah makan.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 7x24 jam
diharapkan nutrisi klien seimbang.
Criteria hasil:
1) Berat badan stabil
2) Bising usus kembali normal 6-12x/menit
3) Kembung dan distesi abdomen menurun
Intervensi:
a. Kaji kebutuhan nutrisi klien
b. Observasi tanda-tanda kekurangan nutrisi
c. Anjurkan pembatasan aktivitas selama fase akut
d. Evaluasi secara berkala kondisi motilitas usus
e. Jika obstruksi sangat parah, hindari intake secara oral.
f. Berikan nutrisi parenteral.
g. Beri makanan dalam porsi kecil tapi sering
h. Berikan perawatan oral.
i. Berikan stimulant permen karet.
j. Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai jenis nitrisi yang akan
digunakan pasien.

d. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intralumen usus


ditandai dengan: ekspresi meringis, klien mmengeluh merasa nyeri pada
daerah abdomen.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan nyeri teratasi atau terkontrol
Criteria hasil:
1) Pasien mengungkapkan penurunan ketidaknyamanan
2) menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan
relaks.
3) Menunjukanan tindakan pengendalian nyeri
Intervensi:
1) Kaji nyeri dengan teknik PQRST
2) Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman
3) Ajarkan teknik relaksasi atau distraksi seperti mendengarkan
music atau menonton tv.
4) Kolaborasi pemberian analgetik

e. Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan


ditandai dengan rasa nyeri yang meningkatkan ketidakberdayaan,
mengungkapkan kekhawatiran.
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam
diharapkan ansietas berkurang
Criteria hasil:
1) Klien akan menggunakan teknik relaksasi untuk meredahkan
ansietas
Intervensi:
1) Kaji tingkat kecemasan klien
2) Sediakan waktu untuk mendengarkan ungkapkan ansietas dan
rasa takut; berikan penenangan.
3) Pertahankan lingkungan yang tenang
4) Sediakan pengalihan melalui televisi, radio, permainan untuk
menurunkan ansietas
5) Jelaskan prosedur dan tindakan dan beri penguatan penjelasan
mengenai penyakit, tindakan dan prognosis.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus
sepanjang traktus interstinal yang disebabkan oleh factor mekanik atau
nonmekanik (fungsional). Manifestasi klinis yang dapat dilihat adalah
adanya sakit yang hebat pada abdomen, mual, muntah. Peneeriksaan
penunjang berupa pemeriksaan laboratorium dan foto rontgen abdomen.
Penatalaksanaan yang penting yang harus dilakukan adalah pemberian
cairan yang hilang melalui muntah, dekompresi usus, dan tindakan operasi
bila ada indikasi. Adapun masalah keperawatan yang muncul pada klien
dengan obstruksi usus adalah Ketidakefektifan pola napas berhubungan
dengan nyeri dan distensi abdomen, Risiko kekurangan volume cairan
berhubungan dengan kehilangan cairan aktif, Ketidakseimbangan nutrisi:
kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan absorpsi,
Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intralumen usus, dan
Ansietas berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA

Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahern. 2012, Buku Saku Diagnosis Keperawatan:


Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC (Edisi 9). Jakarta: ECG

Pierce A. Grace & Neil R. Borley. 2006. At a Glance Ilmu Bedah. Edisi III,
Penerbit Erlangga: Jakarta