Anda di halaman 1dari 38

APORAN INDIVIDU ASKEB KOMUNITAS STIKES BHAMADA SLAWI

LAPORAN ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS DALAM


KONTEK KELUARGA Tn.S DI RT 04 RW 07 DESA
TIMBANGREJA KECAMATAN LEBAKSIU KABUPATEN
TEGAL

Disusun Oleh:
SUCI ARUSIH
NIM B0012014

STIKES BHAKTI MANDALA HUSADA SLAWI


PRODI DIII KEBIDANAN REGULER
Jln. Cut Nyak Dien Kalisapu Slawi, Telp. (0283) 3317706, 3308331
2016
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Asuhan Kebidanan Komunitas Dalam Konteks Keluarga Tn. S Rt 04 RW 07 di


Desa Timbangreja Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal, telah mendapat pengesahan dari:

Istri Mahasiswa

Ny. S Suci Arumsih


B0013043

Mengetahui
Pembimbing Akademik

Adrestia Rifki Naharani, S.SiT


NIPY: 1987.06.10.10.058

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Asuhan Kebidanan Komunitas Dalam
Konteks Keluarga Tn. S Rt 04 RW 07 di Desa Timbangreja Kecamatan Lebaksiu Kabupaten
Tegal dengan baik.
Laporan Asuhan Kebidanan Komunitas ini disusun untuk memenuhi tugas Pembangunan
Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD), di Desa Timbangreja yang dilakukan dari tanggal 14
Maret 04 April 2016. Laporan ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan dari berbagai pihak.
Oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Ibu Tri Agustina H, S.ST. M.Kes selaku Ketua STIKES BHAMDA Slawi.
2. Bapak Pimpin Surono, SH selaku Camat Lebaksiu.
3. Bapak Karsidi selaku Kepala Desa Timbangreja.
4. Ibu Siswati, S.SiT. M.Kes selaku ketua prodi DIII kebidanan.
5. Ibu Adrestia RN, S. Si T selaku koordinator dan pembimbing PKMD.
6. Ibu Aspin, S.ST selaku bidan desa Timbangreja.
Laporan Individu Asuhan Kebidanan Komunitas ini sebagai tambahan referensi, melatih
mahasiswa untuk memberikan intervensi serta menambah pengetahuan bagi masyarakat.
Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, kami
berharap saran dan kritik yang membangun dari pembaca untuk kebaikan makalah ini ke depan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk semua pihak.

Slawi, April 2016

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... ii
KATA PENGANTAR................................................................................. iii
DAFTAR ISI............................................................................................... iv
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG.................................................................................. 1
B. TUJUAN ............................................................................................1
1. Tujuan Umum ............................................................................................1
2. Tujuan khusus ............................................................................................2
C. METODE PENGUMPULAN DATA.......................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Dasar Keluarga............................................................................... 3
B. Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas......................... 7
BAB III TINJAUAN KASUS.................................................................... 9
BAB IV PEMBAHASAN........................................................................... 25
BAB IV PENUTUP.................................................................................... 29
A. Simpulan...................................................................................................... 29
B. Saran............................................................................................................ 29
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator yang dapat
digunakan. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercermin dalam kondisi angka kematian,
angka kesakitan dan status gizi. Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat digambarkan
melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), angka morbiditas beberapa
penyakit dan status gizi. Sedangkan Kabupaten Tegal pada tahun 2015 telah menyumbangkan
Angka Kematian Ibu sebanyak 33 orang dan Angka Kematian Bayi sebanyak 79 bayi. AKI dan
KB yang tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan.
Masalah kesehatan adalah merupakan masalah yang sangat kompleks, oleh karena itu perlu
diupayakan secara menyeluruh dan bersama-sama dengan masyarakat untuk mengatasinya.
Dalam pelaksanaanya, pelayanan kesehatan diupayakan dekat dengan masyarakat, sehingga
strategi pelayanan kesehatan yang utama merupakan pendekatan yang juga menjadi acuan
pelayanan kesehatan yang akan diberikan. Artinya, upaya pelayanan atau asuhan yang diberikan
tersebut merupakan upaya essensial atau sangat dibutuhkan oleh masyarakat/ komunitas, dan
secara universal upaya tersebut mudah dijangkau (Karwati, 2011).
Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya sesuai rencana strategis
Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013-2018, maka pembangunan kesehatan dilakukan dengan cara
meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkeadilan, mewujudkan sumber daya
manusia yang berdaya saing, mewujudkan peran serta masyarakat dan pemangku kepentingan
dalam pembangunan kesehatan, melaksanakan pelayanan administrasi internal dan pelayanan
public yang bermutu.
Salah satu upaya mewujudkan peran serta masyarakat dan pemangku kepentingan dalam
pembangunan kesehatan yaitu meningkatkan kepedulian
masyarakat akan informasi kesehatan sehingga memberikan nilai positif bagi pembangunan
kesehatan itu sendiri.
Dalam hal ini penulis mengambil kasus pada keluarga Tn. S pada RT. 04 RW 07 Desa
Timbangreja Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal sebagai bukti pelaksanaan praktek
kebidanan komunitas dan melaksanakan implementasi sesuai dengan prioritas masalah.

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Dengan diadakannya praktek belajar lapangan asuhan kebidanan komunitas diharapkan
mampu menerapkan teori di lapangan secara nyata.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menganalisa data yang ada.
b. Mahasiswa mampu merumuskan masalah.
c. Mahasiswa mampu memprioritaskan masalah.
d. Mahasiswa mampu mendiagnosa masalah.
e. Mahasiswa mampu merencanakan tindakan dari permasalahan yang ada dan
mengimplementasikannya.

C. METODE PENGUMPULAN DATA


Metode yang digunakan dalam penulisan laporan, menggunakan metode pengumpulan data
yaitu:
1. Survei
Survey adalah suatu cara penelitian deskriptif yang dilakukan terhadap sekumpulan objek yang
biasanya cukup banyak dalam jangka waktu tertentu (Notoatmodjo, 2010).
2. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode yang dikunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti
mendapatkan keterangan dan pendirian secara lisan dari seorang sasaran penelitian (responden)
atau bercakap cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (Notoatmodjo, 2010).
3. Observasi
Adalah suatu hasil penelitian aktif dan penuh perhatian menyadari adanya rangsangan
(Notoatmodjo, 2010).
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Keluarga


1. Definisi Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa
orang yang terdiri atas kepala keluarga dn beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu
tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Karwati, 2011).
2. Struktur Keluarga
Menurut Karwati (2011), struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya
adalah:
a. Patrilineal
Keluarga sederhana yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa generasi,
dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah.
b. Matrilineal
Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam beberapa
generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal
Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama kelaurga sedarah istri
d. Patrilokal
Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami.
e. Keluarga kawinan
Keluaarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan keluarga,
dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan
suami atau istri.
3. Ciri-ciri Keluarga
Menurut Karwati (2011), ciri-ciri keluarga antara lain yaitu:
a. Diikat dalam suatu tali perkawinan
b. Ada hubungan darah
c. Ada ikatan batin
d. Ada tanggung jawab masing-masing anggotanya
e. Ada pengambil keputusan
f. Kerjasama diantara anggota keluarga
g. Komunikasi interaksi antar anggota keluarga
h. Tinggal dalam satu rumah/atap
Menurut Karwati (2011), ciri-ciri keluarga Indonesia antara lain yaitu:
a. Suami sebagai pengambil keputusan
b. Merupakan suatu kesatuan yang utuh
c. Berbentuk monogram
d. Bertanggung jawab
e. Pengambil keputusan
f. Meneruskan nilai-nilai budaya bangsa
g. Ikatan keluarga sangat erat
h. Mempunyai semangat gotong royong
4. Bentuk-bentuk keluarga
Menurut Karwati (2011), bentuk keluarga antara lain:
a. Keluarga inti (nuclear family)
Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak.
b. Keluarga besar (exstended family)
Keluarga besar adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya: nenek,
keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan sebagainya.

c. Keluarga berantai (serial family)


Keluarga berantai adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu
kali dan merupakan satu keluarga inti.
d. Keluarga duda/ janda (single family)
Keluarga duda/janda adalah keluaga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
5. Fungsi-fungsi keluarga
Menurut Suprajitno (2004), fungsi keluarga antara lain:
a. Fungsi afektif adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala sesuatu untuk
mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini dibutuhkan untuk
perkembangan individu dan psikososial anggota keluarga.
b. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi adalah fungsi mengembangkan dan tempat melatih
anak berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubunngan dengan orang lain
di luar rumah.
c. Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan
keluarga.
d. Fungsi ekonomi yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keuarga secara ekonomi
dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan penghasilan untuk
memenuhi kebutuhan keluarga.
e. Fungsi perawatan/ pemeliharaan kesehatan yaitu fungsi untuk mempertahankan keadaan
kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas tinggi.
6. Tugas Keluarga
Menurut Karwati (2011), tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:
a. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya
b. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga
c. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannyamasing-masing
d. Sosialisasi antar anggota keluarga
e. Pengaturan jumlah anggota keluarga
f. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga
g. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyrakat yang lebih luas
h. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga
7. Tahap-tahap keluarga
Bukan hanya individu saja yang memiliki tahap perkembangan, keluargapn memiliki
tahap perkembangan dengan berbagai tugas perkembangan yang harus diselesaikan pada
tahapnya. Ada perbedaan pembagian tahap perkembangan menurut Carter dan McGoldrick
(1989( dan Duvall (1985).
Carter dan McGoldrick Duvall
1. Keluarga antara: masa bebas (pacaran) Tidak diidentifikasi karena periode
dewasa muda waktu antara dewasa dan menikah tak
dapat ditentukan
2. Terbentuknya keluarga baru melalui
1. Keluarga baru menikah
suatu perkawinan
3. Keluarga yang memiliki anak usia
2. Keluarga dengan anak baru lahir (Usia
muda (anak usia bayi sampai usia anak tertua sampai 30 bulan)
3. Keluarga dengan anak pra-sekolah
sekolah)
(usia anak tertua 21/2-5 tahun)
4. Keluarga dengan anak usia sekolah
(usia anak tertua 6-12 tahun)
5. Keluarga dengan anak remaja (usia
anak tertua 13-20 tahun)
4. Keluarga yang memiliki anak dewasa6. Keluarga mulai melepas anak sebagai
dewasa (anak-anaknya mulai
meninggalkan rumah)
7. Keluarga yang hanya terdiri dari orang
tua saja/ keluarga usia pertengahan
(semua anak meninggalkan rumah)
5. Keluarga yang mulai melepas anaknya
8. Keluarga lansia
untuk keluar rumah
6. Keluarga lansia

B. Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Komunitas


1. Definisi Asuhan Kebidanan Komunitas dalam Kontek Keluarga
Konsep adalah kerangka ide yang mengandung suatu pengertian tertentu. Kebidanan
berasal dari kata Bidan. Kebidanan adalah mencankup pengetahuan yang dimilikai dan
kegiatan pelayanan untuk menyelamtkan ibu dan bayi, kebidanan merupakan profesi tertua
didunia sejak adanya peradaban umat manusia (Karwati,dkk. 2011).
Bidan adalah seorang yang telah mengikuti program pendidikan kebidanan yang diakui
oleh negaranya, telah lulus dari pendidikan tersebut, serta memenuhi kualifikasi untuk didaftar
(registrasi) atau memiliki ijin yang sah (lisensi) untuk melakukan praktik kebidanan (Pudiastuti,
2011)
Komunitas adalah kelompok orang yang berada disuatu lokasi atau daerah atau area
tertentu. Bidan komunitas adalah bidan yang bekerja melayani keluarga dan masyarakat
diwilayah tertentu. Kebidanan komunitas adalah konsep dasar bidan dalam melayani keluarga
dan masyarakat.
Pelayanan kebidanan komunitas adalah upaya yang dilakukan bidan untuk pemecahan
terhadap masalah kesehatan ibu dan anak balita didalam keluarga dan masyarakat (Ambarwati,
2009).
2. Tujuan asuhan kebidanan dikomunitas
a. Tujuan umum
Mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya kesehatan perempuan diwilayah
kerja bidan.
b. Tujuan khusus
1) Meningkatkan cakupan pelayanan kebidanan komunitas sesuai tangguang jawab bidan
2) Meningkatkan pelayanan mutu ibu hamil, pertolongan persalinan, perawatan nifas, dan perinatal
secara terpadu
3) Menurunkan jumlah kasus-kasus yang berkaitan dengan resiko kehamilan, persalinan, nifas, dan
perinatal
4) Mendukung program-program pemerintah lainnya untuk menurunkan angka kematian ibu dan
anak
5) Membangun jejaring kerja dengan fasilitas rujukan dan tokoh masyarakat setempat atau terkait.
3. Metode Prioritas Masalah
Masalah yang telah diidentifikasi perlu ditentukan menurut urutan atau prioritas masalah,
untuk itu digunakan beberapa metode. Metode yang dapat digunakan dalam menetapkan urutan
prioritas masalah, pada umumnya dibagi atas, Teknik Skoring dan Teknik Non Skoring, sebagai
berikut : Teknik scoring dapat digunakan apabila tersedia data kuantitatif atau data yang dapat
terukur dan dapat dinyatakan dalam angka, yang cukup dan lengkap. Yang termasuk teknik
scoring dalam penetuan prioritas masalah, yakni:
a. Metode USG (Urgency, Seriousness, and Growth)
b. Metode MCUA (Multi Criteria Utility Assesment)
c. Metode CARL (Capability, Accesability, Readiness & Leverage)
d. Metode Hanlon (nama penemu metode Hanlon)
BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS DALAM KONTEKS KELUARGA PADA Tn. S


DI RT 04 RW 07 DESA TIMBANGREJA
KECAMATAN LEBAKSIU KABUPATEN TEGAL

A. Pengumpulan Data
1. Data Subyektif
a. Biodata
Nama KK : Tn. S
Umur: 35 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Pelayaran
Alamat : Desa Timbangreja RT 04 RW 07
b. Nama Anggota Keluarga
No Nama Umur L Status Pendidikan Status KB Keadaan
/ Imunisasi Fisik
P
1 Ny. S 31 th P Istri SMP Lengkap Tidak Sehat
memakai
2 By. S 8 bulan P Anak Belum sekolah DPT HB3 - Sehat
3 Tn. T 58 L Kakek SD - - Sehat
tahun
4 Ny. S 50 P Nenek SD - Tidak Sehat
tahun memakai
5 Nn. A 13 P Saudara pr SMP Lengkap - Sehat
tahun
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Ny.S
Tn.S
Tn.W
Ny.S
Ny.A
Ny.H
Ny.H
Tn.T
Tn.H
An.S

A&S
A&S
A&S
A&S

A&S
A&S
A&S
A&S
A&S

A&S

Keterangan :

: Perempuan : anggota keluarga Pr yg dikaji

: Laki-laki : anggota keluarga Lk yg dikaji

: Hubungan Menikah
d. Kebutuhan sehari-hari
Kebiasaan tidur Ny. S Anak Kakek Nenek Sdr pr
Lama istirahat siang 1 jam 3 jam 2 jam 1 jam 2 jam
Istirahat malam 7 jam 9 jam + 6 jam 7 jam 7 jam
Gangguan Tidak ada Sering ngompol Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Kebiasaan makan
Makan 3x perhari 2 x/hari 3x sehari 3x perhari 3 x/hari
Porsi 1 piring 1/2 mangkok 1 piring 1 piring 1 piring
Jenis Nasi, lauk Bubur susu Nasi, lauk Nasi, lauk Nasi, lauk
pauk pauk pauk pauk
Gangguan Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Males makan
Pola Eliminasi
BAB 2x per hari 2 x/hari 1x sehari 1x per hari 1 x/hari
Warna Kuning Kuning Kuning Kuning Kuning
kecoklatan kecoklatan kecoklatan kecoklatan
Konsistensi Lunak Lunak Lunak Lunak Lunak
Gangguan Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
BAK 3-4 x/ hari 4-5 x/ hari 4-5 x/hari 3-4 x/ hari 3-4 x
Warna Kuning jernih Kuning jernih Kuning jernih Kuning jernih Kuning jernih
Gangguan Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Personal Hygiene
Mandi 2 x/hari 2 x/hari 2x /hari 2x /hari 2x /hari
Keramas 3 hari sekali 2 hari sekali 3 hari sekali 3 hari sekali 3 hari sekali
Gosok gigi 2 x/hari Tidak 2x/hari 2x /hari 2x /hari
Pola Kebiasaan
Kesehatan
Minum alcohol Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Obat-obatan terlarang Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Merokok Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
Penggunaan waktu Menonton Tv, jalan-jalan Menonton tv Menonton Tv, Menonton Tv,
luang jamiyahan jamiyahan maen ke
rumah teman
e. Status Sosial Ekonomi
Penghasilan : > Rp. 2.000.000,-
Tabungan Keluarga : Tidak ada
f. Situasi Rumah dan Lingkungan
1) Denah Rumah
sungai

K. Mandi Dapur ket:


: SPAL
Ruang makan : sumber air
Kamar : septik tank

Kamar
R. Tamu
Warung sembako

2) Jenis Rumah : Permanen


3) Atap rumah : Genteng
4) Lantai rumah : Keramik
5) Ventilasi : Cukup
6) Kebersihan dan kerapian : Cukup
7) Pembuangan sampah : Terbuka
8) Sumber air : Sumur
9) Sumber pembuangan limbah : Septik tank & sungai
10) Jamban : Pribadi
11) Kandang ternak : Tidak ada
12) Pemanfaatan pekarangan : Ditanami bunga
13) Pemanfaatan fasilitas kesehatan : Puskesmas, BPS
14) Kepemilikan asuransi kesehatan miskin : Tidak ada

g. Riwayat KB ibu
1) Jenis KB : Tidak menggunakan KB
2) Lama : -
3) Keluhan : -
t kontrasepsi : Ny. S mengatakan belum mengetahui tentang macam-macam KB.
ntrasepsi : Ny. S mengatakan tidak ingin menggunakan kb suntik jika suaminya pulang.
h. Pengetahuan Anggota Keluarga tentang kesehatan
Ibu : Ibu mengatakan tidak mengetahui tentang jenis-jenis KB, tumbuh kembang anak usia 9-12
bulan, dan MP ASI.
Nenek : Ny. S mengatakan tidak mengetahui tentang menopause.
Saudara Pr : Nn. A mengatakan tidak mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja
i. Fungsi Keluarga
ndidikan : Ibu selalu mengajarkan anaknya untuk berjabat tangan dengan orang yang lebih tua/dengan
tamu.
lindungan : Keluarga selalu melindungi dan menjaga anggota keluarga dalam situasi apapun.
onomi : Ayah bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
j. Keadaan Psikologis dan Spiritual
Perasaan : Masing-masing anggota keluarga peka terhadap perasaan anggota yang lain.
Agama : Kakek selalu mengajak ibu untuk menjalankan ibadah shalat.
ogis : Keluarga selalu memberikan kasih sayang, Perhatian, dan rasa aman di antara keluarga, serta
membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga.
l. Sosial Budaya
Sosialisasi : Kakek mengajarkan kepada keluarganya untuk bersosialisasi kepada masyarakat
sekitar.
Rekreasi : Keluarga selalu meluangkan waktu untuk menonton TV bersama.
m. Transportasi
Kendaraan pribadi : Sepeda Motor
Angkutan umum : Tidak menggunakan
ogis : Keluarga mengatakan jarak antara rumah dengan fasilitas kesehatan dekat, bila sakit segera
periksa ke BPS, Puskesmas, atau Dokter.
2. Data Obyektif
a. Ibu
1) Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmetis
BB/TB : 48 kg/155 cm
TTV : TD : 110/70 mmHg Rr : 22 X/mnt
N : 80 x/mnt S : 36,7C
Kepala : Mesochepal
Rambut : Tidak rontok, tidak berketombe
Mata
Conjungtiva : Merah (Tidak Anemia)
Sclera : Putih (Tidak Ikterik)
Hidung : Tidak ada polip
: Tidak ada stomatitis, bibir lembab, tidak labioskisis
: Simetris, pendengaran baik
: Tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid dan vena jugularis
: Tidak ada pembesaran pada kelenjar limfe

: Simetris
ae : Tidak ada benjolan abnormal
en : Tidak ada pembesaran hati
a : Tidak oedem, tidak varises
itas
: Tidak oedem, tidak varises
: Tidak oedem, tidak varises
b. Anak
1) Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmetis
TTV : Rr : 34 x/mnt
N : 90 x/mnt S : 36,4C
Kepala : Mesochepal
Mata
Conjungtiva : Merah (tidak anemia)
Sclera : Putih (Tidak Ikterik)
Hidung : Tidak ada polip
Mulut : Tidak stomatitis, tidak labioskisis
Telinga : Simetris, pendengaran baik
: Tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid dan vena jugularis
Ketiak : Tidak ada pembesaran pada kelenjar limfe
Dada
Bentuk : Simetris
Abdomen : Tidak ada pembesaran hati
Genetalia : labia mayora menutupi labia minora
Ekstremitas
Atas : Simetris, gerak aktif, tidak ada fraktur
Bawah : Simetris, gerak aktif, tidak ada fraktur
2) Pemeriksaan tumbang
BB/TB : 8,5 kg/79 cm
Normal (-2SD s/d 2 SD)
Lingkar kepala : 42 cm
Ukuran LK dalam garis hijau maka lingkar kepala anak normal
: Jumlah jawaban Ya = 10
perkembangan anak sesuai dengan tahap perkembangan (S)
: Semua jawaban Ya = Normal
c. Tn. T (Kakek)
1) Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmetis
BB/TB : 58 kg/ 165 cm
TTV : TD : 130/80 mmHg Rr : 22 X/mnt
N : 90 x/mnt S : 36,7C
Kepala : Mesochepal
Rambut : Tidak rontok, Tidak berketombe
Mata
Conjungtiva : Merah (Tidak Anemia)
Sclera : Putih (Tidak Ikterik)
Hidung : Tidak ada polip
: Tidak stomatitis, bibir lembab, tidak labioskisis
: Simetris, pendengaran baik
: Tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid dan vena jugularis
: Tidak ada pembesaran pada kelenjar limfe

: Simetris
ae : Tidak ada benjolan abnormal
en : Tidak ada pembesaran hati
a : Tidak oedem, tidak varises
itas
: Tidak oedem, tidak varises
: Tidak oedem, tidak varises
d. Ny. S (nenek)
1) Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmetis
BB/TB : 58 kg/ 155 cm
TTV : TD : 140/80 mmHg Rr : 22 X/mnt
N : 90 x/mnt S : 36,7C
Kepala : Mesochepal
Rambut : Tidak rontok, Tidak berketombe
Mata
Conjungtiva : Merah (Tidak Anemia)
Sclera : Putih (Tidak Ikterik)
Hidung : Tidak ada polip
: Tidak stomatitis, bibir lembab, Tidak labioskisis
: Simetris, pendengaran baik
: Tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid dan vena jugularis
: Tidak ada pembesaran pada kelenjar limfe

: Simetris
ae : Tidak ada benjolan abnormal
en : Tidak ada pembesaran hati
a : Tidak oedem, tidak varises
itas
: Tidak oedem, tidak varises
: Tidak oedem, tidak varises
e. Nn. A (Saudara Pr)
1) Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmetis
BB/TB : 37 kg/140 cm
TTV : TD : 110/70 mmHg Rr : 22 X/mnt
N : 80 x/mnt S : 36,7C
Kepala : Mesochepal
Rambut : Tidak rontok, Tidak berketombe
Mata
Conjungtiva : Merah (tidak anemia)
Sclera : Putih (Tidak Ikterik)
Hidung : Tidak ada polip
: Tidak stomatitis, bibir lembab, Tidak labioskisis
Telinga : Simetris, pendengaran baik
: Tidak ada pembesaran pada kelenjar tyroid dan vena jugularis
Ketiak : Tidak ada pembesaran pada kelenjar limfe

Dada
Bentuk : Simetris
Mammae : Tidak ada benjolan abnormal
Abdomen : Tidak ada pembesaran hati
a : Tidak oedem, tidak varises
itas
: Tidak oedem, tidak varises
: Tidak oedem, tidak varises

B. Analisa Data
Dari analisis data masalah kesehatan yang dialami keluarga Tn. S:
1. Ny.S mengatakan belum mengetahui tentang macam-macam KB.
2. Ny.S mengatakan belum mengetahui tentang tumbuh kembang anak.
3. Ny.S mengatakan belum mengetahui tentang MP ASI.
4. Ny. S (nenek) mengatakan belum mengetahui tentang menopause.
5. Nn. A (sdra pr) mengatakan belum mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja.

C. Perumusan Masalah
Perumusan masalah kesehatan yang dialami keluarga Tn. S adalah :
1. Kurangnya pengetahuan Ny.S tentang macam-macam KB.
2. Kurangnya pengetahuan Ny.S tentang tumbuh kembang anak.
3. Kurangnya pengetahuan Ny.S tentang MP ASI.
4. Kurangnya pengetahuan Ny.S (nenek) tentang menopause.
5. Kurangnya pengetahuan Nn.A (sdra pr) tentang kesehatan reproduksi remaja.

D. Prioritas Masalah
Sesuai data yang diperoleh saat pengkajian terdapat beberapa masalah kesehatan, yaitu:
1. Kurangnya pengetahuan ibu tentang macam-macam KB
No Kriteria Perhitungan Score
1. Kurangnya pengetahuan ibu tentang macam-macam KB
a. Sifat masalah
b. Kemungkinan masalah dapat diubah rendah 2/3 x 1
c. Potensi masalah untuk diubah tinggi 2/2 x 2 2/3
d. Menonjolnya masalah 2/3 x 1 2
1/2 x 1 2/3

Jumlah 3
2. Kurangnya pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang anak
No Kriteria Perhitungan Score
1. Kurangnya pengetahuan ibu tentang tumbuh kembang
anak
a. Sifat masalah 2/3 x 1
b. Kemungkinan masalah dapat diubah rendah 2/2 x 2 2/3
c. Potensi masalah untuk diubah tinggi 2/3 x 1 2
d. Menonjolnya masalah 1/2 x 1 2/3
1/2
Jumlah 4
3. Kurangnya pengetahuan ibu tentang MP ASI
No Kriteria Perhitungan Score
1. Kurangnya pengetahuan ibu tentang MP ASI
a. Sifat masalah 2/3 x 1 2/3
b. Kemungkinan masalah dapat diubah rendah 2/2 x 2 2
c. Potensi masalah untuk diubah tinggi 3/3 x 1 1
d. Menonjolnya masalah 2/2 x 1 1
Jumlah 4

4. Kurangnya pengetahuan tentang menopause


N Kriteria Perhitungan Score
o
1 Kurangnya pengetahuan menopause
a. Sifat masalah 1/3 x 1 1/3
b. Kemungkinan masalah dapat diubah rendah 2/2 x 2 2
c. Potensi masalah untuk diubah tinggi 1/3 x 1 1/3
d. Menonjolnya masalah 0/2 x 1 0
Jumlah 2

5. Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja


N Kriteria Perhitungan Score
o
1 Kurangnya pengetahuan kesehatan reproduksi remaja
Sifat masalah
b Kemungkinan masalah dapat diubah rendah 2/3 x 1 2/3
Potensi masalah untuk diubah tinggi 2/2 x 2 2
d Menonjolnya masalah tidak dirasakan 1/3 x 1 1/3
0/2 x 1 0
Jumlah 3

Hasil prioritas masalah berdasarkan metode scoring adalah


a. Kurangnya pengetahuan ibu tentang MP ASI = 4
b. Kurangnya pengetahuan tentang tumbuh kembang anak = 4
c. Kurangnya pengetahuan tentang macam-macam KB = 3
d. Kurangnya pengetahuan tentang KRR = 3
e. Kurangnya pengetahuan tentang menopause = 2

E. Diagnosa Masalah
Keluarga Tn. S dengan masalah :
1. Kurangnya pengetahuan Ny. S tentang MP ASI
2. Kurangnya pengetahuan Ny. S tentang tumbuh kembang anak
3. Kurangnya pengetahuan Ny.S tentang macam-macam KB
4. Kurangnya pengetahuan Nn.A (sdra pr) tentang KRR
5. Kurangnya pengetahuan Ny.S (nenek) tentang menopause

F. Rencana Tindakan
Tanggal 29 Maret 2016 jam 13.00 WIB
1. Beritahu Ny. S tentang MP ASI
2. Beritahu Ny. S tentang tumbuh kembang anak
3. Beritahu Ny. S tentang Jenis-jenis KB
4. Beritahu Nn. A (sdra pr) tentang KRR
5. Beritahu Ny.S (nenek) tentang menopause

G. Pelaksanaan
Tanggal 29 Maret 2016
1. Jam : 13.05 WIB
Menjelaskan pada Ny. S tentang MP ASI
a. Pengertian MP ASI
MP ASI adalah makanan yang diberikan kepada bayi setelah usia 6 bulan sampai 24 bulan dan
masih diberikan ASI paling tidak sampai 24 bulan.
b. Syarat pemberian MP ASI
1) Memiliki nilai energy dan kandungan protein tinggi
2) Dapat diterima oleh sistem pencernaan
3) Bersifat pada gizi
c. Akibat pemberian MP ASI terlalu dini
1) Bayi lebih sering diare
2) Obesitas
3) Produksi asi berkurang
4) Malnutrisi
5) Bayi mudah alergi
d. Jenis-Jenis MP ASI
1) Usia 6-8 bulan
Diberikan 3x sehari, mangkok (125 ml), tekstur makanan lunak seperti bubur susu.
2) Usia 9-11 bulan
Diberikan 3x sehari, mangkok (250 ml) ditambah biscuit atau buah matang 1-2x sehari, tekstur
makanan lebih kasar (semi padat) seperti nasi tim saring.
3) Usia 12-24 bulan
Diberikan 3-4 x sehari, -1 mangkok (250 ml) ditambah biscuit atau buah matang 1-2x sehari
karena pada dasarnya pada usia ini anak sudah dapat makan dimeja makan.
2. Jam : 13.15 WIB
Menjelaskan pada Ny. S tentang tumbuh kembang anak
a. Pengertian pertumbuhan dan perkembangan
1) Pertumbuhan (growth) adalah bertambahnya jumlah dan sel diseluruh bagian tubuh yang secara
kuantitatif dapat diukur
2) Perkembangan (development) adalah bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat
dicapai melalui kematangan dan belajar
b. Tahapan perkembangan anak usia 9-12 bulan
1) Mengangkat badannya ke posisi berdiri
2) Belajar berdiri selama 30 detik atau berpegangan di kursi.
3) Dapat berjalan dengan dituntun
4) Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang diinginkan
5) Menggenggam erat pensil
6) Memasukkan benda ke mulut
7) Mengulang menirukan bunyi yang didengar
8) Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti
9) Ingin menyentuh apa saja
10) Senang diajak main ciluk ba
11) Mengenal anggota keluarga
c. Stimulasi bayi usia 9-12 bulan
1) Kemampuan bicara dan bahasa
a) Ibu menyebutkan kata-kata yang telah diketahui artinya (minum susu, mandi, tidur, makan).
Buat agar bayi mau menirukan dan mengulang kata tersebut.
b) Beli boneka dan berpura-pura bahwa boneka itu yang berbicara dan buat agar bayi mau
berbicara dengan boneka itu.
c) Menyanyikan lagu dan bacakan syair sesering mungkin
2) Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian
a) Stimulasi yg perlu dilanjut
i. Ajak bayi tersenyum
ii. Bermain ciluk baa
iii. Menina-bobokan
iv. Mengayun
b) Bantu bayi memegang cangkir dan minum dengan cangkir tertutup dan lubang mulut
c) Ajak bayi makan bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya
d) Letakkan mainan yang bertali agak jauh, ajari bayi cara menarik tali untuk mendapatkan mainan
tersebut.
3) Kemampuan gerak halus
a) Stimulasi yg perlu dilanjut
i. Memasukkan benda ke dalam wadah
ii. Bermain dengan mainan yang mengapung di air
b) Ajari bayi menyusun beberapa balok/kotak besar.
c) Ajak bayi menggambar dengan krayon atau pinsil berwarna
d) Biarkan bayi bermain di dapur ketika anda sedang memasak. Pilih lokasi yang jauh dari kompor
dan letakkan sebuah kotak tempat menyimpan mainan alat memasak dari plastic.
4) Kemampuan gerak kasar
a) Stimulasi yg perlu dilanjutkan
i. Merangkak
ii. Berdiri
iii. Berjalan sambil berpegangan
iv. Berjalan dengan bantuan
b) Ajak bayi bermain bola. Gelindingkan bola ke arahnya agar ia menggelindingkan bola atau
memukulnya kembali ke arah anda.
c) Ajak agar ia mau membungkuk dan mengambil mainan itu tanpa berpegangan.
d) Buat permainan seperti meminta bayi berjalan ke pelukan anda untuk mendapatkan dekapan.
e) Tunjukkan kepada bayi cara naik tangga dengan merangkak, kemudian biarkan ia menuruni
tangga dengan melangkahkan kakinya.
3. Jam : 13.25 WIB
Menjelaskan pada Ny. S tentang Jenis-jenis KB
a. Pengertian
KB adalah usaha untuk mengontrol jumlah dan jarak antara kelahiran anak.
b. Tujuan KB
Mencegah terjadinya kehamilan
c. Jenis-jenis KB
1) Kondom
Kondom adalah alat kontrasepsi dari bahan sintesis (karet) untuk mencegah kehamilan.
Cara pemakaiannya yaitu dengan dipasang pada saat penis tegang/tegak. Keuntungannya yaitu
dapat dipakai, murah dan praktis. Kelemahannya yaitu kemungkinan bocor, sobek, menyebabkan
alergi/iritasi pada penis ataupun vagina.
2) Suntik
Suntik adalah obat pencegah kehamilan yang disuntikkan ke dalam tubuh wanita. Baik
untuk pemakaian wanita setelah melahirkan, disuntikkan 4 minggu setelah melahirkan,
berikutnya 1 bulan atau tiga bulan suntikan. Suntik tidak boleh diberikan pada wanita dengan
penyakit jantung, hipertensi, penyakit paru-paru dan kelainan darah. Biasanya menimbulkan efek
samping seperti ameorea, spooting, mual, muntah, kenaikan/penurunan BB dan timbul jerawat.
3) Pil
Pil adalah obat untuk mencegah kehamilan yang diminum setiap hari. Minum pil dimulai
setelah haid, setelah keguguran, setelah melahirkan (bagi ibu tidak menyusui). KB pil tidak
diperbolehkan untuk ibu dengan penyakit hipertensi, gangguan jantung, kanker payudara,
penyakit paru, sakit kepala sebelah dan varises. Biasanya menimbulkan efek samping seperti
perdarahan diluar haid, mual, jerawat, nyeri kepala, dan penambahan BB.
4) Susuk
Susuk adalah alat kontrasepsi berupa kapsul yang dipasang di bawah kulit di lengan atas
wanita. Dapat dipasang pada semua umur. Tidak mengganggu kelancaran ASI, dipakai cukup
lama (5 tshun). Tidak dipasang pada wanita dengan penyakit jantung, darah tinggi, kencing
manis,kolesterol tinggi, penyakit ginjal. Biasanya menimbulkan efek samping seperti amenorea,
jerawat, kenaikan BB, perdarahan ringan.
5) AKDR/IUD (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)
AKDR adalah alat pencegah kehamilan yang dipasang di dalam rahim . pemasangan 40 hari
setelah melahirkan atau pada akhir masa haid didalam rahim. Kelebihan AKDR yaitu praktis,
ekonomis, mdah di control, pemasangan cukup (2-5 tahun), tidak mengganggu ASI. Kontra
indikasi AKDR yaitu belum pernah melahirkan, hamil, perdarahan, kanker leher rahim. Biasanya
menimbulkan efek samping seperti rasa mules, sedikit perdarahan, perubahan jumlah darah haid
(setelah beberapa waktu pemasangan), keputihan, infeksi.
6) Sterilisasi
Sterilisasi merupakan cara KB yang sifatnya permanen.
a. Vasektomi
Pemotongan saluran yang membawa sperma dari testis dengan biasanya timbul komplikasi
perdarahan, peradangan terhadap sperma yang merembes, pembukaan spontan.
b. Tubektomi
Pemotongan dan pengikatan/penyumbatan saluran telur dari indung telur ke rahim.
4. Jam : 13.35 WIB
Menjelaskan pada Nn. A tentang KRR
a. Pengertian KRR
Adalah kondisi sehat secara fisik, mental, sosial, secara utuh bukan hanya bebas dari
penyakit dan kecacatan tapi secara keseluruhan, menyangkut sistem reproduksi, fungsi, dan
proses reproduksi pada remaja.
b. Ruang lingkup KRR
i. Alat reproduksi pria dan wanita
ii. Perkembangan fisik dan psikis pada remaja pria dan wanita
iii. Seksualitas
iv. Permasalahan pada remaja(merokok, tawuran, free seks, nge geng, bulliyng)
c. Tanda pubertas (menstruasi pada perempuan / mimpi basah pada laki-laki, timbul jerawat)
d. Perubahan anatomis dan fisiologis pada perempuan(pinggul membesar, payudara membesar,
tumbuh rambut sekitar kelamin & ketiak, suara cerewet) dan pada laki-laki (dada bidang, tumbuh
rambut di sekitar kemaluan, ketiak, dada, tumbuh jenggot, kumis, tumbuh jakun, suara
membesar).
e. Cara perawatan masa pubertas yaitu mandi 2x sehari, membersihkan genetalia setelah
BAK/BAB serta keringkan dengan handuk, tidur yang cukup.
5. Jam : 13.45 WIB
Menjelaskan pada Ny.S (nenek) tentang menopause
a. Pengertian menopause
Merupakan pengertian dari berhentinya masa kesuburan dan masa reproduksi wanita yang
ditandai dengan berhentinya masa menstruasi atau siklus bulanan seiring bertambahnya usia dan
penurunan hormone. Menopause dalam bahasa biologis merupakan akhir dari siklus kehidupan
menstruasi seorang wanita yang terjadi di pertengahan usia empat puluh tahun keatas.
b. Tahap-tahap
1) Pra Menopause
Fase antara usia 40 tahun dan dimulainya fase klimakterium. Gejala-gejala yang timbul
pada fase pra menopause antara lain siklus haid yang tidak teratur, perdarahan haid yang
memanjang, jumlah darah yang banyak, serta nyeri haid.
2) Peri Menopause
Fase peralihan antara masa pra menopause dan masa menopause. Gejala-gejala yang
timbul pada fase peri menopause antara lain siklus haid yang tidak teratur, dan siklus haid yang
panjang. Menopause Haid dialami terakhir akibat menurunnya fungsi estrogen dalam tubuh.
Menurut Luciana (2005), keluhan-keluhan yang timbul pada menopause antara lain keringat
malam hi, mudah marah, sulit tidur, siklus haid tidak teratur, gangguan fungsi seksual,
kekeringan vagina, perubahan pada indera perasa, gelisah, rasa khawatir, sulit konsentrasi,
mudah lupa, sering tidak dapat menahan kencing, nyeri otot sendi, serta depresi.
c. Gejala menopause
1) Ketidak teraturan siklus haid
2) Gejolak rasa panas
3) Keluar keringat dimalam hari
4) Kekeringan vagina
5) Sulit tidur
6) Kerapuhan tulang
7) Badan menjadi gemuk
8) Linu dan nyeri otot sendi
9) Ingatan menurun
10) Kecemasan dan mudah tersinggung
11) Steress
12) Depresi
d. Perubahan yang terjadi data menopause
1) Perubahan organ reproduksi
2) Perubahan hormone
3) Perubahan fisik
4) Perubahan emosi
e. Cara mengatasi keluhan menopause
1) Konsumsi susu, namun jika anda tidak menyukai susu dapat diganti dengan mengkonsumsi tahu,
tempe atau sayur, tentunya dengan dosis yang lebih rendah. Misalnya, 50 gram tempe atau 120
gram tahu yang mengandung fitoestrogen, cukup untuk sehari.
2) Dalam memasak jenis sayuran apapun jangan terlalu lama karena vitamin yang terdapat dalam
sayuran akan larut dalam air bila dimasak terlalu lama.
3) Cobalah mengganti minyak goreng dengan minyak zaitun atau mentega rendah kalori untuk
memasak makanan anda baik dalam menumis atau hanya menggoreng biasa, agar tidak terlalu
banyak minyak yang masuk ke dalam tubuh.
4) Mengkonsumsi vitamin dengan dosis yang tepat, terutama vitamin A dan D. Karena vitamin A
dan D tidak dengan mudah dikeluarkan oleh tubuh, jika berlebihan dapat menimbulkan racun
dalam tubuh. Jangan sembarangan mengkonsumsi vitamin A dan D. Dosisnya harus tepat, karena
kedua vitamin itu tak bisa dikeluarkan begitu saja dari dalam tubuh. Selain itu, jika terus
dikonsumsi, bisa-bisa malah menimbulkan racun di dalam tubuh.
5) Minuman dan makanan yang harus dihindari untuk memperlambat datangnya menopause antara
lain kafein, kopi, alkohol, minuman bersoda, rempah-rempah dan makanan berlemak.
6) Bersikap sabar dan berusaha menerima kenyataan, karena bagaimana pun, menopause pasti akan
datang. Tentu saja, anggota keluarga yang lain harus lebih bijaksana menghadapi sikap wanita
yang menopause.

H. Evaluasi
Tanggal 29 Maret 2016
1. Jam 13.14 WIB
Ny. S mengerti tentang makanan pendamping ASI dan mau memberikan MP ASI yang sesuai
dengan umur anaknya.
2. Jam 13.24 WIB
Ny. S mengerti tentang tumbuh kembang anak usia 9-12 bulan dan mau memberikan stimulasi
pada anaknya.
3. Jam 13.34 WIB
Ny. S mengerti tentang jenis-jenis KB dan mempunyai rencana ingin menggunakan KB suntik.
4. Jam 13.44 WIB
Nn. A mengerti tentang kesehatan reproduksi remaja.
5. Jam 13.55 WIB
Ny.S mengerti tentang menopause.
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada pembahasan ini, mahasiswa akan membandingkan praktek dengan teori belajar
lapangan di Desa Timbangreja RT 04 RW 07 khususnya pada keluarga Tn.S Kecamatan
Lebaksiu Kabupaten Tegal.
Dari keseluruhan permasalahan yang ditemukan berdasarkan hasil pendekatan dan tabulasi
data, telah dilakukan langkah-langkah pemecahan masalah bersama keluarga Tn.S sesuai dengan
prioritas masalah.

A. Pengumpulan Data
Pada tahap pengkajian ini data diperoleh melalui observasi dan wawancara yang dilakukan
secara kunjungan rumah. Menurut Andreas, (2012) pengumpulan data diperoleh dari data
subjektif dan data objektif.
1. Data Subjektif
Data subyektif diperoleh melalui wawancara secara langsung kepada keluarga Tn.S.
Menurut Andreas (2012) Data subyektif adalah data yang didapatkan dari klien sebagai
suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. Data subjektif ini diperoleh dengan anamnesa
terhadap klien.
Menurut Sulistyawati (2009) anamnesa dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Auto Anamnesa yaitu anamnesa yang dilakukan langsung kepada pasien karena pasien kuasa
atau mampu melakukan tanya jawab.
b. Allo Anamnesa yaitu anamnesa yang dilakukan secara tak langsung karena pasien tak kuasa
mampu melakukan tanya jawab. Misal: belum dewasa/masih kanak-kanak, tidak sadar, tidak
dapat berkomunikasi,dalam keadaan gangguan jiwa.
Penulis melakukan pengkajian data subjektif pada keluarga Tn. S berdasarkan proses
pengkajian melalui wawancara dan observasi lingkungan rumah Tn. S. Meliputi biodata keluarga
Tn. S, riwayat kesehatan keluarga, kebutuhan sehari-hari, status sosial ekonomi, situasi
rumah dan lingkungan, riwayat KB, pengetahuan anggota keluarga tentang kesehatan, fungsi
keluarga, keadaan psikologis dan spiritual serta mengenai penggunaan fasilitas kesehatan.
Berdasarkan hasil pengkajian data subjektif pada keluarga Tn. S didapatkan bahwa Ny. S
kurang mengerti tentang MP ASI, tumbuh kembang anak dan jenis-jenis KB. Pada Nn. A (sdra
pr) kurang mengerti tentang kesehatan reproduksi remaja dan pada Ny. S (nenek) kurang
mengerti tentang menopause.
Dengan demikian penulis telah melakukan pengumpulan data subjektif menggunakan
metode yang sesuai dengan teori maka tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktek.
2. Data Objektif
Menurut Andreas (2012) data obyektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur, dapat
diperoleh menggunakan panca indera (lihat, dengar, cium, raba) selama pemeriksaan fisik.
Misalnya frekuensi nadi, pernafasan, tekanan darah, edema, berat badan, tingkat kesadaran.
Penulis melakukan pengkajian pada keluarga Tn. S berdasarkan hasil pemeriksaan fisik
kepada anggota keluarga dan observasi terhadap lingkungan keadaan rumah. Dari pemeriksaan
fisik head to toe kepada anggota keluarga Tn. S didapatkan hasil normal tanpa adanya gangguan
kesehatan dari semua anggota keluarga. Dan keadaan lingkungan rumah keluarga Tn. S
mencerminkan keluarga ber-PHBS.
Rumah tangga Ber-PHBS adalah rumah tangga yang melakukan 10 indikator PHBS tatanan
rumah tangga diantaranya meliputi kesehatan lingkungan yaitu seperti penggunaan air bersih,
jamban sehat, membuang sampah pada tempatnya, menggunakan lantai rumah kedap air dan
melakukan pemberantasan sarang nyamuk.
Dengan demikian penulis melakukan pengumpulan data objektif menggunakan metode yang
sesuai dengan teori sehingga tidak ditemukan kesenjangan antara teori dengan praktek.

B. Analisa Data
Di dalam menganalisa data ada 3 norma yang perlu diperhatikan dalam melihat
perkembangan kesehatan keluarga, yaitu:
1. Keadaan kesehatan normal dari setiap anggota keluarga.
2. Keadaan rumah dan sanitasi lingkungan.
3. Karakteristik keluarga.
Setelah dilakukan pengkajian data subjektif dan objektif, langkah berikutnya yaitu
menganalisa data yaitu menentukan masalah kesehatan yang dialami oleh keluarga Tn. S.
Masalah kesehatan yang dialami keluarga Tn. S yaitu:
1. Ny. S mengatakan belum mengetahui tentang macam-macam KB.
2. Ny. S mengatakan belum mengetahui tentang tumbuh kembang anak.
3. Ny. S mengatakan belum mengetahui tentang MP ASI.
4. Ny. S (nenek) mengatakan belum mengetahui tentang menopause.
5. Nn. A (sdra pr) mengatakan belum mengetahui tentang kesehatan reproduksi remaja.
Dengan demikian analisa data dilakukan sesuai dengan teori sehingga disimpulkan bahwa
tidak ada kesenjangan antara teori dengan praktik.

C. Perumusan Masalah
Setelah analisa data, maka selanjutnya dapat dirumuskan masalah kesehatan dalam keluarga
Tn. S. Bagian rumusan masalah berisi tentang masalah-masalah yang hendak dipecahkan.
Dari analisis data masalah kesehatan yang dialami keluarga Tn. S adalah:
1. Kurangnya pengetahuan Ny.S tentang macam-macam KB.
2. Kurangnya pengetahuan Ny.S tentang tumbuh kembang anak.
3. Kurangnya pengetahuan Ny.S tentang MP ASI.
4. Kurangnya pengetahuan Ny.S (nenek) tentang menopause.
5. Kurangnya pengetahuan Nn.A (sdra pr) tentang kesehatan reproduksi remaja.
Penentuan perumusan masalah sudah sesuai teori sehingga tidak ditemukan kesenjangan
antara teori dengan praktik.

D. Prioritas Masalah
Masalah yang telah diidentifikasi perlu ditentukan menurut urutan atau prioritas masalah,
untuk itu digunakan beberapa metode. Teknik scoring dapat digunakan apabila tersedia data
kuantitatif atau data yang dapat terukur dan dapat dinyatakan dalam angka, yang cukup dan
lengkap. Penulis menentukan prioritas masalah dengan hasil prioritas masalah berdasarkan
metode scoring yaitu:
a. Kurangnya pengetahuan ibu tentang MP ASI = 4
b. Kurangnya pengetahuan tentang tumbuh kembang anak = 4
c. Kurangnya pengetahuan tentang macam-macam KB = 3
d. Kurangnya pengetahuan tentang KRR = 3
e. Kurangnya pengetahuan tentang menopause = 2
Penentuan prioritas masalah keluarga Tn. S telah sesuai dengan teori sehingga tidak ada
kesenjangan antara teori dengan praktik.

E. Diagnosa Masalah
Langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan
kebutuhan berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan (Hidayat, 2009)
Berdasarkan hasil pengumpulan data subjektif dan objektif pada keluarga Tn. S maka dapat
ditegakkan diagnosa masalah pada keluarga Tn. S:
1. Kurangnya pengetahuan Ny. S tentang MP ASI
2. Kurangnya pengetahuan Ny. S tentang tumbuh kembang anak
3. Kurangnya pengetahuan Ny.S tentang macam-macam KB
4. Kurangnya pengetahuan Nn.A (sdra pr) tentang KRR
5. Kurangnya pengetahuan Ny.S (nenek) tentang menopause
Diagnosa masalah keluarga Tn. S muncul berdasarkan pengkajian data. Dengan demikian
dalam penegakkan diagnosa tidak ada kesenjangan antara teori dengan praktik karena mengacu
pada diagnosa spesifik.

F. Rencana Tindakan
Perencanaan dilakukan berdasarkan masalah yang ada dalam keluarga Tn.S Perencanaan
tindakan merupakan strategi yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada dalam
keluarga Tn.S.
Berikut ini rencana tindakan yang dilakukan sesuai dengan permasalahan dalam keluarga
Tn. S.
Rencana tindakan yang dilakukan:
1. Jelaskan pada Ny. S tentang MP ASI
2. Jelaskan pada Ny. S tentang tumbuh kembang anak
3. Jelaskan pada Ny. S tentang jenis-jenis KB
4. Jelaskan pada Nn.A tentang KRR
5. Jelaskan pada Ny. S (nenek) tentang menopause
Menurut Wikipedia dalam buku F. Delmar dan S. Shane (2003). Dalam manajemen,
perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai
tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.
Penyuluhan merupakan suatu upaya untuk memberikan pelayanan belajar atau
menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, kelompok, dan masyarakat mencakup peningkatan
pengetahuan sikap dan perilaku (DEPKES, 2007). Dengan melalui penyuluhan maka
pengetahuan perorangan, kelompok, dan masyarakat dapat bertambah.
Pada tahap perencanaan ini telah sesuai dengan diagnose maslah yang timbul sehingga
tidak ada kesenjangan antara teori dengan praktik.

G. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah suatu upaya kegiatan untuk mewujudkan apa yang telah direncanakan
sebelumnya. Pelaksanakan juga merupakan keseluruhan usaha yang berhubungan langsung
dengan manusia baik cara, teknik, dan metode untuk mendorong klien agar mau bekerjasama
dengan sebaik mungkin demi tercapainya tujuan dengan baik.
Menurut Abdullah (1987) bahwa pelaksanaan adalah suatu proses rangkaian kegiatan tindak
lanjut setelah program atau kebijaksanaan ditetapkan yang terdiri atas pengambilan keputusan,
langkah yang strategis maupun operasional atau kebijaksanaan menjadi kenyataan guna
mencapai sasaran dari program yang ditetepkan semula. Pelaksanaan dilaksanakan berdasarkan
perencanaan yang ada.
Penyuluhan merupakan suatu upaya untuk memberikan pelayanan belajar atau menciptakan
suatu kondisi bagi perorangan, kelompok, dan masyarakat mencakup peningkatan pengetahuan
sikap dan perilaku (DEPKES, 2007). Maka untuk meningkatkan pengetahuan dilaksanakan
penyuluhan.
Pelaksanaan dilakukan sesuai dengan rencana tindakan yang telah dibuat, berupa:
1. Menjelaskan pada Ny. S tentang MP ASI
2. Menjelaskan pada Ny. S tentang tumbuh kembang anak

3. Menjelaskan pada Ny. S tentang jenis-jenis KB

4. Menjelaskan pada Nn.A tentang KRR


5. Menjelaskan pada Ny. S (nenek) tentang menopause
Pada tahap pelaksanaan telah sesuai dengan rencana tindakan sehingga tidak ada kesenjangan
antara teori dan praktik.

H. Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi
pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan
kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasi didalam masalah dan diagnosa (Hidayat, 2009).
Pada asuhan kebidanan komunitas keluarga Tn. S telah diberikan asuhan yang disesuaikan
dengan yang rencanakan tindakan dan hasil penyuluhan yang telah dilaksanakan pada tanggal 29
Maret 2016 di rumah Tn. S:
1. Penyuluhan tentang MP ASI
Waktu : 13.00 WIB
Dihadiri oleh : Ny. S
Ny. S mengerti tentang makanan pendamping ASI dan mau memberikan MP ASI yang sesuai
dengan umur anaknya.
2. Penyuluhan tentang tumbuh kembang anak
Waktu : 13. 15 WIB
Dihadiri oleh : Ny. S
Ny. S mengerti tentang tumbuh kembang anak usia 9-12 bulan dan mau memberikan stimulasi
pada anaknya.
3. Penyuluhan tentang jenis-jenis KB
Waktu : 13.25 WIB
Dihadiri oleh : Ny. S
Ny. S telah mengetahui tentang jenis-jenis KB dan telah merencanakan KB suntik.
4. Penyuluhan tentang KRR
Waktu : 13.45 WIB
Dihadiri oleh: Nn. A (saudara Pr)
Nn. A telah mengetahui tentang KRR.
5. Penyuluhan tentang menopause
Waktu : 13.55 WIB
Dihadiri oleh: Ny. S (nenek)
Ny. S (nenek) telah mengetahui tentang menopause

Dapat dilihat bahwa pelaksanaan penyuluhan tentang masalah kesehatan yang dialami
keluarga Tn. S dapat meningkatkan pengetahuan keluarga Tn. S tentang masalah kesehatan
tersebut. Penyuluhan berjalan dengan lancar, hal ini karena adanya kerjasama yang baik antara
bidan dengan anggota keluarga Tn. S.
Dengan demikian asuhan yang diberikan efektif memenuhi kebutuhan keluarga Tn. S
sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dengan praktik.
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Simpulan yang di peroleh dari pelaksanaan praktek komunitas kebidanan, sebagai
berikut:
1. Mengidentifikasi struktur masyarakat setempat beserta tokoh masyarakat.
2. Menetapkan masalah yang ada, memprioritaskan masalah, menganalisa masalah, mencari
solusi terbaik dari permasalahan yang ada, menentukan alternative, pemecahan masalah dan
pengambilan keputusan dari berbagai macam alternative yang ada.
3. Menerapkan asuhan kebidanan komunitas pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
dengan pendekatan menejemen kebidanan.
4. Pada akhir praktek lapangan diadakan evaluasi terhadap program kerja yang telah di
laksanakan.
B. Saran
1. Keluarga Tn. S
Agar dapat meningkatkan partisipasi dalam kegiatan peningkatan kesehatan melalui upaya
promotif dan preventif.
2. Bidan desa
Agar dapat secara proaktif menjalin kerjasama dan menindak lanjuti kegiatan yang telah
dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati, Eni .2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Nuha Medika


Hidayat A, Sujiyatini. 2010. Asuhan Kebidanan Persalinan. Yogyakarta: Nuha Medika
Karwati, dkk (2011). Asuhan Kebidanan V (Kebidanan Komunitas). Jakarta: TIM
Notoatmojo.2010. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Asih Mahasatya
Pudiastuti, Ratna .2011. Buku Ajar kebidanan komunitas. Yogyakarta: Nuha Medika
Sulistyawati, Ari. 2009. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Yogyakarta. Yogyakarta: CV ANDI
OFFSET
Sumarah, kk (2009). Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Fitramaya
Suprajitno (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: EGC
Syarifudin (2009). Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC

Anda mungkin juga menyukai