Anda di halaman 1dari 11

PENDIDIKAN DI INDONESIA

Oleh: Dwi Condro Triono

I. PENDAHULUAN: MELIHAT WAJAH INDONESIA

Pendidikan dapat dikatakan sebagai “pabrik” yang paling bertanggung jawab


terhadap masa depan suatu bangsa. Maju-mundurnya, jatuh-bangunnya, tinggi-
rendahnya harkat dan martabat suatu bangsa, dapat dikatakan pendidikanlah yang
paling menentukan. Pendidikanlah yang paling bertanggung jawab. Setelah proses
pendidikan dijalankan selama berpuluh-puluh tahun di Inonesia, bagaimana hasilnya?
Bagaimana dengan wajah Indonesia saat ini?

Dalam memberi komentar terhadap peringatan 100 tahun Kebangkitan


Nasional di Indonesia, Harwanto Dahlan dalam koran Kedaulatan Rakyat (Minggu,
18 Mei 2008), lebih suka memelesetkannya menjadi peringatan hari “Kebangetan
Nasional”. Apa yang kebangetan? Menurut beliau, dalam 100 tahun perjalan bangsa
ini, alih-alih mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, melindungi tumpah darah saja
negara ini sudah tidak mampu. Yang terjadi justru penguasaan besar-besaran sumber
kekayaan bangsa oleh perusahaan dan negara asing. Lihat saja bagaimana Exxon,
Shell, British Petroleum, Freeport, Mosanto telah menjadi perusahaan-perusahaan
raksasa, karena telah mengeruk kekayaan alam Indonesia.

Komentar yang lebih miris lagi adalah yang ditulis oleh Prof. Budi Winarno
dalam koran Kedaulatan Rakyat (Kamis, 27 Maret 2008). Beliau bahkan sudah
sampai memberikan predikat negara Indonesia sebagai “negara gagal” (failed
states). Hampir semua aspek kehidupan di negeri ini telah dinilai gagal. Gagal
untuk mencapai tujuan negara, yaitu untuk melindungi segenap bangsa dan
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa. Yang terjadi dan kita saksikan sehari-hari
di negeri ini justru semuanya adalah serba sebaliknya.

Apabila mau kita renungkan, dalam perjalanan 100 tahun kebangkitan


nasional ini, demikian juga dalam perjalanan lebih 60 tahun merdeka, apa
saja yang telah dilakukan oleh bangsa ini? Terlebih lagi, tentu saja adalah

1
yang menyangkut pendidikannya. Bagaimana dengan peran pendidikan
terhadap bangsa ini? Mengapa semua keterpurukan ini harus menimpa
bangsa ini? Marilah kita coba lihat bersama.

II. MELIHAT WAJAH PENDIDIKAN DI INDONESIA

Untuk melihat bagaimana wajah pendidikan di negeri ini, marilah kita mulai
dengan “mendengarkan” berbagai komentar para tokoh dan pemerhati pendidikan.
Prof. Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam tulisannya di harian Republika sudah memberi
penilaian bahwa pendidikan di Indonesia sudah sangat kronis. Baik kronis dari segi
parahnya penyakit yang diderita, maupun kronis dari segi lamanya penanganan, yang
seperti sudah tidak memberi harapan lagi untuk sembuh. Wajah pendidikan di
Indonesia masih sangat jauh dari yang diharapkan, bahkan jauh tertinggal dengan
negara-negara lain.

Sedangkan Prof. Ki Supriyoko di harian Kedaulatan Rakyat memberi


penilaian terhadap kualitas pendidikan kita yang didasarkan laporan The International
Baccalaureate Organization (IBO) -- yaitu lembaga yang didirikan tahun 1956,
berpusat di Switzerland (administrasi) dan di Inggris (riset, kurikulum dan asesmen)
--ternyata berkesimpulan bahwa pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan.
Menurut IBO, dari 146.052 SD di Indonesia, ternyata hanya delapan sekolah saja
yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP).
Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat
pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036
SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam
kategori The Diploma Program (DP).

Publikasi IBO tersebut senada dengan publikasi sebelumnya yang dilakukan


oleh Asia Week, yang menyatakan sangat sedikit perguruan tinggi di Indonesia yang
diakui memiliki kualitas dunia. Dari 2000-an perguruan tinggi di Indonesia ternyata
hanya empat perguruan tinggi saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori
multi discipline university serta hanya satu perguruan tinggi yang mendapat
pengakuan dunia dalam kategori science and technology university.

2
Dody Heriawan Priatmoko memberikan penilaian yang lebih terperinci lagi.
Menurut beliau, paling tidak ada 3 permasalahan pendidikan yang saat ini tengah
merundung negeri Indonesia. Tiga permasalahan tersebut adalah:

Pertama, adalah kurangnya pemerataan kesempatan pendidikan. Kesempatan


memperoleh pendidikan masih terbatas pada tingkat Sekolah Dasar. Data Balitbang
Departemen Pendidikan Nasional dan Direktorat Jenderal Binbaga Departemen
Agama menunjukkan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk anak usia SD hanya
mencapai 94,4% (28,3 juta siswa). Pencapaian APM ini termasuk kategori tinggi.
Angka Partisipasi Murni Pendidikan di SLTP masih rendah yaitu 54, 8% (9,4 juta
siswa). Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas.
Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat
pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan
kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah
ketidakmerataan tersebut.

Kedua, adalah rendahnya tingkat relevansi pendidikan dengan kebutuhan. Hal


tersebut dapat dilihat dari banyaknya lulusan yang menganggur. Data BAPPENAS
yang dikumpulkan sejak tahun 1990 menunjukan angka pengangguran terbuka yang
dihadapi oleh lulusan SMU sebesar 25,47%, Diploma/S0 sebesar 27,5% dan PT
sebesar 36,6%, sedangkan pada periode yang sama pertumbuhan kesempatan kerja
cukup tinggi untuk masing-masing tingkat pendidikan yaitu 13,4%, 14,21%, dan
15,07%. Menurut data Balitbang Depdiknas, setiap tahunnya sekitar 3 juta anak putus
sekolah dan tidak memiliki keterampilan hidup sehingga menimbulkan masalah
ketenagakerjaan tersendiri. Adanya ketidakserasian antara hasil pendidikan dan
kebutuhan dunia kerja ini disebabkan kurikulum yang materinya kurang funsional
terhadap keterampilan yang dibutuhkan ketika peserta didik memasuki dunia kerja.

Ketiga, adalah rendahnya mutu pendidikan. Indikator rendahnya mutu


pendidikan nasional dapat dilihat pada prestasi siswa. Dalam skala internasional,
menurut Laporan Bank Dunia (Greaney,1992), studi IEA (Internasional Association
for the Evaluation of Educational Achievement) di Asia Timur menunjukan bahwa
keterampilan membaca siswa kelas IV SD berada pada peringkat terendah. Rata-rata
skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1
(Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia). Anak-anak Indonesia ternyata
3
hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali
menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin
karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda. Selain
itu, hasil studi The Third International Mathematic and Science Study-Repeat-TIMSS-
R, 1999 (IEA, 1999) memperlihatkan bahwa, diantara 38 negara peserta, prestasi
siswa SLTP kelas 2 Indonesia berada pada urutan ke-32 untuk IPA, ke-34 untuk
Matematika.

Dalam dunia pendidikan tinggi menurut majalah Asia Week dari 77 universitas
yang disurvai di asia pasifik ternyata 4 universitas terbaik di Indonesia hanya mampu
menempati peringkat ke-61, ke-68, ke-73 dan ke-75. Indikator lain yang menunjukkan
betapa rendahnya mutu pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari data UNESCO
tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu
komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan dan penghasilan per
kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin
menurun.

Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 padatahun


1996, ke-99 tahun 1997, ke-105 tahun 1998, dan ke-109 tahun 1999. Menurut survei
Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia
berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah
Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum, Swedia, Indonesia
memiliki daya saing yang rendah yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara
yang disurvai di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia
hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara
di dunia.

Rendahnya mutu pendidikan Indonesia terkait dengan kualitas guru dan


pengajar yang masih rendah juga. Data Balitbang Depdiknas menunjukkan dari
sekitar 1,2 juta guru SD/MI hanya 13,8% yang berpendidikan diploma D2-
Kependidikan ke atas. Selain itu, dari sekitar 680.000 guru SLTP/MTs baru 38,8%
yang berpendidikan diploma D3-Kependidikan ke atas. Di tingkat sekolah menengah,
dari 337.503 guru, baru 57,8% yang memiliki pendidikan S1 ke atas. Di tingkat
pendidikan tinggi, dari 181.544 dosen, baru 18,86% yang berpendidikan S2 ke atas
(3,48% berpendidikan S3). Walaupun guru dan pengajar bukan satu-satunya faktor
4
penentu keberhasilan pendidikan tetapi, pengajaran merupakan titik sentral
pendidikan dan kualifikasi, sebagai cermin kualitas, tenaga pengajar memberikan
andil sangat besar pada kualitas pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.
Kualitas guru dan pengajar yang rendah juga dipengaruhi oleh masih rendahnya
tingkat kesejahteraan guru.

III. APA UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN?

Jika kita mau menilik terhadap berbagai upaya yang telah dilakukan
pemerintah, sesungguhnya telah banyak penataan-penataan yang selama ini terus-
menerus dilakukan dalam lingkungan pendidikan di Indonesia. Misalnya dapat kita
lihat bagaimana paket Kebijakan Strategis Dikdasmen Berkaitan dengan Perluasan
Akses, baik untuk pendidikan dasar maupun menengah.

Dalam paket Wajar Dikdas 9 tahun, pemerintah telah mencanangkan beberapa


kebijakannya seperti:

1. Membantu dan mempermudah mereka yang belum bersekolah, putus sekolah,


serta lulusan SD/MI/SDLB yang tidak melanjutkan ke SMP/MTs/SMPLB.
2. Meningkatkan aspirasi masyarakat terhadap pendidikan khususnya pada
masyarakat yang menghadapi hambatan

Sedangkan dalam paket kebijakan pada Pendidikan Menengah, di antaranya


adalah:

1. Mempercepat pertumbuhan SMK.


2. Mendorong peningkatan program pendidikan kejuruan yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat.

Sementara itu, dalam kerangka perluasan program, pemerintah juga telah


mempunyai beberapa langkah strategis, di antaranya adalah:

1. Pendanaan BOS Wajar pendidikan dasar 9 Tahun (urutan prioritas dalam 5tahun
ke depan.
2. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan Wajar.
3. Rekrutmen pendidik dan tenaga kependidikan.

5
4. Perluasan pendidikan Wajar pada jalur nonformal.
5. Pendidikan kecakapan hidup(usaha mandiri atau bekerja),untuk tidak bisa
melanjutkan sekolah diarahkan mengakses pendidikan keahlian/skill(PNF).
6. Peningkatan peran serta masyarakat dalam perluasan akses SMA, SMA, SMK/SM
terpadu, SLB, dan PT; kegiatan ini termasuk dalam prioritas kebijakan.

V. ANALISIS MASALAH

Setelah kita menyaksikan buruknya wajah pendidikan di Indonesia, demikian


juga bagaimana berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah, selanjutnya
mampukah kita memberikan penilaian terhadap itu semua? Tentu berbagai fakta yang
dapat kita lihat, kita dengar, bahkan kita rasakan secara langsung di lapangan dapat
menjawab itu semua.
Untuk dapat memberikan analisis yang mendalam dan komprehensif, di dalam
makalah kecil ini tentu saja sangat tidak mencukupi. Apalagi persoalan yang dihadapi
tidaklah sederhana, bahkan dapat dikatakan sangat kompleks. Persoalan yang terjadi
tidaklah berdiri sendiri, tetapi sangat terkait juga dengan bidang-bidang yang lain.
Bahkan, boleh dikatakan bahwa persoalan yang menimpa pendidikan di Indonesia ini
tidak hanya dapat dipandang dari sudut pandang Indonesia semata, akan tetapi sangat
terkait dengan sebuah tatanan dunia yang saat ini sudah begitu mengglobal.
Oleh karena itu, penulis ingin mencoba untuk memulai berangkat dari
persoalan yang paling mendasar dan paling mendalam. Penulis ingin memulai dari
titik persoalan yang dapat dianggap sebagai sumber penyebab dari terpuruknya
pendidikan untuk bangsa ini, sehingga bangsa ini sudah tidak lagi memiliki
kemampuan, walau hanya untuk sekedar untuk melindungi harkat, martabat,
kehormatan dan harga diri bangsa ini. Apalagi untuk dapat menjadi bangsa yang
unggul dan memberi rahmat bagi seluruh penduduk bumi? Masih terlalu jauh
panggang dari apinya.
Untuk dapat membuat rumusan sederhananya, maka penulis akan mengajak
untuk melakukan kaji ulang terhadap proses pendidikan yang selama ini telah
ditanamkan selama berpuluh-puluh tahun di Indonesia. Penulis ingin mengajak untuk
membongkar, apa ada “udang” lain di balik semua proses ajar-mengajar yang sudah
berlangsung selama ini. Apakah ada skenario global yang memang sengaja ingin
diwujudkan secara sistematis melalui proses pendidikannya, sehingga bangsa ini akan

6
tetap menjadi bangsa yang terjajah, bangsa budak, bangsa kuli, bahkan bangsa
jongos? Walaupun secara resmi telah menyatakan kemerdekaannya, tetapi pada
hakikatnya tetap menjadi bangsa yang terjajah, bahkan penjajahannya bisa
berlangsung lebih kejam dan sistematis dari model penjajahan sebelumnya.
Untuk dapat memotret segenap skenario yang telah menimpa pendidikan kita,
maka sorotan yang paling tajam yang dapat kita lakukan adalah langsung menuju
kepada berbagai perangkat keilmuan yang selama ini telah diajarkan di bangku
sekolah kita. Mengapa harus mulai dari perangkat keilmuannya?
Kita tentu dapat memaklumi bahwa inti sari dari proses pendidikan itu tidak
lain adalah proses penanaman ilmu itu sendiri. Berhasil tidaknya proses pendidikan
untuk mencetak manusia unggul sangat ditentukan oleh perangkat-perangkat ilmu
yang telah diberikan.
Marilah kita melihat kembali apa dan bagaimana tingkatan ilmu yang telah
diberikan pada proses pendidikan kita. Dalam proses pendidikan kita, diakui atau
tidak, ternyata tingkatan ilmu pengetahuan yang diberikan sesungguhnya baru sebatas
pada tingkatan yang ke-3. Tiga tingkatan tersebut ialah:
1. Tingkatan I
Tingkatan I merupakan tingkatan ilmu yang paling dasar. Pada tingkatan ini,
proses pendidikan hanya memberikan kemampuan untuk mengidentifikasi obyek
yang dapat terindera secara langsung. Proses pendidikan inilah yang yang selanjutnya
akan memberikan ilmu pengetahuan tingkat dasar. Ilmu pengetahuan dasar tersebut
dapat diperoleh dengan memanfaatkan 4 unsur dalam berfikir:
1) Adanya fakta yang terindera.

2) Adanya indera-indera.

3) Adanya otak.

4) Adanya maklumat sebelumnya.

2. Tingkatan II

Pada tingkatan II ini, proses pendidikan akan memberikan kemampuan


untuk mengidentifikasi obyek yang tidak dapat terindera secara langsung.
Obyek tersebut dapat meliputi:

7
a. Sesuatu yang tersembunyi.

b. Suatu kejadian di masa lampau.

c. Meramalkan kejadian di masa datang.

Untuk memperoleh pengetahuan tersebut diperlukan suatu riset dan


penelitian dengan menggunakan metodologi tertentu. Ilmu pengetahuan yang
diperoleh dapat digolongkan dalam kelompok ilmu murni (pure science).

3. Tingkatan III

Tingkatan III ini merupakan tingkatan ilmu pengetahuan tertinggi yang


dapat dicapai dalam dunia pendidikan kita. Pada tingkatan ini, proses
pendidikan akan memberikan kemampuan untuk memanfaatkan produk
pengetahuan yang diperoleh dari tingkatan 2. Pemanfaatannya dalam bentuk
proses perekayasaan terhadap ilmu-ilmu murni untuk menjadi produk-produk
yang memiliki nilai guna yang lebih tinggi bagi manusia. Ilmu pengetahuan
yang diperoleh dapat digolongkan ke dalam kelompok ilmu-ilmu terapan
(applied science).

Sesungguhnya, produk pendidikan yang hanya sampai ke tingkatan 3


hanya akan menghasilkan manusia-manusia “tukang” yang siap untuk
“dimanfaatkan”. Dari kelompok ilmu kealaman (eksakta), dia akan memiliki
berbagai teori tentang rahasia alam yang kemudian akan dieksplorasi dan
diekploitasi sesuai kehendak “pemesannya”. Dari kelompok ilmu sosial, dia
akan mempunyai berbagai teori sosial, kemudian dia akan mampu
memberikan solusi terhadap berbagai masalah sosial yang akan muncul sesuai
dengan keinginan dan kehendak dari “pemesannya”.

Produk pendidikan kita tidak pernah menghasilkan manusia yang


faham dengan apa yang harus dikerjakan (tidak mandiri). Sebanyak apapun
pakar yang dihasilkan, baik S1, S2 maupun S3, tetap hanya sebagai “tukang”
trampil yang siap untuk dipekerjakan. Hal ini akan menyebabkan bangsa ini
mudah untuk menjadi bangsa yang terjajah. Apa yang bisa dilakukan hanyalah
mengikuti agenda dan arahan dari para penjajah.

8
Oleh karena itu, pendidikan seharusnya tidak hanya terhenti pada
tingkatan 3. Pendidikan seharusnya dilanjutkan untuk mencapai tingkatan 4,5
maupun 6. Tercapainya tingkatan tersebut diharapkan dapat memaksimalkan
potensi intelektualitas yang dimiliki manusia. Diharapkan akan menjadi
manusia yang mandiri dan tidak mudah untuk dikendalikan oleh kaum
kapitalis penjajah.

4. Tingkatan IV

Pada tingkatan yang ke-4, ilmu pengetahuan yang akan diberikan


tidak hanya diberikan kepada anak didik untuk mampu mengekspoitasi alam
dan sosial. Pendidikan tingkat 4 harus dimulai dengan mengajak peserta didik
untuk mau memikirkan tentang hakikat dan eksistensi dari kehidupannya.
Pemikiran itu meliputi:

1) Apa tujuan dari hidup ini?

2) Darimana asal kehidupan ini?

3) Akan kemana setelah hidup di dunia ini?

Proses pendidikan harus mampu membantu memberikan jawaban yang


benar terhadapnya. Jika dia telah menemukan jawaban yang benar tentang
hakikat kehidupan ini maka akan terbentuklah pandangan hidup yang khas
dalam dirinya. Pandangan hidup yang khas inilah yang nantinya akan
senantiasa mengendalikan kehidupannya, mengendalikan pemikiran-
pemikirannya, termasuk juga akan mengendalikan perasaannya. Dari
pandangan hidup yang khas ini pulalah akan terpancar segenap pemikiran-
pemikiran yang khas darinya. Jika dia telah mencapai tingkatan 4, maka harus
dilanjutkan kepada tingkatan 5.

5. Tingkatan V

Tingkatan 5 merupakan manifestasi dari pemikiran tingkat 4, yaitu


terpancarnya pemikiran-pemikiran yang khas dari pandangan hidup tersebut.
Pancaran pemikiran tersebut meliputi:

9
1) Adanya gambaran yang khas dan jelas tentang pengaturan yang benar terhadap
kehidupan manusia di dunia ini.

2) Gambaran pengaturan kehidupan tersebut meliputi: sistem pemerintahan,


sistem ekonomi, sistem sosial, sistem pendidikan dsb.

Jika dia telah mencapai tingkatan 5, maka seharusnya dilanjutkan


kepada tingkatan 6.

6. Tingkatan VI.

Tingkatan 6 merupakan manifestasi dari pemikiran tingkat 5, yaitu


adanya kemampuan untuk memecahkan segenap problem yang muncul dari
pemikiran tingkat 5 tersebut dengan metode pemecahan yang khas. Pemikiran
tingkat 6 juga meliputi kemampuan untuk mempertahankan, mengembangkan
dan menyebarluaskan segenap pemikiran dari tingkat 5.

Pendidikan yang sampai pada tingkatan 6 inilah pendidikan yang


paling ideal yang seharusnya diberikan kepada anak didik kita. Produk yang
dihasilkan dari pendidikan ini diharapkan mampu mencetak manusia yang
sejati, mandiri dan tidak mudah untuk diperbudak oleh kaum penjajah. Produk
pendidikan ini diharapkan juga mempunyai kemampuan untuk
mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sekaligus mampu
menyebarkan rahmatnya bagi semesta alam.

VI. PENUTUP

Demikianlah, untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri yang unggul dan


bermartabat memang tidak mudah. Banyak perubahan-perubahan yang mendasar
yang harus berani untuk kita lakukan. Jika kita ingin mengharapkan lahirnya generasi
yang unggul dan berkualitas, generasi yang akan mampu menjadi pemimpin, tidak
hanya pemimpin bagi negerinya, tetapi pemimpin bagi seluruh penduduk di muka
bumi ini, maka pendidikan yang berkualitas akan menjadi kata kuncinya.

Kata kunci pendidikan yang berkualitas menurut penulis, sangat ditentukan


oleh desain ilmu yang akan diberikan. Walaupun penulis juga menyadari bahwa

10
perangkat ilmu bukanlah satu-satunya, masih ada seabreg lagi konsekuensi lain yang
akan menyertainya, seperti penyusunan kurikulumnya, sistem pengajarannya,
pembiayaan sekolahnya, dan seterusnya. Masih akan ada banyak daftar yang harus
menyertainya.

Namun demikian, dalam makalah yang pendek ini penulis tetap berkeyakinan,
bahwa perubahan itu tetap harus dilakukan, dan perubahan itu harus dimulai dari
penataan perangkat ilmu dengan benar, supaya anak didik kita menjadi manusia yang
benar. Benar dalam visi hidupnya, benar dalam misi hidupnya, benar-benar sesuai
dengan Kehendak dari Yang Maha Pencipta, Allah SWT, ketika hendak menciptakan
manusia di atas muka bumi ini. Wallahu a’lam bishshowab.

11