Anda di halaman 1dari 182

AZAS TEKNIK KIMIA

SEMESTER III

DAFTAR ISI

PENGANTAR TEKNIK KIMIA 3


Pengertian Teknik Kimia 6
Profesi Bidang Teknik Kimia 6
Langkah-langkah Penyelesaian Soal 9
Teknik Perhitungan 12
Daftar Pustaka 15

BAB I SISTEM DALAM TEKNIK KIMIA 16


Pendahuluan 16
Satuan dan Dimensi 16
Faktor Konversi Satuan 18
Faktor Konversi Newton 19
Berat dan Massa 19
Mol dan Berat Mol 21
Rapat Massa 22
Specifigc Gravity 23
Skala Baume 24
Skala API 24
Skala Twaddle 24
Specific Volume 25
Komposisi Larutan / Campuran 25
Fraksi Mol dan Fraksi Massa 28
Berat Molekul Rata-rata 29
Temperatur dan Suhu 31
Tekanan 32
Basis Perhitungan 34
Daftar Pustaka 36

BAB II ANALISIS DIMENSI 37


Pendahuluan 37
Analisis Dimensi 37
Dimensi Dasar / Fundamental 38
Mencari Persamaan dengan Analisis Dimensi 39
Metode Rayleigh 41
Metode Buckingham 46
Latihan 48
Daftar Pustaka 49

BAB III SIMILIRITAS 50


Pendahuluan 50
Model dan Protipe 50
Macam-macam Similiritas 51
Pelaksanaan Similiritas 54
Kriteria Similiritas 59

Azas Teknik Kimia Page 1


Latihan 65
Daftar Pustaka 65

BAB IV NERACA MASSA 66


Pendahuluan 66
Pengertian-pengertian 67
Nerca Massa 68
Neraca Massa Steady dan Unsteady 69
Neraca Massa Tanpa Reaksi Kimia 70
Pencampuran 71
Pengeringan 73
Kristalisasi 76
Kesetimbangan Fase 78
Distilasi 80
Evaporasi 81
Neraca Massa Elemen 82
Latihan 88
Daftar Pustaka 89

BAB V NERACA MASSA DENGAN REAKSI KIMIA 90


Pereaksi Pembatas 91
Konversi Reaksi 92
Yield atau Hasil 92
Recovery 93
Latihan 101
Daftar Pustaka 102

BAB VI NERACA MASSSA DENGAN ALIRAN BALIK, ARUS PINTAS, 103


ALIRAN BUANG
Aliran Balik (Recycle) tanpa Reaksi Kimia 104
Aliran Balik (Recycle) dengan Reaksi Kimia 107
Aliran Pintas (By Pass) 111
Aliran Gas Buang (Purge) 113
Latihan 114
Daftar Pustaka 115

BAB VII NERACA MASSA TAK TUNAK 116


Prinsip Neraca Massa 118
Prinsip Neraca Massa dan Kesetimbangan 123

Azas Teknik Kimia Page 2


PENGANTAR TEKNIK KIMIA

TINJAUAN MATA PELAJARAN

Kemampuan yang akan dicapai setelah siswa jurusan kimia industri semester III
menerima ATK I, ialah akan mampu menghitung neraca massa pada suatu proses
industri kimia dengan benar dan memudahkan mengikuti mata pelajaran yang
lainnya.

Dari nama mata pelajaran ini tentunya sudah dapat ditebak makna yang terkandung di
dalamnya. Benar, bahwa Azas-azas Kimia (ATK) merupakan mata pelajaran dasar yang
melandasi hampir seluruh mata pelajaran yang ada di jurusan Kimia Industri. Namun
demikian, mata pelajaran ini didasari oleh mata pelajaran yang ada pada semester
sebelumnya, seperti Fisika, Kimia Dasar, Kimia Organik dan Matematika. Karena sebagai
landasan, maka memerlukan perhatian lebih besar dan jangan pernah melupakan baik mata
pelajaran yang mendasarinya maupun mata pelajaran ATK ini. Sampai semester akhir pun
ilmu pada mata pelajaran ini masih dipergunakan!. Hubungan mata pelajaran ATK dengan
mata pelajaran yang lain dapat dilihat pada gambar I-1.

PERANCANGAN
PABRIK KIMIA

PIK TERMO KINETIKA & PERANCANGAN


DINAMIKA OTK REAKTOR ALAT

AZAS AZAS
TEKNIK KIMIA

MATE- KONSEP KIMIA KIMIA


MATIKA FISIKA TEKNOLOGI UMUM FISIKA

Gambar P-1. Hubungan Mata pelajaran ATK dengan Mata pelajaran Lain

Azas Teknik Kimia Page 3


Terlihat pada gambar itu, bahwa mata pelajaran ini berada ditengah antara mata
pelajaran penunjang dan lanjutan. ATK merupakan mata pelajaran dasar pokok dalam
kurikulum teknik kimia. Sebelum memperoleh ATK, siswa dibekali dengan dasar ilmu teknik,
yaitu fisika, kimia, dan matematika. Tentunya ilmu ini tidak sekedar untuk diketahui, tetapi
juga harus bisa dipahami.
ATK menjadi landasan bagi mata pelajaran lanjutan, seperti tertera di gambar P-1.
Meskipun dalam penyampaiannya dapat berdampingan, misalnya ATK dalam satu semester
berada bersama dengan OTK I atau PIK. Dan semua mata pelajaran ini bermuara di tugas
akhir Perancangan Pabrik Kimia, sebab pada tugas akhir itu hampir seluruh materi yang
telah diberikan dipergunakan dalam perancangan pabrik kimia.
ATK dibagi menjadi dua semester dengan materi yang berbeda. Sesuai dengan kurikulum
Teknik Kimia, ATK I berada pada semester III, sedangkan ATK II pada semester IV. Dalam
ATK I ini akan dikemukakan materi NERACA MASSA yang terdiri atas beberapa pokok
bahasan, yaitu:
1. Sistem dalam teknik kimia
2. Analisis Dimensi
3. Similaritas dalam teknik kimia
4. Neraca massa tanpa reaksi kimia
5. Neraca massa dengan reaksi kimia
6. Neraca massa sistem dengan aliran balik, aliran pintas, dan aliran buangan
7. Neraca massa tak tunak (unsteady).
Untuk lebih mengenal dan mendalami teknik kimia, terlebih dahulu diperkenalkan
pengertian teknik kimia dan apa saja yang bisa ditekuni oleh seorang sarjana teknik kimia?.
Dan sebelum masuk pada materi sesungguhnya, siswa diajak untuk mengenal langkah logis
dalam penyelesaian persoalan di bidang teknik kimia secara umum.
Di dalam mempelajari mata pelajaran ini, tidaklah cukup jika hanya mengandalkan dari
buku ini saja. Cobalah membaca buku-buku bacaan yang tertera dalam daftar pustaka yang
digunakan dalam buku ini dan buku-buku teks untuk teknik kimia. Hal ke dua dan merupakan
yang utama dalam mendalami teori yang ada adalah selalu melakukan latihan yang berfungsi
sebagai pengetrapan ilmu yang telah diperoleh, pengalaman dalam menghadapi segala
persoalan, dan melatih diri dalam berpikir logis.
Tata urutan atau hierarchi topik yang dipelajari dalam ATK dapat digambarkan seperti
dalam gambar P-2.

Azas Teknik Kimia Page 4


D Satuan dan Dimensi K

E Berat, Massa & Mole O

F N
Rapat Massa
I V
Konsentrasi Campuran
N E
Temperatur/Suhu
I R

S Tekanan S

I Energi & Panas Reaksi I

TEKNIK Kapasitas Panas PERSAMAAN


PENYELESAI REAKSI
AN SOAL SUMBER DATA KIMIA
DAN

PEMILIHAN STOICHIOME
BASIS TRI
NERACA MASSA
DAN
Digital Computers NERACA ENERGI

Gambar P-2. Tata Urutan Isi Mata pelajaranATK

Materi ATK adalah neraca massa dan neraca panas yang dibagi dalam dua semester.
Untuk sampai pada materi itu diperlukan materi penunjang. Oleh karena itu, dalam Azas
Teknik Kimia memperkenalkan kembali tentang sistem dalam teknik kimia berupa definisi
besaran-besaran dan kesemuanya itu, baik sendiri maupun bersama-sama digunakan sebagai
sumber data yang penting. Di samping sumber data yang dihitung ada pula sumber data yang
tersedia dalam buku-buku bacaan. Sumber data utama bidang teknik kimia ada di buku
Perry sebagai editornya dengan judul bukunya Chemical Engineers Handbook.
Agar dapat melakukan perhitungan neraca massa dan neraca panas dengan baik
diperlukan pengetahuan tentang persamaan reaksi kimia (stoichiometri). Di samping itu
dipelajari pula teknik-teknik penyelesaiaan soal. Teknik menghitung saat ini telah dapat
dilakukan dengan mesin canggih, yaitu komputer. Namun perlu diingatkan, bahwa
keberadaan komputer adalah sebagai sarana untuk melakukan perhitungan agar waktu untuk
perolehan hasil lebih cepat. Sarana itu dapat dipergunakan setelah memperoleh perintah dari
penggunanya. Tanpa perintah manusia, mustahil komputer itu dapat berjalan.

Azas Teknik Kimia Page 5


Pengertian Teknik Kimia
Para penulis buku-buku bacaan bidang teknik kimia masing-masing memberi
gambaran dan definisi tentang apa itu teknik kimia. Hal itu dijumpai pada buku-buku
perancangan pabrik kimia seperti yang ditulis oleh Backhurst & Harker (1973), Vilbrandt &
Dryden (1959), dan Peters & Timmerhaus (1991). Pada buku yang lain, diantaranya ditulis
oleh McCabe dan Smith (1976), Shreve (1956), dan Rudd dan Watson (1966), memasukkan
unsur ekonomi menyertai proses dan hasilnya. Secara umum definisi teknik kimia seperti
yang dikemukakan oleh Suhendro (1988), yaitu teknik kimia adalah bidang ilmu yang
mempelajari cara-cara mengubah suatu bahan menjadi bahan lain atau produk secara kimia
atau fisika yang lebih bermanfaat dan ekonomis. Dalam proses perubahan tersebut
diperlukan beberapa jenis pekerjaan, seperti yang tertera dalam praktek-praktek teknik kimia
dengan Chemical Engineering tools- nya di bagian lain buku ini. Sejarah teknik kimia telah
dimulai sejak tahun 440 SM (Sebelum Masehi) dengan dikemukakannya konsep atom oleh
Democritus. Disusul kemudian oleh para ahli lain seperti Archimedes tahun 250 SM sampai
Ernest Solvay yang dikenal dengan proses Solvay untuk menghasilkan sodium karbonat
tahun 1863. Kemudian menyusul Osborne Reynolds pada tahun 1883 yang mengemukakan
hasil penelitiannya yang dikenal dengan bilangan Reynolds. Penemuan-penemuan baik bahan
maupun proses dalam teknik kimia terus berlanjut hingga sekarang. Pada tahun 1880 George
Davis menyatukan profesi teknik kimia itu dalam sebuah organisasi yang disebut Society of
Chemical Engineers di Inggris. Kemudian, pada tahun 1888 dia memberikan 12 kali
perkuliahan di Manchaster Inggris sebagai tanda kehadiran satu profesi baru, yaitu teknik
kimia. Pada tahun itu pula The Massachusetts Institute of Technology di Amerika memulai
course X (kursus sepuluh) sebagai awal program 4 tahun teknik kimia
(http://www.pafko.com/history/h_time.html). Oleh karena itulah, peristiwa pada tahun itu
umumnya dijadikan sebagai awal pendidikan formal teknik kimia jenjang pendidikan tinggi.

Profesi Bidang Teknik Kimia


Untuk membuka wawasan siswa bidang teknik kimia, terlebih dahulu diperkenalkan
profesi teknik kimia. Seperti telah diketahui, teknik kimia adalah bidang ilmu yang
mempelajari cara-cara mengubah suatu bahan menjadi bahan lain atau produk secara kimia
atau fisika yang lebih bermanfaat dan ekonomis. Di dalam definisi itu tersirat profesi seorang
sarjana teknik kimia, yaitu masalah teknologi kimia dan proses industri kimia (Badger &
Banchero,1955; McCabe dkk., 1993). Lebih jauh Vilbrandt & Dryden (1959) memberikan
pandangannya tentang profesi teknik kimia yang mempunyai kemampuan dalam 4 divisi

Azas Teknik Kimia Page 6


utama dalam proses industri kimia, yaitu penelitian & pengembangan (research &
development),perencanaan (design), proses pendirian pabrik (manufacturing), dan pemasaran
(sales). Demikian pula, Peters & Timmerhause (1991) membeberkan keahlian yang dipunyai
oleh seorang sarjana teknik kimia, yaitu penelitian, analisis pasar, perancangan alat demi alat,
taksiran biaya, pemrograman komputer, dan survei tempat pabrik. Secara keseluruhan,
profesi teknik kimia itu dinyatakan dalam praktek-praktek dalam bidang teknik kimia dan
chemical engineering tools (Sugiharto, 1988) sebagai:
a. Penelitian Proses,
b. Pengembangan Proses,
c. Process Engineering,
d. Analisis Ekonomi,
e. Project Engineering,
f. Konstruksi (construction engineering),
g. Operator (operational engineering),
h. Market research Engineering.
Dengan Chemical Engineering Tools -nya yang meliputi:
1. Neraca massa,
2. Neraca panas/energi,
3. Keseimbangan,
4. Kecepatan-kecepatan kimia & fisika,
5. Ekonomi, dan
6. Humanitas.
Teknik Kimia merupakan seni (art) dan ilmu (science). Pernyataan itu dikemukakan oleh
beberapa penulis buku teks teknik kimia, seperti Badger & Banchero (1955) dan McCabe
dkk. (1993). Sebagai seorang perancang, misalnya, tak ubahnya seorang perancang busana
yang memilih model, membuat patron sesuai ukuran yang ada, sampai menentukan bahan
kain yang akan disandangkannya. Kemudian dipublikasikan lewat lenggak-lenggok sang
model di atas cat walk. Itulah seni dan ilmu dalam perancangan model yang tak ubahnya
perancangan dalam teknik kimia, sebagai salah satu profesinya. Seni mempunyai pengertian
kreatifitas dan kemampuan (skill). Dengan demikian, seorang perancang harus memiliki
kemampuan menganalisis, imajinasi, daya kreasi, kemampuan membagi kerja dan waktu,
keberanian dalam pengambilan keputusan, dan pengetahuan umum dasar teknik kimia.

Azas Teknik Kimia Page 7


Penelitian proses dilakukan dengan skala kecil sebagai penelitian pendahuluan untuk
pendirian sebuah industri kimia. Hal itu untuk mencari kondisi-kondisi proses yang operable,
data-data dipergunakan untuk perancangan, pilot plant, dan evaluasi ekonomi.
Pengembangan proses merupakan tahapan dalam proses yang diterapkan pada skala kecil
menjadi ukuran pilot plant yang dapat menggambarkan operasi pabrik yang sesungguhnya.
Pada pekerjaan ini perhitungan scale up yang dikenal dengan similaritas dalam teknik kimia
menjadi penting. Pengembangan proses tidak berhenti pada skala pilot plant, tetapi setelah
pabrik itu berproduksi masih terus dilakukan sebagai inovasi mencari proses yang efektif dan
effisien.
Pekerjaan-pekerjaan yang meliputi perencanaan proses dan evaluasi ekonomi pada
tingkat awal hingga akhir, yaitu tingkat penelitian, pilot plant, pendirian pabrik sampai
pabrik beroperasi, disebut dengan process engineering, termasuk di dalamnya adalah studi
kelayakan.
Project engineering didefinisikan sebagai cabang kesarjanaan yang menerjemahkan data-
data perancangan dan informasi ke dalam rencana-rencana dan spesifikasi (alat, bahan, dan
proses) yang akan digunakan oleh orang/kontraktor lain.
Praktek-praktek teknik kimia berjalan seiring dengan Chemical Engineering Tools dalam
gerak langkah perancangan & pendirian suatu pabrik kimia. Di samping itu, keduanya
merupakan inti dari kurikulum yang ada di jurusan teknik kimia di sebuah perguruan tinggi.
Layaknya seorang dokter, demikian pula seorang sarjana teknik kimia yang bisa buka
warung sesuai kompetensi, keahlian atau bidang profesi yang dimiliki. Bisa sebagai seorang
peneliti yang handal. Banyak instansi baik pemerintah maupun swasta yang bergerak dalam
bidang penelitian. Di perguruan tinggi yang mempunyai tri dharma perguruan tinggi, salah
satu dharmanya adalah penelitian. Hal itu menjadi kewajiban baik siswa maupun dosen untuk
melaksanakan dharma penelitian. Pada instansi lain, seperti LIPI, BPPT, BP3G dan lainnya,
menyediakan tempat bagi para peneliti. Di dalam industri tersedia satu departemen untuk
para peneliti guna mengembangkan industrinya, yaitu yang dikenal dengan R & D (Research
& Developmnet). Di situlah para peneliti mengasah kemampuannya dan berkarya. Seorang
sarjana kimia industribisa juga menekuni bidang konstruksi industri, sebagai seorang
kontraktor, atau hanya sebagai operator dalam suatu industri. Bahkan dapat pula berprofesi di
bidang perbankan sebagai analis ekonomi dan di bidang pemasaran. Lebih-lebih
berwiraswasta dengan bekal ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah.
Market research engineering belum banyak dilakukan di Indonesia. Penelitian bidang
pemasaran ini meliputi berbagai aspek, misalnya tentang kepuasan pelanggan dan kemauan

Azas Teknik Kimia Page 8


konsumen terhadap sebuah produk. Pasar merupakan hal penting dalam keberadaan sebuah
industri. Sebuah produk berhasil diciptakan, tetapi tidak diserap pasar berakibat pada
kebangkrutan. Penelitian ini lebih menghasilkan saran kepada pimpinan tentang kemauan
konsumen terhadap produk tertentu. Saat ini, bidang teknik pemasaran banyak diteliti oleh
teman-teman dari teknik industri atu teknik informatika, seperti munculnya konsep supply
chains.
Masih banyak lagi profesi yang dapat ditekuni sebagai seorang sarjana teknik kimia.
Pada hakekatnya, mulai dari mencari bahan, mengolah hingga memperoleh hasil sampai pada
pemasaran dan distribusi produk ke konsumen adalah lahan bidang teknik kimia. Lulusan S-1
teknik kimia, sebagai gambaran kesuksesan, masih memerlukan waktu kurang lebih 10 tahun
untuk menjadi project engineer yang handal dan memerlukan pengalaman 5 tahun lagi untuk
menduduki project manager.
Memperhatikan hal-hal di atas, tidaklah terlalu berlebihan bila unsur-unsur
matematika, ekonomi-manajemen, maupun unsur hubungan manusia dengan manusia dan
manusia dengan Tuhan (humanitas) memenuhi kurikulum di bidang teknik kimia. Walaupun,
sarjana teknik kimia yang dihasilkan belum mempunyai kesiapan sebagai seorang ahli di
bidangnya.
Langkah Logis Penyelesaian Masalah/Soal
Sering kali siswa mengalami frustrasi dalam menyelesaikan soal-soal yang dihadapai
karena tidak tuntas atau mengalami kebuntuan dalam memperoleh hasil akhirnya. Atau dapat
menyelesaikan persoalan itu, tetapi dengan waktu tempuh yang panjang. Kalau hal itu
dilakukan saat ujian dengan waktu yang terbatas, dapat dibayangkan nilai yang diperolehnya.
Modal utama dalam pemecahan persoalan adalah pengalaman dan ketrampilan. Kondisi itu
dicapai manakala cukup dalam melatih diri dengan banyak soal, seperti telah dihimbau di
atas.
Adakalanya, sudah melatih diri, tetapi masih mengalami hambatan untuk
menyelesaikan soal yang sedang dihadapi. Untuk itu, cobalah ikuti langkah-langkah logis
penyelesaian persoalan berikut ini.
1. Visualisasi
Umumnya soal-soal yang terdapat dalam bidang teknik kimia merupakan sebuah
proses. Gambarkan dengan nyata persoalan yang sedang dihadapi dengan coretan kecil pada
sarana untuk menyelesaikan soal itu. Semisal, sebuah bola yang jatuh dari ketinggian 10
meter di atas tanah.Visualisasikan peristiwa itu dengan gambaran seperti pada gambar di
bawah ini.

Azas Teknik Kimia Page 9


mg

10 m

Gambar P-3. Bola jatuh bebas

Bila ada reaksi kimia, tuliskan persamaan reaksinya. Misal, dalam proses pembuatan bahan P
dilakukan dalam reaktor dengan mereaksikan bahan A dan B, maka reaksi yang terjadi
dituliskan: A + B P.
Demikian seterusnya, bila dijumpai persoalan yang lain.

2. Objektif
Artinya, pada benda yang dihadapi, yaitu bola dan sekelilingnya. Apa saja yang
terdapat dalam benda itu dan apa saja yang berpengaruh terhadap peristiwa itu. Misal
diameter, berat, rapat massa, dan yang berpengaruh adalah gaya gravitasi bumi (tidak dalam
ruang hampa). Sesuaikan satuan yang ada dengan satu sistem satuan yang dipilih, apakah
dengan satuan cm, gram, detik atau dalam feet, pound, detik.
Pada reaksi kimia yang terjadi, apakah reaksi tersebut bolak-balik, reaksi searah, atau
reaksi katalitik. Dalam persamaan itu sesuaikan koefisien stoichiometri reaksi yang ada.
3. Rencana
Pada tahap ini, rencanakan apa saja yang akan dilakukan untuk menyelesaikan
pertanyaan dalam persoalan yang dihadapi. Hal ini berkaitan dengan teori, hukum,
persamaan/rumusan yang berkaitan langsung dengan permasalahan. Pada contoh bola jatuh
bebas, maka teori, hukum, dan persamaan yang ada adalah yang berlaku untuk kasus benda
jatuh bebas, bukan gerak parabola atau gerak peluru. Jika, hal yang ditanyakan mengenai
tenaga/energi, maka yang relevan dengan peristiwa itu adalah hukum kekekalan massa dan
energi, misal energi kinetik dan energi potensial. Tuliskan rumusan untuk jenis energi
tersebut dengan benar.
Pada persoalan dengan reaksi kimia, perhatikan hal-hal yang bersangkutan dengan itu.
Bahan yang bereaksi atau produk yang dihasilkan dalam keadaan cair, padat, atau gas.

Azas Teknik Kimia Page 10


Kondisi operasi pada reaksi tersebut perlu pula dicermati. Pengaruh-pengaruh itu akan
berhubungan dengan penyelesaian perhitungan dalam kinetika reaksi.

4. Menghitung
Setelah melalui hal di atas, mulailah dengan melakukan perhitungan menggunakan
rumusan yang berlaku. Di dalam melaksaanakan perhitungan, pastikan bahwa apa yang
ditanyakan dapat terjawab. Hal itu dapat lakukan secara matematika dengan pedoman:
Bila ada n bilangan yang tidak diketahui, maka agar dapat diselesaikan secara sempurna
harus ada n persamaan yang mengikutinya.

5. Menyempurnakan
Penyempurnaan hitungan diperlukan untuk menghindari kesalahan yang dibuat. Hal
ini dilakukan dengan meneliti kembali alur dan cara perhitungan. Bila ada data yang
diperlukan untuk melengkapi perhitungan, dicari dalam buku-buku teks, misalnya diperlukan
data rapat massa, kekentalan atau sifat fisis lainnya. Penyempurnaan itu bisa juga berbentuk
laporan yang harus dibuat. Hal itu membantu kita dalam menginventarisir segala yang telah
dikerjakan. Agar disuatu hari nanti bila dibutuhkan kembali tidak memperoleh kesulitan.

6. Generalisasi
Langkah ini sering kali diabaikan, sehingga bila ada persoalan yang sama untuk
dihadapi mengalami kesulitan dalam penyelesaiannya. Padahal, peristiwanya sama yang
seharusnya dikerjakan dengan teori, hukum/kaidah dan rumusan yang sama. Generalisasi ini
seharusnya dilakukan terhadap suatu peristiwa atau proses yang serupa. Misal persoalan
benda jatuh bebas seperti di atas, yang semula diketahui berat benda, tetapi pada persoalan
yang lain diketahui spesifik gravity dan diameter benda tersebut. Permasalahannya adalah
mencari massa benda, karena dalam perhitungan yang digunakan adalah massa benda.
Banyak pula dijumpai persamaan-persmaan matematis yang sejenis dan yang berbeda
hanyalah pada bilangan yang tidak diketahuinya dan ketentuan yang berlaku.
Generalisasi ini sangat membantu dalam menghadapi persoalan-persoalan yang sama.
Cara ini biasa digunakan dalam perhitungan-perhitungan menggunakan bantuan komputer
dengan bahasa pemrograman yang ada. Bahwa dalam generalisasi alur perhitungan sudahlah
baku. Hanya diperlukan trik perhitungan untuk dapat menyelesaikan persoalan yang serupa.

Azas Teknik Kimia Page 11


Teknik Perhitungan
Di samping cara logis menyelesaikan persoalan seperti di atas, di dalam melaksanakan
perhitungan sering kali dihadapkan pada keberadaan data yang seadanya. Hal itu akan
dijumpai pada saat melakukan perhitungan-perhitungan dalam perancangan baik perancangan
pabrik kimia maupun perancangan peralatan.
a. Penggunaan Data Literature
Di dalam melakukan perhitungan (perancangan) tidak jarang kita dihadapkan dengan data
yang terbatas. Untuk itu diperlukan data tambahan yang harus dicari sendiri. Data tambahan
itu umumnya berupa sifat-sifat fisis bahan-bahan tertentu. Keberadaan data tersebut dapat
diperoleh dalam literature yang disediakan. Kimia industrimengenal beberapa buku pegangan
utama yang memuat informasi umum untuk segala hal yang terkait dengan kimia
industritermasuk data fisik bahan. Di dalam literature data-data fisik untuk bahan-bahan
tertentu disajikan dalam bentuk tabel dan gambar/grafik. Buku-buku yang digunakan sebagai
sumber data, ialah:
1. Chemical Engineering Handbook.
Buku ini memuat informasi tentang hampir semua sifat-sifat fisik bahan kimia. Di samping
itu, buku ini merupakan buku pegangan seorang teknik kimia karena di dalamnya memberi
garis besar seluruh materi ajar yang ada di jurusan teknik kimia. Perry secara turun temurun
adalah editor dari buku itu yang saat ini ditulis oleh Chilton cucunya dan sudah sampai pada
edisi yang ke enam. Sebagai penerbit adalah McGraw-Hill Book Company Inc. di New
York atau McGraw-Hill International Book Company di Tokyo.
2. International Critical Tables of Numerical Data, Physic, Chemistry and
Technology ditulis oleh Wasburn, E.W.
Dari judulnya sudah dapat dipahami isi buku tersebut. Buku itu terdiri atas beberapa volume,
diterbitkan pula oleh McGraw-Hill Book Company Inc.
3. Buku literatur lain untuk teknik kimia. Di dalam buku-buku itu, data fisik maupun
kimia yang dimuat tercantum dalam Appendix.

b. Perhitungan dengan cara coba-coba (trial & error)


Dalam hitungan-hitungan kimia industrisering kali dijumpai persamaan-persamaan
berpangkat lebih dari dua. Pada umumnya, penyelesaian secara aljabar tidak dapat dilakukan
dengan mudah. Perhitungan dengan cara coba-coba biasanya sangat membantu
penyelesaiannya dan lebih mudah dilakukan.

Azas Teknik Kimia Page 12


Contoh: Dalam reaksi dikenal dengan persamaan reaksi keseimbangan, misalnya diulis
dengan persamaan:
A + 2B C
Bila diketahui pada tekanan dan suhu tertentu nilai konstanta keseimbangannya, K e = 429
dengn konsentrasi dinyatakan dalam mol. Jika mula-mula A = 1 mol dan B = 2 mol, berapa
jumlah mol B yang bereaksi pada keadaan seimbang?.
Jawab:
[ C]
Pada keadaan seimbang: Ke =
[ A ][B] 2

Cari konsentrasi masing-masing bahan pada saat seimbang:


Komponen : A B C jumlah
Mula-mula (mol) : 1 2 0 3
B bereaksi x mol : 1- x 2x x 3x
Maka:
(1 / 2) x
[ C] (3 x )
Ke = = 2
[ A ][B] 2 1 1 / 2 x 2 x

3 x 3 x
2
3 x x
429 =
2x 2x
2
3 x x
Atau - 429 = 0 f(x) = 0
2x 2x

Penyelesaian persamaan ini dapat dengan mudah dilakukan dengan cara coba-coba pada
setiap nilai x mol. Kalau suku kiri tanda sama dengan dinamakan f(x), maka untuk setiap
nilai x akan dapat dihitung besarnya f(x) seperti dalam tabel berikut.
x : 1,79 1,80 1,81 1,82 1,83 1,84
f(x) : -146 -105 - 55 +6 + 81 + 175
Dari tabel itu terlihat bahwa untuk memperoleh f(x) = 0, nilai x terletak antara 1,81 dan
1,82. Untuk itu dicoba-coba lagi nilai antara 1,81 dan 1,82 sampai diperoleh nilai f(x) = 0.
Hal yang lain dapat dilakukan dengan membuat grafik hubungan antara x dengan f(x), yaitu:

Dengan gambar ini, yang

Azas Teknik Kimia Page 13


+50 dibuat dalam kertas milimeter
f(x) dapat dengan mudah dibaca
0 posisi nilai x pada saat f(x)=0
Yang ternyata = 1,819.
-50

1,819 x
Gambar P-4. Hasil perhitungan cara coba-coba
Jadi, pada saat terjadi keseimbangan reaksi, bahan B yang bereaksi sebesar 1,819 mol.

c. Interpolasi dan ekstrapolasi


Perhitungan cara ini umumnya dilakukan pada waktu mencari data diantara dua angka
yang ada. Seperti pada tabel x dan f(x) di atas, yang henddak dicari berada pada dua angka
yang berbeda antara x = 1,81 dan 1,82; masing-masing mempunyai nilai untuk f(x) adalah
-55 dan + 6. Cara interpolasi menganggap bahwa garis yang dibentuk antara kedua titik itu
adalah linier (garis lurus). Sehingga berlaku perbandingan garis dalam format segitiga, yaitu:

c c
d d

a
a e b
Gambar P-5. Interpolasi dalam garis lurus
pada segitiga abc berlaku perbandingan:
ea d 'a '
Atau,
ba c'a '
Seperti pada contoh di atas, yaitu antara nilai x= 1,81 dan 1,82 dengan f(x)=-55 dan +6, maka
dengan interpolasi diperoleh:
a = 1,81
b = 1,82
e = x (yang akan dicari)
a = -55
c = + 6
d = 0

maka:

Azas Teknik Kimia Page 14


e 1,81 0 ( 55)

1,82 1,81 6 ( 55)

e 1,81 = (55/61)(0,01) = 0,00902


e = 0,0090164 + 1,81 = 1,81902
Hasil itu tidak berbeda dengan cara grafik.
Cara ekstrapolasi pada prinsipnya sama dengan cara interpolasi. Pengertiannya saja yang
berbeda. Kalau interpolasi adalah nilai yang dicari berada diantara dua harga, sedangkan
ekstrapolasi berada diluar ke dua harga itu. Misalnya dari x = 1,81 dan 1,82 dengan f(x)
adalah masing-masing -55 dan + 6, jika ekstrapolasi yang dicari berada diatas x = 1,82, misal
x = 1,825

PUSTAKA
Badger, W.L., and Banchero, J.T., 1955, Introduction to Chemical Engineering ,
International Student Edition, McGraw-Hill Kogakhusha, Ltd., Tokyo.
Backhurst, J. R. and Harker, J. H., 1983, Process Plant Design, Heinemann Educational
Books, London.
Brown, G. G., 1958, Unit Operations, Modern Asia Edition, John Wiley & Sons, Inc., New
York.
Johnstone, R. E., and Thring, M. W., 1957, Pilot Plant, Models, and Scale-Up Methods in
Chemical Engineering, McGraw-Hill Book Company, New York.
http://www.pafko.com/history/h_time.html, 2006, A Chemical Engineering Timeline.
King, C. J., 1971Separation Processes, Tata McGraw-Hill Publishing Company Ltd., New
Delhi.
Levenspiel, O., 1972, Chemical Reaction Engeneering", 2 nd edition, John Wiley & Sons,
New York.
McCabe, W. L., Smith, J. C. and Harriott, P., 1993, Unit Operations of Chemical
Engeneering, 5th Editon, McGraw-Hill, Inc., New York.
Peters, M. S. and Timmerhaus, K. D., 1968, Plant Design and Economic for Engineers, 4 th
edition, McGraw-Hill Book Company, Tokyo.
Rudd, D. F., and Watson, C.C., 1968, Strategy of Process Engineering, John Wiley & Sons, New
York.
Shreve, R. N., 1956, The Chemical Process Industries, 2nd edition, McGraw-Hill Book
Company, Inc., New York.
Soegiarto, 1979, Pemantapan Penggolongan Penelitian Laboratorium dalam Teknik Kimia,
Pekan Ceramah Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Soehendro, B., 1998, Pengembangan Ilmu Kimia industridan Pembangunan Nasional,
Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Ilmu Teknik, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta
Vilbrandt, F. C. and Dryden, C. E., 1959, Chemical Engineering Plant Design, McGraw-
Hill Kogakusha, Ltd., Tokyo.

BAB I
SISTEM DALAM TEKNIK KIMIA

Azas Teknik Kimia Page 15


Dalam mempelajari bagian ini, siswa diharapkan mampu:
1. Menjelaskan satuan dan dimensi
2. Mengenal macam variabel/kualitas dengan satuan-satuan
yang ada
3. Menjelaskan perbedaan berat dan massa, difinisi dan
penggunaan faktor konversi & faktor konversi gravitasi, gc
4. Mengubah dari satuan tertentu ke bentuk satuan yang lain
5. Mengetrapkan konsep dimensi secara benar dan
menghitung satuan ke dalam fungsinya.

SUB POKOK BAHASAN: Satuan dan dimensi, faktor konversi, berat dan massa,
satuan mol dan berat molekul, rapat massa, spesifik gravity, spesifik volum,
komposisi larutan, fraksi mol dan fraksi massa, berat molekul rata-rata, suhu,
tekanan, dan basis perhitungan

PENDAHULUAN
Dalam mengawali materi ATK I pada Sistem Dalam Teknik Kimia siswa diajak
untuk mempelajari berbagai aspek yang menyangkut sistem dalam teknik kimia. Materi
dimulai dengan satuan dan dimensi, faktor konversi dan faktor konversi Newton (g c).
Kemudian dilanjutkan dengan variabel yang digunakan pada sistem dalam teknik kimia, yaitu
faktor konversi, berat dan massa, satuan mol dan berat molekul, rapat massa, spesifik gravity,
spesifik volum, komposisi larutan, fraksi mol dan fraksi massa, berat molekul rata-rata, suhu,
tekanan, dan basis perhitungan. Semuanya itu merupakan pengertian dasar yang terus
digunakan dalam masa perkuliahan di jurusan teknik kimia. Hampir semua variabel telah
dikenal melalui mata pelajaran sebelumnya, di sini diingatkan kembali serta diperkenalkan
kegunaan dan manfaat di dalam bidang teknik kimia, khususnya satuan dan dimensi dan basis
perhitungan.
Satuan dan Dimensi
Bidang kimia industritidak lepas dari perhitungan matematika. Hal itu melekat pula
pada profesi seorang sarjana kimia industriyang bekerja di bidangnya (kecuali kalau setelah

Azas Teknik Kimia Page 16


lulus manjadi seorang aktor atau artis/selebriti). Hal yang utama dan menjadi perhatian awal
sebelum melakukan perhitungan adalah satuan.
Dimensi adalah konsep dasar pengukuran yang dinyatakan dalam panjang, waktu,
massa, tempetarur, dan energi dan masing-masing diberi notasi L, t, M, T, dan H. Satuan
merupakan ekspresi bentuk dimensi, misal satuan panjang: cm, feet; satuan waktu: detik, jam,
hari; satuan massa: gram, pound; satuan temperatur: oC, K; satuan energi: calori, Dyne,
Britisch Thermal Unit (BTU). Turunan satuan-satuan yang ada dapat mempunyai beberapa
dimensi, misalnya rapat massa dengan satuan gr/cc, dimensinya adalah ML-3.
Satuan ada dua jenis yaitu satuan Matrik (SI units) dan satuan British (American
Engineering System of Units). Pada satuan SI dikenal dengan sistem cgs atau sentimeter,
gram, dan secon (detik), sedangkan sistem satuan British, menggunakan inchi, pound, dan
secon (detik).
Kalau ditanyakan berapakah densitas air?, maka orang dengan cepat menjawab satu.
Kalau pertanyaan dilanjutkan, berapakah berat 1 liter air?, dengan cepat pula dijawab satu
kilogram. Mengapa demikian?. Jawabnya, karena rumusan yang ada adalah
berat = volum x rapat massa
Sekarang, kalau diperhatikan dengan lebih teliti:
Berat = volum x rapat massa
Berat = 1 liter x 1 = 1 liter, yang tentunya tidak sama dengan 1 kilogram.
Mari kita perhatikan:
Berat = volum x rapat
1 kilogram = 1 liter x rapat
kg
Agar liter (L) dapat menjadi kilogram (kg), maka harus dikalikan dengan , artinya nilai
L

kg
rapat air tidak hanya 1 saja melainkan 1 . Jadi rapat massa itu mempunyai satuan, yaitu
L

kg
.
L
Banyak variabel-variabel lain, akan membuat bingung pemakaiannya kalau tidak
dijelaskan satuannya. Nilai variabel-variabel ini akan berlainan yang tergantung satuannya.
Misalnya nilai konstanta gas umum, R, yaitu 0,082; 1,98 atau nilai gaya gravitasi bumi, g,
yaitu 9,8; 32,17 dan lainnya. Oleh karena itu, setiap menuliskan variabel, harus terus diikuti
dengan satuannya yang sesuai. Dengan demikian, pada konstanta gas umum, R, terdapat:

Azas Teknik Kimia Page 17


L atm cal m ft
R = 0,082 mol K = 1,98 mol K dan pada g: g = 9,8 2 = 32,17 .
det det 2
Faktor konversi satuan
Variabel-variabel di atas yang mempunyai nilai itu disebut dengan kuantitas-kuantitas.
Sebuah aksioma menyatakan, bahwa dua kuantitas dapat sama, bila mereka ini mempunyai
dimensi yang sama. Misalnya: 2 meter 2 kilogram, karena dimensinya tidak sama. Meter
adalah dimensi panjang (L), sedangkan kilogram mempunyai dimensi massa (M).
Sementara sudahlah diketahui, bahwa:
1 ft = 0,3048 m
1 ft2 = (0,3048)2 m2,
Tetapi: 1 ft m2.
Dalam hal tersebut, satuansatuan dengan dimensi yang sama yang berpangkat sama dapat
dikonversikan ke dalam yang lain dengan menggunakan faktor konversi.
Untuk faktor konversi mohon diperhatikan dengan sebaik-baiknya. Sehubungan
dengan hal itu, ada ceritera menarik yang penulis dapatkan dari e-mail teman, judulnya:
Kesalahan Fatal Dalam Menggunakan Satuan Berat. Dalam berita itu mengatakan, bahwa
seorang temannya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing di PHK (Putus Hubungan
Kerja) akhir tahun 2004 karena kesalahan menerapkan dosis satuan berat pada pengolahan
limbah. Pasalnya, dalam buku petunjuk yang digunakan tertera satuan pound dan ounce.
Kesalahan fatal muncul, karena yang bersangkutan menerjemahkan: 1 pound = 0,5 kg dan 1
ounce (ons) = 100 g. Sebelum di PHK ybs diberi kesempatan untuk membela diri selama
waktu 7 hari. Korban yang nyaris di PHK mencari literature kemana-mana yang dapat dibuat
landasan bahwa 1 pound = 0,5 kg atau 1 ounce = 100 g. Ternyata tidak satu pun literature
yang menyatakan itu, kecuali di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons
(bukan ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram.
Hal tersebut mau mengatakan, bahwa:
1. Penggunaan satuan sangatlah penting
2. Hendaklah berhati-hati dalam menggunakan konversi satuan dan
3. Gunakan satuan dengan tepat dan benar
Perlu disampaikan disini, bahwa konversi berat yang umum dipakai secara internasional
adalah:
1 ounce/ons/onza = 28,35 gram (bukan 100g)
1 pound = 453,6 gram (bukan 500 g)
1 pound = 16 ounce (bukan 5 ons).

Azas Teknik Kimia Page 18


Bayangkan, bila seorang apoteker salah dalam mengartikan satuan berat tersebut yang
obatnya diberikan pada pasien. Daftar II-1 menyajikan beberapa variabel beserta satuannya
dan daftar II-2 memberikan beberapa konversi satuan.

Faktor konversi Newton, gc


Pada sistem British faktor konversi Newton, gc, digunakan untuk mengubah satuan
massa (lb) ke satuan gaya (lbf). Hal itu dikembangkan dari hukum Newton, yaitu:
F = m. a = m. g ..(I-1).
ft
Untuk 1 lb bahan: F = 1lb. , yang nilainya = 1 lbf . Dengan demikian, ada
det 2
Daftar I-1. Beberapa variabel dengan satuannya
VARIABEL SATUAN SIMBOL/ SATUAN SIMBOL/
MATRIKS (SI) NOTASI BRITISH NOTASI
Massa Gram, kilogram G, kg Pound, gallon lb, gal
Panjang Sentimeter,meter cm, m Inchi, feet In, ft
Waktu Detik,menit,jam det, men, j Detik, menit,jam s, men, hr
Volum Liter,meterkubik L, m3 Cubicfeet,gallon cuft, gal
o o
Suhu Celcius,Kelvin C, K Fahrenheit,Renkin F, oR
Tekanan Atmosfer atm Pound per squareinch psi
Energi/tenaga Dyne, erg dyne, erg British Thermal Unit BTU
Densitas Gram per mililiter g/mL,kg/L Pound per cubicfeet lb/cuft
Kecepatan linear Meter per detik, m/det feet per jam ft/j
Percepatan Meter per detik kuadrat m/det2 feet per detik kuadrat ft/s2
Gaya Newton N pound (force) lbf

ft lb
faktor pengubahnya yang diberi notasi gc. Nilai gc = 32,17 . Oleh karena itu, rumus-
det 2 lb f

rumus yang ada untuk gaya/tenaga, jika digunakan satuan Britisch digunakan faktor g/gc yang

lb f
praktis mempunyai nilai satu dengan satuan . Seperti persamaan (II-1) dituliskan:
lb
mg
F= (I-2).
gc

32,17 ft
det 2 lb f
Untuk 1 lb bahan: F = 1lb. = 1 lb. 1 = 1 lbf.
32,17 ft lb lb
det 2 lb f
Berat dan massa
Massa benda dimana pun berada adalah tetap (sesuai dengan hukum kekekalan
massa). Yang dapat berubah adalah bentuknya, yaitu padat, cair atau gas, tetapi jumlahnya
tetap.

Azas Teknik Kimia Page 19


Satuan berat termasuk dalam satuan gaya. Dalam sistem satuan SI berat dinyatakan
dengan kg (sama dengan massa), sedangkan dalam sistem British dinyatakan dengan lbf
(pound force). Berat benda tergantung pada gaya gravitasi yang ada di tempat itu.

Daftar I-2. Beberapa konversi satuan

Satuan massa
1 kg = 1000 g 1 lb = 16 once
1 kg = 2,2046 lb 1 lb = 453,6 g
1 ton = 2205 lb 1 bbl = kg
1 ounce/ons/onza = 28,35 g

Satuan panjang
1 m = 100 cm 1 in = 2,54 cm
1 cm = 10 mm 1 ft = 30,48 cm
1 ft = 12 in

Satuan luas
1 m2 = 10.000 cm2
1 ft2 = 144 in2; ft2 dan in2 biasa ditulis dengan: sqft dan sqin
(sq = square).
1 ft2 = 9,2903 10-2 m2

Satuan volum
3 3
1 m = 1000000 cm (cc = mL)
1 m3 = 1000 L
1 gal = L
1 cuft = m3
1 gal = cuft

Satuan gaya
kg m
1N =1 1 N = 105 dyne
det 2
1 erg = 1 g cm/s2 = 10-5 N
1 g cm/s2 = 2,2481 10-6 lbf 1 N = 0,2248 lbf

Satuan energi/panas/tenaga
1 BTU = 0,252 kcal 1 BTU = 778 ft-lbf
1 HP = 42,4 BTU/men 1 KW = 1,3415 HP
1Watt-hr = 3,415 BTU

Satuan Tekanan
1 atm = 760 mmHg 1 atm = 33,91 ftH2O
1 atm = 22,92 inHg 1 atm = 1,013 105 Pa
1 Bar = 100 KPa 1 atm = 1 kg/m2
1 Pa = 1 N/m2 1 atm = 14,7 psi

Azas Teknik Kimia Page 20


Mol dan Berat Molekul
Kata mole berasal dari bahasa Latin yang berarti heap atau pile. Dalam bahasa
Indonesia berarti timbunan atau tiang pancang Selanjutnya, dalam sistem SI diberi simbol
mol. Perkembangan berikut menyatakan bahwa nilai 1 mol itu sama dengan jumlah molekul
menurut bilangan Avogadro (lihat kembali mata pelajaranKimia Dasar), jadi:
1 mol = 6,02 1023 molekul
1 lbmol = 6,02.1023.453,6 molekul
1 kmol = 1000 mol
Berat molekul merupakan jumlah dari berat atom yang membentuk senyawa molekul
tersebut. Berat atom merupakan massa sebuah atom yang didasarkan pada massa atom isotop
karbon bernilai 12, yaitu 12C yang di dalam intinya terdapat 6 proton dan 6 netron.
Berat molekul merupakan faktor konversi dari satuan massa ke satuan mol atau
sebaliknya. Apakah berat molekul punya satuan?. Kalau ada, apa satuan berat molekul (BM)
itu?. Untuk menjawab pertanyaan itu, baiklah diberikan contoh sebagai berikut.
Berapa berat 1 gmol air (H2O)?. Seperti dikatakan bahwa BM merupakan jumlah dari
berat atom yang membentuk senyawa itu, maka untuk menjawabnya diperlukan data tentang
berat molekul air, yang terdiri atas 2 berat atom H = 2x1 =2 dan satu berat atom O = 16,
sehingga jumlahnya 18, maka berat 1 gmol air = 1 x BM air = 1 gmol x 18 = 18 gram.
gram
Agar 1 gmol bisa menjadi 1 gram maka harus dikalikan dengan gmol , yaitu:

gram
1gmol air = 1gmol x 18 gmol = 18 gram.

Bagaimana jika dalam satuan pound?. Apa satuan BM-nya?.


1 lbmol air = 1 lbmol x 18 = 18 lbmol
lb
maka satuan BM adalah .
lbmol
Dari kedua contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa,
satuan massa
Satuan Berat molekul = satuan mol .................................(I-3).

Contoh:
1. Seorang siswa menimbang 100 gram padatan MgSO4. Berapa nilai bahan itu bila
dinyatakan dalam a) gmol dan b) lbmol?
Jawab:
Mg SO4 mempunyai BM = 120

Azas Teknik Kimia Page 21


100gram
a). 100 gram Mg SO4 = 120 gram = 0,83 gmol.
gmol
1lb
b). 1lb = 454 g, maka 100 g MgSO4 = 100 g x 454g = 0,2203 lb

0,2203 lb
= 120 lb = 1,8355.10-3 lbmol.
lbmol
Latihan
1. Jelaskan pernyataan berikut ini, benar atau salah!
a. 454 gmol NaOH sama dengan 1lbmol
b. Berat molekul pada suatu senyawa besarnya sama dengan jumlah tiap atom yang
membentuknya.
c. Berat atom tergantung pada gaya gravitasi bumi.
d. Berat atom merupakan jumlah elektron yang mengelilingi intinya.
e. satu mol sama dengan jumlah molekul dalam satu gram bahan.
2. Berapakah berat 100 gmol NaOH yang dinyatakan dalam g dan lb?
3. Berapakah berat 1 mol MgSO4.10H2O?. Berapa gram kandungan airnya?.

Rapat massa
Disebut juga dengan berat jenis atau densitas. Rapat massa atau rapat suatu bahan
adalah jumlah massa suatu bahan tiap satuan volum. Massa adalah jumlah unsur dalam suatu
bahan. Berat bahan dapat berubah tergantung besarnya gaya tarik bumi pada daerah itu.
Volum dapat berubah karena perubahan suhu dan tekanan, tetapi massa tidak. Massa suatu
campuran merupakan jumlah dari massa tiap bahan yang membentuk komposisi campuran
itu. Rapat setiap bahan yang ada dalam campuran itu berbeda. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa rapat massa campuran tergantung pada komposisi dan suhu, terutama pada
gas.
berat
Rapat = berat jenis = densitas = ..................................(I-4)
volum
g
Pada sistem satuan matrik rapat dinyatakan sebagai gram per sentimeter kubik ( )
cc
untuk bahan padat dan cair, sedangkan untuk gas dinyatakan dalam gram per liter. Dalam

lb
satuan Inggris dinyatakan sebagai pound per kaki kubik ( ).
cuft
Contoh:

Azas Teknik Kimia Page 22


g
Karbon tetraklorida pada suhu 25oC mempunyai rapat 1,5844 . Berapakah
cc
lb
beratnya dalam gallon ?

Jawab: 1 lb = 453,6 gram


1 in (inchi) = 2,54 cm
1 cuin = 16,3870 cc
1 gallon = 231 cu in
g 1,5844 g / cc cc cu in
Sehingga: 1,5844 = 453,6 g / lb x (16,387 cu in ) x (231 gal )
cc
lb
= 13,23 gal .

Volum dipengaruhi oleh suhu karena adanya pemuaian. Dengan demikian, densitas
juga dipengaruhi oleh suhu.

Specific gravity
Specific gravity (s.g) merupakan perbandingan massa satu bahan terhadap massa
bahan tertentu untuk satu satuan volum yang sama. Untuk bahan padat dan cair bahan
pembanding yang digunakan adalah air murni pada suhu 4 oC, sedangkan untuk gas yang
digunakan sebagai pembanding adalah gas hidrogen murni atau udara kering.
bahan
s.g(pdt/cair) = .......................................................................(I-5).
air murni

bahan
s.g(gas) = .....................................................................(I-6).
udara ker ing

Dalam penulisan s.g sering kali diikuti dengan perbandingan suhu, misalnya:
20 o
s.g = 1,43 . Disini menunjukkan bahwa s.g bahan itu berasal dari perbandingan rapat
4o
bahan pada suhu 20oC dengan rapat air yang diukur pada suhu 4oC. Air pada suhu ini nilai

g
rapatnya mutlak sama dengan 1 .
cm 3
Contoh:
lb
Rapat besi, Fe2O3 = 314
cuft
lb
Rapat kuarsa SiO2 = 155,7
cuft

Azas Teknik Kimia Page 23


lb
Rapat air murni, H2O = 62,437
cuft
314 155,7
s.g Fe2O3 = 62,437 = 4,03 dan s.g SiO2 = 62,437 = 2,5.

Membandingkan atau mengingat angka 5,03 dan 2,5 jauh lebih mudah daripada angka 314
dan 155,7.
Rapat massa dan s.g banyak digunakan dalam industri/perhitungan untuk menentukan
konsentrasi atau kemurnian bahan cair. Hubungan s.g dengan konsentrasi terdapat dalam
bentuk tabel atau grafik pada buku-buku teks kimia industriatau teknik lainnya. S.g lebih
mudah dan lebih cepat diukur daripada konsentrasi yang ditentukan dengan analisis kimia.
Berkaitan dengan s.g, ada beberapa skala spesifik yang dikenal dalam industri, yaitu
skala Baume, akala A.P.I, dan skala Twaddle.

Skala Baume
Skala ini terdapat pada alat Baumemeter. Tiap skala pada alat ini dinamakan derajat
Baume (oBe). Hubungan oBe dengan s.g adalah:
Untuk cairan yang lebih berat daripada air:
145
o
Be = 145 (I-7).
s.g (60 F )
60 F
Untuk cairan yang lebih ringan daripada air:
140
o
Be = - 130 ....................................(I-8).
s.g (60 F )
60 F

Skala API (American Petroleum Instutute)


Skala ini digunakan dalam industri minyak bumi. Tiap skala pada alat ini dinamakam
derajat API (oAPI). Hubungan oAPI dengan s.g adalah:
141,5
o
API = 131,5 ........................................(I-9).
s.g (60 F )
60 F
Skala Twaddle
Skala ini banyak digunakan di Inggris. Tiap skala pada alat ini dinamakan derajat
Tweddle (oTw). Hubungan oTw dengan s.g adalah:
o
Tw = 200(s.g-1) .....................................................................(I-10).

Azas Teknik Kimia Page 24


Hubungan skala-skala di atas dengan s.g dan konsentrasi dituangkan dalam bentuk
tabel, yang ada hanya oBe saja.
Contoh:
Berapa lb HNO3 murni yang terkandung dalam 1 gallon HNO3 dari 36,5 oBe yang
diukur pada 60oF?.
Jawab: Data dari Handbook: untuk larutan HNO 3 36,5 oBe mempunyai s.g (60oF/60oF)
sebesar 1,3364 dan mengandung 53,32% berat HNO3.
Berat 1 gallon air pada 60oF = 8,337 lb.
Berat 1 gallon HNO3 36,5 oBe pada 60oF = 8,337. 1,3364 = 11,14 lb
Berat HNO3 murni yang terkandung = 0,5332 . 11,14 lb = 5,94 lb.

Specific volume
Specific volume merupakan kebalikan dari densitas, yaitu satuan volum per satuan

cuft cuft cm 3 bbl


massa. Ekspresi satuannya adalah , , , , atau yang lain.
lb lbmol g lb
1 volum
Specific volum = berat ..........................................(I-11).

Komposisi larutan/campuran
Bahan di alam umumnya berupa suatu campuran dari beberapa senyawa. Untuk
memurnikannya harus dilakukan pengolahan. Kandungan setiap bahan yang ada dalam
campuran itu dinyatakan dalam konsentrasi. Dalam analisis campuran/larutan besarnya
konsentrasi bahan yang ada dinyatakan dalam satuan konsentrasi yang dapat berupa:

massa mol massa atau mol lb A gmol A


total massa
, total mol
, volum
. Misalnya, ,
lb laru tan gmol campuran
,

lb
. Konsentrasi dapat pula dinyatakan dalam massa terlarut per massa pelarut, misal
cuft

lb NaOH
.
lb H 2 O

Kandungan bahan itu dapat pula dinyatakan dalam prosentase. Dengan


memperhatikan satuan yang ada pada konsentrasi, maka prosentase itu dapat dinyatakan
dalam %berat, %volum, %mol.
berat bahan A
%berat A = berat total
x 100% .......................................(I-12).

Azas Teknik Kimia Page 25


volum bahan A
%volum A = volum total
x 100% ...................................(I-13).

mol bahan A
%mol A = mol total
x 100% .......................................(I-14).

Contoh:
1. Diketahui komposisi minyak bakar C=83,6% dan H = 16,4%berat.
Bagaimanakah komposisi itu bila dinyatakan dalam %mol?
Jawab: Ambil berat minyak bakar 100 g, maka
Komponen %berat berat (g) BM gmol
83,6
C 83,6 83,6 12 = 6,97
12
16,4
H 16,4 16,4 1 = 16,4
1
Jumlah : 100% 23,37 gmol
Dengan demikian, %mol dapat dicari, yaitu:
6,97
Untuk C = 23,37 x 100% = 29,82%mol dan

8,2
Untuk H = 23,37 x 100% = 70,18%mol, sehingga jumlahnya tetap 100%.

2. Nyatakan komposisi H, S, dan O dengan %berat yang ada dalam H2SO4!.


Penyelesaiaan:
Ambil H2SO4 sebesar 1gmol.
Untuk dapat mencari komposisi tiap atomnya diperlukan data berat atom (BA) masing-
masing komponen pembentuk, yaitu H, S, dan O. Dari data yang ada diketahui: BA masing-
masing, H = 1, S = 32, O = 16.
Berat unsur H dalam H2SO4 = 2 mol. 1 g/mol = 2 g
Berat unsur S dalam H2SO4 = 1mol. 32 g/mol = 32 g
Berat unsur O dalam H2SO4 = 4 mol. 16 g/mol= 64 g
Dengan demikian berat 1 gmol H2SO4 = 98 g
Sehingga %berat masing-masing usur dalam H2SO4 adalah:
H = 2/98 x 100% = 2,04%
S = 32/98 x 100% = 32,65%
O = 64/98 x 100% = 65,31%
Total = 100%

Azas Teknik Kimia Page 26


3. Berapa %berat air yang terkandung dalam MgSO4.10H2O?
Penyelesaiaan:
Data untuk BA masing-masing unsur adalah:
Mg = 24, S = 32, O = 16, H =1
Dalam 1 mol MgSO4.10H2O terdiri atas 1 mol MgSO4 dan 10 mol H2O.
Berat 1 mol MgSO4 = 1molx (24 +32+ 4.16)g/mol = 120 g
Berat 10 mol H2O = 10 mol x (1.2 + 16) g/mol = 180 g
Berat total MgSO4.10H2O = (120 + 180) g = 300 g
Maka %berat air dalam MgSO4.10H2O = 180/300 x 100% = 60%.

4. Larutan etanol-air yang dibuat dengan campuran 500 mL alkohol pekat yang mempunyai
komposisi 93%berat etanol dengan 500 mL air pada suhu 60 oF. Bagaimana komposisi
campuran bila dinyatakan dalam %berat dan %volum.
g g
Jawab: Pada suhu 60oF, air = 0,999 dan alkohol 93% = 0,8144 .
mL mL
a. %berat:
g
berat alkohol pekat = 500 ml (0,8144 ) = 407,2 g
mL
g
berat air = 500 ml (0,999 ) = 499,5 g
mL
berat campuran = 906,7 g
berat alkohol murni = 93% x 407,2 g = 378,7 g.
berat air dalam larutan = 906,7 378,7 = 528 g
378,7
%berat alkohol = 906,7 (100%) = 41,77%

528
%berat air murni = 906,7 (100%) = 58,23%

Jumlah = 100%

b. %volum:
berat air murni dalam alkohol pekat= 7% (407,2) = 28,5 g
28,5 g
volum air murni dalam alkohol pekat = 0,999 g / mL = 28,53 mL.

volum air murni total = 500 + 28,53 = 528,53 ml

Azas Teknik Kimia Page 27


volum alkohol murni = 500 28,53 = 471,47 ml
volum larutan total = 1000 ml
471,47
%volum alkohol murni = (100%) = 47,147%
1000
528,53
%volum air murni = (100%) = 52,853%
1000
Jumlah = 100%.
Fraksi mol dan fraksi massa
Komposisi suatu campuran yang dinyatakan dalam persen konsentrasi dapat
dinyatakan dalam bentuk fraksi. Persen dan fraksi, keduanya mempunyai pengertian yang
sama. Bila komposisi bahan dinyatakan dalam prosentase maka dituliskan dengan %, misal
10%. Bila pernyataan 10% itu dikehendaki dalam bentuk fraksi, maka dituliskan sebagai 0,1
(bagian). Dapat diartikan bahwa
jumlah bahan A
Fraksi A = jumlah total campuran (I-14).

Fraksi A tersebut dapat dinyatakan dalam fraksi mol atau fraksi massa. Bila dinyatakan dalam
fraksi mol, maka jumlah bahan A dan jumlah campuran dalam satuan mol, demikian
sebaliknya bila itu dalam fraksi massa. Dalam campuran yang sama, besar fraksi mol
berbeda dengan nilai fraksi massa, seperti halnya %berat dengan %mol atau %volum.
Namun, prosentase bahan dalam campuran tidak tergantung pada jumlah bahan maupun
banyak bahan. Jumlah dalam arti berat atau volum, sedangkan banyak diartikan sebagai
macam senyawa pembentuk bahan itu. Oleh karena itu, didalam hasil analisis suatu bahan
selalu dinyatakan dalam prosentase atau bagian. Pernyataan bagian yang lazim didengar
adalah bagian per juta (bpj) atau dalam bahasa asingnya part per million (ppm). Misalnya,
unsur A dalam larutan sebesar 100 bpj, artinya dalam campuran terdapat unsur A sebesar 100
bagian setiap 1.000.000 bagian campuran. Kata bagian dapat dinyatakan dalam, berat, mol,
atau volum. Kalau bagian itu dinyatakan dalam liter, maka 100 bpj itu berarti dalam
1.000.000 liter terdapat unsur A sebesar 100 liter.
Contoh:
Campuran alkohol-air dengan komposisi 50%berat alkohol. Berapa fraksi mol alkohol
dalam campuran itu?.
Jawab:
Ambil berat campuran sebanyak 100 gram, maka dalam campuran itu:
50
Berat alkohol murni = x 100 g = 50 g
100

Azas Teknik Kimia Page 28


Berat air = (100 50 )g = 50 g
Data tambahan yang diperlukan adalah berat molekul (BM) masing-masing bahan. BM
alkohol (etanol) = 46 dan air = 18. Dengan demikian:
50g
Mol alkohol = 46g / gmol = 1,087 gmol

50g
Mol air = 18g / gmol = 2,778 gmol

Mol alkohol + mol air = 3, 865 gmol


1,087
Maka, fraksi mol alkohol = 3,865 = 0,2819 dan

2,778
Fraksi mol air = 3,865 = 0,7181

Total fraksi = (0,2819 + 0,7181) = 1,00

Berat molekul rata-rata


Di atas sudah dijelaskan mengenai berat molekul suatu unsur atau senyawa.
Bagaimana dengan berat molekul untuk suatu campuran/larutan yang terdiri atas beberapa
unsur atau senyawa?. Suatu larutan atau campuran bahan yang terdiri atas beberapa senyawa
yang masing-masing senyawa itu memiliki berat molekul, maka berat molekul campuran itu
dicari berdasarkan komposisi senyawa yang membentuknya. Berat molekul campuran disebut
juga sebagai berat molekul rata-rata.
Pada komposisi larutan/campuran di atas disamping %berat, %volum dapat pula
dipakai dalam %mol, meskipun %volum untuk gas = % mol. Contoh berikut
memberikan perhitungan mencari berat molekul rata-rata.
Contoh:
1. Dari data berikut, hitunglah berat molekul rata-rata udara kering?.komposisi dalam
%volum: N2 = 78,03%; O2=20,93%; Ar = 0,94%; CO2 = 0,03%; H2 = 0,01%.

Jawab:
Ambil berat udara tersebut sebanyak 1gmol.
Untuk gas: perbandingan mol = perbandingan volum

Komponen mol BM berat (gram)


N2 0,7803 28 0,7803 x 28 = 21,8608
O2 0,2093 32 0,2093 x 32 = 6,7168

Azas Teknik Kimia Page 29


Ar 0,0094 39,95 0,0094 x 39,95 = 0,3755
CO2 0,0003 44 0,0003 x 44 = 0,132
H2 0,0001 2 0,0001 x 2 = 0,0002
Jumlah: 1,000 28,9665 29
Disini diperoleh bahwa 1 gmol udara kering mempunyai berat 28,9965 gram, maka berat

29gram gram
molekul rata-rata udara kering = 1gmol = 29 gmol .

2. Gas alam dengan komposisi (dalam%volum): CH4=83,5%; C2H6 = 12,5%; dan N2 = 4%.
Hitung: a. komposisi dalam %mol
b. komposisi dalam %berat
c. berat molekul rata-rata
d. rapat dalam keadaan standar dalam lb/cuft!
Jawab: a. untuk gas: perbandingan volum = perbandingan mol, maka % yang diketahui juga
= %mol.
b. %berat. Ambil gas sebesar 1lbmol
Komp. Lbmol BM berat (lb) %berat
CH4 0,835 16,03 0,835x16,03 = 13,385 (13,385/18,262)x100%= 73,29%
C2H6 0,125 30,05 0,125 x 30,05 =3,756 (3,756/18,262)x100% = 20,57%
N2 0,04 28,02 0,04 x 28,02 = 1,121 (1,121/18,262)x100% = 6,14%
1,00 18,262 100%
c. Berat molekul rata-rata diperoleh dari berat campuran gas dibagi dengan jumlah
mol campuran gas.
18,262 lb lb
BM rata-rata = 1 lbmol = 18,262
lbmol
d. Rapat/densitas:
volum standar gas pada 1 lbmol = 359 cuft (hitung dari persamaan gas ideal),
sedangkan dari b. berat 1 lbmol gas = 18,262 lb.
berat lb
Maka densitas gas pada keadaan standar = = 18,262/359 = 0,05087 .
volum cuft

Temperatur atau suhu


Suhu dinyatakan dengan satuan dalam skala/derajat. Skala yang banyak digunakan
adalah Centigrade dan Fahrenheit untuk skala biasa, sedangkan Kelvin

Azas Teknik Kimia Page 30


dan Rankine digunakan untuk skala absolut. Masing-masing diberi notasi oC, oF,
K, dan oR (pada suhu absolut Kelvin, tanpa diberi derajat, cukup ditulis: K). Di bawah ini
tabel yang menunjukkan hubungan ke empat skala suhu tersebut (lihat kembali FISIKA
DASAR).
Skala suhu dapat dilihat dalam daftar II-3. Angka-angka dalam itu tidak tepat benar,
sebab pengukuran secara teliti menunjukkan suhu nol absolut = 273,18 oC di bawah suhu
es mencair. Jadi, pada skala Kelvin suhu mencair
Daftar I-3. Skala suhu
Skala Suhu
Centigrade Fahrenheit Kelvin Rankine
Materi
Air mendidih 100 oC 212 oF 373 K 672 oR
Air membeku/ es mencair 0 oC 32 oF 273 K 492 oR
Nol Absolut 273 oC -460 oF 0K 0 oR

seharusnya = 273,18 K dan suhu air mendidih = 373,18 K. Pada perhitungan-perhitungan


teknis, angka-angka di belakang koma dihilangkan.
Dari tabel di atas dapat menunjukkan:
o
F suhu absolutnya adalah oR, sedangkan suhu absolut oC adalah K. Perbedaan suhu
() nya: oF = oR dan oC = K, maka :
1o R
ToR = [460 + ToF( )] (I-15).
1o F
dan
1K
T K = [273 + ToC( )] .(I-16).
1o C
Perbandingan perbedaan suhu () nya:
1o C
= 1,8 atau oC = 1,8 oF ............................................(I-17).
1 F
o

1K
Dan = 1,8 atau K = 1,8 oR .(I-18).
1o R

Hubungan oC dengan oF adalah:


1o F
ToF 32 = ToC ( ) ..............................................(I-9).
1o C

Azas Teknik Kimia Page 31


Karena 1 K = 1,8 oR, maka skala Fahrenheit absolut untuk es mencair = 273,18 K x
1,8(oR/K) = 491,72 oR yang dibulatkan menjadi 492. Dan karena suhu es mencair pada skala
Fahrenheit terletak pada angka 32o, maka suhu absolut yang sesuai dengan 0oF = 492 32 =
460 oR.
Contoh:
Konduktivitas panas suatu bahan pada suhu tertentu adalah 117 Btu/(j)(ft 2)(oF/ft).
Berapa nilai itu bila dinyatakan dalam Btu/(j)(ft2)(K/ft)!.
Jawab:
117 Btu/(j)(ft2)(oF/ft) = 117 BTU.ft/(j)(ft2)(oF)
Btu.ft 1,8o F 1o C
= 117 ( )( )
( j)(ft 2 )( o F) 1o C 1K
= 211 Btu/(j)(ft2)(K/ft)

Tekanan
Tekanan disedinifikan sebagai gaya per satuan luas. Variabel ini ada 4 macam, yaitu:
1. Tekanan atmosferik, yaitu tekanan per satuan luas yang disebabkan oleh udara yang
menyelimuti bumi. Tekanan ini diukur dengan barometer sehingga disebut barometrik atau
bar. Tekanan ini disebut juga tekanan standar yang besarnya adalah 1 atmosfer = 760 mmHg
pada suhu 0oC, standar gravitasi bumi.
2. Tekanan gauge, yaitu tekanan di atas atmosferik.
3. Tekanan vakum, yaitu tekanan di bawah atmosferik.
4. Tekanan absolut, yaitu tekanan total.
Tekanan absolut = tekanan gauge + tekanan barometrik ..............(I-20).
Mengukur tekanan dapat dilakukan dengan liquid colum gauges, yaitu mengukur
tinggi kolom cairan yang beratnya sama dengan daya yang bekerja untuk menghasilkan
tekanan.
F
F = h.A. atau = P = h. ..........................................................(I-21).
A
Dengan, F = daya,
h = tingi cairan dalam kolom,
A = luas penampang lintang kolom,
= rapat cairan,
P = tekanan atau daya per satuan luas.

Azas Teknik Kimia Page 32


Tekanan absolut & gauge diukur dengan alat yang tergantung pada cara
pengukurannya. Tekanan gauge diukur dengan pengukur yang padanya berhubungan dengan
udara luar (gambar 1), sedangkan bila tidak (tertutup keadaan vakum) maka tekanan yang ada
dinyatakan sebagai tekanan absolut (gambar 2).
Contoh.
1. Berapa tinggi kolom air pada 60oF yang menunjukkan tekanan 10 psi (pound per
square inch)?.
Jawab: Untuk memudahkan anggap luas penampang kolom A = 1 in 2. Rapat air pada 60oF =
62,37 lb/cuft.
vakum
Terbuka _ tertutup


Gas Gas


Gambar I-1. Tekanan gauge Gambar I-2. Tekanan absolut

1 cuft = 1728 cu in
lb 62,37lb
P = h. 10 2 = h. 3
in 1728in
h = 277,0563 in = 23,09 ft.

2. Udara yang mengalir dalam pipa diukur dengan pipa U berada dibawah atmosferik
4 cmH2O (vakum). Tekanan barometrik (atmosferik) menunjukkan 730 mmHg. Berapa
tekanan absolut udara dinyatakan dalam inHg?.
Jawab: Tekanan atmosferik = 730 mmHg = 730 mmHg x 29,92 inHg/760 mmHg
= 28,7 inHg.
1in 1 ft 29,92 inHg
4 cmH2O = 4 x 2,54 cm x 12 in x = 0,12 inHg
33,91 ftH 2 O

Tekanan absolut untuk vakum 4 cmH2O adalah:


28,7 0,12 = 28,6 inHg
Basis perhitungan
Dalam melakukan perhitungan, cara untuk mempermudah pelaksanakannya yaitu
dengan mengambil basis sebagai dasar untuk memulai perhitungan. Basis ini disesuaikan

Azas Teknik Kimia Page 33


dengan kondisi perhitungan yang akan dilakukan. Basis tidak harus dengan angka. Misal:
Basis per jam operasi. Perhatikan contoh-contoh soal di atas. Disitu disebutkan: ambil
alkohol sebanyak 100 g atau ambil gas sebesar 1 lbmol. Angka-angka yang diambil tersebut
merupakan basis perhitungan.
Jadi, seperti dalam contoh-contoh soal di atas yang selalu menggunakan kata Ambil
sebanyak.. Sejumlah bahan yang diambil sebagai pokok perhitungan itulah yang
disebut dengan basis perhitungan.
Contoh: Pada soal di atas, yaitu:
Komposisi minyak bakar dalam %berat: C = 83,6% dan H = 16,4%. Bagaimana
komposisi dalam %mol?.
Jawab:
Dalam soal itu tidak disebutkan jumlah bahan yang akan dihitung. Oleh karena itu, untuk
memulai perhitungan diambil,
Basis: 100 g minyak bakar.
Dan seterusnya, perhitungan dilakukan seperti contoh di atas.
Dalam hal ini, basis dapat diambil sembarang nilai atau kualitas sesuai dengan
persoalan yang dihadapi. Hal itu, dikarenakan sejumlah bahan yang akan diperhitungkan
tidak diketahui. Bila dalam persoalan sudah diketahui atau menjadi hal yang ditanyakan,
misal per sekian banyak bahan (bahan baku atau produk), maka itulah yang dipakai sebagai
basis.
Contoh:
a. Dalam 100 kg bahan baku kertas., maka sebagai basis adalah 100 kg bahan itu.
b. Sebuah bahan direaksikan membentuk hasil. Berapa hasil yang diperoleh setiap kg bahan
masuk?. Dalam hal ini, sebagai basis: 1 kg bahan masuk.
Apakah boleh mengambil basis: 100 kg bahan masuk???

SOAL-SOAL
1. Pada tahun 1916 ilmuwan Nusselt menjelaskan teori hubungan koefisien perpindahan
panas antara uap jenuh dengan permukaan pendingin yang dinyatakan dalam persamaan:
h = 0,943 [(k3 2 g )/(LT)]1/4
Dengan: h = koefisien perpindahan panas, BTU/(j ft2 oF)
k = konduktivitas panas, BTU/(j ft oF)
= rapat, lb/cuft,
g = gaya gravitasi bumi, 4,17.108 ft/j2,

Azas Teknik Kimia Page 34


= perubahan enthalpi, BTU/lb,
L = panjang pipa, ft,
= kekentalan, lb/(j ft),
T= perbedaan temperatur, oF.
Jelaskan apa satuan konstanta 0,943?.
2. Suatu campuran gas dengan komposisi: 40%mol argon, 18,75%massa B dan 20%mol C.
Berat molekul argon 40 dan berat molekul C adalah 50. Hitung:
a. Berat molekul B dan b.Berat molekul campuran !
3. Benarkah pernyataan berikut ini? Jelaskan!
a. densitas dan spesifik gravity merkuri adalah sama.
b. spesifik volum adalah kebalikan dari densitas.
c. bagian per juta merupakan notasi dari rasio mol.
d. konsentrasi tiap komponen yang dinyatakan dengan prosentase dalam campuran
tidak tergantung pada jumlah komponen dalam campuran tersebut.
4. Larutan garam mengandung 25% berat NaCl dan air mempunyai spesifik gravity 1,2.
Nyatakan komposisi itu dalam: a. kg NaCl per kg H2O b. lb garam per kaki kubik larutan.
5. Suatu campuran gas dengan komposisi: 40%mol argon, 18,75%massa B dan 20%mol C.
Berat molekul argon 40 dan berat molekul C adalah 50. Hitung:
a). Berat molekul B dan b). Rata-rata berat molekul campuran!.
6. Mana yang benar dari penulisan berikut:
a. oC b. oK c. oF d. oR
7. a). Apakah perbedaan temperatur yang dinyatakan dengan oC mempunyai nilai yang sama
bila dinyatakan dalam K?.
b). Apakah perbedaan temperatur yang dinyatakan dengan oC mempunyai nilai yang sama
bila dinyatakan dalam oR?.
8. Manometer pada sebuah tangki menunjukkan besarnya tekanan pada angka 3 atm absolut,
berapa tekanan itu bila dinyatakan:
a). psi b). inHg c). kg/cm2 d). cmHg e). mmH2O f). kPa g). bar

PUSTAKA
Chopey, N.P. dan Hicks, T.G., 1984, Handbook of Chemical Enginineering Calculations,
McGraw-Hill Book Company, New York.
Himmelblau, D.M., 1996, Basic Principles and Calculations in Chemical

Azas Teknik Kimia Page 35


Engineering, 6th edition, Prentice-Hall International, Inc.
Maron, S.H. dan Lando, J.B., 1974, Fundamental of Physical Chemistry, Macmillan
Publishing Co. Inc., New York
Perry, R.H. and Chilton, C.H., 1973, Chemical Engineers Handbook 5th ed, Mc Graw-Hill
Kogakusha, Ltd., Tokyo.

BAB II

Azas Teknik Kimia Page 36


ANALISIS DIMENSI

Dalam mempelajari bagian ini, diharapkan dapat:


1. Menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan analisis dimensi
2. Mengenal dan membedakan antara kualitas-kualitas dengan kuantitas-kuantitas
3. Menjelaskan tentang dimensi dasar
4. Mengenal kelompok-kelompok bilangan tidak berdimensi serta arti & maknanya
5. Mencari persamaan dengan cara analisis dimensi
6. Mengetrapkan konsep analisis dimensi.

SUB POKOK BAHASAN: Analisis dimensi, dimensi dasar, mencari persamaan


dengan analisis dimensi

PENDAHULUAN
Di atas telah dipelajari satuan dan dimensi dan telah pula disinggung tentang pengolahan
satuan, seperti dicontohkan pada rapat dan konstanta gas umum, R. Dengan faktor
konversi dapat dibuat bermacam-macam nilai R memakai bantuan persamaan gas ideal
PV = nRT. Dalam analisis dimensi, P, V, n, R, T dst itu disebut dengan kualitas-kualitas.
Kalau kualitas/besaran itu diberi harga, maka disebut dengan kuantitas-kuantitas.
Seterusnya dalam analisis dimensi, besaran-besaran yang berpengaruh dipikirkan
mempunyai harga dan itu merupakan kuantitas-kuantitas. Analisis dimensi pada
prinsipnya adalah kualitatif, karena yang diolah adalah satuan-satuannya..

Analisis Dimensi
Analisis dimensi dan similaritas teknik merupakan bagian penting dalam ilmu teknik.
Penggunaannya cukup luas dari persoalan yang sederhana sampai yang kompleks.
Terlebih dalam persoalan-persoalan yang menyangkut banyak peubah, analisis dimensi
dan similaritas teknik selalu berperan. Ada kalanya secara kualitatif suatu persamaan
tidak dapat diselesaikan, maka analisis dimensi berperan untuk mendapatkannya.
Demikian pula dalam rancangan penelitian, analisis dimensi punya peran yang besar,
baik dalam perencanaan/pengumpulan maupun dalam pengolahan data. Oleh karena itu
penggunaan analisis dimensi adalah untuk:

1. Mendapatkan persamaan

Azas Teknik Kimia Page 37


2. Mengatur pengumpulan data secara sistematis dalam penelitian dan mengurangkan
jumlah peubah yang harus dijalankan.
3. Perancangan model, operasi, dan interpretasinya

Dimensi dasar/fundamental
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa dalam satuan ada beberapa dimensi, yaitu
dimensi massa, panjang, waktu, gaya, energi/panas, dan suhu. Dimensi-dimensi itu dalam
analisis dimensi terbagi dalam kumpulan dimensi dasar sebagai sistem dimensi, yaitu:
1. Sistem MLt dengan dasar dimensi
Massa :M
Panjang :L
Waktu :t
2. Sistem FLt, dengan dasar dimensi:
Gaya :F
Panjang :L
Waktu :t
3. Sistem FMLt merupakan gabungan dua sistem dimensi sebelumnya.
Sistem MLt banyak digunakan oleh ahli-ahli fisika. Berpedoman pada massa benda
adalah tetap. Dengan hukum Newton, gaya dapat dinyatakan dengan massa, jadi massa
adalah pokok.
Sistem FLt banyak dipakai oleh pakar sipil. Di bidang ini, gaya menjadi pokok dalam
perhitungannya daripada massa. Massa dapat diartikan sebagai pengertian yang dapat
dijabarkan dari gaya dengan hukum Newton.
Sistem FMLt banyak digunakan di kimia industridan teknik mesin. Gaya maupun
massa banyak dijumpai dalam peristiwa/proses baik terpisah maupun bersama-sama,
sehingga dipandang baik jika digunakannya dengan sistem FMLt. Sistem ini sering disebut
dengan sistem dimensi engineering.
Dalam sistem FMLt terdapat sebuah kuantitas yang tidak terdapat dalam sistem MLt
dan FLt, yaitu gc yang disebut tetapan dimensi Newton (lihat; satuan gc di atas).

M(L 2 )
Dalam sistem FMLt, dimensi gc = t atau ML2 . Nilai gc sama dengan bilangaan
Ft
F
g
percepatan gravitasi di Greenwich, sehingga praktis nilai 1.
gc

Azas Teknik Kimia Page 38


Selain dimensi dasar M, L, t, dan F, terdapat tambahan dimensi fundamental suhu, T,
sehingga sistem dimensi fundamentalnya menjadi MLtT, FLtT, dan FMLtT. Di dalam sistem
thermal, dimensi energi atau panas dinyatakan dengan FL dalam sistem FLtT atau FMLtT,
tetapi bila panas banyak dijumpai bersama-sama dengan kuantitas-kuantitas lain seperti pada
proses perpindahan panas, maka pada proses perpindahan panas ini dipakai sistem 6 dimensi
yaitu FMLtTH. Dimensi pada beberapa besaran dapat dilihat pada daftar berikut.

Daftar II-1. Dimensi beberapa kuantitas


Kuantitas MLtT FLtT FMLtT FMLtTH
-1 2
Massa M FL t M M
Panjang L L L L
Waktu t t t t
Gaya MLt-2 F F F
Suhu T T T T
Panas ML2t-2 FL FL H
2 -2
Kerja ML t FL FL FL
Tekanan ML-1t-2 FL-2 FL-2 FL-2
-3 -4 2
Rapat/densitas ML FL t ML-3 ML-3
Tegangan muka Mt-2 FL-1 FL-1 FL-1
2 -1 2 -1
Diffusivitas Lt Lt L2t-1 L2t-1
Koefisien transfer Mt-3T-1 FL-1t-1T-1 FL-1t-1T-1 L-2t-1T-1H

Mencari persamaan dengan analisis dimensi


Beberapa persamaan tidak dapat dipecahkan secara kuantitatif. Persamaan itu
biasanya menyangkut peristiwa/proses dengan banyak peubah. Penyelesaian pendekatan
dengan mencoba menentukan peubah-peubah yang berpengaruh. Kemudian kumpulan
peubah itu dikalikan dengan suatu konstanta dan diberi pangkat dengan konstanta yang lain
pula. Konstanta dan pangkat ini dicari secara eksperimen. Cara ini yang dikenal dengan
analisis dimensi.
Langkah-langkah penyelesaian persamaan dengan analisis dimensi:
1. perkirakan peubah-peubah bebas yang berpengaruh terhadap peubah tidak
bebasnya.
2. susun hubungan antar peubah bebas dengan peubah tidak bebasnya dengan
memberikan konstanta dan pangkat kepada peubah bebasnya.
3. pilih salah satu sistem dimensi dasarnya
4. nyatakan peubah bebas dan tidak bebasnya ke dalam dimensi dasar itu
5. buat persamaan pangkat dimensi dasar dari peubah tidak bebas dan peubah bebas
yang sesuai.

Azas Teknik Kimia Page 39


6. selesaikan persamaan yang telah dibuat pada langkah 5.
7. tulis kembali hubungan antar peubah tak bebas dengan peubah bebasnya (langkah
2) dengan pangkat-pangkat yang sudah diselesaikan pada langkah 6.
Dalam penyelesaian persamaan dengan analisis dimensi akan diperoleh persamaan
dengan kelompok-kelompok bilangan tak berdimensi, seperti bilangan Reynolds.
Metode penyelesaian untuk mencari persamaan dengan analisis dimensi ada 2, yaitu
metode yang dikemukakan oleh Rayleigh dan oleh Buckingham. Masing-masing cara
mempunyai penyelesaian yang berbeda satu sama lain. Namun, langkah-langkah yang dilalui
tetap sama seperti di atas (1 sampai 7 langkah). Perbedaaannya terletak pada cara menyusun
hubungan antar peubah (langkah 2) dan penyelesaian persamaan pada langkah 6. Untuk lebih
mendalaminya, diberikan uraian dibawah ini.
Daftar II-2. Beberapa Kelompok Bilangan Tidak Berdimensi
NAMA BILANGAN SIMBOL PENGGUNAAN
E Aliran bertekanan
NAr =
Arrhenius RT
V 2
Cauchy Nc =
gcEb
hrm
NBi =
Biot k
( ' ) Lg
Cd =
Drag Coefisient V 2
2
NE =
Eckert N rf
p
Euler ( f ) / V2
NEu = gc
V2
NFr =
Froude gL
k
NFe = 2
c p rm
Fourier L3 2 g t
NGr =
2
Grashof
g c D 3 (dp / dL)
NK =
2
Karman
NKn =
L
Knudsen V
NMa =
Ve
Mach
Pg c
NP =
L5 n 3

Azas Teknik Kimia Page 40


Power Number
NPr =
( w g c / ) 1 / 2
L
Prandtl NRe =
1/ 2
Reynolds ra b 3 / 2
NTe =

V 2 L
Taylor NWe =
gc

Weber

Metode Rayleigh
Tanpa bukti hendaknya diterima, bahwa peubah tidak bebas dapat dinyatakan dengan
peubah bebas dalam hubungannya, yaitu:
Langkah 1: 1 = f(2, 3, 4, . n)
dengan, 1= peubah tidak bebas
2, 3, 4,. n = peubah bebas yang berpengaruh.
Langkah 2: 1 = K 2c1 . 3c2. 4c3 . ncn
Langkah 3: pilih dimensi dasarnya, dan seterusnya. Untuk lebih memperjelas
penyelesaiannya diberikan contoh-contoh berikut ini.
Contoh 1. carilah rumus jarak benda jatuh bebas dalam vakum!
Jawab: bayangkan keadaan benda dalam vakum. Dalam fisika telah dipelajari, bagaimana
sebuah benda yang jatuh bebas dalam ruang vakum. Peubah/variable apa saja yang
mempengaruhinya?. Gambarkan proses dan kemungkinan peubah yang berpengaruh:
Pada pelajaran Fisika, apakah massa berpengaruh
dalam ruang vakum?.

ruang
vakum S =Jarak yang harus ditempuh
Untuk menempuh suatu jarak perlu waktu, t

Gambar II-1. Benda jatuh bebas dalam ruang hampa


Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa jarak yang ditempuh benda jatuh bebas
dalam ruang vakum dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi, g, dan waktu,t. Dengan demikian:

Azas Teknik Kimia Page 41


Langkah 1: S = f(g,t)
Langkah 2: S = K gc1 tc2
Langkah 3: pilih dimensi dasar, misal MLt
Langkah 4: dimensi S = dimensi panjang = L
panjang
Dimensi g = = Lt-2
waktu 2
Dimensi t = waktu = t
Sehingga: L = (Lt-2)c1 (t)c2
Atau ditulis: M0L1t0 = (Lt-2)c1 (t)c2
Hal itu untuk memudahkan pada:
Langkah 5: untuk dimensi L : 1 = c1 (1)
Untuk dimensi M : 0 = 0
Untuk dimensi t : 0 = -2c1 + c2(2)
Langhak 6: Pada langkah 5 terlihat bahwa ada 2 persamaan dengan 2 bilangan yang tidak
diketahui (bilangan anu), maka dapat diperoleh:
c1 = 1 dan c2 = 2
langkah 7: Kembali pada langkah 2: S = K gc1 tc2 dan masukkan nilai c1 dan c2 yang telah
diperoleh, sehingga persamaan berbentuk:
S = K g t2
Seperti telah disebutkan di atas bahwa untuk memperoleh nilai konstanta harus dilakukan
eksperimen. Penelitian ini telah dilakukan dan diperoleh nilai K = . Oleh karena itu, dalam
fisika dikenal rumus ini sebagai:
S = g t2
Pada soal di atas dapat diselesaikan dengan sempurna, karena analisis yang dilakukan
terhadap prosesnya benar. Bagaimana kalau seandainya dalam analisis itu menyatakan bahwa
jarak benda jatuh bebas dipengaruhi oleh massa benda, M, gaya gravitasi, g, dan waktu, t?
Coba kita kerjakan langkah demi langkah.
Langkah 1: S = f(m, g,t)
Langkah 2: S = K gc1 tc2
Langkah 3: pilih dimensi dasar, tetap MLt
Langkah 4: dimensi S = dimensi panjang = L
Dimensi m = massa = M
panjang
Dimensi g = = Lt-2
waktu 2

Azas Teknik Kimia Page 42


Dimensi t = waktu = t
Sehingga: L = (M)c1 (Lt-2)c2 (t)c3
Atau ditulis: M0L1t0 = (M)c1 (Lt-2)c2 (t)c3
Hal itu untuk memudahkan pada:
Langkah 5: untuk masing-masing dimensi
L : 1 = c2 (1)
M: 0 = c1 (2)
t : 0 = -2c2 + c3(3)
Langhak 6: Pada langkah 5 terlihat bahwa ada 3 persamaan dengan 3 bilangan anu, maka
dapat diperoleh:
c1 = 0, dan c2 = 1, dan c3 = 2
langkah 7: Kembali ke langkah 2: S = K Mc1 gc2 tc3 dan masukkan nilai c1, c2 dan c3 yang
telah diperoleh, sehingga persamaan berbentuk:
S = K M0 g t 2
Atau S = K g t2
Dalam hal ini, kelebihan peubah yang berpengaruh tidak menjadikan masalah, karena hasil
yang diperoleh tetap benar.
Bagaimana kalau pemilihan peubahnya kurang atau salah?.
Bila peubahnya kurang:
Langkah 1: S = f(g)
Langkah 2: S = K gc1
Langkah 3: pilih dimensi dasar, tetap MLt
Langkah 4: dimensi S = dimensi panjang = L
panjang
Dimensi g = = Lt-2
waktu 2
Sehingga: L = (Lt-2)c1
Atau ditulis: M0L1t0 = (Lt-2)c1
Langkah 5: untuk masing-masing dimensi
L : 1 = c1 (1)
M: 0 = 0 (2)
t : 0 = -2c1 (3)
Dari persamaan (1) c1 = 1, tetapi pada persamaan (3) c1 =0. Disini tidak diperoleh persamaan
yang sempurna atau dikatakan adanya ketidakbolehjadian, yaitu 1 = 0 = c1.
Bila peubah yang dipilih salah:

Azas Teknik Kimia Page 43


Misal pikiran kita mengatakan bahwa yang perpengaruh pada peristiwa itu adalah
diameter benda, d, rapat massa, , dan waktu, t.
Langkah 1: S = f(d, , t)
Langkah 2: S = K dc1 c2 tc3
Langkah 3: pilih dimensi dasar, tetap MLt
Langkah 4: dimensi S = dimensi panjang = L
Dimensi d = panjang = L
massa
Dimensi = panjang 3 = ML-3

Dimensi t = waktu = t
Sehingga: L = (L)c1 (ML-3)c2 (t)c3
Atau ditulis: M0L1t0 = (M)c1 (ML-3)c2 (t)c3
Langkah 5: untuk masing-masing dimensi
L : 1 = c1 3c2 (1)
M: 0 = c2 .(2)
t : 0 = c3.(3)
Langhak 6: Pada langkah 5 terlihat bahwa ada 3 persamaan dengan 3 bilangan anu, maka
dapat diperoleh:
c1 = 1, dan c2 = 0, dan c3 = 0
langkah 7: Kembali ke langkah 2: S = K Mc1 gc2 tc3 dan masukkan nilai c1, c2 dan c3 yang
telah diperoleh, sehingga persamaan berbentuk:
S=Kd
Dalam hal ini, kesalahan pengambilan peubah yang salah diperoleh persamaan yang salah.
Bagaimana kalau tahu bahwa persamaan itu salah. Coba lakukan penelitian, apakah jarak
benda dapat terus dinyatakan dengan diameter benda yang selalu tetap, sedangkan jarak
benda selalu berubah!!.
Contoh lain:
Carilah persamaan penurunan tekanan aliran fluida sepanjang pipa licin, L, dengan
diameter, d, rapat massa fluida, , kecepatan, v, dan kekntalan fluida, .!
Jawab:
Pada soal sudah diketahui peubah-peubah yang mempengaruhi atau yang mengakibatkan
penurunan tekanan fluida dalam pipa lurus sepanjang L. Untuk itu dapat ditulis:
Langkah 1: P = f(L, d, v, , ) (1)

Azas Teknik Kimia Page 44


cara Rayleigh memberikan persamaan:
Langkah 2: P = K Lc1 dc2 vc3 c4 c5 ..(2)
Langkah 3: pilih dimensi dasar: MLt
Langkah 4: nyatakan ke dalam dimensi dasarnya :
P = penurunan tekanan = dimensi tekanan = ML-1t-2
L = panjang pipa =L
D = diameter pipa = L
V = kecepatan = Lt-1
= rapat massa = ML-3
= kekentalan cairan = ML-1t-1
sehingga :
ML-1t-2 = (L)c1 (L)c2 (Lt-1)c3 (ML-3)c4 (ML-1t-1)c5 (3)
Langkah 5: buat persamaan pangkat dimensinya antara bagian kiri dan kanan tanda
samadengan. Jumlah persamaan sesuai dengan jumlah dimensi dasarnya, yaitu
Dimensi M: 1 = c4 + c5 .(4)
L : -1 = c1 + c2 + c3 3c4 c5 (5)
t : -2 = -c3 c5 (6)
Dalam hal ini, hanya ada 3 persamaan (dimensi dasarnya 3) dengan 5 bilangan anu,
yaitu c1 sampai c5, sehingga tidak dapat diselesaikan dengan sempurna. Jika dilakukan
perhitungan maka ada dua (5 bilangan anu-3 persamaan) bilangan anu yang tak terselesaikan
atau tetap ada dalam persamaan. Oleh karena itu, penyelesaiannya dilakukan dengan cara:
Lanhkah 6 : Nyatakan tiga (persamaan) bilangan anu dengan bilangan anu lainnya.
Misalnya, c1, c3, c4 dinyatakan denga c4 dan c5.
Dari persamaan (4): c4 = 1- c5 ..(7)
Dari persamaan (6): c3 = 2-c5 ..(8)
Dari persamaan (5): c1 = -1 - c2 - c3 + 3c4 +c5
c1 = -1 c2 (2-c5) + 3(1-c5) + c5
c1 = -1 c2 2 + c5 + 3 3c5 + c5
c1 = -c2 c5 (9)
Langkah 7: Ganti pangkat yang ada dengan 3 persamaan itu (persamaan 7, 8, dan 9):
P = K L(-c2-c5) dc2 v(2-c5) (1-c5) c5
Kumpulkan pangkat yang sama:
d c2
P = K v2 ( ) ( Lv )c5
L

Azas Teknik Kimia Page 45


d
Dalam hal ini, ( ) dan ( Lv ) tidak berdimensi atau yang disebut dengan kelompok
L
bilangan tidak berdimensi. Pada persamaan itu berarti dimensi P = v, yaitu
ML-1t-2 = (Lt-1)2 (ML-3) ML-1t-2 = ML-1t-2 (cocok).
Jika dikehendaki semua dalam kelompok bilangan tidak berdimensi, maka persamaannya
berbentuk:
P d c2
( v2 ) = K ( ) ( Lv )c5
L
jumlah kelompok tidak berdimensinya terhitung ada 3 buah. Hal itu berasal dari banyaknya
peubah yang ada dalam proses/peristiwa dikurangi dengan jumlah dimensi dasar yang
digunakan. Pada peristiwa penurunan tekanan dalam pipa lurus terdapat kuantitas sebanyak 6,
yaitu P, L, d, v, , dan , sedangkan dimensi dasar yang digunakan ada 3, taitu dalam
sistem MLt. Kelompok bilangan tidak berdimensi disebut juga suku J adi, dapat dikatakan
bahwa:
jumlah suku = jumlah kuantitas jumlah persamaan .(I).
Pada langkah-langkah atau urutan penyelesaian soal di atas yang paling sulit adalah
langkah pertama, yaitu menentukan peubah-peubah yang berpengaruh dalam suatu
proses/peristiwa. Dalam hal ini, diperlukan logika berpikir yang baik dengan dasar hukum
atau ketetapan yang berlaku dalam teori maupun praktek serta pengalaman. Oleh karena itu,
latihan sangat membantu kelancaran penyelesaiannya.

Metoda Buckingham
Persamaan (I) merupakan teori yang dikemukakan oleh Buckingham yang dikenal
dengan Theorema Buckingham, yaitu:
Jumlah kelompok tidak berdimensi yang bebas dalam suatu peristiwa sama dengan jumlah
kuantitas yang ada dalam peristiwa itu dikurangi dengan jumlah dimensi dasarnya (= jumlah
persamaan) yang terdapat dalam kuntitas-kuantitas tersebut. Kata bebas mempunyai arti
bahwa dalam kelompok bilangan tidak berdimensi dalam peristiwa itu ada sejumlah kuantitas
yang selalu terulang dan ada satu kuantitas yang baru dalam kelompok yang lain. Kuantitas
yang terulang ialah kuantitas-kuantitas yang pangkatnya dinyatakan dengan pangkat
kuantitas yang lainnya dan dalam kelompok yang lain ada kuantitas baru di dalamnya. Lebih
jelasnya lihat contoh berikut.
Contoh:
Ambil contoh penurunan tekanan di atas.

Azas Teknik Kimia Page 46


Cara Buckingham memberikan persamaaan:
Semua kuantitas diberi pangkat dan dikalikan dengan konstanta sama dengan 1:
K Pc1Lc2 dc3 vc4 c5 c6 = 1
Dengan sistem dimensi fundamental: MLt , maka
(ML-1t-2)c1 (L)c2 (L)c3 (Lt-1)c4 (ML-3)c5 (ML-1t-1)c6 = 0
Persamaan untuk:
M: c1 + c5 + c6 = 0
L: -c1 + c2 + c3 + c4 3c5 c6 = 0
t: -2c1 c4 c6 = 0
Disini, ada 6 bilangan anu dengan 3 persamaan, berarti:
Jumlah suku = 6 3 = 3 suku
Dalam penyelesaian persamaan itu ada 3 bilangan anu untuk menyatakan 3 yang lain. Cara
penyelesaian selanjutnya adalah: tiga bilangan anu dapat diberi nilai sekehendak dan
persamaan tetap benar bilamana persamaan yang dihasilkan tidak tergantung dari persamaan
masing-masing. Hal itu akan benar jika determinan koefisien bilangan bilangan anu tersisa
tidak sama dengan nol.
Misal dicoba: c3, c4, c5 (yang selalu ada)

0 0 1
1 1 3 = -1 tidak sama dengan nol, dapat digunakan

0 1 0
kemudian, sisanya diberi nilai sekehendak dan yang paling mudah diberi nilai nol dan satu
sebagai berikut:
c1 = 1
c2 = 0 didisikan ke dalam persamaan
c6 = 0
M: 1 + c5 + 0 = 0 c5 = - 1
L: -1 + 0 + c3 + c4 3.-1 0 = 0 c3 = -c4 2
t: -2. 1 c4 0 = 0 c4 = -2
maka c3 = 0

Azas Teknik Kimia Page 47


jadi suku 1 = kuantitas dengan pangkat c1 = 1, c2= 0, c3 = 0, c4 = -2, c5 =-1, dan c6 = 0,
yaitu
P
1 = v 2

seterusnya:
c1 = 0
c2 = 1
c6 = 0
diperoleh: c5 = 0, c3 = -1, c2 = 1,dan c4 = 0 maka
L
2 =
d
dan c1 = 0
c2 = 0
c6 = 1
diperoleh: c5 = -1, c4 = -1, dan c3 = -1

3 = dv

Dengan demikian dapat dituliskan persamaan kelompok bilangan tidak berdimensinya, yaitu:
1 = K (2)n1(3)n2
atau
P L n1 n2
= K ( ) ( )
v
2
d dv
Konstanta, K, dan pangkat-pangkat n1 dan n2 dicari dengan penelitian.
Hasil yang diperoleh dari kedua cara tersebut (Rayleigh dan Buckingham) sama. Kelompok

P
dv
dikenal dengan bilangan Reynolds, dan v2
adalah bilangan Euler.

LATIHAN
1. Carilah satuan dan dimensi konstanta pada soal berikut ini.
a). A = r2 (luas) b). I = bh3/12 (momen inertia) c). V = 0,98 2gh (kecepatan) d). Q =
3,33(L-0,2h)h3/2 (debit)
e). Q = 2,54 h5/2

2. Cairan yang mengalir dalam pipa, pada ujung pengeluarannya mengalami


penurunan tekanan. Dengan analisis dimensi menggunakan sistem dimensi dasar FLT,
buktikan bahwa penurunan tekanan itu merupakan fungsi dari beberapa kelompok
bilangan tak berdimensi:

Azas Teknik Kimia Page 48


p = f (/vd) (/d) (L/d) (v2/2)
dengan,
p = p1 p2 = perbedaan takanan, lb/in2
= kekentalan cairan, lb/(in)(detik)
= rapat cairan, lb/cuft,
v = kecepatan linear cairan, ft/detik,
d = diameter pipa, inchi,
= kekasaran pipa, ft,
L = panjang pipa,ft
3. Tunjukkan dengan analisis dimensi, bahwa power dari propeller kepada cairan yang
incompressible dalam sebuah tangki dapat dinyatakan dengan persamaan:
P/(N3D5) = f[{(D2N)/}{DN2/g}],
Dengan,
P = power, hp (atau lbf-ft)
= kekentalan cairan, lb/(in)(detik),
= rapat cairan, lb/cuft,
N = kecepatan putaran , radian/menit,
D = diameter tangki, ft,
g = gaya gravitasi bumi, ft/det2

4. Kecepatan suara tergantung pada tekanan dan rapat massa. Carilah bentuk persamaannya!!

5. Suatu partikel yang bergerak dalam putaran yang mempunyai radius r, dengan kecepatan
konstan v. Dengan analisis dimensi, buatlah persamaan untuk percepatannya!!

6. Buatlah persamaan untuk power sebuah kipas angin!!

7. Sebuah pendulum sederhana digerakkan hingga membuat suatu amplitudo. Carilah


hubungan periode gerakan itu dengan variabel yang berpengaruh terhadapnya!!

8. Kecepatan benda jatuh bebas dalam vakum dapat dinyatakan dalam bentuk: v = B voc1gc2tc3,
dengan vo = kecepatan awal, g = gaya gravitasi, t = waktu dan B adalah konstanta. Carilah
bentuk persamaan kecepatan itu!
9. Jarak benda jatuh bebas dalam ruang hampa ternyata dipengaruhi oleh massa, gravitasi,
dan waktu. Carilah bentuk persamaannya dengan dimensi dasar FLT!

PUSTAKA
Giles, R.V., 1956, Theory and Problem of Hydraulics and Fluid Mechanics, Schaum
Publishing Co, New York
Johnstone, R. E., and Thring, M. W., 1957, Pilot Plant, Models, and Scale-Up Methods in
Chemical Engineering, McGraw-Hill Book Company, Ner York.
Langhar, H.L., 1951, Dimensional Analysis and Theory of Models, John Wiley
& Sons, Inc., Tokyo

Azas Teknik Kimia Page 49


BAB III
SIMILARITAS

Dalam mempelajari bagian ini, diharapkan mampu:


1. Menjelaskan tentang apa yang dimaksud dengan similaritas
2. Mengenal dan membedakan model dan prototipe
3. Menjelaskan macam-macam similaritas
4. Mengenal dan mengerti kriteria similaritas
5. Mencari skala model atau prototipe dengan prinsip similaritas
6. Mengetrapkan konsep similaritas.

SUB POKOK BAHASAN: Model dan prototipe, macam-macam similaritas,


pelaksanaan similaritas, kriteria similaritas, skala model atau prototipe.

PENDAHULUAN
Similaritas dalam kimia industridapat diartikan sebagai pendekatan kelakuan suatu
peristiwa yang menyangkut proses, alat, ataupun suatu industri. Kelakuan adalah sifat-sifat
fisis dari sistem yang berupa bentuk, ukuran, dan komposisi.

Model dan prototipe


Orang yang hendak membuat suatu industri/pabrik harus melalui beberapa tahapan
pekerjaan. Dimulai dari skala laboratorium, kemudian skala kecil atau pilot plant yang
menggambarkan pabrik yang sesungguhnya dibuat terlebih dahulu sebelum pabrik yang
sebenarnya dibangun. Unit-unit kecil ini merupakan model yang mewakili unit skala besar
sebagai prototipenya. Namun, model tidak selalu lebih kecil dari prototipenya dan tidak pula
harus lebih dahulu ada. Bisa saja model lebih besar dan lebih dulu ada dari prototipenya.
Pada alat yang sudah ada dalam industri bisa digunakan sebagai model untuk mendapatkan
performance alat itu yang lebih baik.
Ada beberapa macam model yang digunakan dalam similaritas teknik, yaitu:
1. True models adalah model yang semua ukurannya mempunyai perbandingan yang
sesuai dengan prototipenya. Model similar secara geometrik dan harus memenuhi
semua batasan-batasan kondisi perancangannya.

Azas Teknik Kimia Page 50


2. Adequete models adalah models yang dapat meramalkan satu sifat prototipenya yang
akan dibuat, tetapi tidak perlu memberikan hasil ramalan yang baik untuk sifat-sifat
lainnya.
3. Distorted models adalah model yang mengalami perubahan bentuk dibandingkan
dengan prototipenya, sehingga memerlukan koreksi untuk persamaan peramalnya.
4. Dissimilar models adalah model yang tidak serupa dengan prototipenya. Misal, pegas
spiral yang dibebani. Kelakuannya dapat dinyatakan dengan persamaan differensial
(PD) dan PD ini bentuknya mirip dengan PD circuit listrik. Oleh karena itu, kelakuan
pegas tersebut dapat dievaluasi dengan circuit listrik yang sesuai.
Uraian di atas menunjukkan bahwa, antara model dan prototipenya ada suatu perbandingan,
dan perbandingan itu adalah perbandingan skala kelakuan dari model dan prototipee. Ada
sksala volum, skala waktu, skala kecepatan, skala percepatan, dll.

Macam similaritas
Pada dasarnya, similaritas itu ada bila ada perbandingan skala anatara model dan
prototype.
Ada beberapa macam similaritas dalam teknik, yaitu:
1. Similaritas geometrik. Dua benda dikatakan similar secara geometrik bila setiap titik
dalam benda yang satu terdapat titik-titik yang sama dengan benda yang lain. Hal yang lebih
mudah dikatakan bahwa dua benda itu sebangun dengan perbandingan yang tetap.

Model Prototipe
Gambar III-1. Similar secara geometric
Model dan prototype dikatakan similar secara geometric, bila perbandingan ukuran
panjang yang seletak dalam model dan prototipenya sama, yaitu

Azas Teknik Kimia Page 51


Xm Ym Zm Lm
= = = = Lr (III-1)
Xp Yp Zp Lp

dengan subskrip, m = model dan p = prototype.


Xm Ym Zm
Bila : = Xr, = Yr, = Zr.
Xp Yp Zp

Maka : Xr = Yr = Zr = Lr, jika Xr ,Yr , Zr tidak sama, similaritas dinamakan similaritas


terdistorsi.
2. Similaritas mekanik. Similaritas ini menyangkut similaritas-similaritas statik,
kinematik, dan dinamik. Masing-masing similaritas ini dapat dianggap sebagai perluasan dari
similaritas geometrik ke sistem yang tidak bergerak atau dipengaruhi oleh gaya.
3. Similaritas statik. Benda-benda yang similar secara geometrik akan similar secara
statik, bila berada di bawah pengaruh tegangan tetap. Deformasi relatifnya adalah sedemikian
rupa sehingga mereka similar secara geometrik. Selisih gaya-gaya yang bekerja pada titik-
titik yang bersesuaian dalam sistim similar secara statik. Untuk deformasi elastik:
Fr = Er Lr2 (III-2),
Dengan, Er = perbandinagn modulus elastisitas,
Lr = ratio skala linier.
Untuk deformasi plastis:
Fr = Yr Lr2 (III-3),
Dengan, Yr = ratio yield point
4. Similaritas kinematik. Sistem yang bergerak yang similar secara geometric adalah
similar secara kinematik, bila partikel-partikel yang sesuai mengikuti jejak yang similar
secara geometric dalam interval waktu yang sesuai. Ratio skala waktu lebih mudah dihitung
dalam hubungannya dengan kecepatan partikel-partikel.
Lr
Vr = (III-4).
tr

Secara diagram similaritas kinematik ditunjukkan sebagai berikut:

Model Prototipe
Gambar III-2. Similar secara kinematik

Azas Teknik Kimia Page 52


5. Similaritas dinamik. Sistem-sistem yang bergerak yang similar secara geometrik
adalah similar secara dinamik bila perbandingan gaya-gaya yang sesuai adalah sama. Bila
yang bekerja pada titik-titik tertentu berbeda, F1, F2, F3, Fn, maka
' ' '
F1 F F
= 2 = n = Fr = konstan ..(III-5).
F1 F2 Fn
Pada sistem fluida yang bergerak, similaritas kinematik akan selalu similar secara
dinamik, bila gerak-gerak itu merupakan fungsi dari gaya-gaya yang bekerja. Dalam mesin,
bagian-bagian mesin dapat bergerak melalui jejak-jejak yang tertentu, dimungkinkan adanya
similaritas kinematik tanpa perbandingan-perbandingan tertentu dari gaya-gaya yang bekerja.
Dalam sebuah mesin, sebagian gaya bekerja untuk percepatan, bagian lain menimbulkan
tegangan-tegengan statik yang membatasi & mengatasi gesekan dan menimbulkan panas.
Dalam system fluida, gaya-gaya yang bekerja adalah tekanan, inersia, gravitasi,
viskositas, dan interfacial. Ratio dari gaya-gaya tersebut dinyatakan dalam kelompok tak
berdimensi, yaitu bilangan Re, Fr, Eu, We, dan Mach (Cauchy).

6. Similaritas termal. Sistem-sistem yang similar secara geometrik adalah similar


secara termal bila, beda-beda suhu yang sesuai (tempat & waktu) mempunyai perbandingan
tetap. Bila sistem ini bergerak, mereka ini haruslah similar secara kinematik.
Dalam sistem yang similar secara termal, distribusi temperature dibentuk oleh
permukaan-permukaan isothermal pada titik yang sesuai adalah similar secara geometrik.
Bila rationya =1, temperature ditempat-tempat yang bersesuaian adalah sama atau berbeda
satu sama lain oleh jumlah derajat tertentu.
Similaritas termal menuntut adanya rate aliran panas mempunyai ratio yang tetap. Bila H r,
Hc, Hv, dan Hf masing-masing adalah jumlah panas yang dipindahkan tiap detik secara
radiasi, konduksi, konveksi, dan aliran bulk, maka:
' ' ' ' '
Hr Hc Hr Hv Hf
= = = = =H (tetap) (III-6).
Hr Hc Hr Hv Hf

7. Similaritas kimiawi. Sistem-sistem yang similar secara geometrik dan termal adalah
similar secara kimiawi, bila beda-beda konsentrasi yang sesuai mempunyai perbandingan
yang tetap dan apabila sistem-sistem itu bergerak, mereka haruslah similar secara kinematik.

Azas Teknik Kimia Page 53


PELAKSANAAN SIMILARITAS
Untuk melaksanakan similaritas ditentukan adanya model, meramalkan prototype
yang dirancang. Untuk dapat meramalkan sifat/kelakuan prototype suatu alat, dapat dipakai
alat lain sebagai model dengan ukuran yang lain, asal memenuhi persyaratan-persyaratan
similaritas. Kita mengenal persamaan umum dalam analisis dimensi:
0 = B 1c1 . 2c2 . 3c3 .. ncn (III-7).
Dalam peristiwa yang sama, untuk model diperoleh:
m = B 1mc1 . 2mc2 . 3mc3.. nmcn .(III-8).
Dan untuk prototipenya:
p = B 1pc1 . 2pc2 . 3pc3 .. npcn .(III-9).
Untuk menentukan faktor B, c1,c2,c3, dan seterusnya diperlukan percobaan-percobaan, tetapi
dalam melakukan similaritas, hanya persyaratan samanya suku pada model dan
prototipenya tanpa harus mengetahui berapa nilai B, c1, c2, c3 dan seterusnya itu.
Model dan prototipenya dikatakan similar lengkap, bila:
m = p .....................................................................................(III-10).
1m = 1p .....................................................................................(III-11).
2m = 2p .....................................................................................(III-12).
3m = 3p .....................................................................................(III-13).
nm = np .....................................................................................(III-14).
m = p dinamakan sebagai persamaan peramal dan 1m = 1p dan seterusnya dinamakan
persamaan-persamaan persyaratan perancangan dan operasi ( kondisi-kondisi perancangan).

Contoh soal.
1. sebatang kayu empat persegi panjang, dengan lebar 6 in dan tebal 2 in. Batang
tersebut diberi beban 4800 lb pada jarak 5 ft dari ganjalan kiri. Jarak antar ganjalan 12 ft.
tentukan kondisi-kondisi perancangan dan persaman peramal untuk lengkungan batang di
suatu titik, bila batang baja dengan panjang 8 in digunakan sebagai model.
Penyelesaian:
Sesuai alur dalam analisis dimensi, langkah pertama tentukan kuantitas-kuantitas dan
dimensinya. Visualisasikan dalam gambar.

Azas Teknik Kimia Page 54


P

a l
Kuantitas-kuantitas yang berpengaruh:
1. y = lengkungan, L
2. l = jarak antar ganjalan, L
3. b = lebar batang, L
4. d = tebal batang, L
5. a = jarak beban dari kiri, L
6. x = koordinat lengkungan, L
7. P = beban, F
8. E = modulus elastisitas, FL-2.
Dengan 8 kuantitas dan 2 dimensi fundamental, maka ada 6 suku :
y b d a x PE PE
( ) = ( , , , , 2 ); = bilangan Cauchy.
l l l l l l l2
Untuk model:
ym bm d m am x m Pm E m
( ) = ( , , , , 2 )
lm lm lm lm lm lm
Kondisi-kondisi perancangan:
bm b b l
a. = bm = , dengan n = ,
lm l n l m

dm d d
b. = dm =
lm l n

am a a
c. = am =
lm l n

xm x x
d. = xm =
lm l n

Pm E m PE PE
e. = Pm =
lm
2
l 2
Emn2

Kondisi-kondisi a dan b menunjukkan bahwa model adalah similar secara geometrik


dengan prototype. Dari kondisi c, dapat dilihat bahwa beban harus ditempatkan pada titik

Azas Teknik Kimia Page 55


yang sesuai dalam model dan prototype. Kondisi d, menunjukkan bahwa lengkungan diukur
pada titik yang similar secara geometrik dalam model dan prototype. Kondisi e, menunjukkan
ketentuan besar beban yang harus diberikan pada model.
l in
Dari persamaan di atas: n = = 12 ft(12 )/ 8 in = 18,
lm ft
6
Maka, bm = = 0,3333 in
18
12
dm = = 0,6667 in
18
5.12
am = = 3,3333 in
18
4800.30.10 6
Pm = = 296 lb
18 2.1,5.10 6

lb 6 lb
untuk mencari Pm diambil asumsi harga Ekayu = 1,5.106 2 dan Ebaja = 30 10 .
in in 2
persamaan peramal:
y y
( )m = ( )
l l
y = n ym =18.ym
dari persamaan peramal ini jelas bahwa untuk kelengkungan model dan prototipe adalah
similar secara geometrik. Tidak hanya model dan prototipe similar sebelum pembebanan,
tetapi juga similar secara geometrik setelah pembebanan.

2. pada aliran fluida dalam pipa horizontal, tentukan P pada pipa model dan prototype
menggunakan cairan yang sama!.
Penyelesaian:

P1 V P2 d

l
Kuantitas yang ada dan dimensinya:
P = beda tekanan, ML-1T-2
l = jarak antara control tekanan, L
d = diameter pipa, L
r = kekasaran pipa, tak berdimensi
= densitas, ML-3

Azas Teknik Kimia Page 56


= viskositas cairan, ML-1T-1
v = kecepatan aliran, LT-1
ada 7 kuantitas dengan 3 dimensi dasar, maka ada 4 suku :
P d dv
v 2
= ( , r, )
l
suku terakhir adalah bilangan Reynolds. Aliran akan laminar kalau Re<2100, dan turbulen
kalau Re>2100.
Persamaan perancangan:
d d d l
( )m = dm = dengan n =
l l n lm

rm = r
dv dv
( )m = ( )), untuk cairan yang sama, vm = nv

seperti yang diharapkan, persamaan perancangan menunjukkan bahwa model similar secara
geometrik dengan prototipenya. Dengan memakai cairan yang sama terlihat bahwa dalam
model dan prototip tanpa distorsi. Tanpa melihat sama atau tidaknya cairan, persamaan
peramalnya adalah:
P P Pm
v 2
= ( v 2 )m, bila cairan sama, maka P = .
n2
Dengan teori aliran fluida, untuk menghitung pressure drop dikenal persamaan dArchy,
yaitu:
P L v2 g
=f( )( ), dengan w = weight density= .g atau , dan = mass density,
w D 2g c gc

atau
P f L
= ( )
w v 2
2 D

persamaan yang sama untuk model, maka disini diperoleh persamaan peramal:

P
v 2 (f / 2)(L / D)
=
( P )m [(f / 2)(L / D)]m
v 2
P fv 2
=
( P) m (fv 2 ) m

Azas Teknik Kimia Page 57


untuk Re yang sama pada model dan prototip, harga f akan sama pula untuk pipa dengan
kekerasan yang sama, maka
(P) m
(P) =
n2
3. Suatu fluida panas mengalir melalui pipa dengan kecepatan aliran panas yang steady.
Rencanakan suatu model yang dapat meramalkan kecepatan perpindahan panas dari fluida ke
pipa atau sebaliknya.
Penyelesaian: Q
T
V, T D

L
Faktor yang berpengaruh:
Q = kecepatan perpindahan panas, HT-1
T = suhu fluida masuk pipa,
T=suhu pipa,
L = panjang pipa, L
D = diameter pipa, L
= dimensi penting lain, L
k = konduktivitas panas fluida, HT-1 L-1 -1
c = panas jenis fluida, HM-1-1
= densitas fluida, ML-3
= viskositas fluida, ML-1 T-1
v = kecepatan aliran fluida
ada 11 kuantitas dengan 5 dimensi dasar, maka ada 6 suku .
Q D T Dv c
= ( , , , , )
LkT L L T' k
kondisi-kondisi perancangan:

1. ( ) m = ( ) m =
L L n
D D D
2. ( )m = ( Dm =
L L n
T T
3. ( )m = ( )
T' T'

Azas Teknik Kimia Page 58


Dv Dv
4. ( )m = ( ) atau Rem = Re

c c
5. ( )m = ( )
k k
Dua kondisi yang pertama menunjukkan adanya similaritas secara geometrik. Kondisi ke
tiga adalah ratio temperature yang sama pada model dan prototipnya (temperature
absolute). Skala temperature tidak terpengaruh oleh skala panjang.
Kondisi ke empat adalah samanya Re, bila yang digunakan fluidanya sama untuk model
dan prototip dan temperaturnya sama, maka vm = n.v.
c
Kuantitas ( ) merupakan bilangan Prandl, bila fluida dan suhunya sama untuk model
k
dan prototip, maka harga Pr akan tetap.
Dengan 5 kondisi perancangan untuk model yang sudah ditetapkan, maka persamaan
peramal untuk kecepatan perpindahan panas adalah:
kTQ m
Q=n
k m Tm

Hubungan sifat-sifat termal dari bahan hanya ada pada persamaan peramal, sedangkan
pada kondisi perancangan tak ada hubungan mengenai sifat termal dan bahan yang dipakai.
Seolah-olah dalam melaksanakan similaritas dengan persyaratan samanya suku tersebut di
atas, akan berjalan mulus tanpa suatu kesukaran-kesukaran. Hal yang sebenarnya tidaklah
demikian, sebab persyaratan samanya suku pada model dan prototip tidak selalu dapat
dipenuhi bersama-sama, bahkan untuk peristiwa-peristiwa kimia industribanyak yang tidak
dipenuhi bersama-sama.

Kriteria similaritas
Merupakan salah satu cara untuk sedikit mengurangi kesukaran-kesukaran bila
diperoleh peristiwa yang tak dapat dipenuhinya masing-masing suku bersama-sama.
Di dalam sistem, ada beberapa kecepatan, rate proses manakah yang menentukan
kecepatan perubahan overall dalam suatu proses dinamakan dengan resim yang
mengendali. Dalam suatu peristiwa, kecepatan yang paling rendahlah yang mengendalikan
proses dalam system itu atau hambatan/ penahanan yang paling besar.
Dalam sistem dinamis bilangan Re, Fr, dan We tidak dapat bersama-sama, cara
penyelesaiannya adalah dengan cairan yang berbeda pada model dan prototipnya.

Azas Teknik Kimia Page 59


Contoh lain, pada proses kimia yang dipelajari oleh Laupichleer atas reaksi katalitik
water gas. Diperoleh, total penahanan reaksi R dinyatakan dengan persamaan:
1
R= + .............................................................(III-15).
k.C m D
Dengan, k = konstante kecepatan reaksi
Cm = konsentrasi rerata uap air
= tebal film gas laminar pada permukaan katalisator
D = koefisien diffusi CO melalui film gas
Suku pertama dinamakan penahanan konversi dan suku ke dua penahanan diffusi. Dalam
reaksi itu reaksi kimia mengendali dan untuk menentukan kecepatan keseluruhan (overall),
maka proses dinyatakan berlangsung di bawah resim kimia. Sistem dengan resim kimia,
scale up disesuaikan dengan similaritas kimia, bila dinamik dilakukan dengan similaritas
dinamik. Demikian pula pada proses yang lain, misalnya pada proses perpindahan panas, bila
force convection (aliran panas paksaan) menentukan kecepatan prosesnya, maka proses
berjalan di bawah resim dinamik, sebaliknya bila kecepatan panasnya ditentukan oleh
natural convection atau radiasi, maka proses di bawah resim termal.
Dengan adanya beberapa resim, kemungkinan akan terdapat resim campuran, yaitu
pengaruh penahanan/kecepatan yang sama-sama kuat. Untuk dapat melakukan scale up
atau scale down dari keadaan yang kompleks ini, dan untuk mendapatkan kondisi yang
baik, diperlukan 2 hal:
1. resimnya relatif murni, kecepatan hanya tergantung pada satu kelompok tak
berdimensi.
2. resimnya bertipe sama pada model dan prototype.
Beberapa kriteria untuk tipe-tipe similaritas resim-resim yang penting & perlu dikenal agar
dapat melakukan perhitungan perhitungan pendekatan.
Sistem fluida:
Dalam sistem cairan yang bergerak, dapat dilihat kuantitas-kuantitas yang
berpengaruh, yaitu beda tekanan P, kecepatan linear V, densitas , viskositas , gaya
gravitasi g, dimensi linear L, dan tegangan muka . Dengan sistem MLt akan diperoleh 4
suku , persamaannya:
P vL v 2 vL
v 2
= ( , , ) ........................................................(III-16).
Lg

suku-suku di sebelah kakan tandan = adalah bilangan tak berdimensi Reynolds (Re), Froude
(Fr), dan Webwer (We).

Azas Teknik Kimia Page 60


Di dalam sistem dimensi seperti diatas, bilangan Re, Fr, dan We tidak dapat bersama-sama.
Pada masing-masing bilangan tak berdimensi, hubungan antara kecepatan dan skala panjang
adalah:
1
Untuk Re yang sama: Vr = ....................................................................(III-17).
Lr

Untuk Fr yang sama : Vr = (Lr)1/2 .............................................................(III-18).


1
Untuk We yang sama : Vr = ..................................................(III-19).
( L r )1 / 2

Masing-masing mempunyai perbandingan skala panjang yang berbeda.


Cara mengatasi kesulitan ini untuk Re dan Fr, cairan yang digunakan boleh berlainan antara
model dan prototip.

Kriteria Re.
Suatu sistem dinamis, similaritas dapat dilakukan di bawah criteria Re, bila sistem
fluida tersebut viskositasnya tinggi.
Persamaan sistem fluida menjadi berbentuk:
P vL
v 2
= ( ) ..................................................(III-20).

(Re)m = Re ..................................................(III-21).
r r
vr = = ..................................................(III-22).
r Lr Lr

r = viskositas kinematik =

r
qr = = r Lr ..................................................(III-23).
r Lr

qr = kecepatan volumetrik
2
r
Pr = 2 ..................................................(III-24).
r Lr
3
r
Pr = 2 ..................................................(III-25).
r Lr
P = kebutuhan tenaga
Untuk sistem homolog, maka r = 1 dan r = 1
1
vr = Pr = ..................................................(III-26).
Lr

Azas Teknik Kimia Page 61


qr = Lr ..................................................(III-27).
1
Pr = 2 ..................................................(III-28).
Lr

Kriteria Fr
Similaritas di bawah kriteria Fr, hanya gaya berat yang mengontrol atau system
bekerja atas pengaruh gaya berat cairan. Artinya, dalam sistem fluida itu ada force liquid
surface, yaitu terdapat gelombang vortex.
Persamaan sistem fluida menjadi:
P v2
v 2
= ( ) ..................................................(III-29).
Lg

qr = 1 ..................................................(III-30).
vr = Lr ..................................................(III-31).
qr = Lr2,5 ..................................................(III-32).
Pr = r Lr ..................................................(III-33).
Pr = r Lr3,5 ..................................................(III-34).
Pada sistem homolog: r = 1
Power yang ada hanya untuk menaikkan bahan melawaan beratnya saja, tidak termasuk
friksinya.
Kriteria We.
Disini tegangan muka mengontrol. Bila dua cairan yang tidak saling larut dicampur
dan diaduk, yang satu terdispersikan ke dalam yang lain. Bila viskositas-viskositasnya rendah
dan beda kerapatannya tidak besar, maka pengaruh viskositas dan berat dapat diabaikan.
Secara umum, mekanisme dispersi karena turbulensi, fase terdispersikan mendapat gerak
memutar dan kareana gaya sentrfugal ini membuat butir-butir yang lebih halus dan
seterusnya, sampai gaya tegangan muka menahannya terhadap pembutiran lebih lanjut. Pada
similaritas dinamik, ratio sentrifugal dan gaya tegangan muka adalah konstan.
vL
= konstan ..................................................(III-35).

dengan pengertian di atas dapatlah diketahui, pada system cairan 2 fase dengan pelingkupnya
geometris similar, akan memberikan dispersi geometris similar pula bila bilangan We sama.
1
Vr = ..................................................(III-36).
( L r )1 / 2

Azas Teknik Kimia Page 62


1
Nr = ...............................................(III-37).
( L r )1,5

N = putaran
1
S= ..................................................(III-38).
L
luas
S=
volum
Untuk mempelajari similaritas dalam kimia industriyang mendalam, masih diperlukan
pengertian-pengertian yang lebih luas (baca buku Johnston & Thring).

Contoh soal.
1. untuk model dan prototip, tunjukkan ratio aliran Q adalah sama dengan ratio
dimensi panjang berpangkata dua setengah, bila gaya gravitasi dan gaya inersia saja yang
berpengaruh.
Jawab:
3
Lm
Qm tm Lr
= 3 =
Qp Lp tr
tp
Perbandingan gaya inersia dan gaya gravitasi adalah bilangan Fr, yaitu:
Ma L2 v 2 v2
= Lg = Lg
Mg

Frm = Frp
gr = 1
vr = L r atau vr2 = Lr

tr = Lr1/2
3
Lr
Qr = 1/ 2 = Lr2,5 (terbukti)
Lr
2. air pada 60oF mengalir dengan kecepatan 12 ft/det dalam pipa 6 in. berapaa
kecepatan minyak padaa 90oF yang mengalir melalui pipa 3 in, dedngan keduanya similar
secara dinamik.
ft 2 ft 2
air = 1,217.10-5 ; minyak = 3,19.10-5
det det
jawab.

Azas Teknik Kimia Page 63


Pola aliran dalam pipa hanya dipengaruhi oleh gaya inersia dan kekentalan
cairananya, sehingga Re adalah kriteria dalam similaritas ini. Sifat-sifat yang lain seperti
elastisitas, tegangan muka, dan gaya gravitasi tidak mempunyai pengaruh/efek pada aliran
ini.
Reair = Reminyak
vd v ' d'
=
'

12. 6 v' 3
12 = 12
5
1,217.10 3,19.10 5
ft
v = 63
det

3. minyak dengan vikositas kinematik 50.10-5 ft2/det digunakan sebagai prototip.


Dalam sistem ini viskositas dan gravitasi sangat dominan. Model mempunyai skala 1:5.
berapa viskositas cairan model yang digunakan agra Fr dan Re dapat dipenuhi
bersama=sama?.
Jawab.
Gunakan ratio skala kecepatan untuk Fr dan Re.
Pada Fr yang sama:
vr2 = Lr gr gr = 1
sehingga, vr = Lr

Pada Re yang sama:


r r
vr = =
r Lr Lr

vr Lr = r = Lr1/2.Lr = Lr1,5
1 1,5
r = ( ) = 0,0894
5

m
r = m = r. p = 50.10-5(0,894)
p

ft 2
= 4,47 10-5 det
Coba selesaikan dengan menggunakan ratio waktu yang sama dari Fr dan Re!!.

Azas Teknik Kimia Page 64


LATIHAN
1. a. Tunjukkan bahwa ratio model dan prototipe debit aliran fluida sama dengan ratio
panjang berpangkat dua setengah, bila yang berpengaruh adalah gaya gravitasi dan
gaya inertia saja!
b. Suatu model penampung air dapat dikosongkan dalam waktu 4 menit dengan
membuka pintu air. Dalam berapa menitkah prototype dapat dikosongkan bila ratio
model dan prototipenya 1/225? (kriterianya bil Re).

PUSTAKA
Giles, R.V., 1956, Theory and Problem of Hydraulics and Fluid Mechanics, Schaum
Publishing Co, New York
Johnstone, R. E., and Thring, M. W., 1957, Pilot Plant, Models, and Scale-Up Methods in
Chemical Engineering, McGraw-Hill Book Company, Ner York.
Langhar, H.L., 1951, Dimensional Analysis and Theory of Models, John Wiley & Sons,
Inc., Tokyo
Murphy, G., 1950, Similitude I Engineering, The Ronald Press Co., New York

BAB IV
NERACA MASSA

Dalam mempelajari bagian ini, siswa diharapkan mampu:


1. Menjelaskan tentang sistem, proses, dan aliran
2. Mengerti dan dapat menuliskan persamaan neraca massa secara umum

Azas Teknik Kimia Page 65


3. Mengerti tentang neraca massa steady dan unsteady
4. Mengerti tentang neraca massa tanpa reaksi kimia
5. Mencari dan menghitung neraca massa tanpa reaksi kimia
6. Mengetrapkan konsep neraca massa tanpa reaksi kimia dalam industri/peralatan.

SUB POKOK BAHASAN: pengertian: sistem, proses, dan aliran, persamaan umum
neraca massa, Neraca massa steady dan unsteady, neraca massa tanpa reaksi
kimia, penerapan neraca massa tanpa reaksi kimia pada proses-proses: pencampuran,
pengeringan, kristalisasi, keseimbangan fase, distilasi, evaporasi.

PENDAHULUAN
Neraca massa merupakan perhitungan semua bahan yang ada dalam proses. Ada kalanya
bahan yang dikenakan proses berubah bentuk menjadi senyawa lain atau menjadi konsumsi
dalam sistem itu, tetapi jumlah massanya tidak berubah. Massa yang tumbuh dan massa
yang terambil diartikan bila terjadi reaksi kimia, maka bahan yang satu bisa terambil dan
membentuk senyawa lain.
Sebelum masuk pada neraca massa, diperlukan pengertian-pengertian tentang sistem,
proses, dan aliran. Perhitungan neraca massa meliputi neraca massa tanpa dan dengan reaksi
kimia. Pada bab ini dibahas neraca massa tanpa reaksi kimia. Pada contoh-contoh
perhitungaan neraca massa tanpa reaksi kimia diberikan kepadaa proses-proses pemisahan
secara fisis seperti, pencampuran, pengeringan, kristalisasi, keseimbangan fase, distilasi, dan
evaporasi. Alat-alat ini akan dipelajari lebih lanjut pada mata pelajaranberikutnya dan dalam
perencanaan alat.

Pengertiaan-pengertian
1. Sistem
Sering kali mendengar kata sistem, tapi apa maknanya?. Sistem dapat diartikan
sebagai suatu kesatuan yang kompak dari satu atau beberapa sub sistem. Misalnya, komputer
merupakan satu sistem yang terdiri atas keyboard, CPU, dan manitor, tetapi CPU juga

Azas Teknik Kimia Page 66


merupakan sistem yang di dalamnya terdapat komponen-komponen pembentuk sistem (CPU)
itu.
Di dalam proses terdapat pengertian sistem tertutup dan sistem terbuka. Sistem
tertutup dapat dikatakan sebagai sistem atau proses batch yang dijelaskan pada bagian
tentang proses. Dalam sistem tertutup tidak ada bahan yang masuk atau keluar, massa dalam
sistem tertutup harus tetap. Sistem terbuka adalah sistem yang mengalir atau kontinu. Sistem
dikelilingi oleh pembatas atau boundary, di luar itu disebut sekeliling.

2. Proses
Sebelum masuk pada perhitungan neraca massa dan energi, terlebih dahulu
diperkenalkan tentang proses dan macamnya. Proses merupakan suatu kondisi atau keadaan
yang mengalami pengolahan untuk menghasilkan produk tertentu. Dalam industri, proses
merupakan pengolahan bahan baku menjadi produk.
Macam proses:
a. batch
b. kontinu
Proses batch merupakan suatu pengolahan yang terdiri atas beberapa kegiatan, yaitu
pemasukan bahan ke dalam alat, pengolahan, dan pengeluaran hasil. Proses ini dapat
digambarkan sebagai berikut.
Bahan A Bahan B

Waktu pemasukan waktu pengolahan waktu pengeluaran


Waktu 1 batch

Gambar IV-1. Proses batch


Di dalam industri, waktu satu batch ini amat berarti dalam pengelolaan waktu secara
keseluruhan produksi. Pada umumnya produksi berjalan secara terus menerus tak terputus.
Oleh karena itu, kapasitas proses batch sangat menentukan produk yang dihasilkan secara
kontinu. Apakah diperlukan proses batch itu dilakukan secara seri untuk memenuhi seluruh
kapasitas produksi?. Hal itu diperlukan perhitungan waktu dan kapasitas yang dibutuhkan.
Proses kontinu seperti yang telah disebut di atas, yaitu proses yang berjalan secara
terus menerus tanpa henti. Neraca massa pada proses ini berada dalam keadaan steady,
sehingga berlaku: massa masuk = massa keluar.

Azas Teknik Kimia Page 67


3. Aliran
Pada proses yang kontinu, terdapat dua arah aliran, yaitu aliran searah (cocurrent) dan
tidak searah atau berlawanan arah (counter current). Gambaran aliran tersebut dijelaskan
dalam diagram berikut.

A masuk A keluar A masuk A keluar

B masuk B keluar B keluar B masuk

a. aliran searah b. aliran berlawanan arah

Gambar IV-2. Arah aliran

Masing-masing aliran memiliki kelemahan dan keunggulan. Hal itu juga tergantung
pada jenis proses yang ada, apakah dilakukan pada proses perpindahan panas atau
perpindahan massa. Demikian juga, apakah dilakukan dengan cara kontak langsung atau
tidak. Hal itu juga tergantung pada sifat bahan yang akan diproses baik secara fisik maupun
kimia.

B. Neraca massa
Neraca massa merupakan perhitungan semua bahan yang ada dalam proses. Ada
kalanya bahan yang dikenakan proses berubah bentuk menjadi senyawa lain atau menjadi
konsumsi dalam sistem itu, tetapi jumlah massanya tidak berubah. Kehilangan massa
dimungkinkan dalam reaksi inti (nuklir) sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Einsten
(teori relativitas), bahwa massa yang hilang berubah menjadi energi. Hal yang sebenarnya,
bahwa kekekalan massa haruslah terpadu dengan energi, sehingga berbunyi kekekalan massa
dan energi. Sebab keduanya tidak bisa dipisahkan. Massa adalah suatu bentuk energi. Namun,
pada bahasan berikut ini dipisahkan antara neraca massa dan neraca energi dan sebagai awal
pelajaran sebagai mata pelajaranATK I membahas neraca massa terlebih dahulu.

Secara keseluruhan, bentuk persamaan neraca massa adalah:

Azas Teknik Kimia Page 68


akumulasi massa

=

dalam sistem
massa masuk massa keluar massa tumbuh massa terambil

+
........(IV-1).

melalui pembatas melalui pembatas dalam sistem dalam sistem

Pengeluaran
Pemasukan sistem

pembatas

Gambar IV-3. Sistem dan neraca massa


Massa yang tumbuh dan massa yang terambil diartikan bila terjadi reaksi kimia, maka
bahan yang satu bisa terambil dan membentuk senyawa lain.

C. Neraca massa steady dan unsteady


Suatu gambaran proses kontinu adalah pengisian sebuah tempat dengan air yang
dialirkan melalui pengaturan katub/kran. Dibayangkan, mula-mula tempat itu yang bisa
berupa sebauh ember atau tangki penampung yang kosong dan padanya terdapat lubang
kecil/bocor. Kemudian air dikeluarkan dengan membuka katub. Dengan demikian, ember itu
akan terisi air secara terus menerus dan keluar akibat kebocoran juga secara terus menerus.
Kalau kebocoran (yang keluar) itu lebih kecil daripada pemasukannya, maka lama kelamaan
air dalam ember semakin banyak. Hal itu menunjukkan adanya akumulasi air dalam ember.
Neraca massanya diambil dari persamaan (IV-1), dan tidak terjadi reaksi kimia, maka tidak
ada pembentukan dan pengambilan massa, sehingga:
Akumulasi = Massa masuk - Massa keluar (IV-2).

Azas Teknik Kimia Page 69


Setelah beberapa lama kemudian, air dalam ember penuh dan meluap keluar. Dalam hal ini,
yang keluar dari ember itu adalah karena kebocoran dan luapan. Neraca massanya menjadi:
Bahan masuk = bahan keluar .(IV-3).
Neraca massa pada persamaan (IV-2) disebut dengan keadaan unsteady, artinya
suatu keadaan yang tergantung pada waktu. Dengan bertambahnya waktu akumulasi makin
banyak atau keadaan selalu berubah dengan waktu. Dalam hal peristiwa di atas, dengan
bertambahnya waktu, volum air dalam ember bertambah. Pada suatu saat tertentu, keadaan
itu selalu tetap atau air yang ada dalam ember tidak berubah volumnya. Kondisi semacam ini
disebut keadaan steady atau ajeg atau tunak dan persamaan neraca massanya
ditunjukkan seperti persamaan (IV-3).

D. Neraca massa tanpa reaksi kimia


Pembahasan neraca masa berikut ini ditandaskan dalam keadaan ajeg. Neraca massa
dihitung untuk semua bahan yang ada dalam proses. Perhitungan akan menjadi kompleks
kalau prosesnya rumit dan dalam unit yang besar. Beberapa hal perlu diperhatikan dalam
melakukan perhitungan neraca massa secara mudah, mengacu pada hal yang telah disebut di
bagian depan tentang langkah-langkah logis penyelesaian masalah.
1. Visualisasi: gambar diagram alir proses secara sederhana yang dapat menunjukkan
perubahan perubahan fisis yang terjadi.
2. Objektif: data yang relevan cantumkan pada diagram, misal kecepatan alir bahan,
komposisi, suhu, tekanan, dan data fisik lainnya.
3. Rencana: pelajari data proses dan kembangkan hubungan kuantitas yang diketahui dan
yang tidak diketahui dalam neraca massa. Hubungan ini biasanya dalam bentuk persamaan
matematik. Pastikan jumlah bilangan yang tidak diketahui dengan jumlah persamaan yang
ada. Samakan satuan antar kuantitas yang satu dengan lainnya. Pada neraca massa dalam
sistem: disetiap titik yang mengalami perubahan pasti ada persamaan yang
menyertainya!!!
4. Menghitung: Pilih basis yang sesuai bila diperlukan. Selesaikan hubungan-hubungan
persamaan di atas. Neraca massa berdasarkan pada hukum kekekalan massa dan energi:
bahwa massa tidak dapat diciptakan dan tidak ada kehilangan massa kecuali menjadi energi
(menurut Einstein).
Persamaan neraca massa dalam keadaan ajeg tertulis seperti persamaan (IV-3). Neraca
massa tanpa reaksi kimia dijumpai pada banyak peristiwa operasi teknik kimia. Neraca massa
ini menjadi titik tolak perhitungan yang lainnya sampai pada perencanaan alat proses. Oleh

Azas Teknik Kimia Page 70


karena itu, dalam perhitungan awal ini tidak boleh salah. Umumnya, operasi kimia
industrimerupakan proses pemisahan bahan untuk dimurnikan. Proses-proses yang akan
dipelajari untuk perhitungan neraca massanya yang dituangkan dalam contoh-contoh soal,
diantaranya:
1. Pencampuran
2. Pengeringan
3. Kristalisasi
4. Keseimbangan fase
5. Distilasi
6. Evaporasi

Secara garis besar, neraca massa dalam sebuah sistem adalah seperti berikut ini.
Bila persamaan (IV-2) dikenakan pada proses yang tertera dalam gambar IV-4, maka:
MA = M1 + M2 + M3 - M4 - M5 ..(IV-4).
Dengan, M = massa atau aliran massa dengan satuan massa atau massa/waktu. Pada keadaan
ajeg, maka akumulasi, MA = 0, sehingga neraca massanya:
M1 + M2 + M3 = M4 + M5 .(IV-5).
M1
M2
SISTEM M4
M3 akumulasi=MA

M5
Gambar IV-4. Neraca massa dalam sistem alir

Persamaan (IV-5) merupakan persamaan neraca massa sistem secara keseluruhan atau total.
Di dalam bahan yang berupa campuran terdapat komponen-komponen yang terkandung di
dalamnya. Jika masing-masing komponen dintayakan dalam fraksi massa, x (tak bersatuan),
maka neraca massa komponen berbentuk:
M1xi1+ M2xi2 + M3xi3 = M4xi4 + M5xi5 ...(IV-6).
Dalam hal ini, xi1 berarti komponen i yang ada pada aliran 1, dan seterusnya.
Lebih jelas diperluhatkan dalam contoh-contoh soal berikut ini.

1. Pencampuran

Azas Teknik Kimia Page 71


Contoh: Natrium hidroksid dengan kadar 40% dialirkan ke dalam tangki dengan kecepatan

L
100 jam pada suhu 20oC. Larutan ini akan diencerkan menjadi 12%. Berapa air yang

L
diperlukan setiap jamnya? Dan berapa kecepatan keluar dalam jam ?

Jawab:
Untuk dapat menyelesaikan soal di atas diperlukan data rapat larutan NaOH 40%. Data dapat
diperoleh dari buku (handbook) Perry atau literatur lain. Dari buku Perry edisi 5, hal.
3-78 diperoleh data, pada suhu 20oC: 40%NaOH = 1,4300 kg/L

M2
Air segar sebagai pengencer
Larutan pekat: 20oC
M1: 40% NaOH Tangki M3
100 L/jam Pencampur Larutan encer 12%NaOH

L
Basis: 100 j larutan pekat masuk.

kg L kg
Maka, massa larutan masuk = (1,43 ).(100 j ) = 143 jam
L
Neraca massa keseluruhan: M1 + M2 = M3 .(a)
Neraca massa untuk komponen NaOH:
NaOH masuk = NaOH keluar
M1.xNaOH,1 = M2.0 + M3.xNaOH,3 ..(b)
Neraca komponen untuk air:
M1.xair,1 + M2.1 = M3.xair,3 ..(c)
Dari persamaan (b) untuk NaOH:
143. 0,4 = 0 + 0,12 M3
kg
M3 = 476,7 jam

Dari persamaan (c) untuk air:


143. 0,6 + M2 = 476,7. 0,88
85,8 + M2 = 419,5
kg
M2 = 333,7 jam

Azas Teknik Kimia Page 72


Atau dengan menggunakan persamaaan (a) diperoleh:
kg kg
M2 = (476,7-143) jam = 333,7 jam .

kg L
Rapat air = 1 , maka air segar yang dimasukkan sebesar 333,7 jam .
L
Jika aliran keluar dinyatakan dalam kecepatan volum, L/jam, dengan persamaan (a)
diperoleh:
L L L
M3 = 100 jam + 333,7 jam = 433,7 jam

2. Pengeringan
Pengeringan adalah proses untuk mengurangi/menghilangkan air dalam bahan yang
basah. Proses yang dilakukan ada beberapa cara diantaranya adalah dengan pemanasan. Ada
pula yang dilakukan dengan menggunakan aliran udara kering (prinsip: humiditas).
Contoh: a. Kertas dengan kandungan air 5% harganya Rp. 100.000 per ton sampai di
pelabuhan. Ongkos kirim dari pelabuhan ke gudang pembeli Rp. 6000/ton. Setelah sampai di
gudang ternyata kelembaban kertas menjadi 6,54%. Jika kelebihan berat tidak
diperhitungkan, berapa harga kertas sampai di gudang?
Jawab: Basis: 1 ton kertas sampai di gudang.
Kadar air dalam kertas 6,54%
kadar kertasnya saja = 93,46%
Misal: berat kertas di pelabuhan x ton, maka kelebihan air = y ton
Neraca kertasnya saja:
0,9346. 1 ton = 0,95. x ton
x = 0,9346/0,95 = 0,9838 ton
neraca keleseluruhan: x + y = 1 ton
kelebihan air, y = 1 0,9838 = 0,0162 ton.
Analisis ongkos:
Harga kertas dipelabuhan = 0,9838. Rp. 100.000 = Rp. 98.380,00
Ongkos kirim = 0,9838. Rp. 6000 = Rp. 5.902,80
Harga kertas sampai di gudang per ton = Rp. 104.282,80
Contoh: b. Sebuah lorong pengering (tunnel dryer) digunakan untuk mengeringkan 100
lb/jam bahan anorganik yang mengandung 10% air sampai kandungan airnya 0,5%. Bahan
masuk ke dalam alat pengering secara berlawanan arah dengan udara yang digunakan sebagai
pengering. Udara yang masuk pada 60oC, 76 cmHg dengan relative humidity (RH) 10% dan

Azas Teknik Kimia Page 73


keluar pada suhu 350C, 75 cmHg dengan RH 70%. Berapa kecepatan aliran udara yang harus
dipertahankan?.
Jawab: basis: 100 lb/jam bahan anorganik masuk
Bahan anorganik bahan anorganik keluar
100 lb/jam, air 10% M1 lb/jam, air 0,5%

M3 lb/j udara keluar udara masuk, M2 lb/j


o
35 C, 75 cmHg 60oC, 76 cmHg
RH 70% RH 10%
Pada persoalan ini diperlukan pengertian tentang kelembabab (humiditas). Relative
humidity atau kelembaban relatif terkait dengan banyaknya air (H 2O) dalam udara kering

lb H 2 O
yang dinyatakan dalam . Untuk mengetahuinya dicari dari grafik molar
lb udara ker ing

humidity atau phychrometric chart yang terdapat dalm buku-buku literature


(Himmelblau).
Ada 2 cara penyelesaian.
lb
Cara I: Basis: 100 jam bahan anorganik

Gunakan komponen kunci, yaitu bahan anorganik kering, karena bahan ini tidak
berubah, artinya bahan anorganik yang masuk = yang keluar.
lb lb
Bahan anorganik masuk = 0,9.100 jam = 90 jam

lb
Berarti, bahan anorganik kering yang keluar juag 90 jam , kadar airnya 0,5%, maka

lb lb
bahan anorganik keluar seluruhnya, M1 = (100/99,5).90 jam = 90,45 jam .

lb
Air yang keluar bersama bahan anorganik = 90,45-90 = 0,45 jam

lb
Air yang masuk bersama bahan anorganik = 0,1.100 = 10 jam

lb
Jadi, air yang keluar bersama udara = 10-0,45 = 9,55 jam

Cari dengan grafik:


lbmol H 2 O
Pada suhu 60oC dengan RH =10% y2 = 0,025
lbmol udara ker ing

lbmol H 2 O
Pada suhu 35oC dengan RH =70% y3 = 0,042
lbmol udara ker ing

Azas Teknik Kimia Page 74


Dari hasil itu menunjukkan bahwa dalam 1 lbmol uadara kering, air yang dapat dibawa

lb lb
sebesar: 0,042 0,025 = 0,017 lbmol = 0,017.18 jam = 0,306 jam

lb
Padahal jumlah air yang harus dibawa oleh udara kering sebanyak 9,55 jam . Dengan

demikian, udara kering yang dibutuhkan sebanyak:


0,955 lb air
lb air
0,306
lbmol udara ker ing

= 31,21 lbmol/jam udara kering


lbmol
Jumlah udara basah (udara kering + air) masuk, M2 = 31,21.(1+0,025) = 31,99 jam

BM udara kering = 29.


lb
Berat udara basah masuk, M2 = 31,21(29) + 31,21(0,042)(18) = 919,13 jam

Cara II:
Diselesaikan dengan cara analitis:
lb H 2 O
yM2 =0,025(18/29) = 0,015517
lb udara ker ing

fraksi massanya:
xM2 = 0,015517/(1+0,015517) = 0,01528
secara similar:
lb H 2 O
yM3 =0,042(18/29) = 0,02607
lb udara ker ing

fraksi massanya:
xM3 = 0,02607/(1+0,02607) = 0,02541
Neraca massa total : 100 + M2 = M1 + M3 ..(a)
Neraca komponen air : 100.x1 + M2 xM2 = M1.xM1 + M3.xM3
100.0,10 + M2 0,01528 = M1.0,005 + M3.0,02541
10 + 0,01528 M2 = 0,005 M1 + 0,02541 M3 (b)
Neraca bahan anorganik: 100.0,9 = 0,995 M1 (c)
Ada tiga persamaan dengan 3 bilangan yang tidak diketahui, maka dapat diselesaikan.
lb
Dari persamaan (c), M1 = 90,45 jam

lb lb
Dari persamaan (a) dan (b), diperoleh, M2 = 918,57 jam dan M3 = 328,12 jam .

Azas Teknik Kimia Page 75


lb
Dengan demikian, jumlah udara kering masuk = 918,57 jam (dengan cara I diperoleh

lb
919,13 jam ).

3. Kristalisasi
Contoh: a. Sebuah tangki berisi 10000 kg larutan jenuh NaHCO3 pada 60oC. Dari larutan
diinginkan untuk dikristalkan sebanyak 500 kg. Berapa temperatur larutan harus
didinginkan?
Jawab:
Prinsip: Proses kristalisasi mempunyai hubungan dengan kelarutan bahan, sedangkan
kelarutan itu sendiri tergantung pada suhu. Umumnya, makin tinggi suhu kelarutan bahan
makin besar. Larutan akan bisa menjadi kristal jika larutannya telah kelewat jenuh.

Gambar proses:
500 lb
NaHCO3
kristal

NaHCO3 NaHCO3
Larutan jenuh{ }larutan jenuh
H2O H2O

Data yang diperlukan adalah kelarutan NaHCO3 dalam air. Dari handbook diperoleh:
Suhu (oC) : 60 50 40 30 20 10
g NaHCO 3
Kelarutan : 16,4 14,45 12,7 11,1 9,6 8,15
100 g H 2 O

Basis: 10000kg larutan jenuh NaHCO3 pada 60oC.


Dalam tabel pada suhu 60oC kelarutan NaHCO3 sebesar 16,4 g setiap 100 gH2O, maka dapat
dihitung komposisi larutan awal ini, yaitu:
16,4 g NaHCO 3
NaHCO3 =
16,4 g NaHCO 3 100 g H 2 O

= 0,141 atau 14,1%


maka airnya = 85,9%
neraca massa NaHCO3: mula-mula yang mengkristal = sisa dalam larutan jenuh
0,141. 10000 500 = sisa dalam larutan jenuh

Azas Teknik Kimia Page 76


sisa dalam larutan jenuh = 910 kg
neraca massa air : air mula-mula 0 = air dalam larutan jenuh
air dalam larutan jenuh = 0,859. 10000 = 8590 lb
g NaHCO 3 910 g NaHCO 3
konsentrasi sisa larutan jenuh = =
g H 2O 8590 g H 2 O

x g NaHCO 3 10,6 g NaHCO 3


= atau =
100 g H 2 O 100 g H 2 O

kembali pada tabel untuk mencari suhu yang sesuai dengan larutan jenuh :
10,6 g NaHCO 3
yang terletak antara 20 dan 30o. Dicari dengan interpolasi,
100 g H 2 O

11,1 10,6
yaitu: 30oC [ 1,1 9,6 ]100oC = 27oC

34 g
contoh: b. Kelarutan barium nitrat pada 100oC sebesar dan pada 0oC sebanyak
100 g H 2 O

5g
. Jika mula-mula ada 100 g Ba(NO3)2 dan dibuat larutan jenuh pada 100oC,
100 g H 2 O

berapa air yang dibutuhkan?. Kemudian larutan jenuh itu didinginkan pada suhu 0oC, berapa
natrium nitrat yang mengkristal?.
Jawab: Basis: 100 g Ba(NO3)2
Kelarutan maksimum Ba(NO3)2 dalam air pada suhu 100oC sebesar 34 g per 100 g air,
sehingga jumlah air yang dibutuhkan:
100 g Ba ( NO 3 ) 2
(100 g H2O) = 295 g H2O
34 g Ba ( NO 3 ) 2

gambaran proses:
100%
C Ba(NO3)2 kristal

A H2O
Ba(NO3)2 0% Ba(NO3)2
10g
larutan jenuh{ H2O } larutan jenuh
H2O 295 g
295 g

Azas Teknik Kimia Page 77


Pada persoalan ini, sebagai komponen kunci adalah air, sebab jumlah air tidak
berubah. Pada suhu 0oC kelarutan barium nitrat sebesar 5 g per 100 g air, maka dalam 295 g

295
H2O, barium nitrat yang dapat larut = . 5 g Ba(NO3)2 = 14,7 g Ba(NO3)2.
100
Neraca massa Ba(NO3)2:
Ba(NO3)2 awal - Ba(NO3)2 akhir = kristal Ba(NO3)2
100 g - 14,7 g = 85,3 g
Cara aljabar:
Fraksi air pada B = 100/(100+5) = 0,952381
Neraca massa total : A = B + C
395 = B + C
neraca massa air: 295 = B. 0,952381 + c.0
295
B = 0,952381 = 309,75

Maka, C = 395 309,75 = 85,25 g kristal Ba(NO3)2.

4. Keseimbangan fase
Pada proses perpindahan massa sering dibutuhkan neraca massa yang melibatkan
keseimbangan fase. Hukum Raoult sering digunakan dalam perhitungan pada komposisi fase
uap dan fase cairan yang berada dalam keseimbangan. Perhitungan dapat diteruskan untuk
mencari jumlah masing-masing fase yang ada dalam campuran.
Pada keadaan ini, tidak terjadi reaksi kimia, maka neraca massa mengambil dasar
pada satuan mol bukan lb atau kg.
Neraca masa untuk keseimbangan fase:
L + V = M .(IV-7).
Dengan, L = lbmol cairan
V = lbmol uap
M = lbmol campuran cair dan uap.
Neraca komponennya:
L. xA + V.yA = M.zA.(IV-8).
Dengan, xA = mol fraksi A dalam cairan
yA = mol fraksi A dalam uap,
zA = mol fraksi A dalam campuran.

Azas Teknik Kimia Page 78


Contoh: Campuran yang mengandung benzena sebanyak 75%mol dan toluene sebesar
25%mol dalam keadaan seimbang pada suhu 93oC, tekanan 90 cmHg. Campuran ini akan
dipisahkan menjadi fase uap dan cairan.
a. Hitung komposisi dan jumlah pada kedua fase kalau campuran mula-mula 100 lbmol!
b. Hitung komposisi dan jumlah masing-masing fase kalau suhunya diturunkan sampai
30oC!
Jawab: Basis 100 lbmol campuran
Data yang diperlukan adalah tekanan parsial untuk masing-masing komponen.
Dari tabel yang ada pada handbook, diperoleh:
Pada suhu 93oC : PvB = 115 inHg dan PvT = 46 inHg.
Dengan hukum Raoult:
PvB PvT
yB = xB dan yT = xT
PTotal PTotal
115 46
yB = . xB dan yT = xT
90 90
Gambaran proses:

V lbmol uap
yB
yT
M lbmol camp
zB = 0,75
zT = 0,25

L lbmol cairan
xB
xT
karena: yB + yT = 1 dan xB + xT = 1, maka
115 46
. xB + xT = 1
90 90
115 46
. xB + (1-xB) = 1
90 90
115 xB + 46 - 46 xB = 1
xB = 0,638
xT = 1- 0,638 = 0,362
115
yB = 0,638 = 0,815
90
yT = 1 0,815 = 0,185

Azas Teknik Kimia Page 79


neraca massa total: L + V = 100 .(a)
neraca komponen benzen: 0,638 L + 0,815 V = 100.0,75(b)
dari kedua persamaan itu diperoleh: V =63,28 lbmol (fase uap) dan
L = 36,72 lbmol (fase cair).
b. Pada 380C, PvB = 15,5 inHg dan PvT = 5,2 inHg
15,5 5,2
yB = ( )xB dan yT = xT
90 90
15,5 5,2
( )xB + ( )xT = 1
90 90
15,5 5,2
( )xB + ( )(1-xB) = 1
90 90
15,5xB +5,2 + 5,2xB =90
xB =8,23 (tidak mungkin)
seharusnya nilai xB terletak antara 0 dan 1. Tekanan kedua fase menunjukkan kurang dari
tekanan totalnya. Hal itu berarti pada suhu 380C semua ada dalam keadaan fase cair.

5. Distilasi
Distilasi adalah suatu proses pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih diantara
komponen-komponen yang ada.
Contoh: Campuran etanol air dipisahkan dalam kolom distilasi untuk memperoleh
kemurnian alkohol yang lebih tinggi. Komposisi umpan masuk ke dalam kolom terdiri atas
20%mol alcohol dan sisanya air. Hasil bagian atas kolom (distilat) mengandung 85%mol
etanol dan bagian bawah kolom (bottom) mengandung 3%mol etanol.
lbmol
a. dengan kecepatan umpan masuk 100 jam , hitunglah jumlah distilat dan bottom

b. berapa % recovery alkohol ?

Jawab:
Gambaran proses:
Distilat, D lbmol/j
xD,alk = 0,85

Umpan, F
100 lbmol/j
xF,alk = 0,2

Bottom, B lbmol/j

Azas Teknik Kimia Page 80


xB,alk = 0,03
Basis: per jam operasi
Neraca massa total: F = D + B (a)
Neraca massa alcohol: F xF,alk = D xD,alk + B xB,alk ..(b)
Neraca massa air : F xF,air = D xD,air + B xB,air ..(c)
a. yang dicari jumlah D dan B, berari cukup dengan 2 mpersamaan saja.
Persamaan (a) memberikan : 100 = D + B atau D = 100 B ..(d)
Persamaan (b) memberikan: 100.0,2 = 0,85 D + 0,03 B
a. = 0,85 D + 0,03 B(e)
substitusi perssamaan (d) ke dalam persamaan (e), diperoleh:
20 = 0,85(100-B) + 0,03 B
maka, B = 79,27 lbmol.
Dari persamaan (a), diperoleh: D = 20,73 lbmol
b. jumlah alkohol dalam distilat = D xD,alk = 0,85.20,73 = 17,62 lbmol
jumlah alkohol mula-mula: F xF,alk = 100.0,2 = 20 lbmol
jadi, %recovery = (alkohol yang terambil/alkohol mula-mula) 100%
17,62
=( ) 100% = 88,1%
20
6. Evaporasi
Proses evaporasi adalah proses penguapan air. Hal ini berbeda dengan proses
pengeringan. Proses evaporasi dimaksudkan untuk membuat larutan agar jenuh yang
kemudian larutan jenuh itu dikristalkan. Alatnya disebut evaporator.
Contoh: Larutan natrium hidroksid dengan kadar 20% dievaporasi pada titik didihnya dalam
evaporator dengan tekanan 3,716 psia hingga menjadi larutan jenuh 40%NaOH. Berapa air
yang harus diuapkan setiap pound NaOH yang masuk?
Jawab: basis : 1 lb NaOH
Gambaran proses:
Panas. Q Uap air, V

Umpan, F : larutan
20%NaOH larutan jenuh, L
40%NaOH
Neraca massa total : F = L + V ..(a)
Neraca massa NaOH : F xF,NaOH = L xL,NaOH + V yV,NaOH .(b)
Neraca massa air : F xF,air = L xL,air + V yV,air .(c)

Azas Teknik Kimia Page 81


Pada proses evaporasi, yang teruapakan hanyalah air saja, sehingga kandungan NaOH dalam
uap, yV,NaOH = 0, maka persamaan (b) menjadi:
F xF,NaOH = L xL,NaOH ..(d)
100
Dengan basis 1 lb NaOH dalam umpan (=20%), maka F = ( ). 1 lb = 5 lb
20
Maka, dengan persamaan (d), didapat : 1 = L.0,4 L = 2,5 lb dan dari persamaan (a),
diperoelh: V = F L = 5-2,5 = 2,5 lb.
Dengan demikian, air yang harus diuapkan setiap lb NaOH yang masuk adalah:
2,5 lb air
= 2,5 lb NaOH .
1

E. Neraca massa elemen


Pada perhitungan yang telah dipaparkan di atas terlihat suatu perhitungan menggunakan
neraca massa untuk mencari kebutuhan bahan baku yang digunakan pada proses produksi
bahan tertentu. Hasil hitungan dapat dituliskan pada bagan alir yang tergambar alat tersebut,
dan dapat diketahui neraca massa keseluruhan. Dalam praktek bahan-bahan yang ada di
dalam suatu alat keadaannya selalu bergerak. Kondisi bahan yang bergerak ini berubah dari
satu tempat ke tempat lain sepanjang alat itu. Perubahan kondisi itu dapat dilihat pada
potongan kecil bahan yang ada berupa suatu differential element.
Meski proses secara keseluruhan dalam keadaan ajeg (steady), tapi setiap tempat sejarak
tertentu terjadi perubahan komposisi. Neraca massa elemen ini banyak ditinjau pada proses
alir (kontinyu) dan akan menghasilkan persamaan diferensial (PD). Pada umumnya,
penyelesaian PD ini memberi jawaban atas kinerja alat tersebut. Dengan kata lain, hasil
perhitungan neraca massa elemen dan penyelesaiaannya diperoleh kondisi perancangan suatu
alat.
Neraca massa pada elemen kecil ini secara umum sama dengan neraca massa yang
ditunjukkan pada persamaan (1). Hal itu diringkas menjadi:
Kecepatan akumulasi = kecepatan masuk kecepatan keluar + kecepatan
pertumbuhan ...................................................................................(IV-9)
Dalam hal ini, keadaannya ajeg atau tidak ada akumulasi, sehingga persamaan itu menjadi:
0 = kecepatan masuk-kecepatan keluar+kecepatan pertumbuhan .. (IV-10)
Berikut adalah contoh-contoh penerapan neraca massa elemen.
Neraca massa elemen tanpa reaksi.

Azas Teknik Kimia Page 82


Proses pengeringan padatan basah dilakukan dalam alat pengering (dryer) yang
berbentuk silinder dengan diameter 5 ft dan panjang 30 ft. Padatan mengalir karena
perputaran dan kemiringan silinder, tetapi dapat dianggap datar. Bahan memenuhi 1/3
penampang silinder dengan kecepatan tetap. Kadar air pada pemasukan dan pengeluaran

2
masing-masing dan 0,1 lb setiap lb padatan. Dari data yang ada, menyebutkan berat
1
bahan masuk 31 lb per cuft dan keluar 22 lb per cuft, sedangkan hasil tiap jam sebanyak 550
lb. Anggapan lain: volum padatan basah dan kecepatan penguapan berbanding lurus dengan
air yang dikandungnya. Hitung waktu yang diperlukan bahan untuk bergerak dari ujung
pemasukan ke ujung pengeluaran!.
Penyelesaian:
Untuk dapat menjawab masalah ini, diperlukan persamaan yang menunjukkan bahwa
pengeringan sebagai fungsi jarak/panjang. Persamaan yang dapat menunjukkan hal itu
diperoleh dengan melihat elemen kecil volum yang ada pada alat pengering tersebut yang
digambarkan berikut ini.
30 ft
x
lempung lempung
basah 5 ft kering

pemasukan: x1 x2 pengeluaran:
basah= 31 lb/cuft basah = 22 lb/cuft
lb lb
Kadar air = W = 2 lb pada tan W = 0,1 lb pada tan

air = (2/3)(31 lb/cuft) air = (0,1/1,1)(22 lb/cuft)


padatan = (1/3)(31 lb/cuft)=10,3 lb/cuft padatan= (1/1,1)(22 lb/cuft)
kering= 10,3 lb/cuft kering = 20 lb/cuft
Massa keluar, m = 550 lb/j. Hal ini terdiri atas: padatan = (1/1,1)(550) = 500 lb/j dan air =
(0,1/1,1)(550) = 50 lb/j.
Kadar air makin ke kanan makin berkurang dan lempung makin kering. Karena keadaan ajeg,
komposisi (air dan padatan) tetap setiap saat.
Lempung sebagai padatan tidak berkurang, jumlahnya (kuantitatif) tetap dan secara kualitatif
tidak berubah (tetap lempung). Jadi, lempung merupakan komponen kunci (key component).
Perubahan yang terjadi dari tempat ke tempat adalah volume per satuan berat lempung
kering (karena air berkurang) ada perubahan dari tempat ke tempat lain.

Azas Teknik Kimia Page 83


Peninjauan neraca massa dilakukan terhadap masing-masing bahan.
Neraca massa untuk lempungnya saja:
Lempung masuk = lempung keluar
Jika, A = luas penampang aliran, L2
V = kecepatan linier, Lt-1
= densits lempung kering setiap lempung basah
Maka, untuk daerah sepanjang x1 dan x2:
(AV) x 1 = (AV) x 2 ...............................(a)
(AV) x 1 - (AV) x 2 = (AV) = 0 ........(b)
( AV )
= 0 .................................................(c)
x
Limit x mendekati nol untuk persamaan (c):

lim ( AV ) = A.d ( V) =0 .......................(d)


x 0
x dx
d ( V)
= 0 (disebut persamaan kontinyuitas dalam keadaan ajeg/tunak).
dx
Persamaan ini banyak dikenakan pada bahan-bahan yang mengalami perubahan densitas
disetiap posisi dalam proses.
Neraca massa untuk air:
Basis: per satuan berat lempung kering.
Jika, v = jumlah air yang diuapkan dan
berat air
W = berat lempung ker ing

Maka, neraca massa air:


W x 1 + v x = W x 2 ...................................(e)
W dW
v= = v ......................................(f)
x dx
Dalam hal ini, posisi x1 ditempuh pada t1 dan pada saat t2 berada pada posisi x2. Bahan
mengalami pergerakan dari satu tempat ke tempat yang lain secara linier dengan satu
kecepatan tertentu.
jarak L dx
Kecepatan linier = V= , atau V =
waktu t dt
Hal ini menunjukkan bahwa: W = f(x) , sedangkan x = (t).
Jadi:

Azas Teknik Kimia Page 84


dW dW dx
. ...............................................(g)
dt dx dt
Dari soal ditentukan bahwa kecepatan penguapan berbanding lurus dengan air yang
dikandungnya atau dituliskan dalam persamaan:
1 cuft
v = aW + b = lb ....................................(h)

dengan, = densitas lempung kering per volum lempung basah.


Lempung saja = 500 lb/j = AV
dx 500
V= = A .................................(i)
dt
Penggabungan persamaan (h) dengan (i) diperoleh:
dx 500
V= = (aW+b) .................................(j)
dt A
Persamaan (g) yang merupakan pengurangan air, sehingga dapat ditulis:
dW dW dx
- . = kW ..........................................(k)
dt dx dt
Jika, x = 0 adalah ujung pemasukan dan x = 30 adalah ujung pengeluaran dengan kondisi
masing-masing seperti di atas, dan kecepatan penguapan dinyatakan dalam volum per lb

1 cuft
lempung (= lb ), maka persamaan (h):

1 cuft lb cuft
Pada x = 0 : 10,3 lb
= a.(2 lb pada tan ) + b lb pada tan .....(l)

1 cuft 1 lb cuft
Pada x = 30ft : = a.( ) + b .....(m)
20 lb 10 lb pada tan lb pada tan

Dari dua persamaan itu, (l) dan (m) dapat diperoleh nilai a = 0,0248 dan b = 0475, sehingga
kecepatan penguapan air dapat ditulis dengan persamaan:
v = 0,0248 W + 0,0475 ....................................................(n).
Luas permukaan silinder = r2, sedangkan lempung menempati 1/3 luas yang ada, maka
A = (1/3) r2 = (1/3)( )(25) = 6,55 ft2.
Dengan demikian, gabungan persamaan (i), (n) dan nilai A, dapat diperoleh:
dx 500 lb pd tan/ j. (0,0248W 0,0475)cuft / lb pd tan
= = 1,895 W + 3,63 ft/j ...(o)
dt 6,55 ft 2

Dengan memasukkan nilai persamaan (o) ke dalam persamaan (g) dan selanjutnya
diselesaikan dengan batasan pada saat x =0, W =2 dan pada x=30, W=0,1, yaitu
dW dx dW
. = (1,895 W + 3,63) = - kW ..........................................(p)
dx dt dx

Azas Teknik Kimia Page 85


dW
-kdx = 1,895 dW + 3,63
W
30 0 ,1 0 ,1
dW
-k dx = 1,895 dW + 3,63
0 2 2
w

-30k = 1,895 (0,1-2) + 3,63 ln 0,05


= -3,6 10,9 = -14,5
k = 0,483 1/j (sebuah tetapan perancangan)
dari persamaan (k) itu pula diketahui bahwa:
0 ,1 t
dW dW
-
dt
= kW - 2 w = k 0 dt
Diperoleh:
2
Ln 0,1 = 0,483 t ln 20 = 0,483 t

Maka, t = 6,2 jam.


Sebagai catatan: Bahwa dalam keadaan sesungguhnya, yang terjadi pada rotary dryer
adalah pengeringan dilakukan dengan udara panas yang mengalir secara berlawanan arah
atau searah dengan bahan yang dikeringkan. Udara ini membawa uap air selama mengalir

dW
dalam alat itu. Oleh karena itu, dengan memperhatikan persamaan (k) diatas, yaitu - =
dt
kW yang menunjukkan kadar air ditiap tempat = 0 dan hal ini tidak pernah terjadi.

Neraca massa elemen dengan reaksi kimia pada reaktor alir pipa.
Sebuah reaksi yang dijalankan dalam pipa yang mempunyai penampang serba sama,
secara kontinyu mengikuti persamaan:
A P+Q .................................................................(IV-11).
Semua bahan berbentuk gas. Proses berlangsung secara ajeg. Nyatakan konversi sebagai
fungsi panjang pipa!
Penyelesaian:
Kompossi bahan dalam reaktor ditentukan oleh konversinya. Di setiap tempat sepanjang
pipa komposisi bahan selalu berubah karena laju alir yang menyertainya. Hal itu dapat
dikatakan karena setiap perubahan jarak membutuhkan waktu dan setiap perubahan waktu
sepanjang pipa terjadi perubahan komposisi bahan. Untuk menghitung jumlah bahan di tiap
tempat sepanjang reaktor tersebut dapat dilakukan dengan menghitung neraca massa untuk
elemen volum (V) sepanjang pipa L. Gambaran peristiwa itu seperti dalam sketsa berikut.

Azas Teknik Kimia Page 86


L
x+ x
nA0 nA V nA+nA

L L+L
Dalam hal ini:
nA0 = jumlah mol A awal yang masuk ke dalam reaktor per satuan waktu,
nA = jumlah mol A setiap saat, M t-1
x = konversi, bagian
L = panjang pipa, L
V = volum reaktor, L3
Neraca massa pada elemen V (atau L) dalam keadaan ajeg dapat dituliskan:
Kecep. Masuk kecep. Keluar + kecep. Pertumbuhan = akumulasi
Kecepatan pertumbuhan sama dengan kecepatan reaksi yang dapat diartikan sebagai
kecepatan pengurangan bahan pereaksi A dan diberi notasi (-rA), sehingga persamaan itu
dapat ditulis:
(zat pereaksi masuk) - (pereaksi keluar dari V)-(yang bereaksi) = (akumulasi) ............. (IV-12)
Proses berlangsung dalam keadaan ajeg (steady) atau tidak ada akumulasi, maka persamaan
menjadi:
(zat pereaksi masuk) - (pereaksi keluar dari V)-(yang bereaksi) = 0 .........(IV-13).
Dengan prnsip hitungan stoichiometri didapatkan masing-masing bahan:
Bahan : A P Q total
Zat masuk (L) : n0(1-x) 0 0 n0(1-x)
Keluar (L+L): n0(1-x-x) n0(x+x) n0(x+x) n0(1+x+x)
Neraca massa untuk komponen A:
n0 (1-xA) - n0(1-xA-xA) (-rA)V =0,
penyelesaian persamaan ini, yaitu:
x A
(-rA) = n0 V ................................................(a).
dx A
Untuk V 0, (-rA) = n0 dV ..(b)
Atau
dN A mol
(-rA) = dV merupakan definisi kecepatan reaksi, ( volum)( waktu )

Azas Teknik Kimia Page 87


Jika luas penampang reaktor = , maka dV = dL, sehingga persamaan (VI-40) menjadi:
dx A
(-rA) = n0 dL ........................................(c).
Jika kecepatan reaksi dinyatakan dengan persamaan:
rA = k CA ..............................................(d).
Dengan, k = konstanta kecepatan reaksi,
CA = konsentrasi A, mol/volum
Maka:
dx A
k CA = n0 dL ...............................(e).
Diketahui bahwa bahan berupa gas dan dianggap mengikuti hukum gas ideal, sehingga:
PV = n RT, n/V = C
P = CRT atau C = P/RT , untuk bahan A CA = PA /RT, dan PA = X.Ptotal (X=
fraksi mol A), sehingga CA = XP/RT. Masukkan nilai ini ke dalam mpersamaan (e),
diperoleh:
dx A XP
dL = k n 0 RT ...............................(e).

mol A n (1 x ) (1 x )
Fraksi mol A = X= 0 . Dengan demikian persamaan (e)
mol total n 0 (1 x ) (1 x )

menjadi:
dx A P (1 x )
dL = k n RT (1 x ) ...............................(f).
0

LATIHAN
1. Suatu proses distilasi ditunjukkan dalam gambar di bawah ini. Selesaikan!

0,8 C2 ? C2
? C3 2 0,1 C3

1000 kg/j
? C2
0,5 C2 0,4 C3
0,3 C3
? C4 1

Azas Teknik Kimia Page 88


1000 kg/j
0,3 C2
0,2 C3
? C4 0,2 C 2
3 ? C3
F
0,3 C3
? C4
2. Kelarutan magnesium sulfat pada 20oC sebesar 62,9 g/100g H2O. Berapa jumlah
MgSO4.10H2O yang harus dilarutkan ke dalam 100 kg air agar larutan yang diperoleh
merupakan larutan jenuh pada 20oC?
3. Natrium hidroksid dengan kadar 40%berat dialirkan ke dalam tangki dengan kecepatan
100 mol/jam pada suhu 20oC. Larutan ini diencerkan dengan air hingga keluar pada
konsentrasi 20%. Berapa air yang diperlukan setiap jamnya? Dan berapa kecepatan keluar
dalam satuan L/jam?. s.g NaOH 40% pd 20oC = 1,43

PUSTAKA
Chopey, N.P. dan Hicks, T.G., 1984, Handbook of Chemical Enginineering Calculations,
McGraw-Hill Book Company, New York.
Glasstone, S., 1946, Text Book of Physical Chemistry, Van Nostrand Co., New York.
Henley, E. J dan Bieber, H., 1959, Chemical Engineering Calculation Mc Graw-Hill, New
York.
Himmelblau, D. M., 1989, Basic Principles and Calculations in Chemical Engineering, 6 th
edition, Prentice-Hall International, Inc, London.
Maron, S.H. dan Lando, J.B., 1974, Fundamental of Physical Chemistry, Macmillan
Publishing Co. Inc., New York
Williams, E.T and Johnson, R. C., 1958, Stoichiometry for Chemical Engineers, Mc Graw-
Hill, new York
Perry

Azas Teknik Kimia Page 89


BAB V
NERACA MASSA DENGAN REAKSI KIMIA

Dalam mempelajari bagian ini, diharapkan mampu:


1. Mengerti dan dapat menuliskan persamaan reaksi kimia secara benar
2. Menjelaskan tentang arti stoichiometri, pereaksi terbatas dan pereaksi berlebih
3. Menjelaskan dan menghitung tentang yield, konversi, dan recovery
4. Mencari dan menghitung neraca massa dengan reaksi kimia
5. Mengetrapkan konsep neraca massa dengan reaksi kimia dalam reaktor/industri.

SUB POKOK BAHASAN: persamaan reaksi dan stoichiometri, pereaksi


pembatas dan berlebih, konversi reaksi, yield, dan recovery.

PENDAHULUAN
Seperti halnya neraca massa tanpa reaksi, pada neraca massa dengan reaksi kimia ini
pula langkah-langkah untuk menyelesaikan soal sama seperti di atas. Pengetahuan yang harus
dikuasai adalah pengetahuan terhadap persamaan reaksi. Dasar-dasar reaksi dalam mata
pelajaran Kimia Dasar, Kimia Organik, dan Kimia anorganik sangat diperlukan dalam
pemahaman persoalan!!. Demikian juga dengan mata pelajaran Fisika Dasar!!.
Persamaan reaksi dan stoichiometry
Neraca massa yang paling sederhana terdapat dalam sebuah persamaan reaksi kimia,
yaitu dengan mengisi koefisien-koefisien reaksinya.
Contoh:
a C7H16 + b O2 c CO2 + d H2O ..(V-1).
Masing-masing atom: jumlah atom sisi kanan = jumlah atom sisi kiri tanda reaksi.
Untuk atom C: 7a = c
H: 16a = 2d d = 8a
O: 2b = 2c + d = 2(7a) + 8a = 22a b = 11a

Azas Teknik Kimia Page 90


Persamaan (3) menjadi:
a C7H16 + 11a O2 7a CO2 + 8a H2O ..(V-2).
Dalam hal ini, berapapun nilai a yang diberikan, persamaan itu tetap benar. Nilai a itu yang
disebut juga dengan basis perhitungan. Jika, a = 1, maka masing-masing koefisien yang ada
berturut-turut 1, 11, 7, dan 8. Perlu diperhatikan bahwa satuan yang digunakan dalam
persamaan reaksi itu adalah mol (gmol, kgmol, atau lbmol). Kalau diketahui basis dalam
satuan berat massa (g, kg, lb) maka diubah dahulu menjadi satuan mol, yaitu:

Berat massa massa


Mol bahan = Berat molekul = massa ...(V-3).
mol
Contoh:
Bila ada 10 kg C7H16 , berapa kebutuhan O2 dan hasil yang diperoleh?
kg
Jawab: data berat molekul (BM) dalam ( kgmol ): C7H16 = 100 , O2 = 32, CO2 = 44, H2O =

18, maka
10 kg
10 kg C7H16 = = 0,1 kgmol, sehingga secara stoichiometri (sesuai
100 kg
kgmol
dengan koefisien reaksi):
O2 yang dibutuhkan = 0,1.11 kgmol = 1,1 kgmol = 1,1 . 32 = 35,2 kg
CO2 yang dihasilkan = 0,1.7 kgmol = 0,7 kgmol = 0,7. 44 = 30,8 kg
H2O yang dihasilkan = 0,1.8 kgmol = 0,8 kgmol = 0,8.18 = 14,4 kg
Dalam neraca massa: massa sebelum sama dengan massa sesudah reaksi. Perhatikan :
Massa sebelum reaksi, yaitu C7H16 + O2 = 10 kg + 35,2 kg = 45,2 kg, dan
Massa sesudah reaksi, yaitu CO2 + H2O = 30,8 kg + 14,4 kg = 45,2 kg.
namanya neraca massa, maka yang sama itu adalah massanya bukan mol-nya!!!
Kalau diperhatikan pada reaksi di atas, maka terlihat bahwa semua bahan pereaksi (sebelah
kanan tanda reaksi) habis bereaksi. Hal itu dikatakan sebagai reaksi sempurna atau
konversinya 100%. Bagaimana kalau semua pereaksi tidak habis bereaksi?. Berikut ini
beberapa pengertian dalam melihat keadaan sebuah reaksi.

1. Pereaksi pembatas dan pereaksi berlebih.


Di dalam sebuah industri kimia yang memproduksi sesuatu bahan dari bahan lain
seringkali masih terdapat kelebihan reaktan dan sangat susah untuk menambahkan bahan
dengan dosis yang persis sama seperti yang ada pada reaksinya. Untuk membedakan mana

Azas Teknik Kimia Page 91


pereaksi yang berlebih dan mana pereaksi yang mendekati habis bereaksi, diberikan
pengertian pereaksi limit (limiting reactant) dan pereaksi berlebih (excess reactant). Pereaksi
limit merupakan bahan yang secara stoichiometri habis bereaksi, sedangkan pereaksi berlebih
adalah bahan yang masih tersisa bila salah satu bahan habis bereaksi.

Contoh:
Pada persamaan reaksi (4) yang ditulis kembali, yaitu:
C7H16 + 11 O2 7 CO2 + 8 H2O
Bila mula-mula terdapat masing-masing 10 kg C7H16 dan 40 kg O2, mana reaktan limit dan
mana yang berlebih?.
10 kg
Jawab: 10 kg C7H16 = = 0,1 kgmol
100 kg
kgmol
40 kg
40 kg O2 = = 1,25 kgmol
32 kg
kgmol
Secara stoichiometri : 0,1 kgmol C7H16 membutuhkan 11.0,1 kgmol O2 atau 1,1 kgmol,
sedangkan O2 yang tersedia sebessar 1,25 kgmol, sehingga masih tersisa 0,15 kgmol. Dengan
demikian, dikatakan:
Pereaksi limit adalah C7H16 dan pereaksi berlebih adalah O2.
Pereaksi berlebih lazim dinyatakan dalam %ekses, yaitu:
mol kelebihan
%ekses = mol kebutuhan untuk bereaksi dg pereaksi pembatas .(V-4).

Contoh:
Pada soal di atas, kelebihan O2 sebesar 0,15 kgmol, maka %ekses O2 adalah
0,15kgmol
( 1,1 kgmol ). 100% = 13,64%

2. Konversi reaksi
Reaksi kimia yang terjadi tidak seluruhnya sempurna seperti dalam penjelasan di atas.
Tingkat kesempurnaan reaksi ini dinyatakan dalam konversi reaksi. Besaran yang
digunakan bisa dinyatakan dalam prosen (%) atau bagian. Misalnya, konversi pembuatan
etilen dari etanol sebesar 80% atau 0,8 bagian dari etanol dapat diubah menjadi etilen.
Persamaan konversi dinyatakan:
mol bahan A bereaksi
Konversi = mol bahan A mula mula x 100% (V-5).

3. Yield atau hasil

Azas Teknik Kimia Page 92


Pernyataan yield atau hasil biasanya dilakukan terhadap reaksi yang kompleks atau
dengan hasil yang beragam. Yield atau hasil ini sebagai pernyataan terhadap sebuah bahan
produk yang dikehendaki. Yield bisa dinyatakan dalam mol hasil dibagi dengan mol
pereaksi mula-mula (bila bahan murni), yang artinya sama dengan konversi dan dapat pula
dinyatakan dalam berat hasil dibagi dengan berat bahan mula-mula (yang mengandung bahan
murni).
Contoh:
Reaksi : A B C, pada reaksi ini bahan B yang dikehendaki daripada C.
Maka,
hasil B
yield = bahan A mula mula x100% .(V-6).

4. Recovery
Pengertian recovery adalah perolehan kembali. Dalam hal ini, pernyataan ini
diterapkan terhadap bahan yang dapat diperoleh kembali dari dalam campuran. Misalnya,
dalam limbah terdapat khrom dan khrom tersebut diambil dengan berbagai cara, maka khrom
yang dapat diambil kembali itu dinyatakan dalam recovery atau alkohol yang diambil dari
suatu larutan dengan distilasi, maka alkohol yang terambil itu dinyatakan dalam recovery.
Pernyataan itu dituliskan:
bahan yang terambil
% recovery = bahan awal
x100% ..(V-7).

Contoh:
Suatu larutan alkohol dalam air sebanyak 1000 lb mempunyai kadar 60% didistilasi
dengan hasil yang meningkat menjadi 95% sebanyak 600lb. Berapa recovery proses itu?
Jawab:
Basis: 1000 lb larutan
Alkohol mula-mula = 0,6 . 1000 lb = 600 lb.
Alkohol dalam distilat = 0,95.600 lb = 570 lb
Maka recovery alkohol = (570/600). 100% = 95%.

Di dalam pengertian-pengertian di atas merupakan pernyataan yang satu sama lain


memiliki persamaan dan perbedaan. Secara umum, dalam kimia industridiperlukan
pernyataan-pernyataan tersebut. Pernyataan konversi diberikan terhadap hasil suatu reaksi
kimia yang seolah-olah merupakan bahan murni yang bereaksi. Pernyataan yield dan

Azas Teknik Kimia Page 93


recovery cenderung pada hasil yang diperoleh secara fisik (absorbsi, distilasi, dan sistem
pemisahan lainnya atau isolasi bahan tertentu), jika ada reaksi maka pembaginya (massa)
merupakan berat bahan mula-mula yang ada (bukan bahan murni saja).

Contoh soal:
1. Dalam pembakaran heptan menghasilkan gas CO2. Seandainya dikehendaki hasil sebanyak
500 kg es kering setiap jam dan sebesar 50% dari CO 2 diubah menjadi es kering, berapa kg
heptan yang harus dibakar setiap jamnya?.
Jawab: Reaksi pembakaran, yaitu reaksi dengan oksigen dengan hasil gas CO 2 dan air.
Reaksinya: C7H16 + 11 O2 7CO2 + 8 H2O
Basis: 500 kg es kering per jam (diketahui).
BM heptan (C7H16) = 100.
Gambaran prosesnya adalah sebagai beerikut.

H2O 50%CO2 gas

C7H16 Reaktor 50% CO2 padat (es kering)


(500 kg)

O2
500
Gas CO2 yang dihasilkan keseluruhan = ( 0,5 ) kg = 1000 kg
1000
=( ) kgmol
44
1 1000
Maka heptan yang harus dibakar setiap jam = ( )( ) kgmol
7 44
1 1000
= ( )( ) (100) kg
7 44
= 324,675 kg C7H16.
2. Korosi pipa ketel yang diakibatkan adanya oksigen dalam air dapat dicegah dengan
menambahkan sodium sulfit dalam air ketel. Hal itu dapat mengambil oksigen dalam air
umpan ketel yang mengikuti reaksi:
2 Na2SO3 + O2 2 Na2SO4
Berapa pound sodium sulfit yang dibutuhkan secara teoretis untuk menghilangkan oksigen
yang ada dalam 8330000 lb air umpan ketel tersebut yang mengandung 10 ppm (bagian per
juta), jika sodium sulfit yang ditambahkan berlebih 35%?
Jawab:
Basis: 8330000 lb H2O

Azas Teknik Kimia Page 94


Data yang diperlukan: BM sodium sulfit = 126
10 83,3
Oksigen terlarut 10ppm = ( ). 8330000 lb = 83,3 lb= ( ) lbmol
1000000 32
83,3
Secara teoretis (stoichiometri) kebutuhan Na2SO3 = 2( ) lbmol
32
83,3
= 2( ).126 lb
32
Kelebihan sodium sulfit 35%, maka sodium sulfit yang ditambahkan ke dalam air

83,3
umpan ketel = 1,35.2. ( ). 126 lb = 885 lb Na2SO3.
32
3. Hasil analisis batuan kapur menunjukkan adanya 92,89% CaCO 3, 5,41% MgCO3, dan
1,7% bahan lain.
a. Berapa pound kalsium oksid yang dapat diperoleh dari 5 ton batuan kapur ini?.
b. Berapa pound karbon dioksid yang dapat dihasilkan setiap pound batuan kapur?
c. Berapa pound batuan kapur yang dibutuhkan untuk membuat 1 ton kapur?.
Jawab:
Untuk dapat mengerjakan soal ini diperlukan:
a. Pengetahuan tentang reaksi yang terjadi. Dalam hal ini, kalsium dan magnesium karbonat
dapat menjadi kalsium dan magnesium oksid, jika bahan (batuan kapur) dipanaskan, dengan
bentuk reaksinya:
CaCO3 CaO + CO2
MgCO3 MgO + CO2
b. Dapat membedakan pengertian batuan kapur (limestone) dan kapur (lime). Kapur =
campuran CaO, MgO, dan bahan lain.

Gambaran prosesnya: CO2

Batuan kapur furnace

Kapur:
CaO
panas MgO
Bahan lain
Data tambahan: berat molekul tiap bahan
CaCO3 =100; CaO = 56; CO2 = 44; MgCO3 = 84,3; MgO = 40,3
Basis: Diambil = persen: 100 lb.

Azas Teknik Kimia Page 95


Dalam batuan: CaCO3 =92,89% = 92,89 lb = 0,9289 lbmol
MgCO3 = 5,41% = 5,41 lb = 0,0641 lbmol
Bahan lain = 1,7% = 1,7 lb
Sesuai dengan stoichiometri:
CaO = 0,9289 lbmol = 52 lb
MgO = 0,0641 lbmol = 2,59 lb
CO2 = (0,9289 + 0,0641) lbmol = 43,7 lb.
Jumlah kapur yang dihasilkan = 52 + 2,59 + 1,7 = 56,3 lb
a. Dalam 5 ton batuan kapur ( 1 ton = 20000 lb) atau 10000 lb batuan kapur,

52
dihasilkan: ( ).1000 lb = 5200 lb CaO
100
43,7
b. CO2 yang dihasilkan per lb batuan kapur = = 0,437 lb
100
c. Batuan kapur yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 ton (=2000 lb) kapur:
Pada 100 lb batuan dihasilkan 56,3 lb kapur, maka untuk menghasilkan kapur 1

100
ton dibutuhkan: ( 56,3 ). 2000 lb = 3560 lb batuan kapur.

4. Bila 0,6 kg stibnite dan 0,250 kg besi dipanaskan bersama-sama akan menghasilkan 0,200
kg logam antimony menurut reaksi:
Sb2S3 + 3 Fe 2 Sb + 3 FeS
Hitung:
a. pereaksi limit
b. prosentase reaktan berlebih
c. presen konversi
d. yield
Jawab:
Masing-masing komponen sudah diketahui nilainya, sehingga perhitungan dilakukan
tanpa basis. Untuk memudahkan perhitungan buat tabel:
Komponen kg BM gmol
Sb2S3 0,6 339,7 1,77
Fe 0,25 55,8 4,48
Sb 0,2 121,8 1,64
FeS 87,9

Azas Teknik Kimia Page 96


a. untuk mencari reaktan limit dihitung mana yang tersisa paling sedikit dalam reaksi
itu.
Jika Sb2S3 habis bereaksi (1,77 gmol), maka membutuhkan besi sebanyak 3. 1,77
gmol = 5,31 gmol. Besi yang tersedia hanya 4,48 gmol. Berarti besinya kurang
tersedia. Dengan demikian, jika besi habis bereaksi maka Sb2S3 masih tersisa.
Besi habis bereaksi (4,48 gmol), maka Sb 2S3 yang bereaksi = (1/3).4,48 gmol = 1,49
gmol. Jadi, Fe sebagai pereaksi limit dan Sb2S3 sebagai pereaksi berlebih.
1,77 1,49
b. %kelebihan Sb2S3 = [ 1,49
] 100% = 18,8%.

c. Konversi terhadap Sb2S3, kerena hasil yang diperoleh, yaitu Sb sebesar 1,64 gmol.
Sb sebessar ini berasal dari Sb yang terdapat dalam Sb 2S3, yaitu sebesar 1,64/2 = 0,82
gmol. Dengan demikian konversi Sb2S3 menjadi Sb adalah:
0,82
( 1,77 ) 100 % = 46,3%

0,2 kg Sb 1 kg Sb
d. yield yang diperoleh = = ( ).
0,6 kg Sb 2 S3 3 kg Sb 2 S 3

5. Aluminium sulfat dapat diperoelh dari hasil reaksi antara biji bauxit dengan asam sulfat
menurut persamaan reaksi:
Al2O3 + 3 H2SO4 Al2(SO4)3 + 3H2O
Di dalam bauxit terdapat 55,4% berat alumionium oksid dan sisanya kotoran. Larutan asam
sulfat mempunayai kemurnian 77,7% dan sisanya air. Untuk menhasilkan 1798 lb aluminium
sulfat murni, digunakan 1080 lb biji bauxit dan 2510 lb asam sulfat.
a. tunjukkan reaktan berlebihnya
b. berapa % reaktan yang berlebih itu digunakan?
c. Berapa derajad kesempurnaan reaksi?
Jawab: data BM: Al2O3 = 102; H2SO4 =91,8; Al2(SO4)3 =342,1;H2O = 18
Al2(SO4)3 yang terbentuk = 1798 lb = 1798/342,1 = 5,26 lbmol
Al2O3 dalam bauxit = 0,554.1080 lb = 0,554.1080/102 = 5,87 lbmol
H2SO4 dalam larutan = 0,777.2510 lb = 0,777.2510/98,1 = 19,88 lbmol
a. jika Al2O3 habis bereaksi (5,87 lbmol), maka membutuhkan asam sulfat sebanyak
3.5,87 lbmol = 17,61 lbmol. Asam sulfat yang ada sebesar 19,88 lbmol, berarti asam
sulfat sebagai pereaksi berlebih, sedsangakan pereaksi limit adalah Al2O3.

Azas Teknik Kimia Page 97


b. Hasil yang diperoleh, yaitu Al2(SO4)3 sebesar 5,26 lbmol, berarti asam sulfat yang
bereaksi sebanyak 3.5,25 lbmol = 15,78 lbmol.
Jadi, %penggunaan pereaksi yang berlebih = (15,78/19,88)100% = 79,4%.
Kalau yang ditanyakan %kelebihan pereaksi, yaitu sebesar
19,88 15,78
[ 15,78
]100% = 25%.

6. Gas alam dengan komposisi CH 4 = 78,8%; C2H6 = 16%; CO2 = 0,4%, dan N2 = 6,8%
(dalam %volum) dibakar dengan udara yang berlebih 40%. Hidrokarbon yang berubah enjadi
CO2 sebanyak 72% dan yang menjadi CO sebanyaak 26%. Hitung komposisi gas keluar!
Jawab: Pada peresoalan ini diperlukan pengertian proses pembakaran hidrokarbon (CH).
Pembakaran sempurna akan menghasilkan CO2 dan bila tidak akan menghasilkan gas CO.
Oleh karena itu, menurut soalnya, reaksi yang terjadi menghasilkan CO2 dan CO dengan
masing-masing prosentasenya diketahui.
Basis: 100 mol gas alam
Gambaran prosesnya:
Udara: 21% O2
79% N2
gas hasil pembakaran:
DAPU R CO2 =?
gas alam: CO =?
CH4 =78,8% H2 =?
C2H6=14,0% O2 =?
CO2 = 0,4% N2 =?
N2 = 6,8%
Untuk gas: Proses volum = prosen mol
Dalam proses ini reaksi yang terjadi:
1. C + O2 CO2
2. C + O2 CO
3. H2 + O2 H2O
Jumlah C dalam gas alam itu:
C dalam CH4 = 78,8 mol
C dalam C2H6 = 2.14 mol = 28 mol
Jumlah C = 106,8 mol.
Jumlah hydrogen (H2) dalam gas alam:
H2 dalam CH4 = 2.78,8 mol = 157,6 mol
H2 dalam C2H6 = 3.14 mol = 42 mol
Jumlah H2 = 199,6 mol

Azas Teknik Kimia Page 98


Reaksi tersebut: C yang membentuk CO2 sebesar 74%, yaitu:
0,74.106,8 mol = 79,03 mol
C yang membentu CO sebesar 26%, yaitu
0,26.106,8 mol = 27,77 mol
semua H2 menjadi H2O, yaitu 199,6 mol
kebutuhan oksigen:
untuk reaksi 1.: O2 yang dibutuhkan = 79,03 mol
untuk reaksi 2. : O2 yang dinutuhkan = (27,77) mol = 13,885 mol
untuk reaklsi 3.: O2 yang dibutuhkan = (199,6) mol = 99,8 mol.
Total kebutuhan O2 = 79,03 + 13,885 + 99,8 = 192,715 mol.
Kelebihan oksigen 40% 0,4= kelebihan oksigen/oksigen yang bereaksi
= kelebihan oksigen/192,715 mol
kelebihan oksigen = 0,4.192,715 mol = 77,086 mol
jadi, oksigen yang masuk = 192,715 + 77,086 = 269,801 mol
nitrogen yang masuk = 79/21 (269,801) mol = 1014,9657 mol
jumlah nitrogen yang ada = 1014,9657 + 6,8 = 1021,7657 mol.
Gas hasil pembakaran keluar:
CO2 = 79,03 + 0,4 (dari gas alam) = 79,43 mol
CO = 27,77 mol
H2O = 199,6 mol
O2 = 269,801-192,715 = 77,086 mol
N2 = 1021,7657 mol
Total = 1598,3667 mol
Komposisi gas hasil pembakaran:
79,43
CO2 = ( 1598,3667 ) 100% = 4,96%

27,77
CO = ( 1598,3667 ) 100% = 1,73%

199,6
H2O = ( 1598,3667 ) 100% = 12,48%

77,086
O2 = ( 1598,3667 ) 100% = 4,81%

1021,7657
N2 = ( 1598,3667 ) 100% = 63,92%

Total = 100%

Azas Teknik Kimia Page 99


7. Gas hidrogen sulfida sebanyak 867 gram diperoleh dari pemurnian petroleum dibakar
dalam tungku menggunakan 40% udara berlebih. Hasil pembakaran itu membentuk sulfur
dioksid dengan tingkat kesempurnaan reaksinya 90%. Selama pembakaran berlangsung,
ternyata sisa hidrogen sulfid bereaksi dengan sulfur dioksid membentuk belerang cair. Hasil
keluar pada suhu 320oC. Hitunglah
a. kebutuhan udara
b. komposisi hasil keluar tungku!
Penyelesaian:
Untuk dapat menyelesaiakan persoalan ini diperlukan pengetahuan tentang
persamaan reaksi yang terjadi. Hal itu telah disampaikan dalan soal. Persamaan reaksi yang
terjadi (suhu 320oC):
1. 2 H2S (g) + 3 O2 (g) 2 SO2 (g) + 2 H2O (g)
2. SO2 (g) + 2 H2S (g) 3 S (l) + 2 H2O (g)
Basis: 850 gram H2S. BM H2S = 34
850g
Mol H2S = 34 g / gmol = 25 gmol

Pada reaksi 1, konversi hidrogen sulfid 90%, maka


H2S yang bereaksi = 0,9 x 25 gmol = 22,5 gmol
SO2 yang terbentuk = H2S yang bereaksi = 22,5 gmol
H2O yang terbentuk = H2S yang beraksi = 22,5 gmol
Sisa H2S sebesar (25-22,5) = 2,5 gmol bereaksi sesuai dengan persamaan 2.
SO2 yang bereaksi = 2,5 gmol
S yang terbentuk = 2,5 gmol
H2O yang terbentuk = 2,5 gmol
a. Mencari kebutuhan udara.
3
Oksigen yang bereaksi = x 22,5 gmol = 33,75 gmol
2
Oksigen dalam udara dianggap sebesar 21%, maka udara dengan kandungan oksigen
33,75 gmol adalah: (Pada gas % mol = %volum)
100
x 33,75 gmol = 160,71 gmol
21
Udara berlebih 40%, maka kebutuhan udara = 1,4 x 160,71 gmol =225 gmol. Jika udara
dianggap gas ideal pada keadaan standar, maka volum udara yang dibutuhkan sebesar 225 x
22,4 L = 5.040 liter.

Azas Teknik Kimia Page 100


Udara sebanyak 225 gmol terdiri atas:
Oksigen 21% = 0,21 x 225 gmol = 47,25 gmol, digunakan untuk reaksi sebesar 33,75 gmol.
Nitrogen dalam udara = 225-47,25 = 177,75 gmol.
b. Komposisi hasil keluar
Yang berupa gas:
komponen banyak (gmol) prosentase(%mol)
H2S 0 0
SO2 (22,5-2,5) = 20 8,47
H2O (22,5+2,5) = 25 10,58
O2 (47,25-33,75) = 13,5 5,71
N2 177,75 75,24
Jumlah = 236,25 gmol 100,00%
Yang berupa cairan: S (belerang) sebesar 2,5 mol = 2,5 x 32 = 80 gram.

LATIHAN
1. Reaksi pembentukan hidrogen dari steam yang disebut reaksi water gas, yaitu:
CO + H2O CO2 + H2.
Jika umpan ke dalam reaktor yang berupa gas mengandung 30 mol CO, 12 mol CO 2, dan 35
mol steam per jam pada 800oC, dan H2 yang dihasilkan per jam sebesar 18 mol, hitung
a. limiting reactant
b. excess reactant
c. konversi steam menjadi H2
d. kg hasil H2 per kg umpan steam
e. mol CO2 yang dihasilkan per mol umpan CO.

2. Reaksi di bawah ini adalah reaksi pembuatan gas khlorin:


2 NaCl + 2 H2O 2 NaOH + H2 + Cl2
Jika produk Cl2 hanya terbentuk 20%, berapa NaCl yang dibutuhkan untuk membuat 1 ton
Cl2?.

3. Pada suatu furnace dilakukan pembakaran Fe2O3 dengan menggunakan karbon untuk
mendapatkan Fe murni. Untuk 1 ton Fe2O3 dan 500 kg karbon diperoleh produk Fe sebesar
200 kg. Tentukan:
(a) reaktan pembatasnya!. (b) % konversi Fe2O3 menjadi Fe!

Azas Teknik Kimia Page 101


PUSTAKA
Chopey, N.P. dan Hicks, T.G., 1984, Handbook of Chemical Enginineering Calculations,
McGraw-Hill Book Company, New York.
Glasstone, S., 1946, Text Book of Physical Chemistry, Van Nostrand Co., New York.
Henley, E. J dan Bieber, H., 1959, Chemical Engineering Calculation Mc Graw-Hill, New
York.
Himmelblau, D. M., 1989, Basic Principles and Calculations in Chemical Engineering,
6th edition, Prentice-Hall International, Inc, London.
Maron, S.H. dan Lando, J.B., 1974, Fundamental of Physical Chemistry, Macmillan
Publishing Co. Inc., New York
Williams, E.T and Johnson, R. C., 1958, Stoichiometry for Chemical Engineers, Mc Graw-
Hill, new York
Levenspiel

Azas Teknik Kimia Page 102


BAB VI
NERACA MASSA DENGAN ALIRAN BALIK,
ARUS PINTAS, DAN ALIRAN BUANGAN

Dalam mempelajari bagian ini, siswa diharapkan mampu:


1. Mengerti dan dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan aliran balik, arus pintas,
dan aliran buangan
2. Dapat menuliskan persamaan neraca massa dengan aliran balik, arus pintas, dan
aliran buangan
3. Menghitung neraca massa dengan aliran balik, arus pintas, dan aliran buangan
4. Mengetrapkan konsep neraca massa dengan aliran balik, arus pintas, dan aliran
buangan dalam industri/peralatan.

SUB POKOK BAHASAN: neraca massa dengan arus balik tanpa reaksi kimia dan
dengan reaksi kimia, arus pintas, dan arus pembuangan.

Neraca massa dengan aliran balik (recycle), arus pintas (bypass), dan aliran
pembuangan (purge).
Di dalam industri kimia terdapat beberapa alat uang saling terkait satu sama lain
menjadi satu unit yang dikenal dengan unit produksi. Aliran bahan yang sekiranya masih
bermanfaat dikembalikan lagi pada proses sebelumnya. Aliran semacam ini disebut dengan
umpan balik atau recycle. Hal ini bertujuan untuk menggunakan kembali bahan yang tersisa
dalam proses (sisa reaksi) sehingga tidak banyak terbuang dan meminimasi limbah menuju
produksi bersih.
Aliran bypass mempunyai maksud untuk mempertahankan kualitas tertentu pada
suatu produk yang dihasilkan. Bahan yang mempunyai komposisi tertentu dari alat
sebelumnya diinjeksikan kembali dalam alat sesudahnya untuk mencapai komposisi produk
yang diinginkan.
Pada industri yang bekerja dalam proses heterogen, gas hasil ataupun gas sisa reaksi
dibuang secara intermiten (pada waktu-waktu tertentu). Aliran pembuangan ini yang disebut
dengan aliran pembuangan gas atau purge.
Gambaran aliran-aliran tersebut dapat dilihat dalam gambar 4 berikut ini.
Perhatikan pada setiap titik pertemuan yang terjadi perubahan mempunyai persaan neraca
massa.

Azas Teknik Kimia Page 103


Recycle Purge
Devider

Abs
sorber vaporizer
Umpan
Reaktor

Bypass produk

Gambar VI-1. Aliran balik, pintas, dan gas buang

Contoh-contoh soal:
A. Aliran balik (Recycle) tanpa reaksi kimia
1. Sebuah kolom distilasi digunakan untuk memisahkan 10000 kg/j campuran 50% bensen
dan 50% toluene. Hasil bagian atas kolom mengandung 95% benzen, sedangkan bagian
bawah mengandung 96% toluene. Pada bagian atas, aliran uap masuk kondensor sebesar
8000 kg/j. Sebagian produk atas dikembalikan ke dalam kolom sebagai refluks. Hitung
ratio antara refluks (R) dan distilat (D)!.
Jawab:
Gambar proses:

V
8000 kg/j kondensor
Destilat, D
Refluks, R 0,95 Bz
0,05 Tol
Umpan, F
10000 kg/j sistem II
0,5 Bz
0,5 Tol
sistem I

B
0,04 Bz
0,96 Tol

Azas Teknik Kimia Page 104


Pada peristiwa itu terdapat dua titik yang mengalami perubahan, sebut Sistem I dan system II.
Untuk memperjelas persoalan, masing-masing system digambar ulang sebagai berikut:

Sistem I:
Neraca massa pada system I yang merupakan sistem keseluruhan.
D, xD Neraca massa keseluruhan, yaitu:
F = D + B (1)
F, xF Neraca komponennya:
B, xB F xF = D xD + B xB ...(2)
Masing-masing untuk benzen dan toluene.

Sistem II:
Neraca massanya:
V = D + R ..(3)
V,yV D, xD Neraca komponen:
V yV = D xD + R xR ....(4)
Masing-masing untuk benzen dan toluene.

R, xR
Kalau dijumlah, persamaan yang ada adalah 6 buah persamaan.
Basis : 10000 kg/j umpan masuk.
Dari persamaan (1): 10000 = D + B ..(a)
Dari persamaan (2), untuk benzen:
10000.0,5 = D.0,95 + B.0,04 (b)
Dari persamaan (a) dan (b), diperoleh:
kg
B = 4950 j

kg
D = 5050 j

Pada system II: dari persamaan (3) : 8000 = R + 5050, maka


kg
R = 2950 j

R
Dengan demikian, = 2950/5050 = 0,584.
D

2. Proses evaporasi yang dilanjutkan dengan kristalisasi tergambar dalam denah di bawah ini.
Berapa bahan yang direcycle dalam kg per jam?
Jawab: dari gambar dapat dibaca bahwa:

Azas Teknik Kimia Page 105


kg
Pada aliran F = 10000 j
, mempunyai komposisi

KNO3 = 20% dan air =80%


Pada aliran W, hanya air yang ada (100% air)

H2O sistem I
W
300oF umpan, F
Evaporator 10000 kg/j larutan
20% KNO3
M
50% R, recycle pada 100oF
KNO3 Larutan jenuh:
(0,6kg KNO3/kg H2O)
Kristalisator
Kristal yang membawa 4% air
Sistem II (4%H2O per kg total
C kristal + H2O)

Pada aliran M, komposisi KNO3 =50% dan air 50%


Pada aliran C, komposisi KNO3 =96% dan air 4%
Pada aliran R, komposisi yang dinyatakan dalam perbandingan, dapat
0,6
dicari: fraksi KNO3 = 1,6 = 0,375 atau 37,5%, air = 62,5%

Neraca massa yang ada pada masing-masing sistem:


Sistem I:
W
Neraca massa total:
F F = W + C (1)
C Neraca komponen:
FxF = W yW + C xC (2)
Sistem II:
Neraca massa total:
M R M = C + R (3)
Neraca massa total:
MxM = C xC + R xR (4)
C
kg
Basis : umpan masuk 10000 j
.

Pada persoalan ini, KNO3 sebagai bahan kunci perhitungan, sebab KNO3 yang
masuk, semuanya menjadi kristal yang keluar di C, sebesar:
kg kg
KNO3 dalam umpan = 0,2.10000 j
= 2000 j

Azas Teknik Kimia Page 106


KNO3 ini di dalam C mempunyai kadar 96%, jadi total C = (100/96).2000
kg
C = 2083 j

Karena yang ditanyakan adalah R, maka digunakan persamaan (3) dan (4):
M = 2083 + R (a)
Untuk KNO3: M.0,5 = 2083.0,96 + R.0,375 ..(b)
kg
Dari persamaan (a) dan (b) ini, didapat: R = 7670 j

B. Aliran balik (Recycle) dengan reaksi kimia


1. Dehidrogenasi etanol menjadi asetaldehid berlangsung menurut persamaan reaksi:
C2H5OH CH3CHO + H2
Ternyata terjadi reaksi samping, yaitu:
2C2H5OH CH3COOC2H5 + 2H2
(etil asetat)
Reaksi berlangsung dengan menggunakan katalisator CuNO3 pada suhu 330oC dengan
konversi pembentukan alkohol sebesar 85%. Hasil keluar reaktor mempunyai komposisi 88%
asetaldehid dan 12% etilasetat, bila alkoholnya tidak diperhitungkan. Hasil dipisahkan dalam
kolom pemisah dengan kecepatannya 1000 lb/j asetaldehid yang dipungut dari bagian atas
kolom dengan kemurnian 95% dan 5% alcohol. Gas hydrogen keluar dari kolom pemisah di
bagian atas. Dari bagian samping bawah kolom dikeluarkan etilasetat murni, sedangakan
pada bagian bawah sebagian alcohol dikembalikan masuk ke dalam reactor yang bercampur
dengan umpan segar.
Hitung rasio recycle dengan umpan segar dan berapa umpan keseluruhan yang masuk ke
dalam reactor?.
Jawab:
Dalam reaksi gunakan satuan mol!
Basis : per jam operasi
BM: asetaldehid = 44, etilasetat = 88, alkohol = 46
Karena adanya reaksi satuan berat diubah menjadi satuan mol!!
Hasil pada aliran D: 1000 lb

Gambaran prosesnya:
H2

Azas Teknik Kimia Page 107


1000 lb/j
95% Asetaldehid
Kolom D 5% alkohol
Umpan segar G H Pemi-
F Reaktor sah
Hasil kasar

E, etilasetat

recycle alcohol, X

950
Komponen kunci: Asetaldehid = 0,95. 1000 lb = 950 lb = lbmol = 21,6 lbmol
44
50
Alkohol = 1000-950 = 50 lb = lbmol = 1,09 lbmol
46
Hasil dari reaktor aliran H: 88% asetaldehid dan 12 % etilasetat (basis bebas alcohol),
maka ratio asetaldehid/etiasetat = 88/12.
12 129,5
Dengan demikian, etilasetat = ( ). 950 lb = 129,5 lb = = 1,47 lbmol
88 88
Neraca alkohol:
Keluar dalam aliran D = 1,09 lbmol
Untuk membentuk asetaldehid = 21,6 . 1 = 21,60 lbmol
Untuk membentuk etiasetat = 1,47. 2 = 2,94 lbmol
Jumlah = 25,63 lbmol = 1179 lb
Jumlah ini = alcohol sebagai umpan segar.
Bila X adalah alcohol yang direcycle maka umpan ke dalam reactor = 1179 + X.
Konversi reaksi terhadap alkohol = 85%, berarti alcohol yang tak bereaksi = 15% yang keluar
dalam aliran H, jumlahnya = 0,15 (1179+X).
Dari jumlah ini, 50 lb terambil dalam aliran D, sehingga alcohol yang direcycle =
0,15.(1179+X) 50 = alkohol yang direcycle
jadi: 0,15 (1179 + X) 50 = X
maka, X = 149,3 lb
149,3
Recycle ratio terhadap umpan segar = = 0,127
1179
Umpan masuk reaktor = 1179 + 149,3 = 1328,3 lb.

2. Dalam proses pembentukan metil iodida dihasilkan dari 2000 kg/hari asam hidroiodik
dengan methanol berlebih menurut reaksi:

Azas Teknik Kimia Page 108


HI + CH3OH CH3I + H2O
Proses berlangsung seperti pada gambar. Bila hasil yang diperoleh mengandung 81,6% berat
CH3I yang bercampur dengan methanol yang tidak bereaksi, dan hasil buangan mengandung
82,6% berat HI dan 17,4% air, dengan kesempurnaan reaksi 40%, hitung
a. berat methanol yang ditambahkan per hari!
b. Jumlah HI yang direcycle
Jawab:

Basis : 1 hari operasi


Dalam perhitungan ini mohon diperhatikan satuan. Untuk reaksi kimia satuan berat
harus diubah menjadi satuan mol.
Jika F =2000 kg dipakai sebagai basis perhitungan sulit untuk dikerjakan, lebih mudah basis
diambil dari hasil. Hal itu dikarenakan adanya recycle yang terjadi perubahan pada titik 1 dan
kesempurnaan reaksi yang 40% itu. Hasil yang ada antara P dan limbah W tidak ada
komponen yang sama. Untuk itu basis diambil pada salah satu pada aliran tersebut.

M: 100% CH3OH

F: HI 100% 1 Reaktor 2 P: CH3I 81,6%


2000 kg/hr CH3OH 18,4%

recycle, R
HI

W: HI 82,6%
H2O 17,4%

Komponen HI sebagai reaktan pembatas sebaiknya diambil sebagai basis pada


limbah, W.
Basis: 100 kg W (waste = bahan buangan/limbah) yang mengandung HI.
82,6
HI=82,6%.100 kg = 82,6 kg = = 0,646 kgmol
128
17,4
H2O = 17,45.100 kg = 17,4 kg = = 0,968 kgmol
18
Pada reaksi: HI + CH3OH CH3I + H2O

Azas Teknik Kimia Page 109


1 mol HI dan 1 mol CH 3OH menghasilkan 1 mol CH3I dan 1 mol H2O.
Konversi 40%, berarti CH3I dan H2O yang dihasilkan masing-masing hanya 0,4 mol. Padahal
air hasil reaksi untuk basis 100 kg waste sebesar 0,968 kgmol H2O.
0,968
Jadi, HI yang dibutuhkan sebesar 0,4
kgmol = 2,42 kgmol HI.

Sisa HI, yaitu 60% dari 2,42 = 0,6.2,42 kgmol = 1,452 kgmol.
Sisa ini terbagi dua, yaitu yang keluar ke waste dan yang direcycle.
Yang keluar ke waste = 0,646 kgmol, maka
HI yang direcycle = 1,452-0,646 = 0,806 kgmol.
HI yang masuk ke reaktor = 2,42 kgmol dan yang dari recycle = 0,806 kgmol, sehingga HI
umpan segar, F = 2,42-0,806 = 1,614 kgmol = 1,614. 128 kg = 206,592 kg.
Jumlah air yang dihasilkan = jumlah CH3I yang dihasilkan = 0,968 kgmol
= 0,968.142
= 137,456 kg
Hal itu terdapat pada aliran P sebanyak 81,6%,
100
maka aliran P = ( 81,6 ).137,456 kg = 168,45 kg.

Dari neraca massa keseluruhan : F + M = W + P F + M = 100 + 168,45


F + M = 268,45
206,592 + M = 268,45
M = 268,45-206,592 = 61,858 kg.
F 206,592
Perbandingan = 61,858 = 3,34
M
2000
a. Dengan F= 2000kg dibutuhkan M = 3,34 = 598,8 kg.

2000
Dapat pula dihitung W = ( 206,592 ).100 kg = 968,058 kg.

b. Untuk mencari R pakai neraca HI di sekitar titik 2:


HI sisa reaksi = HI di R + HI keluar ke W
0,6(2000 + R) = R + 0,826. 968,058
0,4 R = 400.38
R = 1000,96 kg
Perhitungan dia atas bukan satu-satunya cara. Saudara bisa mengunakan cara lain untuk
memperoleh hasil yang sama.
C. Aliran pintas (bypass)

Azas Teknik Kimia Page 110


1. Air yang mengandung 50 ppm garam diinginkan sebagai hasil pada suatu proses
pemurnian garam di samping garam murni. Air garam yang diproses mula-mula mengandung
600 ppm masuk ke dalam evaporator dan dikristalkan. Uap air dari evaporator didinginkan
menjadi kondensat dan dicampur dengan air garam mula-mula hingga keluar menjadi air
garam dengan kadar tersebut di atas. Diagram alir prosesnya sbb:
arus pintas (bypass)

air garam Evaporator air garam


600 ppm A 50 ppm

garam kristal (kering)

Tentukan berapa arus pintasnya!

Jawab: jumlah arus tidak ditentukan, sehingga pilih basis untuk mempermudah perhitungan.
Perhatikan : dimana terjadi perubahan komposisi, akn memberikan persamaan aljabar yang
sangat penting untuk penyelesaian soal.
Basis : 1 kg air masuk (airnya saja)
Misal: Aliran pintas = Y kg
Maka yang masuk ke evaporator = (1-Y) kg dan air yang keluar juga (1-Y)
Neraca massa garam di titik A:
(1-Y)kg. 0 ppm + Y kg. 600ppm = 1kg.50 ppm
50 1
Y= = = 0,083
600 12
Jadi arus pintas nya = 0,083 bagian dari arus umpan masuk.

2. Salah satu bagian dari proses fraksinasi minyak ditunjukkan seperti dalam gambar. Berapa
fraksi minyak bebas butan yang dimasukkan ke dalam menara isopentan?

Jawab:

Azas Teknik Kimia Page 111


S, Hasil isopentan

De- Menara
Butaniz Iso-
er pentan

X
Y,n-C5H12
2
umpan: F= 100 kg bebas butan P, ke
n-C5H12 80% 1 pabrik
i- C5H12 20% gas alam
90% n-C5H12
10% i- C5H12
Basis: 100 kg umpan
Neraca massa keseluruhan (perhatikan pada system yang ada dalm tanda batas):
F=S+P
Atau 100 = S + P
Neraca komponen:
F. xF = S.xS P. xP
Untuk n-pentan: 100.0,8 = S.0 + P.0,9
Didapat : P = 89 kg
Maka: S = 100-89 =11 kg
Neraca isopentan di sekitar menara isopentan:
Aliran masuk ke menara= X
Aliran keluar menara = Y
Maka : X = S + Y = 11 + Y .(a)
Neraca untuk normal pentan:
Masuk menara = keluar menara
0,8 X = Y .(b)
Gabungan (a) dan (b), diperoleh: X = 55 kg.
Dapat pula dikerjakan dengan neraca massa di sekitar titik 2:
Aliran bahan pintas = aliran bahan keluar
(100-X) + Y = 89
neraca komponen isopentan:
(100-X).0,2 + Y.0 = 89.0,1
20-0,2 X = 8,9
11,1
X = 0,2 = 55 kg.

Azas Teknik Kimia Page 112


D. Aliran gas buang (Purge)
Pada jenis aliran ini biasanya dilakukan bersama dengan aliran balik.
Contoh:
1. sintesa ammonia mdilakukan dengan mereaksikan nitrogen dan gas hydrogen dalam
reactor. Suatu campuran nitrogen dan hydrogen dengan perbandingan 1:3 yang mengandung
argon 0,2 mol tiap 100 mol (N2+H2) dalam umpan segar. Hasil yang diperoelh mempunyai
mkesempurnaan reaksi 25%. Kemurnian ammonia dilakukan dengan cara pencairan dan
dipisahkan dari gas-gas yang tidak dikehendaki. Campuran gas-gas yang telah dipisahkan
dari ammonia cair sebagian dimasukkan kembali ke dalam reactor dan sebagian dibuang
untuk mengurangi kadar argon ( sebab argon dengan kadar tinggi akan mengganggu reaksi).
Kadar argon yang tertinggi yang diijinkan adalah 5 bagian dalam 100 bagian (N2+H2) dalam
umpan reactor. Berapa arus buangan dinyatakan dalam % dari arus recycle, dengan anggapan
semua ammonia mencair?.
Jawab:
Reaksi:
N2+ 3H2 2 NH3
Basis : 100 mol umpan segar (N2+H2)
Mol (N2+H2) masuk reactor = 100 + X
Diagram alir proses:

Y= arus buangan

X = Arus balik
umpan:
Reaktor pendingin
100 mol(N2+H2)
0,2 mol Ar

kadar Ar maks. 5% NH3 cair


dari campuran N2+H2

Mol (N2+H2) keluar reactor = (1-0,25)(100+X) = 0,75(100+X)


0,25(100 X )
Mol NH3 yang terbentuk =
2
Mol Ar dalam umpan segar = 0,2
Mol Ar masuk reactor (total) = 0,05(100+X)

Azas Teknik Kimia Page 113


0,05
Mol Asr per mol (N2+H2) dalam X atau Y = 0,75 = 0,0667

Mol Ar dalam buangan = 0,0667 Y


Neraca untuk argon:
Argon yang masuk = argon yang keluar
0,0667 Y = 0,2 Y = 3,00 mol
Neraca di sekitar arus buang untu (N2+H2):
0,75(100+X) = X+Y
X = 288 mol.
Dengan demikian:
(N2+H2) sebagai umpan segar = 100 mol
arus balik (N2+H2) = 288 mol
arus buangan = 3 mol
ammonia yang dihasilkan = 48,5 mol
argon dalam umpan segar = 0,2 mol
recycle ratio = 288/100 = 2,88
purge ratio = 3/288 = 0,0104
arus buangan+arus balik = 291
3
%arus buangan = 291,1 .100% = 1,03%

2. Etilen oksid secara komersial diproduksi dari reaksi antara etilen dan udara menurut reaksi:
C2H4 + O2 CH2CH2O
Umpan segar yang masuk ke dalam reactor mempunyai perbandingan 10 mol udara dan 1
mol etilen. Konversi reaksi dalam reactor adalah 25%. Tambahan O2 sebagai makeup
dimasukkan melalui aliran balik dan sebagian gas dibuang sehingga konsentrasinya yang
masuk ke dalam reactor sekitar 1%.

LATIHAN
a. Sebuah pabrik pembuatan CO2 cair menggunakan bahan baku batuan kapur dolomite dan
larutan asam sulfat pekat. Hasil analisis batuan dolomite (dalam %berat): 68,0% CaCO 3;
30,0% MgCO3; dan 2,0% SiO2, sedangkan larutan asam sulfat mempunyai kadar 94% H2SO4
dan 6% air (H2O).
a. tulis reaksi yang terjadi
b. berapa pound (lb) CO2 yang dihasilkan dari setiap ton dolomite
c. berapa lb asam sulfat yang dibutuhkan per ton dolomite
d. berapa lb larutan asam sulfat pekat yang dibutuhkan per ton dolomite

Azas Teknik Kimia Page 114


b. Hasil analisis batu bara menunjukkan kandungan karbon (C) (dalam % berat)sebesar 74%
dan 12% abu. Setelah batu bara tersebut dibakar, gas hasil pembakarannya setelah dianalisis
secara Orsat (% volum) mengandung 12,4% CO2; 1,2% CO; 5,7% O2; 80,7% N2. Anggap
dalam batu bara tidak ada N2.
a. tulis reaksi pembakaran tersebut
b. berapa lb batu bara yang dapat dibakar per 100 mol gas hasil pembakaran
c. berapa % excess udara
d. berapa lb udara digunakan per lb batu bara

c. Suatu proses pencampuran dilakukan dalam dua tangki secara seri. Pada tangki I
dilakukan pencampuran larutan A dengan larutan B yang masing-masing mempunyai
komposisi: (%berat)
Larutan A: 4% NaCl, 5% HCl, 4% H2SO4, dan 87% H2O
Larutan B: 91% H2O dengan 9% padatan terlarut (inert solid)
Campuran kedua larutan itu (larutan C) dimasukkan kedalam tangki II, bersama-sam dengan
larutan D dan larutan E. Komposisi masing-masing larutan D dan E adalah:
Larutan D: 2% HCl, 2% H2SO4, 96% H2O
Larutan E: 1,5% HCl; 1,5% H2SO4; 97% H2O
Campuran yang keluar dari tangki II (Larutan F) sebanyak 290 kg/menit dengan komposisi
1,38% NaCl; 2,55% HCl; 2,21 % H2SO4; 92,32% H2O dan 1,55% padatan terlarut.
a. Sket proses tersebut
b. Hitung besar aliran (kg/menit) untuk tiap arus (larutan A, B, C, D dan E)

4. Gas amonia (NH3) direaksikan dengan oksigen berlebih 20% dalam suatu reaktor. Reaksi
yang terjadi menurut persamaan:
4 NH3 + 5 O2 4 NO + 6 H2O
Kesempurnaan reaksi adalah 70%. Amonia yang tidak bereaksi dikembalikan ke dalam
reaktor bersama umpan segar.
a. Hitung NO yang terbentuk setiap 100 lb umpan segar amonia
b. Hitung amonia yang di recycle per lbmole NO yang terbentuk

PUSTAKA
Chopey, N.P. dan Hicks, T.G., 1984, Handbook of Chemical Enginineering Calculations,
McGraw-Hill Book Company, New York.
Glasstone, S., 1946, Text Book of Physical Chemistry, Van Nostrand Co., New York.
Henley, E. J dan Bieber, H., 1959, Chemical Engineering Calculation Mc Graw-Hill, New
York.
Himmelblau, D. M., 1989, Basic Principles and Calculations in Chemical Engineering, 6th
edition, Prentice-Hall International, Inc, London.
Maron, S.H. dan Lando, J.B., 1974, Fundamental of Physical Chemistry, Macmillan
Publishing Co. Inc., New York
Williams, E.T and Johnson, R. C., 1958, Stoichiometry for Chemical Engineers, Mc Graw-
Hill, new York

BAB VII
NERACA MASSA TAK TUNAK

Azas Teknik Kimia Page 115


Dalam mempelajari bagian ini, siswa diharapkan mampu:
1. Mengerti dan dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan neraca massa tak tunak
2. Dapat menuliskan persamaan neraca massa tak tunak dengan benar
3. Menyelesaikan neraca massa tak tunak dengan benar

PENDAHULUAN
Neraca massa tak tunak mempunyai prinsip yang sama dalam persamaan neraca massa
secara menyeluruh. Pada keadaan tak tunak menjelaskan adanya akumulasi bahan di dalam
alat. Dengan kata lain, proses yang terjadi tergantung pada waktu. Setiap saat ada perubahan
baik pertumbuhan maupun pengurangan bahan seiring dengan waktu yang berjalan.
Nerca massa keadaan tak tunak seperti pada persamaan (1) yang ditulis kembali, yaitu

akumulasi massa

=

dalam sistem
massa masuk massa keluar massa tumbuh massa terambil

+
.............(1).

melalui pembatas melalui pembatas dalam sistem dalam sistem


Jika tidak terjadi reaksi kimia, neraca massa itu seperti persamaan (2), yaitu
Akumulasi = Massa masuk - Massa keluar (2).
Penyelesaian persamaan neraca massa tak tunak, umumnya berupa persamaan differensial
(PD). Oleh karena itu, neraca massa tak tunak ini menjadi dasar dari mata
pelajaranMatematika Teknik Kimia. Disini dipaparkan cara mencari/membuat persamaan
neraca massa tak tunak dan tidak sampai membahas cara penyelesaian persamaan itu.
Persamaan di atas menggunakan satuan massa per waktu dan berlaku untuk seluruh bahan
yang ditinjau. Pada persamaan (2), neraca massa dapat diterapkan baik pada keseluruhan
bahan atau masing-masing komponen. Aliran masuk dan aliran keluar dapat bersifat
konvektif akibat badan alir (bulkdfow) atau molekuler karena difusi. Pada umumnya
diperoleh persamaan kontinyuitas untuk setiap komponen di dalam sistem. Bila ada j
komponen maka terdapat j persamaan kontinyuitas komponen pada sistem itu. Namun,

Azas Teknik Kimia Page 116


persamaan neraca massa atau mol total dan j persamaan kontinyuitas komponen tidak
semuanya berdiri sendiri, karena jumlah massa komponen sama dengan massa total dari
keseluruhan bahan. Dengan demikian, pada setiap sistem yang terdiri atas j komponen hanya
mempunyai j persamaan kontinyuitas yang berdiri sendiri. Seperti pada neraca massa dalam
sistem, maka ada j persamaan ditambah satu persamaan neraca massa total.
Di dalam penyusunan persamaan sering kali diperlukan hukum-hukum yang mendasari
pada peristiwa atau proses yang mengakibatkan adanya perubahan sifat. Pada neraca massa,
perstiwa yang mengiringi itu adalah proses-proses keseimbangan dan proses kecepatan
perpindahan massa dan kimia.
Keseimbangan pada umumnya dibedakan atas keseimbangan kimia dan fisika. Pada hal
keadaan seimbang yang telah dicapai, pada keseimbangan kimia, diperoleh hubungan antara
konsentrasi bahan-bahan dalam sistem, dan pada keseimbangan fisik, terdpat hubungan
antara komposisi fasa-fasa yang terdapat dalam sistem tersebut. Hukum yang mendasari
keseimbangan fasa dalam sistem cair-uap adalah hukum Raoult. Prinsip keseimbangan fisik
lain adalah relative volatility dari komponen satu terhadap yang lain dalam suatu campuran.
Proses kecepatan berhubungan dengan peristiwa perpindahan (transfer) dan reaksi kimia.
Hukum-hukum yang mendasari proses perpindahan semuanya mempunyai bentuk suatu flux
(kecepatan perpindahan per satuan luas) yang berbanding lurus dengan gaya penggerak
(driving force). Pada perpindahan massa, gaya penggerak yang ada berupa suatu gradien
konsentrasi atau kecepatan dengan suatu faktor perbandingan. Umumnya sebagai fsktor
perbandingan dalam perumusan berupa sifat fisis dari bahan (sistem) seperti difusivitas dan
viskositas.
Pada proses perpindahan molekuler, hukum-hukum yang mendasarinya adalah hukum
Fourier, Fick, dan Newton. Hubungan perpindahan massa dan molekuler yang lebih bersifat
makroskopis seringkali digunakan dalam pemecahan persoalan, misalnya koefisien film
individu dan koefisien film keseluruhan.
Persamaan yang mendasari proses perpindahan dapat dinyatakan:
gaya penggerak
Keepatan proses perpindahan = .....................................(VII-1),
tahanan
Atau
Kecepatan proses perpindahan =(faktor perbandingan)(gaya penggerak) ..(VII-2).
Persamaan perpindahan massa cara difusi molekuler dinyatakan dalam hukum Fick, yaitu
N dC
= ............................................................................(VII-3).
A dx

Azas Teknik Kimia Page 117


Dengan, N = massa yang dipindahkan per satuan waktu
A = luas permukaan yang tegak lurus arah perpindahan massa,
C = konsentrasi,
= difusivitas
x = jarak atau posisi
dC
= gradien konsentrasi
dx
Untuk perpindahan massa secara konveksi, yang biasanya terdapat pada perpindahan massa
dari permukaan padat ke fluida yang mengalir, persamaan kecepatannya pada keadaan
turbulen ddapat dituliskan:
N
= kc (C1 C2) ...........................................................(VII-4),
A
Dengan, kc = koefisien perpindahan massa,
C1 = konsentrasi pada permukaan,
C2 = konsentrasi pada fluida yang mengalir.
Hukum viskositas Newton dipakai untuk menyatakan perpindahan momentum secara
molekuler dengan hubungan sebagai berikut.
dVx
yx = - ..........................................................(VII-5),
dy

Dengan, yx = tegangan geser,


= viskositas
Vx = kecepatan ke arah x,
y = jarak ke arah tegak lurus terhadap x.
Tegangan geser yx dapat diinterpertasikan sebagai flux ke arah y dari momentum yang
mempunyai arah x.
Pada massa yang mengalami reaksi kimia, persamaan kecepatan reaksi kimia dapat
dinyatakan dalam hubungan sebagai berikut:
r = k CAa CBb .................................................................(VII- 6),
dengan, r = kecepatan reaksi,
k = tetapan kecepatan reaksi,
C = konsentrasi pereaksi,
a, b = tetapan, nilainya tidak tentu sama dengan koefisien reaksi secara
stoichiometri.
Berikut contoh-contoh neraca massa tidah tunak.

Azas Teknik Kimia Page 118


Prinsip neraca massa.
1. Sebuah tangki berisi air sebanyak g gallon. Pada saat yang bersamaan
dimasukkan masing-masing garam dan larutan garam dengan kecepatan q lb/menit dan r
gpm. Larutan garam mempunyai konsentrasi w lb/gallon. Tangkin dilengkapi dengan
pengaduk, sehingga dapat dianggap bahwa larutannya selalu homogen dan anggap bahwa
garam tidak mengubah volum larutan dalam tangki. Ditanyakan: berapa konsentrasi larutan
sesudah t menit dan dalam wktu berapa menit keadaan ajeg dicapai?.
Penyelesaian:
Larutan garam r gpm garam padat
C = w lb/gal q lb/menit

Volum tetap = g gallon

Pada proses tersebut mula-mula tangki hanya berisi air yang kemudian dimasukkan garam
padat dan larutan garam. Hal itu menunjukkan bahwa setiap saat larutan di dalam tangki
mempunyai konsentrasi garam yang berubah atau prosesnya adalah tidak tunak.
Misalkan, pada saat t menit, garam dalam tangki berjumlah x lb, bila dikenakan ke dalam
neraca massa garamnya saja adalah:
Masuk keluar = akumulasi
1. Garam dari larutan: sebagai larutan: x

W.r.t ( x ).r.t
g

2. garam padat:
q.t
__________________________________________________ +

(w.r + q)t - ( x ).r.t = x


g

[(w.r + q) - ( x ).r]t = x
g

Azas Teknik Kimia Page 119


x
= (w.r + q) - ( x ).r
t g

lim x = (w.r + q) - ( x ).r


t 0
t g

Untuk t0, maka x x, sehingga


dx x
= (w.r + q) - ( g ).r
dt
Atau
dx r
= (w.r + q) - ( g ).x
dt
dx
Persamaan ini mempunyai bentuk : =a-bx
dt
dx
Atau, = dt
a bx
1 d ( bx ) 1 d (a bx )
( ) = ( ) = dt
b a bx b (a bx )
t x
1 d(a bx )
0 dt = ( b ) 0 (a bx )
a bx r
- bt = ln dengan: a = Wr+q dan b = g sehingga persamaan ini dikembalikan semula
a
berbentuk:
r
r ( W.r q ) x
g
.t = ln g ...........................(a)
W.r q

dx
Pada keadaan tunak, tidak tergantung pada waktu atau =0, maka
dt
r
(w.r + q) - ( g ).x = 0

Jika W, r, q, dan g diketahui, maka x dapat dicari, yang nerupakan konsentrasi pada saat
keadaan tunak dan waktu yang dibutuhkan dapat dicari dari persamaan (a).
2. Berikut ini soal yang mirip seperti yang pertama di atas, tetapi dengan volum yang
berubah.
Sebuah tangki yang mula-mula berisi air sebanyak 2 m 3, ke dalamnya dimasukkan
larutan garam dengan konsentrasi 20 kg/m3 dengan kecepatan 0,02 m3/detik. Pada waktu
yang sama, cairan dalam tangki dikeluarkan dengan kecepatan 0,01 m 3/detik. Tangki

Azas Teknik Kimia Page 120


dilengkapi dengan pengaduk, sehingga dapat dianggap bahwa larutan selalu homogen.
Berapa konsentrasi larutan garam dalam tangki setelah tangki berisi 4 m3 cairan?.

Penyelesaian:
Larutan garam 0,02 m3/detik
C = 20 kg/m3

Volum berubah, V m3
Konsentrasi x kg/m3

0,01 m3/detik, x kg/m3


Kondisi di dalam tangki, yaitu volum dan konsentrasi garam yang ada selalu berubah
setiap saat. Hal itu dapat diperhatikan dari inspeksi, bahwa mula-mula tangki hanya berisi air,
kemudian dimasuki larutan garam dengan konsentrasi 20 kg/m3. pada saat yang sama ada
pengeluaran cairan. Dalam peristiwa itu pula tergambar bahwa ada akumulasi didalam tangki
akibat dari perbedaan laju pemasukan dan pengeluaran. Dengan jelas disebutkan bahwa
pemasukan sebesar 0,02 m3/detik, sedangkan pengeluarannya 0,01 m3/detik. Hal ini akan
menyebabkan perubahan konsentrasi garam di dalam tangki. Sistem berada dalam keadaan
tidak tunak. Dengan mengambil inkremen waktu t, yaitu dari waktu t sampai dengan (t +
t), perubahan dalam sistem, yaitu volum dan konsentrasi garam. Perubahan volum setelah
t, sebesar (V + V). Demikian juga dengan perubahan konsentrasi, sebesar (x + x).
Keadaan sistem berubah diperlihatkan dalam tabel berikut.
Besaran sistem Saat t Saat (t + t)
Kecepatan lar garam masuk, m3/det 0,02 0,02
Konsentrasi garam masuk, kg/m3 20 20
Kecepatan larutan keluar, m3/det 0,01 0,01
Konsentrasi garam keluar, kg/m3 x x + x
Volum cairan dalam tangki, m3 V V + V
Jumlah garam dalam tangki, kg V.x (V + V)( x + x)

Selama interval waktu t:


Larutan garam masuk = 0,02 . t
Larutan garam keluar = 0,01. t
Larutan garam terakumulasi = V

Azas Teknik Kimia Page 121


Persamaan neraca massa:
Masuk keluar = akumulasi
Dengan menganggap densitas larutan tetap, maka neraca massa totalnya:
0,02 t 0,01 t = V
0,01t = V dengan mengambil limit t0, diperoleh:
dV
= 0,01 ........................................(a)
dt
Neraca massa untuk garam:
Garam masuk = (0,02)(20)( t) = 0,4 t
Garam keluar = (0,01)(x)( t)
Akumulasi garam = (V+V)(x+x) V.x
Persamaan neraca massanya menjadi:
0,4 t - (0,01)(x)( t) = (V+V)(x+x) V.x
[0,4 - (0,01)(x)]( t) = (V.x) + (V.x)+(V.x)+(V.x) V.x
[0,4 - (0,01)(x)]t = (V.x)+(x.V)+(V.x)
Dengan mengambil limit t0, maka suku terakhir 0
dx dV
0,4 - (0,01)(x) = V +x ................................(b).
dt dt
Persamaan (a) dapat diselesaikan, yaitu
dV
= 0,01 dV = 0,01 dt V = a + 0,01 t
dt
dengan batasan, pada saat t = 0, V = 2, maka diperoleh a = 2, sehingga persamaan V adalah
V = 2 + 0,01t .............................................................(c).
Gabungan persamaan (a), (b), dan (c) memperoleh
dx
0,4 - (0,01)(x) = (2 + 0,01 t) + 0,01. x
dt
dx
40 x = (200 + t) +x
dt
dx dt
= ...........................................(d).
(40 2 x ) (200 t )

Integrasi persamaan (d):


dx dt
(40 2 x ) = (200 t )

- ln (40-2x) = ln (200+t) + a

Azas Teknik Kimia Page 122


dengan batasan, pada saat awal (t = 0), konsentrasi garam dalam tangki, x = 0,
diperoleh: -1/2 ln 40 = ln 200 + a diperoleh nilai a.
Dengan memasukkan nilai a ke dalam persamaan (e), diselesaikan dan diatur letaknya maka
diperoleh hubungan konsentrasi garam dalam tangki, x, dengan waktu,t, yaitu:
x = 20 20(1 + 0,005 t)-2 ........................................(f).
Volum tangki selama waktu tertentu dicari dengan persamaan (c).
Jadi, pada volum tangki 4 m3, dari persamaan (c) diperoleh waktu:
4-2 = 0,01t t = 200 menit
Pada t = 200, masuk pada persamaan (f), diperoleh konsentrasi garam:
x = 20 20(1 + 0,05.200)-2 = 15 kg/m3.

Prinsip neraca massa dan keseimbangan


Campuran berupa cairan biner bahan A dan B sebanyak w 0 gmol didestilasi secara
batch. Fraksi mol A dalam campuran adalah x 0. relative volatility A terhadap B dianggap
tetap sebesar . Hitung fraksi mol A dalam cairan sisa dengan fraksi mol A pada destilat yang
ditampung, pada saat cairan sisa mencapai w1?.
Penyelesaian:
Gambar:

W gmol, x

Pemanas Penampung

Dari gambar di atas:


W = cairan sisa dalam labu setiap saat, gmol
x = fraksi mol A dalam cairan setiap saat
y = fraksi mol A dalam uap setiap saat
D = jumlah destilat setiap saat, gmol
xD = fraksi mol A dalam destilat.

Azas Teknik Kimia Page 123


Disini terlihat bahwa pada setiap saat jumlah destilat semakin banyak dan fraksi mol A di
dalamnya berubah setiap saat. Hal itu terjadi karena pada proses destilasi bahan A akan
terpisah dari campurannya (prinsip destilasi).
Neraca mol total dalam labu:
Masuk keluar = akumulasi
Dalam proses destilasi secara batch tidak ada pemasukan (=0). Proses ditinjau selama interval
waktu t, yaitu dari t sampai (t + t). Misal, uap yang terjadi dalam interval waktu t
sebanyak V mol dan yang tersisa sebesar W. Neracanya menjadi:
0 - V = W ......................................................(a).
Neraca mol A dalam labu:
Masuk keluar = akumulasi
0 - V. y = (W.x) .(b).
Persamaan (a) dan (b) diperoleh:
W. y = (W.x)
Atau
( W.x )
y =
W
Ambil limit W0, maka
d ( Wx )
= y (c).
dW
Pada persamaan (c) terdapat 3 (tiga) peubah (W, x, dan y), sehingga harus dicari hubungan
yang lain. Hubungan itu terdapat antara x dan y dalam keseimbangan.
Dengan menganggap uap yang terjadi di dalam labu didih selalu seimbang dengan
cairan sisa dalam labu, maka relative volatility A terhadap B dapat dinyatakan:
y x
( ) = ( )
1 y 1 x
Atau
x
y= .............................................(d).
1 ( 1) x

Gabungan persamaan (c) dan (d) dapat diselesaikan:


d ( Wx ) x
=
dW 1 ( 1) x

dx x
x+W =
dW 1 ( 1) x

Diperoleh:

Azas Teknik Kimia Page 124


dx
dW
= x ............................(e)
W x
1 ( 1) x

Integrasi persamaan (e), dengan batasan W = W0, x = x0 dan W = W1, x = x1:


x1
w1 dx
dW
w W = x .....................(f).
x0 x
0
1 ( 1) x
Dari persamaan (f) dapat diketahui hubungan W1 dan x1.
Fraksi mol A dalam distilat (xD) dihitung dengan neraca massa (mol) total seluruh sistem dan
neraca komponen (mol) A, yaitu
Neraca mol total sistem:
W0 = W1 + D ..............................................(g),
Dan neraca komponen mol A:
W0.x0 = W1.x1 + D.xD ..............................(h).
Jika diketahui, bahwa W0 = 20 gmol, x0 = 0,5 dan = 2, carilah x1 dan xD saat W1 = 10
gmol!. Kerjakan sebagai latihan!.

Kondensor
r

Pemisah

Refluk Distilat

Feed Kolom
Distilasi

Reboiler

Bottom

Azas Teknik Kimia Page 125


AZAS TEKNIK KIMIA
SEMESTER IV

DAFTAR ISI
BAB I PANAS (KALOR) 127
Pengertian Kalor 127
Satuan Kalor 128
Notasi 128
Perpindahan Kalor 128
Macam-macam Kalor 131
Hukum Kekekalan Energi Kalor 131
Rangkuman dan Latihan 133

BAB II PROSES REVERSIBEL 135


Pendahuluan 135
Contoh Proses Reversibel 139
Perhitungan Kerja Reversibel untuk Proses Alir 144
Rangkuman 145
Latihan Soal 146

BAB III NERACA ENERGI 147


Sistem dan Lingkungan 147
Aplikasi Sistem Terbuka dan Tertutup 149
Rangkuman 152
Latihan Soal 153

BAB IV PPIC (Production Planning and Inventory Control) 155


Pengertian PPIC 155
Tujuan PPIC 155
Persediaan 155
Faktor-faktor dalam Pengendalian Persediaan 161
Metode Pengendalian Persediaan 163

BAB V PENGADUKAN DAN PENCAMPURAN 170


Pengadukan 170
Pencampuran 170
Posisi Sumbu Pengaduk 172
Jenis-jenis Pengaduk 173
Kebutuhan Daya Pengaduk 176
Laju dan Waktu Pencampuran 177

BAB VI REAKTOR KIMIA 178


Reaktor Kimia 178
Jenis Reaktor Berdasarkan Bentuknya 178
Jenis Reaktor Berdasarkan Keadaan Operasinya 181
Reaktor Gas Cair dengan Katalis Padat 181
Fluid-fluid Reaktor 182

Azas Teknik Kimia Page 126


BAB I : PANAS (KALOR)

1.1 Pendahuluan

Dalam Kehidupan sehari hari, istilah panas memang bukan hal yang baru untuk di
bahas. Apabila dua buah benda yang berbeda temperaturnya saling berkontak termal,
temperatur benda yang lebih panas berkurang sedangkan temperatur benda yang lebih dingin
bertambah. Ada sesuatu yang berpindah dalam kasus ini ?
Benyamin Thomson/Count Rumford (1753-1814) dengan eksperimennya, dia
mengebor logam, teramati bahwa mata bor menjadi panas dan didinginkan dengan air
(sampai airnya mendidih), tentunya dari teori kalorik, kalorik tersebut lama kelamaan akan
habis dan ternyata bila proses tersebut berlanjut terus kalorik tersebut tidak habis, jadi teori
kalorik tidak tepat. Jadi panas / kalor bukanlah sebuah materi.

I.2 Tujuan
Untuk mengetahui pengertian panas
jenis jenis panas dan yang berhubungan dengan panas lain nya.

I.3 Manfaat
Dapat mengetahui pengertian panas, jenis jenis panas dan yang berhubungan dengan
panas lain nya.

1.4 Materi

1.4.1 Pengertian

kalor
T1 T2 T1>T2

Gambar 1.1 Pengertian kalor

Kalor / panas adalah bentuk energi yang berpindah dari suhu tinggi ke suhu rendah.
Jika suatu benda menerima / melepaskan kalor maka suhu benda itu akan naik/turun atau
wujud benda berubah.

Kapasitas kalor (H) adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan oleh zat untuk
menaikkan suhunya 1C (satuan kalori/C).
Kalor jenis (c) adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan 1
gram atau 1 kg zat sebesar 1C (satuan kalori/gram.C atau
kkal/kg C)
1.4.2 Satuan Kalor

Azas Teknik Kimia Page 127


Satuan kalor adalah kalori dimana, 1 kalori adalah kalor yang diperlukan untuk
menaikkan temperatur 1 gr air dari 14,5 C menjadi 15,5 C.
Dalam sistem British, 1 Btu (British Thermal Unit) adalah kalor untuk menaikkan
temperatur 1 lb air dari 63 F menjadi 64 F.
1 kal = 4,186 J = 3,968 x 10-3 Btu
1 J = 0,2389 kal = 9,478 x 10-4 Btu
1 Btu = 1055 J = 252,0 kal
1.4.3 Notasi

Ketika suatu benda melepas panas ke sekitarnya, Q < 0. Ketika benda menyerap panas
dari sekitarnya, Q > 0.
Jumlah panas, kecepatan penyaluran panas, dan flux panas semua dinotasikan dengan
perbedaan permutasi huruf Q. Mereka biasanya diganti dalam konteks yang berbeda.
Jumlah panas dinotasikan sebagai Q, dan diukur dalam joule dalam satuan SI.

di mana
adalah banyaknya kalor (jumlah panas) dalam joule
adalah massa benda dalam kg
adalah kalor jenis dalam joule/kg C, dan
adalah besarnya perubahan suhu dalam C.

1.4.4 Perpindahan Kalor


Bila dua benda atau lebih terjadi kontak termal maka akan terjadi aliran kalor dari
benda yang bertemperatur lebih tinggi ke benda yang bertemperatur lebih rendah, hingga
tercapainya kesetimbangan termal.
Proses perpindahan panas ini berlangsung dalam 3 mekanisme, yaitu : konduksi,
konveksi dan radiasi.
1.4.4.1. Konduksi
Proses perpindahan kalor secara konduksi bila dilihat secara atomik merupakan
pertukaran energi kinetik antar molekul (atom), dimana partikel yang energinya rendah dapat
meningkat dengan menumbuk partikel dengan energi yang lebih tinggi.
Sebelum dipanaskan atom dan elektron dari logam bergetar pada posis setimbang.
Pada ujung logam mulai dipanaskan, pada bagian ini atom dan elektron bergetar dengan
amplitudi yang makin membesar. Selanjutnya bertumbukan dengan atom dan elektron

Azas Teknik Kimia Page 128


disekitarnya dan memindahkan sebagian energinya. Kejadian ini berlanjut hingga pada atom
dan elektron di ujung logam yang satunya. Konduksi terjadi melalui getaran dan gerakan
elektron bebas.

T2 T1 T1

Aliran kalor

A
x
Gambar 1.2 Aliran kalor pada proses perpindahan secara konduksi
Bila T2 dan T1 dipertahankan terus besarnya, maka kesetimbangan termal tidak akan
pernah tercapai, dan dalam keadaan mantap/tunak (stedy state), kalor yang
mengalir persatuan waktu sebanding dengan luas penampang A, sebanding dengan
perbedaan temperatur T dan berbanding terbalik dengan lebar bidang x

Q/t = H A T/x

Untuk penampang berupa bidang datar :

T1 T2
L

H = - k A (T1 - T2 ) / L

k adalah kondutivitas termal.

Konduktivitas termal untuk beberapa bahan :


Bahan k (W/m.Co) Bahan k (W/m.Co)
Aluminium 238 Asbestos 0,08

Azas Teknik Kimia Page 129


Tembaga 397 Concrete 0,8
Emas 314 Gelas 0,8
Besi 79,5 Karet 0,2
Timbal 34,7 air 0,6
Perak 427 kayu 0,08
udara 0,0234

Untuk susunan beberapa bahan dengan ketebalan L1, L2,, ... dan konduktivitas
masing-masing k1, k2,, ... adalah :

H = A (T1 - T2 )
(L1/k1)

k1 k2
T1 L1 L2 T2

1.4.4.2. Konveksi
Apabila kalor berpindah dengan cara gerakan partikel yang telah dipanaskan
dikatakan perpindahan kalor secara konveksi. Bila perpindahannya dikarenakan perbedaan
kerapatan disebut konveksi alami (natural convection) dan bila didorong, misal dengan fan
atau pompa disebut konveksi paksa (forced convection).
Besarnya konveksi tergantung pada :
a. Luas permukaan benda yang bersinggungan dengan fluida (A).
b. Perbedaan suhu antara permukaan benda dengan fluida (T).
c. koefisien konveksi (h), yang tergantung pada :

viscositas fluida
kecepatan fluida
perbedaan temperatur antara permukaan dan fluida
kapasitas panas fluida

Azas Teknik Kimia Page 130


rapat massa fluida
bentuk permukaan kontak

Konveksi : H = h x A x T

1.4 4.3. Radiasi


Pada proses radiasi, energi termis diubah menjadi energi radiasi. Energi ini termuat
dalam gelombang elektromagnetik, khususnya daerah inframerah (700 nm - 100 m). Saat
gelombang elektromagnetik tersebut berinteraksi dengan materi energi radiasi berubah
menjadi energi termal.
Untuk benda hitam, radiasi termal yang dipancarkan per satuan waktu per satuan
luas pada temperatur T kelvin adalah :
E = e T4.
dimana : konstanta Boltzmann : 5,67 x 10-8 W/ m2 K4.
e : emitansi (0 e 1)

1.4.5 Macam-macam panas

1.4.5.1 Panas Sensibel

Perpindahan panas pada suatu sistem di mana tidak terjadi perubahan fase, reaksi kimia, dan
perubahan komposisi sehingga menyebabkan perubahan temperatur sistem tersebut. Contoh:
merebus air

1.4.5.2 Panas Laten

Perpindahan panas pada suatu system dimana terjadi perubahan fase tetapi suhu tetap
(konstan). Contoh: proses yang terjadi pada evaporator.

1.4.6 Hukum kekekalan energi kalor

1.4.6.1 Kesetaraan Mekanik dari Kalor.


Dari konsep energi mekanik diperoleh bahwa bila gesekan terjadi pada sistem
mekanis, ada energi mekanis yang hilang. Dan dari eksperimen diperoleh bahwa energi yang
hilang tersebut berubah menjadi energi termal.

Azas Teknik Kimia Page 131


Dari eksperimen yang dilakukan oleh Joule (aktif penelitian pada tahun 1837-1847)
diperoleh kesetaraan mekanis dari kalor :
1 kal = 4,186 joule

1.4.6.2 Asas Black

Menurut Asas Black apabila ada dua benda yang suhunya berbeda kemudian
disatukan atau dicampur maka akan terjadi aliran kalor dari benda yang bersuhu tinggi
menuju benda yang bersuhu rendah. Aliran ini akan berhenti sampai terjadi keseimbangan
termal (suhu kedua benda sama). Secara matematis dapat dirumuskan :

Q lepas = Q terima

Yang melepas kalor adalah benda yang suhunya tinggi dan yang menerima kalor adalah
benda yang bersuhu rendah. Bila persamaan tersebut dijabarkan maka akan diperoleh :

Q lepas = Q terima

m. C. T = m. C. T

1.5 Contoh Soal


Tentukan berapa banyak kalor yang di butuh kan untuk memanas kan 10 kg air supaya suhu
nya naik dari 100C manjadi 600C? (jika di ketahui kalor jenis air 4.200 j/Kg 0C)

Penyelesaian :

Diketahui : m = 10 Kg

T = ( 60 10 ) = 500C

C = 4.200 j/Kg 0C

Jawab : Q = m . C . T

= 10 . (4.200). 50

= 2.100.000 j

1.6 Rangkuman

Setelah mempelajari bab 1, siswa dapat menyimpulkan bahwa:

Azas Teknik Kimia Page 132


1. Kalor / panas adalah bentuk energi yang berpindah dari suhu tinggi ke suhu rendah. Jika
suatu benda menerima / melepaskan kalor maka suhu benda itu akan naik/turun atau
wujud benda berubah.
2. Satuan kalor adalah kalori
3. Proses perpindahan panas berlangsung dalam 3 mekanisme, yaitu : konduksi, konveksi
dan radiasi.
4. Apabila ada dua benda yang suhunya berbeda kemudian disatukan atau dicampur maka
akan terjadi aliran kalor dari benda yang bersuhu tinggi menuju benda yang bersuhu
rendah. Aliran ini akan berhenti sampai terjadi keseimbangan termal (suhu kedua benda
sama) yang dikenal Asas Black

1.7 Latihan Soal


1. Jelaskan perbedaan proses perpindahan panas secara konduksi, konveksi dan radiasi.
2. Tentukan energi kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan es yang memiliki massa 2 Kg
dan bersuhu -20o Celcius hingga menjadi air yang bersuhu 70o Celcius ( Kalor jenis air =
4.200 Joule/kgC, Kalor lebur es = 334.000 J/kg, Kalor jenis es= 2.090 Joule/kgC )
Catatan : ada tiga fase yang terjadi :
a. Fase perubahan suhu es dari -20o C menjadi es bersuhu 0o C.
b. Fase perubahan wujud es menjadi air pada suhu 0o C.
c. Fase perubahan suhu air dari 0o C menjadi es bersuhu 70o C.
3. Sepotong es bermassa 100 gram bersuhu 0C dimaskkan kedalam secangkirair bermassa
200 gram bersuhu 50C.
Jika kalor jenis air adalah 1 kal/grC, kalor jenis es 0,5 kal/grC, kalor lebur es 80kal/gr
dan cangkir dianggap tidak menyerap kalor, berapa suhu akhir campuranantara es dan air
tersebut?

Penyelesaian:No 2
Maka kita harus menghitung satu per satu energi kalor dari setiap fase.
Fase 1 :
Q1 = M. C. T
Q1 = 2 x 2.090 x 20 << menggunakan kalor jenis es bukan kalor jenis air
Q1 = 83.600 Joule
Fase 2 :
Q2 = M. L
Q2 = 2 x 334.000
Q2 = 668.000 Joule
Fase 3 :
Q3 = M. C. T

Azas Teknik Kimia Page 133


Q3 = 2 x 4.200 x 70 << baru menggunakan kalor jenis air
Q3 = 588.000 Joule
Maka kita jumlahkan hasil dari ketiga fase tersebut dan didapatkan hasil akhir senilai : 83.600
+ 668.000 + 588.000 = 1.339.600 Joule

Penyelesaian No 3 :

Soal di atas tentang pertukaran kalor / Asas Black. Kalor yang dilepaskan airdigunakan oleh
es untuk mengubah wujudnya menjadi air dan sisanyadigunakan untuk menaikkan suhu es
yang sudah mencair tadi.
Q lepas = Q terima
Q1 = Q2 + Q3
Ma.Ca. Ta = M es . L es + M es . Ca . Tes
200.1 (50 t) = 100 .80 + 100.1 (t 0)
100 2t = 80 + t
3t = 20
T = 6,67 C
dengan Q1 adalah kalor yang di lepaskan air . Q2 adalah kalor yang digunakan esuntuk
melebur/mencair dan Q3 adalah kalor yang digunakan untuk menaikkansuhu es yang telah
mencair.

BAB II: PROSES REVERSIBEL

2.1 Pendahuluan

Perhatikanlah kertas yang terbakar. Apakah hasil pembakaran kertas dapat diubah
menjadi kertas seperi semula? Pengalaman menunjukkan bahwa proses itu tidak dapat
dilakukan, bukan? Reaksi seperi itu kita golongkan sebagai reaksi yang berlangsung searah
atau reaksi yang tidak dapat balik (Irreversible).

Azas Teknik Kimia Page 134


Proses-proses alami umumnya berlangsung searah, tidak dapat balik. Namun, di
laboratorium maupun dalam proses industri, banyak reaksi yang dapat balik. Reaksi yang
dapat balik kita sebut reaksi reversible.

2.2 Tujuan
Untuk Mengetahui reaksi reversible pada suatu reaksi kimia

2.3 Manfaat

Dapat mengetahui reaksi reversible pada suatu reaksi kimia

2.4 Materi

2.4.1 Pengertian Proses Reversibel

Pada hukum termodinamika kedua menunjukkan bahwa beberapa proses tidak


mungkin terjadi. Proses yang dapat terjadi dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu:

1. Proses reversible yang menimbulkan perubahan didalam suatu system dan lingkungan
yang dapat seluruhnya dihapuskan
2. Proses irreversible yang menyangkut perubahan didalam system dan lingkungan yang
bersifat permanen.

Pada modul ini kita hanya membahas tentang proses reversible. Dikatakan
reversible karena terjadi suatu proses perubahan dari system dan lingkungan, bila
seluruhnya dapat dikembalikan pada keadaan semula masing masing dengan
membalikkan arah proses. Reversibilitas merupakan kunci dari thermodinamika
klasik ; suatu system dapat selalu dikembalikan pada keadaan semula, akan tetapi hal
ini saja tidak menjamin reversibilitas. Lingkungannya dan system system lain harus
juga dikembalikan pada keadaan semula. Sebagai penjelas definisi reversibilitas, akan
dilukiskan contoh contoh yang menyangkut tiga faktor yang umunya mempengaruhi
proses teknik.

a. Gesekan
Kita perhatikan suatu gas yang diisolasi dalam suatu silinder terisolasi yang ditutup
dengan penghisap. Misalkan system (gas) mengalami expansi adiabatic dari keadaan awal
ke keadaan akhir, dan anggap bahwa ada gesekan antara pengisap dan dinding silinder.
Kerja dilakukan oleh system. Bila system ditekan kembali ke volme semula, kerja yang
diperlukan akan lebih besar daripada yang dihasilkan selama proses expansi

b. Beda Temperature Terbatas

Azas Teknik Kimia Page 135


Selama expansi, silinder dimisalkan mengadakan kontak dengan suatu reservoar panas
yang temperaturnya lebih tinggi dari temperature system. Dengan demikian panas
mengalir dari reservoar ke system, dan ini dapat dilakukan dengan menempelkan system
dengan suat reservoar panas yang temperaturnya lebih tinggi dari system. Dalam proses
penekanan ini, dibandingkan dengan proses expansi, kerja kompresi sama dengan kerja
ekspansi (karena tak ada gesekan), dan panas yang dipindahkan dari system sama dengan
panas yang dipindahkan ke dalam system. Akan tetapi lingkungan yang mencakup dua
reservoar panas tidak kembali pada keadaan semula. Panas yang dipindahkan dari system
ke reservoar yang bertemperature lebih tinggi, tidak dikembalikan ke reservoar ini, tetapi
dipindahkan ke reservoar lain. Oleh karena itu proses yang berlangsung tanpa gesekan
tetapi dengan perpindahan panas akibat benda temperature yang terbatas sering kali
disebut reversible dalam. Akan tetapi proses ini irreversible luar. Proses yang bersifat
reversible baik terhadap system maupun lingkungan sering kali disebut reversible luar.

Gambar 3.1 proses reversible dalam dan reversible luar

Gambar diatas menjelaskan apa yang menyebabkan reversibilitas dalam proses


isothermik. Untuk system yang mengalami proses nonisothermik, panas dapat dipindahkana
secara reversible pada temperature yang berbeda beda dengan menggunakan reservoar yang
banyak jumlahnya yang masing masing ada pada temperature yang berbeda sehingga setiap
kali perbedaan temperature diantara system dan reservoar adalah infinitesimal.

Azas Teknik Kimia Page 136


Gambar 3.2 Perpindahan panas secara reversible pada temperature yang berbeda
beda

ini ditunjukkan dalam gambar diatas. Misalkan system ada pada temperature T 1 dan
suatu reservoar panas pada temperature T1 + Dt ditempelkan padanya. Proses
perpindahan panas yang terjadi bersifat reversible karena perbedaan temperature yang
hanyalah infinitesimal. Bila temperature system berubah secara berturut turut reservoar
yang lain ditempelkan pada system sehingga tiap kali perbedaan temperature antara
system dan reservoar adalah infinitesimal. Sementara itu, tekanan volume system dapat
berubah mengikuti perubahan apapun asalkan tak ada gesekan dan ketidakseimbangan
gaya gaya. Pengaliran panas dengan keadaan demikian disebut sebagai bersifat kuasi
static atau reversible

c. Perbedaan Tekanan yang Terbatas


Untuk mengembalikan system pada keadaan yang semula, sejumlah panas juga harus
dipindahkan dari system (gas).
Akan tetapi dengan demikian lingkungan system diubah dengan:
1) jumlah kelebihan kerja yang diperlukan selama kompresi
2) jumlah panas yang dipindahkan pada lingkungan

karena ekspansi gas secara tiba tiba tidak reversible terhadap system beserta
lingkungannya.

Azas Teknik Kimia Page 137


Gambar 3.3 Ekspansi irreversible akibat perbedaan tekanan yang terbatas

Untuk menunjukkan bahwa proses ekspansi dapat dijadikan reversible, pengisap


dibebani dengan sejumlah beban kecil sehingga pada waktu pasak dilepaskan pengisap
dan beban ada dalam kesetimbangan dengan tekanan gas. Dengan demikian proses
menjadi kuasi static. Pada waktu gas berekspansi dan pengisap dinaikkan, beban
secara berturut turut dilepaskan sehingga tekanan system sama dengan tekanan luar.
Gambar selanjutnya menunjukkan bila pengisap mencapai puncak silinder maka semua
bebabn telah dilepaskan dan kerja oleh system sama dengan:

W1-2 = P dV

Dengan membuat beban sekecil mungkin sama besarnya, tetapi berlawanan arah/tanda,
dan baik system maupun lingkungan kembali tepat seperti keadaan semula. Jadi proses
yang terjadi reversible.

Azas Teknik Kimia Page 138


Gamabr 3.4 Ekspansi reversible melalui perbedaan tekanan infinitesimal

2.4.2 Contoh Proses Reversible

proses proses tidak dapat dibuktikan berdasarkan cara formal seperti yang
digunakan untuk membuktikkan bahwa proses bersifat irreversible. Akan tetapi, suatu
proses dikenali sebagai proses reversible bila proses tersebut tidak mengandung
elemen irreversibilitas yang disebut diatas. Dibawah ini diuraikan beberapa proses
teknik penting yang dapat dianggap reversible. perlu diperhatikan bahwa pada tiap hal
dapat ditemukan cara untuk mengembalikan system dan lingkungannya ke keadaan
semula.

a. gerakan relative tanpa gesekan


b. peregangan dan penekanan suatu pegas
c. ekspansi atau kompresi adiabatic tanpa gesekan
d. ekspansi atau kompresi isotermik
e. ekspansi atau kompresi politropik
f. elektrosa

Gambar dibawah ini mengilustrasikan suatu peralatan untuk melakukan ekspansi dan
proses kompresi isothermal bukan adiabatic.

Hal ini menunjukkan bentuk silinder piston yang beroperasi persis seperti
sebelumnya, kecuali bahwa ia ditempatkan dalam kontak dengan reservoir panas pada
suhu T. Resesvoir panas adalah tubuh yang mampu menyerap atau memberi dari
jumlah yang tidak terbatas panas tanpa perubahan suhu. Tungku yang beroperasi terus
menerus dan sebuah reactor nuklir tersebut setara dengan memanaskan reservoir.

Azas Teknik Kimia Page 139


Ketika sebuah system menjadi equilibrium dengan dikelilingi kontak yang
panjang ini ditemukan bahwa keduanya mempunyai temperature sama. Kondisi ini
disebut equilibrium suhu eksternal. Ketika temperaturnya berbeda kita menemukan
perubahan atribut aliran panas. Dari bagian panas kebagian yang lebih dingin. Ketika
tidak ada perubahan temperature tidak ada gaya dan tidak ada perpindahan panas.
Proses irreversible terjadi dari hasil terbatasnya tenaga pendorong. Proses reversible
terjadi dari hasil tenaga pendorong tak terbatas. Transfer panas irreversible ketika
perbedaan temperature terbatas dan menjadi reversible ketika perbandingan
temperature tak terbatas. Dengan mengacu gambar di atas dibuangnya berat terbatas
m dari piston tanpa gesekan menyebabkan perubahan terbatas didalam system dan
termasuk penurunan temperature di udara dan nilai inisial equilibrium dari

T ke T - T.

Suatu proses pada ekuilibrium yang mengalami gaya eksternal diferensial


(seperti suhu atau tekanan tinggi) sehingga terjadi perubahan diferensial disebut
proses reversible. system tersebut akan melalui keadaan nonekuilibrium, tetapi hanya
dengan deviasi yang sangat kecil dari ekuilibrium jika gaya pendorongnya sangat
kecil. Kebanyakan proses industry memperlihatkan perpindahan kalor pada perbedaan
suhu yang terbatas, pencampuran unsure unsure yang berbeda, tahanan elektris,
perubahan yang mendadak dalam fase, perpindahan massa dibawah perbedaan
konsentrasi yang terbatas, pengembangan bebas, penggesekkan pipa, dan
kenonidealan mekanis, kimia dan termal, dan maka dari itu dianggap irreversible.
Proses irreversible selalu melibatkan degradasi potensi proses tersebut untuk

Azas Teknik Kimia Page 140


melakukan kerja, yaitu tidak akan menghasilkan jumlah kerja maksimum yang akan
mungkin dihasilkan melalui proses reversible (jika proses seperti itu dapat terjadi).

Sebagai contoh untuk proses reversible dan irreversible yaitu amati gas dalam silinder
yang digamabarkan dalam gambar dibawah ini.

Gambar 3.5 Pengembangan Gas

Selama proses pengembangan piston bergerak sepanjang jarak x dan volume gas
yang terkurung dalam piston naik dari V1 sampai V2.

Dua gaya bekerja pada piston:

a. Gaya yang didesakkan oleh gas tersebut sama dengan tekanan kali luas
permukaan piston
b. Gaya pada batang dan kepala piston dari luar

Jika gaya persatuan luas yang didesakkan oleh gas sama dengan gaya (F) per
satuan luas (A) yang didesakkan oleh kepala piston, tidak ada yang terjadi. Jika F/A
lebih besar dari pada tekanan gas, gas akan dimampatkan, sementara F/A lebih kecil
dari pada gaya gas, gas tersebut akan mengembang.

Dalam pengembangan reversible, tidak ada energy gas yang tersedia untuk
melakukan kerja hilang karena gesekaan (friction) antara kepala silinder dan dinding
silinder, atau karena turbulensi dalam gas yang disebabkan oleh pergerakkan gas yang
cepat, tau oleh macam macam efek viskositas yang menyertai pengembangan
tersebut, atau sebab lainnya.

Azas Teknik Kimia Page 141


Jika proses tersebut ideal, kerja reversible (ideal) yang dikerjakan oleh gas
terhadap piston dapat dihitung dari:

Jika proses tersebut tak ideal, seperti kasus pada umunya, kerja yang
sebenarnya dilakukan akan menjadi lebih kecil. Proses pengembangan mungkin
sedikit memanaskan dinding silinder.

Dengan mengetahui konsep proses ideal (reversible) dan mengetahui kerja


dalam proses sebenarnya, kita dapat mendefinisikan efisiensi mekanis dengan dua
cara:

Efisiensi=1=

Atau

Efisiensi = 2=

Jenis efisiensi lainnya memperhitungkan keluaran energy yang berguna saja


dibagi dengan masukkan energy total:

Efisiensi = 3=

Dalam beberapa proses, seperti distilasi atau reactor, perpindahan kalor dan
perubahan entalphi adalah komponen energy yang penting dalam kesetimbangan energy.
Kerja, energy potensial, dan energy kinetic adalah nol atau benar benar minor. Tetapi dalam
proses proses lain, seperti pemampatan gas dan pemompaan cairan, kerja dan bentuk
mekanis dari energy adalah factor yang penting.

Untuk proses proses ini kesetimbangan energy yang hanya menangani bentuk mekanis dari
energy menjadi alat yang berguna.

Salah satu konsekuensi dari hukuk termodinamika kedua ini adalah bahwa dua
kategori energy dari kualitas yang berbeda dapat diandaikan

Azas Teknik Kimia Page 142


1. Yang disebut bentuk mekanis dari energy, seperti energy kinetic, energy potensial, dan
kerja yang dapat diubah dengan sempurna oleh mesin ideal (reversible) dari satu bentuk
kebentuk yang lain dalam golongan tersebut.
2. Bentuk energy yang lain, seperti energy dan kalor yang tidak dapat diubah dengan sangat
bebas.

Tentu saja dalam proses real dengan terjadinya pengesekan, efek viskositas,
pencampuran komponen, dan fenomena pembuangan yang mencegah konversi sempurna dari
satu bentuk energy mekanis ke yang lainnya, kelonggaran harus dibuat delam membuat
kesetimbangan pada energy mekanis untuk kehilangan dalam kualitas ini. Kesetimbangan
pada energy mekanis dapat ditulis pada basis mikroskopik untuk volume elemental dengan
mengambil produk scalar dari kecepatan local dan persamaan pergerakkan. Setelah
pengintegralan pada volume keseluruhan dari system ini kesetimbangan energy mekanis
keadaaan tunak untuk suatu system dengan pertukaran massa dengan sekitarnya menjadi,
pada basis per satuan massa.
( + )+ dp - + y =0

Untuk dan berhubungan dengan massa yang masuk dan keluar dari system, dan

Ey menunjukkan kehilangan energy mekanis, yaitu konversi ireversibel oleh fluida mengalir
dari energy mekanis menjadi energy internl. Persamaan 4 kadang kadang disebut

persamaan Bernouli khususnya untuk proses reversible untuk y= 0.

2.4.3 Contoh Soal

Hitunglah kerja reversible yang digunakan untuk memampatkan 5ft3 gas ideal yang awalnya
berada pada 1000F dari 1 sampai 10 atm dalam sebuah silinder adiabatic. Gas ini mempunyai
persamaan keadaan PV1.40= konstanta. Kemudian hitunglah kerja sebenarnya yang diperlukan
jika efisiensi proses tersebut 80%.
Jawab:

Azas Teknik Kimia Page 143


Gambar 3.6. menunjukkan jenis alat untuk pemampatan.

Volume akhir ialah:

1/40
V2=V1

1/40
=5

= 0,965 ft3

Basisnya adalah 5ft3 pada 1000F dan 1 atm

1/40
Wrev = - =- = -P1

=- ( )=

= 31,63 Btu

Tanda positif berarti bahwa kerja dilakukan pada system tersebut. Kerja
sebenarnya yang dibutuhkan ialah:

=31,63/0,8= 39,5 Btu

2. Perhitungan Kerja Reversibel untuk Proses Alir


Kita akan mengulang jawaban pada No 1 diatas, kecuali bahwa dalam masalah ini proses
akan menjadi system terbuka dalam steady state.

Jawaban:

Gambar di bawah ini menunjukkan system dan data.

Azas Teknik Kimia Page 144


n1= = [1 atm x 5ft3 x 1(lb mol)(0R)] / [560 0R x0,7302(ft3)(atm)]

= 0,0122 lb mol

p1 = 1 atm T1=5600R Kompresor reversible


adiabatic

p2= 10 atm

Gambar B

Kesetimbangan energy mekanis (per satuan massa atau mol, disini untu komponen
tunggal)

( + )+ Dp - + =0

Dapat disederhanakan

=0

=0

= 0 (Assumed reversible)

Sehingga

= dp = [ ] 1/1,40 dP

= 1 P1 0,714 [3,50(p2 0,286 p1 0,286)]

Wrev= n1 = n1 [ ] p1 0,714 [3,50 (p2 0,286 p20,286)]

= (5) (1)0,714 (3,50)[(10) 0,286 1 0,286] (ft3) (atm)

= 44,3 Btu

Azas Teknik Kimia Page 145


Kerja sebenarnya yang diperlukan untuk dilakukan pada system tersebut ialah

= 55,4 Btu

2.4.4 Rangkuman

Proses yang dapat terjadi dapat digolongkan dalam dua kategori, yaitu:
1. Proses reversible yang menimbulkan perubahan didalam suatu system dan lingkungan
yang dapat seluruhnya dihapuskan
2. Proses irreversible yang menyangkut perubahan didalam system dan lingkungan yang
bersifat permanen.

2.4.5 Latihan Soal

1. Berapa kerja yang dilakukan oleh 1 liter air ketika air tersebut menguap dari sebuah bejana
terbuka pada 250C dan tekanan atmosferik 100 kPa
Jawaban No 1:

System untuk soal ini adalah air. Prosesnya ialah proses batc. Selanjutnya
proses yang digambarkan dalam gambar disamping ialah proses reversible karena
penguapan terjadi pada suhu dan tekanan konstan, dan kondisi dalam atmosfer tepat
diatas bagian bejana yang terbuka dapat dianggap berada dalam ekuilibrium dengan
permukaan air. Tekanan atmosferiknya ialah 100 kPa. Basisnya 1 L air cair pada 250C.
Volume spesifik air pada 100 kPa adalah 1,694 m3/ kg H2O.

Azas Teknik Kimia Page 146


Kesetimbangan Energi Umum:

+ + )m]

Tidak akan berguna dalam memecahkan masalah ini karena Q tidak diketahui.
Tetapi, bayangkan bahwa sebuah kantong yang dapat dikembangkan diletakkan diatas
permukaan bejana yang terbuka sehingga system tersebut menjadi system tertutup.
Karena kondisi reversible yang ditetapkan untuk masalah ini ialah kerja.

W= -

Yang menunjukkan kerja reversible yang dilakukan oleh air dalam mendorong balik
atmosfer.

W = ( -100 x 103 Pa) x (1,694 m3) x (1kg 1L) x (10-3 m3) x (1N m-2) x 1 J

(1L) x (1 Pa) x (1N m)

W= -1,693 x 105 J

BAB III : NERACA ENERGI

3.1 Pendahuluan

Neraca energi adalah cabang keilmuan yang mempelajari kesetimbangan energi dalam
sebuah sistem. Neraca energi dibuat berdasarkan pada hukum pertama termodinamika.
Hukum pertama ini menyatakan kekekalan energi, yaitu energi tidak dapat dimusnahkan atau
dibuat, hanya dapat diubah bentuknya. Perumusan dari neraca energi suatu sistem mirip
dengan perumusan neraca massa. Namun demikian, terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan yaitu suatu sistem dapat berupa sistem tertutup namun tidak terisolasi (tidak
dapat terjadi perpindahan massa namun dapat terjadi perpindahan panas) dan hanya terdapat
satu neraca energi untuk suatu sistem (tidak seperti neraca massa yang memungkinkan
adanya beberapa neraca komponen). Perhitungan neraca energy meliputi neraca energi tanpa
dan dengan reaksi kimia. Pada modul ini dibahas neraca energi tanpa reaksi kimia. Dimana
lebih ditekankan pada sistem terbuka dan sistem tertutup.

3. 2. Tujuan

Azas Teknik Kimia Page 147


Tujuan penulisan modul ini di harapkan siswa mampu
a. menghitung neraca energi tanpa reaksi kimia yang terfokus pada sistem terbuka dan
tertutup.
b. siswa dapat menghitung neraca energi pada sistem/industri dengan benar.

3.3 Ruang Lingkup Materi

3.3.1 Sistem dan Lingkungan

Dalam termodinamika, kita selalu menganalisis proses perpindahan energi dengan


mengacu pada suatu sistem. Sistem adalah sebuah benda atau sekumpulan benda yang
hendak diteliti. Benda-benda lainnya di luar sistem dinamakan lingkungan.

Gambar 3.1 Konsep Sistem dan Lingkungan

3.3.2 Sistem Termal


Sistem didefinisikan sebagai suatu obyek, sejumlah materi dalam suatu daerah
ruangan, yang ditetapkan dalam bahasan dan dipisahkan dari sekeliling (lingkungan) oleh
batas sistem. Batas sistem dapat bersifat fisik real ataupun berupa imajiner sesuai dengan
keperluan untuk membedakan elemen sistem dan elemen lingkungan. Lingkungan dinyatakan
sebagai semua elemen yang bukan merupakan bagian dari sistem.
Karakteristik sistem secara kuantitatif dinyatakan dengan nilai sifat atau besaran
(property) yang dapat diukur. Deskripsi kondisi sistem dengan nilai tertentu dari sifat-sifat
tersebut dinamakan pula sebagai keadaan (state). Keadaan sistem dapat dibedakan antara
keadaan internal dan eksternal. Keadaan internal bersifat inherent dalam sistem meliputi p, T,
V, U, H dan S.
Gambar 3.2 Sistem Thermal

Azas Teknik Kimia Page 148


Pada sistem tertutup yang melintasi garis batas (boundary layer) hanyalah aliran kalor dan
kerja saja, sedangkan pada sistem terbuka, fluida kerja juga melintasi batas dari sistem.
Dalam analisa termodinamika pada sistem tertutup biasanya digunakan massa atur (control
mass) dan pada siklur terbuka biasanya digunakan volume atur.

Gambar 3.3 Sistem Termal


Jika salah satu atau beberapa nilai sifat dari sistem mengalami perubahan maka
dinamakan sistem mengalami proses. Sedangkan jika beberapa rangkaian proses yang
memiliki kondisi akhir proses kembali ke kondisi semula dinamakan siklus. Sistem termal
adalah seperangkat komponen (termal) yang memiliki struktur tertentu. Misalnya sebuah
refrigerator merupakan sistem termal yang terdiri dari gabungan pemipaan, kompresor, motor
listrik, penukar kalor, valve, isolator, casing, lampu dll. Bahan refrigeran di dalamnya
merupakan fluida kerja sistem.
Tingkat keadaan termodinamika suatu sistem pada suatu saat tertentu dinyatakan
dengan sifat-sifat termodinamikanya, baik sifat intensif atau ekstensif. Sifat intensif dari
suatu sistem tidak bergantung pada ukuran sistem, sebagai contoh adalah tekanan, temperatur.

3.3.3 Aplikasi Sistem Terbuka dan Tertutup

3.3.3.1.Sistem terbuka
Sistem terbuka adalah sistem dimana pertukaran materi dan energi keluar masuk
sistem dapat dilakukan. Batas sistem terbuka memiliki sifat yang dapat ditembus materi dan
energi, sehingga memungkinkan terjadinya transfer dengan lingkungan baik berupa materi,
panas maupun kerja.

Azas Teknik Kimia Page 149


Gambar 3.4 : Konsep sistem terbuka
Kondisi khusus sistem terbuka dengan keadaan steadi dapat dinyatakan dengan persamaan
berikut.

Secara real keadaan steadi (stasioner) suatu sistem sulit dicapai, sehingga sering didekati
dengan keadaan quasistasioner, dimana perubahan yang terjadi selama rentang waktu tertentu
dapat diabaikan dan keadaannya dapat dinyatakan dari hasil beberapa kali pengukuran
dengan nilai rerata yang stabil.

3.3.3.2.Sistem tertutup

Sistem tertutup dimana hanya ada pertukaran energi atau materi satu arah, dimana
digunakan untuk sistem dengan materi tetap, tidak terjadi aliran materi antara sistem dengan
lingkungan. Prinsip dasar dari sistem tertutup yaitu batas sistem tidak dapat ditembus oleh
materi tetapi dapat ditembus panas dan kerja.

Gambar 3.5: Konsep sistem tertutup


Konsep sistem tertutup misalnya, sejumlah gas dalam silinder, dengan piston yang bisa
bergerak

Azas Teknik Kimia Page 150


Keadaan setimbang awal dan akhir dari sistem tertutup dapat dinyatakan dengan integrasi
persamaan tersebut.
Bahasan tentang sistem tertutup lebih diarahkan untuk melihat bagaimana perubahan
dari kondisi setimbang awal dan kondisi setimbang akhir. Atas dasar sifat termal batas sistem
dapat dikenal kondisi khusus untuk sistem tertutup yaitu sistem terisolasi. Sistem dengan
batas sistem yang bersifat tidak meneruskan energi (kalor dak kerja) didefinisikan sebagai
sistem terisolasi.

3.4 Contoh Soal

1. Jika kalor sebanyak 2000 Joule ditambahkan pada sistem, sedangkan sistem melakukan
kerja 1000 Joule, berapakah perubahan energi dalam sistem ?

Panduan jawaban :

Sistem mendapat tambahan kalor (sistem menerima energi) sebanyak 2000 Joule. Sistem
juga melakukan kerja (sistem melepaskan energi) 1000 Joule. Dengan demikian,
perubahan energi sistem = 1000 Joule.

2. Sistem Terbuka

Udara sedang dimampatkan dari 100 kPa dan 225 K (disini udara mempunyai entalpi
sebesar 489 kJ/kg).sampai 1000 kPa dan 278 K (disini udara itu dari kompresor ialah
60 m/s.Berapa daya yang diperlukan (dalam kW) untuk kompresor tersebut jika
bebannya ialah 100 kg/hr udara?

Jawaban:

Azas Teknik Kimia Page 151


Tidak ada reaksi yang terjadi. Proses tersebut ialah jelas proses atau system
terbuka. Mari kita mengasumsikan bahwa kecepatan masuk udara ialah 0.
Basis: 100 kg udara = 1hr
Menyederhanakan kesetimbangan energy (hanya ada satu komponen)
Delta E = Q delta [(H + K + P)m]
Proses tersebut dalam keadaan tunak,karenanya delta E = 0
M1 = M2 = M
Delta (Pm) = 0
Q = 0 menurut asumsi (Q akan sangat kecil meski jika itu tidak diinsulasi)
V1 = 0 (nilai tak diketahui, tetapi akan sangat kecil)
Hasilnya ialah
W = delta [(H + K)m] = delta H + delta K
Delta H = (509 489)kj/kg /1000 kg
= 2000 kJ
Delta K = m ( v v )
= (1/2)100 kg (60 m)2/s2.1kJ/1000(kg)(m2)/(s)2
=180 kJ
W= (2000 + 180 ) = 2180 kJ
(note: tanda positif menunjukkan kerja dilakukan pada udara)
Untuk mengubah menjadi daya (kerja/waktu)
kW= 2180 kJ/1hr.1kW/1kJ/s.1hr/3600 s = 0,61 kW

3.5 Rangkuman

1. Neraca energi dibuat berdasarkan pada hukum pertama termodinamika.


2. Hukum pertama ini menyatakan kekekalan energi, yaitu energi tidak dapat dimusnahkan
atau dibuat, hanya dapat diubah bentuknya.
3. Sistem terbuka adalah sistem dimana pertukaran materi dan energi keluar masuk sistem
dapat dilakukan. memiliki sifat yang dapat ditembus materi dan energi, sehingga
memungkinkan terjadinya transfer dengan lingkungan baik berupa materi, panas maupun
kerja.
4. Sistem tertutup. dimana hanya ada pertukaran energi atau materi satu arah, dimana
digunakan untuk sistem dengan materi tetap, tidak terjadi aliran materi antara sistem
dengan lingkungan. Prinsip dasar dari sistem tertutup yaitu batas sistem tidak dapat
ditembus oleh materi tetapi dapat ditembus panas dan kerja.

Azas Teknik Kimia Page 152


3.6 Latihan Soal

1. Sistem Tertutup
10 lb CO2 pada suhu ruang tertutup (80 F) disimpan dalam sebuah pemadam kebakaran
yang mempunyai volume 4,0 ft3.Berapa banyak kalor dikeluarkan dari pemadam
kebakaran tersebut sehingga 40% CO2 menjadi cair?

Jawaban:
Masalah ini melibatkan sistem tertutup tanpa reaksi sehingga persamaan
berlaku.Kita dapat menggunakan grafik CO2 dalam lampiran J untuk memperoleh sifat-
sifat yang diperlukan.
Volume spesifik CO2 ialah 4,0/1,0 = 0,40 ft3/lb, maka dari itu CO2
berbentuk gas pada permulaan proses. Tekanannya 300 psia dan delta H=160 Btu/lb.
Basis: 10 lb CO2
Delta E = Q + W
W = 0, karena volume system tetap.maka dari itu dengan delta K= delta P=0
Q = delta U = delta H = delta (pV)
Kita tidak mempunyai nilai delta H, hanya nilai delta H pada grafik CO 2.kita dapat
mencari delta H akhir dari grafik CO 2 dengan mengikuti garis volume-konstan 0,40 ft 3/lb
sampai tempat dimana kualitas ialah 0,6. Maka dari itu keadaan akhir ditetapkan dan
semua sifat dapat diidentifikasikan, yaitu
Delta H akhir =81 Btu/lb
P akhir =140 psia
Q = (81 160) [ (40) (144) (0,40) / 778,2 (300) (144) (0,40) / 778,2 ]
= -67,2 Btu (kalor dikeluarkan)

Azas Teknik Kimia Page 153


Azas Teknik Kimia Page 154
BAB IV: PPIC (Production Planning and Inventory Control)

4.1 Pengertian PPIC (Production Planning and Inventory Control)

Perencanaan dan pengendalian produksi / PPIC (Production Planning and Inventory


Control) adalah merupakan suatu perencanaan dan pengendalian arus masuk bahan baku
sampai keluar dari pabrik sehingga keuntungan optimal dapat tercapai. Melalui perencanaan
dan pengendalian produksi yang baik, antara lain akan dicapai penghematan dalam biaya
bahan, pemanfatan sumber daya baik fasilitas produksi (mesin), tenaga kerja atau waktu yang
optimal (tidak boros atau tidak idle).

4.2 Tujuan PPIC (Production Planning and Inventory Control)

Tujuan dari PPIC adalah untuk memanfaatkan secara efektif sumber daya yang
terbatas dalam memproduksi barang/jasa sehingga dapat memuaskan permintaan pembeli
atau pengguna dan menghasilkan keuntungan bagi investor.
Selain itu PPIC juga mempunyai fungsi agar dapat menentukan peramalan
permintaan/penjualan untuk periode yang akan datang, perencanaan produksi, penjadwalan
produksi dan pengendalian persediaan (inventory control).
Sedangkan berbagai kendala yang dapat muncul dalam perencanaan dan pengendalian
produksi adalah ketersediaan sumber daya, jadwal/waktu pengiriman produk dan kebijakan
manajemen.

4.3 Persediaan (Inventory)

Secara umum, persediaan adalah bahan mentah, barang dalam proses (work in
process), barang jadi, bahan pembantu, bahan pelengkap, komponen yang disimpan dalam
antisipasinya terhadap pemenuhan permintaan (Riggs, 1976). Secara fisik, item persediaan
dapat dikelompokkan dalam lima kategori yaitu sebagai berikut :
1. Bahan Mentah (Raw Material), yaitu barang-barang berwujud seperti baja, kayu, tanah
liat, atau bahan-bahan mentah lainnya yang diperoleh dari sumber-sumber alam, atau
dibeli dari pemasok (supplier), atau diolah sendiri oleh perusahaan untuk digunakan
perusahaan dalam proses produksinya sendiri.
2. Komponen, yaitu barang-barang yang terdiri atas bagian-bagian (parts) yang diperoleh

Azas Teknik Kimia Page 155


dari perusahaan lain atau hasil produksi sendiri untuk digunakan dalam pembuatan barang
jadi atau barang setengah jadi.
3. Barang setengah jadi (work in process) yaitu barang-barang keluaran dari tiap operasi
produksi atau perakitan yang telah memiliki bentuk lebih kompleks daripada komponen,
namun masih perlu proses lebih lanjut untuk menjadi barang jadi.
4. Barang jadi (finished good) adalah barang-barang yang telah selesai diproses dan siap
untuk didistribusikan ke konsumen.
5. Bahan pembantu (supplies material) adalah barang-barang yang diperlukan dalam proses
pembuatan atau perakitan barang, namun bukan merupakan komponen barang jadi.
Termasuk bahan penolong adalah bahan bakar, pelumas, listrik, dan lain-lain.

4.4 Penyebab timbulnya persediaan

Penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai berikut :

1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan.


Permintaan terhadap suatu barang tidak dapat dipenuhi seketika bila barang tersebut
tidak tersedia sebelumnya. Untuk menyiapkan barang ini diperlukan waktu untuk
pembuatan dan pengiriman, maka adanya persediaan merupakan hal yang sulit
dihindarkan.

2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian.


Ketidakpastian terjadi akibat permintaan yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah
maupun waktu kedatangan, waktu pembuatan yang cenderung tidak konstan antara
satu produk dengan produk berikutnya, waktu tenggang (lead time) yang cenderung
tidak pasti karena banyak faktor yang tak dapat dikendalikan. Ketidakpastian ini dapat
diredam dengan mengadakan persediaan.
3. Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan besar dari
kenaikan harga di masa mendatang.
4. Efisiensi produksi (salah satunya dengan penurunan biaya produksi) dapat
ditingkatkan melalui pengendalian sistem persediaan. Efisiensi ini dapat dicapai bila
fungsi persediaan dapat dioptimalkan. Beberapa fungsi persediaan adalah sebagai berikut
:
a. Fungsi independensi. Persediaan bahan diadakan agar departemen-departemen dan
proses individual terjaga kebebasannya. Proses barang jadi diperlukan untuk
memenuhi permintaan pelanggan yang tidak pasti. Permintaan pasar tidak dapat
diduga dengan tepat, demikian pula dengan pasokan dari pemasok(supplier).
Seringkali keduanya meleset dari perkiraan. Agar proses produksi dapat berjalan

Azas Teknik Kimia Page 156


tanpa tergantung pada kedua hal ini (independen), maka persediaan harus
mencukupi.
b. Fungsi ekonomis. Seringkali dalam kondisi tertentu, memproduksi dengan jumlah
produksi tertentu (lot) akan lebih ekonomis daripada memproduksi secara berulang
atau sesuai permintaan. Pada kasus tersebut (biaya set up besar sekali), maka biaya
set up ini harus dibebankan pada setiap unit yang diproduksi, sehingga jumlah
produksi yang berbeda membuat biaya produksi per unit juga akan berbeda, maka
perlu ditentukan jumlah produksi yang optimal. Jumlah produksi optimal pada kasus
ini ditentukan oleh struktur biaya set up dan biaya penyimpanan, bukan oleh jumlah
permintaan, sehingga timbul persediaan. Pada beberapa kasus, membeli dengan
jumlah tertentu juga akan lebih ekonomis ketimbang membeli sesuai kebutuhan.
Jadi, memiliki persediaan dapat merupakan tindakan yang ekonomis.

c. Fungsi antisipasi. Fungsi ini diperlukan untuk mengantisipasi perubahan permintaan


atau pasokan. Seringkali perusahaan mengalami kenaikan permintaan setelah
dilakukan program promosi. Untuk memenuhi hal ini, maka diperlukan persediaan
produk jadi agar tak terjadi stock out. Keadaan yang lain adalah bila suatu ketika
diperkirakan pasokan bahan baku akan terjadi kekurangan. Jadi, tindakan
menimbun persediaan bahan baku terlebih dahulu adalah merupakan tindakan
rasional.

d. Fungsi fleksibilitas. Bila dalam proses produksi terdiri atas beberapa tahapan proses
operasi dan kemudian terjadi kerusakan pada satu tahapan proses operasi, maka akan
diperlukan waktu untuk melakukan perbaikan. Berarti produk tidak akan dihasilkan
untuk sementara waktu. Persediaan barang setengah jadi (work in process) pada
situasi ini akan merupakan faktor penolong untuk kelancaran proses operasi. Hal lain
adalah
dengan adanya persediaan barang jadi, maka waktu untuk pemeliharaan fasilitas
produksi dapat disediakan dengan cukup.

4.5 Sistem Persediaan

Sistem persediaan adalah suatu mekanisme mengenai bagaimana mengelola


masukan-masukan yang sehubungan dengan persediaan menjadi output, dimana untuk ini
diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar
tertentu. Mekanisme sistem ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor
tingkat persediaan, menentukan persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus diisi,

Azas Teknik Kimia Page 157


dan berapa besar pesanan harus dilakukan.
Sistem ini bertujuan menetapkan dan menjamin tersedianya produk jadi, barang dalam
proses, komponen, dan bahan baku secara optimal, dalam kuantitas yang optimal, dan pada
waktu yang optimal. Kriteria optimal adalah minimasi biaya total yang terkait dengan
persediaan, yaitu biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya kekurangan persediaan.
Secara luas, tujuan dari sistem persediaan adalah menemukan solusi optimal terhadap
seluruh masalah yang terkait dengan persediaan. Dikaitkan dengan tujuan umum perusahaan,
maka ukuran optimalitas pengendalian persediaan seringkali diukur dengan keuntungan
maksimum yang dicapai. Karena perusahaan memiliki banyak subsistem lain selain
persediaan, maka mengukur kontribusi pengendalian persediaan dalam mencapai total
keuntungan bukanlah hal yang mudah. Optimalisasi pengendalian persediaan. biasanya
diukur dengan total biaya minimal pada suatu periode tertentu.

4.6 Biaya Dalam Sistem Persediaan


Biaya persediaan adalah semua pengeluaran dan kerugian yang timbul sebagai akibat
persediaan (Teguh Baroto, 2002). Biaya-biaya tersebut adalah :
a. Harga pembelian adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli barang, besarnya sama
dengan harga untuk memperoleh barang tersebut atau harga belinya. Pada beberapa model
pengendalian sistem persediaan, biaya tidak dimasukkan sebagai dasar membuat
keputusan.
b. Biaya pemesanan adalah semua pengeluaran yang timbul untuk mendatangkan barang dari
pemasok, yang besarnya biasanya tidak dipengaruhi oleh jumlah pemesanan. Biaya ini
meliputi biaya pemrosesan pesanan, biaya ekspedisi, upah, biaya telepon/fax, biaya
dokumentasi/transaksi, biaya pengepakan, biaya pemeriksaan, dan biaya lainnya yang
tidak tergantung jumlah pesanan.
c. Biaya persiapan (set up cost) adalah semua pengeluaran yang timbul dalam
mempersiapkan produksi. Biaya ini terjadi bila item persediaan diproduksi sendiri dan
tidak membeli dari pemasok. Biaya ini meliputi
biaya persiapan peralatan produksi, biaya mempersiapkan (set up) mesin, biaya
mempersiapkan gambar kerja, biaya mempersiapkan tenaga kerja langsung, biaya
perencanaan dan penjadwalan produksi, dan biaya-biaya lain yang besarnya tidak
tergantung pada jumlah item yang diproduksi.

d. Biaya penyimpanan adalah biaya yang dikeluarkan dalam penanganan/penyimpanan


material, semi finished product, sub assembly, atau pun produk jadi. Biaya simpan
tergantung dari lama penyimpanan
dan jumlah yang disimpan. Biaya simpan biasanya dinyatakan dalam biaya per unit per

Azas Teknik Kimia Page 158


periode. Dalam praktek, biaya penyimpanan sukar dihitung secara teliti, sehingga
dilakukan pendekatan dengan suatu presentase tertentu dari harga pembelian. Biaya
penyimpanan meliputi :
1) Biaya kesempatan. Penumpukan barang di gudang berarti penumpukan modal.
Padahal modal ini dapat investasikan pada tabungan bank atau bisnis lain. Biaya
modal merupakan opportunity cost yang hilang karena menyimpan persediaan.
2) Biaya simpan. Termasuk dalam biaya simpan adalah biaya sewa gedung, biaya
asuransi dan pajak, biaya administrasi dan pemindahan, serta biaya kerusakan dan
penyusutan.
3) Biaya keusangan. Barang yang disimpan dapat mengalami penurunan nilai karena
perubahan teknologi (misal komputer).
4) Biaya-biaya lain yang besarnya bersifat variabel tergantung pada jumlah item.

e. Biaya kekurangan persediaan. Bila persediaan kehabisan barang saat ada permintaan,
maka akan terjadi stock out.Stock out menimbulkan kerugian berupa biaya akibat
kehilangan kesempatan mendapatkan keuntungan atau kehilangan pelanggan yang
kecewa (yang pindah ke produk saingan). Biaya ini sulit diukur karena berhubungan
dengan good will perusahaan. Sebagai pedoman, biaya stock out dapat dihitung dari hal-
hal berikut :
1) Kuantitas yang tak dapat dipenuhi, biasanya diukur dari keuntungan yang hilang
karena tidak dapat memenuhi permintaan. Biaya ini diistilahkan sebagai biaya penalti
atau hukuman kerugian bagi perusahaan
2) Waktu pemenuhan. Lamanya gudang kosong berarti lamanya proses produksi terhenti
atau lamanya perusahaan tidak mendapatkan keuntungan, sehingga waktu
menganggur tersebut dapat diartikan sebagai uang yang hilang.
3) Biaya pengadaan darurat. Agar konsumen tidak kecewa, maka dapat dilakukan
pengadaan darurat yang biasanya menimbulkan biaya lebih besar daripada biaya
pengadaan normal seperti melakukan subkontrak untuk memenuhi permintaan
konsumen tersebut.

4.7 Pengendalian Persediaan


Industri terdiri atas berbagai macam tipe dan jenis. Untuk merencanakan dan
mengendalikan industri yang berbeda tentu saja diperlukan teknik perencanaan dan
pengendalian produksi yang berbeda. Salah satunya adalah pengendalian persediaan,
pengendalian persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena
persediaan fisik banyak perusahaan melibatkan investasi rupiah terbesar dalam pos aktiva

Azas Teknik Kimia Page 159


lancar. Bila perusahaan menanamkan terlalu banyak dananya dalam persediaan,
menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan, dan mungkin mempunyai opportunity
cost (dana dapat ditanamkan dalam investasi yang lebih menguntungkan). Demikian pula,
bila perusahaan tidak mempunyai persediaan yang mencukupi, dapat mengakibatkan biaya-
biaya dari terjadinya kekurangan bahan.

Bahan baku yang terdapat dalam gudang memiliki variasi komponen yang sangat
banyak, untuk itu perlu dilakukan pengendalian persediaan berdasarkan data permintaan
konsumen agar diperoleh optimasi persediaan bahan baku di gudang, sehingga tidak terjadi
kekurangan bahan baku (stock out) ataupun kelebihan bahan baku yang berpengaruh pada
kepuasan customer serta cost yang dibebankan oleh perusahaan pada setiap tahunnya.

Pengendalian persediaan (inventory control) yang terdapat didalam bidang PPIC


(Production Planning and Inventory Control) merupakan fungsi manajerial yang sangat
penting, karena mayoritas perusahaan melibatkan investasi besar pada aspek ini yaitu sekitar
20% sampai 60% (Teguh Baroto, 2002, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Ghalia
Indonesia, Jakarta).

Bila persediaan dilebihkan, biaya penyimpanan dan modal yang diperlukan


bertambah. Bila perusahaan menanam terlalu banyak modalnya dalam persediaan,
menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan. Kelebihan persediaan juga membuat
modal menjadi terhenti, semestinya modal tersebut dapat diinvestasikan pada sektor lain yang
lebih menguntungkan (opportunity cost). Sebaliknya, bila persediaan dikurangi, suatu ketika
bisa mengalami stock out (kehabisan barang). Bila perusahaan tidak memiliki persediaan
yang mencukupi, biaya pengadaan darurat akan lebih mahal. Dampak lain, mungkin
kosongnya barang di pasaran dapat membuat konsumen kecewa dan lari ke merek lain.
Mengingat konsekuensi logis yang dilematis (kekurangan dan kelebihan) dari
persediaan, maka perusahaan perlu untuk merencanakan dan mengendalikan persediaan ini
pada tingkat yang optimal

Kriteria optimal adalah minimasi keseluruhan biaya yang terkait dengan semua
konsekuensi kebijakan persediaan.

4.8 Faktor-Faktor Dalam Pengendalian Persediaan

Dalam buku yang berjudul Manajemen Produksi dan Operasi Joko (2001;346) faktor-
faktor dalam pengendalian persediaan yaitu :
1. Persediaan Pengamanan (Safety Stock)
Persediaan pengamanan adalah persediaan minimal yang harus ada atau harus

Azas Teknik Kimia Page 160


dipertahankan dalam perusahaan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kehabisan
persediaan bahan baku yang disebabkan oleh ketidakpastian tingkat pemakaian dan
ketidakpastian waktu kedatangan persediaan agar kelangsungan faktor produksi dalam
perusahaan selalu terjamin.
Faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan pengaman :
a. Besar kecilnya resiko kehabisan persediaan.
b. Besar kecilnya biaya penyimpanan di gudang dengan biaya-biaya yang harus
dikeluarkan karena kehabisan persediaan yang merupakan biaya-biaya ekstra yang
dikeluarkan apabila kehabisan, antara lain :
1) Biaya pemesanan pembelian darurat.
2) Biaya ekstra yang diperlukan agar leveransir segera menyerahkan barangnya.
3) Kemungkinan rugi karena adanya kemacetan produksi apabila biaya ekstra yang
harus dikeluarkan karena kehabisan persediaan ternyata lebih besar dari pada
biaya penyimpanan, maka perlu adanya persediaan pengamanan yang besar.

2. Titik Pemesanan Ulang (Re-Order Point)


Titik pemesanan kembali terjadi apabila jumlah persediaan terdapat dalam stock
berkurang terus sehingga kita harus menentukan berapa banyak batas minimal tingkat
persediaan yang harus dipertimbangkan sehingga tidak terjadinya kekurangan
persediaan. Jumlah yang diharapkan tersebut dihitung selama masa tenggang,
mungkin dapat juga ditambahkan dengan stock pengaman yang biasa mengacu kepada
probalitas atau kemungkinan terjadinya kekurangan persediaan selama masa tenggang.
Yang harus diperhatikan dalam penentuan titik pemesanan kembali antara lain :
a. Penggunaan bahan baku selama waktu ancang-ancang
b. Besarnya persediaan pengaman

3. Waktu Ancang-Ancang (Lead Time)


Waktu ancang-ancang adalah tenggang waktu berapa lama
saat mulai memesan bahan baku, sampai bahan tersebut datang ke gudang. Waktu
ancang-ancang ini penting karena :
a. Menentukan kapan mulai mengadakan pemesanan kembali
b. Menentukan jumlah persediaan yang ekonomis
c. Merupakan masalah ketidakpastian di masa yang akan datang

4. Tingkat Pelayanan (Service Level)


Service Level merupakan besarnya persentase dari permintaan pelanggan yang dapat
terpenuhi dari persediaan. Siklus pemesanan dari tingkat pelayanan dapat dihitung
sebagai probabilitas suatu permintaan yang tidak melebihi suplai selama masa
tenggang (misalnya persediaan harus dapat mencukupi untuk memenuhi besarnya
permintaan). Karena itu, tingkat pelayanan 90% artinya bahwa probabilitas 90% dari
permintaan tersebut tidak melebihi dari permintaan selama masa tenggang. Dengan

Azas Teknik Kimia Page 161


kata lain permintaan akan terpenuhi dalam 90%. Resiko kehilangan biaya berkaitan
dengan tingkat pelayanan. Tingkat pelayanan pelanggan sebesar 90% menunjukan
bahwa resiko kehabisan persediaan sebesar 10% secara umum : Tingkat pelayanan =
100%-Resiko kehabisan stock. Secara lebih jauh kita dapat melihat bagaimana siklus
pemesanan pada tingkat pelayanan berkaitan erat dengan tingkat pelayanan tahunan.
Jumlah safety stock yang sesuai dengan kondisi tertentu sangat tergantung pada
sektor-sektor sebagai berikut :
a. Rata rata tingkat permintaan dan rata-rata masa tenggang
b. Variabilitas permintaan dan masa tenggang
c. Keinginan tingkat pelayanan yang diberikan

5. Tolak Ukur (Performance Indices)


Tolak ukur mengetahui seberapa jauh suatu inventory control berjalan. Dalam arti,
seberapa jauh efektifitas dan efisiensinya. Performance Indices ini sangat berguna bagi
manajemen untuk menentukan lankah yang harus diambil untuk memperbaiki keadaan
inventory-nya
Ada dua tolak ukur yang digunakan, yaitu :
a. Tolak Ukur Kualitatif
Tolak ukur ini menggunakan deskripsi non kuantitatif (tanpa angka atau grafik),
kelemahannya :
1) Subyektif
2) Tergantung kondisi penilai
3) Tidak konsisten
4) Terbatas kemampuannya untuk management decision

b. Tolak Ukur Kuantitatif


Tolak ukur ini menggunakan data kuantitatif (angka atau gambar). Kelebihannya :
1) Mudah diukur
2) Perkembangannya mudah diketahui
3) Mudah diperbandingkan
4) Lebih obyektif.
Tolak ukur keberhasilan inventory control ditentukan oleh Turn Over Ratio (TOR),
yaitu perbandingan antara pemakaian dalam setahun dengan inventory rata-rata.
Digunakan untuk mengukur efisiensi inventory. Makin besar TOR, inventory makin
bertambah efisien.

4.9 Metode Pengendalian Persediaan


4.9.1 Fixed Order Quantity Systems (EOQ)

Dua pertanyaan yang paling mendasar pada setiap sistem persediaan adalah berapa
banyak dan kapan melakukan pemesanan. Jawabannya tergantung dari parameter yang

Azas Teknik Kimia Page 162


digunakan dalam mendefinisikan sistem tersebut. Ketika jumlah unit yang dipesan
selalu sama, dan waktu antara
setiap pesanan diharapkan selalu konstan, dan tingkat persediaan mencapai suatu titik
yang telah ditentukan sebelumnya, maka dilakukan pemesanan untuk jumlah yang
selalu tetap (Fixed Order Size Systems) dapat dilihat pada gambar 2.2.
Parameter yang digunakan dalam sistem adalah reorder point(titik melakukan
pemesanan) dan jumlah pesanan (Q). Oleh karena itu Fixed
Order Size Systems seringkali disebut juga dengan nama Q-system, disaat jumlah
pesanan yang dilakukan untuk pemulihan persediaan besarnya adalah tetap.

Gambar 2.2 Fixed Order Size System

Jumlah pesanan yang dapat meminimasi total biaya penyimpanan dikenal dengan
Economic Order Quantity (EOQ). Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Ford
Harris dari Westinghouse pada tahun 1915. Metode ini merupakan inspirasi bagi
pakar persediaan untuk mengembangkan metode- metode pengendalian persediaan
lainnya. Metode ini dikembangkan atas fakta adanya biaya variabel dan biaya tetap
dari proses produksi atau pemesanan barang.

Akibat adanya dua tipe biaya ini, maka biaya total (fix cost dan variable cost) akan
menjadi berbeda bila jumlah unit yang diproduki berbeda. Bila barang yang
diproduksi satu atau seribu, fix cost ini besarnya tetap. Selanjutnya, bila fix

Azas Teknik Kimia Page 163


cost ini dibebankan pada biaya produksi per unit, maka fix cost ini akan dibagi oleh
jumlah unit yang diproduksi. Jadi, semakin banyak jumlah yang diproduksi, akan
semakin kecil. Logikanya, akan terdapat titik temu (optimal) agar total kedua biaya
tersebut minimal.

Model

inventory digambarkan adalah jumlah pemesanan (lot size). Berdasarkan


penerimaan dari setiap seperti pada Gambar 2.3.

Keterangan gambar :
Q = Jumlah Pemesanan (Lot Size)
R = Titik Pemesanan Kembali (Reorder Point)
ac = ce = Interval Antara Pesanan
ab = cd = ef = Lead Time

dimana Q pemesanan, tingkat persediaan adalah sama dengan Q unit. Ketika


tingkat persediaan mencapai reorder point (R), pesanan baru dipersiapkan sejumlah
Q unit. Setelah beberapa waktu, maka pesanan diterima semua secara bersamaan
dan dimasukkan ke dalam persediaan. Garis vertikal mengindikasikan jumlah
penerimaan pesanan ke dalam persediaan.

Pesanan akan diterima ketika tingkat persediaan mencapai titik nol, sehingga rata-
rata tingkat persediaan adalah (Q+0)/2 atau Q/2.

Azas Teknik Kimia Page 164


4.9.2 Fixed Order Interval Systems (EOI)

Fixed Order Interval Systems, juga disebut sistem persediaan secara periodik, yang
lebih berdasar kepada periode daripada sistem persediaan kontinu yang lebih kepada posisi
stok persediaan. Sistem persediaan yang berbasiskan waktu yang melakukan pesanan
berdasarkan suatu jangka waktu tertentu. Jumlah pesanan bergantung kepada pemakaian
demand selama periode waktu tersebut.
Menggunakan tingkat persediaan maksimum (maximum inventory level), selama waktu lead
time dan interval pesanan. Setelah suatu periode tetap (T) telah terlewati, jumlah persediaan
dihitung.
Sebuah pesanan dilakukan untuk memulihkan persediaan, dan jumlah pesanannya
tergantung berapa jumlah yang berkurang dari maximum inventory level. Jadi, jumlah
pesanan didapat dari selisih maximum inventory level dan sisa persediaan pada waktu
melakukan perhitungan.

Sistemnya terdiri dari 2 parameter yang digunakan, yaitu periode tetap pemeriksaan (T)
dan maximum inventory level (E).
Sistematika dan model dari Fixed Order Interval Systems dapat dilihat pada gambar 2.5
dan gambar 2.6.

Azas Teknik Kimia Page 165


Gambar 2.5 Fixed Order Interval Systems

Gambar 2.6 Model EOI

Masalah dasar pada metode ini adalah bagaimana menentukan interval pesanan
(T) dan maximum inventory level (E) yang diinginkan. Economic order interval dapat
diperoleh untuk meminimumkan total biaya tahunan. Jika biaya kekurangan barang
(stockout cost) tidak diijinkan, maka total biaya tahunannya seperti terlihat pada
gambar 2.7.

Azas Teknik Kimia Page 166


Gambar 2.7 Biaya Persediaan EOI

4.9.3 Maximum - Minimum Systems (Min-Max)

Cara kerja Min-Max System ini yaitu apabila persediaan telah melewati batas-batas
minimum dan mendekati batas safety stock maka re- order harus dilakukan. Jadi batas
minimum stock merupakan batas re-order level. Batas maksimum adalah batas kesediaan
perusahaan atau manajemen untuk menginvestasikan uangnya dalam bentuk persediaan
bahan baku. Jadi dalam hal ini yang terpenting adalah batas minimum dan maximum untuk
dapat menentukan order quantity.

4.9.4 Simulasi
Simulasi merupakan salah satu cara untuk memecahkan berbagai persoalan yang
dihadapi di dunia nyata. Pendekatan yang digunakan untuk memecahkan berbagai masalah
yang mengandung ketidakpastian dan kemungkinan jangka panjang yang tidak dapat
diperhitungkan dengan seksama adalah dengan simulasi. Simulasi dapat diartikan sebagai
suatu sistem yang digunakan untuk memecahkan atau menguraikan persoalan-persoalan
dalam kehidupan nyata yang penuh dengan ketidakpastian dengan tidak atau menggunakan
model atau metode tertentu dan lebih ditekankan pada pemakaian komputer untuk
mendapatkan solusinya.
Pada pendekatan simulasi, untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang rumit akan
lebih mudah dilakukan bila dimulai dengan membangun model percobaan dari suatu sistem.
Untuk melakukannya kita perlu memperhatikan tiga unsur penting dalam pemodelan
simulasi, yaitu system, entities, attributes.
Ada berbagai keuntungan yang bisa diperoleh dengan memanfaatkan simulasi, yaitu
sebagai berikut :
1) Compress Time (Menghemat Waktu)
Kemampuan di dalam menghemat waktu ini dapat dilihat dari pekerjaan yang bila
dikerjakan akan memakan waktu tahunan tetapi kemudian dapat disimulasikan hanya
dalam beberapa menit, bahkan dalam beberapa kasus hanya dalam hitungan detik.
Kemampuan ini dapat dipakai oleh para peneliti
untuk melakukan berbagai pekerjaan desain operasional yang mana juga memperhatikan
bagian terkecil dari waktu untuk kemudian dibandingkan dengan yang terdapat pada
sistem yang nyata berlaku.

Azas Teknik Kimia Page 167


2) Expand Time (Dapat Melebarluaskan Waktu)
Hal ini terlihat terutama dalam dunia statistik di mana hasilnya diinginkan
dapat tersaji dengan cepat. Simulasi dapat digunakan untuk menunjukkan
perubahan struktur dari suatu Sistem Nyata (Real System) yang sebenarnya tidak dapat
diteliti pada waktu yang seharusnya (Real Time). Dengan
demikian simulasi dapat membantu mengubah Real System hanya dengan memasukkan
sedikit data.
3) Control Sources of Variation (Dapat Mengawasi Sumber-Sumber yang
Bervariasi)
Kemampuan pengawasan dalam simulasi ini tampak terutama apabila analisa statistik
digunakan untuk meninjau hubungan antara variabel bebas
(independent) dengan variabel terkait (dependent) yang merupakan faktor-
faktor yang akan dibentuk dalam percobaan. Hal ini dalam kehidupan sehari-
hari merupakan suatu kegiatan yang harus dipelajari dan ditangani dan tidak
dapat diperoleh dengan cepat. Dalam simulasi pengambilan data dan pengolahannya
pada komputer, ada beberapa sumber yang dapat dihilangkan atau sengaja ditiadakan.
Untuk memanfaatkan kemampuan ini peneliti harus mengetahui dan mampu
menguraikan sejumlah input dari sumber-sumber yang bervariasi yang dibutuhkan
oleh simulasi tersebut.
4) Error in Measurement Correction (Mengoreksi Kesalahan-Kesalahan Perhitungan)
Dalam prakteknya, pada suatu kegiatan ataupun percobaan dapat saja muncul
ketidakbenaran dalam mencatat hasil-hasilnya. Sebaliknya, dalam simulasi komputer
jarang ditemukan kesalahan perhitungan terutama bila angka- angka yang diambil dari
komputer secara teratur dan bebas. Komputer mempunyai kemampuan untuk
melakukan penghitungan dengan akurat.
5) Stop Simulation and Restart (Dapat Dihentikan dan Dijalankan Kembali)
Simulasi komputer dapat dihentikan untuk kepentingan peninjauan ataupun
pencatatan semua keadaan yang relevan tanpa berakibat buruk terhadap program
simulasi tersebut. Dalam dunia nyata, percobaan tidak dapat dihentikan begitu saja.
Dalam simulasi komputer, setelah dilakukan penghentian maka kemudian dapat
dengan cepat dijalankan kembali (restart)
6) Easy to Replicate (Mudah Diperbanyak)
Dengan simulasi komputer percobaan dapat dilakukan setiap saat dan dapat diulang-
ulang. Pengulangan dilakukan terutama untuk mengubah berbagai komponen dan
variabelnya, seperti dengan perubahan pada parameternya, perubahan pada kondisi
operasinya, ataupun dengan memperbanyak output.
BAB V : PENGADUKAN DAN PENCAMPURAN

Azas Teknik Kimia Page 168


Pengadukan adalah operasi yang menciptakan terjadinya gerakan dari bahan yang diaduk
seperti molekul-molekul, zat-zat yang bergerak atau komponennya menyebar (terdispersi).

gambar 1. (Dimensi sebuah Tangki Berpengaduk)

Keterangan gambar :
C = tinggi pengaduk dari dasar tangki
D = diameter pengaduk
Dt = diameter tangki
H = tinggi fluida dalam tangki
J = lebar baffle
W = lebar pengaduk

Tujuan Pengadukan :
1) Mencampur dua cairan yang saling melarut
2) Melarutkan padatan dalam cairan
3) Mendispersikan gas dalam cairan dalam bentuk gelembung
4) Untuk mempercepat perpindahan panas antara fluida dengan koil pemanas dan jacket
pada dinding bejana.

Pencampuran adalah operasi yang menyebabkan tersebarnya secara acak suatu bahan ke
bahan yang lain dimana bahan-bahan tersebut terpisah dalam dua fasa atau lebih.
Proses pencampuran bisa dilakukan dalam sebuah tangki berpengaduk. Hal ini dikarenakan
faktor-faktor penting yang berkaitan dengan proses ini, dalam aplikasi nyata bisa dipelajari
dengan seksama dalam alat ini. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengadukan dan
pencampuran diantaranya adalah perbandingan antara geometri tangki dengan geometri
pengaduk, bentuk dan jumlah pengaduk, posisi sumbu pengaduk, kecepatan putaran
pengaduk, penggunaan sekat dalam tangki dan juga properti fisik fluida yang diaduk
yaitu densitas dan viskositas. Oleh karena itu, perlu tersedia seperangkat alat tangki
berpengaduk yang bisa digunakan untuk mempelajari operasi dari pengadukan dan
pencampuran tersebut.

Pencampuran terjadi pada tiga tingkatan yang berbeda yaitu :


1) Mekanisme konvektif : pencampuran yang disebabkan aliran cairan secara keseluruhan
(bulk flow).

Azas Teknik Kimia Page 169


2) Eddy diffusion : pencampuran karena adanya gumpalan - gumpalan fluida yang terbentuk
dan tercampakan dalam medan aliran.
3) Diffusion : pencampuran karena gerakan molekuler.

Ketiga mekanisme terjadi secara bersama-sama, tetapi yang paling menentukan adalah Eddy
diffusion. Mekanisme ini membedakan pencampuran dalam keadaan turbulen dengan
pencampuran dalam medan aliran laminer. Sifat fisik fluida yang berpengaruh pada proses
pengadukan adalah densitas dan viskositas.

Secara khusus, proses pengadukan dan pencampuran digunakan untuk mengatasi tiga jenis
permasalahan utama, yaitu :
1) Untuk menghasilkan keseragaman statis ataupun dinamis pada sistem multifase
multikomponen.
2) Untuk memfasilitasi perpindahan massa atau energi diantara bagian-bagian dari sistem
yang tidak seragam.
3) Untuk menunjukkan perubahan fase pada sistem multikomponen dengan atau tanpa
perubahan komposisi.
Aplikasi pengadukan dan pencampuran bisa ditemukan dalam rentang yang luas, diantaranya
dalam proses suspensi padatan, dispersi gas-cair, cair-cair maupun padat-cair, kristalisasi,
perpindahan panas dan reaksi kimia.

Dimensi dan Geometri Tangki


Kapasitas tangki yang dibutuhkan untuk menampung fluida menjadi salah satu pertimbangan
dasar dalam perancangan dimensi tangki. Fluida dalam kapasitas tertentu ditempatkan pada
sebuah wadah dengan besarnya diameter tangki sama dengan ketinggian fluida. Rancangan
ini ditujukan untuk mengoptimalkan kemampuan pengaduk untuk menggerakkan dan
membuat pola aliran fluida yang melingkupi seluruh bagian fluida dalam tangki.

Persamaan (1) merupakan rumus dari volume sebuah tangki silinder. Sehingga salah satu
pertimbangan awal untuk merancang alat ini adalah dengan mencari nilai dari diameter yang
sama dengan tangki untuk kapasitas fluida yang diinginkan dalam pengadukan dan
pencampuran. Diameter tangki ditentukan dengan persamaan (2). Tangki dengan diamter
yang lebih kecil dibandingkan ketinggiannya memiliki kecendrungan menambah jumlah
pengaduk yang digunakan.

dengan D = t
Rancangan dasar dimensi dari sebuah tangki berpengaduk dengan perbandingan terhadap
komponen-komponen yang menyusunnya ditunjukkan pada gambar 1.

Hubungan dari dimensi pada gamba 1 adalah :

Geometri dari tangki dirancang untuk menghindari terjadinya dead zone yaitu daerah dimana
fluida bisa digerakkan oleh aliran pengaduk. Geometri dimana terjadinya dead zone biasanya
berbentuk sudut ataupun lipatan dari dinding-dindingnya.

Posisi Sumbu Pengaduk

Azas Teknik Kimia Page 170


Pada umumnya proses pengadukan dan pencampuran dilakukan dengan menempatkan pengaduk pada
pusat diameter tangki (Center). Posisi ini memiliki pola aliran yang khas. Pada tangki tidak bersekat
dengan pengaduk yang berputar ditengah, energi sentrifugal yang bekerja pada fluida meningkatkan
ketinggian fluida pada dinding dan memperendah ketinggian fluida pada pusat putaran. Pola ini biasa
disebut dengan pusaran (vortex) dengan pusat pada sumbu pengaduk. Pusaran ini akan menjadi semakin
besar seiring dengan peningkatan kecepatan putaran yang juga meningkatkan turbulensi dari fluida yang
diaduk. Pada sebuah proses dispersi gas-cair, terbentuknya pusaran tidak diinginkan. Hal ini
disebabkan pusaran tersebut bisa menghasilkan dispersi udara yang menghambat dispersi gas ke
cairan dan sebaliknya.

Gambar 3. (Posisi Center dari sebuah Pengaduk yang menghasilkan Vortex

Salah satu upaya untuk menghilangkan pusaran ini adalah dengan merubah posisi sumbu pengaduk. Posisi
tersebut berupa posisi sumbu pengaduk tetap tegak lurus namun berjarak dekat dengan dinding tangki (off
center) dan posisi sumbu berada pada arah diagonal (incline). Perubahan posisi ini menjadi salah satu
variasi dalam penelitian yang dilakukan.

Sekat dalam Tangki


Sekat (Baffle) adalah lembaran vertikal datar yang ditempelkan pada dinding tangki. Tujuan
utama menggunakan sekat dalam tangki adalah memecah terjadinya pusaran saat terjadinya pengadukan
dan pencampuran. Oleh karena itu, posisi sumbu pengaduk pada tangki bersekat berada di tengah.
Namun, pada umumnya pemakaian sekat akan menambah beban pengadukan yang berakibat pada
bertambahnya kebutuhan daya pengadukan. Sekat pada tangki juga membentuk distribusi konsentrasi yang
lebih baik di dalam tangki, karena pola aliran yang terjadi terpecah menjadi empat bagian. Penggunaan
ukuran sekat yang lebih besar mampu menghasilkan pencampuran yang lebih baik.

Gambar 4. (Pemasangan Baffle diharapkan mampu meningkatkan kualitas pencampuran)

Pada saat menggunakan empat sekat vertikal seperti pada gambar 4 biasa menghasilkan pola putaran yang
sama dalam tangki. Lebar sekat yang digunakan sebaiknya berukuran 1/12 diameter tangki.

Pengaduk
Pemilihan pengaduk yang tepat menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan proses dan
pencampuran yang efektif. Pengaduk jenis baling-baling (propeller) dengan aliran aksial dan pengaduk
jenis turbin dengan aliran radial menjadi pilihan yang lazim dalam pengadukan dan pencampuran.

Azas Teknik Kimia Page 171


Jenis-jenis Pengaduk
Secara umum, terdapat tiga jenis pengaduk yang biasa digunakan secara umum, yaitu pengaduk
baling baling), pengaduk turbin, pengaduk dayung dan pengaduk.

Pengaduk jenis baling-baling (propeller)


Ada beberapa jenis pengaduk yang biasa digunakan. Salah satunya adalah baling-baling
berdaun tiga.

Gambar 5. Pengaduk jenis Baling-baling (a), Daun Dipertajam (b), Baling-baling kapal (c)

Baling-baling ini digunakan pada kecepatan berkisar antara 400 hingga 1750 rpm
(revolutions per minute) dan digunakan untuk cairan dengan viskositas rendah.

Pengaduk Dayung (Paddle)


Berbagai jenis pengaduk dayung biasanya digunakan pada kesepatan rendah diantaranya 20
hingga 200 rpm. Dayung datar berdaun dua atau empat biasa digunakan dalam sebuah proses
pengadukan. Panjang total dari pengadukan dayung biasanya 60 - 80% dari diameter tangki
dan lebar dari daunnya 1/6 - 1/10 dari panjangnya.

Gambar 6. Pengaduk Jenis Dayung (Paddle) berdaun dua

Pengaduk dayung menjadi tidak efektif untuk suspensi padatan, karena aliran radial bisa
terbentuk namun aliran aksial dan vertikal menjadi kecil. Sebuah dayung jangkar atau pagar,
yang terlihat pada gambar 6 biasa digunakan dalam pengadukan. Jenis ini menyapu dan
mengeruk dinding tangki dan kadang-kadang bagian bawah tangki. Jenis ini digunakan pada
cairan kental dimana endapan pada dinding dapat terbentuk dan juga digunakan untuk
meningkatkan transfer panas dari dan ke dinding tangki. Bagaimanapun jenis ini adalah
pencampuran yang buruk. Pengaduk dayung sering digunakan untuk proses pembuatan pasn
kanji, cat, bahan perekat dan kosmetik.

Pengaduk Turbin
Pengaduk turbin adalah pengaduk dayung yang memiliki banyak daun pengaduk dan
berukuran lebih pendek, digunakan pada kecepatan tinggi untuk cairan dengan rentang
kekentalan yang sangat luas. Diameter dari sebuah turbin biasanya antara 30 - 50% dari
diamter tangki. Turbin biasanya memiliki empat atau enam daun pengaduk. Turbin dengan
daun yang datar memberikan aliran yang radial. Jenis ini juga berguna untuk dispersi gas
yang baik, gas akan dialirkan dari bagian bawah pengadukdan akan menuju ke bagian daun
pengaduk lalu tepotong-potong menjadi gelembung gas.

Azas Teknik Kimia Page 172


Gambar 7. Pengaduk Turbin pada bagian variasi.

Pada turbin dengan daun yang dibuat miring sebesar 45o, seperti yang terlihat pada gambar 8,
beberapa aliran aksial akan terbentuk sehingga sebuah kombinasi dari aliran aksial dan radial
akan terbentuk. Jenis ini berguna dalam suspensi padatan kerena aliran langsung ke bawah
dan akan menyapu padatan ke atas. Terkadang sebuah turbin dengan hanya empat daun
miring digunakan dalam suspensi padat. Pengaduk dengan aliran aksial menghasilkan
pergerakan fluida yang lebih besar dan pencampuran per satuan daya dan sangat berguna
dalam suspensi padatan.

Gambar 8. Pengaduk Turbin Baling-baling.

Pengaduk Helical-Ribbon
Jenis pengaduk ini digunakan pada larutan pada kekentalan yang tinggi dan beroperasi pada
rpm yang rendah pada bagian laminer. Ribbon (bentuk seperti pita) dibentuk dalam sebuah
bagian helical (bentuknya seperti baling-balling helicopter dan ditempelkan ke pusat sumbu
pengaduk). Cairan bergerak dalam sebuah bagian aliran berliku-liku pada bagiam bawah dan
naik ke bagian atas pengaduk.

Gambar 9. Pengaduk Jenis (a), (b) & (c) Hellical-Ribbon, (d) Semi-Spiral

Kecepatan Pengaduk
Salah satu variasi dasar dalam proses pengadukan dan pencampuran adalah kecepatan
putaran pengaduk yang digunakan. Variasi kecepatan putaran pengaduk bisa memberikan
gambaran mengenai pola aliran yang dihasilkan dan daya listrik yang dibutuhkan dalam
proses pengadukan dan pencampuran. Secara umum klasifikasi kecepatan putaran pengaduk
dibagi tiga, yaitu : kecepatan putaran rendah, sedang dan tinggi.
Kecepatan putaran rendah
Kecepatan rendan yang digunakan berkisar pada kecepatan 400 rpm. Pengadukan dengan
kecepatan ini umumnya digunakan untuk minyak kental, lumpur dimana terdapat serat atau
pada cairan yang dapat menimbulkan busa.

Azas Teknik Kimia Page 173


Jenis pengaduk ini meghasilkan pergerakan batch yang empurna dengan sebuah permukaan
fluida yang datar untuk menjaga temperatur atau mencampur larutan dengan viskositas dan
gravitasi spesifik yang sama.

Kecepatan putaran sedang


Kecepatan sedang yang digunakan berkisar pada kecepatan 1150 rpm. Pengaduk dengan
kecepatan ini umumnya digunakan untuk larutan sirup kental dan minyak pernis.
Jenis ini paling sering digunakan untuk meriakkan permukaan pada viskositas yang rendah,
mengurangi waktu pencampuan, mencampuran larutan dengan viskositas yang berbeda dan
bertujuan untuk memanaskan atau mendinginkan.

Kecepatan putaran tinggi


Kecepatan tinggi yang digunakan berkisar pada kecepatan 1750 rpm. Pengaduk dengan
kecepatan ini umumnya digunakan untuk fluida dengan viskositas rendah misalnya air.
Tingkat pengadukan ini menghasilkan permukaan yang cekung pada viskositas yang rendah
dan dibutuhkan ketika waktu pencampuran sangat lama atau perbedaan viskositas sangat
besar.

Jumlah Pengaduk
Penambahan jumlah pengaduk yang digunakan pada dasarnya untuk tetap menjaga
efektifitas pengadukan pada kondisi yang berubah. Ketinggian fluida yang lebih besar dari
diameter tangki, disertai dengan viskositas fluida yang lebih besar dann diameter pengaduk
yang lebih kecil dari dimensi yang biasa digunakan, merupakan kondisi dimana pengaduk
yang digunakan lebih dari satu buah, dengan jarak antar pengaduk sama dengan jarak
pengaduk paling bawah ke dasar tangki. Penjelasan mengenai kondisi pengadukan dimana
lebih dari satu pengaduk yang digunakan dapat dilihat dalam tabel 1.

Tabel 1. Kondisi untuk Pemilihan Pengaduk

Pemilihan Pengaduk
Viskositas dari cairan adalah salah satu dari beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan
jenis pengaduk. Indikasi dari rentang viskositas pada setiap jenis pengaduk adalah :
1) Pengaduk jenis baling-baling digunakan untuk viskositas fluida di bawah Pa.s (3000 cP)
2) Pengaduk jenis turbin bisa digunakan untuk viskositas di bawah 100 Pa.s (100.000 cp)
3) Pengaduk jenis dayung yang dimodifikasi seperti pengaduk jangkar bisa digunakan
untuk viskositas antara 50 - 500 Pa.s (500.000 cP)
4) Pengaduk jenis pita melingkar biasa digunakan untuk viskositas di atas 1000 Pa.s dan
telah digunakan hingga viskositas 25.000 Pa.s. Untuk viskositas lebih dari 2,5 - 5 Pa.s
(5000 cP) dan diatasnya, sekat tidak diperlukan karena hanya terjadi pusaran kecil.

Azas Teknik Kimia Page 174


Gambar 10. Pola aliran yang dihasilkan oleh jenis-jenis pengaduk yang berbeda, (a)
Impeller,
(b) Propeller, (c) Paddle dan (d) Helical ribbon

Kebutuhan Daya Pengaduk


Parameter Hidrodinamika dalam Tangki Berpengaduk

Bilangan Reynold
Bilangan tak berdimensi yang menyatakan perbandingan antara gaya inersia dan gaya viskos
yang terjadi pada fluida. Sistem pengadukan yang terjadi bisa diketahui bilangan Reynold-
nya dengan menggunakan persamaan 3.

dimana :
Re = Bilangan Reynold
= dnsitas fluida
= viskositas fluida

Dalam sistem pengadukan terdapat 3 jenis bentuk aliran yaitu laminer, transisi dan turbulen.
Bentuk aliran laminer terjadi pada bilangan Reynold hingga 10, sedangkan turbulen terjadi
pada bilangan Reynold 10 hingga 104 dan transisi berada diantara keduanya.
Bilangan Fraude
Bilangan tak berdimensi ini menunjukkan perbandingan antara gaya inersia dengan gaya
gravitasi. Bilangan Fraude dapat dihitung dengan persamaan berikut :

dimana :
Fr = Bilangan Fraude
N = kecepatan putaran pengaduk
D = diameter pengaduk
g = percepatan grafitasi

Bilangan Fraude bukan merupakan variabel yang signifikan. Bilangan ini hanya
diperhitungkan pada sistem pengadukan dalam tangki tidak bersekat. Pada sistem ini
permukaan cairan dalam tangki akan dipengaruhi gravitasi, sehingga membentuk pusaran
(vortex). Vorteks menunjukkan keseimbangan antara gaya gravitasi dengan gaya inersia.

Azas Teknik Kimia Page 175


Laju dan Waktu Pencampuran
Waktu pencampuran (mixing time) adalah waktu yang dibutuhkan sehingga diperoleh
keadaan yang homogen untuk menghasilkan campuran atau produk dengan kualitas yang
telah ditentukan. Sedangkan laju pencampuran (rate of mixing) adalah laju dimana proses
pencampuran berlangsung hingga mencapai kondisi akhir.

Pada operasi pencampuran dalam tangki berpengaduk, waktu pencampuran ini dipengaruhi
oleh beberapa hal :
1. Yang berkaitan dengan alat, seperti :
Ada tidaknya baffle atau cruciform vaffle
Bentuk atau jenis pengaduk (turbin, propele, padel)
Ukuran pengaduk (diameter, tinggi)
Laju putaran pengaduk
Ledudukan pengaduk pada tangki, seperti :
a. Jarak pengaduk terhadap dasar tangki
b. Pola pemasangan :
- Center, vertikal
- Off center, vertical
- Miring (inclined) dari atas
- Horisontal
Jumlah daun pengaduk
Jumlah pengaduk yang terpasang pada poros pengaduk

2. Yang berhubungan dengan cairan yang diaduk :


Perbandingan kerapatan atau densitas cairan yang diaduk
Perbandingan viskositas cairan yang diaduk
Jumlah kedua cairan yang diaduk
Jenis cairan yang diaduk (miscible, immiscible)

Faktor-faktor tersebut dapat dijadikan variabel yang dapat dimanipulasi untuk mengamati
pengaruh setiap faktor terhadap karakteristik pengadukan, terutama tehadap waktu
pencampuran.

BAB VI : REAKTOR KIMIA

Azas Teknik Kimia Page 176


Reaktor kimia adalah sebuah alat industri kimia , dimana terjadi reaksi bahan mentah
menjadi produk yang lebih berharga.

Tujuan pemilihan reaktor adalah :


1. Mendapat keuntungan yang besar
2. Biaya produksi rendah
3. Modal kecil/volume reaktor minimum
4. Operasinya sederhana dan murah
5. Keselamatan kerja terjamin
6. Polusi terhadap sekelilingnya (lingkungan) dijaga sekecil-kecilnya

Pemilihan jenis reaktor dipengaruhi oleh :


1. Fase zat pereaksi dan hasil reaksi
2. Tipe reaksi dan persamaan kecepatan reaksi, serta ada tidaknya reaksi samping
3. Kapasitas produksi
4. Harga alat (reactor) dan biaya instalasinya
5. Kemampuan reactor untuk menyediakan luas permukaan yang cukup untuk
perpindahan panas

Jenis-jenis Reaktor
A. Berdasarkan Bentuknya
Reaktor Tangki atau Bejana
Reaktor Pipa

Kedua jenis reaktor dapat dioperasikan secara kontinyu maupun partaian/batch. Biasanya,
reaktor beroperasi dalam keadaan ajeg namun kadang-kadang bisa juga beroperasi
secara transien. Biasanya keadaan reaktor yang transien adalah ketika reaktor pertama kali
dioperasikan (mis: setelah perbaikan atau pembelian baru) di mana komponen produk masih
berubah terhadap waktu. Biasanya bahan yang direaksikan dalam reaktor kimia
adalah cairan dan gas, namun kadang-kadang ada juga padatan yang diikutkan dalam reaksi
(mis: katalisator, regent, inert). Tentu saja perlakuan terhadap bahan yang akan direaksikan
akan berbeda.

Ada tiga tipe pendekatan utama yang digunakan dalam pengoperasian reaktor:
Model Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB) atau dikenal juga sebagai RTIK (Reaktor
Tangki Ideal Kontinu)
Model Reaktor Alir Pipa (RAP) atau dikenal juga sebagai RAS (Reaktor Aliran Sumbat)
Model reaktor batch

1. Reaktor Alir Tangki Berpengaduk (RATB) atau Continuous flow stirred-tank


reactor (CSTR)

Azas Teknik Kimia Page 177


Dikatakan reaktor tangki ideal bila pengadukannya sempurna, sehingga komposisi
dan suhu didalam reaktor setiap saat selalu seragam (uniform). Dapat dipakai untuk
proses batch, semi batch, dan proses alir.

2. Reaktor pipa

Biasanya digunakan tanpa pengaduk sehingga disebut Reaktor Alir Pipa. Dikatakan
ideal bila zat pereaksi yang berupa gas atau cairan, mengalir didalam pipa dengan
arah sejajar sumbu pipa.

B. Berdasarkan prosesnya
1. Reaktor Batch
Biasanya untuk reaksi fase cair
Digunakan pada kapasitas produksi yang kecil
Keuntungan reactor batch:
- Lebih murah dibanding reactor alir
- Lebih mudah pengoperasiannya
- Lebih mudah dikontrol
Kerugian reactor batch:
- Tidak begitu baik untuk reaksi fase gas (mudah terjadi kebocoran pada lubang
pengaduk)
- Waktu yang dibutuhkan lama, tidak produktif (untuk pengisian, pemanasan zat
pereaksi, pendinginan zat hasil, pembersihan reactor, waktu reaksi)

Azas Teknik Kimia Page 178


2. Reaktor Alir (Continous Flow)
Ada 2 jenis:
a. RATB (Reaktor Alir Tangki Berpengaduk)
Keuntungan:
Suhu dan komposisi campuran dalam rerraktor sama
Volume reactor besar, maka waktu tinggal juga besar, berarti zat pereaksi lebih
lama bereaksi di reactor.
Kerugian:
Tidak effisien untuk reaksi fase gas dan reaksi yang bertekanan tinggi.
Kecepatan perpindahan panas lebih rendah dibanding RAP
Untuk menghasilkan konversi yang sama, volume yang dibutuhkan RATB
lebih besar dari RAP.

b. RAP (Reaktor Alir Pipa)

Dikatakan ideal jika zat pereaksi dan hasil reaksi mengalir dengan kecepatan
yang sama diseluruh penampang pipa.
Keuntungan :
Memberikan volume yang lebih kecil daripada RATB, untuk konversi yang sama
Kerugian:
1. Harga alat dan biaya instalasi tinggi.
2. Memerlukan waktu untuk mencapai kondisi steady state.
3. Untuk reaksi eksotermis kadang-kadang terjadi Hot Spot (bagian yang
suhunya sangat tinggi) pada tempat pemasukan . Dapat menyebabkan
kerusakan pada dinding reaktor.

3. Reaktor semi batch


Biasanya berbentuk tangki berpengaduk

Azas Teknik Kimia Page 179


C. Jenis reaktor berdasarkan keadaan operasinya
1. Reaktor isotermal.
Dikatakan isotermal jika umpan yang masuk, campuran dalam reaktor, aliran yang
keluar dari reaktor selalu seragam dan bersuhu sama.

2. Reaktor adiabatis.
Dikatakan adiabatis jika tidak ada perpindahan panas antara reaktor dan
sekelilingnya.
Jika reaksinya eksotermis, maka panas yang terjadi karena reaksi dapat dipakai
untuk menaikkan suhu campuran di reaktor. ( K naik dan rA besar sehingga
waktu reaksi menjadi lebih pendek).
3. Reaktor Non-Adiabatis

D. Reaktor Gas Cair dengan Katalis Padat


1. Packed/Fixed bed reaktor (PBR).
Terdiri dari satu pipa/lebih berisi tumpukan katalis stasioner dan dioperasikan
vertikal. Biasanya dioperasikan secara adiabatis.

2. Fluidized bed reaktor (FBR)


Reaktor dimana katalisnya terangkat oleh aliran gas reaktan.
Operasinya: isotermal.

Azas Teknik Kimia Page 180


Perbedaan dengan Fixed bed: pada Fluidized bed jumlah katalis lebih sedikit dan
katalis bergerak sesuai kecepatan aliran gas yang masuk serta FBR memberikan
luas permukaan yang lebih besar dari PBR

E. Fluid-fluid reaktor
Biasa digunakan untuk reaksi gas-cair dan cair-cair.
1. Bubble Tank.

2. Agitate Tank

3. Spray Tower

Azas Teknik Kimia Page 181


Pertimbangan dalam pemilihan fluid-fluid reaktor.
1. Untuk gas yang sukar larut (Kl <) sehingga transfer massa kecil maka Kl harus
diperbesar. Jenis spray tower tidak sesuai karena Kg besar pada Spray Tower.
2. Jika lapisan cairan yang dominan, berarti tahanan dilapisan cairan kecil maka Kl
harus diperbesar
jenis spray tower tidak sesuai.
3. Jika lapisan gas yang mengendalikan (maka Kg <)
jenis bubble tank dihindari.
4. Untuk gas yang mudah larut dalam air
jenis bubble tank dihindari.

Azas Teknik Kimia Page 182