Anda di halaman 1dari 21

1

AKUNTANSI PERPAJAKAN
AKTIVA TETAP

MODUL 7
Mutiah

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2013
2

AKTIVA TETAP

A. JENIS AKTIVA TETAP


Aktiva Tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau

dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan

untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat

lebih dari satu tahun.

Menurut perpajakan aktiva tetap harus memenuhi kreteria :

1. Dimiliki dan digunakan dalam usaha atau yang dimiliki untuk mendapatkan,

menagih dan memelihara penghasilan, dengan suatu masa manfaat yang lebih dari

satu tahun.

2. Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam kegiatan normal.

Baik menurut akuntansi maupun ketentuan perpajakan nilai aktiva tetap tidak boleh

dibebankan sekaligus sebagai biaya. Pembebanannya dilakukan melalui alokasi

secara berangsur-angsur dengan cara penyusutan atau amortisasi.

Ketentuan perpajakan mengelompokkan aktiva tetap sbb :


1. Aktiva tetap yg dapat disusutkan (depreciable assets)
Mis : bangunan, mesin & peralatan
Nilai gedung disajikan dalam neraca adalah sebesar harga perolehan.
a. Gedung diperoleh :
- Pembelian (H. Beli, by perbaikan,by balik nama dll)
- Di bangun sendiri (H. kontrak, by pengawasan, by arsitek, by bunga
pinjaman, biaya asuransi) / seluruh biaya yang terjadi berkenaan dengan
pembangunan tersebut hingga siap digunakan.
Baik akuntansi maupun perpajakan biaya bunga yang dikeluarkanuntuk
membangun suatu proyek, bunga tersebut dapat dikapitalisasikan
3

Dalam prinsip akuntansi, biaya aktiva baru meliputi biaya bongkar dan
harga penggantian aktiva yang lama, yang merupakan pengorbanan yang
harus diperhitungkan sebagai biaya yang harus dikapitalisasi.
Dalam perpajakan nilai sisa buku harta lama yang dibongkar tidak
dikapitalisasi ke nilai perolehan harta baru, tetapi dibiayakan pada tahun
pajak ybs.

b. Mesin dan Peralatan peralatan kantor (mesin tulis, foto copy, meja dan
kursi kantor dll)
Mesin dan peralatan disajikan dineraca adalah sebesar H. Perolehan (H. Beli,
bea masuk, PPN, ongkos angkut, by asuransi, by pemasangan dan by.
percobaan)
2. Aktiva tetap tidak dapat disusutkan (nondepreciable assets)
Mis : Tanah kecuali tanah yang dipakai dalam proses pembuatan produk seperti :
pada industri keramik, gerabah, batu bata, genteng.
Nilai tanah disajikan dalam neraca adalah sebesar harga perolehan (H.Beli,
ongkos, by balik nama, notaris, by pematangan tanah, by pengurusan surat ijin)
Dalam akuntansi hasil penjualan dari benda-benda yang diperoleh dari
pekerjaan pematangan tanah, mis : bekas bangunan, tanah urukan, dll
dipandang sebagai pengurang nilai perolehan tanah ybs.
Dalam perpajakan kasus ini belum diatur secara jelas, penjualan benda-benda
tersebut tidak mengurangi harga perolehan harta, hasil penjualannya
merupakan objek pajak yang dikenakan PPh.

Pengeluaran Modal (capital expenditures) & Pengeluaran Pendapatan (revenue


expenditures)
* Capital expenditures : pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh suatu
manfaat yang akan dirasakan lebih dari satu periode akuntansi.
* Revenue expenditure : pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh suatu
manfaat yang hanya dirasakan dalam periode akuntansi yang bersangkutan.
4

Untuk tujuan penyusutan ketentuan perpajakan pengelompokkan aktiva :


1. Bangunan
- Peranen (20 th)
- Non permanen (10 th)
2. Bukan bangunan
- klmp 1 (4 th)
- klmp 2 (8 th)
- klmp 3 (16 th)
- klmp 4 (20 th)
masa manfaat 2th, 3th diklmpkan sbg aktiva klmp 1
masa manfaat 6th, 7th diklmpkan sbg aktiva klmp 2
masa manfaat 5th,9th, 17th persh dpt memilih yg paling menguntungkan
dimasukkan klmp 2,3 / 4

B. PEROLEHAN AKTIVA
Aktiva tetap dapat diperoleh dengan cara :
1. Pembelian (tunai, kredit, angsuran)
2. Capital lease (SGU Modal)
3. Pertukaran
4. Pembangunan sendiri
5. Hibah / pemberian

1. Pembelian aktiva
Aktiva yang diperoleh dengan pembelian di catat sejumlah :
Harga beli + biaya-biaya (PPN yg tidak dapat dikreditkan, by transportasi, by
pemasangan, jasa professional).
Harga beli aktiva antar pihak yg mempunyai hub istimewa dapat di hitung
kembali sesuai dengan harga pasar (wajar)
Ex:
PT. A memegang saham 30 % dari PT. B . PT A menjual peralatan ke PT.B
dengan harga 10 jt. Harga pasar Rp.12 jt. Maka untuk tujuan perpajakan harga
5

penjualan yang di catat di buku ke dua badan di hitung kembali menjadi 12 jt.
Kalau barang tersebut merupakan BKP tanpa memperhatikan koreksi harga, PT A
akan memungut PPN = 10% x Rp.10 jt = Rp. 1 jt.
Jika PPN tsb dapat dikreditkan maka tidak dikapitalisasi.
Jika PT. B bukan PKP / belum dikukuhkan menjadi PKP maka PPN nya :
1. Dikapitalisasi sebagai nilai perolehan aktiva sehingga nilai aktiva Rp. 11 jt.
2. Dianggap sebagai biaya pada saat pembelian aktiva sehingga nilai aktiva
hanya 10 jt. Sedang 1 jt pengurang penghasilan.

2. Perolehan dengan SGU Modal


Yang di maksud dengan leasehold : hak dari penyewa untuk menggunakan
aktiva tetap dalam suatu perjanjian sewa menyewa. Cara ini tidak menambah
aktiva pemakai, karena hak pemilikan tetap berada ditangan pemiliknya.
Penyusutan barang modal yang pengadaannya melalui perjanjian SGU dengan
hak opsi (financial leasing) dilakukan oleh lesse, meski menurut menurut hukum
masih milik lessor.
Apabila sewa di bayar setiap periode maka biaya sewa dibebankan dalam
periode terjadinya.
Jika sewa di bayar di muka untuk beberapa tahun ada 2 perlakuan :
- Diperlakukan sebagai sewa di bayar di muka yg termasuk dlm aktiva lancar,
perlakuan ini apabila biaya sewa dibayar untuk beberapa periode yang relatif
tidak lama.
- Diperlakukan sebagai aktiva tetap tidak berwujud jika sewa yang di bayar
dimuka untuk beberapa periode yang relatif lama.

Jika ada perbaikan (menambah partisi) biaya tersebut harus dikapitalisasikan jika
jumlahnya cukup material, dan belanja modal ini dalam neraca dikelompokkan
dalam aktiva tetap tidak berwujud dengan judul leasehold improvement, Sesuai
dengan KMK hal tersebut disusutkan sebesar 5 % selama 20 th.
6

Pencatatan amortisasi adalah sebagai berikut :


Leasehold improvement xx
Kas xx
Biaya sewa xx
Leasehold improvement xx
Dalam hal ini ada 3 cara penyusutan atas leasehold improvement(pengel by modal
a. Disusutkan selama masa sewa (sebaiknya cara ini yang dipakai)
b. Disusutkan sesuai dengan ketentuan fiskal
c. Disusutkan dengan tariff 5 %, tetapi pada akhir masa sewa sisa nilai buku
dibebankan sekaligus.
Ex :
PT.XYZ menyewa Genset untuk penerangan dr PT. Trakindo selama 5 th. PT
XYZ mengganti suku cadang seharga 5 jt. Pengeluaran 5 jt harus
dikapitalisasi dan di amortisasi selama 5 th karena pengeluaran biaya modal
tersebut hanya bermanfaat selama masa sewa.

3. Perolehan dengan pertukaran


Aktiva tetap dapat diperoleh melalui pertukaran dengan :
- aktiva non moneter (baik sejenis / bukan)
- Sekuritas (obligasi / saham sendiri / emisi badan lain)
Selisih N.B aktiva lama dengan harga perolehan aktiva baru dari pertukaran
aktiva bukan sejenis harus di akui sebagai rugi / laba
Untuk aktiva sejenis pengakuan itu ditangguhkan sampai saat aktiva baru di lepas
kembali.
Pertukaran dengan sekuritas emisi sendiri (obl / saham) menimbulkan agio /
disagio.
7

Ex :
Suatu aktiva di tukar dengan aktiva lain yang tidak sejenis dengan contoh sbb :

Tidak sejenis Sejenis


Nilai perolehan aktiva tetap (aktiva lama) = Rp.3.000.000 3.000.000
Ak. Depresiasi = Rp.1.750.000 1.750.000
Nilai buku = Rp.1.250.000 1.250.000
Nilai perolehan aktiva baru = Rp.2.000.000 sda
Pembayaran yang seharusnya dilakukan = Rp. 750.000 -
Pembayaran yang dilakukan = Rp. 500.000 500.000
Laba atas pertukaran aktiva = Rp. 250.000 1.750.000
Pencatatan atas pertukaran aktiva tidak sejenis tersebut adalah sbb :
Aktiva baru 2.000.000
Akumulasi depresiasi 1.750.000
Aktiva lama 3.000.000
Kas 500.000
Laba atas pertukaran 250.000

Pencatatan atas pertukaran aktiva sejenis adalah sbb:


Aktiva baru 1.750.000
Akumulasi Depresiasi 1.750.000
Aktiva lama 3.000.000
Kas 500.000
Pertukaran dengan sekuritas emisi sendiri (obl/shm) menimbulkan agio/disagio.
Perlakuan pajak terhadap pertukaran harta diatur di pasal 10 ayat (2) UU PPh.
Ex :
PT MELATI mempunyai harta R dengan nilai buku Rp.5.000,-. Harta itu
ditukar dengan harta S milik PT. ANGGREK Rp.10.000,- . Kedua harta (R &
S) mempunyai nilai pasar Rp. 15.000. Kedua badan akan mencatat nilai
perolehan harta Rp. 15.000,-
8

PT. MELATI PT. ANGGEK


(R) (S)
Nilai Buku Rp. 5.000,- Rp. 10.000,-
Harga pasar Rp. 15.000,- Rp. 15.000,-
PKP Rp. 10.000,- Rp. 5.000,-

Pertukaran dalam hal ada hubungan istimewa


Pada pasal 10 ayat (1) UU PPh jika terjadi penjualan harta antara 2 pihak yang
mempunyai hubungan istimewa harga perolehannya adalah jumlah yang
seharusnya dikeluarkan.
Selisih Harga pasar dengan Nilai buku harta yang dipertukarkan merupakan PKP
Ex :
Seperti contoh di atas : dalam pertukaran tersebut tidak terdapat realisasi
pembayaran antara pihak-pihak yang bersangkutan, karena mempunyai
hubungan istimewa.
Selisih Harga pasar dengan Nilai buku merupakan PKP

Pertukaran aktiva dengan saham (emisi) perusahaan sendiri sebagai penyertaan


modal.
Contoh :
PT.X menukar aktiva nilai buku Rp. 6 jt dan nilai pasar 10 jt.dengan saham
PT.Y .seharga nilai nominal Rp.8 jt.
PT.Y akan mencatat aktiva itu dengan nilai Rp.10 jt.
Perbedaan nilai dengan nilai nominal saham 2 jt (10 jt 8 jt)mrpk agio saham
PT.X akan menghitung keuntungan 4 jt (10 jt 6 jt)

4. Perolehan dengan membangun sendiri


Praktek akuntansi komersial menyatakan harga perolehan aktiva tetap yang di
bangun sendiri meliputi : seluruh biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan
pembangunan aktiva tersebut hingga siap dipergunakan. Dalam hal ini akuntansi
9

menghadapi masalah mengenai beban overhead (listrik, asuransi, pajak,


penyusutan, adm) ke dalam biaya proyek.
Cara untuk menyelesaian masalah tersebut adalah sebagai berikut :
a. Semua biaya overhead dibebankan kedalam biaya proyek, hal ini tidak
realistis karena hanya sebagian by overhead yang digunakan untuk proyek.
b. Sebagian saja by overhead yang dibebankan ke proyek, dengan pembebanan
proporsional
c. Yang dibebankan biaya tambahan saja, biaya overhead yang bersifat biaya
tetap tidak dibebankan. Jika pekerjaan proyek tidak ada bagaimanapun biaya
tetap akan terjadi.

5. Perolehan dengan hibah / pemberian


Aktiva tetap yang diperoleh karena hibah / pemberian di catat sebesar harga
taksiran / harga pasar, dengan mengkredit Modal Donasi
PT. MAJU menerima hibah tanah dan gedung sebesar Rp 10 jt dan Rp 40 jt. Dan
masing-masing mempunyai harga pasar Rp. 20 jt dan Rp. 60 jt. Dalam hal ini
akan di catat oleh perusahaan :
Tanah 20 jt
Gedung 60 jt
Modal Donasi 80 jt

Jika terjadi penyerahan harta karena hibah, bantuan, sumbangan yang memenuhi
syarat (tidak ada hubungan usaha) nilai perolehan bagi pihak yang menerima
harta adalah sisa buku harta dari pihak yang melakukan penyerahan.
Jika terjadi penyerahan harta karena hibah, bantuan, sumbangan antara pihak yang
mempunyai hubungan usaha, maka nilai perolehan bagi pihak yang menerima
harta adalah harga pasar.

C. REVALUASI HARTA BERWUJUD


Revaluasi hanya diperkenankan apabila terjadi ketidaksesuaian antara unsur-unsur
biaya dengan penghasilan karena perkembangan harga. Atas selisih revaluasi aktiva
10

dikenakan pajak dengan tariff tersendiri dengan keps Men Keu sepanjang tidak
melebihi tariff tertinggi yaitu antara 10% s/d 30%.
Selisih revaluasi aktiva tersebut merupakan laba dan harus kena pajak.Alasan
revaluasi karena terjadi perubahan nilai tukar rupiah (devaluasi)
Selisih penilaian kembali ini harus dibukukan langsung sebagai kenaikan modal dan
tidak boleh diperlakukan sebagai laba luar biasa.

D. PENYUSUTAN
Penyusutan adalah penurunan nilai aktiva yang disebabkan oleh berkurangnya
manfaat potensial dari aktiva ybs yang diperkirakan terjadi pada periode kegiatan
usaha yang berjalan, atau proses alokasi sebagian harga perolehan aktiva menjadi
biaya (cost allocation).
Umur aktiva adalah masa pemakaian aktiva dalam usaha.
Umur aktiva dapat dilihat dari umur teknis dan umur ekonomis
Umur teknis : umur aktiva sesuai dengan kreteria teknis aktiva
Umur Ekonomis: jangka waktu pemanfaatannya secara ekonomis.

PSAK membedakan antara istilah penyusutan (depresiasi) dengan penghapusan (write


off)
- Depresiasi menunjuk kepada alokasi nilai (penurunan nilai secara gradual)
- Penghapusan (write off) menunjuk kepada peniadaan (penghilangan) nilai suatu
aktiva tetap dari pembukuan. penghapusan dilakukan apabila nilai buku aktiva
di anggap tidak lagi menggambarkan manfaat keekonomiannya.
Aktiva tetap perusahaan :
- A.T berwujud
- Sumber alam (wasting assets)
- A.T tidak berwujud (intangible assets) mis : good will, hak paten, hak cipta,
frenchise
A.T berwujud, sumber alam, dan intangible assets merupakan sumber yang
mempunyai nilai ekonomis yang manfaatnya akan dinikmati secara bertahap dalam
mendapatkan penghasilan.
11

Untuk mempertemukan penghasilan dan biaya harga perolehan aktiva perlu


dialokasikan pada periode yang mendapat manfaat dari assets tersebut.
Proses alokasi aktiva berwujud di sebut Depresiasi
Proses alokasi sumber daya alam di sebut deplesi
Proses alokasi aktiva tidak berwujud di sebut amortisasi

E. METODE PENYUSUTAN
Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat dikelompokkan
menurut kreteria sbb :
1. Berdasarkan waktu
a. M. Garis lurus (Straight-line method)
b. M. Pembebanan menurun
- M. jumlah angka tahun (sum of the years digits method)
- M. saldo menurun / saldo menurun ganda (declining / double declining
method)
2. Berdasarkan penggunaan :
a. M. jam jasa (service hours method)
b. M. jumlah unit produksi (productive output method)
3. Berdasarkan kreteria lainnya
a. M. berdasarkan jenis dan kelompok (group & composite method)
b. M. anuitas (annuity method)
c. Sistem persediaan (inventory systems)

1. Straight-line method (digunakan dalam perpajakan u/ gol bangunan)

Penyusutan tiap th = HP - NR
n
ex : sebuah mesin pabrik
HP = Rp. 5.500.000 NR = Rp.500.000 n = 5 th
5.500.000 500.000 = 1.000.000
5
12

Tabel penyusutan Straight-line method


Tahun Biaya penyst / tahun Ak. Penyusutan N.B
0 Rp.5.500.000
1 Rp. 1.000.000 Rp.1.000.000 Rp.4.500.000
2 Rp. 1.000.000 Rp.2.000.000 Rp.3.500.000
3 Rp. 1.000.000 Rp.3.000.000 Rp.2.500.000
4 Rp. 1.000.000 Rp.4.000.000 Rp.1.500.000
5 Rp. 1.000.000 Rp.5.000.000 Rp. 500.000

2. Sum of the years digits method


Dalam metode ini besarnya penyusutan di hitung dengan cara mengalikan bobot
penyusutan dengan jumlah yang di susut.
Ex :
Aktiva digunakan dalam 5 tahun maka bobot untuk :
Th I = 5 th II = 4 th III = 3 th IV = 2 th V = 1 Jml = 15
Pembagi di hitung dengan menjmlkan bobot-bobot penyusutan masing-masing th.
Atau dg di hitung = (n+1) (n/2) dari contoh tsb dapat di hitung (5+1)(5/2)= 15
H.P = Rp 5.000.000 NR = Rp. 500.000 n = 5
H.P Mesin yang di susut = Rp. 4.500.000,-

Tabel penyusutan M. Sum of the years digits method


Tahun Bobot Penyst / th Ak. Penyst Nilai Buku
0 Rp.5.000.000
1 5 5/15 x Rp.4.500.000 = 1.500.000 Rp.1.500.000 Rp.3.500.000
2 4 4/15 x Rp.4.500.000 = 1.200.000 Rp.2.700.000 Rp.2.300.000
3 3 3/15 x Rp.4.500.000 = 900.000 Rp.3.600.000 Rp.1.400.000
4 2 2/15 x Rp.4.500.000 = 600.000 Rp.4.200.000 Rp. 800.000
5 1 1/15 x Rp.4.500.000 = 300.000 Rp.4.500.000 Rp. 500.000
15 = 4.500.000
13

4. Declining balance method


Bulan Nopember 2001 dibeli dan ditempatkan mesin seharga Rp.120.000 masuk
kelompok I dan penyusutan dengan metode saldo menurun.

Tabel penyusutan declining balance method


Tahun Tarif Penyusutan Nilai buku
2001 2/12 x 50% Rp. 10.000 Rp. 110.000
2002 50% Rp. 55.000 Rp. 55.000
2003 50% Rp. 27.500 Rp. 27.500
2004 50% Rp. 13.750 Rp. 13.750
2005 Sekaligus Rp. 13.750 Rp. 0

F. DEPLESI
Deplesi adalah istilah untuk menyatakan penyusutan dalam usaha pertambangan dan
pengusahaan hutan (dalam perpajakan istilah lain dari deplesi adalah amortisasi).
Deplesi dihitung untuk tiap unit hasil sumber alam (ton,barrel dll)

Deplesi = Nilai perolehan - Nilai residu


jml potensi

Contoh :
Tanah yang mengandung hasil tambang dibeli dengan harga Rp. 20.000.000, taksiran
isinya sebesar 150.000 ton. Tanah tersebut sesudah dieksploitasi ditaksir bernilai
Rp.2.000.000,-. Deplesi per ton dihitung sbb :

Deplesi = Rp. 20.000.000 - Rp. 2.000.000 = Rp.120,- per ton


150.000

Jika pada th I bisa dieksploitasi sebanyak 40.000 ton, maka deplesi untuk th tersebut=

40.000 x Rp.120 = Rp. 4.800.000,-


14

Jurnal yang dibuat untuk mencatat deplesi adalah sbb :


Deplesi Rp. 4.800.000,-
Akumulasi deplesi Rp. 4.800.000,-

Hak Pengusahaan Hutan (HPH)

Produksi Tahun ini (M3) x 100% = .% (max 20%)


Taksiran Produksi dalam konsesi HPH (M3)

Hak Penambangan lainnya

Produksi Tahun ini x 100% = .% (max 20%)


Taksiran Deposit Mineral yang dapat ditambang

Hak Penambangan minyak dan Gas Bumi

Produksi Tahun ini x 100% = .%


Taksiran Deposit Minyak Mentah / Gas Bumi

Contoh :
Suatu konsensi pertambangan ditaksir jumlah depositnya 80.000 ton, hasil produksi
satu tahun 8.000 ton. Prosentase hasil produksi satu tahun adalah :
8.000 x 100% = 10%
80.000
jadi, hak penambangan tersebut dalam setahun diamortisasikan sebesar 10%

Metode penyusutan tersebut di atas sesuai dengan prinsip akuntansi


Prinsip deplesi dalam perpajakan dapat berbeda dengan prinsip akuntansi
merupakan beda tetap.
Menurut ketentuan perpajakan hak penambangan dan hak pengusahaan hutan dapat
diamortisasikan berdasarkan metode satuan produksi
Metode satuan = jml penambangan / penebangan
15

G. METODE PENYUSUTAN MENURUT PAJAK


Metode penyusutan yg dibolehkan dalam ketentuan fiskal adalah :
1. Straight-line method
2. Declining balance method
Untuk menghitung penyusutan ditetapkan sebagai berikut (ps 11 ayat (6) UU PPh
Kelompok harta berwujud Masa manfaat Tarif penyusutan sbgm di maksud
ayat (1) ayat (2)

I. Bukan Bangunan
Kelompok 1 4 25 % 50 %
Kelompok 2 8 12,5 % 25 %
Kelompok 3 16 6,25 % 12,5 %
Kelompok 4 20 5% 10 %
II. Bangunan
Permanen 20 5% -
Tidak permanen 10 10 % -

Straight line Declining B


Dalam ketentuan perpajakan depresiasi dimulai pada saat tahun pengeluaran
(walaupun aktiva belum dimanfaatkan) dan di hitung dalam tahunan penuh. Saat yang
menentukan adalah pada akhit tahun. Sedangkan pelepasan pada pertengahan tahun
tidak diberikan depresiasi karena tiadanya hitung depresiasi.
Ex :
31/12 99 beli aktiva seharga Rp. 10 jt, hal ini akan diberikan penyusutan penuh
untuk tahun99 walaupun aktiva baru di pakai pada juni00. Apabila aktiva di jual
pada sept 01 untuk tahun 01 tidak ada penyusutan, karena untuk keperluan
perpajakan saat yang menentukan adalah akhir tahun buku, dan pada saat itu aktiva
sudah bukan milik perusahaan. Dilain pihak, perusahaan pembeli dapat malakukan
penyusutan untuk th 01 sejumlah penuh 1 th.
16

Ex :
PT.TIMBUL membeli aktiva :
Aktiva dengan umur 2 th Rp. 15 jt
Aktiva dengan umur 3 th Rp. 25 jt
Aktiva dengan umur 4 th Rp. 10 jt
Aktiva dengan umur 5 th Rp. 25 jt
Terhadap aktiva tersebut dikenakan PPN

a. Perolehan aktiva
Aktiva klmp I 75.000.000
PPN masukan 7.500.000
Kas / utang 82.500.000
b. Penyusutan
Biaya penyusutan 37.500.000
Ak. Penyst aktiva klmp I 37.500.000
17

Contoh soal :

1. PT. GEMILANG membangun gedung pabrik seharga Rp. 700.000.000 selesai bulan
Juni 1999, PPN dari kontraktor sebesar Rp. 70.000.000 telah dikreditkan pada tahun
1999.
Biaya pendirian (kelompok I) Rp. 50.000.000
Meubel (kelompok I) Rp. 20.000.000
Komputer (kelompok I) Rp. 10.000.000
Kendaraan Operasional (kel II) Rp.120.000.000
Pada tanggal 01 Juli 1999 PT. GEMILANG import mesin pabrik sebesar USD
600,000 dengan kurs per USD = Rp. 2.250

Penyusutan :
a. Akuntansi, metode garis lurus, tidak ada nilai residu
- Gedung pabrik taksiran umur 35 tahun
- Mesin pabrik taksiran umur 16 tahun
- Meubel taksiran umur 4 tahun
- Komputer taksiran umur 4 tahun
- Kendaraan operasional taksiran umur 8 tahun
- Biaya Pendirian taksiran umur 5 tahun
b. Perpajakan, harta bukan kelompok bangunan dengan metode saldo menurun

Soal :
1. Hitung penyusutan komersial dan penyusutan fiskal dari tahun 1999 s/d 2003
2. Buat perbandingan penyusutan komersial dan penyusutan fiskal dari tahun 1999
s/d 2003
18

PENYUSUTAN FISKAL (klp III) = 12,5% x NBF


MESIN PABRIK, 01-07-1999 : HP = Rp. 1.350.000.000

No Tahun Penyusutan Ak. Penyst NBF akhir th

1 1999 12,5% x 1.350.000.000 = 168.750.000 168.750.000 1.181.250.000


2 2000 12,5% x 1.181.250.000 = 147.656.250 316.406.250 1.033.593.750
3 2001 12,5% x 1.033.593.750 = 129.199.218 445.605.468 904.394.532
4 2002 12,5% x 904.394.532 = 113.049.317 558.654.785 791.345.215
5 2003 12,5% x 791.345.215 = 98.918.152 657.572.937 692.427.063
6 2004 12,5% x 692.427.063 = 86.553.383 744.126.320 605.873.680
7 2005 12,5% x 605.873.680 = 75.734.210 819.860.530 530.139.470
8 2006 12,5% x 530.139.470 = 66.267.434 886.127.964 463.872.036
9 2007 12,5% x 463.872.036 = 57.984.005 944.111.969 405.888.031
10 2008 12,5% x 405.888.031 = 50.736.004 994.847.973 355.152.027
11 2009 12,5% x 355.152.027 = 44.394.004 1.039.241.977 310.758.023
12 2010 12,5% x 310.758.023 = 38.844.754 1.078.086.731 271.913.269
13 2011 12,5% x 271.913.269 = 33.989.160 1.112.075.891 237.924.109
14 2012 12,5% x 237.924.109 = 29.740.515 1.141.816.406 208.183.594
15 2013 12,5% x 208.183.594 = 26.022.951 1.167.839.357 182.160.643
16 2014 Sekaligus 182.160.643 1.350.000.000 0

PENYUSUTAN FISKAL (klp II)


SALDO MENURUN = 25% x NBF
01-07-1999 H.P Kendaraan Operasional Rp. 120.000.000

No Tahun Penyusutan Ak. Penyst NBF

1 1999 25% x 120.000.000 = 30.000.000 30.000.000 90.000.000


2 2000 25% x 90.000.000 = 22.500.000 52.500.000 67.500.000
3 2001 25% x 67.500.000 = 16.875.000 69.375.000 50.625.000
4 2002 25% x 50.625.000 = 12.656.250 82.031.250 37.968.750
5 2003 25% x 37.968.750 = 9.492.188 91.523.438 28.476.562
6 2004 25% x 28.476.562 = 7.119.141 98.642.579 21.357.421
7 2005 25% x 21.357.421 = 5.339.355 103.981.934 16.018.066
8 2006 Sekaligus = 16.018.066 120.000.000 0
19

PENYUSUTAN KOMERSIAL
GARIS LURUS
01-07-1999 H.P Meubel (Klmp I) Rp. 20.000.000
Tahun Biaya penyst / tahun Ak. Penyusutan N.B
0 Rp.20.000.000
1 6/12x 5 jt=Rp.2.500.000 Rp.2.500.000 Rp.17.500.000
2 Rp. 5.000.000 Rp.7.500.000 Rp.12.500.000
3 Rp. 5.000.000 Rp.12.500.000 Rp.7.500.000
4 Rp. 5.000.000 Rp17.500.000 Rp.2.500.000
5 Rp. 2.500.000 Rp.20.000.000 0

PENYUSUTAN KOMERSIAL
GARIS LURUS
01-07-1999 H.P Komputer (Klmp I) Rp. 10.000.000
Tahun Biaya penyst / tahun Ak. Penyusutan N.B
0 Rp.10.000.000
1 6/12x2.5jt=Rp. 1.250.000 Rp.1.250.000 Rp.8.750.000
2 Rp. 2.500.000 Rp.3.750.000 Rp.6.250.000
3 Rp. 2.500.000 Rp.6.250.000 Rp.3.750.000
4 Rp. 2.500.000 Rp.8.750.000 Rp.1.250.000
5 Rp. 1.250.000 Rp.10.000.000 0

PENYUSUTAN KOMERSIAL
GARIS LURUS
01-07-1999 B. Pendirian (Klmp I) Rp. 50.000.000
Tahun Biaya penyst / tahun Ak. Penyusutan N.B
0 Rp.50.000.000
1 6/12x10jt=5.000.000 Rp. 5.000.000 Rp.45.000.000
2 Rp. 10.000.000 Rp.15.000.000 Rp.35.000.000
3 Rp. 10.000.000 Rp.25.000.000 Rp.25.000.000
4 Rp. 10.000.000 Rp.35.000.000 Rp.15.000.000
5 Rp. 10.000.000 Rp.45.000.000 Rp.5.000.000
6 Rp. 5.000.000 Rp.50.000.000 0
20

PENYUSUTAN KOMERSIAL
GARIS LURUS
01-07-1999 Kendaraan Operasional (Klmp II) Rp. 120.000.000
Tahun Biaya penyst / tahun Ak. Penyusutan N.B
0 Rp.120.000.000
1 6/12/15jt=7.500.000 Rp. 7.500.000 Rp.112.500.000
2 Rp. 15.000.000 Rp.22.500.000 Rp97.500.000
3 Rp. 15.000.000 Rp.37.500.000 Rp.82.500.000
4 Rp. 15.000.000 Rp.52.500.000 Rp.67.500.000
5 Rp. 15.000.000 Rp.67.500.000 Rp.52.500.000
6 Rp. 15.000.000 Rp.82.500.000 Rp. 37.500.000
7 Rp. 15.000.000 Rp.97.500.000 Rp.22.500.000
8 Rp. 15.000.000 Rp.112.500.000 Rp.7.500.000
9 Rp.7.500.000 Rp.120.000.000 0

Penyusutan Komersial
Metode Garis Lurus

Jenis Aktiva Harga Umur Penyst 1999 2000 03 Total


Harga Perolehan Perolehan Per th (1/2 th) (4 th) Penyt

Gedung Pabrik 700.000.000 35 20.000.000 10.000.000 80.000.000 90.000.000


Mesin Pabrik 1.350.000.000 16 84.375.000 42.187.500 337.500.000 379.687.500
Meubel 20.000.000 4 5.000.000 2.500.000 17.500.000 20.000.000
Komputer 10.000.000 4 2.500.000 1.250.000 8.750.000 10.000.000
Kendaraan 120.000.000 8 15.000.000 7.500.000 60.000.000 67.500.000
Biaya Pendirian 50.000.000 5 10.000.000 5.000.000 40.000.000 45.000.000

TOTAL 2.250.000.000 136.875.000 68.437.500 543.750.000 612.187.500

Penyusutan Fiskal
Metode Saldo Menurun selain Bangunan

Jenis Harga Tarif Penyt Penyt Penyt Penyt Penyt Total


Aktiva Perolehan 99 00 01 02 03 Penyt

Gd Pabrik 700.000.000 5% 35.000.000 35.000.000 35.000.000 35.000.000 35.000.000 175.000.000


Mesin Pbr 1.350.000.000 12,5% 168.750.000 147.656.250 129.199.219 113.049.316 98.918.152 657.572.937
Meubel 20.000.000 50% 10.000.000 5.000.000 2.500.000 2.500.000 0 20.000.000
Komputer 10.000.000 50% 5.000.000 2.500.000 1.250.000 1.250.000 0 10.000.000
Kendaraan 120.000.000 25% 30.000.000 22.500.000 16.875.000 12.656.250 9.492.188 91.523.438
By. Pendir 50.000.000 50% 25.000.000 12.500.000 6.250.000 6.250.000 0 50.000.000

TOTAL 2.250.000.000 273.750.000 225.156.250 191.074.219 170.705.566 143.410.339 1.004.096.375


21

Perbandingan antara Penyusutan komersial dan Fiskal

Tahun Penyt Komersial Penyt Fiskal Koreksi

1999 68.437.500 273.750.000 205.312.500


2000 136.875.000 225.158.250 88.281.250
2001 136.875.000 191.074.219 54.199.219
2002 136.875.000 170.705.566 33.830.566
2003 133.125.000 143.410.339 10.285.339

TOTAL 612.187.500 1.004.096.374 391.908.874