Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PSIKODIAGNOSTIKA II (WAWANCARA)

MOTIVASI BELAJAR SBMPTN PASKA GAGAL SNMPTN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikodiagnostik II (wawancara)

Dosen Pengampu: Arista Adi Nugroho, S.Psi, MM.

Oleh:

Asta Saiid Mahanani

G0115016/A

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2017
BAB I

PERENCANAAN

A. Tujuan Wawancara
Mengetahui motivasi siswa dalam belajar untuk mempersiapkan SBMPTN setelah
gagal SNMPTN
B. Metode Wawancara
Metode wawancara yang digunakan yaitu wawancara personal/ individu

2
BAB II

JENIS DAN PEDOMAN WAWANCARA

Jenis wawancara

Jenis wawancara yaitu wawancara terstruktur.

Pedoman Wawancara

A. Teori
Pengertian Motivasi
Motivasi (motiovation) adalah keseluruhan dorongan, keinginan, kebutuhan, dan
daya yang sejenis yang menggerakkan perilaku seseorang (Wahab, 2015). Dalam arti
yang lebih luas, motivasi diartikan sebagai pengaruh dari energi dan arahan terhadap
perilaku yang meliputi: kebutuhan minat, sikap, keinginan, dan perangsang (incentives).
Menurut Winkel yang dikutip oleh Ely Manizar dalam bukunya Pengantar
Psikologi Pendidikan, bahwa motivasi adalah motif yang sudah menjadi aktif pada saat
tertentu, sedang motif adalah daya penggerak dalam diri seseorang individu untuk
melakukan kegiatan tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan demikian,
motif merupakan dorongan untuk berperilaku sedangkan motivasi mengarahkan
(Manizar, 2005, dalam Wahab, 2015).
Selanjutnya Oemar Hamalik memberikan definisi motivasi adalah sebagai suatu
perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan
dan reaksi untuk mencapai tujuan (Hamalik,2006).
Dengan demikian, berdasarkan beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa
motivasi merupakan kondisi psikiologis yang mendorong seseorang untuk melakukan
sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan
memeberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuannya dapat tercapai. Dalam
kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan sebab seseorang yang tidak mempunyai
motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

3
Pengertian Motivasi Belajar

Mc. Donald mengatakan bahwa, motivation is a energy change within the person
characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction. Motivasi adalah suatu
perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditimbulkan dengan timbulnya afektif
(perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan (Djamarah, 2008). Sedangkan Sardiman
(2009) menyimpulkan bahwa motivasi itu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan
menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi yang ada pada diri manusia, sehingga
akan bergayut dengan persoalan gejala kejiwaan, perasaan dan juga emosi, untuk
kemudian bertindak atau melakukan sesuatu. Semua ini didorong karena adanya tujuan,
kebutuhan atau keinginan. Motivasi menurut Wlodkowsky (Sugihartono, 2007) adalah:
Motivasi adalah suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan
perilaku tertentu dan yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku
tersebut. Motivasi belajar yang tinggi tercermin dari ketekunan yang tidak mudah
patah untuk mencapai sukses meskipun dihadang oleh berbagai kesulitan.
Motivasi dapat disimpulkan sebagai sebuah energi yang mampu
mendorong seseorang untuk melakukan sesutau guna mencapai tujuan atau
keinginan seseorang tersebut. Sedangkan belajar adalah suatu kata yang sudah
akrab dengan semua lapisan masyarakat. Bagi para pelajar kata belajar
merupakan kata yang tidak asing. Bahkan sudah merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari semua kegiatan dalam mentut ilmu di lembaga pendidikan
formal. Kegiatan belajar dilakukan setiap waktu sesuai dengan keinginan. Entah
malam hari, siang hari, sore hari, atau pagi hari. Namun, dari semua itu tidak
semua orang mengetahui apa itu belajar.
Cronbach (Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, 2004) berpendapat bahwa
learning is shown by change in behavior as a result of experience. (Belajar sebagai suatu
aktivitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman).
Selain itu Syaiful Bahri (2008) menyimpulkan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan
jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman
individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan
psikomotor. Sejalan dengan itu Sugihartono, dkk (2007) menyimpulkan bahwa belajar
merupakan suatu proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud

4
perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi yang relatif permanen atau menetap
karena adanya interaksi individu dengan lingkungan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi
belajar adalah suatu keinginan dalam diri yang menimbulkan atau menyebabkan perilaku
tertentu yang bertujuan untuk memperoleh suatu pengetahuan dan pengalaman dalam
wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan yang relatif permanen atau menetap.

B. Aspek
Cherniss dan Goleman (2001), menyebutkan ada empat aspek dalam motivasi
belajar, yaitu adanya dorongan mencapai tujuan yang diinginkannya, komitmen, inisiatif,
dan optimis dalam mempelajari suatu hal.
1. Keinginan untuk memahami dan menguasai apa yang dipelajari.
Suatu kondisi yang mana individu memiliki keinginan untuk
memperjuangkan sesuatu agar sesuai dengan apa yang diharapkan. Seorang
individu melakukan aktivitas belajar karena adanya dorongan untuk mengetahui,
memahami, dan menguasi apa yang dipelajarainya (Cherniss dan Goleman, 2001).
2. Komitmen akan tugas dan kewajiban untuk belajar.
Selain adanya dorongan mencapai sesuatu, seorang individu yang
termotivasi mempelajari sesuatu biasanya memiliki komitmen dalam belajar.
Demikian halnya dengan siswa yang memiliki motivasi dalam belajar, ia akan
menyadari bahwa ia memiliki tugas dan kewajiban untuk belajar (Cherniss dan
Goleman, 2001).
3. Inisiatif untuk belajar.
Inisiatif dapat diartikan sebagai melakukan suatu tindakan berdasarkan
pemikiran dan kemampuan, serta kesempatan. Misalnya, seorang siswa yang
membiasakan diri belajar dan selalu menyelesaikan tugasnya tepat waktu tanpa
adanya suruhan atau teguran dari orang tuanya. Apabila siswa telah memiliki
inisiatif sesuai dengan tugasnya, maka ia kan lebih memiliki kesempatan untuk
memperluas pengetahuan dan wawasannya (Cherniss dan Goleman, 2001).
4. Optimis akan hasil belajar.

5
Optimis dapat dimaknai sebagai suatu sikap yang gigih dalam upaya
mencapai tujuan tanpa peduli adanya kegagalan dan kemunduran. Siswa yang
memiliki sikap optimis, tidak akan mudah menyerah dan putus asa, meskipun
prestasinya kurang memuaskan. Ia akan terus giat belajar sambil mengoreksi diri
guna mengurangi kelemahan-kelemahan yang dimiliki (Cherniss dan Goleman,
2001).

C. Indikator Perilaku
Indikator dari aspek keinginan untuk memahami dan menguasai apa yang dipelajari.
Belajar dengan giat
Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Indikator dari aspek komitmen akan tugas dan kewajiban untuk belajar.
Mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Memanajemen waktu dengan baik untuk belajar.
Indikator dari aspek inisiatif untuk belajar.
Berkeinginan untuk belajar dengan kesadaran diri sendiri.
Belajar dengan cara-cara tertentu.
Mengikuti try out untuk menguji kemampuan belajar.
Berdoa untuk diberikan kemudahan.
Indikator dari aspek optimis akan hasil belajar
Percaya bahwa hasil belajarnya maksimal.
Berusaha untuk menerima kegagalan.

D. Daftar Pertanyaan Wawancara


1. Apa yang anda lakukan setelah mengetahui bahwa anda tidak lolos SNMPTN?
2. Bagaimana belajar anda setelah pengumuman SNMPTN?
3. Apakah anda selalu ada keinginan untuk menguasai semua materi SBMPTN?
4. Apa yang akan anda lakukan ketika ada materi tyang belum anda ketahui sama
sekali?
5. Apa yang anda lakukan ketika mendapatkan kesulitan dalam belajar?
6. Apa saja yang anda lakukan untuk mengisi waktu luang tersebut?

6
7. Bagaimana anda mengatur jadwal belajar anda?
8. Bagaimana kualitas tidur anda ketika harus belajar SMBPTN ini?
9. Bagaimana jika ada kegiatan penting yang mengganggu waktu belajar anda, apa
yang akan anda lakukan?
10. Apa yang akan anda lakukan ketika merasa jenuh dalam belajar?
11. Apakah ada yang mendorong anda untuk belajar?
12. Apakah ada cara-cara tertentu anda dalam belajar?
13. Bagaimana anda belajar untuk suatu hal yang belum anda ketahui seblumnya dan
hal itu merupakan hal yang sulit?
14. Apa anda selalu berlatih soal dirumah sendiri?
15. Apakah anda mengikuti try out untuk menuji kemampuan anda?
16. Bagaimana ibadah anda ketika sedang belajar untuk SBMPTN ini?
17. Bagaimana tingkat ibadah anda sebelum SBMPTN ini?
18. Bagaimana menurut anda hasil belajar anda selama ini?
19. Apakah anda merasa bahwa anda merasa cukup untuk malakukan tes SBMPTN
saat ini?
20. Apa yang akan anda lakukan ketika salah dalam mengerjakan soal?
21. Bagaimana perasaan anda ketika mengetahui kemampuan anda belum cukup
untuk masuk sesuai jurusan yang anda inginkan?

7
BAB III

PELAKSANAAN WAWANCARA

A. Tempat Wawancara

Tempat wawancara dilakukan di Ruang Kuliah 1 Gedung D Psikologi Fakultas


Kedokteran UNS.

B. Waktu Wawancara

Wawancara dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2017 pada pukul 14.00-15.00 WIB

C. Deskripsi Subjek

Nama Interviewee : Muhammad Luthfy Abdul Halim Al-Manshur

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tempat tanggal lahir : Surakarta, 15 Oktober 1998

Usia : 18 tahun

Pendidikan : SMA

D. Hasil Wawancara

Baris Uraian Coding


1 T: Assalamualaikum dik (sambil jabat tangan). Salam. (opening)
J: Waalaikumsalam mas (membalas jabat
tangan).

8
T: Sebelumnya aku mau minta izin buat ngrekam
5 pembicaraan kita boleh apa nggak ya dik?
J: Ngrekam video apa suara mas?
T: Suara aja dik, untuk mempermudah membuat
laporan nantinya.
J: Tidak apa-apa mas.
10 T: Terima kasih dik, sebelum melakukan
wawancara, aku perkenalkan diri dulu ya dik.
Namaku Asta Saiid Mahanani , Prodi
Psikologi UNS angkatan 2015 sekarang
semester 4. Terima kasih dik sebelumnya udah
15 ngeluangin waktu buat kesini untuk wawancara
sebentar. Sebelunya aku mau kenal dulu
dengan adik, nama adik siapa?
18 J: Nama lengkap aku Muhammad Luthfy Abdul Perkenalan. (18-20)
Halim Al-Mansur, dipanggil Luthfy, umur 18
20 tahun.
T: Adik dulu sekolah dimana?
J: Aku sekolah di SMA Negeri 2 Surakarta, aku
lulusan taun lalu soalnya tidak lolos SNMPTN
sama SBMPTN taun lalu.
25 T: Oalah adik lulusan taun lalu ya, adik rumahnya
dimana?
J: Iya mas, rumahku di Banyuanyar deket sana.
T: Deket sama rumahku berarti, adik habis les apa
pergi dari mana ini.
30 J: Aku dari rumah habis tidur soalnya nggak enak
badan.
T: cepet sembuh ya dik biar cepet bisa belajar lagi
buat SBMPTN taun ini, boleh minta tolong di
buat ngisi inform consent yang telah

9
35 disediakan?
J: Boleh
T: sudah selesai ngisinya dik?
J: (menganggukkan kepala).
T: Dulu adik SMA 2 ya? Bagaimana reaksi adik
40 ketika adik tidak diterima lewat jalur
SNMPTN?
42 J: Jujur ketika tidak diterima SNM itu sudah Penerimaan diri akan
mengiralah kalau tidak diterima SNM, karena hasil yang akan
dari indeks sekolah juga tidak terlalu tinggi. diterima. (W1, P, 42-
45 T: Kalu reaksi dari orang tua adik gimana ketika 44)
adik tidak diterima lewat jalur SNM?
47 J: Orang tua memberi dukungan dan arahan Adanya dukungan
tetapi lebih dibebasin. dari orang tua. (W1,
T: SNM kan yang bisa mendaftar Cuma 75% P, 47-48)
50 apakah adik masuk dalam 75% tersebut?
J: Iya.
T: Adik memilih jurusan apa ketika SNM?
J: Saya memilih Sipil UNS sama Elektro UNS.
T: Sebelumnya kan adik bilang kalau indeks
55 sekolah tidak terlalu tinggi dan sudah mengira
untuk tidak diterima lewat jalur SNM, apakah
adik langsung belajar atau mengikuti bimbel
untuk SBM?
59 J: Saya tidak terlalu suka Bimbel jadi lebih Usaha untuk belajar
60 belajar sendiri. sendiri. (W1, P, 59-
T: Adik tidak ikut les? Hanya belajar sendiri? 60)
J: Iya sendiri.
T: SBM itu kan materi dari kelas satu sampai
kelas tiga SMA, bagaimana adik memahami
65 materi untuk SBM itu?

10
66 J: Lewat Zenius. Berinisiasi mencoba
T: Berarti adik lewat internet buat belajarnya? cara belajar dengan
J: Iya. cara lain. (W1, P, 66)
T: Kan adik juga tidak keterima SBM taun lalu,
70 bagaimana reaksi adek waktu tidak diterima
SBM?
72 J: Saya shock, sedih kan harus ngulang satu Sedih karena gagal.
tahun lagi, tetep aja ada kecewanya gitu. (W1, P, 72-73)
T: Kan pas SNM orang tua mendukung dan
75 membebaskan adik kalau pas SBM reaksi
orang tua bagaimana?
J: Ya ada kecewanya gara-gara saya tidak
keterima SBM.
T: Apaakah orang tua anda langsung menyuruh
80 adik untuk belajar terus supaya tidak gagal
SBM pada taun lanjutnya apa memberikan
kebebasan.
J: Kalo orang tua lebih menyuruh memperbaiki
perilakunya, bad habit gitu lho. (sambil
85 memainkan tangan)
T: Apakah adik juga mendaftar swasta ketika
tidak keterima SBM?
J: Saya memilih mengulang satu tahun tidak
mendaftar swasta.
90 T: bagaimana menurut adik belajar adik selama
ini, setelah SNM sama setelah SBM taun lalu?
92 J: Dulu setelah SBM saya sedih banget jadinya Dapat meningkatkan
males-malesan, tapi setelah Januari itu niatnya dengan
belajarnya mulai fokus lagi. sendiri. (W1, P, 92-
95 T: Jadi adik meluangkan waktu 6 bulan setelah 94)
SBM dan belajar lagi pas Januari?

11
97 J: Kan awalnya mesti pengen belajar langsung Adanya keinginan
ya, terus mikir masih lama ya nanti aja masih untuk belajar. (W1, P,
banyak waktu. 97-99)
100 T: Adik kan liburnya lama ya, kan banyak waktu
yang digunain buat main dan hal-hal yang
menyenangkan, bagaimana sih adik mengatur
waktu adik untuk untuk belajar setelah libur
panjang adik?
105 J: Kan saya belajar lewat Zenius itu, pertamanya Berusaha belajar
males tapi kalau sudah mengerjakan yang ketika lagi malas.
pertama dan lanjut-lanjut-lanjut nanti jadinya (W1, P, 105-109)
nggak males lagi.Pertama yang penting ada
kemauan dulu.
110 T: Bagaimana adik meluangkan waktu belajar
adik?
112 J: Seharusnya mau ngorbanin waktu buat belajar Mengorbankan waktu
soalnya kalau nggak ya nanti ngulang lagi satu untuk belajar. (W1, P,
tahun. Nanti malah ngulangnya jadi dua 112-115)
115 tahun.
T: Jadi motivasi adik lebih besar dari setelah
SBM?
J: Iya, soalnya nanti malah ngulang lagi.kan juga
dorongan sosial gitu, dari kerabat-kerabat
sama tetangga, kan juga ada.
T: Banyak ya dorongan-dorongan dari orang
terdekat.
123 J: Dorongan sosial bagaimana ya? kayak ada Adanya dorongan
dikucilkan gitu, jadi lebih termotivasi aja. sosial. (W1, P, 123-
125 T: Jadi dorongannya lebih tersirat ya daripada 124)
tersurat?
J: Iya, kan tetangga biasanya ngrasani kan

12
jadinya gaenak, gaenak sama ornag tua.
T: Bentar lagi SBM kan?
130 J: Iya.
T: Bagaimana sih ibadah adik pas melakukan
belajar buat SBM padahal SBM bentar lagi?
133 J: Kalau Ibadah sih lebih dari biasanya tapi ya Tetap beribadah dan
gabisa ngukurlah, kan ibadah yang ngukur tambah dalam
135 yang diatas. (sambil senyum). beribadah. (W1, P,
T: Kan mungkin ada materi yang nggak adik 133-135)
pahamin? Bagaimana adik buat memahamin
materi tersebut?
J: Kan tadi pake Zenius, kan di Zenius ada
140 videonya itu pake itu.
T: Kalau ketika ada kesusahan bahkan adik gabisa
apa yang akan adi lakukan?
143 J: Mesti kan ada yang beberapa yang harus soal Berusaha ketika
yang butuh waktu buat paham tapi juga ada mendapat kesulitan.
145 yang harus memang sulit dan mungkin itu (W1, P, 143-146)
jarang keluar jadi ya ditinggalin aja.
T: Jadi kalau bener-bener udah mentok gitu ganti
materi yang lain?
J: Iya kalau sudah bebner-bener udah mentok ya
150 fokus yang lain.
T: Terus buat sitem belajarmu bagaimana?
152 J: Kalau belajar nggak tentu, kalau lagi seneng Semangat belajar
gitu ya nggak keitung lah, enak juga mas kalo ketika lagi senang.
lewat Zenius gitu. (W1, P, 152-154)
155 T: Berarti tergantung mood adek ya?
J: Iya.
T: Kan tadi setelah SBM, kalau setelah SNM
tahun lalu itu belajar adek gimana?

13
159 J: Hmm, gimana ya? yaa ngerjain buku-buku gitu, Berusaha walau
160 walaupun gatau ya tetep dikerjain dipaksain, kesulitan. (W1, P,
T: Tetep pakai Zenius? 159-160)
J: Nggak pake.
T: berarti malah sendiri ya? beneran sendiri
malahan.
165 J: Iya (sambil ketawa kecil). Ya mentok-moentok Mencari tahu ketika
gitu kada kalau ada kesusahan yaa nanya kesulitan. (W1, P,
sama bapak juga. 165-167)
T: Bapak guru?
J: Iya, dosen UMS.
170 T: Apa yang membuat adek belajar dengan
sendiri dan memakai Zenius?
J: Yaa karena saya nggak mau ngulang satu
tahun lagi, rasanya ngganggur itu juga nggak
enak.
175 T: Terus, banyak sekali tanggung jawab yang
harus adik lakukan, sebagai pelajar bagaimana
sih tanggung jawab adik dalam belajar?
J: Tanggung jawaba belajar?
T: Maksudnya aku harus belajar terus atau punya
180 jadwal yang harus dilakuin.
181 J: Hmmm, kalo tanggung jawab sebagai pelajar Tanggung jawab
sih gaada tetapi kalo tanggung jawab sebagai sebagai diri sendiri.
diri sendiri biar nggak, hmmm gimana ya? (W1, P, 181-186)
biar nggak jadi bahan pembicaraan tetangga
185 gitu lho, jadi harus lolos nii, harus belajar biar
lolos dan nggak ngulang satu tahun lagi.
T: Banyak sekali motivasi dalam diri ya?
J: Terutama dorongan sosial.
T: Sekarang kamu daftar apa?

14
190 J: UNDIP Elektro lanjutnya UNS Sipil.
T: Berarti tujuan lebih tinggi dari kemarin ya?
J: Iya, karena lebih banyak waktunya untuk
belajar.
T: Terus kalo dalam istirahatmu gimana? Kayak
195 buat tidur atau istirahat yang lain.
J: Jujur kalau saya tuuu punya masalah tidur jadi
kalo normal itu kan, kayak jam sepuluh gitu
kan ya? (sambil memainkan tangan)
T: Iya.
200 J: Tapi saya tidak bisa gitu biasanya jam dua Kesulitan dalam
baru tidur bangun subuh, dibangunin sama tidur. (W1, P, 200-
ibu. 202)
T: Tidur kan jam dua sampe subuh, padahal
subuh jam lima kan?
205 J: Iya.
T: Berarti tidurnya cumin tiga jam?
J: Tapi biasanya habis subuh tidur lagi bentar,
nanti jam tujuh bangun sendiri.
T: Kan waktu tidurmu gabisa tidur cepet ya? Baru
210 bisa tidur jam 2.
J: Iya, tapi ga tentu jam 2.
T: Berarti belu tentu jam dua tetapi pasti tidur pas
dini hari kan?
J: Iya.
215 T: Nah, pas nggak tidur sampe dini hari tuu apa
yang kamu lakuin? Apa belajar apa nglakuin
yang lain?
218 J: Yaa salah satunya tuu yaa nambahi belajar itu Meluangkan waktu
tapi juga kadang yaa main internet itu. untuk belajar. (W1, P,
220 T: Sering melakukan refreshing gitu yaa? 218-219)

15
J: Biasanya refreshingnya juga lewat internet itu,
mbaca artikel.
T: Jadi sering menggunakan internet?
J: Iya.
225 T: Nah, kalo hubungan sosialmu dengan temen-
temenmu gitu gimana?
J: Lumayan lah, temen-temen SMA gitu sama
temen-temen yang lain tuu udah jarang.
T: Sering juga yaa main keluar gitu buat
230 refreshing kalo udah jenuh banget gitu?
231 J: Tiga bulan sekali lah. Jarang banget kok Jarang bermain
jarang banget keluar. dengan teman. (W1,
T: Temen-teman juga kuliah sama punya P, 231-232)
kesibukan kok yaa?
235 J: Iya.
T: Kalo kamu udah jenuh banget belajar gitu apa
yang kamu lakuin?
J: Ngegame.
T: Jadi kamu udah punya jadwal gitu buat
240 ngegame biar ga kebablasan gitu.
241 J: Nggak tentu, gamenya itu biasanya malah pas Hanya menggunakan
lagi bosen pas lagi pengen yang lain gitu terus waktu sedikit untuk
buka game, gamenya itu namanya Clash bermain. (W1, P,
Royale itu, Clash Royale biasanya yaa ngisi 241-245)
245 chest, ngisi chest penuh udah selesai, yaudah.
T: Berarti gamenya cuman satu? Atau ada game
lain.
J: Cuman satu, lumayan game favoritku.
T: Berarti kalo udah penuh belajar lagi?
250 J: Iya.
T: Selama belajar mengajar gitu, bagaimana

16
dukungan dari orang tua? Kan belajar sendiri.
J: Orang tua membebaskan saya dalam belajar.
T: Dalam memilih jurusan apakah ada paksaan
255 dari orang tua atau memilih sendiri?
J: Nggak, milih sendiri.
T: Bebas juga ya berarti?
J: Iya, bebas.
T: Kan ini kamu ikut SBM apakah kamu juga ikut
260 ujian mandio-mandiri gitu nggak?
J: Taun ini kemungkinan ikut UTUL-UTUL
UGM.kalo jadi kemarin pendaftaran sampe
tanggal 16, ini masih tanggal sepuluh nanti
ngomong-ngomong sama orang tua.
265 T: Kalo taun kemarin tidak ikut ujian lain selain
SBM ya.
J: Nggak ikut.
T: Kan banyak banget halangan buat belajar?
J: Iya.
270 T: Kan apalagi kamu liburnya panjang juga, kan
halangan ini bagaimana sih kamu buat
ngilangin halangan ini dan mbuat kamu belajar
lagi?
J: Gimana misalnya?
275 T: Misalnya kamu belajar dan temenmu ada yang
main dan kamu punya keinginan buat main
juga, itu gimana?
278 J: Biasanya kalo main itu jarang kok, jarang Jarang bermain. (W1,
banget jadi pas temen gabisa jadi yaa jarang P, 278-279)
280 banget mungkin yaa tiga bulan sekali.
T: Kenapa sih kamu ga suka buat belajr di
Bimbel-Bimbel gitu kan enak tuu ada gurunya

17
langsung?
J: Dari kecil itu gapernah ikut Bimbel sama
285 kurang aja lah. Kurang nyaman sama bimbel.
Bukan masalah dikekang jadwal atau apa gitu
tapi yaa kurang nyaman aja gitu.
T: Ga seneng di Bimbel gitu aja ya?
J: Iya.
290 T: Kan tadi gamau ikut Bimbel, kalo gabisa pake
internet.
J: Iya.
T: Kalo pake internet mentok, kalo sulit banget
ditinggalin.
295 J: Heem.
T: Selain itu kamu juga ikut-ikut Try Out gitu
nggak? Kalo nggak ya ngerjain soal sendiri.
298 J: Yaa Try Out mandiri. Melatih kemampuan
T: Berarti pake buku sendiri terus dikerjain diri dengan try out
300 sendiri kan? mandiri. (W1, P, 298)
J: Iya.
T: Pas ngerjain gitu kan pake buku dan dibuku itu
ada kunci jawabannya setelah kamu kerjain
gitu kamu cocokin nggak?
305 J: Iya, aku cocokin sendiri setelah ngerjain buku
itu.
T: Setelah kamu ngerjain terus kamu cocokin,
gimana sih menurutmu kemampuanmu buat
ngerjain? Dan gimana menurutmu buat
310 ngerjain SBM nanti.
311 J: Kemungkinan bisa tapi saya masih ada ragu- Keyakinan bisa
ragunya, kan soal di SBM susah buat ditebak, mengerjakan dengan
jadi masih ada ragu-ragunya, pas ngerjain sedikit keraguan.

18
taun sebelumnya ada yang bisa ada yang (W1, P, 311-318)
315 nggak tapi kalo dilanjutin ada yang bisa, yang
mentok juga ada, tapi masih ada yang ragu
gara-gara soal SBM buat taun ini gabisa
ditebak.
T: Kan kamu ngerjain buku tuu, missal udah
320 ngerjain satu paket 150 terus kamu cocokin,
apakah udah sampe ke passing grade sesuai
dengan targetmu atau belum?
323 J: Yaaaa, (diam sejenak), jujur ya belum sampe. Mengetahui
T: Pas tau kamu belum nyampe passing gradenya kemampuan diri.
325 itu apa yang kamu lakuin? (W1, P, 323)
326 J: Yaa nyoba lagi, ningkatin materi yang belum Berusaha ketika
bisa, latihan soal lagi. mengalami kegagalan
T: Kamu lebih banyak belajar materi atau (W1, P, 326-327)
ngerjain soal?
330 J: Belajar materi.
T: Pernah ikut Try Out diluar?
332 J: Pernah di ITB. Mengikuti try out
T: Nah, itu ka nada hasilnya kan, gimana sih diluar. (W1, P, 332)
menurutmu dengan hasil yang kamu peroleh
335 setelah Try Out itu?
J: Kan itu Try Outnya bulan Januari yaa. Yaa pas
itu passing gradenya belum nyampe.
T: Soalnya gara-gara abis libur lama ya?
J: Iya, soalnya pas liburan enam bulan paska
340 SBM taun lalu juga nggak belajar dan
langsung ikut Try Out.
T: Jadi, setelah ikut Try Out kamu tau hasilnya
dan itu masih kurang buat passing gradenya
apa yang kamu lakuin?

19
345 J: Lebih termotivasi aja, dan mau belajar buat Motivasi untuk
346 ningkatin lagi. belajar lagi. (W1, P,
T: Kembali lagi ya dik ke waktu adik nggak lolos 345-346)
SNM, kan itu ada jeda waktu liburan SNM
buat belajar SBM, gimana sih adik mengontrol
350 dirinya buat belajar lagi padahal setelah SNM
juga lumayanlah liburnya, itu gimana ya dik?
352 J: Jujur ya males awalnya tapi liburan setelah Cara untuk
ujian gitu juga, jangan ngarep buat keterima menghilangkan
SNM jadi udah siap-siap aja buat SBM. malas. (W1, P, 352-
355 T: Jadi udah belajar buat SBM ya, tadi juga bilang 354)
kalo nggak ngarep pada SNM.
J: Iya, udah persiapan buat SBM.
T: Ada perbedaan jauh nggak belajarmu setelah
SNM sama setelah SBM taun lalu?
360 J: Kan kalo abis SBM tuu tau kalo soal SBM tuu
kayak gini, kayak ga ada apa-apanya gitu.
(sambil sedikit senyum)
T: Berarti setelah SBM tuu kamu pesimis buat
SBM?
365 J: Nggak, yaa sadar aja, sadar aja kalo belajar
kayak gini tuu gaada apa-apanya buat SBM.
T: Aku review sedikit ya dik, jadi adik belajar
buat SBM tuu lebih suka belajar sendiri dan
lebih suka memanfaatkan yang ada seperti
370 memakai internet daripada Bimbel gara-gara
kalau pakai Bimbel ga nyaman. Terus adik
juga merasa bahwa belajar adik kurang setelah
SNM sehingga setelah SBM adik sadar dang
amau ngulangin lagi.
375 J: Iyaaa.

20
T: Itu saja sih dih, juga waktunya sudah habis,
aku mengucapkan terima kasih buat dik Luthfi
buat mau datang kesini buat ngobrol-ngobrol
denganku, terima kasih semoga apa yang kita
380 obrolkan tadi bermanfaat dan kita bisa
menjalin hubungan setelah ini. Terima kasih,
Wassalamualaikum.
J: Waalaikumsalam.
384 T: Makasih diik.

21
BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

Aspek-aspek Motivasi Belajar

1. Keinginan untuk memahami dan menguasai apa yang dipelajari. Suatu


kondisi yang mana individu memiliki keinginan untuk memperjuangkan sesuatu
agar sesuai dengan apa yang diharapkan. Seorang individu melakukan aktivitas
belajar karena adanya dorongan untuk mengetahui, memahami, dan menguasi apa
yang dipelajarainya (Cherniss dan Goleman, 2001).
Indikator perilaku:
a. Belajar dengan giat
b. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Dalam pembicaran terdapat pada:
a. Belajar dengan giat
Adanya dorongan sosial. (W1, P, 123-124)
Adanya keinginan untuk belajar. (W1, P, 97-99)
Berusaha ketika mendapat kesulitan. (W1, P, 143-146)
Semangat belajar ketika lagi senang. (W1, P, 152-154)
Motivasi untuk belajar lagi. (W1, P, 345-346)
Cara untuk menghilangkan malas. (W1, P, 352-354)
b. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Mencari tahu ketika kesulitan. (W1, P, 165-167)
Berusaha walau kesulitan. (W1, P, 150-160)
2. Komitmen akan tugas dan kewajiban untuk belajar. Selain adanya dorongan
mencapai sesuatu, seorang individu yang termotivasi mempelajari sesuatu
biasanya memiliki komitmen dalam belajar. Demikian halnya dengan siswa yang
memiliki motivasi dalam belajar, ia akan menyadari bahwa ia memiliki tugas dan
kewajiban untuk belajar (Cherniss dan Goleman, 2001).
Indikator perilaku:
a. Mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

22
b. Memanajemen waktu dengan baik untuk belajar.
Dalam pembicaraan terdapat pada:
a. Mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Meluangkan waktu untuk belajar. (W1, P, 218-219)
Jarang bermain dengan teman. (W1, P, 231-232)
Hanya menggunakan waktu sedikit untuk bermain. (W1, P, 241-245)
Jarang bermain. (W1, P, 278-279)
b. Memanajemen waktu dengan baik untuk belajar.
Tanggung jawab sebagai diri sendiri. (W1, P, 181-186)
Kesulitan dalam tidur. (W1, P, 200-202)
3. Inisiatif untuk belajar. Inisiatif dapat diartikan sebagai melakukan suatu
tindakan berdasarkan pemikiran dan kemampuan, serta kesempatan. Misalnya,
seorang siswa yang membiasakan diri belajar dan selalu menyelesaikan tugasnya
tepat waktu tanpa adanya suruhan atau teguran dari orang tuanya. Apabila siswa
telah memiliki inisiatif sesuai dengan tugasnya, maka ia kan lebih memiliki
kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan wawasannya (Cherniss dan
Goleman, 2001).
Indikator perilaku:
a. Berkeinginan untuk belajar dengan kesadaran diri sendiri.
b. Belajar dengan cara-cara tertentu.
c. Mengikuti try out untuk menguji kemampuan belajar.
d. Berdoa untuk diberikan kemudahan.
Dalam pembicaraan terdapat pada:
a. Berkeinginan untuk belajar dengan kesadaran diri sendiri.
Usaha untuk belajar sendiri. (W1, P, 59-60)
Dapat meningkatkan niatnya dengan sendiri. (W1, P, 92-94)
Berusaha belajar ketika lagi malas. (W1, P, 105-109)
b. Belajar dengan cara-cara tertentu.
Berinisiasi mencoba cara belajar dengan cara lain. (W1, P, 66)
c. Mengikuti try out untuk menguji kemampuan belajar.
Melatih kemampuan diri dengan try out mandiri. (W1, P, 298)

23
Mengikuti try out diluar. (W1, P, 332)
d. Berdoa untuk diberikan kemudahan.
Tetap beribadah dan tambah dalam beribadah. (W1, P, 133-135)
4. Optimis akan hasil belajar. Optimis dapat dimaknai sebagai suatu sikap yang
gigih dalam upaya mencapai tujuan tanpa peduli adanya kegagalan dan
kemunduran. Siswa yang memiliki sikap optimis, tidak akan mudah menyerah
dan putus asa, meskipun prestasinya kurang memuaskan. Ia akan terus giat belajar
sambil mengoreksi diri guna mengurangi kelemahan-kelemahan yang dimiliki
(Cherniss dan Goleman, 2001).
Indikator perilaku:
a. Percaya bahwa hasil belajarnya maksimal.
b. Berusaha untuk menerima kegagalan.
Dalam pembicaraan terdapat pada:
a. Percaya bahwa hasil belajarnya maksimal.
Keyakinan bisa mengerjakan dengan sedikit keraguan. (W1, P, 311-318)
Mengetahui kemampuan diri. (W1, P, 323)
b. Berusaha untuk menerima kegagalan.
Penerimaan diri akan hasil yang akan diterima. (W1, P, 42-44)
Adanya dukungan dari orang tua. (W1, P, 47-48)
Sedih karena gagal. (W1, P, 72-73)
Berusaha ketika mengalami kegagalan (W1, P, 326-327)

Kesimpulan

Jadi dari wawancara tersebut dapat disimpulkan bahwa Interviewee adalah


seorang anak yang lulus tahun 2016 dan akan mengulang lagi pada tahun 2017 di
SBMPTN. Dia memiliki kemaun untuk belajar yang tinggi karena adanya dorongan
sosial, ia belajar dengan rajin ketika gagal SBMPTN tahun lalu ketika SNMPTN ia
belajar seadanya dan sebisanya saja.ia memiliki keinginan untuk memahami materi yang
belum ia pahami. Sang anak juga memiliki komitmen dalam belajar dengan
ditunjukkannya dalam ia mengatur waktu belajar dan bermainnya. Memiliki inisiatif
dalam belajar. Ia memiliki cara belajar sendiri tanpa menggunakan bantuan orang lain

24
tetapi menggunakan bantuan internet. Ia juga rasa optimis yang tinggi dalam
pembelajaran. Ia memiliki motivasi dalam belajar yang dapat dilihat dari aspek-aspek
yang sudah dipenuhi oleh anak tersebut menurut Cerniss dan Goleman (2001).

25
BAB V

EVALUASI KEGIATAN WAWANCARA

. Interviewee datang terlambat sehingga Interviewer harus menjempu dan


mencarinya sehingga menghabiskan banyak waktu. Kesulitan mencari subyek sehingga
mendapatkan subyek yang kurang sesuai. Interviewee kurang memahami pertanyaan
yang diajukan, sehingga interviewer harus memberikan pertanyaan lanjutan yang dapat
dipahami untuk mengarahkan jawaban interviewee. Karena tempat wawancara terbatas,
maka situasinya kurang kondusif untuk terciptanya komunikasi yang efektif dan efisien
karena banyak suara yang gaduh dan ramai.

26
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Supriyono, Widodo. (2004). Psikologi belajar. Edisi Revisi. Jakarta:
Rineka Cipta.
Cherniss, C. & Goleman, D. (2001). The Emotionally Intelligent Workpalace. San
Fransisco: Jossey-Bass.
Djamarah, Syaiful Bahri. (2008). Psikologi Belajar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Sadirman. (2009). Interaksi dan Motivasi: Belajar Mengeja. Jakarta: PT. Rajagrafindo
Persada.
Sugihartono. (2007). Psikologi pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Wahab, Rohmalina. (2015). Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers..

27