Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Berdasarkan Pasal 1 angka 4 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2011 tentang
Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, selanjutnya disebut UU P3, menjelaskan pengertian
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, selanjutnya disebut Perppu yaitu

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang adalah Peraturan Perundang-undangan yang


ditetapkan oleh Presiden dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa

Perppu adalah sejenis Peraturan Darurat (noodverordening) sebagaimana halnya dengan Undang-
undang Darurat. Perppu terdapat di bawah rangka Undang-undang Dasar 1945 Amandemen IV,
selanjutnya disebut UUD 1945 sedangkan Undang-undang Darurat di bawah rangka UUDS 1950. 1
Dijelaskan dalam Pasal 22 UUD 1945 tentang kewenangan membentuk Perppu yaitu

(1) Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan
pemerintah sebagai pengganti undangundang.

(2) Peraturan pemerintah itu harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam
persidangan yang berikut.

(3) Jika tidak mendapat persetujuan, maka peraturan pemerintah itu harus dicabut.

Peraturan tersebut dikeluarkan dengan syarat dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa. Hak untuk
mengeluarkan peraturan dalam hal ikhwal kegentingan yang memaksa, sebagaimana dijelaskan dalam
Pejelasan Pasal 22, adalah noodverordeningsrecht dari Presiden. Adapun jenis peraturan perundang-
undangannya adalah Perppu.2

Pada hakekatnya Perppu sama dan sederajat dengan Undang-undang, hanya syarat
pembentukannya yang berbeda. Oleh karenanya maka seyogianya materi muatan Perppu sama dengan
materi muatan Undang-undang. Artinya apa yang dapat diatur dengan Undang-undang, dapat pula diatur
dengan Perppu. Berdasarkan Pasal 10 ayat (1) UU P3, materi muatan yang harus diatur melalui undang-
undang adalah:

a. pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
b. perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan Undang-Undang;

1
M. Solly Lubis, Landasan dan Teknik Perundang-undangan, Bandung, Mandar Maju, 1989, hlm. 21
2
H. Rosjidi Ranggawidjaja, Pengantar Ilmu Perundang-undangan, Bandung, Mandar Maju, 1998, hlm. 62
c. pengesahan perjanjian internasional tertentu;

d. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi; dan/atau

e. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat.

Dikutip dari berita elektronik, Kompas.com, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang


Nomor 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota dan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-undang Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun
2014 tentang Pemerintahan Daerah adalah Perppu yang dikeluarkan oleh Presiden ke 6, Susilo
Bambang Yudhoyono, selanjutnya disebut Presiden SBY, sebagai bentuk penolakannya terhadap
mekanisme Pemilahan Kepala Daerah menjadi tidak langsung yaitu melalui Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah, selanjutnya disebut DPRD, dalam Rancangan Undang-undang Pemilihan Kepala Daerah,
selanjutnya disebut RUU Pilkada, yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, selanjutnya disebut
DPR, pada 26 September 2014. Presiden SBY mengatakan bahwa sebagai konsekuensi (penerbitan
Perppu Nomor 1 Tahun 2014) dan untuk memberikan kepastian hukum, Beliau terbitkan juga Perppu
Nomor 2 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah. Inti Perppu ini adalah menghapus tugas dan wewenang DPRD untuk memilih
kepala daerah.3

Berdasarkan Penjelasan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 2014


tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota, menguraikan tentang latar belakang dikeluarkannya
Perppu tersebut yaitu:

Untuk menjamin Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota dilaksanakan secara demokratis
sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 maka kedaulatan rakyat serta demokrasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk
rakyat wajib dihormati sebagai syarat utama pelaksanaan Pemilihan Gubernur, Bupati, dan
Walikota.

Kedaulatan rakyat dan demokrasi tersebut perlu ditegaskan dengan pelaksanaan Pemilihan
Gubernur, Bupati, dan Walikota secara langsung oleh rakyat, dengan melakukan beberapa
perbaikan mendasar atas berbagai permasalahan pemilihan langsung yang selama ini telah
dilaksanakan.

Namun, pembentukan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur,


Bupati, dan Walikota yang mengatur mekanisme pemilihan kepala daerah secara tidak langsung
melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah telah mendapatkan penolakan yang luas oleh rakyat
dan proses pengambilan keputusannya tidak mencerminkan prinsip demokrasi.

3
Kompas.com, Batalkan Pilkada Tak Langsung, Presiden SBY Terbitkan 2 Perppu!, Berita Elektronik, Kompas.com -
02/10/2014, 21:43 WIB, dikutip dari
http://nasional.kompas.com/read/2014/10/02/21435921/Batalkan.Pilkada.Tak.Langsung.Presiden.SBY.Terbitkan.2.P
erppu, pada hari Sabtu tanggal 22 April 2017, pukul 15:13 WIB
Selain berdasarkan alasan tersebut di atas, terdapat pertimbangan mengenai kegentingan yang
memaksa sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 138/PUU-VII/2009 yang di
dalamnya memuat tentang persyaratan perlunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
apabila:

1. adanya keadaan yaitu kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan masalah hukum secara
cepat berdasarkan Undang-Undang;
2. Undang-Undang yang dibutuhkan tersebut belum ada sehingga terjadi kekosongan hukum
atau ada Undang-Undang tetapi tidak memadai;
3. Kekosongan hukum tersebut tidak dapat diatasi dengan cara membuat Undang-Undang
secara prosedur biasa karena akan memerlukan waktu yang cukup lama sedangkan keadaan
yang mendesak tersebut perlu kepastian untuk diselesaikan.
Atas dasar tersebut, maka perlu menetapkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota.

Berdasarkan Penjelasan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 tahun 2014


tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah,
menguraikan tentang latar belakang dikeluarkan Perppu tersebut, yaitu:

Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014


tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota yang mengatur pemilihan kepala daerah
dilakukan secara langsung dan untuk memberikan kepastian hukum dalam pelaksanaan pemilihan
kepala daerah yang berlandaskan kedaulatan rakyat dan demokrasi maka perlu dilakukan
perubahan terhadap ketentuan mengenai tugas dan wewenang DPRD Provinsi dan DPRD
Kabupaten/Kota yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah dengan menetapkanPeraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Padahal syarat agar dapat dikeluarkan Perppu berdasarkan Pasal 22 UUD 1945 yaitu dalam hal
kegentingan yang memaksa dan berdasarkan Pasal 10 ayat (1) UU P3, materi muatan yang harus diatur
melalui undang-undang adalah:

a. pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
b. perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan Undang-Undang;

c. pengesahan perjanjian internasional tertentu;

d. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi; dan/atau

e. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat.

.
Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas maka judul dari makalah kami adalah Kajian
Yuridis terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun 2014 tentang
Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah dihubungkan dengan Syarat dan Materi Peraturan Perundang-undangan.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah kami diatas, maka untuk membatasi permasalah kami,
dirumuskan identifikasi masalah makalah kami, yaitu:
1. Apakah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 tahun
2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota dan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-undang Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 23
tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dihubungkan dengan Syarat dan Materi Peraturan
Perundang-undangan telah tepat dilihat dari syarat dan materi muatan suatu peraturan
perundang-undangan?
Apakah tolak ukur dari syarat dikeluarkannya Perppu yaitu hal ihwal kegentingan yang memaksa dalam
teori perundang-undangan dan hukum positif di Indonesia?
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang

Teori Tentang PERPU


Berdasarkan ketentuan dalam pasal 22 UUD 1945, Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-
Undang, ditetapkan oleh Presiden tanpa terlebih dahulu mendapat persetujuan dari DPR. Persetujuan
DPR diberikan setelah PERPU tersebut ditetapkan, yaitu dalam persidangan yang berikut. Secara
lengkap ketentuan hal itu adalah sebagai berikut. 4
Pasal 22 Ayat (1)
Dalam hal-ikhwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan Pemerintah
sebagai Peganti Undang-Undang
Pasal 22 Ayat (2)
Peraturan Pemerintah itu harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam persidangan
yang berikut
Pasal 22 Ayat (3)
Jika tidak mendapat persetujuan, maka Peraturan Pemerintah itu harus dicabut.

Syarat dikeluarkannya PERPU

Persyaratan pembentukan PERPU adalah keadaan kegentingan yang memaksa. Apa yang
dimaksud dengan keadaan kegentingan yang memaksa itu? Tidak dijelaskan. Praktek ketatanegaraan
membuktikan bahwa pengertian keadaan kegentingan yang memaksa dapat berupa keadaan darurat
(Perang atau Darurat Sipil), keadaan bahaya, dan keadaan yang mendesak. Berkaitan dengan keadaan
waktu yang sangat mendesak atau terbatas, apabila suatu materi tertentu dimuat dalam suatu Undang-
Undang , maka tidak akan memungkinkan untuk segera dibuat, dibahas, dan ditetapkan. Oleh
karenanya, untuk sementara, materi tersebut dituangkan dalam PERPU. Misalnya, pada tahun 1984
dikeluarkan PERPU tentang penangguhan berlakunya UU Perpajakan Tahun 1983 dan pada tahun
1992 dikeluarkan PERPU tentang penangguhan berlakunya UU Lalu Lintas Angkutan Jalan.
Mengingat waktu yang sangat mendesak maka penangguhan berlakunya kedua undang-undang
tersebut tidak mungkin dilakukan dengan undang-undang. Kemudian, Perpu No. 1 Tahun 1999 tentang
Pengadilan HAM, dalam konsideransnya antara lain menyatakan bahwa berdasarkan kondisi yang
sangat mendesak dikaitkan dengan tanggung jawab untuk ikut memelihara perdamaian dunia, maka
untuk pelanggaran HAM yang berat, perlu segera diselesaikan oleh Pengadilan HAM. Jadi ada
kondisi yang sangat mendesak sebagai dasar pertimbangan. Kondisi yang sangat mendesak
dijadikan sebagai dasar pertimbangan penghalalan (legal obstacle) pembentukan Perpu tersebut.5

Sebagaimana diuraikan dalam Penjelasan Pasal 22 UUD 1945, bahwa PERPU merupakan
implementasi hak untuk membentuk peraturan darurat (noodverordeningsrecht) dari Presiden. Hal

4
H. Rosjidi Ranggawidjadja, et al., Buku Ajar Ilmu Perundang-Undangan, Bandung: Kalam Media, 2015, hlm. 129.
5
H. Rosjidi Ranggawidjadja, et al., Op. Cit., Hlm. 130
ini sebagai suatu exception dalam proses pembentukan peraturan yang akan mengikat rakyat,
dengan harapan agar keselamatan Negara dapat dijamin oleh Pemerintah dalam keadaan yang genting,
yang memaksa Pemerintah untuk bertindak lekas dan tepat. Jadi pengecualiannya hanya pada proses
atau tata cara pembentukan, bukan pada substansi. Oleh karena PERPU tersebut harus mendapat
persetujuan (atau penolakan) dari DPR pada persidangan berikutnya, ini menunjukkan bahwa
substansi PERPU adalah sama dengan substansi Undang-Undang. Oleh sebab itu pula kedudukan
PERPU sama atau sederajat dengan Undang-Undang. Masalahnya adalah :6

a. apa kriteria atau tolok ukur dari kegentingan yang memaksa ?


b. kapan saat atau waktu persidangan yang berikut tsb?
c. Bila PERPU tersebut tidak disetujui oleh DPR, maka PERPU tersebut harus dicabut (oleh
Pemerintah?). apa jenis peraturan perundang-undangan untuk pencabutan tersebut ?

Tidak ada kriteria mengenai keadaan kegentingan yang memaksa. Kriteria tersebut diserahkan
kepada Presiden. Dalam hal ini Presiden bebas menentukan atau menilai bahwa ada keadaan
kegentingan yang memaksa sehingga perlu ditetapkan PERPU. Apakah perlu ada kriteria yang
ditetapkan oleh Undang-Undang ? Sebenarnya tidak perlu, karena bagaimanapun alasannya , PERPU
tersebut pada persidangan berikutnya harus dibahas oleh DPR. Kontrol akan diberikan oleh DPR
dalam bentuk penolakan atas dikeluarkannya PERPU. Masalahnya, apakah suara DPR akan seirama
dengan Presiden? Hal itu tergantung dari sistem politik yang dianut. Selain itu, UUD tidak
memerintahkan pengaturan lebih lanjut Pasal 22 dengan Undang-Undang. 7

Mengenai pengertian persidangan berikutnya harus merujuk kepada Peraturan Tata Tertib DPR.
Menurut Peraturan Tata Tertib DPR 8, periode 1983-1988 tahun sidang DPR dimulai pada tanggal 16
Agustus dan diakhiri pada tanggal 15 Agustus tahun berikutnya. Apabila tanggal 16 Agustus jatuh
pada hari libur, maka pembukaan tahun sidang dilakukan pada hari sebelumnya. Tahun Sidang dibagi
dalam empat masa persidangan. Dengan demikian lama persidangan untuk masing-masing masa
persidangan adalah tiga bulan. Bila suatu PERPU ditetapkan oleh presiden pada masa sidang I maka
DPR harus membicarakannya pada masa persidangan II, dan apabila suatu PERPU ditetapkan pada
masa persidangan II, maka DPR harus membahasnya pada masa persidangan III, demikian dan
seterusnya.9

kewenangan membuat perpu


Sebagaimana diuraikan dalam Penjelasan Pasal 22 UUD 1945, bahwa PERPU merupakan
implementasi hak untuk membentuk peraturan darurat (noodverordeningsrecht) dari Presiden.
Penjelasan Pasal 22 UUD 1945 memuat hal yang berkaitan dengan noodverordeningsrecht Presiden.
Istilah noodverordeningsrecht sering diartikan sebagai hak subyektif (subjectief-recht) dari presiden.
Hak tersebut merupakan hak untuk menetapkan peraturan dalam keadaan darurat atau keadaan
kegentingan yang memaksa (staatsnood atau state emergency). Jenis peraturan perundang-undangan
yang dikeluarkan oleh Presiden saat negara dalam keadaan kegentingan yang memaksa adalah
Peraturan Pemerintah sebagai Pengganti Undang-Undang (PERPU). PERPU menggantikan
6
H. Rosjidi Ranggawidjadja, et al., Op. Cit., Hlm. 130-131
7
H. Rosjidi Ranggawidjadja, et al., Op. Cit., Hlm. 131
8
Perlu diketahui bahwa Peraturan Tata Tertib (Standing Order) DPR dimuat dalam Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat. Oleh
karenanya setiap pergantian keanggotaan DPR hasil pemilihan umum, dilakukan peninjauan terhadap Peraturan Tata Tertib
tersebut, untuk disesuaikan.
9
H. Rosjidi Ranggawidjadja, et al., Op. Cit., Hlm. 131-132
kedudukan undang-undang yang karena keadaan tertentu belum dapat dibentuk sementara kebutuhan
akan aturan tersebut sangat mendesak. Seperti dimaklumi, suatu RUU untuk dapat menjadi undang-
undang harus mendapat persetujuan DPR. Oleh karena keadaannya memaksa, persetujuan DPR hanya
dapat diberikan setelah PERPU diberlakukan.10

Materi Muatan dan Hierarki Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang


Undang-Undang dan Perpu dalam hierarki peraturan perundang-undangan memang memiliki
kedudukan yang sama, hanya saja keduanya dibentuk dalam keadaan yang berbeda. Undang-
Undang dibentuk oleh Presiden dalam keadaan normal dengan persetujuan DPR, sedangkan
Perpu dibentuk oleh Presiden dalam keadaan genting yang memaksa tanpa persetujuan DPR.
Kondisi ini yang kemudian membuat pola pikir bahwa kedudukan Perpu yang dibentuk tanpa
persetujuan DPR dianggap memiliki kedudukan di bawah UU.
Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan menyatakan bahwa jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan
terdiri atas:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.

Secara keseluruhan Pasal 22 Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan sebagai berikut:


Pasal 22
1) Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak menetapkan peraturan
pemerintah sebagai pengganti undang-undang,
2) Peraturan pemerintah itu harus dapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam
persidangan berikut.
3) Jika tidak mendapat persetujuan, maka peraturan pemerintah itu harus dicabut.

Dari rumusan Pasal 22 Undang-Undang Dasar 1945 dapat diketahui bahwa Perpu ini jangka
waktunya terbatas atau sementara sebab secepat mungkin harus dimintakan persetujuan pada
DPR, yaitu pada persidangan berikutnya. Apabila Perpu itu disetujui oleh DPR, akan dijadikan
Undang-Undang. Sedangkan,apabila Perpu itu tidak disetujui oleh DPR, akan dicabut. Dari Pasal
22 tersebut juga dapat diketahui bahwa Perpu mempunyai hierarki, fungsi, dan materi muatan
yang sama dengan Undang-Undang, hanya di dalam pembentukannya berbeda dengan Undang-
Undang.11 Pasal 11 Undang-Undang No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan menyebutkan bahwa:
Pasal 11
Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sama dengan materi
muatan Undang-Undang.

Dari Pasal 11 tersebut, pada dasarnya, materi muatan Perpu itu memiliki kesamaan dengan
substansi dari Undang-Undang, namun memiliki perbedaan yang mendasar dalam prosedur

10
H. Rosjidi Ranggawidjadja, et al., Op. Cit., Hlm. 133
11
Maria Farida Indrati, Ilmu Perundang-Undangan 2: Proses dan Teknik Pembentukannya, Yogyakarta: Kanisius, 2007, hlm. 190
pembentukan keduanya. Persamaan substansi antara Undang-Undang dengan Perpu lebih
ditegaskan didalam Pasal 11 Undang-Undang No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-Undangan. Jika mengacu pada apa yang terkandung pada ketentuan pasal ini, maka
materi muatan Perpu sebenarnya juga tercantum dalam Pasal 10 Undang-Undang No 12 Tahun
2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan.
Pasal 10
1) Materi muatan yang harus diatur dengan UndangUndang berisi:
a. pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
b. perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan Undang-Undang;
c. pengesahan perjanjian internasional tertentu;
d. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi; dan/atau
e. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat.
2) Tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf d dilakukan oleh DPR atau Presiden.

Karenanya materi muatan yang terkandung dalam Undang-Undang dan Perpu memiliki
kesamaan sebagai pengaturan lebih lanjut dari UUD Negara RI 1945. Namun Perpu merupakan
Peraturan Perundang-undangan yang dimungkinkan untuk diterbitkan dengan tujuan dan maksud
yang memaksa. Karena itu, hierarkinya Perpu adalah setingkat/setara dengan Undang-Undang
sehingga fungsi dan materi muatan Perpu adalah sama dengan fungsi dan materi muatan dari
Undang-Undang. Jadi ketika suatu Perpu telah disetujui oleh DPR dan dijadikan Undang-
Undang, saat itulah Perpu dipandang memiliki kedudukan setara/setingkat dengan Undang-
Undang. Hal ini karena Perpu itu telah disetujui oleh DPR, walaupun sebenarnya secara hierarki
perundang-undangan, fungsi, maupun materi, keduanya memiliki kedudukan yang sama meski
Perpu belum disetujui oleh DPR.12

Perbedaan Perpu dengan Undang-Undang


Di dalam hierarki peraturan perundang-undangan yang terdapat Pasal 7 ayat (1) Undang-
Undang No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, posisi
Undang-Undang dengan Perpu adalah sederajat. Namun pada dasarnya Undang-Undang dan
Perpu tersebut memiliki persamaan dan perbedaan, persamaan Perppu dengan Undang-undang
yaitu baik Undang-Undang maupun Perpu mengatur materi yang sama dan memiliki kekuatan
yang sama, sedangkan perbedaan Perpu dengan Undang-undang diantaranya:
Pembentukan Undang-Undang harus melalui kesepakatan bersama antara presiden dengan DPR,
sedangkan Perpu, lembaga pembentukannya yaitu Presiden yang disini menjalankan perannya
sebagai eksekutif yaitu sebagai kepala negara.
Undang-Undang tidak memiliki masa batas waktu dan akan terus berlaku jika undang-undang
tersebut belum dicabut, sedangkan Perpu sifatnya hanya terbatas atau sementara kemudian harus
dikaji ulang oleh DPR, bisa kemudian ditetapkan sebagai undang-undang ataupun tidak.
Undang-Undang dibentuk dalam keadaan yang normal, sedangkan Perpu dibentuk karena
diasumsikan negara sedang dalam keadaan kacau atau abnormal.

12
Maria Farida Indrati, Ilmu Perundang-Undangan: Dasar-Dasar dan Pembentukannya, Yogyakarta: Kanisius, 2007, hlm. 94
BAB III

ANALISIS

A. Analisis Perpu Nomor 1 Tahun 2004 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota

1. PROSES PEMBENTUKAN PERPPU NO. 1 TAHUN 2014

Perjalanan Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota tidak lepas
dari permasalahan Undang-undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang pemilihan Gubernur, Bupati, dan
Walikota yang membuat rakyat menjadi resah. Alasanya karena Regulasi yang diatur dalam Undang-
undang Nomor 22 tahun 2014 menyangkut pemilihan kepala daerah yang secara tidak langsung oleh
rakyat, tetapi dipilih secara proses politik oleh DPRD. Hal ini dianggap menyalahkan arti demokrasi yang
dijunjung tinggi oleh rakyat Indonesia. Biarpun memang sekilas dengan pemilihan dilakukan oleh DPRD
masuk kedalam demokrasi juga yakni demokrasi perwakilan, karena demokrasi diartikan sebagai
pemerintahan rakyat yang menempatkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan yang dilaksanakan secara
langsung maupun perwakilan .

Implikasi dari permasalahan tersebut menimbulkan banyak kelemahan dalam RUU Pilkada. Oleh karena
itu Susilo Bambang Yudhoyono member opsi dengan 10 perbaikan :

1. Ada Uji Publik calon kepala Daerah. Dengan Uji Publik dapat mencegah calon dengan integritas
buruk dan kemampuan rendah, karena masyarakat tidak mendapatkan informasi yang cukup, atau
hanya karena yang bersangkutan merupakan keluarga dekat dari incumbent. Uji Publik semacam
ini diperlukan, meskipun tidak menggugurkan hak seorang untuk maju sebagai calon Gubernur,
Bupati ataupun walikota
2. Penghematan atau pemotongan anggaran Pilkada secara signifikan, karena dirasakan selama ini
biayanya terlalu besar
3. Mengatur kampanye dan pembatasan kampanye terbukan, agar biaya lebih hemat untuk
mencegah benturan antar massa
4. Akuntabilitas penggunaan dana kampanye, termasuk dana social yang sering disalahgunakan.
Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya indikasi korupsi
5. Melarang politik uang, termasuk serangan fajar dan membayar parpol yang mengusung. Banyak
kepala daerah yang akhirnya melakukan korupsi, karena harus menutupi biaya pengeluaran
seperti ini.
6. Melarang fitnah dan kampanye hitam, karena bisa menyesatkan public dan juga sangat merugikan
calon yang difitnah. Demi keadilan pelaku fitnah perlu diberikan sanksi hukum
7. Melarang perlibatan aparat birokrasi. Ditengarai banyak calon yang menggunakan aparat
birokrasi, sehingga sangat merusak netralitas dari pemilihan kepala daerah
8. Melarang pencopotan aparat birokrasi pasca pilkada,karena pada saat pilkada calon yang terpilih
atau menang merasa tidak didukung oleh aparat birokrasi tersebut
9. Menyelesaikan sengketa hasil pilkada secara akuntabel, pasti, dan tidak berlarut-larut. Perlu
ditetapkan sistem pengawasan yang efektif agar tidak terjadi korupsi, kolusi, nepotisme serta
penyuapan
10. Mencegah kekerasan dan menuntut tanggung jawab calon atas kepatuhan hukum pendukungnya.
Tidak sedikit terjadinya kasus perusakan dan aksi-aksi destruktif karena tidak puas atas hasil
pilkada

Dengan usulan 10 perbaikan yang dijelaskan di atas, maka Susilo Bambang Yudhoyono bersama partai
democrat mendukung RUU tentang pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota dengan 10 perbaikan agar
tidak dipaksakan pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD atau pemilihan kepala daerah secara
tidak langsung. Hal ini menimbulkan besarnya desakan dari berbagai kalangan rakyat Indonesia yang
menginginkan Pilkada secara langsung.

Pada tanggal 25 September 2014 DPR menggelar rapat paripurna pengesahan RUU Pilkada yang berakhir
dengan disahkannya RUU Pilkada dengan opsi pemilihan melalui DPRD berdasarkan suara 266 anggota.
RUU Pilkada dimungkinkan tidak akan disahkan oleh DPR apabila Partai mayoritas di parlemen pada
saat itu Partai Demokrat tidak melakukan walkout. Keputusan walkout partai demokrat bukan tanpa
alasan, melainkan tidak disetujuinya usulan 10 perbaikan untuk RUU Pilkada oleh Parlemen. Akibat dari
keputusan walkout membuat tidak kuatnya suara di parlemen untuk mendukung RUU Pilkada secara
langsung, dan secara langsung disahkan atas perolehan suara terbanyak.

Kemudian pada tanggal 2 Oktorber 2014 Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden menyerahkan dua
Perppu keada DPR atas pengesahan Undang-undang Pilkada yang disahkan pada tanggal 26 september
2014. Salah satunya Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur/Bupati/Walikota sekaligus
mencabut UU No. 22 Tahun 2014 yang mengatakan pemilihan Gubernur/Bupati/Walikota yang mengacu
pada pemilihan kepala daerah tak langsung oleh DPRD.

2. MATERI MUATAN

Pasal 11 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan


menyebutkan bahwa : Materi muatan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang sama dengan
materi muatan Undang-undang. Dari Pasal 11 tersebut, pada dasarnya materi muatan perppu itu memiliki
kesamaan dengan substansi dari undang-undang. Namun, memiliki perbedaan mendasar dalam prosedur
pembentukan keduanya. Apabila sama maka materi muatan perppu pun juga tercantum dalam pasal 10
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan perundang-undangan yang
mengatakan :

Materi muatan yang harus diatur dengan undang-undang berisi :

a. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945

b. Perintah suatu undang-undang untuk diatur dengan undang-undang

c. Pengesahan perjanjian internasional tertentu

d. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi; dan/atau

e. Pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat


Apabila dilihat dari segi materi muatan, Materi Muatan dalam Perpu No.1 Tahun 2014 tentang pemilihan
Gubernur, Bupati, dan walikota memang memenuhi point : (a), (b), dan (e). Namun, materi muatan dalam
Perpu No. 1 Tahun 2014 ini tidaklah mengandung point Pengesahan perjanjian internasional tertentu .

sedangkan dalam perbedaanya apabila dilihat dari segi pembentukan, Perppu merupakan Peraturan
perundang-undangan yang dimungkinkan untuk diterbitkan dengan tujuan dan maksud yang memaksa.
Karena itu herarkinya Perppu adalah setingkat/setara dengan undang-undang.

Lahirnya suatu peraturan adalah berdasarkan cita-cita masyarakat yang ingin dicapai yang
dikristalisasikan dalam tujuan negara, dasar negara dan cita-cita hukum 13 Alasan Susilo Bambang
Yudhoyono mengeluarkan Perpu No. 1 Tahun 2014 karena adanya desakan dari masyarakat Indonesia
untuk tetap melaksanakan pemilihan kepala daerah secara langsung. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono menilai telah cermat menggunakan hak constitutional untuk menerbitkan Perpu ini. Beliau
merumuskan kegentingan yang memaksa melalui pertimbangan yang matang dan mendengarkan dengan
seksama aspirasi rakyat yang sangat kuat untuk menolak Pilkada tidak langsung. Beliau berpandangan
setiap Rancangan Undang-undang yang disusun haruslah mendapatkan dukungan dari masyarakat
Indonesia. Penolakan luas yang ditunjukan oleh sebagian besar rakyat Indonesia harus disikapi dengan
tindakan yang cepat dan salah satunya dengan menerbitkan Perpu ini. Sebuah undang-undang yang
mendapatkan penolakan yang kuat dari masyrakat, akan menghadapi tantangan dan permasalahan dalam
implementasinya.

3. SYARAT-SYARAT DIKELUARKANNYA PERPPU

Kekuasaan atau kewenangan Presiden untuk menetapkan perpu itu juga harus memenuhi persyaratan
yang bersifat materiil yaitu apabila negara dalam situasi keadaan kegentingan yang memaksa. Memang
dalam UUD 1945 dan UU No. 12 Tahun 2011 tidak memberikan rumusan atau tafsir yuridis tentang
kategori hal ihwal kegentingan yang memaksa sebagaimana yang dimaksud. Namun secara akademik
dapat dirumuskan kegentingan yang memaksa diharuskan ada situasi bahaya atau situasi genting,
kemudian adanya situasi bahaya atau situasi genting mengancam keselamatan negara jika pemerintah
tidak cepat mengambil tindakan hukum konkrit, dan adanya situasi yang sangat mendesak sehingga
diperlukan tindakan pembentukan hukum pemerintah tanpa menunggu mekanisme DPR.

Kegentingan yang memaksa sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 138/PUU-VII/2009
yang didalamnya memuat tentang persyaratan perlunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
apabila :

1. Adanya keadaan yaitu kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan masalah hukum secara cepat
berdasarkan Undang-undang

2. Undang-undang yang dibutuhkan tersebut belum ada sehingga terjadi kekosongan hukum atau
ada Undang-undang tetapi tidak memadai

3. Kekosongan hukum tersebut tidak dapat diatasi dengan cara membuat Undang-undang secara
prosedur biasa karena akan memerlukan waktu yang cukup lama sedangkan keadaan yang
mendesak tersebut perlu kepastian untuk diselesaikan

13
Moh. Mahfud MD, Membangun Politik Hukum Menegakan Konstitusi, (Jakarta : PT Raja Grafindo,2011), hlm. 20
Perpu sebagai solusi yuridis atas penolakan sebagian warga negara terhadap Undang-undang pilkada yang
baru disahkan DPR dan belum masuk lembaran negara. Analisis dari hal tersebut yakni, Undang-undang
Pilkada adalah produk hukum yang merupakan persetujuan bersama antara DPR dan Presiden, jika
persetujuan bersama maka presiden sebagai pemerintah tidak memperhatikan asas-asas pembentukan
peraturan perundang-undangan. Akibatnya secara tidak langsung presiden mempermalukan lembaganya
sendiri dan kurang cermatnya dalam pembahasan dan persetujuan bersama.

Melihat pandangan dari Susilo Bambang Yudhoyono, penolakan yang ditunjukan oleh sebagian besar
rakyat Indonesia harus disikapi dengan tindakan yang cepat dan salah satunya dengan menerbitkan perpu
ini. Alasan yang digunakan pada saat itu adalah penolakan dari masyarakat. Sedangkan apabila kita
bandingkan pada saat masifnya penolakan dari masyarakat ketika kenaikan harga Bahan Bakar Mesin
(BBM) pada pemerintahan presiden susilo bambang yudhoyono. Gerakan terjadi hampir diseluruh
wilayah Indonesia, tetapi harga BBM tetap saja naik. Tidak ada Perpu yang keluar pasca kenaikan harga
BBM untuk menjaga hak-hak kesejahteraan warga negara dan hal ini berbanding lurus dengan penolakan
terhadap pemilihan kepala daerah secara tidak langsung yang juga menyangkut hak-hak dasar warga
negara. Artinya ketika penolakan desakan, dan ketidakpuasan yang timbul dari masyarakat bukan menjadi
alasan sebagai suatu kegentingan yang memaksa. Pun dikatakan sebagai kegentingan yang memaksa
dengan alasan desakan dari rakyat. Hal ini seharusnya terjadi juga pada saat masa naiknya harga BBM.

Pertimbangan putusan MK Nomor 138/PUU-VII/2009 yang sudah dijelaskan diatas dapat menjadi
preseden dalam menjawab tepatkan perpu No. 1 Tahun 2014 diterbitkan dalam rangka membatalkan RUU
Pilkada yang baru saja disahkan. Perpu yang dijadikan sebagai alasan penyelesaian masalah hukum
secara cepat berdasarkan undang-undang belum saatnya dikeluarkan. Karena sebagaimana diketauhi
pasca disahkannya RUU Pilkada telah diajukan Judcial Review ke MK. Disinilah nantinya akan
dilakukan uji materiil terhadap RUU Pilkada tersebut. Begitupun jika dilihat dari segi kekosongan hukum
atau hukum yang ada tidak memadai, tentunya hal ini tidak bisa dijadikan landasan.

4. PANDANGAN DALAM MEMAHAMI PERPPU NO. 1 TAHUN 2014 TERKAIT DENGAN HAL
IHWAL KEGENTINGAN YANG MEMAKSA

Aturan UUD 1945 menjelaskan keberadaan Perpu adalah hak presiden yang diakomodir dalam pasal 22
UUD 1945 amandemen ke empat, menyatakan dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden
berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti Undang-undang. Kemudian yang menjadi
pertanyaan berikutnya adalah siapakah yang berhak menafsirkan perpu No. 1 Tahun 2014 itu dalam
keadaan genting yang memaksa dan apa yang menjadi tolak ukurnya?

1. Prof Jimly mengatakan yang menilai suatu keadaan yang genting dan mendesak tersebut adalah
subjektifitas dari presiden. Meski begitu diperlukan juga pertimbangan- pertimbangan yang matang agar
subjektifitas itu tidak disalahgunakan, dalam arti ketika diterbitkann hanya semata-mata ditujukan untuk
kepentingan bangsa dan negara14

Permasalahan mengenai tolak ukur hal ihwal kegentingan yang memaksa dari perpu No. 1 Tahun 2014
menimbulkan banyak perbedaan pendapat. Yakni diantaranya

14
Jimly Ashidiqqie, Konstitusi dan Konstitutionalisme Indonesia, hlm. 101
2. Menurut Prof. Dr. Saldi Isra, terlepas dari perbedaan sikap dalam memandang Perpu No. 1 Tahun 2014,
pilihan politik untuk menyetujui produk hukum yang lahir dari hak subjektif presiden ini jelas merupakan
upaya untuk memulihkan kedaulatan rakyat dalam memilih kepala daerah. Kemudian jika dibaca risalah
pembahasan Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 15, maksud frase dipilih secara demokratis sama dengan model
pemilihan presiden dan wakil presiden. Dalam hal tindak lanjut Perpu, pasal 52 ayat (3) UU No. 12 Tahun
2011 menegaskan bahwa DPR hanya memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan
terhadap Perpu. Jika DPR setuju, Perpu ditetapkan menjadi undang-undang, artinya secara constitutional,
tindak lanjut Perpu untuk memenuhi Pasal 22 UUD 1945 tidak memungkinkan dilakukan perubahan
substansi.

Mengenai Perpu No 1 Tahun 2014, yang harus diperdebatkan dalam proses pembahasannya adalah
alasan-alasan Presiden sebagaimana tertuang dalam point konsideran menimbang. Dalam hal ini, apakah
alasan menghormati rakyat, pebaikan mendasar atas berbagai masalah pemilihan langsung, dan penolakan
luas rakyat merupakan suatu kegentingan yang memaksa? Secara hukum untuk menilai kondisi
kegentingan yang memaksa tersebut DPR dapat menggunakan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor
138/PUU-VII/2009. Merujuk pada putusan ini, sangat terbuka kemungkinan pro kontra alasan subjektif
presiden dalam menerbitkan Perpu No. 1 Tahun 2014. Namun jika dilacak dan ditelusuri semua perpu
yang pernah ada dan kemudian disetujui menjadi undang-undangm sebagian besar dapat dinilai tidak
memenuhi alasan objektif ditetapkannya perpu. Artinya pengalaman selama ini proses persetujuan Perpu
lebih banyak ditentukan oleh komunikasi dan kekuatan politik di DPR. 16

3. Menurut H. M. Faisal Zaini (Pimpinan Fraksi PKB di DPR periode 2009-2014) menyatakan bahwa
sikap yang jelas, tegas dan terang, yaitu mendukung penyelenggaraan pemilihan kepala daerah secara
langsung. Demokrasi yang berprinsip pada kedaulatan rakyat hanya bisa ditegakan jika pemimpin daerah
dipilih langsung oleh rakyat, bukan ditentukan oleh wakili-wakil rakyat. Pilkada secara langsung lebih
memberikan jaminan pada peningkatan dan perluasan partisipasi politik rakyat, pembentukan kultur
politik yang lebih matang, pembelajaran kompetisi politik yang sehat, fair dan terbuka serat memberikan
peluang yang lebih besar bagi individu-individu berkualitas untuk naik ke tangga puncak kepemimpinan
daerah.

Secara historis, pada mulanya pilkada berlangsung tertutup, terbatas, dan sarat dengan kolusi. Apabilah
melihat kembali melalui UU Nomor 22 Tahun 2014 yang mengatur pemilukada dikembalikan lagi lewat
DPRD, maka wajar jika kemudian muncul penolakan dan protes meluas di masyarakat. Pemilukada oleh
DPRD dianggap sebagai keputusan anti demokrasi, maka perpu No. 1 Tahun 2014 adalah pilihan yang
terbaik bagi masa depan demokrasi di indonesia.17

Peryataan tersebut memberikan pandangan bahwa Perpu No. 1 Tahun 2014 sebagai langkah tepat untuk
mempertahankan kedaulatan rakyat dalam memilih pemimpinnya. Maka ketika banyak penolakan dan
desakan dari rakyat atas pemilihan secara tidak langsung dianggap menjadi suatu alasan sebagai keadaan
yang mendesak dan kegentingan yang harus diselesaikan dengan cepat. Pemilihan Kepala daerah secara

15
Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 berbunyi : Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing sebagai Kepala Pemerintahan Daerah
Provinsi, Kabupaten dan Kota dipilih secara Demokratis
16
http://www.rumahpemilu.org Persetujuan Perpu pilkada oleh Saldi Isra diakses pada tanggal 13 juni 2015 dalam skripsi Reza
Haryo Mahendra putra, Syarat hal ihwal kegentingan yang memaksa dalam pembuatan peraturan pemerintah pengganti
undang-undang, Fakultas Syariah dan Hukum UIN.hlm. 65
17
www.fpkb-dpr.or.id diakses pada tanggal 22 Mei 2015, Ibid.
tidak langsung atau dengan perwakilan DPRD dinilai sebagai langkah mundur dari apa yang sudah
dilakukan oleh bangsa ini yang sudah menjadikan demokrasi langsung sebagai suatu langkah maju.
Kesimpulannya perpu lebih banyak ditentukan oleh komunikasi presiden dan kekuatan politik di DPR
dilihat dari pengalaman beberapa Perpu yang disahkan oleh DPR. Hukum dipandang sebagai dependent
variable (Variable terpengaruh), sedangkan politik diletakan sebagai Independent Variable ( Variable
berpengaruh)18

B. Analisis Perpu Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun
2014 Tentang Pemerintahan Daerah

Perpu Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU No,23/2014 tentang Pemda atau disebut
juga Perpu pemda, berisi dua hal penting. Pertama, Perpu ini menghapus tugas dan wewenang DPRD
Provinsi dalam mengusulkan pengangkatan dan pemberhentina gubernur dan/atau wakil gubernur kepada
Presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk mendapatkan pengesahan pengangkatan dan/atau
pemberhentian. Kedua, Perpu ini menghapus tugas dan wewenang DPRD kabupaten/kota untuk
mengusulkan pengankatan dan pemerhentian bupati/wali kota dan/atau wakil bupati/wakil bupat kepada
Menteri Dalam negeri melalui gubernur sebagai wakil pemerintah pusat untuk mendapatkan pengesahan
pengangkatan dan/atau pemerhentian. Penghapusan wewenang dan tugas dari masing-masing DPRD
Provinsi dan kapbupaten/kota tersebu mengikuti dikeluarkannya Perpu No.1 tahun 2014 Tentang
Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota yang pada intinya mengubah bahwa pemilihan daerah
dilakukan secara langsung oleh rakyat. Dengan dipilihnya gubernur, walikota, dan bupati secara langsung
maka harus ada perubahan dan penyesuaian peraturan yang berlaku demi terciptanya kepastian hukum
pada pelaksanaan pilkada.

A. PEMBENTUKAN PERPU

Untuk menghadapi suatu krisis atau keadaan abnormal, maka diperlukan suatu tindakan luar biasa/
extraordinary measures dan pengaturan luar biasa/ extraordinary rules. Keadaan abnormal tersebut harus
terjadi sewaktu-waktu dan tidak dapat diramalkan sehingga harus ada instrumen yang mengatur hal
tersebut. UUD 1945 mengatur mengenai lembaga yang berwenang melakukan tindakan luar biasa, hal ini
disebut tindakan yang luar biasa karena menunjuk pada suatu situasi dimana situasi tersebut akan
menimbulkan hal-hal yang akan menyimpang dari ketentuan-ketentuan umum yang belaku sehingga
harus ada tindakan atau pengaturan darurat karena ada unsur emergency (kemendesakan dan keterpaksaan
yang sifatnya sementara) oleh sebab itu, sebelum tindakan darurat atau pengaturan darurat tersebut
dilakukan, harus ditunjukan adanya keadaan mendesak dan darurat. Pasal 12 jo. 22 UUD 1924 mengatur
mengenai bagaimana presiden memiliki kewenangan untuk menyatakan dalam keadaan bahaya sebagai
salah satu tindakan pertama yang menjadi dasar dikeluarkannya perpu. Dalam Pasal 22 UUD 1945
menjadi dasar untuk membuat peraturan perundang-undangan luar biasa atau extraordinary rules.

Dalam Perpu ini, keadaan abnormal yang dimaksud adalah perubahan proses pemilihan kepada
daerah, yang awalnya dipilih melalui badan legislatif daerah menjadi pemilihan secara langsung oleh
rakyat atau pemilu langsung. Perubahan proses pemilihan ini terjadisecara sewaktu-waktu sehingga harus
ada instrumen yag mengatur bagaimana pilkada tersebut dilaksanakan dan harus ada penyesuaian atas
18
Moh. Mahfud MD, Politik Hukum Di Indonesia, hlm. 10
pembentukan dari extraordinary rules. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam hal ini mengeluarkan
extraordinary rules berupa Pepru No. 1 Tahun 2014 mengenai Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota
yang menjadi dasar bagaimana pilkada tersebut dijalankan, dikarenakan peraturan tersebut melahirkan
suatu sistem pemilihan yang baru, maka harus ada penyesuaian dalam peraturan Perundang-undangan
yang berkaitan agar terdapat kepastian hukum. Mengikuti dikeluarkannya Perpu No.1/2014 tersebut,
Presiden SBY juga mengeluarkan Perpu No.2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah yang mengubah tugas dan kewenangan DPRD
Provinsi dan Kabupaten/Kota dimana badan legislatif daerah yang tadinya terdapat aturan yang
memberikan hak kepada badan legislatif daerah untuk mengusulkan dan memberhentikan gubernur,
walikota, dan bupati kini dihapus. Proses pembentukan ini sudah sesuai dengan teori dari Perpu yang
diatur dalam UUD 1945 dimana dalam keadaan perubahan sistem pemilihan umum yang abnormal, maka
Presiden memiliki kewenangan untuk menetapkan Perpu, dan Perpu ini disetujui oleh DPR yang disahkan
oleh DPR pada tanggal 26 September 2014. Pepru ini akhirnya ditetapkan oleh UU Nomor 2 Tahun 2015
tentang Penetapan Perpu 2/2014.

B. KEGENTINGAN YANG MEMAKSA

Kegentingan yang memaksa sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 138/PUU-VII/2009
yang didalamnya memuat tentang persyaratan perlunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
apabila :

1. Adanya keadaan yaitu kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan masalah hukum secara cepat
berdasarkan Undang-undang;

2. Undang-undang yang dibutuhkan tersebut belum ada sehingga terjadi kekosongan hukum atau
ada Undang-undang tetapi tidak memadai;

3. Kekosongan hukum tersebut tidak dapat diatasi dengan cara membuat Undang-undang secara
prosedur biasa karena akan memerlukan waktu yang cukup lama sedangkan keadaan yang
mendesak tersebut perlu kepastian untuk diselesaikan.

Putusan MK mengenai syarat dari keadaan yang memaksa tersebut memberikan pertimbangan bahwa
syarat-syarat tersebut dapat bersifat alternatif sekaligus kumulatif. Dalam hal ini, Perpu No.2 Tahun 2014
memenuhi syarat nomor 1 dimana adanya keadaan yaitu kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan
masalah hukum secara cepat berdasarkan undang-undang, dalam hal ini kebutuhan mendesak tersebut
adalah penghapusan tugas dan wewenag dari DPRD Priovinsi dan kabupatan/kota karena denagn
diubahnya sistem, kewenangan dan tugas DPRD juga harus dihapus agar memberikan kepstian hukum
pada saat pelaksanaan pilkada. Dengan diterbtkannya Perpu in, maka DPRD pada saat itu juga sudah
tidak agi memiliki wewenang untuk memilih kepala daerah.

C. MATERI MUATAN

Dari sudut kebahasaan, Perpu merupakan Peraturan Pemerintah namun memiliki materi muatan yang
berbeda, dan dalam sistem peraturan perundang-undangan, Perpu tidak masuk dalam peraturan
pemerintah dan merupakan bentuk hukum tersendiri. 19 Berdasdarkan Pasal 11 Undang-Undang No 12

19
Susi Dwi Harijanti, Materi Perkulihan IPU 2016.
tahun 2011 tentang embentukan Peraturan Perundang-Undangan, materi muatan dari Perpu sama dengan
Mareri Muatan Undang-Undang. Undang-Undang sendiri memiliki materi muatan sebagai berikut:

a. pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945;
b. perintah suatu Undang-Undang untuk diatur dengan Undang-Undang;
c. pengesahan perjanjian internasional tertentu;
d. tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi; dan/atau
e. pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat.

Materi muatan ini juga harus dibatasi dalam hal menjalankan pemerintahan, atau berkenaan dengan
hukum administrasi bukan hukum tata negara. Perpu No.2/2014 memiliki materi muatan yang merupakan
pemenuhan kebutuhan hukum dalam masyarakat dan secara tidak langsung merupakan perintah suatu UU
untuk diatur dengan UU lain, dalam hal ini karena dikeluarkan Perpu No.1/2014 maka harus ada
pemyesuaian dalam UU Pemda sehingga Perpu ini harus dikeluarkan demimemenuhi kebutuhan hukum
dalam masyarakat dan merupakan salah satu dampak dari Perpu lainnya.