Anda di halaman 1dari 2

Penilaian swabakar berdasarkan rasio kekurangan CO2/O2 dan

rasio kekurangan CO/O2

Penilaian swabakar berdasarkan rasio kekurangan CO/O2 dan CO2/O2 adalah


merupakan suatu metode yang dikemukakan oleh Mr. Graham. Metode ini adalah
suatu metode penilaian terhadap proses kemajuan swabakar dan metode penilaian
yang menekankan pada hal membesarnya rasio munculnya CO dan CO2 yang terjadi
akibat reaksi oksidasi aktif yang diakibatkan karena suhunya mencapai suhu tertentu
(sekitar 200) meskipun CO dan CO2 yang muncul asalnya sedikit dibandingkan
dengan rasio oksigen yang hilang karena adanya reaksi yang diakibatkan karena
oksigen menempel pada batubara di daerah yang oksidasinya lambat.
Ditunjukan dengan contoh perhitungan seperti dibawah ini.
Contoh no. 1 Sample suatu hari di area sealing
Nilai analisa
CH4--60.82 N2--30.69 O2--3.15 CO0.022 CO24.89
Perhitungan
30.69nilai pengukuran N278.97N2 pada udara standar0.389Rasio campuran
pada udara
20.99CO2 pada udara standar0.3898.17Rasio O2 yang harus ada
8.173.15nilai pengukuran O25.02rasio kekurangan O2
0.022rasio CO5.020.00440.44------------kekurangan CO/O2
4.89rasio CO5.020.94------------------------kekurangan CO2/O2

Contoh no. 2 Sample 3 hari setelah contoh no.1


Nilai analisa
CH4--70.48 N2--21.46 O2--4.23 CO--0.015 CO23.52
Perhitungan
21.46nilai pengukuran N278.97N2 pada udara standar0.272rasio campuran
pada udara
20.99CO2 pada udara standar0.2725.71rasio O2 yang harus ada
5.714.23nilai pengukuran O21.48rasio kekurangan O2
0.015rasio CO1.480.01011.01------------ kekurangan CO/O2
3.52rasio CO1.482.378------------------------kekurangan CO2/O2

Apabila hasil pengitungan tersebut dibandingkan nilai CO dan CO2 pada nilai analisa
menjadi sedikit, tetapi apabila dilihat pada rasio kehilangan O2, nilai CO dan CO2
menjadi besar.Dengan demikian kita bisa melihat adanya peningkatan pada rasio
kekurangan oksigen, CO dan CO2. Selain itu juga bisa mengetahui bahwa swabakar
sedang mengalami kemajuan atau perkembangan.

Konsentrasi CO akan berbeda dan mengalami perubahan berdasarkan jumlah ventilasi.


Tetapi rasio yang digunakan dalam penilaian ini yaitu rasio kekurangan CO/CO2 yang
merupakan indeks yang tidak dipengaruhi oleh jumlah ventilasi.

Tetapi rasio ini disesuaikan dengan perkembangan/kemajuan dari swabakar. Yang


mengalami perubahan adalah apabila swabakar sudah relatif berkembang/maju
(200) sehingga tidak cocok untuk swabakar yang baru ditemukan.
Pada suhu rendah pun jumlah munculnya CO2 termasuk banyak, tetapi jumlah
perubahannya terhadap kenaikan suhu apabila dibandingkan dengan CO termasuk
sangat sedikit.
Rasio kekurangan CO/O2 jarang digunakan sebagai indeks untuk menentukan
perkembangan/kemajuan swabakar.