Anda di halaman 1dari 41

WRAP UP SKENARIO 1

BLOK PANCA INDERA


MATA MERAH

KELOMPOK A-14

Ketua : Keyko Putri Prayogo 1102013146


Sekretaris : Argia Anjani 1102013041
Anggota : Ayu Mulya Lestari 1102012037
Kayla
Aditya Nugraha Artar 1102013008
Faishal Anwar 1102013105
Fuzan Emir Hassan 1102013109
Andrew Rozaan F. 1102013028
Lisa Dwiriansyah T. 1102013155
Auditya Widyasari 1102013047
Fawzia Devi Fitriani 1102013110

Fakultas Kedokteran
Universitas Yarsi
2016
SKENARIO 1

MATA MERAH

Seorang anak laki-laki, 8 tahun datang ke poliklinik diantar ibunya dengan keluhan
kedua mata merah sejak 2 hari yang lalu setelah bermain sepakbola. Keluhan disertai
dengan keluarnya banyak air mata dan gatal. Penglihatan tidak mengalami gangguan.
Pasien pernah menderita penyakit seperti ini 6 bulan yang lalu.
Pada pemeriksaan oftalmologis:
VOD: 6/6, VOS: 6/6
Segmen anterior ODS: palpebral edema (-), lakrimasi (+), konjungtiva tarsalis
superior: giant papil (+) (cobble stone appearance), konjungtiva bulbi: injeksi
kongjungtiva (+), limbus kornea: infiltrate (+).
Lain lain tidak ada kelainan.

Pasien sudah mencoba mengobati dengan obat warung namun tidak ada perubahan.

Setelah mendapatkan terapi pasien diminta untuk control rutin dan menjaga serta
memelihara kesehatan mata sesuai tuntunan ajaran Islam.

2
KATA SULIT

1. Cobble stone appearance


Papila dengan diameter lebih dari 1 mm

2. VOD
Visus oculi dextra (Ketajaman penglihatan mata kanan)

3. VOS
Visus oculi sinistra (Ketajaman penglihatan mata kiri)

4. Lakrimasi
Kelebihan produksi air mata yang disebabkan oleh rangsangan pada kelenjar
lakrimal

5. Injeksi konjungtiva
Melebarnya pembuluh darah arteri konjungtiva posterior. Terjadi akibat
pengaruh mekanis, alergi, ataupun infeksi pada jaringan konjungtiva.

6. ODS
Oculi dextra sinistra

ANALISA MASALAH

1. Apa saja alat-alat untung menghitung visus?


2. Mengapa bisa terbentuk giant papil?
3. Mengapa tidak terjadi penurunan visus?
4. Apa ada hubungan antara penyakit yang diderita pasien dengan penyakit
sebelumnya?
5. Bagaimana penanganan pertama pada kasus di skenario?
6. Apakah penyakit yang diderita bisa rekurens?
7. Apakah penyakit ini menular?
8. Apa penyebab penyakit pada kasus di skenario?
9. Apa yang menyebabkan hiperlakrimasi dan gatal?
10. Mengapa pada limbus kornea terdapat infiltrate?
11. Bagaimana cara menjaga kesehatan mata menurut pandangan islam?

3
JAWABAN

1. Dengan snellen chart, E chart, dan cincin londolt chart


2. Karena adanya penumpukan jaringan ikat pada konjungtiva
3. Karena yang terinfeksi hanya konjungtiva, tidak mengenai kornea hingga
corpus vitreum.
4. Ada, kemungkinan karena alergi.
5. Diberikan obat tetes mata
6. Bisa, tergantung etiologinya. Apabila disebabkan virus maka bisa terjadi
rekurens. Apabila disebabkan alergi bisa berulang jika terpapar allergen
kembali.
7. Tergantung etiologinya.
8. Bakteri, virus, allergen, bahan kimia, jamur, dll.
9. Mekanisme pertahanan tubuh disaat terpapar allergen. Hiperlakrimasi
ditujukan untuk mengeluarkan debu. Gatal karena keluarnya histamine.
10. Karena adanya benda asing.
11. Membersihkan mata ketika berwudhu serta rajin membaca kitab suci Al-
quran.

HIPOTESIS

Adanya allergen dapat membuat mata menjadi merah, oleh karena itu tubuh
akan melaksanakan mekanisme pertahanan tubuh dengan cara mengeluarkan
air mata berlebih, dengan maksud untuk mengeluarkan allergen dari daerah
mata. Selain itu akan terasa gatal karena efek dari histamine. Kondisi ini
disebut konjungtivitis atau peradangan selaput mata, sehingga mata akan
menjadi berwarna merah. Untuk tatalaksana awal bisa diberikan obat tetes
mata yang selanjutnya bisa dikonsultasikan ke dokter.

4
SASARAN BELAJAR
1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANATOMI MATA
1.1. Menjelaskan Makroskopis Mata
Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan.
Dari luar ke dalam, lapisanlapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2)
koroid/badan siliaris/iris, dan (3) retina. Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan
ikat yang protektif dan kuat di sebelah luar, sklera, yang membentuk bagian putih
mata. Di anterior (ke arah depan), lapisan luar terdiri atas kornea transparan
tempat lewatnya berkasberkas cahaya ke interior mata. Lapisan tengah dibawah
sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengandung pembuluh-
pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan paling dalam dibawah
koroid adalah retina, yang terdiri atas lapisan yang sangat berpigmen di sebelah
luar dan sebuah lapisan syaraf di dalam. Retina mengandung sel batang dan sel
kerucut, fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls syaraf.

5
6
7
Tunika fibrosa ( tunica fibrosa oculi )
Sklera dan kornea membentuk tunika fibrosa bola mata; sklera berada di lima
perenam bagian posterior dan opak; kornea membentuk seperenam bagian anterior
dan transparan.
Sklera memiliki densitas yang tinggi dan sangat keras, merupakan membran
solid yang berfungsi mempertahankan bentuk bola mata. Sklera lebih tebal di bagian
belakang daripada di depan; ketebalan di bagian belakang 1 mm. Permukaan eksternal
sklera berwarna putiih, dan menempel pada permukaan dalam fascia bulbi; bagian
anterior sklera dilapisi membran konjungtiva bulbi. Di bagian depan, sklera
berhubungan langsung dengan kornea, garis persatuannya dinamakan sclero-corneal
junction atau limbus. Pada bagian dalam sklera dekat dengan junction terdapat kanal
sirkular, sinus venosus sclera (canal of Schlemm). Pada potongan meridional dari
bagian ini, sinus tampak seperti cekungan (cleft), dinding luarnya terdiri dari jaringan
solid sklera dan dinding dalamnya dibentuk oleh massa triangular jaringan trabekular.
Aqueous humor direasorbsi menuju sinus skleral oleh jalur pectinate villi yang
analog dengan struktur dan fungsi arachnoid villi pada meninges serebral menuju
pleksus vena sklera. Kornea merupakan bagian proyeksi transparan dari tunika
eksternal, dan membentuk seperenam permukaan anterior bola mata. Kornea
berbentuk konveks di bagian anterior dan seperti kubah di depan sklera. Derajat
kelengkungannya berbeda pada setiap individu.

8
Tunika vaskular ( tunica vasculosa oculi )
Tunika vaskular mata terdiri dari koroid di bagian belakang, badan siliaris
serta iris di
bagian depan.
Koroid berada di lima perenam bagian posterior bola mata, dan memanjang
sepanjang ora serrata. Badan siliaris menghubungkan koroid dengan lingkaran iris.
Iris adalah diafrgama sirkular di belakang kornea, dan tampak di sekeliling pusat,
apertura bundar, pupil.
Koroid merupakan membran tipis, vaskular, warna coklat tua atau muda. Di
bagian belakang ditembus oleh nervus optikus. Lapisan ini lebih tebal di bagian
belakang daripada di bagian depan.
Salah satu fungsi koroid adalah memberikan nutrisi untuk retina serta
menyalurkan pembuluh darah dan saraf menuju badan siliaris dan iris.
Badan siliaris (corpus ciliare) merupakan terusan koroid ke anterior yang
terdapat processus ciliaris serta musculus ciliaris.
Iris dinamakan berdasarkan warnanya yang beragam pada individu berbeda.
Iris adalah lempeng (disk) kontraktil, tipis, sirkular, berada di aqueous humor antara
kornea dan lensa, dan berlubang di tengah yang disebut pupil. Di bagian perifernya,
iris menempel dengan badan siliaris, dan juga terkait dengan; permukaannya rata,
bagian anterior menghadap ke kornea, bagian posterior menghadap prosesus siliaris
dan lensa. Iris membagi ruangan antara lensa dan kornea sebagai ruang anterior dan
posterior. Ruang anterior mata dibentuk di bagian depan oleh permukaan posterior
kornea; di bagian belakang oleh permukaan anterior iris dan bagian tengah lensa.
Ruang posterior adalah celah sempit di belakang bagian perifer iris, dan di depan
ligament suspensori lensa dan prosesus siliaris.

Tunika nervosa ( Tunica interna )


Retina adalah membran nervosa penting, dimana gambaran objek eksternal
ditangkap.
Permukaan luarnya berkontak dengan koroid; permukaan dalamnya dengan membran
hialoid
badan vitreous. Di belakang, retina berlanjut sebagai nervus optikus; retina semakin
tipis di bagian depan, dan memanjang hingga badan siliaris, dimana ujungnya berupa
cekungan, ora serrata. Disini jaringan saraf retina berakhir, tetapi pemanjangan tipis
membran masih memanjang hingga di belakang prosesus siliaris dan iris, membentuk
pars ciliaris retina dan pars iridica retina. Tepat di bagian tengah di bagian posterior
retina, pada titik dimana gambaran visual paling bagus ditangkap, berupa area oval
kekuningan, makula lutea; pada makula terdapat depresi sentral, fovea sentralis.
Fovea sentralis retina sangat tipis, dan warna gelap koroid dapat terlihat. Sekitar 3
mm ke arah nasal dari makula lutea terdapat pintu masuk nervus optikus (optic disk),
arteri sentralis retina menembus bagian tengah discus. Bagian ini satu-satunya
permukaan retina yang insensitive terhadap cahaya, dan dinamakan blind spot.

Media Refraksi
Media refraksi: kornea, aqueous humor, crystalline lens, vitreous body.

9
Aqueous humor ( humor aqueus )
Aqueous humor mengisi ruang anterior dan posterior bola mata. Kuantitas
aqueous humor sedikit, memiliki reaksi alkalin, dan sebagian besar terdiri dari air,
kurang dari seperlimanya berupa zat padat, utamanya klorida sodium.

Vitreous body ( corpus vitreum )


Vitreous body membentuk sekitar empat perlima bola mata. Zat seperti agar-
agar ini mengisi ruangan yang dibentuk oleh retina. Transparan, konsistensinya
seperti jeli tipis, dan tersusun atas cairan albuminus terselubungi oleh membrane
transparan tipis, membran hyaloid. Membran hyaloid membungkus badan vitreous.
Porsi di bagian depan ora serrata tebal karena adanya serat radial dan dinamakn
zonula siliaris (zonule of Zinn). Disini tampak beberapa jaringan yang tersusun radial,
yaitu prosesus siliaris, sebagai tempat menempelnya. Zonula siliaris terbagi atas dua
lapisan, salah satunya tipis dan membatasi fossa hyaloid; lainnya dinamakan ligamen
suspensori lensa, lebih tebal, dan terdapat pada badan siliaris untuk menempel pada
kapsul lensa. Ligamen ini mempertahankan lensa pada posisinya, dan akan relaksasi
jika ada kontraksi serat sirkular otot siliaris, maka lensa akan menjadi lebih konveks.
Tidak ada pembuluh darah pada badan vitreous, maka nutrisi harus dibawa oleh
pembuluh darah retina dan prosesus siliaris.

Crystalline lens ( lens crystallina )


Lensa terletak tepat di belakang iris, di depan badan vitreous, dan dilingkari
oleh prosesus siliaris yang mana overlap pada bagian tepinya. Kapsul lensa (capsula
lentis) merupakan membran transparan yang melingkupi lensa, dan lebih tebal pada
bagian depan daripada di belakang. Lensa merupakan struktur yang rapuh namun
sangat elastis. Di bagian belakang berhadapan dengan fossa hyaloid, bagian depan
badan vitreous; dan di bagian depan berhadapan dengan iris. Lensa merupakan
struktur transparan bikonveks. Kecembungannya di bagian anterior lebih kecil
daripada bagian posteriornya.

Organ Aksesorius Mata (Organa Oculi Accessoria)


Organ aksesorius mata termasuk otot okular, fascia, alis, kelopak mata,
konjungtiva, dan
aparatus lakrimal.

Lacrimal apparatus ( apparatus lacrimalis )


Apparatus lakrimal terdiri dari (a) kelenjar lakrimal, yang mensekresikan air
mata, dan duktus ekskretorinya, yang menyalurkan cairan ke permukaan mata; (b)
duktus lakrimal, kantung (sac) lakrimal, dan duktus nasolakrimal, yang menyalurkan
cairan ke celah hidung.
Lacrimal gland (glandula lacrimalis) terdapat pada fossa lakrimal, sisi medial
prosesus zigomatikum os frontal. Berbentuk oval, kurang lebih bentuk dan besarnya
menyerupai almond, dan terdiri dari dua bagian, disebut kelenjar lakrimal superior
(pars orbitalis) dan inferior (pars palpebralis). Duktus kelenjar ini, berkisar 6-12,
berjalan pendek menyamping di bawah konjungtiva.
Lacrimal ducts (lacrimal canals), berawal pada orifisium yang sangat kecil,
bernama puncta lacrimalia, pada puncak papilla lacrimales, terlihat pada tepi
ekstremitas lateral lacrimalis. Duktus superior, yang lebih kecil dan lebih pendek,
awalnya berjalan naik, dan kemudian berbelok dengan sudut yang tajam, dan berjalan
ke arah medial dan ke bawah menuju lacrimal sac. Duktus inferior awalnya berjalan

10
turun, dan kemudian hamper horizontal menuju lacrimal sac. Pada sudutnya, duktus
mengalami dilatasi dan disebut ampulla. Pada setiap lacrimal papilla serat otot
tersusun melingkar dan membentuk sejenis sfingter.
Lacrimal sac (saccus lacrimalis) adalah ujung bagian atas yang dilatasi dari
duktus nasolakrimal, dan terletak dalam cekungan (groove) dalam yang dibentuk oleh
tulang lakrimal dan prosesus frontalis maksila. Bentuk lacrimal sac oval dan ukuran
panjangnya sekitar 12-15 mm; bagian ujung atasnya membulat; bagian bawahnya
berlanjut menjadi duktus nasolakrimal. Nasolacrimal duct (ductus
nasolacrimalis; nasal duct) adalah kanal membranosa, panjangnya sekitar 18 mm,
yang memanjang dari bagian bawah lacrimal sac menuju meatus inferior hidung,
dimana saluran ini berakhir dengan suatu orifisium, dengan katup yang tidak
sempurna, plica lacrimalis (Hasneri), dibentuk oleh lipatan membran mukosa. Duktus
nasolakrimal terdapat pada kanal osseous, yang terbentuk dari maksila, tulang
lakrimal, dan konka nasal inferior.
Otot-otot ekstraokular
1. Rectus medialis.
2. Rectus superior.
3. Rectus lateralis.
4. Rectus inferior.
5. Obliquus superior.
6. Obliquus inferior.

Saraf Saraf Orbita


1. N.optikus
N. optikus masuk ke orbita melalui canalis optikus dari fossa cranii
media , disertai oleh arteri opthalmica, yang terletak di sisi lateral bawahnya.
Saraf ini dikelilingi oleh selubung piameter, aracnoideamater, dan
duramater. Berjalan ke depandan lateral di dalam kerucut mm.recti dan
menembus sklera pada suatu titik di medial polus posterior bola mata.

2. Nervus Lakrimalis
N. lakrimalis dipercabangkan dari divisi ophthalmica n.trigeminus pada
dinding lateral sinus cavernosus. Saraf ini halus dan masuk ke orbita
melaluibagian atas fisura orbitalis superior. Berjalan ke depan sepanjang
pinggir atas m.rectus lateralis. Saraf ini bergabung dengan cabang n.
zigomaticotemporalis. N. lacrimalis berakhir dengan mempersarafi kulit
bagian lateral palpebra superior.

3. Nervus Frontalis
N. frontalis dipercabangkan dari divisi opthalmica n.trigeminus pada
dinding lateral sinus cavernosus. Masuk ke orbita melalui bagian atas fisura
orbitalis superior dan berjalan ke depan pada permukaan superior m.levator
palpebrae superior, diantara otot ini dan atap orbita. Saraf ini bercabang
menjadi n.suprathoclearis dan n.supraorbitalis. N.supratroclearis berjalan
diatas trochlea untuk m.obliquus superior dan melingkari pinggir atas orbita
untuk mempersarafi kulit dahi.

4. Nervus Trochlearis

11
N.trochlearis meninggalkan dinding lateral meninggalkan dinding lateral
sinus caveronsus daan masuk ke orbita melalui bagian atas fissura orbitalis
superior. Saraf tersebut berjalan ke depan dan ke medial, melintasi origo
m.levator palpebrae superior dan mempersarafi m. Obliquus superior.

5. N.occulomotorius
Terdiri dari :
a) Ramus superior
N.occulomotorius meninggalkan dinding lateral sinus cavernosus dan
masuk ke orbita melalui bagian bawah fissura orbitalis superior, di
dalam annulus tendineus. Cabang ini mempersarafi m.rectus superior,
kemudian menembus otot ini, dan memperdarafi m.levator palpebrae
superior yang ada di atasnya.
b) Ramus posterior
N.occulomotorius masuk ke orbita dengan cara yang sama dan
memberikan cabang-cabang ke m.rectud inferior. Saraf ke m.obliquus
inferior memberikan sebuah cabang yang berjalan ke gangglion ciliaris
dan membawa serabut-serabut parasimpatis ke m.sphincter puppilae
dan m.cilliaris.

6. Nervus abducens
N.abdusens meninggalkan sinus cavernosus dan masuk ke orbita melalui
bagian bawah fissura orbitalis superior, di dalam anulus tendineus. Saraf ini
berjalan ke depan dan mempersarafi m.rectus lateralis.

7. Nervus Nasociliaris
N. Nasociliaris dipercabangkan dari divisi ophthalmica n. Trigeminus
pada dinding lateral sinus cavernosus. Nervus ini masuk ke orbita melalui
bagian bawah fissura orbitalis, di dalam annulus tendineus. Saraf ini
melimtas di atas n. Optikus bersama a. Ophthalmica mencapai dinding
orbita. Kemudian n. Nasociliaris berjalan ke depa. Sepanjang punggir atas
m. Rektus medialis dan berakhir dengan bercabang dua menjadi n.
Ethomoidalis anterior dan n. Infratrochlearis.
Cabang-cabang
a) Ramus communicans ke ganglion ciliaris
b) Nn. Ciliares
c) N. Ethmoidalis
d) N. Infratrochlearis
e) N. Ethmoidalis anterior.

Ganglion Ciliaris
Merupakan ganglion parasimpatis dan terletak pada bagian posterior orbita
di lateral n.optikus. Ganglion ini menerima serabut-serabut parasimpatiis
preganglionik dari n.occulomotorius melalui saraf tersebut ke m.obliquus
inferior. Sejumlah serabut simpatis berjalan dari plexus caroticus internus masuk
ke dalam orbita dan berjalan melalui ganglion tanpa bersinaps.

12
Otot penggerak bola mata
Otot ini menggerakan mata dengan fungsi ganda dan untuk pergerakan
mata tergantung pada letak dan sumbu penglihatan sewaktu aksi otot . otot
pengerakan bola mata terdiri atas enam otot, yaitu:
1. Musculus oblique inferior
Muscilus ini mempunyai origo pada fosa lakrimal tulang lakrimal.
Berinsersi pada sklera posterior 2 mm dari kedudukan makula , dipersarafi
oleh saraf okulomotor , bekerja untuk menggerakan mata ke arah abduksi dan
eksiklotorsi.

2. Musculus oblique inferior


Musculus ini berorigo pada naulus zinn dan ala parva tulang sfenoid di
atas formaen optikus. Musculus ini dipersarafi oleh N.IV atau saraf troklear
yang keluar dari bagian dorsal susunan saraf pusat. Musculus ini mempunyai
aksi pergerakan miring dari troklea pada bola mata dengan kerja utama terjadi
bila sumbu aksi dan sumbu penglihatan searah atau mata melihat ke arah
nasal. Berfungsi menggerakan bola mata untuk depresi terutama bila mata
melihat ke nasal.

3. Musculus Rektus inferior


Mempunyai origo pada anulus Zinn, berjalan antara oblik inferior dan bola
mata atau sklera dan insersi 6 mm di belakang limbus yang pada persil
dengan oblik inferior diikat kuat oleh ligamen lockwood. Rektus inferior
dipersarafi oleh n. III. Rektus inferior membentuk sudut 23 derajat dengan
sumbu penglihatan.

Fungsi menggerakkan mata :


Depresi (gerak primer)
Eksoklotorsi (gerak sekunder)
Aduksi (gerakvsekunder)

4. Musculus Rektus lateral


Rektus lateralmempunyai origo pada anulus Zinn di atas dan di bawah
foramen optik. Rekyus lateral dipersarafi oleh N. VI. Dengan pekerjaan
menggerakan mata terutama abduksi.

5. Musculus Rektus Medius


Mempunyai origo pasa anuluz Zinn dan pembungkus dura saraf optik yng
sering memberikan dan rasa sakit pada pergerKan mata bila terdapat neuritis
rettobulbar, dan berinsersi 5 mm dibelakang limbus. Rektus medius
merupakan otot mata yang paling tebal dengan tendon terpendek.
Menggerakan mata untuk aduksi ( gerak primer).

Vaskularisasi
1. Arteri ophthalmica
Arteri ophthalmica adalah cabang dari a.carotis interna setelah pembuluh
ini keluar dari sinus cavernosus. Arteri ini berjalan ke depan melalui canalis
optikus bersama nervus optikus. Pumbuluh ini berjalan di depan dan laterak
dari n.optikus, kemudian menyilang di atasnya untuk sampai ke dinding

13
medial orbita. Kemudian arteri ini memberikan banyak cabang dan sebagian
cabang-cabang megikuti saraf-saraf di dalam orbita.
Cabang-cabangnya :
a) A.centralis retinae
b) Rami muscularis
c) Aa.ciliaris
d) A.lacrimalis
e) A.supratrochlearis dan a.supraorbitalis

2. Vena-vena ophthalmica
V.ophthalmica Superior berhubungan di depan dengan v.facialis. v.
Ophthalmica inferior berhubungan melalui fissura orbitalis inferior dengan
plexus venosus pterygoideus. Kedua vena ini berjalan ke belakang melalui
fissura orbitalis dan bermuara ke dalam sinus cavernosus.

Kelopak Mata

Fungsi :
1. Memberikan proteksi mekanis pada bola mata anterior.
2. Mensekresi bagian berminyak dari lapisan film air mata.
3. Menyebarkan film air mata ke konjungtiva dan kornea.
4. Mencegah mata menjadi kering.
5. Memiliki pungta tempat air mata mengalir ke sistem drainase lakrimal.

Kelopak mata terdiri dari :


1. Suatu lapisan permukaan kulit.
2. Otot-otot orbikularis.
3. Suatu lapisan kolagen kuat (lempeng tarsal).
4. Suatu lapisan epitel, konjungtiva, sampai ke bola mata.

Kornea

Kornea (Latin cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian selaput mata
yang tembus cahaya.

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensoris terutama berasal dari saraf siliar longus, saraf
nasosiliar, saraf V. saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea,
menembus membran Boeman melepaskan selubung Schwannya. Seluruh lapis epitel
dipersarafi samapai kepada kedua lapis terdepan tanpa ada akhir saraf. Bulbus Krause untuk
sensasi dingin ditemukan di daerah limbus. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di
daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan.

Trauma atau panyakit yang merusak endotel akan mengakibatkan sistem pompa endotel
terganggu sehingga dekompresi endotel dan terjadi edema kornea. Endotel tidak mempunya
daya regenerasi. Kornea merupakan bagian mata yang tembus cahaya dan menutup bola
mata di sebelah depan. Pembiasan sinar terkuat dilakukan oleh kornea, dimana 40 dioptri
dari 50 dioptri pembiasan sinar masuk kornea dilakukan oleh kornea.

14
Aqueous Humor (Cairan Mata)

Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya tidak memiliki
pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan mengganggu lewatnya
cahaya ke fotoreseptor. Aqueous humor dibentuk dengan kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan
kapiler di dalam korpus siliaris, turunan khusus lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan ini
mengalir ke suatu saluran di tepi kornea dan akhirnya masuk ke darah.

Jika aqueous humor tidak dikeluarkan sama cepatnya dengan pembentukannya (sebagai
contoh, karena sumbatan pada saluran keluar), kelebihan cairan akan tertimbun di rongga
anterior dan menyebabkan peningkatan tekanan intraokuler (di dalam mata). Keadaan ini
dikenal sebagai glaukoma. Kelebihan aqueous humor akan mendorong lensa ke belakang ke
dalam vitreous humor, yang kemudian terdorong menekan lapisan saraf dalam retina.
Penekanan ini menyebabkan kerusakan retina dan saraf optikus yang dapat menimbulkan
kebutaan jika tidak diatasi.

1.2. Menjelaskan Mikroskopis Mata


Lapisan Histologis Dinding Bola Mata
Secara histologis, dinding bola mata disusun oleh 3 lapisan:
Tunika fibrosa yang terdiri atas sklera dan kornea.
Tunika vaskularis yang terdiri atas khoroid, badan siliaris, dan iris.
Tunika neuralis yang terdiri atas retina

Tunika Fibrosa
Lapisan ini membentuk kapsul yang berfungsi menyokong bola mata, tersusun atas
sklera dan kornea. Sklera terletak di sebelah belakang bola mata, merupakan bagian
yang berwarna putih sementara kornea terletak di sebelah depan bola mata,
merupakan bagian bening yang menutupi iris. Pertemuan antara sklera dan kornea
disebut limbus.

Sklera
Sklera merupakan jaringan ikat yang disusun oleh serat kolagen tipe 1 serta elastin.
Susunan ini membentuk struktur dinding bola mata yang kokoh, disokong oleh
tekanan intraokular yang berasal dari humor akuaeous dan humor vitreus. Bagian
belakang sklera yang ditembus oleh serat saraf optik dinamakan lamina kribrosa. Di
sklera dapat ditemukan pembuluh darah, terutama di limbus.

15
Kornea
Kornea merupakan bagian tunika fibrosa yang transparan, tidak mengandung
pembuluh darah dan kaya akan ujung-ujung serat saraf. Kornea bersifat avaskular
sehingga nutrisi didapat dari difusi dari pembuluh darah perifer di limbus, dan melalui
humor akweus. Kornea terdiri dari 5 lapisan:
1. Epitel kornea
- Disusun oleh epitel gepeng berlapis tanpa lapisan tanduk.
- Merupakan lapisan kornea terluar.
- Terdiri dari 7 lapis sel.
- Mengandung banyak ujung serat saraf bebas.
2. Membran Bowman
- Terletak dibawah epitel.
- Disusun serat kolagen tipe-1.

3. Stroma Kornea
- Lapisan kornea tertebal.
- Tersusun dari serat kolagen tipe-1, berjalan pararel membentuk lamel
kolagen.
- Terdapat sel fibroblas diantara serat kolagen.
4. Membran Descemet
- Membran dasar tersusun dari serat kolagen
5. Endotel Kornea
- Disusun oleh epitel selapis gepeng atau kuboid.
- Mensintesis protein untuk membran descemet
- Memiliki pompa natrium yang berperan penting untuk menjaga tekanan
dalam stroma kornea.

Kelebihan cairan dalam stroma dapat diserap oleh endotel dengan cara mengeluarkan
ion natrium ke dalam kamera okuli anterior sehingga air akan ikut keluar bersama ion
natrium. Stroma kornea harus dipertahankan dalam keadaan sedikit dehidrasi untuk
menjaga kualitas refraksi kornea. Kornea menjadi buram bila endotel kornea gagal
mengeluarkan kelebihan cairan di stroma.

16
Limbus
- Merupakan tempat pertemuan antara kornea dengan sklera.
- Stromanya merupakan tepian sklera yang menyatu dengan kornea. Tersusun
atas jaringan ikat fibrosa.
- Terdapat Kanal Schlemm yang merupakan pembuluh berbentuk cincin yang
melingkari mata dan bermuara pleksus vena sklera.
- Pada korpus siliaris terdapat muskulis siliaris, otot polos untuk mengatur
akomodasi mata.
Tunika Vaskulosa
Koroid
Khoroid merupakan lapisan yang banyak mengandung pembuluh darah dan sel
berpigmen sehingga tampak berwarna hitam. Lapisan ini tersusun dari jaringan
penyambung jarang yang mengandung serat-serat kolagen dan elastin, sel sel
fibroblas, pembuluh darah dan melanosit. Khoroid memiliki 4 lapisan:
1. Epikhoroid
- Lapisan khoroid terluar tersusun dari serat-serat kolagen dan elastin.
2. Lapisan pembuluh
- Lapisan yang paling tebal dan tersusun dari pembuluh darah dan melanosit
3. Lapisan koriokapiler
- Tersusun dari pleksus kapiler, jaringan ikat kolagen dan elastin, fibroblas dan
melanosit
- Berfungsu menyuplai nutrisi untuk bagian luar retina
4. Lamina elastika lapisan khoroid yang berbatasan dengan epitel pigmen
retina
Korpus siliaris
- Merupakan perluasan khoroid ke arah depan.
- Disusun oleh jaringan ikat yang menganding elastin,
pembuluh darah, dan melanosit.
- Badan siliaris membentuk tonjolan-tonjolan pendek
prosessus siliaris.
- Dari prosessus siliaris muncul benang fibrillin yang
akan berinsersi pada kapsula lensa, disebut sebagai
zonula zinii.
- Zonula zinii berfungsi sebagai penggantung lensa
- Dilapisi oleh 2 lapis epitel kuboid.
- Sel-sel korpus siliaris merupakan penghasil aqueous
humor.
- Cairan ini akan mengalir dari kamera okuli posterior
ke kamera okuli anterior melewati celah pupil, lalu
masuk ke dalam kanal Schlemm di limbus dan
bermuara di sistem vena.
- Korpus siliaris mengandung 3 berkas otot polos yang
dikenal sebagai mukulus siliaris.
- Satu berkas otot berfunsi membuka kanal Schlemm
untuk aliran humor akweus.
- 2 berkas lainnya untuk akomodasi mata.

Iris
- Iris merupakan bagian paling depan dari tunika vaskulosa

17
- Struktur ini merupakan kelanjutan badan siliar dan membentuk sebuah diafragma
di depan lensa.
- Iris merupakan pemisah kamera okuli anterior dan posterior, dengan pupil di
tengahnya.
- Iris disusun oleh jaringan ikat longgar berpigmen dan memiliki banyak pembuluh
darah.
- Permukaan iris yang menghadap ke kamera okuli anterior tidak beraturan dengan
lapisan pigmen yang tidak lengkap.
- Permukaan posterior iris lebih halus dan memiliki banyak sel-sel pigmen yang
akan mencegah cahaya melintas lewat iris.
- Hal ini membuat cahaya terfokuskan masuk lewat pupil.
- Jumlah sel melanosit yang terdapat pada iris akan memengaruhi warna mata.
- Bila jumlah melanosit banyak, mata akan tampak hitam, sebaliknya jika sedikit,
mata akan tampak biru.
- Terdapat 2 jenis otot polos, yaitu otot dilator pupil dan otot konstriktor pupil.

Lensa Mata
Terdiri atas 3 lapisan yaitu kapsul lensa, epitel subkapsul,
dan serat lensa. Kapsul lensa adalah lamina basalis yang
terdiri atas serat kolagen tipe IV dan glikoprotein. Kapsul
lensa bersifat elastis, jernih, dan padat. Epitel subkapsul
hanya terdapat di permukaan anterior lensa yang terdiri atas
epitel selapis kuboid. Serat-serat lensa merupakan sel yang
kehilangan inti dan organel lainnya, kemudian diisi oleh
protein lensa bernama crystallin. Cystalli akan
meningkatkan index pembiasan lensa.
Lensa tidak mengandung pembuluh darah, nutrisinya
diperoleh lewat aqueous humor dan korpus vitreus. Lensa
bersifat impermeabel, namun transparan.
Korpus Vitreus
Merupakan agar jernih yang mengisi urang antara lensa dan
retina. Korpus vitreus disusun 99% oleh air dan
mengnadung elektrolit, serta serat kolagen dan asam
hialuronat. Di dalm korpus vitreus terdapat sisa suatu
saluran yang dikenal sebagai kanal hialoidea, yang semula
mengandung arteri hialodea pada masa janin.
Tunika Neuralis
- Retina merupakan lapisan terdalam bola mata,
mengandung sel fotoreseptor batang dan kerucut.

18
- Di retina terdapat lempeng optik yang merupakan tempat keluarnya nervus
optikus.
- Serat-serat saraf di daerah ini bertumpuk membentuk tonjolan yang disebut
papila nervus optikus atau bintik buta.
- Daerah ini tidak mengandung sel fotoreseptor sehingga tidak peka terhadap
cahaya.
- Pada papila nervus optikus terdapat arteri dan vena sentralis.
- Arteri ini merupakan satu-satunya arteri yang mensuplai darah ke retina.
- Di lateral bintik buta terdapat daerah berpigmen kuning yang dikenal sebagai
bintik kuning atau makula lutea.
- Bagian tengah makula lutea dikenal sebagai fovea sentralis dan merupakan
daearah penglihatan yang paling peka.
- Sel penglihatan pada lantai fovea terdiri atas sel kerucut yang tersusun rapat dan
berukuran lebih panjang dibandingkan dengan sel-sel di bagian perifer retina.
- Di daerah fovea ini pula sel lapisan dalam retina lebih dangkal, sehingga cahaya
dapat mencapai sel kerucut dan batang lebih mudah.
Retina terdiri atas 10 lapisan dari luar ke dalam:
Epitel berpigmen --> lapisan sel poligonal yang kaya akan butir melanin,
berfungsi menyerap cahaya dan mencegah pemantulan, memberi nutrisi sel
fotoreseptor, sel pelepas dan penimbun vitamin A, dan tempat pembentukan
rhodopsin.
Lapisan batang dan kerucut --> terdiri atas sel-sel fotoreseptor yang merupakan
modifikasi sel saraf. Sel batang mengandung pigmen rhodopsin yang sangat
peka terhadap cahaya sehingga dapat teraktivasi dalam keadaan cahaya redup,
namun jika cahaya terang, sel ini tidak dapat menghasilkan sinyal. Sel kerucut
mempunyai pigmen iodopsin yang sensitif terhadap warna merah, biru, dan hijau.
Sel ini akan teraktivasi dengan cahaya terang.
Membran limitas luar --> rangkaian kompleks tautan antara sel batang dan sel
kerucut.
Lapisan inti luar --> lapisan yang terdiri atas inti sel batang dan kerucut
Lapisan plesiform luar --> terdiri atas akson sel batang dan kerucut serta dendrit
sel bipolar
Lapisan inti dalam -->dibentuk oleh inti-inti dan badan sel bipolar, sel horizontal,
sel amakrin, serta sel Muller (gliosit retina)
Lapisan pleksiform dalam --> terbentuk akibat sinaps antara sel- sel di lapisan
inti dalam
Lapisan sel ganglion --> terdiri atas sel ganglion yang menyerupai neuron otak
dengan akson panjang menuju nervus optikus
Lapisan serat saraf --> dibentuk oleh akson sel ganglion
Membran limitans dalam --> membran basalis sel Muller yang memisahkan
retina dari korpus vaskulosa

Organ-organ Tambahan
Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa jernih yang melapisi permukaan dalam kelopak
mata dan meutupi permukaan sklera pada bagian depan bola mata. Konjungtiva
tersusun atas epitel berpalis silindris dengan sel goblet. Sekret sel goblet ikut
menyusun tirai air mata yang berfungsi sebagai pelumas dan pelindung epitel bagian
depan mata.

19
Kelenjar lakrimal
Kelenjar lakrimal adalah kelenjar tubuloasinar serosa dengan mioepitel. Lobus
kelenjar air mata akan mencurahkan isinya melalui 10-15 saluran menuju bagian
lateral forniks superior konjungtiva. Air mata bergerak menuju medial mata dan
kelebihannya akan memasuki puncta lacrimal, kemudian kanalikuli lakrimal menuju
sakus lakrimal. Dari sakus lakrimal, air mata akan masuk ke dalam duktus
nasolakrimal kemudian dikeluarkan ke meatus inferior di dasar rongga hidung.
Kelopak mata
Kelopak mata terdiri atas jaringan ikat dan otot rangka di bagian tengah yang diliputi
kulit dan membran mukosa.
Kulit terletak di bagian depan, merupakan kulit tipis dengan berbagai adnexa serta
kelenjarnya.
Di bawah kulit terdapat lapisan otot rangka orbicularis oculi. Kemudian di bagian
tengah kelopak mata terdapat suatu jaringan ikat yang disebut tarsus. Di dalam tarsus
terdapat kelenjar sebasea yang disebut kelenjar Meibom.

2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN FISIOLOGI PENGLIHATAN


Mekanisme penglihatan
Cahaya masuk ke bagian mata yang bernama pupil. Ukuran pupil disesuakan
dengan kontraksi dari iris yaitu m.konstriktor pupilae yang menyebabkan pupil
mengecil dan dipengaruhi oleh saraf parasimpatis dan m.dilator pupilae yanag
menyebabkan pupil membesar dan dipersarafi oleh simpatis.
Lalu cahaya dibiaskan melalu media refraksi yang terdiri dari kornea dan
lensa, bentuk kornea itu sendiri berbentuk konveks (cembung) berfungsi agar cahaya
dapat di belokkan pada titik focus, setelah melewati kornea cahaya lalu diteruskan
oleh lensa yang juga berbentuk konveks sehingga cahaya dapat jatuh pada titik
focus di retina. Lensa sendiri diatur oleh m.ciliaris yang disambungkan oleh zonula
zinii. Bila m.ciliaris berkontraksi maka pupil maka zonula zinii melemas sehingga
membuat lensa semakin cembung dan berfungsi untuk melihat dari jarak dekat
(akomodasi). Sebaliknya bila m.ciliaris melemas maka zonula zinii akan menarik
lensa sehingga lensa menjadi semakin pipih dan berfungsi untuk melihat jarak jauh.
Semua otot tersebut masing masing dipersarafi oleh parasimpatis dan simpatis.
Setelah cahaya di refraksikan maka cahaya akan mencapai retina yang
terdapat sel sel fotoreseptor yaitu sel batang dan sel kerucut.
Sifat dari sel sel ini ialah bila sel batang maka sel ini peka terhadap gelap,
kepekaan tinggi dan ketajaman rendah. Bila sel kerucut peka terhadap sinar dan
warna, ketajaman penglihatan tinggi, digunakan pada saat siang hari.
Terjadi beberapa proses pada saat otak mengekspresikan gelap atau terang
yaitu

20
cahaya/terang

fotopigmen terjadi disosiasi dari konsentrasi GMP-siklik tinggi


retinen dan opsin

kosentrasi Na tinggi kosentrasi Na tinggi

penurunan GMP-siklik
depolarisasi membrane
penutupan canal Na

menutupnya canal Ca pengeluaran zat inhibitor

gelap
pengeluaran zat inhibitorik dihambat
neuron bipolar dihambat

terjadi eksitasi neuron bipolar


tidak adanya eksitasi ke korteks
perambatan potensial aksi ke korteks penglihatan di otak
penglihatan di otak

adanya ekspresi melihat tidak ada ekspresi melihat

Jaras penglihatan
Berkas-berkas cahaya dari separuh kiri lapangan pandang jatuh di separuh kanan
retina kedua mata. Demikian sebaliknya, berkas-berkas cahaya dari separuh kanan
lapangan pandang jatuh di separuh kiri retina kedua mata. Tiap-tiap saraf optikus
keluar dari retina membawa informasi dari kedua belahan retina yang dipersarafi.
Informasi ini dipisahkan sewaktu kedua saraf optikus tersebut bertemu di kiasma
optikus. Di dalam kiasma optikus, serat-serat dari separuh medial kedua retina
bersilangan ke sisi yang berlawanan, tetapi serat-serat yang dari separuh lateral
tetap di sisi yang sama. Berkas-berkas serat yang telah direorganisasi dan
meninggalkan kiasma optikus dikenal sebagai traktus optikus. Tiap-tiap traktus
optikus membawa informasi dari separuh lateral salah satu retina dan separuh
medial retina yang lain. Dengan demikian, persilangan parsial ini menyatukan
serat-serat dari kedua mata yang yang membawa informasi dari separuh lapangan
pandang yang sama. Tiap-tiap traktus optikus menyampaikan ke belahan otak di
sisi yang sama informasi mengenai separuh lapangan pandang dari sisi yang
berlawanan. Perhentian pertama di otak untuk informasi dalam jalur penglihatan
adalah nukleus genikulatus lateralis di thalamus. Di korpus atau nucleus
genikulatum, serat-serat dari bagian nasal retina dan temporal retina yang lain
bersinaps di sel-sel yang axonnya membentuk traktus genikulokalkarina.
Traktus ini menuju ke lobus oksipitalis korteks serebrum (area Brodmann 17).

21
3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN KONJUNGTIVITIS
3.1. Menjelaskan Definisi
Konjungtivitis merupakan peradangan pada konjungtiva (lapisan luar mata
dan lapisan dalam kelopak mata) yang disebabkan oleh mikro-organisme
(virus, bakteri, jamur, chlamidia), alergi, iritasi bahan-bahan kimia
Konjungtivitis lebih dikenal sebagai pink eye, yaitu adanya inflamasi
pada konjungtiva atau peradangan pada konjungtiva, selaput bening yang
menutupi bagian berwarna putih pada mata dan permukaan bagian dalam
kelopak mata. Konjungtivitis terkadang dapat ditandai dengan mata berwarna
sangat merah dan menyebar begitu cepat dan biasanya menyebabkan mata
rusak. Beberapa jenis konjungtivitis dapat hilang dengan sendiri, tetapi ada
juga yang memerlukan pengobatan. (Effendi, 2008).
Konjungtivitis biasanya tidak ganas dan bisa sembuh sendiri. Dapat
juga menjadi kronik dan hal ini mengindikasikan perubahan degeneratif atau
kerusakan akibat serangan akut yang berulang. Klien sering datang dengan
keluhan mata merah. Pada konjungtivitis didapatkan hiperemia dan injeksi
konjungtiva, sedangkan pada iritasi konjungtiva hanya injeksi konjungtiva dan
biasanya terjadi karena mata lelah, kurang tidur,asap, debu dan lain-lain.

3.2. Menjelaskan Epidemiologi Konjungtivitis


Konjungtivitis adalah penyakit yang terjadi di seluruh dunia dan dapat
diderita oleh seluruh masyarakat tanpa dipengaruhi usia. Walaupun tidak ada
dokumen yang secara rinci menjelaskan tentang prevalensi konjungtivitis,
tetapi keadaan ini sudah ditetapkan sebagai penyakit yang sering terjadi pada
masyarakat (Chiang YP, dkk, 1995 dalam Rapuano et al, 2005).
Di Indonesia penyakit ini masih banyak terdapat dan paling sering
dihubungkan dengan kondisi lingkungan yang tidak Hygiene.

22
3.3. Menjelaskan Etiologi Konjungtivitis
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti
a. infeksi oleh virus atau bakteri
b. reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang.
c. iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara lainnya; sinar ultraviolet
dari las listrik atau sinar matahari yang dipantulkan oleh salju.
d. pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang, juga bisa
menyebabkan konjungtivitis.
Kadang konjungtivitis bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-
tahun. Konjungtivitis semacam ini bisa disebabkan oleh:
a. entropion atau ektropion.
b. kelainan saluran air mata.
c. kepekaan terhadap bahan kimia.
d. pemaparan oleh iritan
e. infeksi oleh bakteri tertentu (terutama klamidia) (Medicastore, 2009).
Frekuensi kemunculannya pada anak meningkat bila si kecil mengalami gejala
alergi lainnya seperti demam. Pencetus alergi konjungtivitis meliputi rumput,
serbuk bunga, hewan dan debu (Effendi, 2008).
Substansi lain yang dapat mengiritasi mata dan menyebabkan timbulnya
konjungtivitis yaitu bahan kimia (seperti klorin dan sabun) dan polutan udara
(seperti asap dan cairan fumigasi) (Effendi, 2008).

3.4. Menjelaskan Klasifikasi Konjungtivitis


a. Konjungtivitis akut bakterial :
Adalah bentuk konjungtivitis murni dan biasanya disebabkan oleh staphylococ,
pneumococ, gonococ, haemifillus aegypti, pseudomonas, dan basil morax axenfeld.
1. Konjungtivitis blenore
Merupakan konjungtivitis pada bayi yang baru lahir. Dengan
penyebabnya gonococ atau suatu chlamydia. Dengan masa inkubasi 3-6
hari.
2. Konjungtivitis gonore
Penyakit ini pada orang dewasa disebabkan oleh auto infeksi pada
penderita uretriris atau servisitis gonore. Pada orang dewasa terdapat 3
stadium :
1) Infiltratif
2) Purulen
3) Penyembuhan
3. Konjungtivitis difteri
Radang konjungtiva ini disebabkan bakteri difteri yang memberikan
gambaran yang khas berupa terbentuknya membran pada konjungtiva
tarsal. Pengobatan konjungtivitis difteri adalah dengan memberi
penisillin disertai dengan antitoksin difteri.
4. Konjungtivitis folikular
Kelainan ini merupakan konjungtivitis yang disertai dengan
pembentukan folikel pada konjungtiva. Konjungtivitis folikular

23
merupakan konjungtivitis yang sering ditemukan pada anak-anak, tetapi
tidak ditemukan pada bayi.
Konjungtivitis folikular dapat terjadi akibat infeksi bakteri, virus, dan
rangsangan bahan kimia. Penyakit ini dapat berjalan akut maupun kronis.
5. Konjungtivitis kataral
Merupakan penyakit dengan gejala utama berupa banyaknya secret
berlendir pada mukosa konjungtiva. Pengobatannya adalah dengan
memberikan antibiotik dan membersihkan secret mata.

b. Konjungtivitis akut viral


Konjungtivitis akibat virus sering ditemukan dan biasanya disebabkan
adrenovirus atau suatu infeksi herpes simplek.
1. Keratokonjungtivitis epidemik
Merupakan radang yang berjalan akut disebabkan oleh adrenovirus.
Penularan biasanya terjadi melalui kolam renang selain akibat wabah.
Masa inkubasi 5-10hari. Pengobatan yang biasanya diberikan adalah obat
sulfa topikal dan dapat diberikan bersama dengan steroid.
2. Demam faringokonjungtiva
Konjungtivitis disertai dengan demam dan sakit pada tenggorokan.
Penularan biasanya terjadi di kolam renang. Gejala yang ditemukan
berupa rasa sakit di mata seperti adanya benda asing, terdapatnya folikel
pada konjungtiva disertai keratitis sub epitel yang ringan.
3. Keratokonjungtivitis herpetik
Kelainan ini biasanya ditemukan pada anak dibawah usia 2 tahun yang
disebabkan oleh herpes simplek tipe 1.
4. Konjungtivitis new castle
Merupakan bentuk konjungtivitis yang ditemukan pada peternak unggas
disebabkan oleh virus new castle. Masa inkubasi 1-2hari mulai dengan
perasaan benda asing, silau, dan berair pada mata. Kelopak mata
membengkak, konjungtiva tarsal hiperemik dan terdapat folikel, kadang-
kadang disertai perdarahan kecil.
5. Konjungtivitis hemoragik akut
Kelainan ini merupakan konjungtivitis folikular akut dengan gejala
khusus karena terjadinya perdarahan yang disebabkan oleh enterovirus
70. Masa inkubasi 1-2 hari. Penyakit ini sangat menular dan penularan
melalui secret ke orang lain.
c. Konjungtivitis jamur
Infeksi jamur pada konjungtiva jarang terjadi, sedangkan 50% infeksi jamur
yang terjadi tidak memperlihatkan gejala.
d. Konjungtivitis alergik :
Reaksi alergi dan hipersensitif pada konjungtiva akan memberikan keluhan
pada pasien berupa mata gatal, panas dan mata merah.
1. Konjungtivitis vernal
Merupakan konjungtivitis kronik, rekulerateral, bilateral, atopi yang
memberikan secret mucus dapat mengandung eosinofil dan merupakan
reaksi hipersnsitifitas tipe 1. Biasanya diderita pada pasien usia dewasa
muda, yang lebih sering mengenai laki-laki terutama di musim panas.
2. Konjungtivitis flikten

24
Suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh reaksi alergi.
Pengobatan yang diberikan kortikosteroid lokal dan mengatasi sumber
infeksi.
e. Konjungtivitis kronis
f. Trakoma merupakan konjungtivitis folikuler kronis yang disebabkan oleh
clamydia trachomatis. Penyakit ini terutama mengenai anak-anak walaupun dapat
mengenai semua umur. Cara penularan trakoma adalah melalui kontak langsung
dengan secret penderita atau melalui handuk, saputangan, atau alat-alat
kebutuhan sehari-hari. Masa inkubasi kuman 5-14 hari.

Memahami dan menjelaskan mata merah dengan visus normal


Mata merah dengan penglihatan normal dan tidak kotor / belek
a. Pterigium
Merupakan suatu pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif
dan invasif. Pteregium berbentuk segitiga dengan puncak di bagian sentral atau di
daerah kornea. Pterigium mudah meradang, dan bila terjadi iritasi, maka bagian
pterigium akan berwarna merah. Pterigium dapat mengenai kedua mata. Pterigium
diduga disebabkan oleh iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara
yang panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu
neoplasma, radang, dan degenerasi.

b. Pinguekula
Merupakan benjolan pada konjungtiva bulbi yang ditemukan pada orang tua,
terutama yang matanya sering mendapat rangsangan sinar matahari, debu, dan angin
panas. Letak bercak ini pada celah kelopak mata terutama di bagian nasal.
Pinguekula merupakan degenerasi hialin jaringan submukosa konjungtiva.

c. Hematoma subkonjungtiva
Dapat terjadi pada keadaan dimana pembuluh darah rapuh (umur, hipertensi,
arteriosklerosis, konjungtivitis hemoragik, anemia, pemakaian antikoagulan, dan
batuk rejan). Dapat juga terjadi akibat trauma langsung atau tidak langsung, yang
kadang-kadang menutup perforasi jaringan bola mata yang terjadi.

d. Episkleritis
Merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskular yang terletak antara konjungtiva dan
permukaan sklera. Radang episklera dan sklera mungkin disebabkan oleh reaksi
hipersensitivitas terhadap penyakit sistemik, seperti tuberkulosis, reumatoid artritis,
lues, SLE, dan lainnya. Merupakan suatu reaksi toksik, alergik, atau bagian dari
infeksi. Dapat saja kelainan ini terjadi secara spontan dan idiopatik. Episkleritis
umumnya mengenai satu mata dan terutama perempuan usia pertengahan dengan
bawaan penyakit reumatik.

e. Skleritis
Biasanya disebabkan oleh kelainan atau penyakit sistemik. Lebih sering disebabkan
oleh penyakit jaringan ikat, pasca herpes, sifilis, dan gout. Kadang-kadang
disebabkan oleh tuberkulosis, bakteri (pseudomonas), sarkoidosis, hipertensi, benda
asing, dan pasca bedah. Skleritis biasanya terlihat bilateral dan juga sering terdapat
pada perempuan.

25
Mata Merah dengan Penglihatan Normal dan Kotor atau Belek
Gejala khusus pada kelainan konjungtiva adalah terbentuknya sekret. Sekret merupakan
produk kelenjar, yang pada konjungtiva bulbi dikeluarkan oleh sel goblet. Sekret
konjungtivitis dapat bersifat:
Air, kemungkinan disebabkan oleh infeksi virus atau alergi
Purulen, oleh bakteria atau klamidia
Hiperpurulen, disebabkan oleh gonokok atau meningokok
Lengket, oleh alergi atau vernal
Seros, oleh adenovirus

Bila pada sekret konjungtiva bulbi dilakukan pemeriksaan sitologik dengan pewarnaan
Giemsa, maka akan didapat dugaan kemungkinan penyebab sekret seperti terdapatnya:
Limfositmonositsel berisi nukleus sedikit plasma, maka infeksi mungkin
disebabkan oleh virus
Neutrofil oleh bakteri
Eosinofil oleh alergi
Sel epitel dengan badan inklusi basofil sitoplasma oleh klamidia
Sel raksasa multinuklear oleh herpes
Sel Lebermakrofag raksasa oleh trakoma
Keratinisasi dengan filamen oleh pemfigus atau dry eye
Badan Guarneri eosinofilik oleh vaksinia

Memahami dan menjelaskan mata merah dengan visus menurun


Mata Merah dengan Visus Menurun
a. Keratitis. Radang kornea biasanya diklasifikasikan dalam lapis kornea yang terkena,
seperti keratitis superfisial dan interstisial/profunda. Keratitis dapat disebabkan oleh
berbagai hal, seperti kurangnya air mata, keracunan obat, reaksi alergi terhadap yang
diberi topikal, dan reaksi terhadap konjungtivitis menahun. Keratitis akan memberikan
gejala mata merah, rasa silau, dan merasa kelilipan.

b. Keratokonjungtivitis sika adalah suatu keadaan keringnya permukaan kornea dan


konjungtiva. Kelainan ini dapat terjadi pada penyakit yang mengakibatkan defisiensi
komponen lemak air mata, defisiensi kelenjar air mata, defisiensi komponen musin,
akibat penguapan yang berlebihan, atau karena parut pada kornea atau menghilangnya
mikrovil kornea. Pasien akan mengeluh mata gatal, seperti berpasir, silau, penglihatan
kabur. Pada mata didapatkan sekresi mukus yang berlebihan. Sukar menggerakkan
kelopak mata. Mata kering karena dengan erosi kornea.
c. Tukak (ulkus) kornea merupakan hilangnya sebagian permukaan kornea akibat
kematian jaringan kornea. Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditemukan
oleh adanya kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang. Tukak kornea
perifer dapat disebabkan oleh reaksi toksik, alergi, autoimun, dan infeksi. Infeksi pada
kornea perifer biasanya oleh kuman Staphylococcus aureus, H. influenzae, dan M.
lacunata.

d. Ulkus Mooren adalah suatu ulkus menahun superfisial yang dimulai dari tepi kornea
dengan bagian tepinya tergaung dan berjalan progresif tanpa kecenderungan perforasi.
Lambat laun ulkus ini mengenai seluruh kornea. Penyebab ulkus Mooren sampai
sekarang belum diketahui. Banyak teori yang diajukan dan diduga penyebabnya

26
hipersensitivitas terhadap protein tuberkulosis, virus, autoimun, dan alergi terhadap
toksin ankilostoma. Penyakit ini lebih sering terdapat pada wanita usia pertengahan.

e. Glaukoma akut. Mata merah dengan penglihatan turun mendadak biasanya merupakan
glaukoma sudut tertutup. Pada glaukoma sudut tertutup akut, tekanan intraokular
meningkat mendadak. Terjadi pada pasien dengan sudut bilik mata sempit. Cairan mata
yang berada di belakang iris tidak dapat mengalir melalui pupil, sehingga mendorong
iris ke depan, mencegah keluarnya cairan mata melalui sudut bilik mata (mekanisme
blokade pupil). Biasanya terjadi pada usia lebih daripada 40 tahun. Pada glaukoma
primer sudut tertutup akut, terdapat anamnesa yang khas sekali berupa nyeri pada mata
yang mendapat serangan yang berlangsung beberapa jam dan hilang setelah tidur
sebentar. Melihat palangi (halo) sekitar lampu dan keadaan ini merupakan stadium
prodromal. Terdapat gejala gastrointestinal berupa enek dan muntah yang kadang-
kadang mengaburkan gejala daripada serangan glaukoma akut.

27
Tabel 3.2 Perbandingan keadaan umum pada tiap-tiap kondisi mata merah
Kondisi Sakit Fotofobia Visus Injeksi
1 Konjungtivitis Ringan/sedang Tak ada; ringan Suram ringan karna
Kelopak dan mata
kotoran
2 Episkleritis Sedang Tak ada Normal Pembuluh-pembuluh
dalam sklera, sering
lokal
Difus
3 a. Ulkus kornea
Tak ada sampai hebat
Bervariasi Biasanya menurun
karena sering
bakteri/jamur Rasa benda asing Ringan-sedang
b. Ulkus kornea Sedang Menurun ringan
karena virus Sedang Sedang
4 Luka bakar kornea Hebat Menurun
non-alkali (UV atau
lain-lain)
Uveitis Ringan-sedang Dekat limbus
5 Ringan-sedang Normal atau menurun
Glaukoma akut Hebat atau ringan sedang Difus
6 Hebat atau ringan Menurun karena edema
Selulitis orbita Tak ada hebat kornea Difus dengan kemosis
7 Tak ada hebat Normal atau menurun
Hebat
Endoftalmitis Hebat Menurun secara
8 Sedang-mencolok mendadak

Tabel 3.3 Diagnosis banding mata merah


Gejala subyektif Glaukoma akutUveitis akut Keratitis Konjungtivitis
Bakteri Virus Alergi
1. * Visus +++ +/++ +++ - - -
2. * Rasa nyeri ++/+++ ++ ++ - - -
3. * Fotofobia + +++ +++ - - -
4. * Halo ++ - -- - - -
5. Eksudat - - -/+++ +++ ++ +
6. Gatal - - - - - ++
7. Demam - - - - -/++ -
* Gejala subyektif berat dan harut diobati oleh dokter ahli mata.

3.5. Menjelaskan Patofisiologi Konjungtivitis

Konjungtiva mengandung epitel skuamosa yang tidak berkeratin dan


substansia propria yang tipis, kaya pembuluh darah. Konjungtiva juga
memiliki kelenjar lakrimal aksesori dan sel goblet.
Konjungtivitis alergika disebabkan oleh respon imun tipe 1 terhadap alergen.
Alergen terikat dengan sel mast dan reaksi silang terhadap IgE terjadi,
menyebabkan degranulasi dari sel mast dan permulaan dari reaksi bertingkat

28
dari peradangan. Hal ini menyebabkan pelepasan histamin dari sel mast, juga
mediator lain termasuk triptase, kimase, heparin, kondroitin sulfat,
prostaglandin, tromboksan, dan leukotrien. histamin dan bradikinin dengan
segera menstimulasi nosiseptor, menyebabkan rasa gatal, peningkatan
permeabilitas vaskuler, vasodilatasi, kemerahan, dan injeksi konjungtiva.
Konjuntivitis infeksi timbul sebagai akibat penurunan daya imun penjamu
dan kontaminasi eksternal. Patogen yang infeksius dapat menginvasi dari
tempat yang berdekatan atau dari jalur aliran darah dan bereplikasi di dalam
sel mukosa konjungtiva. Kedua infeksi bakterial dan viral memulai reaksi
bertingkat dari peradangan leukosit atau limfositik meyebabkan penarikan sel
darah merah atau putih ke area tersebut. Sel darah putih ini mencapai
permukaan konjungtiva dan berakumulasi di sana dengan berpindah secara
mudahnya melewati kapiler yang berdilatasi dan tinggi permeabilitas.3
Pertahanan tubuh primer terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang menutupi
konjungtiva. Rusaknya lapisan ini memudahkan untuk terjadinya infeksi.
Pertahanan sekunder adalah sistem imunologi (tear-film immunoglobulin dan
lisozyme) yang merangsang lakrimasi.

Konjungtiva karena lokasinya terpapar pada banyak mikroorganisme dan


faktor lingkungan lain yang menganggu. Beberapa mekanisme melindungi
permukaan mata dari substansi luar. Pada film air mata, unsur berairnya
mengencerkan materi infeksi, mukus menangkap debris dan kerja memompa
dari palpebra secara tetap menghanyutkan air mata ke duktus air mata dan air
mata mengandung substansi antimikroba termasuk lisozim. Adanya agens
perusak, menyebabkan cedera pada epitel konjungtiva yang diikuti edema
epitel, kematian sel dan eksfoliasi, hipertrofi epitel atau granuloma. Mungkin
pula terdapat edema pada stroma konjungtiva ( kemosis ) dan hipertrofi lapis
limfoid stroma ( pembentukan folikel ). Sel sel radang bermigrasi dari stroma
konjungtiva melalui epitel ke permukaan. Sel sel ini kemudian bergabung
dengan fibrin dan mukus dari sel goblet, membentuk eksudat konjungtiva
yang menyebabkan perlengketan tepian palpebra saat bangun tidur.
Adanya peradangan pada konjungtiva ini menyebabkan dilatasi pembuluh
pembuluh konjungtiva posterior, menyebabkan hiperemi yang tampak paling
nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus. Pada hiperemia
konjungtiva ini biasanya didapatkan pembengkakan dan hipertrofi papila yang
sering disertai sensasi benda asing dan sensasi tergores, panas, atau gatal.
Sensasi ini merangsang sekresi air mata. Transudasi ringan juga timbul dari
pembuluh darah yang hiperemia dan menambah jumlah air mata. Jika klien
mengeluh sakit pada iris atau badan silier berarti kornea terkena.

3.6. Menjelaskan Manifestasi Klinis Konjungtivitis


Tanda-tanda konjungtivitis, yakni:
1. Kemerahan di forniks dan makin berkurang ke arah limbus karena dilatasi
pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior (Hiperemia).
2. Produksi air mata berlebihan (epifora).
3. Eksudat yang berlapis-lapis dan amorf pada konjungtivitis bakteri dan
berserabut pada konkungtivitis alergika (eksudasi).

29
4. Terkulainya palpebra superior karena infiltrasi di otot Muller (pseudoptosis)
5. Penumpukan Limfosit di pembuluh darah (fliktenula)
6. Pengentalan (koagulum) di atas permukaan epitel (pseudomembran).
7. Edema dari konjungtiva mata (Chemosis) (Kanski, 2000).

Adapun smanifestasi sesuai klasifikasinya adalah sebagai berikut:


1. Konjungtivitis Alergi
- Edea berat sampai ringan pada konjungtivitas
- Rasa seperti terbakar
- Injekstion vaskuler pada konjungtivitas
- Air mata sering keluar sendiri
- Gatal-gatal adalah bentuk konjungtivitas yang paling berat
2. Konjungtivitis Bakteri
- Pelebaran pembuluh darah
- Edema konjungtiva sedang
- Air mata keluar terus
- Adanya secret atau kotoran pada mata
- Kerusakan kecil pada epitel kornea mungkin ditemukan
3. Konjungtivitis Viral
- Fotofobia
- Rasa seperti ada benda asing didalam mata
- Keluar air mata banyak
- Nyeri prorbital
- Apabila kornea terinfeksi bisa timbul kekeruhan pada kornea
- Kemerahan konjungtiva
- Ditemukan sedikit eksudat
4. Konjungtivitis Bakteri hiperakut
- Infeksi mata menunjukkan secret purulen yang massif
- Mata merah
- Iritasi
- Nyeri palpasi
- Biasanya terdapat kemosis
- Mata bengkak dan adenopati preaurikuler yang nyeri
5. Konjungtivitis Blenore
Tanda-tanda blenore adalah sebagai berikut:
- Ditularkan dari ibu yang menderita penyakit GO
- Menyebabkan penyebab utama oftalmia neinatorm
- Memberikan secret purulen padat secret yang kental
- Terlihat setelah lahir atau masa inkubasi antara 12 jam hingga 5 hari
- Perdarahan subkonjungtita dan kemotik

Gejala Konjungtivitis

1. Rasa adanya benda asing


Rasa ini disertai dengan rasa pedih dan panas karena pembengkakan dan
hipertrofi papil. Jika rasa sakitnya berat, maka harus dicurigai kemungkinan
terjadinya kerusakan pada kornea.

2. Rasa sakit yang temporer

30
Informasi ini dapat membentu kita menegakkan diagnosis karena rasa sakit
yang datang pada saat-saat tertentu merupakan symptom bagi infeksi bakteri
tertentu, misalnya;
Sakitnya lebih parah saat bangun pagi dan berkurang siang hari, rasa sakitnya
(tingkat keparahan) meningkat setiap harinya, dapat menandakan infeksi
stafilokokus.
Sakit parah sepanjang hari, berkurang saat bangun tidur, menandakan
keratokonjungtiva sisca (mata kering).

3. Gatal

Biasanya menunjukkan adanya konjungtivitis alergi.

4. Fotofobia

Tanda Konjungtivitis
1. Hiperemi
Hiperemi pada konjungtivitis berasal dari rasa superficial, tanda ini
merupakan tanda konjungtivitis yang paling mancolok. Hiperemi yang tampak
merah cerah biasanya menandakan konjungtivitis bakterial sedangkan hiperemi
yang tampak seperti kabut biasanya menandakan konjungtivitis karena alergi.
Kemerahan paling nyata pada forniks dan mengurang ke arah limbus disebabkan
dilatasi pembuluh-pembuluh konjungtiva posterior.

Terdapat perbedaan antara injeksi konjungtiva dan siliaris yaitu;


Injeksi Konjungtiva Injeksi Siliaris
Kausa Iritasi, Konjungtivitis Keratitis, Iridosiklitis, Glaukoma Akut
Forniks ke limbus makin
Lokasi kecil Limbus ke forniks makin kecil
Warna Merah terang Merah padam
Bergerak dengan dengan
Pembuluh darah konjungtiva Tidak bergerak
Adrenalin Menghilang Menetap
Sekret Sekret (+) Lakrimasi (+)
Intensitas Nyeri Sedikit Nyeri

Hiperemis konjungtiva bulbi (Injeksi konjungtiva). Kemerahan paling nyata


didaerah forniks dan berkurang ke arah limbus, disebabkan dilatasi arteri
konjungtiva posterior akibat adanya peradangan. Warna merah terang

31
mengesankan konjungtivitis bakterial, dan warna keputihan mirip susu
mengesankan konjungtivitis alergi.

Lakrimasi

Diakibatkan oleh adanya sensasi benda asing, terbakar atau gatal.


Kurangnya sekresi airmata yang abnormal mengesankan keratokonjungtivitis
sicca.

2. Eksudasi
Eksudasi adalah ciri semua jenis konjungtivitis akut. Eksudat berlapis-lapis
dan amorf pada konjungtivitis bakterial dan dapat pula berserabut seperti pada
konjungtivitis alergika, yang biasanya menyebabkan tahi mata dan saling
melengketnya palpebra saat bangun tidur pagi hari, dan jika eksudat berlebihan
agaknya disebabkan oleh bakteri atau klamidia.
Serous-mukous, kemungkinan disebabkan infeksi virus akut
Mukous (bening, kental), kemungkinan disebabkan alergi
Purulent/ Mukopurulen, kemungkinan disebabkan infeksi bakteri

3. Pseudoptosis
Pseudoptosis adalah turunnya palpebra superior karena infiltrasi ke
muskulus muller (M. Tarsalis superior). Keadaan ini dijumpai pada konjungtivitis
berat. Misalnya Trachoma dan keratokonjungtivitis epidemika.4

4. Khemosis (Edema Konjungtiva)


Ini terjadi akibat terkumpulnya eksudat di jaringan yang longgar. Khemosis
merupakan tanda yang khas pada hay fever konjungtivitis, akut gonococcal atau
meningococcal konjungtivitis, serta kerato konjungtivitis.

5. Hipertrofi Papil
Hipetropi papil merupakan reaksi non spesifik, terjadi karena konjungtiva
terikat pada tarsus atau limbus di bawahnya oleh serabut-serabut halus. Ketika
berkas pembuluh yang membentuk substansi papila sampai di membran basal
epitel, pembuluh ini bercabang-cabang di atas papila mirip jeruji payung.4

6. Pembentukan Folikel
Folikel adalah bangunan akibat hipertrofi lomfoid lokal di dalam lapisan
adenoid konjungtiva dan biasanya mengandung sentrum germinotivum.
Kebanyakan terjadi pada viral conjungtivitis, chlamidial conjungtivitis, serta toxic
conjungtivitis karena topical medication. Pada pemeriksaan, vasa fecil bisa terlihat
membatasi foliker dan melingkarinya.

7. Pseudomembran dan Membran

32
Pseudomembran adalah koagulum yang melapisi permukaan epitel
konjungtiva yang bila lepas, epitelnya akan tetap utuh, sedangkan membran
adalah koagulum yang meluas mengenai epitel sehingga kalau dilepas akan
berdarah.

8. Adenopati Preaurikuler
Beberapa jenis konjungtivitis akan disertai adenopoti preaurikular. Dengan
demikian setiap ada radang konjungtiva harus diperiksa adalah pembebasan dan
rasa sakit tekan kelenjar limfe preaurikuler.

3.7. Menjelaskan Diagnosis, PF dan PP Konjungtivitis

1. Sign & Simptom


Gejala penting konjungtivitis adalah sensasi benda asing, yaitu tergores atau
panas, sensasi penuh di sekitar mata, gatal dan fotofobia. Sensasi benda asing
dan tergores atau terbakar sering berhubungan dengan edema dan hipertrofi
papiler yang biasanya menyertai hiperemi konjungtiva. Sakit pada iris atau
corpus siliaris mengesankan terkenanya kornea.
Tanda penting konjungtivitis adalah hiperemia, berair mata, eksudasi,
pseudoptosis, hipertrofi papiler, kemosis (edem stroma konjungtiva), folikel
(hipertrofi lapis limfoid stroma), pseudomembranosa dan membran,
granuloma, dan adenopati pre-aurikuler

2. Pemeriksaan
Pemeriksaan mata awal termasuk pengukuran ketajaman visus, pemeriksaan
eksternal dan slit-lamp biomikroskopi.Pemeriksaan eksternal harus
mencakup elemen berikut ini:
Limfadenopati regional, terutama sekali preaurikuler
Kulit: tanda-tanda rosacea, eksema, seborrhea
Kelainan kelopak mata dan adneksa: pembengkakan, perubahan warna,
malposisi, kelemahan, ulserasi, nodul, ekimosis, keganasan
Konjungtiva: bentuk injeksi, perdarahan subkonjungtiva, kemosis, perubahan
sikatrikal, simblepharon, massa, sekret

Slit-lamp biomikroskopi harus mencakup pemeriksaan yang hati-hati


terhadap:
Margo palpebra: inflamasi, ulserasi, sekret, nodul atau vesikel, nodul atau
vesikel, sisa kulit berwarna darah, keratinisasi
Bulu mata: kerontokan bulu mata, kerak kulit, ketombe, telur kutu dan kutu
Punctum lacrimal dan canaliculi: penonjolan, sekret
Konjungtiva tarsal dan forniks
1. Adanya papila, folikel dan ukurannya
2. Perubahan sikatrikal, termasuk penonjolan ke dalam dan simblepharon
3. Membran dan psudomembran
4. Ulserasi
5. Perdarahan

33
6. Benda asing
7. Massa
8. Kelemahan palpebra
Konjungtiva bulbar/limbus: folikel, edema, nodul, kemosis, kelemahan, papila,
ulserasi, luka, flikten, perdarahan, benda asing, keratinisasi
Kornea
1. Defek epitelial
2. Keratopati punctata dan keratitis dendritik
3. Filamen
4. Ulserasi
5. Infiltrasi, termasuk infiltrat subepitelial dan flikten
6. Vaskularisasi
7. Keratik presipitat
Bilik mata depan: rekasi inflamasi, sinekia, defek transiluminasi
Corak pewarnaan: konjungtiva dan kornea

3. Pemeriksaan Penunjang
Kebanyakan kasus konjungtivitis dapat didiagnosa berdasarkan anamnesa dan
pemeriksaan. Meskipun demikian, pada beberapa kasus penambahan tes diagnostik
membantu.
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut
dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel
radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan
dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil. Pada pemeriksaan klinik didapat
adanya hiperemia konjungtiva, sekret atau getah mata dan edema konjungtiva.
1. Kultur
Kultur konjungtiva diindikasikan pada semua kasus yang dicurigai merupakan
konjungtivitis infeksi neonatal. Kultur bakteri juga dapat membantu untuk
konjungtivitis purulen berat atau berulang pada semua grup usia dan pada kasus
dimana konjungtivitis tidak berespon terhadap pengobatan.

2. Kultur virus
Bukan merupakan pemeriksaan rutin untuk menetapkan diagnosa. Tes
imunodiagnostik yang cepat dan dilakukan dalam ruangan menggunakan antigen
sudah tersedia untuk konjungtivitis adenovirus. Tes ini mempunyai sensitifitas
88% sampai 89% dan spesifikasi 91% sampai 94%. Tes imunodiagnostik
mungkin tersedia untuk virus lain, tapi tidak diakui untuk spesimen dari okuler.
PCR dapat digunakan untuk mendeteksi DNA virus. Ketersediannya akan
beragam tergantung dari kebijakan laboratorium.

3. Tes diagnostik klamidial


Kasus yang dicurigai konjungtivitis klamidial pada dewasa dan neonatus dapat
dipastikan dengan pemeriksaan laboratorium. Tes diagnostik yang berdasarkan
imunologikal telah tersedia, meliputi tes antibodi imunofloresens langsung dan

34
enzyme-linked imunosorbent assay. Tes ini telah secara luas digantikan oleh PCR
untuk spesimen genital, dan, karena itu, ketersediaannya untuk spesimen
konjungtival lebih terbatas. Ketersedian PCR untuk mengetes sampel okuler
beragam. Meskipun spesimen dari mata telah digunakan dengan performa yang
memuaskan, penggunaannya belum diperjelas oleh FDA.

4. Smear/sitologi
Smear untuk sitologi dan pewarnaan khusus (mis.,gram, giemsa)
direkomendasikan pada kasus dicurigai konjungtivitis infeksi pada neonatus,
konjungtivitis kronik atau berulang, dan pada kasus dicurigai konjungtivitis
gonoccocal pada semua grup usia.

5. Biopsi
Biopsi konjungtiva dapat membantu pada kasus konjungtivitis yang tidak
berespon pada terapi. Oleh karena mata tersebut mungkin mengandung
keganasan, biopsi langsung dapat menyelamatkan penglihatan dan juga
menyelamatkan hidup. Biopsi konjungtival dan tes diagnostik pewarnaan
imunofloresens dapat membantu menetapkan diagnosis dari penyakit seperti
OMMP dan paraneoplastik sindrom. Biopsi dari konjungtiva bulbar harus
dilakukan dan sampel harus diambil dari area yang tidak terkena yang berdekatan
dengan limbus dari mata dengan peradangan aktif saat dicurigai sebagai OMMP.
Pada kasus dicurigai karsinoma glandula sebasea, biopsi palpebra seluruh
ketebalan diindikasikan. Saat merencanakan biopsi, konsultasi preoperatif dengan
ahli patologi dianjurkan untuk meyakinkan penanganan dan pewarnaan spesimen
yang tepat.

6. Tes darah
Tes fungsi tiroid diindikasikan untuk pasien dengan SLK yang tidak mengetahui
menderita penyakit tiroid.

Konjungtivitis non-infeksius biasanya dapat didiagnosa berdasarkan riwayat


pasien. Paparan bahan kimiawi langsung terhadapa mata dapat mengindikasikan
konjungtivitis toksik/kimiawi. Pada kasus yang dicurigai luka percikan bahan
kimia, pH okuler harus dites dan irigasi mata terus dilakukan hingga pH mencapai
7. Konjungtivitis juga dapat disebabkan penggunaan lensa kontak atau iritasi
mekanikal dari kelopak mata.

3.8. Menjelaskan Diagnosis Banding Konjungtivitis

Virus Bakteri Alergi Toksik


Gatal - - ++ -
Mata merah + ++ + +
Hemoragi + + - -
Sekret Serous Purulen, Viscus -

35
mucous kuning,
krusta
Kemosis ++ ++
Lakrimasi ++ + +
Folikel + - +
Papil - + + -
Pseudomembran - -
Pembesaran ++ + - -
kelenjar limfe
Panus - - -
Bersamaan
dengan keratitis -
Demam -
-
Sitologi Granulosit Limposit, Eosinofil Sel epitel,
monosit granulosit

3.9. Menjelaskan Penatalaksanaan Konjungtivitis

A. Non Farmakologi

Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana


cara menghindari kontaminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat
memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan
kemudian menyentuh mata yang sehat, mencuci tangan setelah setiap kali memegang
mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan baru yang
terpisah untuk membersihkan mata yang sakit. Asuhan khusus harus dilakukan oleh
personal asuhan kesehatan guna mengindari penyebaran konjungtivitis antar pasien.

B. Farmakologi
Terapi spesifik terhadap konjungtivitis bacterial tergantung temuan agen
mikrobiologinya.
Untuk menghilangkan sekret dapat dibilas dengan garam fisiologis.

1. Penatalaksanaan Konjungtivitis Bakteri

Pengobatan kadang-kadang diberikan sebelum pemeriksaan mikrobiologik


dengan antibiotic tunggal seperti

Kloramfenikol
Gentamisin
Tobramisin
Eritromisin
Sulfa

Bila pengobatan tidak memberikan hasil setelah 3 5 hari maka pengobatan


dihentikan dan ditunggu hasil pemeriksaan mikrobiologik. Pada konjungtivitis bakteri

36
sebaiknya dimintakan pemeriksaan sediaan langsung (pewarnaan Gram atau Giemsa)
untuk mengetahui penyebabnya. Bila ditemukan kumannya maka pengobatan
disesuaikan. Apabila tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung, maka diberikan
antibiotic spectrum luas dalam bentuk tetes mata tiap jam atau salep mata 4-5x/hari.
Apabila memakai tetes mata, sebaiknya sebelum tidur diberi salep mata (sulfasetamid
10-15 %). Apabila tidak sembuh dalam 1 minggu, bila mungkin dilakukan
pemeriksaan resistensi, kemungkinan difisiensi air mata atau kemungkinan obstruksi
duktus nasolakrimal.

2. Penatalaksanaan Konjungtivitis Virus


Pengobatan umumnya hanya bersifat simtomatik dan antibiotik diberikan
untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. Dalam dua minggu akan sembuh dengan
sendirinya. Hindari pemakaian steroid topikal kecuali bila radang sangat hebat dan
kemungkinan infeksi virus Herpes simpleks telah dieliminasi.
Konjungtivitis viral akut biasanya disebabkan Adenovirus dan dapat sedmbuh
sendiri sehingga pengobatan hanya bersifat suportif, berupa kompres, astrigen, dan
lubrikasi. Pada kasus yang berat diberikan antibodi untuk mencegah infeksi sekunder
serta steroid topikal. Konjungtivitis herpetik diobati dengan obat antivirus, asiklovir
400 mg/hari selama 5 hari. Steroid tetes deksametason 0,1 % diberikan bila terdapat
episkleritis, skleritis, dan iritis, tetapi steroid berbahaya karena dapat mengakibatkan
penyebaran sistemik. Dapat diberikan analgesik untuk menghilangkan rasa sakit.
Pada permukaan dapat diberikan salep tetrasiklin. Jika terjadi ulkus kornea perlu
dilakukan debridemen dengan cara mengoles salep pada ulkus dengan swab kapas
kering, tetesi obat antivirus, dan ditutup selama 24jam.

3. Penatalaksanaan Konjungtivitis Alergi


Umumnya kebanyakan konjungtivitis alergi awalnya diperlakukan seperti
ringan sampai ada kegagalan terapi dan menyebabkan kenaikan menjadi tingkat
sedang. Penyakit ringan sampai sedang biasanya mempunyai konjungtiva yang
bengkak dengan reaksi konjungtiva papiler yang ringan dengan sedikit sekret mukoid.
Kasus yang lebih berat mempunyai giant papila pada konjungtiva palpebranya, folikel
limbal, dan perisai (steril) ulkus kornea.

Alergi ringan
Konjungtivitis alergi ringan identik dengan rasa gatal, berair, mata merah yang
timbul musiman dan berespon terhadap tindakan suportif, termasuk air mata
artifisial dan kompres dingin. Air mata artifisial membantu melarutkan beragam
alergen dan mediator peradangan yang mungkin ada pada permukaan okuler.

Alergi sedang
Konjungtivitis alergi sedang identik dengan rasa gatal, berair dan mata merah
yang timbul musiman dan berespon terhadap antihistamin topikal dan/atau mast
cell stabilizer. Penggunaan antihistamin oral jangka pendek mungkin juga
dibutuhkan.
Mast cell stabilizer mencegah degranulasi sel mast; contoh yang paling sering
dipakai termasuk sodium kromolin dan Iodoxamide. Antihistamin topikal
mempunyai masa kerja cepat yang meredakan rasa gatal dan kemerahan dan

37
mempunyai sedikit efek samping; tersedia dalam bentuk kombinasi dengan mast
cell stabilizer. Antihistamin oral, yang mempunyai masa kerja lebih lama, dapat
digunakan bersama, atau lebih baik dari, antihistamin topikal. Vasokonstriktor
tersedia dalam kombinasi dengan topikal antihistamin, yang menyediakan
tambahan pelega jangka pendek terhadap injeksi pembuluh darah, tapi dapat
menyebabkan rebound injeksi dan inflamasi konjungtiva. Topikal NSAID juga
digunakan pada konjungtivitis sedang-berat jika diperlukan tambahan efek anti-
peradangan.

Alergi berat
Penyakit alergi berat berkenaan dengan kemunculan gejala menahun dan
dihubungkan dengan peradangan yang lebih hebat dari penyakit sedang.
Konjungtivitis vernal adalah bentuk konjungtivitis alergi yang agresif yang tampak
sebagai shield coneal ulcer. Rujukan spesialis harus dipertimbangkan pada kasus
berat atau penyakit alergi yang resisten, dimana memerlukan tambahan terapi
dengan kortikosteroid topikal, yang dapat digunakan bersama dengan antihistamin
topikal atau oral dan mast cell stabilizer. Topikal NSAID dapat ditambahkan jika
memerlukan efek anti-inflamasi yang lebih lanjut. Kortikosteroid punya beberapa
resiko jangka panjang terhadap mata termasuk penyembuhan luka yang terlambat,
infeksi sekunder, peningkatan tekanan intraokuler, dan pembentukan katarak.
Kortikosteroid yang lebih baru seperti loteprednol mempunyai efek samping lebih
sedikit dari prednisolon. Siklosporin topikal dapat melegakan dengan efek
tambahan steroid dan dapat dipertimbangkan sebagai lini kedua dari kortikosteroid.
Dapat terutama sekali berguna sebagai terapi lini kedua pada kasus atopi berat atau
konjungtivitis vernal.

3.10. Menjelaskan Prognosis Konjungtivitis

Mata dapat terkena berbagai kondisi. beberapa diantaranya bersifat primer


sedang yang lain bersifat sekunder akibat kelainan pada sistem organ tubuh
lain, kebanyakan kondisi tersebut dapat dicegah bila terdeteksi awal dan dapat
dikontrol sehingga penglihatan dapat dipertahankan. Bila segera diatasi,
konjungtivitis ini tidak akan membahayakan. Namun jika bila penyakit radang
mata tidak segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada
mata/gangguan dan menimbulkan komplikasi seperti Glaukoma, katarak
maupun ablasi retina.

3.11. Menjelaskan Pencegahan Konjungtivitis


a. Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah
membersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya
bersih-bersih.
b. Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani
mata yang sakit
c. Jangan menggunakan handuk atau lap bersama dengan penghuni rumah
lain

38
d. Gunakan lensa kontak sesuai dengan petunjuk dari dokter dan pabrik
pembuatnya.
e. Mengganti sarung bantal dan handuk dengan yang bersih setiap hari.
f. Hindari berbagi bantal, handuk dan saputangan dengan orang lain.
g. Usahakan tangan tidak megang-megang wajah (kecuali untuk keperluan
tertentu), dan hindari mengucek-ngucek mata.
h. Bagi penderita konjungtivitis, hendaknya segera membuang tissue atau
sejenisnya setelah membersihkan kotoran mata.

4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MENJAGA KESEHATAN MATA


MENURUT PANDANGAN ISLAM
Maha suci Allah, yang telah memberi kita pandangan, pendengaran dan hati
agar kita bersyukur. Dengan kasih sayang-Nya, Allah telah mengizinkan kita untuk
menikmati warna-warni alam semesta dan beraneka rupa bentuk benda2. Shalawat
serta salam mari kita lantunkan pada Rasulullah terkasih yang telah menunjukan
kepada kita cara yang semestinnya ketika menggunakan anugrah Allah yang berupa
mata ini.

Mata sesungguhnya adalah gerbang maksiat, apabila tidak digunakan dengan baik
sesuai tuntunan islam. Barang siapa yang tidak dapat menahan pandangan mata
sangat mungkin akan menjerumuskan nya pada zina dan maksiat.
Rasulullah adalah orang yang sangat menjaga pandangannya, beliau sangat berhati-
hati dalam memandang yang dilarang Islam. Diantarannya dari melihat wanita yang
bukan mahramnya.

katakanlah kepada orang laki-laki beriman, hendaklah mereka menahan


pandangannya dan pelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi
mereka dan sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan
katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya
dan memelihara kemaluannya. (QS.An-Nuur [24]: 30-31).

Pandangan yg sesat adalah panah2 setan, sedangkan setan itu tidak menginginkan
apapun dari manusia selain keburukan dan kebinasaan. Oleh karena itu, penjagaan
kita terhadapnya adalah salah satu kunci pokok jalan keselamatan, Jalan menuju
kebahagiaan yang sesunguhnya.
Pandangan liar yang kita lakukan diluar dari ajaran islam sesungguhnya dapat
mengikis dan mengurangi iman kita. Iman tidak runtuh secara langsung, namun
perlahan-lahan tapi pasti. Itu merupakan jurus setan yang paling efektif agar iman
manusia menjadi rontok dan hilang.

Marilah kita mencontoh rasulullah untuk tidak memandang yang diharamkan Allah,
ingatlah sewaktu rasulullah memalingkan/menggerakkan wajah sahabat (Al-
Fadl) yang memandang seorang wanita asing dengan sengaja ketika
ihram.Marilah kita ingat sabda-sabdanya yang menyuruh kita bersungguh-sungguh
menahan pandangan dengan lawan jenis, kecuali pada hal-hal tertentu yaitu
pengajaran, jual beli, kesaksian, kedokteran, dsb yang diperbolehkan Islam.

39
Ayo kita bersama-sama taburi hati kita dengan firman-firman Allah yang menjanjikan
bahwa barang siapa yang menjaga dirinya dari perbuatan yang Allah haramkan, maka
Allah akan mengaruniai kecintaan kepada hamba-Nya itu. Ayo jagalah pandangan
kita agar terjaga dengan baik dan akan membuat kita merasakan manisnya iman dan
lezatnya beribadah. Subhanallah.
sesungguhnya terdapat dalam diri Rasulullah saw suri teladan yang baik bagi
kamu (yaitu) bagi siapa yang mengharap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) hari
akhir dan banyak menyebut nama Allah. (QS.Al-Ahzab [33]: 21)

Perintah menjaga pandangan


katakanlah kepada orang- orang beriman ( laki-laki) hendaknya menjaga pandangan
mereka dan memelihara kemaluan mereka, karena yang demikian itu membersihkan
jiwa mereka dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dengan apa yang mereka
lakukan. Dan katakanlah kepada wanita hendaknya mereka menjaga pandangan
mereka dan memelihara kemaluan mereka (Qs. An-Nur (24): 30-31)

Firman Allah tentang mata


Bukanakah kami telah memberikan kepadanya dua buah mata (Qs. Al-Balad (90):
8)

Sang imam gojali di dalam kitabnya ihya ulmuddin menyabutkan, bahwa mata adalah
panglima hati hamper semua perasaan dan perilaku awalnya picu oleh pandangan
mata. Bila mata di biarkan memandang itu di benci dan di larang maka pemiliknya
berada di tepi jurang bahaya meskipun dia tidak sungguh- sungguh jatuh kedalam
jurang

40
DAFTAR PUSTAKA

Ganong WF. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC; 2008

Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi (2007) Farmakologi dan Terapi edisi 5,


Jakarta, Balai Penerbit FKUI

Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2009

Vaughan and Asburys. General Ophthalmology. 17th edition. New York:


McGraw-Hills; 2007

Sherwood L. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC

Univrab. Menjaga Pandangan. [Internet]. [diunduh 2014 Feb 15]. Tersedia


pada : http://www.univrab.ac.id/berita-198-menjaga-pandangan.html

41