Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PEMBEKALAN MATERI PESERTA PLPG TAHUN 2017

Nama : Tika Yuliantina


NUPTK : 3443771671220002
Nomor Peserta PLPG : 17110202710052
Bidang Studi Sertifikasi : 027 Guru Kelas SD
Sekolah Asal : SD Negeri 4 Pratama Mandira
II. LAPORAN KEMAJUAN BELAJAR MANDIRI KEDUA
Sumber Belajar Bidang Studi
Bahasa Indonesia
A. Ringkasan materi
1. Hakikat dan Pemerolehan Bahasa
A. Hakikat Bahasa Indonesia
Pengertian Bahasa
Secara umum, komunikasi dibedakan atas komunikasi verbal dan
komunikasi non verbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi yang
menggunakan bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap
manusia. Komunikasi non verbal adalah komunikasi yang tidak
menggunakan bunyi-bunyi bahasa yang dihasilkan oleh alat ucap manusia
melainkan menggunakan alat-alat/tanda. Dan tidak semua ujaran atau
bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia dapat dikatakan bahasa, karena
ujaran yang dapat dikatakan sebagai bahasa apabila mengandung makna.
Sifat-sifat Bahasa
Sebagai alat komunikasi, bahasa mengandung beberapa sifat, yaitu:
sistematik, mana suka, ujaran, manusiawi, dan komunikatif.
Bersifat sistematik karena bahasa memiliki pola dan kaidah yang harus
ditaati agar dapat dipahami oleh pemakainya. Bahasa diatur oleh dua
system, yaitu system bunyi dan system makna.
Santoso (dalam Paisal, 2009) menyatakan bahwa bahasa disebut mana
suka karena unsure-unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar.
Bahasa disebut ujaran karena bentuk dasar bahasa adalah ujaran dan
media bahasa adalah bunyi.
Bahasa bersifat manusiawi karena bahasa dapat berfungsi selama manusia
menfaatkannya. Bahasa bersifat komunikatif karena fungsi utama bahasa
adalah sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat.
B. Hakikat Pemerolehan Bahasa
Dua keterampilan yang dilibatkan dalam pemerolehan bahasa anak yaitu
kemampuan untuk menghasilkan tuturan secara spontan dan kemampuan
memahami tuturan orang lain. Yang dimaksud dengan pemorelahan
bahasa adalah proses kemampuan berbahasa, baik berupa pengalaman
ataupun pengungkapan secara alami, tanpa melalui kegiatan formal
(Tarigan, dkk, 1998).
Karakteristik pemerolehan bahasa menurut Tarigan, dkk(1998) adalah :
(a) berlangsung dalam situasi informal, anak anak belajar bahasa tanpa
beban, dan diluar sekolah; (b) pemilikan bahasa tidak melalui
pembelajaran formal di lembaga- lembaga pendidikan seperti sekolah atau
kursus; (c) dialami langsung oleh anak dan terjadi dalam konteks
berbahasa yang bernakna bagi anak.
Waktu Pemerolehan Bahasa Dimulai
Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara
verbal dapat disebut dengan pemerolehan bahasa anak.
Bahasa Siswa Sekolah Dasar (SD)
Waktu antara masa bayi dan masa prasekolah merupakan waktu yang
paling penting dalam perkembangan sesorang. Itulah masa yang paling
baik untuk belajar bahasa yang disebut usia keemasan untuk belajar
berbahasa.
C. Hakikat Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran bahasa Indonesia mengacu pada kurikulum yang ditetapkan
oleh peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun
2015. Mendikbud mencabut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan (EYD) menjadi Ejaan Bahasa Indonesia (EBI).
Penggunaan huruf kapital yang benar dalam kalimat sesuai Ejaan Bahasa
Indonesia (EBI)
a. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama awal kalimat.
b. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama orang,
termasuk julukan. Catatan : Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf
pertama nama orang yang merupakan nama jenis atau satuan ukuran.
Huruf kapital tidak dipakai untuk menuliskan huruf pertama kata yang
bermakna anak dari, seperti bin, binti atau huruf pertama kata tugas.
c. Huruf kapital dipakai pada awal kalimat dalam petikan langusng.
d. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata nama agama,
kitab suci, dan Tuhan, termasuk sebutan dan kata ganti untuk Tuhan.
e. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama gelar
kehormatan, keturunan, keaagamaan atau akademik yang diikuti nama
orang, termasuk gelar akademik yang mengikuti nama orang. Huruf
kapital juga dipakai pada nama jabatan dan kepangkatan sebagai
sapaan.
f. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan
pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti
nama orang tertentu, nama instansi atau nama tempat.
g. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku
bangsa, dan bahasa. Catatan: nama bangsa, suku bangsa,dan bahasa
yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan tidak ditulis dengan
huruf awal kapital.
h. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari,
dan hari besar atau hari raya. Huruf kapital juga dipakai sebagai huruf
pertama nama peristiwa sejarah. Catatan: huruf pertama peristiwa
searah yang tidak dipakai sebagai nama, tidak ditulis dengan huruf
kapital.
i. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi. Catatan:
huruf pertama nama geografi yang bukan nama diri tidak ditulis
dengan huruf kapital. Huruf pertama nama diri geografi yang dipakai
sebagai nama jenis tidak ditulis dengan huruf kapital.
j. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata dalam nama
negara, lembaga, organisasi atau dokumen kecuali kata tugas.
k. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap kata di dalam judul
buku, karangan, artikel, dan makalah serta nama nama majalah, surat
kabar, kecuali kata tugas.
l. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama
gelar, pangkat, atau sapaan.
m. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan
kekerabatan atau ungkapan lain yang dipakai dalam penyapaan atau
pengacuan. Catatan: kata ganti Anda ditulis dengan huruf awal
kapital.

Menyusun huruf miring yang benar dalam kalimat sesuai Ejaan Bahasa
Indonesia (EBI)
a. Huruf miring dipakai untuk menuliskan judul buku, nama majalah,
atau nama surat kabar yang dikutip dalam tulisan, termasuk daftar
pustaka.
b. Huruf miring dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf,
bagian kata, kata atau kelompok kata dalam kalimat.
c. Huruf miring dipakai untuk menuliskan kata atau ungkapan dalam
bahasa daerah atau bahasa asing. Catatan: nama diri, dalam bahasa
asing atau bahasa daerah tidak ditulis dengan huruf miring. Dalam
naskah tulisan tangan atau mesin tik (bukan komputer), bagian yang
akan dicetak miring ditandai dengan garis bawah. Kalimat atau teks
berbahasa asing atau berbahasa daerah yang dikutip secara langsung
dalam teks berbahasa Indonesia ditulis dengan huruf miring.

Menerapkan penggunaan tanda baca yang benar (koma, titik dua, dan
tanda seru) melalui sajian kalimat sesuai Ejaan Bahasa Indonesia (EBI)
a. Tanda koma (,)
1. Tanda koma dipakai diantara unsur unsur dalam suatu perincian
atau pembilangan.
2. Tanda koma dipakai sebelum kata penghubung
3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat yang
mendahului induk kalimatnya.
4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung
antar kalimat
5. Tanda koma dipakai sebelum atau sesudah kata seru
6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari
bagian lain dalam kalimat. Catatan: tanda koma tidak dipakai untuk
memisahkan petikan langsung yang berupa kalimat tanya, kalimat
perintah, atau kalimat seru dari bagian lain yang mengikutinya.
7. Tanda koma dipakai diantara: nama dan alamat, bagian bagian
alamat, tempat dan tanggal serta nama tempat dan wilayah atau
negeri yang ditulis berurutan
8. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik
susunannya dalam daftar pustaka
9. Tanda koma dipakai diantara bagian bagian dalam catatan kaki
atau catatan akhir
10. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan singkatan gelar
akademis yang mengikutinya untuk membedakan dari singkatan
nama diri, keluarga atau marga
11. Tanda koma dipakai sebelum angka desimal atau diantara rupiah
dan sen yang dinyatakan dengan angka
12. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan atau
keterangan aposisi
13. Tanda koma dapat dipakai di belakang keterangan yang terdapat
pada awal kalimat untuk menghindari salah baca/salah pengertian

b. Tanda titik dua (:)


1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap yang
diikuti perincian atau penjelasan
2. Tanda titik dua tidak dipakai jika perincian atau penjelasan
merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan
3. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang
memerlukan pemerincian
4. Tanda titik dua dipakai dalam naskah drama sesudah kata yang
menunjukkan pelaku dalam percakapan
5. Tanda titik dua dipakai diantara: jilid atau nomor halaman, surat
dan ayat dalam kitab suci, judul dan anak judul suatu karangan,
nama kota dan penerbit dalam daftar pustaka

c. Tanda seru (!)


Tanda seru dipakai untuk mengakhiri ungkapan atau pernyataan yang
berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan,
ketidakpercayaan, atau emosi yang kuat.

2. Keterampilan Menyimak
3. Keterampilan Berbicara
4. Keterampilan Membaca
5. Keterampilan Menulis
6. Apresiasi Sastra

B. Materi yang sulit dipahami

C. Materi esensial apa saja yang tidak ada dalam Sumber Belajar

D. Materi apa saja yang tidak esensial namun ada dalam Sumber Belajar