Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN

Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam


bidang kesehatan yang saat ini terjadi di negara Indonesia. Derajat kesehatan anak
mencerminkan derajat kesehatan bangsa, sebab anak sebagai generasi penerus
bangsa memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan dalam meneruskan
pembangunan bangsa. Berdasarkan alasan tersebut, masalah kesehatan anak
diprioritaskan dalam perencanaan atau penataan pembangunan bangsa.1
Anak terutama bayi baru lahir merupakan salah satu kelompok masyarakat
yang rentan dan perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat
karena masih tingginya Angka Kematian Bayi (AKB). Angka kematian bayi
menjadi indikator pertama dalam menentukan derajat kesehatan anak karena
merupakan cerminan dari status kesehatan anak saat ini.1
Permasalahan Angka Kematian Bayi masih merupakan permasalahan
utama bagi negara berkembang. Di negara berkembang, saat melahirkan pada
minggu pertama setelah melahirkan merupakan periode kritis bagi ibu dan
bayinya. Sekitar dua pertiga kematian neonatal tersebut terjadi pada minggu
pertama, dan dua pertiga kematian bayi pada minggu pertama tersebut terjadi pada
hari pertama kelahirannya.2
Menurut CIA World Factbook, AKB di dunia pada tahun 2012 sebesar
32 per 1.000 kelahiran hidup. Afganistan merupakan negara dengan tingkat AKB
tertinggi dibandingkan dengan 221 negara lainnya di dunia yaitu sebesar 121 per
1.000 kelahiran hidup. Negara dengan tingkat AKB terendah adalah Monaco yaitu
sebesar 2 per 1.000 kelahiran hidup. Sementara Indonesia berada pada urutan ke-
73 dengan AKB sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup. Apabila dibandingkan
dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), Indonesia menduduki
peringkat ke-7 setelah Singapura (3 per 1.000 kelahiran hidup), Brunei
Darussalam (8 per 1.000 kelahiran hidup), Malaysia (15 per 1.000 kelahiran
hidup), Thailand (16 per 1.000 kelahiran hidup), Filipina (19 per 1.000 kelahiran
hidup), dan Vietnam (20 per 1.000).2

1
Hasil Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012
menunjukkan adanya penurunan AKB dibandingkan dengan tahun 2007 yaitu
sebesar 34 per 1.000 kelahiran hidup menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup.
Angka tersebut masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs)
pada tahun 2015 yaitu sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup. Di antara angka ini,
19 per 1.000 terjadi pada masa neonatal sejak lahir sampai usia 28 hari. Namun
Target MDGs di tahun 2015 angkanya harus turun menjadi 23 per 1.000 kelahiran
hidup.3
Salah satu penyebab kematian neonatus yang tersering adalah skor
APGAR yang rendah. Faktor-faktor yang mendukung rendahnya skor APGAR
antara lain: gangguan pernapasan (37%), prematuritas (34%), sepsis (12%),
hipotermi (6%), kelainan darah atau ikterus (7%), post matur (3%), kelainan
kongenital (1%).4
Adapun skor APGAR ini merupakan singkatan dari: Appearance yaitu
warna kulit dari neonatus sewaktu dia lahir; Pulse yaitu pulsasi atau denyut
jantung dari neonatus; Grimace yaitu respon refleks dari neonatus; Activity yaitu
tonus otot pada neonatus; Respiration yaitu pernapasan pada neonatus.5
Nilai APGAR merupakan suatu metode sederhana yang dipakai oleh
tenaga kesehatan untuk menilai keadaan bayi sesaat setelah lahir. Penilaian
APGAR ini sangat penting karena untuk meminimalkan asfiksia pada bayi yang
merupakan kelanjutan dari nilai APGAR yang rendah. Pemeriksaan ini dilakukan
secara cepat bayi baru lahir akan mengevaluasi keadaan fisik dari bayi baru lahir
dan sekaligus mengenali adanya tanda-tanda darurat yang memerlukan
dilakukannya tindakan segera terhadap bayi baru lahir. Seorang bayi dengan
berbagai tanda bahaya merupakan masalah yang serius, bayi dapat meninggal bila
tidak ditangani segera.6

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Bayi Baru Lahir


Bayi yang lahir presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai
alat, pada usia kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan
berat badan 2500-4000 gram, nilai APGAR > 7 dan tanpa cacat bawaan.7 Masa
bayi baru lahir adalah masa 28 hari pertama kehidupan manusia, pada masa ini
terjadi proses penyesuaian sistem tubuh bayi dari kehidupan dalam rahim ke
kehidupan di luar rahim. Masa ini adalah masa yang perlu mendapatkan perhatian
dan perawatan yang ekstra karena pada masa ini terdapat mortalitas yang tinggi.8
Neonatus bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus
menyesuaikan diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin. Beralih
dari ketergantungan mutlak pada ibu menuju kemandirian fisiologi. Dengan
terpisahnya bayi dari ibu, maka terjadilah awal dari proses fisiologi sebagai
berikut: 9
1. Pertukaran gas melalui plasenta digantikan oleh aktifnya fungsi paru untuk
bernapas.
2. Saluran cerna berfungsi untuk menyerap makanan.
3. Ginjal berfungsi untuk mengeluarkan bahan yang tidak terpakai lagi oleh tubuh
untuk mempertahankan homeostasis kimia darah.
4. Hati berfungsi untuk menetralisir dan mengsekresi bahan racun yang tidak
diperlukan badan.
5. Sistem imunologi berfungsi untuk mencegah infeksi.
6. Sistem kardiovaskuler serta endokrin bayi menyesuaikan diri dengan perubahan
fungsi organ tersebut diatas. Selain itu, pengaruh kehamilan dan proses persalinan
mempunyai peranan penting dalam morbiditas dan mortalitas.
Setelah persalinan, setelah bayi lahir harus dilakukan penilaian sebagai
berikut: apakah kehamilannya cukup bulan, apakah air ketuban cukup jernih dan
tidak terkontaminasi mekonium, apakah bayi bernapas adekuat atau menangis,
apakah tonus otot bayi baik. Apabila semua pertanyaan di atas dijawab dengan

3
ya lakukan perawatan rutin, yaitu: memberikan kehangatan,
membuka/membersihkan jalan napas, mengeringkan dan menilai warna.6

2.2 Pengertian Nilai APGAR


Nilai APGAR pertama kali diperkenalkan oleh dokter anastesi yaitu dr.
Virginia Apgar pada tahun 1952 yang mendesain sebuah metode penilaian cepat
untuk menilai keadaan klinis bayi baru lahir pada usia 1 menit, yang dinilai terdiri
atas 5 komponen, yaitu frekuensi jantung (pulse), usaha napas (respiration), tonus
otot (activity), refleks pada rangsangan (grimace) dan warna kulit (appearance).9
Nilai APGAR adalah suatu metode sederhana yang digunakan untuk
menilai keadaan umum bayi sesaat setelah kelahiran. Penilaian ini perlu untuk
mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau tidak, yang dinilai adalah
frekuensi jantung (heart rate), usaha napas (respiratory effort), tonus otot (muscle
tone), warna kulit (colour) dan reaksi terhadap rangsang (respon to stimuli).6
Nilai APGAR diukur pada menit pertama dan kelima setelah kelahiran.
Pengukuran pada menit pertama digunakan untuk menilai bagaimana ketahanan
bayi melewati proses persalinan. Pengukuran pada menit kelima menggambarkan
sebaik apa bayi dapat bertahan setelah keluar dari rahim ibu. Pengukuran nilai
APGAR dilakukan untuk menilai apakah bayi membutuhkan bantuan napas atau
mengalami kelainan jantung.6
Nilai APGAR pada umumnya dilaksanakan pada 1 menit dan 5 menit
sesudah bayi lahir. Akan tetapi, penilaian bayi harus segera dimulai sesudah bayi
lahir. Apabila memerlukan intervensi berdasarkan penilaian pernapasan, denyut
jantung atau warna bayi, maka penilaian ini harus segera dilakukan. Nilai APGAR
dapat menolong dalam upaya penilaian keadaan bayi dan penilaian efektivitas
upaya resusitasi.10
Apabila nilai APGAR kurang dari 7 maka penilaian tambahan masih
diperlukan yaitu 5 menit sampai 20 menit atau sampai dua kali penilaian
menunjukan nilai 8 atau lebih. Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata
ditentukan oleh tiga tanda penting yaitu pernapasan, denyut jantung, dan warna.
Resusitasi yang efektif bertujuan memberikan ventilasi yang adekuat, pemberian

4
oksigen, dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen ke otak,
jantung dan alat vital lainnya.10

2.3 Klasifikasi Nilai APGAR


Berdasarkan penilaian APGAR dapat diketahui derajat vitalis bayi adalah:
kemampuan sejumlah fungsi tubuh yang bersifat esensial dan kompleks untuk
kelangsungan hidup bayi seperti pernapasan, denyut jantung, sirkulasi darah dan
refleks-refleks primitif seperti mengisap dan mencari puting susu, salah satu
menetapkan derajat vitalis dengan nilai APGAR.10
Bayi baru lahir dievaluasi dengan nilai APGAR, tabel tersebut dapat untuk
menentukan tingkat atau derajat asfiksia, apakah ringan, sedang, atau asfiksia
berat. Klasifikasi klinik nilai APGAR adalah sebagai berikut: 6
1. Asfiksia berat (nilai APGAR 0-3)
Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen terkendali.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung 100 x/menit, tonus otot
buruk, sianosis berat, dan terkadang pucat, refleks iritabilitas tidak ada.
2. Asfiksia sedang (nilai APGAR 4-6)
Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat bernapas
kembali. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung lebih dari 100
x/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, refleks iritabilitas tidak ada.
3. Bayi normal atau sedikit asfiksia (nilai APGAR 7-10).

2.4 Faktor yang Memengaruhi Nilai APGAR


Faktor-faktor yang dapat menyebabkan asfiksia neonatorum adalah
sebagai berikut: 11

1. Faktor ibu
a. Hipoksia ibu
Hipoksia adalah keadaan rendahnya konsentrasi oksigen di dalam sel atau
jaringan yang dapat mengancam kelangsungan hidup sel. Hipoksia ibu dapat
terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anastesi dalam,
dan kondisi ini akan menimbulkan hipoksia janin dengan segala akibatnya. Angka

5
normal denyut jantung janin berkisar 120 160 denyut/menit. Hipoksia janin
terjadi apabila janin mengalami takikardia (jantung janin > 160 denyut/menit) dan
bradikardia (jantung janin < 120 denyut/menit).12
b. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Umur ibu tidak secara langsung berpengaruh terhadap kejadian asfiksia
neonatorum, namun demikian telah lama diketahui bahwa umur berpengaruh
terhadap proses reproduksi. Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia
aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 20 30 tahun.6 Pada usia dibawah
20 tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna,
sedangkan pada usia > 35 tahun sudah mengalami penurunan.13
c. Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang memperoleh janin yang dilahirkan. Paritas
yang tinggi memungkinkan terjadinya penyulit kehamilan dan persalinan yang
dapat menyebabkan terganggunya transport O2 dari ibu ke janin yang akan
menyebabkan asfiksia yang dapat dinilai dari skor APGAR menit pertama setelah
lahir.14
d. Penyakit pembuluh darah ibu
Penyakit pembuluh darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin: hipertensi,
hipotensi, gangguan kontraksi uterus dan lain-lain.11 Hipertensi adalah tekanan
darah sistolik dan diastolik 140/90 mmHg. Pengukuran tekanan darah sekurang
kurangnya dilakukan 2 kali selang 4 jam. Kenaikan tekanan darah sistolik 30
mmHg dan kenaikan tekanan darah diastolik 15 mmHg. Hipotensi dapat
memberikan efek langsung terhadap bayi merupakan kondisi tekanan darah yang
terlalu rendah, yaitu apabila tekanan darah sistolik < 90 mmHg dan tekanan darah
diastolik < 60 mmHg.6
e. Sosial ekonomi
Bila ibu mengalami kekurangan gizi selama hamil akan menimbulkan masalah,
baik pada ibu maupun janin. Masalah pada ibu antara lain: anemia, perdarahan,
terkena penyakit infeksi dan komplikasi pada persalinan, sedangkan masalah pada
bayi antara lain: mempengaruhi pertumbuhan janin, abortus, kematian neonatal,
bayi lahir mati, cacat bawaan, anemia pada bayi, asfiksia intra partum, dan
BBLR.15 Adapun ciri ciri KEK adalah: ibu yang ukuran LILA nya < 23,5 cm

6
dan dengan salah satu atau beberapa kriteria sebagai berikut: berat badan ibu
sebelum hamil < 42 kg, tinggi badan ibu < 145 cm, berat badan ibu pada
kehamilan trimester III < 45 kg, indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil < 17,00
dan ibu menderita anemia (Hb < 11 gr%).16
f. Gangguan kontraksi ibu
Disfungsi uterus didefinisikan sebagai ketidakefisiennya atau tidak
terkoordinasinya kontraksi uterus, ketidakmampuan untuk dilatasi serviks dan
juga melahirkan yang lama. Disfungsi uterus ditandai oleh kontraksi intensitas
rendah dan jarang serta lambatnya kemajuan persalinan.17 Partograf adalah alat
bantu yang digunakan selama kala I persalinan. Tujuan pengisian partograf adalah
adalah untuk memantau dan mengobservasi kemajuan persalinan dengan menilai
pembukaan serviks, penurunan kepala janin, serta kontraksi uterus. Dalam
partograf terdapat kolom-kolom untuk menilai kemajuan persalinan. Pada kolom
dan lajur kedua partograf merupakan tempat pencatatan kemajuan pembukaan
serviks 0 sampai dengan 10 cm. Sedangkan di bawah lajur waktu partograf
terdapat kotak-kotak yang merupakan tempat penilaian kontraksi uterus meliputi
lama kontraksi, yang dihitung dengan satuan detik, frekuensi kontraksi yang
dihitung dalam 10 menit dan intensitas kontraksi.18

2. Faktor Plasenta
a. Plasenta tipis, kecil, dan tidak menempel sempurna
Dalam kehamilan, fungsi utama plasenta adalah sebagai organ penyalur bahan-
bahan makanan dan oksigen yang diperlukan oleh janin dari darah ibu ke dalam
darah janin dan juga mengadakan mekanisme pengeluaran produk-produk
ekskretoris dari janin kembali ke ibu.19 Plasenta yang normal akan mampu
melaksanakan fungsi tersebut dalam menunjang pertumbuhan janin. Plasenta
normal pada saat aterm berbentuk seperti cakram, berwarna merah tua, dengan
berat 500-600 gr, diameter 15-25 cm, lebih kurang 7 inci tebal sekitar 3 cm.
Panjang tali pusat 40-50 cm dengan diameter 1-2 cm.20 Gangguan pertukaran gas
di plasenta yang akan menyebabkan asfiksia janin. Pertukaran gas antara ibu dan
janin di pengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta, asfiksia janin dapat terjadi bila

7
terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya: plasenta previa dan solusio
plasenta.14
b. Solusio plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasi normalnya
sebelum janin lahir, dan definisi ini hanya berlaku pada kehamilan di atas 22
minggu atau berat janin > 500 gr. Gambaran klinisnya adalah solusio plasenta
ringan: terdapat pelepasan sebagian kecil plasenta, solusio plasenta sedang:
plasenta terlepas bagian, solusio plasenta berat: plasenta telah terlepas dari 2/3
permukaannya.6 Pada pemeriksaan plasenta biasanya tampak tipis dan cekung di
bagian plasenta yang terlepas (kreater) dan terdapat koagulum atau darah beku
yang biasanya menempel di belakang plasenta yang disebut hematoma
retroplacenter.21
c. Plasenta previa
Adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim, sehingga
menutupi seluruh atau sebahagian dari ostium uteri internum. Insidensi plasenta
previa adalah 0,4%-0,6%, perdarahan dari plasenta previa menyebabkan kira-kira
20% dari semua kasus perdarahan ante partum. 70% pasien dengan plasenta
previa mengalami perdarahan pervaginam yang tidak nyeri dalam trimester ke
tiga, 20% mengalami kontraksi yang disertai dengan perdarahan, dan 10%
memiliki diagnosa plasenta previa yang dilakukan tidak sengaja dengan
pemeriksaan ultrasonografi atau pemeriksaan saat janin telah cukup bulan.
Penyulit pada ibu dapat menimbulkan anemia sampai syok sedangkan pada janin
dapat menimbulkan asfiksia neonatorum sampai kematian janin dalam rahim.14

3. Faktor Janin
a. Prematur
Bayi prematur adaah bayi lahir dari kehamilan antara 28-36 minggu. Bayi lahir
kurang bulan mempunyai organ-organ dan alat tubuh belum berfungsi normal
untuk bertahan hidup di luar rahim. Makin muda umur kehamilan, fungsi organ
tubuh bayi makin kurang sempurna, prognosis juga semakin buruk. Karena masih
belum berfungsinya organ-organ tubuh secara sempurna seperti sistem pernapasan
maka terjadilah asfiksia.22

8
b. BBLR dan IUGR
Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500
gram. BBLR dibagi tiga group yaitu prematuritas, Intra Uterine Growth
Restriction (IUGR) dan karena keduanya. BBLR sering digunakan sebagai
indikator dari IUGR di negara berkembang karena tidak tersedianya penilaian usia
kehamilan yang valid. BBLR ini berbeda dengan prematur karena BBLR diukur
dari berat atau massa, sedangkan prematur juga belum tentu BBLR kalau berat
lahirnya di atas 2500 gram. Namun dibanyak kasus kedua kondisi ini muncul
bersamaan karena penyebabnya saling berhubungan.23 IUGR biasanya dinilai
secara klinis ketika janin lahir dengan mengkaitkan ukuran bayi yang baru lahir
kedurasi kehamilan. Ukuran kecil untuk usia kehamilan atau ketidakmampuan
janin janin untuk mencapai potensi pertumbuhan menunjukkan IUGR. Bayi
dengan IUGR didiagnosis mungkin BBLR usia kehamilan aterm (> 37 minggu
kehamilan dan < 2500 gram).24
c. Gemeli
Kehamilan ganda adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Kehamilan ganda
dapat memberikan resiko yang lebih tinggi terhadap ibu dan bayi. Pertumbuhan
janin kehamilan ganda tergantung dari faktor plasenta apakah menjadi satu atau
bagaimana lokalisasi implementasi plasentanya. Memperhatikan kedua faktor
tersebut, mungkin terdapat jantung salah satu janin lebih kuat dari yang lainnya,
sehingga janin mempunyai jantung yang lemah mendapat nutrisi O2 yang kurang
menyebabkan pertumbuhan terhambat, terjadilah asfiksia neonatorum sampai
kematian janin dalam rahim.14
d. Gangguan tali pusat
Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam
pembuluh darah umbilikus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin.
Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaan tali pusat menumbung,
melilit leher, kompresi tali pusat antara jalan lahir dan janin.11
e. Kelainan Congenital
Kelainan congenital adalah suatu keainan pada struktur, fungsi maupun
metabolisme tubuh yang ditemukan pada bayi ketika dia dilahirkan.11

9
4. Faktor Persalinan
a. Partus lama
Partus lama yaitu persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi, dan
lebih 18 jam pada multi. Partus lama masih merupakan masalah di Indonesia. Bila
persalinan berlangsung lama, dapat menimbulkan komplikasi baik terhadap ibu
maupun pada bayi, dan dapat meningkatkan angka kematian ibu dan bayi.25
b. Partus dengan tindakan
Persalinan dengan tindakan dapat menimbulkan asfiksia neonatorum yang
disebabkan oleh tekanan langsung pada kepala: menekan pusat-pusat vital pada
medula oblongata, aspirasi air ketuban, mekonium, cairan lambung dan
perdarahan atau oedema jaringan pusat saraf pusat.14

Faktor-faktor pencetus rendahnya nilai APGAR (asfiksia neonatorum): 26


a. Hipoksia janin penyebab terjadinya asfiksia neonatorum adalah adanya
gangguan pertukaran gas serta transport O2 dari ibu ke janin sehingga berdampak
persediaan O2 menurun, mengakibatkan tingginya CO2. Gangguan ini dapat
berlangsung secara kronis akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan
atau secara akut karena adanya komplikasi dalam persalinan.
b. Gangguan kronis pada ibu hamil tersebut, bisa akibat dari gizi ibu yang buruk,
penyakit menahun seperti anemia, hipertensi, penyakit jantung dan lain-lain. Pada
akhir-akhir ini, asfiksia neonatorum disebabkan oleh adanya gangguan
oksigenisasi serta kekurangan zat-zat makanan yang diperoleh akibat
terganggunya fungsi plasenta. Faktor-faktor yang timbul dalam persalinan yang
bersifat akut dan hampir selalu mengakibatkan anoksia atau hipoksia janin akan
berakhir dengan asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir. Sedangkan faktor dari
pihak ibu adanya gangguan his seperti hipertonia dan tetani, hipotensi mendadak
pada ibu karena perdarahan, hipertensi pada eklamsia, gangguan mendadak pada
plasenta seperti solusio plasenta.
c. Faktor janin berupa gangguan aliran darah dalam tali pusat akibat tekanan tali
pusat, depresi pernapasan karena obat-obatan anastesi/analgetika yang diberikan
ke ibu, perdarahan intrakranial, kelainan bawaan seperti hernia diafragmatika,
atresia saluran pernapasan, hipoplasia paru-paru dll.

10
Seorang bayi mengalami kekurangan oksigen, maka akan terjadi napas cepat.
Apabila asfiksia berlanjut, gerakan napas akan berhenti, denyut jantung mulai
menurun dan tonus otot berkurang secara berangsur, dan bayi memasuki periode
apneu primer. Apneu primer yaitu bayi mengalami kekurangan oksigen dan
terjadi pernapasan yang cepat dalam periode singkat, dimana terjadi penurunan
frekuensi jantung. Pemberian rangsangan dan oksigen selama periode ini dapat
merangsang terjadinya pernapasan. Selanjutnya, bayi akan memperlihatkan usaha
napas (gasping) yang kemudian diikuti oleh pernapasan. Apabila asfiksia
berlanjut, bayi akan menunjukan pernapasan gasping (megap-megap), denyut
jantung menurun, tekanan darah menurun, dan bayi tampak lemas (flaksid).
Pernapasan semakin lemah sampai akhirnya berhenti, dan bayi memasuki periode
apneu sekunder. Apneu sekunder yakni pada penderita asfiksia berat, yang mana
usaha bernapasnya tidak tampak dan selanjutnya bayi berada pada periode apneu
kedua. Pada keadaan tersebut akan ditemukan bradikardi dan penurunan tekanan
darah serta penurunan kadar oksigen dalam darah. Bayi tidak bereaksi terhadap
rangsangan dan tidak menunjukan upaya bernapas secara spontan. Kematian akan
terjadi kecuali bila resusitasi dengan napas buatan dan pemberian oksigen segera
dimulai. Sulit sekali membedakan antara apneu primer dan sekunder, oleh
karenanya bila menghadapi bayi bayi lahir dengan apneu, anggaplah sebagai
apneu sekunder dan bersegera melakukan tindakan resusitasi.10

11
BAB 3
PENUTUP

Nilai APGAR adalah suatu metode sederhana yang digunakan untuk


menilai keadaan umum bayi sesaat setelah kelahiran. Penilaian ini perlu untuk
mengetahui apakah bayi menderita asfiksia atau tidak, yang dinilai adalah
frekuensi jantung (Heart rate), usaha napas (respiratory effort), tonus otot (muscle
tone), warna kulit (colour) dan reaksi terhadap rangsang (respon to stimuli).
Nilai APGAR diukur pada menit pertama dan kelima setelah kelahiran.
Pengukuran pada menit pertama digunakan untuk menilai bagaimana ketahanan
bayi melewati proses persalinan. Pengukuran pada menit kelima menggambarkan
sebaik apa bayi dapat bertahan setelah keluar dari rahim ibu. Pengukuran nilai
APGAR dilakukan untuk menilai apakah bayi membutuhkan bantuan napas atau
mengalami kelainan jantung.
Nilai APGAR pada umumnya dilaksanakan pada 1 menit dan 5 menit
sesudah bayi lahir. Akan tetapi, penilaian bayi harus segera dimulai sesudah bayi
lahir. Apabila memerlukan intervensi berdasarkan penilaian pernapasan, denyut
jantung atau warna bayi, maka penilaian ini harus segera dilakukan. Nilai APGAR
dapat menolong dalam upaya penilaian keadaan bayi dan penilaian efektivitas
upaya resusitasi.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan asfiksia neonatorum antara lain
dapat berasal dari faktor ibu, faktor plasenta, faktor janin, maupun faktor
persalinan.

12
Daftar Pustaka
1. Departemen Kesehatan RI. 2009. Program Kesehatan Ibu, Bayi Baru
Lahir dan Anak HSP- Health Service Program. Jakarta: Depkes RI.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Kesehatan
Indonesia 2012. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
3. Badan Pusat Statistik. 2012. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
2012. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
4. Riskesdas. 2007. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
5. Haddad GG, Green TP. 2011. Diagnostic approach to Respiratory
Disease. In: Kliegman R.M., Behrman R.E., Jenson H.B., Stanton B.F.
eds. Nelson Textbook of Pediatric 19th ed chapter 366. Philadelphia:
Saunders Elsevier.
6. Prawirohardjo, S. 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi keempat, cetakan ketiga.
Jakarta: P.T. Bna Pustaka.
7. Saifuddin, A.B. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
8. Rukiah, Ai yeyeh, Lia julianti. 2010. Asuhan Neonatus Bayi dan Balita.
Jakarta: Salemba Medika.
9. Kosim, Sholeh. 2010. Buku Ajar Neonatologi. Edisi pertama, cetakan
kedua. Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia.
10. Novita, Vivan. 2011. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta:
Salemba Medika.
11. Winkjasastro, H. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.
12. Graccia, A.J., Simon MC., Johnson, R. 2004. Gene & Development 18.
13. Saifuddin, A.B. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
14. Manuaba, I. 2007. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.

13
15. Lubis, Z. 2003. Status Gizi Ibu Hamil Serta Pengaruhnya Terhadap Bayi
yang Dilahirkan. Tesis Fakultas Pertanian IPB, Bogor.
16. Weni. 2010. Gizi Ibu Hamil. Yogyakarta: Muha Medika.
17. Leveno, et al. 2009. Williams Manual of Obstetrics, (Penerjemah: Brahm).
Jakarta: EGC.
18. JNPK-KR. 2008. Asuhan Esensial Pencegahan dan Penanggulangan
Segera Komplikasi Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: DepKes RI.
19. Guyton, AC., Hall, JE. 2008. Kehamilan dan Laktasi dalam Rachman,
LY., (editor) Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ke 11. Jakarta: EGC.
20. Cunningham, F.G., Gant, N. F., Leveno, K. J., Gilstarp, L. C., Haulth, J.
C., Wenstrom, K. D. 2005. Obstetri Williams, (Alih bahasa: Andry
Hartono, Joko Suyono dan Brahm U. Pendit). Jakarta: EGC.
21. Brudenell, Michael. 1996. Diabetes Pada Kehamilan. Jakarta: EGC.
22. DepKes RI. 2002. Pedoman Teknis Pelayanan Kesehatan Dasar
Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Jakarta: Departemen Kesehatan
RI Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat Direktorat Bina
Kesehatan Keluarga.
23. WHO. 2003. Technical Consultation Towards the Development of
Strategy For Promoting Optimal Fetal Development.
24. ACC/SCN. 2000. Low Birth Weight: Report of Meeting in Dhaka,
Banglades On June.
25. Mochtar, R. 2004. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC.
26. Aminullah, A. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.

14