Anda di halaman 1dari 10

Pengaruh Kualitas Pelayanan Petugas Pajak, Sanksi Perpajakan

dan Biaya Kepatuhan Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak


UMKM

Arabella Oentari Fuadi dan Yenni Mangoting


Program Akuntansi Pajak Program Studi Akuntansi Universitas Kristen Petra

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kualitas pelayanan petugas
pajak, sanksi perpajakan dan biaya kepatuhan pajak mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah) baik secara
parsial maupun simultan. Data diperoleh dari kuesioner yang diisi oleh responden yang
terdaftar di Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Timur pada bulan Oktober 2012. Sebanyak 45
kuesioner kembali dengan keadaan yang lengkap dan dapat diolah. Dengan menggunakan
teknik regresi berganda, hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan dan
sanksi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM. Semakin
baik kualitas pelayanan petugas pajak dan semakin berat sanksi perpajakan yang
dikenakan pada Wajib Pajak UMKM maka akan meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak
UMKM. Di samping itu, biaya kepatuhan pajak berpengaruh negatif terhadap kepatuhan
Wajib Pajak UMKM. Semakin besar biaya kepatuhan pajak maka kepatuhan Wajib Pajak
UMKM akan menurun.

Kata Kunci: kualitas pelayanan, sanksi , biaya kepatuhan pajak.

ABSTRACT

The purpose of this study is to know whether the service quality of the tax officials, tax
penalties and tax compliance costs have a significant impact on UMKM tax payers
compliance either partially or simultaneously. Data were obtained from questionnaires
completed by respondents listed in the Bureau of Cooperatives and UMKM in East Java in
October 2012. A total of 45 questionnaires were returned in complete condition and can be
processed. Using multiple regression techniques, the result shows that the service quality of the
tax officials and taxation penalties have a positive influence on UMKM tax payers compliance.
The better the service quality of tax officials and the heavier the tax penalties for UMKM tax
payer then it will be increase the compliance of UMKM tax payer. Aside from that, the tax
compliance costs have a negative influence on UMKM tax payers compliance. The larger the
tax compliance costs then UMKM tax payers compliance will decrease.

Keyword : service quality, penalties, tax compliance costs


.

PENDAHULUAN pembangunan dan membiayai pengeluaran


pemerintah. Pada APBN 2011, pajak
Pajak sebagaimana yang diketahui memberikan kontribusi sebesar Rp827.264,2
merupakan aspek penting bagi kelangsungan milyar sedangkan pada APBN 2012,
hidup negara Indonesia. Dalam menjalankan penerimaan pajak meningkat dari tahun 2011
pemerintahan dan pembangunan, pemerintah menjadi Rp1.032,6 triliun
membutuhkan dana yang tidak sedikit. (www.fiskal.depkeu.go.id).
Sebagai salah satu unsur penerimaan negara, Pajak mempunyai fungsi regulerend dan
pajak memiliki peran yang sangat besar dan fungsi budgetair. Fungsi budgetair adalah
semakin diandalkan untuk kepentingan pajak yang berfungsi untuk memasukkan
19

uang ke kas negara. Berdasarkan fungsi pajak memandang bahwa sanksi perpajakan akan
sebagai fungsi budgetair, adanya kedisiplinan lebih banyak merugikannya (Nugroho,2006).
dan kesadaran masyarakat untuk mematuhi Penelitian oleh Yadnyana (2009) juga
kewajiban perpajakan yang berlaku sangat menyimpulkan hal yang serupa yaitu sikap
dibutuhkan. Persoalan mengenai kepatuhan Wajib Pajak terhadap kewajiban perpajakan
pajak telah menjadi persoalan yang penting di yang berupa sanksi pajak memiliki pengaruh
Indonesia karena jika Wajib Pajak tidak patuh positif terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
maka dapat menimbulkan keinginan untuk Karsimiati (2009) meneliti tentang pengaruh
melakukan tindakan penghindaran, pelayanan fiskus, sanksi denda dan kesadaran
pengelakan dan pelalaian pajak yang pada perpajakan terhadap kepatuhan Wajib Pajak
akhirnya akan merugikan negara yaitu dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan.
berkurangnya penerimaan pajak. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa
Kepatuhan Wajib Pajak dapat sikap Wajib Pajak terhadap sanksi denda
dipengaruhi oleh dua jenis faktor yaitu faktor berpengaruh negatif dan tidak signifikan
internal dan faktor eksternal. Faktor internal terhadap kepatuhan Wajib Pajak.
merupakan faktor yang berasal dari diri Wajib Dalam memenuhi kewajiban dan hak
Pajak sendiri dan berhubungan dengan perpajakannya, Wajib Pajak mengeluarkan
karakteristik individu yang menjadi pemicu sejumlah biaya yang biasa disebut dengan
dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. compliance cost. Idealnya, biaya-biaya yang
Berbeda dengan faktor internal, faktor dikeluarkan oleh Wajib Pajak tersebut tidak
eksternal adalah faktor yang berasal dari luar memberatkan wajib pajak dan tidak menjadi
diri Wajib Pajak, seperti situasi dan faktor penghambat Wajib Pajak dalam
lingkungan di sekitar Wajib Pajak. melakukan pemenuhan kewajiban
Menurut Gardina dan Haryanto (2006) perpajakannya. Tax compliance cost bukan
dalam Supriyati dan Hidayati (2008), hanya dalam artian uang (direct money cost),
penyebab rendahnya kepatuhan pajak dapat tetapi juga waktu (time cost) dan pikiran
disebabkan oleh kurangnya kualitas (psychological cost). Tingginya biaya
pelayanan petugas pajak. Sistem self kepatuhan pajak dapat menyebabkan Wajib
assessment yang berlaku di Indonesia dengan Pajak enggan untuk membayar pajak.
Wajib Pajak diberikan kepercayaan penuh Penelitian Prasetyo (2008) menyimpulkan
untuk melaksanakan kewajiban pembayaran bahwa biaya kepatuhan pajak mempunyai
pajak dengan menghitung, membayar, dan pengaruh negatif terhadap kepatuhan Wajib
melaporkan pajaknya sendiri. Agar self Pajak. Artinya jika biaya kepatuhan pajak
assessment dapat berjalan dengan baik, semakin tinggi maka kepatuhan pajak
pemerintah dalam hal ini Direktorat Jenderal semakin rendah.
Pajak menjalankan salah satunya fungsinya Perekonomian Indonesia didominasi oleh
yaitu fungsi pelayanan. kegiatan usaha yang berbasis pada usaha
Unsur pokok dalam pengertian pajak mikro, kecil dan menengah (UMKM). Jumlah
adalah pajak bersifat memaksa dan dipungut unit UMKM sampai dengan tahun 2010
berdasarkan Undang-Undang. Undang- berjumlah 53.823.732 unit yang terbagi atas
Undang yang mengatur mengenai pajak dan usaha mikro berjumlah 53.207.500 unit, usaha
berlaku di Indonesia disebut sebagai Undang- kecil berjumlah 573.601 unit dan usaha
Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara menengah berjumlah 42.631 unit, sedangkan
Perpajakan. Agar peraturan perpajakan usaha besar berjumlah 4.838 unit. Persentase
dipatuhi, maka harus ada sanksi perpajakan total unit UMKM di Indonesia berdasarkan
bagi Wajib Pajak yang melanggar. Muliari dan data sebelumnya adalah 99,99% dan usaha
Ery (2011) melakukan penelitian mengenai besar mempunyai persentase 0,01%
kepatuhan pelaporan Wajib Pajak orang (www.depkop.go.id)
pribadi di KPP Pratama Denpasar Timur yang Banyaknya jumlah unit UMKM di
diukur melalui dua variabel bebas yaitu Indonesia seharusnya juga tercermin pada
persepsi tentang sanksi perpajakan dan penerimaan pajak. Namun, penerimaan pajak
kesadaran wajib pajak. Hasil penelitian didominasi oleh Wajib Pajak besar yang
tersebut menyimpulkan bahwa variabel jumlahnya kurang dari 1%,dimana sisanya
persepsi tentang sanksi perpajakan memiliki adalah Wajib Pajak yang bergerak di bidang
pengaruh positif terhadap kepatuhan UMKM (Rakhmad, 2012). Bagi pelaku
pelaporan Wajib Pajak. Wajib Pajak akan UMKM, pajak masih dilihat sebagai beban,
memenuhi kewajiban perpajakannya apabila yang sebisa mungkin harus dihindari.
20 TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL.1, NO.1, 2013

Pemerintah Indonesia perlu memperhatikan bersikap ramah, memberikan 3S (Senyum,


sektor UMKM secara serius. Peranan UMKM Sapa dan Salam), mengenakan kartu
dalam perekonomian harus ikut identitas pegawai, mendengarkan dengan
diperhitungkan dalam proses merencanakan baik apa yang diutarakan oleh Wajib Pajak,
suatu kebijakan di bidang perpajakan. tidak melakukan aktivitas lain misalnya
Banyaknya pelaku usaha UMKM bila menjawab panggilan telepon, makan dan
diperhatikan secara seksama merupakan minum atau mendengarkan musik saat
potensi yang akan berdampak pada memberi pelayanan danapabila masih
peningkatan perilaku kepatuhan pajak. terdapat layanan yang perlu dilakukan
konfirmasi sehingga Wajib Pajak tidak
Pengaruh Kualitas Pelayanan Petugas menunggu terlalu lama, petugas dapat
Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak meminta nomor telepon Wajib Pajak untuk
UMKM dihubungi kembali.
3. Dalam merespon permasalahan dan
Pelayanan sendiri pada sektor perpajakan memberikan informasi kepada Wajib Pajak,
dapat diartikan sebagai pelayanan yang seharusnya: Petugas memberikan
diberikan kepada Wajib Pajak oleh Direktorat informasi/penjelasan secara lengkap dan
Jenderal Pajak untuk membantu Wajib Pajak jelas sehingga Wajib Pajak dapat mengerti
memenuhi kewajiban perpajakannya. dengan baik, untuk lebih menyakinkan
Pelayanan pajak termasuk dalam pelayanan Wajib Pajak, petugas dapat menggunakan
publik karena: dijalankan oleh instansi brosur/buku petunjuk teknis pelayanan,
pemerintah, bertujuan untuk memenuhi apabila petugas belum yakin terhadap
kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka permasalahan yang ditanganinya, segera
pelaksanaan undang-undang dan tidak diinformasikan ke petugas lain, supervisor
berorientasi pada profit atau laba. atau atasan yang bersangkutan dan
Ada lima dimensi kualitas pelayanan jasa memberitahukan permasalahan yang
yang dapat dirincikan sebagai berikut: disampaikan Wajib Pajak agar Wajib Pajak
tangibles, atau bukti fisik, reliability, atau tidak ditanyai berkali-kali, setiap tamu
keandalan responsiveness, atau ketanggapan, yang datang,harus ada petugas keamanan
assurance, atau jaminan dan empathy, yaitu yang menyambut, menanyakan keperluan
memberikan perhatian yang tulus dan bersifat dan mempersilahkan tamu dengan sopan
individual atau pribadi. untuk mengambil nomor antrian.
Menurut Risnawati dan Suhayati (2009), 4. Akan lebih baik bila petugas dapat
Direktorat Jendral Pajak perlu meningkatkan menjelaskan berapa lama Wajib Pajak
pelayanan pajak yang baik sesuai dengan harus menunggu.
ketentuan peraturan perundang-undangan 5. Bila petugas terpaksa tidak dapat
perpajakan yang berlaku, agar menunjang menerima laporan atau surat yang
kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi disampaikan oleh Wajib Pajak misalnya
kewajiban perpajakannya, dan tercapainya karena kurang lengkap, maka petugas
tujuan pemerintah untuk melaksanakan harus menjelaskannya secara jelas dan
pembangunan dan roda pemerintah berjalan ramah sampai Wajib Pajak memahami
dengan baik. Melalui Surat Edaran Direktorat dengan baik.
Jenderal Pajak No. SE-84/PJ/2011 tentang Penelitian yang dilakukan oleh Andriana
Pelayanan Prima ditegaskan beberapa (2011) menunjukkan bahwa pengaruh kualitas
ketentuan dalam rangka meningkatkan pelayanan pajak berpengaruh positif terhadap
kualitas pelayanan yang diberikan petugas kepatuhan Wajib Pajak, namun penelitian
pajak kepada Wajib Pajak yaitu sebagai yang dilakukan oleh Putra menunjukkan
berikut, yaitu: variabel kualitas pelayanan berpengaruh
1. Waktu pelayanan adalah pukul 08.00 signifikan dengan indikator tangible,
sampai dengan 16.00 waktu setempat responsiveness, assurance, dan reliability
2. Pegawai yang berhubungan langsung berpengaruh positif dan indikator empathy
dengan Wajib Pajak harus menjaga sopan berpengaruh negatif terhadap kepatuhan
santun dan perilaku, ramah, tanggap, Wajib Pajak orang pribadi ke. Berdasarkan
cermat dan cepat serta tidak mempersulit pernyataan dan penelitian sebelumnya, maka
layanan, dengan cara: bersikap hormat dan penulis merumuskan hipotesis sebagai
rendah hati terhadap tamu, petugas selalu berikut:
berpakaian rapi dan bersepatu, selalu
21

H0: Kualitas Pelayanan Petugas Pajak Secara yang terstruktur dan bermakna pada
Parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap hukuman yang dikenakan kepada Wajib Pajak
Kepatuhan Wajib Pajak UMKM. yang tidak mengikuti ketentuan perundang-
H1: Kualitas Pelayanan Petugas Pajak secara undangan.
parsial berpengaruh signifikan terhadap Didukung pula dengan adanya penelitian
Kepatuhan Wajib Pajak UMKM. sebelumnya yang dilakukan oleh Muliary dan
Ery (2006), dimana hasil penelitian tersebut
Pengaruh Sanksi Perpajakan Terhadap menyatakan persepsi tentang sanksi
Biaya Kepatuhan Pajak perpajakan berpengaruh positif terhadap
kepatuhan pelaporan Wajib Pajak orang
Dalam undang-undang perpajakan pribadi dan penelitian Karsimiati yang
dikenal dua macam sanksi, yaitu sanksi menunjukkan bahwa sikap wajib pajak
administrasi dan sanksi pidana. Sanksi terhadap sanksi denda berpengaruh negatif
administrasi dapat dijatuhkan apabila Wajib terhadap kepatuhan Wajib Pajak, maka
Pajak melakukan pelanggaran, terutama atas penulis merumuskan hipotesis sebagai
kewajiban yang ditentukan dalam Undang- berikut:
Undang No. 28 Tahun 2007 Tentang H0: Sanksi Perpajakan secara parsial tidak
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan
(UU KUP) dapat berupa sanksi administrasi Wajib Pajak UMKM.
bunga, denda dan kenaikan. Sedangkan H2: Sanksi Perpajakan secara parsial
sanksi pidana dapat hukuman kurungan dan berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan
hukuman penjara (Rahayu, 2010:13). Menurut Wajib Pajak UMKM.
Resmi (2008:71), sanksi perpajakan terjadi
karena terdapat pelanggaran terhadap Pengaruh Biaya Kepatuhan Pajak
peraturan perundang-undangan perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM
dimana semakin besar kesalahan yang
dilakukan seorang Wajib Pajak, maka sanksi Compliance cost adalah biaya-biaya yang
yang diberikan juga akan semakin berat. dikeluarkan oleh wajib pajak dalam rangka
Contoh pelanggaran yang sering dilakukan melakukan pemenuhan kewajiban pajak.
adalah keterlambatan dalam membayar pajak, Biaya kepatuhan pajak terbagi atas 3 yaitu
kurang bayar dan kesalahan dalam pengisian direct money cost, time cost dan psychological
SPT. cost. Besarnya biaya-biaya yang harus
Menurut Nugroho (2006) ,Wajib Pajak dikeluarkan Wajib Pajak dalam
akan memenuhi kewajiban perpajakannya menyelenggarakan kewajiban perpajakannya,
apabila memandang bahwa sanksi perpajakan turut menentukan tingkat kepatuhan
akan lebih banyak merugikannya. Di samping perpajakan. Compliance cost meliputi biaya-
itu, menurut Gatot S. M Faisal (2009:37) biaya yang dikeluarkan oleh Wajib Pajak
menyatakan bahwa walaupun ada potensi untuk memenuhi kewajibannya sesuai dengan
penerimaan Negara pada setiap sanksi, peraturan perundang-undangan yang berlaku.
namun motivasi penerapan sanksi adalah agar Direct money cost adalah biaya-biaya cash
Wajib Pajak patuh melaksanakan kewajiban money (uang tunai) yang dikeluarkan Wajib
perpajakannya. Pajak dalam rangka pemenuhan kewajiban
Yadnyana (2009) dalam penelitiannya pajak, seperti pembayaran kepada konsultan
mengukur pandangan terhadap sanksi pajak dan biaya perjalanan ke bank untuk
perpajakan menggunakan indikator sebagai melakukan penyetoran pajak. Sandford
berikut: mengelompokkan direct money cost sebagai
1. Sanksi pidana yang dikenakan bagi biaya yang timbul sebagai dari adanya sistem
pelanggar aturan pajak memberatkan. pemungutan pajak self assessment.
2. Sanksi administrasi yang dikenakan bagi Time cost adalah waktu yang terpakai
pelanggar aturan pajak memberatkan. oleh Wajib Pajak dalam melakukan
3. Pengenaan sanksi yang cukup berat pemenuhan kewajiban pajak, antara lain
merupakan salah satu sarana untuk waktu yang digunakan untuk membaca
mendidik Wajib Pajak. formulir SPT dan buku petunjuknya, waktu
4. Sanksi pajak harus dikenakan kepada yang digunakan untuk berkonsultasi dengan
pelanggarnya tanpa toleransi. akuntan atau konsultan pajak dalam mengisi
Jadi dapat disimpulkan bahwa persepsi SPT, dan waktu yang digunakan untuk pergi
atas sanksi perpajakan merupakan gambaran dan pulang ke kantor pajak.
22 TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL.1, NO.1, 2013

Psychological cost meliputi satu variabel dependen yaitu kepatuhan Wajib


ketidakpuasan, rasa frustasi, serta keresahan Pajak UMKM.
Wajib Pajak dalam berinteraksi dengan sistem Jenis dan sumber data yang digunakan
dan otoritas pajak. Pendapat senada adalah data primer melalui kuesioner yang
disampaikan oleh Sandford yang mengatakan berasal langsung dari objek penelitian.
bahwa psychological cost adalah rasa stress Populasi dari penelitian ini adalah Wajib
dan berbagai rasa takut atau cemas karena Pajak UMKM yang terdaftar di Dinas
melakukan tax evasion. Koperasi dan UMKM Jawa Timur kemudian
Biaya kepatuhan pajak merupakan biaya- ditemukan populasi sejumlah 51 Wajib Pajak
biaya yang ditanggung oleh wajib pajak UMKM. Penentuan sampel dilakukan dengan
terkait dengan pemenuhan kewajiban pajak. metode probability sampling dengan
Karena Wajib Pajak telah berusaha patuh menggunakan rumus Solvin seperti berikut:
untuk membayar pajak sesuai dengan N
ketentuan peraturan perundang-undangan n =
perpajakan yang berlaku, maka Wajib Pajak Nd + 1
berharap agar dapat mengeluarkan biaya- Dari rumus Slovin di atas ditemukan sejumlah
biaya seminimal mungkin yang terkait dengan 45 Wajib Pajak UMKM yang akan menjadi
pemenuhan kewajiban pajaknya, meliputi sampel penelitian ini.
direct money cost maupun time cost dan Unit analisis dari penelitian ini adalah
psychological cost. Namun, apabila jumlah menganalisis kepatuhan Wajib Pajak UMKM.
biaya kepatuhan pajak yang dikeluarkan lebih Instrumen penelitian ini menggunakan skala
besar daripada ekspektasi wajib pajak, maka likert 4 poin. Instrumen yang digunakan
timbul potensi dalam diri Wajib Pajak untuk untuk mengukur semua variabel berjumlah 28
menjadi tidak patuh dalam melakukan item pertanyaan. Sebelum dianalisis data diuji
pemenuhan kewajiban pajaknya. Pada validitas dan reliabilitasnya.
penelitian ini indikator untuk mengukur biaya Menurut Sugiyono (2008:3), suatu
kepatuhan pajak adalah direct money cost dan variabel dikatakan reliabel, jika memberikan
time cost. Psychological cost tidak digunakan nilai cronbach alpha > 0,60. Sedangkan
sebagai indikator karena memiliki sifat validitas dalam penelitian ini diukur dengan
berbanding terbalik dengan direct money cost menggunakan korelasi pearson product
dan time cost. moment.
Berdasarkan pernyataan sebelumnya dan Metode statistik yang digunakan untuk
penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo menguji hipotesis yang diajukan dalam
(2008) di mana hasil penelitiannya penelitian ini adalah teknik analisis regresi
menyatakan bahwa biaya kepatuhan pajak berganda dengan bantuan program SPSS 20.
berpengaruh negatif terhadap kepatuhan Model persamaan regresi dalam penelitian ini
Wajib Pajak, maka penulis merumuskan adalah sebagai berikut:
hipotesis sebagai berikut:
H0: Biaya Kepatuhan Pajak secara parsial Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + e
tidak berpengaruh signifikan terhadap
kepatuhan Wajib Pajak UMKM. Keterangan:
H3: Biaya Kepatuhan Pajak secara parsial Y = Variabel tidak bebas
berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan a = konstanta
Wajib Pajak UMKM. b = koefisien regresi linier X
X = variabel bebas
METODE PENELITIAN e = error

Desain penelitian ini adalah survey, yaitu HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
suatu penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui pengaruh kualiatas pelayanan Data dikumpulkan melalui kuesioner
petugas pajak, sanksi perpajakan dan biaya yang disebar kepada responden. Berdasarkan
kepatuhan pajak terhadap kewajiban Wajib hasil pengumpulan data menunjukkan bahwa
Pajak UMKM. kuesioner yang kembali dan layak untuk
Varibel yang digunakan dalam penelitian dianalisis sebanyak 45 kuesioner.
ini adalah tiga variabel independen yaitu Profil responden terbentuk dari hasil
kualitas pelayanan petugas pajak, sanksi tabulasi data yang dikumpulkan dan disusun
perpajakan dan biaya kepatuhan pajak serta menjadi data yang lebih terstruktur. Dari 45
23

responden diketahui sebagian besar memiliki Tabel 3. Koefisien Model Regresi


usaha perseorangan sebanyak 42 Wajib Pajak
UMKM (93,3%), sebanyak 33 (73,3%) Wajib Model B Std. Beta T Sig.
Pajak UMKM memiliki lama usaha berjalan 5- Error
10 tahun dan mayoritas menggunakan norma 1. Constant 2,129 ,628 3,391 ,002
penghitungan penghasilan neto sebanyak 33 X1 ,266 ,102 ,270 2,614 ,012
X2 ,384 ,126 ,389 3,056 ,004
responden( 73,3%) Wajib Pajak UMKM.
X3 -,422 ,127 -,427 -3,336 ,002
Gambaran profil responden dapat dilihat
pada tabel 1 sebagai berikut: a. Dependent Variable Kepatuhan Wajib Pajak UMKM
(Y)
Tabel 1. Deskriptif Profil Responden
Deskripsi Jumlah Persentase Berdasarkan tabel 3 diatas, maka model regresi
Bentuk Usaha yang diperoleh adalah sebagai berikut
- Usaha Perseorangan 42 93,3% Y = 2,129 + 0,266 X1 + 0,384 X2 0,422 X3 + e
- CV 2 4,4% Nilai konstanta sebesar 2,129 menunjukkan
- PT 1 2,2% besarnya kepatuhan Wajib Pajak UMKM, yang
Lama Usaha tidak dipengaruhi oleh kualitas pelayanan petugas
-1-5 tahun 4 8,9% pajak, sanksi perpajakan dan biaya kepatuhan
- 5-10 tahun 33 73,3% pajak. Nilai koefisien regresi kualitas pelayanan
- >10 tahun 8 17,8%
petugas pajak (X1) sebesar 0,266, artinya apabila
Metode Penghitungan PPh
- Norma Peng. Neto 33 73,3% kualitas pelayanan petugas pajak mengalami
- Pembukuan 12 26,7% peningkatan sebesar satu satuan (semakin baik),
maka akan meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak
UMKM sebesar 0,266, dengan asumsi sanksi
Tabel 2. Deskripsi Statistik perpajakan dan biaya kepatuhan pajak dalam
N Mean keadaan konstan.
X1 45 2,95 Nilai koefisien regresi sanksi perpajakan (X2)
X2 45 3,14 sebesar 0,384, artinya apabila sanksi perpajakan
X3 45 2,40 mengalami peningkatan sebesar satu satuan
Y 45 3,11 (semakin tepat), maka akan meningkatkan
Valid N (listwise) 45 kepatuhan Wajib Pajak UMKM sebesar 0,384,
dengan asumsi kualitas pelayanan petugas pajak
dan biaya kepatuhan pajak dalam keadaan
Tabel 4 menggambarkan deskripsi statistik untuk konstan
masing-masing variabel yang digunakan dalam Nilai koefisien regresi biaya kepatuhan pajak
penelitian ini. Dari table diatas menunjukkan (X3) sebesar -0,422, artinya apabila biaya
bahwa X1 yaitu kualitas pelayanan petugas pajak kepatuhan pajak mengalami peningkatan sebesar
dinilai baik oleh responden dengan rata-rata satu satuan (semakin tinggi), maka akan
sebesar 2,95. X2 yaitu sanksi perpajakan dinilai menurunkan kepatuhan Wajib Pajak UMKM
tepat pengenaannya dengan rata-rata 3,14. X3 sebesar 0,422, dengan asumsi kualitas pelayanan
yaitu biaya kepatuhan pajak dinilai rendah oleh petugas pajak dan sanksi perpajakan dalam
responden dengan rata-rata 2,40. Variabel terakhir keadaan konstan.
yaitu Y sebagai kepatuhan Wajib Pajak UMKM
tergolong cukup tinggi dengan nilai rata-rata 3,11. Tabel 4. Koefisien Determinasi
Penelitian ini telah memenuhi uji asumsi
R .769a
klasik sebagai syarat sebelum masuk ke dalam
R Square .592
tahap analisis regresi berganda. Uji asumsi klasik Adjusted R Square .562
yang telah diuji meliputi uji normalitas, uji (Constant) 2,129
multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas. Uji
asumsi klasik untuk uji autokorelasi tidak Dari Tabel 4 menunjukkan diperolehnya nilai
dilakukan pada penelitian ini karena data yang Adjusted R2 = 0,562 yang artinya variabel kualitas
diperoleh merupakan data cross section di mana pelayanan petugas pajak, sanksi perpajakan dan
menurut peneliti tidak perlu dilakukan uji biaya kepatuhan pajak dapat menerangkan
autokorelasi. variabilitas sebesar 56,2%dari variabel kepatuhan
Wajib Pajak UMKM sedangkan sisanya diterang-
kan oleh variabel lain sebesar 43,8%.
24 TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL.1, NO.1, 2013

0,384 dan bertanda positif, maka dapat dikatakan


Tabel 5. Uji Simultan bahwa apabila variabel sanksi perpajakan
ABOVAb
mengalami peningkatan 1 satuan maka
Model Sum of df Mean F Sig.
kepatuhan Wajib Pajak UMKM akan meningkat
Squares Square
1. Regression 9,492 3 3,164 19,841 .000a
sebesar 0,384 satuan dengan asumsi pengaruh
Residual 6,538 41 ,159 dari variabel kualitas pelayanan petugas pajak
Total 16,030 44 dan biaya kepatuhan pajak adalah tetap dan
a. Predictor: (Constant), Biaya Kepatuhan Pajak konstan/tidak berubah.
(X3), Kualitas Pelayanan Petugas Pajak (X1), Berdasarkan hasil pembahasan di atas pun
Sanksi Perpajakan (X2) dapat diketahui pula bahwa variabel biaya
b. Dependent variable: Kepatuhan Wajib Pajak kepatuhan pajak (X3) memiliki koefisien regresi
UMKM sebesar 0,422 dan bertanda negatif. Kesimpulan
yang dapat diambil adalah apabila variabel biaya
Tabel 5 menunjukkan hasil pengujian simultan kepatuhan pajak mengalami peningkatan 1
yang menunjukkan nilai signifikansi sebesar satuan maka kepatuhan Wajib Pajak UMKM
0,000< 0,05 yang berarti bahwa H0 ditolak. Hal ini akan menurun. Sebaliknya, apabila variabel biaya
berarti bahwa Kualitas Pelayanan Petugas Pajak, kepatuhan pajak mengalami penurunan maka
Sanksi Perpajakan dan Biaya Kepatuhan Pajak kepatuhan Wajib Pajak UMKM akan meningkat.
secara simultan berpengaruh signifikan terhadap Hal ini terjadi dengan asumsi pengaruh dari
Kepatuhan Wajib Pajak UMKM. variabel kualitas pelayanan petugas pajak dan
sanksi perpajakan adalah tetap dan konstan atau
Tabel 6. Uji Parsial
tidak berubah.
Model B Std. Beta T Sig. Walaupun akhir-akhir ini banyak sekali
Error kasus-kasus yang menjerat petugas pajak yang
1. Constant 2,129 ,628 3,391 ,002 berdampak negatif terhadap kepatuhan pajak,
X1 ,266 ,102 ,270 2,614 ,012 tetapi secara umum kualitas pelayanan yang
X2 ,384 ,126 ,389 3,056 ,004 diberikan petugas pajak semakin baik yang
X3 -,422 ,127 -,427 -3,336 ,002
ditunjukkan dalam hal pengadaan fasilitas yang
a. Dependent Variable Kepatuhan Wajib Pajak
UMKM (Y)
menunjang kenyamanan para Wajib Pajak,
misalnya penggunaan sistem informasi dan
Tabel 6 menunjukkan hasil pengujian parsial
teknologi untuk memberikan kemudahan kepada
di mana masing-masing variable bebas kualita
Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban
pelayanan petugas pajak (X1), sanksi perpajakan
pajaknya, penampilan gedung yang lebih modern
(X2) dan biaya kepatuhan pajak (X3) mempunyai
dan terkesan rapi serta pelayanan yang lebih cepat
nilai signifikansi di bawah 0,05. Hal ini
dari petugas pajak dapat meningkatkan kepuasan
menunjukkan masing-masing H0 ditolak yang
pelanggan atau dalam hal ini Wajib Pajak
berarti: 1) Kualitas pelayanan petugas pajak
sehingga berdampak terhadap kepatuhan dalam
secara parsial berpengaruh signifikan terhadap
bidang perpajakan. Penelitian yang dilakukan oleh
kepatuhan Wajib Pajak UMKM. 2) Sanksi
Andriana (2011) menunjukkan bahwa pengaruh
perpajakan secara parsial berpengaruh signifikan
kualitas pelayanan pajak berpengaruh positif
terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM. 3) Biaya
terhadap kepatuhan Wajib Pajak. Hal ini berarti
kepatuhan pajak secara parsial berpengaruh
jika kualitas pelayanan petugas pajak semakin
signifikan terhadap kepatuhan Wajib Pajak
baik maka akan berpengaruh terhadap
UMKM.
peningkatan kepatuhan Wajib Pajak UMKM.
Berdasarkan hasil pembahasan di atas dapat
Dari hasil uji parsial (uji t) diketahui bahwa
diketahui bahwa variabel kualitas pelayanan
H0 ditolak, dan membuktikan bahwa hipotesis
petugas pajak (X1) memiliki koefisien regresi
yang diajukan tentang kepatuhan Wajib Pajak
sebesar 0,266 dan bertanda positif, maka dapat
UMKM dipengaruhi oleh kualitas pelayanan
dikatakan bahwa apabila kualitas pelayanan
petugas pajak telah terbukti. Dengan demikian
petugas pajak mengalami peningkatan 1 satuan
kualitas pelayanan petugas pajak mempunyai
maka kepatuhan Wajib Pajak UMKM juga akan
peran dalam meningkatnya kepatuhan Wajib
meningkat sebesar 0,266 satuan dengan asumsi
Pajak UMKM.
pengaruh dari variabel sanksi perpajakan dan
Salah satu unsur pajak adalah bersifat
biaya kepatuhan pajak adalah tetap dan
memaksa dan dipungut berdasarkan Undang-
konstan/tidak berubah.
Undang. Undang-Undang yang mengatur
Begitu pula dengan variabel sanksi
mengenai pajak dan berlaku di Indonesia disebut
perpajakan (X2) memiliki koefisien regresi sebesar
sebagai Undang-Undang Ketentuan Umum dan
25

Tata Cara Perpajakan. Jika Wajib Pajak Pajak juga harus meluangkan waktu untuk
melanggar dari ketentuan, maka terdapat sanksi membaca petunjuk pengisian SPT, mengisinya
yang dapat dikenakan. Berdasarkan teori yang di dan mengirimkannya ke Kantor Pelayanan Pajak,
ungkapkan Nugroho (2006), Wajib Pajak akan Wajib Pajak juga dibebani pikiran takut kalau-
mematuhi kewajiban perpajakannya dengan kalau pemahamannya atas peraturan perpajakan
memandang sanksi perpajakan yang ada lebih berbeda dengan pemahaman petugas pajak
banyak merugikan Wajib Pajak. kemudian dituduh melakukan tax evasion.
Membayar pajak merupakan suatu Menurut Prasetyo (2008), besarnya biaya-
kewajiban bagi warga negara dalam rangka ikut biaya yang harus dikeluarkan Wajib Pajak dalam
membiayai pembangunan guna mewujudkan menyelenggarakan kewajiban perpajakannya,
kesejahteraan bersama. Menurut Soekanto dalam akan turut menentukan tingkat kepatuhan
Kusumo (2009), bagi warga negara yang telah perpajakan. Hasil penelitian Prasetyo (2008)
mempunyai tingkat kesadaran hukum yang tinggi menunjukkan hasil bahwa biaya kepatuhan pajak
dalam arti telah berperilaku sesuai dengan hukum berpengaruh negatif terhadap kepatuhan Wajib
atau mengerti fungsi pajak, mengerti dampak Pajak, di mana jika biaya kepatuhan pajak yang
pajak baik terhadap masyarakat maupun ditanggung oleh Wajib Pajak semakin besar maka
individu, akan dengan suka rela dan disiplin tingkat kepatuhannya akan menurun. Dari hasil
membayar pajak tanpa adanya paksaan. Tetapi uji parsial (uji t) diketahui bahwa H0 ditolak, dan
orang yang demikian tidak banyak, menurut membuktikan bahwa hipotesis yang diajukan
Kelman dalam Kusumo (2009), motif orang taat tentang kepatuhan Wajib Pajak UMKM
terhadap aturan pajak atau mau membayar pajak dipengaruhi oleh biaya kepatuhan pajak telah
adalah salah satunya yaitu takut dihukum. terbukti. Dengan demikian biaya kepatuhan pajak
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh mempunyai peran dalam meningkatnya
Muliary dan Ery (2006) menunjukkan persepsi kepatuhan Wajib Pajak UMKM.
tentang sanksi perpajakan yang berpengaruh
positif terhadap kepatuhan pelaporan Wajib Pajak
orang pribadi. Hal ini berarti jika persepsi Wajib KESIMPULAN
Pajak terhadap sanksi yang akan dikenakan
kepada dirinya semakin berat maka akan Bukti-bukti empiris yang diperoleh maka
berpengaruh terhadap peningkatan kepatuhan dapat disimpulkan bahwa: 1) Pada pengujian
Wajib Pajak UMKM. asumsi klasik dapat disimpulkan bahwa model
Dari hasil uji parsial (uji t) diketahui bahwa regresi telah bebas dari masalah multikolinieritas,
H0 ditolak, dan membuktikan bahwa hipotesis heteroskedastisitas, autokorelasi, dan telah
yang diajukan tentang kepatuhan Wajib Pajak memenuhi syarat asumsi normalitas. 2)
UMKM dipengaruhi oleh sanksi perpajakan telah Berdasarkan hasil koefisien determinasi (Adjusted
terbukti. Dengan demikian adanya pengenaan R Square ) yaitu 56,2% kepatuhan Wajib Pajak
sanksi perpajakan terhadap Wajib Pajak UMKM UMKM dapat dijelaskan oleh variabel kualitas
yang melanggar ketentuan yang berlaku pelayanan petugas pajak, sanksi perpajakan dan
mempunyai peran dalam meningkatnya biaya kepatuhan pajak. Sedangkan sisanya 43,8%
kepatuhan Wajib Pajak UMKM. kepatuhan Wajib Pajak UMKM dijelaskan oleh
Kompleksitas peraturan perpajakan ternyata sebab-sebab yang lain. 3) Dari penelitian ini dapat
menimbulkan tingginya biaya yang harus dipikul ditarik kesimpulan bahwa dari uji simultan (uji F)
oleh seorang Wajib Pajak untuk memenuhi diperoleh hasil kualitas pelayanan petugas pajak
kewajiban perpajakannya. Di samping membayar yang diukur dengan 5 dimensi yaitu tangibles,
pajak yang terutang, Wajib Pajak juga reliability, responsiveness, assurance dan empathy,
mengeluarkan sejumlah biaya-biaya untuk dapat sanksi perpajakan yang diukur dengan persepsi
menyelenggarakan kewajiban perpajakannya Wajib Pajak UMKM terhadap pengenaan sanksi
dengan baik. Biaya-biaya tersebut disebut dengan perpajakan dan biaya kepatuhan pajak yang
biaya kepatuhan pajak yang terdiri dari direct diukur dengan direct money cost dan time cost
money cost, time cost dan psychological cost. secara simultan berpengaruh signifikan
Kenyataannya compliance cost begitu kepatuhan Wajib Pajak UMKM. 4) Dari penelitian
memberatkan dan menghambat Wajib Pajak. ini dapat ditarik kesimpulan bahwa dari uji parsial
Dalam memenuhi kewajiban perpajakan, Wajib (uji T) diperoleh hasil kualitas pelayanan petugas
Pajak harus mengeluarkan uang selain untuk pajak secara parsial berpengaruh signifikan
membayar pajak terutang, minimal untuk biaya terhadap peningkatan kepatuhan Wajib Pajak
perjalanan dan administrasi ke bank atau kantor UMKM. 5) Dari penelitian ini dapat ditarik
pos untuk melakukan penyetoran, selain itu Wajib kesimpulan bahwa dari uji parsial (uji t) diperoleh
26 TAX & ACCOUNTING REVIEW, VOL.1, NO.1, 2013

hasil sanksi perpajakan secara parsial Jumlah tersebut tidak dapat mencerminkan
berpengaruh signifikan terhadap peningkatan keseluruhan jumlah Wajib Pajak UMKM yang
kepatuhan Wajib Pajak UMKM. 6) Dari penelitian ada di Surabaya yang tidak peneliti ketahui.
ini dapat ditarik kesimpulan bahwa dari uji parsial
(uji t) diperoleh hasil biaya kepatuhan pajak secara DAFTAR PUSTAKA
parsial berpengaruh signifikan terhadap
peningkatan kepatuhan Wajib Pajak UMKM. Andriana, Ateng. (2011). Analisis Atas Penerapan
Self Assessment System dan Kualitas
Keterbatasan dan Saran untuk Penelitian Pelayanan Pajak terhadap Peningkatan
Selanjutnya Kepatuhan Formal Wajib Pajak pada KPP
Saran yang dapat peneliti berikan setelah Pratama Kota Bandung.
melakukan analisis dari penelitian ini adalah Bungin, Burhan, (2001). Metodologi Penelitian
pertama, diketahui bahwa biaya kepatuhan pajak Kuantitatif. Jakarta: PT Raja Grapindo
berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan Wajib Persada.
Pajak UMKM serta paling dominan pengaruhnya, Gardina, Trisia dan Haryanto Dedy. (2006).
maka diharapkan para petugas pajak berupaya Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
lebih maksimal dalam rangka meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak. Modus Vol. 18, No. 1:
kepatuhan Wajib Pajak UMKM. Salah satu 10-28
contohnya adalah dengan melakukan kebijakan- Gunadi. (2005). Fungsi Pemeriksaan Terhadap
kebijakan yang mampu meminimalisasi tingkat Peningkatan Kepatuhan Pajak (Tax
pembayaran atau pengeluaran biaya kepatuhan Compliance). Jurnal Perpajakan Indonesia
pajak yang ditanggung oleh Wajib Pajak UMKM Vol. 4, No.5: 4-9.
pembenahan teknologi dalam sistem administrasi Ghozali, Imam. (2009). Aplikasi Analisis
pajak yang memudahkan Wajib Pajak UMKM Multivariate Dengan Program SPSS. Edisi
dalam melakukan pemenuhan kewajiban Keempat, Penerbit Universitas Diponegoro.
perpajakannya. Karsimiati. (2009). Pengaruh Pelayanan Fiskus,
Sanksi Denda dan Kesadaran Perpajakan
Kedua, kualitas pelayanan petugas pajak
Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam
yang dinilai paling buruk oleh Wajib Pajak UMKM
Membayar PBB di Kecamatan Gabus-Pati.
dalam penelitian ini adalah kebersihan dan
Muliari, Ni Ketut dan Putu Ery Setiawan. (2011).
kenyamanan gedung KPP yang merupakan
Pengaruh Persepsi Tentang Sanksi
dimensi dari tangible sehingga petugas pajak
Perpajakan dan Kesadaran Wajib Pajak
dapat lebih meningkatkan bukti fisik dari kualitas
Pada Kepatuhan Pelaporan Wajib Pajak
jasa, penambahan fasilitas yang digunakan seperti
Orang Pribadi di KPP Denpasar Timur.
AC, sofa dan TV, representasi fisik dan jasa, Jurnal akuntasi bisnis Vol.6.1-Jan 2011
perluasan ruangan KPP, serta lebih menjaga Nugroho, Agus. (2006). Pengaruh Sikap Wajib
kebersihan lingkungan KPP. Pajak pada Pelaksanaan Sanksi Denda,
Ketiga, Direktorat Jenderal Pajak Pelayanan Fiskus dan Kesadaran Perpajakan
diharapkan dapat melaksanakan penegakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi
sanksi pajak sesuai dengan aturan perpajakan Empiris terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi
yang berlaku agar Wajib Pajak UMKM patuh di Kota Semarang). Tesis Magister Akuntansi
dalam melaporkan kewajiban perpajakannya. Program Pascasarjana Universitas
Penelitian ini mempunyai beberapa keter- Diponegoro.
batasan yang sekaligus merupakan implikasi Prasetyo, Ardinur. (2008). Pengaruh Uniformity
untuk penelitian selanjutnya: dan Kesamaan Persepsi serta Ukuran
a. Penelitian ini menggunakan 3 (tiga) variabel Perusahaan Terhadap Kepatuhan Pajak
independen, yaitu kualitas pelayanan petugas (Meminimalisasi Biaya Kepatuhan Pajak
pajak, sanksi perpajakan dan biaya kepatuhan pada Perusahaan Masuk Bursa.
pajak. Oleh karena itu diharapkan pada Rahayu, Siti Kurnia. (2010). Perpajakan Indonesia.
penelitian selanjutnya dapat dilakukan Yogyakarta: Edisi Pertama Graha Ilmu.
pengujian terhadap lebih banyak variabel Risnawati, (2009). Pengaruh Kualitas Pelayanan
independen sehingga semakin diketahui factor- Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak
faktor yang mempengaruhi kepatuhan Wajib Penghasilan Orang Pribadi. Jurnal Ekonomi
Pajak UMKM. dan Informatika.
b. Dalam penelitian ini, populasi penelitian yang Sartika dan Rini. (2009). Pengaruh Kecerdasan
digunakan adalah Wajib Pajak yang terdaftar Spiritual, Kinerja Pelayanan Pajak dan
di Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Timur Ketegasan Sanksi Perpajakan Terhadap
dimana berjumlah 51 Wajib Pajak UMKM.
27

Kewajiban Perpajakannya. UIN Syarif


Hidayatullah. Jakarta
Siti Kurnia Rahayu. 2009. Perpajakan Indonesia:
Konsep dan Aspek Formal. Graha Ilmu:
Yogyakarta.
Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D. Bandung Alfabeta.
Supriyati dan Nurhidayati, 2008. Pengaruh
Pengetahuan Pajak Dan Persepsi Wajib Pajak
Terhadap Kepatuhan Pajak. Jurnal
Akuntansi Dan Teknologi Informasi, Vol. 7
No. 1.
Republik Indonesia. 2007. Undang-Undang No. 28
Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan
Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang No. 20
Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah
Yadnyana, I Ketut. 2009. Pengaruh Moral dan
Sikap Wajib Pajak pada Kepatuhan Wajib
Pajak Koperasi di Kota Denpasar. Denpasar:
Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.
Zain, Mohammad, 2004. Manajemen Perpajakan,
Salemba Empat, Jakarta.