Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini banyak sekali penyakit yang baru pada saluran pernafasan dan
penyebabnya bermacam-macam, ada di sebabkan oleh virus, bakteri, dan lain sebagainya.
Dengan penomena ini harus menjadi perhatian bagi kita semua. Salah satu penyakit pada
saluran pernafasan adalah pneumonia. Penyakit Pneumonia sering kali diderita sebagian
besar orang yang lanjut usia (lansia) dan mereka yang memiliki penyakit kronik sebagai
akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh (Imun), akan tetapi Pneumonia juga bisa
menyerang kaula muda yang bertubuh sehat. Saat ini didunia penyakit Pneumonia
dilaporkan telah menjadi penyakit utama di kalangan kanak-kanak dan merupakan satu
penyakit serius yang meragut nyawa beribu-ribu warga tua setiap tahun. (Jeremy, dkk,
2007, Hal 76-78)
Penanggulangan penyakit Pnemonia menjadi fokus kegiatan program P2ISPA
(Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Program ini mengupayakan
agar istilah Pnemonia lebih dikenal masyarakat, sehingga memudahkan kegiatan
penyuluhan dan penyebaran informasi tentang penanggulangan Pnemonia. Program
P2ISPA mengklasifikasikan penderita kedalam 2 kelompok usia.
Usia dibawah 2 bulan (Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia) Usia 2 bulan sampai
kurang dari 5 tahun (2 bulan - Pnemonia, Pnemonia Berat dan Bukan Pnemonia ).
Klasifikasi Bukan-pnemonia mencakup kelompok balita penderita batuk yang tidak
menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya
penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Penyakit ISPA diluar pnemonia ini
antara lain: batuk-pilek biasa (common cold), pharyngitis, tonsilitis dan otitis.
Pharyngitis, tonsilitis dan otitis, tidak termasuk penyakit yang tercakup dalam program
ini.
Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka kematiannya
tinggi, tidak saja dinegara berkembang, tapi juga di negara maju seperti AS, Kanada dan
negara-negara Eropah. Di AS misalnya, terdapat dua juta sampai tiga juta kasus
pneumonia per tahun dengan jumlah kematian rata-rata 45.000 orang (S. A. Price, 2005,
Hal 804-814).

1
Di Indonesia, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah
kardiovaskuler dan tuberkulosis. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka
kematian. Gejala Pneumonia adalah demam, sesak napas, napas dan nadi cepat, dahak
berwarna kehijauan atau seperti karet, serta gambaran hasil ronsen memperlihatkan
kepadatan pada bagian paru. Kepadatan terjadi karena paru dipenuhi sel radang dan
cairan yang sebenarnya merupakan reaksi tubuh untuk mematikan luman. Tapi akibatnya
fungsi paru terganggu, penderita mengalami kesulitan bernapas, karena tak tersisa ruang
untuk oksigen. Pneumonia yang ada di masyarakat umumnya, disebabkan oleh bakteri,
virus atau mikoplasma ( bentuk peralihan antara bakteri dan virus ). Bakteri yang umum
adalah streptococcus Pneumoniae, Staphylococcus Aureus, Klebsiella Sp, Pseudomonas
sp,vIrus misalnya virus influensa(Jeremy, dkk, 2007, Hal 76-78)
Dari uraian di atas, maka kelompok tertarik untuk membahas tentang Asuhan
keperawatan pada klien dengan Pneumonia

1.2 Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk mempelajari tentang asuhan keperawatan pada klien dengan pneumonia.
1.2.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui konsep dasar teoritis penyakit pneumonia.
2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada klien dengan
pneumonia, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, dan intervensi.
3. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan pneumonia, yang
meliputi ppengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementsi, dan
evaluasi.
1.3 Manfaat
1. Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan dan keterampilan kelompok
dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan pneumonia.
2. Menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca.
3. Sebagai sumber referensi bagi pembaca mengenai Pneumonia.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP DASAR
2.1 Pengertian
Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai
parenkim paru. Menurut anatomis, pneumonia pada anak dibedakan menjadi pneumonia
lobaris, pneumonia interstiasialis dan bronkopneumonia (Arif mansjoer, 2001, Hal 446 ).
Pneumonia adalah proses inflamatori parenkim paru yang umumnya disebabkan
oleh agen infeksius. Pneumonia adalah penyakit infeksius yang sering mengakibatkan
kematian. Pneumonia disebabkan terapi radiasi, bahan kimia dan aspirasi. Pneumonia
radiasi dapat menyartai terapi radiasi untuk kanker payudara dan paru, biasanya enam
minggu atau lebih setelah pengobatan sesesai. Pneoumalitiis kimiawi atau pneumonia
terjadi setelah menjadi kerosin atau inhalasi gas yang mengiritasi. Jika suatu bagian
substasial dari suatu lobus atau yang terkenal dengan penyakit ini disebut pneumonia
lobaris (Jeremy, dkk, 2007, Hal 76-78).
Pneumonia adalah peradangan akut parenkim paru yang biasanya berasal dari suatu
infeksi. ( S. A. Frice. 2005, Hal 804)
2.2 Etiologi
Penyebab Pneumonia adalah streptococus pneumonia dan haemophillus
influenzae. Pada bayi dan anak kecil ditemukan staphylococcus aureus sebagai penyebab
pneumonia yang berat, dan sangat profesif dengan mortalitas tinggi. (Arif mansjoer, dkk,
Hal 466)
a. Bakteri: stapilokokus, streplokokus, aeruginosa, eneterobacter
b. Virus: virus influenza, adenovirus
c. Micoplasma pneumonia
2.3 Patofisiologi
Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa
mekanisme yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius
difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di
saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan
berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan

3
humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal
yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organisme-
organisme infeksius lainnya.
Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah
mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun
didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami
aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa
faktor-faktor predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat mencapai paru melalui
perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. Ini paling sering terjadi
akibat virus pada saluran napas bagian atas.
Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan
pneumonia virus. Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap
mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi
saluran napas bagian bawah.
Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi
di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain
melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus (
contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus Epstein-Barr, virus herpes simpleks )
dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau
bakteremia/viremia generalisata. Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan
respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi
leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di
alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma,
dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada
struktur submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam
saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis (S. A. Price, 2005, Hal 804-814).
2.4 Manifestasi Klinik
Secara umum dapat di bagi menjadi( Arif mansjoer, dkk, 2001, Hal 466):
a. Manifestasi non spesifik infeksi dan toksisitas berupa demam (39,5 C sampai 40,5
C). , sakit kepala, iritabel, gelisah, malaise, nafsu makan kurang keluhan
gastrointestinal.

4
b. Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipnuea (25 45 kali/menit),
ekspektorasi sputum, nafas cuping hidung, sesak napas, air hinger, merintih, sianosis.
Anak yang lebih besar dengan pneumonia akan lebih suka berbaring pada sisi yang
sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada.
c. Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bawah kedalam saat
bernapas bersama dengan peningkatan frekuensi napas), perkusi pekak, fremitus
melemah, suara napas melemah, dan ronki.
d. Tanda efusi pleura atau empiema, berupa gerak ekskusi dada tertinggal di daerah
efusi, perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, suara napas tubuler
tepat di atas batas cairan, friction rup, nyeri dada karena iritasi pleura (nyeri bekurang
bila efusi bertambah dan berubah menjadi nyeri tumpul), kaku duduk / meningimus
(iritasi menigen tanpa inflamasi) bila terdaat iritasi pleura lobus atas, nyeri abdomen
(kadang terjadi bila iritasi mengenai diafragma pada pneumonia lobus kanan bawah).
e. Pada neonatus dan bayi kecil tanda pneumonia tidak selalu jelas. Efusi pleura pada
bayi akan menimbulkan pekak perkusi.
f. Tanda infeksi ekstrapulmonal.
2.5 Pemeriksaan Penunjang
1. Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat juga
menyatakan abses) luas /infiltrasi, empiema (stapilococcos), infiltrasi menyebar atau
terlokalisasi (bakterial), atau penyebaran/perluasan infiltrasi nodul (lebih sering
virus). Pada pneumonia mikoplasma, sinar x dada mungkin bersih.
2. GDA/nadi oksimetris : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas paru yang
terlibat dan penyakit paru yang ada.
3. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat diambil biosi jarum,
aspirasi transtrakea, bronkoskofi fiberobtik atau biosi pembukaan paru untuk
mengatasi organisme penyebeb. Lebih dari satu organise ada : bekteri yang umum
meliputi diplococcos pneumonia, stapilococcos, aures A.-hemolik strepcoccos,
hemophlus influenza : CMV. Catatan : keluar sekutum tak dapat di identifikasikan
semua organisme yang ada. Kultur darah dapat menunjukan bakteremia semtara

5
4. JDL : leokositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada infeksi
virus, kondisi tekanan imun seperti AIDS, memungkinkan berkembangnya
pneumonia bakterial.
5. Pemeriksaan serologi: mis, titer virus atau legionella,aglutinin dingin. membantu
dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
6. Pemeriksaan fungsi paru: volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar);
tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain. Mungkin terjadi perembesan
(hipoksemia)
7. Elektrolit : Natrium dan Klorida mungkin rendah
8. Bilirubin : Mungkin meningkat.
9. Aspirasi perkutan / biopsi jaringan paru terbuka : dapat menyatakan jaringan intra
nuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMP ; kareteristik sel rekayasa(rubela))
(Marlyn E. Dongoes, 1999, ASKEP, Hal 164-174)
2.6 Komplikasi Pneumonia
Abses kulit, abses jaringan lunak, otitis media, sinus sitis, meningitis pururental,
perikarditis dan epiglotis kaang ditemukan pada infeksi H. Influenzae tipe B. (Arif
mansjoer, 2001, Hal 467)
2.7 Therapy/ Pengobatan
Kebanyakan kasus pneumonia dapat diobati tanpa di rawat inap. Biasanya
antibiotik oral, istirahat, cairan dan perawatan yang cukup di rumah untuk resolusi
lengkap. Namun , orang dengan pneumonia yang mengalami kesulitan bernafas , dan
masalah medis lainnya dan orang tua yang mungkin membuuhkan pengobatan yang lebih
lanjut. Jika gejala memburuk, pneumonia idak akan membaik dengan penggunaan
pengobatan rumah atau komplikasi terjadi , seseorang akan sering dirawat di rumah sakit.

6
2.8 WOC

7
B. ASKEP TEORITIS
3.1 Pengkajian
1. Identitas Klien
Lakukan pengkajian pada identitas pasien dan isi identitasnya, yang meliputi:
nama, jenis kelamin, suku bangsa, tanggal lahir, alamat, agama, tanggal pengkajian.
2. Keluhan Utama
Sering menjadi alasaan klein untuk meminta pertolongan kesehatan adalah Sesak
napas, batuk berdahak, demam, sakit kepala, ny dan kelemahan
3. Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
Penderita pneumonia menampakkan gejala nyeri, sesak napas, batuk dengan
dahak yang kental dan sulit dikeluarkan, badan lemah, ujung jari terasa dingin.
4. Riwayat Kesehatan Terdahulu (RKD)
Penyakit yang pernah dialami oleh pasien sebelum masuk rumah sakit,
kemungkinan pasien pernah menderita penyakit sebelumnya seperti : asthma, alergi
terhadap makanan, debu, TB dan riwayat merokok
5. Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK)
Riwayat adanya penyakit pneumonia pada anggota keluarga yang lain seperti :
TB, Asthma, ISPA dan lain-lain.
6. Data Dasar pengkajian pasien
a. Aktivitas/istirahat
Gejala :kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda :letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
b. Sirkulasi
Gejala :riwayat adanya /GJK kronis
Tanda :takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat
c. Makanan/cairan
Gejala :kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
Tanda :sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan
kakeksia (malnutrisi), hiperaktif bunyi usus.

8
d. Neurosensori
Gejala :sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda :perubahan mental (bingung, somnolen)
e. Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia,
artralgia, nyeri dada substernal (influenza).
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk
membatasi gerakan).
f. Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea
Takipnue, dispnenia progresif, pernapasan dangkal, penggunaan
otot aksesori, pelebaran nasal.
Tanda :
Sputum: merah muda, berkarat atau purulen.
Perkusi: pekak datar area yang konsolidasi.
Premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
Gesekan friksi pleural.
Bunyi nafas menurun tidak ada lagi area yang terlibat, atau napas bronkial.
Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku.
g. Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun, misal SLE,AIDS, penggunaan
steroid, kemoterapi, institusionalitasi, ketidak mampuan umum,
demam. Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar,
kemerahan mungkin ada pada kasus rubeola, atau varisela.
h. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
Pertimbangan DRG menunjukkan rerata lama - lama dirawat 6 8
hari Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas
pemeliharaan rumah. Oksigen mungkin diperlukan, bila ada
kondisi pencetus.

9
i. Pemeriksaan Penunjang
a. Sinar X: mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial);
dapat juga menyatakan abses) luas /infiltrasi, empiema (stapilococcos),
infiltrasi menyebar atau terlokalisasi (bakterial), atau penyebaran/perluasan
infiltrasi nodul (lebih sering virus). Pada pneumonia mikoplasma, sinar x dada
mungkin bersih.
b. GDA/nadi oksimetris : tidak normal mungkin terjadi, tergantung pada luas
paru yang terlibat dan penyakit paru yang ada.
c. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat diambil biosi jarum,
aspirasi transtrakea,bronkoskofi fiberobtik atau biosi pembukaan paru untuk
mengatasi organisme penyebeb. Lebih dari satu organise ada : bekteri yang
umum meliputi diplococcos pneumonia, stapilococcos, aures A.-hemolik
strepcoccos, hemophlus influenza : CMV. Catatan : keluar sekutum tak dapat
di identifikasikan semua organisme yang ada. Kultur darah dapat menunjukan
bakteremia semtara
d. JDL : leokositosis biasanya ada, meskipun sel darah putih rendah terjadi pada
infeksi virus, kondisi tekanan imun seperti AIDS, memungkinkan
berkembangnya pneumonia bakterial.
e. Pemeriksaan serologi: mis, titer virus atau legionella,aglutinin dingin.
membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
f. Pemeriksaan fungsi paru: volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps
alveolar); tekanan jalan nafas mungkin meningkat dan komplain. Mungkin
terjadi perembesan (hipoksemia)
g. Elektrolit : Natrium dan Klorida mungkin rendah
h. Bilirubin : Mungkin meningkat.
i. Aspirasi perkutan / biopsi jaringan paru terbuka : dapat menyatakan jaringan
intra nuklear tipikal dan keterlibatan sitoplasmik (CMP ; kareteristik sel
rekayasa (rubela) )
j. (Marlyn E. Dongoes, 1999, ASKEP, Hal 164-174)

10
j. Proritas Keperawatan
a. Mempertahankan/memperbaiki fungsi pernafasan
b. Mencegah komplikasi
c. Mendukung proses penyembuhan
d. Memberikan informasi tentang proses penyakit/prognosis dan pengobatan.

C. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul


1. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial,
pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen
darah.
3. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk menetap.
4. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan
kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.

11
BAB III
TINJAUAN KASUS

PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Identitas Klien:
Nama : Tn. H
Umur : 1 tahun
Agama :
Jenis kelamin : Laki laki
Status : Menikah
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Pedagang
Suku/bangsa : Minang/ Indonesia
Alamat : Ketaping
Tanggal masuk RS : 29 Mei 2014
Tanggal Pengkajian : 2 Juni 2014
No.Register : 25.01.24
Diagnosa medis : Pneumonia
b. Ientitas Penanggung Jawab
Nama/Umur : Tn.S
Umur : 20 tahun
Hub.Dengan Pasien : Anak
Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Ketaping
2. Status Kesehatan
A. Status kesehatan saat ini
a. Keluhan utama ( masuk RS)
Klien masuk pada tanggal 29 Mei.2014, jam 23.00 wib dengan keluhan
batuk berdahak dan sesak napas.
b. Alasan masuk rumah sakit

12
Klien mengatakan masuk ke rumah sakit karena sudah tidak tahan dengan
penyakitnya
c. Upaya untuk mengatasinya
Klien mengatakan upaya saat dirumah adalah memberi minyak angin pada
daerah dada dan meminum obat batuk yang dijual di pasar.
d. Keluhan saat dilakukan pengkajian
Klien mengatakan sesak nafas dan batuk
B. Status kesehatan masa lalu
a. Penyakit yang pernah dialami
Klien mengatakan penyakit yang pernah dialaminya adalah penyakit biasa
seperti demam batuk , flu
b. Pernah dirawat
Klien mengatakan belum pernah dirawat
c. Alergi
Klien mengatakan tidah punya alergi
d. Kebiasaan
Klien mengatakan suka merokok , minum kopi
e. Obat yang dikonsumsi
Klien mengatakan jika sakit bisanya minum obat batuk di pasar dan jika
pusing minum paramek
C. Status kesehatan keluarga
Klien mengatakan tidak ada riwayat pneumonia
3. Data biologis
a. Pola nutrisi dan metabolisme
1. Makan
a. Sebelum sakit
Klien mengatakan makan 3 kali sehari dengan nasi lauk dan sayur dan
memakan makanan yang tersedia.
b. Saat sakit
Klien mengatakan hanya memakan makanan yang disediakan rumah sakit
dan tudak menghabiskannya

13
2. Minum
a. Sebelum sakit
Klien minum air 6- 7 gelas per hari
b. Saat sakit
Klien hanya ninum air 2-4 gelas per hari
3. Pola Eliminasi
a. BAB
Frekuensi : 1x 2 hari Waktu : Pagi
Warna : Kuning Konsistensi : Lembek
Kesulitan (diare, konstipasi, inkontinensia) : Tidak ada
b. BAK
Frekuensi : 2X sehari Warna : pagi dan sore hari
Kesulitan (disuria, nokturia, hematuria, retensi inkontinensia):Tidak ada
Alat bantu (kateter intermitten, indwelling, kateter eksternal): tidak ada
4. Pola istirahat dan tidur
Lama tidur : 7 jam/malam
Waktu : 21.00 WIB
Masalah tidur (insomnia, terbangun dini, mimpi buruk): Insomnia
5. Aktifitas dan latihan

Kegiatan/aktivitas 0 1 2 3 4
Makan/minum
Mandi
Toileting
Berpindah
Berjalan

6. Pola Kognitif Dan Persepsi

14
- Status mental (sadar/tidak, orientasi baik/tidak) : orientasi baik
- Bicara : Normal ()
- Kemampuan berkomunikasi : Ya ( ),
- Kemampuan memahami : Ya ( )
- Pendengaran : DBN ( )
- Penglihatan (DBN, buta, katarak, kacamata, lensa kontak, dll) : DBN
- Vertigo : Ada
- Ketidak nyamanan/nyeri : Pasien mengalami nyeri akut pada daerah dada
- Penatalaksanaan nyeri : Pasien beristirahat untuk mengurangi nyeri
7. Persepsei Diri Dan Konsep Diri
- Perasaan klien tentang masalah kesehatan ini : Pasien merasa tidak nyaman

8. Pola Peran Hubungan


- Sistem pendukung : pasangan ( )
- Masalah keluarga berkenaan dengan perawatan di RS : Tidak ada
9. Pola koping dan toleransi stress
- Hal yang dilakukan saat ada masalah (sumber koping) : pasien bersifat
terbuka terhadap masalahnya
- Penggunaan obat untuk menghilangkan stress : tidak ada
- keadaan emosi dalam sehari-hari (santai/tegang) : tegang
11. Keyakinan agama dalam kehidupan
- Agama : Pasien beragama Islam
- Pengaruh agama dalam kehidupan : Pasien beranggapan bahwa
penyakit yang dideitanya adalah cobaan.

4. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Sedang
b. TTV :
- TD : 130 / 90 mmHg
- ND : 120 x / i
- RR : 32 x / i

15
- S : 39 C

c. Sistem integumen (kulit) : turgor kulit buruk (tidak elastis) dan pucat
d. Kepala : Simestris dan rambut warna hitam, tidak ada ketmbe, bersih.
e. Mata : DBN, konjuntiva tidak anemis,ukuran pupil normal.
f. Telinga : DBN
g. Kuku : Kuku pucat dan sedikit sinosis
h. Hidung : Pernapasan cuping hidung
i. Mulut : Mukosa bibir kering dan pucat
j. Thorak /paru
- Inspek : RR : 32x/i, penggunaan otot bantu pernapasan (+), takipnea
(+),dispnea (+),pernapasan dangkal, dan rektrasi dinding dada tidak ada.
- Palpasi : fremitus menurun pada kedua paru
- Perkusi : redup
- Auskultrasi : bunyi napas bronkial, krekels (+),stridor (+).

16
3. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1. DS:
Klien mengatakan batuk berdahak Inflamasi trakeo bronkial Bersihan Jalan
dan sesak napas dan farenkim paru, nafas tidak efektif
Klien mengatakan batuk dengan pembentukkan edema
dahak yang kental dan sulit untuk dan peningkatan produksi
dikeluarkan sputum.
Klien mengatakan dahaknya terasa
lengket di tengorokkan
Klien Mengatakan Kesulitan
bernapas
DO:
Klien tampak kesulitan bernapas
TTV:
TD: 130/90 mmHg
N : 12X/i
RR : 32x /i
Pernafasan Cuping Hidung
Pernafasan dangkal
Penggunaan otot bantu pernafasan
Perfusi paru redup
Premetus menurun pada kedua paru
Bunyi nafas bronkial

2. DS:
Klien mengatakan nyeri dada Inflamasi parenkim paru, Nyeri
Klien mengatakan sakit kepala reaksi seluler terhadap
Klien mengatakan sendi nyeri sirkulasi toksin dan batuk
DO: menetap.

17
Klien tampak gelisah
Klien tampak meringis kesakitan
akibat nyeri
Klien tampak memegang di daerah
dada dan melindungi daerah yang
sakit
3. DS:
Klien mengatakan batuk berdahak Anoreksia, akibat toksin Perubahan nutrisi
Klien mengatakan dahaknya terasa bakteri, bau dan rasa kurang dari
lengket ditenggorokkan sputum kebutuhan tubuh
Klien mengatakan tidak nafsu makan
dan hanya mampu menghabiskan
porsi setiap kali makan (pagi,siang
dan malam)
Klien mengatakan mual
Klien mengatakan lemah
DO:
Klien tampak mengeluarkan sputum
saat batuk
Klien tampak lemah
Klien tampak hanya mampu
mengabiskan makanan porsi setiap
kali makan
Kulit klien tampak kering
Turgor kulit buruk
Mukosa bibir klien kering

18
4. Diagnosa Keperawatan Yang Muncul
1. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial, peningkatan
produksi sputum
2. Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin
dan batuk menetap.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, akibat toksin
bakteri, bau dan rasa sputum

5. Asuhan Keperwatan (Nurse Care Planing / NCP)


No Diagnosa Tujuan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan
1. Bersihan jalan Setelah - Batuk efektif
nafas tak dilakukan - Nafas normal Kaji frekuensi / Takipnue pernafasan
efektif intervensi - Bunyi nafas bersih kedalaman dangkal dan gerakan
berhubungan keperawata- Sianosis pernapasan dan dada tak simetris
dengan n selama 3 gerakan dada. sering terjadi karena
inflamasi x 24 jam, ketidak nyamanan.
trachea diharapkan Simetris yang sering
bronchial, jalan nafas terjadi karena ketidak
peningkatan kembali nyamanan gerakan
produksi efektif dinding dada dan/ atau
sputum cairan paru.
Auskultasi area Penurunan aliran udara
paru, catat area terjadi pada area
penurunan/tak ada konsolidasi dengan
aliran udara dan cairan. Bunyi napas
bunyi napas bronkial (normal pada
adventisius, mis, bronkus) dapat juga
krekels, mengi terjadi pada area
stridor. konsilidasi. Krekel,
ronki, dan mengi

19
terdengar pada
inspirasi dan/atau
ekpirasi pada respon
terhadap pengumpulan
cairan, sekret kental,
dan spesme jalan
napas/obstruksi.
Bantu pasien latih Merangsang batuk atau
napas sering pembersihan nafas
Tunjukan/bantu secara mekanik pada
pasien pasien yang tidak
mempelajari mampu melakukan
melakukan batuk, karena batuk tak
mis., menekan efektif atau penurunan
dada dan batuk tingkat kesadaran.
efektif sementara
posisi duduk
tinggi.
Penghisapan Cairan memobilisasi
sesuai indikasi. dan mengeluarkan
sekret
Berikan cairan Cairan memobilisasi
paling sedikit dan mengeluarkan
2500 ml/hari sekret.
(Kecuali kontra
indikasi).

20
2. Nyeri Nyeri Dispenea dan Tentukan Nyeri dada biasanya
berhubungan berhubunga takipnea tidak ada karakteristik nyeri, ada dalam beberapa
dengan n dengan
o Kesulitan bernafas misalnya : tajam, derajat pada
inflamasi inflamasi tidak ada konstan, selidiki peneumonia,juga dapat
parenkim paru, parenkim Akral hangat perubahan timbul komplikasi
reaksi seluler paru, reaksi sianosis karakter / lokasi pneumonia seperti
terhadap seluler Gelisah tidak ada nyeri dan ditusuk. perikarditis dan
sirkulasi toksin terhadap Penurunan indokarditis.
dan batuk sirkulasi kesadaran tidak Pantau tanda vital. perubahan frekuensi
menetap. toksin dan ada jantung atau TD
batuk o Pucat dan sianosis menunjukkan bahwa
menetap. tidak ada pasien mengalami
o nyeri, khususnya bila
alasan lain untuk
perubahan tanda vital
telah terlihat.
Berikan tindakan tindakan non analgesik
nyaman misalnya, diberikan dengan
pijatan punggung, sentuhan lembut dapat
perubahan posisi, menghilangkan ketidak
musik tenang, nyamanan dan
relaksasi atau memperbesar efek
latihan napas. terapi analgesik.
Tawarkan Pernapasan mulut dan
pembersihan terapi oksigen dapat
mulut dengan mengiritasi dan
sering. mengeringkan
membran mukosa,
potensial ketidak
nyamanan umum.
Anjurkan dan Alat untuk menontorl

21
bantu pasien ketidak nymanan dada
dalam teknik sementara
menekan dada meningkatkan
selama episode keefektifan upaya
batuk. batuk.

3. Perubahan Setelah Mual dan muntah Identifikasi faktor Pilihan intervensi


nutrisi kurang dilakuakn tidak ada yang terganggung pada
dari kebutuhan intervensi BB stabil / tidak menimbulkan penyebab masalah.u
tubuh keperawata turun atau tidak mual atau muntah kebersihanmulut
berhubungan n selama 3 naik. misalnya: sputum setelah muntah, setelah
dengan x 24 jan, Mukosa bibir banyak, tindakan aerosol dan
anoreksia, diharapkan lembab. pengobatan drainase postur
akibat toksin kebutuhan Turgor kulit aerosol, dispenea sebelem maka.
bakteri dan nutrisi dapat elastis. berat, nyeri.
rasa sputum . terpenuhi. Peningkatan nafsu Berikan wadah Menghilangkan tanda
makan. tertutup untuk bahaya, rasa bau, dari
- sputum dan buang lingkungan pasien dan
sesering mungkin. dapat menurunkan
Berikan atau mual.
bantu.
Jadwalkan Menurunkan efek mual
pengobatan yang berhubungan
pernapasan dengan pengobatan ini.
sedikitnya 1 jam
sebelum makan.
Auskultasi bunyi Bunyi usus mungkin
usus. Observasi menurun / tak ada bila
atau palpasi proses infeksi
distensi abdomen. memanjang. Distensi

22
abdomen terjadi
sebagai akibat menelan
udara atau
menunjukkan
pengaruh toksin,
bakteri pada saluran
GI.
Berikan makan Tindakan ini dapat
dengan pori kecil meningkatka
dan sring termasuk masukkan meskipun
dengan makan nafsu makan mungkin
kering ( roti lambat untuk kembali.
panggang ) dan
makanan yang
menarik untuk
pasien.

23
CATATAN PERKEMBANGAN

\
Hari/tgl Diagnosa Implementasi Evaluasi
Keperawatan
Senin, 2 Bersihan jalan Mengkaji frekuensi / kedalaman S :Klien mengatakan sudah
Juni nafas tak pernapasan dan gerakan dada. Dengan dapat mengeluarkan dahak
2014 efektif Hasil : RR = 32x/i, pernapasan cepat dan - Klien mengatakan sesaknya
berhubungan dangkal, fremitus menurun pada kedua sudah berkurang.
dengan paru. O: Klien dapat mengeluarkan
inflamasi Mengukur TTV Dengan hasil : Dahaknya. Krekels dan
trachea o TD : 130/90 mmhg stredor (+). Dispnea
bronchial, o N : 120 x/i berkurang. Klien masih
peningkatan o RR : 32x /i mendapat oksigen
produksi Mengauskultasi area paru, mencatat area A : Masalah teratasi sebagian :
sputum. penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi klien dapat mengeluarkan
napas adventisius, mis, krekels, mengi dahak dengan efektif dan
stridor. sesak nafas berkurang.
P : Intervensi dilanjutkan :
-
Senin , 2 Nyeri Mententukan karakteristik nyeri, S : Klien mengatakan nyeri
Juni berhubungan misalnya : tajam, konstan, selidiki Berkurang. Klien
2014 dengan perubahan karakter / lokasi nyeri dan mengatakan badannya
inflamasi ditusuk.Dengan Hasil : Nyeri Konstan masih lemah
parenkim paru, dan lokasi di bagian dada. O: Klien tampak agak nyaman
reaksi seluler Memberikan tindakan nyaman misalnya,- Gelisah berkurang
terhadap pijatan punggung, perubahan posisi,- Dispneu berkurang. Mukosa
sirkulasi toksin musik tenang, relaksasi atau latihan bibir masih kering dan pucat
dan batuk napas. - Dispnea (+). Perfusi paru
menetap. Dengan Hasil: Pasien sudah merasa agak Redup. Premetus menurun
nyaman pada kedua paru

24
4. o A: Masalah teratasi sebagian :
klien mengatakan nyeri
berkurang, klien merasa
agak nyaman.
P : Intervensi dilanjutkan :
-
Selasa , 31. Bersihan jalan
1. Mengkaji frekuensi/kedalaman pernapasan S :Klien mengatakan sudah
Juni nafas tak dan gerakan dada. dapat mengeluarkan dahak
2014 efektif 2. Mengukur TTV Dengan hasil : - Klien mengatakan sudah
berhubungan o TD : 120/80mmhg tidak sesak
dengan o N : 80 x/i O:Klien dapat mengeluarkan
inflamasi o RR : 26x /i Dahaknya.Krekels dan
trachea 3. Mengauskultasi area paru, mencatat area stredor (-). Dispnea tidak
bronchial, penurunan/tak ada aliran udara dan bunyi ada . TTV:
peningkatan napas adventisius, mis, krekels, mengi o TD : 120/80 mmHg
produksi stridor. o N : 80x/i
sputum. o RR : 25x /i
A : Masalah teratasi sebagian :
P : Intervensi dilanjutkan
Selasa , 2.
3 Nyeri Mententukan karakteristik nyeri, misalnya : S : Klien mengatakan tidak
Juni berhubungan tajam, konstan, selidiki perubahan karakter / nyeri lagi. Klien
2014 dengan lokasi nyeri dan ditusuk. mengatakan badannya
inflamasi Memantau tanda vital. sudah merasa segar
parenkim paru, O: Klien merasa nyaman.TTV
reaksi seluler o TD : 120/80 mmHg
terhadap o N : 80 x/i
sirkulasi toksin o RR : 25x /i
dan batuk - Mukosa bibir masih kering
menetap. dan pucat
- A : Masalah teratasi sebagian :
P : Intervensi dilanjutkan :

25
3. Resiko tinggi
1. Mengidentifikasikan faktor yang S :
terhadap menimbulkan mual atau muntah misalnya: - Klien mengatakan saat batuk
nutrisi kurang sputum banyak, pengobatan aerosol, sputum keluar.
dari kebutuhan .dispenea berat, nyeri. - Klien mengatakan masih
tubuh Dengan Hasil : Klien dapat mengeluarkan blum nafsu makan dan hanya
berhubungan sputum 2. Memberikan wadah tertutup untuk mampu menghabiskan porsi
dengan sputum dan buang sesering mungkin. setiap kali makan (pagi, siang
peningkatan Dengan Hasil : Klien membuang dahaknya dan malam)
kebutuhan di wadah O:
metabolik 2. Mengauskultasikan bunyi usus. Observasi- Klien tampak mengeluarkan
sekunder atau palpasi distensi abdomen. sputum saat batuk dan sudah
terhadap Dengan Hasil: Terdapat bising usus berkurang
demam dan3. Memberikan makan dengan pori kecil dan- Klien tampak mengabiskan
proses infleksi. sering termasuk dengan makan kering (roti makanan dalam porsi setiap
panggang) dan makanan yang menarik untuk kali makan
pasien. - Kulit klien masih tampak
Dengan Hasil: Klien menghabiskan kering
makanan dalam porsi kecil - Hb : 10 gr / dl
4. Mengevaluasikan status nutrisi umum,- Protein total : 5,86 gr / dl
ukuran berat badan dasar. - Albumin 3,00 gr / dl
Dengan Hasil: BB = 61 Kg - BB : 61 kg
- TTV:
o TD : 120/80 mmhgs
o N : 80 x/i
o RR : 25x /i
- Akral hangat
A :Masalah teratasi sebagian :
Mengidentifikasi pengeluaran
sputum, observasi distensi
abdomen, dan status gizi
P : Intervensi Keperawatan

26
dilanjutkan

o Indentifikasi mual
o Menjadwalkan
pengobatan
o Memberikan makanan
dengan porsi kecil tapi
sering
o Evaluasi terus status
nutrisi

(Tanda Tangan Perawat)

Rabu, 43.Perubahan 1. Mengidentifikasikan faktor yang S :Klien mengatakan tidak


Juni nutrisi kurang menimbulkan mual atau muntah misalnya: batuk lagi. Klien
2014 dari kebutuhan sputum banyak, pengobatan aerosol, mengatakan sudah nafsu
tubuh .dispenea berat, nyeri. makan dan mampu
berhubungan 2. Mengauskultasikan bunyi usus. Observasi menghabiskan 1 porsi
dengan atau palpasi distensi abdomen. penuh setiap kali makan
anoreksia, 3. Memberikan makan dengan porsi kecil dan O :Klien tidak tampak batuk
akibat toksin sering termasuk dengan makan kering (roti lagi dan tidak ada sputum
bakteri dan panggang) dan makanan yang menarik untuk- Klien tampak mengabiskan
rasa sputum pasien. makanan dalam 1 porsi
] penuh setiap kali makan
TTV:
o TD : 120/80 mmhg
o N : 80 x/i
o RR : 24x /i
A : Masalah teratasi.
P : Intervensi Keperawatan

27
dihentikan (Pasien Pulang)

28
BAB IV
PENUTUP
3. 1Kesimpulan
Pneumonia adalah proses inflamatori parenkim paru yang umumnya disebabkan oleh
agen infeksius. Pneumonia dapat menjadi suatu infeksi yang serius dan mengancam nyawa.
Ini adalah benar terutama pada orang-orang tua, anak-anak, dan mereka yang mempunyai
persolan-persoalan medis lain yang serius, seperti COPD, penyakit jantung, diabetes, dan
kanker-kanker tertentu. Untungnya, dengan penemuan dari banyak antibiotik-antibiotik yang
kuat, kebanyakan kasus-kasus dari pneumonia dapat dirawat dengan sukses. Etiologi dari
pneumonia paling umum ditemukan adalah disebabkan karena bakteri streptococcus. Dan
yang lebih banyak resiko terserang pneumonia adalah orang tua, karena banyak sekali orang
tua terdapat riwayat merokok.
3. 2Saran
Disarankan kepada penderita pneumonia untuk menghindari faktor pencetus dan
resiko yang bisa mengakibatkan penyakit bertambah parah. Penderita pneumonia disarankan
untuk menghindari merokok, tidak meminum minuman yang mengandung alkohol, dan
menerapkan pola hidup sehat

29
DAFTAR PUSTAKA

Arief Mansjoer. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. EGC : Jakarta.


Bare Brenda G, Smeltzer Suzan C. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8, Vol. 1, EGC, Jakarta.
Doenges, Marilynn, E. dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC, Jakarta
Jeremy, dkk. 2005. At a Glance Sistem Respirasi, Edisi 2. Erlangga : Jakarta
Price Anderson Sylvia, Milson McCarty Covraine. 2005. Patofisiologi Jilid 2, Edisi 4. EGC :
Jakarta.
Soeparman, dkk. 1998. Ilmu Penyakit Dalam jilid II. FKUI : Jakarta

30