Anda di halaman 1dari 3

250 Dhafid Etana Putra / Studi Penurunan Kadar Logam Besi (Fe) pada Limbah Batik dengan Sistem

Limbah Batik dengan Sistem Purifikasi


Menggunakan Absorben Nanopartikel Magnetit ( )

Studi Penurunan Kadar Logam Besi (Fe) pada Limbah Batik dengan
Sistem Purifikasi Menggunakan Absorben Nanopartikel Magnetic
(Fe3O4)

Dhafid Etana Putra, Fitri Puji Astuti dan Edi Suharyadi*


Jurusan Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia Sekip Utara PO BOX BLS.21 Yogyakarta 55281,
Indonesia
* esuharyadi@ugm.ac.id

Abstrak Telah dilakukan investigasi untuk menurunkan konsentrasi logam besi (Fe) pada limbah cair batik dengan
sistem purifikasi menggunakan absorben nanopartikel Fe3O4. Nanopartikel Fe3O4 merupakan partikel berukuran nano
yang memiliki sifat kemagnetan yang besar. Dalam metode absorpsi, Fe3O4 sebagai absorben dicampur dengan limbah
cair sebagai absorbat dalam suatu wadah. Penelitian ini menggunakan beberapa variabel seperti pH yang divariasi dari
pH 7 sampai 12, waktu pengadukan (1 dan 3 jam). Hasil akhir filtrat limbah cair batik kemudian diukur absorbansinya
menggunakan Spektofotometer Serapan Atom. Berdasarkan hasil analisa menggunakan metode SSA diperoleh hasil
bahwa absorpsi maksimum Fe terjadi pada pH 12 yaitu sebesar 0,03 ppm . Dengan demikian nanopartikel Fe3O4 dapat
menyerap besi dalam pH basa. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa waktu pengadukan yang lama mengakibatkan
besi dapat terserap secara maksimal yaitu sebesar 0,06 ppm. Dengan demikian variasi pH dan waktu pengadukan
mempengaruhi absorpsi logam pada absorben.

Kata kunci: purifikasi, absorpsi, absorben Fe3O4, besi.

Abstract Investigation has been carried out to reduce the concentration of iron (Fe) in the batik wastewater by
purification system using absorbent nanoparticles. nanoparticles are nano-sized particles that have high
magnetic properties. In the absorption method, as absorbent is mixed with wastewater as adsorbate in a
container. This study uses several variables such as pH varied from pH 7 to 12, stirring time (1 and 3 hours). The result
of batik effluent filtrate absorbance was then measured by atomic absorption spectrophotometer. Based on the AAS
analysis,it shows that the maximum absorption of Fe occurs at pH 12, that is 0,03 ppm. Thus nanoparticles can
absorb iron in alkaline pH. The results also show that the long stirring time can lead to iron absorbed optimally that is
0,06 ppm. Thus the time variation of pH and stirring affect the absorption of the metal on absorbent.

Key words: purification, absorption, absorbent Fe3O4, iron.

I. PENDAHULUAN cair dengan cara menyerap logam-logam tersebut ke


Polusi limbah logam berat dalam air merupakan satu dalam permukaan absorbennya. Beberapa faktor penting
permasalahan lingkungan yang penting hingga saat ini. yang dapat mempengaruhi tingkat penyerapan absorpsi
Polusi logam berat berasal dari banyak sumber salah diantara lain karakteristik absorben, pH larutan , waktu
satunya bersumber dari limbah pembuangan industry. pengadukan, temperatur serta ukuran absorben [3].
Konsentrasi logam yang tinggi dalam limbah apabila Beberapa absorben yang dapat digunakan dalam
mencemari air dapat menyebabkan efek buruk bagi metode absorpsi diantaranya arang aktif, zeolit, bentonit
lingkungan dan kehidupan manusia. Logam besi dan dan nanopartikel [4][5][6].Nanopartikel
kobalt merupakan logam yang bersifat toksik yang dapat merupakan partikel yang memiliki sifat magnetic.
meracuni tubuh manusia dan merusak lingkungan. Nanopartikel sangat tepat dijadikan sebagai
Menurut KEPMENKES RI absorben logam karena ukuran partikel yang berada pada
No.492/MENKES/PER/IV/2010 [1] tanggal 19 April skala nanometer memiliki luas permukaan partikel yang
2010 tentang persyaratan kualitas air minum, kadar Fe besar yang dapat menyerap banyak logam.
dalam air minum yang diperbolehkan hanya 0,3 mg/l. Dengan memvariasikan ukuran partikel dan
Pada air minum yang telah tercemar oleh limbah cair melakukan modifikasi pada permukaannya kadar logam
tentu kadar logam yang terkandung melebihi ambang berat yang terkandung di dalam air yang telah
batas dari yang telah ditentukan. terkontaminasi oleh logam Ni, Cu, Cd dan Cr dapat
Dalam mengatasi permasalahan tersebut dapat diturunkan [6]. Dari hasil penelitian penurunan kadar
dilakukan purifikasi terhadap limbah cair. Metode yang logam terbesar dari seluruh logam dapat dicapai pada
dapat digunakan untuk purifikasi limbah sangat beragam ukuran absorben terkecil. Hal ini menunjukkan bahwa
seperti absorpsi, presipitasi, evaporasi, solvent extraction, ukuran absorben yang kecil memiliki kapasitas absorbsi
ion exchange dan reverse osmosi [2]. yang besar sehingga penurunan kadar logam yang terjadi
Secara umum metode absorpsi telah banyak dapat lebih besar [6].
digunakan dalam purifikasi air limbah. Metode absorpsi Pada penelitian ini untuk menurunkan kadar logam Fe
dapat menurunkan kadar logam yang terlarut pada limbah pada limbah batik digunakan absorben nanopartikel

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXVIII HFI Jateng & DIY, Yogyakarta, 26 April 2014
ISSN : 0853-0823
Dhafid Etana Putra / Studi Penurunan Kadar Logam Besi (Fe) pada Limbah Batik dengan Sistem Purifikasi 251
Menggunakan Absorben Nanopartikel Magnetit ( )

yang disintesis dengan metode kopresipitasi


dengan ketentuan parameter kopresipitan ( 10%,
waktu sintesis 90 menit dan suhu sintesis 60C. Dalam
menurunkan kadar logam Fe selain penggunaan absorben
juga digunakan parameter purifikasi basah seperti pH dan
waktu pengadukan.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh
parameter purifikasi basah seperti pH (pH basah) dan
waktu pengadukan terhadap penurunan kadar logam Fe
pada limbah cair menggunakan absorben nanopartikel
.
(a) (b)
II. METODE EKSPERIMEN
Limbah batik yang digunakan adalah limbah batik Gambar 1 (a) Limbah batik sebelum dipurifikasi dan (b)
yang mengandung logam besi (Fe) yang diperoleh dari Limbah batik setelah dipurifikasi.
industri batik yang berada di (desa Ngasem Kecamatan
Pada Gambar 1 menunjukkan limbah batik sebelum
Kraton Yogyakarta). Limbah batik yang diperoleh dari
pabrik berupa limbah cair, sebelum digunakan limbah dan sesudah purifikasi. Sebelum dilakukan purifikasi
batik terlebih dahulu disaring menggunakan kertas saring limbah batik berwarna sedikit keruh, setelah dilakukan
dengan tujuan untuk memisahkan sisa-sisa kotoran yang purifikasi terjadi perubahan warna pada sampel limbah
ada di dalam limbah batik agar nantinya tidak batik yang berubah warna menjadi jernih. Perubahan
mengganggu proses purifikasi. warna yang terjadi pada saat sebelum dan sesudah
purifikasi mengindikasikan bahwa logam-logam yang
Sintesis dilakukan dengan mencampurkan
sebelumnya terdapat dalam limbah dapat diserap oleh
4,1703 g dengan 8,109 g
adsorben sehingga konsentrasi logam pada limbah
kemudian kedua bahan tersebut dilarutkan dengan 30 ml
tersebut mengalami pengurangan yang ditandai dengan
aquades. Larutan tersebut kemudian diaduk hingga
perubahan warna limbah menjadi jernih.
homogen dan setelah homogen ke dalam larutan
ditambahkan 60 ml yang sebelumnya telah
B. Pengaruh pH pada Penurunan Kadar Fe dalam
diencerkan dengan aquades. Proses pengadukan
Limbah Batik
dilakukan selama 90 menit dari sejak diberikan tetes
Nilai pH yang digunakan dalam pemvariasian
pertama dengan kecepatan pengadukan 450 rpm penelitian sebelumnya berada pada rentang (7-12). Dari
dan suhu sintesis 60C. Setelah proses pengadukan hasil analisis SSA penurunan kadar logam Fe pada
larutan yang terbentuk diendapkan dengan magnet limbah batik ditunjukkan pada Tabel 1.
permanen dan dilakukan pencucian sebanyak 7-9 kali
dengan aquades kemudian dikeringkan Tabel 1. Konsentrasi penurunan Fe pada variasi pH.
menggunakan furnace dengan suhu 80C. untuk
mengetahui struktur kristal, ukuran partikel dan sifat Kadar awal logam Fe
pH Kadar akhir logam Fe (ppm)
kemagnetan dari dilakukan karakterisasi (ppm)
menggunakan XRD, TEM dan VSM.
10 0,33
Purifikasi limbah cair (limbah batik) dilakukan
dengan melarutkan 0,5 gram nanopartikel dalam 1,9 11 0,06
100 ml lmbah cair dan kemudian diaduk menggunakan 12 0,03
magnetic stirrer. Ke dalam larutan ditambahkan
untuk mengatur pH larutan sesuai dengan variasi sampel Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa persentase
(pH 7-12, suhu ruang, kecepatan 450 rmp dan waktu 3 penurunan Fe secara maksimal terjadi pada pH 12. Hal
jam). Waktu pengadukan disesuaikan dengan variasi tiap ini menunjukkan pH larutan yang semakin tinggi dapat
sampelnya (variasi waktu pengadukan 1 jam dan 3 jam, menurunkan konsentrasi logam secara maksimal. Hal ini
suhu ruang, pH 11 dan kecepatan 450 rpm). Setelah dapat terjadi karena pada kondisi pH basa ion dapat
proses pengadukan selesai larutan diendapkan dengan mempengaruhi muatan permukaan sebuah absorben.
magnet permanen kemudian dilakukan penyaringan Banyaknya ion dalam larutan mengakibatkan
larutan dengan kertas filter. Setelah itu larutan dianalisis permukaan absorben memiliki permukaan negative yang
kadar logamnya menggunakan spektrofotometer serapan dapat mengikat logam Fe yang bermuatan positif
atom. sehingga konsentrasi logam Fe dalam larutan berkurang.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN C. Pengaruh Waktu Pengadukan pada Penurunan


A. Perubahan warna limbah Kadar Logam Fe pada Limbah Batik
Dalam purifikasi limbah batik secara visual dapat Waktu pengadukan atau waktu interaksi ion logam
diamati terjadinya perubahan warna sebelum dan sesudah dan absorben merupakan parameter yang penting untuk
dilakukan purifikasi. Perubahan warna sebelum dan mengetahui kecepatan reaksi absorpsi. Semakin sedikit
sesudah dilakukan purifikasi ditunjukkan pada Gambar 1. waktu interaksi, laju reaksi makin cepat yang berarti juga
laju absorpsi makin tinggi [7]. Pada penelitian ini waktu

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXVIII HFI Jateng & DIY, Yogyakarta, 26 April 2014
ISSN : 0853-0823
252 Dhafid Etana Putra / Studi Penurunan Kadar Logam Besi (Fe) pada Limbah Batik dengan Sistem Purifikasi
Menggunakan Absorben Nanopartikel Magnetit ( )

pengadukan dilakukan dengan waktu 1 jam dan 3 jam PUSTAKA


pada kondisi pH 11 dengan suhu ruang. Hasil penurunan [1] Kepmenkes RI No. 492/Menkes/PER/IV/2010.
kadar logam Fe terhadap pengaruh waktu pengadukan [2] M. K. Jha, V. Kumar, L. Maharaj, R. Singh, Studies on
disajikan pada Tabel 2. Leaching and Recycling of Zinc from Rayon Waste
Sludge, J. Ind. Eng. Chem. Res. 43, 1284-1285, 2004.
Tabel 2. Konsentrasi penurunan Fe pada variasi waktu [3] D. P. Andreas, dan M. Ali, Penurunan Kadar Besi oleh
pengadukan. Media Zeolit Alam Ponorogo secara Kontinyu, Jurusan
Teknik Lingkungan FTSP-ITS, 2004.
Kadar awal logam Fe Waktu Kadar akhir logam [4] Suprihatin dan N. S. Indrasti, Penyisihan Logam
(ppm) pengadukan Fe (ppm) Berat dari Limbah Cair Laboratorium dengan Metode
Presipitasi dan Adsorpsi, Makara, Sains, Vol 14, No. 1,
1,9 1 jam 0,47 44-50, 2010.
[5] F. Ghomri, A. Lahsini, A. Laajeb, dan A. Adddaou, The
3 jam 0,06 Removal of Heavy Metal Ions (Copper, Zinc, Nickel and
Cobalt) by Natural Bentonite, Larhyss Journal, ISSN
Pada Tabel 2 terlihat variasi waktu pengadukan 1112-3680, PP 37-54, 2013.
diperoleh hasil bahwa logam Fe mengalami penurunan [6] Y. F. Shen, J. Tang, Z. H. Nie, Y. D. Wang, Y. Ren, L.
konsentrasi maksimal pada waktu pengadukan 3 jam. Hal Zuo, Tailoring Size and Structural Distortion of
ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu pengadukan Nanoparticles for the Purification of Contaminated Water,
mengakibatkan konsentrasi penurunan Fe semakin besar. Bioresource Technology, 100, 4139-4146, 2009.
Hal ini dapat terjadi karena pada waktu pengadukan lama [7] F. S. Krimastuti, H. Budiman, dan A. H. Setiawan,
banyak permukaan absorben yang menjadi aktif sehingga Adsorpsi Ion Logam Cadmium dengan Silika Modifikasi,
dapat melakukan banyak penyerapan logam. Makalah, Pusat Penelitian Kimia-LIPI, Kawasan
PUSPIPTEK, Serpong, Tangerang, 2008.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan purifikasi yang telah dilakukan pada
penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Pada sistem purifikasi limbah cair ini absorben
nanopartikel mampu menurunkan kadar
logam Fe.
2. Penurunan kadar logam Fe terbesar terjadi akibat
adanya pengaruh pH yang semakin tinggi dan
pengadukan yang semakin lama.

Prosiding Pertemuan Ilmiah XXVIII HFI Jateng & DIY, Yogyakarta, 26 April 2014
ISSN : 0853-0823