Anda di halaman 1dari 12

LAMPIRAN : BAHAN AJAR

PERTEMUAN I (MARTABAT LUHUR SEBAGAI CITRA ALLAH)

Kata citra dapat diartikan sebagai gambaran (image) yang menunjuk pada identitas atau
ciri seseorang atau kelompok. Biasanya, kata citra dzzoikaitkan dengan suatu nilai yang
dianggap ideal dan baik, dan umumnya terkait erat dengan tindakan sifat atau karakter. Jika
kita mengatakan citra masyarakat tertentu, maka yang dimakssud adalah gambaran positif
tentang nilai-nilai, karakter atau kebiasaan masyarakat yang mampu memberi cirri yang
jelas dan tegas tentang masyarakat itu sehingga dapat dibedakan dari mayarakat yang lain.
Oleh karena itu, kita mengenal juga ada citra yang baik ddan citra yang buruk tentang
seseorang atau kelompok masyarakat tertentu.
Kata citra juga mempunyai makna keserupaan, kesegambaran, atau kemiripan antara
seseorang atau kelompok yang dicitrakannya. Misalnya, seorang anak merupakan citra atau
gambaranorang tuanya karena mempunyai keserupaan, kesegambaran, atau kemiripan
dalam hal-hal tertentu. Ia pun sekaligus mempunyai tanggung jawab menampilkan citra
orang tuanya itu sebaik mungkin. Dengan kata lain, gambaran tentang orang tua dapat
dikenali melalui cirri-ciri fisik atau pola tindakan anaknya itu. Demikian pula halnya citra
masyarakat hendaknya tercermin dalam perilaku setiap anggota masyarakatnya.
Dalam kisah penciptaan dikatakan bahwa manusia diciptakan sebagai citra Allah, artinya
serupa dan segambar dengan Allah sendiri. Kata serupa dan segambar sekaligus secra
tepat melukiskan bahwa manusia dan Allah berbeda.
Sejauh terlukiskan dalam KS, istilah citra Allah itu hanya dikatakan pada manusia, tidak
dikenakan pada ciptaan Tuhan lainnya. Hanya manusialah yang disebut citra Allah.
Karena manusia diciptakan sebagai citra Allah, manusia memiliki martabat sebagai pribadi:
ia tidak hanya sesuatu, melainkan seseorang. Ia mengenal dirinya sendiri, menjadi tuan atas
dirinya sendiri, mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan
orang lain serta dipanggil membangun relasi dengan Allah, sebagai Pencipta.
Sebagai citra Allah, Allah telah memberikan karunia khusus berupa akal budi, kebebasan
dn hati nurani. Kemampuan-kemampuan dasar itulah yang membedakan antara manusia
dan ciptaan Tuhan lainnya. Ia adalah ciptaan Allah yang bermartabat luhur. Siapa pun
orangnya ia adalah citra Allah, serupa dan segambar dengan Allah, ia wakil Allah di dunia
ini.
Sebagai citra-Nya, manusia sangat dikasihi Allah. Ia dipanggil untuk mengambil bagian
dalam kehidupan Allah sendiri. Karena semua manusia adalah citra Allah, berasal dari
Allah yang sama, dan sama-sama dikasihi Allah, maka semua manusia mempunyai ikatan
kesatuan. Mereka harus saling mengasihi, menghormati, tidak saling menghina dan
merendahkan serta hidup sebagai saudara satu terhadap yang lain.

PERTEMUAN II (PANGGILAN MANUSIA SEBAGAI CITRA ALLAH)

Banyak situasi yang menunjukkan tindakan manusia yang tidak atau belum mencerminkan
panggilannya sebagai citra Allah. Di sana-sini keutuhan alam ciptaan Tuhan sudah
mengalami kerusakan yang sedemikian parah. Setiap tahun berbagai jenis tumbuhan dan
hewan masuk dalam daftar perlindungan karena hamper punah. Akibatnya perubahan
musim kini makin tidak menentu, kicauan aneka burung jarang terdengar di alam bebas,
kualitas kesehatan manusia makin berkurang karena polusi dan berbagai limbah. Selain
kerusakan alam,. Kondisi yang paling parah adalah berkaitan dengan penghargaan manusia
terhadap manusia lain. Masih ada sebagian orang diperlakukan semena-mena, direndahkan
martabatnya dan sebagainya.
Faktor penyebab yang utama adalah egoisme dan keserakahan manusia serta sikap tidak
peduli terhadap hidup dirinya sendiri ataupun orang lain. Sedikit sekali orang yang berpikir
bahwa tindakan yang tidak bijak terhadap ciptaan Tuhan bukan hanya menghancurkan
martabat hidup manusia sekarang melainkan juga menghancurkan generasi mendatang.
Merendahkan orang lain sama dengan menghina Allah pencipta.
Kitab Suci menegaskan bahwa manusia adalah citra Allah. Sebagai citra Allah, manusia
dipanggil untuk; beranak cucu dan bertambah banyak; memenuhi bumi dan
menaklukkannya; dan menguasai ciptaan Allah lainnya.
Panggilan yang agung itu perlu ditempatkan dalam konteks keselamatan yang dikehendaki
Allah sendiri, yakni keselamatan secara utuh dan terpadu, tidak hanya menyangkut dirinya
sendiri, tetapi juga erat kaitannya dengan ciptaan Allah lainnya. Oleh karena itu manusia
tidak dapat bersikap wenang-wenang atas kuasa dan tugas yang diberikan Allah itu.
Kuasa yang diberikan Allah itu sifatnya terbatas. Manusia tidak dapat menjalankan sesuatu
melebihi kekuasaan Allah sendiri. Maka, ukurannya adaah sejauh kuasa itu dijalankan
sesuai dengang kehendak Allah. Kuasa itu perlu dijalankan secara bijak dan demi
kemuliaan Allah serta kebahagiaan manusia sendiri.
Manusia harus menjalankan panggilannya sesuai dengan kehendak Allah yang tampak
dalam kesadaran akan hal-hal berikut:
Segala sesuatu berasal dan diciptakan Allah dan terarah pada Pencipta-Nya
Tiap makhluk hidup memiliki kebaikan dan kesempurnaan sendiri.
Semua makhluk dan ciptaan Tuhan mempunyai ketergantungan satu sama lain dan
saling melengkapi secara timbal balik.
Prinsip-prinsip dasar di atas sudah selayaknya menjadi landasan bertindak dalam
mengembangkan dan melaksanakan panggilan setiap manusia sebagai citra Allah. Tetapi
kita prihatin karena dalam kehidupan sehari-hari seringkali terjadi sebaliknya. Panggilan
manusia sebagai citra Allah kerap kali bertentangan dengan kehendak Allah sendiri.
Egoisme dan keserakahan sering kali lebih menonjol dari pada ketaatan kepada Allah.
Sikap yang perlu dikembangkan adalah sikap bertanggung jawab dan berupaya
menampilkan kecitraan Allah sendiri sebagai Pencipta dan Pemelihara melalui kata dan
perbuatan, bukan dengan sikap yang menghancurkan dan menguasai.

PERTEMUAN III (AKU MEMILIKI KEMAMPUAN)

Setiap orang pasti mempunyai kemampuan atau potensi yang dikembangkan dalam dirinya,
baik yang berupa bakat atau kemampuan berupa sifat/karakter maupun kebiasaan baik
lainnya. Maka, tugas setiap orang adalah untuk menemukannya.
Untuk dapat menemukan kemampuan diri, pertama-tama harus dilakukan sendiri, walaupun
seringkali kita membutuhkan bantuan orang lain. Kita perlu mencari informasi dengan
bertanya kepada orang yang dekat dengan kita dan sangguh-sungguh mengenal kita.
Tuhan memberikan kepada setiap orang kemampuan atau talenta sebagai karunia secara
berbeda-berbeda. Ia memanggil kita agar mengembangkannya semaksimal mungkin,
sehingga menghasilkan buah yang berlimpah.setiap orangharus bertanggung jawab
terhadap talenta yang dikaruniakan Tuhan kepadanya.
Dalam perumpamaan tentang talenta digambarkan ada dua sikap terhadap talenta tersebut.
Ada orang yang sungguh bertanggung jawab dan mengembangkannya sehingga
menghasilkan buah, dan ada juga yang tidak berbuat apa-apa sehingga tidak menghasilkan
apa-apa.
Perlakuan Tuhan kepada dua sikap tersebut juga berbeda. Kepada mereka yang
bertanggung jawab dan mengembangkannya, Allah mengajak mereka berbahagia bersama-
Nya. Kepada mereka yang tidak bertanggung jawab dan tidak mengembangkannya, Tuhan
merasa sedih dan dengan terpaksa mengambilnya kembali karena talenta yang
dikaruniakannya tidak menghasilkan buah apa-apa.
Karena kemampuan kita berbeda-beda, Tuhan menghendaki agar kita bekerja sama dan
saling melengkapi satu terhadap yang lain. Kita tidak dapat membayangkan bial semua
orang mempunyai talenta untuk mengajar, lalu siapa yang menjadi murid? Atau kalau
semua orang berbakat menjadi penulis, siapa yang akan membaca tulisan itu? Dengan kata
lain, talenta yang kita miliki perlu dikembangkan demi kepentingan bersama.
Dari KS kita tidak mendapat informasi yang memadai tentang bakat atau hobi Yesus, tetapi
kita menemukan hal ini: bila Yesus mengajar, maka pengajaran-Nya mampu menarik orang
untuk bertobat. Pribadi Yesus sedemikian menarik, sehingga kata-kata-Nya dapat membuat
orang merasa disapa dan dihargai. Dan masih banyak hal positif lain yang dapat kita
temukan dalam kepribadian Yesus. Dengan kata lain, talenta tidak selalu harus diartikan
sebagai bakat/kemampuan seperti main music atau menari, melinkan segala kemampuan
khusus yang dengannya kita mamp mengembangkan diri menjadi pribadi yang utuh serta
dapat melayani sesam.
Banyak cara untuk mengembangkan kemampuan atau talenta, misalnya:
- Melatih diri terus-menerus tanpa takut salah atau gagal
- Masuk dalam kelompok atau organisasi yang mempunyai minat yang sama, sehingga
dapat saling mengembangkan
- Belajar dan berani bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman.

PERTEMUAN IV (KEMAMPUANKU TERBATAS)

Setiap orang mempunyai keterbatasan dalam hidupnya. Ada berbagai keterbatasan dalam
hidup seseorang, misalnya:
1. Keterbatasan fisik: cacat, buta dan sebagainya.
2. Keterbatasan kemampuan intelektual: berpikir lambat, susah menganalisa suatu
masalah, dan sebagainya
3. Keterbatasan ekonomis: tidak memiliki dana atau biaya
4. Keterbatasan psikologis: pemalu, bersikap tertutup, selalu ingin menang sendiri dan
sebagainya
5. Keterbatasan sistem budaya: larangan untuk merantau, kebiasaan-kebiasaan masyarakat
yang selalu dirubah dan sebagainya.
Sikap dalam menghadapi keterbatasan dan akibatnya:
1. Sikap minder, akibatnya:
- Merasa hidupnya sebagai beban, sebab merasa hidupnya kurang beruntung
- Sukar bergaul dan menyesuaikan diri dengang orang lain
- Iri hati, cemburu, menganggap orang lain lebih beruntung dari pada dirinya
- Memandang Tuhan tidak adil terhadap dirinya.
2. Sikap munafik, akibatnya:
- Melakukan segala upaya untuk menutupi kekurangan dengan menghalalkan segala
cara, misalnya: orang yang penakut akan berusaha omong besar bahwa dia sering
melihat hantu, menjelekkan teman yang dianggap saingan, agar orang lain lebih
dekat dan berpihak kepadanya
- menjilat atasan dan menekan bawahan.
Bagaimanapun juga kedua sikap tersebut pada akhirnya aka merugikan diri sendiri.
Kerugiaan itu antara lain:
1. Kita akan mengalami kesulitan dalam pergaulan dengan sesama
2. Kurang disenangi oleh teman-teman
3. Kurang dilibatkan dalam aktivitas kelompok
4. Tidak mampu menutupi dan menghilangkan kekurangan yang demiliki, bahkan dapat
membuat kekurangan itu makin besar dan makin merugikan diri sendiri
Sikap yang perlu dikembangkan dalam menghadapi kekurangan:
1. Kita harus mampu menerima diri sebagai pribadi yang memiliki kekurangan dan yakin
bahwa hal itu juga dialami oleh setiap orang.
2. Tidak menjadikan kekurangan sebagai alasan untuk tidak berkembang atau sukses.
Ada sikap positif yang dapat kita teladani dari para murid Yesus dalam menghadapi
keterbatasan. Dalam keterbatasan mereka tidak bersikap minder atau munafik melainkan
dating dan meminta pertolongan Tuhan Yesus. Mereka yakin bahwa Yesus akan membantu,
sehingga mereka dapat keluar dan mengatasi keterbatasannya.
Kita semakin diteguhkan jika saling membantu dan bekerja sama dalam keterbatasan
masing-masing demi saling melengkapi dan mengembangkan diri.
Cara mengatasi keterbatasan selain mencoba berlatih dan bertanya pada orang lain, ternyata
kehadiran Tuhan menjadi penting. Bagi kita yang hidup zaman sekarang dapat
menempuhnya dalam doa penuh iman.

PERTEMUAN V (SYUKUR ATAS HIDUP)

Umumnya orang mampu bersyukur jika mendapatkan kegembiraan atau keberhasilan atau
hal-hal yang menyenangkan dirinya. Tentu saja hal ini sangat tergantung pada pandangan
dan sikap orang terhadap kehidupan.
Ada berbagai pandangan dan sikap terhadap hidup, antara lain:
1. Hidup sebagai beban berat atau kutukan. Pandangan ini biasanya muncul dari orang-
orang yang dalam hidupnya banyak mengalami kegagalan, kekecewaan, bencana atau
penderitaan. Pandangan yang demikian menyebabkan sikap apatis, cepat putus asa,
penuh ketakutan dan kekhawatiran kalau-kalau yang dilakukan gagal atau yang
hiharapkan tidak terpenuhi, iri hati pada keberuntungan orang lain, bahkan dapat jadi
menyalahkan Tuhan sebagai Allah yang tidak adil.
2. Hidup sebagai takdir. Hidup manusia seolah-olah bagaikan wayang, di mana manusia
hanya melakukan sesuatu karena digerakkan, diperintahkan oleh Sang Pencipta. Hidup
manusia tergantung sepenuhnya pada Tuhan, dan manusia tidak punya hak apa-apa
untuk menentukan jalan hidupnya. Pandangan ini menumbuhkan sikap cepat pasrah-
menyerah terhadap kegagalan, tidak kreatif untuk mengisi dan mengembangkan hidup.
Ia bersikap menunggu dan tidak proaktif.
3. Hidup itu seni. Hidup sungguh indah karena mengandung keanekaragaman warna
kehidupan: ada suka ada duka, ada gagal ada berhasil, ada manis ada pahit. Semuanya
ada dan justru membuatnya menjadi indah untuk dijalani. Pandangan ini menumbuhkan
sikap kreatif dan mencari terobosan baru agar hidup menjadi enak. Ia tidak cepat puas
atas keberhasilan atau terlena dalam kegembiraan,karena ia sadar di saat yang lain dapat
saja kegagalan dan kesedihan akan muncul. Sebaliknya ia tidak cepat larut dalam
keputusasaan dan terpuruk dalam kegagalan, karena ia yakin suatu saat-dan tentu saja
melalui kerja keras-keberhasilan dan kegembiraan dapat diraih.
Dari sepuluh orang yang disembuhkan ternyata hanya satu orang yang kembali untuk
bersyukur. Kebetulan orang itu adalah orang Samaria, orang yang selama ini dianggap kafir
oleh orang-orang Yahudi. Tetapi justru ia melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Ia
bersyukur. Ia bersyukur. Ia bersyukur kepada Allah karena melalui penyembuhan yang
dialaminya, ia mampu merasakan kehadiran Allah yang menyelamatkan.
Banyak cara untuk bersyukur, misalnya sebagai berikut:
1. Memuliakan Allah lewat doa atau ibadat, baik secara pribadi maupun mengundang
sesama
2. Menolong sesama yang menderita
3. Berusaha hidup lebih baik
4. Memelihara kehidupan itu sendiri
5. Menjaga kehidupan orang lain.

PERTEMUAN VI (AKU DICIPTAKAN BAIK ADANYA SEBAGAI LAKI-LAKI ATAU


PEREMPUAN)

Perbedaan laki-laki dan perempuan paling mudah dikenali melalui hal-hal yang sifatnya
fisik-biologis, terutama melalui perbedaan kelamin, tetapi juga dari kepribadian yang
umumnya dimiliki masing-masing dalam wujud sikap, kebiasaan atau karakter. Tetapi
untuk yang terakhir ini tidak dapat digeneralisasi begitu saja. Misalnya mudah meneteskan
air mata tidak hanya dimiliki oleh kaum perempuan. Sebaliknya sikap tegas dan keras juga
tidak hanya dimiliki oleh kaum laki-laki.
Sejak awal mula Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan. Masing-masing
dilengkapi dengan kebaikan dan keindahan. Semuanya itu baik adanya. Allah memberkati
dan mengasihi keduanya. Hal itu menandakan bahw laki-laki ataupun perempuan begitu
berharga di mata Tuhan dan keberadaannya sangat berarti.
Hidup sebagai perempuan atau laki-laki merupakan anugerah Allah. Kita patut bersyukur
karena Allah mempunyai maksud khusus dengan menciptakan kita sebagai laki-laki atau
perempuan. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling melengkapi dan
mengembangkan satu terhadap yang lain. Dengan kata lain, laki-laki dan perempuan
bersifat komplementer. Mereka saling membutuhkan dan saling tergantung satu sama lain.
Laki-laki tidak dapat hidup tanpa perempuan dan sebaliknya perempuan tidak dapat hidup
tanpa laki-laki.
Setiap laki-laki atau perempuan dipanggil untuk mengembangkan dirinya sebagai laki-laki
dan sebagai perempuan menuju kesempurnaannya sebagaimana dikehendaki Allah.

PERTEMUAN VII (PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI SEDERAJAT)

Tidak dapat disangkal bahwa praktek perlakuan yang tidak sederajat antara perempuan dan
laki-laki masih terjadi dalam masyarakat., walaupun hal tersebut tidak lagi terjadi dalam
semua bidang kehidupan. Dalam bidang pemerintahan, hampir sebagian dikuasai oleh kaum
laki-laki. Tetapi dalam bidang lain, peremupuan lebih mendapat keuntungan.
Kesederajatan antara perempuan dan laki-laki bukan soal presentasi keterwakilan dalam
pekerjaan, dalam tugas pemerintahan dan sebagainya; tetapi lebih menyangkut pemberian
kesempatan untuk mengembangkan dan mengakutalisasikan diri seluas-luasnya tanpa
kekangan. Hal itu berarti member kemungkinan yang sama kepada laki-laki ataupun
perempuan untuk memiliki dan mengungkapkan ide, gagasan, kreativitas demi
pengembangn diri dan sesamanya.
Banyak hal dapat dilakukan untuk mengembangkan kesetaraan/kesederajatan perempuan
dan laki-laki. Misalya, mulailah dengan menghargai bahwa masing-masing mempunyai
kelebihan dan kekurangan.

PERTEMUAN VIII (SEKSUALITAS SEBAGAI ANUGERAH ALLAH)

Ciri-ciri yang berbeda yang berkaitan dengan jenis kelamin itulah yang disebut seks.
Sedangkan seksualitas lebih menyangkut penghayatan seseorang untuk berkembang sesuai
dengan seks atau jenis kelamin yang dimiliki. Seorang perempuan harus berkembang
kepribadiannya sesuai dengan keberadannya sebagai orang yang berjenis kelamin
perempan. Dan laki-laki harus berkembang dalam kepribadiannya sesuai dengan
keberadannya sebagai orang yang berjenis kelamin laki-laki.
Dengan demikian seks dan seksualitas berbeda, walaupun berkaitan satu dengan yang lain.
Seksualitas merupakan anugerah Allah yang patut disyukuri.
Keindahan seks laki-laki dan perempuan justru tampak dalam keteraturan dan
koordinasinya yang luar biasa

PERTEMUAN IX (PENGHAYATAN SEKSUALITAS YANG BENAR)

Pengertian seksualitas tidak tepat bila hanya semata-mata dikaitkan dengan masalah-
masalah seks antara laki-laki dan perempuan.
Seksualitas merupakan anugerah Allah yang luhur yang harus dihayati secara bertanggung
jawab. Penghayatan dan sikap tanggung jawab terhadap tubuh dapat diwujudkan dengan
berbagai cara. Tubuh kita perlu dipelihara dengan baik dan digunakan sesuai dengan
kehendak Allah sendiri. Tubuh kita telah disucikan Allah agar melalui tubuh kita pula kita
dapat memuji dan memuliakan Allah.
Dalam KS dikatakan bahwqa tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Tubuh kita merupakan
sarana kehadiran Allah, sekaligus sarana kita untuk mewujudkan kehendak Allah.

PERTEMUAN X (PERSAHABATAN)

Tidak seorang pun mampu hidup sendiri, ia selalu butuh orang lain. Itulah sebabnya
manusia disebut makhluk social.
Dalam kenyataannya relasi saling membutuhkan itu tampak dalam wujud yang beranega
ragam. Ada yang semata-mata terbatas dalam hubungan timbal balik seperti orang di pasar;
atau hubungan dalam pekerjaan antara buruh dan majikan; ada pula dalam wujud lain yakni
persahabatan.
Banyak orang berteman, tetapi tidak bersahabat. Hubungan persahabatan lebih dalam dan
lebih kental dibandingkan dengan pertemanan biasa.
Hubungan yang kental dan mendalam itu dapat juga hancur oleh berbagai sebab seperti
ketidakjujuran, egoisme, mencari keuntungan sendiri, tidak setia, sikap pura-pura dan
sebagainya.

PERTEMUAN XI (PERSAHABATAN SEJATI)

Persahabatan sejati tidak dibangun demi kesenangan pribadi dan untuk waktu yang sesaat
saja. Persahabatan sejati adalah persahabata yang dilandasi iman akan Allah yang lebih
dahulu mengasihi dan menjadi sahabat manusia.
Banyak cara mengembangkan persahabatan sejati, misalnya:
- Berusaha mengenal secara mendalam sang sahabat, sehingga dapat sehati-sejiwa,
memahami harapan, kesulitan, kegembiraan dan kesedihannya agar dapat membantu
secar tepat.
- Refleksi dan berdoa agar apa saja yang kita lakukan dilakukan oleh sahabat dalam
persahabatan dalam persahabatan itu sesuai dengan kehendak Allah.

PERTEMUAN XII (PACARAN)

Rasa tertarik kepada lawan jenis merupakan bagian dari proses pertumbuhan remaja menuju
kedewasaan. Setiap orang akan atau pernah mengalaminya. Rasa tertarik itu sendiri bahkan
diberikan oleh Allah sendiri. Allah menciptaka laki-laki dan perempuan agar saling tertarik
dan dengan demikia mereka saling membantu memperkembangkan satu terhadap yang lain.
Rasa tertarik atas lawan jenis itu perlu kita tata dan kita kendalikan secara bertanggung
jawab. Itulah sebabnya, kita mengenal adanya tahap-tahap ketertarikan seseorang terhadap
lawan jenisnya. Tahap-tahap itu adalah:
- Mulai dari pergaulan biasa.
- Mulai remaja, selain bergaul dengan siapa saja, ada diantaranya yang mulai tertarik
secara khusus pada lawan jenis.
- Setelah dewasa, ketertarikan dan pacaran itu akan lebih diarahkan menuju jenjang
perkawinan.
Berpacaran tentu saja merupakan hak setiap orang muda. Tetapi setiap orang perlu secara
bijaksana menentukan kapan ia akan mulai berpacaran.
Masa pacaran bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain. Dengan mengenal secara
sungguh-sungguh diharapkan bila mereka kelak menikah, mereka akan menjadi pasangan
hidup yang berbahagia yang tidak mengalami banyak masalah atau konflik dalam hidup
rumah tangga.
PERTEMUAN XIII (AKU DITENGAH KELUARGA)

Setiap orang mendambakan keluarganya dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman
untuk mengembangkan diri, tempat yang dirindukan untuk pulang dan tinggal di dalamnya.
Tetapi ada sebagian yang merasakan situasi rumah atau keluarga sebagai neraka. Akibatnya
mereka lebih merasa lebih betah tinggal di luar rumah atau bermain dengan teman-teman
dan berusaha agar hanya sedikit waktu berada di rumah.
Keluarga zaman modern sering menghadapi tantangan antara lain banyaknya aktivitas bagi
setiap anggota keluarga yang dapat menyebabkan mereka bersikap egois, kurang adanya
komunikasi dan sebaginya.
Menciptakan suasana keluarga yang aman, nyaman dan tenteram merupakan tanggung
jawab semua anggota keluarga. Hal ini hanya mungkin tercipta bila setiap anggota keluarga
menunjukkan perannya secara aktif dan bertanggung jawab.
Sebagai anak kita dapat memperlihatkan peran itu dengan berbagai macam bentuk,
misalnya membant menjaga kebersihan rumah, mengurus pakaian sendiri, membantu
pekerjaan orang tua dan sebagainya. Peran yang lebih penting bagi kita adalah mencintai
semua anggota keluarga, khususya kedua orang tua kita. Cinta kepada orang tua dapat
ditunjukkan dengan berbagai cara, antara lain hormat terhadap orang tua.
Dalam KS hormat kepada orang tua dikaitkan dengan panjang umur dan tanah yang
dijanjikan Tuhan (Perintah Allah yang kelima).

PERTEMUAN XIV (HIDUP BERSAMA ORANG LAIN)

Karena sifat ketergantungan dan saling membutuhkan, maka sudah seharusnya manusia
saling bekerja sama agar tercipta suasana kehidupan bersama yang baik dan lancer, serta
memungkinkan setiap pribadi dapat mengembangkan dirinya secara utuh. Setiap orang
perlu menyadari bahwa dirinya tidak hanya membutuhkan orang lain, tetapi sekaligus
dibutuhkan orang lain.
Kerja sama akan berjalan baik dan lancAr bila ada saling pengertian antar pribadi. Setiap
orang harus berusaha memahami keinginan orang lain dan tidak memaksakan kehendaknya
sendiri.
Tetapi dalam kenyataannya, hidup bersama dengan orang lain tidak selamanya berjalan
mulus. Banyak faktor dapat merusak kehidupan bersama antara lain:
- Ketidakjujuran
- Egoism
- Sikap tidak peduli terhadap orang lain
- Sikap acuh tak acuh dalam hidup bersama
- Sikap sombong
- Sikap tidak adil
Untuk mencapai hidup bersama yang selaras, dibutuhkan suatu asas hidup bersama baik
yang berbentuk aturan adat, aturan kelompok, hukum dan perundang-undangan, serta
hukum agama
Hidup bersama akan terjamin bila asas hidup bersama dipahami dan dijalankan dengan
baik. Asas hidup bersama berisi syarat dan prasyarat bagaimana setiap anggota masyarakat
memperlakukan orang lain seperti kita memperlakukan diri sendiri. Umumya, asas yang
berlaku dalam masyarakat secara sederhana dapat dirumuskan melalui perumpamaan ini:
kalau kamu dicubit merasa sakit, janganlah kamu mencubit orang lain, karena orang lain
pun pasti akan merasa sakit.
Asas di atas tampak adil. Tetapi bagi Yesus asas adil saja tidak cukup, karena asas yang
paling utama dalam hidup bersama dengan orang lain adalah asas kasih. Asas kasih
mengarahkan semua orang untuk dapat mencintai sesame sebagaimana mencintai diri
sendiri. Semuanya itu dilakukan sebagai perwujudan dan ungkapan atas kasih yang telah
dialami oleh Yesus sendiri dari Allah.

PERTEMUAN XV (AKU DAN SESAMA DICINTAI ALLAH)

Allah mencintai semua orang. Ia mencintai dengan cara dan jalan yang berbeda-beda.
Ukuran cinta Tuhan sangatlah berbeda dengan ukuran manusia. Cara Tuhan mencintai
manusia sangatlah berbeda dengan cara kita. Umumnya mnusia mencintai orang lain yang
baik, yang menguntungkan dan yang mendukung. Begitu orang lain itu menjauh dari kita
atau berbeda pandangan dengan kita, maka pada saat itu pula cinta itu musnakh. Tetapi
tidak demikian halnya dengan Tuhan. Ia mencintai semua orang yang jahat maupun yang
baik.
Tentu saja kepada orang yang baik Tuhan berharap agar ia tidak sombong dan tidak
takabur. Tuhan berharap agar ia semakin baik. Tuhan juga mengasihi yang jahat. Ia
senantiasa member kesempatan kepada orang yang jahat agar berubah menjadi baik.
Melalui umur yang panjang dan rezeki yang banyak, Tuhan berharap agar orang tersebut
dapat memanfaatkan hidupnya demi kebaikan. Bahkan kepada orang yang berdosa rahmat
Tuhan pun semakin besar.
Dengan bertindak seperti itu bukan berarti Tuhan tidak adil. Sebab sejak semula Allah
hanya ingin mengasihi tanpa pandang bulu. Siapapun manusia ia tetap dicintai Allah.
Yesus mengkritik budaya kasih yang tumbuh dalam masyarakat-Nya, karena ternyata kasih
dilaksanakan secara diskriminatif. Kasih dilaksanakan seolah-olah hanya diberikan kepada
orang yang dipandang baik sedangkan yang jahat dianggap tidak perlu dikasihi.
Yesus menawarkan suatu pandangan baru tentang makna dan cara mengasihi, yakni bahwa
kasih yang sejati selalu terarah demi kabahagiaan orang lain tanpa syarat, tanpa pamrih dan
terarah kepada siapa saja termasuk orang yang memusuhi kita.
Pandangan Yesus tersebut dilandasi penghayatan-Nya bahwa Allah sendiri Mahakasih; Ia
mengasihi semua orang, yang baik maupun yang jahat.
Kepada semua orang yang percaya kepada-Nya, Yesus meminta agar mereka saling
mengasihi. Karena hanya dengan mengasihi kerajaan Allah akan benar-benar terwujud.
PERTEMUAN XVI (YESUS BERBELAS KASIH)
Semua orang dapat berbelas kasih kepada sesama. Belas kasih bukan terutama menyangkut
besar kecilnya bantuan yang dapat diberikan. Bantuan yang besar tentu saja baik. Tetapi
hal yang terpenting dalam belas kasih adalah sikap bela rasa, merasakan penderitaan orang
lain sebagai penderitaan dirinya.
Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang kaya raya mempunyai sikap belas
kasih. Sebaliknya, banyak orang miskin yang memiliki belas kasih kepada sesamanya,
terutama yang lebih menderita darinya.
Bagi orang-orang Yahudi pada zaman Yesus, kemalangan atau penderitaan dan kematian
(apalagi di usia muda) dipandang sebagai hukuman dari Allah akibat dosa. Tetapi Yesus
tidak terbawa oleh arus pandangan yang keliru tersebut. Sebaliknya, Yesus mewartakan
kerahiman Allah, yakni Allah yang peduli dan berbela rasa pada orang-orang yang tertimpa
kemalangan dan yang putus harapan.
Motivasi belas kasih yang dilakukan Yesus bukan demi mencari pengikut sebanyak-
banyaknya, bukan pula demi popularitas-Nya, melainka demi pembebasan orang yang
dikasihinya.
Belas kasih seperti yang dimiliki oleh Yesus sungguh-sungguh belas kasih yang mengalir
dari Allah Bapa sendiri.

PERTEMUAN XVII (YESUS MENGAMPUNI)


Tidak setiap orang yang melakukan kesalahan mau mengakui kesalahannya atau meminta
maaf. Dan juga tidak setiap orang muda memaafkan atau mengampuni, apalagi bila
kesalahan yang dilakukan orang lain tersebut dirasa sangat menyakitikan.
Faktor yang menghambat orang berani mengakui kesalahan atau memaafkan, antara lain:
keinginan untuk mempertahankan harga diri, atau wibawa, merasa gengsi.
Kekurangjujuran atau ketidakberanian mengakui kesalahan dapat menjadikan hati nurani
tumpul yang mengakibatkan kesalahan apapun dianggap biasa, akhirnya lama-lama
kesalahan besar pun termasuk yang merugikan orang lain akan dianggap biasa pula.
Ketidakmampuan memaafkan/mengampuni, selain dapat menyebabkan orang yang bersalah
menanggung rasa bersalah berkepangjangan, dapat juga menyebabkan tumbunya
permusuhan dan kebencian serta dendam, yang sesungguhnya dapat merugikan diri sendiri.
Yesus digambarkkan sebagai pribadi yang selalu hadir dengan kasih-Nya yang tidak
terbatas kepada siapapun, termasuk kepada kaum pendosa.
Yesus menegaskan bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang pasti pernah
melakukan kesalahan dan terhadap kesalahan itu Allah senantiasa mengampuni. Oleh
karena itu, jangan sampai melakukan penghakiman kepada yang berdosa tanpa mawas diri
terlebih dahulu, seolah-olah dirinya yang paling suci, paling baik dan sebagainya.
Allah senatiasa mengampuni dan memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat.

PERTEMUAN XVIII (YESUS RELA BERKORBAN)

PERTEMUAN XIX (YESUS PEDULI TERHADAP PENDERITAAN SESAMA)


Banyak keprihatinan dalam masyarakat disebabkan oleh sikap tidak peduli warga
masyarakat terhadap sesama dan lingkungannya. Jarang sekali ada orang yang berani
menegur sesamanya yang membuang sampah di sembarangan tempat. Padahal bila
kebiasaan tersebut dibiarkan dapat mengakibatkan banjir dan pencemaran lingkungan.
Demikian pua banyak orang bersikap kurang peduli terhadap sesama yang kekurangan.
Sikap kurang peduli lebih banyak disebabkan oleh sikap egoism, yakni ketika seseorang
tidak lagi memikirkan nasib sesamanya dan lebih memikirkan dan mementingkan diri
sendiri.
Sikap peduli terhadap sesama tidak mungkin tumbuh dengan sendirinya tanpa membiaskan
diri. Kebiasaan itu perlu dipupuk sejak dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.
Untuk berbuat baik ternyata tidak selalu mudah. Sering kali ada hambatan, entah dari diri
sendiri, maupun dari orang lain. Hal ini sering membuat orang akhirnya menjadi bersikap
tidak peduli/acuh tak acuh dengan sekitarnya karena tidak ingin direpotkan dengan berbagai
hal.

PERTEMUAN XX (YESUS SANG PENDOA)


Doa dalam hidup sehari-hari tidak semata-mata berbicara kepada Tuhan, tetapi juga
mendengarkan Tuhan, merasakan dan mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup sehari-hari.
Yesus adalah pribadi yang suka berdoa. Seluruh hidup dan karya-Nya dihayati dalam
kesatuan dengan Bapa-Nya. Dengan kata lain, sebagai seorang pendoa, Yesus melihat
hidup-Nya sendiri adalah suatu doa yang dipersembahkan kepada Bapa-Nya. Maka setiap
saat, Yesus tidak lupa mencari tempat sunyi untuk berbicara dengan Bapa-Nya setelah
sepanjang hari melakukan karya-karya-Nya di tengah sesama.
Dalam doa-Nya, Yesus selalu menyerahkan seluruh suka duka-nya pada Bapa-Nya. Bagi
Yesus bukan kehendak-Nya yang harus terjadi, melainkan kehendak Bapa-Nya.

PERTEMUAN XXI (YESUS MEWARTAKAN CINTA TANPA PENGKOTAKAN)


Yesus hidup dalam masyarakat Yahudi di mana cinta yang terkotak-kotak masih
dipraktekkan oleh sebagian anggota masyarakat. Cinta diukur berdasarkan hal-hal yang
sifatnya dangkal, misalnya sedarah, seagama, status social yang tinggi dan sebagainya.
Maka, orang yang berbeda ata tidak memenuhi criteria yang ada dibenci dan disingkirkan.
Hal itu secara jelas kelihatan dalam kasus-kasus yang diceritakan dalam Injil seperti
Zakeus, orang-orang yang sakit dan sebagainya. Mereka dibenci oleh banyak orang
terutama oleh para pemimpin agama karena dianggap berbeda dengan mereka.
Situasi tersebut di atas sangat memprihatinkan. Yesus ternyatq amat mencintai mereka.
Yesus menyembuhkan orang sakit, bukan menjauhi dan mengutuknya sebagai orang yang
dikutuk Allah. Yesus mengampuni orang berdosa dan perempuan yang berzinah sehingga
mereka pun bertobat.
Apa yang melatarbelakangi sikap Yesus itu? Yesus melihat bahwa pada hakikatnya cinta itu
sendiri selalu terarah pada orang lain. Kalau kita mencintai orang lain, sesungguhnya kita
harus berusaha bagaimana orang yang kita cintai itu bahagia. Cinta semacam itulah yang
disebut cinta sejati. Cinta sejati mengandaikan adanya keberanian seseorang untuk
berkorban.
Cinta sejati bukanlah monopoli agama tertentu atau bangsa tertentu. Cinta sejati dapat
dimiliki oleh semua orang. Hal itu dapat dikembangkan bila orang sadar bahwa dirinya
telah dicintai Allah dan Allah mencintai semua orang tanpa pandang bulu. Maka sebagai
anak-anak-Nya, semua orang dipanggil menjadi duta Allah menebarkan cinta sejati bagi
semua orang.

PERTEMUAN XXII (YESUS MEWARTAKAN SABDA BAHAGIA)


Hidup bahagia merupakan tujuan semua orang. Tidak seorang pun yang tidak menginkan
hidup bahagia. Tetapi makna kebahagiaan seseorang sangat bergantung pada ukuran
kebahagiannya. Pemahaman makna dan ukuran kebahagiaan juga akan menentukan siap
orang tersebut terhadap waktu, materi, orang lain bahkan sikapnya terhadap Allah.
Orang yang mengukur kebahagiaan dari kepemilikan harta kekayaan biasanya akan
melakukan apa saja agar dapat memperoleh harta itu. Ia akan menggunakan sebagian besar
waktu, tenaga dan pikirannya untuk mendapatkan harta yang diinginkannya.
Ada orang yang menganggap bahwa ukuran kebahagiaan adalah persaudaraan.
Orang yang menganggap bahwa ukuran kebahagiaan adalah memperoleh kedudukan tinggi,
biasanya akan berusaha agar dapat memperoleh kedudukan itu.
Sabda Bahagia yang diucapkan Yesus merupakan salah satu pengajaran khusus yang
ditujuka kepada murid Yesus pada awal karya-Nya. Yesus mempunyai maksud khusus
dengan mengungkapkan sabda bahagia, yaitu:
1. Yesus ingin menyiapkan para murid-Nya untuk tugas perutusan mewartakan kabar
gembira keselamatan kepada dunia sebagaimana yang dikehendaki Allah
2. Sabda bahagia mempunyai nilai eskatalogis (berkaitan denga akhir zaman). Nilai-nilai
dalam sabda bahagia merupakan tuntutan atau prasyarat bagi semua orang yang ingin
masuk dalam kerajaan sorga.
3. Sabda bahagia merupakan hukum baru untuk menggantikan hukum lama.

PERTEMUAN XXIII (YESUS MEWARTAKAN KEBEBASAN ANAK-ANAK ALLAH)


Makna kebebasan
Kebebasan dapat dimengerti dalam dua segi:
1. Kebebasan negatif, yakni bebas dari:
Setiap orang mendambakan dirinya terbebas dari banyak hal: bebas dari rasa lapar,
bebas dari sakit, bebas dri siksaan badan dan sebagainya. Dapat juga orang
mendambakan kebebasan dari belajar, dari suatu permintaan, dari suatu organisasi. Dan
bebas dari marah, dari tekanan orang lain dan bebas dari kejahatan.
2. Kebebasan positif, yakni bebas untuk:
Kita bebas untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan berguna. Bebas untuk
menolong, mengeluarkan pendapat dan sebagainya.
Fungsi kebebasan
Berkat kebebasan yang dimilikinya, manusia tampil sebagai ciptaan Allah yang bermartabat
luhur. Berkat kebebasannya pula manusia dapat mengembangkan dirinya menuju
kesempurnaan berkat pilihan-pilihan yang dimilikinya.
Kebebasan dan tanggung jawab terhadap aturan
Bagaimanapun kebebasan yang kita miliki tidak pernah bebas dalam arti yang sepenuhnya.
Kebebasan yang kita miliki selalu berhadapan dengan norma atau aturan yang berlaku, baik
yang dibuat sendiri maupun yang dibuat bersama. Oleh karena itu kebebasan perlu
dijalankan secara bertanggung jawab. Norma atau aturan bukan merupakan penghalang
kebebasan, melainkan berfungsi untuk mengatur supaya kehidupan bersama berjalan tertib.
Setiap orang Kristen percaya bahwa bekat baptisan ia diangkat menjadi anak-anak Allah
yang merdeka atau bebas. Ia menjadi pribadi yang bebas dari dosa, dari hukum yang
menghambat relasi antara manusia dan Allah, dan dari kematian kekal. Ia juga menjadi
pribadi yang bebas untuk mengasihi dan melayani Allah dan sesamanya.
Pandangan kristiani tentang kebebasan mengandung dua segi yang tidak dapat dipisahkan
satu dengan yang lain. Di satu pihak, manusia memang harus bebas dari hal-hal yang
mengekang dan mengahambat seseorang untuk berkembang dan mengaktualisasikan
dirnya. Tapi di lain pihak manusia juga harus bebas untuk melakukan segala sesuatu yang
baik dan benar dalam upaya membawa dirinya menuju kesempurnaan.
Kebebasan merupakan sarana manusia untuk makin mendekati Allah. Oleh karena itu
kebebasan harus dijalankan sesuai dengan kehendak Allah sendiri. Itulah sebabnya
kebebasan yang sejati pada dasarnya merupakan kebebasan anak-anak Allah, sebagaimana
yang diwartakan oleh Yesus.
Sebagai murid-murid Yesus kita adalah orang-orang yang telah dibebaskan berkat sengsara
dan wafat-Nya, yang rahmat-Nya kita terima secara khusus dalam baptisan

PERTEMUAN XXIV (YESUS MEMPERJUANGKAN KESETARAAN MARTABAT


MANUSIA)
Kita masih kerap menjumpai narapidana yang sekalipun sudah bertoat tapi masih
disingkirkan oleh masyarakat. Masyarakat sulit manerima dan menghargai wts walaupun
sudah bertobat dan kembali ke masyarakat. Kasus-kasus yang memprihatinkan dalam
masyarakat berkaitan dengan kurangnya penghargaan terhadap manusia masih cukup
banyak.
Setara atau sederajat, merupakan situasi di mana seseorang diperlakukan sebagai pribadi
yang bermartabat luhur, memiliki kemampuan yang khas dan khusus. Hal ini berlaku untuk
semua orang.
Seseorang tidak boleh dianggap rendah hanya karena ia perempuan, karena miskin, karena
bodoh, karena dia bukan pemimpin dan sebagainya. Mereka tetaplah berharga dan karena
itu harus dihargai dan dianggap penting.
Semasa hidup dan berkarya Yesus berjuang keras menegakkan kesetaraan martabat
manusia. Motivasi utama memperjuangkan kesetaraan adalah demi kerajaan Allah. Bagi
Yesus, salah satu wujud kerajaan Allah adalah bila manusia dapat hidup berdampingan
sebagai saudara yang setara dalam martabat.