Anda di halaman 1dari 11

A.

Konsep Medis
1. Definisi
Demam adalah meningkatnya temperatur suhu tubuh secara
abnormal (Nurarif & Kusuma, 2015)
2. Klasifikasi
a. Demam septik
Suhu badan beransur naik ketingkat yang tinggi sekali
pada malam hari dan turun kembali ketingkat diatas normal
pada pagi hari. Sring disertai keluhan menggigil dan
berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun ke tingkat
yang normal dinamakan juga demam hektik
b. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah
mencapai suhu badan normal. Penyebab suhu yang mungkin
tercatat dapat mecapai dua derajat dan tidak sebesar
perbedaan suhu yang dicatat demam septik
c. Demam intermiten
Suhu badan turun ketingkat yang normal selama
beberapa jam dalam satu hari. Bila demam seperti ini terjadi
dalam dua hari sekali disebut tersiana dan bila terjadi dua hari
terbebas demam diantara dua serangan demam disebut
kuartana
d. Demam kontinyu
Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu
derajat. Pada tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali
disebut hiperpireksia
e. Demam siklik
Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang
diikuti oleh beberapa periode bebas demam untuk beberapa
hari yang kemudian diikuti oleh kenaikan suhu seperi semula.
Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan dengan suatu
penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk
malaria. Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin
dapat dihubungkan segera dengan suatu sebab yang jelas
seperti: abses, pneumonia, infeksi saluran kencing, malaria,
tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera
dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para
pasien dengan demam yang baru saja dialami, pada dasarnya
merupakan suatu penyakit yang self-limiting seperti influensa
atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini tidak berarti
kita tidak harus tetap waspada terhadap infeksi bakterial
(Nurarif & Kusuma, 2015).
3. Etiologi
a. Penyebab demam selain infeksi juga dapat disebabkan oleh
keadaan toksemia, keganasan atau reaksi terhadap
pemakaian obat, juga pada gangguan pusat regulasi suhu
sentral (misalnya: perdarahn otak, koma). Pada dasarnya
untuk mencapai ketetapan diagnosis penyebab demam
diperlukan antara lain: ketelitian pengambilan riwayat penyakit
pasien, pelaksanaan pemeriksaan fisik, observasi perjalanan
penyakit dan evaluasi pemeriksaan laboratorium, serta
penunjang lain secara tepat dan holistik
b. Beberapa hal khusus perlu diperhatikan pada demam adalah
cara timbul demam, lama demam, tinggi demam serta keluhan
dan gejala lain yang menyertai demam.
c. Demam belum terdiagnosa adalah suatu keadaan dimana
seorang pasien mengalami demam terus menerus selama 3
minggu dan suhu badan diatas 38,3 derajat celcius dan tetap
belum didapat penyebabnya walaupun telah diteliti selama
satu minggu secara intensif dengan menggunakan sarana
laboratorium dan penunjang medis lainnya (Nurarif & Kusuma,
2015).
4. Patofisiologi
Demam terjadi sebagai respon tubuh terhadap peningkatan
set point, tetapi ada peningkatan suhu tubuh karena pembentukan
panas berlebihan tetapi tidak disertai peningkatan set point.
Demam adalah sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon
imun) anak terhadap infeksi atau zatasing yang masuk ke dalam
tubuhnya. Bila ada infeksi atau zat asing masuk ke tubuh akan
merangsang sistem pertahanan tubuh dengan dilepaskannya
pirogen. Pirogen adalah zat penyebab demam, ada yang berasal
dari dalam tubuh (pirogen endogen) dan luar tubuh (pirogen
eksogen) yang bisa berasal dari infeksi oleh mikroorganisme atau
merupakan reaksi imunologik terhadap benda asing (non
infeksi).Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat
penerima (reseptor) yang terdapat pada tubuh untuk disampaikan
ke pusat pengatur panas di hipotalamus. Dalam hipotalamus
pirogen ini akan dirangsang pelepasan asam arakidonat serta
mengakibatkan peningkatan produksi prostaglandin (PGEZ). Ini
akan menimbulkan reaksi menaikkan suhu tubuh dengan cara
menyempitkan pembuluh darah tepi dan menghambat sekresi
kelenjar keringat. Pengeluaran panas menurun, terjadilah
ketidakseimbangan pembentukan dan pengeluaran panas.Inilah
yang menimbulkan demam pada anak. Suhu yang tinggi ini
akanmerangsang aktivitas tentara tubuh (sel makrofag dan sel
limfosit T) untuk memerangi zat asing tersebut dengan
meningkatkan proteolisis yang menghasilkan asam amino yang
berperan dalam pembentukan antibodi atau sistem kekebalan
tubuh.
Sedangkan sifat-sifat demam dapatberupa menggigil atau
krisis/flush.
Menggigil.Bila pengaturan termostat dengan mendadak diubah
dari tingkat normal ke nilai yang lebih tinggi dari normal sebagai
akibat dari kerusakan jaringan,zat pirogen atau dehidrasi. Suhu
tubuh biasanya memerlukan beberapa jam untuk mencapai suhu
baru.Krisis/flush.Bila faktor yang menyebabkan suhu tinggi
dengan mendadak disingkirkan, termostat hipotalamus dengan
mendadak berada pada nilai rendah, mungkin malahan kembali ke
tingkat normal.
5. Manifestasi klinis
Pada saat terjadi demam, gejala klinis yang timbul bervariasi
tergantung pada fase demam meliputi:
a. Fase 1 awal (awitan dingin/ menggigil)
Tanda dan gejala:
1) Peningkatan denyut jantung
2) Peningkatan laju dan kedalaman pernapasan
3) Mengigil akibat tegangan dan kontraksi otot
4) Peningkatan suhu tubuh
5) Pengeluaran keringat berlebih
6) Rambut pada kulit berdiri
7) Kulit pucat dan dingin akibat vasokontriksi pembuluh darah

b. Fase 2 ( proses demam)


Tanda dan gejala:
1) Proses mengigil lenyap
2) Kulit terasa hangat / panas
3) Merasa tidak panas / dingin
4) Peningkatan nadi
5) Peningkatan rasa haus
6) Dehidrasi
7) Kelemahan
8) Kehilangan nafsu makan ( jika demam meningkat)
9) Nyeri pada otot akibat katabolisme protein.
c. Fase 3 (pemulihan)
Tanda dan gejala
1) Kulit tampak merah dan hangat
2) Berkeringat
3) Mengigil ringan
4) Kemungkinan mengalami dehidras
Umumnya tanda dan gejala demam:
a. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8C -40C)
b. Kulit kemerahan
c. Hangat pada sentuhan
d. Peningkatan frekuensi pernapasan
e. Menggigil
f. Dehidrasi
g. Kehilangan nafsu makan
Beberapa diagnosis banding untuk demam:
a. Inveksi virus dengue: demam dengue, demam berdarah
dengue dan sindrom syok dengue
Tanda dan gejala:
1) Demam atau riwayat demam mendadak tinggi selama 2-7
hari
2) Manifestasi perdarahan (sekurang-kurangnya uji banding
positif)
3) Pembesaran hati
4) Tanda-tanda gangguan sirkulasi
5) Peningkatan nilai hematokrit, trombositopenia dan
leukopenia
6) Ada riwayat keluarga atau tetangga sekitar menderita atau
tersangka DBD
b. Malaria
Tanda dan gejala:
1) Demam tinggi khas bersifat intermiten
2) Demam terus menerus
3) Menggigil, nyeri kepala, berkeringat, dan nyeri otot
4) Anemia
5) Hepatomegali, spienomegali
6) Hasil apus darah positif (plasmodium)
c. Demam tifoid
Tanda dan gejala :
1) Demam lebih dari 7 hari
2) Terlihat jelas sakit dan kondisi serius tanpa sebab yang
jelas
3) Nyeri perut, kembung, mual, muntah, diare, konstipasi
4) Delirium
d. Infeksi saluran kemih
Tanda dan gejala:
1) Demam terutama dibawah umur 2 tahun
2) Nyeri ketika berkemih
3) Berkemih lebih sering dari biasanya
4) Mengompol (diatas usia 3 tahun)
5) Ketidakmampuan menahan kemih pada anak yang
sebelumnya bisa dilakukannya
6) Nyeri ketuk sudut kostovertebral atau nyeri tekan
suorapubik
7) Hasil urinalisis menunjukkan proteinuria, leukosituria
(>5/lpb) dan hematuria (>5/lpb)
e. Sepsis
Tanda dan gejala:
1) Terlihat jelas sakit berat dan kondisi serius tanpa
penyebab yang jelas
2) Hipo atau hipertermia
3) Takikardi, takipneu
4) Gangguan sirkulasi
5) Leukositosis atau leukopenia
(Nurarif & Kusuma, 2015).
6. Pemeriksaan penunjang
Sebelum meningkat ke pemeriksaan- pemeriksaan yang
mutakhir, yang siap tersedia untuk digunakan seperti
ultrasonografi, endoskopi atu scanning, masih dapat diperiksa
bebrapa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/ lesi
permukaan atau sinar tembus rutin.
Dalam tahap berikutnya dapat dipikirkan untuk membuat
diagnosis dengan lebih pasti melalui biopsy pada tempat- tempat
yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti
angiografi, aortografi, atau limfangiografi
7. Penatalaksanaan
a. Secara Fisik
1) Anak demam ditempatkan dalam ruangan bersuhu normal
2) Pakaian anak diusahakan tidak tebal
3) Memberikan minuman yang banyak karena kebutuhan air
meningkat
4) Memberikan kompres
b. Obat- obat Antipiretik
Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di
pusat pengatur suhu di hipotalamus.Antipiretik berguna untuk
mencegah pembentukan prostaglandin dengan jalan
menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set point
hipotalamus direndahkan kembali menjadi normal yang mana
diperintah memproduksi panas diatas normal dan mengurangi
pengeluaran panas tidak ada lagi Penderita tifus perlu dirawat
dirumah sakit untuk isolasi (agar penyakit ini tidak menular ke
orang lain). Penderita harus istirahat total minimal 7 hari
bebas panas. Istirahat total ini untuk mencegah terjadinya
komplikasi di usus. Makanan yang dikonsumsi adalah
makanan lunak dan tidak banyak berserat. Sayuran dengan
serat kasar seperti daun singkong harus dihindari, jadi harus
benar-benar dijaga makanannya untuk memberi kesempatan
kepada usus menjalani upaya penyembuhan.
Pengobatan yang diberikan untuk pasien febris typoid
adalah antibiotika golongan Chloramphenicol dengan dosis 3-
4 x 500 mg/hari;
Petunjuk pemberian antipiretik:
1) Bayi 6 12 bulan : 1 sendok the sirup parasetamol
2) Anak 1 6 tahun : parasetamol 500 mg atau 1 1
sendokteh sirup parasetamol
3) Anak 6 12 tahun : 1 tablet parasetamol 5oo mg atau 2
sendok the sirup parasetamol.
Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu
dilarutkan dengan air atau teh manis. Obat penurun panas in
diberikan 3 kali sehari. Gunakan sendok takaran obat dengan
ukuran 5 ml setiap sendoknya.
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama
dalam menurunkan demam dan sangat berguna khususnya
pada pasien berisiko, yaitu anak dengan kelainan
kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit neurologis
dan pada anak yang berisiko kejang demam

B. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Identitas : Meliputi nama, umur, pendidikan, susku bangsa,
pekerjaan, agama, alamat.
b. Riwayat kesehatan
Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat
pengkajian) : panas.
c. Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita
pasien saat masuk rumah sakit): sejak kapan timbul demam,
sifat demam, gejala lain yang menyertai demam (misalnya:
mual, muntah, nafsu makn, eliminasi, nyeri otot dan sendi dll),
apakah menggigil, gelisah.
d. Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama
atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien).
e. Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau
penyakit lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang
lain baik bersifat genetik atau tidak)

Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : kesadaran, vital sign, status nutrisi
b. Pemeriksaan persistem
1) Sistem persepsi sensori
2) Sistem persyarafan : kesadaran
3) Sistem pernafasan
4) Sistem kardiovaskuler
5) Sistem gastrointestinal
6) Sistem integument
7) Sistem perkemihan
c. Pada fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
2) Pola nutrisi dan metabolism
3) Pola eliminasi
4) Pola aktivitas dan latihan
5) Pola tidur dan istirahat
6) Pola kognitif dan perceptual
7) Pola toleransi dan koping stress
8) Pola nilai dan keyakinan
9) Pola hubungan dan peran
Pemeriksaan penunjang
a. Laboratorium
b. Foto rontgent
c. USG
2. Diagnosa keperawatan
a. Hipertemia berhubungan dengan proses penyakit
b. Resiko injury berhubungan dengan infeksi mikroorganisme
c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan
intake yang kurang dan diaporesisi (Nurarif & Kusuma, 2015).

DAFTAR PUSTAKA

Kurnia, Rizki. 2011. Asuhan Keperawatan Demam Febris. ( Online )


Tersedia:http://asuhankeperawatanonline.blogspot.com/2012
/03/asuhan-keperawatan-pasien-dengan-febris.html. Diakses
pada tanggal 04 Juli 2017 jam 14.30

Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan


Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC Edisi
Revisi Jilid 1. Jogyakarta: Mediaction.

Putra , Komarudin. 2010 .Asuhan Keperawatan Febris . ( Online )


Tersedia : http://stikesbp.blogspot.com/2013/06/askep-
febris.html
PATHWAY FEBRIS

Agen infeksius mediator


inflamasi
Dehidrasi

Monosit/makrofag
Tubuh kehilangan cairan

Sitokin pirogen
Penurunan cairan
intrasel
Mempengaruhi
hipothalamus anterior

Demam

Aksi antipiretik

Ph berkurang
Peningkatan evaporasi
Meningkatnya
anoreksia
metabolik tubuh

MK: Resiko defisit


Intake makanan
volume cairan
Kelemahan berkurang

Gangguan
rasa MK: Resiko
nyaman gangguan
MK: Intoleransi pemenuhan
aktifitas nutrisi kurang
Rewel dari kebutuhan
tubuh
Cemas

MK: Kurang
pengetahuan