Anda di halaman 1dari 103
GAMBARAN FAKTOR RESIKO PADA TIMUR TAHUN 2014 Skripsi Sarjana Keperawatan (S. Kep)
GAMBARAN FAKTOR RESIKO PADA
TIMUR TAHUN 2014
Skripsi
Sarjana Keperawatan (S. Kep)

PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS CIPUTAT

Diajukan sebagai Tugas Akhir Untuk Memenuhi Persyaratan Gelar

OLEH:

RUSTIANA NIM: 1110104000040

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2014 M/1435 H

i

i

ABSTRAK
ABSTRAK

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

Skripsi, Juli 2014

Rustiana, NIM: 1110104000040

Gambaran Faktor Risiko pada Penderita Hipertensi di Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014

xvii+ 63 halaman, 15 tabel, 2 bagan, 7 lampiran

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama penyakit kardiovaskular di seluruh dunia. Secara global, tingginya tekanan darah diperkirakan menjadi penyebab 7,1 juta kematian atau sekitar 13% total kematian. Prevalensi hipertensi diprediksi pada tahun 2025 sebanyak 29% orang dewasa di seluruh dunia menederita hipertensi, prevalensi di Indonesia sebesar 31,7%. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif untuk mengetahui gambaran faktor risiko pada penderita hipertensi diwilayah kerja puskesmas Ciputat Timur tahun 2014. Responden berjumlah 122 orang yang diambil secara convenience. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei-Juni 2014. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi sebesar 8,73%. Dan beberapa faktor resiko pada penderita hipertensi didapatkan adalah jenis kelamin perempuan yang lebih dominan sejumlah 82 (67,2%), umur pada rentang 57-76 sejumlah 90 (72,8%), riwayat keluarga dengan hipertensi sejumlah 71 (58,2%), konsumsi makanan asin sejumlah 82 (69,7%), tidak melakukan olahraga sejumlah 96 (78,7%), stres sejumlah 68 (55,7%).

Kata Kunci : Hipertensi, Faktor Resiko

Daftar Bacaan : 52 (2000-2014)

ii

SCHOOL OF NURSING FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE ISLAMIC STATE UNIVERSITY SYARIF HIDATULLAH JAKARTA
SCHOOL OF NURSING
FACULTY OF MEDICINE AND HEALTH SCIENCE
ISLAMIC STATE UNIVERSITY SYARIF HIDATULLAH JAKARTA
Undergraduated Thesis, July 2014
Rustiana, NIM: 1110104000040
The Description of the Risk Factors to Hypertension Patients in Health
Center East Ciputat in year 2014
xvii+ 63 pages, 15 tabels, 2 charts, 7 attachments
ABSTRACT
Hypertension was a major cause of cardiovascular disease in over the world.
Globally, high blood pressure was estimated to be the cause of 7,1 million deaths
or about 13% of total deaths. Prevalence of hypertension in 2025 was predicted as
many as 29% of adult worldwide suffered from hypertension. Prevalence in
Indonesia gained 31,7%.
This study was in the form of descriptive qualitative research, With the purpose to
see the description of the risk factors to hypertension patients in health center east
Ciputat in year 2014. There were 122 respondents who were taken conveniently.
The data were taken on May – June 2014.
The result of this study showed that prevalence hypertension gained 8,73% and
women were more dominant as a hypertension sufferer. The percentage was 82
(67,2%), the age in interval 57-76 was 90 (72,8%), family history with
hypertension was 71 (58,2%), salty food consuming was 82 (67,7%), exercising
habit was 96 (78,8%), stressful was 68 (55,7%).

Key words: hypertension, risk factor

Reference: 52 (2000-2014)

iii

iv

iv

v

v

vi

vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP : Ruatiana : Kayu Agung, 27 Oktober 1992 : Perempuan : Islam
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
: Ruatiana
: Kayu Agung, 27 Oktober 1992
: Perempuan
: Islam
: Belum Menikah
: Indonesia
: Tanjung Raja, Lk IV RT. 007/RW - , Kel Tanjung
Raja Utara
Kec. Tanjung Raja , Kab. OI , Prov.
SUMSEL
: Rustiana2710@gmail.com
:

Nama

Tempat/Tanggal Lahir

Jenis Kelamin

Agama

Status

Kewarganegaraan

Alamat

Email

Riwayat Pendidikan

1. TK ABA Tanjung Raja

(1997-1998)

2. SD Negeri 05 Tanjung Raja

(1998-2004)

3. Mts Negeri Tanjung Raja

(2004-2007)

4. MAN Sakatiga

(2007-2010)

5. S-1 Keperawatan Fakultas Kedokteran

(2010-sekarang)

dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam

Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

vii

KATA PENGANTAR Puji Syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, hidayah, berjudul “Gambaran Faktor
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat, hidayah,
berjudul
“Gambaran
Faktor
Resiko
Pada
Penderita
Hipertensi
Di
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana
Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan semua pihak baik moril

kekuatan dan karunia-Nya. Shalawat serta salam tidak lupa dihanturkan kepada

baginda Nabi Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

yang

Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014 “.

keperawatan pada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran dan

Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Melalui penyusunan skripsi ini,

banyak hal yang telah penulis peroleh terutama dalam menambah pengetahuan

penulis yang berhubungan dengan aplikasi mata kuliah.

maupun materiil, sehingga dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima

kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr, Komarudin Hidayat selaku Rektor Universitas Islam

Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Bapak Prof. Dr. dr. MK Tadjudin Sp.And selaku Dekan FKIK Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Bapak Ns. Waras Budi Utomo, S.Kep, MKM selaku Ketua Program Studi

dan Ibu Eni Nur’aini Agustini selaku Sekertaris Program Studi Ilmu

Keperawatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

viii

4. Bapak Jamaludin, S.kp, M.kep selaku pembimbing akademik yang telah memberikan motivasi selama penulis belajar
4. Bapak Jamaludin, S.kp, M.kep selaku pembimbing akademik yang telah
memberikan motivasi selama penulis belajar di Program Studi Ilmu
Keperawatan.
Sekaligus
menjadi
Dosen
pembimbing
1
yang
telah
memberikan waktu dan arahan, dalam membimbing untuk menyelesaikan
skripsi ini.
5. Bapak Karyadi, Ph. D
sebagai pembimbing II yang telah memberikan
waktu dan arahan, dalam membimbing untuk menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak/ibu
Dosen
Program
Studi
Ilmu
Keperawatan,
yang
telah
memberikan ilmu yang sangat berguna dan telah membantu penyelesaian
skripsi ini melalui ilmu yang diberikan selama perkuliahan.
7. Seluruh staf karyawan Program Studi Ilmu keperawanan Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
8. Seluruh pihak dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan yang telah
membantu dan memberikan izin tempat penelitian.
9. Seluruh pihak dari Puskesmas Ciputat Timur yang telah membantu

peneliti selama penelitian ini.

10. Seluruh responden yang telah membantu penelitian ini.

11. Seluruh Pihak dari Dinas Pendidikan Kota Palembang SUMSEL yang

telah membantu penulis selama menempuh pendidikan hingga dapat

menyelesaikan skripsi ini.

12. Ayahanda (H. Maskadir (Alm)), Ibunda (Masriah) serta kakak-kakakku

tercinta yang telah memberikan kekuatan, kasih sayang, do’a serta tak

henti-hentinya

memberikan

dorongan

ix

baik

moril,

materiil

maupun

spiritual kepada penulis selama menempuh pendidikan hingga dapat menyelesaikan skripsi ini. 13. Seorang terkasih Dhany
spiritual kepada penulis selama menempuh pendidikan hingga dapat
menyelesaikan skripsi ini.
13. Seorang terkasih Dhany Indra Pradhana yang telah memberikan kekuatan,
semangat, kasih sayang, bimbingan serta do’a selama proses penyelesaian
skripsi ini.
14. Sahabat-sahabatku di SJD-SS seperjuangan, selalu bersama-sama dan
senantiasa saling memberikan semangat dan do’anya agar penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
15. Sahabat-sahabat terbaikku Harun, Bayu, Rosi, Ayu, Zata, Ana, Lulu,
Meli, Choyin, Yoga, Galuh, Adel, Fidah, Hilma, Maryam, Naila, Fitri
Farhani, Nina, Desi, dan Febti yang selalu bersama-sama dan senantiasa
memberikan semangat dan do’anya agar penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini.
16. Teman-temanku di PSIK 2010 seperjuangan, selalu bersama-sama dan
senantiasa saling memberikan semangat dan do’anya agar penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

17. Semua pihak yang telah membantu selesainya skripsi ini baik dalam

persiapan, dan pelaksanaan yang tidak dapat disebutkan satu persatu

dalam kesempatan ini.

x

Penulis berdo’a semoga semua kebaikan yang telah diberikan mendapat Jakarta, Juli 2014 Penulis
Penulis berdo’a semoga semua kebaikan yang telah diberikan mendapat
Jakarta,
Juli 2014
Penulis

balasan dari Allah SWT amin. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat dan

menambah wawasan pembaca pada umumnya.

xi

DAFTAR ISI Hal LEMBAR PERNYATAAN ABSTRACK ABSTRAK LEMBAR PERSETUJUAN LEMBAR PENGESAHAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP KATA
DAFTAR ISI
Hal
LEMBAR PERNYATAAN
ABSTRACK
ABSTRAK
LEMBAR PERSETUJUAN
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR BAGAN
DAFTAR TABEL
DAFTAR lAMPIRAN
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
xiv
xv
xvi
xvii
BAB I PENDAHULUAN
1
A. Latar Belakang
1
B. Rumusan Masalah…………………………………………………
8
C. Pertanyaan Penelitian……………………………………………….
8
D. Tujuan Penelitian
9
 

1 Tujuan Umum

9

2 Tujuan Khusus

9

E.

Manfaat Penelitian

10

1. Manfaat untuk instansi pelayanan kesehatan

10

2. Manfaat untuk Masyarakat

10

3. Manfaant untuk Peneliti

11

xii

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 12 A. Pengertian Hipertensi 12 B. Penyebab Hipertensi 14 C. Faktor
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
12
A. Pengertian Hipertensi
12
B. Penyebab Hipertensi
14
C. Faktor Resiko Hipertensi
15
1. Faktor Resiko yang tidak dapat diubah
15
2. Faktor Resiko yang dapat diubah
19
D. Kerangka Teori
………………
29
BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
31
A. Kerangka Konsep
31
B. Definisi Operasional
33
BAB IV METODE PENELITIAN
37
A. Desain Penelitian
37
B. Lokasi dan Waktu…………………………………………………
37
C. Populasi dan Sampel
37
1. Populasi
37
2. Sampel
37
D. Pengumpulan Data
38
1.
Sumber Data
38
2.
Instrumen Penelitian
39
E. Pengolahan Data……………………
40
1. Pemerikasaan Data (editing)
40
2. Pemeriksaan kode (coding)
40
3. Penyuntingan data (data editing)
40
4. Pemasukan data
41
5. Pembersihan data
41
F. Analisis Data
41

xiii

BAB V HASIL PENELITIAN 42 A. Gambaran Tempat penelitian 42 1. Latar belakang 42 2.
BAB V HASIL PENELITIAN
42
A. Gambaran Tempat penelitian
42
1. Latar belakang
42
2. Visi, Misi, Motto Puskesmas Ciputat Timur
42
3. Gambaran Umum
43
4. Program Kesehatan Puskesmas Ciputat Timur
46
5. Data Sumber Daya
47
B. Analisis Univariat
48
1.
Gambaran Jenis Kelamin
48
2.
Gambaran Umur
48
3.
Gambaran Riwayat keluarga
49
4.
Gambaran Obesitas………
49
5.
Gambaran Merokok
50
6.
Gambaran Konsumsi Makanan Asin
50
7.
Gambaran Olahraga
51
8
Gambaran Stress
51
BAB VI PEMBAHASAN
53
A. Keterbatasan Penelitian
53
B. Analisis Univariat
54

1. Gambaran Jenis Kelamin responden di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014

54

2. Gambaran Umur responden di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014

55

3. Gambaran Riwayat Keluarga responden di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014

56

4. Gambaran Obesitas responden di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014

56

5. Gambaran Merokok responden di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014

57

6. Gambaran Konsumsi Makanan Asin responden di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014

58

xiv

7. Gambaran Olahraga responden di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014 59 8. Gambaran
7. Gambaran Olahraga responden di wilayah kerja Puskesmas
Ciputat Timur Tahun 2014
59
8. Gambaran stress responden di wilayah kerja Puskesmas
Ciputat Timur Tahun 2014
59
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
61
A. Kesimpulan
61
B. Saran
62
1. Kepada Pihak Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan
62
2. Kepada Pihak Puskesmas Ciputat Timur
63
3. Kepada Masyarakat Penderita Hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas Ciputat Timur
63
4. Kepada Peneliti Lain
63
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xv

DAFTAR BAGAN Halaman Kerangka Teori 30 Kerangka Konsep 32
DAFTAR BAGAN
Halaman
Kerangka Teori
30
Kerangka Konsep
32

2.1

3.1

xvi

DAFTAR TABEL Nomor Tabel Halaman 2.1 Klasifikasi hipertensi berdasarkan tekanan darah sistolik dan diastolik menurut
DAFTAR TABEL
Nomor Tabel
Halaman
2.1
Klasifikasi hipertensi berdasarkan tekanan darah sistolik
dan diastolik menurut kriteria JNC-VI 1997
14
2.2
Klasifikasi berat badan berdasarkan IMT
20
3.1
Definisi Operasional
33
5.1
Data Kependudukan di Wilayah Puskesmas Ciputat Timur
Tahun 2013
44
5.2
Perbandingan KK Miskin
45
5.3
Tenaga Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2013
47
5.4
Peran Serta Masyarakat Ciputat Timur Tahun 2013
47
5.5
Distribusi
Frekuensi
Jenis
Kelamin Pada Penderita
48
Hipertensi
di
wilayah
kerja Puskesmas Ciputat Timur
tahun 2014
5.6
Distribusi Frekuensi umur Pada Penderita Hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014
48
6.7
Distribusi Frekuensi Obesitas Pada Penderita Hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014
49
5.8
Distribusi Frekuensi Riwayat Keluarga Pada Penderita
Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur
tahun 2014
49
5.9
Distribusi Frekuensi Merokok Pada Penderita Hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014
50

5.10 Distribusi Frekuensi Konsumsi Makanan Asin Pada Penderita Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014

50

5.11 Distribusi Frekuensi Olahraga Pada Penderita Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014

51

5.12 Distribusi Frekuensi Stress Pada Penderita Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014

51

xvii

DAFTAR LAMPIRAN 1. Lampiran 1 : Surat Pemberian Izin Studi Pendahuluan 2. Lampiran 2 :
DAFTAR LAMPIRAN
1.
Lampiran 1
: Surat Pemberian Izin Studi Pendahuluan
2.
Lampiran 2
: Surat Pemberian Izin Penelitian
3.
Lampiran 3
: Surat Pemeberian Izin Pengambilan Data
4.
Lampiran 4
: Surat Keterangan Selesai Melaksanakan Penelitian
5.
Lampiran 5
: Lembar Inform Consent
6.
Lampiran 6
: Lembar Kuisoner
7.
Lampiran 7
: Hasil Uji Statistik

xviii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang besar dan serius bagi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang besar dan serius
bagi dunia. Di samping karena prevalensinya yang tinggi dan cenderung
meningkat dimasa yang akan datang, hipertensi juga merupakan penyebab
kematian (Kodim, 2001). Menurut World Health Organization (WHO)
(2005),
hipertensi
merupakan
faktor
risiko
dari
tingginya
prevalensi
penyakit kardiovaskular di seluruh dunia akibat meningkatnya prevalensi
dari faktor-faktor yang berkotribusi.
Secara
global,
tingginya
tekanan
darah
diperkirakan
menjadi
penyebab 7,1 juta kematian atau sekitar 13% total kematian. Sekitar 62%
penyakit serebrovaskular dan 49% penyakit jantung iskhemik disebabkan
oleh tingginya tekanan darah (>115) (Tasfaye et al., 2007). Bahkan di

dunia, hipertensi menjadi beban finansial yang cukup besar, baik bagi

masyarakat maupun sistem sistem kesehatan dan menghabiskan banyak

sumber daya (Adediran et al., 2009)

Saat ini, secara umum prevalensi hipertensi di dunia cukup tinggi

dan

semakin

dari

tahun

ke tahun.

Pada

tahun

2000,

sekitar

26,4%

masyarakat dunia menderita hipertensi. Pada tahun 2003 tingkat prevalensi

menjadi 28% (crude) dan 27,3% (age-standarized) (Amoah AG, 2003).

Menurut catatan WHO (2011) ada satu milyar orang di dunia

menderita hipertensi

dan

dua per-tiga diantaranya

berada di

Negara

berkembang yang berpenghasilan rendah-sedang. Prevalensi hipertensi

1

2

diperkirakan akan terus meningkat dan diprediksi pada tahun 2025 sebanyak 29% orang dewasa diseluruh dunia
diperkirakan
akan
terus
meningkat
dan
diprediksi
pada
tahun
2025
sebanyak
29%
orang
dewasa
diseluruh
dunia
menderita
hipertensi,
sedangkan di Indonesia angkanya mencapai 31,7%. Laporan statistik
kesehatan Dunia 2012 menyebutkan bahwa satu dari tiga orang dewasa di
seluruh
dunia
menderita
tekanan
darah
tinggi.
Suatu
kondisi
yang
merupakan penyebab sekitar setengah dari semua kematian akibat stroke
dan serangan jantung. Di Dunia prevalensi hipertensi tertinggi berada
dibeberapa Negara yang berpendapatan rendah di Afrika. Diperkirakan
lebih
dari
40% orang
dewasa di
Negara tersebut
terkena hipertensi
(Kemenkes, 2013).
Di Indonesia pada tahun 1995 satu dari sepuluh orang berusia 18
tahun
keatas
menderita
hipertensi,
kemudian
kondisi
ini
meningkat
menjadi satu dari tiga orang menderita hipertensi pada tahun 2007.
Prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 31,7% atau satu dari tiga orang
dewasa mengalami hipertensi, dan 76,1% diantaranya tidak menyadari

sudah terkena hipertensi (Kemenkes, 2013).

Prevalensi hipertensi di Indonesia adalah 8,3% (InfoKes Depkes

RI, 2007). Sedangkan data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKR7T)

2001, prevalensi hipertensi di indonesia pada daerah urban dan rural

berkisar 17-21% (Puskom Depkes RI, 2008) dengan proporsi hipertensi

pada pria 27% dan wanita 29%, sedangkan hasil Survei Kesehatan Rumah

Tangga (SKRT) tahun 2004, prevalensi hipertensi di Indonesia pada orang

yang berusia diatas 35 tahun ≥ 15,6% dengan proporsi pria 12,2% dan

wanita 15,5% (konas InaSH, 2007). Menurut Data Riskesdas 2007 juga

3

disebutkan prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 30% dengan insiden komplikasi penyakit kardiovaskular lebih
disebutkan prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 30% dengan insiden
komplikasi
penyakit
kardiovaskular
lebih
banyak
perempuan
(52%)
dibandingkan laki-laki (48%) (Depkes RI, 2008).
Kejadian
penyakit
hipertensi
ini,
pemerintah
Indonesia
sudah
banyak melakukan upaya untuk mengatasi kejadian hipertensi diantaranya
adalah mengembangkan dan memperkuat kegiatan deteksi dini hipertensi
secara
aktif
(skrining),
meningkatkan
akses
masyarakat
terhadap
pelayanan deteksi dini melalui kegiatan posbindu Penyakit tidak Menular
(PTM),
meningkatkan
akses
pasien
terhadap
pengobatan
hipertensi
melalui
revitalisasi
puskesmas
untuk
pengendalian
PTM
(Kemenkes,
2012)
Upaya menurunkan konsekuensi timbulnya penyakit hipertensi di
butuhkan deteksi awal dan manajemen kesehatan yang efektif. Kegiatan
identifikasi faktor risiko diharapkan mampu mendeteksi kasus hipertensi
secara efektif. Identifikasi faktor risiko dapat dilakukan melalui analisis

gambaran berdasarkan karakteristik tertentu seperti karakteristik individu

(Anggraini, dkk., 2008).

Black dan Hawks (2005) menyatakan bahwa ada beberapa faktor

risiko

yang

mempengaruhi

kejadian

hipertensi.

Faktor

risiko

ini

diklasifikasikan menjadi faktor yang tidak dapat diubah dan faktor risiko

yang dapat diuba. Faktor risiko yang dapat diubah yaitu riwayat keluarga,

umur, jenis kelamin, genetik, dan etnis. Sedangkan faktor risiko yang

dapat diubah yaitu olahraga, obesitas, stress, kebiasaan merokok, pola

4

makan makanan asin/garam, konsumsi alcohol, konsumsi kalium, konsumsi lemak dan konsumsi kafein. Faktor risiko
makan
makanan
asin/garam,
konsumsi
alcohol,
konsumsi
kalium,
konsumsi lemak dan konsumsi kafein.
Faktor risiko yang tidak dapat diubah adalah sebagai berikut,
Seseorang dengan
riwayat
kelurga
hipertensi,
beberapa
gennya
akan
berinteraksi satu sama lain dengan lingkungan yang akan meningkatkan
tekanan darah. Sesorang yang orang tuanya menderita hipertensi akan
mempunyai risiko lebih besar mengalami hipertensi diusia muda. Jenis
kelamin
dapat
mempengaruhi
kejadian
hipertensi.
Tingkat
kejadian
hipertensi lebih tinggi pada pria daripada wanita pada usia dibawah 55
tahun, akan menjadi sebanding
pada usia 55-75 tahun akan tetapi pada
usia diatas 74 tahun wanita akan lebih rentan mengalami hipertensi
disbanding pria. Etnis yang dapat mempengaruhi kejadian hipertensi.
Alasan tingginya kejadian hipertensi pada ras kulit hitam belum diketahui
secara jelas, tetapi peingkatan ini dipengaruhi oleh kadar renin yang
rendah dan sensitivitas terhadap vasopressin yang lebih tinggi, masukan

garam yang lebih banyak dan stress lingkungan yang lebih tinggi (Black &

Hawks, 2005).

Kejadian hipertensi akan muncul sejak seseorang berumur 20 tahun

pada laki-laki dan perempuan, dan akan terus meningkat seiring dengan

bertambahnya umur (Black & Hawks, 2005). Joint National Committee on

Prevention, Detection, Evaluation, and Tretment of High Blood Pressure

(JNC) tahun 2003 menyatakan bahwa seorang yang mempunyai tekanan

darah normal pun mempunyai risiko hipertensi sejak berusia 55 tahun (

Lueckenotte & Meiner, 2006).

5

Faktor yang dapat diubah adalah orang yang obesitas, dimana orang yang mempunyai berat badan lebih
Faktor yang dapat diubah adalah orang yang obesitas, dimana
orang yang mempunyai berat badan lebih akan terjadi hiperinsulinemia
dan
peningkatan
resistensi
insulin
yang
pada
gilirannya
kan
terjadi
hipertrofi tunika media pembuluh darah perifer dan hasil akhirnya kan
menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi (Kaplan, 2002). kebiasaan
merokok, rokok mengandung nikotin yang dapat meningkatkan hormone
epinefrin/adrenaline yang bersifat memacu jantung untuk berkontraksi
yang
dapat
merusak
lapisan
dinding
pembuluh
darah
yaitu
berupah
plak/penebalan sehingga pembuluh darah menjadi sempit dan lairan darah
keotak akan terhambat yang akan lambat laun merusak jaringan otak
karena
kurangnya
suplai
oksigen,
hasil
pembakaran
rokok
berupa
karbonmonoksida
(CO)
yang
dapat
mengakibatkan
berkurangnya
kemampuan darah membawa oksigen keorgan tubuh sehingga untuk
memenuhi
kebutuhan
oksigen
jantung
bekerja
lebih
cepat
untuk
menggantikan oksigen yang akan disuplai ke jaringan tubuh sehingga

dapat menigkatkan tekanan darah (Lili dan Tantan, 2007).

Pola

konsumsi

makanan

asin/garam,

kebiasaan

olahraga,

komsumsi alkohol, konsumsi lemak, konsumsi kafein dan strees juga

dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. American Heart Association

(2004) menyatakan bahwa hipertensi dapat dikontrol dengan gaya hidup

sehat dan pengendalian faktor risiko. Menteri kesehatan, Endang Rahayu

Sedyaningsih dalam acara The 4 th Scientific Meeting on Hypertension pada

bulan Februari 2010 mengatakan bahwa hipertensi dan komplikasinya

6

dapat dicegah dengan gaya hidup sehat dan mengendalikan faktor risiko seperti yang telah dinyatakan oleh
dapat dicegah dengan gaya hidup sehat dan mengendalikan faktor risiko
seperti yang telah dinyatakan oleh American Heart Association.
Berbagai penelitian telah membuktikan berbagai faktor risiko yang
berpengaruh
terhadap
timbulnya
hipertensi.
Hasil
studi
sebelumnya
menyebutkan faktor pemicu hipertensi dapat dibedakan menjadi yang
tidak dapat diubah seperti riwayat keluarga, jenis kelamin, dan usia, serta
faktor
yang
dapat
dikontrol
seperti
pola
konsumsi
makanan
yang
mengandung natrium, lemak, perilaku merokok, obesitas, dan kurangnya
aktivitas fisik (Anggraini, dkk., 2008). Dalam penelitian sebelumnya telah
banyak membuktikan bahwa hipertensi disebabkan oleh beberapa faktor-
faktor. Dalam penelitian Agnesia tahun 2012 melaporkan bahwa faktor
yang menyebabkan hipetensi adalah umur karena semakin lanjut usia
semakin berisiko terkena hipertensi, faktor genetik memiliki risiko lebih
besar daripada orang yang tidak memiliki riwayat keluarga, seorang
perokok dan orang yang obesitas. Sedangkan dalam penelitian Ade dkk

(2009) melaporkan hasil penelitiannya bahwa hipertensi terjadi karena

oleh berbagai faktor antara lain dapat disebabkan oleh usia >45 tahun

(89,1%), berjenis kelamin wanita (56,5%), genetik (65,2%), merokok

(56,5%) dan pola asupan garam (65,2%). Kenyataan yang didapatkan

angka kejadian hipertensi masih cukup tinggi.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan kota Tangerang Selatan

tahun

2013,

di

Wilayah

Kota

Tangerang

Selatan

pasien

hipertensi

sebanyak 20.891 orang dan didapatkan hasil distribusi kejadian hipertensi

berdasarkan

kelurahan

di

Kota Tangerang Selatan

Tahun

2011-2013

7

sebagai berikut : (1) Kelurahan kampung Sawah sebesar 29%, (2) Kelurahan Sawah Baru sebesar 32,4%,
sebagai
berikut
:
(1)
Kelurahan
kampung
Sawah
sebesar
29%,
(2)
Kelurahan Sawah Baru sebesar 32,4%, (3) Wilayah kerja Puskesmas
Ciputat Timur sebesar
41,9%, (4) Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang
sebesar 32,5% (Rinawang, 2011).
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fahad, dkk. (2011)
serta didukung oleh hasil distribusi kejadian hipertensi kelurahan di Kota
Tangerang Selatan tahun 2012-2013 didapatkan bahwa salah satu wilayah
di
kota
Tangerang
Selatan
yaitu
wilayah
Puskesmas
Ciputat
Timur
memiliki masalah hipertensi yang cukup serius, kejadiannya masih tinggi
yaitu
sebesar
41,9%
dan
diperlukannya
manajemen
program
untuk
intervensi lebih lanjut.
Berdasarkan studi pendahuluan pada pasien hipertensi di wilayah
kerja Puskesmas Ciputat Timur, peneliti melakukan wawancara kepada
sepuluh pasien hipertensi dengan memperoleh hasil 7 pasien hipertensi
dari 10 pasien hipertensi, terjadinya hipertensi disebabkan oleh beberapa

faktor risiko diantaranya adalah berat badan yang lebih yaitu memiliki

IMT >27,0 (obesitas), kebiasaan pasien hipertensi yang suka dan sangat

sulit meninggalkan kebiasaan konsumsi makanan asin seperti ikan asin,

makanan

daging

kaleng,

dan

gorengan

serta

didukung

oleh

riwayat

keluarga yang memiliki hipertensi dan kurangnya berolahraga dengan

alasan tidak mempunyai waktu untuk melakukan olahraga. Dua orang dari

sepuluh pasien hipertensi mengatakan sulit tidur karena banyak pikiran

dan merasa ada banyak beban (stress).

8

Berdasarkan fenomena uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai Gambaran Faktor Risiko
Berdasarkan
fenomena
uraian
di
atas,
peneliti
tertarik
untuk
melakukan penelitian mengenai Gambaran Faktor Risiko pada Pasien
Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan kota Tangerang Selatan
tahun 2013 di Wilayah Kota Tangerang Selatan pasien hipertensi sebanyak
20.891 orang dan
didapatkan hasil distribusi kejadian hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan lebih
dominan dengan jumlah sebesar 41,9% dibandingkan dengan distribusi
kejadian
hipertensi
dari
kelurahan
puskesmas
lainnya
(
Kelurahan
kampung Sawah sebesar 29%, Kelurahan Sawah Baru sebesar 32,4%,
Wilayah Kerja Puskesmas Pamulang sebesar 32,5% (Rinawang, 2011).
Dengan pertimbangan tersebut maka rumusan masalah ini adalah peneliti
ingin mengetahui bagaimana gambaran faktor risiko pada pasien hipertensi
diwilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur.

C. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana gambaran usia pada pasien hipertensi di wilayah kerja

Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014?

2. Bagaimana gambaran jenis kelamin pada pasien hipertensi di wilayah

kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014?

3. Bagaimana

gambaran

riwayat

keluarga

pada

pasien

hipertensi

di

wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014?

4. Bagaimana gambaran obesitas pada pasien hipertensi di wilayah kerja

Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014?

9

5. Bagaimana gambaran pola konsumsi makanan asin/garam pada penederita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas
5. Bagaimana
gambaran
pola
konsumsi
makanan
asin/garam
pada
penederita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun
2014?
6. Bagaimana gambaran kebiasaan merokok pada penerita hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014?
7. Bagaimana gambaran Olahraga pada pasien hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014?
8. Bagaimana gambaran stress pada pasien hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014?
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran faktor risiko pada pasien hipertensi di
wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran usia pada pasien hipertensi di wilayah

kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014.

b. Mengetahui gambaran jenis kelamin pada pasien hipertensi di

wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014.

c. Mengetahui gambaran riwayat keluarga pada pasien hipertensi di

wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014.

d. Mengetahui gambaran obesitas pada pasien hipertensi di wilayah

kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014.

10

e. Mengetahui gambaran makan makanan asin/garam pada penederita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur
e. Mengetahui
gambaran
makan
makanan
asin/garam
pada
penederita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur
tahun 2014.
f. Mengetahui
gambaran
kebiasaan
merokok
pada
penerita
hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014.
g. Mengetahui gambaran olahraga pada pasien hipertensi di wilayah
kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014.
h. Mengetahui gambaran stress pada pasien hipertensi di wilayah
kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat untuk Instansi Pelayanan Kesehatan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai
informasi atau
masukan
mengenai
gambaran
hasil
faktor
risiko
hipertensi
yang
nantinya dapat diterapkan sebagai cara untuk pencegahan primer dan
meminimalkan risiko komplikasi dari kejadian hipertensi.
Dapat

menjadi bahan masukan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan

terutama dalam upaya preventif untuk mengendalikan faktor risiko

demi

menurukan

angka

promosi kesehatan.

kejadian

hipertensi

melalui

2. Manfaat untuk Masyarakat

edukasi

dan

Hasil penelitian ini dapat digunanakan sebagai masukan untuk

meningkatkan

pengetahuan

dan

kesadaran

masyarakat

terutama

responden dalam mengetahui angka kejadian hipertensi dan faktor

risiko

yang

mempengaruhinya.

Selanjutnya

masyarakat

serta

11

responden sadar dan termotivasi untuk melakukan tindakan pengendalian faktor risiko demi menghindari komplikasi
responden
sadar
dan
termotivasi
untuk
melakukan
tindakan
pengendalian faktor risiko demi menghindari komplikasi yang akan
terjadi .
3. Manfaat untuk Peneliti
Diharapkan dari penelitian ini, peneliti selanjutnya melakukan
penelitian tentang faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian
hipertensi dan/atau motivasi masyarakat terhadap pengendalian faktor
risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Hipertensi Hipertensi adalah suatu kondisi dimana tekanan darah sistolik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Hipertensi
Hipertensi adalah suatu kondisi dimana tekanan darah sistolik
sesorang
140 mmHg atau lebih dan tekan diastoliknya 90 mmHg atau
lebih dan tidak menggunakan pengobatan antihipertensi (Lewis et al.,
2007). Hipertensi menurut diagnosis WHO di Amerika Serikat ialah
tekan sistolik > 140 mmHg dan tekan diastoliknya > 90 mmHg (Wu El et
al, 2012). Hipertensi bukan penyakit kronis, tetapi secara independen
terkait
dengan
penyakit
kardiovaskular
pada
orang
tua.
Meskipun
merupakan salah satu penyakit serebrovaskular, hal itu bisa berkembang
menjadi faktor modifikasi (Ellekjaer et al., 2001; Menotti et al., 2004).
Hipetensi mempengaruhi lebih dari 70 juta orang di Amerika
Serikat
dan
merupakan
faktor
risiko
terbesar
untuk
perkembangan

penyakit

kardiovaskular

dan

penyakit

ginjal.

(Carter

et

al.,

2008;

Chobanian, 2009). Menurut Elmer dkk, 2006 menjelaskan kira-kira 20%

kematian di Amerika Serikat disebabkan oleh tidak beraktivitas pisik,

kurang optimalnya diet, dan gaya hidup lainya yang dapat menyebabkan

ketidaksehetan.Hipertensi adalah suatu pertimbangan faktor risiko utama

untuk penyakit kardiovakular (CVD) (Whitworth, 2005 & Ezzati, et al.,

2008).

Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang mahal dan dapat

melemahkan masalah kesehatan di seluruh dunia, prevalensi saat ini kian

naik. Populasi prevalensi angka kejadiannya >20% telah dilaporkan di

12

13

Negara Amerika Serikat, Venezuela, Afrika Selatan dan telah mendekati 50% yang dilaporkan di Negara Germani
Negara Amerika Serikat, Venezuela, Afrika Selatan dan telah mendekati
50% yang dilaporkan di Negara Germani dan Spanyol ( Arnaout et al.,
2011;
Hernandez-Hernandez
et
al.,
2000).
Meningkatnya
prevalensi
hipertensi umumnya
menunjukkan suatu perubahan pada diketahuinya
pencegahan faktor risiko dan perubahan demografi disuatu populasi.
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang
menjadi masalah kesehatan penting diseluruh dunia karena prevalensinya
yang
masih
tinggi
dan
terus
meningkat
serta
hubungannya
dengan
penyakit
kardiovaskular,
stroke,
retinopati,
dan
penyakit
ginjal.
Hipertensi juga menjadi risiko ketiga terbesar penyebab kematian dini.
The
third
National
Health
and
Nutrition
Examination
Survey
mengungkapkan bahwa hipertensi mampu meningkatkan risiko penyakit
jantung coroner sebesar 12% dan meningkatkan risiko stroke sebesar 24%
(Tjotonegoro et a.l, 2001).
Hipertensi merupakan penyakit dengan berbagai kausa. Berbagai

penelitian telah membuktikan berbagai faktor risiko yang berpengaruh

terhadap timbulnya hipertensi. Hasil studi sebelumnya menyebutkan

faktor pemicu hipertensi dapat dibedakan menjadi yang tidak dapat

dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis kelamin, usia, dan etnis. serta

faktor

yang

dapat

dikontrol

seperti

pola

konsumsi

makanan

yang

mengandung natrium, lemak, perilaku merokok, obesitas, dan kurangnya

aktivitas fisik (Anggraini et al., 2009).

14

Tabel 2.1 Klasifikasi Hipertensi berdasarkan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik Menurut Kriteria JNC-VI 1997 No
Tabel 2.1
Klasifikasi Hipertensi berdasarkan Tekanan Darah Sistolik dan Diastolik
Menurut Kriteria JNC-VI 1997
No
Klasifikasi
Tekanan Darah
Sistolik
Diastolik
1
Optimal
<120
<80
2
Normal
<130
<85
3
Normal tinggi
130-139
85-89
4
Hipertensi ringan
140-159
90-99
5
Hipertensi sedang
160-179
100-109
6
Hipertensi berat
≥180
≥110
Sumber: Kaplan, 2002 (JNC-VI, 1997)
Klasifikasi di atas berlaku untuk dewasa usia diatas 18 tahun yang tidak
Penyebab Hipertensi

sedang dalam keadaan minum obat anti hipertensi dan tidak sedang dalam

keadaan menderita penyakit akut. Apabila besar sistolik maupun doastolik jatuh

pada kategori yang berbeda untuk menentukan kategorinya maka yang dipakai

tekanan darah yang lebih besar (Kaplan, 2002: 12)

B.

Berdasarkan penyebabnya Hipertensi dapat dibedakan menjadi dua golongan

besar yaitu :

1.

Hipertensi primer, yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.

Hipertensi jenis ini cenderung genetik yang kuat dan dipengaruhi oleh

faktor kontribusi seperti obesitas, stress, merokok, dan konsumsi garam

yang

berlebih

(Sherwood,

2001).

90%

sampai

95%

pasien

yang

mengalami hipertensi disebabkan oleh hipertensi primer

2003).

(Hahn & Payne,

15

C.

2. Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain. Penyebab hipertensi sekunder adalah sebagai
2. Hipertensi sekunder, yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain.
Penyebab hipertensi sekunder adalah sebagai berikut : (1) Penyempitan
kongenital aorta; (2) Penyakit ginjal seperti stenosis arteri ginjal; (3)
Gangguan endokrin seperti sindrom Chusing dan hiperaldesteron; (4)
Gangguan neurologi seperti tumor otak atau cidera kepala; (5) Sleep
apnea; (6) Pengobatan jenis stimulan simpatetik misalnya kokain, terapi
penggantian esterogen, obat kontrasepsi oral. Dan obat anti inflamasi non
steroid; (7) Kehamilan yang menstimulasi hipertensi ( Dirksen et al.,
2000).
Faktor Risiko Hipertensi
Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya hipertensi:
1. Faktor Risiko yang tidak dapat Diubah
a. Faktor Riwayat Keluarga
Penderita hipertensi didapatkan riwayat faktor hipertensi dalam
keluarganya
sebesar 70-80%. Apabila riwayat
keluarga hipertensi

didapatkan pada kedua orang tua, maka terjadi hipertensi akan lebih

besar (Kodim, 2001). Berbagai penelitian dan study kasus menguatkan

bahwa faktor keturunan merupakan salah satu penyebab terjadinya

hipertensi, dimana jika dlam keluarga/orang tua ada yang menderita

hipertensi 25-60% akan terjadi pada anaknya (Lili & Tantan, 2007).

Menurut Sheps (2005) menyatakan bahwa jika seorang dari

orang

tua

mempunyai

hipertensi

maka

sepanjang

hidup

kita

mempunyai 25% untuk berisiko mempunyai hipertensi pula. Dan jika

16

kedua orang kita mempunyai hipertensi risikonya meningkat menjadi tiga banding lima atau sekita 60% untuk
kedua orang kita mempunyai hipertensi risikonya meningkat menjadi
tiga banding lima atau sekita 60% untuk mengalaminya.
Menurut
penelitian
yang dilakukan
Anggraini,
dkk
(2008)
menyatakan bahwa ada hubungan bermakna antara riwayat keluarga
terhadap hipertensi dengan probabilitas terjadinya hipertensi pada
riwayat keluarga hipertensi sekitar 8 kali lebih tinggi dibandingkan
dengan
dengan
yang
tidak
memiliki
riwayat
keluarga
hipertensi.
Sedangkan menurut hasil penelitian Hasurungan (2002) menyatakan
bahwa seseorang yang memiliki riwayat keluarga penderita hipertensi
berisiko sebesar 2,035 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang
yang tidak memiliki keluarga hipertensi. Penelitian yang dilakukan
oleh Riyadina (2002) menyatakan faktor riwayat keluarga hipertensi
mempunyai peran sebesar 1,25 kali lebih tinggi untuk terjadinya
hipertensi dibandingkan dengan seseorang yang tidak mempunyai
riwayat keluarga hipertensi.

b.

Genetik

Peran faktor genetik terhadap timbulnya hipertensi terbukti

dengan ditemukannya kejadian bahwa hipertensi lebih banyak pada

kembar monozigot (satu sel telur) daripada heterozigot (berbeda sel

telur). Seorang penderita yang mempunyai sifat genetik hipertensi

primer (esensial) apabila dibiarkan secara alamiah tanpa intervensi

terapi,

bersama

lingkungannya

akan

menyebabkan

hipertensinya

berkembang dan dalam waktu sekitar 30 - 50 tahun akan timbul tanda

dan gejala (Chunfang Qiu et al., 2003).

17

c. Umur Black dan Hawks (2005) menyatakan bahwa seseorang rentan mengalami hipertensi primer. 50 -
c.
Umur
Black dan Hawks (2005) menyatakan bahwa seseorang rentan
mengalami hipertensi primer. 50 - 60% pasien yang berumur di atas 60
tahun mempunyai tekanan darah di atas 140/90 mmHg.
Tingginya
hipertensi
sejalan
dengan
bertambahnya
usia,
disebabkan
oleh
perubahan
struktur
pada
pembuluh
darah
besar,
sehingga lumen menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah
menjadi lebih kaku, sehingga akibat tersebut adalah meningkatnya
tekanan darah darah sistolik (Depkes RI, 2006). Dan disebabkan oleh
perubahan
alami
pada
jantung,
pembuluh
darah
dan
hormone
(Gunawan,
2011).
Dengan
bertambahnya
umur,
risiko
terkena
hipertensi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi dikalangan usia
lanjut kucup tinggi yaitu sekitar 40% dengan kematian sekitar 50%
diatas umur 60 tahun (Nurkhalida, 2003).

Penelitian yang dilakukan Kamso (2004) di 6 kota besar seperti

Jakarta,

Padang,

Bandung,

Yogyakarta,

Denpasar,

dan

Makasar

terhadap usia lanjut (55 - 85 tahun) didapatkan prevalensi hipertensi

sebesar 52,5%. Batasan penggolongan usia menurut Badan Pusat

Statistik (BPS) adalah <15 tahun, 15 - 24 tahun, 25 - 34 tahun, 35 - 44

tahun, 45 - 54 tahun, 55 - 64 tahun, >60 tahun.

d. Jenis kelamin

Hasil

pengamatan

Third

National

Health

and

Nutrition

Examination Survey (NHANES) III memperlihatkan bahwa prevalensi

18

hipertensi lebih tinggi pada populasi laki-laki dibandingkan populasi perempuan pada kelompok sebelum menopause. Pada
hipertensi lebih tinggi pada populasi laki-laki dibandingkan populasi
perempuan pada kelompok sebelum menopause. Pada masa setalah
menopause atau mendekati usia 60 tahun maka prevalensi hipertensi
kedua kelompok hamper sama. Latar belakang ini disebabkan bahwa
pada masa perempuan mengalami siklus menstruasi maka terdapat
kehilangan voleme darah secara teratur setiap bulan sehingga terjadi
pengurangan volume intravaskuler secara berkala yang akan berhenti
setelah menopause. Dengan bertambahnya usia, pada kelompok 65
tahun keatas
prevalensi
hipertensi
akan
lebih
tinggi
terjadi
pada
perempun diandingkan laki-laki (Kaplan, 2002).
Penelitian di Indonesia prevalensi hipertensi yang lebih tinggi
terdapat pada wanita (Depkes RI, 2006c). Hal ini terbukti dengan
adanya penelitian yang dilakukan oleh Sugiri (2004) di Jawa Tengah
mendapatkan prevalensi hipertensi sebesar 6,0% pada pria dan 11, 6%
pada wanita. Laporan dari Semarang, didapatkan 7,5% pada pria dan

10,9% pada wanita (Suyono, dkk., 2001). Sedangkan laporan dari

Setiawan (2006) menunjukkan prevalensi hipertensi di pulau Jawa

sebesar 36,7% pada pria dan 47,1% pada wanita.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuliarti (2007)

menyatakan

ada

hubungan

bermakna

secara

statistik

antara

jenis

kelamin dengan hipertensi. Hasil penelitian yang di lakukan oleh Hesti

Rahayu (2012) menunjukkan bahwa kejadian hipertensi lebih tinggi

terjadi pada perempuan sebesar 68,3% dibandingkan laki-laki sebesar

19

31,7% dan menjelaskan juga ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi. e.
31,7% dan menjelaskan juga ada hubungan yang signifikan antara
jenis kelamin dengan kejadian hipertensi.
e.
Etnis
Menurut
data
dari
Third
National
Health
and
Nutrition
Examination Survey (NHANES III, 1988-1991) dalam Sheps (2005)
menunjukkan bahwa jumlah penderita hipertensi berkulit hitam 40%
akan lebih tinggi dibandingkan dengan yang berkulit putih. Hal ini
belum
diketahui
secara
pasti
penyebabnya,
namun
dalam
orang
berkulit
hitam
ditemukan
kadar
rennin
yang
lebih
rendah
dan
sensitifitas terhadap vasopresin lebih besar (Amirlawaty, dkk, 2007
dalam Anggraini, dkk, 2008).
2. Faktor Risiko yang dapat Diubah
a. Obesitas
Berat badan merupakan faktor determinan pada tekanan darah
pada kebanyakan kelompok etnik di semua umur. Menurut National

Institutes for Health USA (NIH, 1998), prevalensi tekanan darah tinggi

pada orang dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) >30 (obesitas) adalah

38%

untuk

pria

dan

32%

untuk

wanita,

dibandingkan

dengan

prevalensi 18% untuk pria dan 17% untuk wanita bagi yang memiliki

IMT <25 (status gizi normal menurut standar internasional).

Risiko terjadinya peningkatan tekanan darah pada orang yang

mempunyai berat badan lebih ialah 2 - 6 kali lebih tinggi daripada

orang dengan berat badan normal. Diperkirakan 20 - 30% kasus

hipertensi disebabkan oleh kelebihan berat badan. Beberapa penelitian

20

mendapatkan penurunan tekanan darah dapat terjadi dengan menurunkan tekanan darah, baik pada individu dengan
mendapatkan
penurunan
tekanan
darah
dapat
terjadi
dengan
menurunkan tekanan darah, baik pada individu dengan hipertensi
maupun normotensi. Diperkirakan penurunan rata - rata berat badan
9,2 kg dapat menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik dan
diastolik masing-masing 6,3 dan 3,1 mmHg (Panduan PBL, 2003).
Klasifikasi berat badan berdasarkan IMT dijelaskan dalam
tabel di bawah ini:
Tabel 2.2
Klasifikasi Berat Badan berdasarkan IMT
Klasifikasi
IMT(kg/m 2 )
 Kurus
- Kekurangan
berat
badan
<27,0
tingkat berat
- Kekurangan
berat
badan
17,0-18,5
tingkat ringan
 Berat badan normal
18,5-24,9
 Gemuk
25,0-24,9
- Kelebihan berat badan
ringan
>27,0
- Kelebihan berat badan
tingkat berat (obesitas)
Menurut
Kaplan
dan
Stamler
(1991)
dalam
Depkes
RI

(2006c) menyatakan bahwa kegemukan (obesitas) adalah presentasi

abnormalitas lemak uang dinyatakan dalam Indeks Massa Tubuh

(IMT) yaitu perbandingan antara berat badan dan tinggi badan kuadrat

dalam meter. Berat badan dan Indeks Massa Tubuh (IMT) berkorelasi

langsung

dengan

tekanan

darah,

(Depkes RI, 2006c).

terutama

tekanan

darah

sistolik

Menurut hasil penelitian Yuliarti (2007) menyatakan bahwa

orang

yang

obesitas

memiliki

risiko

4.053

kali

lebih

tinggi

dibandingkan dengan orang yang tidak obesitas, sedangkan menurut

21

hasil penelitian Asdie, dkk (2009) menyatakan bahwa orang yang obesitas memiliki risiko terkena hipertensi sebesar
hasil penelitian Asdie, dkk (2009) menyatakan bahwa orang yang
obesitas memiliki risiko terkena hipertensi sebesar 2.653 kali lebih
tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak obesitas. Dan hasil
penelitian oleh Hesti Rahayu (2012) menjelaskan bahwa orang dengan
obesitas 8.449 kali lebih berisiko daripada orang yang tidak obesitas.
Obesitas mempunyai korelasi positif dengan hipertensi. Anak-
anak
remaja
yang
mengalami
kegemukan
cenderung
mengalami
tekanan darah tinggi (hipertensi). Ada dugaan bahwa meningkatnya
berat badan normal relatif sebesar 10 % mengakibatkan kenaikan
tekanan darah 7 mmHg. Oleh karena itu, penurunan berat badan
dengan membatasi kalori bagi orang - orang
yang obesitas bisa
dijadikan
langkah
positif
untuk
mencegah
terjadinya
hipertensi
(Khomsan, 2003).
b. Konsumsi Makanan Asin
Garam
merupakan
faktor
yang
sangat
penting
dalam

patogenesis hipertensi. Hipertensi hampir tidak pernah ditemukan

pada suku bangsa dengan asupan garam yang minimal (Gunawan,

2005). Asupan garam kurang dari 3 gram tiap hari menyebabkan

prevalensi hipertensi yang rendah, sedangkan jika asupan garam

antara 5 - 15 gram perhari prevalensi hipertensi meningkat menjadi

15 - 20 %. Pengaruh asupan terhadap timbulnya hipertensi terjadi

melalui peningkatan volume plasma, curah jantung dan tekanan darah

(Nurkhalida, 2003)

22

Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, karena menarik cairan diluar sel agar tidak keluar, sehingga
Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, karena
menarik
cairan
diluar
sel
agar
tidak
keluar,
sehingga
akan
meningkatkan
volume
dan
tekanan
darah.
Pada
manusia
yang
mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang ditemukan tekanan darah
rata-rata rendah, sedangkan asupan garam sekitar 7 - 8 gram tekanan
darahnya rata-rata lebih tinggi. Konsumsi garam yang dianjurkan
tidak lebih dari 6 gram/hari setara dengan 110 mmol natrium atau
2400 mg/hari (Thomas, 2005)
Contoh
jenis
makanan
asin
yang
dapat
menyebabkan
terjadinya hipertensi adalah telor asin, ikan asin, sayur asin, kecap
asin, kripik kentang, keju, daging kaleng, saos tomat dan saos cabe.
Hipertensi dapat terjadi jika sesorang mengkonsumsi makan makanan
asin minimal 1 kali perhari atau >1 kali perhari (Kemenkes, 2012).
c. Konsumsi Alkohol
Konsumsi alkohol harus diwaspadai karena dapat menjadi

penyebab sekitar 20 - 50 % dari semua kejadian hipertensi (Sheps,

2005). Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih

belum

jelas.

Namun

diduga

peningkatan

kadar

kartisol,

dan

peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan darah berperan

dalam menaikkan tekanan darah (Depkes RI, 2006c).

Mengkonsumsi tiga gelas atau lebih minuman beralkohol

perhari dapat meningkatkan risiko hipertensi dua kali lebih tinggi

(Sheps, 2005). Berdasarkan hasil penelitian Wirakusumah (2001)

menyatakan bahwa tekanan darah orang yang mengkonsumsi alkohol

23

sebanyak dua kali sampai tiga kali sehari akan naik sekitar 40% dibandingkan mereka yang tidak
sebanyak dua kali sampai tiga kali sehari akan naik sekitar 40%
dibandingkan mereka yang tidak mengkonsumsi alkohol. Menurut
Savero (2004) menyatakan bahwa peminum alkohol mempunyai
risiko 2,31 kali menderita hipertensi dibandingkan dengan yang tidak
minum alkohol.
d. Konsumsi Kalium
Kalium adalah mineral yang membantu mengimbangi jumlah
natrium dalam cairan sel. Kalium membebaskan kelebihan natrium
dalam sel-sel melalui filtrasi lewat ginjal dan dikeluarkan bersama
urine. Jika makanan kita tidak cukup kandungan kaliumnya atau
tubuh tidak bisa mempertahnkan jumlah yang cukup maka jumlah
natrium akan menumpuk. Keadaan ini yang akan meningkatkan
risiko
terjadinya
hipertensi.
Kadar
kalium
yang
rendah
akan
merangsang pelepasan hormon aldesteron yang meningkatkan retensi
natrium dan air sehingga risiko hipertensi meningkat (Sheps, 2005).

Sumber kalium adalah beras, beras ketan, roti, biscuit, jagung,

kentang, singkong, ayam, daging sapi, hati, ikan (sardine, mas dan

tongkol), telor bebek, kacang hijau, kacang kedelai, kacang mete,

kacang merah, pepaya, kembang kol, ketimu, alpukat, tomat,apel

merah, pisang, jeruk, susu kambing, susu cokelat, susu kental manis,

susu bubuk, kelapa, santan, gula merah, madu ,dan teh (Almatsier,

2006 & Soehardi, 2004).

Menurut Recommended Daily Allowance (RDA) edisi ke 9

NRC-National Academy of Science menyatakan bahwa kebutuhan

24

kalium yang diperkirakan cukup dan aman untuk kelompok dewasa dalam waktu satu tahun adalah 684,375
kalium yang diperkirakan cukup dan aman untuk kelompok dewasa
dalam waktu satu tahun adalah 684,375 - 2053,125 gram.
e. Konsumsi Lemak
Lemak berfungsi untuk sumber energi, sumber asam lemak
essensial,
alat
angkut
vitamin
larut
lemak,
menghemat
protein,
member rasa kenyang dan kelezatan, sebagai pelumas, memelihara
suhu tubuh, dan pelindung organ tubuh (Almatsier, 2003).
Kebutuhan lemak untuk lanjut usia (masa manopause) tidak
melebihi 20-50% dari kebutuhan (Wirakusumah, 2004). Kebiasaan
konsumsi lemak jenuh erat kaitannya dengan peningkatan berat
badan yang berisiko terjadinya hipertensi. Menurut penelitian Dr.J.M.
Lacono dalam Siauw (1994) menyatakan bahwa dengan mengurangi
lemak hewan dalam
makanan dapat menurunkan tekanan darah
karena
dengan
mengurangi
lemak
akan
menigkatkan
hormon
protatgladin
dalam
tubuh
dan
hormon
ini
sifatnya
menurunkan

tekanan darah.

f. Konsumsi Kafein

Kafein

adalah

zat

yang

dapat

mengatasi

kelelahan

dan

meingkatkan kosentrasi dan menggembirakan suasana hati. Sumber

kafein adalah kopi, the, soft drink, dan cokelat

(Sheps, 2005).

Beberapa

peneliti

menyatakan

bahwa

kafein

dapat

membuat

pembuluh

darah

menyempit

karena

kafein

dapat

meblokir

efek

adenosine yaitu hormon yang menjaga agar pembuluh darah tetap

lebar. Kafein juga merangsang kelenjar adrenal untuk melepas lebih

25

banyak kartisol dan adrenalin yang dapat memicu tekanan darah menjadi meningkat (Sheps, 2005). Menurut beberapa
banyak kartisol dan adrenalin yang dapat memicu tekanan darah
menjadi meningkat (Sheps, 2005).
Menurut beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang
yang mengkonsumsi kafein secara teratur sepanjang hari mempunyai
rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak emngkonsumsi
sam sekali. Hal ini terbukti dengan mengkonsumsi kafein didalam
dua sampai tiga cangkir kopi (200 - 250 mg) terbukti meningkatkan
tekanan darah sistolik sebesar 3-14 mmHg dan tekanan diastolik
sebesar 4 - 13 mmHg pada orang yang tidak mempunyai hipertensi
(Sheps, 2005).
g. Merokok
Penelitian Bowman yang dilakukan terhadap 28.236 wanita
di Massachussets yang pada awalnya tidak menderita hipertensi,
setelah pengamatan selama 9,8 tahun diperoleh peningkatan yang
signifikan
terhadap
kenaikan
tekanan
darah
pada
wanita
yang

meroko pada wanita yang merokok lebih dari 15 batang per hari.

Kandungan dalam rokok terdapat nikotin yang dapat menyebabkan

meningkatnya

denyut

jantung

dan

menyebabkan

vasokonstriksi

perifer yang akan meningkatkan tekanan darah arteri pada jangka

waktu yang pendek, selama dan setelah merokok (Black & Hawks,

2005).

Menurut Bustan (1997) dalam Suheni (2007) jenis perokok

menurut banyaknya jumlah rokok yang terbagi menjadi 3 kelompok

yaitu perokok ringan jika merokok < 10 batang/ hari, perokok sedang

26

jika merokok 10-20 batang/ hari dan perokok berat jika merokok > 20 batang/ hari. Menurut
jika merokok 10-20 batang/ hari dan perokok berat jika merokok >
20 batang/ hari.
Menurut Marvyn (1887) menyatakan dalam kasus hipertensi,
seorang perokok sigaret mempunyai risiko lebih besar dibandingkan
orang yang tidak merokok. Perokok yang tidak menghisap asap
tembakau, yaitu peroko cerutu dan pipa, mungkin mempunyai risiko
lebih kecil daripada perokok segaret, tetapi harus diingat bahwa
penyerapan zat berbahaya tetap bisa terjadi secara langsung melalui
mulut. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Suheni (2007) yang
menyatakan ada hubungan yang bermakna antara jenis rokok dengan
hipertensi.
Dengan menghentikan rokok, maka kemungkinan terjadinya
hipertensi, serangan jantung, stroke, dan penyakit lainnya akan
menurun (Windarti, 2008). Berdasarkan penelitian Suryati (2005)
menyatakan bahwa ada hubungan signifikan antara merokok dengan
 

hipertensi.

h.

Olahraga

Aktivitas fisik yang dapat menurunkan tekanan darah adalah

aktivitas fisik sedang yang teratur (konsumsi oksigen maksimum 40-

60%), aktivitas ini dilakukan selama kurang lebih 30 menit, dua kali

sampai tiga kali dalam satu minggu (Bonow et al., 2008).

Menurut Beevers (2002) dalam Suheni (2007) menyatakan

meskipun tekanan darah meningkat tajam ketika sedang melakukan

aktivitas fisik/ olahraga, namun jika ativitas fisik dilakukan secara

27

teratur akan lebih sehat dan memiliki tekanan darah lebih rendah daripada mereka yang tidak melakukan
teratur akan lebih sehat dan memiliki tekanan darah lebih rendah
daripada mereka yang tidak melakukan aktifitas. Dalam pedoman
Departemen
Kesehatan
dan
Layanan
Kemanusiaan
di
Amerika
Serikat menyarankan minimal melakukan aktifitas intensitas sedang
selama
30-60
menit
yang
dilakukan
sedikitnya
5
hari
dalam
seminggu dan aktifitas fisik intensitas berat selama 20 menit yang
dilakukan sedikitnya 3 kali dalam seminggu. Dengan melalukan
aktifitas fisik yang teratur dapat menurunkan tekanan darah sebanyak
20-10 mmHg (Sheps, 2005).
Aktivitas fisik yang mengangkat beban sebaiknya dihindari
karena dapat meningkatkan tekanan darah secara mendadak sebagai
respon vagal yang terjadi selama kontraksi otot isometrik ketika
mengangkat beban (Black & Hawks, 2005).
Contoh aktivitas fisik (olahraga) yang dapat dilakukan untuk
menurunkan
tekanan
darah
tinggi
adalah
jalan
pagi,jalan
kaki,

sebam, bersepeda dan berenang. Kegiatan aktiviats ini disarankan

agar

dilakukan

≥30

(Kemenkes, 2012)

menit

per

hari

dan

≥3hari

per

minggu

Menurut ACSM pada tahun 2004 menyatakan hubungan

antara aktifitas fisik dengan hipertensi yaitu individu yang kurang

aktif

mempunyai

risiko

menderita

hipertensi

30-50%

daripada

individu yang aktif bergerak (Dalimartha dkk, 2008). Berdasarkan

penelitian Hasurungan (2002) menyatakan bahwa tidak melakukan

aktifitas fisik mempunyai risiko sebesar 2,899 kali lebih tinggi

28

dibandingkan yang melakukan aktifitas fisik. Sedangkan menurut hasil penelitian yang dilakukan Yuliarti (2007) menyatakan
dibandingkan yang melakukan aktifitas fisik. Sedangkan menurut
hasil penelitian yang dilakukan Yuliarti (2007) menyatakan bahwa
responden yang tidak melakukan aktifitas fisik berisiko 0,306 kali
lebih
tinggi
dibandingkan
dengan
responden
yang
melakukan
aktifitas fisik.
i.
Stres
Stres
adalah
reaksi
atau
respon
tubuh
terhadap
stressor
psikososial (takanan mental atau beban hidup) (Striati, 2008). Jika
stress
berlangsung
lama,
tubuh
akan
berusaha
mengadakan
penyesuaian
sehingg
timbul
kelanian
organis
atau
perubahan
psikologis (Depkes RI, 2006c).
Hubungan
antara stres
dengan
hipertensi
diduga melalui
aktivitas saraf simpatis, yang dapat meningkatkan tekanan darah
secara
bertahap.
Apabila
stress
menjadi
berkepanjangan
dapat
berakibat tekanan darah menjadi tetap tinggi. Hal ini secara pasti

belum terbukti, akan tetapi pada binatang percobaan yang diberikan

pemaparan

tehadap

stress

ternyata

membuat

binatang

tersebut

menjadi hipertensi (Ferketich et al., 2000).

 

Menurut

penelitian

Suheni

(2007)

didapatkan

bahwa

responden yang mengalami stres memiliki risiko terkena hipertensi

sebesar 9,333 kali lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang

tidak memiliki stres. Stres sulit untuk diberi batasan dan diukur,

karena peristiwa yang menimbulkan stress pada seseorang belum

tentu menimbulkan stress pada orang lain (Sempel, 1991). Menurut

29

D.

penelitian Framinghan dalam Yusida tahun 2001, ada beberapa orang yang mengalami stres mereka beralih pada
penelitian Framinghan dalam Yusida tahun 2001, ada beberapa orang
yang mengalami stres mereka beralih pada merokok, alkohol, atau
makan
terlalu
banyak
untuk
mengilangkan
stress.
Karena
dari
kebiasaa-kebiasaan buruk yang terbukti malah akan meningkatkan
risiko hipertensi. Center for Epidemiology Studies Depression Scale
(CES-D),
mendefinisikan
stress
(depresi),
apabila
nilai
score
pertanyaan > 6 sesuai data CES-D (AMA, 2001).
Kerangka Teori
Kerangka teori dalam penelitian ini disusun berdasarkan rangkuman
tinjauan pustaka, khususnya hubungan antara faktor risiko dengan tingkat
kejadian hipertensi. Faktor yang berpengaruh pada angka kejadian hipertensi
diklasifikasikan menjadi dua yaitu faktor yang tidak dapat diubah adalah
riwayat keluarga dengan hipertensi, genetik, umur, jenis kelamin dan etnis
sedangkan faktor yang dapat diubah adalah Obesitas, konsumsi asin/garam,
konsumsi alkohol, konsumsi kalium, konsumsi lemak, konsumsi kafien,

merokok, olahraga, dan stress.

30

- Riwayat Keluarga - Umur - Jenis Kelamin - Genetik - Etnis Obesitas Hipertensi Konsumsi
- Riwayat
Keluarga
- Umur
- Jenis Kelamin
- Genetik
- Etnis
Obesitas
Hipertensi
Konsumsi makanan
asin/garam
Konsumsi alkohol
Konsumsi kalium
Konsumsi lemak
Konsumsi kafein
Merokok
Olahraga
kalium Konsumsi lemak Konsumsi kafein Merokok Olahraga Strees Bagan 2.1 Kerangka Teori Penelitian Sumber :

Strees

Bagan 2.1 Kerangka Teori Penelitian Sumber : Modifikasi (Gunawan , 2005 & Sheps, 2005)

A.

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL Kerangka Konsep Dari banyak faktor risiko hipertensi yang
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL
Kerangka Konsep
Dari banyak faktor risiko hipertensi yang telah dijabarkan pada sub
bab sebelumnya, peneliti hanya mengambil delapan variabel independen yaitu
riwayat keluarga, umur, jenis kelamin, obesitas, pola konsumsi makanan
asin/garam,
merokok,
stress,
dan
olahraga.
Alasan
peniliti
mengambil
variable-variabel tersebut karena peneliti ingin lebih fokus melihat faktor-
faktor yang sesuai dengan hasil dari studi pendahuluan yang menunjukkan
bahwa
variabel-variabel
diatas
yang
banyak
menyebabakan
terjadinya
hipertensi.
Untuk variabel yang tidak diteliti peneleti mempunyai alasan sebagai
berikut; untuk genetik, faktor ini kurang fesibel untuk dilakukan dalam
penelitian ini karena membutuhkan pemeriksaan biomolekul yang cukup

kompleks dan biaya yang relatif mahal. Untuk etnis, merupakan faktor risiko

yang

kurang

tepat

untuk

diteliti

karena

lokasi

penelitian

mayoritas

penduduknya mempunyai ras yang sama. Untuk konsumsi alkohol, konsumsi

kalium, konsumsi lemak, dan konsumsi kafein, variabel ini sulit dilakukan

untuk pengukuran pola konsumsinya.

31

32

Riwayat keluarga Umur Jenis kelamin Obesitas Hipertensi konsumsi makanan asin/garam Merokok Olahraga Stress
Riwayat keluarga
Umur
Jenis kelamin
Obesitas
Hipertensi
konsumsi makanan
asin/garam
Merokok
Olahraga
Stress
Bagan 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

B. Definisi Operasional

3.1 Tabel Definisi Operasional

33

No

Variabel

Definisi

Cara Ukur

Alat Ukur

Skala Ukur

Hasil Ukur

1.

Riwayat keluarga dengan hipertensi

Adanya

riwayat

Wawancara

Kuisoner

Nominal

1. Iya : jika ada riwayat keluarga dengan hipertensi

keluarga

yang

 

mengalami hipertensi

 

2.

Tidak : jika tidak ada riwayat hipertensi

2.

Umur

Lamanya hidup yang dihitung berdasarkan tanggal lahir hingga sekarang

Wawancara

Kuisoner

Interval

1.

47-56

   

2.

57-66

3.

67-76

4.

77-87

3.

Jenis kelamin

Identitas subyek penelitian sesuai biologis atau fisiknya

Wawancara

Kuisoner

Nominal

1.

laki-laki

   

2.

perempuan

4.

Konsumsi makanan asin/garam

Kebiasaan

makan

Wawancara

Kuisoner

Ordinal

1.

Iya : jika makan makanan asin (telor asin, ikan asin, sayur asin, kecap asin, kripik kentang, keju, daging kaleng, saos tomat, saos cabe) >1x / hari atau 1x/hari

dalam

 

mengkonsusmsi

 

makanan asin

 

2.

Tidak : jika makan makanan asin (telor asin, ikan asin, sayur asin, kecap asin, kripik kentang, keju, daging kaleng, saos tomat, saos cabe) 3-

6x/minggu atau 1-2x/minggu

34

5.

Merokok

Kegiatan

membakar

Wawancara

Kuisoner

Ordinal

1.

Iya: jika seseorang merokok setiap hari

 

tembakau

kemudian

dihisap asapnya

 

2.

Tidak: jika seseorang pernah merokok

tidak

6.

Obesitas Kondisi berat badan yang menyebabkan indeks massa tubuh (IMT) melebihi nilai normal, dimana nilai IMT normal adalah

Kondisi

Timbangan

Nominal

1.

Gemuk : jika IMT >27

obesitas

Meteran

2.

Tidak gemuk : jika IMT 18,5-

diukur

24,9

dengan

3.

Malnutrisi: jika IMT <17,0

menghitung

IMT dengan

 

18,5-24,9

rumus

 

sebagai

berikut :

IMT=B

(kg)/ TB 2

(m)

8.

Olahraga

Serangkaian

gerak

Wawancara

Kuisoner

Nominal

1.

Iya : ≥30 menit/hari dan ≥ 3 hari/minggu

 

raga yang teratur dan

 

terencana

untuk

2. Tidak : <30 menit/hari dan/atau < 3hari/minggu

memelihara

gerak

 

(mempertahankan

 

hidup)dan

meningkatkan

 

kemampuan

gerak

35

(meningkatkan

kualitas hidup)

9

Stress

Suatu

keadaan

Wawancara

Kuisoner

Ordinal

1.

Stress: jika hasil nilai

 

kondisi

kejiwaan

scor jawaban >16 2. Tidak stress: jika hasil

seseorang

yang

sedang tertekan

 

nilai scor jawaban <16

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif.
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Jenis
penelitian
ini
adalah
penelitian
kuantitatif
deskriptif.
Penelitian
kuantitatif
deskriptif
adalah
suatu
metode
penelitian
sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu sistem, pemikiran
suatu kelas peritiwa pada masa sekarang (M.Nazir dalam Konaah, 2010).
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengetahui
gambaran
faktor
resiko
hipertensi pada penderita hipertensi diwilayah kerja Puskesmas Ciputat
Timur, Kota Tangerang Selatan tahun 2014.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur
pada bulan April sampai Juni 2014.
C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini adalah semua penderita hipertensi di

wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur, kota Tangerang Selatan tahun

2014.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah penderita hipertensi yang

berkunjung dan berobat di Puskesmas Ciputat Timur, kota Tangerang

Selatan di bulan April sampai Juni tahun 2014.

- Kriteria Ekslusi : Pasien hipertensi yang sedang hamil

37

38

Tehnik sampling yang digunakan yaitu convenience, karena peneliti mendapatkan respon ditempat dimana penderita hipertensi
Tehnik sampling yang digunakan yaitu convenience, karena
peneliti mendapatkan respon ditempat dimana penderita hipertensi
melakukan pengobatan. Adapun pengambilan sampel minimum pada
penelitian ini menggunakan rumus besar sampel deskriptif kategorik
(Dahlan, 2010) :
n=
Keterangan :
n
= besar sampel penelitian deskriptif kategorik
p
= proporsi kategori variabel yang diteliti
Z a
= deviat baku alfa
d
= tingkat ketetapan absolut yang dikehendaki (95%)
q
=
1- p
(
)
n=
(
)
=

=

= 122 Sampel

D. Pengumpulan Data

1. Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer

yaitu data mengenai faktor resiko hipertensi pada penderita hipertensi

diwilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan

tahun 2014 yang diperoleh menggunakan kuisoner dan melakukan

39

pengukuran langsung terhadap tekanan darah, berat badan, dan tinggi badan. 2. Instrumen Penelitian Dalam penelitian
pengukuran langsung terhadap tekanan darah, berat badan, dan tinggi
badan.
2. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini istrumen yang digunakan bermacam-macam,
sebagai berikut :
a. Alat sphygnmomanometer air raksa dan stetoskop yang sebelumnya
telah dilakukan kalibrasi alat. Alat sphygnmomanometer
air raksa
dan
stetoskop
untuk
mengukur
tekanan
darah
sesuai
prosedur,
mengukur tekanan darah
akan dilakukan 2 kali dengan posisi
pengukuran yang sama dan hasil rata-rata pengukuran terakhir yang
akan diambil.
b. Timbangan berat badan dan meteran tinggi badan yang digunakan
sebelumnya telah dilakukan kalibrasi alat. Timbangan berat badan
untuk mengukur berat badan dan Meteran untuk mengukur tinggi
badan sehingga peneliti dapat mengukur
IMT
tubuh responden

dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

IMT =

(

)

(

)

c. Kuisoner

untuk

mengetahui

variabel

karakteristik

faktor

resiko

(umur,

jenis

kelamin,

riwayat

keluarga,

kebiasaan

merokok,

kebiasaan makan makanan asin/garam, olahraga).

d. Uji realibilitas kuisoner dan kalibrasi alat

- Kuisoner yang digunakan adalah kuisoner baku yang sebelumya

sudah dilakukan uji realibilitas dengan nilai Cronbach's Alpha

40

0,85 dan dilakukan uji reabilitas kembali pada 30 responden mendapatkan nilai Cronbach's Alpha 0,786 -
0,85 dan dilakukan uji reabilitas kembali pada 30 responden
mendapatkan nilai Cronbach's Alpha 0,786
- Kalibrasi alat (sphygnmomanometer air raksa dan stetoskop) dan
(timbangan berat badan dan meteran tinggi badan) telah dilakukan
dengan cara melakukan pengukuran pada tiga orang responden
dengan menggunakan alat yang sama.
E. Pengolahan Data
1. Pemeriksaan Data (Edittng)
Data yang telah dikumpulkan baik berupa pertanyaan
atau
hasil pengukuran diperiksa terlebih dahulu kelengkapannya.
2. Pemeriksaan Kode (Coding)
Untuk
memudahkan
dalam
pengolahan
data
yang
telah
terkumpul
setiap
variabel
dilakukan
pemberian
kode
sebelum
dimasukkan dalam program komputer.
3. Penyuntingan Data (Data Editing)

Penyuntingan data yaitu untuk mmemeriksa kelengkapan dan

kejelasan

jawaban

responden

dalam

pengisian

kuisoner

untuk

memastikan

semua

pertanyaan

telah

dijawab

oleh

responden.

Penyuntingan data dilakukan sebelum proses pemasukan data dan

dilakukan dilapangan, agar data yang slah dan meragukan masih bisa

ditelusuri kembali kepada responden yang bersangkutan.

41

4. Pemasukan Data Pemasukan data yaitu memasukan data kedalam komputer dengan aplikasi SPSS untuk kemudian
4. Pemasukan Data
Pemasukan data yaitu memasukan data kedalam komputer
dengan aplikasi SPSS untuk kemudian dianalisi
5. Pembersihan Data
Pembersihan data adalah membersihkan data dari kesalahan
memasukan data dan kesalahan dalam membaca kode.
F. Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, analisis
univariat
digunakan untuk melihat frekuensi kejadian dalam bentuk
presentasi ataupun proporsi yang disajikan dalam bentuk tabel. Analisis
univariat
bertujuan
untuk
menjelaskan
karakteristik
masing-masing
variabel yang akan diteliti.

A.

BAB V HASIL PENELITIAN Gambaran Tempat Penelitian 1. Latar Belakang Puskesmas adalah penanggung jawab
BAB V
HASIL PENELITIAN
Gambaran Tempat Penelitian
1. Latar Belakang
Puskesmas
adalah
penanggung
jawab
penyelenggara
upaya
kesehatan untuk jenjang tingkat pertama. Untuk menunjang keberhasilan
upaya
kesehatan
Puskesmas,
telah
dikembangkan
aspek
manajemen
tingkat Puskesmas. Diantaranya adalah Laporan Tahunan untuk melihat
sejauh
mana
Puskesmas
dapat
melaksanakan
kegiatan
yang
telah
direncanakan, ataupun hambatan-hambatan dalam pelaksanaan kegiatan
yang telah dilakukan. UPT Puskesmas Ciputat Timur menyusun Laporan
Tahunan 2013 ( Januarai - Desember 2013) sebagai pelaporan proses
mengatasi
masalah-masalah
yang
dihadapi
dalam
rangka
pencapaian
tujuan yang telah ditetapkan. Tujuannya agar UPT Puskesmas Ciputat

Timur dapat mewujudkan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya

yaitu

derajat

kesehatan

setinggi-tingginya

sesuai

dengan

tujuan

pembangunan menuju Indonesia sehat 2010.

2. Visi, Misi, Motto Puskesmas Ciputat Timur

a. Visi

Menjadi Puskesmas yang mampu melaksanakan pelayanan kesehatan

prima yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.

b. Misi

1) Memberikan pelayanan prima yang meliputi kegiatan promotif,

preventif, kuratif dan rehabilitatif.

42

43

2) Mengembangkan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan. 3) Mengembangkan sumber daya manusia yang profesional
2) Mengembangkan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan.
3) Mengembangkan
sumber
daya
manusia
yang
profesional
dan
berkualitas.
4) Mengembangkan upaya kemandirian masyarakat bidang kesehatan.
5) Mengembangkan kemitraan lintas sektor dan swasta.
6) Mengembangkan sistem manajemen Puskesmas.
c.
Motto
Bersih, Santun, Harmonis, Barokah dan Tertib
3. Gambaran Umum
Puskesmas Ciputat Timur merupakan salah satu dari empat puskesmas
yang ada di wilayah Kecamatan Ciputat Timur. Letaknya berbatasan dengan
:
 Sebelah utara : DKI jakarta
 Sebelah selatan : wilayah kerja Puskesmas Ciputat
 Sebelah Barat : Wilayah Kerja Puskesmas Rengas dan DKI

jakarta

Sebelah Timur : Wilayah Kerja Puskesmas Pisangan

Puskesmas

Ciputat

Timur

terletak

di

jalan

Rempoa No.1 Kelurahan

Rempoa, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tanggerang Selatan Provinsi

Banten. Dibangun di atas tanah seluas 600 M 2 dengan luas bangunan lebih

kurang 1000 m 2 terdiri dari 2 lantai. Kegiatan pelayanan di pusatkan di

lantai 1 sedangkan lantai 2 difungsikan sebagai ruang pemimpin, staff,

data, dan ruang rapat. Serta dilantai 2 juga terdapat ruang pelayanan

44

pengobatan TB paru, kelas ibu hamil, ruang perawatan umum dan laboratorium. Wilayah kerja Puskesmas Ciputat
pengobatan
TB
paru,
kelas
ibu
hamil,
ruang
perawatan
umum
dan
laboratorium.
Wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur terdiri dari 2 kelurahan yaitu
kelurahan Rempoa dan Kelurahan Cempaka Putih.
1. Kependudukan
Puskesmas Ciputat Timur mempunyai 2 kelurahan binaan dengan total
jumlah penduduk 58.411 jiwa yang terdiri dari 29.445 jiwa laki-laki
dan 28.966 jiwa perempuan dengan tingkat kepadatan penduduk 128
jiwa per km 2 . Tingkat kepadatan penduduk lebih banyak di kelurahan
Rempoa yaitu 156 jiwa/km 2 dibandingkan dengan kelurahan Cempaka
Putih yaitu 99 jiwa/km 2 . Jumlah KK yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Ciputat Timur sebanyak 16.981 KK dengan jumlah rumah
sebanyak 11.383 rumah terdiri dari 139 TR dan 23 RW.

Tabel 5.1 Data Kependudukan di Wilayah Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2013

No

Kelurahan

Jumlah

Jumlah

Jumlah

RW

RT

 

Penduduk

KK

Rumah

1

Rempoa

34.444

10.964

6.196

12

84

2

Cempaka

23.967

6.017

5.187

11

55

Putih

 

Total

58.411

16.981

11.383

23

139

Sumber: laporan kependudukan Kelurahan Rempoa tahun 2013, dan

laporan Keluruhan Cempaka Putih Tahun 2013

2. Sosial Ekonomi

a. Tingkat pendidikan

Perkembangan

perekonomian

Kecamatan

Ciputat

Timur

tahun

2013 tercermin salah satunyadari peningkatan Produk Domesrik

45

Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku di tahun 2013. Adapun data dari BPS belum
Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku di tahun 2013.
Adapun data dari BPS belum tersedia untuk tingkat Kecamatan
Ciputat
Timur
sehingga
belumdapat
ditampilkan
data
akurat.
Selain itu data tidak ada dalam tabel profil yang harus di isi
sehingga kami sulit untuk menganalisanya.
b. Perkembangan Tahap Keluarga dan KK Miskin
Tabel 5.2
Perbandingan KK Miskin
No
Tahun
Jumlah Jiwa
Jumlah Jiwa
Gakin
1
2011
60.094
10.061
2
2012
60.144
10.061
3
2013
58.411
3.840
Jumlah penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun
2013 sebanyak 58.411 jiwa dan jumlah KK yang ada sebanyak
16.981.
penduduk
yang
sudah
mempunyai
kartu
Jamkesmas
sebanyak 3748 dari total kuota jamkesmas yaitu sebanyak 3840.
Hampir seluruh penduduk miskin yang memiliki kartu jamkesmas

maupun yang tidak memiliki kartu Jamkesmas terlayani dengan

baik untuk mendapat pelayanan kesehatan.

c. Tingkat pendidikan

Buta huruf/ tidak sekolah

: 41 orang

Tidak tamat SD/MI

: 280 orang

SD/MI

: 5309 orang

SMP/MTS

: 6163 orang

SMA/MA

: 11061 orang

Sekolah Menengah Kejuruan : 9627 orang

46

Diploma I/ Diploma II : 7183 orang Akademi/ Diploma III : 4884 orang Universitas/ Diploma
Diploma I/ Diploma II
: 7183 orang
Akademi/ Diploma III
: 4884 orang
Universitas/ Diploma IV
: 3962 orang
S2 / S3 (Master / Doktor)
: 828 orang
Kemampuan membaca dan menulis dapat dilihat dari Angka
Melek Huruf sebagai salah satu indikator tingkat pendidikan, yang
diukur dengan presentase penduduk usia 10 tahun ke atasyang dapat
membaca dan menulis. Adapun rata-rata Angka Melek Huruf di
Wilayah Kecamatan Ciputat Timur adalah 99,81 % dengan rincian
99,73% pada jenis kelamin dan 99,89% pada jenis kelamin perempuan.
4. Program Kesehatan Puskesmas Ciputat Timur
a. Program Kegiatan Pokok
1. Promosi Kesehatan
2. Kesehatan Ibu dan Anak
3. Perbaikan Gizi

4. Pecegahan dan Pemberantasan Penyakit

5. Penyehatan Lingkungan

6. Pelayanan Pengobatan

b. Program Pengembangan Wajib

1. Program Lansia

2. Program UKS/UKGS

3. Program NAPZA

47

5. Data Sumber Daya a. Tenaga Puskesmas Tabel 5.3 Tenaga Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2013
5. Data Sumber Daya
a. Tenaga Puskesmas
Tabel 5.3
Tenaga Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2013
No
Jenis Ketenagaan
Jumlah Tenaga
1.
Kepala Puskesmas
1
2
Subbag TU
1
3
Dokter Umum (DU)
3
4
Dokter Gigi (DRG)
2
5
Kesehatan Masyarakat (SKM)
2
6
Bidan
9
7
Perawat
6
8
Perawat Big
1
9
Analis Laboratorium
1
10
Tenaga Pelaksanaan Gizi
1
11
Fisioterapis
1
12
Petugas Loket
2
13
Juru Masak
1
14
Supir Ambulance
1
15
Security
4
16
Cleaning Service
4
Sumber : Data Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2013
b. Peran Serta Masyarakat (PSM)
Peran Serta Masyarakat (PSM) adalah salah satu bentuk dari Upaya

Bersumber

Daya

Masyarakat

(UKBM)

yang

merupakan

sarana

penyediaan data dan untuk melakukan evaluasi atas program yang

telah dilaksanakan. Sumber daya ini dikelola oleh, dari, untuk dan

bersama masyarakat, dengan bimbingan petugas Puskesmas, lintas

sektoral dan lembaga terkait.

Tabel 5.4 Peran Serta Masyarakat Ciputat Timur Tahun 2013

No

Jumlah Peran Serta Masyarakat

Jumlah

1 Jumlah Kader Aktif

332

2 Jumlah Posyandu Aktif

43

3 Jumlah Psoyandu dengan UKGMD

43

Sumber : Data Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2013

48

B.

Analisis Univariat 1. Gambaran Jenis Kelamin Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan sebaran data Jenis
Analisis Univariat
1. Gambaran Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan sebaran data
Jenis kelamin pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat
Timur tahun 2014 yang disajikan dalam bentuk tabel 5.5 berikut ini.
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin pada Pasien Hipertensi di
Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014
Jenis Kelamin
N
%
Laki-Laki
40
32,8
Perempuan
82
67,2
Total
122
100
Pada variabel jenis kelamin terdiri dari 1 pertanyaan, terdapat pada data
responden. Variabel jenis kelamin diklasifikasikan menjadi dua yaitu laki-
laki dan perempuan. Berdasarkan hasil analisa data jenis kelamin yang
lebih
dominan
adalah jenis
kelamin
perempuan
dengan
jumlah 82
(67,2%) sedangkan jenis kelamin laki-laki dengan jumlah 40 (32,8%).
2. Gambaran Umur

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan sebaran data umur

pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun

2014 yang disajikan dalam bentuk tabel 5.6 berikut ini.

Tabel 5.6 Distribusi Frekuensi umur pada Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014

Umur

N

%

47-56

29

23,8

57-66

56

45,9

67-76

34

27,9

77-87

3

2,5

Total

122

100

Pada variabel umur terdiri dari 1 pertanyaan, terdapat pada data responden.

Berdasarkan hasil analisa data umur didapatkan lebih dominan rentang umur

49

57-66 dengan jumlah 56 (45,9%) sedangkan rentang umur 67-76 dengan jumlah 34 (27,9%), rentang umur
57-66 dengan jumlah 56 (45,9%) sedangkan rentang umur 67-76 dengan
jumlah 34 (27,9%), rentang umur 47-56 dengan jumlah 29 (23,8%), dan
rentang umur 77-87 dengan jumlah 3 (2,5%).
3. Gambaran Riwayat Keluarga
Berdasarkan
hasil
penelitian
yang
dilakukan,
didapatkan
sebaran
data
riwayat keluarga pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat
Timur tahun 2014 yang disajikan dalam bentuk tabel 5.8 berikut ini.
Tabel 5.8
Distribusi Frekuensi Riwayat Keluarga pada Pasien Hipertensi di
Wilayah Kerja Puskesmas Ciputat Timur Tahun 2014
Riwayat Keluarga dengan
Hipertensi
N
%
Ya
71
58,2
Tidak
51
41,8
Total
122
100
Berdasarkan hasil analisa data riwayat keluarga yang lebih dominan adalah
riwayat keluarga dengan hipertensi sejumlah 71 (58,2%) sedangkan riwayat
keluarga dengan tidak hipertensi sejumlah 51 (41,8%).

4. Gambaran Obesitas

Berdasarkan

hasil

penelitian

yang

dilakukan,

didapatkan

sebaran

data

obesitas pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur

tahun 2014 yang disajikan dalam bentuk tabel 5.7 berikut ini.

Tabel 5.7 Distribusi Frekuensi Obesitas Pada Pasien Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014

Obesitas

N

%

Obesitas

18

14,8

Tidak Obesitas

104

85,2

Total

122

100

50

5.

6.

Berdasarkan hasil analisa data obesitas didapatkan bahwa pasien hipertensi dengan obesitas sebesar 18 (14,8%) tetapi
Berdasarkan hasil analisa data obesitas didapatkan bahwa pasien hipertensi
dengan
obesitas
sebesar
18
(14,8%)
tetapi
sebagian
besar
penderita
hipertensi memiliki berat badan yang tidak obesitas sebesar 104 (85,2%).
Gambaran Merokok
Berdasarkan
hasil
penelitian
yang
dilakukan,
didapatkan
sebaran
data
perokok pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur
tahun 2014 yang disajikan dalam bentuk tabel 5.9 berikut ini.
Tabel 5.9
Distribusi Frekuensi Merokok Pada Pasien Hipertensi di wilayah kerja
Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014
Perokok
N
%
Ya
27
22,1
Tidak
92
77,9
Total
122
100
Berdasarkan
hasil
analisa
data
merokok
didapatkan
bahwa
penderita
hipertensi dengan merokok sejumlah 27 (22,1%) dan penderita hipertensi
yang tidak merokok sejumlah 92 (77,9%).

Gambaran Konsumsi Makanan Asin

Berdasarkan

hasil

penelitian

yang

dilakukan,

didapatkan

sebaran

data

konsumsi Makanan Asin pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas

Ciputat Timur tahun 2014 yang disajikan dalam bentuk tabel 5.10 berikut ini.

Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Konsumsi Makanan Asin Pada Pasien Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014

Konsumsi

N

%

Makanan Asin

Ya

85

69,7

Tidak

37

30,3

Total

122

100

51

7.

8.

Berdasarkan hasil analisa data konsumsi makanan asin didapatkan bahwa pasien hipertensi yang sering mengkonsumsi makanan
Berdasarkan hasil analisa data konsumsi makanan asin didapatkan bahwa
pasien hipertensi yang sering mengkonsumsi makanan asin sejumlah 85
(69,7%) sedangkan pasien hipertensi yang tidak mengkonsumsi makanan asin
sejumlah 37 (30,3%).
Gambaran Olahraga
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan sebaran data Olahraga
pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014
yang disajikan dalam bentuk tabel 5.11 berikut ini.
Tabel 5.11
Distribusi Frekuensi Olahraga Pada Penderita Hipertensi di wilayah
kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014
Olahraga
N
%
Ya
26
21,3
Tidak
96
78,7
Total
122
100
Berdasarkan hasil analisa data olahraga didapatkan bahwa pasien hipertensi
yang biasa olahraga berjumlah 26 (21,3%) sedangkan pasien hipertensi yang

tidak pernah olahraga berjumlah 96 (78,7%).

Gambaran Stress

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan sebaran data Trees

pada pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014

yang disajikan dalam bentuk tabel 5.12 berikut ini.

Tabel 5.12 Distribusi Frekuensi obesitas Pada Pasien Hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014

Stres

N

%

Ya

68

55,7

Tidak

54

44,3

Total

122

100

52

Berdasarkan hasil analisa data stres didapatkan bahwa pasien hipertensi yang mengalami stress yaitu sejumlah 68
Berdasarkan hasil analisa data stres didapatkan bahwa pasien hipertensi yang
mengalami stress yaitu sejumlah 68 (55,7%) sedangkan pasien hipertensi yang
tidak mengalami stres yaitu sejumlah 54 (44,3%).
BAB VI PEMBAHASAN A. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam proses pelaksanaannya,
BAB VI
PEMBAHASAN
A. Keterbatasan Penelitian
Penelitian
ini
memiliki
keterbatasan
dalam
proses
pelaksanaannya,
adapun
keterbatasan-keterbatsan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Kemungkinan
ada
kesalahan
dalam
pengukuran
tekanan
darah
atau
penggunaan
sphygnomanometer.
Apalagi
sphygnomanometer
yang
digunakan
sphygnomanometer
air
raksa,
dimana
titik
nol
alat
sphygnomanometer tidak tepat atau tidak pas letaknya, pemompaan tekanan
alat yang tiba-tiba menyebabkan spasme arteri brakhialis sehingga hasil yang
diperoleh tidak akurat, letak posisi cuff
yang tidak tepat, serta ukuran cuff
yang tidak tepat.
2. Kemungkinan ada kesalahan dalam pembacaan hasil timbangan yang kurang
teliti
atau
posisi
tubuh
responden
yang
kurang
berdiri
tegak
dalam
pengukuran berat badan.
3. Kemungkinan
ada
kesalahan
dalam
pengukuran
tinggi
badan
dengan

menggunakan meteran pada saat pengukuran posisi tubuh responden yang

tidak terlalu tegak dan kurangnya ketelitian dalam pembacaan anggkanya.

4. Kemungkinan

dalam

pengambilan

data

tentang

faktor

resiko,

ada

keterbatasan

seperti

kurangnya

pemahaman,

kejujuran

dan

daya

ingat

responden.

5. Kemungkinan dalam penggalian pertanyaan stress kurang lebih dalam, selain

itu ada keterbatasan seperti kurangnya motivasi, kejujuran dari responden

dalam menjawab pertanyaan variabel stres karena ada faktor malu untuk

mengungkapkan keadaan sebenarnya.

53

54

B. Analisis Univariat Berdasarkan data yang diperoleh secara presentasi bahwa hipertensi cukup tinggi di wilayah
B. Analisis Univariat
Berdasarkan data yang diperoleh secara presentasi bahwa hipertensi cukup tinggi
di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur yaitu sebesar 41,9 %.
1. Gambaran Jenis Kelamin responden di Wilayah kerja Puskesmas
Ciputat Timur tahun 2014.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar
subjek penelitian berjenis kelamin perempuan (67,2%) sedangkan yang
berjenis laki-laki (32,8%). Hasil Analisis diketahui bahwa presentasi
kejadian hipertensi lebih banyak terjadi pada perempuan daripada laki-
laki.
Hasil penelitian ini sejalan dengan pernyataan Kaplan (2002) yang
menyatakan bahwa dengan bertambahnya usia, pada kelompok 65
tahun ke atas prevalensi hipertensi akan lebih tinggi terjadi pada
perempuan
dibandingkan
laki-laki.
Serta
sejalan
juga
dengan
pernyataan, (Depkes RI, 2006c) yang menyatakan bahwa prevalensi

hipertensi lebih tinggi terdapat pada wanita. Hal ini di buktikan dari

hasil penelitian Sugiri (2004) di Jawa

Tengah yang mendapatkan

prevalensi hipertensi pada wanita lebih besar dengan jumlah 11,6%

dibandingkan

laki-laki

6,0%,

serta

laporan

dari

hasil

penelitian

Setiawan (2006)

di di pulau Jawa menunjukkan hasil prevalensi

hipertensi pada wanita sebesar 47,1 % sedangkan pada laki-laki 36,7%.

Dibuktikan

juga

oleh

hasil

penelitian

Hesti

Rahayu

(2012)

yang

memperoleh hasil bahwa kejadian hipertensi lebih tinggi terjadi pada

55

Kejadian hipertensi lebih besar terjadi pada jenis kelamin perempuan di wilayah kerja Puskesmas Ciputat
Kejadian
hipertensi
lebih
besar
terjadi
pada
jenis
kelamin
perempuan
di
wilayah
kerja
Puskesmas
Ciputat
Timur
dikarenakan
perempuan
lebih
peduli
untuk
mengontrol
penyakit
hipertensinya
dibandingkan laki-laki.
2.
Gambaran Umur responden di Wilayah kerja Puskesmas Ciputat
Timur tahun 2014.
Berdasarkan hasil Analisis didapatkan bahwa lebih dominan pada
rentang umur 57-66 dengan jumlah 56 (45,9%) bidandingkan rentang
umur 67-76 dengan jumlah 34 (27,9%), rentang umur 47-56 dengan
jumlah 29 (23,8%), dan rentang umur 77-87 dengan jumlah 3 (2,5%).
Hasil penelitian ini sejalan dengan pernyataan (Depkes RI, 2006c)
yang menyatakan bahwa tingginya kejadian hipertensi sejalan dengan
bertambahnya
usia,
karena disebabkan
oleh
perubahan
struktur
pada
pembuluh
darah
besar
sehingga
lumen
menjadi
sempit
dan
dinding
pembuluh darah menjadi kaku, sehingga akibat tersebut tekanan darah

sistolik meningkat.

Hasil

penelitian

ini

juga

didukung

oleh

beberapa

penelitian

sebelumnya,

Sugiharto

(2007)

menyatakan

bahwa

umur

mempunyai

hubungan yang bermakna dengan kejadian hipertensi dan merupakan salah

satu faktor resiko hipertensi dimana semakin tua umur, semakin beresiko

terserang hipertensi didapatkan hasil penelitian bahwa umur 36-45 tahun

mempunyai

resik

menderita

hipertensi

1,23

kali,

umur

45-55

tahun

beresiko 2,22 kali, dan Umur 56-65 tahun beresiko 4,76 kali dibandingkan

umur

yang

lebih

muda.

Penelitian

yang

dilakukan

oleh

Indrawati,

56

Wedhasari, dan Yudi (2009) juga menyatakan bahwa umur adalah faktor resiko paling tinggi pengaruhnya terhadap
Wedhasari, dan Yudi (2009) juga menyatakan bahwa umur adalah faktor
resiko paling tinggi pengaruhnya terhadap kejadian hipertensi.
3. Gambaran Riwayat Keluarga responden di Wilayah kerja Puskesmas
Ciputat Timur tahun 2014.
Berdasarkan hasil
Analisis data responden,
riwayat keluarga
dengan
hipertensi
sejumlah
71
(58,2%)
sedangkan
riwayat
keluarga
dengan tidak hipertensi sejumlah 51 (41,8%). Hasil ini sejalan dengan
peryataan (Black & Hawks, 2005) yang menyatakan bahwa seseorang
yang mempunyai riwayat keluarga dengan hipertensi akan beresiko lebih
tinggi dibandingkan dengan seseorang yang tidak mempunyai riwayat
keluarga dengan hipertensi.
Dan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Anggraini dkk
(2008) menyatakan bahwa seseorang yang mempunyai riwayat keluarga
dengan
hipertensi
sekitar
8
kali
lebih
tinggi
dibandingkan
dengan
seseoarang yang tidak memiliki riwayat keluarga yang tidak hipertensi.

Menurut hasil penelitian Hasurungan (2002) menyatakan bahwa seseorang

yang memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi beresiko sebesar 2,035

kali lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang tidak memiliki

riwayat keluarga dengan hipertensi.

4. Gambaran Obesitas responden di Wilayah kerja Puskesmas Ciputat

Timur tahun 2014.

Berdasarkan

hasil

Analisis

data

obesitas

didapatkan

bahwa

penderita hipertensi dengan obesitas sejumlah 18 (14,8%), sedangkan

57

penderita hipertensi lebih besar terdapat pada penderita yang tidak obesitas sejumlah 104 (85,2%). Penelitian ini
penderita hipertensi lebih besar terdapat pada penderita yang tidak obesitas
sejumlah 104 (85,2%).
Penelitian
ini
ada
kesenjangan
antara
teori
dengan
hasil
uji
statistik.
Dimana
menurut
teori
sesuai
hasil
penelitian
sebelumnya,
penelitian Sihombing (2009) menyatakan bahwa obesitas berkaitan erat
dengan
peningkatan
tekanan
darah
baik
pada
laiki-laki
maupun
perempuan. Dan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rosalina (2008)
menyatakan
bahwa
seseorang
yang
obesitas
akan
lebih
beresiko
mengalami hipertensi dibandingkan dengan seseorang yang tidak obesitas.
Sedangkan dalam penelitian ini didapatkan bahwa hasil uji statistiknya
penderita
hipertensi
dengan
IMT
yang
tidak
obesitas,
hal
ini
dimungkinkan karena adanya faktor lain yang mempengaruhi kejadian
hipertensi.
Proporsi obesitas yang rendah dimungkinkan karena responden
lebih banyak pada rentang umur 57-66 tahun yang tergolong lansia,

Dimana pola makan lansia pada rentang umur tersebut sudah mulai

5.

berkurang.

Gambaran Merokok pada responden di Wilayah kerja Puskesmas

Ciputat Timur tahun 2014.

Berdasarkan

hasil

Analisis

data

merokok

didapatkan

bahwa

penderita hipertensi dengan merokok sejumlah 27 (22,1%) dan penderita

hipertensi yang tidak merokok sejumlah 92 (77,9%).

Menurut teori Black & Hawks (2005) yang menyatakan bahwa

kandungan

dalam

rokok

terdapat

nikotin

yang

dapat

menyebabkan

58

meningkatnya denyut jantung dan menyebabkan vasokontriksi perifer yang akan meningkatkan tekanan darah perifer pada
meningkatnya denyut jantung dan menyebabkan vasokontriksi perifer
yang akan meningkatkan tekanan darah perifer pada jangka waktu yang
pendek, selama dan setelah merokok.
Hasil
penelitian
Roslina
(2007)
yang
menyatakan
adanya
hubungan
antara
kebiasaan
merokok
dengan
kejadian
hipertensi.
Penelitian Suryati (2005) menyatakan bahwa ada hubungan signifikan
antara merokok dengan hipertensi.
Dari hasil penelitian ini ada sedikit perbedaan yaitu penderita
hipertensi pada penelitian ini sebagian besar tidak merokok, tetapi untuk
faktor
Merokok
beresiko
terhadap
kejadian
hipertensi.
Hal
ini
kemungkinan disebabkan karena sebagian besar subjek penelitian yang
saat
ini
adalah
perempuan
(67,2%)
yang
bukan
perokok
sedangkan
responden laki-laki yang merokok hanya sedikit yaitu sebesar (22,1%).
6. Gambaran Konsumsi Makanan Asin pada responden di Wilayah kerja
Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014.

Berdasarkan hasil Analisis data konsumsi makanan asin didapatkan

bahwa penderita hipertensi yang sering mengkonsumsi makanan asin

sejumlah

85

(69,7%)

sedangkan

penderita

hipertensi

yang

tidak

mengkonsumsi makanan asin sejumlah 37 (30,3%).

Hasil penelitian ini sejalan dengan pernyataan (Dirsken dik, 2000)

menyatakan

bahwa

konsumsi

sodium

akan

mengaktifkan

mekanisme

vasopresor dalam sistem saraf pusat dan mesntimulasi terjadinya retensi

air yang berakibat pada peningkatan tekanan darah. Hasil penelitian

sebelumnya juga membuktikan bahwa ada hubungan antara konsumsi

59

makanan asin dengan kejadian hipertensi yaitu hasil penelitian Sugiharto (2007) yang menyatakan bahwa seseorang yang
makanan asin dengan kejadian hipertensi yaitu hasil penelitian Sugiharto
(2007)
yang
menyatakan
bahwa
seseorang
yang
terbiasa
konsumsi
makanan asin akan beresiko 3,95 kali dibandingkan orang yang tidak
terbiasa konsumsi makanan asin.
7.
Gambaran Olahraga pada responden di Wilayah kerja Puskesmas
Ciputat Timur tahun 2014.
Berdasarkan
hasil
Analisis
data
olahraga
didapatkan
bahwa
penderita hipertensi yang biasa olahraga berjumlah 26 (21,3%) sedangkan
penderita hipertensi yang tidak pernah olahraga berjumlah 96 (78,7%).
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Dalimartha, dkk
(2005)
yang menyatakan bahwa ada hubungan antara aktivitas fisik
dengan kejadian hipertensi, dan individu yang kurang aktif mempunyai
resik
menderita
hipertensi
sebesar
30-50%.
Hasil
penelitian
juga
dibuktikan dengan hasil penelitian sebelumnya yaitu penelitian
yang
dilakukan
oleh
hasurungan
(2002)
yang
menyatakan
bahwa
tidak

melakukan aktivitas fisik mempunyai resik sebesar 2,899 kali lebih tinggi

dibandingkan yang melakukan aktivitas fisik.

8.

Gambaran

stress

pada

responden

Ciputat Timur tahun 2014.

di

Wilayah

kerja

Puskesmas

Berdasarkan hasil Analisis data stres didapatkan bahwa penderita

hipertensi yang mengalami stres yaitu sejumlah 68 (55,7%) sedangkan

penderita

hipertensi

yang

tidak

mengalami

stres

yaitu

sejumlah

54

(44,3%).

60

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Framinghan dalam Yusida 2001 yang menyatakan bahwa ada beberapa
Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Framinghan dalam Yusida
2001 yang menyatakan bahwa ada beberapa orang yang mengalami stress
mereka beralih pada merokok, alkohol atau makan terlalu banyak, hal ini
yang menyebabkan hipertensi terjadi karena kebiasaan-kebiasaan buruk
yang meningkatkan resiko hipertensi.
Hasil penelitian sebelumnya yang sejalan dengan penelitian ini
yaitu penelitian yang dilakukan oleh Hesti Rahayu (2012) menyatakan
bahwa stress mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian hipertensi.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh suheni (2007) didapatkan bahwa
responden
yang
mengalami
stres
memiliki
resiko
terkena
hipertensi
sebesar 9,333 kali lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang tidak
memiliki stres.
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Proporsi hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun
2014 adalah 8,73%
2. Gambaran faktor resiko jenis kelamin pada pasien hipertensi diwilayah
kerja Puskesmas Ciputat Timur tahun 2014 adalah lebih dominan pada
jenis kelamin perempuan sebesar 82 (67,2%).
3. Gambaran
faktor
resiko
pada
pasien
hipertensi
diwilayah
kerja