Anda di halaman 1dari 9

BAB I

LATAR BELAKANG
Rumah sakit sebagai sarana upaya perbaikan kesehatan yang melaksanakan
pelayanan kesehatan sekaligus sebagai lembaga pendidikan tenaga kesehatan dan
penelitian, ternyata memiliki dampak positif dan negatif terhadap lingkungan
sekitarnya. Rumah sakit dalam menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan rawat
jalan, rawat inap, pelayanan gawat darurat, pelayanan medik, dan pelayanan nonmedik
menggunakan teknologi yang dapat memengaruhi lingkungan sekitarnya. (Jahar,2006)
Pelayanan pendukung medis seperti instalasi gizi di suatu rumah sakit merupakan
suatu kegiatan yang membantu dalam upaya penyembuhan dan pemulihan penderita,
yang kegiatannya dapat dari usaha dapur sampai pengolahan diet bagi penderita. Dalam
petunjuk tentang ukuran akreditas rumah sakit, dinyatakan bahwa pelayanan gizi
merupakan salah satu fasilitas dan pelayanan yang harus ada di rumah sakit. Bagian ini
harus diatur dengan mempertimbangkan kebutuhan klinis, kebutuhan masyarakat,
keamanan, kebersihan, sumber-sumber dan manajemen tepat guna. Dimana dalam
proses penyembuhan pasien dibantu dengan adanya makanan yang memenuhi syarat,
baik dari segi kualitas maupun kuantitas (Andry Hartono, 2000).
Untuk menghasilkan makanan yang mengandung gizi dapat memenuhi syarat
kesehatan bagi pasien yang ada dirumah sakit, maka diperlukan untuk mengelola
makanan yang sesuai dengan standar kesehatan di instalasi gizi rumah sakit. Untuk itu
dibutuhkan pengetahuan tentang higiene dan sanitasi pengolahan makanan dan
pelayanan gizi di instalasi gizi rumah sakit.oleh karena itu pihak rumah sakit dapat
meningkatkan manajemen pada petugas instalasi gizi, bekerja sama dengan pihak-pihak
yang bersangkutan untuk merencanakan kegiatan studi banding dan pelatihan guna
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah makanan bagi petugas
pada instalasi gizi tersebut (Depkes RI, 1994).
Berbagai departemen/instansi pemerintah yang bersangkutan dengan pelaksanaan
Inpres no. 20 tahun 1979, telah mengadakan latihan untuk meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan bagi para petugas gizi dalam merencanakan dan mengelola program
gizi. Pelayanan gizi rumah sakit dalam ini wadahnya adalah instalasi gizi, bertujuan
untuk memberikan makanan yang bermutu, bergizi, higiene dan sanitasi yang baik pada
instalasi gizi yang sesuai dengan standar kesehatan bagi pasien, sekaligus untuk
mempercepat proses penyembuhan pasien. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka
penting diterapkan manajemen dalam penyelenggaraan makanan sehingga
menghasilkan makanan yang bermutu dan kebersihan makanan yang memenuhi syarat
kesehatan (Rachmat, R Hapsara Habbit , 2004).
Dalam aspek manajemen langkah pertama dilakukan adalah menerapkan
perencanaan. Strategi penyusunan perencanaan tersebut dilakukan oleh kepala instalasi
gizi rumah sakit tersebut , yaitu meliputi perencanaan mengenai tenaga yang bekerja
khusus berhubungan dengan penyelengaraan makanan yang akan diolah, perencanaan
mengenai kebutuhan bahan-bahan makanan, dan perencanaan mengenai peralatan yang
digunakan dalam pengolahan makanan. Kepala instalasi gizi harus mempunyai
kemampuan manajemen yang baik dalam mengatur sumber daya manusia yang ada,
membuat perencanaan yang baik sehingga kebutuhan yang diperlukan dapat tersedia di
dalam pengelolaan gizi pasien (Arifin dan P. Heru A, 2006).
BAB II
ISI

Kehidupan modern menuntut kita agar selalu berupaya memelihara dan


meningkatkan kesehatan, baik kesehatan pribadi maupun kesehatan lingkungan. Yang
dimaksud kesehatan pribadi menurut Murifah dan Herdianto (1992: 8) adalah
kesehatan atau kebersihan diri sendiri seutuhnya yaitu meliputi seluruh aspek pribadi,
fisik, mental, sosial agar tumbuh dan berkem-bang secara harmonis. Sedangkan
kesehatan lingkungan menurut Murifah dan Herdianto (1992: 8) adalah Kesehatan
yang berada di luar diri meliputi lingkungan biologis dan lingkungan fisik.
Sehat adalah tidak adanya gangguan terhadap jasmani, rohani, dan sosial.
Kesehatan mencakup pribadi seseorang seutuhnya meliputi sehat pisik, sehat mental,
dan sosial. Pemahaman sehat tersebut sesuai dengan pengertian sehat yang
dikemukakan WHO yang dikutip oleh Marifah (1992: 1) adalah keadaan yang
meliputi kesehatan fisik, kesehatan mental, dan kesehatan sosial dan bukan hanya
keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.
Konsep sehat, yang dikemukakan oleh Linda Ewles & Ina Simmet (1992), yang
dikutip oleh A.E. Dumatubun dalam Jurnal Antropologi Papua.2002, seperti berikut :
1) Konsep sehat dilihat dari segi jasmani yaitu dimensi sehat yang paling nyata
karena perhatiannya pada fungsi mekanisme tubuh.
2) Konsep sehat dilihat dari segi mental, yaitu kemampuan berpikir dengan jernih
dan koheren. Istilah mental dibedakan dengan emosional dan sosial walaupun ada
hubungan yang dekat diantara ketiganya.
3) Konsep sehat dilihat dari segi emosional yaitu kemampuan untuk mengenal emosi
seperti takut, kenikmatan, kedukaan, dan kemarahan, dan untuk mengekspresikan
emosi-emosi secara cepat.
4) Konsep sehat dilihat dari segi sosial berarti kemampuan untuk membuat dan
mempertahankan hubungan dengan orang lain.
5) Konsep sehat dilihat dari aspek spiritual yang berkaitan dengan kepercayaan dan
praktek keagamaa, berkaitan dengan perbuatan baik, secara pribadi, prinsip-
prinsip tingkah laku, dan cara mencapai kedamaian dan merasa damai dalam
kesendirian.
6) Konsep sehat dilihat dari segi societal yaitu berkaitan dengan kesehatan pada
tingkat individual ang terjadi karena kondisi-kondisi sosial, politik, ekonomi dan
budaya yang melingkupi individu tersebut. Adalah tidak mungkin menjadi sehat
dalam masyarakat yang sakit yang tidak dapat menyediakan sumber-sumber
untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan emosional. (Djekky,2001: 8)

Konsep sehat yang dikemukakan oleh World Health Organization (WHO) maka
itu berarti bahwa : Sehat itu adalah : a state of complete physical, mental, and social
well being, and not merely the absence of disease or infirmity (WHO, 1981:38 ).
Dengan demikian jelas bahwa kondisi sehat tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik,
tetapi juga kondisi mental seseorang.
Sedangkan sehat dalam Perspektif Islam Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad
s.a.w.) melalui ayat-ayat al-Quran dan sunnah Rasulullah s.a.w. memberi perhatian
yang serius terhadap kesehatan manusia. Nabi Muhammad s.a.w. bahkan menganggap
keselamatan dan kesehatan sebagai nikmat Allah yang terbesar yang harus diterima
dengan rasa syukur. Firman Allah dalam QS Ibrhm, 14: 7,
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari
(nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.
Bentuk syukur terhadap nikmat Allah melalui kesehatan ini adalah senantiasa menjaga
kesehatan sesuai dengan sunnatullah.
Dua nikmat yang sering tidak diperhatikan oleh kebanyakan manusia yaitu kesehatan
dan waktu luang. (Hadis Riwayat al-Bukhari dari Ibnu Abbas)
Seorang muslim wajib menjaga kesehatan dalam hal makanan Diharamkan bagimu
(memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama
selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam
binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu)
yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak
panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini
orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah
kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena
kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang (QS. Al Maa'idah, 5: 3).
Sakit dapat diinterpretasikan secara berbeda berdasarkan pengetahuan secara ilmiah
dan dapat dilihat berdasarkan pengetahuan secara budaya dari masing-masing
penyandang kebudayaannya. Seperi yang dikutip dari Djekky ( 2001: 15) sebagai
berikut :
Secara ilmiah penyakit (disease) diartikan sebagi gangguan fungsi fisiologis dari
fisiologis dari suatu organisme sebagai akibat terjadi infeksi atau tekanan dari
lingkungan, jadi penyakit itu bersifat obyektif. Sebaliknya sakit (illness) adalah
penilaian individu terhadap pengalaman menderita suatu penyakit (Sarwono, 1993: 31)
Fenomena subyektif ini ditandai dengan perasaan tidak enak. Di negara maju
kebanyakan orang mengidap hypo-chondriacal, ini disebabkan karena kesadaran
kesehatan sanngat tinggi dan takut terkena penyakit sehingga jika dirasakan sedikit saja
kelainan pada tubuhnya, maka akan langsung ke dokter, padahal tidak terdapat
gangguan fisik yang nyata. Keluhan psikosomatis seperti ini lebih banyak ditemukan di
negara maju daripada kalangan masyarakat tradisional. Umumnya masyarakat
tradisional memandang seseorang sebagai sakit, jika orang itu kehilangan nafsu
makannya atau gairah kerjanya, tidak dapat lagi menjalankan tugasnya sehari-hari
secara optimal atau kehilangan kekuatannya sehingga harus tinggal ditempat tidur.
(Sudarti, 1988)
Di hadapan Allah, orang sakit bukanlah orang yang hina. Mereka justeru memiliki
kedudukan yang sangat mulia.
Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan
kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya
melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya. (Hadis Riwayat al-
Bukhari dari Abu Hurairah)
Bahkan Allah menjanjikan kepada orang yang sakit apabila ia bersabar dan berikhtiar
dalam sakitnya, Allah akan menghapus dosa-dosanya.
Tidaklah seorang muslim tertimpa derita dari penyakit kecuali Allah hapuskan
dengannya (dari sakit tersebut) kejelekan-kejelekannya (dosa-dosanya) sebagaimana
gugurnya dedaunan sebuah pohon. (Hadis Riwayat al-Bukhari dari Abdullah bin
Masud)Sakit sebagai salah satu ciptaan Allah SWT yang ditimpakan kepada manusia
juga pasti ada maksudnya. Salah satu hikmah Allah SWT kepada hamba-Nya adalah
sebagai ujian dan cobaan untuk membuktikan siapa-siapa saja yang benar-benar
beriman. Firman Allah SWT :
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang
kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka
ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-
macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:
"Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu
amat dekat. (Q.S. Al Baqarah : 214)
Dalam perjalanan hidupnya didunia, manusia menjalani tiga keadaan penting:
sehat, sakit atau mati. Kehidupan itu sendiri selalu diwarnai oleh hal-hal yang saling
bertentangan, yang saling berganti mengisi hidup ini tanpa pernah kosong sedikitpun.
Sehat dan sakit merupakan warna dan rona abadi yang selalu melekat dalam diri
manusia selama dia masih hidup. Tetapi kebanyakan manusia memperlakukan sehat
dan sakit secara tidak adil. Kebanyakan mereka menganggap sehat itu saja yang
mempunyai makna. Sebaliknya sakit hanya dianggap sebagai beban dan penderitaan,
yang tidak ada maknanya sama sekali. Orang yang beranggapan demikian jelas
melakukan kesalahan besar, sebab Allah SWT selalu menciptakan sesuatu atau
memberikan suatu ujian kepada hambanya pasti ada hikmah / pelajaran dibalik itu
semua. (Q.S. Shaad : 27).
Menurut Prof. Dr. Heino Riko dan Prof. Dr. Kasusuke serizawa, fisioterapi dibagi
atas empat cara yaitu:
1.) Melalui tenaga dalam asli seperti sinar matahari, air dingin, air hangat dan udara.
2.) Memanfaatkan tenaga alam buatan manusia antara lain arus listrik, sinar ultraviolet,
sinar infra merah dan gelombang suara.
3.) Olah raga, termasuk di dalamnya lari gembira, jalan pada pagi hari, senam.
4.) Melakukan pemijatan atau penguratan.

Firman Allah yang menerangkan bahwa Al-Quran sebagai obat dan ilmu yang
bisa bermanfaat dalam berbagai bidang, dan salah satunya sebagai ilmu penyembuhan
(terapi), diantaranya adalah:
Hai manusia, telah datang padamu ilmu dari Tuhanmu dan penyembuh penyakit-
penyakit yang ada di dalam dada yang merupakan petunjuk serta rahmat bagi orang-
orang yang beriman (Q.S Yunus: 57)
Pada hakekatnya Allah lah yang Maha Peyembuh, Maha Pengobat Maha
Penyehat. Tetapi adakalanya dalam prosesnya Dia langsung secara pribadi, adakalanya
di utusnya seorang Malaikat-Nya, atau Nabi-nabi-Nya, atau ahli waris Nabi-Nya
(Hamdani)
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesehatan adalah merupakan masalah yang sangat penting dalam kehidupan
manusia. Seperti kita tahu bahwa pembangunan kesehatan dalam masyarakat adalah
merupakan program penting bagi suatu negara. Karena kesehatan adalah merupakan
hal penting bagi manusia yang berkaitan dengan berbagai hal seperti lingkungan, sosial
budaya, perilaku, keturunan dan sebagainya. Sebagian besar negara di dunia selalu
memprogramkan berbagai program kesehatan, bahkan melalui organisasi kesehatan
dunia yang dikenal dengan nama World Health Organization (WHO), berbagai program
telah dicanangkan khusunya untuk membantu negara-negara berkembang.
Pada initinya agama islam sangat peduli dengan kesehatan umatnya. Bukan hanya
kesehatan secara umum, tetapi juga dalam halhal yang mendetail. Seperti halnya
untuk gizi, kesehatan lingkungan, epidemiologi, kebijakan kesehatan, perilaku
kesehatan dan ilmu perilaku, dan sebagainya.
Tentang kesehatan fisik dapat ditemukan melalui konsepnya tentang kebersihan
dan gizi (larangan makanan dan minuman yang tidak baik, perintah memakan makanan
dan minuman yang halal lagi bergizi). Sanitasi lingkungan merupakan unsur mendasar
dalam menjaga kesehatan. Yang dimaksud sanitasi lingkungan adalah menciptakan
lingkungan yang sehat yang bebas dari penyakit.
Islam menjelaskan berbagai cara pencegahan penyakit menular, juga mencegah
penyebarannya. Begitu juga untuk penyebaran penyakit yang tidak menular. Pembinaan
pola baku sikap dan perilaku sehat baik secara fisik, mental maupun sosial, pada
dasarnya sudah bagian dari pembinaan kepribadian Islam itu sendiri. Dan islam juga
mengatur semua kebijakan yang menyangkut tentang kesehatan umatnya. Kebijakan itu
dibuat untuk menjadi pedoman agar umat-Nya dapat menjalani hidup dengan baik.
Fisoterapis diharapkan memahami betapa pentingnya peran agama dalam
pelayanan fisioterapi, karena fisioterapis dituntut untuk bisa melayani kebutuhan klien
sesuai dengan ajaran ajaran agama.
Mengingat didalam Islam sangat memprioritaskan kesehatan baik secara jasmani,
rohani dan sosial, maka hendaknya kita sebagai umat muslim selalu menjaga pola
hidup dan berolahraga, menjaga lingkungan, senantiasa mendekatkan diri kepada Allah
dan bersosialisasi dengan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Al Quran dan Terjemahan. Departemen Agama RI. 1976. QS (Surah Ibrahim [14]:7, Surah
Al Maidah [5]:3. Surah Shaad [27]: 38. Surah Yunus [57]. Jakarta: Bumi Restu
Agusyanto, Ruddy.dkk. Pengantar Antropologi. Penerbit Universitas Terbuka, Jakarta,2006.
ISBN: 979-689-926-4
Arifin Jahar dan P.Hera A. 2006.Manajemen Rumah Sakit Modern. PT Gramedia,Jakarta
Djoht, Djekky R. Artkel : Penerapan Ilmu Antropologi Kesehatan dalam Pembangunan
Kesehatan Masyarakat Papua,: http: //www. papuaweb.org / uncen/dlib/ jr
/antropologi/ indeex html
Hartono, Andry. 2000.Terapi Gizi dan Diet Rumah Sakit.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
Hadis Riwayat al-Bukhari dari Ibnu Abbas
Heino Riko dan Katsusuke Serizawa.Pengobatan Alamiyah ( Fisioterapi)(Bina Pustaka,Tth),
hlm. 7.
DEPKES RI (1994). Standar Peralatan, Ruang dan Tenaga Rumah Sakit. Dirjen Yanmed.
Jakarta
Murifah dan Herdianto. 1992.Pendidikan Kesehatan. Jakarta: Dep.
Paradigma Sehat, Pola Hidup Sehat, dan Kaidah Sehat. Pusat Penyuluhan Kesehatan
Masyarakat. Departemen Kesehatan RI, 1998
Siregar, Leonard. Antropologi dan Konsep Kesehatan, Jurnal Antropologi Papua,
Volume I Agustus 2002. ISSN: 1693- 2099
Soejoeti, Sunanti Z, Konsep Sehat. Sakit dan Penyakit dalam Konteks Sosial Budaya,
http://www.kalbe.co.id./files/cdk/files/14_149_Sehatsakit.pdf/14_149_Sehatsakit.html
semaraputraadjoezt.blogspot.com
Rachmat, R Hapsara Habib. 2004. Pembangunan Kesehatan di Indonesia. UGM,yogyakarta.