Anda di halaman 1dari 20

LIMNOTEK

Eko Harsono (2010) 17


/ LIMNOTEK (1) : 17
(2010) 17-36
(1) : 17-36

EVALUASI KEMAMPUAN PULIH DIRI OKSIGEN TERLARUT AIR


SUNGAI CITARUM HULU

Eko Harsonoa
a
Staf Peneliti Puslit Limnologi-LIPI
Diterima 18 redaksi : Maret 2010, Disetujui redaksi : 27 Mei 2010

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan pulih diri (self purification)
oksigen terlarut (DO; Dissolved Oxygen) melalui uji kelenturan lengkung DO air Sungai
Citarum Hulu. Lengkung kelenturan DO diperagakan dengan model QUAL2K ,dan diuji
melalui simulasi pengubahan nilai parameter pada model lengkung DO. Parameter
model yang diubah nilainya tersebut adalah kemiringan dasar sungai, kebutuhan oksigen
sediment (SOD; Sediment Oxygen Demand) sungai, konsentrasi DO, NH4 dan
(NO2+NO3), serta BODfast, BODslow, di titik influent, dan laju nitrifikasi NH4, laju oksidari
BODfast dan BODslow air sungai. Hasil pengujian menunjukkan bahwa peningkatan
konsentrasi DO, penurunan konsentrasi NH4 dan (NO2+NO3) air di titik influen, serta
penurunan laju nitrifikasi dan pembersihan sedimen dasar Sungai Citarum Hulu sulit
meningkatkan kemampuan pulih-sendiri DO air sungai tersebut. Sedangkan peningkatan
kemiringan dasar sungai, penurunan konsentrasi BODfast dan BODslow, penurunan laju
oksidasi BODfast dan BODslow air sungai, serta penurunan konsentrasi BODfast dan
BODslow dengan NH4 dan (NO2+NO3) air di titik influen telah dapat meningkatkan
kemampuan pulih-sendiri DO air sungai tersebut. Hasil evaluasi juga telah menunjukkan
kemampuan pulih-sendiri DO untuk mendukung kebutuhan DO dari kehadiran BODfast,
BODslow, NH4 dan (NO2+NO3) di Sungai Citarum sangat rendah.
Kata kunci : Evaluasi, kemampuan pulih-sendiri, DO, Citarum Hulu, QUAL2K

ABSTRACT
THE EVALUATION OF SELF-PURIFICATION ABILITY IN UPPER CITARUM
RIVER. The research aims to evaluate ability of DO self-purification on Upper Citarum
river using DO-sag curve test. The test was simulated using QUAL2K model with
variation on parameters i.e. (i)DO, BODfast and BODslow ,NH4, NO2+NO3 in the influent
water, (ii) SOD, nitrification rate, BODfast and BODslow oxidation rate in the river water
and (iii) the riverbed slope. Results shows that dredging on river sediment , increasing
DO and decreasing NH4 and (NO2+NO3) concentration in the influent water were found
very difficult to increase ability of DO self-purification. Whilst increasing slope river
bed, decreasing BODfast, BODslow, NH4 and NO2+NO3 concentration in the influent water
and decreasing BODfast, BODslow concentration and oxidation rate in the river water were
able to increase DO self-purification .The results also show that Upper Citarum river
have low DO self-purification capacity for BODfast, BODslow, NH4 and (NO2+NO3) loads
Key words : Evaluation, ability self-purification, DO, Upper Citarum, QUAL2K

17
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

PENDAHULUAN kan, maka DO air Sungai Citarum Hulu


dikawatirkan akan defisit dan dapat
Kehadiran oksigen terlarut (DO; menimbulkan bau busuk, berlumpur hitam
Dissolved Oxygen) di dalam badan air serta mendorong kondisi lingkungan Sungai
sungai, merupakan indikator kesehatan Citarum Hulu menjadi kumuh.
(sanitasi) badan air sungai (Thomann, 1987), Kualitas air sungai ini telah
semakin tingggi kandungan DO semakin ditetapkan baku mutu peruntukannya, yaitu
sehat sungai tersebut. Oksigen terlarut di golongan C yang kandungan oksigen
dalam air sungai adalah produk dari proses terlarutnya (DO) disyaratkan 3,0 mg/l
neraca asupan oksigen dan pemakaian (S.K. Gubernur Jawa Barat No.38 Tahun
oksigen terlarut di dalam air sungai (Chapra, 1991). Upaya-upaya pengendalian beban
1997). Asupan oksigen, berasal dari masuk- BOD5 telah dilakukan oleh Pemda setempat
an aliran air dan reaerasi di dalam sungai. untuk memenuhi baku mutu tersebut, yaitu
Sedangkan penggunaan oksigen adalah melalui Prokasih dari tahun 1991 hingga
untuk oksidasi material terdegradasi dari sekarang. Disamping itu melalui Proyek
karbon organik (BOD) dan nitrogen an- Bandung Urban Development Program
organik (NH4 dan NO2) yang berasal dari (BUDP) juga telah dibangun saluran tertutup
masukan aliran air anak-anak sungai yang untuk mengalirkan air limbah penduduk
mengandung air limbah atau dari pipa dan Kota Bandung ke IPAL Bojongsoang.
saluran keluaran air limbah (Thomann, Berdasarkan laporan hasil program Prokasih
1987). tersebut, 88% industri yang ada dalam DAS
Sungai Citarum Hulu (selanjutnya Sungai Citarum Hulu telah mengoperasikan
dikemukakan Citarum Hulu) telah penerima instalasi pengolah air limbah (IPAL) dengan
beban BOD5 160.000 ~ 200.000 ton/hari efisiensi penurunan BOD5 antara 50 s/d 60%
dari penduduk (Salim, 2000) dan beban ( BPLHD, 2001 ). Sedangkan hasil BUDP,
BOD5 sebesar 81.363 ~ 109.114 ton/hari sebagian besar air limbah penduduk Kota
dari industri (Bukit, 2002). Menurut Metcalf Bandung telah tersalur dan terkumpul serta
(1991), air limbah penduduk juga diolah oleh IPAL Bojongsoang dengan
mengandung amonia-N antara 10 s/d 30 efisiensi penurunan BOD5 dan NH4 antara
mg/l. Di Daerah Aliran Sungai (DAS) 45 s/d 50%. Namun demikian kondisi DO
Citarum Hulu bermukim 5.373.513 jiwa air Sungai Citarum Hulu sampai saat ini,
penduduk (Kantor Statistik Kota Bandung masih kurang dari baku mutu yang berlaku
dan Kantor Statistik Kab. Bandung, 2005), bahkan di beberapa ruas konsentrasi DO-nya
dan apabila buangan air limbah aktivitas 0 mg/l (Wangsaatmadja, 2007).
penduduk tersebut 80% dari kebutuhan air Belum berhasilnya perbaikan
per kapita (diambil 150 l/kapita/hari), maka konsentrasi DO tersebut, karena hingga
hasil perhitungan amonia-N yang diterima sampai saat ini belum diketahui kemampuan
badan air Citarum Hulu melalui titik-titik pulih-diri DO dalam mencukupi kebutuhan
masukan tersebut berkisar 5,3 s/d 15,7 oksigen untuk oksidasi materil pencemar
ton/hari. Sementara itu menurut Eko dari luar badan air sungai. Menurut Tomann
Harsono ( 2010 ), pada musim kemarau telah (1987), kemampuan pulih-sendiri DO air
teridentifikasi 36 titik dan pada musim sungai dipengaruhi oleh adanya
penghujan 51 titik masukan aliran (influen) pengenceran DO air sungai dari anak-anak
ke dalam Sungai Citarum Hulu. Melalui sungainya, kemampuan reaerasi sungai,
titik-titik masukan ini, beban BOD5 dan kebutuhan DO untuk oksidasi karbon
amonia yang berasal dari DAS tersebut organik dan nitrogen an-organik di air
masuk ke dalam badan air Sungai Citarum sungai, laju peluruhan karbon organik dan
Hulu. Jika masukan beban tersebut dibiar-

18
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

nitrogen an-organik dan kebutuhan oksigen boundary), batas bawah (lower boundary),
sedimen sungai. Lokasi sumber pencemar yang masuk ke
Dalam penelitian ini, telah dibuat dalam sungai yang jaraknya diukur dari titik
model lengkung kelenturan DO (DO-Sag pengukuran penampang melintang paling
Curve) badan air Sungai Citarum Hulu. Pada hilir sungai (Km.0), beban pencemar dari
model tersebut telah dilakukan uji sumber yang masuk ke dalam sungai, dan
kelenturannya, yaitu dengan mengubah-ubah data DO air sungai observasi untuk kalibrasi
nilai parameter peubah kelenturannya. dan validasi model.
Sehingga dengan pendekatan ini telah Reach sungai merupakan sepenggal
diketahui kemampuan pulih-diri DO dan ruas sungai dengan karakteristik hidrolik
alternatif yang layak secara teknis untuk (kemiringan, lebar dasar sungai, dan
dekembangkan lebih lanjut dalam perbaikan penampang melintang) yang seragam
DO air Sungai Citarum Hulu. (Chapra,2006). Untuk mendekati
persyaratan tersebut, pembagian reach
BAHAN DAN METODE dilakukan dengan menggunakan data
sekunder pengukuran dimensi penampang
Penelitian ini melingkupi sungai melintang dan profil kemiringan dasar
Citarum Hulu sepanjang 46,20 km, yaitu sungai dari dokumen perencanaan rinci
mulai dari titik tengah penampang melintang (Detail Engineering Design) perbaikan
Curugjompong (Km. 0) sampai dengan titik Sungai Citarum Hulu yang telah
tengah penampang melintang Majalaya diimplementasikan tahun 2001 s/d 2006
(Km. 46,2) (Gambar 1). (Republic of Indonesia Ministry of Public

Daerah
penelitian

Gambar 1. Sungai Citarum Hulu


Lengkung kelenturan DO air Sungai Works Directorate Genaral Of Water
Citarum Hulu dalam penelitian ini mengikuti Resource Development, 1992). Sedangkan
kerangka pikir (frame-work) sistem kualitas hidrolik penampang melintang tiap reach
air model QUAL2K (Chapra,2006). Untuk yang telah diperoleh tersebut,
memperagakan lengkung kelenturan DO air dikarakterisasi dengan menerapkan
sungai dari sistem tersebut diperlukan data persamaan power Leopold-Maddox
masukan reach sungai, batas atas (upper (Chapra,1997). Variasi debit dan kecepatan

19
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

aliran dalam persamaan power Leopold- September 2007) dan kondisi aliran rata-rata
Maddox, dilakukan dengan mengubah-ubah (pertengahan musim penghujan, bulan April
kedalaman muka air pada penampang 2008). Debit aliran dihitung dengan metode
melintang sungainya. Debit aliran airnya Velocity-area, dimana kecepatan alirannya
dihitung dengan menggunakan metode diukur dengan Current-Meter, dan luas
Velocity-area, sedangkan kecepatan penampang melintangnya diperoleh dari
alirannya dihitung dengan formula Manning pengukuran kedalaman dan lebar saluran
(Wanielista,1997). dari pengaliran sumber pencemar tersebut.
Lokasi sumber pencemar yang Pengambilan contoh air dilakukan dengan
masuk (titik influen) ke dalam sungai metode Grab-Sampling. Sedangkan
Citarum Hulu, dalam penelitian ini pengukuran DO air dilakukan di lapangan
berdasarkan pada hasil identifikasi dari dengan Water Quality Checker Merk Horiba
penelitian sebelumnya (Harsono, 2009) U-10. Contoh air yang telah diambil
(Gambar 2). tersebut, kemudian disaring dengan kertas

Gambar 2. Lokasi Titik Masukan Aliran Air (influen) dan Titik Sampling di
Sungai Citarum Hulu (Sumber: Harsono, 2009)
Masukan beban pencemar ke dalam millipore 0,45 dan dibawa segera (< 24 jam)
sungai yang sesuai dengan QUAL2K terdiri ke laboratorium untuk dilakukan analisis
dari debit aliran, karbon organik sebagai parameter-parameter. Untuk analisis BOD5,
BODfast, dan BODslow, nitrogen an-organik amonia-N, Nitrit-N dan Nitrat-N digunakan
sebagai amonia-N dan nitrat+nitrit, dan metode standard. (APHA, 1995), sedang
konsentrasi DO air di setiap titik influen analisis TOC dilakukan dengan TOC meter
(Chapra, 2006). Untuk mendapatkan beban merck Shimadzu type TOC 5000A.
pencemar tersebut telah dilakukan BODfast yang ekivalen dengan BOD
pengukuran debit dan DO serta pengambilan terlarut akhir (BOD ultumate) adalah
contoh air di titik-titik influen pada kondisi besarnya karbon organik yang langsung
aliran rendah (akhir musim kemarau, bulan teroksidasi selama mengikuti perjalanan arus

20
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

di sungai, dimana besarnya dihitung deferensial metode Runge-Kutta ordo ke 4,


menggunakan rumus sebagai berikut: dan perhitungan reaerasi sungai
BOD5 menggunakan formula Thackston-Dawson
BODfast (Chapra,2006). (Chapra, 2006). Sedangkan untuk
1 e k 5
1

Sedangkan BODslow yang mendapatkan parameter model lengkung


didefinisikan sebagai karbon organik yang kelenturan DO, hasil hitungan yang telah
terhidrolisis terlebih dahulu dalam diperoleh tersebut dikalibrasi dan diuji
perjalanan mengikuti arus sungainya kesahihannya dengan data observasi.
sebelum proses oksidasi karbon organik Kalibrsi menggunakan data masukan dan
tersebut dilakukan, besarnya dihitung observasi dari pengambilan contoh air di
dengan dengan rumus sebagai berikut : akhir musim kemarau (aliran rendah).
BODslow=rocDOC - BODfast Untuk uji kesahihan menggunakan data
(Chapra,2006). masukan dan observasi dari pengambilan
Dimana BOD5 adalah BOD5 dari contoh air pertengahan musim penghujan
contoh air tersaring (mg/l), e adalah (aliran rerata). Kalibrasi dan uji kesahihan
bilangan napier dan k1 adalah laju oksidasi tersebut mengunakan cara Trial and Error.
dalam botol sample dari karbon organik Dimana parameter model telah terkalibrasi
pada kondisi aerobic (1/hari), DOC adalah dan sahih apabila hasil hitungan mempunyai
karbon organik terlarut yang dalam rerata kesalahan terhadap observasi () yang
penelitian ini dipadankan dengan hasil dihitung dengan sebagai berikut :
analisis TOC terlarut (mg/l), dan roc adalah = 0,05
ratio konsumsi oksigen per karbon organik
yang teroksidasi (gO2/gC). Laju oksidasi Dimana, N = jumlah contoh.
karbon (k1) persamaan tersebut dalam Untuk keperluan kalibrasi, uji
penelitian ini mendasarkan diri pada hasil kesahihan dan analisis lebih lanjut,
penelitian terdahulu (Harsono,2010) (Tabel bersamaan dengan pengambilan contoh air
1 ; 2 dan Gambar 2). di titik-titik influent telah dilakukan
pengukuran debit dan DO serta pengambilan
Tabel 1. Laju Oksidasi (k1) di Ttitik Influen contoh air Sungai Citarum Hulu di lokasi
seperti dalam gambar 2. Dimana cara
pengambilan contoh air, pengukuran debit
dan DO, penanganan contoh air, analisis
laboratorium dan perhitungan-
perhitungannya dilakukan dengan
menggunakan metode yang sama seperti
pengambilan contoh air di di titik-titik
influen.
Tabel 2. Laju Oksidasi (k1) Titik Sampling Sedangkan untuk uji kelenturan,
di Sungai digunakan model lengkung kelenturan DO
hasil perhitungan dari data masukan
pengambilan contoh air di akhir musim
kemarau (aliran rendah). Parameter-
parameter yang digunakan untuk pengujian
adalah sebagai berikut,.
- UC1 : pengenceran dengan peningkatan
Dalam running untuk mendapatkan konsentrasi DO air di titik-titik influen,
lengkung kelenturan DO hitung dipilih parameter model lainnya tetap,
penyelesaian integrasi persamaann

21
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

- UC2 : peningkatan reaerasi sungai bersamaan, parameter model lainnya


dengan peningkatan kemiringan dasar tetap.
sungai, parameter model lainnya tetap,
- UC2 : penurunan konsentrasi NH4 dan HASIL DAN PEMBAHASAN
(NO2+NO3) air di titik-titik influen,
parameter model lainnya tetap, Dasar Sungai Citarum Hulu
- UC3 :adalah penurunan laju nitrifikasi mempunyai elevasi bervariasi dari 645 s/d
NH4 air sungai, parameter model 664 m msl (mean sea level). Berdasarkan
lainnya tetap, hasil interpolasi dari elevasi tersebut
- UC4 : penurunan kebutuhan oksigen kemiringan dasar sungai dapat dibagi
sedimen dengan mengurangan tutupan menjadi tiga ruas: i) Ruas hilir, km 0 5
sedimen dasar, parameter model lainnya dengan kemiringan 0,000667; ii) Ruas
tetap, tengah, km 5 - 30 dengan kemiringan
- UC4 : penurunan konsentrasi BODfast 0,000125; iii) Ruas hulu, km 30 46 dengan
dan BODslow air di titik-titik influen, kemiringan 0,000342 (Gambar 3).
parameter model lainnya tetap, Dengan kemiringan dasar sungai dan
- UC5 : penurunan laju oksidasi BODfast lokasi titik-titik influen yang demikian itu,
dan BODslow air sungai, parameter model maka Sungai Citarum Hulu dapat dibagi
lainnya tetap, menjadai 116 reach. Dimana karakterisasi
- UC6 : penurunan konsentrasi BODfast, Leopold-Maddox dari penampang melintang
BODslow, NH4 dan (NO2+NO3) secara setiap reach tersebut dapat dilihat dalam
gambar 4.

Reach

Gambar 3. Reach Sungai Citarum Hulu

22
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

1.00 1.00
0.90 0.90
Koefisien
0.80 Eksponen 0.80

0.70 0.70

0.60 0.60
0.50
0.50
0.40 0.40
0.30
0.30
0.20
0.20 Koefisien
0.10 Eksponen
0.10
0.00
0.00
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Jarak dari Curugjompong (Km) Jarak dari Curugjompong (Km)

Gambar 4. Karakteristik Leopold-Maddox Penampang Melintang Tiap Reach di Sungai


Citarum Hulu

Karakter penampang melintang dapat diketahui total laju aliran DO dari


Sungai Citarum Hulu, yaitu karakter titik-titik influen sebesar 44,137 mg/det, dan
kecepatan terhadap debit aliran di ruas hulu konsentrasi DO air Sungai Citarum yang
dan hilir mempunyai kecenderungan yang awalnya antara 5 hingga 8 mg/l kemudian ke
relatif sama. Namun pada ruas tengah hilir semakin kecil hingga di stasiun 398
terutama pada Km. 16 s/d 23, pada debit tinggal 0 mg/l atau laju aliran DO-nya
yang sama kecepatan aliran sungainya lebih tinggal 0 mg/det.
tinggi dibandingkan dengan ruas-ruas Hasil perhitungan BODfast dan
lainnya. Demikian juga dengan kedalaman BODslow dari pengambilan contoh air di
muka air, pada debit yang sama di ruas Km titik-titik influen dan air Sungai Citarum
16 s/d 23 lebih dangkal bila dibandingkan Hulu pada akhir musim kemarau, yang mana
dengan ruas-ruas lainnya (Gambar 4). konsentrasi BODfast bervariasi dari 2,0 s/d
Hasil pengukuran debit dan DO 638,74 mg/l dan reratanya 152,046 mg/l (
serta pengambilan contoh air di akhir 160,960 mg/l) serta BODslow bervariasi dari
musim kemarau (aliran rendah) disajikan 2,70 s/d 1170,06 mg/l dan reratanya 422,687
dalam gambar 5. mg/l ( 334,598 mg/l) (Gambar 5c; 5d) .
Debit aliran dari titik-titik influen, Rasio antara rerata BODfast dengan BODslow
kecuali influen S. Ciwidey (4,842 m3/det) tersebut diperoleh 0,35, dan total laju aliran
dan influen S. Citarik (1,314 m3/det) pada dari titik-titik influen yang masuk ke dalam
umumnya kurang dari 1 m3/det dan Sungai Citarum Hulu sebesar 1231,39
reratanya 0,473 m3/det (0,864 m3/det). mg/det untuk BODfast dan 4178,032 mg/det
Sedangkan total debit aliran titik-titik untuk BODslow (Gambar 5c; 5d), sehingga
influen yang masuk ke dalam Sungai dapat diketahui Sungai Citarum Hulu yang
Citarum sebesar 15,3 m3/det, dan debit aliran semula kandungan BODfast airnya 2,00 mg/l
sungai di stasiun 398 sebesar 15,1 m3/det dan BODslow 2,7 mg/l makin ke hilir menjadi
(Gambar 5a). Berdasarkan pengamatan antara 81 s/d 100 mg/l dan kandungan
hanya 13 titik influen yang mempunyai BODslow menjadi antara 81 s/d 100 mg/l,
konsentrasi DO air lebih dari 1 mg/l sedang hingga di stasiun 398 laju aliran BODfast -
sisanya di bawah 1 mg/l, dimana rerata DO nya sebesar 860,7 mg/det dan BODslow
air dari titik-titik influen tersebut adalah 1,82 3080,4 mg/det.
mg/l (2,135 mg/l) (Gambar 5b), yang mana

23
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

(a) Debit aliran (m3/det) (b) DO air (mg/l)

(c)BODfast (mg/l) (d)BODslow (mg/l)

(e) NH4 (mg/l) (f) (NO2+NO3) (mg/l)

Gambar 5. Hasil Pengukuran Debit dan DO Serta Pengambilan Contoh Air Di Akhir
Musim Kemarau

Sementara itu diketahui bahwa, 117,8 mg/det dan (NO2+NO3) sebesar 7,02
konsentrasi NH4 dan (NO2+NO3) mg/det (Gambar 5e; 5f), yang
mempunyai rentang yang cukup lebar yaitu mengakibatkan air Sungai Citarum Hulu
dari 0,000 hingga 31,020 mg/l dan rentang ruas hulu konsentrasinya NH4 antara 0 s/d 2
(NO2+NO3) antara 0,000 hingga 1,211 mg/l, mg/l dan (NO2 + NO3) antara 0,358 s/d 0,44
dimana rerata konsentrasi NH4 dari titik-titik mg/l, air Sungai Citarum Hulu ruas tengah
influen tersebut sebesar 9.724 mg/l ( 9.499 konsentrasinya NH4 meningkat menjadi
mg/l) dan (NO2 + NO3) sebesar 0.604 mg/l antara 16 s/12 mg/l dan (NO2+NO3)
( 0.633 mg/l) (Gambar 5e; 5f). Total laju menurun hingga 0,194 s/d 0,276mg/l, dan
aliran NH4 dari titik-titik influen yang masuk air Sungai Citarum Hulu ruas hilir
ke dalam Sungai Citarum Hulu sebesar konsentrasinya NH4 kembali turun hingga

24
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

10 s/d 12 mg/l dan (NO2+NO3) juga turun air. Debit aliran air di titik-titik influen
menjadi 0,112 s/d 0,194 mg/l, hingga pada bervariasi dari 0,004 m3/det hingga 6,96
akhirnya di stasiun 398 laju aliran NH4 m3/det dengan rerata sebesar 0,760 m3/dt
menjadi sebesar 117,93 mg/det dan (1,26 m3/det) (Gambar 6a), dan total debit
(NO2+NO3) sebesar 6,3 mg/det. aliran dari titik-titik influen tersebut yang
Berdasarkan hasil pengukuran debit masuk ke dalam Sungai Citarum Hulu
dan DO serta pengambilan contoh air pada sebesar 38,01 m3/det, dan debit aliran Sungai
pertengahan musim penghujan (aliran rata- Citarum Hulu di stasiun 398 sebesar 37,3
rata) (Gambar 6), titik-titik influen yang m3/det. Konsentrasi DO di titik-titik
pada akhir musim kemarau (Gambar 5) tidak bervariasi dari 0 mg/l hingga 7,7 mg/l
ada alirannya pada musim pertengahan dengan sebesar 2,45 mg/l (1,93 mg/l)
musim penghujan ini semua titik influen (Gambar 6b), dari titik-titik tersebut telah
yang teridentifikasi telah mempunyai aliran memasok DO sebesar 121,54 mg/det, dan

(a) Debit Aliran (m3/det) (b) DO air (mg/l)

(c) BODfast (mg/l) (d) BODslow (mg/l)

(e) NH4 (f) NO2 +NO3

Gambar 6. Hasil Pengukuran Debit dan DO Serta Pengambilan Contoh Air di Akhir Musim
Kemarau

25
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

laju aliran DO Sungai Citarum Hulu di dibandingkan dengan hasil akhir musim
stasiun 398 sebesar 3,37 mg/det. Titik-titik kemarau, debitnya naik 64,28%, DO airnya
influen airnya mempunyai konsentrasi naik 175,4%, BODfast airnya turun 17,45%,
BODfast bervariasi mulai dari 2,0 mg/l BODslow airnya turun 3,8%, NH4 airnya naik
hingga 311,43 mg/l, dan BODslow bervariasi 33,42%, dan laju aliran (NO2+NO3) airnya
dari 27 hingga 1242,10 mg/l (Gambar 6c; naik 807,02% Sedangkan pada stasiun 398
6d), dengan rerata konsentrasi air dari titik- di Sungai Citarum Hulu, di pertengahan
titik tersebut sebesar 46,79 mg/l ( 60,66 musim penghujan laju aliran debit airnya
mg/l) untuk BODfast dan 169,21 mg/l ( naik 147,2%, DO airnya naik dari 0 mg/det
225,97 mg/l) untuk BODslow. Berdasarkan menjadi 3,37 mg/det, BODfast airnya naik
data tersebut diketahui, total laju aliran yang 4%, BODslow airnya naik 16,25%, NH4
masuk ke dalam Sungai Citarum Hulu airnya naik 398 42,6%, dan laju aliran
sebesar 1016,51 mg/det untuk BODfats dan (NO2+NO3) naik 330,0% dibandingkan
4020,30 mg/det untuk BODslow, serta laju dengan hasil di akhir musim kemarau.
aliran Sungai Citarum Hulu di stasiun 398 Dengan data masukan debit aliran,
BODfast -nya sebesar 895,2 mg/det dan DO, BODfast, BODslow, NH4, (NO2+NO3)
BODslow nya sebesar 3580,8 mg/det. dari titik-titik influen yang diambil pada
Sedangkan rerata dari variasi konsentrasi akhir musim kemarau dan pertengahan
NH4 maupun (NO2+NO3) titik-titik influen musim hujan tersebut, serta melalui trial
yaitu, sebesar 4,561 mg/l ( 4,834 mg/l) and error telah diperoleh parameter model
untuk NH4 dan 0,534 mg/l ( 0,576 mg/l) lengkung DO Sungai Citarum Hulu yang
untuk (NO2+NO3) (Gambr 6e; 6f), dan telah terkalibrasi dan telah teruji
diperoleh total laju aliran titik-titik influen kesahihannya dengan DO observasi (Tabel
yang masuk ke dalam SungaiCitarum Hulu 3), dengan lengkung DO air sungai tersebut
sebesar 157,144 mg/det untuk NH4, dan dapat dilihat dalam gambar 7.
sebesar 63,076 mg/det untuk (NO2+NO3), Hasil perhitungan kalibrasilengkung
diimana laju aliran sungai Citarum Hulu di kelenturan DO dengan observasi mempunyai
stasiun 398 adalah sebesar 168,194 mg/det kecenderungan yang sama, dan hasil
untuk NH4 dan sebesar 27,076 mg/det untuk observasi masih berada dalam rentang
(NO2+NO3). maksimum dan minimum hasil perhitungan
Data total laju aliran dari titik-titik (Gambar 7a), yang mana berdasarkan
influen di pertengahan musim penghujan perhitungan kesalahan hasil perhitungan

Tabel 3. Parameter Model

26
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

lengkung DO tersebut terhadap observasi, kemiringan dasar sungai (UC2) ternyata


rerata kesalahnya sebesar 0.019 (< 0,05). telah berdampak pada kenaikan DO air
Untuk uji kesahihan, hasil observasi masih sungai di sekitar ruas kilometer 15 s/d 23
berada dalam rentang lengkung kelenturan hingga lebih tinggi dari model acuhannya,
DO maksimum dan minimum hasil sedang pada ruas-ruas sungai lainnya
perhitungan, dimana berdasarkan rerata meskipun sedikit namun lebih tinggi dari
kesalahannya terhadap observasi sebesar model acuhannya. Rerata perbedaan antara
0,0012 yang masih kurang dari 0,05 lengkung DO hasil perlakuan ini terhadap
(Gambar 7b). Ini berarti parameter model model acuhannya adalah sebesar 0,0623
lengkung DO yang diperoleh telah mg/l. Rerata tersebut lebih dari 0,05 mg/l, ini
terkalibrasi serta sahih. Dengan demikian berarti kelenturan lengkung DO acuhan peka
model lengkung DO tersebut, dapat terhadap peningktan kemiringan dasar
digunakan untuk uji kelenturan (Gambar 8). sungai.

(a) (b)

Gambar 7. Hasil Perhitungan dan Observasi Lengkung DO Sungai Citarum Hulu


(a : Hasil kalibrasi, b : Hasil uji kesahihan)

Hasil perlakuan UC1 terhadap Perlakuan dengan penurunan kn air


lengkung DO acuhan, terlihat bahwa dampak sungai hingga 0/hari maupun penurunan
dari peningkatan konsentrasi DO air di titik- konsentrasi NH4 dan (NO2+NO3) titik-titik
titik influen hingga 7 mg/l tersebut, hanya influen hingga 0 mg/l, hasil lengkung DO-
terjadi secara berarti pada kenaikan nya masih serupa dengan model acuhannya
konsentrasi DO air sungai di ruas muara- (Gambar 8b). Rerata kesalahan lengkung
muara influen anak-anak sungai yang besar DO dari dua perlakukan tersebut dengan
seperti sungai Citarik, Cikeruh, Cisangkuy model acuhan sama besarnya, yaitu
dan sungai Ciwidey (Gambar 8a). 4,416E-6. Demikian pula dengan perlakukan
Sedangkan lengkung DO pada ruas-ruas penurunan luasan tutupan sedimen sungai
sungai lainnya tidak mengalami perubahan hingga 0% dan SOD sungai hingga 0
secara berarti. Dimana rerata kesalahan O2/m2/hari, dimana hasil lengkung DO-nya
lengkung DO hasil perlakukan peningkatan masih serupa dengan model acuhannya.
konsentrasi DO tersebut hingga 7 mg/l Rerata kesalahan lengkung DO hasil
terhadap model acuhannya adalah sebesar perlakuan penurunan tutupan sedimen dan
0,0492. Kesalahan tersebut kurang dari 0,05, SOD tersebut terhadap model acuhannya,
ini dapat diartikan kelenturan lengkung DO adalah sebesar 0,0034 atau masih kurang
acuhan tersebut tidak peka terhadap dari 0,005. Melihat rerata kesalahan
peningkatan konsentrasi DO air di titik-titik lengkung DO hasil perlakuan-perlakuan
influen hingga 7 mg/l. Peningkatan tersebut yang kurang dari 0,005 ini dapat

27
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

diartikan bahwa, lengkung DO acuhan berbedadengan model acuhannya (Gambar


kelenturannya tidak peka terhadap 8c; 9d). Perbedaan terhadap model
penurunan konsentrasi NH4 dan (NO2+NO3), acuhannya tersebut akan semakin nyata bila
penurunan kn sungai, dan penurunan tutupan dilakukan simulasi lengkung DO dengan
sedimen serta SOD sungai pengurangan konsentrasi BODfast, BODslow,
Semakin besar pengurangan kdc dan NH4 dan (NO2+NO3) secara bersamaan di
kdcs serta BODfast dan BODslow maka hasil semua titik influen (Gambar 8e).
simulasi lengkung DO-nya semakin

8 8
M odel
7 M odel 7 Konsentrasi NH4 dan (NO2 + NO3) 0 m g/l
Slope dasar sungai 0,000667 SOD 0/hari dan tutupan sedim en 0 %
6 Peningkatan DO influen 7 m g/l 6
kn dari NH4 dan (NO2 + NO3 ) 0/hari
5 5

DO (Mg/l)
DO (Mg/l)

4 4
3 3
2 2
1 1
0 0
0 10 20 30 40 0 10 20 30 40
Jarak dari Curugjompong (Km)
Jarak d ari Curug jo m p o ng (K m )
(a) (b)

(a) (b)

(c) (d)

(e)
Gambar 8. Hasil Uji Kelenturan Lengkung DO sungai Citarum Hulu
(a) Hasil uji kelenturan dengan menaikan konsentrasi DO air influen hingga 7 mg/l dan peningkatan kemiringan dasar
sungai hingga 0,000667, (b) Hasil uji kelenturan dengan menurunkan konsentrasi NH4 dan (NO2 + NO3) titik-titik influen
serta SOD dan k n sungai, (c) Hasil uji kelenturan dengan menurunkan kdc dan kdcs badan air sungai, (d) Hasil uji kelenturan
dengan penurunan konsentrasi BODfast dan BODslow air di titik influen, (e) Hasil lengkung DO dengan penurunan
konsentrasi BODfast, BODslow, NH4 dan (NO2+NO3) secara bersamaan di semua titik influen.

28
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

Gambar 9. Hasil Perhitungan Perbedaan Hasil Simulasi Terhadap model Acuhan

Nilai rerata perbedaan lengkung DO kesalahannya meningkat dengan cepat.


perhitungan dengan observasi dari Dalam pembagian reach (gambar 3),
pengurangan konsentrasi BODfast dan pada ruas hulu jumlah reach sedikit dengan
BODslow serta pengurangan konsentrasi panjang 3,032 s/d 5,362 km karena
BODfast, BODslow, NH4 dan (NO2+NO3) penampang melintang pada ruas ini relatif
titik-titik influen terhadap model acuhannya, seragam dan jumlah titik influennya sedikit.
mulai pengurangan 10% sampai dengan Lain halnya dengan ruas tengah dan hilir
30% masih serupa dengan model acuhannya yang mempunyai panampang melintang
(Gambar 9). Namun rerata tersebut setelah relatif tidak seragam dan ferkuensi masukan
mencapai pengurangan 40% mulai berbeda titik influen semakin tingggi. Disamping itu
dengan model acuhannya, dimana besarnya untuk mengetahui pengaruh dari setiap
rerata tersebut 0,0691 untuk pengurangan influen, maka setiap reach diusahakan dapat
BODfast dan BODslow serta sebesar 0,0692 mewakili influen tersebut, sehingga pada
untuk pengurangan BODfast, BODslow, NH4 ruas tengah dan hilir banyak dibuat reach
dan (NO2+NO3). Sedangkan untuk kdc dan yang pendek-pendek dengan jarak antar
kdcs, mulai pengurangan 10% hingga penampang melintangnya juga semakin
pengurangan 40% masih serupa dengan rapat. Seperti telah diuraikan sebelumnya,
model acuhannya, namun setelah pengura- karakteristik penampang melintang tiap
ngan 50% yang rerata kesalahannya sebesar reach tersebut menerapkan persamaan
0,089 mulai berbeda secara berarti dengan Leopold-Maddox (Gambar 4). Apabila
model acuhannya. Dari gambar 9 juga dapat eksponen b dengan dari persamaan
dilihat bahwa kurva rerata kesalahan Leopold-Maddox dari setiap penampang
berbentuk eksponensial, dimana sejak dari reach tersebut dijumlah, maka nilai jumlah
pengurangan 10% hingga 80% masih landai b dengan bervariasi, yaitu dari 0,6 sampai
namun setelah pengurangan 90% rerata <1, dengan rata-rata 0,8227 (Gambar 10).

Gambar 10. Penjumlahan Eksponen Karakteristik Penampang Melintang Tiap Reach di


Sungai Citarum hulu

29
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

Menurut Chapra (2006), jumlah Dari kalibrasi dan uji kesahihan


ekponen dari karakteristik penampang parameter model (Tabel 3), telah diperoleh
melintang Leopold-Maddox harus 1. kdc 0,47/hari, kdcs 0,01/hari, kn 0,06/hari, kdn
Jumlah dua eksponen tersebut apabila 0,5 0,004/hari, dan SOD 6 gO2/m2/hari.
maka bentuk penampang melintang Penelusuran dalam studi pustaka, telah
sungainya trapesium, lebih dari 0,5 tetapi diperoleh parameter model laju oksidasi
kurang dari 1 maka bentuk penampang BODfast (kdc) dan BODslow (kdcs) 0,05 ~
melintangnya segi empat, dan apabila 0,5/hari, laju nitrifikasi amonia-N (kn) 0,05 ~
jumlah dua eksponen tersebut lebih dari satu 0,5/hari dan laju dinitrifasi nitrat-N (kdn)
maka lebar penampang melintang sungai 0,001 ~ 1/har (Chapra, 1997). Disamping itu
akan berkurang dengan kenaikan aliran juga telah diperoleh acuhan kebutuhan
sungainya. Apabila kriteria ini diterapkan oksigen sedimen (SOD), yaitu untuk sungai
pada hasil penjumlahan b dengan (Gambar alami hingga tingkat pencemaran rendah 0,1
10), maka rerata bentuk penampang ~ 1,0 gr.O2/m2/hari dan untuk sungai agak
melintang Sungai Citarum Hulu adalah segi tercemar hingga tercemar berat 5 ~ 10
empat yang lebar basah penampang gr.O2/m2/hari (Schnoor,1996). Apabila hasil
melintang sungainya tidak akan berkurang kalibrasi parameter-parameter tersebut
dengan kenaikan alirannya. dibandingkan dengan hasil penelusuran
Rerata bentuk penampang melintang pustaka, maka hasil kalibrasi kdc, kdcs, kn, kdn
Sungai Citarum Hulu yang demikian itu, dan SOD masih dalam rentang tersebut.
apabila ada penambahan debit aliran, maka Dengan demikian hasil kalibrasi parameter-
kedalamannya akan bertambah namun lebar parameter model tersebut, selain sahih juga
basah penampang melintangnya cenderung sesuai dengan hasil peneliti-peneliti
tidak bertambah dan permukaan air dari pendahulu. Disamping itu berdasarkan
reach juga tidak bertambah. Sehingga kriteria SOD tersebut, maka sungai Citarum
peningkatan kemampuan reaerasi di sungai termasuk pada sungai yang agak tercemar
tersebut hanya karena adanya peningkatan hingga tercemar berat.
turbulensi yang disebabkan oleh peningkatan Sungai dapat dianggap sebagai
kecepatan aliran airnya. Namun apabila reaktor alami (Chapra, 1997). Apabila
ditinjau dari setiap reach yang telah dibuat di Sungai Citarum Hulu mengikuti anggapan
Sungai Citarum Hulu, ruas sungai Km. 16 tersebut, maka masukannya dari titik-titik
s/d 23 mempunyai kemampuan pengaliran influen dan keluarannya (effluent) adalah
air yang lebih tinggi, dan kemampuan dari stasiun 398 di sungai. Dengan demikian
kenaikan kedalamannya lebih rendah dalam pembahasan ini akan berdasarkan
dibandingkan dengan reach-reach di ruas pada perbandingan antara hasil akumulasi
sungai hulu maupun di hilir. Disamping itu laju masukan aliran dari titik-titik influen
pada kilometer tersebut nilai penjumlahan b dengan laju aliran dari stasiun 398.
dengan mendekati 0,5, maka pada ruas ini Dari hasil pengukuran pada saat
pada debit yang sama dengan ruas-ruas yang pengambilan contoh air, selisih antara
lain akan mempunyai luas permukaan air akumulasi laju aliran DO dari titik-titik
yang lebih luas, sehingga reaerasinya lebih influen dengan laju aliran DO sungai di
tinggi dibanding ruas-ruas sungai lainnya. stasiun 398 sebesar 44,137 mg/det pada
Hal tersebut juga dapat dilihat dari hasil DO akhir musim kemarau dan 119,14 mg/det
observasi (Gambar 7), meskipun pada ruas pada pertengahan musim penghujan.
sungai Km. 16 s/d 23 tedapat banyak Padahal selisih antara akumulasi laju aliran
masukan dari influen namun DO air masih air dari titik-titik influen dengan laju aliran
lebih tingggi dibandingkan ruas di hilir dan air sungai di stasiun 398 cenderung sama,
hulunya. yaitu 0,2 m3/det untuk akhir musim kemarau

30
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

dan 0,72 m3/det untuk pertengahan musim dan lebar bila dibandingkan dengan
penghujan. Dengan demikian apabila penampang melintang di ruas lainnya.
pasokan DO Sungai Citarum Hulu hanya Dengan kondisi yang demikian itu, maka
dari titik-titik influen, berarti pasokan DO Sungai Citarum Hulu mempunyai
dari 2 pengambilan contoh air tersebut kemampuan rearasi yang tinggi. Semetara
defisit selama perjalanan mengikuti aliran ini Sungai Citarum Hulu telah di tingkatkan
sungai pada ruas sebelum stasiun 398. Hal daya alirnya, yaitu dengan memperbaiki
ini juga terlihat dari hasil simulasi dengan melintang dan pelurusan sungainya. Namun
penampang hanya meningkatkan konsentrasi demikian di beberapa ruas masih terjadi
DO air di titik-titik influen hingga 7 mg/l, banjir, sehingga muncul rencana
dimana hasil hitungan lengkung DO air peningkatan kecepatan alirnya dengan
sungainya masih tidak berbeda dengan meningkatkan kemiringan dasar sungai yang
model acuhan, atau tidak dapat ada. Apabila kemiringan dasar sungai
meningkatkan profil lengkung DO secara tersebut ditingkatkan, maka kemampuan
berarti. Hal ini membuktikan, pada kondisi reaerasi sungai juga akan meningkat. Hal ini
beban saat ini apabila hanya mengandalkan terlihat dari perhitungan reaerasi
pasokan DO dari titik-titik influen maka menggunakan formula Thackston-Dawson
Sungai Citarum Hulu pada kondisi aliran terhadap Sungai Citarum Hulu dengan
minimum hingga reratanya tidak mampu meningkatan rerata kemiringan dasar yang
meningkatkan konsentrasi DO airnya. paling curam dari keadaan sekarang, yaitu
Sumber DO sungai selain dari 0,000667 (Gambar 11).
pasokan aliran DO dari titik-titik influen, Kenaikan reaerasi telah terjadi mulai
juga dapat dari reaerasi sungai itu sendiri. dari kilometer 5 ke arah hulu, dan kenaikan
Berdasarkan formula Thackston-Dawson berarti pada ruas kilometer 15 s/d 23, yaitu
(Chapra,2006), besarnya reaerasi tergantung naik 12/hari. Kemampuan reaerasi dengan
pada radius hidrolik, kemiringan dasar peningkatan kemiringan Sungai Citarum
sungai, kedalaman sungai dan lebar basah Hulu tersebut, juga dapat menahan tekanan
dari penampang melintang sungainya. Hasil dari kebutuhan DO yang terjadi di badan air
interpolasi kemiringan dasar sungai telah sungai. Sehingga lengkung DO hasil
menunjukkan ruas hulu dan hilir mempunyai simulasi dengan peningkatan kemiringan
kemiringan lebih curam dibandingkan di dasar sungai tersebut juga telah terangkat
ruas tengah. Sebaliknya karakter penampang dan berbeda dengan model acuhannya.
melintang sungai ruas tengah lebih dangkal

25 Model ka (2007)
ka pada slope 0,000667
20
ka(20) ,(1/hari)

15
10
5
0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Jarak Dari Curugjompong (Km)

Gambar 11. Laju Reaerasi Sungai Pada Peningkatan Slope dan Model

31
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

Berdasarkan pada pembahahasan dua demikian itu, meskipun konsentrasi NH4 dan
sumber DO air Sungai Citarum Hulu, yaitu (NO2 + NO3) di titik-titik influen diturunkan
pasokan konsentrasi DO dari titik-titik hingga 0 mg/l, maka dapat dikatakan DO air
influen dan rearasi sungai. Maka dapat sungai Citarum juga tidak dapat meningkat.
dikatakan, bahwa sumber DO pendukung Hal ini juga terbukti dalam simulasi dengan
kemampuan pulih sendiri DO Sungai pengurangan NH4 dan (NO2 + NO3) air di
Citarum Hulu lebih didominasi karena titik-titik influen hingga konsentrasi 0 mg/l ,
reaerasi sungai dibandingkan dengan dimana hasil lengkung DO air sungainya
peningkatan konsentrasi DO (pengenceran) tidak berbeda dengan model acuhan yang
dari titik-titik influennya. telah ditetapkan. Demikian juga dengan
Seperti telah diuraikan sebelumnya pengurangan kn yang merupakan karakter
bahwa, Sungai Citarum Hulu telah dianggap proses dari nitrifikasi.
suatu reaktor yang airnya mengandung DO, Pada kasus dimana konsentrasi DO
yang mana masukan dari titik-titik influen ke air sungai kurang dari 0,5 mg/l yang
dalam reaktor tersebut, airnya mengandung menyebabkan proses nitrifikasi berhenti,
karbon organik (BODfast dan BODslow) dan maka akan terjadi proses dinitrifikasi dari
nitrogen anorganik (NH4, NO2, dan NO3). NO3 ke NO2 menjadi NH4 yang akhirnya ke
Dengan demikian kandungan DO air dalam nitrogen (N2) (Grady,1980). Disamping itu
reaktor tersebut terlebih dulu digunakan pada kondisi miskin DO di air tersebut, akan
untuk oksidasi karbn organik, sedang terjadi pelepasan NH4 dari sedimen (Chapra,
sisanya baru digunakan untuk proses 1997). Kondisi yang demikian itu,
nitrifikasi NH4 (Chapra,1997). Diketahui diperkirakan juga terjadi di badan air sungai
bahwa kebutuhan DO tersebut pada suhu air Citarum Hulu, dimana selisih NH4 di sungai
20oC untuk proses nitrifikasi (Ron) sebesar yang negatif tersebut berarti tidak ada
4,57 gr.O2/ gr.N , dan tipekal untuk oksidasi pengurangan yang terjadi, tetapi justru ada
aerobik karbon organik (Roc) berkisar 2,69 penambahan aliran massa NH4 di air sungai
gr.O2/gr.C . Dalam proses nitrifikasi, Citarum Hulu. Penambahan tersebut
pemeran utamanya adalah bakteri aerobik diperkirakan dari pelepasan sedimen dan
murni yang sangat peka terhadap proses dinitrifikasi.
ketersediaan oksigen yang ada Pembahasan di atas memberi
(Grady,1980). Apabila DO air yang tersedia petunjuk bahwa, pada kondisi aliran dimana
0,5 mg/l maka proses nitrifikasi akan beban BODfast , BODslow , NH4 dan (NO2 +
berlangsung, sebaliknya apabila DO air < NO3) hadir bersamaan di dalam air sungai
0,5 mg/l maka proses tersebut berhenti seperti pada saat pengambilan contoh di
(Chapra, 1997). Sementara itu hasil akhir musim kemarau. Maka kehadiran
pengukuran air Sungai Citarum Hulu dari beban nitrogen anorganik dari titik-titik
dua pengambilan contoh air, pada umumnya influen bukan faktor utama yang
konsentrasi DO airnya kurang 0,5 mg/l. mengendalikan kemampuan memulihkan
Dalam kondisi kekurangan DO yang DO dari sungai Citarum Hulu.
demikian itu, maka proses nitrifikasi di air Hal tersebut juga terjadi pada hasil
Sungai Citarum Hulu juga tidak berjalan. simulasi dengan pengurangan parameter
Hal ini terlihat pada pengambilan contoh air kebutuhan oksigen dari sedimen (SOD).
di akhir musim kemarau selisih NH4 sebesar Oksidasi sedimen dasar sungai yang
-0,13% dan selisih (NO2+NO3) sebesar 10% membutuhkan oksigen apabila sedimen
, sedang pengambilan contoh air di tersebut dalam suasana aerobik (DO 0,5
pertengahan musim penhujan selisih NH4 mg/l). Kenyataannya DO air sungai Citarum
sebesar -7,3% dan selisih (NO2+NO3) Hulu kurang dari 0,5 mg/l. Sehingga DO
sebesar 57,5%. Dalam kondisi yang yang tersisa untuk proses oksidasi di dalam

32
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

sedimen justru mengarah ke an-aerobik yang simulasi lengkung DO dengan model


tidak perlu oksigen. Dengan demikian pada acuhannya berbentuk eksponensial (gambar
simulasi pembersihan sedimen hingga 10). Dimana dengan hanya menaikan beban
tutupan 0% dan kebutuhan oksigen sedimen 10% (dari 100% ke 90%), rerata kesalahan
hingga 0 gr.O2/m2/hari tidak dapat lengkung DO terhadap model acuhannya
meningkatkan lengkung DO dari model turun 15. Sebaliknya pengurangan dari
acuhannya. 10% hingga 90% rerata kesalahannya
Memperhatikan selisih antara naiknya sangat sedikit. Hal ini menunjukkan
akumulasi laju aliran BODfast dan BODslow bahwa, kemampuan pulih sendiri DO air
air di titik-titik influen dengan sungai di sungai Citarum Hulu sangat rentan sekali
stasiun 398. Pada akhir musim kemarau, terhadap kehadiran beban karbon organik
selisih BODfast 30,10% dan BODslow (BODfast dan BODslow).
26,27%, sedangkan pada pertengahan misim Pada simulasi dengan pengurangan
penghujan selisih BODfast 11,93% dan BODfast dan BODslow titik-titik influen
BODslow 10,93%. Dengan mendasarkan diri hingga 40%, sisa DO air sungai telah mulai
pada selisih tersebut dan dihubungkan meningkat. Apabila simulasi pengurangan
dengan kehilangan DO air sungai seperti tersebut dtingkatkan lagi hingga sisa DO
yang telah diuraikan sebelumnya. Maka telah cukup, maka proses nitrifikasi di badan
selisih tersebut merupakan besarnya BODfast air sungai tersebut juga dapat mulai berjalan.
dan BODslow yang telah teroksidasi dengan Sehingga kemampuan reaerasi sungai yang
menggunakan DO sebesar kehilangannya terjadi lebih dapat meningkatkan konsentrasi
selama mengikuti aliran sungai hingga DO air sungai secara berarti. Kondisi yang
stasiun 398. Hal ini dibuktikan dari hasil demikian itu terlihat dari simulasi dengan
simulasi lengkung DO dengan pengurangan pengurangan konsentrasi BODfast, BODslow,
konsentrasi BODfast maupun BODslow air di NH4 dan (NO2 + NO3) air di titik-titik
titik-titik influen. Semakin besar influen secara bersamaan (gambar 8e).
pengurangan konsentrasi BODfast dan Oksidasi aerobik dari material
BODslow, maka lengkung DO air sungai karbon organik dan nitrogen anorganik yang
semakin meningkat dan semakin berbeda hadir di dalam badan air sungai, merupakan
dengan model acuhannya. Dimana dengan pengguna utama DO yang ada di dalam air
pengurangan konsentrasi BODfast dan sungai (Thomann, 1987). Sehingga dapat
BODslow air di titik-titik influen hingga 40%, dikatakan, apabila material tersebut tidak
telah meningkatkan lengkung DO air sungai hadir maka DO air sungai mendekati
yang jelas bedanya dengan model acuhan. kondisi alaminya. Demikian pula dengan
Pembuktian tersebut juga dikuatkan dengan sungai Citarum Hulu, kondisi alami tersebut
simulasi pengurangan parameter proses telah diperagakan dengan Lengkung DO air
oksidasi BODfast (kdc) dan BODslow (kdcs) sungai dari pengurangan konsentrasi
yang terjadi di badan air sungai. Dimana BODfast, BODslow, NH4 dan (NO2 + NO3)
semakin kecil kdc dan kdcs maka kinerja titik-titik influen sebesar 100 % (gambar 8e).
penggunaan DO juga semakin kecil, Hasil peragaan ini menunjukkan, dengan
sehingga lengkung DO hasil simulasi juga hanya menaikan beban 10% (dari
semakin meningkat dan semakin berbeda pengurangan 100% ke 90%), maka rerata
dengan model acuhannya. kesalahan lengkung DO terhadap model
Dari pembahasan di atas telah acuhannya turun 20 (lihat gambar 9).
diketahui, bahwa pemakai utama DO air Kemudian pada pengurangan lebih rendah
sungai Citarum Hulu adalah kehadiran dari 90% kesalahannya makin linear, dimana
karbon organik (BODfast dan BODslow). DO air sungai yang tersisa semakin menjadi
Dimana kurva rerata kesalahan hasil kendala dalam proses oksidasi aerobik, dan

33
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

aerasi sungai tidak dapat mengimbangi mutu di air Sungai Citarum hulu, dari hasil
kebutuhan DO. Maka pada peragaan ini simulasi diperlukan penurunan konsentrasi
telah menunjukkan bahwa, Sungai Citarum BODfast, BODslow, NH4 dan (NO2 + NO3)
Hulu sangat lemah kemampuan pulih-sendiri sebesar lebih dari 90% . Pada kondisi yang
DO airnya. demikian itu, maka diperlukan IPAL
Berdasarkan pembahasan di atas dan canggih yang operasinya sangat rumit dan
memperhatikan upaya Prokasih yang telah memerlukan biaya tinggi (Metcalf, 1991).
berhasil mendorong lebih dari 80% industri Padahal faktor utama yang menjadi kendala
yang ada di DAS Citarum Hulu untuk belum berhasilnya Prokasih dalam
memasang IPAL dengan efisiensi penyisihan pengendalian pencemaran tersebut adalah
BOD mencapai 50 s/d 60%, dan program biaya dan kemampuan sumber daya manusia
BUDP telah berhasil menyalurkan 75% air dalam operasional IPAL (Tim PROKASIH,
limbah penduduk kota Bandung ke dalam 2007). Maka upaya Prokasih dalam
IPAL Bojongsoang yang efisiensi perbaikan DO air Sungai Citarum Hulu
penyisihan BOD dan NH4 telah mencapai 45 tersebut, dapat diperkiran kemungkinan
s/d 50%. Sementara itu titik-titik influen berhasilnya sangat kecil.
dalam penelitian ini merupakan keluaran
(out let) dari sub DAS anak Sungai Citarum KESIMPULAN
Hulu yang melingkupi kawasan industri dan
pemukiman, keluaran air limbah dari Model sistem kualitas air QUAL2K
industri secara indvidual maupun kolektif, dapat untuk meperagakan proses kejadian
dan keluaran air limbah kawasan DO akibat beban buangan karbon organik
pemukiman. Dengan demikian contoh air dan nitrogen anorganik di badan air Sungai
yang telah diambil dari titik-titik influen Citarum Hulu. Dimana hasil simulasi dari
tersebut, merupakan keluaran dari hasil model tersebut dapat diketahui:
pengurangan beban yang telah diupayakan - kemampuan pulih-diri DO air Sungai
oleh Prokasih dan BUDP. Sedangkan Citarum Hulu pada kondisi aliran rendah
berdasarkan hasil simulasi pada debit aliran hingga aliran reratanya serta kondisi
di akhir musim kemarau (debit aliran beban karbon organik dan nitrogen
rendah), untuk mencapai kondisi DO air anorganik seperti saat penelitian
sungai sesuai dengan baku mutu yang dilakukan, sulit ditingkatkan. Demikian
berlaku ( 3 mg/l) diperlukan penurunan juga dengan hasil simulasi peningkatan
konsentrasi BODfast, BODslow, NH4 dan konsentrasi DO air dan penurunan
(NO2 + NO3) sebesar lebih dari 90% . konsentrasi nitrogen anorganik influen,
Memperhatikan besarnya beban penurunan laju nitrifikasi nitrogen
karbon organik dan nitrogen anorganik dari anorganik pada air Sungai Citarum Hulu
air limbah industri dan penduduk yang serta pembersihan sedimen dasar masih
beraktivitas di DAS Citarum Hulu tidak dapat meningkatkan kemampuan
(Salim,2002 dan Bukit, 2002) dan hasil dari pilih-diri sungai tersebut.
pengambilan contoh air yang telah dilakukan - Sedangkan melalui peningkatan
dalam penelitian ini dengan kondisi kemiringan dasar sungai, penurunan
lengkung DO alami air Sungai Citarum Hulu konsentrasi karbon organik di titik-titik
hasil simulasi. Maka dapat dikatakan beban influen, penurunan laju oksidasi karbon
tersebut terlalu berat (over-load) bila organik di sungai, dan penurunan
dibandingkan dengan kemampuan pulih- konsentrasi karbon organik dan nitrogen
sendiri DO alami Sungai Citarum Hulu. anorganik secara bersamaan di titik-titik
Sementara itu, untuk memcapai DO baku influen dapat menaikan kemampuan

34
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

pulih-sendiri DO air Sungai Citarum Engineering Dept., Tufts University,


Hulu pada kondisi aliran rendah hingga Medford, MA.
aliran reratanya. Chapra, S.C., 1997, Surface Water Quality
modeling, New York, McGraw-Hill.
REKOMENDASI Harsono, E., 2009, Identifikasi Titik-Titik
Masukan Aliran Material Konsumer
Mengingat daya pulih-sendiri DO Oksigen Terlarut (DO) Air Sungai
Sungai Citarum Hulu sangat lemah, Citarum Hulu, Limnotek No.1, Vol.
sehingga diperlukan kemampuan penyisihan XVI, 33 45.
konsentrasi BODfast, BODslow, NH4 dan Harsono, E., 2010, Pencirian Karbon
(NO2 + NO3) lebih dari 90%. Untuk itu Organik Air Sungai Citarum Hulu
diperlukan pembatasan berkembangnya Dari Masukan Air Limbah Penduduk
industri penghasil air limbah yang dan Industri, Journal Biologi
mengandung karbon organik dan nitrogen Indonesia No.2, Vol. 6, 277- 288.
anorganik di dalam DAS Citarum Hulu, Grady, C.P.L., & Lim, H.C., 1980,
penggantian bahan dan proses produksi Biological Wastewater Treatment,
industri sehingga dapat memperkecil air Theory and Applications, Marcel
limbah yang mengandung karbon organik Dekker inc., New York.
dan nitrogen anorganik, dan penjatahan Kantor Statistik Kota Bandung, 2007, Hasil
beban masukan karbon organik tiap titik Sensus Penduduk 2005, Perwakilan
influen yang dikombinasikan dengan BPS Kantor Statistik Kota Bandung.
peningkatan aliran rendah (low flow Kantor Statistik Kabupaten Bandung, 2007,
augmentation) dan peningkatan reaerasi Hasil Sensus Penduduk 2005,
sungai. Perwakilan BPS Kantor Statistik
Kabupaten Bandung.
DAFTAR PUSTAKA Metcalf & Eddy, Inc., 1991, Wastewater
Engineering, McGraw-Hill, Inc.,
APHA.,1995, Standard Method for the New York.
Examination of Water and Republic Of Indonesia Ministry of Public
Wastewater, America Water Works Works Directorate General of Water
Association and Water Pollution Resources Development, 1992,
Control Federation, Washington DC. Upper Citarum Basin Urgent Flood
Bukit, N.T., & I.A.Yusuf, 2002, Beban Control Project, Documents
Pencemaran Limbah Industri dan Tendering Construction Package
Status Kualitas Sungai Citarum, J. A~F.
Teknologi Lingkungan, 3(2), 98 Salim, H., 2002, Beban Pencemaran Limbah
106. Domestik dan Pertanian Di DAS
Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Citarum, J. Teknologi Lingkungan,
Daerah (BPLHD) Pemerintah 3(2), 107-111.
Propinsi Jawa Barat, 2001, Pola Schnoor, J.L., 1996, Environmental
Pengendalian Pencemaran Air Di Modeling, Fate and Transport of
DAS Citarum Hulu s/d Tengah, Pollution in Water, Air and Soil,
Chapra. S.C., 2006, Qual2K : A Modeling John Wiley & Sins, Inc, New York.
Framework for Simulating River and Thomann, R.T., 1987, Principles of Surface
Stream Water Quality (Version 2.04) Water Quality Modeling and
: Documentation and User Manual, Control, Harper & Row, Publishers,
Civil and Environmental New York.

35
Eko Harsono / LIMNOTEK (2010) 17 (1) : 17-36

Wangsaatmadja, S., 2007, Evaluasi Wanielista, M., Kersten, R., & Ealin, R.,
Kebijakan Pengendalian Pencemaran 1997, Hydrology : Water Quantity
Sungai Citarum Hulu Melalui and Quality Control, John Wiley &
Pendekatan Daerah Aliran Sungai Sons, New York.
Terpadu, J. Infrastruktur dan
Lingkungan Binaan, 3(2), 68 79.

36