Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada zaman sekarang ini perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
berkembang pesat, begitu juga dengan dunia kefarmasian. Hal ini dapat dilihat dari bentuk
sediaannya yang beragam yang telah di buat oleh tenaga farmasis. Diantara sediaan obat
tersebut menurut bentuknya yaitu solid (padat), semisolid (setengah padat) dan liquid (cair).
Tujuan dari desain sediaan obat adalah untuk memperoleh hasil terapeutik yang dapat
diperkirakan dari suatu obat termasuk formulasi yang dapat diproduksi dalam skala besar
dengan kualitas produk yang dapat dipertahankan dan dihasilkan terus-menerus. Bentuk
sediaan obat antara lain sediaan cair, sediaan setengah padat dan sediaan padat. Sediaan cair
sendiri ada dalam bentuk sirup, suspensi, elixir dan lain sebagainya, sediaan setengah padat
terdiri dari krim, salep, gel dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk sediaan padat, dikenal
dalam bentuk serbuk, granul, pil, tablet dan lain sebagainya.
Salah satu bentuk sediaan cair yang sering diproduksi adalah suspensi. Sediaan
suspensi dibuat jika bahan obat padat tidak dapat larut dalam pembawanya sehingga untuk
mendispersikannya dalam pembawa diperlukan suspending agent. Sediaan suspensi memiliki
beberapa keuntungan antara lain absorpsinya lebih cepat dibandingkan dengan sediaan padat
sehingga memberikan efek terapi lebih cepat.
Sediaan yang ditujukan untuk mengobati penyakit mata telah ditemukan sejak dahulu.
Istilah collyria diberikan oleh bangsa Yunani dan Romawi terhadap bahan-bahan yang
dapat larut dalam air, susu atau putih telur yang dapat digunakan sebagai tetes mata. Pada
abad pertengahan, tetes mata digunakan untuk memperbesar (dilatasi) pupil. Sebelm Perang
Dunia II, sediaan obat mata sangat sedikit tersedia di pasaran. Pada tahun 1950 hanya tiga
sediaan obat mata yang masuk dalam US Pharmacopoeia (USP) XIV.
Sediaan obat mata biasanya dibuat pada farmasi komunitas atau farmasi rumah sakit
dengan stabilitas yang terbatas hanya untuk beberapa hari saja. Produk-produk obat mata
steril tersedia sebelum pertengahan tahun 1950-an, namun pentingnya sterilitas untuk obat
tetes mata masih belum dikenal secara resmi sampai tahun 1955 ketika panduan resmi
pertama kali memasukkan persyaratan sterilitas. Saat ini, jenis-jenis bentuk sediaan formulasi
obat mata adalah mulai dari larutan yang sederhana sampai dengan sistem penghantaran
kompleks.

1
Ada berbagai macam zat aktif yang dapat dibuat ke dalam bentuk sediaan suspensi.
Namun tidak semua zat aktif dapat stabil pada air atau mudah terurai jika disimpan dalam
waktu yang lebih lama dan salah satunya adalah antibiotika Klomramfenikol. Tetes mata
kloramfenikol adalah larutan steril Kloramfenikol, mengandung Kloramfenikol tidak kurang
dari 90% dan tidak lebih dari 130% dari jumlah yang tertera pada etiket. Dalam percobaan ini
bahan obat yang digunakan sebagai zat aktif pada sediaan obat tetes mata steril adalah
Kloramfenikol yang mempunyai daya sebagai antimikroba yang kuat melawan infeksi mata
dan merupakan antibiotika spectrum luas bersifat bakteriostatik. Berdasarkan penjelasan di
atas kelompok kami ingin membuat formulasi sediaan obat tetes mata steril dalam bentuk
suspensi.

1.2 Manfaat
Hasil diskusi ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi ilmiah tentang sediaan
larutan steril.

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu ;
Untuk mengetahui apa yang dimaksud larutan steril, bentuk sediaan steril, dan cara
penggunannya.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Larutan mata steril adalah steril berair atau berminyak solusi dari alkaloid , alkaloidal
garam , antibiotik , sulfonamides , steroid , enzim , antihistamines , pewarna , metabolisme
antagonis , atau zat lain. Solusi tersebut dimaksudkan untuk instalasi ke dalam cul-de-sac,
yaitu ruang antara bola mata dan kelopak mata.
Larutan mata dapat digunakan baik sebagai tetes (tetes mata) atau sebagai mencuci
(lotion mata). Efek yang diinginkan dari obat ini termasuk anestesi, anti infeksi, anti
inflamasi, miotic, mydriatic, cycloplegic, astringent, atau tindakan antiseptik. Hal ini juga
dapat berfungsi sebagai pelumas atau sebagai pengganti air mata.
Nyeri-Riegelman dan Vaughan, telah menunjukkan bahwa ada penyebab potensial
nyeri yang berkaitan langsung dengan sifat-sifat obat itu sendiri. Ini termasuk reaksi
permukaan-aktif dan protein-denaturasi banyak anestesi lokal, garam logam berat, dan
quarternaries pada konsentrasi tinggi. Senyawa-senyawa yang digunakan dalam oftalmologi
yang permukaan-aktif, seperti hidroklorida anestesi lokal, menyerap pada membran kornea.
Peningkatan obat lokal ini berkonsentrasi di wajah antar jaringan cair dapat menyebabkan
jenis yang sama kerusakan yang dapat diperkirakan dari larutan hipertonik. Rasa sakit yang
disebabkan oleh senyawa permukaan-aktif berlangsung lebih lama, pada kenyataannya, sejak
elusi bahan terserap sulit untuk dicapai. Dalam konsentrasi tinggi agent permukaan-aktif
dapat menyebabkan kerusakan kornea superfisial akibat denaturasi protein. Tanggapan ini
mungkin kumulatif, berangsur-angsur bertambah meningkatkan kerusakan dan nyeri
bersamaan.
Kemungkinan rasa sakit yang disebabkan oleh kendaraan dibahas dalam bagian
berikutnya. Frekuensi penggunaan-Banyak kondisi patologis mata mengharuskan kedua
pemberian lokal dan sistemik obat. Pemeriksaan umum mata biasanya membutuhkan
berangsur-angsur dari berbagai persiapan obat yang mungkin diagnostik atau terapeutik
secara alami. Ini berarti diberikan wadah multi-dosis obat yang dapat digunakan dengan
pasien mungkin selama satu hari, dan jika terkontaminasi mungkin memiliki efek luas.
Obat mata (ophthalmica ) terdiri dari tetes mata, salep mata (oculenta), pencuci mata (collyria)
dan beberapa bentuk pemakaian khusus. Pemakaian yang khusus dapat berupa penyemprot mata sebagai
bentuk depo, yang digunakan pada mata utuh atau terluka.

3
Sediaan tetes mata adalah cairan atau suspensi steril yang mengandung satu atau lebih zat aktif, tanpa
atau dengan penambahan zat tambahan yang sesuai. Sediaan ini digunakan pada mata dengan cara
meneteskan obat tersebut pada selaput lendir di sekitar kelopak dan bola mata.
Sediaan tetes mata merupakan larutan steril, yang dalam pembuatannya memerlukan pertimbangan
yang tepat terhadap pemilihan formulasi sediaan, seperti penggunaan bahan aktif, pengawet, isotonisitas,
dapar, viskositas, dan pengemasan yang cocok.
Sediaan tetes mata biasanya mengandung satu atau lebih bahan aktif, dan merupakan elemen
terpenting yang memberikan efek terapeutik dari sediaan tetes mata itu. Kloramfenikol merupakan zat aktif
berupa serbuk hablur halus berbentuk jarum, putih sampai putih kelabu atau putih kekuningan, tidak berbau,
rasa sangat pahit. Stabilitas yang paling baik berada pada kisaran pH 2 7 dan stabilitas maksimumnya di
capai pada pH 6.
Antibiotik ini bersifat unik diantara senyawa alam karena adanya gugus nitrobenzen dan merupakan
turunan asam dikloroasetat. Bentuk yang aktif secara biologis yaitu bentuk levonya. Zat ini larut sedikit dalam
air (1:400) dan relatif stabil. Kloramfenikol diinaktivasi oleh enzim yang ada dalam bakteri filtrat tertentu.
Disini terjadi reduksi gugus nitro dan hidrolisis ikatan amida, juga terjadi asetilasi.
Kloramfenikol merupakan suatu antibiotik spektrum luas yang berasal dari beberapa jenis
Streptomyces misalnya S. venezuelae, S.phaeochromogenes var. chloromyceticus , dan S.omiyamensis.
Setelah para ahli berhasil mengelusidasi strukturnya, maka sejak tahun 1950, kloramfenikol sudah dapat
disintesis secara total. S. venezuelae pertama kali diisolasi oleh Burkholder pada tahun 1947 dari contoh
tanah yang diambil dari Venezuela. Filtrat kultur cair organisme menunjukkan aktivitas terhadap beberapa
bakteri Gram negatif dan riketsia. Bentuk kristal antibiotik ini diisolasi oleh Bartz pada tahun 1948 dan
dinamakan kloromisetin karena adanya ion klorida dan didapat dari aktinomisetes.
Kloramfenikol mempunyai rumus kimia yang cukup sederhana yaitu 1-(p-nitrofenil)-2-
dikloroasetamido-1,3-propandiol.
Gambar

Struktur kloramfenikol

4
Antibiotik ini bersifat unik diantara senyawa alam karena adanya gugus nitrobenzen dan antibiotik ini
merupakan turunan asam dikloroasetat. Bentuk yang aktif secara biologis yaitu bentuk levonya. Zat ini larut
sedikit dalam air (1:400) dan relatif stabil. Kloramfenikol diinaktivasi oleh enzim yang ada dalam bakteri
tertentu. Disini terjadi reduksi gugus nitro dan hidrolisis ikatan amida; juga terjadi asetilasi.
Berbagai turunan kloramfenikol berhasil disintesis akan tetapi tidak ada senyawa yang khasiatnya
melampaui khasiat kloramfenikol. Kloramfenikol adalah salah satu antibiotik yang secara kimiawi diketahui
paling stabil dalam segala pemakaian. Kloramfenikol memiliki stabilitas yang sangat baik pada suhu kamar
dan kisaran pH 2 sampai 7, stabilitas maksimumnya dicapai pada pH 6. Pada suhu 25C dan pH 6, memiliki
waktu paruh hampir 3 tahun. Yang menjadi penyebab utama terjadinya degradasi kloramfenikol dalam media
air adalah pemecahan hidrolitik pada lingkaran amida. Laju reaksinya berlangsung di bawah orde pertama dan
tidak tergantung pada kekuatan ionik media.
Berlangsungnya hidrolisis kloramfenikol terkatalisis asam umum/basa umum, tetapi pada kisaran pH
2 sampai 7, laju reaksinya tidak tergantung pH. Spesies pengkatalisasi adalah asam umum atau basa umum
yang terdapat pada larutan dapar yang digunakan; khususnya pada ion monohidrogen fosfat, asam asetat tidak
terdisosiasi, serta ion asam monohidrogen dan dihidrogen sitrat dapat mengkatalisis proses degradasi. Di
bawah pH 2, hidrolisis terkatalisis ion hidrogen spesifik memegang peranan besar pada terjadinya degradasi
kloramfenikol. Obat ini sangat tidak stabil dalam suasana basa, dan reaksinya terlihat terkatalisis baik asam
maupun basa spesifik.

2.1 Pengertian Larutan obat mata


Menurut FI IV halaman 12, Larutan obat mata adalah larutan steril, bebas partikel
asing, merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga sesuai digunakan
pada mata. Pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas
bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet (dan jika
perlu pemilihan pengawet) sterilisasi dan kemasan yang tepat. Perhatian yang sama juga
dilakukan untuk sediaan hidung dan telinga.
Menurut FI III halaman 10, Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan
ataususpensi yang digunaka dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar
kelopak mata dari bola mata.
Menurut DOM Martin : Tetes mata adalah seringkali dimasukkan ke dalam mata yang
terluka atau kecelakaan atau pembedahan dan mereka kemudian secara potensial lebih
berbahaya daripada injeksi intavena.
Menurut Scovilles : Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan berminyak
dari alkaloid garam-garam alkaloid, antibotik atau bahan-bahan lain yang ditujukan untuk

5
dimasukkan ke dalam mata. Ketika cairan, larutan harus isotonik, larutan mata digunakan
untuk antibakterial, anstetik, midriatikum, miotik atau maksud diagnosa. Larutan ini disebut
juga tetes mata dan collyria (singular collyrium).
Menurut Parrot : Larutan mata (colluria) Obat yang dimasukkan ke dalam mata harus
diformulasi dan disiapkan dengan pertimbangan yang diberikan untuk tonisitas, pH,
stabilitas, viskositas dan sterilisasi. Sterilisasi ini diinginkan karena kornea dan jaringan
bening ruang anterior adalah media yang bagus untuk mikroorganisme dan masuknya larutan
mata yang terkontaminasi ke dalam mata yang trauma karena kecelakaan atau pembedahan
dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.
Menurut Teks Book of Pharmaceutics : Tetes mata adalah cairan steril atau larutan
berminyak atau suspensi yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam saccus conjungtival.
Mereka dapat mengandung bahan-bahan antimikroba seperti antibiotik, bahan antiinflamasi
seperti kortikosteroid, obat miotik seperti fisostigmin sulfat atau obat midriatik seperti atropin
sulfat.
Menurut Ansel INA : Dengan definisi resmi larutan untuk mata adalah larutan steril
yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan dalam mata. Selain steril preparat tersebut
memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap faktor-faktor farmasi seperti kebutuhan
bahan antimikroba, isotonisitas, dapar, viskositas dan pengemasan yang cocok.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa sediaan obat mata merupakan sediaan steril, yang
terdiri dari bahan bahan berkhasiat obat dan bahan tambahan dan membutuhkan perhatian
khusus dalam pembuatannya terutama dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas,
kebutuhan akan dapar, pengawet, sterilitas, serta kemasan yang tepat.

2.2 Keuntungan dan Kerugian


Keuntungan :
Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal kehomogenan, bioavailabilitas dan
kemudahan penanganan.
Suspensi mata memiliki kelebihan dimana adanya partikel zat aktif dapat
memperpanjang waktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan waktu
terdisolusinya oleh air mata sehingga terjadi peningkatan bioavailabilitas dan efek
terapinya.

6
Kerugian :
Volume larutan yang dapat ditampung oleh mata sangat terbatas, maka larutan yang
berlebih dapat masuk ke nasal cavity lalu masuk ke jalur gastrointestinal menghasilkan
absorpsi sistemik yang tidak diinginkan.
Kornea dan rongga mata sangat kurang tervaskularisasi, selain itu kapiler pada retina
dan iris relatif non permeabel sehingga umumnya sediaan untuk mata adalah efeknya
lokal atau topikal.

2.3 Syarat sediaan tetes mata


Faktor-faktor dibawah ini sangat penting dalam sediaan larutan mata :
1. Ketelitian dan kebersihan dalam penyiapan larutan : Sterilitas akhir dari collyrium
dan kehadiran bahan antimikroba yang efektif untuk menghambat pertumbuhan
dari banyak mikroorganisme selama penggunaan dari sediaan;
2. Isotonisitas dari larutan; pH yang pantas dalam pembawa untuk menghasilkan
stabilitas yang optimum
Tetes mata adalah larutan berair atau larutan berminyak yang idealnya harus memiliki sifat-sifat
sebagai berikut :
1. Steril.
2. Isotonis dengan air mata, bila mungkin isohidris dengan pH air mata. Isotonis = 0,9%
b/v NaCl, rentang yang diterima = 0,7 1,4% b/v atau 0,7 1,5% b/v.
3. Larutan jernih, bebas partikel asing dan serat halus.
4. Tidak iritan terhadap mata.

2.4 Pemilihan Bentuk Zat Aktif


Sebagian besar zat aktif yang digunakan untuk sediaan mata bersifat larut air atau
dipilih bentuk garamnya yang larut air. Sifat-sifat fisikokimia yang harus diperhatikan dalam
memilih garam untuk formula larutan tetes mata yaitu:
Kelarutan.
Stabilitas.
pH stabilitas dan kapasitas dapar.
Kompatibilitas dengan bahan lain dalam formula.
Sebagian besar zat aktif untuk sediaan tetes mata adalah basa lemah. Bentuk garam
yang biasa digunakan adalah garam hidroklorida, sulfat, dan nitrat. Sedangkan untuk zat aktif
yang berupa asam lemah, biasanya digunakan garam natrium.

7
2.5 Karakteristik Sediaan Mata

1. Kejernihan
Larutan mata adalah dengan definisi bebas adari partikel asing dan jernih secara
normal diperoleh dengan filtrasi, pentingnya peralatan filtrasi dan tercuci baik sehingga
bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk larutan dengan desain peralatan untuk
menghilangkannya. pengerjaan penampilan dalam lingkungan bersih.
Penggunaan Laminar Air Flow dan harus tidak tertumpahkan akan memberikan
kebersamaan untuk penyiapan larutan jernih bebas partikel asing. Dalam beberapa
permasalahan, kejernihan dan streilitas dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini
penting untuk menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan wadah dan
tutup. keduanya, wadah dan tutup harus bersih, steril dan tidak tertumpahkan. Wadah dan
tutup tidak membawa partikel dalam larutan selama kontak lama sepanjang penyimpanan.
Normalnya dilakukan test sterilitas.

2. Stabilitas
Stabilitas obat dalam larutan, seperti produk tergantung pada sifat kimia bahan obat,
pH produk, metode penyimpanan (khususnya penggunaan suhu), zaat tambahan larutan dan
tipe pengemasan.
Obat seperti pilokarpin dan fisostigmin aktif dan cocok pada mata pada pH 6.8 namun
demikian, pH stabilitas kimia (atau kestabilan) dapat diukur dalam beberapa hari atau bulan.
Dengan obat ini, bahan kehilangan stabilitas kimia kurang dari 1 tahun. Sebaliknya pH 5,
kedua obat stabil dalam beberapa tahun.
Tambahan untuk pH optimal, jika sensitivitas oksigen adalah satu faktor, stabilitas
adekuat diinginkan antioksidan. kemasan plastik, polietilen densitas rendah Droptainer
memberikan kenyamanan pasien, dapat meningkatkan deksimental untuk kestabilan dengan
pelepasan oksigen menghasilkan dekomposisi oksidatif bahan-bahan obat.

3. Buffer dan pH
Idealnya, sediaan mata sebaiknya pada pH yang ekuivalen dengan cairan mata yaitu
7,4. Dalam prakteknya, ini jarang dicapai. mayoritas bahan aktif dalam optalmologi adalah
garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam. ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi
kortikosteroid tidak larut suspensi biasanya paling stabil pada pH asam.

8
pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator. pH diseleksi jadi
optimum untuk kestabilan. Sistem buffer diseleksi agar mempunyai kapsitas adekuat untuk
memperoleh pH dengan range stabilitas untuk durasi umur produk. kapasitas buffer adalah
kunci utama, situasi ini.

4. Tonisitas
Tonisitas berarti tekanan osmotik yang diberikan oleh garam-garam dalam larutan
berair, larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketika magnefudosifat koligatif
larutan adalah sama. larutan mata dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan
0,9% laritan Na Cl.
Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas daripada suatu waktu yang
diusulkan. Maka biasanya dapat mentoleransi larutan sama untuk range 0,5%-1,8% NaCl.
Memberikan pilihan, isotonisitas selalu dikehendaki dan khususnya penting dalam larutan
intraokuler. Namun demikian, ini tidak dibutuhkan ketika total stabilitas produk
dipertimbangkan.

5. Viskositas
USP mengizinkan penggunaan bahan pengkhelat viskositas untuk memperpanjang
lama kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. Bahan-bahan seperti
metilselulosa, polivinil alkohol dan hidroksi metil selulosa ditambahkan secara berkala untuk
meningkatkan viskositas.
Para peneliti telah mempelajari efek peningkatan viskositas dalam waktu kontak
dalam mata. umumnya viskositas meningkat 25-50 cps range yang signifikan meningkat lama
kontak dalam mata.

6. Additives/Tambahan
Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata diperbolehkan, namun demikian
pemilihan dalam jumlah tertentu. Antioksidan, khususnya Natrium Bisulfat atau metabisulfat,
digunakan dengan konsentrasi sampai 0,3%, khususnya dalam larutan yang mengandung
garam epinefrin. Antioksidan lain seperti asam askorbat atau asetilsistein juga digunakan.
Antioksidan berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi epinefrin.
Penggunaan surfaktan dalam sediaan mata dibatasi hal yang sama. surfaktan nonionik,
kelas toksis kecil seperti bahan campuran digunakan dalam konsentrasi rendah khususnya
suspensi dan berhubungan dengan kejernihan larutan.

9
Penggunaan surfaktan, khususnya beberapa konsentrasi signifikan sebaiknya dengan
karakteristik bahan-bahah. surfaktan nonionik, khususnya dapat bereaksi dengan adsorpsi
dengan komponen pengawet antimikroba dan inaktif sistem pengawet.
Surfaktan kationik digunakan secara bertahap dalam larutan mata tetapi hampir
invariabel sebagai pengawet antimikroba. benzalkonium klorida dalam range 0,01-0,02%
dengan toksisitas faktor pembatas konsentrasi. Benzalkonium klorida sebagai pengawet
digunakan dalam jumlah besar dalam larutan dan suspensi mata komersial.

2.6 Teori Bahan Pembantu


a. Pengawet
Pengawet yang dipilih seharusnya mencegah dan membunuh pertumbuhan
mikroorganisme selama penggunaan. Pengawet yang sesuai untuk larutan obat
tetes mata hendaknya memiliki sifat sebagai berikut :
Bersifat bakteriostatikdan fungistatik. Sifat ini harus dimiliki terutama
terhadap Pseudomonasa aeruginosa.
Non iritan terhadap mata.
Kompatibel terhadap bahan aktif dan zat tambahan lain yang dipakai.
Tidak memiliki sifat alergen dan mensensitisasi.
Dapat mempertahankan aktivitasnya pada kondisi normal penggunaan
sediaan.

b. Pengisotonis
Pengisotonis yang dapat digunakan adalah NaCl, KCl, glukosa, gliserol
dan dapar. Rentang tonisitas yang masih dapat diterima oleh mata berdasarkan FI
IV yaitu 0,6 2,0%.

c. Pendapar
Secara ideal, larutan obat tetes mata mempunyai pH dan isotonisitas yang sama
dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat dilakukan karena pada pH 7,4 banyak obat
yang tidak cukup larut dalam air, sebagian besar garam alkaloid mengendap sebagai
alkaloid bebas pada pH ini. Selain itu banyak obat tidak stabil secara kimia pada pH
mendekati 7,4. Tetapi larutan tanpa dapar antara pH 3,5 10,5 masih dapat ditoleransi
walaupun terasa kurang nyaman. Rentang pH yang masih dapat ditoleransi oleh mata
menurut FI IV yaitu 3,5 8,5.

10
Syarat dapar yaitu :
Dapat menstabilkan pH selama penyimpanan.
Konsentrasinya tidak cukup tinggi sehingga secara signifikan dapat mengubah pH
air mata.

d. Peningkat Viskositas
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada pemilihan bahan peningkat
viskositas untuk sediaan tetes mata yaitu:
Sifat bahan peningkat viskositas itu sendiri.
Perubahan pH yang dapat mempengaruhi aktivitas bahan peningkat viskositas.
Penggunaan produk dengan viskositas tinggi kadang tidak ditoleransi baik oleh mata
dan menyebabkan terbentuknya deposit pada kelompok mat, sulit bercampur dengan
air mata atau menganggu difusi obat.
Viskositas untuk larutan tetes mata dipandang optimal jika berkisar antara 15 25 cps.
Pemilihan bahan pengental dalam obat tetes mata didasarkan pada, yaitu:
Ketahanan pada saat sterilisasi.
Kemungkinan dapat disaring.
Stabilitas.
Ketidakcanpuran dengan bahan-bahan lain.

e. Antioksidan
Zat aktif untuk sediaan tetes mata ada yang dapat teroksidasi oleh udara. Untuk itu
kadang dibutuhkan antioksidan. Antioksidan yang sering digunakan adalah Na
metabisulfit atau Na sulfit dengan konsentrasi sampai 0,3%.

f. Surfaktan
Pemakaian surfaktan dalam obat tetes mata harus memenuhi berbagai aspek:
Sebagai antimikroba (surfaktan golongan kationik).
Menurunkan tegangan permukaan antara obat tetes mata dan kornea sehingga
meningkatkan aktif terapeutik zat aktif.
Meningkatkan ketercampuran antara obat tetes mata dengan cairan lakrimal,
meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea dan konjungtiva sehingga
meningkatkan penembusan dan penyerapan obat.

11
Tidak boleh meningkatkan pengeluaran air mata, tidak boleh iritan dan
merusak kornea. Surfaktan golongan non ionik lebih dapat diterima
dibandingkan dengan surfaktan golongan lainnya.

2.7 Metode Sterilisasi


Metode sterilisasi terutama ditentukan oleh sifat sediaan. Jika memungkinkan,
penyaringan dengan penyaring membran steril merupakan metode yang baik jika dapat
ditunjukkan bahwa pemanasan mempengaruhi stabilitas sediaan, sterilisasi obat dalam wadah
akhir dengan autoklaf juga merupakan pilihan baik. Pendaparan obat tertentu disekitar pH
fisiologis dapat menyebabkan obat tidak stabil pada suhu tinggi. Penyaringan dengan
menggunakan penyaring bakteri adalah suatu cara yang baik untuk menghindari pemanasan,
namun perlu perhatian khusus dalam pemilihan, perakitan, dan pengunaan alat-alat. Sedapat I
mungkin gunakan penyaring steril satu kali pakai. (FI IV Hal. 13)

2.8 Evaluasi Sediaan


Evaluasi Fisik
Uji kejernihan
Penentuan bobot jenis
Penentuan pH
Penentuan bahan partikulat
Penentuan volume terpindahkan
Penentuan viskositas dan aliran
Volume sedimentasi
Kemampuan redispersi
Penentuan homogenitas
Penentuan distribusi ukuran partikel
Evaluasi Kimia
Identifikasi
Penetapan kadar
Penetapan potensi

Evaluasi Biologi
Uji sterilitas
Uji efektivitas pengawet

12
Pewadahan

SDF ; 367

Larutan mata disiapkan secara terus menerus dikemas dalam wadah tetes
(dropsrainen) polietelin atau dalam botol tetes gelas untuk mempertahankan sterilitas larutan,
wadah harus steril. Wadah polietilen disterilkan dengan etilen oksida, sementara penetes
gelas dapat dengan dibungkus dan diotoklaf secara komersial disiapkan unit dosis tunggaol
dengan volum0,3ml atau kurang dikemasdalam tube polietilen steril edan disegel dengan
pemanasan.

Scovilles ; 247

Wadah untuk larutan mata, larutan mata sebaiknya dibuat dalam unit kecil, tidak
pernah lebih besar dari 15 ml dan lebih disukai yang lebih kecil. A botol 7,5 ml adalah
ukuran yang menyenangkan untuk penggunaan larutan mata. Penggunaan wadah kecil
memperpendek waktu pengobatan akan dijaga oleh pasien dan meminimalkan jumlah
pemaparan kontaminan.

Botol plastik untuk larutan mata juga dapat digunakan. Meskipun beberapa botol
plastik untuk larutan mata telah dimunculkan dalam pasaran, mereka masih dilengkapi dan
yang terbaik adalah untuk menulis secara langsung produksi untuk menghasilkan informasi
terkini dalam perkembangan terakhir.

RPS 18th : 1590

Wadah gelas sediaan mata tradisional dengan dilengkapi penetes gelas telah
dilengkapi hampir sempurna dengan unit penetes polieblen densitas rendah yang disebut
droptrainers hanya sejumlah kecil wadah gelas yang masih digunakan, biasanya karena
pembatasan stabilitas. Larutan intraokulir vulome besar 250-5ml telah dikemas dalam
gelas, tetapi bahkan sediaan parenteral mulai dikemas dalam pabrik khusus wadah polieblen
atau polipropilen.

Satu yang seharusnya masih dipikirkan adalah wadah plastik. Basanya polietilen
densitas rendah adlah tidak boleh alat tergantikan dengan gelas. Wadah plastik adalah
permeabel terhadap beberapa bahan termasuk cahaya dan air. Wadah plastik dapat

13
mengandung variasi bahan-bahan ekraneus seperti bahan-bahan pelepas jamur, antioksidan,
reaksi quenchers dan yang mirip. Siap dapat menggunakan plastik dan dalam wadah larutan.
Lem label, tinta dan warna juga dapat berpenetrasi polietilen dengan cepat. Sebaiknya bahan-
bahan menguap dapat menyerap dari larutan kedalam atau melalui wadah plastik.

Wadah gelas memberikan bahan wadah yang menyenangkan untuk penyiapan terus
menerus larutan mata.tipe I digunakan wadah sebaiknya dicuci dengan air destilasi steril
kemudian disterilkan dengan autoklaf. Penetes normalnya disegel dan dikemas dalam blaster
pack yang menyenangkan.

Bahaya Obat Non Steril


RPS 18th : 1568
Pseudomonas aerugunosa ( B. Pyouganeus, P. pyocyamea, Blue Pus bacillus ini
merupakan mikroorganisme berbahaya dan opportunis yang tambah baik pada kultur media
yang menghasilkan toksin dan zat atau produk antibakteri cenderung untuk menambah
kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeoginosa untuk tumbuh pada klur murni.
Bacilus gram (-) juga menjadi sumber dari ineksi yang serius pada kornea. Ini dapat
menyebabkan keilangan penglihatan pada 24-48 jam pada konsentrasi yang ditoleransi oleh
jaringan mata, menunjukkan bahwa semua zat beberapa strain dari organisme ini.

Penyimpanan
Tetes mata disimpan dalam wadah tamper-evident. Kompatibilitas dari komponen
plastik atau karet harus dicek sebelum digunakan.
Wadah untuk tetes mata dosis ganda dilengkapi dengan dropper yang bersatu dengan
wadah atau dengan suatu tutup yang dibuat dan disterilisasi secara terpisah.

Penandaan
Farmakope eropa mengkhususkan persyaratan berikut pada pelabelan sediaan tetes mata.
Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi pengawet antimikroba atau senyawa
lain yang ditambahkan dalam pembuatan. Untuk wadah dosis ganda harus
mencantumkan batas waktu sediaan tersebut tidak boleh digunakan lagi terhitung mulai
wadah pertama kali dibuka.
Kecuali dinyatakan lain lama waktunya tidak boleh lebih dari 4 minggu.

14
Label harus mencantumkan nama dan konsentrasi zat aktif, kadaluarsa dan kondisi
penyimpanan.
Untuk wadah dosis tunggal, karena ukurannya kecil hanya memuat satu indikasi bahan
aktif dan kekuatan atau potensi sediaan dengan menggunakan kode yang dianjurkan,
bersama dengan persentasenya. Jika digunakan kode pada wadah, maka pada kemasan
juga harus diberi kode.
Untuk wadah sediaan dosis ganda, label harus ntuk wadah sediaan dosis ganda, label
harus menyatakan perlakuan yang harus d perlakuan yang harus dilakukan untuk
menghindarilakukan untuk menghindari kontaminasi isi selama penggunaan.
Labelling
Label harus mencantumkan :
Nama dan persentase zat aktif.
Tanggal dimana sediaan tetes mata tidak layak untuk digunakan lagi.
Kondisi penyimpanan sediaan tetes mata.

Penggunaan Tetes Mata


1. Cuci tangan
2. Dengan satu tangan, tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah
3. Jika penetesnya terpisah, tekan bola karetnya sekali ketika enates dimasukkan ke dalam
botol untuk membawa larutan ke dalam enates
4. Tempatkan penates di atas mata, teteskan obat ke dalam kelopak mata bagian bawah
sambil melihat ke atas jangan menyentuhkan enates pada mata atau jari.
5. Lepaskan kelopak mata, coba untuk menjaga mata tetap terbuka dan jangan berkedip
paling kurang 30 detik
6. jika penetesnya terpisah, tempatkan kembali pada botol dan tutup rapat

Tetes Mata Harus Steril


Sterilisasi merupakan sesuatu yang penting.Larutan mata yang dibuat dapat membawa
banyak organisme, yang paling berbahaya adalah Pseudomonas aeruginosa.Infeksi mata dari

15
organisme ini yang dapat menyebabkan kebutaan.Ini khususnya berbahaya untuk penggunaan
produk nonsteril di dalam mata ketika kornea dibuka.Bahan-bahan partikulat dapat
mengiritasi mata, ke tidak nyamanan pada pasien dan metode ini tersedia untuk
pengeluarannya
Jika suatu batasan pertimbangan dan mekanisme pertahanan mata, bahwa sediaan
mata harus steril. air mata, kecuali darah, tidak mengandung antibodi atau mekanisme untuk
memproduksinya. Oleh karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata
secara sederhana aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim ditemukan dalam air mata
(lizozim) dimana mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa polisakarida dari beberapa
organisme ini. Organisme ini tidak dipengaruhi oleh lizozim. satu yang paling mungkin yang
menyebabkan kerusakan mata adalah Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyneas).
Pseudomonas aeruginas (B. pyocyaneus; P. pyocyanea; Blue pas bacillus) ini
merupakan mikroorganisme berbahaya dan upportunis yang tumbuh baik pada kultur media
yang menghasilkan toksin dan zat/produk antibakteri, cenderung untuk membunuh
kontaminan lain dan membiarkan Pseudomonas aeruginosa untuk tumbuh pada kultur murni.
Bacillus gram negative menjadi sumber dari infeksi yang serius pada kornea. Ini dapat
menybabkan kehilangan penglihatan pada 24-48 jam. Pada konsentrasi yang ditoleransi oleh
jaringan mata, menunjukkan bahwa semua zat antimikroba didiskusikan pada bagian berikut
dapat tidak efektif melawan beberapa strain dari organisme ini.
Jika suatu batasan pertimbangan dan mekanisme pertahanan mata, bahwa sediaan
mata harus steril.Air mata, kecuali darah, tidak mengandung antibody atau mekanisme untuk
memproduksinya.Oleh karena itu, mekanisme pertahanan utama melawan infeksi mata secara
sederhana aksi pertahanan oleh air mata, dan sebuah enzim ditemukan dalam air mata
(lizozim) dimana mempunyai kemampuan untuk menghidrolisa polisakarida dari beberapa
organisme ini.Organisme ini tidak dipengaruhi oleh lizozim.Satu yang paling mungkin yang
menyebabkan kerusakan mata adalah Pseudomonas aeruginosa (Bacillus pyocyneas).

Tetes Mata Harus Isotonis


Isotonisitas dalam larutan mata. Ketika sekresi lakrimal sekarang dipertimbangkan
untuk mempunyai tekanan smotic yang sama sebagai cairan darah, dan kemudian menjadi
isotonis dengan 0,9% larutan natrium klorida, perhitungan untuk penyiapan larutan mata
isotonis telah disederhanakan. Farmasis selanjutnya selalu menuntut, sebagai bagian dari
praktek profesionalnya, untuk menyiapkan larutan mata yang isotonis (Scovilles : 234).

16
Tonisitas adalah tekanan osmotik yang diberikan oleh garam dalam larutan berair.
Larutan mata adalah isotonik dengan cairan lain ketika magnetudo sifat koligatif larutan
adalah sama. Larutan yang dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan larutan
NaCl 0,9%.
Perhitungan isotonisitas dalam suatu waktu mendapat penekanan yang lebih berat.
Calon farmasis harus diajarkan persyaratan yang lebih mendetail dan peralatan untuk
mencapai tonisitas, kadang-kadang kerusakan disebabkan oleh faktor lain seperti sterilitas
dan stabilitas.
Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas daripada suatu waktu yang
diusulkan. Mata biasanya dapat mentoleransi larutan yang ekuivalen dalam rentang 0,5-1,8%
NaCl. Memberikan pilihan, isotonisitas selalu diinginkan dan khususnya penting dalam
larutan intraokuler. Namun demikian, ini tidak dibutuhkan menjadi perkara yang berlebihan
ketika total stabilitas produk dipertimbangkan.
Tonisitas berarti tekanan osmotik yang dihasilkan oleh larutan dari keberadaan
padatan terlarut atau tidak larut. Cairan mata dan cairan tubuh lainnya memberikan tekanan
osmotik sama dengan garam normal atau 0,9% larutan NaCl. Larutan yang mempunyai
jumlah bahan terlarut lebih besar daripada cairan mata disebut hipertonik. Sebaliknya, cairan
yang mempunyai sedikit zat terlarut mempunyai tekanan osmotik lebih rendah disebut
hipotonik. Mata dapat mentoleransi larutan yang mempunyai nilai tonisitas dalam range dari
ekuivalen 0,5% sampai 1,6% NaCl tanpa ketidaknyamanan yang besar.
Tonisitas pencuci mata mempunyai hal penting lebih besar daripada tetes mata karena
volume larutan yang digunakan. Dengan pencuci mata dan dengan bantuan penutup mata,
mata dicuci dengan larutan kemudian overwhelming kemampuan cairan mata untuk mengatur
beberapa perbedaan tonisitas. Jika tonisitas pencuci mata tidak mendekati cairan mata, dapat,
menghasilkan nyeri dan iritasi.
Dalam pembuatan larutan mata, tonisitas larutan dapat diatur sama cairan lakrimal
dengan penambahan zat terlarut yang cocok seperti NaCl. Jika tekanan osmotik dari obat
diinginkan konsentrasi melampaui cairan mata, tidak ada yang dapat dilakukan jika
konsentrasi obat yang diinginkan dipertahankan, ketika larutan hipertonik. Contohnya 10 dan
30% larutan natrium sulfasetamid adalah hipertonik, konsentrasi kurang dari 10% tidak
memberikan efek klinik yang diinginkan. Untuk larutan hipotonik sejumlah metode disiapkan
untuk menghitung jumlah NaCl untuk mengatur tonisitas larutan mata, salah satu metodenya
adalah metode penurunan titik beku.

17
pH Cairan Mata
Ada persetujuan umum tentang konsentrasi ion hydrogen dari cairan lakrimal adalah
mendekati netral.Namun demikian, variasi nilai telah dilaporkan oleh beberapa peneliti.
Kemudian Hasford dan Hicks, Buchr dan Baeschlin, Feldman, Dekking, Byleveld, van Grosz
dan Hild dan Goyan dilaporkan telah menemukan pH cairan mata berhubungan dengan
darah. Yang lain telah mendapatkan nilai yang berbeda: Gyorffy dari 6,3-8,4, Lipschultz 8,0,
Oguchi dan Nakasima dari 8,4-8,6.
Federsen-Bjergaard menemukan pH cairan lakrimal dari sepuluh orang normal dan
menemukan nilai 8,2. Dia membuat ketentuan dengan cara kolorimetri dan elektrometri, dan
ditemukan hasil yang sama pada kedua metode. Hind dan Goyan dalam pekerjaan terakhir,
menemukan pH air mata adalah 7,4. Berdasarkan hal itu, pH cairan lakrimal sekurang-
kurangnya 7,4 dan mungkin lebih alkali. (Scovilles : 224).
Konsentrasi ion hidrogen dari cairan mata berkisar 7,2-7,4. Sekresi lakrimal
mempunyai nilai pH antara 7,2-7,4 dan mempunyai kapasitas membuffer yang tinggi.
Akibatnya, mata dapat mentoleransi larutan yang mempunyai nilai pH dari 3,5-10, mereka
tidak didapar dengan kuat ketika cairan mata akan dengan cepat memperbaiki nilai pH
normal dari mata.

pH Sediaan Tetes Mata


Larutan lakrimal normalnya pH 7,4 dengan rentang 5,2-8,3. Ini masih bisa ditoleransi oleh
larutan mata dengan range pH ini, disebabkan oleh (1) volume kecil larutan, (2) buffer cairan
mata, dan (3) peningkatan produksi air mata. (Parrot : 223). Dalam banyak perumpamaan,
kita dapat mencapai obat dengan seratus kali lebih stabil pada pH 5,0 dan kemudian pH 7,0.
pH dari larutan mata sebaiknya antara 4,5 dan 9

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
- Tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang digunakan dengan
cara meneteskan obat pada selaput lender mata di sekitar kelopak mata dan bola mata
- Tetes mata kloramfenikol ini layak pakai karena memenuhi syarat karena memenuhi
syarat yaitu pH 7,4 dan larutan jernih.
- Karena sifat dari zat aktif yang tidak tahan pemanasan dan juga bentuk sediaan yang
dibuat yaitu suspensi maka dalam pembuatan tetes mata kloramfenikol ini tidak
dilakukan sterilisasi akhir autoklaf tetapi sterilisasi yang dilakukan yaitu dengan
teknik aseptis. Alat - alat disterilisasikan dengan sterilisasi dengan menggunakan
autoklaf 121C selama 30 menit dan oven 150C selama 1 jam.

3.2 Saran
Sebelum memberikan larutan atau suspense oftalmik sebaiknya pengguna mencuci
tangan sampai bersih. Selama penanganan dan pemberian obat ata, harus berhati-hati agar
penetes tidak berkontak dengan mata, kelopak mata, atau permukaan lain.

19
DAFTAR PUSTAKA
.
1975, Remingtons Pharmaceutical Science, Fifteenth edition, Mack Publishing
Company: Pensylvania
Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI. Jakarta
Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Depkes RI. Jakarta
Anief, Moh. 1999. Ilmu Meracik Obat. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Syamsuni. 2006. Ilmu Resep. Kedokteran EGC. Jakarta

20