Anda di halaman 1dari 4

IV.

DATA DAN ANILISA DATA

4.1 Distribusi Tegangan Daerah Sibaganding (Dinding, atap dll)


1. Tegangan Vertikal
v = g h
v = 2,387 ton/m3 x 10 m/s2 x 12 m
v = 286440 Pa
v = 286,44 KPa

2. Tegangan Pada Dinding


pada dinding = (2,3 K) v
b = (2,3 1/3) 286,44 KPa
b = (2,3 - 0,3) x 286,44 KPa
b = 2 x 286,44 KPa
b = 572,88 KPa

Keterangan : K = 0,3

3. Tegangan Atap
a = (3,2.K-1) v
a = (3,2 x 0,33 1) 286,44 KPa
a = 0,056 x 286,44 KPa
a = 16,04 KPa

4.2 Geometri Terowongan


Geometri terowongan pada daerah penelitian terdiri dari:
a. Tunnel axis: N 350 E
b. Scanline : 21 m
c. Tinggi terowongan keseluruhan = 12 m
d. Tinggi lubang bukaan = 8,5 m
e. Lebar terowongan: 6 m
Massa batuan adalah batuan insitu yang terdiri dari berbagai bidang lemah yang
ditunjukkan oleh kenampakkan sistem struktur geologi seperti kekar, sesar, serta
bidang perlapisan. Sedangkan batuan utuh adalah kumpulan dari partikel mineral
yang tersementasikan dan terkonsolidasi dengan baik yang membentuk batuan
massif, diantara rekahan rekahan pada massa batuan. Bidang lemah adalah
kenampakan struktur utama yang memisahkan massa batuan massif menjadi blok-
blok. Bidang lemah ini dapat berubah kekar, sesar, dan bidang perlapisan,serta
belahan dan lain sebagainya. Bidang lemah utama adalah struktur bidang menerus

IV-1
seperti sesar yang dapat merupakan bidang yang sangat lemah jika dibandingkan
dengan struktur lain pada massa batuan (Hoek and Bray,1981)

4.3 Jenis Runtuhan Di Terowongan


Pada batuan atau tanah, umumnya gaya gaya berada dalam keadaan setimbang,
maksudnya keadaan dimana distribusi tenggangan pada batuan atau tanah tersebut
dalam keadaan mantap/stabil. Dengan adannya suatu kengitan terhadap batuan
atau tanah tersebut seperti pengangkutan, penggalian, penimbunan, erosi atau
aktivitas lain sehingga kesetimbangannya tergganggu. Pada terowongan umum
nya jenis runtuhannya ialah runtuhan baji. Jenis runtuhan tersebut dapat diketahui
dari perpotongan atau ketemunya bidang lemah pad terowangan, jenis rentuhan
juga dapat diketahui dengan menggunakan program komputer yaitu dengan
menggunakan Unwedge

4.4 Analisa Kualitas massa batuan (Q-System)


Tabel 4.1 Analisa Sistem Q
No Strike, NE Dip 0 Lenght RQD Jn Jr Ja Jw SRF Q
1 105 87 20 55,6 4 3 4 1 10 1,04
2 300 74 17 55,6 4 3 1 1 10 4,17
3 296 38 14 55,6 6 3 4 1 10 0,70
4 275 45 10 55,6 6 3 1 1 10 2,78
5 280 50 30 55,6 6 4 4 1 10 0,93
6 289 53 34 55,6 6 3 4 1 10 0,70
7 292 64 30 55,6 6 3 1 1 10 2,78
8 295 52 30 55,6 4 3 4 1 10 1,04
9 323 43 18 55,6 4 3 1 1 10 4,17
10 300 59 38 55,6 4 3 4 1 10 1,04
11 165 37 49 55,6 4 3 4 0,7 10 0,69
12 133 30 44 55,6 4 3 4 0,7 10 0,69
13 133 33 23 55,6 4 3 4 0,7 10 0,69
14 140 31 43 55,6 4 3 4 0,7 10 0,69
15 112 31 32 55,6 4 3 1 0,7 10 2,75
16 101 19 35 55,6 4 3 4 0,7 10 0,69
17 133 45 12 55,6 4 3 4 0,7 10 0,69
18 145 40 12 55,6 4 3 4 0,7 10 0,69
19 164 34 17 55,6 4 3 1 0,7 10 2,75
20 138 18 15 55,6 4 3 4 0,5 10 0,52
rata-rata 1,51
De = Span/ESR
= 21/1,3
= 16,15

IV-2
Geometri terowongan terdiri dari:
f. Tunnel axis: N 350 E
g. Scanline : 21 m
h. Tinggi terowongan keseluruhan = 12 m
i. Tinggi lubang bukaan = 8,5 m
j. Lebar terowongan: 6 m

Adapun data strike dan dip yang kami dapatkan dari terowongan, yaitu;
Tabel 4.2 Data Strike dan Dip
Bidang Strike Dip
lemah N...E Derajat
1 105 87
2 300 74
3 296 38
4 275 45
5 280 50
6 289 53
7 292 64
8 295 52
9 323 43
10 300 59
11 165 37
12 133 30
13 133 33
14 140 31
15 112 31
16 101 19
17 133 45
18 145 40
19 164 34
20 138 18

Kurva Q-System
Setelah di dapat hasil dari De dan Q maka hasilnya di plot ke kurva Q-System.
Hasil dari De adalah 16,15 dan Q adalah 1,51. Dari hasil perhitungan kualitas
massa batuan berdasarkan Q-system adalah Fair, dengan kategori penyangga
no.17

Support Category : 17
Q : 10-4
Conditional Factors : >30; >10, <30; <10; <10

IV-3
Span/ESR (m) : 3,5-9
Pa (kg/cm3) : 1,0
TYpe support : sb (utg)
B (utg) 1-1,5 S 2-3 cm

Gambar 4.1. Kurva Q-System

4.5 Tingkat Kestabilan Di Terowongan

Pada batuan atau tanah, umumnya gaya gaya berada dalam keadaan setimbang,
maksudnya keadaan dimana distribusi tenggangan pada batuan atau tanah tersebut
dalam keadaan mantap/stabil. Dengan adannya suatu kengitan terhadap batuan
atau tanah tersebut seperti pengangkutan, penggalian, penimbunan, erosi atau
aktivitas lain sehingga kesetimbangannya tergganggu. Menurut Hoek dan Brown
ketidakstabilan terowongan dapat terjadi karena beberapa faktor yaitu :
tenggangan, struktur geologi ( batuan ), air tanah dan pelapukan. Nilai FK >1,5 (
Hoek dan brown )

IV-4