Anda di halaman 1dari 8

III.

DASAR TEORI

3.1 Pengertian Dan Defenisi Terowongan


Terowongan adalah sebuah tembusan di bawah permukaan tanah atau gunung.
Terowongan umumnya tertutup di seluruh sisi kecuali di kedua ujungnya yang terbuka
pada lingkungan luar. Beberapa ahli teknik sipil mendefinisikan terowongan sebagai
sebuah tembusan di bawah permukaan yang memiliki panjang minimal 0.1 mil, dan
yang lebih pendek dari itu lebih pantas disebut underpass. Secara umum istilah
terowongan didefenisikan sebagai lubang bukaan yang dibuat dengan dua lubang
bukaan yang saling berhubungan langsung atau dengan kata lain bawah kedua lubang
bukaan tersebut harus menembus bagian kerak bumi yakni ;
- Perbukitan, sebagai media transportasi, drainase, penambangan dan lain-lain,
- Penggalian bawah tanah sebagai media transportasi, drainase, penambangan dan
lain sebagainya.

Rintangan mungkin berupa gunung, sungai, laut, penduduk yang rapat, atau
daerah industri (lalu lintas dan lain-lain). Terowongan dibuat di bawah gunung,
sungai, laut, penduduk yang rapat atau daerah industri dan gedung-gedung dan
jalan raya. Maksud dibuatnya terowongan tersebut adalah untuk jalan kereta api dan
jalan mobil, pejalan kaki atau lalu lintas air untuk mengalirkan air, menghasilkan tenaga
listrik, saluran gas, saluran pembuangan, tempat penambangan atau untuk
kepentingan transportasi lokal di dalam
suatu daerah industri atau pabrik. Berdasarkan kegunaannya terowongan dapat
dibagi kedalam 2 kelompok, yaitu :

1. Terowongan lalu lintas (Traffic Tunnel)


- Terowongan kereta api
- Terowongan jalan raya
- Terowongan pejalan kaki
- Terowongan navigasi
- Terowongan transportasi dibawah kota
- Terowongan transportasi ditambang bawah tanah

2. Terowongan Angkutan.
- Terowongan stasiun pembangkit listrik tenaga air
- Terowongan penyediaan air
- Terowongan untuk saluran air kotor
- Terowongan yang digunakan untuk kepentingan umum.
- Terowongan untuk angkutan di dalam daerah industri pabrik

Terowongan yang akan dibicarakan disini adalah merupakan struktur bawah


tanah (underground structure) sehingga untuk memenuhi tujuannya maka
terowongan tersebut harus dibuat dengan metoda khusus tanpa mengganggu permukaan
III-1
tanah. Disamping itu terowongan juga dapat dibuat dengan penggalian terbuka jika
letaknya tidak begitu jauh dari permukaan tanah. Sesudah konstruksi terowongan
selesai maka ditimbun lagi dengan tanah hasil galian sebelumnya, metode ini
dikenal dengan istilah cut and cover.

3.2 Terowongan untuk Jalan


Dengan pengertian terowongan di atas, maka terowongan dapat berguna sebagai ;
1. Media lalu lintas ; untuk kereta api, jalan raya, pejalan kaki dan transportasi
tambang bawah tanah,
2. Media angkutan ; angkutan air untuk pembangkit tenaga listrik (PLTA),
penyediaan air, saluran air kotor.
Terowongan jalan raya dapat diklasifikasikan kedalam tiga macam kelompok :
- Terowongan yang dibangun untuk kendaraan bermotor karena pesatnya
pertambahan lalu lintas jalan raya bersamaan dengan berkembangnya industri
kendaraan bermotor.
- Terowongan interkoneksi, melewati daerah berbukit didalam kota, berbeda
dalam dimensi dengan kelompok pertama. Terowongan ini biasanya merupakan
lanjutan dari jalan raya (jalan arteri) dan mempunyai bentuk penampang
yang tinggi untuk mendapatkan peranginan alam.
- Terowongan yang melewati bawah sungai, didaerah perkotaan. Terowongan
ini dibangun untuk menggantikan jembatan disungai yang lalu lintas
kapalnya padat karena seringnya jembatan tersebut diangkat pada saat
kapal lewat yang mengakibatkan lalu lintas terhenti.

3.3 Klasifikasi Sistem RMR dan Q


3.3.1 Rock Mass Rating (RMR)
Bieniawski (1976) mempublikasikan suatu klasifikasi massa batuan yang disebut
Klasifikasi Geomekanika atau lebih dikenal dengan Rock Mass Rating (RMR). Setelah
bertahun-tahun, klasifikasi massa batuan ini telah mengalami penyesuaian dikarenakan
adanya penambahan data masukan sehingga Bieniawski membuat perubahan nilai rating
pada parameter yang digunakan untuk penilaian klasifikasi massa batuan tersebut. Pada
penelitian ini, klasifikasi massa batuan yang digunakan adalah klasifikasi massa batuan
versi tahun 1989 (Bieniawski, 1989). 6 Parameter yang digunakan dalam klasifikasi
massa batuan menggunakan Sistim RMR yaitu:
1. Kuat tekan uniaxial batuan utuh.
2. Rock Quality Designatian (RQD).
3. Spasi bidang dikontinyu.
4. Kondisi bidang diskontinyu.
5. Kondisi air tanah.
6. Orientasi/arah bidang diskontinyu.
Pada penggunaan sistim klasifikasi ini, massa batuan dibagi kedalam daerah struktural
yang memiliki kesamaan sifat berdasarkan 6 parameter di atas dan klasifikasi massa
batuan untuk setiap daerah tersebut dibuat terpisah. Batas dari daerah struktur tersebut
biasanya disesuaikan dengan kenampakan perubahan struktur geologi seperti patahan,

III-2
perubahan kerapatan kekar, dan perubahan jenis batuan. RMR ini dapat digunakan
untuk terowongan. lereng, dan pondasi.

3.3.2 Q-system
Q-system diperkenalkan oleh Barton et al pada tahun 1974. Nilai Q didefinisikan
sebagai:
Dimana:
RQD adalah Rock Quality Designation
- Jn adalah jumlah set kekar
- Jr adalah nilai kekasaran kekar
- Ja adalah nilai alterasi kekar
- Jw adalah faktor air tanah
- SRF adalah faktor berkurangnya tegangan
RQD/Jn merepresentasikan struktur massa batuan
Jr/Ja merepresentasikan kekasaran dan karakteritik gesekan diantara bidang kekar stsu
material pengisi
Jw/SRF merepresentasikan tegangan aktif yang bekerja
Berdasarkan nilai Q kemudian dapat ditentukan jenis penyanggaan yang dibutuhkan
untuk terowonga

3.4 Penyanggaan dan Jenisnya


Suatu alternatif pada pendekatan teoritik untuk penyanggaan batuan adalah
memanfaatkan pengalaman sebelumnya, sebagai suatu dasar untuk memperkirakan
penyanggaan yang diperlukan untuk penggalian bawah tanah. Pendekatan ini terus
berkembang tanpa arah yang jelas sebelum munculnya penggunaan klasifikasi batuan.

Pada bagian ini diberikan prinsip-prinsip dari klasifikasi massa batuan. Sebagian dari
klasifikasi ini adalah suatu pekerjaan deskripsi murni dan klasifikasi ini patut dihargai
dengan mendefenisikan beberapa parameter yahng tampak mampu mendefenisikan
secara benar massa batuan. Kemudian akan digunakan untuk pemilihan jenis penyangga
yang akan digunakan untuk lubang bukaan atau terowongan.

Untuk pemilihan jenis penyanggaan yang akan digunakan, ada hal yang sangat
mendasar dan perlu untuk diperhitungkan ialah perhitungan tinggi beban yang akan
disangga. K. Terzaghi (1946) menyatakan bahwa sejumlah batuan atau tanah tinggi
beban (Hp) menyerupai suatu topi di atas terowongan
(lihat Gambar 3.4).

III-3
W
H Bi
c d
Hp

Ht

a b
B
Gambar 3.3. Daerah yang tidak stabil menurut Terzaghi
Dari Gambar 3.4 kemudian dibuat pengklasifikasian muatan batuan terhadap kondisi
batuan dan tinggi muatan batuan (Tabel 3.1 dan Tabel 3.2). Kemudian untuk
rekomendasi kebutuhan penyanggaan seperti penyangga baja, baut batuan dan beton
diberikan oleh Deere dkk (Tabel 3.3.). Perubahan konsep rekomendasi penyanggaan
yang berdasarkan kualitas massa batuan dan RQD ini terus berkembang hingga muncul
klasifikasi massa batuan oleh para ahli seperti RMR yang telah dibahas pada modul
sebelumnya (modul 6).

Tinggi beban (ht) dan tekanan batuan terhadap penyangga (P) ditentukan berdasarkan
rumus yang diusulkan oleh Unal (1983) dengan memakai nilai RMR dari klasifikasi
Geomekanika sebagai berikut.
RMR
Ht = 100 B

100
Keterangan :
Ht = tinggi beban batuan (m)
RMR = Rock Mass Rating (bobot nilai batuan)
B = lebar lubang bukaan atau lebar terowongan
Dari persamaan diatas terlihat bahwa tinggi beban (ht) merupakan fungsi dari lebar
bukaan dan bobot nilai batuan. Tekanan batuan yang diterima penyangga tergantung
pada tinggi beban dan bobot isi batuannya.

Tabel 3.1. Klasifikasi muatan batuan (Terzaghi, 1946)


TINGGI MUATAN
KONDIS BATUAN BATUAN, Hp (m) CATATAN

Lapisan ringan saja, walaupun ada


1. Keras dan kompak 0
hanya terjadi spalling ringan.

Lapisan ringan terutama untuk


2. Perlapisan keras atau skistosa 0 0,50 B
perlindungan dari jatuhan blok.

Masif, diskontinuitas yang Perubahan tak menentu dari


3. 0 0,25 B
sedang jumlahnya. beban.

III-4
Terbagi-bagi dalam blok
dalam jumlah yang sedang 0,25 B 0,35 (B +
4. Tidak ada tekanan lateral
dengan rekahan yang cukup Ht)
banyak
Sangat terbagi dalam blok-
0,35 B 1,10 (B + Sedikit atau tidak ada tekanan
5. blok dengan rekahan yang
Ht) lateral
banyak dan berkembang

Tekanan lateral yang amat besar.


Terpecah keseluruhan tetapi
6. 1,10 (B + Ht) Akibat dari hilangnya kekuatan
masih bersatu secara kimia
yang disebabkan oleh infiltrasi.

Batuan yang berperan dalam Tekanan lateral yang besar,


7. pemampatan pada kondisi (1,10 2,10) (B + Ht) penyangga besi baja sirkuler (rib)
kedalaman yang sedang direkomendasikan.

Batuan yang berperan dalam


(2,10 4,50 ) (B +
8. pemampatan pada kondisi
Ht)
kedalaman yang besar

Penyangga besi baja sirkuler (rib)


Sampai 90 m tidak diperlukan. Dalam keadaan ektrim
Batuan yang mengembang
9. tergantung dari (B + gunakan perhitungan tekanan
(swelling rock)
Ht) keruntuhan penyanggaan
(yielding support)

Tabel 3.2. Klasifikasi tinggi muatan batuan (Hp) pada kedalaman lebih dari 1,5
(B + Ht)
TINGGI MUATAN
KONDIS BATUAN RQD BATUAN, Hp (ft) CATATAN

Lapisan ringan saja,


1. Keras dan kompak 95 - 100 0 walaupun ada hanya terjadi
spalling ringan.
Lapisan ringan terutama
Perlapisan keras atau
2. 90 99 0 0,50 B untuk perlindungan dari
skistosa
jatuhan blok.
Masif, diskontinuitas
Perubahan tak menentu dari
3. yang sedang 85 95 0 0,25 B
beban.
jumlahnya.
Terbagi-bagi dalam
blok dalam jumlah
4. yang sedang dengan 75 85 0,25 B 0,20 (B + Ht)
rekahan yang cukup
Kondisi 4,5 dan 6 di kurangi
banyak
50 % dari nilai Terzaghi,
Sangat terbagi dalam
karena muka air mempunyai
blok-blok dengan
5. 30 75 (0,20 0,60) (B + Ht) akibat kecil terhadap Hp
rekahan yang banyak
(Brekke, 1968 dan Terzaghi,
dan berkembang
1946)
Terpecah
keseluruhan tetapi
6. 3 - 30 (0,60 - 1,10) (B + Ht)
masih bersatu secara
kimia

III-5
6.a Pasir dan kerikil 03 (1,10 - 2,40) (B + Ht)

Batuan yang berperan


dalam pemampatan Tekanan lateral yang besar,
Tidak dapat
7. pada kondisi (1,10 2,10) (B + Ht) penyangga besi baja sirkular
diaplikasikan
kedalaman yang set direkomendasikan.
sedang
Batuan yang berperan
dalam pemampatan Tidak dapat
8. pada kondisi (2,10 4,50 ) (B + Ht)
diaplikasikan
kedalaman yang besar
Penyangga besi baja sirkular
set diperlukan. Dalam
Batuan yang Lebih besar dari 250
Tidak dapat keadaan ektrim gunakan
9. mengembang tidak tergantung dari
diaplikasikan perhitungan tekanan
(swelling rock) (B + Ht)
keruntuhan penyanggaan
(yielding support)
Catatan : Nilai B dan Ht dalam satuan feet (ft).
Tabel 3.3. Rekomendasi penyanggaan terowongan (dengan diameter = 20 40 ft) pada
batuan oleh Deere dkk (1967).

Tinggi Sistem penyangga


Kualitas Metoda Muatan
Batuan penerowongan Batuan, hp Baja c Baut Batuan d Beton
(ft)
Tunnel bor Tidak dibutuhkan, Tidak dibutuhkan,
Sangat baik kalaupun dibutuhkan hanya pada aplikasi
a
machine 0.0 0.2B c
hanya set ringan
Tidak dibutuhkan
lokal
(TBM)
Tidak dibutuhkan, Tidak dibutuhkan,
RQD > 90 Pemboran dan
0.0 0.3 B kalaupun dibutuhkan Tidak dibutuhkan hanya pada aplikasi
Peledakan hanya set ringan lokal 2 3 in.

Tunnel bor Kadang kala Kadang kala Tidak dibutuhkan,


Baik a machine 0.0 0.4 B dibutuhkan set ringan dibutuhkan dengan hanya pada aplikasi
dengan pola 5 6 ft pola 5 6 ft lokal 2 3 in.
RQD = 75 - (TBM)
90
Pemboran dan dibutuhkan set ringan dibutuhkan dengan 4 in atau lebih pada
(0.3 0.6) B dengan pola 5 6 ft pola 5 6 ft atap dan dinding
Peledakan
Tunnel bor
Set ringan sedang 5 dibutuhkan dengan
Sedang machine (0.4 1.0) B 6 ft pola 4 6 ft
2 4 in pada atap
RQD = 50 (TBM)
75 Pemboran dan Set ringan sedang 4 dibutuhkan dengan 4 in atau lebih pada
(0.6 1.3) B 5 ft pola 3 5 ft atap dan dinding
Peledakan
4 6 in pada atap dan
Tunnel bor
Sirkular Set sedang dibutuhkan dengan dinding dan
machine (1.0 1.6) B 3 4 ft pola 3 5 ft dikombinasikan dgn
Buruk b (TBM) baut batuan.
RQD = 25 - 6 in atau lebih pada
50 Pemboran dan (1.3 2.0) B Set sedang kuat dibutuhkan dengan atap dan dinding dan
Peledakan 2 4 ft. pola 2 4 ft dikombinasikan dgn
baut batuan.
Sangat Tunnel bor (1.6 2.2) B 6 in atau lebih pada
Sirkular set sedang dibutuhkan dengan semua bagian dan
buruk machine
kuat 2 ft pola 2 4 ft dikombinasikan dgn
RQD < 25 (TBM) set kuat.
III-6
(Diluar
pengaruh 6 in atau lebih pada
kondisi Pemboran dan dibutuhkan dengan semua bagian dan
pemanpatan dan
(2.0 2.8) B Sirkular set kuat 2 ft
pola 3 ft dikombinasikan dgn
Peledakan
pengembangan set sedang.
batuan)
Tunnel bor 6 in atau lebih pada
Sangat Sirkular set sangat
dibutuhkan dengan semua bagian dan
buruk machine Diatas 250 ft kuat
pola 2 3 ft dikombinasikan dgn
(dengan kondisi (TBM)
2 ft
set kuat.
pemampatan 6 in atau lebih pada
dan Sirkular set sangat
Pemboran dan dibutuhkan dengan semua bagian dan
pengembangan Diatas 250 ft kuat
pola 2 3 ft dikombinasikan dgn
Peledakan 2 ft
batuan) set kuat.
a kualitas batuan baik sangat baik, kebutuhan penyangga secara umum tidak ada, kecuali tergantung dari, set kekar, diameter
terowongan dan orientasi bidang lemah terhadap arah umum terowongan.

b
lagging tidak dibutuhan pada batuan kualitas sangat kuat, 25% batuan kualitas baik sangat buruk 100%

c B = lebar terowongan

d
mesh tidak dibutuhkan pada batuan kualitas sangat baik, kadang kala dibutuhkan pada batuan kualitas baik sangat buruk hingga
100%

Jenis jenis penyangga


Secara mekanik dalam pembuatan terowongan dan pembukaan tambang bawah tanah,
jenis-jenis penyangga dapat dikelompokkan kedalam dua bagian :
1. Penyangga Alamiah (Natural Support)
Natural Support dapat digolongkan kedalam penyangga sementara dikarenakan dalam
penyanggaan, penyangga yang dipakai berupa ore, low grade ore, atau barren rock
yang ditinggalkan dalam bentuk pillar. Sistem penyangga sementara yang direncanakan
dapat menahan seluruh massa batuan sampai penyangga permanen dipasang, atau pillar-
pillar (ore) yang digunakan sebagai penyangga itu sendiri akan ditambang dan tidak
perlu dipasang penyangga permanen.
2. Penyangga Buatan (Artificial Support)
Artificial Support merupakan penyangga buatan dimana material untuk penyangga
dibuat sesuai dengan bentuk, susunan dan cara pemasangan tergantung dari kebutuhan.
Beberapa jenis artificial support yang sering dijumpai didalam suatu sistem
penyanggaan, yaitu :
1. Penyangga kayu
2. Baut batuan (rock bolt)
3. Penyangga beton
4. Penyangga baja
5. Penyangga khusus

3.5 Ketidakstabilan Terowongan Jalan


Kestabilan terowongan tidak terlepas dan perilaku massa batuan dan sangat dipengaruhi
oleh keadaan distribusi tegangan yang terjadi di sekitar terowongan. Ketidakstabilan
terowongan biasanya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : Faktor bukan struktur geologi
(tegangan insitu yang berlebihan, pelapukan dan swelling serta tekanan dan aliran air

III-7
tanah) dan Struktur geologi (dapat diketahui dengan pemetaan geologi detail / rinci di
atas dan di bawah permukaan).Faktor-faktor bukan struktur geologi yaitu :
1. Tegangan insitu yang berlebihan : pada massa batuan terdapat tegangan mula-mula
yang terdiri dan 3 macam, yaitu : tegangan gravitasi yang disebabkan oleh berat dan
batuan yang berada di atasnya, tegangan tektonik yang terjadi karena adanya
pergeseran pada kulit bumi pada saat ini ataupun pada masa lampau dan tegangan
sisa yang terjadi sebagai akibat pada saat gempa bumi tidak semua gaya dilepaskan
tetapi masih ada yang tersisa di dalam batuan. Untuk pengukuran tegangan insitu
dilakukan dengan cara Hydraulic Fracturing, Overcoring, Flat Jack dan Rossette.
2. Pelapukan dan Swelling untuk pengujian terhadap pelapukan dilakukan pengujian
di laboratorium, sedangkan untuk swelling test dilakukan pengujian petrografi.
3. Tekanan dan aliran air tanah dengan menggunakan Piezometer kita dapat
mengetahui tekanan air tanah pada suatu lapisan, sedangkan untuk mengetahui
aliran air tanah dilakukan pumping test, sehingga dapat dibuat sistim drainage yang
efektif dan terkontrol.

Sedangkan faktor yang mempengaruhi kestabilan lubang bukaan yang merupakan


struktur geologi adalah
1. Kekar merupakan struktur rekahan dalam batuan dimana sedikit sekali mengalami
pergeseran, dalam konstruksi bawah tanah dapat menyebabkan terjadinya runtuhan
pada bagian atap terowongan dan menimbulkan bidang-bidang lemah yang
mempengaruhi kestabilan terowongan.
2. Sesar merupakan suatu rekahan pada batuan yang telah mengalami pergeseran
sehingga terjadi perpindahan antara bagian yang berhadapan, dengan arah yang
sejajar dengan bidang patahan. Karena hal itulah, maka diperlukan data-data
pemetaan geologi dan pemboran memungkinkan sesuai dengan pengamatan geologi
diharapkan massa batuan dapat menyangga dirinya sendiri, jika hal itu tidak terjadi,
maka diperlukan bantuan penyanggan untuk mencegah adanya runtuhan dan
memperkuat bidang-bidang lemah yang berpotensi untuk longsor.

III-8