Anda di halaman 1dari 32

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dasar Solar Desalinasi

Desalinasi pada prinsipnya merupakan cara untuk mendapatkan air bersih


melalui proses penyulingan air kotor. Secara umum terdapat berbagai cara yang
sering digunakan untuk mendapatkan air bersih yaitu : perebusan, penyaringan,
desalinasi dan lain-lainnya. Cara perebusan dilakukan hanya untuk mematikan
kuman dan bakteri-bakteri yang merugikan, namun kotoran yang berupa padatan-
padatan kecil tidak bisa terpisah dengan air. Penyaringan digunakan hanya untuk
menyaring kotoran-kotoran yang berupa padatan kecil, namun kuman dan bakteri
yang merugikan tidak bisa terpisah dari air. Cara desalinasi merupakan cara yang
efektif digunakan untuk menghasilkan air bersih yang bebas dari kuman, bakteri,
dan kotoran yang berupa padatan kecil. Proses desalinasi secara umum biasanya
yang diambil hanyalah air kondensatnya, sedangkan konsentrat garam dibuang dan
ini dapat berakibat buruk bagi kehidupan air laut (Ketut dkk, 2011).

Prinsip kerja desalinasi secara umum sebenarnya sangat sederhana. Air laut
dipanaskan hingga menguap, dan kemudian uap yang dihasilkan dikondensasikan
kembali dan ditampung di sebuah wadah. Air kondensat tersebut adalah air bersih.
Sedangkan air laut yang tidak mendidih selama pemanasan adalah konsentrat
garam. Proses desalinasi yang akan penulis bahas pada penelitian ini adalah
desalinasi sistem vakum dengan modifikasi suplai panas yang bersumber dari air
panas yang dihasilkan melalui kolektor penangkap panas. Konsep dari sistem ini
adalah memanfaatkan ruang vakum yang dibentuk secara alami untuk dapat
mengevaporasikan sejumlah air laut pada tekanan rendah sehingga dapat
berevaporasi dengan suplai energi panas yang lebih sedikit dibanding dengan
teknik konvensional. Suplai energi panas yang sedikit dapat diambil dari kolektor
surya plat datar dan / atau panas yang dibuang. Namun pada penelitian ini akan
digunakan elemen pemanas dari alat penukar kalor yang disuplai melalui kolektor
penangkap panas agar suplai panas dalam evaporator konstan. Keunikan dari sistem
ini adalah cara gaya gravitasi dan tekanan atmosfer digunakan dalam pembentukan
kondisi vakum. Pembentukan sistem vakum bertujuan untuk menurunkan tekanan
ruang evaporator agar pemanasan dapat berlangsung dengan suplai panas yang
rendah. Tekanan atmosfer akan sama dengan tekanan hidrostatis yang dibentuk
dengan pipa air yang tingginya sekitar 10,34 meter. Jadi, jika ketinggian pipa lebih
dari 10,34 meter dan ditutup dari bagian atas dengan air, dan air dibiarkan jatuh
kebawah akibat gravitasi, air akan jatuh pada ketinggian sekitar 10,34 meter, dan
membentuk ruang vakum diatasnya.

Komponen-komponen yang terdapat pada solar desalinasi sistem vakum


natural adalah evaporator, kondensor, dan alat penukar kalor berupa Tube-in-Tube,
kolektor penangkap panas, pompa, photovoltaic. Evaporator berfungsi sebagai
ruang pemanasan air laut dengan suplai panas berasal dari solar collector yang
dialirkan dengan fluida. Kondensor berfungsi untuk mengumpulkan uap yang
dihasilkan oleh pemanasan air laut di evaporator untuk dikondensasikan kembali
sehingga air kondensat dapat ditampung dan didapat air bersih sebagai produk
sistem. Sedangkan tube in tube heat exchanger berfungsi sebagai heat recovery
(pemulih panas), dimana air laut yang tidak mendidih akibat pemanasan di ruang
evaporator akan jatuh melalui pipa luar dari tube in tube untuk memanaskan pipa
dalam yang sedang dialiri air laut dari tangki pengumpan. Alasan penggunaan
sistem solar desalinasi vakum natural dalam penelitian ini adalah karena tidak
menggunakan listrik, cocok untuk pemakaian skala besar terutama di pesisir pantai,
dan keunikan sistemnya yang tidak membutuhkan pompa vakum untuk menyuplai
air laut ke evaporator yang tingginya 10,34 m. Gambar 2.1 menunjukkan solar
desalinasi sistem vakum. Adapun kelebihan dan kelemahan dari sistem desalinasi
vakum natural sebagai berikut.

Kelebihan menggunakan Desalinasi Vakum Natural :

1. Tidak membutuhkan pompa vakum untuk penyuplaian air laut


2. Biaya konstruksi termurah diantara semua jenis desalinasi tenaga surya
3. Pemanasan dapat menggunakan suplai panas rendah karena sistem dalam
keadaan vakum
Kelemahan menggunakan Desalinasi Vakum Natural :
1. Konstruksi cukup sulit karena proses instalasi berhubungan dengan
ketinggian
2. Hanya cocok untuk pemakaian skala besar (untuk luas alas evaporator yang
besar)
3. Pemilihan bahan konstruksi sangat mempengaruhi lifetime sistem

Gambar 2.1 Solar Desalinasi Sistem Vakum Natural

2.2 Klasifikasi Sistem Desalinasi

2.2.1 Solar Still

Solar still terdiri dari bak yang dicat hitam yang diisi oleh air laut hingga
pada kedalaman tertentu dan ditutup oleh kaca yang dimiringkan sebagai tempat
masuknya radiasi surya sekaligus peristiwa kondensasi. Radiasi surya memasuki
bak melalui kaca untuk memanaskan sisi bak yang dicat hitam yang
mengakibatkan pemanasan air laut hingga terjadi evaporasi, karena perbedaan
tekanan parsial dan perbedaan temperatur, uap air terkondensasi sepanjang kaca
penutup yang dimiringkan dan ditampung oleh penampung yang berada tepat
dibawah kemiringan kaca (Qiblawey dkk, 2008). Gambar 2.2 menunjukkan sistem
solar still sederhana.
Kelebihan menggunakan Solar Still :

1. Konstruksi yang sederhana


2. Kondensasi tidak memerlukan kondensor, proses kondensasi terjadi pada
kaca
3. Mudah dalam perawatannya

Kelemahan menggunakan Solar Still :

1. Laju produksi air bersih per hari rendah


2. Sebagian uap air yang terkondensasi pada kaca dapat langsung jatuh
kembali dan bercampur dengan air laut yang belum berevaporasi
3. Proses evaporasi lambat karena air laut dipanaskan pada tekanan atmosfer

Gambar 2.2 Solar Still Sederhana

2.2.2 Solar Desalinasi Humidifikasi-Dehumidifikasi

Ide utama dibalik proses solar humidification-dehumidification adalah uap


saturasi dapat membawa udara dengan kapasitas yang semakin banyak dengan
meningkatnya temperatur. Air laut akan melalui pemanasan awal sebelum
disemprotkan ke dalam evaporator. Pemanasan terjadi pada dua fluida, yakni air
laut dan angin. Pemanasan pada angin bertujuan untuk disirkulasikan ke dalam
ruang evaporator - kondensor. Sesuai dengan ide utama sistem ini, udara panas
membawa uap dari pemanasan air laut ke ruang kondensor yang berada tepat di
sebelah ruang evaporator untuk dikondensasikan. Air laut yang tidak berevaporasi
akan langsung jatuh ke tempat penampungan konsentrat garam (Parekh dkk,
2004). Gambar 2.3 menunjukkan sistem desalinasi surya humidifikasi -
dehumidifikasi.

Kelebihan sistem desalinasi humidifikasi-dehumidifikasi :

1. Efektif dalam memproduksi air bersih


2. Sangat cocok dioperasikan untuk kapasitas rendah

3. Konsentrat garam yang masih mengandung air dapat diproses ulang

Kelemahan sistem desalinasi humidifikasi dehumidifikasi :

1. Konstruksi yang kompleks


2. Air laut yang tidak berevaporasi dibiarkan jatuh bebas ke tempat
penampungan dapat menimbulkan percikan air sehingga memungkinkan
terkontaminasi konsentrat garam ke air bersih jika isolasi tidak baik
3. Meskipun menggunakan energi surya sebagai sumber pemanas, sistem
masih menggunakan energi listrik untuk mensirkulasikan udara dan air
laut

Gambar 2.3 Sistem Desalinasi Surya Humidifikasi Dehumidifikasi


2.2.3 Solar Chimney
Solar Chimney mengkonversikan energi termal surya ke energi kinetik yang
akan dikonversikan menjadi energi listrik dengan menggunakan turbo- generator.
Komponen-komponen utama dalam solar chimney adalah diameter kolektor surya
yang besar, turbin, generator dan cerobong (chimney) yang tinggi. Penggunaan
kolektor terutama kaca atau lembaran plastik yang berperan sebagai rumah kaca
akan menjebak panas dan menyebabkan pemanasan pada ruang dibawah kolektor
sehingga terjadi perbedaan temperatur antara udara lingkungan dan udara di dalam
sistem yang menyebabkan udara panas mengalir melalui cerobong. Energi kinetik
dari udara yang mengalir menyebabkan turbin yang dipasang dibawah cerobong
berotasi dan menghasilkan daya (Sangi, 2012)

Kelebihan sistem desalinasi solar chimney :

1. Laju produksi air bersih yang tinggi


2. Dapat menghasilkan daya selain air bersih
3. Biaya produksi air bersih yang lebih rendah

Kelemahan sistem desalinasi solar chimney :

1. Konstruksi sistem kompleks


2. Biaya turbin dan kolektor surya yang mahal karena dibutuhkan kolektor
yang sangat besar
3. Perawatan sistem sangat sulit dan mahal

Gambar 2.4 Sistem Desalinasi Solar Chimney pada air Laut


2.2.4. Solar Multi Stage Flash Desalination

Dalam sistem desalinasi Multi-Stage Flash, air laut pengumpan


dipanaskan diatas temperatur saturasi dalam pemanas konsentrat garam dan
mengalami perubahan fasa secara cepat dalam bak tekanan rendah yang
dipertahankan dengan menggunakan pompa vakum. Konsentrat garam yang
dibuang keluar dari tingkat sebelumnya diperbolehkan untuk berubah fasa pada
tingkat berikutnya dan uap dibentuk di setiap tingkat dikondensasikan dengan
menggunakan kondensor dimana air laut masuk telah dipanaskan terlebih dahulu
(Manjarrez dkk, 1979)

Kelebihan solar multi stage flash desalination :

1. Laju produksi air bersih yang sangat tinggi


2. Pemanasan yang cepat sehingga tidak memakan banyak energi panas dari
kolektor surya
3. Adanya tangka penyimpan kalor yang dapat menyuplai energi panas
selama 24 jam
Kelemahan solar multi stage flash desalination :

1. Konstruksi sistem yang kompleks


2. Tangki penyimpan kalor (Thermal Energy Storage) dan pompa vakum
mahal
3. Perawatan sulit dan mahal

Gambar 2.5 Sistem Desalinasi Solar Multi Stage Flash


2.2.5. Solar Multi Effect Distillation

Unit Multi-Effect Distillation (MED) terdiri dari bak-bak dimana secara


umum disebut efek yang dipertahankan pada tekanan rendah dengan pompa vakum.
Panas yang dibutuhkan untuk mengevaporasi air laut pada efek pertama disuplai
dari kumpulan kolektor surya atau dengan pembakaran bahan bakar fosil dan uap
yang dibentuk digunakan untuk memanaskan air laut pengumpan pada efek
selanjutnya. Sehingga, panas laten yang diproduksi uap air pada efek sebelumnya
dapat digunakan seluruhnya di efek selanjutnya pada MED (Mezher dkk, 2011)

Kelebihan solar multi effect distillation :

1. Proses pemanasan dilakukan secara bertingkat, sehingga tidak ada


konsentrat garam yang terkandung dalam air bersih
2. Sistem dapat diperbanyak dengan menambah efek
3. Laju produksi air bersih tinggi

Kelemahan solar multi effect distillation :

1. Proses pemvakuman menggunakan pompa vakum dimana pada pasaran


pompa vakum sangat mahal
2. Masih menggunakan energi listrik pada sistem
3. Konstruksi sistem mahal dan kompleks

Gambar 2.6 Solar Multi Effect Distillation


2.2.6 Desalinasi Kompresi Uap

Dalam Desalinasi Kompresi Uap, air laut pengumpan dipanaskan oleh


sumber panas eksternal dan berubah fasa menjadi uap, sehingga uap yang
diproduksi akan dikompres menggunakan Mechanical Vapor Compressor (MVC)
atau Thermo Vapor Compressor (TVC) untuk meningkatkan tekanan kondensasi
dan temperatur uap dan uap terkompresi digunakan untuk memanaskan air
pengumpan pada tingkat yang sama maupun tingkat yang lain (Helal dkk, 2006)

Kelebihan sistem desalinasi kompresi uap :

1. Pemanasan menggunakan pemanas air listrik sehingga perawatannya lebih


mudah
2. Konstruksi sistem yang sederhana

3. Air bersih tidak akan terkontaminasi dengan air laut di kondensor

Kelemahan sistem desalinasi kompresi uap :

1. Komponen sistem yakni pompa dan kompresor mahal


2. Masih menggunakan enegi listrik yang tidak sedikit
3. Tidak cocok dalam memproduksi air bersih untuk skala kecil

Gambar 2.7 Sistem Desalinasi Kompresi Uap Mekanik


2.2.7 Freeze Desalination

Desalinasi beku adalah teknik di mana air laut dibiarkan untuk didinginkan
di bawah titik beku, sehingga kristal es dari air bersih yang terbentuk di permukaan.
Ketiga jenis desalinasi beku adalah desalinasi beku kontak lansung, desalinasi beku
kontak tidak langsung dan desalinasi beku operasi vakum (Rane dkk, 2011). Dalam
proses desalinasi beku kontak langsung cairan refrigeran (biasanya n-butana)
dicampur langsung dengan air laut pengumpan dalam pembeku sehingga panas
dari air laut akan diserap oleh refrigeran menghasilkan pembentukan kristal es yang
kemudian dipisahkan dan dimurnikan untuk mendapatkan air bersih dalam bentuk
kristal es. Proses desalinasi beku seperti ini membutuhkan rasio tekanan rendah,
untuk mencapai rasio tekanan ini dengan kompresor konvensional tidak ekonomis,
sehingga dewasa ini mengarah pada pengembangan refrigeran kompresor
hidrolik. Kompresor pendingin hidrolik tidak menggunakan minyak pelumas
karena dapat mengkontaminasi kristal es. Ukuran dari alat pencairan dan
pembersihan dapat diperkecil dengan memperkecil jumlah dalam air sehingga biaya
dan ukuran sistem dapat diperkecil dan dapat digunakan untuk tujuan irigasi di
daerah yang mengalami kelangkaan air bersih (Rice dkk, 1997). Dalam desalinasi
beku kontak tak langsung, pendingin dan air laut yang tidak dicampur satu sama
lain, mereka dipisahkan dalam bentuk kristal oleh permukaan perpindahan panas
dan es yang terbentuk dalam sistem ini kemudian dikerok dari permukaan
perpindahan panas (Rane dkk, 2011). Dalam sistem desalinasi beku vakum, air laut
umpan didinginkan di bawah three point dengan mengurangi tekanan untuk
menghasilkan masing-masing es dan uap. Es yang terbentuk dikumpulkan dan uap
yang dihasilkan dikompresi dan kondensasi di ruang beku. Metode ini
membutuhkan kompresor ukuran besar karena volume spesifik uap air yang tinggi
dan dikenal dengan vacuum vapors compression freeze desalination.

Kelebihan Freeze Desalination :

1. Efisiensi sistem desalinasi sangat tinggi


2. Konstruksi mudah
3. Laju Produksi air bersih tinggi
Kelemahan Freeze Desalination :

1. Sistem masih menggunakan energi listrik


2. Perawatan sistem sulit
3. Membutuhkan kompresor yang besar sehingga biaya konstruksi sistem
mahal

Gambar 2.8 Desalinasi Beku menggunakan Auto Reversed Vapor Compression


Heat Pump

2.2.8 Desalinasi Adsorpsi

Sistem utama desalinasi adsorpsi terdiri dari evaporator, dudukan adsorpsi


(silica atau zirconia) dan kondensor. Dudukan adsorpsi disuplai dengan air panas
atau pendingin sesuai kebutuhan. Air laut yang menguap di evaporator diserap oleh
dudukan dengan dipertahankan pada suhu rendah oleh sirkulasi air pendingin.
Uap air terperangkap di dudukan dipulihkan oleh sirkulasi air panas, uap air
terjebak di dalam dudukan dipulihkan oleh sirkulasi air panas, uap air yang telah
dipulihkan dikondensasikan dalam kondensor dan hasil kondensasi berkualitas
tinggi karena distilasi ganda. Untuk sistem dua dudukan, adsorpsi berlangsung di
satu dudukan dan Desorpsi berlangsung di dudukan lain secara bersamaan (Wu dkk,
2010)

Kelebihan sistem desalinasi adsorpsi :

1. Laju produksi air bersih yang tinggi


2. Air bersih yang dihasilkan berkualitas tinggi karena melalui distilasi ganda
3. Air bersih tidak mungkin terkontaminasi oleh konsentrat garam

Kelemahan sistem desalinasi adsorpsi :

1. Konstruksi yang kompleks dan mahal karena memerlukan distilasi ganda


2. Perawatan sistem sulit
3. Masih menggunakan energi listrik (pompa) untuk mensirkulasikan air
dingin dan air panas

Gambar 2.9 Sistem Desalinasi Adsorpsi

2.2.9 Desalinasi Osmosis Terbalik Tenaga Surya

Dalam desalinasi RO (Reverse Osmosis) tenaga surya, energi mekanik yang


dihasilkan oleh aliran fluida organik secara langsung digunakan untuk menjalankan
unit RO dan pompa tekanan tinggi. Unit desalinasi RO surya thermal adalah
teknologi yang lebih menjanjikan, setiap perkembangan teknologi RO akan
berguna untuk mengembangkan teknologi RO berdasarkan sistem panas
matahari. Menggabungkan unit RO dengan siklus Rankine tenaga surya dapat
memotong emisi CO2 dan mengakibatkan penghematan lingkungan dengan selisih
sedikit tambahan biaya modal (Salcedo dkk, 2012)

Kelebihan Desalinasi Osmosis Terbalik Tenaga Surya Termal :

1. Adanya tangki penyimpan kalor yang dapat menyimpan energi termal


selama 24 jam
2. Proses pemanasan sangat cepat karena dibantu oleh boiler
3. Adanya kolektor surya dalam jumlah banyak dapat menyuplai baik energi
termal mauun energi listrik yang dibutuhkan sistem

Kelemahan Desalinasi Osmosis Terbalik Tenaga Surya Termal :

1. Sistem membutuhkan daya listrik yang besar karena adanya boiler dan dua
pompa bertekanan tinggi
2. Perawatan sistem yang sulit
3. Konstruksi kompleks dan mahal

Gambar 2.10 Unit Desalinasi Reverse Osmosis Bertenaga Siklus Rankine


Oraganik Surya

2.2.10 Elektrodialisis Tenaga Surya (ED)

Elektrodialisis (ED) adalah proses penghilangan garam dari air laut dan unit
ED terdiri dari sejumlah besar ruangan diisi dengan air laut dan dipisahkan oleh
membran pertukaran kation dan anion. Ketika polaritas DC diterapkan melalui
katoda dan anoda, ion negatif melewati membran pertukaran anion dan ion positif
melewati membran pertukaran kation dan ion-ion ini akan terakumulasi dalam
ruangan khusus dan dibuang sebagai konsentrat garam. Pembalikan polaritas
biasanya diikuti setiap 20 menit untuk mencegah pengendapan garam di membran
(Charcosset dkk, 2009)
Kelebihan Elektrodialisis :

1. Tidak adanya penggunaan kalor untuk pemanasan air laut, kolektor surya
disini digunakan untuk membangkitkan arus listrik DC
2. Tidak ada kemungkinan kontaminasi konsentrat garam ke air bersih
karena melalui banyak membran
3. Laju produksi air bersih tinggi

Kelemahan Elektrodialisis :

1. Membran sangat mahal


2. Membutuhkan energi listrik yang besar untuk disuplai pada pompa dan unti
elektrodialisis
3. Perawatan sistem sulit dan mahal

Gambar 2.11 Prinsip Kerja Unit Elektrodialisis

2.2.11 Distilasi Membran Tenaga Surya (MD)

Distilasi membran adalah proses pemisahan yang mana hanya uap yang
diperbolehkan untuk melewati poros membran hidrofobik. Pemisahan ini dapat
terjadi karena perbedaan tekanan uap antara permukaan membran. Ada empat jenis
proses distilasi membran yaitu membran distilasi celah udara, sweeping gas
distillation, membran distilasi kontak langsung dan membran distilasi vakum. Di
semua proses ini larutan panas umpan berkontak langsung dengan permukaan
membran (Qtaishat dkk, 2012). Penjelasan tentang keempat jenis proses distilasi
membran dapat dilihat pada diagram berikut.

Gambar 2.12 Tipe Proses Distilasi Membran

Gambar 2.13 Unit Distilasi Membran Bertenaga Surya

2.2.12 Forward Osmosis (FO)

Forward Osmosis adalah sebuah proses di mana molekul air dari air laut
bergerak melalui membran semi permeabel terhadap larutan seimbang yang mana
umumnya pada konsentrasi yang lebih tinggi daripada larutan umpan. Utamanya
FO menggunakan gradien tekanan osmotik dan bukan gradien tekanan hidrolik
(Cath dkk, 2006).

Kelebihan Forward Osmosis :

1. Konstruksi sederhana
2. Perawatan mudah yaitu cukup dengan mengganti membran semi
permeabel
3. Laju produksi air bersih yang tinggi

Kelemahan Forward Osmosis :

1. Membran semi permeabel yang mahal


2. Kontaminasi konsentrat garam ke air bersih bergantung pada efektivitas
membran semi permeabel
3. Usia membran semi permeabel singkat

Gambar 2.14 Unit Forward Osmosis

2.2.13 Sistem Desalinasi Vakum Natural

Dalam sistem desalinasi, uap air bersih dapat diproduksi dari air laut pada
tekanan operasi yang rendah jika vakum telah disediakan oleh pompa vakum, akan
tetapi hal ini akan mengkonsumsi lebih banyak daya. Konsumsi energi listrik dapat
dikurangi atau ditiadakan dengan memvakumkan ruangan secara alami, artinya
dengan menggunakan gaya gravitasi yang diikuti oleh jatuhnya air dibawah
gravitasi sehingga membentuk vakum pada ketinggian 10,34 meter. Dimana pada
sistem desalinasi vakum natural ini digunakan suplai panas yang digerakkan
melalui listrik dengan suhu kondensat yang dapat dinyatakan rendah karena
mengalami vakum natural pada proses kondensat.

Gambar 2.15 Sistem Desalinasi Vakum Natural

2.3 Pemodelan Matematik Sistem

Pada subbab ini akan dijelaskan pemodelan matematis dari setiap komponen
yang ada dalam desalinasi sistem vakum. Pemodelan matematis yang akan dibahas
adalah pada evaporator, sumber panas (heat source), alat penukar kalor tube in tube,
dan kondensor. Pembahasan akan lebih sederhana apabila telah ditetapkan beberapa
asumsi, antara lain :

1. Kapasitas panas di evaporator dan kondensor diabaikan


2. Temperatur pada masing-masing komponen adalah seragam atau tidak ada
variasi temperatur di evaporator dan kondensor
3. Sumber panas menggunakan pemanas yang dihasilkan dari Solar
Collector melalui fluida kerja yang digerakkan oleh pompa
4. Aliran fluida dalam sistem diasumsikan laminar karena kecepatan fluida
kerja baik dalam alat penukar kalor, evaporator dan kondensor sangat kecil
5. Kenaikan konsentrasi air laut dalam evaporator sangat kecil sehingga
dapat diabaikan
6. Panas hilang secara konveksi natural
7. Ketinggian air laut dalam evaporator konstan
2.3.1 Analisis pada Evaporator

Pada subbab 2.1 telah dijelaskan bahwa fungsi dari evaporator adalah
sebagai ruang pemanasan air laut hingga sejumlah air laut dapat menjadi air
bersih. Air laut akan masuk ke evaporator dari pipa pengumpan pada laju aliran
massa yang disimbolkan [kg/s]. Kemudian akan terjadi penguapan dengan laju
[kg/s] yang akan mengalir dalam bentuk uap dan masuk ke kondensor.
Sebagai sisanya akan terbentur air garam yang akan keluar dari evaporator dengan
laju [kg/s]. Pada saat terjadi penguapan diperlukan panas untuk menyuplai
panas laten penguapan. Panas ini akan diambil dari elemen pemanas dengan daya
pemanasan Qin. Diagram Aliran pada evaporator ditampilkan pada gambar 2.16

Gambar 2.16 Diagram Aliran Massa pada Evaporator

Penerapan hukum kekekalan massa diberikan oleh persamaan berikut :

() = (2.1)

Dimana V [m3] adalah volume air laut di evaporator, dan [m3/s] laju aliran volume
pada masing-masing sisi masuk dan sisi keluar evaporator. Akibat adanya
penguapan, maka konsentrasi garam di dalam evaporator akan bertambah. Jika
konsentrasi dinyatakan dengan C [%], maka perubahan konsentrasi garam di dalam
tabung evaporator dapat dinyatakan dengan :

() = () () (2.2)

Dimana huruf s menyatakan sea water yang ada di evaporator.

Hukum kekekalan energy pada evaporator dapat didefinisikan sebagai


banyaknya panas yang masuk dikurangi dengan panas yang keluar akan digunakan
untuk menaikkan temperatur fluida di evaporator. Dalam bentuk persamaan berikut
ini:

= ( ) = + ( ) ( ) (2.3)

Pada persamaan ini Cp [J/kg.K] adalah panas jenis.

Laju penguapan (evaporasi) dari air laut di dalam evaporator (dinyatakan


dengan huruf s) ke dalam air murni di kondensor (dinyatakan dengan huruf f )
dapat dirumuskan dengan menggunakan persamaan berikut :

(( )) ( )+
= [( ) ( +273) 0,5 0,5 ] (2.4)
( +273)

Dimana Asurface adalah luas permukaan air yang ada di evaporator. Parameter
adalah koefisien empiric yang diperoleh dengan cara eksperimen, nilainya 107
106 [kg/m2.Pa.s.K0,5] (Bemporad, 1995). Beda tekanan evaporator dan
kondensor disimbolkan dengan . Tekanan uap sebagai fungsi temperatur dapat
dirumuskan dengan persamaan:

() = 100 [63,0427139,6/(+273)6,2558 ln(+273)] [Pa] (2.5)

Pada persamaan (2.4), f (C) adalah faktor koreksi yang dihitung dengan
menggunakan persamaan:

f (C) = 1-1 (2.6)

Dimana 1 = 0,0054 [tanpa dimensi] adalah koefisien empirik. Pada persamaan


(2.4), laju penguapan juga dipengaruhi oleh massa jenis fluida. Sementara massa
jenis juga dipengaruhi oleh konsentrasi dan temperatur fluida, yang dirumuskan
dengan

(, ) = 0 (1 0 + 0 ) (2.7)

Dimana = 5 104 /oC adalah koefisien ekspansi thermal volumetric dan =


8 103 /% adalah koefisien ekspansi larutan (Al-Kharabsheh dan Goswani,
2004).

Panas jenis air laut juga merupakan fungsi dari temperatur dan konsentrasi
yang dapat dirumuskan dengan persamaan (Mamayev, 1975):
(, ) = 4186 [1,0049 0,0162 + 3,5261 104 2 + + 2 ] (2.8)

Konstanta A dan B dirumuskan dengan

= (3,2506 1,4795 + 0,07765 2 ) 104 dan,

= (3,8013 1,2084 + 0,0612 2 ) 106 (2.9)

Laju panas penguapan di evaporator pada persamaan (2.3), dapat dihitung


dengan menggunakan persamaan:

= ( ) (2.10)

Dimana ( ) adalah panas laten penguapan air laut, yang dapat dihitung
dengan persamaan (Incropera dan DeWitt, 1996):

() = 1000 [3146 2,36( + 273)] (2.11)

Untuk pengujian dengan suplai panas konstan, panas hilang dari evaporator dapat
diasumsikan sebagai konveksi natural. Panas hilang diasumsikan dari tiga bagian,
yaitu kerucut (atas), dinding, dan alas evaporator. Setiap bagian memiliki koefisien
konveksi yang berbeda-beda. Panas hilang dari konduksi antara pipa outlet uap ke
pipa kondensor diabaikan karena terdapat insulasi panas yang berbahan karet.

Panas hilang dari alas evaporator ke lingkungan dapat dihitung dengan persamaan:



= 1/ (2.12)

Koefisien perpindahan panas konveksi natural diberikan dengan persamaan:

= 0,270,25 (2.13)

Dengan RaL adalah bilangan tanpa dimensi Rayleigh diberikan dengan:

( )3
= (2.14)

L adalah panjang karakteristik yang dirumuskan dengan:


=
(2.15)
Dimana As dan p masing-masing adalah luas alas evaporator dan keliling
evaporator.

Panas hilang dari sisi dinding diberikan dengan persamaan:


= 1/ (2.16)
2
,

Dimana rins,o dan ls masing-masing merupakan radius dari pusat evaporator ke


permukaan luar dari insulasi dan tinggi evaporator.

Koefisien perpindahan panas konveksi natural dari sisi dinding evaporator


diberikan oleh :

0,670,25

= 0,68 + [1+(0,492/)] 4/9
(2.17)

Bagian atas dari evaporator dibentuk seperti kerucut terpotong dimana dapat
dianggap sevagai plat miring dengan sudut kemiringan . Panas hilang dari bagian
tersebut dapat dihitung dengan rumus:


= 1/ (2.18)

Koefisien perpindahan panas konveksi natural pada bagian atas evaporator dihitung
dengan:

= 0,56( cos )0,25 (2.19)

2.3.2 Analisis Alat Penukar Kalor Tube in Tube

Pada saat air garam turun atau keluar dari evaporator temperaturnya masih
relatif tinggi. Sementara air laut yang baru yang ditarik naik ke evaporator
temperaturnya juga masih relatif rendah. Panas yang terbawa bersama aliran
garam akan diambil kembali (heat recovery) dengan menggunakan sebuah Alat
Penukar Kalor pipa annulus dengan panjang 10,34 m dengan menggunakan sistem
vakum natural yang dimana pada sistem ini ait laut yang terdapat pada wadah
dibawah akan secara alami naik secara perlahan keatas dikarenakan sistem vakum
secara alami yang terjadi, seperti Gambar 2.17 berikut.
Gambar 2.17 Alat Penukar Kalor sebagai Heat Recovery

Perpindahan panas pada alat penukar kalor ini dapat dirumuskan dengan
menggunakan persamaan efektivitas ().

= ( ) (2.20)

Efektivitas untuk APK pipa ganda sepusat dirumuskan dengan

1exp[(1 )]
= 1 (2.21)
exp[(1 )]

Dimana NTU adalah Number of Transfer Unit dan Cr adalah perbandingan


kapasitas panas kedua fluida. Kedua persamaan ini dirumuskan masing-masing
sebagai berikut:


= (2.22)


= (2.23)

Untuk menentukan aliran fluida mana (air laut yang naik atau air garam yang turun)
yang minimum, maka keduanya harus dibandingkan terlebih dahulu.

Perkalian koefisien perpindahan panas menyeluruh dengan luas bidang


perpindahan panas untuk pipa ganda sepusat dapat dihitung dengan menggunakan
persamaan berikut :

1
= 1 ln( / ) 1
(2.24)
+ +
2 0 0
Semua dimensi pada persamaan ini sudah ditampilkan pada gambar 2.17 sementara
untuk koefisien perpindahan panas di luar pipa dalam diantara kedua pipa (annulus)
dapat dihitung dengan metode berikut (Incropera dan DeWitt, 1996).

Jika aliran adalah laminar, yang dinyatakan dengan bilangan Reynolds berikut:

(0 )

= 0,25( 2 2 ) 2300 (2.25)
0

Maka bilangan Nusselt diantara annulus merupakan fungsi perbandingan


diameternya dan dapat dipilih dari table 2.1 berikut ini :

Tabel 2.1 Bilangan Nusselt di dalam pipa annulus aliran laminar

/0 0,05 0,1 0,25 0,5 1


0 17,46 11,56 7,37 5,74 4,86

Tetapi jika aliran adalah turbulent ReD > 2300 maka koefisien di dalam annulus
akan sama dengan di dalam pipa dan persamaan berikut dapat digunakan:


= = 0,0230,8 0,4 (2.26)

Setelah semua parameter ini dihitung, maka temperatur air laut masuk ke
evaporator dapat dihitung.


= + 0 (2.27)
0 0

2.4 Evaporative Cooling

Fenomena yang terjadi pada evaporator untuk mengevaporasikan sejumlah


fluida kerja bukan hanya bergantung pada pemanas air listrik, namun lebih
bergantung pada fenomena evaporative cooling.

Untuk lebih memahami mekanisme evaporative cooling, bayangkan


evaporasi air dari kolam renang ke udara. Asumsikan air dan udara bertemperatur
sama pada kondisi awal. Jika udara bersaturasi (humiditas relatif 100%), maka tidak
akan ada perpindahan panas atau massa selama kondisi isotermal terjadi. Namun
apabila udara tidak bersaturasi (humiditas relatif < 100%), maka akan ada
perbedaan diantara konsentrasi uap air pada lapisan antara uap air dan udara (yang
mana selalu tersaturasi) dan posisi di atas lapisan tersebut (lapisan batas
konsentrasi). Perbedaan konsentrasi adalah gaya penggerak untuk perpindahan
massa, dan oleh karena itu perbedaan konsentrasi ini akan menggerakkan air ke
udara. Akan tetapi air harus berevaporasi terlebih dahulu, dan untuk berevaporasi
air membutuhkan panas laten evaporasi. Pada kondisi awal, seluruh panas
penguapan berasal dari air di dekat lapisan uap air udara karena tidak ada
perbedaan temperatur diantara air dan sekitarnya sehingga tidak mungkin ada
perpindahan panas. Temperatur air yang dekat dengan permukaan harus turun
sebagai akibat kehilangan panas sensibel, dimana juga menurunkan tekanan
saturasi sehingga terbentuk uap air pada lapisan air udara.

Penurunan temperatur ini membentuk perbedaan temperatur pada bagian


atas air dan juga diantara air dan udara sekitarnya. Perbedaan temperatur ini akan
menyebabkan perpindahan panas ke permukaan air dari udara dan bagian lebih
dalam dari air, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.19. Jika laju evaporasi
tinggi dan kebutuhan panas penguapan lebih tinggi daripada jumlah panas yang
dapat disuplai dari bagian bawah air dan sekitarnya, kekurangan panas akan
disuplai oleh panas sensibel air pada permukaan, yang menyebabkan temperatur air
pada permukaan akan jatuh lebih jauh. Fenomena ini akan berlangsung secara
kontinu hingga panas laten penguapan sama dengan laju perpindahan panas ke air
pada permukaan. Saat kondisi tetap tercapai dan temperatur lapisan telah stabil,
keseimbangan energi pada lapisan tipis cairan pada permukaan dapat diberikan
dengan rumus sebagai berikut.

, = , atau = (2.28)

Gambar 2.18 Mekanisme Evaporative Cooling (Yunus A. Cengel, 2002)


2.5 Flat Plate Collectors
Bagian penting dari solar collector, seperti yang ditunjukkan pada Gambar
2.19, adalah permukaan untuk menyerap energi hitam dengan cara untuk
mentransfer energi yang diserap ke fluida yang transparan terhadap radiasi matahari
di atas permukaan penyerap tenaga matahari yang dapat mengurangi kerugian
konveksi dan radiasi ke atmosfer, serta insulasi panas untuk mengurangi kerugian
konduksi. Gambar 2.19 menggambarkan pemanas air, dan sebagian besar analisis
penelitian ini berkaitan dengan geometri ini. Pemanas udara pada dasarnya sama
kecuali tabung fluida diganti dengan duct. Kolektor pelat datar hampir selalu
dipasang pada posisi 00-450 (misalnya, pada dinding rumah atau atap rumah)
dengan orientasi yang dioptimalkan untuk lokasi tertentu yang dipermasalahkan
sepanjang waktu di mana perangkat surya dirancang untuk beroperasi.

Gambar 2.19 Basic Flat-Plate Solar Collector

2.5.1 Energi Balans Kolektor Plat datar

Dalam keadaan steady, kinerja kolektor surya digambarkan dengan


keseimbangan energi yang mengindikasikan distribusi energi matahari yang terjadi
menjadi keuntungan energi yang berguna, thermal losses, dan optical losses.

Q = [ ( )] (2.29)

Dimana S [W/m2] adalah penyerapan radiasi berdasarkan besar kolektor yang


dirumuskan dengan persamaan berikut :

1+cos 1cos
= () + () ( ) + () ( ) (2.30)
2 2

Energy thermal yang hilang dari kolektor secara konduksi, konveksi, dan radiasi
dinyakan sebagai koefisien perpindahan panas UL [W/m2.K] yang berbeda antara
suhu rata-rata plat absorber Tpm dan suhu udara luar Ta, sedangkan Ac adalah luas
area dari solar kolektor itu sendiri.

2.5.2 Koefisien Kehilangan Panas Menyeluruh Kolektor

Koefisien kehilangan panas meyeluruh ini adalah suatu nilai dimana hasil
dari hilangnya panas didalam kolektor akibat efek radiasi matahari yang terjadi
pada atas kolektor, bawah kolektor, dan sisi kolektor. Persamaan yang digunakan
untuk mencari koefisien kehilangan panas menyeluruh ini biasanya menggunakan
metode trial and error, untuk mempermudah perhitungan biasnya seorang
Engineer menggunakan program Bahasa struktur yang dinamakan FORTRAN atau
bisa juga digunakan dalam Excel.

Koefisien kehilangan panas ini dapat diubah menjadi thermal network


dimana energy yang hilang sepanjang kolektor hingga atas akan menghasilkan
konveksi dan radiasi pada plat kolektor, gambar 2.20 adalah thermal network untuk
kolektor berkaca ganda.

Gambar 2.20 Thermal Network kolektor berkaca ganda


Pada penelitian ini hanya akan dibahas kolektor berkaca ganda, untuk
mendapatkan hasil koefisien kehilangan panas menyeluruh Ut [W/m2.0C] pada kaca
kedua kolektor dirumuskan dengan persamaan berikut :
1
1 1 1
= ( + + ) (2.31)
,1 + ,1 ,12 + ,12 + ,2

Koefisien radiasi yang terjadi dari plat ke kaca 1 ,1 [W/m2.0C] adalah:


(2 + 1
2
)( )
,1 =
1 1 (2.32)
+ 1

Sedangkan koefisien radiasi yang terjadi dari kaca 1 ke kaca 2 ,12 [W/m2.0C]
adalah:
2 2 )(
(1 + 2 1 2 )
,12 = (2.33)
1 1
+ 1

Dan yang terakhir untuk koefisien radiasi yang terjadi dari kaca 2 ke udara luar
,2 [W/m2.0C] adalah:
2
(2 + )(2 + 2 )(2 )
,2 = (2.34)
(2 )

Pada koefisien perpindahan panas secara konveksi ,1 , ,12,dan


[W/m2.0C] didapat dengan menghitung bilang Rayleigh terlebih dahulu sesuai
dengan persamaan (2.14) dan untuk data lain dapat dilihat di table sifat udara.
Setelah didapat maka dapat dihitung bilangan Nusselt untuk mendapat nilai
koefisien perpindahan panas secara konveksi yang dirumuskan sebagai berikut :
+
1708(sin 1.8)1,6 1708 + cos 1/3
= 1 + 1.44 [1 ] [1 ] + [( ) 1] (2.35)
cos cos 5830

Setelah bilangan Nusselt lalu daapat bilangan ini dimasukkan kedalam persamaan
berikut :


= (2.36)

untuk kaca 1 dan kaca 2 digunakan persamaan yang sama seperti diatas bedanya
hanya suhu yang diasumsi diawal apabila tidak diketahui suhu rata-rata plat.

Untuk menghitung suhu pada setiap kaca dirumuskan dengan persamaan berikut :
( )
= (2.37)
, + ,

Dimana lambing i dan j bias dibedakan tergantung mana ingin dicari suhunya.
Apabila seluruh suhu dari koletor ini diketahui, maka dapat digunakan persamaan
berikut ini untuk mempermudah perhitugan dari trial and error sebelumnya.

1
1 (2 +2 )( )
= ( ( )
+ ) + 1 2+1+0,133 (2.38)
+
[ (+) ] ++0,00591

Dimana N adalah jumlah kaca dari kolektor, nilai f merupakan faktor koreksi yang
memiliki persamaan berikut:

= (1 + 0,089 0,1166 )(1 + 0,07866) (2.39)

Nilai C merupakan bilangan untuk menyetakan derajat pada kolektor yang


digunakan yang memiliki persamaan sebagai berikut:

= 520(1 0,000051 2 ) (2.40)

Untuk 700 < < 900 makan nilai tetap digunakan 700

Untuk nilai e dirumuskan dengan persamaan berikut :

= 0,430(1 100/ ) (2.41)

Untuk koefisien kehilangan pada sisi kolektor Ub [W/m2.0C] dirumuskan dengan


persamaan berikut:


= (2.42)

Dimana k [W/m.0C] konduktivitas dari insulasi yang digunakan pada kolektor dan
L [mm] adalah tebal dari insulasi bawah kolektor.

Koefisien kehilangan panas pada sisi kolektor dirumuskan dengan persamaan


berikut :

()
= (2.43)

Dan untuk koefisien kehilangan panas menyeluruh dirumuskan dengan persamaan


berikut :

= + + (2.44)
2.5.3 Distribusi Suhu antara Kolektor dan Pipa Pemanas

Untuk mendapatkan nilai faktor efisiensi dan suhu keluar fluida (misalnya:
solar water heater) maka ada beberapa parameter yang akan digunakan untuk
mendapatkan nilai pasti suhu air keluar pada kolektor.


= (2.45)

Dimana k [W/m.0C] adalah konduktivitas thermal dari plat kolektor, dan adalah
tebal plat absorber.

Untuk efisiensinya dirumuskan dengan persamaan berikut :

tanh[()/2]
= (2.46)
()/2

Dimana W adalah spasi antar pipa, dan D adalah diameter dalam pipa.

Efisiensi kolektor didapat dengan persamaan berikut :

1/
= 1 1 1
(2.47)
[ [+()]+ + ]

Dimana Cb [W/m.0C] adalah ikatan konduktivitas yang dirumuskan dengan


persamaan berikut :


= (2.48)

Dimana kb adalah ikatan konduktivitas thermal, b adalah lebar ikatandan adalah


rata-rata tebal ikatan konduktifitas tersebut.

Pada efisiensi kolektor [W/m2.0C] adalah perpindahan panas yang terjadi


didalam pipa pemanas, dari rumus diatas ikatan konduktivitas dapat begitu penting
dalam mendefinisikan keakuratan dari performansi kolektor itu sendiri.

Untuk menentukan suhu air yang keluar dari kolektor dirumuskan dengan
persamaan berikut:

/
= exp ( ) (2.49)
/
2.6 Computational Fluid Dynamics (CFD)

Computational Fluid Dynamics (CFD) adalah suatu cabang dari mekanika


fluida yang menggunakan metode numerik untuk menyelesaikan dan menganalisa
elemen-elemen yang akan disimulasikan. Pada proses ini, komputer diminta untuk
menyelesaikan perhitungan-perhitungan numerik dengan cepat dan akurat. Prinsip
kerja pada CFD adalah model yang akan kita simulasikan berisi fluida akan dibagi
menjadi beberapa bagian atau elemen. Elemen-elemen yang terbagi tersebut
merupakan sebuah kontrol perhitungan yang akan dilakukan oleh software
selanjutnya elemen diberi batasan domain dan boundry condition. Prinsip ini lah
yang banyak digunakan pada proses perhitungan dengan menggunakan bantuan
komputasi.

2.6.1 Penggunaan CFD

CFD dalam aplikasinya dipergunakan diberbagai bidang antara lain :

1. Pada bidang teknik

a. Mendesain ruang atau lingkungan yang aman dan nyaman.

b. Mendesain aerodinamis kendaraan agar menghemat konsumsi bahan


bakar.

c. Mendesain performa pembakaran pada piston kendaraan.

2. Pada bidang olahraga

a. Menghitung kekuatan dan kecepatan pada tiap cara tendangan pada


sepakbola.

b. Menganalisa aerodinamis pada sepatu bola.

3. Pada bidang kedokteran.

a. Menganalisa peredaran udara pada pasien yang mengalami penyakit


sinusitis

2.6.2 Manfaat CFD

Terdapat tiga hal yang menjadi alasan kuat menggunakan CFD, yakni :

1. Insight-Pemahaman mendalam
Ketika melakukan desain pada sebuah sistem atau alat yang sulit untuk
dibuat prototype-nya atau sulit untuk dilakukan pengujian, analisis CFD
memungkinkan untuk menyelinap masuk secara virtual ke dalam alat/sistem yang
akan dirancang tersebut.

2. Foresight-Prediksi menyeluruh

CFD adalah alat untuk memperidiksi apa yang akan terjadi pada alat/sistem,
dan CFD dapat mengubah-ubah kondisi batas (variasi kondisi batas).

3. Efficiency-Efisiensi waktu dan biaya

Foresight yang diperoleh dari CFD sangat membantu untuk mendesain


lebih cepat dan hemat uang. Analisis/simulasi CFD akan memperpendek waktu
riset dan desain sehingga juga akan mempercepat produk untuk sampai pasaran.

2.6.3 Metode Diskritisasi CFD

Secara matematis CFD mengganti persamaan-persamaan diferensial parsial


dari kontinuitas, momentum dan energi dengan persamaan-persamaan aljabar
linear.CFD merupakan pendekatan dari persoalan yang asalnya kontinum
(memiliki jumlah sel tak terhingga) menjadi model yang diskrit (jumlah sel
terhingga).

Perhitungan/komputasi aljabar untuk memecahkan persamaan-persamaan


diferensial parsial ini ada beberapa metode (metode diskritisasi), diantaranya adalah
sebagai berikut :

1. Finite Volume Method (FVM)

Metode ini adalah pendekatan yang umum digunakan dalam CFD,


persamaan yang mengatur diselesaikan melalui volume kontrol diskrit. Metode
volume terbatas menyusun kembali persamaan diferensial parsial yang mengatur
(biasanya persamaan Navier-Stokes) dalam bentuk konservatif, dan kemudian
discretize persamaan baru.

2. Finite Element Method (FEM)

Digunakan dalam analisis struktural dari padatan, tetapi juga berlaku untuk
cairan. Namun, formulasi FEM membutuhkan perawatan khusus untuk memastikan
solusi konservatif. Perumusan FEM telah diadaptasi untuk digunakan dengan
dinamika fluida yang mengatur persamaan.Meskipun FEM harus hati-hati
dirumuskan untuk menjadi konservatif, jauh lebih stabil dibandingkan dengan
pendekatan volume terbatas.

3. Finite Difference Method (FDM)

Memiliki sejarah penting dan sederhana untuk program. Hal ini hanya
digunakan dalam beberapa kode khusus. Modern Kode beda hingga menggunakan
sebuah batas tertanam untuk menangani geometri yang kompleks, membuat
kodekode yang sangat efisien dan akurat. Cara lain untuk menangani geometri
termasuk penggunaan tumpang tindih grid, dimana solusinya adalah interpolated di
jaringan masing-masing.

Metode diskritisasi yang dipilih umumnya menentukan kestabilan dari


program numerik/CFD yang dibuat atau program software yang ada. Oleh
karenanya, diperlukan kehati-hatian dalam cara mendiskritkan model khususnya
cara mengatasi bagian yang kosong atau diskontinu.