Anda di halaman 1dari 33

Masalah Gizi Balita dan Ibu Hamil Menyusui

dalam Masyarakat

Andreas Esa

102010298/C8

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA

Pendahuluan

Masalah gizi di Indonesia yang terbanyak meliputi gizi kurang atau yang mencakup susunan
hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhan yang tidak mencukupi
kebutuhan badan. Anak balita (dibawah usia 5 tahun) merupakan kelompok umur paling
sering menderita akibat kekurangan gizi atau termasuk salah satu kelompok masyarakat yang
rentan gizi. Gizi Buruk merupakan suatu kondisi dimana seseorang dinyatakan kekurangan
nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi
yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang
Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita.
Upaya penanggulangan masalah gizi terutama difokuskan pada ibu hamil, bayi, dan anak
balita, karena mereka ini adalah golongan rawan yang paling rentan terhadap kekurangan gizi
serta besarnya dampak yang dapat ditimbulkan. Masalah gizi bukan hanya masalah
kesehatan, tetapi menyangkut masalah sosial ekonomi, dan perilaku masyarakat. Dengan
demikian, upaya penanggulangan masalah gizi harus dilakukan secara sinergis meliputi
berbagai bidang seperti pertanian, pendidikan dan ekonomi dengan fokus pada kelompok
miskin. Perhatikan gambar 1. 1

Alamat Korespondensi : Universitas Kristen Krida Wacana Fakultas Kedokteran (Kampus II) Jl. Terusan Arjuna No. 6, Jakarta
Barat ; Website : www.ukrida.ac.id ; NIM : 102010298; Email : andreasesa@yahoo.com

1
Program KIA Program Gizi

PUSKESMAS

Peran serta Kasus gizi pada


balita, ibu hamil, dan Posyandu
masyarakat
ibu menyusui

Surveilans gizi Rujukan


Promosi
Kesehatan

Gambar 1. Mind Map Skenario 9

Faktor Penyebab Masalah Gizi

Ada dua faktor penyebab terjadinya gizi buruk, yaitu:2

1. Penyebab langsung
a. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang.
Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu ASI, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak
mendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya
akan berakibat terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup
mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam
folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat
disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan
yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak
memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan. Faktor sosial: yang dimaksud
disini adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi
pertumbuhan anak. Sehingga banyak balita yang diberi makan sekedarnya atau asal
kenyang padahal miskin gizi.
b. Sering sakit menjadi penyebab terpenting kekurangan gizi, apalagi di negara-negara
terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan

2
kebersihan/personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit
tertentu, khususnya infeksi kronik seperti TBC masih sangat tinggi.
Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan,
karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan
menyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak
buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Tak dapat
dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi. Infeksi sekecil
apapun berpengaruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin
memperlemah daya tahan tubuh yang pada giliran berikutnya akan mempermudah
masuknya beragam penyakit.
2. Penyebab tidak langsung
a. Ketersediaan pangan rumah tangga
Tidak tersedianya makanan secara adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial
ekonomi. Kadang-kadang bencana alam, perang maupun kebijakan politik maupun
ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat
identik dengan tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain
menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dengan kemiskinan.
Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak
malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk,
makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi. Kemiskinan sering dituding sebagai
biang keladi munculnya penyakit ini di negara-negara berkembang. Rendahnya
pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar yaitu pangan pun
sering tidak bisa terpenuhi. Laju pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan
bertambahnya ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Inipun
menjadi penyebab munculnya penyakit kurang gizi.
b. Pola pengasuhan anak
Berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih
sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat
posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat.
Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya
sebagian anak yang gizinya buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga
miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk
mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan
anak menderita gizi buruk.

3
c. Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan/ adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak
benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak. Misalnya kebiasaan
memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini,
berpantang pada makanan tertentu (misalnya tidak memberikan anak-anak daging,
telur, santan dll), hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapatkan asupan
lemak, protein maupun kalori yang cukup. Perhatikan gambar 2.

Gambar 2. Penyebab kurang gizi (sumber: Surveilans Gizi)

Gizi Klinik dan Gizi Masyarakat


Dilihat dari segi sifatnya ilmu gizi dibedakan menjadi dua, yakni gizi yang berkaitan dengan
kesehatan perorangan yang disebut gizi kesehatan perorangan dan gizi yang berkaitan dengan
kesehatan masyarakat yang disebut gizi kesehatan masyarakat (public health nutrion). Kedua
sifat keilmuan ini akhirnya masing-masing berkembang menjadi cabang ilmu sendiri, yakni
cabang ilmu gizi kesehatan perorangan atau disebut gizi klinik (clinical nutrition) dan cabang
ilmu gizi kesehatan masyarakat atau gizi masyarakat (community nutrition).
Kedua cabang ilmu gizi ini dibedakan berdasarkan hakikat masalahnya. Gizi klinik berkaitan
dengan masalah gizi pada individu yang sedang menderita gangguan kesehatan akibat
kekurangan atau kelebihan gizi. Oleh sebab itu, sifat dari gizi klinik adalah lebih

4
menitikberatkan pada kuratif daripada preventif dan promotifnya. Sedangkan gizi masyarakat
berkaitan dengan gangguan gizi pada kelompok masyarakat, oleh sebab itu, sifat dari gizi
masyarakat lebih ditekankan pada pencegahan (prevensi) dan peningkatan (promosi).
Oleh karena sifat kedua keilmuan ini berbeda, maka akan menyebabkan perbedaan jenis
profesi yang menangani kedua pokok masalah terebut. Gizi klinik berurusan dengan masalah
klinis pada individu yang mengalami gangguan gizi, maka profesi kedokteranlah yang lebih
tepat untuk menanganinya. Sebaliknya gizi masyarakat yang berurutan gangguan gizi pada
masyarakat, dimana masyarakat mempunyai aspek yang sangat luas, maka penanganannya
harus secara multisektor dan mutidisiplin. Profesi dokter saja belum cukup untuk menangani
masalah gizi masyarakat.
Masalah gizi masyarakat bukan menyangkut aspek kesehatan saja, melainkan aspek-aspek
terkait yang lain, seperti ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, kependudukan, dan sebagainya.
Oleh sebab itu, penanganan atau perbaikan gizi sebagai upaya terapi tidak hanya diarahkan
kepada gangguan gizi atau kesehatan saja, melainkan juga ke arah bidang-bidang yang lain.
Misalnya penyakit gizi KKP (Kekurangan kalori dan protein) pada anak-anak balit, tidak
cukup dengan hanya pemberian makanan tambahan saja (PMT),tetapi juga dilakukan
perbaikan ekonomi keluarga, peningkatan. Pengetahuan, dan sebagainya.

Kelompok Rentan Gizi


Kelompok rentan gizi adalah suatu kelompok di dalam masyarakat yang paling mudah
menderita gangguan kesehatannya atau rentan karena kekurangan gizi. Biasanya kelompok
rentan gizi ini berhubungan dengan proses kehidupan manusia, oleh sebab itu, kelompok ini
terdiri dari kelompok umur tertentu dalam siklus kehidupan manusia. Pada kelompok-
kelompok umur tersebut berada pada suatu siklus pertumbuhan atau perkembangan yang
memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah yang lebih besar dari kelompok umur lain. Oleh sebab
itu, apabila kekurangan zat gizi maka akan terjadi gangguan gizi atau kesehatannya.
Kelompok-kelompok rentan gizi ini terdiri dari :
a) Kelompok Bayi, umur 0-1 tahun.
Di dalam siklus kehidupan manusia, bayi berada di dalam masa pertumbuhan dan
perkembangan paling pesat. Bayi yang dilahirkan dengan sehat, pada umur enam
bulan akan mencapai pertumbuhan atau berat badan dua kali lipat dari berat badan
pada waktu dilahirkan. Untuk pertumbuhan bayi dengan baik zat-zat gizi yang sangat
dibutuhkan ialah :
a. Protein , dibutuhkan 2-4 gram/ kilogram berat badan

5
b. Calcium
c. Vitamin D, tetapi karena Indonesia berada di daerah tropis, maka hal ini tidak
begitu jadi masalah
d. Vitamin A dan K
e. Fe (zat besi) diperlukan, karena di dalam proses kelahiran sebagian Fe ikut
terbuang.
b) Kelompok di Bawah Lima Tahun (Balita) , umur 1-5 tahun
Anak balita juga merupakan kelompok umur yang rawan gizi dan rawan penyakit.
Kelompok ini merupakan kelompok umur yang paling menderita akibat gizi (KKP),
dan jumlahnya dalam populasi besar. Hal ini disebabkan karena anak balita sudah
mulai bermain dengan hal-hal yang kotor misalnya tanah, anak balita juga merupakan
masa transisi makanan dari makanan bayi ke makanan anak dewasa. Dengan adanya
Posyandu , yang sasaran utamanya adalah anak balita sangat tepat untuk
meningkatkan gizi dan kesehatan anak balita.
c) Kelompok Anak Sekolah, umur 6-12 tahun
Pada umumnya kelompok umur ini mempunyai kesehatan yang lebih baik
dibandingkan dengan kesehatan anak balita. Masalah-masalah yang timbul pada
kelompok ini antara lain : berat badan rendah, defisiensi Fe (kurang darah), dan
defisiensi vitamin E. Masalah ini timbul karena pada umur-umur ini anak sangat aktif
bermain dan banyak kegiatan, baik di sekolah maupun di lingkungan rumahnya. Di
pihak lain anak kelompok ini kadang-kadang nafsu makanan mereka menurun,
sehingga konsumsi makanan tidak seimbang dengan kalori yang diperlukan.
d) Kelompok Remaja, umur 13-20 tahun
Pertumbuhan anak remaja pada umur ini juga sangat pesat, kemudian juga kegiatan-
kegiatan jasmani termasuk olah raga juga pada kondisi puncaknya. Oleh sebab itu,
apabila konsumsi makanan tidak seimbang dengan kebutuhan kalori untuk
pertumbuhan dan kegiatan-kegiatannya, maka akan terjadi defisiensi yang akhirnya
dapat menghambat pertumbuhannya. Pada anak remaja putrid mulai terjadi menarche
( awal menstruasi ), yang berarti mulai terjadi pembuangan Fe. Oleh sebab itu, kalau
konsumsi makanan, khususnya Fe maka akan terjadi kekurangan Fe.
e) Kelompok Ibu Hamil
Ibu hamil sebenarnya juga berhubungan dengan proses pertumbuhan, yaitu
pertumbuhan janin yang dikandungnya dan pertumbuhan berbagai organ tubuhnya
sebagai pendukung proses kehamilan tersebut, misalnya payudara. Untuk

6
mendunkung berbagai proses pertumbuhan ini, maka kebutuhan makanan sebagai
sumber energi juga meningkat.
Apabila kebutuhan kalori, protein, vitamin dan mineral yang meningkat ini tidak
dapat dipenuhi melalui konsumsi makanan oleh ibu hamil, akan terjadi kekurangan
gizi. Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat berakibat :
Berat badan bayi pada waktu lahir rendah atau sering disebut Berat Badan
Bayi Rendah (BBLR).
Kelahiran prematur (lahir belum cukup umur kehamilan)
Lahir dengan berbagai kesulitan, dan lahir mati.
f) Kelompok Ibu Menyusui
Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan utama bayi oleh sebab itu, maka untuk menjamin
kecukupan ASI bagi bayi, makanan ibu yang sedang menyusui harus diperhatikan.
Dalam batas-batas tertentu kebutuhan bayi akan zat-zat gizi ini diambil dari tubuh
ibunya, tanpa menghiraukan apakah ibunya mempunyai persediaan cukup atau tidak.
Apabila konsumsi makanan ibu tidak mencukupi, zat-zat dalam ASI akan
terpengaruh. Khusus untuk protein , meskipun konsumsi ibu tidak mencukupi , ASI
akan tetap memberikan jatah yang diperlukan oleh anaknya dengan mengambil
jaringan ibunya, akibatnya ibu menjadi kurus. Bila konsumsi Ca ibu yang berkurang,
Ca akan diambil dari cadangan Ca jaringan ibunya, sehingga memberikan
osteoporosis dan kerusakkan gigi ( caries dentist).
g) Kelompok Usila ( Usia Lanjut)
Keperluan energi pada usila secara kuantitas sudah menurun, oleh sebab itu ,
konsumsi makanan untuk Usila secara kuantitas tidak sama dengan pada kelompok
rentan yang lain. Yang penting disini kualitas makanan dalam arti keseimbangan zat
gizi harus dijaga. Kegemukan pada usila sangat merugikan usila itu sendiri. Karena
merupakan risiko untuk berbagai penyakit, seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan
sebagainya.2

Masalah Gizi di Indonesia


Masalah gizi adalah gangguan kesehatan seseorang atau masyarakat yang disebabkan oleh
tidak seimbangnya pemenuhan kebutuhannya akan zat gizi yang diperoleh dari makanan.
Masalah gizi atau malnutrisi, dibagi dalam dua kelompok yaitu masalah gizi-kurang (under

7
nutrition) dan masalah gizi-lebih (over nutrition), baik berupa masalah gizi-makro ataupun
gizi-mikro.2
Masalah gizi makro, terutama Masalah kurang energi dan protein (KEP), telah mendominasi
perhatian para pakar masalah gizi selama puluhan tahun. Pada tahun 1980-an data dari
lapangan di banyak negara menunjukkan bahwa masalah gizi utama bukan kurang protein,
tetapi lebih banyak karena kurang energi atau kombinasi kurang energi dan protein. Bayi
sampai anak berusia lima tahun, yang lazim disebut balita, dalam ilmu gizi dikelompokkan
sebagai golongan penduduk yang rawan terhadap kekurangan gizi termasuk KEP.2
Masalah gizi lainnya yang cukup penting adalah masalah gizi mikro, terutama untuk kurang
vitamin A, kurang yodium, dan kurang zat besi. Meskipun berdasarkan hasil survei nasional
tahun 1992 Indonesia dinyatakan telah bebas dari xerophthalmia, masih 50 persen dari balita
mempunyai serum retinol <20 mcg/100 ml, yang berarti memiliki risiko tinggi untuk
munculnya kembali kasus xeropthalmia. Sementara prevalensi gangguan akibat kurang
yodium (GAKY) pada anak usia sekolah di Indonesia adalah 30 persen pada tahun 1980 dan
menurun menjadi 9,8 persen pada tahun 1998.2,3
Masalah gizi dihubungkan dengan:
1. Faktor dan penyebab masalah gizi (agent): kekurangan atau kelebihan zat gizi, asupan
makanan dan penyakit yang dapat mempengaruhi status gizi serta faktor-faktor yang
berkaitan.
2. Faktor yang ada pada pejamu (host): karakteristik individu yang ada kaitannya dengan
masalah gizi (umur, jenis kelamin, suku bangsa, dll).
3. Faktor yang ada di lingkungan pejamu (environment): lingkungan (rumah, pekerjaan,
pergaulan) yang ada kaitannya dengan masalah gizi. 4,5

Gizi Buruk dan Pembagiannya


Kriteria anak dengan gizi buruk adalah sebagai berikut:1
1. Gizi buruk tanpa komplikasi:
a. BB/TB < -3 SD,
b. Terlihat sangat kurus,
c. Adanya edema, dan atau
d. LiLA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan.
2. Gizi buruk dengan komplikasi:
Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah satu atau lebih dari tanda
komplikasi medis berikut:

8
a. Anoreksia
b. Pneumonia berat
c. Anemia berat
d. Dehidrasi berat
e. Demam sangat tinggi
f. Penurunan kesadaran.

Perhatikan tabel 1, gambar 3 dan 4.

Tabel 1. Penentuan Status Gizi Secara Klinis dan Antoprometri (BB/TB-PB) 6


Klinis Antoprometri (BB/TB-PB)
Gizi buruk Tampak sangat kurus dan < -3 SD
atau edema pada kedua
punggung kaki sampai
seluruh tubuh
Gizi kurang Tampak kurus -3 SD - < -2 SD
Gizi baik Tampak sehat - 2 SD 2 SD
Gizi lebih Tampak gemuk > 2 SD

9
Gambar 3. Alur Pemeriksaan Anak Gizi buruk (sumber: Bagan Tatalaksana Anak Gizi
Buruk)

Gambar 4. Alur Pelayanan Anak Gizi Buruk di Rumah Sakit/ Puskesmas Perawatan (sumber:
Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk)

10
Gizi buruk sendiri bisa di klasifikasikan menjadi tiga tipe yaitu marasmus, kwashiorkor, dan
marasmus-kwashiorkor, berikut penjelasan lebih lanjut:7

1. Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul
diantaranya muka seperti orang tua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit
(kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit,
gangguan pencernaan, (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak
sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar.
2. Kwashiorkor, penampilannya seperti anak gemuk (suger baby), bilamana dietnya
mengandung cukup energi disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh
lainnya terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi. Tampak sangat kurus dan atau edema
pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh. Gejala yang tampak adalah:
a. Perubahan status mental: cengeng, rewel, kadang apatis
b. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut, pada
penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala yang kusam.
c. Wajah membulat dan sembab.
d. Pandangan mata anak sayu.
e. Pembesaran hati sehingga mudah teraba dan terasa kenyal, permukaan licin dan pinggir
tajam.
f. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah menjadi coklat
kehitaman dan terkelupas.
3. Marasmus-kwashiorkor, gejala klinisnya merupakan campuran dari beberapa gejala klinis
kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung protein dan
juga energy untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian, disamping
menurunnya berat badan < 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor
seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, dan kelainan biokimiawi.

Puskesmas

Puskesmas ( Pusat Kesehatan Masyarakat ) adalah suatu unit pelaksana fungsional yang
berfungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan,pusat pembinaan peran serta masyarakat
dalam bidang kesehatan, serta pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama yang
menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh,terpadu, dan berkesinambungan pada
suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu wilayah tertentu.

11
Para ahli mendefinisikan puskesmas sesuai dengan perkembangan dan tuntutan pelayanan
kesehatan, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Azrul Azwar (1980)

Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan


pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu wilayah kerja tertentu
dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok.

2. Departemen Kesehatan RI (1981)

Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan yang langsung memberikan


pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terintegrasi kepada masyarakat di
wilayah kerja tertentu dalam usaha-usaha kesehatan pokok.

3. Departemen Kesehatan RI (1987)

Puskesmas adalah sebagai pusat pembangunan kesehatan yang berfungsi


mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat serta menyelenggarakan
pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat dengan masyarakat dalam bentuk kegiatan
pokok yang menyeluruh dan terpadu di wilayah kerjanya.

4. Departemen Kesehatan RI (1991)

Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang merupakan


pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta
masyarakat dalam memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu di wilayah
kerjanya dalam bentuk kegiatan pokok.

Fungsi Puskesmas

Ada tiga fungsi pokok Puskesmas, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat di wilayahnya.

2. Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan


kemampuan untuk hidup sehat.

3. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat


di wilayah kerjanya.

12
Proses dalam melaksanakan fungsinya dilakukan dengan cara :

1. Merangsang mayarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka


menolong dirinya sendiri.

2. Memberikan petunjuk kepada masyarakat bagaimana menggali dan menggunakan


sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.

3. Member bantuan yang bersifat bimbingan teknik materi dan rujukan medis maupun
rujukan kesehatan kepada masyarakat.

4. Memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat

5. Bekerja sama dengan sektor-sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan program


puskesmas.

Visi

Gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan
pusat kesehatan adalah sebagai berikut :

1. Masyarakat hidup dalam lingkungan dan perilaku hidup sehat.

2. Memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermnutu secara


adil dan merata

3. Memiliki derajat kesehatan setinggi-tingginya di seluruh wilayah Republik Indonesia

Misi

Misi puskesmas sebagai pusat pengembangan kesehatan yang dapat dilakukan melalui
berbagai upaya diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Meluaskan jangkauan pelayanan kesehatan sampai ke desa-desa.

2. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan

3. Mengadakan peralatan dan obat-obatan yang disesuaikan dengan kebutuhan


masyarakat.

4. Mengembangkan pembangunan kesehatan masyarakat desa (PKMD).

13
Kegiatan Pokok Puskesmas

Usaha pokok sangat bergantung pada faktor tenaga, sarana dan prasarana, biaya yang
tersedia, serta kemampuan manajemen dari tiap-tiap puskesmas. Berikut ini adalah kegiatan
pokok puskesmas :

1. Upaya kesehatan Ibu dan anak

a. Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu melahirkan, ibu menyusui, bayi, anak
balita, dan anak pra-sekolah.

b. Memberikan nasihat tentang makanan guna mencegah gizi buruk.

c. Imunisasi

d. Pemberian nasihat mengenai perkembangan anak dan cara menstimulasinya.

e. Pengobatan bagi ibu, bayi, anak balita, dan anal pra-sekolah untuk penyakit ringan

2. Upaya keluarga berencana

a. Mengadakan kursus keluarga bencana untuk para ibu dan calon ibu yang
mengunjungi KIA

b. Mengadakan kursus keluarga berencana kepada dukun yang kemudian akan


bekerja sebagai penggerak calon peserta keluarga berencana

c. Memasang IUD, cara-cara penggunaan pil, dan kondom dengan memberi


sarananya.

3. Upaya perbaikan gizi

a. Mengenali penderita-penderita kekurangan gizi

b. Mengembangkan program perbaikan gizi

c. Memberikan pendidikan gizi kepada masyarakat

4. Upaya kesehatan lingkungan

Kegiatan-kegiatan utama yang dilakukan staf puskesmas di antaranya adalah :

a. Penyehatan air bersih

14
b. Penyehatan pembuangan kotoran

c. Penyehatan lingkungan perumahan

d. Penyehatan air buangan/ limbah

e. Pengawasan sanitasi tempat umum

f. Penyehatan makanan dan minuman

g. Pelaksanaan peraturan perundangan

5. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

a. Mengumpulkan dan menganalisis data penyakit

b. Melaporkan kasus penyakit menular

c. Menyelidiki benar atau tidaknya laporan yang masuk

d. Tindakan permulaaan untuk menahan penyakit menular

e. Menyembuhkan penderita, hingga tidak lagi menjadi sumber infeksi

f. Pemberian imunisasi

g. Pemberantasan vector

h. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat

6. Upaya pengobatan

a. Melaksanakan diagnosis sedini mungkin melalui pengkajian riwayat penyakit,


mengadakan pemeriksaan fisik, mengadakan pemeriksaan laboratorium, dan
membuat diagnose.

b. Melaksanakan tindakan pengobatan

c. Melakukan upaya rujukan

7. Upaya penyuluhan kesehatan masyarakat

15
a. Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan oleh petugas di klinik, rumah, dan
kelompok-kelompok masyarakat

b. Ditingkat puskesmas tidak ada petugas penyuluhan tersendiri, tetapi ditingkat


kebupaten diadakan tenaga-tenaga coordinator penyuluhan kesehatan. 8,9

Tabel 2. Program Pokok Puskesmas

Program pokok Kegiatan Indikator

Promosi Kesehatan Promosi hidup bersih dan sehat Perbaikan kesehatan


(PHBS)
Kesehatan Penyehatan pemukiman Perbaikan lingkungan
lingkungan
KIA ANC K4
MTBS (Manajemen Cakupan MTBS
Terpadu Balita Sakit)
KB Cakupan KB
Imunisasi Cakupan imunisasi

Pemberantasan Diare, ISPA, Malaria, TB Kesembuhan


Penyakit Menular
(P2M)
Pengobatan Medik dasar Jumlah kasus
Lab sederhana Cakupan pelayanan
UGD Jumlah pemeriksaan

Gizi Distribusi Vit.A/ Fe/ Yod Cakupan pemberian


Vit.A, Fe, dan Yodium
PSG (penilaian status gizi) % kurang gizi/gizi
Promosi gizi buruk
Kualitas pelayanan Jaga mutu, provider, konsumen Tingkat kepatuhan,
kesehatan kepuasan pasien

Upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diselenggarakan Puskesmas bersifat

16
holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan. Misi ini berkaitan erat dengan
program yang dilaksanakan Puskesmas. Pada era desentralisasi ini, program Puskesmas
dibedakan menjadi program kesehatan dasar dan program kesehatan pengembangan.

Program kesehatan dasar adalah program minimal yang harus dilaksanakan oleh tiap
Puskesmas yang dikemas dalam basic six, yaitu :

1. Promosi Kesehatan (Promkes)


a. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
b. Sosialisasi Program Kesehatan
c. Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas)
2. Kesehatan Lingkungan (Kesling)
3. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) termasuk Keluarga Berencana (KB)
4. Perbaikan Gizi
5. Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)
6. Pengobatan
Sesuai dengan skenario mengenai masalah gizi masyarakat, maka program pokok puskesmas
yang akan dibahas adalah program KIA dan gizi masyarakat. Tujuan umum puskesmas dalam
program kesehatan ibu dan anak (KIA) adalah menurunkan kematian (mortality) dan
kejadian sakit (morbidity) di kalangan ibu, dengan cara menjaga kesehatan ibu selama
kehamilan, pada saat bersalin dan saat ibu menyusui. Selain itu meningkatkan derajat
kesehatan anak, melalui pemantauan status gizi dan pencegahan sedini mungkin berbagai
penyakit menular yang dapat diegah dengan imunisasi dasar sehingga anak dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal. Perhatikan gambar 5.

17
Gambar 5 Jadwal Imunisasi Anak Umur 0 18 tahun (sumber: http://idai.or.id/public-
articles/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-anak-idai.html)

Yang menjadi sasaran program KIA adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak sampai
dengan umur 5 tahun. Kelompok-kelompok masyarakat ini sasaran primer program. Sasaran
sekunder adalah dukun bersalin dan kader kesehatan. Jumlah sasaran ibu hamil dan anak
ditetapkan melalui dua cara: pendekatan langsung, perkiraan (estimasi) dan pendekatan
tidak langsung. Pendataan langsung dilakukan oleh staf Puskesmas, baik dengan metode
survei maupun menggunakan kader sebagai informan. Cara estimasi ditetapkan berdasarkan
hasil perkalian angka standar. Angka ini ditetapkan dalam bentuk persentase oleh Depkes
Pusat, berdasarkan proporsi kelompok penduduk dibandingkan dengan jumlah seluruh
penduduk di suatu wilayah.

Menghitung penduduk sasaran KIA secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
menghitung jumlah PUS (pasangan usia subur) berdasarkan catatan PLKB (petugas lapangan
keluarga berencana) yang melakukan survei PUS setiap tahun di wilayah kerjanya. Dari
jumlah PUS ini akan diketahui berapa yang menjadi akseptor KB dan berapa yang tidak
memakainya karena ingin hamil atau sedang hamil. Yang hamil dijadikan penduduk sasaran
KIA dan yang belum hamil karena menghadapi masalah infertilitas juga perlu dilayani
dengan menyediakan pelayanan kesehatan yang berbeda. Dari ibu hamil akan ada bayi lahir,
baik lahir mati, BBLR, dan lahir dengan berat badan normal, dan ditolong oleh tenaga terlatih
atau bukan. Jumlah bayi yang lahir hidup secara kumulatif akan menjadi sasaran Posyandu
untuk diimunisasi dan ditimbang secara rutin berat badannya sampai umur lima tahun. Ibu-
ibunya akan menjadi sasaran pelayanan konseling pascapersalinan.

Kegiatan KIA terdiri dari kegiatan pokok dan integratif. Kegiatan integratif adalah kegiatan
program lain yang dilaksanakan pada program KIA karena sasaran penduduk program lain
tersebut juga menjadi sasaran program KIA. Kegiatan pokok pada program KIA adalah:

1. Memeriksa kesehatan ibu hamil (ANC).


2. Mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak-anak balita, integrasi dengan program
gizi.
3. Memberikan nasihat tentang makanan, mencegah timbulnya masalah gizi karena
kekurangan protein dan kalori dan memperkenalkan jenis makanan tambahan (vitamin dan
garam yodium). Integrasi program PKM (konseling) dan gizi.
4. Memberikan pelayanan KB kepada pasangan usia subur.

18
5. Merujuk ibu-ibu atau anak-anak yang memerlukan pengobatan.
6. Memberikan pertolongan persalinan dan bimbingan selama masa nifas.
7. Mengadakan latihan untuk dukun bersalin dan kader kesehatan Posyandu.

Masalah gizi masih cukup rawan di beberapa wilayah Indonesia terutama di wiliyah
pemukiman kumuh di daerah perkotaan. Wilayah yang sering dilanda musim kering, yaitu
NTB dan NTT. Tujuan dari program gizi di Puskesmas adalah untuk meningkatkan status
gizi masyarakat melalui usaha pemantauan status gizi kelompok-kelompok masyarakat yang
mempunyai risiko tinggi (ibu hamil dan balita), pemberian makanan tambahan (PMT) baik
yang bersifat penyuluhan maupun pemulihan. Sasarannya adalah ibu hamil, ibu menyusui
dan anak-anak dibawah usia lima tahun. Selain itu penduduk yang tinggal di daerah rawan
pangan perlu mendapat perhatian Puskesmas.

Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas dalam program gizi ini adalah sebagai
berikut:

1. Menimbang berat badan balita untuk memantau pertumbuhan anak. dilakukan secara rutin
setiap bulan, baik di Puskesmas maupun di pos timbang/posyandu. Indicator keberhasilan
pemantauan status gizi balita digunakan SKDN yang ditulis di buku KMS (kartu menuju
sehat).
S= jumlah semua balita; K= anak yang mempunyai KMS; D= balita yang datang teratur
ke tempat penimbangan; N= balita yang datang teratur dan BB naik.
2. Pemeriksaan HB dan BB pada ibu hamil secara rutin. Kunjungan ibu hamil ke Puskesmas
untuk ANC dilakukan minimal 4 kali sepanjang kehamilannya.
3. Pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita yang kurang gizi. PMT penyuluhan
dilakukan melalui demonstrasi pemilihan bahan makanan yang bergizi dan cara
memasaknya. PMT pemulihan dilakukan memalui pemberian makanan yang sifatnya
suplementasi (vitamin A, sulfas ferrosus, susu, dan sebagainya).
4. Memberikan penyuluhan gizi kepada masyarakat. Kegiatan gizi diintegrasikan ke dalam
program KIA baik di gedung Puskesmas maupun di Posyandu.
5. Pembagian vitamin A untuk bayi 2x setahun, suplemen tablet besi untuk ibu hamil yang
datang ke Puskesmas untuk ANC dan pemberian obat cacing untuk anak yang kurang gizi
karena gangguan parasit cacing.

Kartu Menuju Sehat (KMS) merupakan salah satu parameter penting untuk menilai tumbuh
kembang balita. Perhatikan gambar 6.

19
Gambar 6. Kartu Menuju Sehat

(sumber:http://tumbuhsehat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=156&Ite
mid=77%5B;%5B'%5Du)

Dari gambar tersebut dapat dilihat di bagian samping terdapat identitas dan nama posyandu
tempat kontrol. Di bagian berikutnya terdapat grafik umur terhadap berat badan. Di bagian
dalam KMS terdapat grafik untuk anak berumur 0-24 bulan, dan di bagian luarnya terdapat
grafik untuk umur 24-60 bulan. Di bawah grafik terdapat pula berbagai ilustrasi tentang
proses tumbuh kembang anak yang normal.

Grafik pertumbuhan yang optimal adalah apabila dari pencatatan setiap bulan diperoleh berat
badan yang terus meningkat dan tetap berada dalam zona hijau. Zona kuning menandakan
orang tua harus waspada dengan pertumbuhan balitanya. Zona kuning yang di bawah
menunjukkan berat badan anak kurang dari berat badan rata-rata anak seusianya. Sedangkan
zona kuning yang di atas menunjukkan berat badan anak lebih dari berat badan rata-rata anak
seusianya. Berat anak yang terlalu rendah sampai memotong garis merah (BGM = bawah
garis merah) harus dikonsultasikan ke petugas kesehatan. Demikian pula dengan anak yang
berat badannya tidak naik dalam kurun waktu 2 bulan. Berat badan yang melampaui zona
kuning atas juga tidak baik karena hal ini dapat menunjukkan anak mengalami obesitas atau
mengindikasikan gangguan kecepatan pertumbuhan.10

20
Salah satu penanggulangan yang dapat dilakukan oleh Puskesmas dalam menangani gizi
buruk pada balita adalah pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan. PMT pemulihan
bagi anak usia 6-59 bulan dimaksudkan sebagai tambahan, bukan sebagai pengganti makanan
utama sehari-hari. Sasaran prioritas dari PMT pemulihan ini adalah balita gizi kurang atau
kurus usia 6-59 bulan termasuk balita dengan Bawah Garis Merah (BGM) dari keluarga
miskin. Sasaran dipilih melalui hasil penimbangan bulanan di Posyandu dengan urutan
prioritas dan kriteria sebagai berikut:11

1. Balita yang dalam pemulihan pasca perawatan gizi buruk di TFC/Pusat Pemulihan Gizi/
Puskesmas Perawatan atau Rumah Sakit.
2. Balita kurus dan berat badannya tidak naik dua kali berturut-turut (2 T).
3. Balita kurus.
4. Balita Bawah Garis Merah (BGM).

Balita dengan kriteria tersebut di atas, perlu dikonfirmasi kepada Tenaga Pelaksana Gizi atau
petugas Puskesmas, guna menentukan sasaran penerima PMT pemulihan.

Prinsip dasar dari PMT pemulihan adalah:

1. PMT pemulihan diberikan dalam bentuk makanan atau bahan makanan lokal dan tidak
diberikan dalam bentuk uang.
2. PMT pemulihan hanya sebagai tambahan terhadap makanan yang dikonsumsi oleh balita
sasaran sehari-hari, bukan sebagai pengganti makanan utama.
3. PMT pemulihan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sasaran sekaligus
sebagai proses pembelajaran dan sarana komunikasi antar ibu dari balita sasaran.
4. PMT pemulihan merupakan kegiatan di luar gedung puskesmas dengan pendekatan
pemberdayaan masyarakat yang dapat diintegrasikan dengan kegiatan lintas program dan
sektor terkait lainnya.
5. PMT pemulihan dibiayai dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Selain itu
PMT pemulihan dapat dibiayai dari bantuan lainnya seperti partisipasi masyarakat, dunia
usaha, dan pemerintah daerah.

Persyaratan jenis dan bentuk makanan yang diberikan adalah:

1. Makanan tambahan pemulihan diutamakan berbasis bahan makanan atau makanan lokal.
Jika bahan makanan lokal terbatas, dapat digunakan makanan pabrikan yang tersedia di

21
wilayah setempat dengan memperhatikan kemasan, label dan masa kadaluarsa untuk
keamanan pangan.
2. Makanan tambahan pemulihan diberikan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sasaran.
3. PMT Pemulihan merupakan tambahan makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita
dari makanan keluarga.
4. Makanan tambahan balita ini diutamakan berupa sumber protein hewani maupun nabati
(misalnya telur/ikan/daging/ayam, kacang-kacangan atau penukar) serta sumber vitamin
dan mineral yang terutama berasal dari sayur-sayuran dan buah-buahan setempat.
5. Makanan tambahan diberikan sekali sehari selama 90 hari berturut-turut.
6. Makanan tambahan pemulihan berbasis bahan makanan/makanan lokal ada 2 jenis yaitu
berupa: a. MP-ASI (untuk bayi dan anak berusia 6-23 bulan)
b. Makanan tambahan untuk pemulihan anak balita usia 24-59 bulan berupa makanan
keluarga.
7. Bentuk makanan tambahan pemulihan yang diberikan kepada balita dapat disesuaikan
dengan pola makanan sebagaimana tabel 3. 10

Tabel 3. Pola Pemberian Makanan Bayi dan Anak Balita

Usia (bulan) ASI Bentuk makanan


Makanan Lumat Makanan Lembik Makanan
Keluarga
0-6*
6-8
9-11
12-23
24-59
Ket: 6* = 5 bulan 29 hari

Posyandu

Pelayanan kesehatan terpadu (yandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan
yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas. Tempat pelaksanaan pelayanan
program terpadu dibalai dusun, balai kelurahan, RW dan sebagainya disebut dengan Pos
pelayanan terpadu (Posyandu). Pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di posyandu adalah
KIA, KB, P2M (imunisasi dan penanggulangan diare), dan Gizi (penimbangan balita).

22
Sasaran penduduk yandu adalah ibu hamil, ibu menyusui, pasangan usia subur (PUS), dan
balita.

Program yandu merupakan strategi jangka panjang pemerintah untuk menurunkan angka
kematian bayi (Infant Mortality Rate-IMR), angka kelahiran (Birth Rate-BR), dan angka
kematian ibu (Maternal Mortality Rate-MMR). Turunnya IMR, BR, dam MMR di suatu
wilayan merupakan standar keberhasilan pelaksanaan program terpadu di wilayah tersebut.
Keberhasilan ini dipantau setiap lima tahun melalui Survei Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) Depkes atau Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas).

Tujuan dari Posyandu antara lain adalah menurunkan angka kematian bayi, ibu melahirkan
dan nifas, membudayakan NKBS (Norma Keluarga kecil Bahagia dan Sejahtera),
meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB
serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera, dan
berfungsi sebagai wahana gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ketahanan
keluarga, dan gerakan ekonomi keluarga sejahtera.

Pelaksanaan layanan Posyandu dilakukan dengan sistem 5 meja, yaitu:

1. Meja I : pendaftaran
2. Menja II : penimbangan
3. Meja III : pengisian KMS
4. Meja IV : penyuluhan perorangan berdasarkan KMS
5. Meja V : pelayanan kesehatan, berupa imunisasi, pemberian vitamin A dosis tinggi,
pembagian pil KB atau kondom, pengobatan ringan, dan konsultasi KB.

Petugas pada Meja I s/d IV dilaksanakan oleh kader PKK sedangkan Meja V merupakan
meja pelayanan paramedis (Jurim, Bindes, perawat dan petugas KB).

Kegiatan yang dilakukan dalam Posyandu, antara lain:

1. Jenis Pelayanan Minimal Kepada Anak


a. Penimbangan untuk memantau pertumbuhan anak, perhatian harus diberikan khusus
terhadap anak yang selama ini 3 kali tidak melakukan penimbangan, pertumbuhannya
tidak cukup baik sesuai umurnya dan anak yang pertumbuhannya berada di bawah garis
merah KMS.
b. Pemberian makanan pendamping ASI dan Vitamin A.

23
c. Pemberian PMT untuk anak yang tidak cukup pertumbuhannya (kurang dari 200 gram/
bulan) dan anak yang berat badannya berada di bawah garis merah KMS.
d. Memantau atau melakukan pelayanan imunisasi dan tanda-tanda lumpuh layu.
e. Memantau kejadian ISPA dan diare, serta melakukan rujukan bila perlu.
2. Pelayanan Tambahan yang Diberikan
a. Pelayanan bumil dan menyusui.
b. Program Pengembangan Anak Dini Usia (PADU) yang diintegenerasikan dengan
program Bina Keluarga Balita (BKB) dan kelompok bermain lainnya.
c. Program dana sehat atau JPKM dan sejenisnya, seperti tabulin, tabunus dan sebagainya.
d. Program penyuluhan dan penyakit endemis setempat.
e. Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman.
f. Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD).
g. Program diversifikasi pertanian tanaman pangan.
h. Program sarana air minum dan jamban keluarga (SAMIJAGA) dan perbaikan
lingkungan pemukiman.
i. pemanfaatan pekarangan.
j. Kegiatan ekonomis produktif, seperti usaha simpan pinjam dan lain-lain.
k. Dan kegiatan lainnya seperti: TPA, pengajian, taman bermain.

Dengan adanya Posyandu yang sasaran utamanya bayi dan balita, sangat tepat untuk
meningkatkan gizi balita. Peningkatan gizi balita di Posyandu yang dilakukan oleh kader
berupa memberikan penyuluhan tentang ASI, status gizi balita, MPASI, Imunisasi, Vitamin
A, stimulasi tumbuh kembang anak, diare pada balita.

Bila terdapat perburukan selama pengamatan dan perawatan status gizi, maka perlu dilakukan
rujukan, sebagai berikut:1

1. Gizi buruk tanpa komplikasi dengan rawat jalan, rujukan dilakukan apabila:
a. Anak dengan komplikasi medis atau penyakit penyerta,
b. Sampai kunjungan ketiga berat badan anak tidak naik (kecuali anak dengan edema),
c. Timbul edema baru.
2. Gizi buruk dengan komplikasi dengan rawat inap, rujukan dilakukan apabila:
a. Rujukan ke rumah sakit dilakukan bila terdapat tanda kegawatan/kesakitan yang tidak
dapat diatasi dan memerlukan penanganan lebih lanjut oleh dokter spesialis anak.

24
b. Anak gizi buruk pasca perawatan di PPG (Pusat Pemulihan Gizi), dikirim ke
Puskesmas/Puskesmas Pembantu/Posyandu terdekat dengan rumah pasien untuk
dilakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan serta penyakit penyerta
(contoh: TB-paru) secara rutin. 8,12,13

Promosi Kesehatan

Definisi WHO, berdasarkan piagam Ottawa (1996) mengenai promosi kesehatan sebagai
hasil Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa Canada adalah sebagai berikut :

Health promotion is the process of enabling people to control over and improve their helth.
To reach a state of complete physical, mental, and social will being, an individual or group
must be able to identify realize aspiration, to satisfy needs, and to change or cope with the
environment.

Berdasarkan definisi di atas, WHO menekankan bahwa promosi kesehatan merupakan suatu
proses yang bertujuan memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan
meningkatkan kesehatannya berbasis filosofi yang jelas mengenai pemberdayaan diri sendiri
(self empowerment). Proses pemberdayaan tersebut dilakukan dari,oleh,untuk, dan bersama
masyarakat sesuai dengan sosial budaya setempat. 14

VIsi dan Misi Promosi Kesehatan

Visi Promosi Kesehatan

Perilaku Hidupbersih dan Sehat

Misi Promosi Kesehatan

Upaya pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan melalui :

1. Advokat (Advocate)

Pendekatan kepada para penentu kebijaksanaan untuk membuat kebijaksanaan yang


berwawasam kesehatan.

2. Menjembatani (Mediate)

Menggalang kemitraan dan membina suasana yang kondusif demi terwujudnya PHBS
di masyarakat.

25
3. Meningkatkan (Enable)

Meningkatkan pengetahuan masyarakat dengan melakukan


penyuluhan,pendidikan,pelatihan, dan memperkuat SDM. 14

Strategi Promosi Kesehatan

Untuk mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan seperti diuraikan diatas, diperlukan cara
pendekatan yang strategis agar tercapai secara efektif dan efisien. Cara inis erring disebut
strategi. Jadi strategi adalah cara untuk mencapai atau mewujudkan visi dan misi promosi
kesehatan secara efektif dan efisien.

1. Strategi Global (Promosi Kesehatan) Menurut WHO, 1984

a. Advokasi (Advocacy)

Kegiatan yang ditujukan kepada pembuat keputusan atau penentu kebijksanaan


baikd ibidang kesehatan maupun sektor lain di luar kesehatan, yang mempunyai
pengaruh terhadap public. Tujuannya adalah agar para pembuat keputusan
mengeluarkan kebijakan-kebijakan , antara lain dalam ebntuk peraturan,undang-
undang, instruksi dan sebagainya yang menguntungkan kesehatan public.

b. Dukungan Sosial (Social Support)

Kegiatan yang ditujukan kepada para tokoh masyarakat, baik formal ( guru, lurah,
camat, petugas kesehatan,dan sebagainya) yang mempunyai pengaruh di
masyarakat. Tujuan kegiatan ini adalah agar kegiatan atau program kesehatan
tersebut memperoleh dukungan dari para tokoh masyarakat ( toma) dan tokoh
agama (toga). Selanjutnya toma dan toga diharapkan dapat menjembatani antara
pengelola program kesehatan dengan masyarakat.

c. Pemberdayaan masyarakat (Empowerment)

Pemberdayaan ini ditujukan kepada masyarakat langsung sebagai sasaran primer


atau utama promosi kesehatan. Tujuannya adalah agar masyarakat memiliki
kemampuan dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
Pemberdayaan masyarakat ini dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan, antara
lain penyuluhan kesehatan, pengorganisasian dan pembangunan masyarakat dalam
bentuk, misalnya koperasi.

26
2. Strategi Promosi Kesehatan Berdasarkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter)

Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa Canada tahun 1986


menghasilkan piagam Ottawa dan salah satunya rumusan strategi promosi kesehatan
yang dikelompokkan menjadi :

a. Kebijakan berwawasan kesehatan (Healthy public policy)

Kegiatan ini ditujukan kepada para pembuat keputusan atau penentu


kebijakan,sehingga dikeluarkan atau diekmbangkan kebijakan-kebijakan
pembangunan yang berwawasan kesehatan. Hal ini berarti bahwa setiap kebijakan
pembangunan dibidang apa saja harus mempertimbangkan dampak kesehatannya
bagi masyarakat. Misalnya apabila orang akan mendirikan pabrik atau industry,
maka sebelumnya harus dilakukan analisis dampak lingkungan,s ejauh mana
lingkungan akan tercemar oelh limbah pabriktersebut, yang akhirnya berdampak
terhadap kesehatan masyarakat sekitarnya.

b. Lingkungan yang mendukung (Supportive environment)

Kegiatan untuk emngembangkan jaringan kemitraan dan suasana yang


mendukung. Kegiatan ini ditujukan kepada para pemimpin organisasi masyarakat
serta pengelola tempat-tempat umum. Kegiatanmereka diharapkan memperhatikan
dampaknya terhadap lingkungan, baik lingkungan fisik maupun non-fisik yang
mendukung atau kondusif terhadap kesehatan masyarakat.

c. Reorientasi pelayanan kesehatan (Reorient health service)

Kesehatan masyarakat bukan hanya masalah pihak pemberi pelayanan, baik


pemerintah maupun swasta saja, melainkan juga masalah masyarakats endiri. Oleh
sebab itu penyelenggaraan pelayanan kesehatan juga merupakan tanggung jawab
bersama antara pihak pemberi pelayanan dan pihak penerima pelayanan.

d. Keterampilan individu (Personal Skill)

Kesehatan masyarakat adalah kesehatan agregrat, yang terdiri dari kelompok,


keluarga, dan individu. Oleh sebab itu kesehatan masyarakat terwujud apabila
kesehatan kelompokmasing-masing keluarga dan individu terwujud. Oleh sebab

27
itu meningkatkan keterampilan setiap anggota masyarakat agar mampu
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri adalah sangat penting.

e. Gerakan masyarakat (Community action)

Mewujudkan derajat kesehatan masyarakat akan efektif apabila unsur-unsur yang


ada di masyarakat tersebut bergerak bersama-sama. Dengan perkataan lain
meningkatkan kegiatan-kegiatan masyarakat dalam mengupayakan peningkatan
kesehatan mereka sendiri adalah wujud dari gerakan masyarakat.14

Sasaran Promosi Kesehatan

Sasaran promosi kesehatan diarahkan pada individu/keluarga, masyarakat, pemerintah/lintas


sector/politisi/swasta, dan petugas atau pelaksana program.

Sasaran dibagi menjadi :

1. Sasaran primer adalah sasaran yang mempunyai masalah, yang diharapkan mau
berperilaku sesuai harapan dan memperoleh manfaat paling besar dari perubahan
perilaku tersebut. Dalam hal ini sasaran primer adalah masyarakat yang pada
umumnya menjadi sasaran langsung. Misalnya ibu hamil dan menyusui untuk
masalah KIA ( kesehatan ibu dan anak), anak sekolah untuk kesehatan remaja

2. Sasaran sekunder adalah individu atau kelompok yang memiliki pengaruh atau
disegani oleh sasaran primer. Sasaran sekunder diharapkan mampu mendukung
pesan-pesan yang disampaikan kepada sasaran primer.

3. Sasaran tersier adalah para pengambil kebijakan, penyandang dana, pihak-pihak yang
berpengaruh di berbagai tingkatan (pusat, provinsi,dsb).15

Ruang Lingkup Promosi Kesehatan

1. Ruang Lingkup Berdasarkan Aspek Kesehatan

Promotif (peningkatan kesehatan ): adalah usaha yang ditujukan untuk


meningkatkan kesehatan yang meliputi usaha-usaha peningkatan gizi,
pemeliharaan kesehatan perorangan,pemeliharaan kesehatan lingkungan, olah
raga secara teratur, istirahat yang cukup dan rekreasi sehingga seseorang dapat
mencapai tingkat kesehatan yang optimal.

28
Preventif ( pencegahan penyakit) :adalah usaha yang ditujukan untuk
mencegah terjadinya penyakit melalui usaha-usaha, misalnya pemberian
imunisasi pada bayi dan anak juga pada ibu hamil, pemeriksaan kesehatan
secara berkala untuk mendeteksi penyakit secara dini.

Kuratif (pengobatan) : adalah usaha yang ditujukan terhadap orang yang sakit
untuk dapat diobati secara tepat sehingga dalam watu tertentu dapay
dipulihkan kesehatannya.

Rehabilitatif (pemulihan kesehatan) : adalah usaha yang ditujukan terhadap


penderita yang baru pulih dari penyakit yang dideritanya. Usaha pemulihan
ini ditujukan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan fisik, mental,dan
sosial pasien akibat dari penyakit yang dideritanya.

2. Ruang Lingkup Berdasarkan Tingkat Pelayanan

Berdasarkan dimensi tingkat pelayanan kesehatan, promosi kesehatan dapat dilakukan


berdasarkan lima tingkatan :

a. Promosi Kesehatan (Health Promotion)

b. Perlindungan spesifik ( Spesific Protection)

c. Diagnosis dini dan pengobatan segera ( Early diagnosis and prompt treatment)

d. Pembatasan cacat(Disability limitation)

e. Rehabilitas (Rehabilitation) 15

Kegiatan Surveilans Gizi

Kegiatan surveilans gizi meliputi kegiatan pengumpulan dan pengolahan data, penyajian serta
diseminasi informasi bagi pemangku kepentingan. Informasi dari surveilans gizi
dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk melakukan tindakan segera maupun
untuk perencanaan program jangka pendek, menengah maupun jangka panjang serta untuk
perumusan kebijakan.

1. Pengumpulan data

29
Pengumpulan data secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan dari berbagai kegiatan
surveilans gizi sebagi sumber informasi, yaitu:
a. Kegiatan rutin yaitu penimbangan bulanan, pemantauan dan pelaporan kasus gizi
buruk, pendistribusian tablet Fe ibu hamil, pendistribusian kapsul vitamin A balita, dan
pemberian ASI Eksklusif.
b. Kegiatan survei khusus yang dilakukan berdasarkan kebutuhan, seperti konsumsi garam
beriodium, pendistribusian MP-ASI dan PMT, pemantauan status gizi anak dan ibu
hamil dan Wanita Usia Subur (WUS) risiko Kurang Energi Kronis (KEK) atau studi
yang berkaitan dengan masalah gizi lainnya.

Dalam pelaksanaan pengumpulan data, bila ada puskesmas yang tidak melapor atau
melapor tidak tepat waktu, data laporan tidak lengkap dan atau tidak akurat maka petugas
Dinkes Kabupaten/Kota perlu melakukan pembinaan secara aktif untuk melengkapi data.
Kegiatan ini dapat dilakukan melalui telepon, Short Message Service (SMS) atau
kunjungan langsung ke puskesmas.

2. Pengolahan data dan penyajian informasi


Pengolahan data dapat dilakukan secara deskriptif maupun analitik, yang disajikan dalam
bentuk narasi, tabel, grafik dan peta, atau bentuk penyajian informasi lainnya.
3. Diseminasi informasi
Diseminasi informasi dilakukan untuk menyebarluaskan informasi surveilans gizi kepada
pemangku kepentingan. Kegiatan diseminasi informasi dapat dilakukan dalam bentuk
pemberian umpan balik, sosialisasi atau advokasi. Umpan balik merupakan respon tertulis
mengenai informasi surveilans gizi yang dikirimkan kepada pemangku kepentingan pada
berbagai kesempatan baik pertemuan lintas program maupun lintas sektor. Sosialisasi
merupakan penyajian hasil surveilans gizi dalam forum koordinasi atau forum-forum
lainnya sedangkan advokasi merupakan penyajian hasil surveilans gizi dengan harapan
memperoleh dukungan dari pemangku kepentingan.

Alur pelaporan dan umpan balik serta koordinasi surveilans gizi adalah sebagai
berikut:

1. Laporan kegiatan surveilans dilaporkan secara berjenjang sesuai sumber data (bisa mulai
dari Posyandu atau dari Puskesmas).

30
2. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi berkoordinasi dengan
Rumah Sakit (RS)2 Pusat/Provinsi/Kabupaten/ Kota tentang data terkait, seperti data kasus
gizi buruk yang mendapat perawatan.
3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengirimkan rekapitulasi laporan dari Puskesmas
(Kecamatan) dan dari RS Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Direktorat
Bina Gizi, Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementerian Kesehatan RI,
sesuai dengan frekuensi pelaporan.
4. Umpan balik hasil kegiatan surveilans disampaikan secara berjenjang dari Pusat ke
Provinsi setiap 3 bulan atau setiap saat bila terjadi perubahan kinerja, dari Provinsi ke
Kabupaten/Kota dan dari Kabupaten/Kota ke Kecamatan (Puskesmas) serta
Desa/Kelurahan (Posyandu) sesuai dengan frekuensi pelaporan pada setiap bulan
berikutnya. Perhatikan gambar 7. 16

Gambar 7. Alur Pelaporan dan Umpan Balik Serta Koordinasi (sumber: Petunjuk
Pelaksanaan Surveilans Gizi)

31
Kesimpulan

Masalah Gizi buruk mencerminkan pelayanan kesehatan negara. Masih adanya kasus gizi
buruk di Indonesia memerlukan perhatian para pilar pemegang kebijakan dan pelaksana
pelayanan melakukan perencanaan serta pengkoordinasian untuk menyelesaikan masalah
gizi. Karena tidak adanya koordinasi organisasi, mencapai Indonesia bebas gizi buruk adalah
mustahil

Daftar Pustaka

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.Pedoman pelayanan anak gizi buruk.


Jakarta: Bakti Husada, 2011.h. 1-29.
2. Widyastuti P, Hardiyanti E.A. Gizi kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC, 2005.h.120-
150.
3. Maulana H.D.J. Promosi kesehatan. Jakarta: EGC, 2007.h.50-60.
4. Budiarto. Pengantar epidemiologi. Jakarta: EGC, 2002.h.20-25.
5. Nasry Noor, Nur M.PH. Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.h.125-30.
6. Departemen Kesehatan RI. Bagan tatalaksana anak gizi buruk. Buku I. Jakarta:
Departemen Kesehatan, 2011.h.1-3.
7. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas. Jakarta: EGC, 2009.h.267-70,
284-5.
8. Muninjaya AA. Manajemen kesehatan. Edisi ke-2. Jakarta: EGC, 2004.h.128-9, 144-6,
148-9, 169-71.
9. Departemen Kesehatan RI. Pedoman keja puskesmas. 1991; 3 :G1-3.
10. Kementerian Kesehatan RI. Buku kesehatan ibu dan anak. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI, 2011.h.20-3.
11. Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI.Paduan
penyelenggaraan pemberian makanan tambahan pemulihan bagi balita gizi kurang
(bantuan operasional). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2011.h.1-8.
12. Pengertian Posyandu-kms. Edisi Mei 2013. Diunduh dari
http://posyandu.org/posyandu/1342-pengertian-posyandu-kms.html, 28 Juni 2013.
13. Suparmanto SAS. Petunjuk teknis pengembangan dan penyelenggaraan posyandu.
Departemen Kesehatan RI, 2009; Jakarta: h.30-2, 44-5, 61-2.
14. Heri DJ. Promosi Kesehatan. Ed 2. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2007. h12-
22.

32
15. Soekidjo N. Promosi kesehatan dan ilmu perilaku. Jakarta : PT. Rineka Cipta, Maret
2007.
16. Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk
pelaksanaan surveilans gizi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2011.h.7-18.

33