Anda di halaman 1dari 31

Masalah Kurang Gizi dalam Masyarakat

EUNIKE

102010203

Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA

Pendahuluan

Masalah gizi di Indonesia yang terbanyak meliputi gizi kurang atau yang mencakup
susunan hidangan yang tidak seimbang maupun konsumsi keseluruhan yang tidak mencukupi
kebutuhan badan. Anak balita (dibawah usia 5 tahun) merupakan kelompok umur paling
sering menderita akibat kekurangan gizi atau termasuk salah satu kelompok masyarakat yang
rentan gizi. Anak-anak biasanya menderita bermacam-macam infeksi serta berada dalam
status gizi rendah.1

Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan
zat-zat gizi. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi status gizi adalah penyakit yang sering
diderita oleh balita,frekuensi terserang penyakit, jumlah anggota keluarga, pemberian ASI,
kelengkapan imunisasi, pola asuh balita, dan asupan makanan. Status gizi balita merupakan
salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat.1

Gizi Buruk merupakan suatu kondisi dimana seseorang dinyatakan kekurangan


nutrisi, atau dengan ungkapan lain status nutrisinya berada di bawah standar rata-rata. Nutrisi
yang dimaksud bisa berupa protein, karbohidrat dan kalori. Di Indonesia, kasus KEP (Kurang
Energi Protein) adalah salah satu masalah gizi utama yang banyak dijumpai pada balita.1

Upaya penanggulangan masalah gizi terutama difokuskan pada ibu hamil, bayi, dan
anak balita, karena mereka ini adalah golongan rawan yang paling rentan terhadap
kekurangan gizi serta besarnya dampak yang dapat ditimbulkan. Masalah gizi bukan hanya
masalah kesehatan, tetapi menyangkut masalah sosial ekonomi, dan perilaku masyarakat.

Alamat Korespondensi : Universitas Kristen Krida Wacana Fakultas Kedokteran (Kampus II) Jl. Terusan Arjuna No. 6, Jakarta
Barat ; Website : www.ukrida.ac.id ; NIM : 102010203; Email : eunikeharnadi@gmail.com

1
Dengan demikian, upaya penanggulangan masalah gizi harus dilakukan secara sinergis
meliputi berbagai bidang seperti pertanian, pendidikan dan ekonomi dengan fokus pada
kelompok miskin. Perhatikan gambar 1.

Program KIA Program Gizi

PUSKESMAS

Peran serta Kasus gizi pada


balita, ibu hamil, dan Posyandu
masyarakat
ibu menyusui

Surveilans gizi Rujukan


Promosi
Kesehatan

Gambar 1. Mind Map Skenario 9

Masalah Gizi di Indonesia


Masalah gizi adalah gangguan kesehatan seseorang atau masyarakat yang disebabkan
oleh tidak seimbangnya pemenuhan kebutuhannya akan zat gizi yang diperoleh dari
makanan. Masalah gizi atau malnutrisi, dibagi dalam dua kelompok yaitu masalah gizi-
kurang (under nutrition) dan masalah gizi-lebih (over nutrition), baik berupa masalah gizi-
makro ataupun gizi-mikro.2
Masalah gizi makro, terutama Masalah kurang energi dan protein (KEP), telah
mendominasi perhatian para pakar masalah gizi selama puluhan tahun. Pada tahun 1980-an
data dari lapangan di banyak negara menunjukkan bahwa masalah gizi utama bukan kurang
protein, tetapi lebih banyak karena kurang energi atau kombinasi kurang energi dan protein.
Bayi sampai anak berusia lima tahun, yang lazim disebut balita, dalam ilmu gizi
dikelompokkan sebagai golongan penduduk yang rawan terhadap kekurangan gizi termasuk
KEP.2
Masalah gizi lainnya yang cukup penting adalah masalah gizi mikro, terutama untuk
kurang vitamin A, kurang yodium, dan kurang zat besi. Meskipun berdasarkan hasil survei

2
nasional tahun 1992 Indonesia dinyatakan telah bebas dari xerophthalmia, masih 50 persen
dari balita mempunyai serum retinol <20 mcg/100 ml, yang berarti memiliki risiko tinggi
untuk munculnya kembali kasus xeropthalmia. Sementara prevalensi gangguan akibat kurang
yodium (GAKY) pada anak usia sekolah di Indonesia adalah 30 persen pada tahun 1980 dan
menurun menjadi 9,8 persen pada tahun 1998.2,3
Masalah gizi dihubungkan dengan:4,5
1. Faktor dan penyebab masalah gizi (agent): kekurangan atau kelebihan zat gizi, asupan
makanan dan penyakit yang dapat mempengaruhi status gizi serta faktor-faktor yang
berkaitan.
2. Faktor yang ada pada pejamu (host): karakteristik individu yang ada kaitannya dengan
masalah gizi (umur, jenis kelamin, suku bangsa, dll).
3. Faktor yang ada di lingkungan pejamu (environment): lingkungan (rumah, pekerjaan,
pergaulan) yang ada kaitannya dengan masalah gizi.

Gizi Buruk dan Pembagiannya


Kriteria anak dengan gizi buruk adalah sebagai berikut:1
1. Gizi buruk tanpa komplikasi:
a. BB/TB < -3 SD,
b. Terlihat sangat kurus,
c. Adanya edema, dan atau
d. LiLA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan.
2. Gizi buruk dengan komplikasi:
Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah satu atau lebih dari tanda
komplikasi medis berikut:
a. Anoreksia
b. Pneumonia berat
c. Anemia berat
d. Dehidrasi berat
e. Demam sangat tinggi
f. Penurunan kesadaran. Perhatikan tabel 1, gambar 2 dan 3.

3
Tabel 1. Penentuan Status Gizi Secara Klinis dan Antoprometri (BB/TB-PB)6
Klinis Antoprometri (BB/TB-PB)
Gizi buruk Tampak sangat kurus dan < -3 SD
atau edema pada kedua
punggung kaki sampai
seluruh tubuh
Gizi kurang Tampak kurus -3 SD - < -2 SD
Gizi baik Tampak sehat - 2 SD 2 SD
Gizi lebih Tampak gemuk > 2 SD

Gambar 2. Alur Pemeriksaan Anak Gizi buruk (sumber: Bagan Tatalaksana Anak Gizi
Buruk)

4
Gambar 3. Alur Pelayanan Anak Gizi Buruk di Rumah Sakit/ Puskesmas Perawatan (sumber:
Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk)

Gizi buruk sendiri bisa di klasifikasikan menjadi tiga tipe yaitu marasmus, kwashiorkor, dan
marasmus-kwashiorkor, berikut penjelasan lebih lanjut:7

1. Marasmus adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul
diantaranya muka seperti orang tua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit
(kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit,
gangguan pencernaan, (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak
sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar.
2. Kwashiorkor, penampilannya seperti anak gemuk (suger baby), bilamana dietnya
mengandung cukup energi disamping kekurangan protein, walaupun dibagian tubuh
lainnya terutama dipantatnya terlihat adanya atrofi. Tampak sangat kurus dan atau edema
pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh. Gejala yang tampak adalah:
a. Perubahan status mental: cengeng, rewel, kadang apatis
b. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut, pada
penyakit kwashiorkor yang lanjut dapat terlihat rambut kepala yang kusam.
c. Wajah membulat dan sembab.
d. Pandangan mata anak sayu.

5
e. Pembesaran hati sehingga mudah teraba dan terasa kenyal, permukaan licin dan pinggir
tajam.
f. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah menjadi coklat
kehitaman dan terkelupas.
3. Marasmus-kwashiorkor, gejala klinisnya merupakan campuran dari beberapa gejala klinis
kwashiorkor dan marasmus. Makanan sehari-hari tidak cukup mengandung protein dan
juga energy untuk pertumbuhan yang normal. Pada penderita demikian, disamping
menurunnya berat badan < 60% dari normal memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor
seperti edema, kelainan rambut, kelainan kulit, dan kelainan biokimiawi.

Faktor Penyebab Masalah Gizi

Ada dua faktor penyebab terjadinya gizi buruk, yaitu:2

1. Penyebab langsung
a. Anak tidak cukup mendapat makanan bergizi seimbang.
Makanan alamiah terbaik bagi bayi yaitu ASI, dan sesudah usia 6 bulan anak tidak
mendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang tepat, baik jumlah dan kualitasnya
akan berakibat terhadap status gizi bayi. MP-ASI yang baik tidak hanya cukup
mengandung energi dan protein, tetapi juga mengandung zat besi, vitamin A, asam
folat, vitamin B serta vitamin dan mineral lainnya. MP-ASI yang tepat dan baik dapat
disiapkan sendiri di rumah. Pada keluarga dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan
yang rendah seringkali anaknya harus puas dengan makanan seadanya yang tidak
memenuhi kebutuhan gizi balita karena ketidaktahuan. Faktor sosial: yang dimaksud
disini adalah rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya makanan bergizi bagi
pertumbuhan anak. Sehingga banyak balita yang diberi makan sekedarnya atau asal
kenyang padahal miskin gizi.
b. Sering sakit menjadi penyebab terpenting kekurangan gizi, apalagi di negara-negara
terbelakang dan yang sedang berkembang seperti Indonesia, dimana kesadaran akan
kebersihan/personal hygine yang masih kurang, serta ancaman endemisitas penyakit
tertentu, khususnya infeksi kronik seperti TBC masih sangat tinggi.
Kaitan infeksi dan kurang gizi seperti layaknya lingkaran setan yang sukar diputuskan,
karena keduanya saling terkait dan saling memperberat. Kondisi infeksi kronik akan
menyebabkan kurang gizi dan kondisi malnutrisi sendiri akan memberikan dampak
buruk pada sistem pertahanan sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Tak dapat

6
dipungkiri memang ada hubungan erat antara infeksi dengan malnutrisi. Infeksi sekecil
apapun berpengaruh pada tubuh. Sedangkan kondisi malnutrisi akan semakin
memperlemah daya tahan tubuh yang pada giliran berikutnya akan mempermudah
masuknya beragam penyakit.
2. Penyebab tidak langsung
a. Ketersediaan pangan rumah tangga
Tidak tersedianya makanan secara adekuat terkait langsung dengan kondisi sosial
ekonomi. Kadang-kadang bencana alam, perang maupun kebijakan politik maupun
ekonomi yang memberatkan rakyat akan menyebabkan hal ini. Kemiskinan sangat
identik dengan tersedianya makan yang adekuat. Data Indonesia dan negara lain
menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara kurang gizi dengan kemiskinan.
Kemiskinan merupakan penyebab pokok atau akar masalah gizi buruk. Proporsi anak
malnutrisi berbanding terbalik dengan pendapatan. Makin kecil pendapatan penduduk,
makin tinggi persentasi anak yang kekurangan gizi. Kemiskinan sering dituding sebagai
biang keladi munculnya penyakit ini di negara-negara berkembang. Rendahnya
pendapatan masyarakat menyebabkan kebutuhan paling mendasar yaitu pangan pun
sering tidak bisa terpenuhi. Laju pertambahan penduduk yang tidak diimbangi dengan
bertambahnya ketersediaan bahan pangan akan menyebabkan krisis pangan. Inipun
menjadi penyebab munculnya penyakit kurang gizi.
b. Pola pengasuhan anak
Berpengaruh pada timbulnya gizi buruk. Anak yang diasuh ibunya sendiri dengan kasih
sayang, apalagi ibunya berpendidikan, mengerti soal pentingnya ASI, manfaat
posyandu dan kebersihan, meskipun sama-sama miskin, ternyata anaknya lebih sehat.
Unsur pendidikan perempuan berpengaruh pada kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya
sebagian anak yang gizinya buruk ternyata diasuh oleh nenek atau pengasuh yang juga
miskin dan tidak berpendidikan. Banyaknya perempuan yang meninggalkan desa untuk
mencari kerja di kota bahkan menjadi TKI, kemungkinan juga dapat menyebabkan
anak menderita gizi buruk.
c. Kebiasaan, mitos ataupun kepercayaan/ adat istiadat masyarakat tertentu yang tidak
benar dalam pemberian makan akan sangat merugikan anak. Misalnya kebiasaan
memberi minum bayi hanya dengan air putih, memberikan makanan padat terlalu dini,
berpantang pada makanan tertentu (misalnya tidak memberikan anak-anak daging,
telur, santan dll), hal ini menghilangkan kesempatan anak untuk mendapatkan asupan
lemak, protein maupun kalori yang cukup. Perhatikan gambar 3.

7
Gambar 3. Penyebab kurang gizi (sumber: Surveilans Gizi)

Puskesmas8,9

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Indonesia mulai dikembangkan sejak


dicanangkannya Pembangunan Jangka Panjang (PJP) yang pertama tahun 1971. Didahului
dengan beberapa proyek rintisan Puskesmas di beberapa provinsi. Pemerintah
mengembangkan Puskesmas dengan tujuan untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat yang sebagian besar masih tinggal di pedesaan. Puskesmas dibangun untuk
menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar, menyeluruh dan terpadu bagi seluruh
masyarakat yang tinggal di wilayah kerjanya. Program yang diselenggarakan oleh Puskesmas
merupakan program pokok (public health essential) yang wajib dilaksanakan oleh
Pemerintah untuk melindungi penduduknya, termasuk mengembangkan program khusus
untuk penduduk miskin.

Azas Puskesmas:

1. Azas pertanggung-jawaban wilayah


Puskesmas harus bertanggung jawab atas pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.
Artinya bila terjadi masalah kesehatan di wilayah kerjanya, Puskesmas-lah yang harus

8
bertanggung jawab untuk mengatasinya. Sebagai contoh bila disalah satu desa di wilayah
kerjanya ada kasus demam berdarah, Puskesmas harus segera melakukan berbagai
tindakan agar kasus tersebut tidak menyebar ke tempat lain. Untuk dapat memantau
seluruh wilayah kerjanya, Puskesmas harus proaktif ke lapangan mengadakan
pemantauan, pembinaan binaan dan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan.
2. Azas peran serta masyarakat
Dalam melaksanakan kegiatannya, Puskesmas harus memandang masyarakat sebagai
subyek pembangunan kesehatan, sehingga Puskesmas bukan hanya bekerja untuk mereka
tetapi bekerja bersama masyarakat. Oleh karena itu, Puskesmas harus bekerjasama dengan
masyarakat mulai dari tahap identifikasi masalah, menggali sumberdaya setempat,
merumuskan dan merencanakan kegiatan penanggulangannya, melaksanakan program
kesehatan tersebut dan mengevaluasinya. Untuk ini perlu difasilitasi pembentukan wadah
masyarakat yang peduli kesehatan seperti Badan Peduli Kesehatan Masyarakat (BPKM)
atau Badan Penyantun Puskesmas (BPP). BPKM/BPP merupakan mitra yang kerja yang
kontruktif bagi Puskesmas dalam melaksanakan pembangunan kesehatan di wilayah
kerjanya. Disamping itu berbagai elemen masyarakat juga diajak kerjasama dalam
menumbuh-kembangkan UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat), misalnya:
a. Ibu-ibu anggota PKK (Pemberdayaan & Kesejahteraan Keluarga) atau organisasi
wanita lainnya untuk menumbuh-kembangkan posyandu (pos pelayanan terpadu) dan
polindes (pondok bersalin desa).
b. Organisasi remaja untuk mengembangkan SBH (Saka Bakti Husada) di lingkungan
pramuka, Santri Husada dan poskestren (pos kesehatan pesantren) di lingkungan
pondok pesantren.
c. Kelompok pekerja untuk menumbuh-kembangkan Pos UKK (Upaya Kesehatan Kerja).
d. Kelompok lanjut usia (lansia) untuk menumbuh-kembangkan posbindu lansia (pos
pembinaan terpadu lansia).
3. Azas keterpaduan
Puskesmas dalam melaksanakan kegiatan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya
harus melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, bermitra dengan BPKM/BPP dan
organisasi masyarakat lainnya, berkoordinasi dengan lintas sektor, agar terjadi perpaduan
kegiatan di lapangan, sehingga lebih berhasil guna dan berdaya guna. Salah satu cara
memadukan berbagai kegiatan adalah dengan memfokuskan berbagai kegiatan untuk
menyehatkan masyarakat. Dari masalah kesehatan setempat akan diketahui intervensi apa

9
saja yang perlu dan program apa yang lebih dulu masuk dan program apa yang belakangan
dilaksanakan.
4. Azas rujukan
Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama, yang bila tidak
mampu mengatasi masalah kerena berbagai keterbatasan, bisa melakukan rujukan secara
vertikal ke tingkat yang lebih tinggi, atau secara horisontal ke Puskesmas lainnya.
Sebaliknya Puskesmas juga bisa menerima rujukan dari kasus secara vertikal dari tingkat
yang lebih tinggi (rumah sakit) terhadap kasus yang sudah ditangani dan perlu
pemeriksaan berkala yang sederhana dan dapat dilakukan di Puskesmas.

Fungsi Puskesmas di era desentralisasi adalah menggerakkan pembangungan


berwawasan kesehatan, memberdayakan masyarakat dan keluarga, dan memberikan
pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pelayanan kesehatan tingkat pertama adalah
pelayanan yang bersifat mutlat perlu, yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar
masyarakat serta mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Indikator keberhasilan misi pelayanan kesehatan masyarakat adalah IPMS
(Indikator Potensi Masyarakat Sehat) terdiri dari cakupan dan kualitas program tersebut
diatas. IPMS minimal mencakup seluruh indikator cakupan program pokok dan kualitas
layanan kesehatan, lihat tabel 2.

Tabel 2. Program Pokok Puskesmas

Program pokok Kegiatan Indikator

Promosi Kesehatan Promosi hidup bersih dan sehat Perbaikan kesehatan


(PHBS)
Kesehatan Penyehatan pemukiman Perbaikan lingkungan
lingkungan
KIA ANC K4
MTBS (Manajemen Cakupan MTBS
Terpadu Balita Sakit)
KB Cakupan KB
Imunisasi Cakupan imunisasi

Pemberantasan Diare, ISPA, Malaria, TB Kesembuhan


Penyakit Menular

10
(P2M)

Pengobatan Medik dasar Jumlah kasus


Lab sederhana Cakupan pelayanan
UGD Jumlah pemeriksaan

Gizi Distribusi Vit.A/ Fe/ Yod Cakupan pemberian


Vit.A, Fe, dan Yodium
PSG (penilaian status gizi) % kurang gizi/gizi
Promosi gizi buruk
Kualitas pelayanan Jaga mutu, provider, konsumen Tingkat kepatuhan,
kesehatan kepuasan pasien

Upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diselenggarakan Puskesmas bersifat


holistik, komprehensif, terpadu dan berkesinambungan. Misi ini berkaitan erat dengan
program yang dilaksanakan Puskesmas. Pada era desentralisasi ini, program Puskesmas
dibedakan menjadi program kesehatan dasar dan program kesehatan pengembangan.

Program kesehatan dasar adalah program minimal yang harus dilaksanakan oleh tiap
Puskesmas yang dikemas dalam basic six, yaitu :

1. Promosi Kesehatan (Promkes)


a. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
b. Sosialisasi Program Kesehatan
c. Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas)
2. Kesehatan Lingkungan (Kesling)
3. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) termasuk Keluarga Berencana (KB)
4. Perbaikan Gizi
5. Pemberantasan Penyakit Menular (P2M)
6. Pengobatan

Sesuai dengan skenario mengenai masalah gizi masyarakat, maka program pokok
puskesmas yang akan dibahas adalah program KIA dan gizi masyarakat. Tujuan umum

11
puskesmas dalam program kesehatan ibu dan anak (KIA) adalah menunrukan kematian
(mortality) dan kejadian sakit (morbidity) di kalangan ibu, dengan cara menjaga kesehatan
ibu selama kehamilan, pada saat bersalin dan saat ibu menyusui. Selain itu meningkatkan
derajat kesehatan anak, melalui pemantauan status gizi dan pencegahan sedini mungkin
berbagai penyakit menular yang dapat diegah dengan imunisasi dasar sehingga anak dapat
tumbuh dan berkembang secara optimal. Perhatikan gambar 4.

Gambar 4. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0 18 tahun (sumber: http://idai.or.id/public-


articles/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-anak-idai.html)

Yang menjadi sasaran program KIA adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak
sampai dengan umur 5 tahun. Kelompok-kelompok masyarakat ini sasaran primer program.
Sasaran sekunder adalah dukun bersalin dan kader kesehatan. Jumlah sasaran ibu hamil dan
anak ditetapkan melalui dua cara: pendekatan langsung, perkiraan (estimasi) dan
pendekatan tidak langsung. Pendataan langsung dilakukan oleh staf Puskesmas, baik
dengan metode survei maupun menggunakan kader sebagai informan. Cara estimasi
ditetapkan berdasarkan hasil perkalian angka standar. Angka ini ditetapkan dalam bentuk
persentase oleh Depkes Pusat, berdasarkan proporsi kelompok penduduk dibandingkan
dengan jumlah seluruh penduduk di suatu wilayah.

12
Menghitung penduduk sasaran KIA secara tidak langsung dapat dilakukan dengan
menghitung jumlah PUS (pasangan usia subur) berdasarkan catatan PLKB (petugas lapangan
keluarga berencana) yang melakukan survei PUS setiap tahun di wilayah kerjanya. Dari
jumlah PUS ini akan diketahui berapa yang menjadi akseptor KB dan berapa yang tidak
memakainya karena ingin hamil atau sedang hamil. Yang hamil dijadikan penduduk sasaran
KIA dan yang belum hamil karena menghadapi masalah infertilitas juga perlu dilayani
dengan menyediakan pelayanan kesehatan yang berbeda. Dari ibu hamil akan ada bayi lahir,
baik lahir mati, BBLR, dan lahir dengan berat badan normal, dan ditolong oleh tenaga terlatih
atau bukan. Jumlah bayi yang lahir hidup secara kumulatif akan menjadi sasaran Posyandu
untuk diimunisasi dan ditimbang secara rutin berat badannya sampai umur lima tahun. Ibu-
ibunya akan menjadi sasaran pelayanan konseling pascapersalinan.

Kegiatan KIA terdiri dari kegiatan pokok dan integratif. Kegiatan integratif adalah
kegiatan program lain yang dilaksanakan pada program KIA karena sasaran penduduk
program lain tersebut juga menjadi sasaran program KIA. Kegiatan pokok pada program KIA
adalah:

1. Memeriksa kesehatan ibu hamil (ANC).


2. Mengamati perkembangan dan pertumbuhan anak-anak balita, integrasi dengan program
gizi.
3. Memberikan nasihat tentang makanan, mencegah timbulnya masalah gizi karena
kekurangan protein dan kalori dan memperkenalkan jenis makanan tambahan (vitamin dan
garam yodium). Integrasi program PKM (konseling) dan gizi.
4. Memberikan pelayanan KB kepada pasangan usia subur.
5. Merujuk ibu-ibu atau anak-anak yang memerlukan pengobatan.
6. Memberikan pertolongan persalinan dan bimbingan selama masa nifas.
7. Mengadakan latihan untuk dukun bersalin dan kader kesehatan Posyandu.

Masalah gizi masih cukup rawan di beberapa wilayah Indonesia terutama di wiliyah
pemukiman kumuh di daerah perkotaan. Wilayah yang sering dilanda musim kering, yaitu
NTB dan NTT. Tujuan dari program gizi di Puskesmas adalah untuk meningkatkan status
gizi masyarakat melalui usaha pemantauan status gizi kelompok-kelompok masyarakat yang
mempunyai risiko tinggi (ibu hamil dan balita), pemberian makanan tambahan (PMT) baik
yang bersifat penyuluhan maupun pemulihan. Sasarannya adalah ibu hamil, ibu menyusui

13
dan anak-anak dibawah usia lima tahun. Selain itu penduduk yang tinggal di daerah rawan
pangan perlu mendapat perhatian Puskesmas.

Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas dalam program gizi ini adalah
sebagai berikut:

1. Menimbang berat badan balita untuk memantau pertumbuhan anak. dilakukan secara rutin
setiap bulan, baik di Puskesmas maupun di pos timbang/posyandu. Indicator keberhasilan
pemantauan status gizi balita digunakan SKDN yang ditulis di buku KMS (kartu menuju
sehat).
S= jumlah semua balita; K= anak yang mempunyai KMS; D= balita yang datang teratur
ke tempat penimbangan; N= balita yang datang teratur dan BB naik.
2. Pemeriksaan HB dan BB pada ibu hamil secara rutin. Kunjungan ibu hamil ke Puskesmas
untuk ANC dilakukan minimal 4 kali sepanjang kehamilannya.
3. Pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita yang kurang gizi. PMT penyuluhan
dilakukan melalui demonstrasi pemilihan bahan makanan yang bergizi dan cara
memasaknya. PMT pemulihan dilakukan memalui pemberian makanan yang sifatnya
suplementasi (vitamin A, sulfas ferrosus, susu, dan sebagainya).
4. Memberikan penyuluhan gizi kepada masyarakat. Kegiatan gizi diintegrasikan ke dalam
program KIA baik di gedung Puskesmas maupun di Posyandu.
5. Pembagian vitamin A untuk bayi 2x setahun, suplemen tablet besi untuk ibu hamil yang
datang ke Puskesmas untuk ANC dan pemberian obat cacing untuk anak yang kurang gizi
karena gangguan parasit cacing.

Kartu Menuju Sehat (KMS) merupakan salah satu parameter penting untuk menilai
tumbuh kembang balita. Perhatikan gambar 5.

14
Gambar 5. Kartu Menuju Sehat (sumber:
http://tumbuhsehat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=156&Itemid=77
%5B;%5B'%5Du)

Dari gambar tersebut dapat dilihat di bagian samping terdapat identitas dan nama
posyandu tempat kontrol. Di bagian berikutnya terdapat grafik umur terhadap berat badan. Di
bagian dalam KMS terdapat grafik untuk anak berumur 0-24 bulan, dan di bagian luarnya
terdapat grafik untuk umur 24-60 bulan. Di bawah grafik terdapat pula berbagai ilustrasi
tentang proses tumbuh kembang anak yang normal.10

Grafik pertumbuhan yang optimal adalah apabila dari pencatatan setiap bulan
diperoleh berat badan yang terus meningkat dan tetap berada dalam zona hijau. Zona kuning
menandakan orang tua harus waspada dengan pertumbuhan balitanya. Zona kuning yang di
bawah menunjukkan berat badan anak kurang dari berat badan rata-rata anak seusianya.
Sedangkan zona kuning yang di atas menunjukkan berat badan anak lebih dari berat badan
rata-rata anak seusianya. Berat anak yang terlalu rendah sampai memotong garis merah
(BGM = bawah garis merah) harus dikonsultasikan ke petugas kesehatan. Demikian pula
dengan anak yang berat badannya tidak naik dalam kurun waktu 2 bulan. Berat badan yang
melampaui zona kuning atas juga tidak baik karena hal ini dapat menunjukkan anak
mengalami obesitas atau mengindikasikan gangguan kecepatan pertumbuhan.10

15
Salah satu penanggulangan yang dapat dilakukan oleh Puskesmas dalam menangani
gizi buruk pada balita adalah pemberian makanan tambahan (PMT) pemulihan. PMT
pemulihan bagi anak usia 6-59 bulan dimaksudkan sebagai tambahan, bukan sebagai
pengganti makanan utama sehari-hari. Sasaran prioritas dari PMT pemulihan ini adalah balita
gizi kurang atau kurus usia 6-59 bulan termasuk balita dengan Bawah Garis Merah (BGM)
dari keluarga miskin. Sasaran dipilih melalui hasil penimbangan bulanan di Posyandu dengan
urutan prioritas dan kriteria sebagai berikut:11

1. Balita yang dalam pemulihan pasca perawatan gizi buruk di TFC/Pusat Pemulihan Gizi/
Puskesmas Perawatan atau Rumah Sakit.
2. Balita kurus dan berat badannya tidak naik dua kali berturut-turut (2 T).
3. Balita kurus.
4. Balita Bawah Garis Merah (BGM).

Balita dengan kriteria tersebut di atas, perlu dikonfirmasi kepada Tenaga Pelaksana Gizi atau
petugas Puskesmas, guna menentukan sasaran penerima PMT pemulihan.

Prinsip dasar dari PMT pemulihan adalah:10

1. PMT pemulihan diberikan dalam bentuk makanan atau bahan makanan lokal dan tidak
diberikan dalam bentuk uang.
2. PMT pemulihan hanya sebagai tambahan terhadap makanan yang dikonsumsi oleh balita
sasaran sehari-hari, bukan sebagai pengganti makanan utama.
3. PMT pemulihan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sasaran sekaligus
sebagai proses pembelajaran dan sarana komunikasi antar ibu dari balita sasaran.
4. PMT pemulihan merupakan kegiatan di luar gedung puskesmas dengan pendekatan
pemberdayaan masyarakat yang dapat diintegrasikan dengan kegiatan lintas program dan
sektor terkait lainnya.
5. PMT pemulihan dibiayai dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). Selain itu
PMT pemulihan dapat dibiayai dari bantuan lainnya seperti partisipasi masyarakat, dunia
usaha, dan pemerintah daerah.

Persyaratan jenis dan bentuk makanan yang diberikan adalah:10

1. Makanan tambahan pemulihan diutamakan berbasis bahan makanan atau makanan lokal.
Jika bahan makanan lokal terbatas, dapat digunakan makanan pabrikan yang tersedia di

16
wilayah setempat dengan memperhatikan kemasan, label dan masa kadaluarsa untuk
keamanan pangan.
2. Makanan tambahan pemulihan diberikan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita sasaran.
3. PMT Pemulihan merupakan tambahan makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi balita
dari makanan keluarga.
4. Makanan tambahan balita ini diutamakan berupa sumber protein hewani maupun nabati
(misalnya telur/ikan/daging/ayam, kacang-kacangan atau penukar) serta sumber vitamin
dan mineral yang terutama berasal dari sayur-sayuran dan buah-buahan setempat.
5. Makanan tambahan diberikan sekali sehari selama 90 hari berturut-turut.
6. Makanan tambahan pemulihan berbasis bahan makanan/makanan lokal ada 2 jenis yaitu
berupa: a. MP-ASI (untuk bayi dan anak berusia 6-23 bulan)
b. Makanan tambahan untuk pemulihan anak balita usia 24-59 bulan berupa makanan
keluarga.
7. Bentuk makanan tambahan pemulihan yang diberikan kepada balita dapat disesuaikan
dengan pola makanan sebagaimana tabel 3.

Tabel 3. Pola Pemberian Makanan Bayi dan Anak Balita

Usia (bulan) ASI Bentuk makanan


Makanan Lumat Makanan Lembik Makanan
Keluarga
0-6*
6-8
9-11
12-23
24-59
Ket: 6* = 5 bulan 29 hari

Posyandu8,12,13

Pelayanan kesehatan terpadu (yandu) adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan


kesehatan yang dilaksanakan di suatu wilayah kerja Puskesmas. Tempat pelaksanaan
pelayanan program terpadu di balai dusun, balai kelurahan, RW dan sebagainya disebut
dengan Pos pelayanan terpadu (Posyandu). Pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di
posyandu adalah KIA, KB, P2M (imunisasi dan penanggulangan diare), dan Gizi

17
(penimbangan balita). Sasaran penduduk yandu adalah ibu hamil, ibu menyusui, pasangan
usia subur (PUS), dan balita.

Program yandu merupakan strategi jangka panjang pemerintah untuk menurunkan


angka kematian bayi (Infant Mortality Rate-IMR), angka kelahiran (Birth Rate-BR), dan
angka kematian ibu (Maternal Mortality Rate-MMR). Turunnya IMR, BR, dam MMR di
suatu wilayan merupakan standar keberhasilan pelaksanaan program terpadu di wilayah
tersebut. Keberhasilan ini dipantau setiap lima tahun melalui Survei Kesehatan Rumah
Tangga (SKRT) Depkes atau Survei Kesehatan Nasional (Surkesnas).

Tujuan dari Posyandu antara lain adalah menurunkan angka kematian bayi, ibu
melahirkan dan nifas, membudayakan NKBS (Norma Keluarga kecil Bahagia dan Sejahtera),
meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB
serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera, dan
berfungsi sebagai wahana gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ketahanan
keluarga, dan gerakan ekonomi keluarga sejahtera.

Pelaksanaan layanan Posyandu dilakukan dengan sistem 5 meja, yaitu:

1. Meja I : pendaftaran
2. Menja II : penimbangan
3. Meja III : pengisian KMS
4. Meja IV : penyuluhan perorangan berdasarkan KMS
5. Meja V : pelayanan kesehatan, berupa imunisasi, pemberian vitamin A dosis tinggi,
pembagian pil KB atau kondom, pengobatan ringan, dan konsultasi KB.

Petugas pada Meja I s/d IV dilaksanakan oleh kader PKK sedangkan Meja V merupakan
meja pelayanan paramedis (Jurim, Bindes, perawat dan petugas KB).

Kegiatan yang dilakukan dalam Posyandu, antara lain:

1. Jenis Pelayanan Minimal Kepada Anak


a. Penimbangan untuk memantau pertumbuhan anak, perhatian harus diberikan khusus
terhadap anak yang selama ini 3 kali tidak melakukan penimbangan, pertumbuhannya
tidak cukup baik sesuai umurnya dan anak yang pertumbuhannya berada di bawah garis
merah KMS.
b. Pemberian makanan pendamping ASI dan Vitamin A.

18
c. Pemberian PMT untuk anak yang tidak cukup pertumbuhannya (kurang dari 200 gram/
bulan) dan anak yang berat badannya berada di bawah garis merah KMS.
d. Memantau atau melakukan pelayanan imunisasi dan tanda-tanda lumpuh layu.
e. Memantau kejadian ISPA dan diare, serta melakukan rujukan bila perlu.
2. Pelayanan Tambahan yang Diberikan
a. Pelayanan bumil dan menyusui.
b. Program Pengembangan Anak Dini Usia (PADU) yang diintegenerasikan dengan
program Bina Keluarga Balita (BKB) dan kelompok bermain lainnya.
c. Program dana sehat atau JPKM dan sejenisnya, seperti tabulin, tabunus dan sebagainya.
d. Program penyuluhan dan penyakit endemis setempat.
e. Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman.
f. Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD).
g. Program diversifikasi pertanian tanaman pangan.
h. Program sarana air minum dan jamban keluarga (SAMIJAGA) dan perbaikan
lingkungan pemukiman.
i. pemanfaatan pekarangan.
j. Kegiatan ekonomis produktif, seperti usaha simpan pinjam dan lain-lain.
k. Dan kegiatan lainnya seperti: TPA, pengajian, taman bermain.

Dengan adanya Posyandu yang sasaran utamanya bayi dan balita, sangat tepat untuk
meningkatkan gizi balita. Peningkatan gizi balita di Posyandu yang dilakukan oleh kader
berupa memberikan penyuluhan tentang ASI, status gizi balita, MPASI, Imunisasi, Vitamin
A, stimulasi tumbuh kembang anak, diare pada balita.

Bila terdapat perburukan selama pengamatan dan perawatan status gizi, maka perlu
dilakukan rujukan, sebagai berikut:1

1. Gizi buruk tanpa komplikasi dengan rawat jalan, rujukan dilakukan apabila:
a. Anak dengan komplikasi medis atau penyakit penyerta,
b. Sampai kunjungan ketiga berat badan anak tidak naik (kecuali anak dengan edema),
c. Timbul edema baru.
2. Gizi buruk dengan komplikasi dengan rawat inap, rujukan dilakukan apabila:
a. Rujukan ke rumah sakit dilakukan bila terdapat tanda kegawatan/kesakitan yang tidak
dapat diatasi dan memerlukan penanganan lebih lanjut oleh dokter spesialis anak.

19
b. Anak gizi buruk pasca perawatan di PPG (Pusat Pemulihan Gizi), dikirim ke
Puskesmas/Puskesmas Pembantu/Posyandu terdekat dengan rumah pasien untuk
dilakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan serta penyakit penyerta
(contoh: TB-paru) secara rutin.

Promosi Kesehatan dan Pencegahan Gizi Buruk

Promosi kesehatan adalah proses pemberdayaan masyarakat untuk dapat memelihara


dan meningkatkan derajat kesehatannya. Dengan promosi kesehatan diharapkan masyarakat
mampu mengendalikan determinan kesehatan. Partisipasi merupakan sesuatu yang penting
dalam upaya promosi kesehatan.14

Promosi kesehatan merupakan proses komprehensif sosial dan politik, bukan hanya
mencakup upaya peningkatan kemampuan dan keterampilan individual, tetapi juga upaya
yang bertujuan mengubah masyarakat, lingkungan, dan kondisi ekonomi, agar dampak
negatif terhadap kesehatan individu dan masyarakat dapat dikurangi.14

Promosi kesehatan mempunyai 3 strategi dasar, yaitu:14

1. Advokasi kesehatan, untuk menciptakan kondisi ideal untuk sehat. Merupakan perpaduan
antara aksi individu dan sosial yang dirancang untuk mendapatkan komitmen politik,
dukungan kebijakan, penerimaan sosial, dan dukungan sistem untuk tujuan kesehatan atau
program kesehatan.
2. Pemberdayaan masyarakat, untuk mencapai derajat kesehatan optimal. Merupakan
proses yang mengantarkan masyarakat dalam mendapatkan kemampuan mengendalikan
keputusan dan tindakannya dalam kesehatan.
3. Mediator bagi berbagai kepentingan dalam masyarakat di bidang kesehatan. Merupakan
proses rekonsiliasi berbagai kepentingan (personal, sosial, ekonomi) dari individu dan
komunitas, dan berbagai sektor (publik dan pribadi) dalam peningkatan dan perlindungan
kesehatan.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Bidang Kesehatan


2005-2009 menetapkan empat sasaran pembangunan kesehatan, satu diantaranya adalah
menurunkan prevalensi gizi kurang menjadi setinggi-tingginya 20%. Guna mempercepat
pencapaian sasaran tersebut, di dalam Rencana Strategis Departemen Kesehatan 2005-2009
telah ditetapkan 4 strategi utama, yaitu 1) menggerakkan dan memberdayakan masyarakat
untuk hidup sehat; 2) meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang

20
berkualitas; 3) meningkatkan sistem surveilans, monitoring, dan informasi kesehatan; 4)
meningkatkan pembiayaan kesehatan. Selanjutnya dari empat strategi utama tersebut telah
ditetapkan 17 sasaran prioritas, satu diantaranya adalah seluruh keluarga menjadi Keluarga
Sadar Gizi (KADARZI), sebagai komponen Desa Siaga.15

Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) adalah suatu keluarga yang mampu mengenal,
mencegah, dan mengatasi masalah gizi setiap anggotanya. Suatu keluarga disebut KADARZI
apabila telah berperilaku gizi yang baik yang dicerminkan minimal dengan:15

1. Menimbang berat badan secara teratur.


2. Memeberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai usia enam bulan (ASI eksklusif).
3. Makan beraneka ragam.
4. Menggunakan garam beryodium.
5. Minum suplemen gizi sesuai anjuran.
Untuk mewujudkan perilaku KADARZI, sejumlah aspek perlu dicermati. Aspek ini
berada disemua tingkatan mencakup 1) tingkat keluarga; 2) tingkat masyarakat; 3) tingkat
pelayanan kesehatan; 4) tingkat pemerintah.15
Pada umumnya keluarga telah memiliki pengetahuan dasar mengenai gizi. Namun
demikian, sikap dan keterampilan serta kemauan untuk bertindak memperbaiki gizi keluarga
masih rendah. Sebagian keluarga menganggap asupan makanannya selama ini cukup
memadai karena tidak ada dampak buruk yang mereka rasakan. Sebagian keluarga juga
mengetahui bahwa ada jenis makanan yang lebih berkualitas, namun mereka tidak ada
kemauan dan tidak mempunyai keterampilan untuk penyiapannya.15
Gambaran perilaku gizi yang belum baik juga ditunjukkan dengan masih rendahnya
pemanfaatan fasilitas pelayanan oleh masyarakat. Saat ini baru sekitar 50% anak balita yang
dibawa ke Posyandu untuk ditimbang sebagai upaya deteksi dini gangguan pertumbuhan.
Bayi dan balita yang telah mendapat Kapsul Vitamin A baru mencapai 74% dan ibu hamil
yang mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) baru mencapai 60%. Sementara itu
perilaku gizi lain yang belum baik adalah masih rendahnya ibu yang menyusui bayi 0-6 bulan
secara eksklusif yang baru mencapai 39%, sekitar 28% rumah tangga belum menggunakan
garam beryodium yang memenuhi syarat dan pola makan yang belum beraneka ragam.15
Masalah lain yang menghambat penerapan perilaku KADARZI adalah adanya
kepercayaan, adat kebiasaan dan mitos negatif pada keluarga. Sebagai contoh masih banyak
keluarga yang mempunyai anggapan negatif dan pantangan terhadap beberapa jenis makanan
yang justru sangat bermanfaat bagi asupan gizi.

21
Pelayanan kesehatan yang mencakup pelayanan preventif dan promotif sangat
diperlukan dalam mewujudkan KADARZI. Namun demikian saat ini pelayanan kesehatan
masih banyak menitikberatkan pada upaya kuratif dan rehabilitatif. Di lapangan saat ini
kegiatan dan ketersediaan media promosi masih sangat terbatas.15
Strategi dasar KADARZI adalah pemberdayaan keluarga dan masyarakat, Bina
Suasana dan Advokasi yang didukung kemitraan. Demikian strategi-strategi tersebut:15
1. Gerakan Pemberdayaan Masyarakat, adalah proses pemberian informasi KADARZI
secara terus menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran di berbagai
tatanan, serta proses membantu sasaran, agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu
menjadi tahu atau sadar gizi, dari tahu menjadi mau dan dari mau menjadi mampu
melaksanakan perilaku sadar gizi. Sasaran utama pemberdayaan masyarakat adalah
individu, keluarga dan kelompok masyarakat.
2. Bina Suasana adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial yang mendorong
individu, keluarga dan kelompok masyarakat untuk mau melakukan perilaku KADARZI.
Seseorang akan terdorong untuk melakukan perilaku sadar gizi apabila lingkungan sosial
dimana dia berada (keluarga di rumah, orang-orang menjadi panutan, idolanya, majelis
agama, dan lain-lain) memiliki opini yang positif terhadap perilaku sadar gizi. Bina
suasana perlu dilakukan karena akan mendukung proses pemberdayaaan masyarakat
khususnya dalam upaya mengajak para individu dan keluarga dalam penerapan perilaku
sadar gizi.
3. Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk mendapatkan
komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait (stakeholders). Advokasi diarahkan
untuk menghasilkan kebijakan yang mendukung peningkatan penerapan KADARZI.
Kebijakan publik di sini dapat mencakup peraturan perundangan di tingkat nasional
maupun kebijakan di daerah seperti Peraturan Daerah (PERDA), Surat Keputusan
Gubernur, Bupati/Walikota, Peraturan Desa dan lain sebagainya.
4. Kemitraan, gerakan pemberdayaan, bina suasana dan advokasi akan lebih efektif bila
dilaksanakan dengan dukungan kemitraan. Kemitraan KADARZI adalah suatu kerja sama
yang formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi
untuk mencapai peningkatan KADARZI. Kemitraan KADARZI berlandaskan pada 3
prinsip dasar yaitu: Kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan antarmitra.

22
Kegiatan gerakan pemberdayaan masyarakat dalam promosi KADARZI di
kabupaten/kota salah satunya adalah fasilitasi pelaksanaan kegiatan promosi di komunitas,
dengan cara sebagai berikut:15

1. Pengembangan kelompok-kelompok komunitas


Tujuan dari rangkaian kegiatan ini adalah untuk bersama-sama mitra mengidentifikasi dan
mengembangkan kapasitas kelompokkelompok di komunitas, mencakup kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
a. Identifikasi kelompok-kelompok komunitas di wilayah sasaran, yang dimaksud dengan
kelompok-kelompok komunitas dapat mencakup:
Kelompok dalam bidang kesehatan seperti Posyandu.
Kelompok dalam bidang keagamaan seperti majelis taqlim, Pengajian, Yasinan,
Kelompok Jemaat Gereja, kelompok komunitas berbasis keagamaan dari penganut
agama lain termasuk Hindu, Budha.
Kelompok usaha seperti kelompok tani, peternak, pengairan/irigasi
Kelompok bidang ekonomi seperti kelompok simpan pinjam, arisan dan lain-lain.
b. Membentuk atau bila sudah ada, mengembangkan kelompok yang beranggota wakil
kelompok-kelompok yang ada.
c. Pertemuan untuk menyamakan persepsi.
d. Lokakarya untuk pengembangan kapasitas dengan topik, mencakup:
Mengidentifikasi masalah gizi
Mengenal KADARZI
Memfasilitasi diskusi warga untuk terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan,
pemantauan dan penilaian Promosi KADARZI
Mengelola kegiatan edu-taintment di tingkat komunitas

Selain dengan program KADARZI, intervensi yang terkait dengan praktek-praktek


pemberian makanan pada anak dan gizi ibu merupakan kunci untuk menangani gizi kurang
pada anak-anak. Intervensi ini merupakan paket Intervensi Gizi Efektif (IGE), yang
memberikan sebuah rangkaian layanan sejak pra-kehamilan sampai usia dua tahun yang
mencakup 1000 hari kehidupan. Konseling gizi bagi para perempuan hamil dan ibu untuk
mempromosikan praktek-praktek yang baik merupakan bagian penting dari paket terpadu ini.
Berikut ini yang seharusnya dimasukkan dalam paket Intervensi Gizi Efektif:16

1. Konseling gizibagi ibu hamil dan ibu anak-anak muda

23
2. Praktek pemberian makan bayi dan anak yang tepat: inisiasi pemberian ASI dalam jam
pertama kelahiran, pemberian ASI eksklusif kepada bayi usia kurang dari enam bulan, dan
pengenalan makanan pendamping ASI sesuai dengan praktek-praktek yang
direkomendasikan pada usia 6 bulan, dilanjutkan dengan pemberian ASIsampai usia
minimal dua tahun.
3. Gizi mikro bagi perempuan hamil dan bagi anak yang meliputi:
a. Besi dan asam folat atau suplementasi gizi mikro ganda bagi perempuan hamil,
b. Garam beryodium yang memadai bagi semuarumah tangga,
c. Suplementasi Vitamin A bagi anak-anak usia 6-59bulan,
d. Suplementasi seng untuk diare pada anak-anak diatas usia 6 bulan,
e. Perilaku kebersihan yang baik dalam kehamilan, masa bayi and usia dini,
f. Pemberantasan penyakit cacingan bagi ibu dan anak-anak usia 1-5 tahun,
g. Pengobatan anak yang sangat kurus, dengan menggunakan makanan terapetik siap
pakai,
h. Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang kekurangan energi dan protein bagi
ibu hamil kurang makan,
i. Pemberian suplementasi kalsium pada ibu hamil.

Gizi Seimbang

Pemahaman gizi seimbang digunakan mulai tahun 1994 melalui pedoman umum gizi
seimbang (PUGS), yang sebelumnya dikenal dengan slogan 4 sehat 5 sempurna. Ilmu gizi
dibedakan menjadi dua, yaitu: 1) Clinical nutrition, yaitu gizi yang berkaitan dengan
kesehatan perorangan, lebih menitik beratkan pada kuratif (pengobatan) daripada preventif
(pencegahan) dan promotif (peningkatan), 2) Public health nutrition, yaitu gizi yang
berkaitan dengan kesehatan masyarakat dan lebih ditekankan pada preventif dan promotif.

Yang dimaksud dengan gizi seimbang adalah pola makan yang seimbang antar zat
gizi yang diperoleh dari aneka ragam makanan dalam memenuhi kebutuhan zat gizi untuk
hidup sehat, cerdas, dan produktif. Dan yang dimaksud dengan seimbang adalah
keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi, antara kelompok pangan sumber tenaga,
sumber pembangun (lauk-pauk) dan sumber zat pengatur (sayuran dan buah), serta
keseimbangan antar waktu makan (pagi, siang, dan malam).17

Kebutuhan gizi setiap orang berbeda-beda sesuai dengan usia, jenis kelamin, jenis
aktivitas, dan kondisi lain seperti sakit, hamil, atau menyusui. Sesuai dengan pedoman umum

24
gizi seimbang (PUGS) bahan makanan dikelompokkan berdasarkan fungsi utama zat gizi,
yang dikenal dengan istilah Tri Guna Makanan, yaitu:17

1. Sumber zat tenaga (padi-padian, umbi-umbian, dan tepung-tepungan)


2. Sumber zat pengatur (sayuran dan buah)
3. Sumber zat pembangun (kacang-kacangan, makanan hewani, dan hasil olahannya),

sedangkan makanan yang dibatasi jumlah penggunaannya adalah gula dan garam. Lihat pada
gambar 6.

Gambar 6. Piramida Pedoman Umum Gizi Seimbang (sumber: Nutrition for health, fitness
and sport)

Keunggulan dari model piramida gizi ini adalah selain ditujukan untuk kelompok rawan (gizi
kurang) dalam meningkatkan status gizi, juga ditujukan bagi mereka yang kelebihan gizi
(obesitas) agar tercapai hidup yang lebih sehat.18

Angka kecukupan gizi (AKG) adalah suatu kecukupan rata-rata gizi setiap hari bagi
semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, aktivitas tubuh dan
kondisi fisiologis khusus untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Data AKG ini
selanjutnya dapat dipergunakan untuk:19

1. Menentukan kecukupan makanan,


2. Merencanakan bantuan makanan dalam rangka program kesejahteraan rakyat,
3. Mengevaluasi tingkat kecukupan penyediaan pangan untuk kelompok tertentu,
4. Menilai tingkat konsumsi individu maupun masyarakat,

25
5. Menilai status gizi masyarakat,
6. Merencanakan fortifikasi makanan,
7. Merencanakan KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) di bidang gizi termasuk penyusunan
PUGS (Pedoman Umum Gizi Seimbang),
8. Merencanakan kecukupan gizi institusi,
9. Membuat label gizi pada kemasan produk makanan industri. Pehatikan tabel 4.

Tabel 4. Tabel Angka Kecukupan Gizi 2004 Bagi Orang Indonesia (sumber:
http://gizi.depkes.go.id/download/AKG2004.pdf)

Pada balita kebutuhan gizi yang dibutuhkan berbeda dari orang dewasa, mereka butuh
lebih banyak lemak dan sedikit serat, berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pemilihan makanan untuk balita:20

1. Gula dan garam, batasi penggunaan gula dan garam pada menu bayi. Walaupun sudah
berusia di atas 1 tahun, batasi penggunaannya. Konsumsi garam untuk balita tidak lebih
dari 1/6 jumlah maksimum orang dewasa sehari atau kurang dari 1 gram. Cermati
makanan balita, karena makanan orang dewasa belum tentu cocok untuknya. Kadang
makanan orang dewasa terlalu banyak garam atau gula, atau bahkan mengandung bahan
pengawet atau pewarna buatan.

26
2. Porsi makan anak juga berbeda dengan orang dewasa. Mereka membutuhkan makanan
sumber energi yang lengkap gizi dalam jumlah lebih kecil namun sering.
3. Kebutuhan energi dan nutrisi. Bahan makanan sumber energi seperti karbohidrat, protein,
lemak serta vitamin, mineral dan serat wajib dikonsumsi anak setiap hari. Atur agar semua
sumber gizi tersebut ada dalam menu sehari.
4. Susu pertumbuhan. Susu sebagai salah satu sumber kalsium, juga penting dikonsumsi
balita. Sedikitnya balita butuh 350 ml/12 oz per hari.

Kegiatan Surveilans Gizi21

Kegiatan surveilans gizi meliputi kegiatan pengumpulan dan pengolahan data,


penyajian serta diseminasi informasi bagi pemangku kepentingan. Informasi dari surveilans
gizi dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk melakukan tindakan segera
maupun untuk perencanaan program jangka pendek, menengah maupun jangka panjang serta
untuk perumusan kebijakan.

1. Pengumpulan data
Pengumpulan data secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan dari berbagai kegiatan
surveilans gizi sebagi sumber informasi, yaitu:
a. Kegiatan rutin yaitu penimbangan bulanan, pemantauan dan pelaporan kasus gizi
buruk, pendistribusian tablet Fe ibu hamil, pendistribusian kapsul vitamin A balita, dan
pemberian ASI Eksklusif.
b. Kegiatan survei khusus yang dilakukan berdasarkan kebutuhan, seperti konsumsi garam
beriodium, pendistribusian MP-ASI dan PMT, pemantauan status gizi anak dan ibu
hamil dan Wanita Usia Subur (WUS) risiko Kurang Energi Kronis (KEK) atau studi
yang berkaitan dengan masalah gizi lainnya.

Dalam pelaksanaan pengumpulan data, bila ada puskesmas yang tidak melapor atau
melapor tidak tepat waktu, data laporan tidak lengkap dan atau tidak akurat maka petugas
Dinkes Kabupaten/Kota perlu melakukan pembinaan secara aktif untuk melengkapi data.
Kegiatan ini dapat dilakukan melalui telepon, Short Message Service (SMS) atau
kunjungan langsung ke puskesmas.

2. Pengolahan data dan penyajian informasi


Pengolahan data dapat dilakukan secara deskriptif maupun analitik, yang disajikan dalam
bentuk narasi, tabel, grafik dan peta, atau bentuk penyajian informasi lainnya.

27
3. Diseminasi informasi
Diseminasi informasi dilakukan untuk menyebarluaskan informasi surveilans gizi kepada
pemangku kepentingan. Kegiatan diseminasi informasi dapat dilakukan dalam bentuk
pemberian umpan balik, sosialisasi atau advokasi. Umpan balik merupakan respon tertulis
mengenai informasi surveilans gizi yang dikirimkan kepada pemangku kepentingan pada
berbagai kesempatan baik pertemuan lintas program maupun lintas sektor. Sosialisasi
merupakan penyajian hasil surveilans gizi dalam forum koordinasi atau forum-forum
lainnya sedangkan advokasi merupakan penyajian hasil surveilans gizi dengan harapan
memperoleh dukungan dari pemangku kepentingan.

Alur pelaporan dan umpan balik serta koordinasi surveilans gizi adalah sebagai
berikut:

1. Laporan kegiatan surveilans dilaporkan secara berjenjang sesuai sumber data (bisa mulai
dari Posyandu atau dari Puskesmas).
2. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Provinsi berkoordinasi dengan
Rumah Sakit (RS)2 Pusat/Provinsi/Kabupaten/ Kota tentang data terkait, seperti data kasus
gizi buruk yang mendapat perawatan.
3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengirimkan rekapitulasi laporan dari Puskesmas
(Kecamatan) dan dari RS Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan Provinsi dan Direktorat
Bina Gizi, Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Kementerian Kesehatan RI,
sesuai dengan frekuensi pelaporan.
4. Umpan balik hasil kegiatan surveilans disampaikan secara berjenjang dari Pusat ke
Provinsi setiap 3 bulan atau setiap saat bila terjadi perubahan kinerja, dari Provinsi ke
Kabupaten/Kota dan dari Kabupaten/Kota ke Kecamatan (Puskesmas) serta
Desa/Kelurahan (Posyandu) sesuai dengan frekuensi pelaporan pada setiap bulan
berikutnya. Perhatikan gambar 7.

28
Gambar 7. Alur Pelaporan dan Umpan Balik Serta Koordinasi (sumber: Petunjuk
Pelaksanaan Surveilans Gizi)

Kesimpulan

Pemerataan gizi di Indonesia belum cukup baik, masih banyak masyarakat yang
belum terpenuhi kebutuhan gizinya, sehingga banyak terjadi kasus kurang gizi bahkan sampai
kepada gizi buruk . Kasus ini terjadi terutama pada kelompok yang rentan seperti balita, ibu
hamil dan menyusui. Untuk mengatasi hal ini, Puskesmas sebagai tempat pelayanan strata
pertama memiliki program wajib mengenai perbaikan gizi masyarakat. Namun hal ini tidak
cukup, para pelayan kesehatan harus bekerja lebih aktif lagi untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat akan pentingnya gizi, yaitu dengan cara promosi kesehatan dan penyuluhan. Hal
ini guna meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan merubah perilaku masyarakat agar lebih
baik lagi sehingga angka kurang gizi dan gizi buruk menurun.

Usaha pemerintah dan pelayan kesehatan akan sia-sia bila tidak ada kepedulian dan
peran serta dari masyarakat sendiri, salah satu peran serta masyarakat adalah terlaksananya

29
Posyandu, yang terdiri dari kader-kader yang merupakan kelompok masyarakat yang mau
berlatih dan membantu di bidang kesehatan.

Usaha perbaikan gizi harus terus dilaksanakan, terutama pada balita karena gizi cukup
pada balita akan mengoptimalkan tumbuh kembangnya sehingga akan menjadi anak-anak
bangsa yang cerdas.

Daftar Pustaka

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.Pedoman pelayanan anak gizi buruk.


Jakarta: Bakti Husada, 2011.h. 1-29.
2. Widyastuti P, Hardiyanti E.A. Gizi kesehatan masyarakat. Jakarta: EGC, 2005.h.120-
150.
3. Maulana H.D.J. Promosi kesehatan. Jakarta: EGC, 2007.h.50-60.
4. Budiarto. Pengantar epidemiologi. Jakarta: EGC, 2002.h.20-25.
5. Nasry Noor, Nur M.PH. Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.h.125-30.
6. Departemen Kesehatan RI. Bagan tatalaksana anak gizi buruk. Buku I. Jakarta:
Departemen Kesehatan, 2011.h.1-3.
7. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas. Jakarta: EGC, 2009.h.267-70,
284-5.
8. Muninjaya AA. Manajemen kesehatan. Edisi ke-2. Jakarta: EGC, 2004.h.128-9, 144-6,
148-9, 169-71.
9. Balai Pelatihan Kesehatan. Pedoman praktis pelaksanaan kerja di Puskesmas. Magelang:
Podorejo Offset, 2000.h.151-5,161-8.
10. Kementerian Kesehatan RI. Buku kesehatan ibu dan anak. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI, 2011.h.20-3.
11. Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI.Paduan
penyelenggaraan pemberian makanan tambahan pemulihan bagi balita gizi kurang
(bantuan operasional). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2011.h.1-8.
12. Pengertian Posyandu-kms. Edisi Mei 2013. Diunduh dari
http://posyandu.org/posyandu/1342-pengertian-posyandu-kms.html, 28 Juni 2013.
13. Suparmanto SAS. Petunjuk teknis pengembangan dan penyelenggaraan posyandu.
Departemen Kesehatan RI, 2009; Jakarta: h.30-2, 44-5, 61-2.

30
14. Ghazali L. Perilaku dan promosi kesehatan. Edisi 2004. Diunduh dari
http://medicine.uii.ac.id/upload/klinik/elearning/ikm/perilaku-dan-promosi-kesehatan-
fkuii-lg.pdf, 1 Juli 2013.
15. Departemen Kesehatan Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Pedoman strategi KIE
keluarga sadar gizi (KADARZI).Edisi 2007. Diunduh dari http://gizi.depkes.go.id/wp-
content/uploads/2012/05/strategi-KIE-Kadarzi.pdf, 1 Juli 2013.
16. UNICEF Indonesia. Gizi ibu dan anak. Edisi Oktober 2012. Diunduh dari
http://www.unicef.org/indonesia/id/A6_-_B_Ringkasan_Kajian_Gizi.pdf, 1 Juli 2013.
17. Universitas Indonesia. Pengertian gizi seimbang dan menyusun menu. Edisi 27 April
2009. Diunduh dari www.repository.ui.ac.id, 1 Juli 2013.
18. Khomsan A, Anwar F. Sehat itu mudah. Jakarta: PT Mizan Publika; 2008.h.10, 13-14.
19. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Pedoman umum gizi seimbang. Edisi November 2000.
Diunduh dari www.gizi.net, 1 Juli 2013.
20. Pritasari. Makanan dan gizi balita. Edisi 2010. Diunduh dari
http://www.nutriclub.co.id/my_toddler/article/a_balanced_diet_for_toddlers, 1 Juli 2013.
21. Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk
pelaksanaan surveilans gizi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2011.h.7-18.

31