Anda di halaman 1dari 11

Penyebab Lemas dan Lelah yang dialami Perempuan 34 Tahun

Selama Satu Minggu

Putri Handayani

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jalan Terusan Arjuna No. 6, Jakarta Barat. Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
putri.handayani@civitas.ukridas.ac.id

Pendahuluan

Latar Belakang

Otot adalah suatu jaringan yang mempunyai kemampuan berkontraksi sehingga berperan
sebagai alat gerak aktif.1 Otot sendiri memiliki beberapa karakteristik, yaitu peka terhadap
rangsang, respon terhadap stimuli, dapat meregang bila ditarik, serta dapat kembali kepanjang
dan bentuk semula setelah kontraksi atau ekstensi. Fungsi otot yang utama yaitu sebagai alat
penggerak tulang. Selain itu, otot juga berfungsi dalam mempertahankan postur tubuh dan
mempertahankan tekanan, serta berfungsi dalam pengaturan suhu tubuh.
Seperti yang kita ketahui, otot banyak terdapat ditubuh kita, termasuk didaerah tungkai.
Tungkai sendiri merupakan bagian kaki yang memanjang dari bagian atas paha ke telapak kaki.
Namun, dalam beberapa referensi medis tungkai hanya mengacu pada bagian kaki di bawah
dengkul sampai tumit. Tungkai dibagi menjadi dua, yaitu tungkai atas dan tungkai bawah,
dimana antara tungkai atas dan tungkai bawah memiliki otot yang berbeda satu sama lainnya.
Selain otot, pada tungkai juga terdapat tulang. Tulang yang terdapat pada tungkai bagian
atas berbeda dengan tulang yang terdapat pada tungkai bagian bawah. Sama halnya dengan
tulang, antara otot yang terdapat pada bagian tungkai atas juga berbeda dengan otot yang
terdapat ditungkai bawah. Otot dan tulang inilah yang termasuk kedalam bagian makroskopik.
Sedangkan yang termasuk kedalam bagian mikroskopik yaitu sel-sel penyusun otot dan tulang
itu sendiri.

1
Otot mengalami suatu mekanisme kerja otot yaitu kontraksi dan relaksasi. Kontraksi otot
dapat terjadi ketika terbentuknya aktomiosin yang merupakan gabungan dari aktin dan miosin,
sedangkan relaksasi terjadi ketika aktin dan myosin lepas menjadi laktosidogen. Dalam
melakukan mekanisme kerja tersebut, otot membutuhkan sejumlah energi yang berasal dari
Adenosin trifosfat (ATP). ATP adalah nukleotida yang terdiri dari adenine, gugus ribosa, dan
satu satuan fosfat. ATP merupakan molekul berenergi tinggi karena gugus trifosfatnya
mengandung dua ikatan fofoanhidrid.2 ATP ini kemudian dipecah menjadi ADP, fosfat dan
energy melalui suatu tahapan yang disebut glikolisis. Proses glikolisis sendiri dapat bersifat
aerob maupun anaerob.
Untuk dapat melakukan suatu kontraksi, otot memerlukan energi yang berupa senyawa
ATP. Energi tersebut berasal dari senyawa kimia yang terkandung dalam makanan, yang
merupakan sumber energi dalam melakukan suatu aktivitas. Pengertian dari sumber energi
merupakan sesuatu yang dapat menghasilkan energi. Beberapa contoh sumber energi yaitu asam
lemak, glukosa, glikogen, ATP dan keratin fosfat. Sumber-sumber energi tersebut nantinya akan
diolah menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui proses petabolisme. Metabolisme sendiri
merupakan jumlah keseluruhan reaksi kimia dan fisik, serta pengubahan energi dalam tubuh
yang menopang dan mempertahankan kehidupan.

Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menambah ilmu dan pengetahuan baik
bagi penulis maupun bagi pembaca terhadap hal-hal yang berkaitan dengan mekanisme kerja
otot, terutama pada otot tungkai. Selain itu, tujuan lain dari penulisan makalah ini ialah untuk
membahas suatu kasus yang berkaitan dengan seorang perempuan berusia 34 tahun yang
merupakan pedagang kue keliling dimana ia mengeluhkan lemas dan lelah selama 1 minggu.

Skenario

Seorang perempuan berusia 34 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan lemas dan
lelah pada sekujur tubuhnya sejak satu minggu yang lalu. Perempuan tersebut adalah seorang
pedagang kue keliling. Dari anamnesa diketahui bahwa ia sudah beberapa kali mengalami
keadaan seperti ini.

2
Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah seorang
perempuan berusia 34 tahun yang merupakan pedagang kue keliling mengeluhkan lemas dan
lelah sejak satu minggu yang lalu.

Analisis Masalah

Hipotesis

Hipotesis yang diajukan dalam pembahasan kasus skenario diatas yaitu pada seorang
perempuan berusia 34 tahun dengan pekerjaan sebagai pedagang kue keliling akan mengalami
suatu kelelahan yang disebabkan karena adanya penimbunan asam laktat, terutama pada bagian
tungkai.

Sasaran Pembelajaran

Sasaran pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah:
1. Memahami mekanisme kontraksi otot somatik
2. Memahami mekanisme penyediaan enersi pada kerja ringan, sedang dan berat

3
3. Memahami perbedaan aspek fisiologis proses glikolisis aerobic dan anaerobic sebagai
penyedia enersi untuk kontraksi
4. Memahami mekanisme terjadinya penumpukan asam laktat serta akibatnya

Pembahasan

Otot Tungkai

Otot adalah suatu jaringan yang mempunyai kemampuan berkontraksi sehingga berperan
sebagai alat gerak aktif.1 Otot sendiri memiliki beberapa karakteristik, yaitu peka terhadap
rangsang (eksitabilitas), respon terhadap stimuli, dapat meregang bila ditarik (ekstensibilitas),
serta dapat kembali kepanjang dan bentuk semula setelah kontraksi atau ekstensi (elastisitas).
Otot memiliki beberapa fungsi. Fungsi otot yang utama yaitu sebagai alat penggerak
tulang. Selain itu, otot juga berfungsi dalam mempertahankan postur tubuh dan mempertahankan
tekanan, serta berfungsi sebagai penghasil panas dan pengaturan suhu tubuh.
Seperti yang kita ketahui, otot banyak terdapat ditubuh kita, termasuk didaerah tungkai.
Tungkai sendiri merupakan bagian kaki yang memanjang dari bagian atas paha ke telapak kaki.
Namun, dalam beberapa referensi medis tungkai hanya mengacu pada bagian kaki di bawah
dengkul sampai tumit. Tungkai dibagi menjadi dua, yaitu tungkai atas dan tungkai bawah,
dimana antara tungkai atas dan tungkai bawah memiliki otot yang berbeda satu sama lainnya.
Selain otot, pada tungkai juga terdapat tulang. Tulang yang terdapat pada tungkai bagian
atas berbeda dengan tulang yang terdapat pada tungkai bagian bawah. Pada tungkai bagian atas
terdapat tulang paha dan tempurung lutut, sedangkan pada tungkai bagian bawah terdapat tulang
tibia dan tulang fibula. Sama halnya dengan tulang, antara otot yang terdapat pada bagian
tungkai atas juga berbeda dengan otot yang terdapat ditungkai bawah. Otot yang terdapat pada
tungkai atas seperti otot pectineus, otot gracillis, otot sartorius dan lain sebagainya. Sedangkan
otot yang terdapat pada bagian tungkai bawah yaitu otot plantaris, otot soleus, dan masih banyak
lagi otot-otot lain yang terdapat ditungkai, baik tungkai bagian atas, maupun tungkai bagian
bawah. Otot dan tulang inilah yang termasuk bagian makroskopik dari tungkai kita. Otot dan
tulang tersusun dari sel-sel penyusun yang termasuk pada bagian mikroskopik. Sel-sel tersebut
seperti sel kondrosit dan sel kondroblas yang merupakan bagian mikroskopik dari tulang rawan,

4
sel osteosit, sel osteblas dan sel osteoklas pada tulang. serta bagian mikroskopik lain seperti serat
kolagen dan serat elastin. Sedangkan bagian mikroskopik dari otot yaitu adanya Sarkolema yang
merupakan membran sel serabut otot, myofibril yaitu bagian mikroskopik otot yang mengandung
filamen aktin dan myosin, Sarkoplasma yang merupakan cairan intrasel berisi kalsium,
magnesium, phosfat, protein & enzim, Retikulum Sarkoplasma yang merupakan tempat
penyimpanan kalsium, serta Tubulus T yang merupakan sistem tubulus pada serabut otot.

Gambar 1. Otot Tungkai Bawah.

Mekanisme Kerja Otot

Tulang-tulang kita dapat bergerak karena adanya otot yang berkontraksi. Kontraksi
tersebut terjadi karena adanya suatu mekanisme kontraksi otot. Otot dapat berkontraksi karena
adanya pengaruh suatu rangsangan melalui saraf. Rangsangan tersebut yang nantinya
mempengaruhi suatu zat yang dalam hal ini adalah asetilkolin yang peka terhadap rangsangan.
Asetilkolin sendiri merupakan zat pemindah rangsang yang dihasilkan pada ujung saraf.3 Jika
dilihat dari struktur kimianya, asetilkolin termasuk kedalam golongan ester.
Jika suatu otot mengalami suatu kontraksi, berarti otot tersebut telah mendapatkan
rangsangan motorik dari pusat motorik (otak). Antara otot dan saraf otot dan saraf akan

5
membentuk sambungan yang disebut sinapsis neuromuskulus dimana ujung saraf motorik
melekat pada serabut otot. Langkah-langkah kontraksi otot jika rangsang sampai pada ujung
saraf motorik, maka ujung saraf motorik akan melepaskan neurotransmiter (pemindah rangsang
ke sel berikutnya) yang berupa asetilkolin keserabut otot melalui celah sinapsis, adanya
asetilkolin inilah yang nantinya akan merangsang pelepasan ion kalsium yang berada di sel otot.
Ion kalsium yang lepas nantinya akan berikatan dengan troponim dan tropomiosin. Setelah
terikat dengan troponim dan tropomiosin, melalui proses tertentu adanya ion kalsium yang
menyebabkan protein otot, yaitu aktin dan myosin. Aktin dan myosin ini nantinya akan berikatan
dan membentuk aktomiosin. Terbentuknya aktomiosin inilah yang disebut dengan kontraksi otot.
Setelah berkontraksi, ion kalsium akan lepas dari troponim dan tropomiosin, kemudian
keluar dari otot dan masuk kedalam plasma sel, sehingga menyebabkan lepasnya aktin dan
myosin. Lepasnya aktin dan myosin ini membuat otot menjadi melemas. keadaan inilah yang
disebut relaksasi.

Gambar 2. Mekanisme Kontraksi.

6
Mekanisme Penyediaan Energi

Untuk dapat melakukan suatu kontraksi, otot memerlukan energi yang berupa senyawa
ATP. Energi tersebut berasal dari senyawa kimia yang terkandung dalam makanan, seperti
glukosa yang berasal dari karbohidrat. Karena otot merupakan jaringan yang aktif, sel-sel otot
memiliki banyak mitokondria. Mitokondria sendiri merupakan suatu organel sel yang berperan
dalam respirasi. Respirasi tersebut dibutuhkan untuk pembentukan energy yang dalam hal ini
merupakan ATP. Oleh mitokondria, nantinya glukosa akan diubah menjadi energi (dalam bentuk
ATP) melalui proses respirasi aerob.
Dalam keadaan normal, energi untuk kontraksi otot berasal dari respirasi aerob. Namun,
ketika seseorang sedang berolahraga, maka pemasukan glukosa dan oksigen mungkin tidak
cukup, sehingga diperlukan cara-cara lain untuk menyediakan ATP, yaitu dengan cara
melakukan respirasi anaerob.

Tabel 1. Perbedaan Respirasi Aerob dan Respirasi Anaerob.

Respirasi aerob merupakan respirasi yang membutuhkan oksigen, sedangkan respirasi


anaerob merupakan respirasi yang tidak membutuhkan oksigen. Dalam respirasi aerob terdapat
suatu proses pemecahan glukosa yang disebut dengan glikoslisis. Pengertian dari glikolisis
sendiri yaitu suatu proses yang menghasilkan perubahan satu molekul glukosa menjadi dua
molekul asam piruvat.4 Proses pemecahan glukosa kemudian dibagi menjadi dua, yang pertama

7
yaitu pemecahan glukosa yang membutuhkan oksigen dan disebut dengan glikolisis aerob,
sedangkan proses pemecahan glukosa yang tidak membutuhkan oksigen, disebut glikolisis
anaerob.
Pada reaksi aerob, glukosa akan terurai dengan sempurna menjadi karbondioksida, air,
dan energy yang berupa ATP. Reaksi aerob berlangsung lambat namun efisien karena
menghasilkan energi sampai 36 mol ATP per mol glukosa. Sedangkan pada reaksi anaerob
terutama pada jalur glikolisis, otot dapat berkontraksi secara singkat tanpa memakai oksigen
dengan menggunakan ATP yang dihasilkan melalui glikolisis anaerob. Glikolisis anaerob
berlangsung cepat tetapi tidak efesien karena hanya menghasilkan dua molekul ATP per molekul
glukosa. Glikolisis dapat memenuhi kebutuhan ATP untuk kontraksi otot dalam waktu singkat
jika persendian oksigen tidak mencukupi. Dalam glikolisis anaerob terjadi suatu proses
pembentukan asam laktat. Proses pembentukan asam laktat terjadi melalui proses glikolisis
anaerob atau tanpa menggunakan oksigen, hal tersebut menyebabkan asam piruvat kemudian
diubah menjadi asam laktat. Jika aktivitas yang dilakukan sedang dan singkat, persendian
oksigen yang adekuat akan menghalangi akumulasi asam laktat. Asam laktat kemudian akan
berdifusi ke luar dari otot dan dibawa ke hati untuk disintesis ulang menjadi glukosa.5 Proses
pengubahan asam laktat menjadi glukosa ini disebut sebagai proses recycling.
Jika tidak dilakukan proses recycling oleh hati dan asam piruvat pada proses glikolisis
anaerob diubah terus menerus menjadi asam laktat lama kelamaan akan terkumpul sehingga
menyebabkan suatu penimbunan asam laktat. Penimbunan tersebut yang mempengaruhi otot dan
menimbulkan rasa nyeri.
Jika dikaitkan dengan skenario diatas, terlihat bahwa perempuan berusia 34 tahun
tersebut termasuk kedalam kalangan sosial ekonomi rendah, dimana ia harus berdagang kue
keliling untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Hal tersebut bisa menjadi alasan utama,
dimana karena ia termasuk kedalah kalangan sosial ekonomi yang rendah, otomatis kualitas
gizinyapun akan kurang, sehingga dapat menyebabkan anemia.
Pengertian dari anemia sendiri yaitu keadaan dimana masa eritrosit dan masa hemoglobin
yang beredar tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh, dan
secara laboratoris, anemia dijabarkan sebagai penurunan kadar hemoglobin.6 Jika kadar
hemoglobin didalam darah kurang, maka pengangkutan oksigen juga akan terganggu, dimana
seperti yang telah kita ketahui, hemoglobin berfungsi mengangkut oksigen. Kurangnya oksigen

8
dalam darah tersebut akan menyebabkan respirasi didalam sel terganggu. Hal tersebut
disebabkan karena cadangan oksigen sudah tidak mencukupi, sehingga sel harus melakukan
respirasi tanpa menggunakan oksigen. Didalam respirasi anaerob terdapat suatu proses
pemecahan glukosa yang disebut dengan glikolisis. Karena sel hanya mampu melakukan
respirasi anaerob, otomatis glikolisis juga dilakukan dengan anaerob dimana pada glikolisis
anaerob selain menghasilkan ATP, terdapat pula hasil sampingan yang berupa asam laktat. Jika
hal tersebut berlangsung terus menerus dan sel harus melakukan proses glikolisis anaerob terus
menerus, maka asam laktat yang dihasilkan semakin bertambah, sehingga menimbulkan
terjadinya penimbunan asam laktat. Penimbunan asam laktat inilah yang menyebabkan ibu
tersebut merasa lemas dan lelah.

Sember Energi

Sumber energi merupakan sesuatu yang dapat menghasilkan energi. Beberapa contoh
sumber energi yaitu asam lemak, glukosa, glikogen, ATP dan keratin fosfat. Sumber energi yang
pertama yaitu asam lemak. Asam lemak merupakan sumber energi yang dihasilkan dalam
keadaan istirahat, dimana asam lemak tersebut menghasilkan ATP yang prosesnya lebih lama
dan hasil akhir yang dihasilkannya juga lebih sedikit. Selanjutnya adalah glukosa. Seperti yang
telah disinggung pada pembahsan sebelumnya, glukosa dihasilkan dari proses pemecahan
glukosa yang disebut dengan glikolisis, dimana glikolisis tersebut dapat berlangsung secara
aerob maupun anaerob. Pada glikolisis yang berlangsung secara aerob, energi yang dihasilkan
cukup banyak, yaitu 36 ATP. Sedangkan pada glikolisis anaerob, energi yang dihasilkan hanya
sebesar 2 ATP.
Sumber energi yang ketiga merupakan glikogen. glikogen merupakan polisakarida utama
yang tersusun dari unit glukosa dan berperan sebagai molekul penyimpanan kalori di hati dan
otot.7 Sumber energi yang selanjutnya yaitu ATP. ATP merupakan suatu nukleotida yang terdiri
dari adenine, gugus ribosa, dan satu satuan fosfat. ATP merupakan molekul berenergi tinggi
karena gugus trifosfatnya mengandung dua ikatan fofoanhidrid.2 Kemudian sumber energi yang
terakhir yaitu keratin fosfat. Keratin fosfat merupakan produk cadangan otot yang terlibat dalam
pengubahan Adenosine Diphosphate (ADP) menjadi ATP, dimana keratin fosfat menyediakan
gugus fosfat ke ADP untuk diubah menjadi ATP.8 ADP dihasilkan dari pemecahan ATP untuk

9
melepaskan energi. Kreatin fosfat bersama dengan ADP beregenerasi menjadi ATP, seperti
terlihat pada reaksi berikut :

Kreatin fosfat + ADP Kreatin + ATP

Pada otot lurik jumlah fosfokreatin lebih dari lima kali jumlah ATP. Pemecahan ATP dan
fosfokreatin untuk menghasilkan energy tidak memerlukan oksigen bebas. Oleh sebab itu , fase
kontraksi otot sering disebut fase anaerob. 9

Jalur Metabolisme Karbohidrat dan Lemak

Metabolisme adalah jumlah keseluruhan reaksi kimia dan fisik, serta pengubahan energi
dalam tubuh yang menopang dan mempertahankan kehidupan.5 Didalam sel, reaksi-reaksi
metabolisme tidak terpisah satu sama lain, melainkan membentuk jejaring yang saling berkaitan
satu sama lain. Kalaupun terjadi pemisahan jalur metabolisme, hal tersebut lebih disebabkan oleh
lokasi terjadinya metabolisme. Didalam tubuh manusia terjadi metabolisme karbohidrat, yaitu
katabolisme karbohidrat dan anabolisme karbohidrat. Contoh katabolisme karbohidrat yaitu
proses respirasi sel, sedangkan contoh anabolisme karbohidrat yaitu pembentukan glikogen dan
glukosa. Anabolisme merupakan proses pembentukan molekul yang komplek dari molekul yang
sederhana, sedangkan katabolisme merupakan proses pemecahan atau penguraian senyawa yang
kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana, dimana respirasi termasuk didalamnya.
Katabolisme sendiri terdiri dari dua macam, yaitu katabolisme pada respirasi aerob dan
katabolisme pada respirasi anaerob.

Selain terjadi metabolisme karbohidrat, didalam tubuh manusia juga terjadi metabolisme
lemak dan protein. Jika dibandingkan dengan karbohidrat atau protein, mengkonsumsi makanan
yang mengandung lemak lebih memberikan rasa kenyang. rasa kenyang tersebut disebabkan oleh
kemampuan metabolism lemak untuk menghasilkan energi yang lebih besar dibandingkan
dengan metabolisme karbohidrat dan protein. Lemak adalah senyawa karbon yang paling
tereduksi, sedangkan karbohidrat dan protein adalah senyawa yang lebih teroksidasi. Senyawa
karbon yang tereduksi lebih banyak menyimpan energi dan jika dibakar sempurna akan
membebaskan energi lebih banyak. Hal tersebut disebabkan oleh pembebasan elektron lebih
banyak. Jumlah elektron yang dibebaskan menyatakan jumlah energi yang dihasilkan.10

10
Kesimpulan

Jadi, dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang diajukan diawal pembahsan terbukti benar,
dimana pada seorang perempuan berusia 34 tahun dengan pekerjaan sebagai pedagang kue
keliling akan mengalami suatu kelelahan yang disebabkan karena adanya penimbunan asam
laktat. Penimbunan asam laktat ini terjadi karena proses glikolisis hanya dapat berlangsung
secara anaerob sehingga menghasilkan suatu hasil sampingan yang berupa asam laktat yang
semakin lama semakin banyak sehingga terjadinya suatu penimbunan asam laktat yang
menyebabkan perempuan tersebut mengalami lemas dan lelah, terutama pada bagian tungkai.

Daftar Pustaka

1. Furqonita D. Biologi. Jakarta: Yudhistira; 2007. hal.59.


2. Yuwono T. Biologi molekuler. Jakarta: Erlangga; 2008. hal.15.
3. Abdullah M, Saktiyono, Lutfi. IPA terpadu. Jakarta: Esis; 2007. hal.52.
4. Kuchel P, Ralston GB. Biokimia (Biochemistry). Alih bahasa Laelasari E. Jakarta: Erlangga;
2006. hal.64.
5. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula (Anatomy and physiology: an easy learner).
Alih bahasa Veldman J. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2004. hal.122-123.
6. Handayani W, Haribowo AS. Hematologi. Jakarta: Salemba Medika; 2008. hal.4.
7. Fried GH, Hademenos GJ. Biologi (Biology). Jakarta: Erlangga; 2005. hal.25.
8. Campbell NA, Reace JB, Mitchell LG. Biologi (Biology). Alih bahasa Wasmen. Jakarta:
Erlangga; 2004. hal.257.
9. Murrey R. Biokimia Harper. Ed 27. Jakarta EGC. 2006.
10. Aryulina D. Biologi 3. Jakarta: Erlangga; 2006. hal.56.

11