Anda di halaman 1dari 87

FREKUENSI PENDERITA RINOSINUSITIS MAKSILA KRONIS

YANG DISEBABKAN INFEKSI JAMUR


DI DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG
TENGGOROK KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU / RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

TESIS

OLEH :

M. TRI ANDIKA NASUTION

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BIDANG STUDI
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH
KEPALA DAN LEHER
MEDAN
2007
M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
FREKUENSI PENDERITA RINOSINUSITIS MAKSILA KRONIS
YANG DISEBABKAN INFEKSI JAMUR
DI DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG
TENGGOROK KEPALA LEHER
FAKULTAS KEDOKTERAN USU / RSUP H. ADAM MALIK MEDAN

TESIS

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi salah satu syarat untuk
mencapai spesialis dalam bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Bedah Kepala dan Leher

OLEH :

M. TRI ANDIKA NASUTION

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS BIDANG STUDI
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK BEDAH
KEPALA DAN LEHER
MEDAN
2007
M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
HALAMAN PENGESAHAN

MEDAN, DESEMBER 2007

Tesis dengan judul

FREKUENSI PENDERITA RINOSINUSITIS MAKSILA KRONIS YANG


DISEBABKAN INFEKSI JAMUR DI DEPARTEMEN THT-KL FK USU /
RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
Diketahui oleh

Ketua Departemen Ketua Program Studi

Prof.Dr.Abdul Rachman S, SpTHT-KL(K) Prof.Dr.Askaroellah Aboet,

SpTHT-KL(K)

Telah disetujui dan diterima baik oleh Pembimbing

Ketua

Dr. Mangain Hasibuan, SpTHT-KL

Anggota I Anggota II

Dr. Rizalina A. Asnir, SpTHT-KL Dr Hafni, SpTHT-KL (K)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan Bismillahirrahmannirahim dan Alhamdulillah saya

sampaikan rasa syukur keahdirat Allah SWT karena dengan rahmat dan karuniaNya,

saya dapat menyelesaikan penelitian ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

spesialis dalam bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan

Leher di Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / RSUP

H. Adam Malik Medan

Kami menyadari bahwa tulisan ini mungkin jauh dari sempurna baik isi maupun

bahasanya, dengan semua keterbatasan tersebut, kami berharap bahwa penelitian ini

dapat berguna dan bermanfaat bagi pengembangan keilmuan di bidang Ilmu Kesehatan

Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher.

Dengan telah berakhirnya masa pendidikan, pada kesempatan yang berbahagia ini

perkenankan saya menyampaikan penghargaan dan terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada :

Yang terhormat Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara, yang telah

memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Program Pendidikan Dokter

Spesialis I di Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Sumatera Utara Medan.

Yang terhormat Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengikuti Program Pendidikan

Dokter Spesialis di fakultas ini.

Yang terhormat Bapak Direktur Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik

Medan yang telah mengizinkan dan memeberikan kesempatan kepada saya untuk belajar

dan bekerja dilingkungan rumah sakit ini.

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Yang terhormat Prof. Dr. Abdul Rachman Saragih, SpTHT (K), sebagai ketua

Departemen THT-KL FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan yang telah banyak

memberikan petunjuk, pengarahan serta nasihat baik sebagai Ketua Departemen, sebagai

guru bahkan orang tua salama saya mengikuti pendidikan di Departemen THT-KL FK

USU / RSUP H. Adam Malik Medan.

Yang terhormat Prof. Dr Askaroellah Aboet, Sp.THT (K), Sebagai Ketua Program

Studi Pendidikan Dokter Spesialis I di Departemen THT-KL FK USU / RSUP H. Adam

Malik Medan, yang telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan semangat

sehingga menimbulkan rasa percaya diri, baik dalam bidang keahlian maupun

pengetahuan umum lainnya

Yang terhormat Dr. Mangain Hasibuan, Sp.THT, sebagai ketua pembimbing tesis

saya, sebagai guru dan orang tua saya, yang telah banyak memberikan bantuan kepada

saya, memberikan ilmu, bimbingan serta semangat kepada saya sehingga saya dapat

menyelesaikan pendidikan ini. Yang terhormat Dr. Rizalina A. Asnir, Sp.THT dan Dr.

Hafni , Sp.THT (K), sebagai anggota pembimbing tesis dan guru saya, yang telah banyak

memberikan petunjuk, perhatian serta bimbingan sehingga saya dapat menyelesaikan

tesis ini. Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setingi-tingginya atas

waktu dan bimbingan yang telah diberikan selama dalam penelitian dan penulisan tesis

ini.

Yang terhormat guru saya di jajaran Departemen THT-KL FK USU / RSUP H.

Adam Malik Medan. Dr Asroel Aboet, SpTHT (K), Prof.Dr. Ramsi Lutan, SpTHT (K) ,

Dr Yuritna Haryono, SpTHT (K), Dr. Muzakkir Zam Zam, SpTHT (K), Dr. T. Sofia

Hanum, SpTHT (K), Dr Linda I Adenin, SpTHT, DR.dr.Delfitri Munir, SpTHT (K),

Dr. Adlin Adnan, SpTHT, Dr. Ainul Mardhiah, SpTHT, Dr. Siti Nursiah, SpTHT, Dr.

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Andrina YM Rambe, SpTHT, Dr. Ida Sjailendrawati H, SpTHT, Dr. Harry Agustaf A,

SpTHT, Dr. Farhat, SpTHT, Dr.T. Siti Hajar Haryuna, SpTHT, yang telah banyak

memberikan bimbingan dalam ilmu dan pengetahuan di Bidang THT-KL, baik secara

teori maupun keterampilan yang kiranya sangat bermanfaat bagi saya dikemudian hari.

Yang terhormat Bapak Ketua Departemen / Staf Radiologi FK. USU / RSUP. H.

Adam Malik Medan, Kepala Departemen / Staf Radiologi RS. Elizabeth Medan, Ketua

Departemen / Staf Anastesiologi dan Reanimasi FK USU / RSUP H. Adam Malik

Medan, Ketua Departemen / Staf Patologi Anatomi FK USU / RSUP H. Adam Malik

Medan, yang telah memeberikan bimbingan kepada saya selama menjalani stase asisten

di Departemen tersebut. Saya mengucapkan terimakasih.

Yang terhormat Direktur / Staf RSUD Lubuk Pakam, RS Tembakau Deli Medan,

Rumkit I Bukit Barisan Medan dan RSU Dr. Pirngadi Medan, yang telah memberikan

kesempatan kepada saya untuk belajar dan menjalani stase asisten di keempat rumah sakit

tersebut.

Yang terhormat Dr. Sofyan Lubis DMM dan Staf Departemen Mikrobilogi klinik

FK-USU, yang telah banyak membantu, memberikan masukan, perhatian dan bimbingan

di Bidang Mikrobiologi dalam penulisan tesis ini.

Yang terhormat seluruh supervisor saya selama menjalani stase asisten di RSU

Pirngadi Medan, RSU Lubuk Pakam dan RS Putri Hijau Medan, Dr. Zulkifli, SpTHT, Dr.

Dewi F, Syahnan, SpTHT, Dr. Beresman E. Sianipar, SpTHT, Dr. Alisyahbana Siregar,

SpTHT, Dr. T.Yohanita, SpTHT, Dr. Rehulina, SpTHT, Dr. Netty Harnita, SpTHT,

Dr.Linda Samosir, SpTHT, Dr Ita L. Rodhertani, SpTHT, Dr. Seri Ulina, SpTHT, Dr.

Olina Hulu SpTHT, Dr. Zalfina Cora, SpTHT, Dr. Magdalena, SpTHT, Dr. M.Taufik

SpTHT, Dr. Sari Soeleiman, SpTHT, Dr. M. Sidik Rauf, SpTHT, Dan Dr. Farhan

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Abdullah, SpTHT, yang telah banyak memberikan bimbingan di bidang THT secara teori

dan keterampilan yang sangat bermanfaat sebagai bekal saya dimasa yang akan datang.

Yang terhormat kepada seluruh pasien RSUP H Adam Malik Medan yang telah

rela secara ikhlas untuk ikut serta dalam penelitian ini, sehingga penelitian ini dapat

selesai dengan baik, saya ucapkan terimaksih yang sebesar-besarnya, semoga peran serta

saudara dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Bidang THT-KL.

Yang Mulia Ayahanda Dr.H. Bachtiar NST, DTPH. Dan Ibunda Hj. Dewi Isjtar

Yani dengan segala keikhlasannya dalam mengasuh, membesarkan dan membimbing

dengan penuh kasih sayang semenjak kecil hingga saya dewasa agar menjadi anak yang

berbakti kepada orang tua, agama, bangsa dan negara. Dengan memanjatkan doa

kehadirat Allah SWT, ampunilah dosa kedua orang tua saya, serta sayangilah mereka

sebagaimana mereka menyayangi saya sewaktu kecil. Terimakasih juga saya ucapkan

kepada abang dan kakak saya Ir. Eka Dystiant Aulia NST, Dr Inggrid Dwimina Vanty

NST dan Adik saya M. Fierza Mucharom, NST. S,Psi

Yang terhormat Dr. Kamaliah Moeis, Sp.KK dan Hj. Ulfah Hanum Moeis, serta

seluruh kerabat dan handai taulan yang tidak dapat saya ucapkan satu persatu, yang telah

memberikan dorongan dan doa hingga selesainya studi saya ini, saya ucapkan

terimaksaih yang sedalam-dalamnya.

Kepada Adinda-Ku, Dr Meriana Rasyid, terimakasih atas segala pengertian,

bantuan, dorongan dan kesabaran selama saya menjalani pendidikan ini.

Yang tercinta teman-teman sejawat peserta pendidikan keahlian Ilmu Kesehatan

THT-Bedah kepala dan Leher yang telah bersama-sama baik dalam suka maupun duka,

saling membantu sehingga terjalin rasa persaudaraan yang erat, dengan harapan teman-

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
teman dapat lebih giat lagi sehingga dapat menyelesaikan studi ini. Semoga Allah SWT

selalu memberkahi kita semua.

Kepada paramedis dan karyawan Departemen THT-Bedah Kepala dan Leher FK

USU / RSUP H. Adam Malik Medan yang telah banyak membantu dan bekerjasama

selama saya menjalani pendidikan ini, saya ucapkan terimakasih.

Akhirnya izinkanlah saya mohon maaf yang setulus tulusnya atas kesalahan dan

kekurangan selama mengikuti pendidikan ini, semoga segala bantuan, dorongan, petunjuk

yang diberikan kepada saya selama mengikuti pendidikan kiranya mendapat balasan yang

berlipat ganda dari Allah SWT yang maha pengasih, Maha pemurah dan Maha

Penyayang. Amin, amin ya robbalalamin

Medan, Desember 2006

Penulis

Dr. M.Tri Andika NST

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
ABSTRAK

FREKUENSI PENDERITA RINOSINUSITIS MAKSILA KRONIS YANG


DISEBABKAN INFEKSI JAMUR DI DEPARTEMEN THT-KL
FK USU / RSUP H. ADAM MALIK-MEDAN
M.Tri Andika Nst *, Mangain Hasibuan *, Rizalina A. Asnir *, Hafni *, Sofyan Lubis **
Departemen THT-KL * dan Mikrobiologi Klinik FK. USU Medan **

Tujuan : Untuk mengetahui frekuensi penderita rinosinusitis maksila kronis yang


disebabkan infeksi jamur di departemen THT-KL FK USU / RSUP H. Adam Malik-
Medan, mengetahui distribusi kelompok umur penderita rinosinusitis maksila kronis
yang disebabkan oleh infeksi jamur,mengetahui distribusi keluhan utama penderita
rinosinusitis maksila kronis yang disebabkan oleh infeksi jamur, mengetahui jenis
jamur yang dapat menyebabkan infeksi pada rinosinusitis maksila kronis
Metode : Desain penelitian ini adalah penelitian observasional yang bersifat
deskriptif. Sampel terdiri dari 30 penderita rinosinusitis maksila kronis yang
ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan radiologi. Pada
semua sampel dilakukan irigasi sinus maksila , kemudian cairan yang berasal dari
sinus maksila diperiksa dengan KOH 10 % dan kultur jamur
Hasil : Pada penelitian ini dari 30 penderita rinosinusitis maksila kronis didapatkan
15 penderita dengan hasil kultur jamur positif, yang terdiri dari Aspergilus fumigatus
6 penderita (33,3%), Aspergilus flavus 1 penderita (6,7%), Aspergilus niger 2
penderita (13,3 %), Candida albicans 3 penderita (20 %), Candida parasilopsis 1
penderita (6,7 %), terdapat 2 penderita dengan 2 jenis jamur yaitu : Aspergilus
fumigatus dengan Candida albicans, dan Aspergilus niger dengan Candida albicans
Kesimpulan : Dari 30 penderita rinosinusitis jamur didapatkan 15 penderita dengan
hasil kultur jamur positif. Aspergilus sp merupakan jenis jamur yang paling sering
dijumpai
Kata Kunci : Rinosinusitis maksila kronis, Infeksi jamur, Aspergilus sp

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
DAFTAR ISI

KATAPENGATAR. i

ABSTRAK vii

DAFTAR ISI viii

DAFTAR GAMBAR.. x

DAFTAR TABEL xi

BAB 1 PENDAHULUAN.. 1

1.1. Latar Belakang. 1

1.2.Perumusan Masalah 3

1.3.Tujuan Penelitian. 3

1.3.1 Tujuan Umum. 3

1.3.2 Tujuan Khusus 3

1.4. Manfaat Penelitian.. 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 5

2.1. Embriologi Sinus Paranasal. 8

2.2. Anatomi. 10

2.2.1 Sinus paranasal.. 10

2.2.2 Sinus maksila 12

2.3. Transport Mukosiliar 17

2.4. Fungsi Sinus Paranasal. 19

2.5. Rinosinusitis Jamur. 21

2.5.1 Rinosinusitis ekstramukosa ( noninvasif). 25

2.5.1.1 Mikosis sinus superfisial 26

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
2.5.1.2 Fungal ball.. 27

2.5.1.3 Rinosinusitis jamur alergi. 30

2.5.2 Rinosinusitis jamur invasif..... 35

2.5.2.1 Rinosinustis jamur invasif kronis. 35

2.5.2.2 Rinosinustis jamur invasif akut. 38

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN.

43

3.1. Rancangan Penelitian 43

3.2. Tempat Penelitian... 43

3.3. Waktu Penelitian.. 43

3.4. Sampel. . 43

3.5. Kerangka Konsepsional. 44

3.6. Kerangka Kerja 45

3.7. Batasan Operasional. 46

3.8. Subyek dan Bahan Penelitian.. 46

3.9. Analisa Data. 48

BAB 4 HASIL PENELITIAN. 49

BAB 5 PEMBAHASAN. 54

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 61

6.1. Kesimpulan 61

6.2. Saran. . 62

DAFTAR PUSTAKA. 63

LAMPIRAN. 70

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Siklus Dari Pristiwa Yang berulang Pada Sinusitis Kronis..... 7

Gambar 2.2. Perkembangan Embriologi Sinus Maksila. 9

Gambar 2.3 Sinus Paransal Potongan Axial Dan Koronal 11

Gambar 2.4 Anatomi Tulang Maksila Pandangan Lateral Dan Medial... 13

Gambar 2.5 Sinus Maksila Kiri Dengan Dinding Anterior Yang di Buka. 15

Gambar 2.6 Gerakan Mukosiliar Sinus Makasila 19

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pembagian Sinusitis Menurut Konsensus

International.. 6

Tabel 2.2 Sinus Maksila 17

Tabel 2.3 Beberapa Organisme Jamur Pada

Rinosinsusitis Jamur.. 22

Tabel 2.4 Klasifikasi Rinosinusitis Jamur.. 23

Tabel 2.5 Spektrum Rinosinusitis Jamur.. 24

Tabel 2.6 Gejala Dan Tanda Infeksi Jamur 25

Tabel 4.1 Distribusi Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin

Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis......................... 49

Tabel 4.2 Distribusi Keluhan Utama Penderita

Rinosinusitis Maksila Kronis 50

Tabel 4.3 Distribusi Kelompok Umur Dan Jenis

Kelamin Penderita Rinosinusitis Maksila

Dengan Hasil Kultur Jamur Positif... 51

Tabel 4.4 Distribusi Keluhan Utama Penderita Rinosinusitis

Maksila Kronis Dengan Hasil Kultur Jamur Positif. 52

Tabel 4.5 Distribusi Jenis Jamur Yang Berasal Dari

Pemeriksaan Kultur Cairan Sinus Maksila

Penderita Rinosinusitis MaksilaKronis........................... 53

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jamur adalah organisme yang terdapat di sekitar lingkungan kita, spora jamur ini

terdapat di udara terbuka dan selanjutnya dapat terhirup pada saat kita bernafas dan

akhirnya spora tersebut terkumpul disaluran pernafasan atas (McCaffrey, 1997). Jamur

merupakan organisme yang biasanya bersifat safrofitik, tetapi dapat menjadi patogen di

dalam rongga sinus apabila terdapat perubahan kondisi seperti disebabkan adanya

obstruksi muara sinus , gangguan ventilasi sinus, sistem imun tubuh yang lemah,

lingkungan yang lembab, pemakaian antibiotika dan steroid yang berkepanjangan, hal-hal

tersebut merupakan faktor predisposisi infeksi jamur pada sinus paranasal

(Tanaviratananich, 1997)

Infeksi sinus yang disebabkan oleh jamur jarang terdiagnosis kerena sering luput

dari perhatian. Penyakit ini mempunyai gejala mirip dengan rinosinusitis kronis yang

disebabkan bakteri. Apabila kasus rinosinusitis tidak mengalami perbaikan dengan

pengobatan antibiotika dan dekongestan, perlu dipikirkan kemungkinan infeksi yang

disebabkan oleh jamur (Mangunkusumo,2000)

Walaupun secara luas diketahui infeksi jamur pada hidung dan sinus paranasal

jarang ditemukan, beberapa ahli setuju bahwa terdapat peningkatan kejadian infeksi sinus

yang disebabkan oleh jamur pada dua dekade terakhir. Pada laporan terdahulu infeksi

jamur diperkirakan terdapat pada 10 % kasus rinosinusitis yang memerlukan tindakan

pembedahan. Laporan terbaru dan kontroversi oleh Ponikau et al memperkirakan bahwa

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
infeksi jamur terdapat pada 96 % kasus rinosinusitis kronis ( Mc Caffrey,1993 ; Dhong ,

Lanza ,2001).

Beberapa faktor sangat berpengaruh terhadap meningkatnya kekerapan infeksi

jamur pada manusia diantaranya ialah pemakaian antibiotik dan steroid yang tidak

rasional dan penggunaan sitostatika secara luas. Selain faktor tersebut diatas, yang juga

merupakan predisposisi rinosinusitis jamur ialah pemasangan pipa nasogaster, pemberian

obat imunosupresan, diabetes melitus dan perawatan lama di rumah sakit

(Mangunkusumo, 2000)

Insiden sinusitis jamur mempunyai angka yang beragam di seluruh dunia, di

Eropa Grigoriu et al mendapatkan 81 kasus infeksi disebabkan jamur diantara 600 kasus

rinosinusitis maksila kronis, sedangkan di asia, Chakrabarti et al mendapatkan 50 kasus

(42%) kasus rinosinusitis disebabkan infeksi jamur diantara 119 pasien

(Tanviratananich, 1997). Sedangkan See Goh et al di Malaysia mendapatkan 16 kasus

infeksi jamur pada 30 pasien sinusitis maksilaris kronis ( See Gooh et al. 2005).

Jenis jamur yang sering ditemukan sebagai penyebab infeksi pada sinus paranasal

ialah Aspergilus sp ( A. fumigatus, A. flavus, dan A.nigra). pada awalnya infeksi jamur

pada hidung dan sinus paransal disebut sebagai aspergilosis, tetapi bersamaan dengan

kemajuan di bidang mikologi diketahui infeksi jamur tidak hanya disebabkan oleh

aspergilus, tetapi dapat pula disebabkan dari jamur golongan lainnya seperti : Candida,

Mucorales ( Mucor, Rhizopus, Absidia), Dematiaceaous fungi yaitu golongan jamur yang

pada dinding selnya terdapat pigmen melanin seperti: Bipolaris sp, Curvularia sp,

Altenaria sp, Exserahillum sp, Cladosporium sp (Mangunkusumo E, 2001; Brigit, 2001 ).

Rinosinusitis adalah merupakan keadaan inflamasi pada sinus paransal yang

sebabkan oleh infeksi. Jamur adalah merupakan salah satu jenis mikroorganisme yang

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
dapat menyebabkan infeksi pada sinus paransal. Banyak hal yang dapat menimbulkan

infeksi jamur pada sinus paranasal diantaranya adalah pemakaian obat obatan yang

tidak rasional seperti penggunaan antibiotika dan steriod yang berkepanjangan, gangguan

ventilasi sinus dan lingkungan yang lembab. Penulis sebelumnya telah banyak melakukan

penelitian tentang infeksi sinus yang disebabkan oleh bakteri, tetapi penelitian infeksi

yang disebabkan oleh jamur pada sinus masih sangat jarang terutama di Departemen Ilmu

Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher FK USU / RSUP H. Adam

Malik Medan penelitian ini belum pernah dilakukan

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis tertarik untuk mengetahui frekuensi

kejadian infeksi jamur yang terdapat pada penderita rinosinusitis maksila kronis di

Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher FK USU /

RSUP H. Adam Malik Medan

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, dapat dirumuskan

masalah penelitian sebagai berikut

Berapa frekuensi penderita rinosinusitis maksila kronis yang disebabkan infeksi

jamur di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher

FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan umum

Mengetahui frekuensi penderita rinosinusitis maksila kronis yang disebabkan

infeksi jamur di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala

Leher FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan

1.3.2 Tujuan khusus

Mengetahui distribusi kelompok umur penderita rinosinusitis maksila kronis yang

disebabkan oleh infeksi jamur

Mengetahui distribusi jenis kelamin penderita rinosinusitis maksila kronis yang

disebabkan oleh infeksi jamur

Mengetahui distribusi keluhan utama penderita rinosinusitis maksila kronis yang

disebabkan oleh infeksi jamur

Mengetahui jenis jamur yang dapat menyebabkan infeksi pada rinosinusitis

maksila kronis

1.4 Manfaat Penelitian

Mengetahui frekuensi kejadian rinosinusitis maksila kronis yang disebabkan oleh

infeksi jamur

Dapat menjadi pedoman dalam pemberian terapi pada penanganan kasus

rinosinusitis maksila kronis

Sebagai pengembangan ke ilmuan di bidang Ilmu Penyakit Telinga Hidung

Tenggorok, Bedah kepala dan leher

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Sinusitis adalah merupakan suatu keadaan inflamasi pada sinus paranasal.

Umumnya diketahui inflamasi pada sinus ini disebabkan oleh infeksi bakteri. Tetapi

proses inflamasi ini dapat juga disebabkan faktor yang lain. Pada sinusitis kronis, peran

infeksi bakteri yang menyebabkan inflamasi sinus belum diketahui secara pasti. (Marks,

2001).

Sebagian besar kasus inflamasi sinus berasal dari hidung dan meluas ke rongga

sinus, ataupun dapat juga terjadi sebaliknya, inflamasi tersebut didahului di daerah sinus

kemudian meluas kerongga hidung. Beberapa ahli mengadopsi terminologi rinosinusitis

adalah menggambarkan kondisi patologis pada hidung dan sinus karena sangat dekat

kaitannya (Marks, 2001).

Rinosinusitis akut dan kronis mempunyai prevalensi yang cukup tinggi di

masyarakat. Pada tahun 1999 bagian ilmu kesehatan anak RSUPN Dr. Cipto

Mangunkusumo menunjukkan prevalensi sinusitis maksila cukup tinggi pada penderita

infeksi saluran pernafasan atas anak yaitu sebanyak 25 %, sedangkan pada sub bagian

rinologi THT FK UI / RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo juga menunjukkan angka

kejadian sinusitis yang tinggi yaitu sebanyak 248 pasien (50% ) dari 496 pasien rawat

jalan yang datang pada tahun 1996 ( Soetjipto, 2000).

Rinosinusitis dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa bentuk yaitu :

berdasarkan bagaimana proses infeksinya, lamanya proses, lokasi proses, dan peranan

mikrobiologi penyebab seperti virus, bakteri dan jamur. Sinusitis ini dapat disebabkan

oleh faktor dari hidung (rinogen), gigi (dentogen) dan hematogen (sistemis). Rinosinusitis

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
dapat mengenai satu sinus, beberapa sinus, ataupun dapat mengenai seluruh sinus

(Marks,2001)

Rinosinusitis kronis di definisikan sebagai suatu proses inflamasi pada sinus yang

terjadi lebih dari 12 minggu ( Marks, 2001). George dan Eugne mengelompokkan

rinosinusitis berdasarkan lama infeksi menjadi tiga kategori yaitu :Rinoinusitis akut

berlangsung dalam 1 hari sampai 4 minggu, rinosinusitis subakut berlangsung dalam 4

minggu sampai 3 bulan, sedangkan rinosinusitis kronis berlangsung selama lebih dari 3

bulan. (George, Eugene 1993 ).

Berdasarkan International conference on sinus disease 1993, rinosinusitis ini

dibagi menjadi akut dan kronis berdasarkan perbedaan waktu dan lamanya penyakit,

jumlah episode serangan akut pertahun dan reversibilitas mukosa setelah pengobatan

optimal ( Soetjipto, 2000).

Tabel 2.1 : Pembagian sinusitis menurut konsensus internasional ( Soetjipto, 2000)

Kriteria Pembagian Sinusitis akut Sinusitis kronis

1. Lamanya Penyakit < 8 minggu > 8minggu

2. Jumlah episode serangan akut < 4 kali pertahun > 4 kali pertahun

3. Reversibilitas mukosa setelah terapi Mukosa kembali normal Tetap abnormal

Rinosinusitis kronis berbeda dengan rinosinusitis akut dalam berbagai aspek,

umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari

faktor penyebab dan predisposisi. Polusi dan bahan kimia dapat menyebabkan silia rusak,

sehingga terjadi perubahan mukosa pada hidung. Perubahan mukosa hidung dapat juga

disebabkan oleh defisiensi imunologik dan alergi. Perubahan mukosa hidung akan

mempermudah terjadinya infeksi yang akan berlanjut menjadi kronis apabila pengobatan

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
tidak sempurna. Adanya infeksi akan menyebabkan edema konka, sehingga drainase

sekret terganggu, kemudian pada akhirnya dapat menyebabkan kerusakan silia

(Mangunkusumo,rifki, 2001)

Gambaran patologis rinosinusitis kronis sangat kompleks dan irreversibel.

Umumnya terdapat penebalan mukosa yang membentuk lipatan atau pseudopolyp, epitel

permukaan tampak mengalami deskuamasi, regenerasi, metaplasia, atau epitel besar

dalam jumlah yang bervariasi pada suatu irisan histologis (Higler, 1997).

Lapisan mukoperiosteum sinus paranasal mempunyai kemampuan untuk

memperbaiki sel yang rusak dan tahan terhadap penyakit. Pada dasarnya, faktor-faktor

lokal yang memungkinkan penyembuhan mukosa sinus terinfeksi adalah drainase dan

ventilasi sinus yang baik, jika terdapat gangguan faktor anatomi dan faali yang

menyebabkan kegagalan drainase dan ventilasi, maka dapat tercipta suatu medium baik

bagi pertumbuhan kuman kokus mikroaerofilik atau anaerobik (Higler,1997)

Gambar 2.1 : Siklus dari peristiwa yang berulang pada sinusitis kronis ( Higler, 1997)
M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Gejala yang biasa ditemukan pada rinosinusitis maksila kronis meliputi sumbatan

hidung kronis, sekret mukoid atau purulen, neuralgia pada daerah distribusi nervus

infraorbita, gangguan penciuman, hidung berbau, konka hipertropi, sekret yang mengalir

kebelakang hidung dan terkadang sering disertai adanya pertumbuhan polip (Becker,

Naumann, pfaltz, 1994).

2.1 Embriologi Sinus Paranasal

Embriologi pembentukan kavum nasi dan sinus adalah merupakan proses yang

rumit. Proses ini dibagi menjadi dua tahap. Pertama, perkembangan kepala embrio ke

pembentukan struktur pada kavum nasi. Kedua, dinding lateral kavum nasi mengalami

invaginasi dengan membentuk kompleks lipatan, yang disebut konka, dan kemudian

pembentukan rongga yang dikenal sebagai sinus. Selama kehamilan bulan ke 4 sampai ke

8, dalam perkembangannya embrio akan membelah kavum nasi sebagai frontonasal dan

pertautan maksila. Prosesus frontonasal akan meluas melewati pembentukan forebrain,

yang kemudian akan mempengaruhi pembentukan plakoda olfaktorius hidung. Tonjolan

bagian lateral dan medial hidung berkembang dari lekukan plakoda olfaktorius hidung,

kemudian proses ini berlanjut dengan pembentukan bagian atas maksila dan filtrum

(Kern, walsh, 2006).

Secara embriologis sinus paranasal berasal dari invaginasi rongga hidung dan

perkembangannya dimulai sejak fetus berusia 3 4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan sinus

frontal. Sinus maksila dan sinus etmoid telah ada sejak lahir, sedangkan sinus frontal

berkembang dari sinus etmoid anterior pada saat anak berusia sekitar 8 tahun.

Pneumatisasi sinus sfenoid dimulai pada usia 8 10 tahun dan berasal dari bagian

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus ini umumnya mencapai besar maksimal pada

usia antara 15 18 tahun ( Soetjipto, Mangunkusumo, 2001 ).

Bakal sinus paranasal pada janin timbulnya agak lambat, terutama sinus frontal.

Kavum nasi mulai berdifferensiasi pada saat janin berumur 1 hingga 2 bulan. Sinus

paranasal berasal dari tonjolon atau resesus epitel mukosa hidung setelah janin berusia 2

bulan, kemudian resesus tersebut akan menjadi ostium sinus. (Ballenger, 1994)

Perubahan yang progresif pada dinding lateral hidung dengan pembentukan sinus

paranasal terjadi bersamaan dengan pembentukan palatum. Pada usia janin 40 hari, celah

horizontal pada dinding lateral akan membentuk meatus media dan inferior. Diantara

daerah tersebut terjadi proliferasi mesenkim maxilloturbinate, yang menonjol kedalam

lumen, dan kemudian akan membentuk konka inferior. Konka superior terbentuk dari

etmoidturbinate. Pembentukan sinus terjadi setelah pembentukan konka, proses ini

kemudian menjadi lambat sampai pembentukan tulang saat dewasa. Hanya sinus maksila

dan etmoid yang terbentuk pada awal pembentukan janin ( Evans, 1987 )

Gambar 2.2 : Perkembangan embriologi sinus maksila dikutip dari atlas Sobbota

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Selama kehamilan minggu ke 6 terjadi pembentukan jaringan mesenkim dinding

lateral hidung. Kehamilan minggu ke 7, terbentuk 3 celah, yang kemudian akan

membentuk konka. Pada minggu ke 10, pembentukan sinus maksila dimulai dengan

invaginasi meatus media. Pada saat yang sama, prosesus unsinatus dan bula etmoid akan

membentuk daerah sempit berbentuk celah yang disebut hiatus semilunaris. Pada

kehamilan minggu ke 14, akan terjadi proses pembentukan sel etmoid anterior yang

berasal dari meatus media dan sel etmoid posterior terbentuk dari dasar meatus superior,

pada kehamilan minggu ke 36 dinding lateral kavum nasi sudah terbentuk sempurna.

Semua sinus paranasal mempunyai perkembangan yang berbeda pada saat bayi, tetapi

mempunyai waktu perkembangan yang jelas. Sinus etmoid adalah yang pertama

terbentuk sempurna, diikuti oleh sinus maksila, sfenoid, dan frontal (Kern, Walsh, 2006)

Sinus maksila marupakan sinus yang pertama terbentuk, diperkirakan

pembentukan sinus tersebut terjadi pada hari ke 70 masa kehamilan. Sinus maksila ini

mulanya tampak sebagai cekungan ektodermal yang terletak dibawah penonjolan konka

inferior. Celah ini kemudian akan berkembang menjadi tempat ostium sinus maksila

yaitu di meatus media. Dalam perkembangannya, celah ini akan lebih ke arah lateral

sehingga terbentuk rongga yang berukuran 7 x 4 x 4 mm, yang merupakan rongga sinus

maksila. Perluasan rongga tersebut akan berlanjut setelah lahir, dan berkembang sebesar

2 mm vertikal, dan 3 mm anterior posterior pada tiap tahun. Pada usia 12 tahun, lantai

sinus maksila ini akan turun, dan akan setinggi dasar hidung dan kemudian akan

berlanjut meluas kebawah bersamaan dengan perluasan rongga. Perkembangan sinus ini

akan berhenti pada saat erupsi gigi ( Ritter, 1992 ; Lund, 1997).

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
2.2 Anatomi

2.2.1 Sinus paranasal

Sinus paranasal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang sulit

dideskripsikan karena bentuknya sangat bervariasi pada tiap individu. Sinus paranasal ini

merupakan hasil pneumatisasi tengkorak yang kemudian akan berkembang menjadi

rongga di dalam tulang ( Soetjipto, Mangunkusumo, 2001).

Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung. Sinus

frontal kanan dan kiri, sinus etmoid kanan dan kiri ( anterior dan posterior), sinus maksila

kanan dan kiri ( antrum Higmore), dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua rongga sinus

ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan dari mukosa hidung, berisi udara, dan

seluruh sinus paranasal bermuara di rongga hidung melalui ostium (Amedee, 1993;

Ballenger, 1994 ).

Secara klinis sinus paranasal dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok

anterior dan posterior. Kelompok anterior, terdiri dari sinus frontal, sinus maksila, dan sel

sel anterior sinus etmoid, sinus tersebut bermuara di meatus media. Kelompok posterior

terdiri dari sel-sel posterior sinus etmoid dan sinus sfenoid sinus tersebut bermuara di

meatus superior. Garis perlekatan konka media pada dinding lateral hidung merupakan

batas antara kedua kelompok sinus tersebut (Ramalinggam,1990; Amedee, 1993;

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Ballenger, 1994).

Gambar 2.3 : Sinus paranasal tampak potongan axial dan koronal

2.2.2 Sinus maksila

Sinus maksila adalah merupakan sinus paranasal terbesar dan terdapat pada

daerah tulang maksila pada tiap sisi kavum nasi. Bentuk sinus maksila ini adalah seperti

piramid dengan bagian puncak menghadap ke lateral dan meluas ke arah prosesus

zygomatikus dari maksila atau ke arah tulang zygoma. Bagian dasar terletak medial, dan

dibentuk oleh dinding lateral kavum nasi. Tulang pada dinding medial sinus maksila ini

sangat tipis dan terdiri dari : dinding medial maksila, prosesus maksila konka inferior,

lamina perpendikularis palatum, prosesus uncinatus os etmoid, dan bagian tulang

lakrimal. Atap sinus maksila ini berbentuk landai ke bawah dari arah medial ke lateral

dan dibentuk oleh permukaan orbita os maksila. Pada bagian ini terdapat penonjolan

bidang sagital yang merupakan tempat saraf infra orbita. Dinding anterior dan posterior

sinus secara bersama membentuk permukaan maksila, dan langsung berhubungan dengan

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
permukaan wajah pada daerah pipi dan fossa infratemporal (Ballenger, 1994; Lund,

1997)

Dasar sinus maksila dibentuk oleh prosesus alveolaris dan prosesus palatina os

maksila. Pada orang dewasa, dasar sinus maksila ini terletak 1 sampai 1,2 cm dibawah

dasar rongga hidung sedangkan pada anak-anak dasar rongga sinus maksila ini lebih

tinggi dari dasar hidung. Dinding posterior inferior atau dasar sinus maksila bagian

belakang merupakan tulang yang paling tebal. (Ballenger, 1994; Lund, 1997 )

Gambar 2.4 : Anatomi tulang maksila pandangan lateral dan medial, tampak adanya prosesus frontal,

zygomatik, dan palatina. Maksila terdapat kanal insisivus, foramen infraorbita, dan permukaan anterior

foramen spenopalatina ( Marks, 2000)

Ukuran sinus maksila pada tiap individu berbeda. Pada orang dewasa tinggi 33

mm, lebar 23 mm, dan diameter anterior posterior 34 mm, dengan volume 14,75 ml. Pada

keadaan tertentu volume sinus maksila ini dapat mencapai 30 ml. Secara umum ukuran

sinus maksila ini adalah sama, tetapi pada beberapa keadaan sinus maksila ini dapat

kurang berkembang atau tidak berkembang sama sekali (Ballenger, 1994; Lund,1997 ).

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Hubungan sinus maksila dengan gigi tidak hanya tergantung pada usia, dan proses

pembentukan gigi saja, tetapi juga dipengaruhi oleh tingkat perkembangan sinus kearah

prosesus alveolaris. Gigi kaninus tumbuh pada bagian yang menonjol permukaan anterior

sinus maksila. Gigi molar adalah merupakan bagian gigi yang langsung berhubungan

dengan lantai sinus maksila, kadang kadang gigi premolar juga dapat langsung

berhubungan dengan sinus maksila. Hubungan dasar sinus maksila dengan akar gigi

dapat berupa adanya tonjolan atau tanpa tonjolan pada lantai sinus dan juga dipengaruhi

arah pertumbuhan akar gigi. Secara normal akar gigi ini dilapisi oleh lapisan tulang yang

padat, tetapi pada beberapa keadaan lapisan ini dapat tidak terbentuk dan akar gigi

langsung berhubungan dengan lapisan mukosa sinus, sehingga proses supuratif yang

terjadi di sekitar gigi dapat menjalar ke mukosa sinus maksila melalui pembuluh darah

atau limfe. (Ballenger, 1994; Lund, 1997 )

Sinus maksila mempunyai hubungan dengan infundibulum di meatus media

melalui lobang kecil, yang disebut ostium. Ostium ini terletak diatas dinding

posteromedial. Ostium sinus maksila selalu terbuka dan berhubungan langsung dengan

meatus media melalui celah sempit yang disebut infundibulum. Diameter ostium ini

adalah 3-4 mm, tetapi pada preparat tengkorak ukuran ostium lebih lebar, oleh karena

secara normal ostium ini dilapisi oleh membran. Van aylea (1936) mendapatkan pada 163

spesimen yang diperiksa, 83,4 % ostium ini terletak 1/3 posterior infundibulum, atau

pada daerah sekitar lekukan prosesus uncinatus. Hanya terdapat sedikit yang terletak di

bagian anterior atau di 1/3 tengah infundibulum. Ostium asesoris ditemukan pada 30 %

spesimen dan terletak disekitar dinding lateral rongga hidung (Evans, 1987)

Adanya sumbatan ostium dapat mengganggu proses mekanisme pembersihan

sinus, sehingga sekret akan menumpuk dan berubah komposisinya. Penumpukan sekret

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
ini merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme ( Becker,

Naumann,Pflatz 1994 )

Gambar 2.5 : Sinus maksila kiri dengan dinding anterior yang dibuka (Marks, 2000)

Seluruh rongga sinus maksila ini dilapisi oleh lapisan mukosa, yang merupakan

lanjutan dari mukosa hidung berupa epitel torak bersilia. Pada lapisan ini terdapat sel-sel

goblet dan pembuluh darah ( Taher, 2000).

Lapisan mukosa sinus maksila dari bawah epitel, berturut-turut :

1. Membran basalis yang sangat tipis

Jika terjadi penebalan akan terlihat lapisan hialin, dan pada bagiannya kadang-

kadang terlihat serabut elastin

2. Tunika propria

Lapisan ini berupa jaringan ikat longgar, berbentuk spons dan berisi cairan,

sehingga sedikit saja rangsangan pada lapisan ini akan menyebabkan

pembengkakan. Pada lapisan ini juga terdapat serabut kolagen dan fibrin yang
M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
tipis dan mudah ruptur bila terkena trauma. Fungsi lapisan ini sebagai jaringan

penunjang, alat nutrisi dan sel fagosit jika terjadi radang.

3. Lapisan periostium

Letaknya berdekatan dengan periostium tulang. Seperti halnya periostium tulang,

lapisan ini berfungsi untuk reabsorbsi atau mendeposit tulang. Lapisan ini sangat

padat, sehingga tahan terhadap infeksi.

Sinus maksila di perdarahi oleh arteri kecil yang langsung menembus

dinding tulang, sebagian basar berasal dari cabang arteri maksila, fasial,

infraorbita dan palatina. Pada daerah ostium sinus maksila terdapat arteri besar

yang merupakan cabang arteri yang berasal dari konka inferior. Pembuluh vena

berjalan bersama arteri dan berasal dari vena fasialis anterior dan pleksus

pterigoid (Lund, 1997).

Darah dari sinus maksila dialirkan ke v. Infraorbita, v. Supraorbita,

pleksus venous lakrimalis dan juga berhubungan dengan pleksus venosus

pterigoideus, vena fasialis, dan vena sinus sphenoid. Aliran darah rata-rata pada

mukosa sinus maksila sebesar 125 ml / 100 gr jaringan/menit yang lebih besar

dari aliran pada otot, otak dan ginjal ( Ballenger , 1994 ; Higler, 1997; Soetjipto

2001 )

Sistem limfatis sinus maksila dialirkan langsung melalui ostium maksila

kearah rongga hidung atau langsung menembus foramen infraorbita dan semua

sistem limfatis sinus maksila berasal dari pembuluh limfe submandibula

(Lund,1997).

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Lapisan mukosa sinus maksila dipersarafi oleh n. alveolaris superior

(anterior, medial,dan posterior), n. palatina anterior dan n. infraorbita, divisi

kedua (maksilaris) n. trigeminus. Semua cabang saraf tersebut mempersarafi

sensasi pada gigi bagian atas dan sinus maksila (Lund, 1997)

Tabel 2.2 : Sinus maksila ( Amadee, 1993)

Embriologi Merupakan sinus paransal yang berkembang, dimulai dari invaginasi


permukaan inferolateral etmoid kapsul nasi pada sekitar hari ke 65
kehamilan

Ukuran
Lahir 7 x 4 x 4 mm
Dewasa 34 x 33 x 23 mm
Volume 14,75 mm

Perdarahan
Arteri Cabang maksila termasuk arteri infraorbital, arteri lateral nasal
cabang spenopalatina, palatina, dan arteri alveolaris superior dan
anterior

Vena Sebagian besar dinding sinus berasal dari vena maksila yang
mempunyai hubungan dengan pleksus venosus pterigoideus

Persarafan Persarafan mukosa berasal dari lateroposterior hidung, dan cabang


alveolaris superior n. infraorbita, semua berasal dari n. maksilaris

2.3 Transport Mukosiliar

Lapisan mukosa dan epitel silia adalah merupakan kombinasi dari sistem

mukosiliar. Gabungan sistem tersebut dapat mencegah timbulnya infeksi pada sinus.

Lapisan mukosa mengandung enzim lisozim ( muramidase), dimana enzim ini dapat

merusak beberapa bakteri. Enzim tersebut sangat mirip dengan imunoglobulin A (Ig A),

dengan ditambah beberapa zat imunologik yang berasal dari sekresi sel. Imunoglobulin G

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
(Ig G) dan interferon dapat juga ditemukan pada sekret hidung pada serangan akut infeksi

virus. Bakteri selalu akan terperangkap dan melekat pada permukaan mukosa dan akan

dibawa ke arah rongga faring, kemudian akan dihancurkan dilambung (Amedee, 1993).

Sistem mukosiliar atau sistem pembersihan terdiri dari dua sistem yang bekerja

secara simultan. Sistem ini tergantung dari gerakan aktif silia yang mendorong gumpalan

mukus. Ujung silia tersebut dalam keadaan tegak dan masuk menembus gumpalan

mukus kemudian menggerakkannya kearah posterior bersama materi asing yang

terperangkap didalamnya ke arah faring. Lapisan cairan perisilia dibawahnya akan

dialirkan kearah posterior oleh aktivitas silia, tetapi mekanismenya belum diketahui

secara pasti. Transport mukosilia yang bergerak secara aktif ini sangat penting untuk

kesehatan tubuh. Bila sistem ini tidak bekerja secara sempurna maka materi yang

terperangkap oleh palut lendir akan menembus mukosa dan menimbulkan penyakit

(Ballenger, 1994).

Karena pergerakan silia lebih aktif pada meatus media dan inferior maka gerakan

mukus dalam hidung umumnya ke belakang, silia cendrung akan menarik lapisan mukus

dari meatus komunis kedalam celah-celah ini. Sedangkan arah gerakan silia pada sinus

seperti spiral, dimulai dari tampat yang jauh dari ostium. Kecepatan gerakkan silia

bertambah secara progresif saat mencapai ostium, dan pada daerah ostium silia tersebut

berputar dengan kecepatan 15 hingga 20 mm / menit (Higler,1997)

Kecepatan gerakan mukus oleh kerja silia berbeda di berbagai bagian hidung,

pada segmen hidung anterior kecepatan gerakan silianya mungkin hanya 1/6 segmen

posterior, sekitar 1 hingga 20 mm/menit. Kerusakan mukosiliar baik yang diturunkan

maupun didapat telah terbukti berkaitan dengan keadaan penyakit bermakna

(Higler,1997)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Pada dinding lateral rongga hidung sekret dari sinus maksila akan bergabung

dengan sekret yang berasal dari sinus frontal dan etmoid anterior didekat infundibulum

etmoid, kemudian melalui anteroinferior orifisium tuba eustachius akan dialirkan kearah

nasofaring. Sekret yang berasal dari sinus etmoid posterior dan sfenoid akan bergabung

di resesus sfenoetmoid, kemudian melalui posteroinferior orifisium tuba eustachius

menuju nasofaring. Dari rongga nasofaring mukus turun kebawah oleh gerakan menelan

(Soetjipto, Mangunkusumo, 2001)

Gambar 2.6 : Gerakan mukosiliar sinus maksilaris yang menuju ostium natural (Chandler, 2000)

Lapisan mukus, selain berfungsi menangkap dan mengeluarkan partikel asing,

juga merupakan sawar terhadap alergen, virus dan bekteri. Akan tetapi walaupun

organisme hidup mudah dibiak dari segmen hidung anterior, sulit mendapat suatu biakan

postnasal yang positif oleh karena lisozim yang terdapat pada lapisan mukus ini bersifat

destruktif terhadap dinding sebagian bakteri. Fagositosis aktif dalam membran hidung

merupakan bentuk proteksi dibawah permukaan. Membran sel pernafasan juga

memberikan imunitas induksi seluler. (Higler, 1997)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
2.4 Fungsi Sinus Paranasal

Secara luas fungsi dari sinus paranasal masih belum jelas. Beberapa sinus telah

dapat diketahui dan belum ada penelitian yang dapat memastikan fungsi dari sinus

tersebut ( Amedee, 1993; Becker, Naumann, pflatz, 1994)

Beberapa teori yang dikemukakan sebagai fungsi sinus paranasa antara lain (1)

sebagai pengatur kondisi udara, (2) sebagai penahan suhu, (3) membantu keseimbangan

kepala, (4) membantu resonansi suara, (5) peredam perubahan tekanan udara dan (6)

membantu membersihkan rongga hidung (Soetjipto,Mangunkusumo,2001).

Sebagai pengatur kondisi udara ( air conditioning)

Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur

kelembaban udara inspirasi. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus kurang lebih

1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas sehingga diperlukan beberapa jam untuk

pertukaran udara total dalam sinus (Soetjipto, Mangunkusumo, 2001).

Sebagai penahan suhu ( thermal insulators)

Sinus berfungsi sebagai penahan (buffer) panas melindungi orbita dan fossa

serebri dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah (Soetjipto, Mangunkusumo,2001).

Membantu keseimbangan kepala

Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka.

Akan tetapi bila udara dalam sinus diganti dengan tulang, hanya akan memberikan

pertambahan berat sebesar 1 % berat kepala, sehingga teori ini kurang bermakna

(Soetjipto, Mangunkusumo, 2001).

Membantu resonansi suara

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan

mempengaruhi kualitas suara. Akan tetapi ada yang berpendapat, bahwa posisi sinus dan

ostiumnya tidak memungkinkan sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif.

(Soetjipto, Mangunkusumo, 2001).

Sebagai peredam perubahan tekanan udara

Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak,

misalnya pada waktu bersin dan membuang ingus (Soetjipto, Mangunkusumo, 2001).

Membantu produksi mukus

Mukus dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil apabila

dibandingkan dengan mukus yang dihasilkan rongga hidung, namun efektif untuk

membersihkan partikel yang turut masuk dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar

dari meatus media (Soetjipto, Mangunkusumo, 2001).

Fungsi penting pada sinus paranasal yang telah diketahui dan dapat diterima

secara luas adalah sekresi mukus yang dapat menjaga agar saluran pernafasan tetap

lembab. Jumlah mukus yang dihasilkan sinus adalah kecil apabila dibandingkan dengan

volume keseluruhan sekret yang dihasilkan tubuh (Amedee, 1993 ).

2.5 Rinosinusitis Jamur

Telah menjadi suatu kesepakatan bahwa infeksi jamur pada hidung dan sinus

paranasal jarang, tapi dalam dua dekade terakhir ini hampir seluruh ahli setuju bahwa

telah terjadi peningkatan frekuensi rinosinusitis yang disebabkan oleh infeksi jamur. Pada

laporan terdahulu infeksi jamur diperkirakan terdapat pada 10% dari keseluruhan pasien

yang memerlukan pembedahan hidung dan sinus. Ponikau et al, dalam penelitiannya

menduga jamur ditemukan pada 96% pasien dengan rinosinusitis kronis. (Dhong , Lanza,

2001)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Infeksi sinus yang disebabkan jamur jarang terdiagnosis oleh karena sering luput

dari perhatian. Penyakit ini mempunyai gejala mirip dengan rinosinusitis kronis yang

disebabkan oleh bakteri. Apabila kasus sinuisitis tidak mengalami perbaikan dengan

pengobatan antibiotika dan dekongestan, perlu dipikirkan kemungkinan adanya infeksi

jamur pada sinus. (Mangunkusumo, 2000)

Terdapat beberapa faktor penyebab meningkatnya insiden infeksi jamur pada

rinosinusitis kronis, Yaitu : 1. Kemajuan di bidang mikologi, serologi, dan radiologi yang

dapat membantu dalam menegakkan infeksi jamur pada hidung dan sinus paranasal.

2.terjadinya peningkatan pertumbuhan jamur pada hidung dan sinus paranasal yang

disebabkan tingginya penggunaan antibiotika spektrum luas dan obat topikal hidung

yang tidak proporsional. 3. terjadinya peningkatan frekuensi infeksi jamur invasif yang

berhubungan dengan peningkatan jumlah penderita dengan sistem imun yang rendah,

termasuk penderita diabetes melitus, penurunan sistem imun karena penggunaan radiasi

atau kemoterapi, AIDS, penggunaan obat-obatan yang dapat menurunkan daya tahan

tubuh setelah transplantasi organ dan penggunaan steroid yang berkepanjangan (Mc

Caffrey, 1997; Dhong, lanza ,2001,)

Karakteristik klinis rinosinusitis jamur

Beberapa jamur yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia adalah

merupakan organisme safrofit normal tetapi menjadi patogen oleh karena suatu keadaan

yang tidak biasa. Netropil adalah merupakan faktor penting bagi pertahanan tubuh untuk

mencegah infeksi jamur, gangguan fungsi netropil dapat menjadi faktor predisposisi

infeksi jamur opurtunistik seperti yang terdapat pada penderita diabetes melitus dan

keganasan (Mc Cafrey, 1997)

Tabel 2.3 : Beberapa organisme jamur pada rinosinusitis jamur (Dhong, lanza2001)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Aspergillus fumigatus Paelomyces
Aspergillus flavus Penicillium
Aspergillus niger Pseudallescheria boydii
Altenaria Rhizopus / Mucor
Bipolaris Scedosporium apiospermum
Candida Scopulariopsis
Curvularia Yeast not Candida
Fusarium

Pada beberapa penelitian dikemukakan bahwa jamur tersebut terdapat di sekitar

kita dan dapat teridentifikasi pada sampah, debu dan alat rumah tangga. Jamur adalah

merupakan organisme sederhana yang mudah beradaptasi pada lingkungan yang berbeda.

Beberapa jamur mempunyai kemampuan merubah jalur enzim untuk tumbuh,

morfologi,dan reproduksi. Jamur ini memerlukan materi organik dan lingkungan lembab,

tidak mengherankan jamur tersebut dapat ditemukan pada hidung individu normal.

Infeksi jamur harus menjadi pertimbangan diagnosis banding pada semua penderita yang

tidak diketahui penyebab infeksinya, penyakit berulang atau penyakit yang agresif pada

hidung dan sinus paranasal (Mc Caffrey, 1997; Dhong, lanza, 2001).

Secara luas sinusitis jamur didefenisikan sebagai kondisi patologi pada sinus

paranasal disertai inflamasi sinus yang disebabkan oleh infeksi jamur. Berdasarkan

gambaran klinis dan jaringan yang terinvasi, rinosinusitis jamur dikelompokkan menjadi

dua grup : Rinosinusitis jamur non invasif dan invasif . Pada grup non invasif terdiri dari

3 bentuk : Mikosis sinus superfisial (superficial sinosal mycosis), misetoma (Fungal

ball), rinosinusitis alergi jamur (allergic fungal rhinosinusitis). Pada grup invasif terdapat

dua bentuk : Rinosinusitis jamur kronis invasif (indolen) dan rinosinusitis jamur akut

invasif (fulminan). Tergantung daya tahan tubuh penderita, infeksi jamur non invasif ini

dapat berkembang menjadi tipe invasif. Rinosinusitis jamur dapat juga dilihat sebagai

suatu rangkaian penyakit berkelanjutan, diawali dengan mikosis sinus superfisial dan

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
dapat berkembang menjadi bentuk ganas berupa rinosinusitis jamur akut invasif

(fulminan). Ukuran, virulensi, inokulasi dan tempat tumbuhnya jamur mempunyai

hubungan dengan perluasan infeksi jamur pada sinus paranasal (Thanaviratananich,

1997; Dhong, Lanza, 2001)

Tabel 2.4 : Klasifikasi Rinosinusitis Jamur (Dhong. Lanza, 2001)

Rinosinusitis jamur ekstramukosa (non invasif)


Mikosis sinus superfisial
Misetoma (Fungal ball)
Rinosinusitis alergi jamur
Rinosinusitis jamur invasif
Rinosinusitis jamur kronis invasif (indolen)
Rinosinusitis jamur akut invasif (fulminan)

Diagnosis

Infeksi jamur pada sinus harus dipertimbangkan pada semua penderita

rinosinusitis kronis yang tidak respon terhadap pengobatan antibiotika dan pembedahan.

Rinosinusitis jamur invasif biasanya terdapat pada penderita dengan penurunan sistem

imun dengan disertai gejala akut seperti demam, batuk, ulserasi pada mukosa hidung,

epistaksis dan sakit kepala. Bentuk kronis invasif dapat timbul dengan gejala proptosis

atau sindroma apeks orbital. (DeShazo,Chapin, Swain, 1997)

Beberapa faktor yang dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis rinosinusitis

jamur yaitu : gejala yang kompleks, perjalanan penyakit (hari, minggu, tahun), keadaan

sistem imun penderita, pemeriksaan fisik (endoskopi hidung), dan pemeriksaan radiologi,

patologi, dan mikologi. Semua faktor tersebut ada sangat penting dalam menentukan

penanganan penderita pada fase awal. (Dhong,Lanza, 2001)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Tabel 2.5 : Spektrum rinosinusitis jamur ( Manning, 1998)

Adanya invasi jaringan dapat dicurigai pada pasien yang mempunyai resiko

penurunan sistem imun atau secara klinis jelas tampak adanya keterlibatan jaringan di

sekitar sinus. Erosi pada daerah sekitar harus dapat dibedakan dengan invasi jaringan.

Bentuk noninvasif dapat ditandai dengan proses erosi tanpa adanya invasi jaringan.

Pemeriksaan histopatologi selalu digunakan untuk membedakan suatu keadaan bentuk

invasif atau noninvasif. (Dhong , Lanza, 2001)

Infeksi jamur pada sinus mempunyai bentuk akut dan kronis. Status imun

penderita sangat mempengaruhi perkembangan penyakit. Misetoma dapat timbul tanpa

gejala dalam beberapa tahun atau hanya dengan gejala sumbatan hidung kronis yang

disertai sekret pada hidung, sedangkan bentuk akut invasif perkembangan penyakitnya

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
sangat cepat, dengan gejala nyeri, pembengkakan pada daerah wajah, gangguan orbita

dan gangguan saraf pusat yang disebabkan perluasan penyakit pada daerah sekitarnya.

Diagnosis awal rinosinusitis jamur fulminan sangatlah penting oleh karena penyakit ini

perjalanannya sangat singkat dan dapat terjadi kematian dalam beberapa jam.

(McCaffrey, 1997)

Tabel 2.6 : Gejala dan tanda infeksi jamur (Dhong, Lanza, 2001)

Sumbatan Hidung Gangguan Penglihatan


Rinore Defisit neurologis
Gangguan penciuman Kejang
Nyeri wajah / sakit kepala Proptosis

2.5.1 Rinosinusitis ekstramukosa jamur (non invasif)

Keadaan ini timbul pada saat infeksi jamur ekstramukosa yang menyebabkan

inflamasi pada sinus. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh lingkungan, faktor pejamu,

terutama pengaruh genetik yang diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE) mediasi alergi

(Dhong, Lanza, 2001)

2.5.1.1 Mikosis sinus superfisial

Mikosis sinus superfisial adalah merupakan suatu keadaan inflamasi mukosa

sinus paranasal yang disebabakan infeksi jamur ekstramukosal. Pemeriksaan kultur sekret

yang dicurigai dapat ditemukan adanya jamur. Keadaan ini jarang ditemukan dalam

keadaan yang berat oleh karena patogenisitasnya rendah. (Dhong, Lanza, 2001)

Manifestasi klinis

Tidak ada keluhan yang khas pada penderita. Penderita hanya melaporkan adanya

tercium bau tidak enak pada hidung yang disertai krusta atau debris. Bentuk rinosinusitis

jamur ini paling khas diidentifikasi pada saat nasoendoskopi, tampak materi jamur yang

tumbuh pada krusta hidung. Biasanya krusta tersebut terdapat pada daerah hidung yang

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
tinggi aliran udaranya seperti pada bagian tepi anterior konka dan dapat juga pada rongga

sinus yang luas. Pada pemeriksaan dengan menggunakan endoskopi tampak pada bagian

dibawah krusta memperlihatkan mukosa yang eritem, edema dan disertai adanya pus.

Pemeriksaan Kultur pada krusta tersebut menunjukkan adanya pertumbuhan bakteri dan

jamur ( Dhong, Lanza, 2001)

Pengobatan

Terapi meliputi pembersihan daerah yang terinfeksi dan meminimalkan

penggunaan antihistamin dan steroid topikal. Perlu dilakukan pemberian antibiotika

untuk bakteri yang mendasari infeksi jamur, hidung dilembabkan dengan irigasi dan perlu

diberikan mukolitik seperti guaifenesin. Anti jamur sistemik tidak digunakan secara

khusus pada kondisi ini. Karena mikosis sinonasal superfisial cenderung timbul kembali

maka endoskopi ulangan diperlukan untuk memonitor hasil pengobatan. Pada kondisi

yang berbeda apabila infeksi jamur disebabkan oleh Candida Sp, maka perlu

pertimbangan untuk memberikan anti jamur sistemik atau topikal. (Dhong, Lanza, 2001)

Patogenesitas

Infeksi jamur tipe ini tidak akan menjadi infeksi yang berat. tetapi potensial

menjadi penyebab rinosinusitis kronis. Beberapa pendapat menyatakan bahwa kondisi

ini timbul oleh karena berkumpulnya spora jamur dengan konsentrasi yang tinggi

sehingga dapat mencetuskan rinosinusitis pada individu yang memiliki kemungkinan

untuk alergi terhadap jamur. (Dhong, Lanza, 2001

2.5.1.2 Fungal ball (Misetoma)

Fungal Ball atau misetoma adalah merupakan kumpulan hifa jamur yang

berbentuk seperti bola atau massa tanpa disertai adanya invasi jamur ke jaringan dan

reaksi granulomatosa. Mackenzie pada tahun 1893 adalah yang pertama kali

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
mengumumkan kasus infeksi sinus yang disebabkan oleh fungal ball. Fungal ball ini

biasanya mengenai satu sisi sinus. Sinus maksila adalah lokasi yang paling sering

menjadi tempat infeksi jamur tipe ini. (Adelson, Marple, 2006)

Manifestasi klinis

Gejala klinik awal fungal ball umumnya tidak khas. Gejalanya mirip dengan

rinosinusitis kronik yang hanya mengenai satu sinus. Fungal ball biasanya tanpa gejala

sehingga sulit terdeteksi. Fungal ball ini dapat terjadi pada keseluruhan sinus paranasal

dan sinus maksila adalah yang paling sering. Rentang umur penderita dengan fungal ball

adalah 18 - 86 tahun dengan umur rata-rata 59,5 tahun. Sering di temukan pada wanita

dengan rasio 2:1. Gejala yang tampak dapat berupa gangguan penglihatan, kakosmia,

demam, batuk, hidung tersumbat, sekret hidung dan kadang kadang disertai nyeri pada

wajah dan sakit kepala. Edema wajah unilateral yang disertai nyeri pipi pada perabaan,

atau kelainan pada mata dapat terlihat pada pemeriksaan. Pada nasoendoskopi

menunjukkan adanya sinusitis minimal yang disertai dengan mukosa eritem, edema ,

disertai ada atau tidak adanya polip dan sekret mukopurulen. (DeShazo, 1997; Dhong,

Lanza, 2001)

Pemeriksaan radiologi

Meskipun gambaran fungal ball tidak khas, pada radiografi polos menunjukkan

penebalan mukoperiosteal disertai opasifikasi sinus yang homogen. CT scan adalah

pemeriksaan radiologi paling baik, secara khas dapat menunjukkan batas tipis antara

jaringan lunak sepanjang dinding tulang sinus yang terlibat dimana hampir

keseluruhannya teropasifikasi. Tampak beberapa fokus hiperdens jelas dapat terlihat

dengan ukuran yang bervariasi. Jaringan tulang sekitarnya tampak menebal karena respon

peradangan dan efek tekanan karena proses penyakit yang kronis. (Dhong, Lanza, 2001)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Histopatologi

Secara makroskopis lesi pada fungal ball dapat berbentuk mulai dari debris halus

yang basah, berpasir atau bergumpal. Warna yang bervariasi dari putih kekuningan,

kehijauan, coklat hingga hitam. Diagnosis fungal ball ditegakkan secara mikroskopis

dengan tidak adanya infiltrasi sel radang yang nyata dan banyaknya kumpulan hifa jamur.

Mukosa di sekitarnya menunjukkan adanya peradangan yang kronis dengan sel plasma

ringan hingga menengah dan infiltrasi sel limfosit. Neutrofil dan eosinofil dapat dijumpai

dan kadang kadang dapat di jumpai kristal oksalat. (Dhong , Lanza, 2001)

Mikrobiologi

Ferreiro et al melaporkan bahwa 17 dari 22 kultur yang dikirim ke laboratorium

untuk mikologi ternyata negatif. Organisme yang sering dijumpai pada kultur adalah

Aspergilus fumigatus atau Aspergilus flavus. Pseudallescheria boydii pernah dilaporkan

pada kasus fungal ball. (Dhong , Lanza, 2001)

Pengobatan

Penanganan utama fungal ball adalah memperbaiki ventilasi sinus yang diduga

terinfeksi . Drainase sinus yang adekuat dan pengembalian fungsi bersihan mukosilia

dapat mencegah terjadinya kekambuhan. Perlu dilakukan pelebaran atau pembukaan

ostium sinus secara endoskopik agar dapat mengembalikan fungsi sinus secara normal.

Apabila sulit untuk melakukan ekstraksi fungal ball secara utuh melalui ostium, maka

dapat dilakukan insisi eksterna pada ginggivobukal (Luc Operation). Irigasi sinus tekanan

rendah dapat dilakukan untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi melalui struktur

vital penting disekelilingnya. Pembersihan antrum bukan merupakan terapi yang adekuat

untuk fungal ball karena metode ini tidak mampu membersihkan keseluruhan debris

jamur dan menjamin ventilasi sinus secara adekuat. Ostium sinus harus cukup lebar untuk

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
memungkinkan pengangkatan keseluruhan elemen jamur dan memudahkan perawatan

setelah operasi.(Dhong , Lanza, 2001)

Terapi medis diperlukan untuk mengurangi edema mukosa, termasuk pemberian

mukolitik (guaifenesin), irigasi hidung dan steroid. penggunaan antibiotik diberikan

berdasarkan kultur. Hal ini dimaksudkan untuk mengobati infeksi bakteri yang sering

timbul bersamaan dengan fungal ball. Terapi medis awal preoperatif dapat diberikan

untuk mengurangi edema pada rongga sinus dan memudahkan pengangkatan fungal ball

pada saat pembedahan. (Dhong , Lanza, 2001)

Patogenesis dan patogenesitas

Meskipun mekanisme terbentuknya fungall ball belum dapat diketahui secara

pasti, secara teori hal ini dapat timbul pada saat spora jamur terhirup, spora tersebut

masuk kedalam rongga sinus dan menjadi antigen yang dapat menyebabkan iritasi dan

proses inflamasi mukosa sinus sehingga pada akhirnya terjadi obstruksi ostium sinus.

Oleh karena sinus merupakan rongga lembab yang cocok untuk perkembangan jamur

maka terjadi pengumpulan hifa jamur yang berbentuk seperti bola. Fungal ball di Eropa

berhubungan erat dengan penyakit akar gigi. Oksida seng dapat dijumpai pada gigi yang

yang menonjol pada sinus maksila dan diketahui zat tersebut dapat menghambat

tumbuhnya bakteri sehingga dapat menstimulasi tumbuhnya jamur secara in vitro.

Fungal ball ini dapat berkembang menjadi bentuk invasif apabila terdapat penurunan

status imun penderita. (Dhong , Lanza, 2001)

2.5.1.3 Rinosinusitis jamur alergik

Rinosinusitis jamur alergik ini merupakan keadaan kronik yang dikarakteristikkan

dengan 3 kondisi : (1) Adanya Jamur pada mucin alergik yang dapat diperiksa secara

mikologi atau histopatologi, (2) tidak adanya invasi jaringan subepitel oleh jamur yang

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
dibuktikan dengan pemeriksaan histopatologi (3) dijumpai alergi yang diperantarai IgE

terhadap jamur tertentu atau family-nya. (Ponikau, sherris, 1998,Dhong , Lanza, 2001)

Sejarah

Miller et al pada 1981 yang pertama kali mengumumkan adanya hubungan antara

Aspergilosis alergik sinus dan Aspergilosis bronkopulmoner alergik (APBA). Miller et al

melaporkan 5 penderita dengan sinusitis kronik yang disebabkan oleh Aspergilus

fumigatus. Materi biopsi yang didapatkan dari sinus pasien tersebut mempunyai

persamaan dengan sputum yang didapat dari pasien APBA. Keseluruhan reaksi kulit

pasien tersebut bereaksi terhadap Aspergilus. Katzentein dan rekannya, 2 tahun

kemudian, mengusulkan teori baru yang mereka sebut Allergic Aspergillus sinusitis.

Waxman et al, 1987, melaporkan 8 kondisi tambahan pasien dengan bukti klinis dan

histologik adanya sinusitis aspergilus alergik. Meskipun pada awalnya kultur jamur

negatif, aspergilus sp diyakini menjadi mikroorganisme penyebab pada pemeriksaan

histologi. Sejak penelitian menemukan bahwa sinusitis alergi jamur tidak hanya

disebabkan oleh aspergilus sp, jamur lain seperti Alternaria, Exserohilum, Culvaria,

Drehslera, dan Bipolaris, telah dilaporkan menjadi penyebab sinusitis jamur alergik. Oleh

karena itu, istilah sinusitis jamur alergik sekarang lebih umum digunakan dari pada

sinusitis Aspergilus alergik. (Dhong , Lanza, 2001)

Kontroversi pada patogenesis.

Beberapa ahli mengatakan bahwa sinusitis alergi jamur adalah suatu keadaan

yang diperantarai oleh alergi, sedangkan ahli yang lain berpendapat keadaan ini

merupakan suatu infeksi dan sebagian ahli berperinsip bahwa keadaan ini merupakan

gabungan dari keduanya. (Marple, 2006; Dhong , Lanza, 2001)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Secara teori, sinusitis alergi jamur timbul setelah terhirup dan terperangkapnya

spora jamur yang memungkinkan antigen jamur tersebut bereaksi dengan sel mast yang

telah disensitisasi IgE. Reaksi imunologik yang terjadi selanjutnya menyebabkan

inflamasi yang kronik dan diikuti dengan destruksi jaringan. Terjadinya penumpukan

eosinofil dan terperangkapnya hifa jamur pada sekret memungkinkan terjadinya stimulasi

antigen secara terus menerus. Pada saat terjadinya degenerasi eosinofil, granul enzimatik

yang kaya akan major basic protein pun dilepaskan. Major basic protein adalah suatu

mediator peradangan yang toksik terhadap jaringan dan biasanya sering dijumpai pada

penyakit kronis. (Dhong , Lanza, 2001)

Ponikau et al menggunakan kultur jaringan pada pemeriksaan mikologi dan

pemeriksaan histopatologi untuk mengidentifikasi jamur dari sinus dan hidung. Diyakini

bahwa pemeriksaan alergi tidak diperlukan untuk menegakkan diagnosis sinusitis alergi

jamur. Dalam penelitian tersebut hampir seluruh sampel pemeriksaan yang berasal dari

penderita rinosinusitis kronis positif adanya jamur pada pemeriksaan kultur, sehingga

seluruh penderita dikatakan sebagai rinosinusitis jamur eosinofilik. Dalam percobaan

tersebut digunakan mikroskop elektron untuk memeriksa adanya eosinofil yang terdapat

pada lumen sinus yang terinfeksi jamur dan dapat dikatakan bahwa sekret eosinofilik

merupakan suatu respon tubuh terhadap infeksi jamur. ( Ponikau, 1998; Dhong , Lanza,

2001)

Manifestasi klinis.

Diagnosis sinusitis alergi jamur harus dicurigai pada penderita rinosinusitis kronis

yang tidak sembuh dengan terapi medikamentosa khususnya pada pasien dengan riwayat

polip nasi berulang dan telah dilakukan beberapa kali pembedahan sebelumnya.

Gambaran klinis sinusitis alergi jamur dapat mulai dari gejala alergi ringan, polip dan

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
mucin alergi yang disertai adanya hifa hingga penyakit masif yang dapat meluas ke arah

intrakranial dan orbita yang disertai komplikasinya. (Dhong , Lanza, 2001; Singh,

Bhalodiya 2005)

Pada pemeriksaan fisik biasanya sinusitis alergi jamur ini sama seperti

rinosinusitis kronis, yaitu mukosa sinus yang edema, eritema dan polipoid dan kadang-

kadang dapat disertai adanya polip. Pemeriksaan endoskopi pada rongga sinus dapat

terlihat sekret mucin alergi. Secara makroskopis mucin alergi tersebut berupa sekret

yang tebal, berwarna coklat ke emasan dengan konsistensi lunak. (Dhong , Lanza, 2001;

Singh, Bhalodiya 2005)

Evaluasi alergi imunologi.

Penderita sinusitis alergi jamur dapat mempunyai kriteria sebagai berikut, (1)

Adanya peningkatan eosinofil pada darah tepi, (2) Adanya reaksi test kulit yang positif

terhadap jamur penyebab, (3) peningkatan kadar serum IgE total, (4) adanya antibodi

pencetus pada allergen penyebab, dan (5) peningkatan IgE spesifik jamur. Manning et al

merekomendasikan pemeriksaan RAST sebagai test klinik rutin untuk mendiagnosis

sinusitis alergi jamur. (Dhong, Lanza, 2001)

Pemeriksaan radiologi.

Foto polos sinus paranasal akan menunjukan opasifitas pada beberapa atau

seluruh sinus paranasal yang terlibat. CT scan merupakan metode pencitraan yang terpilih

untuk keadaan ini. (Dhong, Lanza, 2001; Marple, 2006)

Histopatologi.

Secara histologi kondisi ini ditandai dengan adanya hifa jamur pada sekret dengan

disertai eosinofil yang sangat banyak dan adanya kristal Charcot-Leyden. Sekret tersebut

adalah merupakan allergic mucin. Allergic mucin ini dikarakteristikan dengan

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
kumpulan eosinofil yang nekrotik dan debris seluler lainnya, granul eosinofil bebas

dengan latar belakang pucat, dan sekret eosinofilik hingga basofilik yang amorf. Keadaan

ini dibedakan dari sekret inflamasi non alergi yang banyak netrofil. Allergic mucin

diidentifikasi dengan pewarnaan standar hematoksilin-eosin. Kristal Charcot Leyden ini

dapat dilihat dengan pewarnaan hematoksilin-eosin atau Brown&Brenn. (Cody, Khan,

1997; Dhong, Lanza 2001)

Mikrobiologi.

Spesies Aspergilus dan Dematiaceous merupakan organisme penyebab terbanyak.

Pada beberapa literatur menyatakan bahwa famili Dematiaceous (pigmen gelap)

merupakan organisme terbanyak dibandingkan Aspergilus. Famili Dematiaceous

merupakan jamur yang paling banyak dijumpai di tanah, debu dan berbagai tumbuhan,

termasuk Bipolaris, Curvularia, Alternaria, Exserohilum dan Drechslera. Jamur

Dematiaceous mengandung melanin pada dinding selnya sehingga dapat menghasilkan

warna gelap pada jaringan dan kultur. Hal ini yang membedakannya dari Aspergilus.

(Cody, Khan, 1997; Dhong, Lanza 2001)

Terapi.

Penanganan terbaik yang disertai resolusi sempurna pada sinusitis alergi jamur

belum diketahui secara pasti. Tetapi para ahli berpendapat bahwa penatalaksanaan

sinusitis alergi jamur terbaik adalah dengan kombinasi medikamentosa dengan

pembedahan. Diagnosis ditegakkan melalui gejala klinis, pemeriksaan radiologi,

pemeriksaan alergi dan serologi. (Cody, Khan, 1997; Dhong, Lanza 2001)

Drainase sinus yang baik serta perbaikan fungsi ventilasi merupakan terapi

utama. Tindakan bedah saja tidaklah cukup untuk mengatasi keadaan ini. Pembedahan

diyakini dapat menurunkan jumlah antigen jamur dan secara teori dapat menurunkan

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
stimulus yang menyebabkan gejala alergi fase cepat dan lambat dan dapat menurunkan

kemotaksis eosinofil ke lumen sinus. Pembedahan juga dapat menyebabkan kembali

normalnya bersihan mukosiliar. Pendekatan bedah harus dikerjakan dengan

menggunakan tehnik bedah sinus endoskopi. (Cody, Khan, 1997; Dhong, Lanza 2001)

Terapi medikamentosa termasuk pemberian antibiotik yang berdasarkan kultur,

antihitamin, steroid sistemik, imunoterapi dan anti jamur. Karena proses inflamasi

berhubungan dengan manifestasi klinis, terapi multimodalitas diperlukan untuk jangka

panjang. Bakteri dapat terlibat secara langsung sebagai pencetus timbulnya sinusitis

alergi jamur dengan mempengaruhi frekuensi gerakan silia. Data in vitro menunjukan

Stafilokokus aureus, Hemofilus influenza dan Pseudomonas aeruginosa merupakan

bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya penurunan frekuensi gerakan silia. (Cody,

Khan, 1997; Dhong, Lanza 2001)

Irigasi hidung juga diyakini dapat menurunkan stasis mukous dan menurunkan

konsentrasi bakteri dan jamur. Topikal steroid intranasal tidak efektif bila digunakan

sendiri tetapi dapat memberikan efek pencegahan jangka panjang setelah pemberian

steroid sistemik. Perlu diingat bahwa pemberian steroid yang tidak rasional pada

sinusitis alergi jamur dapat menyebabkan penyakit yang berulang. (Dhong, Lanza, 2001)

Patogenisitas.

Karena secara histologi pada pemeriksaan sekret alergi yang mengandung jamur

hampir identik dengan yang di temukan pada paru, patogenesis sinusitis alergi jamur

diyakini hampir menyerupai Aspergilosis bronkopulmoner alergi. Sinusitis alergi jamur

yang tidak diterapi secara adekuat dapat menyebabkan terjadinya komplikasi serius

sehingga dapat mengakibatkan erosi tulang dan deformitas wajah, komplikasi orbita dan

perluasan intrakranial. Apabila penyakit meluas ke orbita, lemahnya otot ekstraokuler

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
juga sering dijumpai sedangkan keterlibatan n. optikus dan invasi sistem saraf pusat

jarang dijumpai. Hal ini menggambarkan bahwa rongga orbita terlibat secara langsung

pada perluasan infeksi. (Dhong, Lanza, 2001)

2.5.2 Rinosinusitis jamur invasif

Kondisi ini terjadi pada saat terdapat invasi jamur ke jaringan sinus. Rinosinusitis

jamur kelompok ini dibagi menjadi dua bentuk : rinosinusitis jamur invasif kronik

(indolen) dan rinosinuistis jamur invasif akut (fulminan). Rinosinusitis jamur invasif

kronik banyak ditemukan pada penderita rinosinusitis yang imunokompeten, sedangkan

pada tipe fulminan sering ditemukan pada penderita dengan penurunan sistem imun

(imunokompromis). Rinosinusitis jamur invasif dipengaruhi oleh lingkungan dan

keadaan penderita yang berhubungan dengan faktor alergi. Bentuk campuran antara tipe

invasif dan non invasif dapat terjadi pada beberapa individu. Berdasarkan sifat jamur

yang dapat menginvasi daerah sekitarnya rinosinusitis jamur tipe invasif dapat

mematikan oleh karena itu klinisi harus dapat menegakkan diagnosa sedini mungkin

(Thanaviratananich, fooanant, 1997; Dhong,Lanza, 2001)

2.5.2.1 Rinosinusitis jamur invasif kronik

Rinosinusitis jamur invasif kronik (indolen) ini perjalanan penyakitnya bisa

membutuhkan waktu berbulan-bulan sampai tahun, dan banyak terdapat pada penderita

dengan imunokompeten, tipe ini dihubungkan dengan gambaran granulomatosa pada

pemeriksaan histopatologi. (Thanaviratananich, fooanant, 1997, Dhong, Lanza, 2001)

Rinosinusitis jamur invasif kronik ini adalah bentuk yang jarang ditemukan.

Tanda khas dari infeksi jamur tipe ini adalah adanya invasi jamur ke dalam jaringan

mukosa sinus. Infeksi jamur tipe ini dapat diawali oleh misetoma sinus (Fungal ball)

kemudian menjadi invasif oleh karena perubahan status imun penderita. Oleh karena

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
prognosis yang buruk, tipe ini disarankan dilakukan pentalaksanaan secara agresif.

(DeShazo, Chapin, 1997; Marks, 20000)

Gambaran klinis

Gejala dari infeksi jamur tipe ini secara umum sama seperti rinosinusitis kronis

yaitu berupa sakit kepala dan sumbatan hidung. Pada keadaan tertentu dapat ditemukan

massa pada daerah sinus, massa tersebut dapat mengerosi pembatas anatomi ke dalam

pipi, orbita, palatum durum, otak ataupun kelenjar pituitari. Keluhan pandangan ganda,

termasuk proptosis sering ditemukan. Diagnosis ditegakkan berdasarkan biopsi yang

menggambarkan adanya invasi jaringan oleh hifa jamur. Pada pemeriksaan fisik, terdapat

deformitas wajah, proptosis, dan disfungsi saraf kranialis. Pemeriksaan endoskopi

hidung tampak gambaran yang sangat mirip dengan fungal ball (misetoma). Tampak

inflamasi kronis pada sinus yang terinfeksi disertai jaringan granulasi yang mudah

berdarah. (Dhong, Lanza, 2001)

Pemeriksaan radiologi

Pemeriksaan dengan CT scan dianjurkan, dan didapatkan gambaran penebalan

jaringan yang meluas ke bagian tulang. Pemeriksaan dengan MRI direkomendasikan

pada pasien dengan infeksi yang meluas ke rongga orbita dan kompartemen intrakranial.

(Marks, 2000; Dhong, Lanza, 2001)

Patologi

Terdapat invasi jaringan dibawah epitel termasuk tulang dan pembuluh darah.

Keterlibatan pembuluh darah tidak menyebabkan nekrosis jaringan akut seperti pada

rinosinusitis jamur akut invasif. Secara histologi, terdapat reaksi inflamasi kronis dengan

pembentukan giant sel dan granulasi pada jaringan. (Marks, 2000; Dhong, Lanza, 2001)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Perbedaan antara rinosinusitis jamur kronis invasif dengan misetoma tidak terlalu

jelas. Hanya dapat dibedakan dengan cara memastikan adanya hifa jamur pada jaringan

sinus (McCaffrey, 1997)

Mikrobiologi

Aspergilus adalah organisme yang paling sering ditemukan pada infeksi jamur

tipe ini. Hifa Aspergilus sedikit dan sulit dilihat dengan pemeriksaan yang menggunakan

pewarnaan rutin. Gambaran Aspergilus ini seperti lobang pada giant cell yang dapat

diidentifikasi dengan pewarnaan perak. Organisme ini berpendar (berfluoresensi) pada

pemeriksaan dengan lampu ultraviolet (Dhong, Lanza, 2001)

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan yang paling baik adalah dikombinasikan dengan tindakan bedah.

Diagnosis dikonfirmasikan melalui pemeriksaan histopatologi potongan beku dari

jaringan yang dicurigai. Reseksi lokal yang luas merupakan pilihan dan dikombinasikan

dengan pemberian anti jamur sistemik. Tergantung lokasi sinus yang terinfeksi dan

pengalaman ahli bedah, pembedahan dapat dilakukan dengan tehnik minimal invasif atau

tehnik operasi terbuka. Biasanya diperlukan tindakan biopsi ulang untuk mengetahui

apakah ada sisa jamur atau penyakit yang berulang. Penggunan anti jamur dipilih

berdasarkan jamur yang menginfeksi. Amfoterisin merupakan anti jamur yang paling

sering digunakan. Lamanya pengobatan tergantung dari sisa infeksi jamur atau letak

infeksi, kemungkinan penyakit berulang yang dipengaruhi oleh penurunan daya tahan

tubuh penderita dan respon pengobatan. Kekambuhan sering terjadi, walaupun telah

diberikan pemberian anti jamur sistemis setelah pembedahan. Biasanya tidak perlu

dilakukan pembedahan ulang, dan pasien dapat terapi dengan pilihan anti jamur lainnya

seperti Itrakonazol. (Dhong, Lanza, 2001)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
2.5.2.2 Rinosinusitis jamur invasif akut (fulminan)

Rinosinusitis jamur invasif ini perjalanan penyakitnya sangat cepat, infeksi jamur

tipe ini banyak ditemukan pada individu dengan sistem imun yang menurun, seperti pada

pasien yang mendapatkan transplantasi organ, diabetes melitus dan pasien yang sedang

dilakukan kemoterapi. Perjalanan penyakitnya hanya memerlukan waktu beberapa hari

atau bulan saja. (Marks, 2000; Dhong, Lanza 2001)

Mucorales (Mucor, Rhizopus, Absidia) adalah merupakan jamur yang sering

ditemukan pada penderita diabetes melitus, sedangkan Aspergilus sp, sering ditemukan

pada pasien non-diabetes dengan penurunan sistem imun (imunokompromis). Karena

rendahnya imunitas tubuh penderita, dan sifat jamur yang angioinvasif, perjalanan klinis

biasanya sangat cepat meluas dan dapat menghancurkan sinus yang terlibat kemudian

dapat meluas ke daerah sekitarnya seperti orbita, sinus kavernosus, parenkim otak

sehingga dapat menyebabkan kematian dalam beberapa jam apabila tidak dikenali dan

dilakukan penanganan secara cepat (Thanaviratananich, fooanant, 1997)

Gambaran klinis

Secara umum infeksi jamur tipe ini sering terdapat pada penderita diabetes

melitus yang tidak terkontrol, individu yang menerima transplantasi organ, dan pada

penderita yang sedang mendapatkan kemoterapi. Pada penderita dengan penurunan daya

tahan tubuh dengan gejala dan tanda rinosinusitis harus kita curigai dengan infeksi jamur

tipe ini. Gejala klinisnya diawali dengan demam yang tidak respon dengan pemberian

antibiotik, adanya keluhan pembengkakan pada wajah dan orbita, nyeri atau kebas pada

wajah yang disetai kerusakan saraf kranial unilateral atau perubahan penglihatan akut

dengan gangguan pergerakan mata dan penurunan tajam penglihatan (Dhong , Lanza,

2001)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Pada pemeriksaan fisik ditemukan edema di daerah muka atau periorbita disertai

eritema, kemosis, proptosis, dan oftalmoplegia. Adanya gejala tersebut yang disertai

penurunan tajam penglihatan menandakan telah terjadi keterlibatan orbita yang progresif.

Pada pemeriksaan rongga mulut dapat ditemukan eschar pada ginggiva dan palatum.

Pemeriksaan endoskopik dapat ditemukan edema mukosa hidung yang disertai sekret

purulen, tetapi umunya secara khas rongga hidung tampak kering disertai krusta darah.

Adanya eschar pada rongga hidung, merupakan tanda patognomonik dari rinosinusitis

jamur invasif akut. (Dhong , Lanza, 2001)

Pemeriksaan radiologi

CT scan merupakan pemeriksaan radiologi yang harus dilakukan segera,

diperlukan untuk mengetahui apakah sudah terjadi erosi tulang dan keterlibatan jaringan

lunak. Pemeriksaan radiologi sinus konvensional tidak dapat digunakan karena tidak

spesifik. Pada CT scan tampak penebalan jaringan yang berbentuk nodular pada mukosa

sinus dan disertai adanya destruksi dinding sinus. Perluasan ke arah orbita dapat terjadi

langsung melewati lapisan tipis lamina papirasea atau melewati pembuluh darah etmoid.

Destruksi tulang jarang ditemukan pada awal infeksi dan dapat ditemukan apabila telah

terjadi nekrosis jaringan lunak. (Dhong , Lanza, 2001)

Penggunaan MRI digunakan untuk mengetahui apakah sudah terjadi keterlibatan

mata, khususnya untuk mengevaluasi keadaan orbita, sinus kavernosus, dan otak.

Temuan utama pada pemeriksaan dengan MRI termasuk keterlibatan bagian dasar

hemisfer otak, batang otak, dan daerah hipotalamus. (Dhong , Lanza, 2001)

Patologi

Pada pemeriksaan mikroskopi dari jaringan yang dicurigai dengan mengunakan 2

atau 3 tetes larutan KOH 10% atau 20% dapat melihat adanya jamur dalam beberapa

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
menit setelah dilakukan prosedur biopsi. Apabila ada infeksi disebabkan jamur golongan

Mucor maka pada pemeriksaan histopatologi didapati bentuk hifa yang besar, tidak

beraturan, tidak bersepta dan bercabang dengan arah sudut kekanan. Sedangkan apabila

pada Aspergilus, dapat dicurigai apabila di temukan hifa dengan ukuran yang lebih kecil

yaitu 2.5 sampai 5m dibandingkan dengan ukuran hifa pada Mucor yang berukuran 6

sampai 50 m. Bentuk lainnya yang dapat membedakan jenis jamur tersebut yaitu pada

Aspergilus di temukan bentuk hifa yang bersepta dan beraturan , dan pada bagian

cabangnya membentuk sudut 45 0. Temuan tersebut dapat di identifikasi dengan

pewarnaan hematoxylin Eosin dan dapat lebih mudah dikenali dengan pewarnaan

khusus, seperti periodic acid-Schiff (PAS) dan pewarnaan methenamine silver. (Dhong ,

Lanza, 2001)

Mikrobiologi

Mucor sp dan Aspergilus sp adalah merupakan organsime yang sering ditemukan

pada infeksi jamur tipe ini, tetapi beberapa jenis jamur lainnya juga dapat menyebabkan

infeksi yang berhubungan dengan rinosinusitis jamur akut, seperti Pseudallescheria

boydii. (Dhong , Lanza, 2001)

Pengobatan

Terapi yang optimal termasuk (1) melakukan penatalaksanaan penyakit metabolik

atau imunologik yang mendasari (2) penggunaan anti jamur sistemis yang tepat (3)

pembedahan dengan debrideman luas pada keseluruhan daerah yang terinfeksi, temasuk

daerah mulut ,hidung, sinus paranasal, dan jaringan orbita (4) mempertahankan drainase

daerah hidung, sinus paranasal dan orbita yang adekuat (5) secara terus menerus

memonitor agar tidak terjadi kekembuhan (DhongLanza,2001) .

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Penatalaksanaan medis pada penyakit yang mendasarinnya adalah merupakan

faktor paling penting dalam meningkatkan survival rate. (DhongLanza,2001).

Terapi anti jamur

Amfoterisin masih merupakan obat pilihan untuk terapi sistemis pada hampir

kebanyakan rinosinusitis jamur akut, walaupun masalah toksisitas obat ini tinggi, oleh

kerena itu perlu dilakukan pemantauan yang baik. Pemberian Amfoterisin B dapat

menyebabkan efek samping yang akut seperti, demam, mengigil, sakit kepala,

tromboflebitis, mual, dan muntah. Walupun obat ini tidak dieksresikan langsung oleh

ginjal, obat ini sangat nefrotoksik dan dapat menyebabkan ( biasanya reversibel) asidosis

tubuler. Reaksi lanjutannya adalah termasuk hipokalemia, nefrotoksik, penekanan sum-

sum tulang, dan ototoksik. Toksisitas Amfoterisin B ini sangat perlu dipertimbangkan

pada pasien dengan gangguan metabolik. Apabila serum kreatinin menjadi lebih dari 3.0

mg/dl, pemberian obat ini ditunda sampai fungsi ginjal kembali stabil. Dosis total yang

optimum dan durasi dengan menggunakan amfoterisin ini masih belum jelas, secara

umum digunakan dosis tes 1 mg dalam dextrosa 5 % pada hari pertama terapi, kemudian

dilakukan peningkatan dosis 5 mg sampai tercapai dosis 1 mg /kg berat badan. Pada

pasien dengan infeksi yang lebih berat dapat diberikan dosis tes 1 mg yang diberikan

dalam beberapa jam kemudian diikuti dosis ulangan tiap 12 jam yaitu 10 sampai 15 mg

sampai tercapai dosis 0,7 sampai 1 mg / kg berat badan. (Dhong , Lanza, 2001)

Pembedahan

Sebelum dilakukan tindakan bedah, ahli THT harus mempertimbangkan prognosa

pasien secara keseluruhan, termasuk penyakit yang mendasarinya. Perluasan eksisi bedah

harus dipertimbangkan dengan perluasan infeksi. Secara umum dikatakan, bahwa

debrideman semua daerah yang terinfeksi dan perbaikan fungsi adalah merupakan tujuan

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
utama pembedahan. Debrideman setelah operasi dan pemantauan pasien sangat penting

dan perlu dilakukan biopsi ulang pada dareah operasi. Terapi medis terus diberikan

sampai diyakini infeksi telah teratasi dan keadaan status imun penderita telah stabil. CT

scan ulang diperlukan untuk memastikan tidak ada lagi perkembangan penyakit. Setelah

pembedahan, irigasi pada rongga hidung dapat dilakukan untuk mencegah adanya krusta

dan invasi jamur. Amfoterisin B ( 50 mg / liter air) irigasi ( 20 ml, empat kali sehari )

dapat diberikan melalui selang kateter pada sinus yang terinfeksi. Debrideman ulang

dilakukan, apabila terdapat krusta yang menetap atau terjadi kekambuhan. (Dhong ,

Lanza, 2001).

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional yang bersifat deskriptif.

3.2 Tempat Penelitian

Tempat penelitian dan pengambilan sampel penelitian dilakukan di Departemen

Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher FK USU /

RSUP. H. Adam Malik Medan. Pemeriksaan kultur jamur dilakukan di

Departemen Mikrobiologi Klinik FK USU Medan.

3.3 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan dari bulan Februari 2007 sampai September 2007

3.4 Sampel

Sampel penelitian ini adalah semua penderita rinosinusitis maksila kronis yang

berobat ke poliklinik THT-KL FK. USU / RSUP. H. Adam Malik Medan yang

memenuhi kritreria inklusi.

Besar sampel yang diambil berdasarkan lamanya waktu penelitian

Kriteria Inklusi :

a. Penderita rinosinusitis maksila kronis yang datang berobat ke poliklinik THT-

KL. FK. USU / RSUP. H. Adam Malik Medan yang dilakukan irigasi sinus

b. Penderita berusia di atas 17 tahun

c. Hasil radiologi foto sinus paranasal menunjukkan sinusitis maksila dengan

perselubungan atau air fluid level atau pada CT. Scan hidung dan sinus paranasal

menunjukkan tanda adanya sinusitis maksila.

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
d. Apabila didapatkan rinosinusitis maksila bilateral, maka dipilih sinus maksila

yang dianggap paling berat infeksinya

e. Bersedia ikut dalam penelitian

Kriteria Eksklusi

Wanita hamil dan menyusui

3.5 Kerangka Konsepsional

Atas dasar latar belakang masalah dan tinjauan pustaka diatas, dapat disusun

kerangka konsepsional peneliti sebagai berikut :

Obstruksi
muara sinus &
gangguan
ventilasi

- Umur

- Jenis
kelamin
Infeksi jamur Rinosinusitis
- Keluhan pada sinus maksila
yang kronis
menonjol

- Jenis jamur

Pemakaian AB
dan steroid Status imun
irrasional penderita

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
3.6 Kerangka Kerja

- Umur
- Jenis Kelamin Penderita Pemeriksaan THT
- Keluhan Yang rinosinusitis kronis
menonjol

Pemeriksaan
radiologi : Foto
SPN / CT Scan

Sinusitis Maksila
(perselubungan
atau air fluid level)

Punksi aspirasi Pemeriksaan


rongga sinus KOH & kultur
maksila jamur

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
3.7 Batasan Operasional

a. Rinosinusitis maksila kronis adalah merupakan suatu proses peradangan mukosa

sinus maksila yang telah berlangsung lebih dari 3 bulan

b. Rinosinusitis jamur adalah merupakan proses inflamasi mukosa sinus yang

disebabkan oleh infeksi jamur

c. Usia berdasarkan ulang tahun terakhir diatas 17 tahun oleh karena pada usia ini

penderita sudah kooperatif untuk dilakukan punksi dan irigasi sinus

d. Pemeriksaan radiologi adalah merupakan prosedur rutin dengan melihat keadaan

rongga sinus maksila melalui rontgen atau CT scan.

e. Punksi aspirasi adalah pengambilan cairan dari sinus maksila dengan

menggunakan coaley trokar melalui meatus inferior

f. Pemeriksaan KOH adalah merupakan suatu pemeriksaan langsung pada sampel

dengan menggunakan potasium hidroksida 10 %

g. Kultur adalah merupakan metode definitif untuk melakukan identifikasi jamur

3.8 Subyek dan Bahan Penelitian

Alat penelitian :

Alat pemeriksaan THT rutin

Alat punksi sinus Coaley trocars

Spuit steril 10 cc merek Terumo

Wing needle no 23 merek Terumo

Alat Centrifuge

Tabung steril

Mikroskop merek Olympus

Bahan penelitian
M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Nacl 0,9 % steril

Potasium hidroksida 10 % ( KOH 10 %)

Lactophenol cotton blue

Sabouroud dextrose agar (SDA)

Semua penderita yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan :

1. Anamnesis yang berhubungan dengan keluhan pasien

2. Pemeriksaan THT rutin

3. Foto polos sinus paranasal atau CT Scan hidung dan sinus paranasal

Setelah ditegakkan diagnosa rinosinusitis maksila kronis secara klinis dan

radiologis , maka:

1. Dilakukan punksi sinus maksila dengan menggunakan trokar pada meatus

inferior

2. Sekret dalam sinus maksila dihisap dengan menggunakan spuit terumo 10 cc

melalui wing needle terumo no 23. Apabila tidak dijumpai sekret, dimasukkan

5 cc Nacl, kemudian dihisap kembali dengan spuit. Bahan pemeriksaan

tersebut langsung dibawa ke bagian mikrobiologi klinis FK USU

3. Bahan pemeriksaan atau spesimen yang berasal dari sinus maksila diaduk

selama 30 detik kemudian didiamkan sampai 15 menit dengan suhu kamar

lalu dengan menggunakan tabung reaksi steril dilakukan Cenrtifuge dengan

kecepatan 3000 rpm selama 10 menit sampai terbentuk endapan.

4. Endapan yang terbentuk dibuat menjadi sedian basah dengan menggunakan

KOH 10 % dan dilakukan kultur pada Sabouroud dextrose agar (SDA)

dengan suhu 30 0 C

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
5. Dengan pemeriksaan KOH 10%, hifa jamur diidentifikasi dengan

menggunakan mikroskop.

6. kultur jamur pada media sabouroud dextrose agar di biarkan tumbuh selama

2 - 4 minggu, kultur diperiksa setiap hari untuk mengetahui perkembangan

jamur. Untuk jamur yang mengandung filamen (Hifa) dilakukan identifikasi

menggunakan mikroskop dengan membuat preparat basah lactophenol cotton

blue yang berasal dari biakan jamur yang tumbuh

3.9 Analisa Data

Data yang terkumpul kemudian diolah secara deskriptif dan disajikan

dalam bentuk tabel

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
BAB 4

HASIL PENELITIAN

Selama periode penelitian dari bulan Februari 2007 sampai September 2007

didapatkan 30 penderita rinosinusitis maksila kronis yang terdiri dari 18 penderita

perempuan dan 12 penderita laki-laki yang dilakukan pemeriksaan kultur jamur dari

sekret sinus maksila.

Tabel 4.1. Distribusi Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Penderita Rinosinusitis

Maksila Kronis

Jenis Kelamin

Kelompok Persen
Umur
(Thn) Laki-laki % Perempuan % Jumlah (%)

17-26 1 3,3 7 23,3 8 26,7

27-36 2 6,7 5 16,7 7 23,3

37-46 6 20 4 13,3 10 33,4

47-56 2 6,7 2 6,7 4 13,3

>56 1 3,3 0 0 1 3,3

Jumlah 12 40 18 60 30 100

Dari tabel 4.1. didapat bahwa persentase tertinggi penderita rinosinusitis maksila

kronis terdapat pada kelompok umur 37 46 tahun sebanyak 10 penderita (33,4%). Tidak

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
ditemukan penderita rinosinusitis maksila kronis pada kelompok wanita berusia > 56

tahun

Tabel 4.2. Distribusi Keluhan Utama Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis

Keluhan Utama Jumlah Persen ( % )

Hidung Tersumbat 19 63,4

Ingus Kental 1 3,3

Cairan mengalir kebelakang hidung 0 0

Hidung Berbau 4 13,3

penciuman berkurang 0 0

Sakit kepala 6 20,0

Hidung berdarah 0 0

Jumlah 30 100

Dari tabel 4.2 didapatkan keluhan utama penderita yang terbanyak adalah hidung

tersumbat sebanyak 19 penderita (63,4%). Sedangkan keluhan cairan mengalir ke

belakang hidung, penciuman berkurang, dan hidung berdarah tidak dijumpai

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Tabel 4.3 Distribusi Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Penderita Rinosinusitis

Maksila Dengan Hasil Kultur Jamur Positif

Jenis Kelamin

Kelompok Persen
Umur
(Thn) Laki-laki % Perempuan % Jumlah (%)

17-26 1 6,7 3 20,0 4 26,7

27-36 1 6,7 2 13,3 3 20

37-46 3 20,0 2 13,3 5 33,3

47-56 1 6,7 2 13,3 3 20

>56 0 0 0 0 0 0

Jumlah 6 40,1 9 59,9 15 100

Dari tabel 4.3 didapatkan bahwa terdapat 15 penderita rinosinusitis maksila kronis

dengan hasil kultur jamur positif yang terdiri dari 9 penderita perempuan (59,9%) dan 6

penderita laki-laki (40,1%). hasil kultur jamur positif terbanyak pada kelompok umur 37 -

46 tahun sebanyak 5 penderita ( 33,3 %).

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Tabel 4.4 Distribusi Keluhan Utama Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis

Dengan Hasil Kultur Jamur Positif

Keluhan Utama Jumlah Persen ( % )

Hidung Tersumbat 9 60,0

Ingus Kental 0 0

Cairan mengalir kebelakang hidung 0 0

Hidung Berbau 4 26,7

Penciuman berkurang 0 0

Sakit kepala 2 13,3

Hidung berdarah 0 0

Jumlah 15 100

Dari tabel 4.4 hidung tersumbat merupakan yang terbanyak yaitu pada 9 penderita

(60%)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Tabel 4.5 Distribusi Jenis Jamur Yang Berasal Dari Pemeriksaan Kultur Cairan

Sinus Maksila Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis

Jenis jamur Jumlah Persen ( % )

Aspergilus fumigatus 6 33,3

Aspergilus flavus 1 6,7

Aspergilus niger 2 13,3

Candida albicans 3 20,0

Candida parapsilosis 1 6,7

Candida tropicalis 1 6,7

Aspergilus fumigatus + Candida albicans 1 6,7

Aspergilus niger + Candida albicans 1 6,7

Jumlah 15 100

Dari tabel 4.5 Jenis jamur yang paling banyak ditemukan adalah Aspergilus sp

yaitu terdapat pada 8 penderita ( 55,3%) terdiri dari : Aspergilus fumigatus sebanyak 5

penderita ( 33,3 % ), Aspergilus flavus sebanyak 1 penderita ( 6,7 %) dan Aspergilus

niger sebanyak 2 penderita (13,3%). Terdapat 2 penderita dengan 2 jenis jamur yaitu:

Aspergilus fumigatus + Candida albicans dan Aspergilus niger + Candida albicans

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
BAB 5

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan sejak bulan Februari 2007 sampai September 2007

didapatkan 30 orang penderita rinosinusitis maksila kronis yang terdiri dari 12 penderita

laki-laki dan 18 penderita perempuan. Pemilihan kriteria umur pada setiap peneliti

berbeda-beda, peneliti sendiri memilih kriteria umur termuda diatas atau sama dengan 17

tahun, karena pada umur tersebut telah dianggap dewasa dan kooperatif untuk dilakukan

punksi dan irigasi sinus.

Pada tabel 4.1 terlihat umur penderita terbanyak adalah pada kelompok umur 37 -

46 tahun sebanyak 10 penderita (33,3 %). Mangain Hasibuan (1992) mendapatkan

penderita rinosinusitis maksila kronis yang datang berobat ke bagian THT RSU. Dr.

Pirngadi Medan sejak bulan oktober 1991 sampai Maret 1992 sebanyak 311 penderita.

Yoshiura et al (1993) di Jepang mendapatkan dari 68 penderita rinosinusitis yang

ditelitinya, rata-rata usia penderita terbanyak pada usia 46 tahun. Moerseto (1996) di

Jakarta mendapatkan terbanyak pada kelompok umur 21 - 30 tahun sebanyak 36,7 %.

Iriani dkk, 1996, mendapatkan terbanyak pada kelompok umur 16 - 30 tahun sebanyak

55,1 %. Muyassaroh dan Supriharti (1999) mendapatkan kelompok umur terbanyak pada

usia 20 - 29 tahun sebanyak 26,9 %. Suzanne et al (2001) di New york mendapatkan dari

penderita usia 21 - 80 didapatkan umur rata-rata penderita rinosinusitis terbanyak pada

usia 32 tahun. Elfahmi (2001) mendapatkan umur terbanyak adalah 35 - 44 tahun

sebanyak 30% . Yuhisdiarman (2004 ) mendapatkan umur terbanyak adalah 35 - 44 tahun

sebanyak 34,3% . Triolit Z (2004) mendapatkan umur terbanyak adalah 38 - 47 sebanyak

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
36,6%. Zurliansyah (2006) mendapatkan penderita terbanyak pada kelompok umur 17 -

26 tahun sebanyak 30%.

Hasil yang didapatkan peneliti, terlihat umur terbanyak hampir sama dengan

yang didapatkan oleh Triolit Z, Yuhisdiarman dan Elfahmi serta tidak berbeda jauh

dengan peneliti peneliti lainnya. Perbedaan umur oleh masing - masing peneliti lebih

didasari oleh pengelompokan umur

Penderita terbanyak dalam penelitian ini adalah perempuan sebanyak 18 penderita

(60 %) dan laki laki sebanyak 12 penderita (40 %). Massudi (1991) mendapatkan

penderita perempuan sebanyak 51,5 % dan lakilaki sebanyak 48,5 %. Muyassaroh dan

Supriharti (1999) mendapatkan perempuan sebanyak 23 penderita (44,2%) dan laki-laki

sebanyak 29 penderita (55,8%). Vogen et al (2000) Pennsylvania mendapatkan dari 16

penderita rinosinusitis dalam penelitiannya didapatkan perempuan sebanyak 9 penderita

(56,3%) dan laki-laki sebanyak 7 penderita (43,7%). Elfahmi (2001) dari 40 penderita

pada penelitiannya didapat perempuan sebanyak 19 penderita (47,5%) dan laki laki

sebanyak 21 penderita (52,2 %) . Krzeski (2001) Polandia, dalam penelitiannya pada 157

penderita rinosinusitis kronis didapatkan penderita perempuan sebanyak 88 penderita

(56%) dan laki laki sebanyak 69 penderita (44%). Yuhisdiarman (2004) mendapatkan

perempuan sebanyak 20 penderita (57,2%) dan laki laki sebanyak 15 penderita (42,8%).

Triolit Z (2004) mendapatkan jumlah penderita perempuan sebanyak 16 penderita

(53,3%) dan laki-laki sebanyak 14 penderita ( 46,67 %). Dari data diatas tampak

penelitian ini tidak jauh berbeda dari penelitian sebelumnya yang mendapatkan kelompok

perempuan paling banyak dibandingkan laki-laki. Banyaknya penderita rinosinusitis

maksila kronis perempuan pada penelitian ini dimungkinkan karena yang datang berobat

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
lebih banyak perempuan dan pada umumnya perempuan lebih peduli dengan keluhan

sakit sehingga lebih cepat datang berobat.

Pada tabel 4.2 didapatkan keluhan terbanyak pada penderita rinosinusitis maksila

kronis adalah hidung tersumbat sebanyak 19 penderita (63,4%) dan diikuti sakit kepala

sebanyak 6 penderita (20 %). Massudi (1991) mendapatkan keluhan yang terbanyak

adalah hidung tersumbat sebanyak 42 %. Triolit Z (2004) mendapatkan keluhan

terbanyak adalah hidung tersumbat sebanyak 18 penderita (60 %) diikuti sakit kepala

sebanyak 12 penderita (40 %). Zurliansyah (2006) mendapatkan keluhan yang terbanyak

adalah hidung tersumbat sebanyak 40% . Dari data di atas menunjukkan bahwa hasil

yang didapatkan tidak berbeda jauh dari peneliti peneliti sebelumnya.

Pada tabel 4.3 dari 30 penderita yang ditegakkan sebagai rinosinusitis maksila

kronis didapatkan 15 penderita dengan kultur jamur positif terdiri dari 9 penderita

perempuan (59,9 %) dan 6 penderita laki-laki (40,1%). Hasil pemeriksaan kultur jamur

positif paling banyak terdapat pada perempuan kelompok umur 17-26 tahun dan laki -laki

kelompok umur 37 - 46 tahun masing-masing sebanyak 3 penderita (20 %), sedangkan

berdasarkan kelompok umur, penderita dengan hasil kultur jamur positif terbanyak pada

umur 37 - 46 tahun yaitu 5 penderita (33,3%). Ashour (1995) di Jeddah, dalam

penelitiannya tentang hubungan rinosinusitis maksila kronis dengan infeksi jamur

mendapatkan 30 penderita dengan hasil kultur jamur positif, paling banyak terdapat pada

penderita laki-laki sebanyak 17 penderita (56,7%), sedangkan berdasarkan kelompok

umur, paling banyak terdapat pada usia dibawah 20 tahun sebanyak 20 penderita

(66,7%).

Al-Bhlal (1996) di Riyadh, mendapatkan penderita rinosinusitis jamur paling

banyak terdapat pada perempuan kelompok umur 21 - 30 tahun sebanyak 7 penderita (28

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
% ) dan laki laki kelompok umur 10 - 20 tahun sebanyak 6 penderita ( 24 % ). Singh

dan Bhalodiya (2004) di India meneliti pemeriksaan kultur jamur yang berasal dari sinus

paranasal pada 251 penderita rinosinusitis maksila kronis didapatkan 201 sampel kultur

jamur positif (80,01%) yang terdiri dari perempuan sebanyak 89 penderita (44,2 %) dan

laki-laki sebanyak 112 penderita (55,8%). Jahromi dan Khaksar (2001) di Iran melakukan

pemeriksaan kultur dari 39 penderita rinosinusitis kronis, didapatkan kultur jamur positif

pada 18 penderita terdiri dari perempuan sebanyak 6 penderita (33,3% ) dan laki-laki

sebanyak 12 penderita (66,7%) .

Dari penelitian ini yang dibandingkan dengan penelitian sebelumnya cendrung

jenis kelamin dan umur tidak mempunyai pengaruh terhadap infeksi jamur pada sinus

maksila.

Pada tabel 4.4 distribusi keluhan utama penderita rinosinusitis maksila kronis

dengan hasil kultur jamur positif yaitu hidung tersumbat sebanyak 9 penderita (60%),

hidung berbau 4 penderita ( 26,7 % ) dan sakit kepala 2 penderita (13,3%). Ashour,

(1995) di Jeddah, mencatat bahwa penderita dengan sinusitis jamur keluhan yang di

temukan yaitu hidung tersumbat, sekret pada hidung, dan sakit kepala, hal ini tidak jauh

berbeda dengan distribusi keluhan utama penderita pada penelitian kami. Al-Bhlal (1996)

di Riyadh dari 26 kasus rinosinusitis jamur didapatkan keluhan penderita yang paling

menonjol adalah hidung tersumbat dengan atau tanpa sakit kepala dan hidung berair .

Rupa et al (2001) di India dari 24 penderita rinosinusitis dengan kultur jamur

positif keluhan utama yang paling banyak di temukan adalah hidung tersumbat dan sekret

pada hidung sebanyak 95,8 %. Singh dan Bhalodiya (2004) di India dalam penelitiannya

mendapatkan keluhan yang menonjol pada rinosinusitis jamur adalah sekret pada hidung

sebanyak 88 %, diikuti hidung tersumbat sebanyak 78 %, sakit kepala sebanyak 38,2 %.

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Pada penilitian kami bahwa keluhan yang didapat tidak berbeda dengan peneliti-peneliti

sebelumnya.

Pada tabel 4.5 Jenis jamur yang paling banyak ditemukan adalah Aspergilus sp

yaitu sebanyak 8 penderita (55,3%) yang terdiri dari : Aspergilus fumigatus sebanyak 5

penderita (33,3%), Aspergilus flavus sebanyak 1 penderita (6,7%) dan Aspergilus niger

sebanyak 2 penderita ( 13,3 % ). Sedangkan Candida sp terdapat pada 5 penderita (33,3

%) yang terdiri dari : Candida albicans sebanyak 3 penderita ( 20 %), Candida

parapsilosis sebanyak 1 penderita ( 6,7 %) dan Candida tropicalis sebanyak 1 penderita (

6,7 % ). Terdapat 2 penderita dengan 2 jenis jamur yang positif yaitu : Aspergilus

fumigatis + Candida albicans dan Aspergilus niger + Candida albicans.

Tampak dari tabel 4.5 Aspergilus sp adalah merupakan spesies jamur yang paling

banyak di jumpai. Aspergilus adalah merupakan spesies yang paling banyak

menyebabkan infeksi sinus, dari jenis tersebut Aspergilus fumigatus merupakan jamur

yang paling sering bersifat patogen (McCaffrey, 1997).

Iwen et al (1994) di Nebraska, dalam penelitiannya melakukan pemeriksaan

kultur jamur pada 17 penderita dengan penurunan sistem imun yang disertai rinosinusitis

didapatkan hasil kultur yang terdiri dari 11 penderita dengan Aspergilus flavus ( 64,7%),

3 penderita terinfeksi oleh spesies jamur yang tidak spesifik ( 17,6 % ) dan masing

masing 1 penderita ( 5,9 % ) terinfeksi oleh A. fumigatus, Rhizopus sp dan Altenaria sp.

Ponikau et al (1999) di Rochester melakukan penelitian pada 210 penderita rinosinusitis

kronis dengan cara memeriksa kultur jamur yang berasal dari bilasan hidung. Pada

penelitian ini didapatkan 202 ( 96 % ) sampel dengan kultur jamur positif. Yang terdiri

dari Altenaria sp sebanyak 44,3 %, Aspergilus sp sebanyak 29,5 %, Candida sp sebanyak

21,4% dan Penicillium sebanyak 43,3 % .

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Jahromi dan Kaksar (2001) di Iran dari 39 penderita rinosinusitis maksila kronis

didapatkan kultur jamur positif pada 18 penderita (46,1%) yang terdiri dari Aspergilus

flavus sebanyak 27,8 %, Aspergilus niger sebanyak 5,5 % dan Aspergilus fumigatus

sebanyak 5,5 %. Candida sp sebanyak 11,1 %, Cladosporium trichoides sebanyak 5,5 %,

Pseudollescheria boydii sebanyak 5,5% dan Actinomyces sebanyak 22,2 % .

Rupa et al (2003) di India, melakukan pemeriksaan kultur jamur pada 25

penderita rinosinusitis maksila kronis, dengan hasil kultur positif pada 24 penderita,

Aspergilus sp dan Candida sp merupakan jamur yang paling sering didapat, 1 penderita di

sebabkan oleh Curvularia sp dan 1 penderita oleh Droschlera . See Goh et al (2003) di

Malaysia dalam penelitiannya pada 30 penderita rinosinusitis yang dilakukan

pembedahan mendapatkan Aspergilus sp sebanyak 42,9 % yang terdiri dari Aspergilus

niger sebanyak 4 penderita dan Aspergilus flavus sebanyak 2 penderita. Rhizopus sp

sebanyak 28,6 % dan Penicillium sp sebanyak 14,3 %, masing masing terdapat 1

penderita oleh Epicoccum sp dan Paecillomyces.

Polzehl et al (2004) di Jerman, melakukan penelitian dengan membandingkan

pemeriksaan kultur jamur konvensional dengan pemeriksaan PCR pada 77 penderita

rinosinusitis kronis. Dari pemeriksaan kultur jamur konvensional positif pada 19

penderita (25%) . Pemeriksaan DNA spesifik jamur mampu mendeteksi adanya jamur

pada 34 penderita (44%). Pada pemeriksaan dengan menggunakan kombinasi PCR dan

kultur dapat di deteksi jamur pada 39 penderita ( 50 %). Penelitian ini menggambarkan

bahwa kombinasi pemeriksaan PCR dan kultur jamur konvensional dapat di gunakan

sebagai tehnik diagnosis untuk mengetahui adanya peranan jamur pada penderita

rinosinusitis kronis. Pada penelitian tersebut didapatkan 8 sampel tumbuh 2 jenis jamur

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
yang berbeda. Spesies paling banyak pada pemeriksaan kultur adalah penicillium sp pada

11 penderita dan Aspergillus sp pada 8 penderita.

Aslani et al (2006) di Iran, melakukan pemeriksaan kultur jamur pada 38

penderita rinosinusitis kronis. Didapatkan 9 penderita dengan kultur jamur positif

(23,7%) yang terdiri dari Aspergilus flavus pada 2 penderita, Aspergilus fumigatus pada

1 penderita dan Candida Albican pada 6 penderita.

Dari penelitian ini jenis jamur yang didapat setelah dilakukan pemeriksaan

sampel yang berasal dari penderita rinosinusitis maksila kronis tidak jauh berbeda dengan

penelitian sebelumnya, yaitu didominasi oleh Aspergilus sp. Pada penelitian ini hanya

ditemukan dua jenis jamur, berbeda dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang dapat

menemukan beberapa jenis jamur hal ini mungkin disebabkan oleh jumlah sampel yang

sedikit dan lokasi penelitian.

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Penelitian ini dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :

Dari bulan Februari sampai September 2007, telah dilakukan penelitian pada 30

penderita rinosinusitis maksila kronis di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung

Tenggorok Bedah Kepala Leher, FK USU / RSUP. H. Adam Malik Medan dan

Departemen Mikrobiologi Klinik FK USU, Medan dengan karakteristik sebagai berikut

1. Dari 30 penderita yang ditegakkan sebagai rinosinusitis maksila kronis didapatkan

15 penderita dengan kultur jamur positif terdiri dari 9 penderita perempuan (59,9

%) dan 6 penderita laki-laki (40,1%)

2. Hasil kultur jamur positif terbanyak terdapat pada penderita perempuan

kelompok umur 17 - 26 tahun dan laki - laki kelompok umur 37 - 46 tahun masing

-masing sebanyak 3 penderita ( 20 %)

3. Pemeriksaan kultur jamur positif terbanyak terdapat pada kelompok umur 37 - 46

tahun yaitu sebanyak 5 penderita (33,3 %)

4. Hidung tersumbat adalah merupakan keluhan utama yang sering ditemukan pada

penderita rinosinusitis maksila kronis dengan kultur jamur positif yaitu sebanyak

9 penderita (60 %)

5. Aspergilus sp adalah merupakan jenis jamur yang paling sering dijumpai dalam

penelitian ini yaitu sebanyak 8 penderita (55,3%)

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
6.2 Saran

1. Diperlukan pengembangan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel lebih

banyak dan di kombinasikan dengan pemeriksaan alergi dan patologi anatomi

2. Untuk keberhasilan penatalaksanaan rinosinusitis maksila kronis diperlukan

pemeriksaan mikrobiologi diantaranya dengan melakukan pemeriksaan kultur

jamur

3. Pada penatalaksanaan kasus rinosinusitis maksila kronis diperlukan

mempertimbangkan bahwa jamur sebagai salah satu penyebab yang dapat

menyebabkan infeksi.

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
DAFTAR PUSTAKA

Adelson Todd, Marple. 2006. Fungal Rhinosinusitis. In : Head & Neck Surgery-
OTOLARYNGOLOGY, Byron J. Bailey. Fourth edition Volume one.
Lippincott Williams & Walkins. Philadhelpia. 417-28

Al-Bhlal. 1996. Fungal Infection of The Nasal Cavity and Paranasal Sinuses : Review
of 26 Cases. Annals of Saudi Medicine, Volume 16 No 6. 615-21

Amedee G Ronald. 1993. Sinus Anatomy and Function. In :Head and Neck Surgery
Otolaryngology Byron J. Bailey. J.B. Lippincott Company. Philadhelpia,
343-49

Aslani Sari, Khademi, Vatanibaf, Noroozi. 2006. Diagnosis of Allergic Fungal


Rhinosinusitis. The Iran Journal Medicine Science, Vol 31 No 4, 200-3

Ashour T. A. 1997. Paranasal and Nasal Allergic Aspegillosis. In : XVI World


Congress of OTORHINOLARYNGOLOGY HEAD AND NECK
SURGERY, Sydney ( Australia), March 2-7. ed : McCafferty, Coman,
Carrol. Monduzzi Editore, Sydney,619 -22

Becker W, Naumann HH, Pfaltz CR. 1994. Nose, Nasal Sinuses, and Faces, Applied
Anatomy and Physiology. In : Buckinghamm RA, ed. Ear, Nose, and
Throat Disease. A Pocket Reference. Second, revised edition. Thieme
Medical Publishers inc. New York 170 185

Ballenger JJ.1994. Hidung dan Sinus Paranasal, Aplikasi Klinis Anatomi dan
Fisiologi Hidung dan Sinus Paranasal. Dalam : Penyakit Telinga Hidung
dan tenggorok dan Leher. Edisi 13. Jilid satu. Binarupa Aksara. Jakarta .
1-25

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Busquets, Hwang. 2006. Nonpolypoid Rhinosinsusitis : Clasification, Diagnosis, and
Treatment. In : Head & Neck Surgery- OTOLARYNGOLOGY, Byron J.
Bailey. Fourth edition Volume one. Lippincott Williams & Walkins.
Philadhelpia. 405-16

Chakrabarti, Sharma, Chandler. 1992. Epidemiology and Pathogenesis of Paransal


Sinus Mycoses. Otolaryngolology Head & Neck Surgery : Official
Journal of American Academy of Otolaryngology Head & Neck Surgery
Vol 107.745-50

Chakrabarti, Sharma. 2000. Paranasal Sinus Mycoses. The Indian Journal of Chest
Disease & Allied Sciences vol 42.293-304

Cody, Khan, Kern.1997. Allergic Fungal Sinusitis ( AFS ) and AFS-Like Syndrome.
In : Rhinologic Diagnosis and treatment Thomas V. McCaffery. Thieme.
New York Stuttgart. 317-33

Dariar J. 2002. Rinitis Alergi Sebagai Salah Satu Faktor Penyebab Sinusitis Maksila
Kronis di Bagian THT FK USU / RSUP. H. Adam Malik Medan tahun
2001. Tesis FK. Universitas Sumatera Utara, Medan

DeShazo, Chapin, swain. 1997. Fungal Sinusitis. The New England Journal of
Medicine. Vol 337, No 4. 254-59

Dhong Jong, Lanza.2001. Fungal Rhinosinusitis. In: Disease of The Sinuses


Diagnosis and Management. B.C Decker Inc, Hamilton. London. 179 96

Dolen W. 2006. Risk Factor for Allergic Aspegillus Sinusitis. The Medical Mycology
Journal, Tylor & Francis Group. 273-75

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Elfahmi. 2001. Gambaran Klinis ostio Meatal pada Sinusitis Maksila Kronis dengan
Pemeriksaan Nasoendoskopi. Tesis bagian THT- KL FK Universitas
Sumatera Utara Medan.

Evans Rhys. 1987. Anatomy of The Nose and Paranasal Sinuses. In : Basic Science
David Wright. Fifth Edition. Butterworth Heinemenn. London. 138-61

Higler AP. 1997. Hidung : Anatomy dan Fisiologi Terapan. Dalam :Boies Buku Ajar
Penyakit THT ( Boies Fundamentals of Otolaryngology) Edisi 6. EGC
Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta. 174-89

Higler AP. 1997. Penyakit Sinus Paranasalis. Dalam :Boies Buku Ajar Penyakit THT
( Boies Fundamentals of Otolaryngology) Edisi 6. EGC Penerbit Buku
Kedokteran. Jakarta. 240-60.

Iriani HA, Widiantono R, Arfandy .1996. Bedah Sinus Endoscopic Fungsional


(BSEF) tanpa tampon. Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Pertemuan
Ilmiah Tahunan. Malang. 707-14

Iwen C, Rupp E, Hinrichs. 1997. Invasive Molds Sinusitis : 17 Cases In


Immunocompromised Patients and Riview of The Literature. Clinical
Infectious Disease Journal. 1178-84

Jahromi Bassiri, Khaksar A. 2005. Paranasal sinus Mycosis in Suspected Fungal


Sinusitis. Iranian Journal of Clinical Infectious Disease, infectious Disease
and Tropical Medicine Research Centre. 25-29

Karci et al. 2001. Fungal Infection of The Paranal Sinuses. Revue de Laryngologie-
Otologie Rhinologie Journal Vol 122. 31-5

Kordbacheh, Zaini et al. 2004. Fungal Involvment in Patient with Paranasal Sinusitis.
Iranian Journal Public Health. Vol 33 no 3. 19-26
M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Lanza, Dhong, Tantilipikorn et al. 2006. Fungus and Chronic Rhinosinusitis : From
Bench to Clinical Understanding. The Anals of Otology, Rhinology &
Laryngology, ProQuest Medical Library. 27-34

Lee KJ. 2003. The Nose and Paranasal Sinuses. In : Lee KJ, ed. Essential
Otolaryngology Head & Neck Surgery. Eighth Edition. Mcgraw Hill.
USA. 698-701

Lund. JV. 1997. Anatomy of The Nose and Paranasal Sinuses. In : Kerr AG, ed.
Scott-Browns Otolaryngology. Sixth edition. Volume one. Butterworth
Heinemann. London. 1/5/2-29

Mangain Hasibuan. Kekerapan Sinusitis Maksila Tipe Dentogen di Bagian THT FK


USU / UPF RSU Dr. Pirngadi Medan. Tesis. Bagian THT FK USU
Medan, 1992

Mangunkusumo E, Rifki. 2001. Sinusitis. Dalam : Buku Ajar Ilmu Kesehatan


Telinga Hidung dan Tenggorok Kepala leher, edisi ke ke 5 FKUI, Jakarta.
120 - 24

Mangunkusumo E. 2000. Penyulit Sinusitis : Polip Nasi dan Sinusitis Jamur Dalam :
Kumpulan naskah lengkap kursus, pelatihan dan Demo BSEF, Makasar.
96 -106

Manning S. 1998. Fungal Sinusitis. In : Rhinology and Sinus Disease a Problem-


oriented Approach, Schaefer S. Mosby, St Louis.99-104

Marks C Steven.2000. Anatomy of the Nose and Sinuses. In: Nasal and Sinus
Surgery. WB Saunders Company, Philadhelpia.13-15

Marks C Steven.2000. Diagnosis and Medical Management of Sinusitis. In: Nasal and
Sinus Surgery. WB Saunders Company, Philadhelpia.66-81
M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Marple F. 2006. Allergic Fungal Rhinosinusitis : A review of Clinical Manifestation
and Current Treatment Strategies. Journal Medical Mycology, Tylor &
Francis Group. 277-84

McCaffrey.1997. Diagnosis of Fungal Sinusitis. In : Rhinologic Diagnosis and


treatment Thomas V. McCaffery. Thieme. New York Stuttgart. 317-33

Milroy, Blanshard, Lucas, Michhaels.1989. Aspergillosis of the Nose and Paranasal


Sinuses. Journal Clinical Pathology. Vol 42. 123-27

Moerseto, Nizam R. 1999. Aspek Alergi pada sinusitis maksila kronis. Dalam :
Kumpulan Naskah Ilmiah Kongres Nasional XII-Perhati Semarang. Balai
Penerbit Universitas Diponogoro.461-67

Muyassaroh, Supriharti .1999.Resistensi beberapa kuman penyebab sinusitis maksila


terhadap Ampisilin di SMF Kesehatan THT RSUD Dr Kariadi Semarang
Dalam : Kumpulan Naskah Ilmiah Kongres Nasional XII-Perhati
Semarang. Balai Penerbit Universitas Diponogoro.511-17

Panda NK, Sharma, Chakrabarti, Mann. 1998. Paranasal Sinus Mycoses in North
India. Journal Mycoses Vol 41.281-6

Polzehl, Weschta et al. 2005. Fungus Culture and PCR in Nasal Lavage Samples of
Patients with Chronic Rhinosinusitis. Journal of Medical Microbiology
(2005),54. 31-37

Ponikau et al. 1999. The Diagnosis and Incidence of Allergic Fungal Sinusitis. Mayo
clinic Proceding Vol 74, ProQuest Medical Library. 877-84

Ritter. 1992. The Maxillary Sinus (Antrum Higmore). In: Atlas of Paranasal Sinus
Surgery. IGAKU-Shoin, Tokyo New York. 6-12

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Rupa, Jacob, Mathews.2001. Increasing Diagnostic Yield in Allergic Fungal
Sinusitis. The Journal of Laryngology & Otology, ProQuest Medical
Library.636-38

See Goh, Gendeh et al. 2005. Prevalence ofAllergic Fungal Sinusitis in Refratorry
Chronic Rhinosinusitis in Adult Malaysians.. Journal Otolaryngology-
Head and Neck Surgery.27-31

Singh N, Bhalodiya. 2005. Allergic Fungal Sinusitis ( AFS)-Earlier Diagnosis and


Management. The Journal of Laryngology & Otology Voll 119. 875-81

Soetjipto D, Mangunkusumo E. 2001. Sinus Paranasal. Dalam : Buku Ajar Ilmu


Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok Kepala leher, edisi ke ke 5
FKUI, Jakarta. 115-19

Stammberger. 1984. Endoscopic Surgical Treatment of Mycoses of The Paranasal


Sinuses. Laryngologie,Rhinologie, Otologie Journal. 48-55

Suzzane K, Galli D, Lebowitz R, Giacchi RJ, Glickman R, Jacobus J. Chronic


sinusitis Comlicating sinus Lift Surgery. American Journal Rhinologie
2001;15:181-6

Taher A. 2000. Uji Banding Antara Hasil Foto Polos Sinus Paranasal dan Pungsi
Sinus Maksila Untuk Ketepatan Diagnosis Adanya Pus Pada Sinusitis
Maksilaris Kronis Unilateral. Tesis FK. Universitas Sumatera Utara,
Medan

Taxy BJ. 2006. Paranasal Fungal Sinusitis : Contribution Histopathology to


Diagnosis. American Journal Surgery Pathology. Vol 30. 713-20

Thanaviratananich, Foonant, Kraitrakul.1997. Fungal Sinusitis. In : Asean


Rhinological Practice .Printrd at Siryod, Thailand. 112-18
M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Torres et al. 1996. Allergic Fungal Sinusitis : a Clinicopathologic Study of 16 Cases.
Human Pathologic Journal. Vol 27. 793-9

Triolit Z. 2004 .Hubungan Kelainan Anatomi Hidung dan Sinus Paranasal dengan
Gejala Klinis Rinosinusitis Kronis Berdasarkan Gambaran CT Scan Sinus
Paranasal dan Temuan Durante Bedah Sinus Endoskopi Fungsional .Tesis
Bagian THT KL FK. Universitas Sumatera Utara, Medan

Walsh EW, Kern CR. 2006. Sinosal Anatomy, Function, And Evaluation. In : Head &
Neck Surgery- OTOLARYNGOLOGY, Byron J. Bailey. Fourth edition
Volume one. Lippincott Williams & Walkins. Philadhelpia. 307-17

Weir, Wood. 1997. Infective Rhinitis and Sinusitis, Patogenic Fungi and Yeast : Kerr
AG, ed. Scott-Browns Otolaryngology. Sixth edition. Volume Four.
Butterworth Heinemann. London. 4/8/39-47

Yoshiura K, Ban S, Hijaya T, Yuasa K, Miwa K et al. Analysis of maxillary sinusitis


using Computed tomography. Dentomaxillofacial Radiology 1993;22(2):
86-92

Yuhisdiarman. 2004. Kelainan Anatomi Sinus Paranasal Durante Bedah Sinus


Endoskopi. Tesis Bagian THT-KL FK Sumatera Utara.

Zurliansyah. 2006. Pola Kuman Aerob Sinus Maksila dan Rongga Hidung Pada
Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis. Tesis FK Sumatera Utara.

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Lampiran

STATUS PENELITIAN

Identitas / Status penderita

Tanggal : Suku bangsa :

Nama : Agama :

Jenis kelamin : Pekerjaan :

Umur : No MR :

Anamnesis ( ditanyakan kepada penderita )

Keluhan utama (garis bawahi )

Hidung tersumbat, ingus kental, cairanmengalir kebelakang hidung,

hidung berbau, penciuman berkurang, sakit kepala, hidung berdarah

Keluhan tambahan

Keluhan Ada Tidak


Hidung tersumbat
Cairan mengalir kebelakang hidung
Hidung berbau
Penciuman berkurang
Sakit kepala
Hidung bedarah

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Pemeriksaan THT

Status lokalis

Telinga Kanan Kiri

Daun telinga

Liang telinga

Membran tympani

Hidung

Rinoskopi anterior

Meatus inferior

Konka inferior

Sekret

Septum

Rinoskopi posterior

PND

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Orofaring

Tonsil

Faring

Hasil Pemeriksaan Radiologi Sinus Paranasal

Foto polos (kalau ada) Tanggal :

CT Scan ( kalau ada) Tanggal

Pengambilan sekret tanggal / pukul

Rongga sinus maksila : Kanan / Kiri

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008
Hasil Pemeriksaan KOH

Hasil Pemeriksaan Kultur

M. Tri Andika Nasution : Frekuensi Penderita Rinosinusitis Maksila Kronis Yang Disebabkan Infeksi Jamur, 2007
USU e-Repository 2008