Anda di halaman 1dari 103

MATERI PEMBAHASAN

I. PROSES PEMBAKARAN
1. TEORI PEMBAKARAN
2. EFISIENSI PEMBAKARAN
3. PENGATURAN PEMBAKARAN
II. FURNACE ACCESORIES
1. DINDING DAPUR 6. SOOT BLOWER
2. PIPA PEMBULUH (TUBE COIL) 7. STACK (CEROBONG)
3. RADIANT TUBE 8. DAMPER (KATUP)
4. CONVECTION SECTION 9. BURNER ASSEMBLY
5. AIR PREHEATER
III. JENIS KUALITAS DAN NILAI BAHAN BAKAR
IV. TEKNIK OPERASI & SISTEM KONTROL FURNACE
V. START UP DAN SHUTDOWN FURNACE
I. PROSES PEMBAKARAN

Apa yang dimaksud dengan PEMBAKARAN ?


Pembakaran adalah reaksi kimia antara bahan bakar
dan oksigen yang menghasilkan berbagai produk
pembakaran (salah satunya gas buang)
Reaksi pembakaran menghasilkan panas
Reaksi yang menghasilkan panas disebut eksotermik
Persamaan reaksi pembakaran :
Bahan bakar + oxygen gas buang + Cahaya + panas
I. PROSES PEMBAKARAN
I.1 . Teori Pembakaran

Pembakaran dikatakan sempurna bila campuran bahan


bakar dan oksigen (dari udara) mempunyai perbandingan
yang tepat, hingga tidak diperoleh sisa.

Bila oksigen terlalu banyak, dikatakan campuran lean


(kurus). Pembakaran ini menghasilkan api oksidasi.

Sebaliknya, bila bahan bakarnya terlalu banyak (atau tidak


cukup oksigen), dikatakan campuran rich (kaya).
Pembakaran ini menghasilkan api reduksi. Api reduksi
ditandai oleh lidah api panjang, kadang-kadang sampai
terlihat berasap. Keadaan ini juga disebut pembakaran
tidak sempurna.
I. PROSES PEMBAKARAN
I.1 . Teori Pembakaran

TEORI PEMBAKARAN
PEMBAKARAN REAKSI C DAN / ATAU H2 DENGAN O2
DISEBUT PULA OKSIDASI

REAKSI : C + O2 CO2 . ( 1 )
2C + O2 2CO ( 2 )
2H2 + O2 2H20 .( 3 )
4H2 + O2 2H2O + 2H2 .( 4 )
S + O2 SO2 ( 5 )

PEMBAKARAN TIDAK SEMPURNA


- O2
- PENCAMPURAN TIDAK SEMPURNA
- TEMPERATUR
I. PROSES PEMBAKARAN
I.1 . Teori Pembakaran

Contoh Reaksi Kimia:

BB (F OIL/GAS) + O2 KARBON DIOKSIDA + UAP AIR


CH3 + O2 CO2 + H2O + Q (EKSOTERMIS)

SECARA LENGKAP
CH3 + O2 CO2 + CO + SO2 + H2O +Q

ADANYA CO TDK DIINGINKAN MEMBENTUK COKE MENEMPEL


DI BURNER DAN PIPA SHG
MENGHAMBAT PEMANASAN

AGAR TDK TERBENTUK CO, MAKA O2 DITAMBAH LAGI


I. PROSES PEMBAKARAN
I.1 . Teori Pembakaran
MEKANISME TIMBUL PANAS DALAM PEMBAKARAN
PERSAMAAN : U2 g
H + ------ + ------ Z = Q WS
2 gc gc
ENERGI KINETIK DAN ENERGI POTENSIAL TIDAK TERJADI DAN TIDAK DILAKUKAN KERJA U2 ,
Z, DAN WS = O Q = H
PERUBAHAN PANAS (Q) YANG TERJADI DIGUNAKAN UNTUK KEPERLUAN REAKSI H.
REAKSI PEMBAKARAN :
TAHAP I : PEMECAHAN SENYAWA UNSUR-UNSUR
TAHAP II : MEMPERSENYAWAKAN UNSUR-UNSUR TERSEBUT MENJADI SENYAWA-
SENYAWA BARU
CONTOH :
CH4 + O2 CO2 + H2O
TAHAPANNYA : CH4 C + 2 H2 PEMECAHAN (AWAL)
2O2 O2 + O2
C + O2 CO2 PENGGABUNGAN (AKHIR)
2H2 + O2 2H2O
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O
AWAL AKHIR
I. PROSES PEMBAKARAN
I.1 . Teori Pembakaran
Syarat- Syarat Proses Pembakaran
1. Berada dalam explosion limit
Bahan bakar dalam fase gas dan oksigen harus tercampur
sempurna.
Perbandingan bahan bakar dan oksigen harus berada dalam
explosion limits

2. Adanya Energi penyalaan (ignition energy)


Campuran bahan bakar harus dapat dinyalakan.
Memulai reaksi pembakaran diperlukan energi penyalaan.
Jika panas yang dibutuhkan kecil, maka percikan api dari busi
sudah cukup, sedangkan jika panas yang dibutuhkan besar karena
bahan bakar harus diuapkan penggunaan nyala api diperlukan
I. PROSES PEMBAKARAN
I.1 . Teori Pembakaran

3. Kecukupan Bahan bakar, oksigen & temp cukup tinggi


Pada proses pembakaran, uap akan bereaksi dengan oksigen sedemikian
rupa, sehingga pada bidang antar-muka udara-bahan tidak timbul
gelombang tekanan melainkan api.
Dalam hal ini bahan bakar yang panas dapat menyebar ke lingkungan di
sekitamya. Agar Pembakaran dapat terus berlangsung, maka syarat-syarat
berikut harus terpenuhi:
Bahan bakar yang cukup
Oksigen yang cukup
Temperatur yang cukup tinggi
I. PROSES PEMBAKARAN
I.1 . Teori Pembakaran
Udara Teoritis
Kebutuhan udara teoritis adalah jumlah udara yang dibutuhkan per
kilogram bahan bakar yang mengandung oksigen tepat habis
membakar bahan bakar. Gas buang tidak lagi mengandung oksigen.
Umumnya, tidak mungkin membakar bahan bakar dengan
kebutuhan udara teoritis. Hal ini karena tidak mungkin memperoleh
campuran ideal bahan bakar dan udara. Namun, jika pembakaran
dilaksanakan dengan kebutuhan udara teoritis, maka :
gas buang akan mengandung sebagian bahan bakar yang tidak
terbakar dan karbon monoksida (CO).
Kehilangan energi karena panas ikatan kimia tidak sepenuhnya
digunakan
Gas buang akan mengandung bahan-bahan pencemar
lingkungan environmental pollution
I. PROSES PEMBAKARAN
I.1 . Teori Pembakaran
Udara Teoritis & Neraca Massa
Sebagai contoh akan dihitung nilai pembakaran metana (CH4). Reaksi
pembakarannya sbb:
CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O + panas
(16) + (64) (44) + (36)
1 kmol methana bereaksi dengan 2 kmol oksigen menghasilkan 1 kmol
carbon dioxida dan 2 kmol air (uap).
Persamaan Reaksi menunjukkan :
16 kg CH4 membutuhkan 2 * 32 = 64 kg O2.
secara teoritis oksigen yang diperlukan adalah 4 kg oxygen /kg
methana. kebutuhan udara teoritis adalah 1/0.21 * 4 kg = 19.05 kg
udara per /methana.
Ratio massa relative thd massa metana :
CO2 = (1 * 44)/16 = 2.75 kg CO2 per kg CH4
H2O = (2 *18)/16 = 2.25 kg H2O per kg CH4
Jadi neraca massanya sbb:
1 kg CH4 + 4 kg O2 = 2.75 kg CO2 + 2.25 kg H2O
I. PROSES PEMBAKARAN
I.1 . Teori Pembakaran
Gas Buang Hasil Pembakaran

Gas Hasil Pembakaran


Dalam praktek digunakan udara (21 % Oksigen, 79 % Nitrogen)
Udara yang digunakan berlebih , sehingga gas buang juga
mengandung oksigen
Jika 1 kg methana dibakar dengan udara faktor 1,1 (10% excess),
komposisi gas buang :
CO2 = (1 * 44)/16 = 2,75 kg
H2O = (2 *18)/16 = 2,25 kg
O2 = (0,1* 0,21)*19,05 = 0,40 kg
N2 = (1,1* 0,79)*19,05 = 14,74 kg
Maka Pembakaran 1 kg CH4 menghasilkan : 2,75 + 2,25 + 0,4 + 14,74 =
20,14 kg gas buang.
I. PROSES PEMBAKARAN
I.1 . Teori Pembakaran

Gas Hasil Pembakaran


Tergantung pada bahan bakar, pencampuran dan suhu
Pada suhu < 1250 K
Bahan Bakar + oksidator O2 + CO2 + H2O + N2
Pada suhu pembakaran (~1400-2200 K)
Banyak komponen stabil akan terurai
Penguraian molekul secara elementer
CO2 CO+ 1/2 O2
H2O H2 + 1/2 O2
I. PROSES PEMBAKARAN

I.1 . Teori Pembakaran

Kandungan Gas Buang ( Flue Gas)


Pembakaran sempurna, maka susunan gas asap :
CO2,
H2O,
SO2,
N2 dari udara dan O2 kelebihan.
Pembakaran tidak sempurna, maka susunan gas asap :
CO2,
H2O,
SO2,
N2 dari udara dan O2 kelebihan.
gas CO
sisa bahan bakar yang tidak terbakar.
Besarnya kadar gas CO dalam gas asap merupakan indikator
sempurna atau tidaknya pembakaran.
I. PROSES PEMBAKARAN
1.2. EFFISIENSI PEMBAKARAN
Thermal Effisiensi adalah prosentase energy panas yang dapat
dimanfaatkan terhadap energy panas maksimum yang bisa diberikan
oleh pembakaran bahan bakar.
Energy yang dimanfaatkan
Effisiensi (%) = x100%
Energy yang diberikan
Heat release- Heat loss
Effisiensi(%) = x100 %
Heat release
Energy yang diberikan ditentukan oleh nilai kalor dan laju aliran dari bahan bakar
(flow rate).

Nilai kalor yang digunakan adalah Lower heating value (LHV) atau NHV (net
heating value).

Jika bahan bakar yang digunakan adalah bahan bakar campuran (dual firing),
maka energy yg diberikan ditentukan oleh hasil penjumlahan dari kontribusi tiap
komponen bahan bakar.
I. PROSES PEMBAKARAN
1.2. EFFISIENSI PEMBAKARAN
Effisiensi suatu proses pembakaran dapat dihitung dengan basis :
Massa dari tiap komponen.
Rata-rata specific heat tiap komponen.
Beda temperature ( In Out)

M n Cpn T
Effisiensi(%) = x 100 %
( M i x LHVi )
Effisiensi dapat dihitung dengan mengetahui :
Kandungan O2
Flue gas temperatur.
100 x O 2
Excess Air (%) = K
21 - O 2
sedangkan nilai K = 1,10 untuk fuel gas
K = 1,06 untuk fuel oil
I. PROSES PEMBAKARAN
1.2. EFFISIENSI PEMBAKARAN

EFFISIENSI BERDASARKAN HEAT LOSS FLUE GAS (Btu/lb fuel).

Ts - To
Effisiensi (%) = 100 % - Ls + Lr
100 - Lh
Ts To
Effisiensi (%) = 100% - Ls + Lh + Lr %
100

Dimana
Ts = Temperature Stack
To = Temperature Ambient
Ls = Sensible Heat Loss
Lh = Latent Heat Loss
Lr = Radiant Heat Loss ( FO = 2 )
I. PROSES PEMBAKARAN
1.2. EFFISIENSI PEMBAKARAN

Heat Loss in flue gas (Btu/lb fuel).

Heat loss untuk fuel gas (NHV 19700 btu/lb)


= 607,3 + 456,9*y + 2,84*y2 + 4,76*x + 3,87*x*y + 0,0248*x*y2 0,0002496*x*y3

Heat Loss unutk fuel oil (NHV 17300 btu/lb)


= 519 + 392,5*y + 2,46*y2 + 4,76*x + 3,41*x*y + 0,0218*x*y2 0,00022*x*y3

Dimana
X = excess air
Y = (0,01*Tstack F0 2)

Sehingga
Effisiensi = Heat loss in Flue Gas / NHV x 100%
I. PROSES PEMBAKARAN
1.2. EFFISIENSI PEMBAKARAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi effisiensi:

1. Excess Air
Udara berlebih pada proses pembakaran, akan keluar sebagai
panas melalui flue gas.

2. Energy Losses
Losses panas melalui heater casing (Radiant loss dsg)
Pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan cary over bahan
bakar yang tidak terbakar.
Heat loss yang terbuang melalui flue gas (stack).

3. Pre heat
Pre heat pada combustion air dapat meningkatkan effisiensi .

4. Dew Point.
Dew point adalah temperature dimana flue gas (H2S) dapat
terkondensasi sehingga menimbulkan terjadinya korosi.
I. PROSES PEMBAKARAN
1.2. EFFISIENSI PEMBAKARAN
Effect dari excess air, atomizing steam pressure dan viscosity
bahan bakar pada performance burner dapat diperoleh dari suatu
pengamatan.

Secara umum hasil pengamatan sbb ;


1. Peningkatan excess air dapat mengakibatkan
Reduces flame length, reduces particulate, Increase NOx.

2. Peningkatan atomizing steam pressure mengakibatkan :


Reduces flame length, reduce particulate, increases NOx.

3. Peningkatan fuel viscosity mengakibatkan :


Increases flame length, increase particulate, reduces NOx.

4.Peningkatan combustion air temperature mengakibatkan :


Reduces particulate, increases NOx.
I. PROSES PEMBAKARAN
1.2. EFFISIENSI PEMBAKARAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi Flame Lenght:

1 Excess Air
Peningkatan excess air akan mengakibatkan flame menjadi lebih pendek.

2. Atomising steam pressure


Penambahan atomizing steam press akan mengakibatkan flame
menjadi lebih pendek.

3.Viscosity
Peningkatan viscosity akan menambah panjang flame.

4.Combination firing
Secara umum penambahan porsi fuel oil pada dual firing akan
menambah panjang flame.

5. Burner tip Design


Untuk dapat memperoleh panjang flame yang diinginkan dapat
dicapai dengan menggunakan burner tip yang sesuai (design).
I. PROSES PEMBAKARAN
1.2. EFFISIENSI PEMBAKARAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi Partikulat :
1. Excess air
Peningkatan excess air mengakibatkan berkurangnya
particulate.

2. Atomising steam pressure


Penambahan atomizing steam press akan mengakibatkan
berkurangnya particulate.

3. Viscosity
Peningkatan viscosity akan menambah particulate.

4. Air preheat
Air preheat akan mengurangi particulate
I. PROSES PEMBAKARAN
1.2. EFFISIENSI PEMBAKARAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi NOX :

1. Excess air
Peningkatan excess air akan mengakibatkan meningkatkan
NOx sampai maksimum yang pada akhirnya akan turun.

2. Atomizing steam pressure


Penambahan atomizing steam press akan meningkatkan NOx

3. Viscosity
Peningkatan viscosity akan mengurangi NOx

4. Air preheat
Penambahan temperature combustion air dengan air preheat
akan menambah NOx.
I. PROSES PEMBAKARAN
1.2. EFFISIENSI PEMBAKARAN
I. PROSES PEMBAKARAN
1.3. PENGATURAN PEMBAKARAN FURNACE

Pengaturan operasi Furnace yang meliputi :

1. Pengaturan Flame Pattern

2. Pengaturan draft dan excess air.

3. Pengaturan tekanan atomizing steam dan fuel oil


(untuk Furnace dengan bahan bakar Fuel Oil atau
Dual Firing).

4. Pengaturan viscositas fuel oil.


I. PROSES PEMBAKARAN
1.3. PENGATURAN PEMBAKARAN FURNACE

1. Pengaturan Flame Pattern

9 Monitor dan atur tekanan dan flow fuel gas atau fuel oil di DCS
(press FG : 0.5 1.5 kg/cm2 dan FO : 5 12 kg/cm2).

9 Amati Flame pattern, yang baik untuk bahan bakar fuel gas adalah
merah kebiruan sedangkan fuel oil kuning terang, api tidak terlalu
panjang dan tidak ada asap.

9 Selama melakukan pengaturan, amati draft indikator di arch/top


radiant agar selalu negatif (-1 s/d -4 mmH2O) dan O2 excess
sekitar 3 - 5 %vol, dengan cara mengatur opening stack damper.
I. PROSES PEMBAKARAN
1.3. PENGATURAN PEMBAKARAN FURNACE
2. Pengaturan draft dan excess air

a. Check kevakuman di arch/top radiant. Target kevakuman untuk Natural Draft


adalah -1 s/d -4 mmH2O dan -3 s/d -5 mmH2O untuk Balance Draft.
b. Lanjutkan dengan pengecekan excess air. Target O2 excess untuk Natural
Draft 2.5 - 4 % (FG) dan 3 - 4% (FO) dan untuk Balance Draft 2 - 3% (FG)
dan 2.5 - 3.5 (FO)
c. Lakukan langkah dibawah ini, jika terdapat deviasi antara draft dan O2 excess
actual dengan target diatas.
9 Jika draft terlalu besar (sangat negatif) dan O2 terlalu besar, untuk Natural
Draft, kurangi bukaan stack damper, Untuk balance draft, tambah
bukaaan FD Fan kemudian sesuaikan bukaan ID Fan.
9 Jika draft terlalu kecil (cenderung positif) dan O2 terlalu kecil, untuk
Natural Draft tambah bukaan stack damper, untuk balance draft kurangi
FD Fan kemudian sesuaikan bukaan ID Fan.
9 Draft terlalu besar (sangat negatif) dan O2 terlalu kecil, tambah bukaan air
register.
9 Draft terlalu kecil (cenderung positif) dan O2 terlalu besar, kurangi bukaan
air register.
I. PROSES PEMBAKARAN
1.3. PENGATURAN PEMBAKARAN FURNACE

3. Pengaturan tekanan atomizing steam dan fuel oil.

Atur tekanan atomizing steam 2 2.5 kg/cm2 lebih besar dari tekanan fuel
oil. Dengan tekanan atm. steam lebih tinggi dari fuel oil akan
mendapatkan flame yang baik dan optimum.

4. Pengaturan viscositas fuel oil.

Jaga viskositas fuel oil sekitar 25 44 cSt dengan cara mempertahankan


temperatur supply pada 105 110 oC.
I. PROSES PEMBAKARAN
1.3. PENGATURAN PEMBAKARAN FURNACE
PENGATURAN NATURAL DRAFT
II. FURNACE DAN ACCESSORIES

KOMPONEN UTAMA FURNACE

1. DINDING DAPUR
2. PIPA PEMBULUH (TUBE COIL)
3. RADIANT TUBE
4. CONVECTION SECTION
5. AIR PREHEATER
6. SOOT BLOWER
7. STACK ( CEROBONG )
8. DAMPER ( KATUP )
9. BURNER ASSEMBLY COMPONENT
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
1. DINDING DAPUR

DINDING LUAR ADALAH STRUKTUR BAJA UNTUK


PENAHAN.
SEBELAH DALAM ADALAH FIRE BRICK/REFRACTORY
(BATU TAHAN API), INSULATION BRICK (ISOLASI).
ANTARA FIRE BRICK DIBERI JARAK 1- 2 INCH (DIBERI
ROCK WOOL/FIRE ASBES).
PEMASANGAN FIRE BRICK DI LIENGKAPI ANCHOR
(PENGAIT) AGAR TDK RONTOK.
PADA PEMASANGAN REFRACTORY BARU PERLU
DILAKUKAN DRY OUT (MENGUSIR MOISTURE SECARA
BERTAHAP).

Page 35
KOMPONEN KOMPONEN FURNACE

Page 36
KOMPONEN UTAMA FURNACE
Stack

Damper

Explosion
Convection
door
Section

Radiant
Section

Burner

Page 37
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
2. PIPA PEMBULUH (TUBE COIL)
PIPA TERPASANG PARALEL DI KONVEKSI KEMUDIAN KE
RADIANT AGAR DIPEROLEH PEMANASAN BERTAHAP.
RADIANT DINDING LUAR ADALAH STRUKTUR BAJA UNUTK
PENAHAN.
MINIMUM FLOW DLM TUBE HRS DIJAGA UNUTK
MENGHINDARI OVERHEATING Pd TUBE
TDR (TURN DOWN RATIO) LAJU ALIR DISAAT GANGGUAN
OPS DIBAGI LAJU ALIR KOND. DESAIN.

PARAMETER PEMILIHAN PIPA PEMBULUH :


1. LIFE TIME (100.000 JAM)
2. DESIGN METAL TEMP (BERDASARKAN TEMP MAKS)
3. TEMP. ALLOWANCE (15 C)
4. CORROSION FRACTION
5. ELASTIC RANGE THERMAL STRESS LIMIT.

Page 38
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
3. RADIANT TUBE
PIPA PEMBULUH YG MENERIMA LANGSUNG PANAS
RADIASI PEMBAKARAN MAUPUN PANTULAN PANAS DARI
BATU TAHAN API.
MONITORING TEMP PERLU DILAKUKAN AGAR OPERASI
DAPUR TIDAK MELEBIHI TUBE SKIN TEMPERATUR
(DIPASANG TI).

Page 39
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
Radiant Tube
Horizontal & Vertical Tube Coil
Vertical Tube 11-F-101

Horizontal Tube 12-F-101

Page 40
Tube arrangement & skin temperature 31-F-101 NHT PLBB
Vertical tube coil

Page 41
Burner position & tube skin temperature 31-F-101 NHT PLBB

Page 42
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
4. CONVECTION SECTION
PIPA YG DILENGKAPI SIRIP PIPA PEMBULUH YG MENERIMA PANAS DARI
FLUE GAS.
(UNTUK MENGHILANGKAN JELAGA DI TUBE DILENGKAPI DG SHOOT
BLOWER).

SERATED FINS

SOLID FINS

STUD FINS

Page 43
RADIANT & CONVECTION SECTION

Convection section

Radiant section

Page 44
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
5. AIR PREHEATER
PEMANASAN UDARA PEMBAKARAN DENGAN
MENGGUNAKAN FLUE GAS PANAS (>450oC) DALAM
TURBULAR EXCHANGER.

APH ADAPT MENAIKAN EFISIENSI DAPUR DARI 81


MENJADI 91%.

FLUE GAS YG KELUAR DARI STACK DIATUR >176 C,


UNUTK MENCEGAH ADANYA KONDENSASI SO2 Yg
KOROSIF.

APH DILENGKAPI dg BY PASS DAMPER, IDF & FDF.

Page 45
KONFIGURASI APH

IDF
Contoh : APH
11-F-101 & 22-F-101
Yg dilengkapi APH,
FDF & IDF
FDF

Page 46
TYPE AIR PREHEATER

Page 47
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
6. SOOT BLOWER
PERALATAN UNTUK MEMBERSIHKAN ENDAPAN JELAGA
DI DAERAH KONVEKSI AGAR TDK MENGHALANGI
TRANSFER PANAS. ALAT INI DILENGKAPI DG NOZZLE
UNUTK SPRAY DARI STEAM/ AIR YG DITEMBAKAN KE PIPA
KONVEKSI.

7. CEROBONG (STACK)
SALURAN FLUE GAS DARI KONVEKSI KE ATMOSFER.
KONDISI YG HARUS DIPERHATIKAN ADALAH :
TEMP > 176 DAN < 500 C.
KANDUNGAN BHN. KIMIA & PARTIKEL HASIL
PEMBAKARAN (DEREGULASI LINDUNGAN
LINGKUNGAN).

Page 48
SHOOT BLOWER & STACK

Shoot Blower

Stack nge-shoot blower vs


normal

Page 49
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
8. DAMPER (KATUP)
UNTUK MEGATUR DRAFT DI DALAM DAPUR.
POSISI DAMPER TERLALU LEBAR PEMBAKARAN BAIK
TAPI TDK EFISIEN BERKURANG KARENA UDARA
TERSEDOT KE RUANG BAKAR DAN TEMP. FLUE GAS NAIK
(HEAT LOSS TINGGI).
Valve damper
FDF

Page 50
DAMPER FURNACE 12-F-101

Stack damper
Adjust stack
damper & draft
indicator

Page 51
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
9. BURNER ASSEMBLY COMPONENT

MAIN BURNER TIP, nozzle yg mempunyai lubang2 pengarah


keluarnya fuel ke combustion chamber.

PLENUM, merangkum burner assembling.

AIR REGISTER, pengatur udara pembakaran yg masuk ke burner dan


membentuk flame pattern.

WIND BOX, suatu lorong (duct) distribuasi udara.

MUFFLE BLOCK, pembentuk aliran udara dan stabilitas nyala api.

PILOT BURNER, sbg safety unutk penyalaan awal main burner.

IGNITER, unutk menyalakan pilot gas.

Page 52
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
9. BURNER ASSEMBLY COMPONENT

A. BURNER

FUNGSI BURNER TERGANTUNG DARI JENIS FUELNYA :

UNTUK FUEL GAS, BURNER BERFUNGSI SBG PEMANDU ARAH


GAS KE UDARA PEMBAKAR AGAR TERCAMPUR BAIK.

UNTUK FUEL OIL, BURNER SBG ALAT PENGKABUT MINYAK


(ATOMISING) MENJADI PARTIKEL KECIL DAN BERCAMPUR
DENGAN UDARA LALU TERBAKAR.

METODA PENGKABUTAN FUEL OIL :


1. Pengkabutan dg tekanan
2. Pengkabutan dg media lain (steam)
3. Pengkabutan dengan rotary cup dan udara.

Page 53
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
9. BURNER ASSEMBLY COMPONENT

A. BURNER

BURNER
Bagian terpenting dalam operasi pembakaran di dapur adalah burner.
Kesempurnaan pembakaran untuk mendapatkan operasi serta efisiensi
dapur yang baik sangat tergantung dari kesempurnaan operasi burner
tersebut.

Kesempurnaan operasi burner tersebut akan dipengaruhi oleh beberapa


faktor, yaitu:
- Jenis / type Furnace.
- Jenis bahan bakar (fuel) yang dibakar.
- Tekanan bahan bakar & Stability.
- Type burner

Proses pencampuran Bahan Bakar dan Udara terjadi di dalam Burner

Page 54
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
9. BURNER ASSEMBLY COMPONENT
FAKTOR YG PERLU DIPERTIMBANGKAN DLM PEMILIHAN BURNER :
KEMAMPUAN MENANGANI BB DGN RANGE VISC & NILAI KALOR BESAR
KEAMANAN PENYALAAN & KEMUDAHAN PERAWATAN
KEMUDAHAN PENGATURAN LAJU PENGAPIAN (MIN MAKS)
MENGHASILKAN BENTUK API YANG STABIL

OIL ATOMIZER

BERGUNA UNTUK MENGHASILKAN PENGKABUTAN YG BAIK


PENGKABUTAN ADALAH MEMECAH BB MENJADI PERTIKEL
HALUS SHG MEMUDAHKAN PENCAMPURAN DGN UDARA
HANYA UNTUK BB OIL, GAS TDK DIPERLUKAN
MEDIA STEAM
II. FURNACE DAN ACCESSORIES

Efectivitas dari atomizer tergantung pada : Turndown Ratio


Yaitu
Kemudahan dan
Kelembutan/kehalusan dari pengabutan.
kesinambungan
Turndown range pengaturan laju
Kesanggupan menghasilkan spray pattern. pengapian antara
Energi yang dibutuhkan. laju minimum dan
laju maksimum,
Bila suatu atomizer dapat mengubah 90% fuel oil menjadi kabut
halus dan 10% sisanya masih merupakan butiran kasar maka kabut
halus akan terbakar sempurna dan sisanya sebagian butiran kasar
tidak akan terbakar sempurna yang berupa sparkless (bunga api)
dan meninggalkan ruang pembakaran sebagai particulate yang
dapat mengakibatkan fouling sehingga menurunkan efisiensi.

Page 56
II. FURNACE DAN ACCESSORIES

Pembakaran yang sempurna di Burner antara unsur-unsur yang


mudah terbakar dari bahan bakar dengan oksigen dari udara
memerlukan 3 syarat sebagai berikut :

1. Temperatur yang cukup tinggi untuk menyala.


2. Turbulensi atau pencampuran yang baik.
3. Time atau waktu yg cukup singkat untuk pembakaran.
BAGIAN BAGIAN BURNER
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
9. BURNER ASSEMBLY COMPONENT

JENIS BURNER

FUEL GAS BURNER


FUEL OIL BURNER
DUAL FUEL (FUEL GAS & OIL)
RAW GAS BURNER

Page 59
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
FUEL GAS BURNER

KEUNGGULAN :
DAPAT BEKERJA PADA TEKANAN GAS RENDAH
TINGKAT KEBISINGAN RENDAH
KELEMAHAN :
UKURAN LUBANG NOZZLE AMAT KRITIKAL (KECIL)
LUBANG NOZZLE TERLETAK PADA DAERAH PANAS Shg MUDAH TERSUMBAT

Page 60
FUEL GAS BURNER

OUTSIDE
GAS TIP

CENTER
GAS TIP

AIR ASPIRATING
PILOT GAS

Page 61
FLAME PATTERN FUEL GAS BURNER

Page 62
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
FUEL GAS & OIL BURNER
KEUNGGULAN :
OPERASI LEBIH FLEXIBLE
KELEMAHAN :
MAINTENANCE LEBIH INTENT DIBANDING FUEL GAS BURNER

Page 63
FUEL GAS & OIL BURNER

Fuel Gas
Fuel Oil
Burner tip
Burner tip

Page 64
FLAME PATTERN FUEL GAS & OIL BURNER

Page 65
II. FURNACE DAN ACCESSORIES

FUEL OIL BURNER

KEUNGGULAN :
BEROPERASI DENGAN TEKANAN CUKUP TINGGI (8 15 Kg/cm2).
HEAT DUTY RELATIF LEBIH BESAR
KELEMAHAN :
MAINTENANCE LEBIH INTENT DIBANDING FUEL GAS BURNER

Page 66
FUEL OIL BURNER ONLY

Page 67
OIL GUN BURNER

OIL BURNER TIP

SWIRL PLATE

FLAME PATTERN FUEL OIL BURNER

Page 68
II. FURNACE DAN ACCESSORIES

RAW GAS BURNER

KEUNGGULAN :
DAPAT BEKERJA PADA TEKANAN GAS RENDAH
TINGKAT KEBISINGAN RENDAH
UKURAN LOBANG CUKUP BESAR
KELEMAHAN :
HEAT RELEASE RELATIF RENDAH
BURNER TIP & PIPE SIZE LEBIH BESAR

Page 69
RAW GAS BURNER

Page 70
FLAME PATTERN RAW GAS (WASTE GAS) BURNER

Raw gas
burner

Page 71
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
9. BURNER ASSEMBLY COMPONENT

B. AIR REGISTER,
Mengatur udara pembakaran yg masuk ke burner dan
mengatur flame pattern

Primary :
Jumlah udara yang diperlukan untuk suatu proses
pembakaran.

Secondary :
Udara yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi
pembakaran, agar bahan bakar terbakar total.

Page 72
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
Flame pattern berkaitan dengan tekanan fuel gas & supply
udara pembakaran.

High pressure Normal flame Low pressure

Page 73
9. BURNER ASSEMBLY COMPONENT
AIR REGISTER NATURAL DRAFT FURNACE (14, 21, 15, 31 & 32)
Udara pembakaran disuplly langsung dari udara bebas (atmosfir) karena
adanya beda tekanan di dalam comb. Chamber. (Kond. Vacuum).

Air comb.
inlet
Air comb.
inlet

Page 74
9. BURNER ASSEMBLY COMPONENT
AIR REGISTER BALANCE DRAFT FURNACE (11 & 22-F-101)
Udara pembakaran disuplly dari FDF melalui duct supply air comb. Yang
sebelumnya dipanaskan dulu oleh APH s/d temp. sekitar 150 200oC.

Air comb.
supply

Air comb.
supply

Page 75
II. FURNACE DAN ACCESSORIES
PERLENGKAPAN FURNACE LAINNYA

PLATTFORM
ACCES DOOR
EXPLOTION DOOR
WIND BOX
FURNACE DAN ACCESSORIES
SNUFFING STEAM CONECTION
ONLINE OXYGEN ANALYZER (UP-6)
DRAFT INDICATOR (UP-6)

Page 76
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR
1. Jenis dan Komposisi Bahan Bakar
A. Jenis Bahan Bakar
a. Bahan Bakar Padat
Batubara (antrasit, semi-bitumen, bitumen, sub-bitumen, lignit)
Biomassa (kayu, bagass, jerami, sekam, dll)
b. Bahan Bakar Cair
Bensin atau Gasolin atau Premium
Kerosen
Bahan Bakar Diesel
Residu
c. Bahan Bakar Gas
Asetilen
Blast Furnace Gas, Blue Water Gas
Gas Batubara
Natural gas, LNG dll
Gas Petroleum (Ref. Gas, LPG dll)
REFINERY GAS : KOMPONEN-KOMPONEN GAS RINGAN YANG DIHASILKAN SEBAGAI
PRODUK KILANG
REFORMER GAS: GAS-GAS YANG HV-NYA HASIL PYROLISIS STEAM DECOKING
TERHADAP GAS-GAS YANG HV-NYA
OIL GAS : HASIL PEMECAHAN TERMAL (THERMAL DECOMPOSITION) DARI
NAPHTHA SAMPAI HEAVY RESIDUE
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR

1. Jenis dan Komposisi Bahan Bakar


B. Komposisi Bahan Bakar
Bahan bakar umumnya tersusun dari unsur-unsur :
C (karbon),
H (hidrogen),
O (oksigen),
N (nitrogen),
S (belerang),
Abu, dll

combustible matter : unsur-unsur kimia yang penting adalah C, H


dan S, yaitu unsur-unsur yang jika terbakar menghasilkan panas,

non-combustible matter : Unsur-unsur lain yang terkandung dalam


bahan bakar namun tidak dapat terbakar adalah O, N, bahan
mineral atau abu dan air.
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR

2. Kualitas Bahan Bakar dari Sifat Bahan Bakar


a. Kandungan Air dalam bahan bakar cair merupakan air
eksternal, berperan sebagai pengganggu.
Air dalam bahan bakar gas merupakan uap air yang
bercampur dengan bahan bakar tersebut.

Air yang terkandung dalam bahan bakar menyebabkan penurunan


mutu bahan bakar karena:
menurunkan nilai bakar dan memerlukan sejumlah panas untuk
penguapan,
menurunkan titik nyala,
memperlambat proses pembakaran, dan menambah volume gas
buang.
Keadaan tersebut mengakibatkan:
pengurangan efisiensi heater / boiler
penambahan biaya perawatan
menambah biaya transportasi, merusak saluran bahan bakar cair
(fuel line) dan ruang bakar.
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR

2. Kualitas Bahan Bakar dari Sifat Bahan Bakar

b. Viskositas merupakan sifat bahan bakar (fuel oil) yang sangat penting
yaitu memungkinkan bahan bakar tersebut dapat dipompakan atau
tidak (pumpable) dan mudah dinyalakan atau tidak (flamable).
Untuk menjaga viskositas tersebut dengan cara mengkondisikan
temperatur tanki fuel oil tetap terjaga dengan coil pemanas dan
menjaga temperatur supply (100 110oC) menggunakan heat
exchanger dengan media pemanas steam.
c. Titik nyala adalah temperatur terendah di mana uap-uap yang
terbentuk dari suatu bahan bakar dapat terbakar apabila diberi sumber
panas tanpa bahan tersebut sendiri terbakar (terbakar sesaat).
Contoh:
piridin, mempunyai titik nyala 21C; pada musim dingin tidak dapat
terbakar tanpa dipanasi sampai titik nyalanya, tetapi pada musim
panas akan membentuk uap yang mudah terbakar
III. JENIS, KUALITAS & NILAI BAHAN BAKAR

2. Kualitas Bahan Bakar dari Sifat Bahan Bakar


e. Titik bakar adalah temperatur di mana bahan yang dinyalakan akan
terbakar terus menerus apabila di beri sumber panas (biasanya kira-
kira 30 - 40C lebih tinggi dari titik nyala)

f. Titik sulut (ignation temp) adalah suhu terendah di mana bahan dapat
terbakar dengan sendirinya. Biasanya "temperatur operasi" lebih
rendah dari titik sulut suatu bahan yang mudah terbakar
Contoh :gas alam sekitar 595 C.
III. JENIS, KUALITAS & NILAI BAHAN BAKAR

2. Kualitas Bahan Bakar dari Sifat Bahan Bakar


g. Kandungan Sulfur dalam bahan bakar yang ikut bereaksi pada
proses pembakaran dengan reaksi sbb :
S + O2 SO2
2 SO2 + O2 2 SO3

Selanjutnya SO2 dan SO3 bereaksi dengan uap air (H2O) yang
berasal dari udara pembakaran maupun dari bahan bakarnya sendiri

SO2 + H2O H2SO3

2 SO3 + H2O H2 SO4

Hasil reaksi tersebut di atas terikut dalam flue gas hasil pembakaran
sehingga mempunyai sifat korosi asam. Namun tingkat korosi flue gas
tersebut tergantung dari :
-Konsentrasi SO3 dan H2O.
Temperatur flue gas to stack, selalu dijaga lebih tinggi dari dew point
Hubungan Dew Point Flue gas dengan sulfur
content in fuel gas

UP-III
Fuel gas 50 ppm 125oC Fuel oil max 0,2 % 130oC
( + safety faktor temp Flue gas to stack)
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR
3. Nilai Bakar Bahan Bakar

a. Nilai bakar adalah panas yang dihasilkan oleh pembakaran


sempurna 1 kilogram atau satu satuan berat bahan bakar padat
atau cair atau 1 meter kubik atau 1 satuan volume bahan bakar gas,
pada keadaan standard.

Nilai bakar atas atau gross heating value atau higher heating
value (HHV) adalah panas yang dihasilkan oleh pembakaran
sempurna satu satuan berat bahan bakar padat atau cair, atau satu
satuan volume bahan bakar gas, pada tekanan tetap, suhu 25 oC,
apabila semua air yang mula-mula berwujud cair setelah
pembakaran mengembun menjadi cair kembali.

Nilai bakar bawah atau net heating value atau lower heating
value (LHV) adalah panas yang besarnya sama dengan nilai panas
atas dikurangi panas yang diperlukan oleh air yang terkandung
dalam bahan bakar dan air yang terbentuk dari pembakaran bahan
bakar.
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR
3. Nilai Bakar Bahan Bakar

NILAI CALORI BAHAN BAKAR


(HEATING VALUE)

RUMUS PEMBAKARAN :

n n
C m H n + ( m + --- ) O2 ---> m CO2 + --- H2O + Qt.
4 2

NILAI BAKAR ( Qt ) = ADALAH JUMLAH PANAS YANG DI


BEBASKAN APABILA BAHAN BAKAR TERSEBUT DIKENAKAN
PEMBAKARAN PADA KEADAAN STANDARD.
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR

3. Nilai Bakar Bahan Bakar

DALAM REAKSI PEMBAKARAN TERBENTUK MOLEKUL AIR YANG


PADA KEADAAN STANDARD BERBENTUK CAIRAN, DAN AKAN
MENJADI UAP PADA SAAT PEMBAKARAN BERLANGSUNG.

ENERGY UTK KEPERLUAN PENGUAPAN DIAMBIL DARI SE BGN


PANAS YANG DI BEBASKAN PADA REAKSI PEMBAKARAN.

PANAS YANG TERSISA DARI TOTAL PANAS YANG DI BEBASKAN


SETELAH DI KURANGI PANAS PENGUAPAN MOLEKUL AIR ITU
MERUPAKAN PANAS YANG BENER-BENAR DPT DIMANFAATKAN.
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR
3. Nilai Bakar Bahan Bakar
Qt -

n n
C m H n + ( m + --- ) O2 ---> m CO2 + --- H2O + Qt
4 2

n n
--- H2O ( Liq ) -- >
2
--- H2O ( gas ) -

2

FUEL
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR
Nilai Bakar dari bahan bakar gas
Bahan bakar Spesific Gravity HHV LHV
(udara = 1.0) kcal/kg kcal/kg
H2 0.069 34,400 29,000
CH4 0.55 13,100 11,800
C2H4 0.975 11,900 11,100
C2H6 1.05 12,300 11,200
C3H6 1.50 11,600 10,800
C3H8 1.56 11,900 10,900
C4H8 2.03 11,500 10,700
C4H10 2.07 11,700 10,800
C3H12 2.63 11,600 10,700
CO 0.967 2,430 2,430
CO2 1.528 - -
N2 0.967 - -
H2O 0.621 - -
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR

FLOW KONVERSI STANDARD REFINERY FUEL


Hv Fuel ( dalam beberapa satuan ) :

* HV1 : Btu / SCF * HV3 : Kcal / Kg


TAMPILAN 43 SATUAN HV ( 4 SATUAN )
* HV2 : Btu / lb * HV4 : Kcal / NM

Data :
1 SRF = 18500 Btu / lb
SCF Btu Btu
1 Ton = 2204,6 lb
F1 = MSCF x 10 x = A Btu 1 TSRF = 2204,6 lb x 18500
MSCF SCF
lb
1 TSRF = 40785100 Btu

lb Btu
F2 = Ton x 2204,6 x = B Btu
Ton lb

dibagi dgn
dikalikan
40785100 TSRF BSRF
6,545
Kg Kcal Btu
F3 = Ton x 10 x x 3,968 = C Btu
Ton Kg Kcal

Kcal Btu
F3 = Nm x x 3,968 = D Btu
Nm Kcal

Data Data
III. JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN BAKAR

Hubungan nilai bakar dengan ratio C/H

JENIS, KWALITAS & NILAI BAHAN


BAKAR

Nilai bakar dari bahan bakar di kilang utamanya ditentukan oleh ratio
carbon/hydrogen.
Unsur hidrogen memiliki nilai bakar yang lebih tinggi dari unsur karbon.
Maka, jika ratio C/H lebih rendah berarti nilai bakar yang lebih tinggi.
Untuk standard refinery oil, yang nilai bakarnya 40.2 kJ/kg, maka ratio C/H
kira-kira 9.2.
IV TEKNIK OPERASI & SISTEM KONTROL FURNACE
TEKNIK OPERASI FURNACE :

HAL YG PERLU DIPERHATIKAN DLM OPS FURNACE


1. SPEC BAHAN BAKU (BB) DAN STEAM
- HEATING VALUE BB CEK ANALIS LAB
- TEKANAN FUEL GAS DAN ATAU TEMP FUEL OIL
- TEKANAN STEAM ; MAKIN TINGGI ATOMIZING BAIK
2. PERSIAPAN FEED USAHAKAN TEMP FEED TINGGI
3. EXCESS AIR
- NAT. DRAFT ; EXCESS AIR 25 20 %
- FORCE DRAFT ; EXCESS AIR 15 20 %
- BALANCED DRAFT ; EXCESS AIR MAKS 15 %
- PENGUKURAN EXCESS AIR ANALISA ORSAT
- TYPE FURNACE MAKIN LENGKAP EXC AIR MKN
RENDAH
IV TEKNIK OPERASI & SISTEM KONTROL FURNACE
TEKNIK OPERASI FURNACE :

4. TEMPERATUR STACK (TS) :


TS ADALAH TEMPERATUR GAS BUANG
TS DIJAGA HRS LEBIH TINGGI DR TEMP KONDENSASI SULPUR TS >
150 C
TS YG TINGGI MENGINDIKASIKAN PEMAKAIAN FUEL BOROS
TS NAT DRAFT > TS FORCE DRAFT > TS BALANCED DRAFT
MENGAPA TS NAT > TS BALANCED ?

5. SKIN TUBE TEMPERATUR


BATASAN SKIN TUBE TERGANTUNG JENIS MATL
SKIN TUBE LEBIH DR DISAIN BERPOTENSI MEMBENTUK ENDAPAN
CARBON BAG DALAM PIPA HOT SPOT SPLIT:
IV TEKNIK OPERASI & SISTEM KONTROL FURNACE
TEKNIK OPERASI FURNACE :
:
6. DRAUGHT (KEVAKUMAN)
BEDA TEKANAN SEDIKIT DR TEKANAN ATM DISEBUT DRAUGHT
BEDA TEKANAN TERJADI KRN ADA BEDA DENSITAS GAS BUANG
DIUKUR DGN SATUAN mmH2O
DRAUGHT DIATUR + 2 3 mmH2O ( RUANG BAKAR)
DIATUR OLEH DAMPER STACK (NAT.DRAFT), DAMPER INDUCED FAN
(BALANCED DRAFT)

DRAUGHT TERLALU TINGGI PASOKAN UDARA BANYAK PNS R BAKAR BERKURANG BB NAIK
BOROS
DRAUGHT KECIL PASOKAN UDARA KURANG PEMBKRAN TDK
SEMPURNA

PENYEBAB :
- PIPA DI SEKSI KONVEKSI KOTOR
- BOCOR DI DINDING DAN SALURAN UDARA
- DAMPER TERTUTUP ATAU MACET
IV TEKNIK OPERASI & SISTEM KONTROL FURNACE
TEKNIK OPERASI FURNACE :

7. FLAME PATERN (BENTUK NYALA API)

BENTUK FLAME DIATUR SESUAI KEBUTUHANNYA


- FLAME KEATAS ATUR VAKUM DGN DAMPER STACK/UDARA
- FLAME PENDEK KURANGI UDARA & PRESS STEAM ATOMIZING
- FLAME TDK STABIL BERSIHKAN TIP BURNER
- FLAME PANJANG TURUNKAN TEMP BB, ATUR AGAR VISC SESUAI
- USAHAKAN FLAME TIDAK MENJILAT PIPA DAN DINDING
IV TEKNIK OPERASI & SISTEM KONTROL FURNACE
SISTEM KONTROL FURNACE :

1. KONTROL ALIRAN
- FCV PIPA INLET MASING-MASING PASS ==> FURNACE

2. KONTROL TEMPERATUR
- TIC PADA OUTLET FLUIDA DARI FURNACE
- TIC RESET PC FUEL GAS / FUEL OIL

3. KONTROL PILOT GAS


SETIAP MAIN BURNER PILOT GAS BURNER
PILOT GAS BURNER P > 0,5 KG/CM2G
(PRESSURE REGULATOR PADA HEADER PILOT==> 0,5 KG/CM2G)

4. KONTROL FUEL OIL


SISTEM FUEL OIL CLOSED SYSTEM ( LOOP )
P MIN FUEL OIL : 3,3 KG/CM2G
PCV P FO = 5,8 KG/CM2G
IV TEKNIK OPERASI & SISTEM KONTROL FURNACE
SISTEM KONTROL FURNACE :
5. KONTROL FUEL GAS
- P MIN FUEL GAS : 0,23 KG/CM2G
- PCV P FG = 1,5 KG/CM2G

6. KONTROL ATOMIZING STEAM


FUEL OIL ATOMIZING STEAM
ATOMIZING STEAM : HEADER STEAM ==> ( DIFF. PC ) OIL GUN
DIRF PRESSURE TRANSMITTER : PSTEAM & PFO (P) PIC STEAM CV P STEAM & FUEL
OIL PADA OILGUN BURNER

7. O2 ANALYZER
O2 ANALYZER MENGONTROL UDARA PEMBAKARAN KONDISI PEMBAKARAN
OPTIMUM DIUKUR PADA FLUE GAS EX FIREBOX

8. PROTEKSI FURNACE
MENGURANGI FURNACE DARI KERUSAKAN PARAH DENGAN CARA DIHENTIKAN
BEROPERASINYA (SHUTDOWN) SHUTDOWN OTOMATIS BILA :
PANEL KONTROL UTAMA TRIP
- LAJU ALIR FLUIDA PADA FURNACE
- TEK. PILOT FUEL
- TEK. FURNACE
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE

OPERASI START UP & SHUT DOWN FURNACE

PENUH RESIKO DAN MEMBAHAYAKAN.


PROSEDUR HRS DIPAHAMI PELEDAKAN KERAP TERJADI KRN
SALAH URUTAN PROSEDUR
KOMUNIKASI OPERATOR DGN CONSOLE MAN SBG PEMANDU
OPERATOR HRS DILENGKAPI ALAT SAFETY
HUBUNGI BAG LK&KK UNTUK STAND BY

PROSEDUR START UP :( SIAPKAN CEK LIST)


PERSIAPAN HEATER
PURGING & LINE UP FUEL
SIRKULASI & PURGING HEATER
PENYALAAN PILOT BURNER
PENYALAAN FUEL OIL DR PILOT BURNER
PENYALAAN FUEL GAS DR PILOT BURNER
MENAIKAN TEMP OUTLET HEATER
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE

OPERASI START UP & SHUT DOWN FURNACE


PROSEDUR NORMAL SHUT DOWN
INDIKASI SHUT DOWN SELESAI :
SELURUH NYALA API PADAM
MAIN FUEL GAS SISTEM BEBAS GAS & DI BLANK
FUEL OIL SISTEM TELAH DIPURGE & BERSIH
PILOT GAS SISTEM SUDAH DI BLANK
WASTE GAS SISTEM BEBAS GAS DAN DI BLANK

EMERGENCY PROSEDURE (KASUS KERAP TERJADI) :


KEGAGALAN NYALA API TOTAL
KEGAGALAN NYALA API BURNER, PILOT TDK
KEGAGALAN PILOT GAS BURNER
ADANYA LIQUID (KONDENSAT ATAU AIR) KE FIRE BOX
KEGAGALAN TUBE HEATER ( MIS SPLIT/PECAH TUBE)
KEGAGALAN FORCE DRAFT FAN
KEGAGALAN INDUCED DRAFT FAN
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE

FURNACE KILANG UP-3


CRUDE DISTILER 2 (CD 2) :
9 FUNGSI SBG PREHEATER & REBOILER KOLOM
9 VERTIKAL SILINDRIS ; BALANCED DRAFT WITH APH
9 DUAL BURNER F OIL & GAS.

CRUDE DISTILER 3 , 4 & 5 :


9 FUNGSI SBG PREHEATER & REBOILER KOLOM
9 HORIZONTAL CABIN BOX ; BALANCED WITH APH
9 DUAL BURNER

CRUDE DISTILER 6 (CD 6) :


- FUNGSI SBG PREHEATER & REBOILER KOLOM
- HORIZONTAL CABIN BOX ; NATURAL DRAFT
- DUAL BURNER

102
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE
CONTOH DETAIL PROSEDUR START UP DAN SHUTDOWN

PROSEDUR START UP DAN SHUTDOWN HEATER

Nama alat : F-1-01 A/B.


F-1-01 A/B berfungsi sebagai tempat pemanasan crude feed sampai
temperatur yang dikehendaki dengan bahan bakar fuel oil dan fuel gas.

Spesifikasi :
- Temp. inlet design : 247C.
- Temp. outlet design : 359C.
- Max. deff pressure : 10.5 kg/cm2g.
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE
CONTOH PROSEDUR START UP DAN SHUTDOWN

PROSEDUR START UP

1. PERSIAPAN.

1.HUBUNGI RPPK DAN SS.


2.YAKINKAN VALVE ( PILOT GAS, F.GAS, F.OIL , ATOMIZING STEAM ) SEMUA
BURNER TUTUPAN
3.SIRKULASI FUEL OIL PADA FUEL OIL HEADER SYSTEM.
4.SIRKULASI F.OIL : F. OIL SUPPLY (B/L) BY PASS F. OIL HEATER F.OIL RETURN
(B/L).
5.YAKINKAN STEAM TRACE, TRAP PD F. OIL SYSTEM DAN ATOMIZING STEAM OK
(BEBAS CONDENSATE).
6.SNUFFING STEAM FIRE BOX FURNACE 15 MENIT ATAU STEAM TOP STACK.
7.PASTIKAN GUILOTINE , STACK DAMPER, AIR DOOR DAN PLANNUM TERBUKA.
8.BUKA BLOCK VALVE PILOT GAS SYSTEM DI BATTERY LIMIT.
9.PINDAHKAN BY PASS SWITCH POSISI BY PASS.
10.RESET SELENOID VALVE HEADER PILOT GAS.
11. BUKA BLOCK VALVE F. GAS SYSTEM DAN RESET SELENOID VALVE.
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE
CONTOH PROSEDUR START UP DAN SHUTDOWN

2. PELAKSANAAN :

1. Nyalakan semua pilot gas setiap cell pada heater .


2. Nyalakan 1 buah burner fuel gas tiap cell pada heater (Start Up burner F.Gas)
3. Tambah penyalaan burner fuel gas sesuai kebutuhan ( kenaikan temperature 50 C/jam).
4. Hubungi RPPK untuk menambah penyalaan burner.
5. Atur tekanan fuel gas melalui 01-PIC-026 A/B untuk F-1-01 A dan 01-PIC-209 A/B untuk F-1-01 B.
6. Atur temperature COT melalui 01-TIC-112 A/B untuk F-1-01 A dan 01-TIC-131 A/B untuk F-1-01 B.
7. Setelah kondisi normal operasi transfer penyalaan fuel gas ke fuel oil dan atur bukaan stack
damper.

3. PENGAWASAN SELAMA OPERASI

1. Amati kondisi nyala api pada fire box (tidak menyentuh tube heater).
2. Atur nyala api jika diperlukan.
3. Amati tekanan pilot gas, fuel gas, fuel oil dan atomizing steam.
4. Amati kondisi tekanan dan flow pass heater.
5. Jalankan soot blower setiap hari.
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE
CONTOH PROSEDUR START UP DAN SHUTDOWN

Prosedure Normal Shutdown :

A. MATIKAN BURNER FUEL OIL :

TUTUP BLOCK VALVE F. OIL KE BURNER DAN SIRKULASIKAN F.OIL AGAR TDK BUNTU
PERTAHANKAN ATOMIZING STEAM BEBERAPA SAAT UTK FLUSHING FUEL OIL YANG MASIH
ADA PADA GUN BURNER F. OIL. BILA CUKUP TUTUP KEMBALI.
TUTUP BLOCK VALVE UP DAN DOWN STREAM PRESS DIFF CONTROL UTK HEATER .
BILA F. OIL TDK DIOPERASIKAN LAMA, F.OIL TETAP MENGALIR DARI SUPPLY KE RETURN.
BUKA BLOCK VALVE F. GAS SYSTEM DAN RESET SELENOID VALVE.

B. MATIKAN BURNER FUEL GAS :

TUTUP PCV BERTAHAP SAMPAI MENUTUP PENUH, KEMUDIAN TUTUP SEMUA BLOCK VALVE
F. GAS KE BURNER
TUTUP BLOCK VALVE UP DAN DOWN STREAM PCV.
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE
CONTOH PROSEDUR START UP DAN SHUTDOWN

Prosedure normal shutdown :

C. MATIKAN BURNER PILOT GAS :

TUTUP BLOCK VALVE PILOT GAS KE MASING-MASING PILOT GAS BURNER HEATER.
RESET / TRIPKAN SOLENOID PILOT GAS DAN AMANKAN.
BILA SEMUA BURNER SDH TDK BEROPERASI, BUKA FULL 100% DAMPER DAN LAKUKAN
SNUFFING STEAM DGN MEMBUKA BLOCK VALVE STEAM MS 10 15 MENIT.

PELAKSANAAN KEADAAN EMERGENCY ( EMERGENCY SHTUDOWN)

TRIPKAN DGN MENEKAN PUSH BUTTON HEATER DI RPPK , SEHINGGA SEMUA BURNER HEATER
YANG NYALA AKAN MATI, TUTP PCV BERTAHAP SAMPAI MENUTUP PENUH DAN TUTUP SEMUA
BLOCK VALVE
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE

PEMANTAUAN KINERJA

DATA MONITORING KINERJA (PERFORMANCE FURNACE) :


LAJU ALIR BAHAN BAKAR
EXCESS UDARA
LAJU ALIR FLUIDA PROSES
TEMPERATUR FLUIDA PROSES
DRAFT TUNGKU
KONDISI NYALA API /FLAME
KADAR ZAT YANG TERBAKAR
TEMPERATUR GAS HASIL BAKAR
LAJU ALIR UDARA (JIKA DILENGKAPI PEMANAS- AWAL UDARA)
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE

VARIABLE UTAMA

BAHAN BAKAR

GAS.
OIL.

UDARA PEMBAKARAN.
PRIMARY.
SECONDARY.

DRAFT.
STACK
DAMPER
V START UP DAN SHUT DOWN FURNACE

PERMASALAHAN-PERMASALAHAN YANG SERING TERJADI


1. NYALA API BERGELOMBANG.
2. LIDAH API MENYENTUH TUBE.
3. FLASHBAK PADA MIXERS.
4. BENTUK NYALA API TIDAK BERATURAN.
5. FUEL OIL TERCECER.
6. NYALA API PANJANG DAN BERASAP.
7. NYALA API MIRING.
8. BURNER PADAM DAN SUSAH DINYALAKAN.
9. TEKANAN GAS TINGGI.
10. TEMPERATUR STACK TINGGI.
11. OVERHEATING PADA SEKSI KONVEKSI.
12. SUARA GEMURUH SAAT MENYALAKAN FUEL OIL.
13. NYALA API DIATAS BURNER.
14. NYALA API PILOT PADAM.
15. NYALA API DI BURNER NAIK TURUN.
Terima Kasih