Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Epistaksis adalah keluarnya darah dari hidung dan merupakan suatu keluhan atau tanda,
bukan penyakit. Perdarahan yang terjadi di hidung adalah akibat kelainan setempat atau
penyakit umum. Penting sekali mencari asal perdarahan dan menghentikannya, di samping
perlu juga menemukan dan mengobati sebabnya. Epistaksis sering ditemukan sehari-hari dan
mungkin hampir 90% dapat berhenti dengan sendirinya (spontan) atau dengan tindakan
sederhana yang dilakukan oleh pasien sendiri dengan jalan menekan hidungnya. Epistaksis
berat, walaupun jarang dijumpai, dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat
berakibat fatal apabila tidak segera ditolong.
Epistaksis, yaitu perdarahan dari hidung, dapat berupa perdarahan anterior dan
perdarahan posterior. Perdarahan anterior merupakan perdarahan yang berasal dari septum
bagian depan (pleksus kiesselbach atau arteri etmoidalis anterior). Prevalensi yang
sesungguhnya dari epistaksis tidak diketahui karena pada beberapa kasus epistaksis sembuh
spontan dan hal ini tidak dilaporkan.
Epistaksis anterior dapat terjadi karena berbagai macam penyebab. Secara umum,
penyebab epistaksis anterior dapat dibagi atas penyebab lokal dan penyebab sistemik.
Penyebab lokal, yaitu trauma, benda asing, infeksi, iatrogenik, neoplasma, dan zat kimia.
Penyebab sistemik antara lain penyakit kardiovaskular, gangguan endokrin, infeksi sistemik,
teleangiektasis hemoragik herediter, kelainan hematologi, obat- obatan, dan defisiensi
vitamin C dan K.
BAB II

LAPORAN KASUS

Anto 8 tahun, siswa SD, pulang ke rumah diantar gurunya dengan darah keluar dari
hidungnya. Sebagai dokter keluarga tersebut Anda ditelepon dan segera bergegas ke rumah
yang bersangkutan. Dalam perjalanan Anda mulai memikirkan beberapa hipotesis mengenai
penyebab keluarnya darah dari lubang hidung. Sampai di rumah, apa yang Anda kerjakan
pertama kali pada pasien tersebut?

Setelah mendapat kesan bahwa fungsi vital penderita masih baik, Anda meminta pasien
memencet kedua lubang hidung untuk menghentikan perdarahannya kemudian melanjutkan
dengan anamnesis. Perdarahan hidung baru dialami pertama kali setelah melakukan olah raga
sepak bola dan hidung kena bola kira-kira jam yang lalu, jumlahnya kira-kira 2 sendok
makan. Sebelumnya penderita tidak pernah sakit berat sampai dirawat, tidak pernah
mengalami trauma kepala.
BAB III

PEMBAHASAN

Anamnesis

Identitas Pasien

Nama : Anto

Usia : 8 tahun

Jenis kelamin : Laki-laki

Agama :-

Nama Orang Tua : -

Alamat :-

Masalah yang terdapat pada kasus ini adalah pasien mengalami keluar darah dari
lubang hidungnya. Untuk masalah tersebut, maka terdapat beberapa hipotesis yang dapat
diambil, yaitu:

1. Trauma
Perdarahan dapat terjadi karena trauma ringan seperti mengorek hidung, benturan ringan,
bersin atau mengeluarkan ingus terlalu keras, atau sebagai akibat dari trauma yang lebih
hebat seperti terkena pukul, jatuh atau kecelakaan lalu-lintas, bisa juga terjadi akibat adanya
benda asing tajam atau trauma pembedahan.
2. Kelainan pembuluh darah (lokal)
Sering kongenital. Pembuluh darah lebih lebar, tipis, jaringan ikat dan sel-selnya lebih
sedikit.
3. Infeksi lokal
Terjadi karena infeksi hidung dan sinus paranasal seperti rinitis atau sinusitis Bisa juga
terjadi karena infeksi spesifik seperti rinitis jamur, tuberkulosis, lupus, sifilis atau lepra.
4. Tumor
Timbul pada hemangiotoma dan karsinoma. Pada angiofibroma dapat menyebabkan
epistaksis berat.
5. Kelainan darah
Kelainan darah penyebab epistaksis antara lain leukimia, tombositopenia, bermacam-
macam anemia serta hemofilia.
6. Kelainan kongenital
Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis ialah talengiektasis hemoragik
herediter dan juga sering terjadi pada Von Willenbrand disease.
7. Infeksi sistemik
Demam berdarah sering menyebabkan epistaksis. Demam tifoid, influensa dan morbili juga
dapat disertai epistaksis.
8. Perubahan udara atau tekanan atmosfir
Epistaksis ringan sering terjadi pada seseorang yang berada di tempat yang cuacanya sangat
dingin atau kering dan juga bisa disebabkan karena adanya zat-zat kimia di tempat industri
yang menyebabkan keringnya mukosa hidung.

Pemeriksaan Fisik

Status Generalis

Hasil yang didapat Keterangan


Keadaan umum Lemah, masih bisa duduk Normal
Kesadaran Compos mentis Normal
Suhu 37C Normal
Bunyi jantung Murni Normal
Paru-paru Sonor, vesikuler Normal
Hepar & lien Tidak teraba Normal
Ekstremitas Baik Normal

Interpretasi hasil

Dari pemeriksaan fisik yang dilakukan terhadap pasien, semuanya dalam batasan
normal karena perdarahan yang terjadi masih termasuk perdarahan ringan, yaitu
sebanyak 30 ml atau setara dengan 2 sendok makan sehingga tidak mengganggu sistem
hemodinamik dari pasien ini. Keadaan umum yang lemah kemungkinan disebabkan
oleh adanya rasa panik pada diri pasien setelah trauma sehingga hidung anak tersebut
mengeluarkan darah. Tidak ada kelainan atau luka yang terjadi di bagian tubuh lain.
Status Lokalis

Hasil yang didapat Keterangan

Telinga Auris dextra-sinistra, Liang telinga lapang, Normal


Membran timpani intak mengkilat

Hidung Hidung luar sembab, hiperemis haematom Ada kelainan*


ada, tidak ada luka atau krepitasi.

Rongga hidung tampak septum, konka media


sembab, hiperemis,

Ada laserasi daerah septum dan konka media

Tenggorok Tonsil T1/T1 tenang Normal

Faring tenang

Interpretasi hasil

*) Pada pemeriksaan hidung didapatkan hidung luar dan rongga hiperemis yang
merupakan reaksi inflamasi yang terjadi setelah adanya trauma pada daerah tersebut.
Hematom yang ada berasal dari perdarahan dalam luka tertutup sehingga membentuk
massa hematom dalam jaringan tersebut akibat trauma. Tidak terdapatnya krepitasi
menandakan tidak adanya fraktur pada os nasi, namun perlu ditunjang dengan
pemeriksaan foto Rontgen.

Pemeriksaan penunjang

Foto Rontgen
Foto rontgen os nasi : Bentuk dan posisi tulang hidung masih baik.
Kesan: Tidak ada fraktur os nasi

Interpretasi: Pada awal kasus, kami sempat mencurigai adanya fraktur os nasi yang
diakibatkan trauma yang terkena bola. Tetapi, dari hasil foto polos os nasi tidak
ditemukan adanya kelainan bentuk maupun posisi. Hal ini memberikan kesan bahwa
tidak ada fraktur os nasi. Selain itu, tidak adanya fraktur os nasi menunjang
pemeriksaan fisik pada anak tersebut. Pada status lokalis disebutkan bahwa tidak ada
krepitasi pada hidung anak tersebut. Krepitasi biasanya menunjukkan adanya fraktur
tulang, tetapi pada anak ini tidak ditemukan dan dalam pemeriksaan foto os nasi pun
tidak ditemukan kelainan.

Pemeriksaan Laboratorium

Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal

Hb 14 g% 13-16 g%

Leukosit 7000 / ml 5000-10.000/ml

Eritrosit 4,5 juta / ml 4,5-5,5 juta/ml

Jumlah trombosit 260.000 / ml 150.000-450.000/ml

Bleeding Time 2 2-7

Clotting Time 6 4-10

PTT 13 25-35

Interpretasi: Pada hasil laboratorium di atas, tampak semuanya normal, kecuali pada
PTT atau yang lebih sering dikenal dengan aPTT, yaitu activated partial
thromboplastin time. Pada kasus ini, nilai PTT meningkat menjadi 13 menit. Adanya
pemanjangan daripada PTT menunjukkan adanya defisiensi atau kekurangan pada
faktor-faktor intrinsik. Hal ini dapat disebabkan dari kelainan perdarahan seperti
hemofilia ataupun Von Willebrands disease. Tetapi, untuk mengetahui bagian mana
dari faktor-faktor intrinsik tersebut yang mengalami defisiensi, diperlukan pemeriksaan
khusus dan memerlukan biaya mahal. Nilai PTT yang memanjang juga dapat
disebabkan oleh penyakit hepar, ginjal maupun karena obat-obat antikoagulan, tetapi
pada kasus ini hepar tidak teraba pada pemeriksaan fisik yang menunjukkan bahwa
tidak ada pembesaran hepar (tidak adanya kelainan pada hepar). Kemungkinan
pemanjangan PTT disebabkan oleh kekurangan salah satu dari faktor-faktor intrinsik
tersebut.
Diagnosis

Kelompok kami mendiagnosis epistaksis anterior et causa trauma suspek


defisiensi antikoagulan intrinsik pada pasien ini.

Dasar diagnosis:

Anamnesis bahwa keluarnya darah akibat tendangan bola

Keluarnya darah berjumlah sedikit (2 sendok sekitar 30 cc)

Dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan laserasi daerah septum dan konka media
menunjukkan letak termasuk epistaksis anterior

Dari hasil pemeriksaan laboratorium didapatkan masa PTT memanjang dan dari
hasil anamnesis bahwa selama setengah jam darah tidak berhenti sendiri, maka
dicurigai pasien memiliki kelainan defisiensi faktor pembekuan intrinsic.

Patofisiologi

Hidung terkena Laserasi pada septum Pecahnya pleksus


tendangan bola nasi anterior dan konka kiesselbach(Little area)
(Trauma) media

Keluar darah dari


hidung (epistaksis) Darah keluar ke
jaringan yang
masih tertutup

Rusaknya endotel kapiler


Hematom
menyebabkan keluarnya
sitokin-sitokin
proinflamasi (IL-1, IL-6,
TNF-

Mukosa hidung
tampak hiperemis
Penatalaksanaan

Prinsip penatalaksanaan epistaksis adalah perbaiki keadaan umum, cari sumber


perdarahan, hentikan perdarahan, dan cari faktor penyebab untuk mencegah berulangnya
perdarahan. Pada kasus ini, sebagai dokter keluarga yang diminta untuk datang ke rumah
pasien maka hal pertama yang dilakukan saat datang adalah menjaga ABC pasien.
A: airway pastikan jalan napas tidak tersumbat/bebas, posisikan duduk menunduk
B: breathing pastikan proses bernapas dapat berlangsung, batukkan atau keluarkan
darah yang mengalir ke belakang tenggorokan
C: circulation pastikan proses perdarahan tidak mengganggu sirkulasi darah tubuh.
Periksa nadi dan lihat frekuensi, isi dan keteraturan nadi. Apabila terdapat kelainan
segera bawa ke RS.

Untuk dapat menghentikan perdarahan, perlu dicari sumbernya atau setidaknya


dilihat apakah perdarahan dari anterior atau posterior. Alat-alat yang diperlukan untuk
pemeriksaan ialah lampu kepala, speculum hidung dan alat pengisap. Anamnesis yang
lengkap sangat membantu dalam menentukan sebab perdarahan.
1) Pasien dengan epistaksis diperiksa dalam posisi duduk, biarkan darah mengalir keluar
hidung sehingga bisa dimonitor. Kalau keadaannya lemah, sebaiknya setengah duduk
atau berbaring dengan kepala ditinggikan. Harus diperhatikan jangan sampai darah
mengalir ke saluran napas bawah. Pasien anak duduk dipangku, badan dan tangan
dipeluk , kepala dipegangi agar tegak dan tidak bergerak-gerak.
2) Tekan pada bagian depan hidung selama 5-10 menit tekan hidung antara ibu jari dan
jari telunjuk, bernafas melalui mulut.
3) Apabila darah tidak berhenti, dapat dipasang tampon sementara, yaitu kapas yang telah
dibasahi dengan adrenalin 1/5000-1/10000 dan pantocain 2% dimasukkan ke dalam
rongga hidung untuk menghentikan perdarahan mengurangi rasa nyeri pada saat
dilakukan tindakan selanjutnya. Tampon itu dibiarkan selama 10-15 menit. Tampon ini
juga berfungsi untuk mengetahui tempat perdarahan. Setelah terjadi vasokonstriksi
biasanya dapat dilihat apakah perdarahan berasal dari bagian anterior atau posterior
hidung.

Pada kasus didapatkan laserasi pada bagian septum, disertai dengan hematoma yang
menunjukkan sumber perdarahan berasal dari septum bagian depan sehingga dapat
disimpulkan bahwa epistaksis pada kasus ini termasuk dalam epistaksis anterior. Berikut
ini adalah penatalaksanaan yang dapat dilakukan untuk kasus epistaksis anterior.
Epistaksis anterior1
Bila sumber perdarahan dapat terlihat, tempat asal perdarahan dikaustik dengan
larutan Nitras Argenti (AgNO3) 25-30%. Sesudahnya, area tersebut diberi krim antibiotik.
Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung, maka perlu dilakukan
pemasangan tampon anterior yang dibuat dari kapas atau kasa yang diberi pelumas vaselin
atau salep antibiotik. Pemakaian pelumas ini agar tampon mudah dimasukkan dan tidak
menimbulkan perdarahan baru saat dimasukkan atau dicabut. Tampon dimasukkan
sebanyak 2-4 buah, disusun dengan teratur dan harus dapat menekan asal perdarahan.
Tampon dipertahankan selama 2x24 jam, harus dikeluarkan untuk mencegah infeksi
hidung. Selama 2 hari ini dilakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari faktor
penyebab epistaksis. Bila perdarahan masih belum berhenti, dipasang tampon baru.

Selain epistaksis anterior, terdapat juga epistaksis posterior di mana sumber


perdarahan berasal dari bagian posterior hidung. Penatalaksanaan untuk epistaksis
posterior adalah:
Epistaksis Posterior1
Untuk menanggulangi perdarahan posterior dilakukan pemasangan tampon
posterior, yang disebut tampon bellocq. Tampon ini dibuat dari kasa padat dibentuk kubus
atau bulat dengan diameter 3 cm. pada tampon ini terikat 3 utas benang, 2 buah disatu sisi
dan sebuah disisi berlawanan.
Untuk memasang tampon posterior pada perdarahan satu sisi, digunakan bantuan
kateter karet yang dimasukkan dari lubang hidung sampai tampak di orofaring, lalu ditarik
keluar dari mulut. Pada ujung kateter ini diikatkan 2 benang tampon bellocq tadi,
kemudian kateter ditarik kembali melalui hidung sampai benang keluar dan dapat ditarik.
Tampon perlu didorong dengan bantuan jari telunjuk untuk dapat melewati palatum molle
masuk ke nasofaring. Bila masih ada perdarahan, maka dapat ditambah tampon anterior
kedalam kavum nasi. Kedua benang yang keluar melalui hidung diikat pada sebuah
gulungan kain kasa didepan nares anterior, supaya tampon yang terletak di nasofaringtetap
ditempatnya. Benang lain yang keluar dari mulut diikatkan secara longgar pada pipi
pasien. gunanya ialah untuk menarik tampon keluar melalui mulut setelah 2-3 hari. Hati-
hati mencabut tampon karena dapat menyebabkan laserasi mukosa.

Non medikamentosa

1. Menghindari trauma(penyebab epistaksis) dengan menggunakan alat pelindung saat


berolahraga.
2. Tidak melakukan nose blowing dan nose picking selama satu pekan apabila terpasang
tampon hidung dan tidak lupa untuk kontrol dalam waktu 48 jam berikutnya untuk
pelepasan tampon hidung
3. Buang ingus pelan-pelan
4. Memakai saline nasal spray
5. Melakukan pemeriksaan penunjang tambahan PT (Protrombin Time) untuk memastikan
hasil laboratorium PTT yang memanjang, apabila didapatkan kelainan, dapat dikonsul
ke dokter spesialis anak atau internis.
6. Diberikan edukasi mengenai cara menanggulangi epistaksis di rumah
Duduk tegak condong sedikit ke depan dan bernafas melalui mulut
Pencet hidung selama 5 menit
Dengan tangan lainnya, kompres bridge of the nose dengan es
Setelah 5 menit, lepaskan pencetan tersebut sementara ice pack tetap dipertahankan
sampai 10-15 menit
Kalau masih berdarah ulangi pencetan tersebut sampai 10 menit
Masih berdarah panggil dokter anda.

Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien ini terbagi menjadi 2, yaitu komplikasi
akibat pemasangan tampon anterior dan komplikasi akibat epistaksis yang dialami oleh
pasien. Berikut ini adalah penjelasannya.

Komplikasi akibat pemasangan tampon anterior

1. Rhinosinusitis

2. Otitis media

3. Septikemia atau toxic shock syndrome akibat bakteri atau toksin bakteri yang masuk
ke dalam peredaran darah dan menyebabkan infeksi

4. Hemotimpani akibat mengalirnya darah melalui tuba eustachius

5. Bloody tears akibat mengalirnya darah secara retrograd melalui duktus nasolakrimal

Komplikasi epistaksis

1. Aspirasi darah ke dalam saluran napas bawah


Pasien dengan epistaksis sebaiknya diperiksa dalam posisi duduk atau bila
keadaannya lemah pasien dapat berbaring dengan keadaan kepala ditinggikan
sehingga darah tidak mengalir ke saluran napas bawah.

2. Mual dan muntah akibat dari menelan darah

3. Syok, anemia, dan gagal ginjal


Perdarahan yang banyak dan lama menyebabkan anemia sehingga mengalami syok
dan gagal ginjal.
4. Hipotensi dan hipoksia
Perdarahan yang banyak mengakibatkan turunnya tekanan darah sehingga pasien
menjadi hipotensi, turunnya tekanan darah juga mengganggu penyaluran oksigen ke
jaringan sehingga terjadi hipoksia.
5. Iskemi serebri, insufisiensi koroner sampai infark miokard sehingga menyebabkan
kematian
Terjadi akibat tekanan darah yang turun mendadak sehingga organ vital tidak dapat
menyesuaikan keadaan terhadap perubahan yang terjadi.
6. Infeksi
Akibat pembuluh darah yang terbuka.

Prognosis

Ad Vitam : Bonam (Dilihat dari tanda vital pasien yang masih baik, juga karena
epistaksis yang dialami pasien termasuk epistaksis anterior, dimana biasanya darah
yang keluar tidak banyak karena berasal dari kapiler sehingga tidak mengganggu
hemodinamik)

Ad Functionam: Bonam (Dari pemeriksaan fisik hanya didapatkan laserasi pada


septum dan konka media dimana tidak terlalu mengganggu fungsi dari hidung dan
juga karena tidak ditemukan fraktur os nasi akibat trauma tersebut)

Ad Sannationam: Dubia ad bonam (Apabila pasien dapat menghindari penyebab


epistaksis (trauma) maka kemungkinan epistaksis berulang kecil. Kecurigaan akan
adanya defisiensi faktor pembekuan intrinsic juga harus dibuktikan lagi dengan
pemeriksaan penunjang)
BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hidung

Anatomi

Gambar 1. Anatomi vaskuler supplai darah septum nasi. Pleksus Kiesselbachs atau
Littles area merupakan lokasi epistaksi anterior paling banyak

Vaskularisasi

Suplai darah cavum nasi berasal dari sistem karotis yaitu arteri karotis eksterna dan
karotis interna. Arteri karotis eksterna memberikan suplai darah terbanyak pada cavum
nasi melalui:

1) Arteri Sphenopalatina
Cabang terminal arteri maksilaris yang berjalan melalui foramen sphenopalatina
yang memperdarahi septum tiga perempat posterior dan dinding lateral hidung.
2) Arteri palatina desenden
Memberikan cabang arteri palatina mayor, yang berjalan melalui kanalis incisivus
palatum durum dan menyuplai bagian inferoanterior septum nasi. Sistem karotis interna
melalui arteri oftalmika mempercabangkan arteri ethmoid anterior dan posterior yang
memperdarahi septum dan dinding lateral superior.

Pembagian perdarahan bagian-bagian hidung

Bagian atas hidung mendapatkan darah dari a.etmoid anterior dan posterior yang
merupakan cabang a.oftalmika dari a.karotis interna
Bagian bawah hidung mendapatkan darah dari a.maksilaris interna di antaranya ialah
ujung a.palatina mayor
Bagian depan hidung diperdarahi oleh a.fasialis. Pada bagian depan septum, terdapat
anastomosis dari cabang-cabang a.sfenopalatina, a.etmoid anterior, a.labialis superior,
dan a.palatina mayor yang disebut pleksus Kiesselbach yang letaknya superficial
sehingga mudah berdarah.

B. Epistaksis

Definisi
Epistaksis adalah perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau
sebab umum (kelainan sistemik). Secara patofisiologi, bisa dibedakan menjadi epistaksis
anterior dan posterior.
Anatomi dan Fisiologi

Penting kiranya mengetahui anatomi suplai darah di hidung, karena dari struktur
inilah awal epistaksis. Pemeriksa harus memperhatikan apakah sumber perdarahan berasal
dari lubang kanan atau kiri, perdarahan dari depan atau belakang,dan diatas atau dibawah
meatus media, yang secara garis besar membagi suplai darah atas dua kontributor utama,
arteri karotis eksterna dan interna.
Arteri oftalmika ( cabang dari arteri karotis interna ) mencabangkan dirinya menjadi
arteri etmoidalis anterior dan posterior, dan keduanya menyuplai darah pada superior
hidung. Arteri sfenopalatina menyuplai darah untuk separuh bagian bawah dinding hidung
lateral dan bagian posterior septum. Suplai darah lainnya berasal dari arteri karotis
eksterna dan cabang-cabang utamanya.
Semua pembuluh darah hidung saling berhubungan melalui beberapa anastomosis.
Suatu pleksus vaskular di sepanjang bagian anterior septum kartilaginosa menggabungkan
sebagian anstomosis ini (sebagian besar dari arteri etmoidalis anterior) dan dikenal sebagai
Little area atau pleksus Kiesselbach (lihat gambar). Karena ciri vaskularnya dan sering
menjadi lokasi trauma dari luar, maka daerah ini menjadi sumber perdarahan tersering
(pada anak-anak) dan biasanya berhenti spontan, dikenal dengan epistaksis atau
perdarahan anterior.

Etiologi
Seringkali epistaksis timbul spontan tanpa dapat diketahui penyebabnya, kadang-
kadang jelas disebabkan karena trauma. Epistaksis dapat disebabkan oleh kelainan lokal
pada hidung atau kelainan sistemik.2
Kelainan lokal
1. Trauma
Epistaksis yang berhubungan dengan neoplasma biasanya mengeluarkan secret
dengan kuat, bersin, mengorek hidung, trauma seperti terpukul, jatuh dan
sebagainya. Selain itu iritasi oleh gas yang merangsang dan trauma pada
pembedahan dapat juga menyebabkan epistaksis.
2. Infeksi
Infeksi hidung dan sinus paranasal, rinitis, sinusitis serta granuloma spesifik,
seperti lupus, sifilis dan lepra dapat menye-babkan epistaksis.
3. Neoplasma
Epistaksis yang berhubungan dengan neoplasma biasanya sedikit dan
intermiten, kadang-kadang ditandai dengan mukus yang bernoda darah,
Hemongioma, karsinoma, serta angiofibroma dapat menyebabkan epistaksis berat.
4. Kelainan kongenital
Kelainan kongenital yang sering menyebabkan epistaksis ialah perdarahan
telangiektasis heriditer (hereditary hemorrhagic telangiectasia/Osler's disease).
Pasien ini juga menderita telangiektasis di wajah, tangan atau bahkan di traktus
gastrointestinal dan/atau pembuluh darah paru.
5. Sebab-sebab lain termasuk benda asing dan perforasi septum.
Perforasi septum nasi atau abnormalitas septum dapat menjadi predisposisi
perdarahan hidung. Bagian anterior septum nasi, bila mengalami deviasi atau
perforasi, akan terpapar aliran udara pernafasan yang cenderung mengeringkan
sekresi hidung. Pembentukan krusta yang keras dan usaha melepaskan dengan jari
menimbulkan trauma digital. Pengeluaran krusta berulang menyebabkan erosi
membrana mukosa septum dan kemudian perdarahan.
6. Pengaruh lingkungan
Misalnya tinggal di daerah yang sangat tinggi, tekanan udara rendah atau
lingkungan udaranya sangat kering.
Sistemik
1. Kelainan darah misalnya trombositopenia, hemofilia dan leukemia
2. Penyakit kardiovaskuler
Hipertensi dan kelainan pembuluh darah, seperti pada aterosklerosis, nefritis
kronik, sirosis hepatis, sifilis, diabetes melitus dapat menyebabkan epistaksis.
Epistaksis akibat hipertensi biasanya hebat, sering kambuh dan prognosisnya tidak
baik.
3. Biasanya infeksi akut pada demam berdarah, influenza, morbili, demam tifoid
4. Gangguan endokrin
Pada wanita hamil, menarche dan menopause sering terjadi epistaksis, kadang-
kadang beberapa wanita mengalami perdarahan persisten dari hidung menyertai fase
menstruasi
Patofisiologi
Hidung kaya akan vaskularisasi yang berasal dari arteri karotis interna dan arteri
karotis eksterna. Arteri karotis eksterna menyuplai darah ke hidung melalui
percabangannya arteri fasialis dan arteri maksilaris. Arteri labialis superior merupakan
salah satu cabang terminal dari arteri fasialis. Arteri ini memberikan vaskularisasi ke nasal
arterior dan septum anterior sampai ke percabangan septum. Arteri maksilaris interna
masuk ke dalam fossa pterigomaksilaris dan memberikan enam percabangan : a.alveolaris
posterior superior, a.palatina desenden , a.infraorbitalis, a.sfenopalatina, pterygoid canal
dan a. pharyngeal. Arteri palatina desenden turun melalui kanalis palatinus mayor dan
menyuplai dinding nasal lateral, kemudian kembali ke dalam hidung melalui percabangan
di foramen incisivus untuk menyuplai darah ke septum anterior.
Arteri karotis interna memberikan vaskularisasi ke hidung. Arteri ini masuk ke
dalam tulang orbita melalui fisura orbitalis superior dan memberikan beberapa
percabangan. Arteri etmoidalis anterior meninggalkan orbita melalui foramen etmoidalis
anterior. Arteri etmoidalis posterior keluar dari rongga orbita, masuk ke foramen
etmoidalis posterior, pada lokasi 2-9 mm anterior dari kanalis optikus. Kedua arteri ini
menyilang os ethmoid dan memasuki fossa kranial anterior, lalu turun ke cavum nasi
melalui lamina cribriformis, masuk ke percabangan lateral dan untuk menyuplai darah ke
dinding nasal lateral dan septum.
Pleksus kiesselbach yang dikenal dengan little area berada diseptum kartilagenous
anterior dan merupakan lokasi yang paling sering terjadi epistaksis anterior. Sebagian
besar arteri yang memperdarahi septum beranastomosis di area ini.
Sebagian besar epistaksis (95%) terjadi di little area. Bagian septum nasi anterior
inferior merupakan area yang berhubungan langsung dengan udara, hal ini menyebabkan
mudah terbentuknya krusta, fisura dan retak karena trauma pada pembuluh darah tersebut.
Walaupun hanya sebuah aktifitas normal dilakukan seperti menggosok-gosok hidung
dengan keras, tetapi hal ini dapat menyebabkan terjadinya trauma ringan pada pembuluh
darah sehingga terjadi ruptur dan perdarahan. Hal ini terutama terjadi pada membran
mukosa yang sudah terlebih dahulu mengalami inflamasi akibat dari infeksi saluran
pernafasan atas, alergi atau sinusitis.

Lokasi
Menurunkan sumber perdarahan amat penting, meskipun kadang-kadang sukar
ditanggulangi. Pada umumnya terdapat dua sumber perdarahan, yaitu dari bagian anterior
dan posterior.
1) Epistaksis anterior dapat berasal dari Pleksus Kiesselbach, merupakan sumber
perdarahan paling sering dijumpai anak-anak. Perdarahan dapat berhenti sendiri
(spontan) dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana.
2) Epistaksis posterior, berasal dari arteri sphenopalatina dan arteri ethmoid posterior.
Perdarahan cenderung lebih berat dan jarang berhenti sendiri, sehingga dapat
menyebabkan anemia, hipovolemi dan syok. Sering ditemukan pada pasien dengan
penyakit kardiovaskular.

Gambaran klinis dan pemeriksaan


Pasien sering menyatakan bahwa perdarahan berasal dari bagian depan dan belakang
hidung. Perhatian ditujukan pada bagian hidung tempat awal terjadinya perdarahan atau
pada bagian hidung yang terbanyak mengeluarkan darah.
Untuk pemeriksaan yang adekuat pasien harus ditempatkan dalam posisi dan
ketinggian yang memudahkan pemeriksa bekerja. Harus cukup sesuai untuk
mengobservasi atau mengeksplorasi sisi dalam hidung. Dengan spekulum hidung dibuka
dan dengan alat pengisap dibersihkan semua kotoran dalam hidung baik cairan, sekret
maupun darah yang sudah membeku; sesudah dibersihkan semua lapangan dalam hidung
diobservasi untuk mencari tempat dan faktor-faktor penyebab perdarahan.
Setelah hidung dibersihkan, dimasukkan kapas yang dibasahi dengan larutan
anestesi lokal yaitu larutan pantokain 2% atau larutan lidokain 2% yang ditetesi larutan
adrenalin 1/1000 ke dalam hidung untuk menghilangkan rasa sakit dan membuat
vasokontriksi pembuluh darah sehingga perdarahan dapat berhenti untuk sementara.
Sesudah 10 sampai 15 menit kapas dalam hidung dikeluarkan dan dilakukan evaluasi.
Pasien yang mengalami perdarahan berulang atau sekret berdarah dari hidung yang
bersifat kronik memerlukan fokus diagnostik yang berbeda dengan pasien dengan
perdarahan hidung aktif yang prioritas utamanya adalah menghentikan perdarahan.
Pemeriksaan yang diperlukan berupa:
a) Rinoskopi anterior
Pemeriksaan harus dilakukan dengan cara teratur dari anterior ke posterior.
Vestibulum, mukosa hidung dan septum nasi, dinding lateral hidung dan konkhainferior
harus diperiksa dengan cermat.
b) Rinoskopi posterior
Pemeriksaan nasofaring dengan rinoskopi posterior penting pada pasien dengan
epistaksis berulang dan sekret hidung kronik untuk menyingkirkan neoplasma.

c) Pengukuran tekanan darah


Tekanan darah perlu diukur untuk menyingkirkan diagnosis hipertensi, karena
hipertensi dapat menyebabkan epistaksis yang hebat dan sering berulang.
d) Rontgen sinus
Rontgen sinus penting mengenali neoplasma atau infeksi.
e) Skrining terhadap koagulopati
Tes-tes yang tepat termasuk waktu protrombin serum, waktu tromboplastin
parsial, jumlah platelet dan waktu perdarahan.
f) Riwayat penyakit
Riwayat penyakit yang teliti dapat mengungkapkan setiap masalah kesehatan
yang mendasari epistaksis.

Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan epistaksis ialah perbaiki keadaan umum, cari sumber
perdarahan, hentikan perdarahan, cari factor penyebab untuk mencegah berulangnya
perdarahan.
Bila pasien datang dengan epistaksis, perhatikan keadaan umumnya, nadi,
pernafanasan serta tekanan darahnya. Bila ada kelainan, atasi terlebih dulu misalnya
dengan memasang infuse. Jalan napas dapat tersumbat oleh darah atau bekuan darah, perlu
dibersihkan atau diisap.
Untuk dapat menghentikan perdarahan perlu dicari sumbernya, setidaknya dilihat
apakah perdarahan dari anterior atau posterior. Alat-alat yang diperlukan untuk
pemeriksaan ialah lampu kepala, speculum hidung dan alat pengisap. Anamnesis yang
lengkap sangat membantu dalam menentukan sebab perdarahan.
Pasien dengan epistaksis diperiksa dalam posisi duduk, biarkan darah mengalir
keluar hidung sehingga bias dimonitor. Kalau keadaannya lemah sebaiknya setengah
duduk atau berbaring dengan kepala ditinggikan. Harus diperhatikan jangan sampai darah
mengalir ke saluran napas bawah. Pasien anak duduk dipangku, badan dan tangan dipeluk
, kepala dipegangi agar tegak dan tidak bergerak-gerak.
Sumber perdarahan dicari untuk membersihkan hidung dari darah dan bekuan darah
dengan bantuan alat pengisap. Kemudian pasang tampon sementara yaitu kapas yang telah
dibasahi dengan adrenalin 1/5000-1/10000 dan pantocain 2% dimasukkan kedalam rongga
hidung untuk menghentikan perdarahan mengurangi rasa nyeri pada saat dilakukan
tindakan selanjutnya. Tampon itu dibiarkan selama 10-15 menit. Setelah terjadi
vasokonstriksi biasanya dapat dilihat apakah perdarahan berasal dari bagian anterior atau
posterior hidung.

Menghentikan perdarahan
Perdarahan Anterior
Perdarahan anterior seringkali berasal dari pleksus kisselbach di septum bagian
depan. Apabila tidak berhenti dengan sendirinya, perdarahan anterior, terutama pada
anak, dapat dicoba di hentikan dnegan menekan hidung dari luar selama 10-15 menit,
seringkali berhasil.
Bila sumber perdarahan dapat terlihat, tempat asal perdarahan dikaustik dengan
larutan Nitras Argenti (AgNO3) 25-30%. Sesudahnya area tersebut diberi krim
antibiotic. Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung, maka perlu
dilakukan pemasangan tampon anterior yang dibuat dari kapas atau kasa yang diberi
pelumas vaselin atau salep antibiotic. Pemakaian pelumas ini agar tampon mudah
dimasukkan dan tidak menimbulkan perdarahan baru saat dimasukkan atau dicabut.
Tampon dimasukkan sebanyak 2-4 buah, disusun dengan teratur dan harus dapat
menekan asal perdarahan. Tampon dipertahankan selama 2x24 jam, harus dikeluarkan
untuk mencegah infeksi hidung. Selama 2 hari ini dilakukan pemeriksaan penunjang
untuk mencari factor penyebab epistaksis. Bila perdarahan masih belum berhenti,
dipasang tampon baru.
Perdarahan Posterior
Perdarahan dari bagian posterior lebih sulit diatasi, sebab biasanya perdarahan
hebat dan sulit dicari sumbernya dengan pemeriksaan rhinoskopi anterior. Untuk
menanggulangi perdarahan posterior dilakukan pemasangan tampon posterior, yang
disebut tampon bellocq. Tampon ini dibuat dari kasa padat dibentuk kubus atau bulat
dengan diameter 3 cm. pada tampon ini terikat 3 utas benang, 2 buah disatu sisi dan
sebuah disisi berlawanan.
Untuk memasang tampon posterior pada perdarahan satu sisi, digunakan bantuan
kateter karet yang dimasukkan dari lubang hidung sampai tampak di orofaring, lalu
ditarik keluar dari mulut. Pada ujung kateter ini diikatkan 2 benang tampon bellocq
tadi, kemudian kateter ditarik kembali melalui hidung sampai benang keluar dan dapat
ditarik. Tampon perlu didorong dengan bantuan jari telunjuk untuk dapat melewati
palatum molle masuk ke nasofaring. Bila masih ada perdarahan, maka dapat ditambah
tampon anterior kedalam kavum nasi. Kedua benang yang keluar melalui hidung diikat
pada sebuah gulungan kain kasa didepan nares anterior, supaya tampon yang terletak di
nasofaringtetap ditempatnya. Benang lain yang keluar dari mulut diikatkan secara
longgar pada pipi pasien. gunanya ialah untuk menarik tampon keluar melalui mulut
setelah 2-3 hari. Hati-hati mencabut tampon karena dapat menyebabkan laserasi
mukosa.

Bila perdarahan berat dari kedua sisi, misalnya pada kasus angiofibroma,
digunakan bantuan dua kateter masing-masing melalui kavum nasi kanan dan kiri, dan
tampon posterior terpasang ditengah-tengah nasofaring. Sebagai pengganti tampon
bellocq, dapat digunakan kateter folley dengan balon. Akhir-akhir ini juga banyak
tersedia tampon buatan pabrik dengan balon yang khusus untuk hidung atau tampon
dari bahan gel hemostatik. Dengan semakin meningkatnya pemakaian endoskop, akhir-
akhir ini juga dikembangkan teknik kauterisasi atau ligasi a.sfenopalatina dengan
panduan endoskop.

Komplikasi dan pencegahan


Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat dari epistaksisnya sendiri atau sebagai akibat
dari usaha penanggulangan epistaksis. Akibat perdarahan yang hebat dapar terjadi aspirasi
darah kedalam saluran napas bawah, juga dapat menyebabkan syok, anemia, dan gagal
ginjal. Turunnya tekanan darah secara mendadak dapat menimbulkan hipotensi, hipoksia,
iskemia serebri, insufisiensi koroner sampai infark miokard sehingga dapat menyebabkan
kematian. Dalam hal ini pemberian infuse atau transfuse darah harus dilakukan
secepatnya. Akibat pembuluh darah yang terbuka dapat terjadi infeksi, sehingga perlu
diberikan antibiotic.
Pemasangan tampon dapat menyebabkan rinosinusitis, otitis media, septicemia, atau
toxic shock syndrome. Oleh karena itu, harus selalu diberikan antibiotic pada setiap
pemasangan tampon hidung, dan setelah 2-3 hari tampon harus dicabut. Bila perdarahan
masih berlanjut dipasang tampon baru. Selain itu dapat terjadi hemotimpanum sebagai
akibat mengalirnya darah melalui tuba eustachius, dan airmata berdarah akibat
mengalirnya darah secara retrograde melalui duktus nasolacrimalis.
Pemasangan tampon posterior (tampon bellocq) dapat menyebabkan laserasi
palatum molle atau sudut bibir, jika benang yang keluar dari mulut terlalu ketat dilekatkan
pada pipi. Kateter balon atau tampon balon tidak boleh dipompa terlalu keras karena dapat
menyebabkan nekrosis mukosa hidung atau septum.
Setelah perdarahan untuk sementara dapat diatasi dengan pemasangan tampon,
selanjutnya perlu dicari penyebabnya. Perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium darah
lengkap, pemeriksaan fungsi hepar dan ginjal, gula darah, hemostasis. Pemeriksaan foto
polos atau CT scan sinus bila dicurigai ada sinusitis. Konsul ke penyakiyt dalam atau
kesehatan anak bila dicurigai ada kelainan sistemik.
BAB V
KESIMPULAN

Epistaksis adalah keluarnya darah dari hidung dan merupakan suatu gejala bukan
penyakit. Epistaksis terbagi dua berdasarkan sumber perdarahannya yaitu epistaksis anterior
dan epistaksis posterior. Pada epistaksis anterior, perdarahan berasal dari pleksus kiesselbach
(yang paling sering terjadi dan biasanya pada anak-anak). Pada epistaksis posterior,
perdarahan berasal dari arteri sfenopalatina dan arteri ethmoidalis posterior, sering terjadi
pada pasien usia lanjut yang menderita hipertensi, arteriosclerosis, atau penyakit
kardiovaskuler dan perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti spontan. Tiga prinsip
utama dalam menanggulangi epistaksis, yaitu menghentikan perdarahan secara aktif seperti
dengan cara kaustik dan pemasangan tampon, mencegah komplikasi baik sebagai akibat
langsung epistaksis atau akibat usaha penanggulangan epistaksis dan mencegah berulangnya
epistaksis.
DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi AE, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti DR. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidumg Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi keenam. Fakultas Kedokteran
Indonesia. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2008. Hal 155-159.
2. Ichsan Mohammad. Penatalaksanaan Epistaksis. Laboratorium/SMF Bagian Telinga,
Hidung dan Tenggorokan Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala/ Rumah Sakit
Umum Zainoel Abidin, Darussalam Banda Aceh, Aceh. Diunduh dari :
http/www.cermin dunia kedokteran.com. No 132, thn 2001, hal 43-46.