Anda di halaman 1dari 176

PENGENALAN EOR

(113161572)
Pertemuan Ke-1
Pengertian dan Tujuan EOR

1
Deskripsi
Memahami pengertian dari Perolehan
minyak tahap lanjut (EOR) dan faktor-
faktor yang mempengaruhi
keberhasilannya.
Perolehan Minyak Tahap Lanjut (EOR) adalah berbagai
cara yang dilakukan untuk meningkatkan laju produksi
dari suatu sumur, tanpa merusak formasi dari reservoir
yang ada, sehingga faktor perolehan dari sumur
meningkat.
Perolehan Minyak Tahap Lanjut (EOR) merupakan
perolehan minyak dengan cara menginjeksikan suatu
zat yang berasal dari salah satu atau beberapa metode
pengurasan yang menggunakan energi luar reservoir.

2
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Mengetahui pengertian dan tujuan
pelaksanaan Produksi Tahap Lanjut.
Memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi keberhasilan Produksi
Tahap Lanjut.)

3
Primary Recovery
Tahapan Produksi
EOR

Secondary Tertiary

Immiscible Miscible Thermal Chemical


Flood Flood Injection Injection MEOR

Water Flood Gas Flood

4
Tujuan EOR
Meningkatkan factor perolehan minyak
Mengurangi saturasi minyak residual (Sor)
Menurunkan viskositas minyak yang terdapat
dalam reservoir
Mengurangi tekanan kapiler pada system fluida-
batuan reservoir
Memberikan driving force pada laju produksi
minyak yang sudah rendah
Meningkatkan areal sweep efficiency
(bergantung pada karakteristik reservoir)

5
Beberapa faktor yang dirasakan penting dalam
menentukan keberhasilan suatu metode EOR adalah:

Faktor-Faktor Ditinjau dari Kondisi


Reservoir:
1. Kedalaman
2. Kemiringan
3. Tingkat homogenitas
4. Sifat-sifat petrofisik
5. Mekanisme pendorong

6
Faktor-Faktor Ditinjau dari Kondisi Fluida
Reservoir
1. Cadangan minyak sisa
2. Saturasi minyak sisa
3. Viskositas minyak

7
Beberapa faktor penting yang sangat berpengaruh
terhadap keberhasilan EOR antara lain :

Mobilitas fluida
Perbandingan mobilitas fluida
Pola sumur injeksi-produksi
Efisiensi pendesakan
Efisiensi penyapuan volumetrik

8
Contoh soal
1. Jelaskan pengertian tahap secondary dan
tahap tertiary didalam EOR dan metode-
metode apa saja yang termasuk didalam
masing-masing tahapan tersebut.
2. Apa tujuan dilakukan EOR dan faktor-
faktor apa saja yang mempengaruhi
keberhasilan EOR.

9
Ringkasan Materi
Pengertian EOR
Tujuan EOR
Tahapan Produksi
Faktor-faktor yang mempengaruhi
didalam keberhasilan EOR

10
Referensi
Latil M, Bardon C, Burger J, Soureau P.,Enhanced Oil
Recovery, Graham Trotman Ltd, London, 1980.
Amyx, J.W.Bass, D.M.,Jr., Whitting,R.L, Petroleum
Reservoir Engineering Physical Properties, Mc.Graw Hill
Book Co.Inc., New York, 1960.
Gomma.E.Ezzat.DR., Key Reservoir Parameter in
Enchanced Oil Recovery Processes, Simposiun Nasional,
2005.
Van Poolen,H.K.,and Association Inc,Fundamentals of
Enhanced Oil Recovery, Pen Well Books Division of
Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1980.
Water Flooding, SPE Reprint Series, 2003.
Kristanto Dedy,Dr.Ir.MT., Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, UPN Veteran, Yogyakarta, 2005.
Septoratno Siregar, Dr.Ir, Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, ITB, Bandung, 1995.

11
PENGENALAN EOR
(113161572)
Pertemuan Ke-2
ASPEK-ASPEK TEKNIK
RESERVOIR DALAM EOR

1
Deskripsi
Mengetahui lebih lanjut peranan dari
karakteristik reservoir yaitu karakteristik
batuan dan fluida reservoir, kondisi
reservoir (tekanan dan temperatur) dan
jenis-jenis reservoir yang digunakan untuk
menentukan metoda produksi tahap lanjut
(EOR) sehingga perolehan minyak
meningkat.

2
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Memahami aspek-aspek reservoir yang
akan mempengaruhi metoda produksi
tahap lanjut.
Memahami secara detail peran sifat-sifat
fisik reservoir di dalam metode produksi
tahap lanjut.

3
Parameter-Parameter Dalam
Pendesakan

Seluruh proses EOR akan menyebabkan


terjadinya proses pendesakan dimana
satu fasa (fluida injeksi) akan mendesak
fasa yang lain (minyak) dalam suatu
ruang pori batuan reservoir.

4
A. Wetabilitas Batuan Reservoir

Definisi :
kecenderungan suatu fluida untuk
membasahi atau melekat pada suatu
padatan, dimana ditunjukkan dengan
besarnya sudut kontak yang berharga 0o
sampai 180o.

5
Penampakan Skematik dari Wetabilitas

6
Sistem Wetabilitas Minyak dalam Air

7
Pengaruh wetabilitas:

Distribusi fluida dalam system pori karena


wetabilitas batuan mengontrol distribusi
fasa fluida secara mikroskopik.
Pergerakan fluida karena permeabilitas
relative dipengaruhi oleh wetabilitas
batuan.

8
Proses Imbibisi dan Drainage
Proses pendesakan dikatagorikan ke dalam 2 tipe
tergantung pada wetabilitas dari batuan reservoir, juga
berhubungan dengan displacing fluid (fluida pendesak) dan
displaced fluid (fluida yang didesak).

Jika fluida pendesaknya wetting phasa maka proses


pendesaknya digolongkan pada proses imbibisi, sedangkan
jika fluida pendesaknya non-wetting maka proses
pendesakannya digolongkan proses drainage.

Contoh dari proses imbibisi adalah injeksi air ke dalam


batuan reservoir yang water-wet. Contoh dari proses
drainage adalah perpindahan minyak ke dalam reservoir
water-saturated dengan wettabilitas water-wet.

9
Tipe-tipe Proses Pendesakan

10
B. Interfacial Tension
Definisi :
Merupakan gaya persatuan panjang yang
diperlukan untuk membentuk suatu
permukaan baru atau secara matematis
(Persamaan Young-Dupree) :

OS WS OW cosC

11
OS WS OW cosC
Dimana :
OS = interfacial energy antara minyak dan permukaan
padatan, dynes/cm.
WS
= interfacial energy antara air dan permukaan padatan,
OW dynes/cm.
C = interfacial energy antara minyak dan air, dynes/cm.
= sudut kontak yang dibuat oleh permukaan fluida
dengan permukaan padatan.

12
Pengukuran sudut kontak

w o
so
so sw

cos
wo
wo

so sw

Oil Water Solid

13
Pengaruh IFT:
IFT mempengaruhi tekanan kapiler
sehingga akan mempengaruhi distribusi
dan aliran fluida.

IFT adalah indicator miscibility, dimana


jika IFT tinggi maka mengindikasikan
fluida yang tidak tercampur, sedangkan
IFT rendah maka mengindikasikan fluida
tercampur.

14
C. Tekanan Kapiler
Definisi :
Perbedaan tekanan yang ada antara
permukaan dua fluida yang tidak
bercampur (cairan-cairan atau cairan-gas)
sebagai akibat terjadinya pertemuan
permukaan memisahkan mereka.

Perbedaan tekanan dua fluida ini adalah perbedaan


tekanan antara fluida non-wetting phasa dengan
fluida wetting phasa.
15
Definisi Tekanan Kapiler

16
Drainage
Saat non-wetting phasa mendesak wetting phasa
(seperti perpindahan minyak ke dalam reservoir
bersaturasi air) prosesnya disebut dengan
pendesakan drainage.
Non-wetting phasa yang masuk ke dalam pori
akan menyebabkan kenaikan tekanan kapiler
yang diasosiasikan dengan ukuran pori.
Saat proses drainage berlangsung, saturasi
wetting phasa akan turun dan tekanan kapiler
akan naik. Hal ini berlangsung sampai wetting
phasa mencapai harga irreduciblenya (Swc).

17
Kurva Drainage Tekanan Kapiler

18
Imbibition

Saat wetting phasa mendesak non-wetting


phasa (seperti injeksi air kedalam
reservoir minyak) prosesnya disebut
dengan pendesakan imbibition.
Saturasi wetting phasa selama proses
imbibisi berlangsung akan naik dan
tekanan kapiler akan turun. Hal ini akan
berlangsung hingga saturasi non-wetting
phasa mencapai harga residualnya (Snr).
19
D. Permeabilitas Relatif
Definisi :
suatu bilangan yang menunjukkan
kemampuan dari suatu batuan untuk
mengalirkan fluida.

20
Berdasarkan jumlah fasa yang mengalir dalam batuan
reservoir, permeabilitas dibedakan menjadi tig a, yaitu :

Permeabilitas absolut, adalah yaitu dimana


fluida yang mengalir melalui media berpori
tersebut hanya satu fasa, misalnya hanya minyak
atau gas saja.
Permeabilitas efektif, yaitu permeabilitas
batuan dimana fluida yang mengalir lebih dari
satu fasa, misalnya minyak dan air, air dan gas,
gas dan minyak atau ketiga-tiganya.
Permeabilitas relatif, merupakan perbandingan
antara permeabilitas efektif dengan permeabilitas
absolut.

21
Hal penting untuk kurva permeabilitas efektif sistem minyak-
air, yaitu :

ko akan turun dengan cepat jika Sw bertambah


dari nol, demikian juga kw akan turun dengan
cepat jika Sw berkurang dari satu, sehingga
dapat dikatakan untuk So yang kecil akan
mengurangi laju aliran minyak karena ko-nya
yang kecil, demikian pula untuk air.
Harga ko dan kw selalu lebih kecil dari harga k,
sehingga diperoleh persamaan :

ko k w 1

22
Kurva krelatif Sistem Air-Minyak

23
Harga kro dan krw berkisar antara 0 sampai 1,
sehingga diperoleh persamaan :

kro krw 1
Harga Krg dan Krw untuk sistem gas dan air
selalu lebih kecil dari satu atau :

krg krw 1

24
E. Perbandingan Mobilitas Fluida
Definisi :
Mobilitas fluida didefinisikan sebagai
perbandingan antara permeabilitas efektif dan
viskositasnya yang merupakan ukuran
kemampuan fluida untuk mengalir dalam media
berpori.

Mobilitas relatif adalah perbandingan


permeabilitas relatif dan viskositas.

25
o
ko dan
ro k ro
o o

kw
w dan rw k rw
w w

26
Dalam proses pendesakan, perbandingan antara
mobilitas dari fluida pendesak (displacing fluid)
dengan fluida yang didesak (displaced fluid)
dapat dikatakan sebagai mobilitas rasio.

M w
rw
o ro
Perbandingan mobilitas adalah merupakan salah
satu dari faktor-faktor yang penting yang akan
mempengaruhi perilaku proses pendesakan.
Secara umum, pendesakan dengan mobilitas
rasio yang rendah hasilnya akan lebih baik.
27
Contoh Soal
1. Jelaskan aspek-aspek karakteristik
reservoir yang berpengaruh di dalam
proses pendesakan.

28
Ringkasan Materi
Karakteristik reservoir baik batuan maupun fluida
reservoir sangat menentukan didalam
keberhasilan metode EOR.
Karakteristik yang berperan dalam metode EOR
adalah :
- Wetabilitas
- Interfacial tension
- Tekanan kapiler
- Permeabilitas relatif
- Perbandingan mobilitas

29
Referensi
Latil M, Bardon C, Burger J, Soureau P.,Enhanced Oil
Recovery, Graham Trotman Ltd, London, 1980.
Amyx, J.W.Bass, D.M.,Jr., Whitting,R.L, Petroleum
Reservoir Engineering Physical Properties, Mc.Graw Hill
Book Co.Inc., New York, 1960.
Gomma.E.Ezzat.DR., Key Reservoir Parameter in
Enchanced Oil Recovery Processes, Simposiun Nasional,
2005.
Van Poolen,H.K.,and Association Inc,Fundamentals of
Enhanced Oil Recovery, Pen Well Books Division of
Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1980.
Water Flooding, SPE Reprint Series, 2003.
Kristanto Dedy,Dr.Ir.MT., Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, UPN Veteran, Yogyakarta, 2005.
Septoratno Siregar, Dr.Ir, Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, ITB, Bandung, 1995.

30
Pengenalan EOR
(113161572)
Pertemuan Ke-3
PENDESAKAN TAK TERCAMPUR
(IMMISCIBLE DISPLACEMENT) PADA
MEDIA BERPORI

1
1. Deskripsi
Pengertian dasar konsep pendesakan tak
tercampur (immiscible displacement) pada
media berpori.
Mekanisme pendesakan minyak oleh air
pada prinsipnya adalah bahwa air
bergerak dari daerah saturasi air yang
tinggi ke daerah saturasi air yang rendah.
Karena itu air akan mendesak minyak
dengan mengubah daerah yang telah
didesaknya menjadi bersaturasi air lebih
tinggi.
2
2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Memahami konsep pendesakan satu
dimensi (linier).
Memahami dan dapat menganalisa
Pengembangan Persamaan Fraksi Aliran
(Fractional Flow).

3
3. Keadaan Proses Pendesakan

Ar a h P e n d e s a k a n

4
4. Di dalam segi pendesakan dikenal dua
konsep:

1. Piston Like Displacement

5
Anggapan yang digunakan adalah menganggap
bahwa minyak tersapu seluruhnya oleh air,
sehingga yang tertinggal di belakang front adalah
minyak residu.

Pendesakan torak menganggap bahwa


dibelakang front hanya fluida pendesak (air) yang
mengalir, sedang didepan front hanya fluida yang
didesak (minyak) yang mengalir.

6
2. Leaky Piston Like Displacement

7
Pendesakan frontal menganggap saturasi fluida pendesak
(air) di zona minyak yang telah didesak bervariasi dari (1-
Sor) hingga Swf. Harga (Sw = 1-Sor) adalah saturasi air
pada titik injeksi, sedang harga (Sw = Swf) adalah saturasi
air pada front.

Dibelakang front, saturasi minyak berkisar dari (Sor) pada


titik injeksi (x = o) hingga (So = 1 Swf) pada front. Ini
berarti masih ada minyak yang mengalir bersama-sama
dengan air di belakang front. Sebaliknya hanya minyak yang
mengalir di muka front apabila (Sw = Swc) yang tidak lain
adalah saturasi ekuilibrium dari air.

8
5. Pengembangan Persamaan Fraksi Aliran (Fractional Flow)

Persamaan fraksi aliran adalah model kuantitatif untuk


menghitung besarnya fraksi aliran dari total fluida yang
mengalir pada proses pendesakan air secara linier.

Fraksi aliran adalah fungsi dari saturasi sepanjang variasi


permeabilitas relatif. Plot antara fraksi aliran versus saturasi
fluida pendesak disebut kurva fraksi aliran (fractional flow
curve), yang biasanya berbentuk kurva S.

Pendesakan minyak oleh air terjadi pada kondisi reservoir


water wet (proses imbibisi) yang terdapat pada reservoir
horizontal dan miring.

9
PRODUKSI
qt
h

L
qj
z
INJEKSI y s

10
- Asumsi- asumsi yang digunakan :

Pendesakan linier
Artinya aliran fluida hanya dalam satu arah dimana efek
gravity diabaikan, tidak mempertimbangkan arah arus aliran
dan diasumsikan sebagai model line drive dimana jarak
antara sumur injeksi dan produksi simetri.

Immiscible displacement
Artinya tidak terjadi pencampuran antara fluida pendesak
dan fluida yang didesak.

Incompressible fluid
Artinya factor kompresibilitas dari fluida tidak diperhitungkan
sehingga terjadi aliran steady state (mantap).

11
- Tahapan Perhitungan:
Besarnya laju alir dianggap konstan. Sehingga :

qt qi qo qw
Rumus Darcy untuk aliran linier :

kA d o kA dp dz
q g
dL dL dL

1.127x10 3 ko A dpo
qo dL 0.433 sin
o
o

1.127x103 kw A dpw
qw dL 0.433 sin
w
w

12
Dari persamaan (2) dan (3) didapatkan :

qoo dpo
3
0.433 o sin
1.127x10 koA dL

dan
qww dpw
3
0.433 w sin
1.127x10 k wA dL

Pengurangan dari persamaan (4) dan (5) maka :

1 q w w q o o dp w dpo
3
( ) 0.433( w o ) sin
1.127x10 A k w ko dL dL

13
Tekanan kapiler didefinisikan :

Pc Po Pw

Perbedaan specific gravity antara air dan minyak dinyatakan :

w o
Didefinisikan :
qw qw
fw
qt q w qo

dimana fw merupakan fraksi aliran air.

1.127 x10 3 A k o Pc
1 0.433xx sin
qt o L
fw
1 w o
k
o k w
14
Untuk reservoir horizontal, persamaan fraksi aliran sebagai berikut :

1
fw
w ko
1
o k w

15
- Analisa Persamaan Fraksi Aliran
Dalam satuan lapangan persamaan fraksi aliran untuk
pendesakan tak tercampur linear pada media berpori
dinyatakan sebagai berikut:

1.127 x103 A k o Pc 0.433xx sin


1
qt o L
fw
k
1 w o
o k w

Jika fw = 1 (100 % air yang mengalir, tidak ada aliran minyak)


Jika fw = 0 (100 % minyak yang mengalir, tidak ada aliran air)
Harga fw yang besar menunjukkan efisiensi pendesakan minyak oleh
air kecil.
Harga fw yang kecil menunjukkan efisiensi pendesakan minyak oleh air
besar.

16
- Persamaan fraksi aliran dipengaruhi oleh :
1. Viskositas Fluida
2. Permeabilitas relatif minyak dan air

Keterangan :
Pada harga saturasi tertentu, fraksi aliran fluida pendesak akan
mengecil pada mobilitas rasio yang kecil. Akibatnya terjadi
keterlambatan breakthrough dan meningkatkan efisiensi
pendesakan pada volume yang diinjeksikan. Dengan kata
lain, efisiensi pendesakan pada abondonment akan lebih
tinggi pada mobilitas rasio yang lebih kecil karena
berkurangnya producing cut dari fluida pendesak.

17
3. Gaya Gravitasi

Keterangan :
Jika harga (Ng sin ) besar, gaya gravitasional akan cukup
berpengaruh kuat terhadap kurva fraksi aliran. Harga positif
yang lebih tinggi dari Ng sin menurunkan fraksi aliran
fluida pendesak pada saturasinya. Jadi pengaruh gaya
gravitasional positif sama dengan pengaruh mobilitas rasio
yang kecil.

18
- Pengaruh Mobilitas Rasio dan Gaya Gravitasional
terhadap kurva Fractional Flow
( Gomaa, E.E.1995.)

1
Nog sin < 0
o
Fractional Flow M > 1

o
N g sin = 0
Mo= 1

o
N g sin > 0
Mo < 1
0 Displacing Fluid Saturation 1

19
- Pengaruh Mobilitas Rasio dan Gaya Gravitasional
terhadap Efisiensi Pendesakan
( Gomaa, E.E,1995.)

1
Ultimate Displac ement Efficienc y After Breakthrough
Displac ement Efficiency

o
M o < 1 and N g sin >0

Breakthrough
M o = 1 and No sin = 0
g

M o > 1 and Nog sin < 0


0
Pore Volumes Injec ted

20
4. Gradien tekanan kapiler
5. Sudut kemiringan lapisan

Keterangan :
Pengaruh dari tekanan kapiler adalah untuk menaikkan
fraksional flow fluida pendesak pada sebuah harga saturasi.

21
1
High Mobility ratio
Negative gravity forces

High capillary
pressure

fw

Low Mobility ratio


Positive gravity forces

0
0 1
Sw
22
Contoh soal
1. Sebutkan dan jelaskan konsep-konsep
pendesakan pada injeksi air.
2. Sebutkan kriteria seleksi untuk dilakukan
injeksi air.

23
Ringkasan Materi
Pada pendesakan tak tercampur dikenal
dua konsep pendesakan yaitu piston like
dan leaky piston like.
Untuk menghitung besarnya fraksi aliran
dari total fluida yang mengalir pada
proses pendesakan air secara linier
dengan pengembangan persamaan fraksi
aliran.

24
Referensi
Latil M, Bardon C, Burger J, Soureau P.,Enhanced Oil
Recovery, Graham Trotman Ltd, London, 1980.
Amyx, J.W.Bass, D.M.,Jr., Whitting,R.L, Petroleum
Reservoir Engineering Physical Properties, Mc.Graw Hill
Book Co.Inc., New York, 1960.
Gomma.E.Ezzat.DR., Key Reservoir Parameter in
Enchanced Oil Recovery Processes, Simposiun Nasional,
2005.
Van Poolen,H.K.,and Association Inc,Fundamentals of
Enhanced Oil Recovery, Pen Well Books Division of
Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1980.
Water Flooding, SPE Reprint Series, 2003.
Kristanto Dedy,Dr.Ir.MT., Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, UPN Veteran, Yogyakarta, 2005.
Septoratno Siregar, Dr.Ir, Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, ITB, Bandung, 1995.

25
Pengenalan EOR
(113161572)
Pertemuan Ke-4
PENGEMBANGAN MODEL FRONTAL
BUCKLEY LEVERETT dan WELGE

1
Deskripsi
Pemahaman pengembangan persamaan
Buckley-Leverett dan Welge dengan
melakukan analisa kwalitatif dari kedua
persamaan tersebut.
Melakukan analisa kwantitatif yaitu
dengan perhitungan untuk mengetahui
mekanisme pendesakan tak tercampur.

2
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Mampu menghitung jarak, x, fungsi dari
saturasi ,Sw, yang bergerak selama
waktu, t.
Dapat memahami Kombinasi antara
Bukley Leverett dengan fractional flow.
dapat menghitung immiscible
displacement performance (menghitung
posisi saturasi, distribusi saturasi dan
pergerakannya pada system linier fungsi
waktu).

3
- Asumsi yang digunakan :
Pendesakan linier
Artinya aliran fluida hanya dalam satu arah dimana efek
gravity diabaikan, tidak mempertimbangkan arah arus
aliran dan diasumsikan sebagai model line drive dimana
jarak antara sumur injeksi dan produksi simetri.

Immiscible displacement
Artinya tidak terjadi pencampuran antara fluida pendesak
dan fluida yang didesak.

Incompressible fluid
Artinya factor kompresibilitas dari fluida tidak
diperhitungkan sehingga terjadi aliran steady state
(mantap).

4
- Tahapan Perhitungan
1. Ilustrasi Model Bukley Leverett

qo + qw
Displacement front
(permukaan)

Water Oil

x dx L

5
Keterangan :
- Perubahan jumlah air pada elemen merupakan
selisih dari besarnya air yang masuk dan air yang
keluar pada waktu tertentu

W (qt fwin qt fwout )t


dimana :
W = perubahan jumlah air pada element , RB
qt = laju aliran total, RB/day
fwin = fraksi aliran pada saat air masuk, fraksi
fwout = fraksi aliran pada saat air keluar, fraksi
t = waktu, day
6
- Dengan mempertimbangkan perubahan saturasi yang
terjadi maka didapatkan :

W xAxXxSw
dimana :
= porositas, fraksi
A = luas penampang aliran, sq.ft
x = jarak, ft
Sw = perubahan saturasi, fraksi

7
- Dari dua persamaan diatas maka :

(qtfwin qt fwout )t =
xAxXxSw

Dalam satuan lapangan :


x 5.615 xq t fw dx 5.615xqt dfw
atau
t xA Sw dt Sw xA dSw Sw

Dimana :

dfw = kecepatan titik didalam reservoir yang mempunyai



d S w Sw
saturasi air.

8
- x mewakili jarak (x) dari sumur injeksi ke sumur produksi,
sehingga persamaan Bukley Leverett dinyatakan sebagai berikut:

5.615xq t t dfw
x
xA d S w Sw

dimana :
x = letak titik pada reservoir dengan Sw diukur dari sumur injeksi,ft
5.615 = faktor koreksi, cuft/bbl
qt = laju aliran total, RB/day
t = waktu, day
= porositas, fraksi
A = luas penampang aliran, sq.ft
dfw = slope dari kurva fraksi aliran pada Sw tertentu, fraksi

dSw Sw

9
- Bentuk lain dari persamaan Bukley Leverett :

x 5.615qtt d f w

L A L d S w Sw

qtt = Wi = Kumulatif injeksi air, RB


AL = Volume pori dalam system, bbl
5.615

X = Fraksi total jarak, fraksi


L
x Wi dfw

L V p d S w Sw

10
Analisa Persamaan Bukley Leverett
- Metode perhitungan dengan Bukley
Leverett ini memiliki kelemahan yaitu pada
jarak tertentu dari sumur injeksi akan
diperoleh dua harga Sw. Kelemahan ini
kemudian diatasi oleh Bukley Leverett
dengan membuat luas yang sama tapi hasil
yang didapatkan tidak akurat.

11
Distribusi Saturasi Air

0.8 Sor

0.6
Sw

0.4

0.2
Swi
Xf
0
0 250 500 750 1000 1250 1500
x, Jarak (Feet)
L

12
Dapat digunakan untuk menghitung jarak, x, fungsi
dari saturasi ,Sw, yang bergerak selama waktu, t.

Kombinasi antara Bukley Leverett dengan fractional


flow dapat menghitung immiscible displacement
performance (menghitung posisi saturasi, distribusi
saturasi dan pergerakannya pada system linier
fungsi waktu).

13
Contoh Kasus :
Suatu Reservoir X dengan data-data sebagai berikut :
= 0.16
A = 1200000 sq.ft.
= 10o
K = 300 md
o = 2.0 cp
w = 1.0 cp
o = 0.78
w = 1.00
qt= 11500 RB/Day
Hitung posisi dalam reservoir dimana saturasi air pada 70 % dan
akan ditempatkan selama 1 tahun.

14
Langkah pengerjaan :
Perhitungan pergerakan saturasi

1. Menghitung kurva fractional flow pada sistim ini.


Kurva Fractional Flow
Langkah pengerjaan :
2. Menghitung derivative kurva fractional flow.
Sw fw dfw/dSw
0.2 0 0.3146
0.25 0.00683 0.2747
0.3 0.03826 0.8145
0.35 0.10042 1.5944
0.4 0.19228 2.3496
0.45 0.32229 2.8905
0.5 0.48542 3.1024
0.55 0.63094 2.9455
0.6 0.77012 2.4551
0.65 0.87525 1.7413
0.7 0.94106 0.9893
0.75 0.98124 0.4594
0.8 1 0.4866
16
dfw
0.9893
3. Dari Langkah 2, didapatkan dSw 0.70

4. Dengan Persamaan (3) maka :

dx 5.615xqt dfw

dt 0.70 xA dSw 0.70
dx (5.615)(11500)(0.9893)

dt (0.16)(1200000)
dx
0.3327 ft/day
dt
5. Sehingga setelah 1 tahun, titik pada saturasi air 70 % adalah :

X = (0.3327 ft/day) ( 365 days/year) (1 year)


X = 121.4415 ft dari sumur injeksi.

17
Perhitungan Frontal Advance Saturation Distribution
1.Fractional Flow

2. Derivative

3.Dengan menggunakan persamaan (4) menghitung jarak


fungsi Sw selama 1 tahun.

5.615xq t t dfw
x
xA dSw S w

18
Sw fw dfw/dSw x
0.2 0 0.3146 38.61873
0.25 0.00683 0.2747 33.7208
0.3 0.03826 0.8145 99.98396
0.35 0.10042 1.5944 195.7206
0.4 0.19228 2.3496 288.4252
0.45 0.32229 2.8905 354.8234
0.5 0.48542 3.1024 380.8352
0.55 0.63094 2.9455 361.5749
0.6 0.77012 2.4551 301.3758
0.65 0.87525 1.7413 213.7533
0.7 0.94106 0.9893 121.4415
0.75 0.98124 0.4594 56.39365
0.8 1 0.4866 59.73259

19
Distribusi Saturasi Air

0.8

0.6
Sw

0.4

0.2

0
0 250 500 750 1000 1250 1500
x, Jarak (Feet)

20
Perhitungan Pergerakan Flood Front
x
Sw fw dfw/dSw
1 year 2 year 4 year
0.2 0 0.3146 38.61873 77.23745 154.4749
0.25 0.00683 0.2747 33.7208 67.4416 134.8832
0.3 0.03826 0.8145 99.98396 199.9679 399.9358
0.35 0.10042 1.5944 195.7206 391.4412 782.8824
0.4 0.19228 2.3496 288.4252 576.8504 1153.701
0.45 0.32229 2.8905 354.8234 709.6467 1419.293
0.5 0.48542 3.1024 380.8352 761.6703 1523.341
0.55 0.63094 2.9455 361.5749 723.1498 1446.3
0.6 0.77012 2.4551 301.3758 602.7517 1205.503
0.65 0.87525 1.7413 213.7533 427.5066 855.0132
0.7 0.94106 0.9893 121.4415 242.8831 485.7661
0.75 0.98124 0.4594 56.39365 112.7873 225.5746
0.8 1 0.4866 59.73259 119.4652 238.9304

21
Pergerakan Flood Front

0.8

0.6
Sw

0.4

0.2

0
0 250 500 750 1000 1250 1500

x, Jarak (ft)

1 year 2 year 4 year

22
PENGEMBANGAN METODE WELGE
Dapat mengetahui besarnya saturasi pada front
pada jarak tertentu.
Dapat mengetahui waktu terjadi breakthrough.
Memperkirakan performance water flood pada
waktu yang akan datang.

23
- Besarnya saturasi pada front ditentukan dari kurva
hubungan Sw versus x.

Persamaan yang digunakan berdasarkan Persamaan


Material Balance, yaitu :
Swm

Wi q t t A dSw
Swc

Dimana :
Swm = 1-Sor = saturasi air maksimum
Swc = saturasi air minimum

24
- Dengan memperhitungkan factor geometri, maka :

Swm

Wi qtt A(Sf Swc)x x.dSw
Swc
- Besarnya jarak dari sumur injeksi ke sumur produksi untuk saturasi
pada front dinyatakan :

5.615 qt t dfw
x
A dSw Swf

- Dari persamaan (2) dan (3) didapatkan :



q t A Sf Swc) qt t dfw qtt Swm dfw dSw
t (


A dSw Swf A
Swc
dSw
25
- Dalam satuan lapangan :

1 (Sf Swc) dfw



1
dfw
dSw Swf fwf

dfw f wf t

dSw Swf (Swf Swc)

f wf t
Swf Swc
dfw

dSw Swf

- Selain dari persamaan (7) besarnya saturasi pada front dapat


ditentukan dengan mengeplot Sw versus fw.

26
Kurva Fractional Flow
Swbt
1

0.9
fwf
0.8

0.7

0.6
fw

0.5

0.4

0.3

0.2

0.1

0 Swf
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
Sw

27
Besarnya harga saturasi pada front dapat langsung
ditentukan dengan menarik garis yang
menyinggung kurva dari Swc sampai harga fw = 1.
Titik singgung antara garis tersebut dengan kurva
merupakan harga saturasi pada front.
Besarnya saturasi pada saat breakthrough dapat
dapat dibaca pada saat fw = 1.

28
Ringkasan Materi
Persamaan ini digunakan bersama-sama
dengan persamaan fraksi aliran untuk
mengetahui kecepatan dari suatu titik di
dalam reservoir yang memiliki harga Sw
tertentu.
Model pengembangan Bukley Leverett
digunakan untuk memperkirakan
immiscible displacement performance
pada sistem linier.

29
Referensi
Latil M, Bardon C, Burger J, Soureau P.,Enhanced Oil
Recovery, Graham Trotman Ltd, London, 1980.
Amyx, J.W.Bass, D.M.,Jr., Whitting,R.L, Petroleum
Reservoir Engineering Physical Properties, Mc.Graw Hill
Book Co.Inc., New York, 1960.
Gomma.E.Ezzat.DR., Key Reservoir Parameter in
Enchanced Oil Recovery Processes, Simposiun Nasional,
2005.
Van Poolen,H.K.,and Association Inc,Fundamentals of
Enhanced Oil Recovery, Pen Well Books Division of
Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1980.
Water Flooding, SPE Reprint Series, 2003.
Kristanto Dedy,Dr.Ir.MT., Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, UPN Veteran, Yogyakarta, 2005.
Septoratno Siregar, Dr.Ir, Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, ITB, Bandung, 1995.

30
Pengenalan EOR
(113161572)
Pertemuan Ke-5
INJEKSI TERCAMPUR
(MISCIBLE INJECTION)

1
Deskripsi
Penjelasan konsep pendesakan suatu
fluida terhadap minyak yang
menghasilkan pencampuran antara fluida
pendesak terhadap minyak sehingga hasil
campuran ini dapat keluar dari pori-pori
dengan mudah sebagai satu fluida.

2
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Mengerti tentang mekanisme injeksi
tercampur.
Mengerti metode-metode produsksi tahap
lanjut yang termasuk ke dalam injeksi
tercampur.
Mengerti diagram terner.
Dapat menentukan tekanan tercampur
minimum.

3
1. Definisi:
Wetting Phase Non-wetting Wetting Phase Non-wetting
Phase Phase

Imbibition Process Drainage Process

Displacing Displaced Fluid Displacing Displaced Fluid


Fluid Fluid

Interface Mixing region

Immiscible Process Miscible Process

4
2. Miscible Displacement Process
Mixing region

Solvent Oil

5
3. Injeksi tercampur antara lain :
a. injeksi gas kering pada tekanan tinggi
(vaporizing gas drive),
b. injeksi gas diperkaya (condensing gas
drive),
c. injeksi CO2 ,
d. gas-gas yang tidak bereaksi (inert gas) .

6
4. Efisiensi pendesakan pada injeksi tercampur :
100

90

Displacement
Efficiency, %
at 1 PV injected

MMP
0
Pressure

7
5. Diagram Terner :

8
Pada diagram tersebut terdapat sistim tiga kelompok komponen
yang terdiri atas metana (C1), komponen-komponen menengah
(C2-C6) dan komponen-komponen berat (C7+).
Pada tekanan dan temperatur reservoir, C1 berupa gas, C7+
cair, sedangkan C2-C6 tergantung pada tekanan dan temperatur
yang berlaku.
Daerah D pada diagram tersebut merupakan daerah satu fasa
yaitu 100% fasa cair dan daerah A merupakan daerah 100%
fasa gas.
Daerah campuran kritis dibagi menjadi daerah B yang
menunjukkan interval komposisi (P,T) yang dapat bercampur
dengan gas dari daerah A, serta daerah C merupakan daerah
komposisi-komposisi campuran yang dapat bercampur dengan
minyak dari daerah D.
Pengaruh tekanan dan temperatur terhadap daerah dua fasa
(daerah dimana gas dan minyak tidak dapat bercampur) dalam
diagram Terner seperti ditunjukkan pada gambar dibawah ini.

9
C1 C1

C7+ T, Konstan C2 -C6 C7+ P, Konstan C2 _ C6

10
Gambar diatas menunjukkan daerah dua phasa
akan bertambah lebar dengan naiknya
temperatur dan tekanannya yang konstan,
sedangkan dengan naiknya tekanan dan
temperatur yang konstan menyebabkan daerah
dua phasa mengecil.
Hal ini menyebabkan terbentuknya kesimpulan
bahwa pada saat tekanan reservoir masih tinggi
(P>>) dan temperatur rendah (T<<) akan
sangat menguntungkan bagi pendesakan
tercampur karena daerah dua fasa (dalam
diagram Terner) dibuat kecil, sehingga minyak
dan gas dapat tercampur dengan cepat.

11
6. Penentuan Tekanan Tercampur Minimum (TTM)

Definisi TTM adalah :


tekanan pendesakan terendah dimana gas
dapat tercampur (larut) dengan minyak yang
didesak melalui proses kelarutan dinamik atau
kelarutan multi kontak.
Penentuan TTM :
a. Korelasi (Yellig dan Metcalfe, Holm dan
Josendal, dan lain-lain)
b. Persamaan keadaan (equation of state)
c. Percobaan laboratorium (Rissing Bubble
Apparatus dan Slim Tube)
12
100

90

% Recovery
at 1.2 HC.PV of CO2
injected

MMP
0
Test Pressure (Psig)

13
Contoh soal
1. Jelaskan perbedaan dari injeksi tak tercampur (immiscible
flooding) dan injeksi tercampur (miscible flooding) dilihat
dari mekanisme kerjanya.
2. Apa yang dimaksud dengan diagram terner. Gambarkan
dan jelaskan suatu proses percampuran dengan diagram
terner untuk metode injeksi tercampur (Injeksi
CO2,Injeks gas kering pada P tinggi, Injeksi gas
diperkaya, Injeksi N2). Jelaskan juga proses tersebut
pada kondisi fasa dalam reservoir.
3. Sebutkan paramater yang sangat berpengaruh untuk
terjadinya percampuran antara gas yang diinjeksikan
dengan minyak didalam reservoir sehingga akan
meningkatkan baik efisiensi pendesakan maupun
penyapuannya.

14
Ringkasan Materi
Proses pendesakan tercampur adalah suatu
proses pendesakan ketika antara fluida
pendesak dan fluida yang didesak tidak ada
interface atau akan terjadi mixing region.
Suatu pendesakan tercampur akan terjadi kalau
tekanannya sudah melebihi tekanan tercampur
minimumnya.
Macam-macam injeksi tecampur adalah :
a. injeksi gas kering pada tekanan tinggi (vaporizing gas
drive),
b. injeksi gas diperkaya (condensing gas drive),
c. injeksi CO2 ,
d. gas-gas yang tidak bereaksi (inert gas) .
15
Referensi
Latil M, Bardon C, Burger J, Soureau P.,Enhanced Oil
Recovery, Graham Trotman Ltd, London, 1980.
Amyx, J.W.Bass, D.M.,Jr., Whitting,R.L, Petroleum
Reservoir Engineering Physical Properties, Mc.Graw Hill
Book Co.Inc., New York, 1960.
Gomma.E.Ezzat.DR., Key Reservoir Parameter in
Enchanced Oil Recovery Processes, Simposiun Nasional,
2005.
Van Poolen,H.K.,and Association Inc,Fundamentals of
Enhanced Oil Recovery, Pen Well Books Division of
Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1980.
Water Flooding, SPE Reprint Series, 2003.
Kristanto Dedy,Dr.Ir.MT., Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, UPN Veteran, Yogyakarta, 2005.
Septoratno Siregar, Dr.Ir, Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, ITB, Bandung, 1995.

16
Nama Mata Kuliah
(113161572)
Pertemuan Ke-6
Injeksi Gas CO2

1
Deskripsi
Injeksi gas CO2 atau sering juga disebut
sebagai injeksi gas CO2 tercampur yaitu
dengan menginjeksikan sejumlah gas CO2
ke dalam reservoir dengan melalui sumur
injeksi sehingga dapat diperoleh minyak
yang tertinggal.

2
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Memahami sifat-sifat CO2
Memahami sumber-sumber CO2 untuk
metode produksi tahap lanjut.
Mengerti kelebihan dan kekurangan CO2.
Memahami diagram terner untuk injeksi
CO2.
Memahami miscibility dan pengaruhnya.
Bisa menggambarkan mekanisme injeksi
CO2.
3
A. Sifat-sifat CO2

4
a. Pengembangan volume minyak
Adanya CO2 yang larut dalam minyak
akan menyebabkan pengembangan
volume minyak (swelling factor).
Swelling Factor yaitu : Perbandingan
volume minyak yang telah dijenuhi CO2
dengan volume minyak awal sebelum
dijenuhi CO2.
Bila besarnya SF ini lebih dari satu, berarti
menunjukkan adanya pengembangan.

5
Oleh : Simon dan
Gause

6
b. Penurunan viskositas
Adanya sejumlah CO2 dalam minyak akan
mengakibatkan penurunan voskositas
minyak.
Simon dan Gause menyatakan bahwa
penurunan viskositas tersebut dipengaruhi
oleh tekanan dan viskositas minyak awal
sebelum dijenuhi CO2.

7
8
c. Kenaikan densitas
Terlarutnya sejumlah CO2 dalam minyak
menyebabkan kenaikan densitas.
hal yang menarik ini oleh Holm dan
Josendal dimana besarnya kenaikan
densitas dipengaruhi oleh tekanan
saturasinya.

9
10
d. Ekstraksi sebagian komponen minyak
Sifat CO2 yang terpenting adalah
kemampuan untuk mengekstraksikan
sebagian komponen minyak.
Hasil dari penelitian Nelson dan Menzile
menunjukkan bahwa pada 135 F dan
pada tekanan 2000 Psi minyak dengan
gravity 35 API mengalami ekstraksi lebih
besar dari 50 %.

11
12
B. Sumber CO2

13
Gas yang tersedia juga harus relatif murni sebab
beberapa gas seperti metana dapat meningkatkan
tekanan yang diperlukan untuk bercampur, sedangkan
yang lainnya seperti hidrogen sulfida berbahaya dan
berbau serta menimbulkan permasalahan lingkungan.
Sumber CO2 alami adalah yang tebaik, baik yang
berasal dari sumur yang memproduksi gas CO2 yang
relatif murni ataupun yang berasal dari pabrik yang
mengolah gas hidrokarbon yang mengandung banyak
CO2 sebagai kontaminan.
Sumber yang lain adalah kumpulan gas (stack gas) dari
pembakaran batubara (coal fired).

14
Alternatif lain adalah gas yang dilepaskan dari
pabrik amonia. Beberapa kelebihan sumber
tersebut adalah :
Pabrik amonia dan lapangan minyak yang dapat
didirikan berdekatan.
Gas CO2 yang dilepaskan dari pabrik amonia
cenderung dapat dikumpulkan dalam sebuah area
industrial yang tersedia.
Tidak memerlukan pemurnian, karena CO2 yang
diperoleh mempunyai kemurnian 98 % (Pullman
kellog,1977).

15
Keberhasilan suatu proyek CO2 tergantung
pada :
Karakteristik minyak
Bagian reservoir yang kontak secara efektif
Tekanan yang biasa dicapai
Ketersediaan dan biaya penyediaan gas CO2

16
C. Kelebihan dan kekurangan
injeksi CO2

17
kelebihan utama sehingga dilakukan injeksi CO2 yaitu :

1. Injeksi CO2 mengembangkan minyak


dan menurunkan viskositas.
2. Membentuk fluida bercampur dengan
minyak karena ekstraksi, penguapan dan
pemindahan kromatologi.
3. Injeksi CO2 bertindak sebagai solution
gas drive sekalipun fluida tidak
bercampur sempurna.
4. Permukaan fluida campur (miscible front)
jika rusak akan memperbaiki diri.

18
5. CO2 akan bercampur dengan minyak yang telah
berubah menjadi fraksi C2-C6.
6. CO2 mudah larut di air menyebabkan air
mengembang dan menjadikannya bersifat agak
asam.
7. Ketercampuran/miscibility dapat dicapai pada
tekanan diatas 1500 psi pada beberapa
reservoir.
8. CO2 merupakan zat yang tidak berbahaya, gas
yang tidak mudah meledak dan tidak
menimbulkan problem lingkungan jika hilang ke
atmosfir dalam jumlah yang relatif kecil.
9. CO2 dapat diperoleh dari gas buangan atau dari
reservoir yang mengandung CO2.
19
Beberapa kekurangan injeksi CO2 adalah seabagai berikut :
1. Kelarutan CO2 di air dapat menaikkan volume
yang diperlukan selama bercampur dengan
minyak.
2. Viskositas yang rendah dari setiap gas CO2
bebas pada tekanan reservoir yang rendah akan
menyebabkan penembusan yang lebih awal
pada sumur produksi sehingga mengurangi
effisiensi penyapuan.
3. Setelah fluida tercampur terbentuk, viskositas
minyak lebih rendah dari pada minyak reservoir
sehingga menyebabkan fingering dan
penembusan yang belum waktunya. Untuk
mengurangi fingering maka diperlukan injeksi
slug water.
20
4. CO2 dengan air akan membentuk asam
karbonik yang sangat korosif.
5. Injeksi alternatif slug CO2 dan air memerlukan
sistem injeksi ganda dan hal ini akan
menambah biaya dan kerumitan sistem.
6. Diperlukan injeksi dalam jumlah yang besar (5
10 MCF gas untuk memproduksi satu STB
minyak).
7. Sumber CO2 biasanya tidak diperoleh ditempat
yang berdekatan dengan proyek injeksi CO2
sehingga memerlukan pemipaan dalam jarak
yang panjang.

21
D. Diagram Terner injeksi CO2

22
Dua cara untuk membuat Diagram Terner dimana hal
tersebut tergantung pada keadaan CO2 apakah berasosiasi
dengan metana atau komponen menengah.

23
E. Miscibility dan Pengaruhnya

24
Miscibility didefinisikan sebagai kemampuan suatu
fluida untuk bercampur dengan fluida lainnya dan
membentuk suatu fasa yang homogen sehingga
tidak tampak batas fasa fluida tersebut.
Tercapainya miscibility CO2 dengan minyak
ditandai dengan mengecilnya tegangan
permukaan sampai mendekati nol.
Miscibility dapat dicapai pada kondisi temperatur
serta komposisi yang harus memenuhi syarat
tertentu.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
tercapainya miscibility CO2 dan minyak adalah
kemurnian CO2, komposisi minyak, temperatur
serta tekanan.
25
1. Kemurnian CO2
Hasil percobaan pada berbagai tingkat
kemurnian yang digunakan, menunjukkan
bahwa semakin murni CO2 semakin besar
miscibilitasnya. C1 dan N2 di dalam CO2
akan mempengaruhi terjadinya
miscibilitas, sedangkan adanya H2S di
dalam CO2 pengaruhnya lebih kecil
dibanding C1 dan N2.

26
2. Komposisi Minyak
Holm dan Josendal menyatakan bahwa
dalam sistem biner (diagram dua fasa),
komposisi dari minyak juga akan
mempengaruhi tekanan yang diperlukan
untuk pendorongan miscible.

27
3. Temperatur
Temperatur minyak juga akan
mempengaruhi tekanan yang diperlukan
untuk pendorongan miscible. Dari Gambar
Korelasi Tekanan Miscible Pada Injeksi
CO2 Berdasarkan Berat Mol C5+ dapat
ditarik kesimpulan bahwa temperatur
yang semakin besar, tekanan
pendorongan makin besar.

28
Jurusan Teknik Perminyakan - UPN[V]Yk 29
4. Tekanan
Tekanan yang diperlukan untuk
pendorongan miscible akan dipengaruhi
oleh kemurnian CO2, komposisi minyak
dan tekanan reservoir.

30
F. Jenis-jenis Pendorongan Gas CO2

31
Pemakaian CO2 sebagai fluida pendesak
untuk perolehan minyak telah diteliti di
laboratorium maupun di lapangan.
Keduanya telah dapat diperkirakan
bahwa CO2 dapat menjadi fluida
pendesak yang efisien.
Jenis pendorongan gas karbondioksida
terdiri dari solution gas drive dan
dynamic miscible drive.

32
A. Solution gas drive
Kelarutan CO2 di dalam minyak makin besar
dengan adanya kenaikan tekanan, dengan
diikuti pula pengembangan volume minyak
makin besar.
CO2 adalah gas yang masuk dalam larutan
dengan pengembangan minyak sebagai suatu
kenaikan tekanan, CO2 dapat keluar dari
larutan dengan penurunan tekanan.

33
B. Dynamic miscible drive
- Sifat yang cukup penting dari CO2 adalah
kemampuannya mengekstraksikan atau
menguapkan sebagian fraksi hidrokarbon
dari minyak reservoir.
- Tekanan pendorongan yang lebih tinggi
maka lebih banyak lagi komponen
hidrokarbon yang turut terproduksi. Hal
ini membuktikan bahwa untuk
mendapatkan recovery minyak yang
tinggi, haruslah pada tekanan
pendorongan yang tinggi.
34
35
G. Mekanisme Injeksi CO2

36
Mekanisme dasar injeksi CO2 adalah
bercampurnya CO2 dengan minyak dan
membentuk fluida baru yang lebih mudah
didesak dari pada minyak reservoir awal.
Proses pelaksanaannya sama seperti pada
proses EOR lainnya, yaitu dengan
menginjeksikan sejumlah gas CO2 yang telah
direncanakan melalui sumur-sumur injeksi yang
telah ada, kemudian minyak yang keluar
diproduksikan melalui sumur produksi.

37
Gas CO2 yang diinjeksikan pelaksanaannya dapat
dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :

Injeksi CO2 secara kontinyu selama


proyek berlangsung.
menginjeksikan terus menerus gas CO2 ke dalam reservoir
maka diharapkan gas CO2 ini dapat melarut dalam minyak
dan mengurangi viskositasnya,
dapat menaikkan densitas (sampai tahap tertentu, yang
kemudian diikuti dengan penurunan densitas),
dapat mengembangkan volume minyak
merefraksi sebagian minyak, sehingga minyak akan lebih
banyak terdesak keluar dari media berpori.

38
Injeksi Carbonate Water (Injeksi slug
CO2 diikuti air).
menginjeksikan carbonat water (percampuran antara air
dengan gas CO2 (reaksi CO2 + H2O) sehingga membentuk
air karbonat yang digunakan sebagai injeksi dalam proyek
CO2 flooding) ke dalam reservoir.
Tujuan utama adalah untuk terjadi percampuran yang lebih
baik terhadap minyak sehingga akan mengurangi viskositas
dari minyak serta mengembangkan sebagian volume minyak
sehingga dengan demikian penyapuan akan lebih baik.

39
Adanya slug CO2 oleh cairan yang diikuti
dengan air (Injeksi slug CO2 dan air
secara bergantian).
membentuk slug penghalang dari CO2 yang kemudian diikuti
air sebagai fluida pendorong.
Cara pertama sama seperti cara kedua, pembentukan slug ini
untuk lebih dapat mencampur gas CO2 ke dalam minyak,
kemudian karena adanya air yang berfungsi sebagai
pendorong maka diharapkan efisiensi pendesakan akan lebih
baik.

40
Adanya slug CO2 oleh cairan yang diikuti
injeksi air dan CO2 (Injeksi CO2 dan air
secara simultan).
Cara yang keempat sebenarnya sama dengan cara yang
ketiga tetapi disini lebih banyak fluida digunakan CO2 untuk
lebih melarutkan minyak setelah proses penyapuan terhadap
pendesakan minyak, maka minyak yang telah tersapu dan
akan diproduksikan melalui sumur produksi.
Tingkat perolehan oil yang paling tinggi adalah pada
mekanisme inkeksi gas CO2 yang dilakukan secara kontinyu,
sedangkan untuk injeksi CO2 dan air secara simultan itu baik
untuk reservoir yang homogen.

41
Jurusan Teknik Perminyakan - UPN[V]Yk 42
Contoh soal
1. Gambarkan dan jelaskan suatu proses
percampuran dengan diagram terner
untuk metode injeksi CO2. Jelaskan juga
proses tersebut pada kondisi fasa dalam
reservoir.

Jurusan Teknik Perminyakan - UPN[V]Yk 43


Ringkasan Materi
Injeksi CO2 termasuk kedalam injeksi
tercapur tetapi tekanan injeksi harus
melebihi tekanan tercampur minimum.
Keberhasilan suatu proyek CO2
tergantung pada :
Karakteristik minyak
Bagian reservoir yang kontak secara efektif
Tekanan yang biasa dicapai
Ketersediaan dan biaya penyediaan gas CO2

44
Referensi
Latil M, Bardon C, Burger J, Soureau P.,Enhanced Oil
Recovery, Graham Trotman Ltd, London, 1980.
Amyx, J.W.Bass, D.M.,Jr., Whitting,R.L, Petroleum
Reservoir Engineering Physical Properties, Mc.Graw Hill
Book Co.Inc., New York, 1960.
Gomma.E.Ezzat.DR., Key Reservoir Parameter in
Enchanced Oil Recovery Processes, Simposiun Nasional,
2005.
Van Poolen,H.K.,and Association Inc,Fundamentals of
Enhanced Oil Recovery, Pen Well Books Division of
Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1980.
Water Flooding, SPE Reprint Series, 2003.
Kristanto Dedy,Dr.Ir.MT., Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, UPN Veteran, Yogyakarta, 2005.
Septoratno Siregar, Dr.Ir, Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, ITB, Bandung, 1995.

45
Pengenalan EOR
(113161572)
Pertemuan Ke-7
Injeksi Gas Kering Pada Tekanan Tinggi
(lean hydrocarbon)

1
Deskripsi
Sifat-sifat gas kering pada tekanan tinggi
ini pada dasarnya dapat dicapai dengan
gas Hidrokarbon, flue gas, dan nitrogen.
Komponen-komponen C2_C6 dalam gas
akan meningkat karena gas ini akan maju
terus untuk bertemu dengan minyak
sampai terjadi pencampuran.

2
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Mengetahui sumber-sumber gas kering.
Memahami kelebihan dan kekurangan
injeksi gas kering pada tekanan tinggi
sehingga sehingga di awal penggunaan
metode ini sudah bisa mengantisipasi.
Memahami diagram terner dan kondisi
fasa untuk metode injeksi gas kering pada
tekanan tinggi.

3
A. Sumber Gas Kering Pada Tekanan Tinggi
Gas hidrokarbon kering (lean hydrocarbon) yang
dihasilkan dari gas separator di lapangan dan gas
sisa dari pabrik (bahan bakar alami).
Gas hidrokarbon murni yang dihasilkan pipa
transmisi gas.
Flue gas yang dihasilkan dari pembakaran gas
sisa pabrik (bahan bakar) di dalam ketel uap.
Gas buangan mesin.
Pengolahan nitrogen di tempat.

4
B. Kelebihan dan Kekurangan Injeksi Gas Kering
Tekanan Tinggi

Kelebihan dari injeksi gas kering pada


tekanan tinggi adalah :
Efisiensi pendesakan mendekati 100%.
Lebih ekspansif daripada propana atau gas yang
diperkaya.
Tidak ada masalah yang terjadi pada ukuran slug
sehubungan dengan injeksi yang terjadi secara
kontinyu.
Gas dapat diinjeksikan kembali.

5
Kekurangan dari injeksi gas kering pada
tekanan tinggi adalah :
Proses ini terbatas, sebab reservoir minyak
harus kaya komponen C2-C4.
Proses ini memerlukan tekanan injeksi yang
besar.
Biaya yang diperlukan untuk gas alam mahal,
gas-gas pengganti memerlukan tekanan yang
lebih besar.

6
C. Diagram Terner

7
D. Kondisi Fasa Dalam Reservoir

8
Keadaan 1
Pada waktu mulai injeksi, pendesakan adalah
tidak tercampur dan GO memotong daerah dua
fasa. Residu minyak dengan komposisi O ada
yang tetap tinggal di belakang front gas-minyak.
Minyak O dan gas G belum mencapai
kesetimbangan thermodinamik. Perubahan fasa
yang terjadi pada waktu dan tempat tertentu
hasilnya adalah komposisi gas G1 dan komposisi
minyak O1. Gas menjadi makin banyak
mengandung komponen menengah dan
komponen berat.

9
Keadaan 2
Sementara perubahan minyak O1
cenderung untuk menyusut. Saturasi
minyak dibelakang front hingga saat ini
tetap dibawah harga kritik dan tetap
tinggal terperangkap di dalam pori
batuan. Sementara gas G1 didesak ke
arah front oleh injeksi gas G berikutnya.

10
Keadaan 3
Gas G1 menjadi berhubungan dengan residu minyak yang
baru saja terbentuk (dari komposisi O). Selama fluida tidak
dalam keadaan kesetimbangan, maka terjadi perubahan
fasa dan menghasilkan gas G2 dan minyak O2 yang mana
dalam keadaan kesetimbangan. Gas G2 dalam keadaan
berhubungan dengan front.
Minyak O2 dalam hubungannya dengan gas G tidak akan
memberikan komposisi menengah lebih banyak, dan
komposisi tersebut menjadi Oa. Kemajuan front ini
berlangsung hingga komposisi gas dalam hubungannya
dengan minyak mula-mula menjadi Gt yaitu titik singgung
dari garis O ke kurva dew point. Pada tingkat ini
miscibility antara Gt dan O telah tercapai.

11
Keadaan 4
Mulai dari titik ini pendesakannya adalah pendesakan
tercampur dan tidak ada residu minyak yang tertinggal
dibelakang front. Dibelakang miscible bank dengan
terlebih dahulu residu minyak dengan komposisi O1, O2
dan seterusnya hingga komposisi menengah habis oleh
injeksi gas G, batas komposisi minyak yang tidak tersapu
adalah Op yaitu pada ujung garis melalui titik G. Minyak Op
tidak dapat dirubah menjadi komponen lebih lanjut oleh
gas G dan ini merupakan unrecoverable pada kondisi ini
ternyata bisa diabaikan. Pengalaman dari beberapa operasi
lapangan menunjukkan bahwa suatu miscible bank
terbentuk setelah gas diinjeksikan berjalan lebih kurang 12
meter dari sumur injeksi.

12
E. Miscibilty dan Pengaruhnya
Diagram Terner yang tergambar pada temperatur
reservoir, miscibility hanya dapat dicapai antara gas
dan minyak dari campuran masing-masing komposisi
yang tetap G dan O bila garis Ogt merupakan garis
singgung pada kurva dew point.
Miscibility Pressure tidak tergantung dari karakteristik
formasi dan kondisi pendesakan. Hal ini dapat
ditentukan secara percobaan menggunakan suatu media
porous batuan dengan permeabilitas tinggi, dimana
kecepatan fluida yang tinggi dapat tercapai. Percobaan
tersebut menunjukkan bahwa recovery makin
meningkat dengan naiknya tekanan yang kemudian
stabil.

13
14
F. Mekanisme Injeksi Gas Kering Pada
Tekanan Tinggi
Injeksi gas kering biasanya memerlukan daerah injeksi
yang luas ( 1000 acre). Reservoir yang cocok untuk
injeksi ini adalah karbonat dan sandstone dengan
tingkat stratifikasi yang tinggi dan kurang heterogen.
Injeksi gas yang menguapkan berbeda dengan injeksi
gas yang mengembun maupun dengan injeksi
tercampur pada kontak pertama (first contact miscible
flood).
Perbedaan penting antara ketiga metode tersebut
adalah bahwa pada injeksi gas yang menguapkan, gas
produksi dapat ditekan sampai tekanan tercampur dan
diinjeksikan kembali untuk mempertahankan
pendesakan tercampur. Injeksi gas yang mengembun
dan injeksi tercampur pada kontak pertama, produksi
pelarut menurunkan penyapuan tercampur.

15
Mobility ratio pada injeksi gas yang menguapkan secara
keseluruhan lebih rendah dibandingkan dengan injeksi
gas yang mengembun atau injeksi tercampur pada
kontak pertama.
Banyak injeksi yang menguapkan dilakukan pada
reservoir tipis atau yang memiliki tebal 10 ft. Penyapuan
vertikal dapat diperbaiki melalui penyebaran melintang
(transverse dispersion) dengan mempertimbangkan
volume yang besar dari gas terlarut yang diinjeksikan.
Tekanan tercampur dengan gas alam, gas buangan,
atau nitrogen biasanya cukup tinggi sehingga
membatasi pemakaian metode daya dorong gas yang
menguapkan pada reservoir dengan kedalaman kira-kira
5000 ft atau lebih.
16
Contoh soal
1. Gambarkan dan jelaskan suatu proses
percampuran dengan diagram terner
untuk metode injeksi gas kering pada P
tinggi. Jelaskan juga proses tersebut
pada kondisi fasa dalam reservoir.

17
Ringkasan Materi
Dengan menggunakan tekanan yang
tinggi pada injeksi gas kering maka akan
diharapkan akan terjadi percampuran
antara fluida pendesak dan fluida yang
didesak secara cepat dan sempurna.
Proses pencampuran injeksi gas kering
pada tekanan tinggi bisa dilihat pada
diagram terner dan pada kondisi reservoir
dilihat pada keadaan fasanya.

18
Referensi
Latil M, Bardon C, Burger J, Soureau P.,Enhanced Oil
Recovery, Graham Trotman Ltd, London, 1980.
Amyx, J.W.Bass, D.M.,Jr., Whitting,R.L, Petroleum
Reservoir Engineering Physical Properties, Mc.Graw Hill
Book Co.Inc., New York, 1960.
Gomma.E.Ezzat.DR., Key Reservoir Parameter in
Enchanced Oil Recovery Processes, Simposiun Nasional,
2005.
Van Poolen,H.K.,and Association Inc,Fundamentals of
Enhanced Oil Recovery, Pen Well Books Division of
Publishing Company, Tulsa, Oklahoma, 1980.
Water Flooding, SPE Reprint Series, 2003.
Kristanto Dedy,Dr.Ir.MT., Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, UPN Veteran, Yogyakarta, 2005.
Septoratno Siregar, Dr.Ir, Diktat Kuliah Pengenalan
EOR, ITB, Bandung, 1995.

19