Anda di halaman 1dari 216

SISTEM MONITORING DAN EVALUASI

KEANEKARAGAMAN HAYATI
DI TAMAN KEHATI

Tim Penyusun
Hendra Gunawan, Sugiarti Rachim, Vivin S. Sihombing,
Anita Rianti, dan Pujo Setio

Editor
R. Garsetiasih dan Adi Susmianto

Penerbit
FORDA PRESS
Bogor, 2015

Penerbitan dan Pencetakan


Atas kerja sama antara:

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN


dan
PT. TIRTA INVESTAMA BABAKAN PARI, SUKABUMI
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI
KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI
Penyusun : Hendra Gunawan, Sugiarti Rachim, Vivin S.
Sihombing, Anita Rianti, dan Pujo Setio
Editor : R. Garsetiasih dan Adi Susmianto
Foto sampul : Hendra Gunawan dan Sugiarti Rachim
Desain sampul : Tatang Rohana dan FORDA PRESS
dan tata letak
Penerbit : FORDA PRESS, Bogor (Anggota IKAPI)
Cetakan ke I : Desember 2015, xviii + 194 hlm,
14,8 x 21,0 cm
ISBN : 978-602-6961-01-3
Hak Cipta pada penyusun, dilindungi Undang-Undang

Sanksi Pelanggaran Pasal 72 UU Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta


1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1)
dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling
singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000
(satu juta rupiah) atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan,
atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil
pelanggaran Hak Cipta terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dipidana penjara paling lambat 5 (lima) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp. 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Perpustakaan Nasional RI., Data Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Gunawan, H. [et al].


Sistem Monitoring dan Evaluasi Keanekaragaman Hayati di Taman
Kehati / Penyusun: H. Gunawan, S. Rachim, V.S. Sihombing, A. Rianti, P.
Setio ; Editor: R. Garsetiasih, A. Susmianto. -- Bogor : Forda Press,
2015.
xviii, 194 hlm. : ill. ; 21 cm.

ISBN: 978-602-6961-01-3

1. Monitoring, Evaluasi -- Keanekaragaman Hayati. I. Gunawan, H.


[et al.] II. Penyusun. III. Forda Press IV. Judul
333.7
KATA PENGANTAR

Monitoring dan evaluasi merupakan bagian dari mana-


jemen yang harus dilakukan jika ingin ada peningkatan
dan perbaikan kinerja. Oleh karena itu, kegiatan moni-
toring dan evaluasi pun perlu dilakukan dalam pem-
bangunan dan pengelolaan Taman Keanekaragaman Ha-
yati (Taman Kehati).

Kegiatan Monitoring Keanekaragaman Hayati dan Evaluasi


Keberhasilan Taman Kehati menjadi cara untuk pening-
katan dan efisiensi kinerja dan perbaikan pengelolaan,
serta efektivitas pencapaian output, outcome, dan dam-
pak. Buku ini disusun sebagai pedoman atau acuan dalam
pelaksanaan kegiatan monitoring keanekaragaman hayati
dan evaluasi keberhasilan Taman Kehati.

Terdapatnya buku ini diharapkan pelaksanaan kegiatan


monitoring dan evaluasi dapat dilakukan dengan sis-
tematik, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bogor, Desember 2015


Tim Penulis

iii
SAMBUTAN KEPALA PUSAT
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN
Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Pemerintahan Kabinet Kerja memiliki kebijakan untuk


meningkatkan jumlah dan luasan ruang terbuka hijau
yang berfungsi ganda, yaitu untuk pelestarian flora-fauna,
wahana rekreasi, sarana pendidikan, sumber ilmu penge-
tahuan, objek penelitian, dan sebagai daerah tangkapan
hujan untuk konservasi air. Salah satu implementasi kebi-
jakan tersebut ialah pembangunan Taman Keaneka-
ragaman Hayati (Taman Kehati) sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 3
Tahun 2012.

Taman Kehati merupakan program konservasi keaneka-


ragaman hayati flora fauna yang berbasis pada penelitian
dan pengetahuan (sains). Oleh karena itu, Pusat Penelitian
dan Pengembangan Hutan berperan aktif untuk menyuk-
seskan program Taman Kehati, antara lain dengan mem-
berikan bimbingan dan konsultasi teknis, pembinaan
sumber daya pengelola, menyediakan paket-paket tek-
nologi terapan pendukung, pedoman teknis dan publikasi
hasil-hasil penelitian Taman Kehati.

Buku Sistem Monitoring dan Evaluasi Keaneka-


ragaman Hayati di Taman Kehati merupakan salah
satu produk Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan
dalam rangka mendukung pengelolaan Taman Kehati.

v
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Buku ini diharapkan menjadi panduan yang standar bagi


para pengelola Taman Kehati dalam melakukan kegiatan
monitoring dan evaluasi sehingga diperoleh keseragaman
parameter, metode, dan format pelaporan. Dengan demi-
kian, hal ini akan memudahkan pembinaan secara nasional
dalam rangka meningkatkan kualitas Taman Kehati
selanjutnya.

Akhirnya, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepa-


da para penulis atas sumbangan pemikiran dan penge-
tahuannya dalam menyusun buku ini. Demikian pula,
ucapan terima kasih dan penghargaan disampaikan kepa-
da PT. Tirta Investama Plant Babakan Pari, Sukabumi atas
kerjasama dan kontribusinya dalam menerbitkan buku ini.

Bogor, Desember 2015


Kepala Pusat,

Ir. Djohan Utama Perbatasari, M.M.


NIP. 19601230 198801 1 001

vi
DAFTAR ISI

Hal.
KATA PENGANTAR . iii
SAMBUTAN KEPALA PUSAT PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN HUTAN .... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL .... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN .. xiv
I. PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Maksud dan Tujuan . 2
II. DEFINISI DAN PENGERTIAN ... 5
III. PRINSIP-PRINSIP MONITORING DAN
EVALUASI .. 13
A. Prinsip-Prinsip . 13
B. Memilih Evaluator .. 15
IV. TAHAPAN MONITORING DAN EVALUASI .. 17
V. METODE MONITORING KEANEKARAGAMAN
HAYATI FAUNA .. 19
A. Tujuan . 20
B. Sasaran Objek yang Dimonitor .. 21
C. Indikator yang Dimonitor .. 21
D. Metode Pengumpulan Data 21
E. Peralatan dan Bahan ... 23
F. Lokasi Monitoring .. 29
G. Periode Monitoring .. 30
H. Pengolahan dan Interpretasi Data 31
I. Pelaporan .. 45

vii
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

VI. METODE MONITORING KEANEKARAGAMAN


HAYATI FLORA .. 49
A. Tujuan . 50
B. Sasaran Objek yang Dimonitor .. 50
C. Indikator yang Dimonitor .. 51
D. Metode Pengumpulan Data 54
E. Peralatan dan Bahan ... 55
F. Lokasi Monitoring .. 56
G. Periode Monitoring .. 59
H. Pengolahan dan Interpretasi Data ... 60
I. Pelaporan .. 61
VII. METODE EVALUASI KEBERHASILAN
TAMAN KEHATI .. 65
A. Maksud dan Tujuan .. 65
B. Aspek-Aspek yang Dievaluasi .. 66
C. Pendekatan ... 69
D Metode Evaluasi . 75
E. Laporan Evaluasi ... 76
DAFTAR PUSTAKA .. 77
LAMPIRAN ..... 83
RIWAYAT HIDUP PENULIS .... 191

viii
DAFTAR TABEL

Nomor Teks Halaman


Tabel 1. Perbedaan mendasar antara monitoring 8
dan evaluasi
Tabel 2. Kelebihan dan kekurangan evaluasi 11
internal dan eksternal
Tabel 3. Tally sheet pengamatan untuk monitoring 27
satwa
Tabel 4. Hasil pengamatan lapangan monitoring 28
satwa
Tabel 5. Contoh penyajian hasil olahan data satwa 41
dalam bentuk tabel
Tabel 6. Contoh penyajian data indeks indeks 41
kemiripan komunitas burung
Tabel 7. Form hasil pengolahan data 43
Tabel 8. Form pengolahan klasifikasi dan 44
kategorisasi satwa
Tabel 9. Form rekapitulasi laporan monitoring 46
satwa
Tabel 10. Tally Sheet monitoring vegetasi/pohon 52
muda
Tabel 11. Tally Sheet monitoring vegetasi/pohon 53
dewasa
Tabel 12. Peralatan dan bahan monitoring pohon 55
Taman Kehati
Tabel 13. Pembagian periode dan waktu monitoring 60
Tabel 14. Rekapitulasi hasil monitoring pohon muda 62

ix
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Tabel 15. Rekapitulasi hasil monitoring pohon 63


dewasa
Tabel 16. Contoh jenis flora prioritas target 67
konservasi di Taman Kehati Babakan Pari
(Cidahu-Sukabumi)
Tabel 17. Contoh lima jenis fauna prioritas target 67
konservasi di Taman Kehati Babakan Pari
(Cidahu-Sukabumi)
Tabel 18. Pendekatan-pendekatan dalam melakukan 70
evaluasi
Tabel 19. Aspek yang dievaluasi dan metode 71
evaluasinya di Taman Kehati Babakan Pari
(contoh kasus di Taman Kehati Babakan
Pari, Kecamatan Cidahu, Kabupaten
Sukabumi)

x
DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Hal.


Gambar 1. Beberapa peralatan monitoring satwa: 24
binocular (A), monocular (B), kamera
dengan lensa jauh (telelens) (C), GPS
(D), camera trap (E), dan stop counter
(F)
Gambar 2. Beberapa buku panduan pengenalan 25
satwa
Gambar 3. Pengamatan satwa menggunakan 25
teropong/binocular (A) dan monitoring
satwa menggunakan camera/video trap
(B)
Gambar 4. Pendokumentasian satwa kecil 26
menggunakan kamera dengan lensa
jauh (telelens)
Gambar 5. Contoh lokasi monitoring satwa liar di 30
Taman Kehati Babakan Pari, Kecamatan
Cidahu, Kabupaten Sukabumi
Gambar 6. Contoh penyajian hasil olahan data 42
satwa dalam bentuk grafik pie
Gambar 7. Contoh penyajian hasil olahan data 42
satwa dalam bentuk histogram
Gambar 8. Berang-berang jawa (Aonyx cinereus) 45
yang tertangkap camera trap di Taman
Kehati PT. Tirta Investama Lido
Gambar 9. Peralatan yang perlu dibawa pada saat 56
monitoring

xi
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Gambar 10. Contoh lokasi monitoring flora pohon 57


di Taman Kehati Babakan Pari,
Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi
Gambar 11. Pemeriksaan hama dan penyakit 57
tanaman
Gambar 12. Pengukuran diamater pohon dewasa (A) 58
dan pencatatan kondisi gulma sekitar
tanaman (B)
Gambar 13. Label pohon yang dimonitor: bagian 58
depan berisi nama spesies, nomor
pohon, dan nomor blok (A); dan bagian
belakang berisi checklist tanggal
monitoring (B)

xii
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Teks Hal.


Lampiran 1. Panduan wawancara pengunjung/ 83
masyarakat sekitar Taman Kehati
Lampiran 2. Kuesioner untuk stakeholders tentang 84
evaluasi keberhasilan Taman Kehati
Lampiran 3. Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang 87
Dilindungi berdasarkan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor
7 Tahun 1999 tentang Pengawetan
Jenis Tumbuhan dan Satwa
Lampiran 4. Appendices CITES (Convention on 99
International Trade in Endangered
Species of Wild Fauna and Flora)
Lampiran 5. Daftar Spesies Prioritas (Lampiran 178
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor
P. 57/Menhut-II/2008 tentang Arahan
Strategis Konservasi Spesies Nasional
20082018)
Lampiran 6. Daftar 25 spesies satwa liar terancam 186
punah yang diprioritaskan meningkat
populasinya sebesar 10% pada tahun
2019 (Lampiran Surat Keputusan
Direktur Jenderal Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam No.
200/IV/KKH/2015)
Lampiran 7. Jumlah spesies flora dan fauna di 188
Indonesia yang terancam menurut
IUCN (International Union for the
Conservation of Nature and Natural
Resources)

xiii
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN

1. CITES (Conventionon International Trade in


Endangered Species of Wild Fauna and Flora ) adalah
konvensi internasional untuk mengendalikan
perdagangan hidupan liar (flora dan fauna) yang
terancam kepunahan. Indonesia memberlakukan
Konvensi ini melalui Keputusan Presiden No. 43 Tahun
1978 tanggal 15 Desember 1978.
2. Daerah jelajah (home range) adalah daerah yang
digunakan oleh individu satwa untuk mendapatkan
makanan, pasangan dan memelihara anak (Burt, 1943
dalam Shaw, 1985).
3. Ekosistem adalah suatu kompleksitas interaksi yang
dinamis dari komunitas tumbuhan, binatang dan
mikroorganisme serta lingkungan fisiknya sebagai satu
kesatuan fungsi.
4. Ekoton adalah pertemuan dua tipe habitat atau lebih
atau peralihan antara dua atau lebih komunitas yang
berbeda.
5. Flagship species adalah spesies yang dipilih untuk
menggambarkan kondisi lingkungan atau ekosistem
yang membutuhkan upaya konservasi. Spesies ini dipilih
karena kerentanan, daya tarik, atau keunikannya dalam
rangka membangkitkan dukungan dan penghargaan
publik bagi konservasi keseluruhan ekosistem dan
spesies di dalamnya. Contoh flagship species ialah
panda raksasa, orangutan, gajah afrika, harimau india,
monyet tamarin rambut emas, penyu belimbing,
banteng, macan tutul jawa, dan gorila gunung.
6. Fragmentasi adalah proses pemecahan suatu habitat,
ekosistem, atau tipe land-use menjadi bidang-bidang
lahan yang lebih kecil.
7. Habitat adalah tempat atau tipe suatu tapak di mana
suatu organisme atau populasi berada secara alami.

xiv
Habitat merupakan suatu unit lingkungan (termasuk
ruang, iklim, makanan, cover, dan air) di mana binatang,
tumbuhan, atau populasi secara alami dan hidup normal
dan berkembang.
8. Identifikasi jenis tumbuhan dan satwa adalah upaya
untuk mengenal jenis, keadaan umum, status populasi,
dan tempat hidupnya yang dilakukan di dalam
habitatnya.
9. Invasive alien species (IAS) adalah spesies asing
(bukan asli) yang keberadaannya sudah mengganggu
dan mengancam keberadaan spesies asli dan endemik
karena pertumbuhan dan penyebarannya sangat cepat
dan meluas (invasive).
10. Inventarisasi jenis tumbuhan dan satwa adalah upaya
mengetahui kondisi dan status populasi secara lebih
terinci, serta daerah penyebarannya yang dilakukan di
dalam dan di luar habitatnya, termasuk di lembaga
konservasi.
11. Jenis tumbuhan atau satwa adalah jenis yang secara
ilmiah disebut spesies atau anak-anak jenis yang secara
ilmiah disebut subspecies, baik di dalam maupun di luar
habitatnya.
12. Keanekaragaman hayati (biodiversity) adalah
keanekaragaman organisme hidup dari berbagai sumber
termasuk antara lain daratan, lautan, dan ekosistem
perairan lainnya, yang mana di dalamnya merupakan
bagian sistem ekologi yang kompleks. Keanekaragaman
hayati mencakup keanekaragaman dalam spesies,
antarspesies, dan keanekaragaman ekosistem (CBD).
13. Komunitas adalah kumpulan berbagai populasi dalam
suatu wilayah tertentu.
14. Konservasi sumber daya alam hayati adalah
pengelolaan sumber daya alam hayati yang
pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk
menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap

xv
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman


dan nilainya (UU No. 5/1990).
15. Monitoring jenis tumbuhan dan satwa adalah upaya
untuk mengetahui kecenderungan perkembangan
populasi jenis tumbuhan dan satwa dari waktu ke waktu
melalui survei dan pengamatan terhadap potensi jenis
tumbuhan dan satwa secara berkala.
16. Populasi adalah kelompok organisme yang terdiri atas
individu-individu satu spesies yang saling berinteraksi
dan melakukan perkembangbiakan pada suatu tempat
dan waktu tertentu.
17. Red List atau Red Data List dibuat sejak tahun 1964
oleh IUCN (International Union for the Conservation of
Nature and Natural Resources) merupakan daftar status
konservasi spesies di dunia yang paling lengkap dan
IUCN merupakan lembaga utama yang memiliki
kewenangan (otoritas) membuat status konservasi
spesies di dunia.
18. Relung (niche) didefinsikan sebagai peran yang
dimainkan oleh setiap spesies di dalam habitat alaminya.
Bagian paling penting dari relung adalah pemisahan
makanan, walaupun relung lain juga penting, seperti
cara penggunaan cover, air, atau bahkan ruang (Shaw,
1985).
19. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani
baik yang hidup di darat, air, atau udara (UU No.5 tahun
1990).
20. Satwa atau tumbuhan dilindungi adalah satwa dan
tumbuhan yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 tahun
1999.
21. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat
dan/atau di air dan/atau di udara yang masih
mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas
maupun yang dipelihara oleh manusia.

xvi
22. Satwa migran afrotropica adalah satwa yang
berpindah cukup jauh dalam wilayah afrotropica
(misalnya kebanyakan burung kukuk).
23. Satwa migran lokal adala satwa yang melakukan
perpindahan dalam jarak yang dekat (beberapa
kilometer) dari dan ke tempat berkembang biak
(breeding).
24. Satwa migran paleartic adalah satwa yang
menghabiskan sebagian besar hidupnya di wilayah
afrotropica, tetapi bermigrasi ke wilayah paleartic untuk
berkembang biak.
25. Satwa penetap (resident) adalah satwa yang
menempati habitat yang sama sepanjang tahun.
26. Sensus adalah upaya menghitung semua individu
tumbuhan dan satwa di suatu wilayah tertentu.
27. Spesies eksotik adalah suatu takson yang telah
diperkenalkan atau yang telah melakukan kolonisasi
suatu daerah dari tempat lain di masa lalu (Adisoemarto
& Rifai, 1992).
28. Spesies asli adalah spesies pribumi dan terdapat alami
di suatu daerah tertentu.
29. Spesies atau jenis adalah suatu takson yang dipakai
dalam taksonomi untuk menunjuk pada satu atau
beberapa kelompok individu (populasi) yang serupa dan
dapat saling membuahi satu sama lain di dalam
kelompoknya (saling membagi gen) namun tidak dapat
dengan anggota kelompok yang lain.
30. Spesies endemik adalah suatu takson yang ada di
alam hanya pada suatu tempat, di saat sekarang dan
masa lalu (Adisoemarto & Rifai, 1992).
31. Spesies kunci (keystone species) merupakan
spesies yang memiliki pengaruh besar pada
lingkungannya, memengaruhi banyak organisme lain
dalam ekosistem, serta menentukan tipe dan jumlah
berbagai spesies dalam suatu komunitas. Banyak hewan

xvii
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

pemangsa merupakan spesies kunci, seperti macan tutul


di Jawa.
32. Spesies payung (umbrella species) adalah spesies
yang dipilih dalam rangka pembuatan keputusan
konservasi; karena sulit menentukan status dari banyak
spesies, pemilihan satu spesies payung dapat
memudahkan pengambilan keputusan konservasi.
Segala upaya konservasi terhadap spesies payung akan
berdampak positif (mengonservasi) juga bagi spesies
lain. Spesies payung dapat digunakan untuk membantu
memilih lokasi yang sesuai dalam rangka melakukan
pencagaran, menentukan luas, dan mengetahui
komposisi, struktur, dan proses-proses ekosistem.
Contoh spesies payung ialah harimau india, harimau
sumatera, orangutan kalimantan.
33. Takson adalah sekelompok organisme yang
diklasifikasikan bersama karena sifat-sifat yang sama,
meliputi spesies, genus, famili, dan lain-lain
(Adisoemarto & Rifai, 1992).
34. Teritori (territory) adalah bagian atau keseluruhan
dari suatu home range yang dipertahankan dari satwa
lain, khususnya dari spesies yang sama.
35. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam
nabati, baik yang hidup di darat maupun di air (UU No.5
tahun 1990).
36. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam
bebas dan/atau dipelihara yang masih mempunyai
kemurnian jenisnya (UU No.5 tahun 1990).
37. Vegetasi [dalam arti luas] adalah kelompok tumbuh-
tumbuhan yang mana satuan vegetasi hutan terbesar
ialah formasi hutan. Asosiasi hutan adalah satuan-
satuan di dalam formasi hutan yang diberi nama
menurut jenis yang paling dominan (Soerianegara,
1978).

xviii
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integral dari
proses manajemen. Monitoring perlu dilakukan secara
periodik dan terus menerus untuk mengetahui kemajuan
suatu program atau proyek dalam jangka waktu tertentu.
Untuk mengetahui apakah suatu program atau proyek
telah dapat mencapai tujuannya secara efektif dan efisien
seperti yang diharapkan, evaluasi perlu dilakukan pada
akhir program atau proyek tersebut. Evaluasi ini dilakukan
terus menerus dalam jangka panjang untuk mengetahui
apakah program atau proyek telah memberikan outcome
atau dampak, baik yang telah direncanakan maupun yang
tidak diduga.

Monitoring dan evaluasi sangat penting bagi pihak


manajemen untuk mengambil keputusan dan menentukan
langkah-langkah perbaikan proses atau metode untuk
pencapaian hasil yang baik. Hasil monitoring dan evaluasi
juga penting sebagai bahan pertimbangan dalam rangka
menghilangkan kendala-kendala atau hambatan yang
dapat menggagalkan program atau proyek.

1
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Salah satu program lingkungan yang mulai dikembangkan


di Indonesia ialah pembangunan Taman Keanekaragaman
Hayati (Taman Kehati). Pembangunan dan pengelolaan
Taman Kehati merupakan program jangka panjang yang
hasil dan outcome atau dampaknya dapat diukur, baik
secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu,
monitoring dan evaluasi menjadi alat kontrol yang handal
agar program dapat berjalan sesuai dengan rencana dan
tercapai tujuan secara efektif dan efisien. Tentunya, hal
ini akan menghasilkan outcome dan memberikan dampak
yang baik.

B. Maksud dan Tujuan


Monitoring dan evaluasi dimaksudkan untuk:

(1) Membantu pengambil keputusan dan pelaksana


program perlindungan keanekaragaman hayati di
Taman Kehati untuk mengetahui kemajuan dan
perkem-bangan yang telah dicapai.
(2) Membantu pelaksana program untuk memeriksa
apakah suatu kegiatan berhasil diselesaikan sesuai
dengan rencana atau tidak.
(3) Membantu pelaksana program untuk mengambil
tindakan perbaikan terhadap masalah yang ditemu-
kan di lapangan.
(4) Mendokumentasikan berbagai pengalaman yang
muncul dalam pelaksanaan program dan dapat
mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut.

2
Tujuan monitoring dan evaluasi keberhasilan pem-
bangunan dan pengelolaan Taman Kehati, yaitu:

(1) Memastikan pembangunan dan pengelolaan Taman


Kehati sesuai dengan prinsip dan ketentuan yang
ditetapkan.
(2) Memastikan Taman Kehati memberikan manfaat
langsung dan tidak langsung bagi pelestarian flora
dan fauna, serta peningkatan kesadaran masyarakat
terhadap pentingnya konservasi keanekaragaman
hayati.
(3) Memastikan pelaksanaan program dan kegiatan
sesuai dengan rencana dan memenuhi kriteria yang
telah ditetapkan.
(4) Memastikan para pihak yang terlibat dalam pengelo-
laan keanekaragaman hayati dapat menjalankan
tugas dan tanggung jawabnya secara baik sesuai
dengan fungsinya masing-masing.
(5) Memberikan penilaian independen terhadap pelak-
sanaan program perlindungan keanekaragaman
hayati di Taman Kehati
.

3
DEFINISI DAN PENGERTIAN

Monitoring ialah kegiatan pengumpulan informasi secara


rutin atau periodik untuk melihat kinerja semua pelaksana
program dan memastikan seluruh kegiatan dapat dilak-
sanakan sesuai dengan rencana yang ditetapkan serta
sesuai dengan biaya yang dialokasikan. Laporan moni-
toring biasanya dibuat dalam periode bulanan, triwulan,
caturwulan, atau semester dan isinya mencakup output,
kegiatan (aktivitas), dan penggunaan input sumber daya
(manusia, waktu, dana, dan material).

Monitoring merupakan bagian fungsi internal dari proyek


atau organisasi, yaitu suatu fungsi berkelanjutan yang
menggunakan pengumpulan data secara sistematik dari
indkator-indikator yang telah ditetapkan dalam rangka
memberi informasi pihak manajemen dan stakeholders
tentang sejauh mana capaian dari tujuan dan kemajuan
dalam penggunaan sumber daya (input).

Indikator ialah variabel kuantitatif atau kualitatif yang


dapat dipakai untuk mengukur kemajuan atau hasil dan
dibandingkan dengan ukuran-ukuran target yang diren-
canakan. Indikator merupakan dasar penilaian sederhana
dan dapat dipercaya untuk menilai capaian, perubahan,

5
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

atau kinerja (performance). Indikator numerik (berupa


angka) lebih disukai dan dapat diukur berkali-kali secara
konsisten untuk menunjukan perubahan. Indikator-
indikator yang ditetapkan selama fase perencanaan proyek
biasanya meliputi komponen-komponen sebagai berikut:

(1) Apa yang akan diukur?


(2) Unit ukuran yang digunakan untuk menggambarkan
perubahan, misalnya persentase.
(3) Status sebelumnya atau baseline, misalnya pada ta-
hun 2010 nilainya 10%.
(4) Ukuran, arah, dan dimensi dari perubahan yang di-
inginkan; misalnya 30% pada tahun 2012.
(5) Kualitas atau standar perubahan yang ingin dicapai,
misalnya peningkatan presentase menjadi lebih ting-
gi.
(6) Sasaran yang dimonitor, misalnya tanaman, satwa
dan lain-lain.
(7) Jangka waktu, misalnya periode Januari 2010
Januari 2011.

Evaluasi ialah suatu kegiatan untuk menilai hasil pelak-


sanaan program dan kegiatan yang telah dilakukan dan
melihat realisasi capaian ataupun dampaknya. Evaluasi
dilakukan untuk memastikan bahwa program dan kegiatan
telah dilaksanakan sesuai dengan target yang diharapkan
(direncanakan), dengan metode dan penggunaan sumber
daya yang benar. Evaluasi membantu para pihak

6
mengambil pembelajaran dan pemahaman, serta menun-
jukan tingkat pencapaian. Evaluasi berfokus pada outcome
dan keterkaitannya dengan output. Dalam evaluasi, hal
yang dilihat, yakni efisiensi, efektivitas, dan dampak.

Evaluasi merupakan penilaian sistematik dan objektif dari


suatu program atau kebijakan, baik yang masih berlang-
sung maupun yang sudah selesai, meliputi rencana, imple-
mentasi dan hasilnya. Evaluasi lebih menekankan pada
penilaian outcome dan dampak (impact) daripada output-
output yang telah dihasilkan. Evaluasi harus memenuhi
kriteria:

(1) Obyektivitas
(2) Efisiensi
(3) Efektifitas
(4) Dampak (impact)
(5) Keberlanjutan (sustainability)

Input ialah sumber daya manusia, keuangan dan sumber


daya lainnya yang digunakan untuk melaksanakan kegiat-
an. Activity (kegiatan) ialah suatu pekerjaan yang harus
dilakukan guna menghasilkan output. Output (keluaran)
ialah hasil utama yang dibutuhkan guna mencapai
outcome. Outcome ialah manfaat jangka panjang, baik
yang direncanakan maupun tidak direncanakan. Outcome
bisa dicapai dalam jangka pendek, misalnya selama siklus
program, seperti yang ditetapkan dalam tujuan atau
jangka panjang yang biasanya berupa pencapaian target

7
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

(goal) atau tujuan jangka panjang. Impact atau dampak


ialah hasil dari capaian khusus seperti meningkatnya
keanekaragaman jenis satwa akibat meningkatnya keane-
karagaman jenis pohon yang ditanam. Perbedaan
mendasar antara monitoring dan evaluasi disa-jikan pada
Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Perbedaan mendasar antara monitoring dan evaluasi

Lingkup Monitoring Evaluasi

Waktu Terus menerus Menilai seluruh siklus


sepanjang pelaksanaan program
program

Kedalaman Merupakan bagian Mereview capaian


dan Tujuan reguler dari program program dan menilai
manajemen. Fokus apakah rencana
pada pelaksanaan sudah yang terbaik
program, untuk mencapai
membandingkan antara outcome.
realisasi dan rencana
Mengukur capaian
dan dampak, baik
positif maupun
negatif, baik yang
diinginkan maupun
tidak diinginkan.
Mencari
pembelajaran, baik
dari kesuksesan
maupun kegagalan,
serta mencari yang
terbaik untuk
dipraktekan di tempat
lain.

8
Lingkup Monitoring Evaluasi

Pelaku Dilakukan oleh orang Sebaiknya


yang terlibat langsung dilaksanakan oleh
dalam pelaksanaan pihak luar
program independen.

Keterkaitan Data dan penilaian yang diperoleh dalam


monitoring monitoring menjadi masukan dan digunakan
dengan dalam proses evaluasi.
evaluasi

Terdapat beberapa cara pelaksanaan evaluasi, baik yang


dilakukan oleh internal maupun eksternal. Cara evaluasi
yang lazim digunakan antara lain:

(1) Self-evaluation; pelaksanaan melibatkan orang


(pihak) internal dari program atau proyek. Kegiatan
ini merupakan introspeksi atas apa yang telah dilak-
sanakan untuk pembelajaran dan perbaikan. Itikad
introspeksi dan kejujuran sangat diperlukan agar
evaluasi cukup efektif dan menjadi pembelajaran
yang penting dan berkesan.

(2) Participatory evaluation; hal ini merupakan salah


satu bentuk evaluasi internal. Maksud kegiatan ini
ialah mengikutsertakan sebanyak mungkin pihak
yang terlibat, seperti pelaksana kegiatan dan
masyarakat yang mendapat manfaat. Apabila ada
pihak luar yang diikutsertakan, fungsi yang bersang-
kutan ialah sebagai fasilitator dari proses evaluasi,
bukan sebagai evaluator.

9
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

(3) Rapid Participatory Appraisal (RPA); biasanya


digunakan di daerah pedesaan atau pada keba-
nyakan kelompok masyarakat. Kegiatan ini merupa-
kan metode evaluasi kualitatif semiterstruktur yang
dilaksanakan oleh tim multidisiplin dalam waktu
yang singkat. RPA digunakan sebagai titik awal
untuk memahami kondisi setempat dengan cepat
dan murah, serta sangat bermanfaat untuk
mengumpulkan informasi. Pelaksanaan mengguna-
kan data sekunder, review data, observasi langsung,
wawancara semiterstruktur, informan kunci, wawan-
cara kelompok, games, diagram, peta, dan kalender.
Dalam konteks evaluasi, RPA memungkinkan sese-
orang mendapatkan input berharga dari orang-orang
yang diperkirakan mendapat manfaat dari program.
RPA sangat fleksibel dan interaktif.

(4) External evaluation; pelaksanaan dilakukan oleh


pihak luar yang telah ditunjuk dengan selektif.

(5) Interactive evaluation; pelaksaaan melibatkan


secara aktif antara evaluator luar dan pelaksana
program yang dievaluasi, atau pihak internal ter-
masuk di dalam tim evaluator.

Masing-masing cara evaluasi memiliki kelebihan dan


kekurangan. Kelebihan dan kekurangan evaluasi internal
dan eksternal disajikan pada Tabel 2.

10
Tabel 2. Kelebihan dan kekurangan evaluasi internal dan
eksternal

Pelaku Kelebihan Kekurangan

Internal Evaluator sudah Potensial terjadi konflik


familiar dengan kepentingan, terutama
program, kultur untuk mengarahkan ke
organisasi, maksud dan kesimpulan yang baik
tujuan program yang atau positif.
akan dievaluasi
Mungkin orang internal
Kadang orang lebih tidak memiliki keahlian
senang berbicara atau terlatih melakukan
kepada pemeriksa dari evaluasi.
internal daripada
Menyita waktu kerja
eksternal.
pegawai, walaupun
Merupakan alat lebih murah. Namun
manajemen yang jelas demikian, bisa menjadi
untuk introspeksi dan mahal karena
koreksi diri sendiri. kehilangan waktu kerja.
Tidak merasa tertekan
sehingga bisa
memudahkan
mendapat temuan dan
kritik.
Lebih murah daripada
evaluasi eksternal.

11
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Pelaku Kelebihan Kekurangan

Eksternal Evaluasi lebih objektif Orang luar mungkin


karena evaluator tidak tidak paham kultur dan
memiliki konflik apa yang ingin dicapai
kepentingan. dalam program.
Evaluator biasanya Yang dievaluasi
sudah berpengalaman mungkin merasa
dan terlatih. tertekan dan takut
berbicara terus terang
Kadang-kadang pekerja
dan kooperatif dalam
lebih senang
proses evaluasi.
memberikan informasi
kepada orang luar. Bisa sangat mahal.
Lebih kredibel untuk Bisa salah pengertian
mendapatkan temuan, dengan yang dievaluasi
khususnya yang positif. sehingga apa yang
diinginkan dari evaluasi
tidak terpenuhi.

12
PRINSIP-PRINSIP
MONITORING DAN EVALUASI

A. Prinsip-Prinsip
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi perlu didasarkan
pada kejujuran, motivasi, dan keinginan yang kuat dari
para pelaku. Kegiatan ini harus dianggap sebagai alat
yang penting untuk memperbaiki program. Prinsip-prinsip
dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi selanjutnya
diuraikan sebagai berikut.

1. Objektif dan Profesional


Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara
profesional berdasarkan analisis data yang lengkap dan
akurat. Hal ini dimaksudkan agar menghasilkan penilaian
secara objektif dan masukan yang tepat bagi pengambilan
keputusan dan pelaksanaan kebijakan. Oleh karena itu,
pelaku program wajib melaporkan informasi seakurat
mungkin. Informasi harus diuji silang dengan sumber lain
untuk menjamin keakurasiannya. Informasi yang akurat
dan berdasarkan fakta dari sumber terpercaya dapat
membantu untuk memperbaiki program.

13
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

2. Transparan
Monitoring dan evaluasi harus dilakukan di suatu ling-
kungan yang mendorong kebebasan berbicara yang ber-
tanggung jawab. Hasil pemantauan dan evaluasi harus
diketahui oleh banyak orang, terutama pihak-pihak yang
terlibat dalam proses ini.

3. Partisipatif
Semua pelaku program; terutama masyarakat, fasilitator,
dan konsultan; harus bebas untuk berpartisipasi dan mela-
porkan berbagai masalah yang dihadapi, serta member-
kan kontribusinya untuk perbaikan program.

4. Akuntabel
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus dapat diper-
tanggungjawabkan secara internal maupun eksternal.

5. Berorientasi Solusi
Pelaksanaan monitoring dan evaluasi diorientasikan untuk
menemukan solusi atas masalah yang terjadi dan menjadi
dasar peningkatan kinerja atau perbaikan metode.

6. Terintegrasi
Kegiatan pemantauan dan evaluasi yang dilakukan, baik
oleh konsultan maupun internal, harus menjadi bagian tak
terpisahkan dari manajemen, dalam hal ini sistem penge-
lolaan Taman Kehati.

14
B. Memilih Evaluator
Apabila akan menggunakan evaluator dari luar untuk
mengevaluasi program Taman Kehati, evaluator yang
dipilih harus memiliki kriteria berikut:

(1) Memiliki pemahaman tentang isu keanekaragaman


hayati;
(2) Memiliki pemahaman tentang isu perusahaan yang
dievaluasi;
(3) Berpengalaman dalam mengevaluasi proyek atau
program yang sejenis;
(4) Memiliki track record yang baik dengan clients
sebelumnya;
(5) Memiliki keahlian meneliti;
(6) Memiliki komitmen terhadap kualitas;
(7) Memiliki komitmen terhadap ketepatan waktu;
(8) Objektif, jujur, dan adil;
(9) Logis dan dapat bekerja secara sistematik;
(10) Memiliki kemampuan berkomunikasi lisan dan
tulisan;
(11) Memiliki gaya dan pendekatan yang sesuai dengan
perusahaan yang dievaluasi;
(12) Memiliki nilai-nilai yang serasi dengan nilai-nilai yang
dianut perusahaan;
(13) Biayanya rasional.

15
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Sebelum memutuskan untuk menggunakan evaluator


eksternal, hal-hal penting yang harus diperhatikan sebagai
berikut:

(1) Memeriksa referensinya;


(2) Bertemu dengan evaluator sebelum membuat kepu-
tusan final;
(3) Menyampaikan dengan jelas apa yang diinginkan
(Term of Reference/ToR untuk kontrak);
(4) Menegosiasikan kontrak dengan ketentuan provisi
jika kontrak tidak dapat diselesaikan tepat waktu
atau hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan;
(5) Meminta rencana kerja dengan output dan tata
waktunya;
(6) Mengikuti realisasi kontrak, termasuk meminta
laporan antara (interim report), baik lisan maupun
tertulis;
(7) Menyediakan waktu khusus untuk menampung um-
pan balik secara formal.

Tidak setiap evaluator objektif sempurna karena mereka


pasti sudah memiliki opini dan pemikiran. Namun, sebaik-
nya opini mereka harus dinyatakan secara jelas dan tidak
disembunyikan karena berguna untuk evaluasi.

16
TAHAPAN MONITORING DAN
EVALUASI

Langkah-langkah dalam merancang sistem monitoring dan


evaluasi tergantung pada apa yang ingin dimonitor dan
dievaluasi. Berikut ini merupakan outline langkah-langkah
umum yang biasa dilakukan dalam monitoring dan
evaluasi.

(1) Mengidentifikasi siapa saja yang akan dilibatkan


dalam perancangan, implementasi, dan pelaporan.
Para pihak yang dilibatkan diharapkan dapat
memberikan bantuan, perspektif dan pemahaman,
serta umpan balik.
(2) Menetapkan secara jelas ruang lingkup, tujuan,
penggunaan hasil, dan anggaran.
(3) Mengembangkan pertanyaan-pertanyaan untuk
menjawab apa yang ingin dipelajari dari hasil moni-
toring dan evaluasi.
(4) Memilih indikator-indikator capaian dan cara-cara
mengukur capaian untuk penilaian kinerja (perfor-
ma), atau untuk menggambarkan perubahan, baik
secara kualitatif maupun kuantitatif.

17
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

(5) Menetapkan metode pengumpulan data, misalnya


metode review dokumen, kuesioner, survei,
dan wawancara.
(6) Menganalisis dan menyintesis informasi yang dipero-
leh. Sekaligus me-review informasi yang diperoleh
untuk melihat apakah ada pola atau kecenderungan
(trend) yang muncul dari proses.
(7) Menginterpretasi temuan-temuan, memberikan um-
pan balik (feedback), dan membuat rekomendasi.
Dari proses analisis data dan pemahaman terhadap
temuan-temuan dapat melahirkan rekomendasi-
rekomendasi untuk meningkatkan kinerja atau mela-
kukan perubahan-perubahan di tengah perjalanan
program untuk perbaikan.
(8) Mengomunikasikan temuan dan pandangan kepada
para pihak (stakeholders) dan memutuskan bagai-
mana harus menggunakan hasil monitoring dan eva-
luasi untuk peningkatan kinerja.

Indikator input umumnya sumber daya, seperti sumber


daya manusia (SDM) dan biaya. Indikator proses merupa-
kan kegiatan yang biasanya terdiri atas beberapa kegiatan
secara berurutan. Indikator output ialah hasil yang dapat
dilihat segera. Indikator outcome ialah hasil yang dapat
dilihat atau dirasakan dalam jangka menengah, sedangkan
indikator impact atau dampak ialah hasil yang diperoleh
atau dirasakan dalam jangka panjang.

18
METODE MONITORING
KEANEKARAGAMAN HAYATI FAUNA

Monitoring fauna ialah kegiatan pengumpulan dan analisis


data hasil observasi terhadap fauna secara berulang untuk
mengetahui perubahan kondisi (struktur, komposisi, dan
keanekaragaman) fauna yang dibandingkan dengan kon-
disi sebelumnya (baseline) atau kondisi yang diharapkan.

Data satwa liar termasuk sebagai hal yang sulit didapatkan


di lapangan, apalagi jika waktu yang tersedia sangat ter-
batas. Hal ini dikarenakan satwa bersifat mobile atau
selalu berpindah dan beberapa satwa sangat sensitif
dengan kehadiran manusia sehingga akan menjauh
sebelum orang yang melakukan monitoring atau evaluasi
datang. Untuk mendapatkan data satwa yang akurat,
pengamat harus mengerahkan segala sumber daya,
mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, termasuk
hasil-hasil penelitian terbaru, literatur, dan informasi dari
masyarakat setempat atau petugas yang telah lama
berdomisili di sekitar lokasi yang akan disurvei (Gunawan,
in press).

Dalam monitoring satwa liar, metode apapun yang diguna-


kan tidak boleh menimbulkan kerusakan dan harus
memerhatikan:

19
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

(1) Tidak menggunakan metode sampling yang meru-


sak; misalnya menembak satwa atu menjaring bu-
rung.
(2) Harus menjamin bahwa jenis-jenis satwa liar yang
penting, sumber daya alam, dan tanaman tidak ru-
sak karena kegiatan survei yang dilakukan.
(3) Meminimalkan gangguan terhadap spesies yang sen-
sitif.
(4) Tidak menggunakan peralatan bermesin pada habi-
tat yang sensitif, kecuali dampaknya dapat dihin-
darkan.
(5) Membuat titik-titik pengamatan (lokasi sampling)
permanen secara seksama dan meminimalkan keru-
sakan pada saat pembuatan.
(6) Menjamin peralatan atau bangunan yang dibuat
untuk monitoring tidak menimbulkan risiko pada
satwa liar atau masyarakat.
(7) Menghindarkan kunjungan yang tidak perlu ke titik-
titik pengamatan (lokasi sampling).

A. Tujuan
Monitoring keanekaragaman hayati fauna atau satwa liar
bertujuan mengetahui perubahan kondisi fauna atau
satwa liar dari waktu ke waktu sebagai dampak dari
keberadaan Taman Kehati.

20
B. Sasaran Objek yang Dimonitor
Sasaran yang menjadi objek monitoring yaitu satwa liar
bertulang belakang (vertebrata) yang terdiri atas kelas
mamalia, aves, reptilia, dan amfibia. Monitoring khusus
juga dilakukan pada jenis-jenis satwa unggulan yang men-
jadi target konservasi.

C. Indikator yang Dimonitor


Indikator yang dimonitor dari kondisi satwa liar, yaitu stru-
ktur, komposisi, dan keanekaragaman. Struktur meliputi
kelimpahan relatif dan sebaran jenis dalam komunitas
(indeks kemerataan jenis). Komposisi meliputi jumlah jenis
dan proporsinya menurut berbagai kategori atau klasi-
fikasi. Sementara itu, indikator keanekaragaman diukur
dari nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon Wienner
(Magurran, 1988).

D. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data satwa liar untuk mendapatkan
nilai indikator-indikator dari mamalia, aves, reptilia, dan
amfibia dilakukan dengan metode transek atau jalur
(Sutherland, 2001). Dalam metode ini, pengamat berjalan
pada suatu jalur penjelajahan dengan arah konsisten yang
memotong wilayah studi secara sistematis sehingga dapat
mewakili dan mencakup semua kondisi habitat yang ada.
Transek juga dapat dibuat mengikuti track yang sudah
ada, seperti sungai atau jalan setapak.

21
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Setiap satwa yang dijumpai dicatat jenis, jumlah dan


frekuensi perjumpaannya. Hal penting lain yang juga perlu
dicatat yaitu aktivitas satwa pada saat dijumpai dan
tempat spesifik yang digunakan (misalnya jenis pohon
tertentu sebagai tempat tidur) (Gunawan, in press). Untuk
mengenali suatu jenis satwa, beberapa cara dapat
dilakukan antara lain melalui jejak, feses, suara, sarang,
bau, dan tanda-tanda lain yang ditinggalkan (van
Lavieren, 1982; Alikodra, 1990). Wawancara dengan
petugas lapangan dan masyarakat juga dilakukan untuk
melengkapi data yang tidak tercakup pada waktu
pengamatan (Gunawan, in press).

Kegiatan monitoring jenis-jenis burung (aves) dapat


dilakukan dengan metode observasi burung yang umum
seperti metode IPA (Indices Ponctuels dAbundance)
dengan interval waktu 20 menit dan radius observasi 50 m
(van Lavieren, 1982). Identifikasi jenis bisa menggunakan
buku panduan pengenalan burung yang sudah dibuat
untuk seluruh wilayah biogeografi Indonesia dan telah
banyak beredar, seperti Panduan Lapangan Pengenalan
Burung-Burung di Jawa dan Bali (MacKinnon, 1991),
Panduan Lapangan Burung-Burung Asia Tenggara (King,
1975), Panduan Lapangan Burung-Burung di Kawasan
Wallacea (Coates & Bishop, 1997), dan Panduan
Lapangan Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan
Kalimantan (MacKinnon et al., 1992).

Pada pengamatan burung-burung dengan habitat yang


luas, metode garis transek (line transect) dapat digunakan

22
(Sutherland, 2004). Garis transek juga dapat diganti
dengan jalan (track) yang sudah ada atau sungai.
Pengamatan dilakukan sepanjang kiri dan kanan jalan
atau sungai. Masing-masing selebar 20 m sehingga bila
panjang jalan atau sungai 500 m, luas areal yang diamati
sama dengan 1 ha (Pomeroy, 1992). Cara tersebut sering
disebut road-side census atau river-side census.

Observasi burung sebaiknya dilakukan pada pagi hari


ketika burung-burung memulai aktivitas atau menjelang
petang ketika burung-burung kembali ke sarang. Misalnya,
waktu pengamatan dilakukan pada pukul 05.0010.00 dan
pukul 16.0018.00 waktu setempat. Setelah hujan ber-
henti di tengah hari, burung-burung juga sering mudah
ditemukan.

Data yang dicatat dari pengamatan burung meliputi jenis,


jumlah total individu [dari setiap jenis yang ditemukan],
frekuensi perjumpaan, dan habitat tempat ditemukan.
Informasi lain juga dapat ditambahkan, seperti strata tajuk
vegetasi ketika ditemukan, aktivitas yang sedang
dilakukan, jenis makanan, dan waktu saat ditemukan
(Gunawan, in press).

E. Peralatan dan Bahan


Peralatan yang digunakan dalam monitoring satwa antara
lain teropong (binocular atau monocular), Geographic
Positional System (GPS), kamera dengan lensa jauh (tele-
lens), camera trap, stop counter, dan alat tulis. Bahan-

23
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

bahan yang digunakan antara lain peta kerja, buku pan-


duan pengenalan jenis burung, panduan pengenalan jenis
reptilia, panduan pengenalan jenis amfibia, dan buku
panduan pengenalan jejak satwa, serta buku catatan atau
tally sheet pengamatan.

C
B

E F

Gambar 1. Beberapa peralatan monitoring satwa: binocular


(A), monocular (B), kamera dengan lensa jauh (telelens) (C),
GPS (D), camera trap (E), dan stop counter (F)

24
Gambar 2. Beberapa buku panduan pengenalan satwa

A B

Gambar 3. Pengamatan satwa menggunakan teropong/bino-


cular (A) dan monitoring satwa menggunakan camera/video trap
(B)

25
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Gambar 4. Pendokumentasian satwa kecil menggunakan ka-


mera dengan lensa jauh (telelens)

26
Tabel 3. Tally sheet pengamatan untuk monitoring satwa

TALLY SHEET PENGAMATAN


UNTUK MONITORING SATWA

Taman Kehati :
Lokasi /Blok :
Pemonitor :
Tanggal :
Jam :
Kondisi cuaca :

No Nama Lokal Turus/Tabulasi Keterangan


1. Rajaudang 2-1-1 Bertengger,
biru bersuara
2. Bunglon 1-1-1-1 Mencari makan
3. Kutilang 8-4 Berjemur,
terbang
4. Tekukur 2 Bertengger
5. Walet sapi 25 Terbang
6. Garangan 2 Melintas jalan
7. Sero 1 Berjemur

Keterangan:
Model Tally sheet ini bisa digunakan untuk mencatat semua satwa
yang dijumpai (masih campuran). Namun, data ini selanjutnya harus
disortir/ dipisahkan untuk mamalia, reptilia, amfibia dan aves (burung)
dalam pengolahan data.
Turus/tabulasi 2-1-1 artinya terdapat 3 kali perjumpaan dan total
individu yang dijumpai sebanyak 4 (2+1+1=4) [perjumpaan pertama 2
ekor, kedua 1 ekor dan ketiga ada 1 ekor].

27
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Tabel 4. Hasil pengamatan lapangan monitoring satwa

HASIL PENGAMATAN LAPANGAN


MONITORING SATWA

Taman Kehati :
Lokasi /Blok :
Pemonitor :
Tanggal :
Jam :
Kondisi cuaca :
Kelas : MAMALIA/REPTILIA/AMFIBIA/AVES*
Jumlah Frekuensi
Nama Nama
No Individu Perjumpaan
Lokal Latin
(ni) (fi)
1. n1. f1.
2. n2. f2.
3. n3. f3.
4. n4. f4.
5. n5. f5.
6. n6. f6.
7. n7. f7.
8. n8. f8.
9. n9. f9.
10. n10. f10.
11. n11. f11.
12. n12. f12.
13. n13. f13.
14. n14. f14.
15. n15. f15.
16. n16. f16.
17. n17. f17.
18. n18. f18.
19. ..... .....
20. ..... .....
Jumlah N F
*Coret yang tidak perlu.

28
F. Lokasi Monitoring
Lokasi monitoring satwa dipilih di tempat-tempat yang
mewakili kondisi habitat yang ada di Taman Kehati. Cara
pemilihan sampel pengamatan dilakukan sebagai berikut
[lihat Gambar 5]:

(1) Sampel pengamatan untuk metode transek ialah


dengan cara meletakkan transek melewati seluruh
tipe habitat atau tipe vegetasi.
(2) Membuat pengulangan transek secara sistematis,
misalnya dengan jarak antartransek 100 m atau 200
m hingga mewakili seluruh areal yang ada.
(3) Untuk sampel pengamatan berbentuk titik, misalnya
metode IPA, titik pengamatan diletakkan di daerah
ekoton, yaitu daerah pertemuan dua tipe habitat/
komunitas atau lebih. Misalnya, peralihan dari sawah
dengan kebun, peralihan dari hutan ke kebun,
peralihan dari hutan ke sawah, peralihan dari rum-
pun bambu ke kebun, dan lain-lain.

29
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Gambar 5. Contoh lokasi monitoring satwa liar di Taman Keha-


ti Babakan Pari, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi

G. Periode Monitoring
Monitoring satwa liar dilakukan sedikitnya setahun dua kali
untuk mewakili kondisi musim kemarau dan musim hujan.
Untuk memudahkan dan agar periode waktunya tetap,
sebaiknya monitoring dilakukan pada bulan yang sama
setiap tahunnya, misalnya bulan Juni untuk musim
kemarau dan bulan Desember untuk musim hujan.
Apabila memungkinkan, setahun dapat dilakukan empat
kali monitoring, yaitu dua kali mewakili musim kemarau
dan dua kali mewakili musim hujan.

30
H. Pengolahan dan Interpretasi Data
Pengolahan data satwa dilakukan untuk menghasilkan
informasi frekuensi perjumpaan relatif (FR), kelimpahan
relatif (KR), indeks keanekaragaman jenis Shannon (H),
indeks kemerataan jenis (evenness) dan [jika diperlukan]
indeks kemiripan antar komunitas (indeks Sorensen) untuk
membandingkan dua komunitas secara spasial ataupun
temporal. Data juga dapat diklasifikasikan sehingga mem-
berikan informasi yang mudah dipahami dan berguna
untuk pengambilan keputusan (Gunawan, in press).

Indeks keanekaragaman jenis dihitung dengan rumus dari


Shannon (H) yaitu (Magurran, 1988.):
ni
H ' pi ln pi yang mana pi
N
pi ialah perbandingan antara jumlah individu spesies ke i
dengan jumlah total individu. Logaritma yang digunakan
ialah logaritma dasar 10 atau Ln (logaritma natural).
Rumus ini dapat diubah menjadi (Soegianto, 1994):

H '
N ln N ni ln ni
N
Untuk mengetahui struktur komunitas dalam setiap tipe
habitat, nilai kemerataan antarjenis atau indeks evenness
(E) dihitung dengan rumus sebagai berikut (Odum, 1994):

H' yang mana S ialah banyaknya jenis pada


E
ln S suatu tipe habitat.

31
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Indeks kemiripan komunitas (Similarity Index) atau dike-


nal dengan nama Indeks Sorensen antara dua sampel
dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut (Odum,
1994):
2C
SI
A B

SI ialah indeks kemiripan komunitas, A ialah jumlah jenis


dalam sampel A, B ialah jumlah jenis dalam sampel B, dan
C ialah jumlah jenis yang sama pada kedua sampel.
Dengan demikian, indeks ketidaksamaan ialah 1 - S. Nilai
indeks kemiripan komunitas berkisar antara 01. Semakin
tinggi nilai indeks kemiripan komunitas antara dua sampel
maka semakin miriplah kedua sampel tersebut, demikian
pula sebaliknya.

Kelimpahan (abundance) yang sering disimbolkan dengan


N ialah jumlah individu pada suatu wilayah yang sedang
diteliti. Kelimpahan Relatif merupakan nilai relatif dari
suatu jenis (spesies) terhadap total individu seluruh jenis
yang sedang diteliti. Nilai ini bermanfaat untuk meng-
gambarkan keadaan komunitas satwa liar di suatu wilayah
studi yang tidak diketahui luasnya atau untuk studi yang
kurang intensif. Kelimpahan suatu jenis pada suatu areal
yang disurvei dihitung dengan formula:

yang mana A ialah kelimpahan (Abundance),


A
ni ni ialah jumlah individu spesies I, dan L ialah
L luas areal yang disurvei (dalam hektar atau
km2).

32
Kelimpahan Relatif dihitung dengan formula.

ni yang mana RA ialah kelimpahan relatif, ni


RA x100% ialah kelimpahan atau jumlah individu spe-
N sies i dan N adalah kelimpahan total atau
jumlah seluruh individu dari seluruh spesies.

Dalam setiap survei satwa, seringkali kita perlu menun-


jukan hasil kuantitatif yang bisa menggambarkan kondisi
populasi atau komunitas satwa. Frekuensi perjumpaan
atau frequency of occurance dapat menggambarkan
seberapa sering atau seberapa mudah kita menjumpai
suatu jenis satwa. Semakin tinggi nilai relatif frekuensi
perjumpaan suatu jenis satwa, semakin mudah kita
menjumpainya di areal tersebut. Frekuensi perjumpaan
bisa berbasis luas areal pengamatan (jumlah perjumpaan
pada suatu luasan wilayah pengamatan), atau bisa juga
berbasis lamanya waktu pengamatan (jumah perjumpaan
selama waktu pengamatan). Dengan demikian, nilai FR
bisa menjadi petunjuk sebaran satwa, baik secara spasial
(ruang) maupun temporal (waktu). Formula untuk meng-
hitung frekuensi perjumpaan yaitu:


fi
FO i
A yang mana FOi ialah frekuensi perjumpaan
(Frequency of Occurance), fi ialah jumlah
atau perjumpaan suatu spesies (i), A ialah luas
areal yang disurvei (hektar atau km2) dan T

fi ialah lamanya waktu pengamatan (menit
FO i
T
atau jam).

33
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Formula yang digunakan untuk mendapatkan nilai


frekuensi relatif sebagai berikut:

Yang mana FRi ialah frekuensi per-


fi jumpaan relatif suatu spesies (i), fi
FR i
x100%
F ialah frekuensi atau jumlah perjum-
paan dengan spesies i, dan F ialah
total frekuensi perjumpaan seluruh
spesies.

Interpretasi data satwa juga dibuat klasifikasi untuk


memberikan informasi yang lebih sesuai dengan tujuan
memudahkan pengambilan keputusan. Klasifikasi data
satwa, khususnya burung, antara lain berdasarkan
(Gunawan, in press):

Kelompok makanan (feeding guilds).


Spesialisasi habitat: daratan dan perairan.
Sifat tinggal: resident (penghuni tetap) dan migran lo-
kal atau migran antar benua.
Status endemisitas: endemik dan eksotik (tidak ende-
mik).
Status asal/keaslian: asli dan introduksi.
Pemanfaatannya: komersial dan tidak komersial.
Status konservasi, seperti status perlindungan
berdasarkan PP 7/1999 (dilindungi/tidak dilindungi),
status berdasarkan Appendix CITES (Appendix I, II,
III atau Non-Appendix), dan status menurut Redlist
IUCN.

34
Berdasarkan tipe habitat yang diteliti, misalnya kebun,
sawah, lahan terbuka, hutan tanaman monokultur,
hutan tanaman campuran, hutan alam sekunder,
hutan alam primer, dan lain-lain.
Lainnya; misalnya berdasarkan prioritas konservasi
nasional, prioritas konservasi daerah, maskot kabu-
paten, maskot provinsi, maskot nasional, atau
merupakan spesies kunci (keystone species), spesies
payung (umbrella species), serta spesies bendera (flag
species).

Klasifikasi berdasarkan feeding guilds untuk burung


meliputi burung-burung pemakan daun disebut frugivora,
pemakan biji disebut granivora, dan pemakan nektar
disebut nektivora. Burung pemangsa satwa lain disebut
karnivora atau raptor, pemangsa ikan disebut piscivora
dan dan pemakan serangga disebut insektivora. Untuk
bangsa satwa mamalia umumnya dikelompokkan menjadi
herbivora (pemakan bagian tumbuhan), karnivora
(pemangsa satwa lain), dan omnivora (pemakan segala).

Berdasarkan spesialisasi habitatnya, burung-burung


dikelompokkan menjadi burung daratan (terrestrial bird)
yaitu burung yang sebagian besar hidupnya di daratan
dan mencari makan di daratan dan burung air (water
bird) yaitu burung yang sebagian besar hidupnya di
perairan atau dalam mencari makan tergantung pada
keberadaan perairan (umumnya makanannya ada di air,
seperti ikan, udang, dan hewan air lainnya).

35
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Klasifikasi berdasarkan status tinggal, yaitu satwa resident


(penghuni tetap), migran lokal atau migran antar benua.
Satwa penetap (resident) ialah satwa yang menempati
habitat yang sama sepanjang tahun. Satwa migran lokal
ialah satwa yang melakukan perpindahan dalam jarak
yang dekat (beberapa kilometer) dari dan ke tempat
berkembang biak (breeding). Satwa migran afrotropica
ialah satwa yang berpindah cukup jauh dalam wilayah
afrotropica (misalnya kebanyakan burung kukuk). Satwa
migran paleartic adalah satwa yang menghabiskan
sebagian besar hidupnya di wilayah afrotropica tetapi
bermigrasi ke wilayah paleartic untuk berkembang biak.

Berdasarkan status endemisitasnya, satwa-satwa dapat


dikelompokkan menjadi satwa endemik dan eksotik atau
introduksi. Spesies endemik ialah satwa yang hidup di
alam hanya pada suatu tempat, di saat sekarang dan
masa lalu (Adisoemarto & Rifai, 1992). Spesies eksotik
ialah spesies yang telah diintroduksi ke suatu tempat atau
yang telah mengolonisasi suatu daerah dari tempat lain di
masa lalu (Adisoemarto & Rifai, 1992).

Berdasarkan status asal atau keasliannya, satwa-satwa


dikelompokkan menjadi satwa asli (indigenous) atau intro-
duksi (didatangkan dari tempat lain). Spesies asli ialah
spesies pribumi dan terdapat alami di suatu daerah.

Berdasarkan pemanfaatannya, satwa dapat dikelompok-


kan menjadi satwa komersial dan nonkomersial. Satwa

36
komersial ialah satwa yang memiliki nilai ekonomi dan
diperdagangkan.

Klasifikasi berdasarkan Red List IUCN (International Union


for Conservation of Nature and Natural Resources) versi
3.1 untuk satwa liar didasarkan pada tingkat keteran-
camannya, mulai dari yang paling gawat hingga yang
paling ringan dengan kategori sebagai berikut:

Extinct (EX) = punah


Extinct in the Wild (EW) = punah di alam
Critically Endangered (CR) = kritis
Endangered (EN) = terancam
Vulnerable (VU) = rentan
Near Threatened (NT) = mendekati terancam
Least Concern (LC) = kurang mendapat perhatian

CITES (Convention on International Trade in Endangered


Species of Wild Fauna and Flora ) atau konvensi perda-
gangan internasional spesies tumbuhan dan satwa liar
terancam adalah perjanjian internasional antarnegara
yang disusun berdasarkan resolusi sidang anggota World
Conservation Union International Union for the Conser-
vation of Nature and Natural Resources (WCU-IUCN)
tahun 1963. Konvensi bertujuan mengendalikan perda-
gangan flora dan fauna yang terancam kepunahan dan
melindunginya terhadap perdagangan internasional yang
mengakibatkan kelestarian spesies tersebut terancam.
Pemerintah Indonesia telah meratifikasi CITES melalui
Keputusan Pemerintah No. 43 Tahun 1978.

37
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

CITES menetapkan berbagai tingkatan proteksi terhadap


lebih dari 33.000 spesies terancam yang dicantumkan
dalam apendiks yang terdiri atas tiga apendiks, yaitu:

Apendiks I (sekitar 800 spesies) berisi daftar


seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang dila-
rang dalam segala bentuk perdagangan internasional.
Spesies yang dimasukkan ke dalam kategori ini ialah
spesies yang terancam punah bila perdagangan tidak
dihentikan. Perdagangan spesimen dari spesies yang
ditangkap di alam bebas tergolong ilegal (diizinkan
hanya dalam keadaan luar biasa).

Satwa dan tumbuhan yang termasuk dalam daftar


Apendiks I namun merupakan hasil penangkaran atau
budi daya dianggap sebagai spesimen dari Apendiks II
dengan beberapa persyaratan. Otoritas pengelola dari
negara pengekspor harus melaporkan Non-Detriment
Finding (NDF) berupa bukti bahwa ekspor spesimen
dari spesies tersebut tidak merugikan populasi di alam
bebas. Setiap perdagangan spesies dalam Apendiks I
memerlukan izin ekspor impor. Otoritas pengelola dari
negara pengekspor diharuskan memeriksa izin impor
yang dimiliki pedagang dan memastikan negara peng-
impor dapat memelihara spesimen tersebut dengan
layak.

Satwa yang dimasukkan ke dalam Apendiks I, misal-


nya harimau dan subspesiesnya, macan tutul, gajah
Asia, dan semua spesies badak di Indonesia.

38
Apendiks II (sekitar 32.500 spesies) berisi daftar
spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi
mungkin terancam punah bila perdagangan terus
berlanjut tanpa adanya pengaturan

Spesies dalam Apendiks II tidak segera terancam


kepunahan, tetapi mungkin terancam punah bila tidak
dimasukkan ke dalam daftar dan perdagangan terus
berlanjut. Selain itu, Apendiks II juga berisi spesies
yang terlihat mirip dan mudah keliru dengan spesies
yang didaftar dalam Apendiks I. Otoritas pengelola
dari negara pengekspor harus melaporkan bukti
bahwa ekspor spesimen dari spesies tersebut tidak
merugikan populasi di alam bebas.

Apendiks III (sekitar 300 spesies) berisi daftar


spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi di
negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitat-
nya, dan suatu saat peringkatnya bisa dinaikkan ke
dalam Apendiks II atau Apendiks I.

Spesies yang dimasukkan ke dalam Apendiks III ialah


spesies yang dimasukkan ke dalam daftar setelah
salah satu negara anggota meminta bantuan para
pihak CITES dalam mengatur perdagangan suatu
spesies. Spesies tidak terancam punah dan semua
negara anggota CITES hanya boleh melakukan
perdagangan dengan izin ekspor yang sesuai dan
Surat Keterangan Asal (SKA) atau Certificate of Origin
(CoO).

39
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Flagship species ialah spesies yang dipilih untuk meng-


gambarkan kondisi lingkungan atau ekosistem yang
membutuhkan upaya konservasi. Spesies ini dipilih karena
kerentanan, daya tarik, atau keunikannya dalam rangka
membangkitkan dukungan dan penghargaan publik bagi
konservasi keseluruhan ekosistem dan spesies di dalam-
nya. Contoh flagship species yaitu panda raksasa, orang-
utan, gajah afrika, harimau india, monyet tamarin rambut
emas, penyu belimbing, dan gorila gunung.

Spesies kunci (keystone species) merupakan spesies yang


memiliki pengaruh besar pada lingkungannya, memenga-
ruhi banyak organisme lain dalam ekosistem, dan
menentukan tipe dan jumlah berbagai spesies dalam suatu
komunitas. Banyak hewan pemangsa merupakan spesies
kunci, seperti macan tutul di Jawa dan harimau di Suma-
tera.

Spesies payung (umbrella species) ialah spesies yang


dipilih dalam rangka pembuatan keputusan konservasi.
Mengingat sulitnya menentukan status dari banyak
spesies, pemilihan satu spesies payung dapat memudah-
kan pengambilan keputusan konservasi. Segala upaya
konservasi terhadap spesies payung akan berdampak
positif (mengonservasi) juga bagi spesies lain. Spesies
payung dapat digunakan membantu memilih lokasi yang
sesuai untuk pencagaran, menentukan luasnya dan
mengetahui komposisi, struktur, dan proses-proses eko-
sistem. Contoh spesies payung, yaitu harimau india,
harimau sumatera, orangutan kalimantan, dan elang jawa.

40
Hasil klasifikasi lebih menarik dan cepat dimengerti jika
disajikan dalam bentuk tabel, gambar atau grafik,
misalnya grafik pie, grafik line, atau histogram batang.
Penyajian daftar jenis satwa dalam tabel sebaiknya
disusun sistematik yang mencantumkan famili, genus, dan
spesies.

Tabel 5. Contoh penyajian hasil olahan data satwa dalam


bentuk tabel
Jumlah Indeks Indeks
Lokasi Jenis Keragaman Jenis Evenness
Burung (H') (E)
Kalitengah 13 1.94 0.76
Lor
Balerante 15 2.36 0.87
Deles 14 2.02 0.77
Kemalang
Srumbung 18 2.40 0.83
Sumber: Gunawan et al. (2012)

Tabel 6. Contoh penyajian data indeks indeks kemiripan


komunitas burung
Kalitengah Deles Srum-
Lokasi Balerante
Lor Kemalang bung
Kalitengah - 0.54 0.37 0.26
Lor
Balerante - 0.69 0.42
Deles - 0.31
Kemalang
Srumbung -
Sumber: Gunawan et al. (2012)

41
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Sumber: Gunawan et al., 2012

Gambar 6. Contoh penyajian hasil olahan data satwa dalam


bentuk grafik pie

Sumber: Gunawan et al., 2005

Gambar 7. Contoh penyajian hasil olahan data satwa dalam


bentuk histogram

42
43
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

44
Gambar 8. Berang-berang jawa (Aonyx cinereus) yang ter-
tangkap camera trap di Taman Kehati PT. Tirta Investama Lido

I. Pelaporan
Hasil monitoring satwa dilaporkan kepada Kepala Badan
Lingkungan Hidup Provinsi atau Kabupaten (selaku Pem-
bina Taman Kehati), Pusat Penelitian dan Pengembangan
Hutan Bogor (selaku otoritas penelitian keanekaragaman
hayati dan ekosistem), dan Balai Konservasi Sumber Daya
Alam (BKSDA) setempat selaku otoritas manajemen
keanekaragaman hayati dan ekosistem, khususnya jenis
langka dan/atau dilindungi. Rekapitulasi laporan moni-
toring satwa dapat disajikan seperti format berikut.

45
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Tabel 9. Form rekapitulasi laporan monitoring satwa

LAPORAN MONITORING SATWA

Nama Taman Kehati


Lokasi Desa/Kec/Kab
Petugas yang
Memonitor
Tanggal/Bulan/Tahun
Jam
Kondisi Cuaca

HASIL MONITORING

Tujuan Monitoring
Obyek Monitoring
Indikator
A. Kekayaan Spesies Sebelumnya Sekarang
1. Total spesies
2. Mamalia
3. Reptilia
4. Amfibia
5. Aves
B. Indeks Keaneka- Sebelumnya Sekarang
ragaman
1. Total spesies
2. Mamalia
3. Reptilia
4. Amfibia
5. Aves

46
C. Indeks Kemerataan Sebelumnya Sekarang
1. Total spesies
2. Mamalia
3. Reptilia
4. Amfibia
5. Aves
Metode Transek dan IPA
Peralatan Binokuler, Kamera
Lokasi Monitoring (Blok)
Periode Monitoring Januari-Juni / Juli-Desember
Pihak yang Dilapori Badan Pengelola Lingkungan
Hidup; Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan; Balai
Konservasi Sumber Daya Alam

47
METODE MONITORING
KEANEKARAGAMAN HAYATI FLORA

Memonitor perkembangan komunitas tumbuhan di Taman


Kehati sangat penting karena tumbuhan merupakan
komponen pokok dari suatu ekosistem. Hal ini karena
tumbuhan merupakan produsen utama dalam ekosistem
yang dikonsumsi oleh konsumen pertama yaitu satwa-
satwa herbivora. Selanjutnya, satwa herbivora dimakan
oleh satwa karnivora pertama, dan satwa karnivora
pertama dimakan oleh karnivora kedua atau karnivora
puncak yang kemudian mati dan diuraikan oleh organisme
pengurai (detritus) atau dimakan oleh pemakan bangkai
(scavenger). Pada akhirnya, scavenger mati diuraikan oleh
detritus dan menghasilkan unsur hara yang dikonsumsi
kembali oleh tumbuh-tumbuhan. Demikian seterusnya,
siklus rantai makanan (food chain) terjadi dalam suatu
ekosistem.

Mengetahui status komunitas tumbuhan atau vegetasi di


suatu ekosistem dapat menjadi prediksi bagi kondisi
satwa-satwa yang menjadi konsumen tumbuhan, misalnya
satwa pemakan daun, buah, biji, pucuk, nektar, dan umbi.
Terdapat interaksi dan keterkaitan atau saling keter-
gantungan antara unsur tumbuhan dan satwa liar. Oleh

49
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

karena itu, memonitor satwa liar berarti juga memonitor


habitatnya. Dalam hal ini, tumbuhan merupakan bagian
utama dari habitat satwa liar tersebut.

A. Tujuan
Monitoring keanekaragaman hayati flora atau tumbuhan
bertujuan untuk mengetahui perubahan kondisi flora atau
tumbuhan dari waktu ke waktu di Taman Kehati.

B. Sasaran Objek yang Dimonitor


Sasaran yang menjadi objek monitoring yaitu pohon-
pohon hasil penanaman pada program pembangunan
Taman Kehati dengan fokus pada jenis-jenis unggulan
target konservasi. Terdapat dua kelompok sasaran moni-
toring flora pohon, yaitu:

(1) Kelompok pohon muda, yaitu bibit-bibit yang baru


ditanam hingga berumur kurang dari 10 tahun. As-
pek yang dimonitor antara lain survival (daya hidup),
pertumbuhan (tinggi dan diameter), dan kesehatan
(hama dan penyakit).

(2) Kelompok pohon dewasa, yaitu pohon-pohon besar


dengan diameter di atas 10 cm atau berumur lebih
dari 10 tahun. Aspek yang dimonitor terutama pada
fenologi (pembungaan) dan pembuahan. Selain itu,
aspek kesehatan pohon dewasa lebih ditekankan
pada kondisi fisik yang menyebabkan pohon rawan

50
tumbang, patah dahan, atau kondisi tajuk yang
mungkin mengganggu pertumbuhan pohon lain.

C. Indikator yang Dimonitor


Indikator yang dimonitor dari kelompok pohon muda:

Tinggi total pohon


Diameter batang
Keberadaan hama atau penyakit
Keberadaan gulma/tumbuhan pengganggu

Indikator yang dimonitor dari kelompok pohon dewasa:

Tinggi total pohon


Tinggi bebas cabang
Diameter setinggi dada (dbh)
Pembungaan (waktu berbunga dan lamanya musim
berbunga)
Pembuahan (waktu berbuah dan lamanya musim
buah)
Keberadaan hama atau penyakit
Keberadaan cacat pohon (berlubang, patah cabang,
rawan tumbang, dan lain-lain)
Satwa yang memanfaatkan (misalnya untuk bersarang
atau dimakan buah, biji, daun atau nektarnya)

51
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Tabel 10. Tally sheet monitoring vegetasi/pohon muda

WAKTU MONITORING
1. Periode Monitoring Jan-Mar/Apr-Jun/Jul-Sep/Okt-
Des
2. Tanggal Monitoring
IDENTITAS POHON
3. Nomor Pohon
4. Nama Lokal
5. Nama Latin
6. Famili
7. Tahun tanam
INDIKATOR YANG DIMONITOR
8. Tinggi total (m)
9. Diameter (cm)
10. Keberadaan hama/
penyakit
Jenis hama/penyakit
Bagian yang diserang
hama/penyakit
Upaya penanggulangan
hama/penyakit
11. Keberdaan gulma/
tumbuhan pengganggu
Jenis gulma
Upaya penanggulangan
gulma

52
Tabel 11. Tally sheet monitoring vegetasi/pohon dewasa

WAKTU MONITORING
1. Periode Monitoring Jan-Mar/Apr-Jun/Jul-Sep/Okt-
Des*
2. Tanggal Monitoring
IDENTITAS POHON
3. Nomor Pohon
4. Nama Lokal
5. Nama Latin
6. Famili
7. Tahun tanam
INDIKATOR YANG DIMONITOR
8. Tinggi total (m)
9. Tinggi bebas cabang (m)
10. Diameter setinggi dada
(cm)
11. Keberadaan hama penyakit
Jenis hama/penyakit
Bagian yang diserang
Upaya penanggulangan
12. Keberadaan cacat pohon
Lubang/growong batang
Patah cabang/ranting
Rawan tumbang
13. Pembungaan (fenologi)
Waktu mulai berbunga
Lamanya musim berbunga
Satwa pemakan nektar
14. Pembuahan
Waktu mulai berbuah
Lamanya musim buah
Satwa pemakan buah/biji
15. Keberadaan sarang satwa
* Lingkari yang sesuai.

53
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

D. Metode Pengumpulan Data


Monitoring terhadap tanaman pohon-pohon di Taman
Kehati dapat dilakukan secara sensus ataupun sampling.
Apabila jumlahnya tidak terlalu banyak, misalnya kurang
dari 30 pohon, monitoring dilakukan secara sensus (100%
diamati dan diukur). Namun, apabila jumlahnya terlalu
banyak dan sumber daya yang tersedia terbatas (waktu,
tenaga, dan biaya), sampling perlu dibuat. Sampling diha-
rapkan dapat mewakili kondisi populasi pohon dari jenis
yang sama pada umumnya. Oleh karena itu, hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam menentukan sampel, yaitu:

(1) Sampling ditentukan pada saat pertama melakukan


monitoring. Pada monitoring berikutnya hanya mela-
kukan pengukuran dan pengamatan ulang terhadap
sampel yang telah ditentukan tersebut.
(2) Sampling (pemilihan pohon sampel) dilakukan seca-
ra acak (random).
(3) Untuk mendapatkan keterwakilan dari berbagai kon-
disi secara proporsional [jika diperlukan], stratifikasi
dilakukan sebelum menentukan pohon-pohon yang
akan dijadikan sampel untuk dimonitor.
(4) Stratifikasi dilakukan berdasarkan jenis pohon dan
kelas umur (tahun tanam).
(5) Setelah distratifikasi, setiap strata dipilih 30 pohon
secara acak.
(6) Pohon-pohon yang telah terpilih diberi tanda (no-
mor) untuk mengingatkan kembali pada monitoring
berikutnya.

54
E. Peralatan dan Bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan dalam monitoring
flora pohon disajikan pada Tabel 12 berikut ini:

Tabel 12. Peralatan dan bahan monitoring pohon Taman Kehati

No Alat/Bahan Kegunaan/Fungsi
1. Haga Altimeter Mengukur tinggi pohon dewasa
2. Caliper Mengukur diameter bibit dan pohon
kecil
3. Phi band Mengukur diameter pohon besar
4. Meteran roll Mengukur tinggi bibit kurang dari 2
meter
5. Gergaji pruning Pruning ranting tinggi
6. Gunting stek Pruning bibit
7. Gunting pruning Pruning daun dan ranting kecil
8. Chain saw Menebang pohon yang
membahayakan
9. Weeding tools Membuang gulma
10. Gergaji rumput Membuang gulma
11. Kamera Mendokumentasikan hasil
pengamatan
12. Tally sheet Daftar checklist monitoring
13. Alat tulis Membuat catatan di lapangan
14. PC/Laptop Mengolah data dan membuat laporan

55
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Gambar 9. Peralatan yang perlu dibawa pada saat monitoring

F. Lokasi Monitoring
Monitoring dilakukan pada semua perwakilan tanaman.
Oleh karena itu, apabila tanaman telah dibagi menurut
tema di dalam blok, perwakilan tanaman yang dimonitor
harus ada di setiap blok. Untuk Taman Kehati Babakan
Pari (Cidahu-Sukabumi), lokasi monitoring flora pohon
dapat dilihat pada Gambar 10.

56
Gambar 10. Contoh lokasi monitoring flora pohon di Taman
Kehati Babakan Pari, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi

Gambar 11. Pemeriksaan hama dan penyakit tanaman

57
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

A B

Gambar 12. Pengukuran diamater pohon dewasa (A) dan pen-


catatan kondisi gulma sekitar tanaman (B)

A B

Gambar 13. Label pohon yang dimonitor: bagian depan berisi


nama spesies, nomor pohon, dan nomor blok (A); dan bagian
belakang berisi checklist tanggal monitoring (B)

58
G. Periode Monitoring
Monitoring pohon muda, khususnya pada bibit-bibit yang
baru ditanam hingga umur satu tahun, sebaiknya dilaku-
kan lebih sering untuk mengetahui daya hidupnya, hama
penyakit dan gulma pengganggunya yang dapat memati-
kan atau menghambat pertumbuhan bibit tersebut.
Dengan demikian, jika terjadi kematian bibit maka dapat
segera diketahui dan dapat cepat dilakukan penyulaman.
Pada tahun pertama, monitoring dapat dilakukan seming-
gu sekali atau dua minggu sekali. Setelah melewati tahun
pertama, kondisi bibit sudah relatif stabil sehingga
frekuensi monitoring dapat dilakukan sebulan sekali
hingga tiga bulan sekali.Pada pohon dewasa, monitoring
cukup dilakukan tiga bulan sekali untuk mengantisipasi
pohon tumbang dan cabang atau ranting patah. Meskipun
demikian, pada musim hujan yang sering terjadi hujan
angin, pemeriksaan pohon dewasa harus lebih sering
dilakukan.

Monitoring yang umum dilakukan dalam periode tiga


bulanan (triwulan), empat bulanan (caturwulan) atau
enam bulanan (semester) dengan pengaturan sebagai
berikut:

59
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Tabel 13. Pembagian periode dan waktu monitoring

Periode Triwulan Waktu/Tanggal Monitoring


Januari-Maret 31 Maret atau 1 April
April-Juni 30 Juni atau 1 Juli
Juli-September 31 Agustus atau 1 September
Oktober-Desember 31 Desember atau 1 Januari
Periode Caturwulan Waktu/Tanggal Monitoring
Januari-April 30 April atau 1 Mei
Mei-Agustus 31 Agustus atau 1 September
September-Desember 31 Desember atau 1 Januari
Periode Semester Waktu/Tanggal Monitoring
Januari-Juni 30 Juni atau 1 Juli
Juli-Desember 31 Desember atau 1 Januari

H. Pengolahan dan Interpretasi Data


Data hasil monitoring diolah untuk mendapatkan informasi
persen hidup, laju pertumbuhan tinggi dan diameter, serta
kesehatan pohon. Hasil olahan data disajikan dalam
bentuk tabel dan/atau grafik. Garfik garis dapat digunakan
untuk menunjukan pertumbuhan. Grafik pie dapat diguna-
kan untuk menunjukan persentase pohon hidup, per-
sentase pohon sehat, atau persentase serangan hama dan
penyakit.

Data dan informasi yang didapat diinterpretasi dan disin-


tesis untuk menghasilkan rekomendasi-rekomendasi bagi
manajemen untuk melakukan upaya-upaya, yaitu:

60
(1) Pemupukan pohon yang pertumbuhannya kurang.
(2) Pemangkasan pohon yang mengganggu pertum-
buhan pohon target konservasi.
(3) Pemotongan daun atau ranting yang berpenyakit.
(4) Pemberantasan hama dan penyakit.
(5) Penyiraman tanah yang kering
(6) Pembersihan gulma.
(7) Penyulaman pohon yang mati.

I. Pelaporan
Hasil monitoring flora pohon dilaporkan kepada Badan
Lingkungan Hidup Provinsi atau Kabupaten selaku
Pembina di daerah, Pusat Penelitian dan Pengembangan
Hutan Bogor selaku otoritas penelitian Kehati di
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat
selaku otoritas manajemen konservasi flora fauna langka
dan dilindungi.

61
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Tabel 14. Rekapitulasi hasil monitoring pohon muda

REKAPITULASI HASIL MONITORING POHON MUDA


WAKTU MONITORING
Periode Monitoring Jan-Mar/Apr-Jun/Jul-Sep/Okt-Des
Tanggal Monitoring
HASIL MONITORING POHON MUDA
Jumlah
Tinggi
Jumlah Jumlah Diameter Terserang Jumlah
Jenis pohon rata-
pohon Hidup rata-rata Hama/ Cacat
rata
penyakit
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
dst
CATATAN PENTING

REKOMENDASI

62
Tabel 15. Rekapitulasi hasil monitoring pohon dewasa

REKAPITULASI HASIL MONITORING POHON


DEWASA
WAKTU MONITORING
Periode Monitoring Jan-Mar/Apr-Jun/Jul-Sep/Okt-Des
Tanggal Monitoring
HASIL MONITORING POHON DEWASA
Jenis Jumlah Tinggi Tinggi Diameter Jumlah Jumlah Jumlah
pohon pohon total bebas rata-rata pohon pohon pohon
rata- cabang berbunga berbuah cacat
rata rata-
rata
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
dst
CATATAN PENTING

REKOMENDASI

63
METODE EVALUASI KEBERHASILAN
TAMAN KEHATI

A. Maksud dan Tujuan


Evaluasi keberhasilan pembangunan dan pengelolaan Ta-
man Kehati dimaksudkan:

(1) Memberikan informasi yang dibutuhkan oleh mana-


jemen dalam pengambilan keputusan pengelolaan
Taman Kehati ke depan.
(2) Menilai apakah tujuan pembangunan dan penge-
lolaan Taman Kehati dapat dicapai sesuai dengan
yang diharapkan sehingga dapat dijadikan contoh
atau model untuk pengembangan di tempat lain.
(3) Menilai efektivitas program, capaian sasaran,
efisiensi dan keberlanjutan dalam rangka pember-
dayaan fungsi Taman Kehati.

Oleh karena itu, evaluasi keberhasilan pembangunan dan


pengelolaan Taman Kehati bertujuan:

(1) Memperoleh apa yang ingin dicapai melalui pem-


bangunan dan pengelolaan Taman Kehati (tujuan
dan manfaat).

65
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

(2) Menilai kemajuan sampai di mana tujuan telah ter-


laksana dan manfaat telah diperoleh.
(3) Mengetahui strategi yang dibuat untuk mencapai
tujuan; apakah strategi tersebut diikuti dan apakah
strategi bekerja efektif; jika tidak, mengapa?
(4) Mengetahui implikasi program pengembangan dan
pengelolaan Taman Kehati bagi para stakeholders.
(5) Menilai efisiensi, efektivitas, dan dampak (impact)
dari pengembangan dan pengelolaan Taman Kehati.

B. Aspek-Aspek yang Dievaluasi


Aspek-aspek yang dikaji dalam evaluasi keberhasilan pem-
bangunan dan pengelolaan Taman Kehati ialah yang
terkait dengan tujuan dan manfaat atau fungsi Taman
Kehati, serta pelaksanaan program yang terkait, yaitu:

1. Tujuan Taman Kehati


Pembangunan dan pengelolaan Taman Kehati bertujuan
menyelamatkan berbagai spesies tumbuhan asli/lokal yang
memiliki tingkat ancaman sangat tinggi terhadap kelesta-
riannya atau ancaman yang mengakibatkan kepunahan-
nya (Pasal 1 ayat 3, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup
[Permen LH] No. 3 Tahun 2012). Adapun spesies pohon
asli yang menjadi target konservasi Taman Kehati
Babakan Pari yaitu sebagaimana disajikan pada Tabel 16.
Sementara itu, fauna target yang dikonservasi di Taman
Kehati disajikan pada Tabel 17.

66
Tabel 16. Contoh jenis flora prioritas target konservasi di
Taman Kehati Babakan Pari (Cidahu-Sukabumi)

Status IUCN
Nama
No Nama Latin dan PP No.
Indonesia
7/1999
1. Diospyros celebica Kayu hitam Rentan (VU)
Bakh.
2. Eusideroxylon zwageri Kayu besi Rentan (VU)
Teijsm.& Binn.
3. Intsia bijuga (Colebr.) Merbau Rentan (VU)
Kuntze
4. Shorea leprosula Miq. Meranti Genting (EN)
5. Dryobalanops Kamper Genting (EN)
lanceolata Burck.

Tabel 17. Contoh lima jenis fauna prioritas target konservasi di


Taman Kehati Babakan Pari (Cidahu-Sukabumi)

Status IUCN
Nama
No Nama Latin dan PP No.
Indonesia
7/1999
1. Herpestes javanicus (. Garangan Least Concern
Geoffroy Saint-Hilaire, (LC)
1818)
2. Paradoxurus Careuh bulan Least Concern
hermaphroditus (Pallas, (LC)
1777)
3. Halcyon cyanoventris Raja udang Least Concern
Vieillot, 1818 jawa (LC); Dilindungi
4. Bronchocela Bunglon Least Concern
jubata Dumril & surai (LC)
Bibron, 1837
5. Cinnyris jugularis Burung madu Least Concern
Linnaeus, 1766 sriganti (LC); Dilindungi

67
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

2. Manfaat atau Fungsi Taman Kehati


Berdasarkan pasal 5 Permen LH No. 3 Tahun 2012,
manfaat atau fungsi Taman Kehati ialah sebagai berikut:
(1) Untuk koleksi tumbuhan;
(2) Untuk pengembangbiakan tumbuhan dan satwa
pendukung;
(3) Sebagai penyedia atau sumber bibit dan benih;
(4) Sebagai sumber genetis tumbuhan/tanaman lokal;
(5) Sebagai sarana pendidikan, penelitian, pengem-
bangan ilmu pengetahuan, dan ekowisata;
(6) Ruang terbuka hijau dan/atau penambahan tutupan
vegetasi.

3. Program dan Kegiatan Konservasi


Keanekaragaman Hayati

Program dan kegiatan terkait konservasi keanekaragaman


hayati yang menjadi bahan evaluasi yaitu:
(1) Penanaman dan pemeliharaan tanaman.
(2) Penelitian dan publikasi hasil penelitian.
(3) Pelatihan dalam rangka pemberdayaan masyarakat
melalui konservasi dan pemanfaatan flora/fauna.
(4) Pelatihan peningkatan kapasitas SDM dalam penge-
lolaan Taman Kehati.
(5) Pendidikan lingkungan hidup dan konservasi.
(6) Rehabilitasi lahan kritis, daerah aliran sungai dan ka-
wasan konservasi.
(7) Adopsi pohon.
(8) Wisata alam.

68
C. Pendekatan
Terdapat beberapa pendekatan yang dapat ditempuh oleh
evaluator dalam melakukan evaluasi sebagaimana disaji-
kan pada Tabel 18. Evaluator sebaiknya menggunakan
kombinasi pendekatan dan perusahaan yang dievaluasi
meminta secara khusus apa yang ingin dievaluasi tetapi
jangan mengesampingkan temuan dengan pendekatan
yang berbeda.

Metode yang digunakan dalam evaluasi dari setiap aspek,


kegiatan, dan program berbeda-beda. Namun, metode
yang cocok digunakan untuk evaluasi di Taman Kehati
secara umum ialah sebagai berikut:

(1) Survei lapangan


(2) Wawancara masyarakat
(3) Wawancara responden kunci
(4) Kuesioner
(5) FGD (Focus Group Discussion)
(6) Pertemuan dengan masyarakat (Community
meetings)
(7) Laporan kegiatan rutin pekerja lapangan
(8) Hasil Monitoring

Penggunaan masing-masing metode dan teknik pengum-


pulan data, serta parameter yang dievaluasi disajikan
pada Tabel 19.

69
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Tabel 18. Pendekatan-pendekatan dalam melakukan evaluasi

Tujuan Fokus
Pendekatan Metodologi
Utama Pertanyaan
Berbasis Menilai Apakah Membandingkan
sasaran capaian sasaran baseline dan
tujuan dan tercapai dan data kemajuan;
sasaran efisien? mencari cara-
Apakah cara untuk
sasarannya mengukur
benar? indikator
Pengambilan Menyediakan Apakah Menilai pilihan-
keputusan informasi program telah pilihan berkaitan
efektif? dengan konteks,
Haruskah input, proses
dilanjutkan? dan hasil.
Apakah perlu Menetapkan
dimodifikasi? konsesus
pengambilan
keputusan
Tidak Menilai Outcomes apa Determinasi
berbasis seluruh saja yang standar yang
sasaran dampak dihasilkan? dibutuhkan
program/ Nilai apa yang untuk menilai
proyek, baik diberikan oleh apakah
dikehendaki outcomes? program/proyek
maupun tidak bermanfaat?
Teknik kualitatif
dan kuantitatif
untuk
mengungkap
semua hasil
yang mungkin
Expert Penggunaan Bisakah Review kritis
judgement keahlian membayar berlandaskan
evaluator luar pada
yang pengalaman,
profesional? survei informal
dan penilaian
subjektif.

70
71
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

72
73
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

74
D. Metode Evaluasi
Proses evaluasi terdiri atas tiga tahap, yaitu:

Tahap 1: merencanakan evaluasi yang meliputi:


(1) Menetapkan tujuan
(2) Penanggung jawab
(3) Rencana kerja evaluasi
(4) Anggaran
(5) Core learning partnership
(6) Pertanyaan-pertanyaan evaluasi
(7) Term of Reference
(8) Memilih konsultan
(9) Logistik
(10) Briefing tim evaluasi

Tahap 2: melaksanakan evaluasi yang meliputi:


(1) Pelibatan manajer proyek/program
(2) Pengumpulan data
(3) Pembuatan draft laporan
(4) Core learning partnership
(5) Mengakomodir umpan balik dari para pihak

Tahap 3: menggunakan hasil evaluasi yang meliputi:


(1) Mempertimbangkan rekomendasi
(2) Membuat rencana implementasi
(3) Diseminasi

75
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

E. Laporan Evaluasi
Format outline laporan evaluasi keberhasilan pemba-
ngunan dan pengelolaan Taman Kehati ialah sebagai
berikut:

Halaman Judul
Daftar Isi
Kata Pengantar
Ucapan Terima Kasih
Ringkasan Eksekutif
Glosarium, Akronim dan Singkatan
Bab 1. Pendahuluan (latar belakang, tim evaluasi,
proses dan permasalahan yang terjadi)
Bab 2. Deskripsi Proyek/Program (latar belakang dan
tujuan proyek/program)
Bab 3. Tujuan dan Metode Evaluasi
Bab 4. Temuan (terkait efisiensi, efektivitas, dampak
dan hal lain yang muncul)
Bab 5. Kesimpulan (kesimpulan dan interpretasi
temuan, lebih baik menggunakan analisis
SWOT)
Bab 6. Rekomendasi (saran ke depan untuk
mengatasi kelemahan dan membangun
kekuatan)
Daftar Pustaka
Lampiran : daftar responden yang diwawancarai,
kuesioner yang digunakan, peta, dan lain-
lain.

76
DAFTAR PUSTAKA
Adisoemarto, S. & Rifai, M.A. (editor). 1994. Keaneka-
ragaman Hayati di Indonesia. Kantor Menteri
Negara Lingkungan Hidup (KLH) dan Konsorsium
untuk Pelestarian Hutan dan Alam Indonesia
(KONPHALINDO). Jakarta.
Alikodra, H.S. 1990. Pengelolaan Satwaliar Jilid I. Depar-
temen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas
Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor.
Bailey, J.A. 1984. Principles of Wildlife Management.
John Wiley and Sons. New York.
BAPPENAS. 1993. Biodiversity Action Plan for Indonesia.
BAPPENAS. Jakarta.
Biodiversity Indicators for Monitoring Impacts and Conser-
vation. www.Theebi.org
Blomberg, S. & Shine, R. 2004. Reptiles. Pp.218-226
dalam Sutherland, W.J. (ed). Ecological Census
Techniques: A Handbook. Cambridge University
Press. Cam-bridge, UK.
CITES. 2015. Appendices I, II & III. https://www.cites.
org/sites/default/files/eng/app/2015/E-Appendices-
2015-02-05.pdf. Downloaded on 22 October 2015.
Coates, B.J. & Bishop, K.D. 1997. Panduan Lapangan
Burung-Burung di Kawasan Wallacea. Birdlife
International-Indonesia Program. Bogor.
Gibbons, D.W., Hill, D. & Sutherland, W.J. 2004. Birds.
Pp. 227-259 dalam Sutherland, W.J. (ed). Ecological
Census Techniques: A Handbook. Cambridge
University Press. Cambridge, UK.

77
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Guidelines for Monitoring and Evaluation for Biodiversity


Projects. www.siteresources.worldbank.org
Gunawan, H. in press. Mengintegrasikan Keaneka-
ragaman Hayati dalam analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL). Forda Press. Bogor.
Gunawan et al. 2012. Laporan Hasil Penelitian Kajian
Model Restorasi Ekosistem Kawasan Konservasi.
Pusat Penelitian Dan Pengembangan Konservasi Dan
Rehabilitasi.
Gunawan, H., Putri, I.A.S.L.P. & Qiptiyah, M. 2005.
Keanekaragaman Jenis Burung Di Wanariset Malili,
Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Jurnal
Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, II(3): 241
250.
Halliday, T.R. 2004. Amphibians. Pp.205-217 dalam
Sutherland, W.J. (ed). Ecological Census
Techniques: A Handbook. Cambridge University
Press. Cam-bridge, UK.
Hill, D., Fasham, M., Tucker, G., Shewry, M. & Shaw, P.
(eds). 2005. Handbook of Biodiversity Methods: Sur-
vey, Evaluation and Monitoring. Cambridge
University Press. www. Cambrisdge.org. Diakses
tanggal 11 Desember 2008.
Iskandar, D.T. 2002. Amfibi Jawa dan Bali. Puslitbang Bio-
logi LIPI-GEF Biodiversity Collections Project. Bogor.
IUCN-WCU. 2001. IUCN Red List Categories and Criteria
Version 3.1. IUCN-The World Conservation Union.
Gland, Switzerland.
IUCN 2015. The IUCN Red List of Threatened Species.
Version 2015-4. <http://www.iucnredlist.org>.
Downloaded on 19 November 2015

78
Kariuki, J.G. 2014. An Exploration of the Guiding Prin-
ciples, Importance and Challenges of Monitoring and
Evaluation of Community Development Projects and
Programmes. International Journal of Business and
Social Science, 5 1): 140147. www.ijbssnet. com.
[3 Juli 2015]
King, B., Dickinson, E.C. & Woodcock, M. 1975. A Field
Guide to the Birds of South East Asia . Collins. Lon-
don.
Kusmana, C. 1997. Metode Survei Vegetasi. IPB Press.
Bogor.
Lawrence, A. 2002. Participatory assessment, monitoring
and evaluation of biodiversity. ETFRN E-workshop
on Participatory Monitoring and Evaluation of
Biodiversity, 7-25 January 2002. www.etfrn.org/
etfrn/workshop/biodiversity/index.html. [3 Juli 2015]
MacKinnon, J. 1991. Panduan Lapangan Pengenalan
Burung-Burung di Jawa dan Bali. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
MacKinnon, J., Phillips, K. & van Balen, B. 1992. Panduan
Lapangan Burung-Burung di Sumatera, Jawa, Bali
dan Kalimantan. Birdlife International-Indonesia
Program. Bogor.
Magurran, A.E. 1988. Ecological Diversity and Its Mea-
surement. Croom Helm. London.
Monitoring, Evaluation, Reporting and Improvement.
www.nrm.gov.au.
Monitoring and Evaluation by Janet Shapiro www.civicus.
org.
Monitoring and Evaluation in Conservation: a Review of
Trends and. www.fosonline.org.

79
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Monitoring and evaluation: tool for biodiversity conser-


vation and. www.sanbi.org.
Monitoring and Evaluation: tools for biodiversity conser-
vation. https://archive.org.
Odum, E.P. 1994. Fundamentals of Ecology, Third Edition.
T. Samingan (terj.). Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999 tentang
Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.
Pomeroy, D. 1992. Counting Birds. African Wildlife
Foundation. Nairobi, Kenya.
Sastrapradja, S., Adisoemarto, S., Kartawinata, K. & Rifai,
M. 1989. Keanekaragaman Hayati untuk Kelang-
sungan Hidup Bangsa. Pusat Penelitian dan
Pengem-bangan Bioteknologi LIPI. Bogor.
Sera, Y. & Beaudry, S. 2007. Monitoring & Evaluation.
Social Development Department-The World Bank.
www.worldbank.org/smallgrantsprogram.
Shaw, J. 1985. Introduction to Wildlife Management.
McGraw-Hill Book Company. New York.
Soegianto, A. 1994. Ekologi Kuantitatif. Penerbit Usaha
Nasional. Surabaya.
Soerianegara, I. & Indrawan, A. 1980. Ekologi Hutan.
Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan
IPB. Bogor.
Soerianegara, I. 1978. Diktat Ekologi Hutan. Pusat
Pendidikan Kehutanan Cepu. Direksi Perum
Perhutani. Cepu.

80
Sutherland, W.J. 2004. Mammals. Pp.260-280 dalam
Sutherland, W.J. (ed). Ecological Census
Techniques: A Handbook. Cambridge University
Press. Cambridge, UK.
Sutherland, W.J. (ed.). 2004. Ecological Census Tech-
niques: A Handbook. Cambridge University Press.
Cambridge, UK.
Toolkit to Combat Trafficking in Persons, Chapter 10:
Monitoring and Evaluation. https://www.unodc.org
[2 Juli 2015].
Tucker, G., Bubb P., de Heer, M., Miles, L., Lawrence, A.,
Bajracharya, S.B., Nepal, R.C., Sherchan, R. &
Chapagain, N.R. 2005. Guidelines for Biodiversity
Assessment and Monitoring for Protected Areas .
KMTNC, Kathmandu, Nepal.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Direk-
torat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam, Departemen Kehutanan dan Japan Inter-
national Cooperation Agency. Bogor.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1994
tentang ratifikasi Konvensi PBB untuk Keaneka-
ragaman Hayati (Convension on Biodiversity).
Van Lavieren, L.P. 1983. Wildlife Management in The
Tropics, II. School of Environmental Conservation
management. Bogor.
World Banks Environment Department, Global Environ-
ment Division. 1998. Guidelines for Monitoring and
Evaluation for Biodiversity Projects. www.
siteresources.worldbank.org. [3 Juli 2015]

81
Lampiran 1.

PANDUAN WAWANCARA
PENGUNJUNG/MASYARAKAT SEKITAR
TAMAN KEHATI

1. Identitas Responden
Nama : ................................................ Umur: ...... th
Jenis Kelamin : Pria/Wanita Pekerjaan : ............................
Pendidikan : SD/SLTP/SLTA/Universitas
2. Pernahkan anda datang ke Taman Kehati Babakan Pari?
Belum pernah Pernah 1 kali 2 kali 3 kali/lebih
3. Apakah anda tahu, apa itu Taman Kehati?
Tidak tahu Tahu, yaitu: ............................................
4. Apa tujuan anda datang ke Taman Kehati?
Rekreasi Bermain Belajar pohon
Penelitian Tugas ..........................................
5. Apakah anda mendapatkan pengetahuan baru dari Taman
Kehati?
Dapat yaitu ...................................................................
Tidak
6. Setelah datang ke Taman Kehati, berapa jenis pohon di
Taman Kehati yang anda kenal/ketahui dan ingat? Sebutkan.
.........................................................................................
.........................................................................................
7. Jenis satwa apa saja yang anda lihat selama berada di
Taman Kehati. ..................................................................
......................................................................................
8. Apa manfaat atau fungsi Taman Kehati? ............................
.....................................................................................
9. Apabila diberi kesempatan, maukah anda diajak menanam
pohon di Taman Kehati dan mengasuhnya?
.........................................................................................
10. Fasilitas apa yang perlu ditambah di Taman Kehati?
......................................................................................

83
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Lampiran 2.

KUESIONER UNTUK STAKEHOLDERS


TENTANG EVALUASI KEBERHASILAN
TAMAN KEHATI

DATA STAKEHOLDERS

Nama : ..............................................................
Umur : ....... th
Pekerjaan/Jabatan :...............................................................
Desa/Kecamatan :...............................................................
Hubungan dg TIV :...............................................................

1. Apakah Taman Kehati sudah berfungsi menyelamatkan


spesies tumbuhan asli/lokal yang menjadi target?
Sudah; alasannya ........................................................
Belum; Alasannya ........................................................
2. Apakah Taman Kehati sudah berfungsi menyelamatkan
spesies fauna asli/lokal yang menjadi target?
Sudah; alasannya .......................................................
Belum; Alasannya .......................................................
3. Apakah dengan adanya Taman kehati, jenis-jenis satwanya
bertambah banyak?
Ya bertambah Tetap Tidak tahu
4. Apakah anda pernah menerima bantuan bibit atau benih dari
PT. Tirta Investama (Aqua)?
Belum pernah
Pernah bibit .......................................... tahun ............
5. Jika Taman Kehati menjadi sumber bibit pohon, maka bibit
pohon apa yang anda inginkan?
.......................................................................................

84
6. Jenis-jenis satwa apa yang ada di Taman Kehati?
.......................................................................................
7. Apakah jenis-jenis pohon lokal sudah ditanam di Taman
Kehati?
Belum ada Tidak tahu
Sudah, yaitu ...............................................................
8. Apakah Taman Kehati telah berfungsi sebagai sarana
pendidikan lingkungan/alam/biologi bagi anak-anak sekolah?
Sudah Belum Tidak tahu
9. Apakah Taman Kehati sudah digunakan sebagai tempat
rekreasi atau wisata alam?
Sudah Belum Tidak tahu
10. Apa yang menarik dari Taman Kehati sehingga cocok sebagai
tempat wisata? .................................................................
11. Apakah Taman Kehati telah berfungsi sebagai Ruang
Terbuka Hijau yang memberikan kenyamanan, kesejukan
dan udara segar bagi sekitarnya?
Sudah Belum Tidak tahu
12. Apakah tanaman-tanaman di Taman Kehati kondisinya cukup
terpelihara dengan baik?
Tidak tahu
Terpelihara baik pemeliharaan belum maksimal
13. Apakah sudah ada kegiatan penelitian di Taman Kehati?
Sudah Belum Tidak tahu
14. Apakah ada publikasi tentang Taman Kehati? Apakah anda
pernah menerima? melihat atau membacanya?
Ada dan pernah melihat/menerima/membacanya
Belum ada Tidak tahu
15. Apakah sudah pernah ada pelatihan pemberdayaan
masyarakat berkaitan dengan pemanfaatan atau budidaya
flora fauna?
Sudah Belum Tidak tahu

85
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

16. Apakah Taman Kehati dikelola oleh SDM yang telah


mengikuti pelatihan yang relevan?
Sudah Belum Tidak tahu
17. Pendidikan lingkungan apakah yang pernah dilakukan di
Taman Kehati? Apakah ada usulan pendidikan lainnya di
Taman Kehati.
.......................................................................................
.......................................................................................
18. Selain mengelola Taman Kehati, apakah PT. Tirta Investama
(Aqua) melakukan rehabilitasi lahan kritis, daerah aliran
sungai dan kawasan konservasi? Dimana?
Ya, di ..........................................................................
Belum Tidak tahu
19. Apakah PT. Tirta Investama (Aqua) melaksanakan program
adopsi pohon atau pohon asuh? Baik di Taman Kehati
maupun di luar Taman Kehati.
Sudah, yaitu di ...........................................................
Pengadopsi dari lembaga/sekolah ..........................
Belum Tidak tahu
20. Secara umum, menurut anda apakah Taman kehati Babakan
Pari telah berhasil sesuai dengan tujuannya?
Sudah, alasannya ........................................................
.......................................................................................
Belum, alasannya ........................................................
.......................................................................................
Tidak tahu

86
Lampiran 3. Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang
Dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis
Tumbuhan dan Satwa.

No. Nama Ilmiah Nama Indonesia


SATWA
I. MAMALIA (Menyusui)
1 Anoa depressicornis Anoa dataran rendah, Kerbau
pendek
2 Anoa quarlesi Anoa pegunungan
3 Arctictis binturong Binturung
4 Arctonyx collaris Pulusan
5 Babyrousa babyrussa Babirusa
6 Balaenoptera musculus Paus biru
7 Balaenoptera physalus Paus bersirip
8 Bos sondaicus Banteng
9 Capricornis sumatrensis Kambing Sumatera
10 Cervus kuhli; Axis kuhli Rusa Bawean
11 Cervus spp. Menjangan, Rusa sambar
(semua jenis dari genus
Cervus)
12 Cetacea Paus (semua jenis dari famili
Cetacea)
13 Cuon alpinus Ajag
14 Cynocephalus variegatus Kubung, Tando, Walangkekes
15 Cynogale bennetti Musang air
16 Cynopithecus niger Monyet hitam Sulawesi
17 Dendrolagus spp. Kanguru pohon (semua jenis
dari genus Dendrolagus)
18 Dicerorhinus Badak Sumatera
sumatrensis
19 Dolphinidae Lumba-lumba air laut (semua
jenis dari famili Dolphinidae)
20 Dugong dugon Duyung

87
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

No. Nama Ilmiah Nama Indonesia


21 Elephas indicus Gajah
22 Felis badia Kucing merah
23 Felis bengalensis Kucing hutan, Meong congkok
24 Felis marmorota Kuwuk
25 Felis planiceps Kucing dampak
26 Felis temmincki Kucing emas
27 Felis viverrinus Kucing bakau
28 Helarctos malayanus Beruang madu
29 Hylobatidae Owa, Kera tak berbuntut
(semua jenis dari famili
Hylobatidae)
30 Hystrix brachyura Landak
31 Iomys horsfieldi Bajing terbang ekor merah
32 Lariscus hosei Bajing tanah bergaris
33 Lariscus insignis Bajing tanah, Tupai tanah
34 Lutra lutra Lutra
35 Lutra sumatrana Lutra Sumatera
36 Macaca brunnescens Monyet Sulawesi
37 Macaca maura Monyet Sulawesi
38 Macaca pagensis Bokoi, Beruk Mentawai
39 Macaca tonkeana Monyet jambul
40 Macrogalidea Musang Sulawesi
musschenbroeki
41 Manis javanica Trenggiling, Peusing
42 Megaptera novaeangliae Paus bongkok
43 Muntiacus muntjak Kidang, Muncak
44 Mydaus javanensis Sigung
45 Nasalis larvatus Kahau, Bekantan
46 Neofelis nebulusa Harimau dahan
47 Nesolagus netscheri Kelinci Sumatera
48 Nycticebus coucang Malu-malu
49 Orcaella brevirostris Lumba-lumba air tawar, Pesut
50 Panthera pardus Macan kumbang, Macan tutul

88
No. Nama Ilmiah Nama Indonesia
51 Panthera tigris sondaica Harimau Jawa
52 Panthera tigris sumatrae Harimau Sumatera
53 Petaurista elegans Cukbo, Bajing terbang
54 Phalanger spp. Kuskus (semua jenis dari
genus Phalanger)
55 Pongo pygmaeus Orang utan, Mawas
56 Presbitys frontata Lutung dahi putih
57 Presbitys rubicunda Lutung merah, Kelasi
58 Presbitys aygula Surili
59 Presbitys potenziani Joja, Lutung Mentawai
60 Presbitys thomasi Rungka
61 Prionodon linsang Musang congkok
62 Prochidna bruijni Landak Irian, Landak semut
63 Ratufa bicolor Jelarang
64 Rhinoceros sondaicus Badak Jawa
65 Simias concolor Simpei Mentawai
66 Tapirus indicus Tapir, Cipan, Tenuk
67 Tarsius spp. Binatang hantu, Singapuar
(semua jenis dari genus
Tarsius)
68 Thylogale spp. Kanguru tanah (semua jenis
dari genus Thylogale)
69 Tragulus spp. Kancil, Pelanduk, Napu (semua
jenis dari genus Tragulus)
70 Ziphiidae Lumba-lumba air laut (semua
jenis dari famili Ziphiidae)
II. AVES (Burung)
71 Accipitridae Burung alap-alap, Elang (semua
jenis dari famili Accipitridae)
72 Aethopyga exima Jantingan gunung
73 Aethopyga duyvenbodei Burung madu Sangihe
74 Alcedinidae Burung udang, Raja udang
(semua jenis dari famili
Alcedinidae)

89
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

No. Nama Ilmiah Nama Indonesia


75 Alcippe pyrrhoptera Brencet wergan
76 Anhinga melanogaster Pecuk ular
77 Aramidopsis plateni Mandar Sulawesi
78 Argusianus argus Kuau
79 Bubulcus ibis Kuntul, Bangau putih
80 Bucerotidae Julang, Enggang, Rangkong,
Kangkareng (semua jenis dari
famili Bucerotidae)
81 Cacatua galerita Kakatua putih besar jambul
kuning
82 Cacatua goffini Kakatua gofin
83 Cacatua moluccensis Kakatua Seram
84 Cacatua sulphurea Kakatua kecil jambul kuning
85 Cairina scutulata Itik liar
86 Caloenas nicobarica Junai, Burung mas, Minata
87 Casuarius bennetti Kasuari kecil
88 Casuarius casuarius Kasuari
89 Casuarius Kasuari gelambir satu, Kasuari
unappenddiculatus leher kuning
90 Ciconia episcopus Bangau hitam, Sandanglawe
91 Colluricincla Burung sohabe coklat
megarhyncha
92 Crocias albonotatus Burung matahari
93 Ducula whartoni Pergam raja
94 Egretta sacra Kuntul karang
95 Egretta spp. Kuntul, Bangau putih (semua
jenis dari genus Egretta)
96 Elanus caerulleus Alap-alap putih, Alap-alap tikus
97 Elanus hypoleucus Alap-alap putih, Alap-alap tikus
98 Eos histrio Nuri Sangir
99 Esacus magnirostris Wili-wili, Uar, Bebek laut
100 Eutrichomyias rowleyi Seriwang Sangihe
101 Falconidae Burung alap-alap, Elang

90
No. Nama Ilmiah Nama Indonesia
(semua jenis dari famili
Falconidae)
102 Fregeta andrewsi Burung gunting, Bintayung
103 Garrulax rufifrons Burung kuda
104 Goura spp. Burung dara mahkota, Burung
titi, Mambruk (semua jenis dari
genus Goura)
105 Gracula religiosa Beo Flores
mertensi
106 Gracula religiosa robusta Beo Nias
107 Gracula religiosa Beo Sumbawa
venerata
108 Grus spp. Jenjang (semua jenis dari
genus Grus)
109 Himantopus himantopus Trulek lidi, Lilimo
110 Ibis cinereus Bluwok, Walangkadak
111 Ibis leucocephala Bluwok berwarna
112 Lorius roratus Bayan
113 Leptoptilos javanicus Marabu, Bangau tongtong
114 Leucopsar rothschildi Jalak Bali
115 Limnodromus Blekek Asia
semipalmatus
116 Lophozosterops javanica Burung kacamata leher abu-
abu
117 Lophura bulweri Beleang ekor putih
118 Loriculus catamene Serindit Sangihe
119 Loriculus exilis Serindit Sulawesi
120 Lorius domicellus Nori merah kepala hitam
121 Macrocephalon maleo Burung maleo
122 Megalaima armillaris Cangcarang
123 Megalaima corvina Haruku, Ketuk-ketuk
124 Megalaima javensis Tulung tumpuk, Bultok Jawa
125 Megapoddidae Maleo, Burung gosong (semua
jenis dari famili Megapododae)

91
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

No. Nama Ilmiah Nama Indonesia


126 Megapodius reintwardtii Burung gosong
127 Meliphagidae Burung sesap, Pengisap madu
(semua jenis dari famili
Meliphagidae)
128 Musciscapa ruecki Burung kipas biru
129 Mycteria cinerea Bangau putih susu, Bluwok
130 Nectariniidae Burung madu, Jantingan,
Klaces (semua jenis dari famili
Nectariniidae)
131 Numenius spp. Gagajahan (semua jenis dari
genus Numenius)
132 Nycticorax caledonicus Kowak merah
133 Otus migicus beccarii Burung hantu Biak
134 Pandionidae Burung alap-alap, Elang
(semua jenis dari famili
Pandionidae)
135 Paradiseidae Burung cendrawasih (semua
jenis dari famili Paradiseidae)
136 Pavo muticus Burung merak
137 Pelecanidae Gangsa laut (semua jenis dari
famili Pelecanidae)
138 Pittidae Burung paok, Burung cacing
(semua jenis dari famili
Pittidae)
139 Plegadis falcinellus Ibis hitam, Roko-roko
140 Polyplectron malacense Merak kerdil
141 Probosciger aterrimus Kakatua raja, Kakatua hitam
142 Psaltria exilis Glatik kecil, Glatik gunung
143 Pseudibis davisoni Ibis hitam punggung putih
144 Psittrichas fulgidus Kasturi raja, Betet besar
145 Ptilonorhynchidae Burung namdur, Burung
dewata
146 Rhipidura euryura Burung kipas perut putih, Kipas
gunung

92
No. Nama Ilmiah Nama Indonesia
147 Rhipidura javanica Burung kipas
148 Rhipidura phoenicura Burung kipas ekor merah
149 Satchyris grammiceps Burung tepus dada putih
150 Satchyris melanothorax Burung tepus pipi perak
151 Sterna zimmermanni Dara laut berjambul
152 Sternidae Burung dara laut (semua jenis
dari famili Sternidae)
153 Sturnus melanopterus Jalak putih, Kaleng putih
154 Sula abbotti Gangsa batu aboti
155 Sula dactylatra Gangsa batu muka biru
156 Sula leucogaster Gangsa batu
157 Sula sula Gangsa batu kaki merah
158 Tanygnathus Nuri Sulawesi
sumatranus
159 Threskiornis aethiopicus Ibis putih, Platuk besi
160 Trichoglossus ornatus Kasturi Sulawesi
161 Tringa guttifer Trinil tutul
162 Trogonidae Kasumba, Suruku, Burung
luntur
163 Vanellus macropterus Trulek ekor putih
III. REPTILIA (Melata)
164 Batagur baska Tuntong
165 Caretta caretta Penyu tempayan
166 Carettochelys insculpta Kura-kura Irian
167 Chelodina novaeguineae Kura Irian leher panjang
168 Chelonia mydas Penyu hijau
169 Chitra indica Labi-labi besar
170 Chlamydosaurus kingii Soa payung
171 Chondropython viridis Sanca hijau
172 Crocodylus Buaya air tawar Irian
novaeguineae
173 Crocodylus porosus Buaya muara
174 Crocodylus siamensis Buaya siam

93
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

No. Nama Ilmiah Nama Indonesia


175 Dermochelys coriacea Penyu belimbing
176 Elseya novaeguineae Kura Irian leher pendek
177 Eretmochelys imbricata Penyu sisik
178 Gonychephalus dilophus Bunglon sisir
179 Hydrasaurus Soa-soa, Biawak Ambon,
amboinensis Biawak pohon
180 Lepidochelys olivacea Penyu ridel
181 Natator depressa Penyu pipih
182 Orlitia borneensis Kura-kura gading
183 Python molurus Sanca bodo
184 Phyton timorensis Sanca Timor
185 Tiliqua gigas Kadal Panan
186 Tomistoma schlegelii Senyulong, Buaya sapit
187 Varanus borneensis Biawak Kalimantan
188 Varanus gouldi Biawak coklat
189 Varanus indicus Biawak Maluku
190 Varanus komodoensis Biawak komodo, Ora
191 Varanus nebulosus Biawak abu-abu
192 Varanus prasinus Biawak hijau
193 Varanus timorensis Biawak Timor
194 Varanus togianus Biawak Togian
IV. INSECTA (Serangga)
195 Cethosia myrina Kupu bidadari
196 Ornithoptera chimaera Kupu sayap burung peri
197 Ornithoptera goliath Kupu sayap burung goliat
198 Ornithoptera paradisea Kupu sayap burung surga
199 Ornithoptera priamus Kupu sayap priamus
200 Ornithoptera rotschldi Kupu burung rotsil
201 Ornithoptera tithonus Kupu burung titon
202 Trogonotera brookiana Kupu trogon
203 Troides amphrysus Kupu raja
204 Troides andromanche Kupu raja

94
No. Nama Ilmiah Nama Indonesia
205 Troides criton Kupu raja
206 Troides haliphron Kupu raja
207 Troides helena Kupu raja
208 Troides hypolitus Kupu raja
209 Troides meoris Kupu raja
210 Troides miranda Kupu raja
211 Troides plato Kupu raja
212 Troides rhadamantus Kupu raja
213 Troides riedeli Kupu raja
214 Troides vandepolli Kupu raja
V. PISCES (Ikan)
215 Homaloptera Selusur Maninjau
gymnogaster
216 Latimeria chalumnae Ikan raja laut
217 Notopterus spp. Belida Jawa, Lopis Jawa
(semua jenis dari genus
Notopterus)
218 Pritis spp. Pari Sentani, Hiu Sentani
(semua jenis dari genus Pritis)
219 Puntius microps Wader goa
220 Scleropages formasus Peyang malaya, Tangkelasa
221 Scleropages jardini Arowana Irian, Peyang Irian,
Kaloso
VI. ANTHOZOA
222 Anthiphates spp. Akar bahar, Koral hitam
(semua jenis dari genus
Anthiphates)
VII. BIVALVIA
223 Birgus latro Ketam kelapa
224 Cassis cornuta Kepala kambing
225 Charonia tritonis Triton terompet
226 Hippopus hippopus Kima tapak kuda, Kima kuku
beruang

95
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

No. Nama Ilmiah Nama Indonesia


227 Hippopus porcellanus Kima Cina
228 Nautilus popillius Nautilus berongga
229 Tachipleus gigas Ketam tapak kuda
230 Tridacna crocea Kima kunia, Lubang
231 Tridacna derasa Kima selatan
232 Tridacna gigas Kima raksasa
233 Tridacna maxima Kima kecil
234 Tridacna squamosa Kima sisik, Kima seruling
235 Trochus niloticus Troka, Susur bundar
236 Turbo marmoratus Batu laga, Siput hijau
TUMBUHAN
I. ARACEAE
237 Amorphophallus Bunga bangkai jangkung
decussilvae
238 Amorphophallus titanum Bunga bangkai raksasa

II. PALMAE
239 Borrassodendron Bindang, Budang
borneensis
240 Caryota no Palem raja/Indonesia
241 Ceratolobus glaucescens Palem Jawa
242 Cystostachys lakka Pinang merah Kalimantan
243 Cystostachys renda Pinang merah Bangka
244 Eugeissona utilis Bertan
245 Johannesteijsmania Daun payung
altifrons
246 Livistona spp. Palem kipas Sumatera (semua
jenis dari genus Livistona)
247 Nenga gajah Palem Sumatera
248 Phoenix paludosa Korma rawa
249 Pigafetta filaris Manga
250 Pinanga javana Pinang Jawa

96
No. Nama Ilmiah Nama Indonesia
III. RAFFLESSIACEA
251 Rafflesia spp. Rafflesia, Bunga padma
(semua jenis dari genus
Rafflesia)
IV. ORCHIDACEAE
252 Ascocentrum miniatum Anggrek kebutan
253 Coelogyne pandurata Anggrek hitam
254 Corybas fornicatus Anggrek koribas
255 Cymbidium Anggrek hartinah
hartinahianum
256 Dendrobium Anggrek karawai
catinecloesum
257 Dendrobium d'albertisii Anggrek albert
258 Dendrobium lasianthera Anggrek stuberi
259 Dendrobium Anggrek jamrud
macrophyllum
260 Dendrobium Anggrek karawai
ostrinoglossum
261 Dendrobium Anggrek larat
phalaenopsis
262 Grammatophyllum Anggrek raksasa Irian
papuanum
263 Grammatophyllum Anggrek tebu
speciosum
264 Macodes petola Anggrek ki aksara
265 Paphiopedilum Anggrek kasut kumis
chamberlainianum
266 Paphiopedilum Anggrek kasut berbulu
glaucophyllum
267 Paphiopedilum praestans Anggrek kasut pita
268 Paraphalaenopsis Anggrek bulan bintang
denevei
269 Paraphalaenopsis Anggrek bulan Kaliman Tengah
laycockii

97
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

No. Nama Ilmiah Nama Indonesia


270 Paraphalaenopsis Anggrek bulan Kaliman Barat
serpentilingua
271 Phalaenopsis Anggrek bulan Ambon
amboinensis
272 Phalaenopsis gigantea Anggrek bulan raksasa
273 Phalaenopsis sumatrana Anggrek bulan Sumatera
274 Phalaenopsis violacose Anggrek kelip
275 Renanthera matutina Anggrek jingga
276 Spathoglottis zurea Anggrek sendok
277 Vanda celebica Vanda mungil Minahasa
278 Vanda hookeriana Vanda pensil
279 Vanda pumila Vanda mini
280 Vanda sumatrana Vanda Sumatera
V. NEPHENTACEAE
281 Nephentes spp. Kantong semar (semua jenis
dari genus Nephentes)
VI. DIPTEROCARPACEAE
282 Shorea stenopten Tengkawang
283 Shorea stenoptera Tengkawang
284 Shorea gysberstiana Tengkawang
285 Shorea pinanga Tengkawang
286 Shorea compressa Tengkawang
287 Shorea semiris Tengkawang
288 Shorea martiana Tengkawang
289 Shorea mexistopteryx Tengkawang
290 Shorea beccariana Tengkawang
291 Shorea micrantha Tengkawang
292 Shorea palembanica Tengkawang
293 Shorea lepidota Tengkawang
294 Shorea singkawang Tengkawang

98
Lampiran 4. Appendices CITES (Convention on Inter-
national Trade in Endangered Species of Wild Fauna and
Flora) [valid from 5 February 2015]
APPENDICES

I II III

F A U N A (ANIMALS)

PHYLUM CHORDATA

CLASS MAMMALIA (MAMMALS)


ARTIODACTYLA
Antilocapridae Pronghorn
Antilocapra americana
(Only the population of
Mexico; no other
population is included in
the Appendices)
Bovidae Antelopes, cattle, duikers, gazelles, goats, sheep, etc.
Addax nasomaculatus
Ammotragus lervia
Antilope cervicapra
(Nepal)
Bison bison athabascae
Bos gaurus (Excludes
the domesticated form,
which is referenced as
Bos frontalis, and is not
subject to the provisions
of the Convention)
Bos mutus (Excludes the
domesticated form,
which is referenced as
Bos grunniens, and is
not subject to the

99
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

provisions of the
Convention)
Bos sauveli
Boselaphus
tragocamelus (Pakistan)
Bubalus arnee (Nepal)
(Excludes the
domesticated form,
which is referenced as
Bubalus bubalis)
Bubalus depressicornis
Bubalus mindorensis
Bubalus quarlesi
Budorcas taxicolor
Capra falconeri
Capra hircus aegagrus
(Pakistan) (Specimens of
the domesticated form
are not subject to the
provisions of the
Convention)
Capra sibirica (Pakistan)
Capricornis
milneedwardsii
Capricornis rubidus
Capricornis
sumatraensis
Capricornis thar
Cephalophus brookei
Cephalophus dorsalis
Cephalophus jentinki

100
APPENDICES

I II III

Cephalophus ogilbyi
Cephalophus silvicultor
Cephalophus zebra
Damaliscus pygargus
pygargus
Gazella bennettii
(Pakistan)
Gazella cuvieri
Gazella dorcas (Algeria,
Tunisia)
Gazella leptoceros
Hippotragus niger
variani
Kobus leche
Naemorhedus baileyi
Naemorhedus caudatus
Naemorhedus goral
Naemorhedus griseus
Nanger dama
Oryx dammah
Oryx leucoryx
Ovis ammon (Except the
subspecies included in
Appendix I)
Ovis ammon hodgsonii
Ovis ammon
nigrimontana
Ovis canadensis (Only
the population of

101
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Mexico; no other
population is included in
the Appendices)
Ovis orientalis ophion
Ovis vignei (Except the
subspecies included in
Appendix I)
Ovis vignei vignei
Pantholops hodgsonii
Philantomba monticola
Pseudoryx
nghetinhensis
Rupicapra pyrenaica
ornata
Saiga borealis
Saiga tatarica
Tetracerus quadricornis
(Nepal)
Camelidae Guanaco, vicuna
Lama glama guanicoe
Vicugna vicugna [Except
the populations of:
Argentina (the
populations of the
Provinces of Jujuy and
Catamarca and the
semi-captive
populations of the
Provinces of Jujuy,
Salta, Catamarca, La
Rioja and San Juan),
Chile (population of the
Primera Regin), Peru

102
APPENDICES

I II III

(the whole population)


and the Plurinational
State of Bolivia (the
whole population),
which are included in
Appendix II)
Vicugna vicugna [Only
the populations of
Argentina1 (the
populations of the
Provinces of Jujuy and
Catamarca and the
semi-captive populations
of the Provinces of
Jujuy, Salta, Catamarca,
La Rioja and San Juan),
Chile2 (population of the
Primera Regin),
Ecuador3 (the whole
population), Peru4 (the
whole population) and
the Plurinational State of
Bolivia5 (the whole
population); all other
populations are included
in Appendix I]
Cervidae Deer, guemals, muntjacs, pudus
Axis calamianensis
Axis kuhlii
Axis porcinus (except
the subspecies included
in Appendix I) (Pakistan)
Axis porcinus
annamiticus
Blastocerus dichotomus

103
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Cervus elaphus
bactrianus
Cervus elaphus barbarus
(Algeria, Tunisia)
Cervus elaphus hanglu
Dama dama
mesopotamica
Hippocamelus spp.
Mazama temama
cerasina (Guatemala)
Muntiacus crinifrons
Muntiacus vuquangensis
Odocoileus virginianus
mayensis (Guatemala)
Ozotoceros bezoarticus
Pudu mephistophiles
Pudu puda
Rucervus duvaucelii
Rucervus eldii
Hippopotamidae Hippopotamuses
Hexaprotodon
liberiensis
Hippopotamus
amphibius
Moschidae Musk deer
Moschus spp. (Only the
populations of
Afghanistan, Bhutan,
India, Myanmar, Nepal
and Pakistan; all other

104
APPENDICES

I II III

populations are included


in Appendix II)
Moschus spp. (Except
the populations of
Afghanistan, Bhutan,
India, Myanmar, Nepal
and Pakistan, which are
included in Appendix I)
Suidae Babirusa, pygmy hog
Babyrousa babyrussa
Babyrousa
bolabatuensis
Babyrousa celebensis
Babyrousa togeanensis
Sus salvanius
Tayassuidae Peccaries
Tayassuidae spp.
(Except the species
included in Appendix I
and the populations of
Pecari tajacu of Mexico
and the United States of
America, which are not
included in the
Appendices)
Catagonus wagneri
CARNIVORA
Ailuridae Red panda
Ailurus fulgens
Canidae Bush dog, foxes, wolves
Canis aureus (India)

105
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Canis lupus (Only the


populations of Bhutan,
India, Nepal and
Pakistan; all other
populations are included
in Appendix II. Excludes
the domesticated form
and the dingo which are
referenced as Canis
lupus familiaris and
Canis lupus dingo)
Canis lupus (Except the
populations of Bhutan,
India, Nepal and
Pakistan, which are
included in Appendix I.
Excludes the
domesticated form and
the dingo which are
referenced as Canis
lupus familiaris and
Canis lupus dingo)
Cerdocyon thous
Chrysocyon brachyurus
Cuon alpinus
Lycalopex culpaeus
Lycalopex fulvipes
Lycalopex griseus
Lycalopex gymnocercus
Speothos venaticus
Vulpes bengalensis
(India)
Vulpes cana

106
APPENDICES

I II III

Vulpes vulpes griffithi


(India)
Vulpes vulpes montana
(India)
Vulpes vulpes pusilla
(India)
Vulpes zerda
Eupleridae Fossa, falanouc, Malagasy civet
Cryptoprocta ferox
Eupleres goudotii
Fossa fossana
Felidae Cats
Felidae spp. (Except the
species included in
Appendix I. Specimens
of the domesticated
form are not subject to
the provisions of the
Convention)
Acinonyx jubatus
(Annual export quotas
for live specimens and
hunting trophies are
granted as follows:
Botswana: 5; Namibia:
150; Zimbabwe: 50. The
trade in such specimens
is subject to the
provisions of Article III
of the Convention)
Caracal caracal (Only
the population of Asia;
all other populations are
included in Appendix II)

107
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Catopuma temminckii
Felis nigripes
Leopardus geoffroyi
Leopardus jacobitus
Leopardus pardalis
Leopardus tigrinus
Leopardus wiedii
Lynx pardinus
Neofelis nebulosa
Panthera leo persica
Panthera onca
Panthera pardus
Panthera tigris
Pardofelis marmorata
Prionailurus bengalensis
bengalensis (Only the
populations of
Bangladesh, India and
Thailand; all other
populations are included
in Appendix II)
Prionailurus planiceps
Prionailurus rubiginosus
(Only the population of
India; all other
populations are included
in Appendix II)
Puma concolor coryi
Puma concolor
costaricensis

108
APPENDICES

I II III

Puma concolor couguar


Puma yagouaroundi
(Only the populations of
Central and North
America; all other
populations are included
in Appendix II)
Uncia uncia
Herpestidae Mongooses
Herpestes edwardsi
(India, Pakistan)
Herpestes fuscus (India)
Herpestes javanicus
(Pakistan)
Herpestes javanicus
auropunctatus (India)
Herpestes smithii (India)
Herpestes urva (India)
Herpestes vitticollis
(India)
Hyaenidae Aardwolf, hyaenas
Hyaena hyaena
Pakistan)
Proteles cristata
(Botswana)
Mephitidae Hog-nosed skunk
Conepatus humboldtii
Mustelidae Badgers, martens, weasels, etc.
Lutrinae Otters
Lutrinae spp. (Except

109
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

the species included in


Appendix I)
Aonyx capensis
microdon (Only the
populations of
Cameroon and Nigeria;
all other populations are
included in Appendix II)
Enhydra lutris nereis
Lontra felina
Lontra longicaudis
Lontra provocax
Lutra lutra
Lutra nippon
Pteronura brasiliensis
Mustelinae Grisons, honey badger, martens, tayra, weasels
Eira barbara (Honduras)
Galictis vittata (Costa
Rica)
Martes flavigula (India)
Martes foina intermedia
(India)
Martes gwatkinsii (India)
Mellivora capensis
(Botswana)
Mustela altaica (India)
Mustela erminea
ferghanae (India)
Mustela kathiah (India)
Mustela nigripes

110
APPENDICES

I II III

Mustela sibirica (India)


Odobenidae Walrus
Odobenus rosmarus
(Canada)
Otariidae Fur seals, sealions
Arctocephalus spp.
(Except the species
included in Appendix I)
Arctocephalus
townsendi
Phocidae Seals
Mirounga leonina
Monachus spp.
Procyonidae Coatis, kinkajou, olingos
Bassaricyon gabbii
(Costa Rica)
Bassariscus sumichrasti
(Costa Rica)
Nasua narica (Honduras)
Nasua nasua solitaria
(Uruguay)
Potos flavus (Honduras)
Ursidae Bears, giant panda
Ursidae spp. (Except the
species included in
Appendix I)
Ailuropoda melanoleuca
Helarctos malayanus
Melursus ursinus

111
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Tremarctos ornatus
Ursus arctos (Only the
populations of Bhutan,
China, Mexico and
Mongolia; all other
populations are included
in Appendix II)
Ursus arctos isabellinus
Ursus thibetanus
Viverridae Binturong, civets, linsangs, otter-civet, palm civets
Arctictis binturong
(India)
Civettictis civetta
(Botswana)
Cynogale bennettii
Hemigalus derbyanus
Paguma larvata (India)
Paradoxurus
hermaphroditus (India)
Paradoxurus jerdoni
(India)
Prionodon linsang
Prionodon pardicolor
Viverra civettina (India)
Viverra zibetha (India)
Viverricula indica (India)
CETACEA Dolphins, porpoises, whales
CETACEA spp. (Except
the species included in
Appendix I. A zero

112
APPENDICES

I II III

annual export quota has


been established for live
specimens from the
Black Sea population of
Tursiops truncatus
removed from the wild
and traded for primarily
commercial purposes)
Balaenidae Bowhead whale, right whales
Balaena mysticetus
Eubalaena spp.
Balaenopteridae Humpback whale, rorquals
Balaenoptera
acutorostrata (Except
the population of West
Greenland, which is
included in Appendix II)
Balaenoptera
bonaerensis
Balaenoptera borealis
Balaenoptera edeni
Balaenoptera musculus
Balaenoptera omurai
Balaenoptera physalus
Megaptera
novaeangliae
Delphinidae Dolphins
Orcaella brevirostris
Orcaella heinsohni
Sotalia spp.
Sousa spp.

113
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Eschrichtiidae Grey whale


Eschrichtius robustus
Iniidae River dolphins
Lipotes vexillifer
Neobalaenidae Pygmy right whale
Caperea marginata
Phocoenidae Porpoises
Neophocaena
phocaenoides
Phocoena sinus
Physeteridae Sperm whales
Physeter
macrocephalus
Platanistidae River dolphins
Platanista spp.
Ziphiidae Beaked whales, bottle-nosed whales
Berardius spp.
Hyperoodon spp.
CHIROPTERA
Phyllostomidae Broad-nosed bat
Platyrrhinus lineatus
(Uruguay)
Pteropodidae Fruit bats, flying foxes
Acerodon spp. (Except
the species included in
Appendix I)
Acerodon jubatus
Pteropus spp. (Except

114
APPENDICES

I II III

Pteropus brunneus and


the species included in
Appendix I)
Pteropus insularis
Pteropus loochoensis
Pteropus mariannus
Pteropus molossinus
Pteropus pelewensis
Pteropus pilosus
Pteropus samoensis
Pteropus tonganus
Pteropus ualanus
Pteropus yapensis
CINGULATA
Dasypodidae Armadillos
Cabassous centralis
(Costa Rica)
Cabassous tatouay
(Uruguay)
Chaetophractus nationi
(A zero annual export
quota has been
established. All
specimens shall be
deemed to be
specimens of species
included in Appendix I
and the trade in them
shall be regulated
accordingly)
Priodontes maximus

115
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

DASYUROMORPHIA
Dasyuridae Dunnarts
Sminthopsis
longicaudata
Sminthopsis
psammophila
DIPROTODONTIA
Macropodidae Kangaroos, wallabies
Dendrolagus inustus
Dendrolagus ursinus
Lagorchestes hirsutus
Lagostrophus fasciatus
Onychogalea fraenata
Phalangeridae Cuscuses
Phalanger
intercastellanus
Phalanger mimicus
Phalanger orientalis
Spilocuscus kraemeri
Spilocuscus maculatus
Spilocuscus papuensis
Potoroidae Rat-kangaroos
Bettongia spp.
Vombatidae Northern hairy-nosed wombat
Lasiorhinus krefftii
LAGOMORPHA
Leporidae Hispid hare, volcano rabbit

116
APPENDICES

I II III

Caprolagus hispidus
Romerolagus diazi
MONOTREMATA
Tachyglossidae Echidnas, spiny anteaters
Zaglossus spp.
PERAMELEMORPHIA
Peramelidae Bandicoots, echymiperas
Perameles bougainville
Thylacomyidae Bilbies
Macrotis lagotis
PERISSODACTYLA
Equidae Horses, wild asses, zebras
Equus africanus
(Excludes the
domesticated form,
which is referenced as
Equus asinus, and is not
subject to the provisions
of the Convention)
Equus grevyi
Equus hemionus (Except
the subspecies included
in Appendix I)
Equus hemionus
hemionus
Equus hemionus khur
Equus kiang
Equus przewalskii
Equus zebra
hartmannae

117
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Equus zebra zebra


Rhinocerotidae Rhinoceroses
Rhinocerotidae spp.
(Except the subspecies
included in Appendix II)
Ceratotherium simum
simum (Only the popu-
lations of South Africa
and Swaziland; all other
populations are included
in Appendix I. For the
exclusive purpose of
allowing international
trade in live animals to
appropriate and accep-
table destinations and
hunting trophies. All
other specimens shall be
deemed to be
specimens of species
included in Appendix I
and the trade in them
shall be regulated
accordingly)
Tapiridae Tapirs
Tapiridae spp. (Except
the species included in
Appendix II)
Tapirus terrestris
PHOLIDOTA
Manidae Pangolins
Manis spp. (A zero
annual export quota has
been established for
Manis crassicaudata, M.

118
APPENDICES

I II III

culionensis, M. javanica
and M. pentadactyla for
specimens removed
from the wild and
traded for primarily
commercial purposes)
PILOSA
Bradypodidae Three-toed sloth
Bradypus pygmaeus
Bradypus variegatus
Megalonychidae Two-toed sloth
Choloepus hoffmanni
(Costa Rica)
Myrmecophagidae American anteaters
Myrmecophaga
tridactyla
Tamandua mexicana
(Guatemala)
PRIMATES Apes, monkeys
PRIMATES spp. (Except
the species included in
Appendix I)
Atelidae Howler and prehensile-tailed monkeys
Alouatta coibensis
Alouatta palliata
Alouatta pigra
Ateles geoffroyi
frontatus
Ateles geoffroyi
panamensis

119
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Brachyteles arachnoides
Brachyteles
hypoxanthus
Oreonax flavicauda
Cebidae New World monkeys
Callimico goeldii
Callithrix aurita
Callithrix flaviceps
Leontopithecus spp.
Saguinus bicolor
Saguinus geoffroyi
Saguinus leucopus
Saguinus martinsi
Saguinus oedipus
Saimiri oerstedii
Cercopithecidae Old World monkeys
Cercocebus galeritus
Cercopithecus diana
Cercopithecus roloway
Macaca silenus
Mandrillus leucophaeus
Mandrillus sphinx
Nasalis larvatus
Piliocolobus kirkii
Piliocolobus rufomitratus
Presbytis potenziani

120
APPENDICES

I II III

Pygathrix spp.
Rhinopithecus spp.
Semnopithecus ajax
Semnopithecus
dussumieri
Semnopithecus entellus
Semnopithecus hector
Semnopithecus
hypoleucos
Semnopithecus priam
Semnopithecus
schistaceus
Simias concolor
Trachypithecus geei
Trachypithecus pileatus
Trachypithecus
shortridgei
Cheirogaleidae Dwarf lemurs
Cheirogaleidae spp.
Daubentoniidae Aye-aye
Daubentonia
madagascariensis
Hominidae Chimpanzees, gorilla, orang-utan
Gorilla beringei
Gorilla gorilla
Pan spp.
Pongo abelii
Pongo pygmaeus

121
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Hylobatidae Gibbons
Hylobatidae spp.
Indriidae Avahi, indris, sifakas, woolly lemurs
Indriidae spp.
Lemuridae Large lemurs
Lemuridae spp.
Lepilemuridae Sportive lemurs
Lepilemuridae spp.
Lorisidae Lorises
Nycticebus spp.
Pithecidae Sakis and uakaris
Cacajao spp.
Chiropotes albinasus
PROBOSCIDEA
Elephantidae Elephants
Elephas maximus
Loxodonta africana
(Except the populations
of Botswana, Namibia,
South Africa and
Zimbabwe, which are
included in Appendix II)
Loxodonta africana5
(Only the populations of
Botswana, Namibia,
South Africa and
Zimbabwe; all other
populations are included
in Appendix I)
RODENTIA

122
APPENDICES

I II III

Chinchillidae Chinchillas
Chinchilla spp.
(Specimens of the
domesticated form are
not subject to the
provisions of the
Convention)
Cuniculidae Paca
Cuniculus paca
(Honduras)
Dasyproctidae Agouti
Dasyprocta punctata
(Honduras)
Erethizontidae New World porcupines
Sphiggurus mexicanus
(Honduras)
Sphiggurus spinosus
(Uruguay)
Muridae Mice, rats
Leporillus conditor
Pseudomys fieldi
praeconis
Xeromys myoides
Zyzomys pedunculatus
Sciuridae Ground squirrels, tree squirrels
Cynomys mexicanus
Marmota caudata (India)
Marmota himalayana
(India)
Ratufa spp.

123
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Sciurus deppei (Costa


Rica)
SCANDENTIA Tree shrews
SCANDENTIA spp.
SIRENIA
Dugongidae Dugong
Dugong dugon
Trichechidae Manatees
Trichechus inunguis
Trichechus manatus
Trichechus senegalensis
CLASS AVES (BIRDS)
ANSERIFORMES
Anatidae Ducks, geese, swans, etc.
Anas aucklandica
Anas bernieri
Anas chlorotis
Anas formosa
Anas laysanensis
Anas nesiotis
Anascornis scutulata
Branta canadensis
leucopareia
Branta ruficollis
Branta sandvicensis
Cairina moschata
(Honduras)

124
APPENDICES

I II III

Coscoroba coscoroba
Cygnus
melancoryphus
Dendrocygna arborea
Dendrocygna
autumnalis (Honduras)
Dendrocygna bicolor
(Honduras)
Oxyura leucocephala
Rhodonessa
caryophyllacea
(possibly extinct)
Sarkidiornis melanotos
APODIFORMES
Trochilidae Hummingbirds
Trochilidae spp.
(Except the species
included in Appendix I)
Glaucis dohrnii
CHARADRIIFORMES
Burhinidae Thick-knee
Burhinus bistriatus
(Guatemala)
Laridae Gull
Larus relictus
Scolopacidae Curlews, greenshanks
Numenius borealis
Numenius tenuirostris
Tringa guttifer

125
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

CICONIIFORMES
Balaenicipitidae Shoebill, whale-headed stork
Balaeniceps rex
Ciconiidae Storks
Ciconia boyciana
Ciconia nigra
Jabiru mycteria
Mycteria cinerea
Phoenicopteridae Flamingos
Phoenicopteridae spp.
Threskiornithidae Ibises, spoonbills
Eudocimus ruber
Geronticus calvus
Geronticus eremita
Nipponia nippon
Platalea leucorodia
COLUMBIFORMES
Columbidae Doves, pigeons
Caloenas nicobarica
Ducula mindorensis
Gallicolumba luzonica
Goura spp.
Nesoenas mayeri
(Mauritius)
CORACIIFORMES
Bucerotidae Hornbills

126
APPENDICES

I II III

Aceros spp. (Except the


species included in
Appendix I)
Aceros nipalensis
Anorrhinus spp.
Anthracoceros spp.
Berenicornis spp.
Buceros spp. (Except
the species included in
Appendix I)
Buceros bicornis
Penelopides spp.
Rhinoplax vigil
Rhyticeros spp. (Except
the species included in
Appendix I)
Rhyticeros subruficollis
CUCULIFORMES
Musophagidae Turacos
Tauraco spp.
FALCONIFORMES Eagles, falcons, hawks, vultures
FALCONIFORMES spp.
(Except Caracara lutosa
and the species of the
family Cathartidae,
which are not included
in Appendices; and the
species included in
Appendices I and III)
Accipitridae Hawks, eagles
Aquila adalberti

127
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Aquila heliaca
Chondrohierax
uncinatus wilsonii
Haliaeetus albicilla
Harpia harpyja
Pithecophaga jefferyi
Cathartidae New World vultures
Gymnogyps
californianus
Sarcoramphus papa
(Honduras)
Vultur gryphus
Falconidae Falcons
Falco araeus
Falco jugger
Falco newtoni (Only the
population of
Seychelles)
Falco pelegrinoides
Falco peregrinus
Falco punctatus
Falco rusticolus
GALLIFORMES
Cracidae Chachalacas, currassows, guans
Crax alberti (Colombia)
Crax blumenbachii
Crax daubentoni
(Colombia)

128
APPENDICES

I II III

Crax globulosa
(Colombia)
Crax rubra (Colombia,
Costa Rica, Guatemala,
Honduras)
Mitu mitu
Oreophasis derbianus
Ortalis vetula
(Guatemala, Honduras)
Pauxi pauxi (Colombia)
Penelope albipennis
Penelope purpurascens
(Honduras)
Penelopina nigra
(Guatemala)
Pipile jacutinga
Pipile pipile
Megapodiidae Megapodes, scrubfowl
Macrocephalon maleo
Phasianidae Grouse, guineafowl, partridges, pheasants, tragopans
Argusianus argus
Catreus wallichii
Colinus virginianus
ridgwayi
Crossoptilon
crossoptilon
Crossoptilon
mantchuricum
Gallus sonneratii

129
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Ithaginis cruentus
Lophophorus impejanus
Lophophorus lhuysii
Lophophorus sclateri
Lophura edwardsi
Lophura leucomelanos
(Pakistan)
Lophura swinhoii
Meleagris ocellata
(Guatemala)
Pavo cristatus (Pakistan)
Pavo muticus
Polyplectron
bicalcaratum
Polyplectron germaini
Polyplectron malacense
Polyplectron napoleonis
Polyplectron
schleiermacheri
Pucrasia macrolopha
(Pakistan)
Rheinardia ocellata
Syrmaticus ellioti
Syrmaticus humiae
Syrmaticus mikado
Tetraogallus caspius
Tetraogallus tibetanus
Tragopan blythii

130
APPENDICES

I II III

Tragopan caboti
Tragopan
melanocephalus
Tragopan satyra (Nepal)
Tympanuchus cupido
attwateri
GRUIFORMES
Gruidae Cranes
Gruidae spp. (Except
the species included in
Appendix I)
Grus americana
Grus canadensis
nesiotes
Grus canadensis pulla
Grus japonensis
Grus leucogeranus
Grus monacha
Grus nigricollis
Grus vipio
Otididae Bustards
Otididae spp. (Except
the species included in
Appendix I)
Ardeotis nigriceps
Chlamydotis macqueenii
Chlamydotis undulata
Houbaropsis
bengalensis

131
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Rallidae Rail
Gallirallus sylvestris
Rhynochetidae Kagu
Rhynochetos jubatus
PASSERIFORMES
Atrichornithidae Scrub-bird
Atrichornis clamosus
Cotingidae Cotingas
Cephalopterus ornatus
(Colombia)
Cephalopterus
penduliger (Colombia)
Cotinga maculata
Rupicola spp.
Xipholena atropurpurea
Emberizidae Cardinals, tanagers
Gubernatrix cristata
Paroaria capitata
Paroaria coronata
Tangara fastuosa
Estrildidae Mannikins, waxbills
Amandava formosa
Lonchura oryzivora
Poephila cincta cincta
Fringillidae Finches
Carduelis cucullata
Carduelis yarrellii

132
APPENDICES

I II III

Hirundinidae Martin
Pseudochelidon
sirintarae
Icteridae Blackbird
Xanthopsar flavus
Meliphagidae Honeyeater
Lichenostomus
melanops cassidix
Muscicapidae Old World flycatchers
Acrocephalus
rodericanus (Mauritius)
Cyornis ruckii
Dasyornis broadbenti
litoralis (possibly
extinct)
Dasyornis longirostris
Garrulax canorus
Garrulax taewanus
Leiothrix argentauris
Leiothrix lutea
Liocichla omeiensis
Picathartes
gymnocephalus
Picathartes oreas
Terpsiphone
bourbonnensis
(Mauritius)
Paradisaeidae Birds of paradise
Paradisaeidae spp.

133
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Pittidae Pittas
Pitta guajana
Pitta gurneyi
Pitta kochi
Pitta nympha
Pycnonotidae Bulbul
Pycnonotus zeylanicus
Sturnidae Mynahs (Starlings)
Gracula religiosa
Leucopsar rothschildi
Zosteropidae White-eye
Zosterops albogularis
PELECANIFORMES
Fregatidae Frigatebird
Fregata andrewsi
Pelecanidae Pelican
Pelecanus crispus
Sulidae Booby
Papasula abbotti
PICIFORMES
Capitonidae Barbet
Semnornis
ramphastinus
(Colombia)
Picidae Woodpeckers
Dryocopus javensis
richardsi

134
APPENDICES

I II III

Ramphastidae Toucans
Baillonius bailloni
(Argentina)
Pteroglossus aracari
Pteroglossus castanotis
(Argentina)
Pteroglossus viridis
Ramphastos dicolorus
(Argentina)
Ramphastos sulfuratus
Ramphastos toco
Ramphastos tucanus
Ramphastos vitellinus
Selenidera maculirostris
(Argentina)
PODICIPEDIFORMES
Podicipedidae Grebe
Podilymbus gigas
PROCELLARIIFORMES
Diomedeidae Albatross
Phoebastria albatrus
PSITTACIFORMES
PSITTACIFORMES spp.
(Except the species
included in Appendix I
and Agapornis
roseicollis, Melopsittacus
undulatus, Nymphicus
hollandicus and
Psittacula krameri,

135
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

which are not included


in the Appendices)
Cacatuidae Cockatoos
Cacatua goffiniana
Cacatua
haematuropygia
Cacatua moluccensis
Cacatua sulphurea
Probosciger aterrimus
Loriidae Lories, lorikeets
Eos histrio
Vini ultramarina
Psittacidae Amazons, macaws, parakeets, parrots
Amazona arausiaca
Amazona auropalliata
Amazona barbadensis
Amazona brasiliensis
Amazona finschi
Amazona guildingii
Amazona imperialis
Amazona leucocephala
Amazona oratrix
Amazona pretrei
Amazona rhodocorytha
Amazona tucumana
Amazona versicolor
Amazona vinacea

136
APPENDICES

I II III

Amazona viridigenalis
Amazona vittata
Anodorhynchus spp.
Ara ambiguus
Ara glaucogularis
Ara macao
Ara militaris
Ara rubrogenys
Cyanopsitta spixii
Cyanoramphus cookii
Cyanoramphus forbesi
Cyanoramphus
novaezelandiae
Cyanoramphus saisseti
Cyclopsitta diophthalma
coxeni
Eunymphicus cornutus
Guarouba guarouba
Neophema
chrysogaster
Ognorhynchus icterotis
Pezoporus occidentalis
(Possibly extinct)
Pezoporus wallicus
Pionopsitta pileata
Primolius couloni
Primolius maracana
Psephotus

137
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

chrysopterygius
Psephotus dissimilis
Psephotus pulcherrimus
(possibly extinct)
Psittacula echo
Pyrrhura cruentata
Rhynchopsitta spp.
Strigops habroptilus
RHEIFORMES
Rheidae Rheas
Pterocnemia pennata
(Except Pterocnemia
pennata pennata which
is included in Appendix
II)
Pterocnemia pennata
pennata
Rhea americana
SPHENISCIFORMES
Spheniscidae Penguins
Spheniscus demersus
Spheniscus humboldti
STRIGIFORMES Owls
STRIGIFORMES spp.
(Except Sceloglaux
albifacies and the
species included in
Appendix I)
Strigidae Owls
Heteroglaux blewitti

138
APPENDICES

I II III

Mimizuku gurneyi
Ninox natalis
Ninox novaeseelandiae
undulata
Tytonidae Barn owls
Tyto soumagnei
STRUTHIONIFORMES
Struthionidae Ostrich
Struthio camelus (Only
the populations of
Algeria, Burkina Faso,
Cameroon, the Central
African Republic, Chad,
Mali, Mauritania,
Marocco, the Niger,
Nigeria, Senegal and the
Sudan; all other
populations are not
included in the
Appendices)
TINAMIFORMES
Tinamidae Tinamous
Tinamus solitarius
TROGONIFORMES
Trogonidae Quetzals
Pharomachrus mocinno
CLASS REPTILIA (REPTILES)
CROCODYLIA Alligators, caimans, crocodiles
CROCODYLIA spp.
(Except the species
included in Appendix I)

139
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Alligatoridae Alligators, caimans


Alligator sinensis
Caiman crocodilus
apaporiensis
Caiman latirostris
(Except the population
of Argentina, which is
included in Appendix II)
Melanosuchus niger (Ex-
cept the population of
Brazil, which is included
in Appendix II, and the
population of Ecuador,
which is included in
Appendix II and is
subject to a zero annual
export quota until an
annual export quota has
been approved by the
CITES Secretariat and
the IUCN/SSC Crocodile
Specialist Group)
Crocodylidae Crocodiles
Crocodylus acutus
(Except the population
of Cuba, which is
included in Appendix II)
Crocodylus cataphractus
Crocodylus intermedius
Crocodylus mindorensis
Crocodylus moreletii
(Except the population
of Belize and Mexico,
which are included in

140
APPENDICES

I II III

Appendix II with a zero


quota for wild
specimens traded for
commercial purposes)
Crocodylus niloticus
[Except the populations
of Botswana, Egypt
(subject to a zero quota
for wild specimens
traded for commercial
purposes), Ethiopia,
Kenya, Madagascar,
Malawi, Mozambique,
Namibia, South Africa,
Uganda, the United
Republic of Tanzania
(subject to an annual
export quota of no more
than 1,600 wild
specimens including
hunting trophies, in
addition to ranched
specimens), Zambia and
Zimbabwe, which are
included in Appendix II]
Crocodylus palustris
Crocodylus porosus
(Except the populations
of Australia, Indonesia
and Papua New Guinea,
which are included in
Appendix II)
Crocodylus rhombifer
Crocodylus siamensis
Osteolaemus tetraspis
Tomistoma schlegelii

141
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Gavialidae Gavial
Gavialis gangeticus
RHYNCHOCEPHALIA
Sphenodontidae Tuatara
Sphenodon spp.
SAURIA
Agamidae Agamas, mastigures
Saara spp.
Uromastyx spp.
Chamaeleonidae Chameleons
Archaius spp.
Bradypodion spp.
Brookesia spp. (Except
the species included in
Appendix I)
Brookesia perarmata
Calumma spp.
Chamaeleo spp.
Furcifer spp.
Kinyongia spp.
Nadzikambia spp.
Trioceros spp.
Cordylidae Spiny-tailed lizards
Cordylus spp.
Gekkonidae Geckos
Cyrtodactylus
serpensinsula

142
APPENDICES

I II III

Hoplodactylus spp. (New


Zealand)
Nactus serpensinsula
Naultinus spp.
Phelsuma spp.
Uroplatus spp.
Helodermatidae Beaded lizard, gila monster
Heloderma spp. (Except
the subspecies included
in Appendix I)
Heloderma horridum
charlesbogerti
Iguanidae Iguanas
Amblyrhynchus cristatus
Brachylophus spp.
Conolophus spp.
Ctenosaura bakeri
Ctenosaura
melanosterna
Ctenosaura oedirhina
Ctenosaura palearis
Cyclura spp.
Iguana spp.
Phrynosoma blainvillii
Phrynosoma cerroense
Phrynosoma coronatum
Phrynosoma wigginsi
Sauromalus varius

143
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Lacertidae Lizards
Gallotia simonyi
Podarcis lilfordi
Podarcis pityusensis
Scincidae Skinks
Corucia zebrata
Teiidae Caiman lizards, tegu lizards
Crocodilurus
amazonicus
Dracaena spp.
Tupinambis spp.
Varanidae Monitor lizards
Varanus spp.
(Except the species
included in Appendix I)
Varanus bengalensis
Varanus flavescens
Varanus griseus
Varanus komodoensis
Varanus nebulosus
Xenosauridae Chinese crocodile lizard
Shinisaurus
crocodilurus
SERPENTES Snakes
Boidae Boas
Boidae spp.
(Except the species
included in Appendix I)

144
APPENDICES

I II III

Acrantophis spp.
Boa constrictor
occidentalis
Epicrates inornatus
Epicrates monensis
Epicrates subflavus
Sanzinia
madagascariensis
Bolyeriidae Round Island boas
Bolyeriidae spp. (Except
the species included in
Appendix I)
Bolyeria multocarinata
Casarea dussumieri
Colubridae Typical snakes, water snakes, whipsnakes
Atretium schistosum
(India)
Cerberus rynchops
(India)
Clelia clelia
Cyclagras gigas
Elachistodon
westermanni
Ptyas mucosus
Xenochrophis piscator
(India)
Elapidae Cobras, coral snakes
Hoplocephalus
bungaroides

145
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Micrurus diastema
(Honduras)
Micrurus nigrocinctus
(Honduras)
Naja atra
Naja kaouthia
Naja mandalayensis
Naja naja
Naja oxiana
Naja philippinensis
Naja sagittifera
Naja samarensis
Naja siamensis
Naja sputatrix
Naja sumatrana
Ophiophagus hannah
Loxocemidae Mexican dwarf boa
Loxocemidae spp.
Pythonidae Pythons
Pythonidae spp. (Except
the subspecies included
in Appendix I)
Python molurus molurus
Tropidophiidae Wood boas
Tropidophiidae spp.
Viperidae Vipers
Crotalus durissus
(Honduras)

146
APPENDICES

I II III

Daboia russelii (India)


Trimeresurus
mangshanensis
Vipera ursinii (Only the
population of Europe,
except the area which
formerly constituted the
Union of Soviet Socialist
Republics; these latter
populations are not
included in the
Appendices)
Vipera wagneri
TESTUDINES
Carettochelyidae Pig-nosed turtles
Carettochelys insculpta
Chelidae Austro-American side-necked turtles
Chelodina mccordi (Zero
export quota for speci-
mens from the wild)
Pseudemydura umbrina
Cheloniidae Marine turtles
Cheloniidae spp.
Chelydridae Snapping turtles
Macrochelys temminckii
(United States of
America)
Dermatemydidae Central American river turtle
Dermatemys mawii
Dermochelyidae Leatherback turtle
Dermochelys coriacea

147
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Emydidae Box turtles, freshwater turtles


Clemmys guttata
Emydoidea blandingii
Glyptemys insculpta
Glyptemys muhlenbergii
Graptemys spp. (United
States of America)
Malaclemys terrapin
Terrapene spp. (Except
the species included in
Appendix I)
Terrapene coahuila
Geoemydidae Box turtles, freshwater turtles
Batagur affinis
Batagur baska
Batagur7borneoensis
Batagur dhongoka
Batagur kachuga
Batagur trivittata7
Cuora spp. (Zero quota
for wild specimens for
commercial purposes for
Coura aurocapitata, C.
flavomarginata, C.
galbinifrons, C. mccordi,
C. mouhotii, C. pani, C.
trifasciata, C.
yunnanensis and C.
zhoui)
Geoclemys hamiltonii

148
APPENDICES

I II III

Geoemyda japonica
Geoemyda spengleri
Hardella thurjii
Heosemys annandalii 7
Heosemys depressa7
Heosemys grandis
Heosemys spinosa
Kachuga spp.
Leucocephalon yuwonoi
Malayemys
macrocephala
Malayemys subtrijuga
Mauremys annamensis7
Mauremys iversoni
(China)
Mauremys japonica
Mauremys
megalocephala (China)
Mauremys mutica
Mauremys nigricans
Mauremys pritchardi
(China)
Mauremys reevesii
(China)
Mauremys sinensis
(China)
Melanochelys tricarinata
Melanochelys trijuga

149
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Morenia ocellata
Morenia petersi
Notochelys platynota
Ocadia glyphistoma
(China)
Ocadia philippeni
(China)
7
Orlitia borneensis
Pangshura spp.
(Except the species
included in Appendix I)
Pangshura tecta
Sacalia bealei
Sacalia pseudocellata
(China)
Sacalia quadriocellata
Siebenrockiella
crassicollis
Siebenrockiella
leytensis
Vijayachelys silvatica
Platysternidae Big-headed turtle
Platysternidae spp.
Podocnemididae Afro-American side-necked turtles
Erymnochelys
madagascariensis
Peltocephalus
dumerilianus
Podocnemis spp.

150
APPENDICES

I II III

Testudinidae Tortoises
Testudinidae spp.
(Except the species
included in Appendix I.
A zero annual export
quota has been
established for
Geochelone sulcata for
specimens removed
from the wild and
traded for primarily
commercial purposes)
Astrochelys radiata
Astrochelys yniphora
Chelonoidis nigra
Geochelone platynota
Gopherus
flavomarginatus
Psammobates
geometricus
Pyxis arachnoides
Pyxis planicauda
Testudo kleinmanni
Trionychidae Softshell turtles, terrapins
Amyda cartilaginea
Apalone spinifera atra
Aspideretes gangeticus
Chitra spp. (Except the
species included in
Appendix I)
Chita chitra

151
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Chita vandijki
Dogania subplana
Lissemys ceylonensis
Lissemys punctata
Lissemys scutata
Nilssonia formosa
Nilssonia gangetica
Nilssonia hurum
Nilssonia leithii
Nilssonia nigricans
Palea steindachneri
Pelochelys spp.
Pelodiscus axenaria
Pelodiscus maackii
Pelodiscus parviformis
Rafetus swinhoei
CLASS AMPHIBIA (AMPHIBIANS)
ANURA
Bufonidae Toads
Amietophrynus
superciliaris
Altiphrynoides spp.
Atelopus zeteki
Incilius periglenes
Nectophrynoides spp.
Nimbaphrynoides spp.

152
APPENDICES

I II III

Calyptocephalellidae Chilean toads


Calyptocephalella gayi
(Chile)
Dendrobatidae Poison frogs
Adelphobates spp.
Ameerega spp.
Andinobates spp.
Dendrobates spp.
Epipedobates spp.
Excidobates spp.
Hyloxalus azureiventris
Minyobates spp.
Oophaga spp.
Phyllobates spp.
Ranitomeya spp.
Dicroglossidae Frogs
Euphlyctis hexadactylus
Hoplobatrachus
tigerinus
Hylidae Tree frogs
Agalychnis spp.
Mantellidae Mantellas
Mantella spp.
Microhylidae Red rain frog, tomato frog
Dyscophus antongilii
Scaphiophryne
gottlebei

153
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Myobatrachidae Gastric-brooding frogs


Rheobatrachus spp.
(Except Rheobatrachus
silus and Rheobatrachus
vitellinus)
CAUDATA
Ambystomatidae Axolotls
Ambystoma dumerilii
Ambystoma
mexicanum
Cryptobranchidae Hellbener and giant salamanders
Andrias spp.
Cryptobranchus
alleganiensis (United
States of America)
Hynobiidae Asiatic salamanders
Hynobius amjiensis
(China)
Salamandridae Newts and salamanders
Neurergus kaiseri
CLASS ELASMOBRANCHII (SHARKS)
CARCHARHINIFORMES
Carcharhinidae Requiem sharks
Carcharhinus
longimanus
Sphymidae Hammerhead sharks
Sphyrna lewini
Sphyrna mokarran
Sphyrna zygaena

154
APPENDICES

I II III

LAMNIFORMES
Cetorhinidae Basking shark
Cetorhinus maximus
Lamnidae Mackerel sharks
Carcharodon
carcharias
Lamna nasus
ORECTOLOBIFORMES
Rhincodontidae Whale shark
Rhincodon typus
PRISTIFORMES
Pristidae Sawfishes
Pristidae spp.
RAJIFORMES
Mobulidae Mobulid rays
Manta spp.
CLASS ACTINOPTERYGII (FISHES)
ACIPENSERIFORMES Paddlefishes, sturgeons
ACIPENSERIFORMES
spp. (Except the species
included in Appendix I)
Acipenseridae Sturgeons
Acipenser brevirostrum
Acipenser sturio
ANGUILLIFORMES
Anguillidae Freshwater eels
Anguilla anguilla

155
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

CYPRINIFORMES
Catostomidae Cui-ui
Chasmistes cujus
Cyprinidae Blind carps, plaeesok
Caecobarbus geertsi
Probarbus jullieni
OSTEOGLOSSIFORMES
Arapaimidae Arapaimas
Arapaima gigas
Osteoglossidae Bonytongue
Scleropages formosus8
PERCIFORMES
Labridae Wrasses
Cheilinus undulatus
Sciaenidae Totoaba
Totoaba macdonaldi
SILURIFORMES
Pangasiidae Pangasid catfish
Pangasianodon gigas
SYNGNATHIFORMES
Syngnathidae Pipefishes, seahorses
Hippocampus spp.
CLASS SARCOPTERYGII (LUNGFISHES)
CERATODONTIFORMES
Ceratodontidae Australian lungfish
Neoceratodus forsteri

156
APPENDICES

I II III

COELACANTHIFORMES
Latimeriidae Coelacanths
Latimeria spp.

PHYLUM ECHINODERMATA

CLASS HOLOTHUROIDEA (SEA CUCUMBERS)


ASPIDOCHIROTIDA
Stichopodidae Sea cucumbers
Isostichopus fuscus
(Ecuador)

PHYLUM ARTHROPODA

CLASS ARACHNIDA (SCORPIONS AND SPIDERS)


ARANEAE
Theraphosidae Red-kneed tarantulas, tarantulas
Aphonopelma albiceps
Aphonopelma pallidum
Brachypelma spp.
SCORPIONES
Scorpionidae Scorpions
Pandinus dictator
Pandinus gambiensis
Pandinus imperator
CLASS INSECTA (INSECTS)
COLEOPTERA
Lucanidae Cape stag beetles
Colophon spp. (South
Africa)

157
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

LEPIDOPTERA
Nymphalidae Brush-footed butterflies
Agias amidon
boliviensis (Plurinational
State of Bolivia)
Morpho godartii
lachaumei (Plurinational
State of Bolivia)
Prepona praeneste
buckleyan (Plurinational
State of Bolivia)
Papilionidae Birdwing butterflies, swallowtail butterflies
Atrophaneura jophon
Atrophaneura
pandiyana
Bhutanitis spp.
Ornithoptera spp.
(Except the species
included in Appendix I)
Ornithoptera
alexandrae
Papilio chikae
Papilio homerus
Papilio hospiton
Parnassius apollo
Teinopalpus spp.
Trogonoptera spp.
Troides spp.

158
APPENDICES

I II III

PHYLUM ANNELIDA

CLASS HIRUDINOIDEA (LEECHES)


ARHYNCHOBDELLIDA
Hirudinidae Medicinal leeches
Hirudo medicinalis
Hirudo verbana

PHYLUM MOLLUSCA

CLASS BIVALVIA
(CLAMS AND MUSSELS)
MYTILOIDA
Mytilidae Marine mussels
Lithophaga lithophaga
UNIONOIDA
Unionidae Freshwater mussels, pearly mussels
Conradilla caelata
Cyprogenia aberti
Dromus dromas
Epioblasma curtisi
Epioblasma florentina
Epioblasma sampsonii
Epioblasma sulcata
perobliqua
Epioblasma torulosa
gubernaculum
Epioblasma torulosa
rangiana

159
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Epioblasma torulosa
torulosa
Epioblasma turgidula
Epioblasma walkeri
Fusconaia cuneolus
Fusconaia edgariana
Lampsilis higginsii
Lampsilis orbiculata
orbiculata
Lampsilis satur
Lampsilis virescens
Plethobasus cicatricosus
Plethobasus
cooperianus
Pleurobema clava
Pleurobema plenum
Potamilus capax
Quadrula intermedia
Quadrula sparsa
Toxolasma cylindrella
Unio nickliniana
Unio tampicoensis
tecomatensis
Villosa trabalis
VENEROIDA
Tridacnidae Giant clams
Tridacnidae spp.

160
APPENDICES

I II III

CLASS GASTROPODA (SNAILS AND CONCHES)

MESOGASTROPODA
Strombidae Queen conch
Strombus gigas
STYLOMMATOPHORA
Achatinellidae Agate snails, oahu tree snails
Achatinella spp.
Camaenidae Green tree snail
Papustyla pulcherrima

PHYLUM CNIDARIA

CLASS ANTHOZOA (CORALS, SEA ANEMONES)

ANTIPATHARIA Black corals


ANTIPATHARIA spp.
GORGONACEAE
Coralliidae
Corallium elatius (China)
Corallium japonicum
(China)
Corallium konjoi (China)
Corallium secundum
(China)
HELIOPORACEA
Helioporidae Blue corals
Helioporidae spp.
(Includes only the
species Heliopora
coerulea. Fossils are not

161
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

subject to the provisions


of the Convention)
SCLERACTINIA Stony corals
SCLERACTINIA spp.
(Fossils are not subject
to the provisions of the
Convention)
STOLONIFERA
Tubiporidae Organ-pipe corals
Tubiporidae spp.
(Fossils are not subject
to the provisions of the
Convention)
CLASS HYDROZOA
(SEA FERNS, FIRE CORALS, STINGING MEDUSAE)
MILLEPORINA
Milleporidae Fire corals
Milleporidae spp.
(Fossils are not subject
to the provisions of the
Convention)
STYLASTERINA
Stylasteridae Lace corals
Stylasteridae spp.
(Fossils are not subject
to the provisions of the
Convention)

F L O R A (PLANTS)

AGAVACEAE Agaves
Agave parviflora

162
APPENDICES

I II III

Agave victoriae-reginae
#4

Nolina interrata
Yucca queretaroensis
AMARYLLIDACEAE Snowdrops, sternbergias
#4
Galanthus spp.
#4
Sternbergia spp.
APOCYNACEAE Elephant trunks, hoodias
#9
Hoodia spp.
#4
Pachypodium spp.
(Except the species
included in Appendix I)
Pachypodium
ambongense
Pachypodium baronii
Pachypodium decaryi
#2
Rauvolfia serpentina
ARALIACEAE Ginseng
#3
Panax ginseng (Only
the population of the
Russian Federation; no
other population is
included in the
Appendices)
#3
Panax quinquefolius
ARAUCARIACEAE Monkey-puzzle tree
Araucaria araucana
BERBERIDACEAE May-apple
Podophyllum
hexandrum #2

163
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

BROMELIACEAE Air plants, bromelias


Tillandsia harrisii #4
Tillandsia kammii #4
#4
Tillandsia mauryana
Tillandsia xerographica
#4

CACTACEAE Cacti
CACTACEAE spp.9 #4
(Except the species
included in Appendix I
and except Pereskia
spp., Pereskiopsis spp.
and Quiabentia spp.)
Ariocarpus spp.
Astrophytum asterias
Aztekium ritteri
Coryphantha
werdermannii
Discocactus spp.
Echinocereus
ferreirianus ssp. lindsayi
Echinocereus schmollii
Escobaria minima
Escobaria sneedii
Mammillaria pectinifera
Mammillaria solisioides
Melocactus conoideus
Melocactus
deinacanthus

164
APPENDICES

I II III

Melocactus glaucescens
Melocactus paucispinus
Obregonia denegrii
Pachycereus militaris
Pediocactus bradyi
Pediocactus knowltonii
Pediocactus paradinei
Pediocactus
peeblesianus
Pediocactus sileri
Pelecyphora spp.
Sclerocactus
brevihamatus ssp.
tobuschii
Sclerocactus
erectocentrus
Sclerocactus glaucus
Sclerocactus
mariposensis
Sclerocactus mesae-
verdae
Sclerocactus nyensis
Sclerocactus
papyracanthus
Sclerocactus pubispinus
Sclerocactus wrightiae
Strombocactus spp.
Turbinicarpus spp.
Uebelmannia spp.

165
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

CARYOCARACEAE Ajo
#4
Caryocar costaricense
COMPOSITAE (Asteraceae) Kuth
Saussurea costus
CUCURBITACEAE Melons, gourds, cucurbits
Zygosicyos pubescens
Zygosicyos tripartitus
CUPRESSACEAE Alerce, cypresses
Fitzroya cupressoides
Pilgerodendron uviferum
CYATHEACEAE Tree-ferns
Cyathea spp.#4
CYCADACEAE Cycads
CYCADACEAE spp.#4
(Except the species
included in Appendix I)
Cycas beddomei
DICKSONIACEAE Tree-ferns
#4
Cibotium barometz
Dicksonia spp.#4 (Only
the populations of the
Americas; no other
population is included in
the Appendices)
DIDIEREACEAE Alluaudias, didiereas
#4
DIDIEREACEAE spp.
DIOSCOREACEAE Elephants foot, kniss
#4
Dioscorea deltoidea

166
APPENDICES

I II III

DROSERACEAE Venus flytrap


#4
Dionaea muscipula
EUPHORBIACEAE Spurges
Euphorbia spp.#5
(Succulent species only
except Euphorbia
misera and the species
included in Appendix I.
Artificially propagated
specimens of cultivars
of Euphorbia trigona,
artificially propagated
specimens of crested,
fan-shaped or colour
mutants of Euphorbia
lactea, when grafted on
artificially propagated
root stock of Euphorbia
neriifolia, and artificially
propagated specimens
of cultivars of
Euphorbia Milii when
they are traded in
shipments of 100 or
more plants and readily
recognizable as
artificially propagated
specimens, are not
subject to the provisions
of the Convention)
Euphorbia
ambovombensis
Euphorbia
capsaintemariensis
Euphorbia cremersii
(Includes the forma

167
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

viridifolia and the var.


rakotozafyi)
Euphorbia cylindrifolia
(Includes the ssp.
tuberifera)
Euphorbia decaryi
(Includes the vars.
ampanihyensis,
robinsonii and
spirosticha)
Euphorbia francoisii
Euphorbia moratii
(Includes the vars.
antsingiensis,
bemarahensis and
multiflora)
Euphorbia
parvicyathophora
Euphorbia quartziticola
Euphorbia tulearensis
FAGACEAE Beeches
#5
Quercus mongolica
(Russian Federation)
FOUQUIERIACEAE Ocotillos
Fouquieria
columnaris #4
Fouquieria fasciculata
Fouquieria purpusii
GNETACEAE Gnetums
#1
Gnetum montanum
(Nepal)

168
APPENDICES

I II III

JUGLANDACEAE Gavilan
Oreomunnea pterocarpa
#4

LAURACEAE Laurels
Aniba rosaeodora#12
LEGUMINOSAE (Fabaceae) Afrormosia, cristobal, palisander, rosewood,
sandalwood
Caesalpinia echinata#10
Dalbergia spp.#10
(Populations of
Madagascar)
#6
Dalbergia calycina
[population of
Guatemala] (Guatemala)
Dalbergia
#5
cochinchinensis
Dalbergia cubilquitzensis
#6
[population of
Guatemala] (Guatemala)
#2
Dalbergia dariensis
[Population of Panama]
(Panama)
#6
Dalbergia glomerata
[Population of
Guatemala] (Guatemala)
Dalbergia granadillo #6
Dalbergia nigra
#6
Dalbergia retusa
Dalbergia stevensonii #6
#6
Dalbergia tucurensis
(Nicaragua. In addition,

169
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Guatemala has listed its


national population)
Dalbergia panamensis
(Costa Rica, Nicaragua)
#5
Pericopsis elata
Platymiscium
pleiostachyum #4
Pterocarpus santalinus
#7

Senna meridionalis
LILIACEAE Aloes
Aloe spp.#4 (Except the
species included in
Appendix I. Also
excludes Aloe vera, also
referenced as Aloe
barbadensis which is not
included in the
Appendices)
Aloe albida
Aloe albiflora
Aloe alfredii
Aloe bakeri
Aloe bellatula
Aloe calcairophila
Aloe compressa
(Includes the vars.
paucituberculata,
rugosquamosa and
schistophila)
Aloe delphinensis

170
APPENDICES

I II III

Aloe descoingsii
Aloe fragilis
Aloe haworthioides
(Includes the var.
aurantiaca)
Aloe helenae
Aloe laeta (Includes the
var. maniaensis)
Aloe parallelifolia
Aloe parvula
Aloe pillansii
Aloe polyphylla
Aloe rauhii
Aloe suzannae
Aloe versicolor
Aloe vossii
MAGNOLIACEAE Magnolia
Magnolia liliifera var.
obovata #1 (Nepal)
MELIACEAE Mahoganies, West Indian cedar
Cedrela fissilis #5
(Plurinational State of
Bolivia)
Cedrela lilloi #5
(Plurinational State of
Bolivia)
#5
Cedrela odorata
(Brazil and the
Plurinational State of
Bolivia. In addition, the

171
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

following countries have


listed their national
populations: Colombia,
Guatemala and Peru)
Swietenia humilis #4
Swietenia macrophylla
#6
(Populations of the
Neotropics)
Swietenia mahagoni #5
NEPENTHACEAE Pitcher-plants (Old World)
#4
Nepenthes spp.
(Except the species
included in Appendix I)
Nepenthes khasiana
Nepenthes rajah
OLEACEAE Ashes, etc.
Fraxinus mandshurica #5
(Russian Federation)
ORCHIDACEAE Orchids
ORCHIDACEAE spp.10 #4
(Except the species
included in Appendix I)
(For all of the following
Appendix-I species,
seedling or tissue
cultures obtained in
vitro, in solid or liquid
media, transported in
sterile containers are
not subject to the
provisions of the
Convention only if the
specimens meet the

172
APPENDICES

I II III

definition of artificially
propagated agreed by
the Conference of the
Parties)
Aerangis ellisii
Dendrobium cruentum
Laelia jongheana
Laelia lobata
Paphiopedilum spp.
Peristeria elata
Phragmipedium spp.
Renanthera
imschootiana
OROBANCHACEAE Broomrape
#4
Cistanche deserticola
PALMAE (Arecaceae) Palms
Beccariophoenix
#4
madagascariensis
Chrysalidocarpus
decipiens
Lemurophoenix halleuxii
#13
Lodoicea maldivica
(Seychelles)
Marojejya darianii
Neodypsis decaryi #4
Ravenea louvelii
Ravenea rivularis
Satranala decussilvae
Voanioala gerardii

173
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

PAPAVERACEAE Poppy
#1
Meconopsis regia
(Nepal)
PASSIFLORACEAE Passion-flowers
Adenia firingalavensis
Adenia olaboensis
Adenia subsessifolia
PEDALIACEAE Sesames
Uncarina grandidieri
Uncarina stellulifera
PINACEAE Firs and pines
Abies guatemalensis
Pinus koraiensis #5
(Russian Federation)
PODOCARPACEAE Podocarps
#1
Podocarpus neriifolius
(Nepal)
Podocarpus parlatorei
PORTULACACEAE Lewisias, portulacas, purslanes
#4
Anacampseros spp.
#4
Avonia spp.
Lewisia serrata#4
PRIMULACEAE Cyclamens
11 #4
Cyclamen spp.
RANUNCULACEAE Golden seals, yellow adonis, yellow root
#2
Adonis vernalis
#8
Hydrastis canadensis

174
APPENDICES

I II III

ROSACEAE African cherry, stinkwood


#4
Prunus africana
RUBIACEAE Ayugue
Balmea stormiae
SANTALACEAE Sandalwoods
#2
Osyris lanceolata
(Populations of Burundi,
Ethiopia, Kenya, Rwanda,
Uganda and the United
Republic of Tanzania)
SARRACENIACEAE Pitcher-plants (New World)
Sarracenia spp.#4
(Except the species
included in Appendix I)
Sarracenia oreophila
Sarracenia rubra
ssp. alabamensis
Sarracenia rubra ssp.
jonesii
SCROPHULARIACEAE Kutki
Picrorhiza kurrooa #2
(Excludes Picrorhiza
scrophulariiflora)
STANGERIACEAE Stangerias
#4
Bowenia spp.
Stangeria eriopus
TAXACEAE Himalayan yew
Taxus chinensis and
infraspecific taxa of this
species #2

175
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

APPENDICES

I II III

Taxus cuspidata and


infraspecific taxa of this
species12 #2
Taxus fuana and
infraspecific taxa of this
species #2
Taxus sumatrana and
infraspecific taxa of this
species#2
#2
Taxus wallichiana
THYMELAEACEAE (Aquilariaceae) Agarwood, ramin
Aquilaria spp.#14
Gonystylus spp.#4
Gyrinops spp.#14
TROCHODENDRACEAE (Tetracentraceae) Tetracentron
#1
Tetracentron sinense
(Nepal)
VALERIANACEAE Himalayan spikenard
Nardostachys
grandiflora #2
VITACEAE Grapes
Cyphostemma
elephantopus
Cyphostemma laza
Cyphostemma
montagnacii
WELWITSCHIACEAE Welwitschia
#4
Welwitschia mirabilis
ZAMIACEAE Cycads
#4
ZAMIACEAE spp.

176
APPENDICES

I II III

(Except the species


included in Appendix I)
Ceratozamia spp.
Chigua spp.
Encephalartos spp.
Microcycas calocoma
ZINGIBERACEAE Ginger lily
Hedychium
#4
philippinense
ZYGOPHYLLACEAE Lignum-vitae
#11
Bulnesia sarmientoi
#2
Guaiacum spp.

177
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Lampiran 5. Daftar Spesies Prioritas (Lampiran


Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. 57/Menhut-
II/2008 tentang Arahan Strategis Konservasi Spesies
Nasional 20082018)

A. Burung

No. KELOMPOK PRIORITAS


Prioritas Sangat Tinggi
1. Maleo sekanwor Macrocephalon maleo
2. Gosong maluku Eulipoa wallacei
3. Curik Bali Leucopsar rotschildi
4. Seriwang sangihe Eutrichomyias rowleyi
5. Kuau kerdil Polypectron spp.
6. Sempidan Lophura spp.
7. Kakatua Cacatua spp.,Probosciger aterrimus
8. Elang Spizaetus bartelsi, S. floris, S. lanceolatus,
Ictinaetus malayanus
9. Cenderawasih Paradisea rubra, Paradigalla carunculata,
Dyphilodes respublica
10. Rangkong Famili Bucerotidae
11. Nuri dan Perkici Famili Psittacidae
12. Kuau raja Argusianus argus
Prioritas Tinggi
13. Mentok rimba (Itik serati) Cairina scutulata
14. Mambruk Goura spp.
15. Beo Nias (Tiong emas) Gracula religiosa
16. Ayam-hutan hijau Gallus varius

178
No. KELOMPOK PRIORITAS
17. Jalak putih Sturnus melanopterus
18. Merak hijau Pavo muticus
19. Betet jawa Psittacula alexandri
20. Gelatik jawa Padda oryzivora
21. Anis Zoothera spp.
22. Paok Pitta spp.
23. Pelatuk Famili Picidae
24. Celepuk Otus spp.
25. Raja udang Famili Alcedinidae
26. Bangau dan Ibis Famili Ciconiidae dan
Threskiornithidae

B. Mamalia

No. KELOMPOK PRIORITAS


Prioritas Sangat Tinggi
1. Pesut mahakam Orcaella brevirostris
2. Badak sumatera Dicerorhinus sumatraensis
3. Musang Sulawesi Macrogalidia muschenbroekii
4. Babi kutil Sus verrucosus
5. Harimau sumatera Panthera tigris sumatrae
6. Gajah sumatera Elephas maximus
7. Babirusa Babirousa babyrussa
8. Anoa dataran tinggi Bubalus quarlesi
9. Anoa dataran rendah Bubalus depressicornis

179
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

No. KELOMPOK PRIORITAS


Prioritas Tinggi
10. Kambing gunung Capricornis sumatraensis sumatraensis
11. Duyung Dugong dugon
12. Banteng Bos javanicus
13. Gajah Kalimantan Elephas maximus borneensis
14. Beruang madu Helarctos malayanus
15. Badak jawa Rhinoceros sondaicus
16. Tutul jawa Panthera pardus melas
17. Tapir Tapirus indicus

C. Primata

No. KELOMPOK PRIORITAS


Prioritas Sangat Tinggi
1. Orang utan sumatera Pongo abelii
2. Bokoi Macaca pagensis
3. Bilou Hylobates klosii
4. Joja Presbytis potenziani
5. Simakobu Simias concolor
Prioritas Tinggi
7. Lutung banggat Presbytis hosei
8. Lutung natuna Presbytis natunae
6. Owa jawa Hylobates moloch
9. Orang utan kalimantan Pongo pygmaeus

180
No. KELOMPOK PRIORITAS
10. Bekantan Nasalis larvatus
11. Surili Presbytis comata

D. Reptilia dan Amfibia

No. KELOMPOK PRIORITAS


Prioritas Sangat Tinggi
1. Kura-kura rote Chelodina mccordi
2. Kura-kura bintang Chitra chitra
3. Kura-kura sulawesi Leucocephalon yuwonoi
4. Baning kuning Indotestudo forstenii
5. Bajuku, Tuntong Callagur borneoensis
6. Biuku Batagur baska
7. Biawak biru Varanus melinus
8. Biawak merak Varanus auffenbergi
9. Ular python maluku Morelia clastolepis
10. Ular python Halmahera Morelia tracyae
11. Ular python kerdil Tanimbar Morelia nauta
12. Buaya siam Crocodylus siamensis
13. Katak barbourula Barbourula kalimantanensis
14. Katak pohon merah Nyctixalus margaritifer
15. Kodok merah Leptophryne cruentata
16. Kodok klaviger Bufo claviger

181
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

No. KELOMPOK PRIORITAS


Prioritas Tinggi
17. Kura-kura irian Chelodina gunaleni
18. Kura-kura reimani Chelodina reimanni
19. Sanca macklot Liasis mackloti
20. Ular python Python curtus
21. Biawak timor Varanus timorensis
22. Buaya sinyulong Tomistoma schlegelii

E. Insekta

No. KELOMPOK PRIORITAS


1. Papilio lampsacus
2. Allotopus rosenbergi
3. Ornithoptera spp.
4. Troides spp.
5. Trogonoptera brookiana
6. Cyclommatus giraffe
7. Dorcus bucephalus
8. Atrophaneura palu
9. Graphium stresemanni
10. Idea tambusisiana
11. Euploea albicosta
12. Euploea caespes
13. Euploea tripunctata

182
No. KELOMPOK PRIORITAS
14. Ideopsis hewitsonii
15. Parantica kuekenthali
16. Parantica Marcia
17. Parantica sulewattan
18. Parantica timorica
19. Polyura dehaani
20. Bombus rufipes
21. Apis koschevnikovi
22. Apis andreniformis

F. Biota air

No. KELOMPOK PRIORITAS


Prioritas Sangat Tinggi
1. Pesut mahakam Orcaella brevirostris
2. Kima raksasa Tridacna gigas
3. Duyung Dugong dugong
4. Arwana papua Scleropages jardinii
5. Ikan belida Notopterus chitala
6. Ikan batak Neolissochillus thienemanni
7. Kardinal banggai Pterapogon kauderni
Prioritas Tinggi
8. Ikan napoleon Cheilinus undulatus
9. Kima lain (selain Tridacna gigas, 6 spesies)

183
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

No. KELOMPOK PRIORITAS


10. Teripang pasir Holothuria scabra dan 25 spesies
teripang lainnya
11. Kerang lola Trochus niloticus
12. Kuda laut Hippocampus spp.
13. Penyu laut (6 spesies)
14. Nautilus Nautilus spp.
15. Kepiting kenari Birgus latro
16. Ikan raja laut Latimeria menadoensis
17. Hiu Superordo Selachimorpha
18. Pari Superordo Batoidea
19. Siput mata bulan Turbo marmoratus
20. Ubur-ubur Pulau Kakaban (Cassiopeia ornata, Mastigias
papua, Aurelia aurita danTripedalia cystophora)
21. Koral merah Corallium rubrum

G. Flora

No. KELOMPOK PRIORITAS


1. Pelalar Dipterocapus littoralis
2. Palem ekor ikan Hydriastele flabellata
3. Kalapia Kalappia celebica
4. Anggrek ekor tikus Paraphalaenopsis spp.
5. Rafflesia, Padma Rafflesia spp.
6. Resak banten Vatica bantamensis
7. Resak bribes Vatica javanica

184
No. KELOMPOK PRIORITAS
8. Nothofagus womersleyi
9. Kayu hitam, eboni Dyospyros celebica
10. Kayu susu Alstonia beatricis
11. Bintangur Calophyllum insularum
12. Guioa waigeoensis
13 Saninten Castanopsis argentea
14 Anggrek bulan raksasa Phalaenopsis gigantea
15 Kawoli Alloxylon brachycarphus
16 Bintangur Calohpyllum papuanum
17 Bintangur Calophyllum euryphyllum
18 Bintangur Calophylum carii
19 Nyatoh Manilkara kanosiensi
20 Mendarahan Myristica rumphii var. florentis
21 Kantung semar Nepenthes spp.
22 Tualang Koompasia grandiflora

185
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Lampiran 6. Daftar 25 spesies satwa liar terancam


punah yang diprioritaskan meningkat populasinya sebesar
10% pada tahun 2019 (Lampiran Surat Keputusan
Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi
Alam No. 200/IV/KKH/2015)

No. KELOMPOK SPESIES PRIORITAS


1. Harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae )
2. Gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus)
3. Badak jawa (Rhinoceros sondaicus)
4. Owa jawa (Hylobates moloch)
5. Banteng (Bos javanicus)
6. Elang jawa (Spizaetus bartelsi)
7. Jalak bali (Leucopsar rotschildi )
8. Kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea)
9. Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus)
10. Komodo (Varanus komodoensis)
11. Bekantan (Nasalis larvatus)
12. Anoa (Bubalus depressicornis, Bubalus quarlesi)
13. Babirusa (Babirousa babyrussa )
14. Maleo (Macrocephalon maleo)
15. Macan tutul jawa (Panthera pardus melas)
16. Rusa bawean (Axis kuhlii)
17. Cenderawasih (Macgregoria pulchra, Paradisaea
raggiana, Paradisaea apoda, Cicinnurus regius,
Seleucidis melanoleuca, Paradisea rubra)
18. Surili (Presbytis fredericae, Presbytis comata)

186
No. KELOMPOK SPESIES PRIORITAS
19. Tarsius (Tarsius fuscus)
20. Monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra, Macaca maura)
21. Julang sumba (Rhyticeros everetii)
22. Nuri kepala hitam (Lorius domicella, Lorius lory)
23. Penyu (Chelonia mydas, Eretmochelys imbricata)
24. Kanguru pohon (Dendrolagus mbaiso)
25. Celepuk rinjani (Otus jolanodea)

187
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Lampiran 7. Jumlah spesies flora dan fauna di Indonesia


yang terancam menurut IUCN (International Union for the
Conservation of Nature and Natural Resources) [last
updated 19 November 2015]

A. Jumlah spesies terancam di Indonesia


Kelompok Takson Jumlah
Mamalia 185
Aves 131
Reptilia 32
Amfibia 32
Ikan 150
Moluska 6
Invertebrata lainnya 284
Flora 426
Jumlah 1.246

B. Jumlah spesies endemik dan terancam di Indonesia


Kelompok Takson Jumlah
Endemik 259
Mamalia
Endemik terancam 115
Endemik 429
Aves
Endemik terancam 82
Endemik 173
Amfibia
Endemik terancam 21
Endemik 71
Kepiting air tawar
Endemik terancam 10
Koral pembentuk Endemik 4
karang Endemik terancam 2
Endemik 5
Konifera
Endemik terancam 1
Endemik 2
Cycada
Endemik terancam 2

188
C. Jumlah spesies punah dan terancam di Indonesia menurut
kategori IUCN Red List
Kategori IUCN Kelompok takson
Red List Fauna Flora
Extinct (EX) 2 1
Extinct in the wild (EW) 0 1
Critically Endangered (CR) 75 126
Endangered (EN) 195 87
Vulnerable (VU) 550 213
Near Threatened (NT) 564 96
Lower Risk/Consevation
4 9
dependent (LR/cd)
Data Deficient (DD) 921 82
Least Concern (LC) 4.090 624
Jumlah 6.401 1.239

D. Struktur kategori IUCN Red List dan derajat keterancaman

189
RIWAYAT HIDUP PENULIS

Penulis adalah Peneliti Utama di Bidang


Konservasi Sumber Daya Alam yang
telah 22 tahun melakukan penelitian
keanekaragaman hayati flora-fauna di
Kementerian Kehutanan [kini
Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan]. Ia juga berpengalaman
sebagai penyusun AMDAL dan
memegang Sertifikat Kompetensi Ketua
Penyusun AMDAL (Reg. No. K.030.02.11.016.000396).

Jabatan lain yang dipercayakan kepadanya saat ini, antara lain:

Ketua Kelompok Peneliti Konservasi Keanekaragaman Hayati;


Anggota Dewan Riset (bidang konservasi) Badan Litbang dan
Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan;

Anggota Dewan Redaksi Jurnal Penelitian Hutan dan


Konservasi Alam,

Anggota Dewan Redaksi Journal of Rehabilitation Science;

Anggota Kelompok

Kerja Kebijakan Badan Litbang dan Inovasi, Kementerian


Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

190
Penulis adalah Humas Madya di Pusat
Konservasi Tumbuhan Kebun Raya
Bogor, LIPI. Selama lebih dari 20 tahun,
ia telah melakukan berbagai kegiatan
kehumasan di bidang pendidikan
lingkungan dan konservasi tumbuhan.

Beberapa jabatan yang pernah


dipercayakan kepadanya, antara lain:

Penanggung jawab pembangunan Ekoregion Kalimantan


dengan Bank Mandiri di Ecopark LIPI, Cibinong;

Penanggung jawab kerjasama Pembangunan Replika Hutan


Tropis Ekoregion Jawa Bali di Ecopark LIPI, Cibinong dengan
Yayasan KEHATI, Kementerian Kehutanan dan PT. Garuda
Indonesia (Perseroan) Tbk.;

Tenaga ahli program Eco Study PT Sharp Electronic Indonesia;


Tenaga ahli revitalisasi lapangan golf Rumbai Camp, PT Caltex
Pacific Indonesia.

191
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Penulis dilahirkan di Palembang pada


tanggal 19 Agustus 1986. Puteri ke tiga
dari tiga bersaudara pasangan Bertha
Rina (Ibu) dan FM Sihombing (Ayah),
menyelesaikan pendidikan SD di Bangka
(1998), SMP di Palembang (2001),
SMAN 3 Palembang (2004), dan
mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Kelautan dari Universitas
Sriwijaya Palembang (2008).

Sejak tahun 2010, penulis menjadi Peneliti di Pusat Penelitian dan


Pengembangan Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan dengan jabatan Peneliti Pertama Bidang Perlindungan
Sumber Daya dan Lingkungan. Penulis aktif melakukan penelitian
di bidang konservasi sumber daya alam di Kelompok Peneliti
Konservasi Keanekaragaman Hayati.

192
Penulis dilahirkan di Jayapura tangal 6
Mei 1986. Ia adalah puteri ke tiga dari
tiga bersaudara pasangan Titing
Murtiningsih (Ibu) dan Daryono (Ayah).
Penulis menyelesaikan pendidikan SD di
Jayapura (1998), SMP di Jayapura Utara
(2001), dan SMU di Malang (2004). Pada
tahun 2008, penulis memperoleh gelar
Sarjana Peternakan dari Universitas
Brawijaya (UNIBRAW). Penulis juga pernah menjadi Asisten
Praktikum Mata Kuliah Ilmu Reproduksi Ternak di Fakultas
Peternakan UNIBRAW dan Customer Services PT. Telkom Indonesia
Kandatel Malang (20082009).

Sejak tahun 2009, penulis menjadi peneliti di Pusat Penelitian dan


Pengembangan Hutan, Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan. Saat ini, jabatan penulis adalah Peneliti Pertama
bidang Konservasi Sumber Daya Hutan. Penulis aktif melakukan
penelitian konservasi keanekaragaman hayati di Kelompok
Peneliti Konservasi Keanekaragaman Hayati.

193
SISTEM MONITORING DAN EVALUASI KEANEKARAGAMAN HAYATI DI TAMAN KEHATI

Penulis dilahirkan di Jakarta tanggal 5


Juni 1968 dan merupakan putra ke
empat dari pasangan [Alm.] Pairun
Sastro Darsono (Ayah) dan [Alm.]
Soeratinah (Ibu). Penulis menyelesaikan
pendidikan SD di Jakarta (1981), SMPN 2
di Jakarta (1984), dan SMAN 1 di Jakarta
(1987). Gelar Sarjana Kedokteran
Hewan diperoleh tahun 1991 dan profesi
Dokter Hewan tahun 1993 dari FKH IPB, Bogor. Gelar Magister
Sains bidang Biologi Konservasi diraih tahun 2007 dari FMIPA
Universitas Indonesia, Depok.

Penulis pernah bertugas di Papua sejak tahun 1993 hingga 2004.


Selama itu, pengalaman penulis antara lain Pemimpin Bagian
Proyek Taman Burung dan Taman Anggrek Biak, Dinas Kehutanan
Provinsi Irian Jaya [Papua]; Ketua Kelompok Peneliti bidang
Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) di Balai Penelitian
Kehutanan Manokwari, Instruktur/pengajar bidang KSDA di Balai
Latihan Kehutanan Manokwari; Dosen Luar Biasa dan pembimbing
skripsi mahasiswa di Universitas Negeri Papua (UNIPA).

Sejak tahun 2004 hingga sekarang, penulis mengabdikan dirinya di


Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan di Bogor dengan
jabatan saat ini sebagai Peneliti Madya. Penulis juga aktif dalam
kelompok kerja/tim terpadu yang dibentuk di lingkup
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yaitu Badan
Litbang dan Inovasi; Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya
Alam dan Ekosistem; serta Direktorat Jenderal Planologi dan Tata
Lingkungan. Saat ini, penulis aktif sebagai editor buku dan
merangkap Direktur Penerbitan FORDA PRESS; narasumber
bidang konservasi sumber daya alam; dan pembimbing skripsi
mahasiswa S1 IPB dan Universitas Pakuan (UNPAK).

194