Anda di halaman 1dari 27

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Gangguan depresi adalah jenis-jenis penyakit gangguan jiwa yang sering


terjadi dimasyarakat. Prevalensi gangguan depresi di Indonesia sebanyak 11,60
% dari jumlah penduduk di Indonesia sekitar 24.708.000 jiwa dan 50 % terjadi
pada usia 20-50 tahun. Perempuan dua kali lipat beresiko mengalami depresi
dibandingkan laki-laki. Hal ini diperkirakan adanya perbedaan hormone,
pengaruh melahirkan dan perbedaan stressor psikososial1.

Di Amerika menurut hasil survey The National Comorbidity Survey


Replication 16,2 % penduduk Amerika mengalami depresi sepanjang hidupnya.
Dan selama 12 bulan terakhir lebih dari 6,6 % dari mereka mengalami depresi. Di
Indonesia gambaran besarnya masalah kesehatan jiwa, baik anak-anak, maupun
dewasa dapat dilihat dari Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995
yang dilakukan oleh Badan Libangkes Depkes RI dengan menggunakan sampel
susenas BPS (Badan Pusat Statistik) terhadap 65.664 rumah tangga.
Temuannya menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa per 1000 anggota
rumah tangga adalah 140 orang menderita gangguan mental emosional.
Prevalensi diatas 100 per 1000 anggota rumah tangga dianggap sebagai masalah
kesehatan masyarakat yang penting (priority public health problem)2.

Depresi merupakan gangguan mood yang mempengaruhi sekitar 15% dari


populasi umum dan 10% dari konsultasi di pelayanan kesehatan utama10.
Sebanyak dua pertiga penderita depresi terkadang tidak menyadari bahwa mereka
memiliki penyakit yang dapat diobati dan karena itu tidak mencari bantuan
profesional. Selain itu, ketidaktahuan dan kesalahan persepsi penyakit oleh
masyarakat, termasuk pelayanan kesehatan menghindari diagnosa depresi,
menyebabkan terbentuknya stigmatisasi untuk penderita depresi11.

1
Gejala depresi mungkin lebih sering terjadi pada kelompok sosial dan
ekonomi rendah. Wanita dua kali lebih mungkin untuk menderita depresi, dan
gejala umumnya meningkat sesuai dengan usia. Penelitian terbaru menunjukkan
meningkatnya insiden depresi dalam kelompok usia muda, yang mungkin terkait
dengan peningkatan terjadinya bunuh diri10. Biasanya penderita depresi mencari
pengobatan dengan keluhan somatik, seperti kelelahan, sakit kepala, gangguan
perut, atau masalah tidur. Maka dari itu, diagnosis depresi sering sulit untuk
ditegakkan. Namun gangguan depresi psikotik atau gangguan depresi yang berat
mempunya manifestasi klinis yang sering menyebabkan kerusakan fisik, tindakan
parah berbahaya terhadap diri atau orang lain, atau bunuh diri11.
Manajemen keseluruhan untuk penderita depresi sendiri sering jauh dari
ideal. Hal ini disebabkan adanya stigma dan diskriminasi yang membuat
penderita depresi enggan untuk mencari pengobatan, dan diagnosa depresi oleh
dokter dan profesional kesehatan pun masih rendah. Bila faktor-faktor ini secara
bersama-sama, depresi jelas dapat dilihat untuk membentuk suatu masalah
kesehatan masyarakat yang utama. Prosedur pengobatan untuk depresi sendiri
sering tumpang tindih dan tidak memiliki tujuan khusus. Selain itu pengobatan
depresi ini sering membutuhkan integrasi dari berbagai pendekatan terapi12.

1.2. Tujuan Penulisan

1. Melengkapi syarat tugas stase Pskiatri

2. Melengkapi syarat Kepaniteraan Klinis Senior di RSUD Solok

2
BAB II

Tinjauan Pustaka

2.1 Definisi Depresi

Depresi merupakan keadaan mood yang menurun ditandai dengan


kesedihan, perasaan putus asa, dan tidak bersemangat. Depresi ini termasuk
perasaan murung sampai gangguan distimik menjadi gangguan depresi mayor.3
Depresi ini terjadi tanpa riwayat episode manik, campuran, atau hypomanik.
Depresi mayor merupakan gejala depresi yang berlangsung minimal 2 minggu,
dan biasanya orang dengan diagnosis episode depresi mayor juga mengalami
setidaknya empat gejala yang mencakup perubahan dalam nafsu makan dan berat
badan, perubahan dalam tidur dan aktivitas, tidak berenergi, perasaan bersalah,
masalah berpikir dan membuat keputusan, dan pikiran berulang tentang kematian
atau bunuh diri4.
Depresi menyebabkan penurunan status kesehatan seseorang, disamping
itu berkurangnya motivasi, emosi, dan kemampuan kognitif menyebabkan
individu dengan depresi menjadi tidak dapat berfungsi secara efektif sehingga
terdapat ketergantungan, kehilangan percaya diri, termasuk penurunan
kemampuan berkomunikasi hingga terjadi gangguan sosial yang dapat
memperburuk kondisi kesehatannya, terutama bagi penderita penyakit kronis dan
berulang. Depresi juga dapat memperparah penyakit, distress, dan meningkatkan
distabilitas. Depresi yang dikombinasikan dengan penyakit kronik dan
memperburuk kondisi kesehatan dan meningkatkan resiko kematian1.
2.2 Epidemiologi

Gangguan depresi berat paling sering terjadi dengan prevalensi seumur


hidup sekitar 15%. Penderita perempuan dapat mencapai 25%, sekitar 10%
diperawatan primer dan 15% dirawat rumah sakit. Pada anak sekolah didapatkan
prevalensi sekitar 2% dan usia ramaja 5%1.

3
2.3 Faktor Resiko

a. Jenis kelamin

Perempuan dua kali lipat lebih besar disbanding laki-laki. Diduga


adanya perbedaan hormone, pengaruh melahirkan, perbedaan stressor
psikososial antara laki-laki dan perempuan, dan model perilaku yang
dipelajari tentang ketidak berdayaaan1.

b. Usia

Rata-rata usia sekitar 40 tahunan. Hampir 50% awitan diantara


usia 20-50 tahun. Gangguan depresi berat dapat timbul pada masa anak
atau lanjut usia. Data terkini menunjukkan, gangguan depresi berat diusia
kurang dari 20 tahun mungkin berhubungan dengan meningkatnya
penggunaan alkohol dan penyalahgunaan zat dalam kelompok usia
tersebut1.

c. Status perkawinan

Paling sering terjadi pada orang yang tidak mempunyai hubungan


interpersonal yang ert atau pada mereka yang bercerai atau berpisah.
Perempun yang tidak menikah memiliki kecenderungan lebih rendah
untuk menderita depresi dibandingkan dengan yang menikah namun hal
ini berbanding terbalik untuk laki-laki1.

d. Faktor sosioekonomi dan budaya

Tidak ditemukn korelasi antara status sosialekonomi dan


gangguan depresi berat. Depresi lebih sering terjadi didaerah perdesaan
dibandingkan dengan daerah perkotaan1.

2.4 Etiologi Depresi

1. Faktor Organobiologik
Dilaporkan terdapat kelainan atau disregulasi pada metabolit amin
biogenic seperti asam 5-hydrocyindoleacetic (5-HLAA), asam

4
bomovaniliv (HVA), dan 3-methoxy-4-hydroxyphenyl-glycol (MHPG)
didalam darah, urin dan cairan serebrospinal (CSF) pasien dengan
gangguan mood1.
2. Amin Biogenik
Norepineprin dan serotonin adalah dua neurontransmitter yang
paling terlibat patofisiologi gangguan mood1.
3. Norepinefrin
Penurunan regulasi reseptor beta adrenergic dan reseptor klinis
anti depresi mungkin merupakan peran langsung sistem noradrenergic
pada depresi. Bukti lain yang juga melibatkan reseptor b2-presinaptik juga
terletak pada neuron serotonergic dan mengatur jumlah pelepasan
serotonin1.
4. Dopamin
Aktivitas dopamine mungkin berkurang pada depresi. Penemuan
subtype baru reseptor dopamine dan meningkatnya pengertian fungsi
regulasi presipnatik dan pascasipnatik dopamine memperkaya hubungan
antara dopamine dan gangguan mood1.
5. Serotonin
Aktivitas serotonin berkurang pada depresi. Serotonin
bertanggung jawab untuk control regulasi afek, agresi, tidur dan nafsu
makan. Pada beberapa penelitian ditemukan jumlah serotonin yang
berkurang di celah sinap dikatakan bertanggung jawab untuk terjadinya
depresi1.
6. Faktor Genetik
Genetik merupakan faktor penting dalam perkembangan gangguan
mood, tetapi jalur penurunan sangat kompleks. Sulit untuk mengabaikan
efek psikososial, dan juga faktor nongenetik kemungkinan berperan
sebagai penyebab berkembangnya gngguan mood seridaknya pada
beberapa orang1.
2.5 Klasifikasi Depresi

Berdasarkan Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di


Indonesia (PPDGJ) III, episode depresif dibagi menjadi episode depresif ringan,

5
depresif sedang, depresi berat tanpa gejala psikotik, depresif berat dengan gejala
psikotik, dan episode depresif lainnya5.

2.6. Tanda dan Gejala

Ada 3 gejala utama pada penderita depresif yaitu afek depresif,


kehilangan minat dan kegembiraan, juga berkurangnya energi yang
meningkatkan rasa mudah lelah dan penurunan aktivitas. Selain 3 gejala utama,
depresi juga disertai gejala tambahan seperti konsentrasi dan perhatian berkurang,
harga diri dan kepercayaan berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tak
berguna, pandangan masa depan suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan
membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu dan nafsu makan berkurang6.
Namun pada beberapa kasus tertentu, anxietas, kegelisahan dan agitasi
motorik lebih menonjol daripada depresinya dan perubahan mood mungkin
terselubung oleh ciri tambahan seperti iritabilitias, minum alkohol berlebih,
perilaku histrionik atau preokupasi hipokondrik. Gejala somatik yang khas pada
depresi adalah kehilangan minat pada kegiatan yang disukai, tidak ada reaksi
emosional terhadap lingkungan atau peristiwa yang biasanya menyenangkan,
bangun pagi lebih awal 2 jam atau lebih dari biasanya, depresi parah pada pagi
hari, kehilangan nafsu makan secara mencolok sehingga terjadi penurunan berat
badan 5% atau lebih dari berat badan terakhir, dan kehilangan libido mencolok6.
Depresi pada anak-anak dan dewasa muda manifestasi klinis yang lebih
menonjol antara lain kesulitan mempertahankan percakapan, kesulitan
berkonsentrasi, penurunan prestasi di sekolah, adanya kelambatan untuk
memproses suatu informasi, kebingungan, gangguan pikiran dan inkoherensi.
Depresi dengan psikotik pada anak-anak dan dewasa muda lebih menonjol
dengan adanya halusinasi dibandingan dengan delusi. Halusinasi berupa
halusinasi auditorik, visual, dan somatik. Selain itu juga sering adanya
kehilangan nafsu makan, kurang tidur dan penurunan berat badan yang ekstrim
terutama pada anak perempuan7.

6
2.7 Pedoman Diagnosis

Untuk mendiagnosis tingkat keparahan episode depresif, diperlukan


waktu untuk manifestasi klinis dari depresif sejurang kurangnya 2 minggu, tetapi
jika periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar biasa berat dan
berlangsung cepat6.
Pedoman diagnostik untuk episode depresif ringan antara lain :
a. Minimal harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi dan ditambah minimal 2
gejala tambahan
b. Tidak boleh ada gejala berat diantaranya
c. Lama seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
d. Hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasa
dilakukan

Pedoman diagnostik untuk episode depresif sedang antara lain:6


a. Minimal harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi dan ditambah minimal 3
(sebaiknya 4) gejala tambahan
b. Lama seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2 minggu
c. Menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan,
dan urusan rumah tangga

Pedoman diagnostik untuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik


antara lain:6
a. Semua 3 gejala utama depresi harus ada dan ditambah minimal 4
gejala tambahan yang diantaranya harus berintensitas berat
b. Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi
psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak mau atau
tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci
c. Lama seluruh episode berlangsung sekurang-kurangnya sekitar 2
minggu, tetapi jika gejala sangat berat dan onset sangat cepat
maka diagnosis masih dapat dibenarkan.

7
d. Pasien sangat tidak mungkin mampu meneruskan kegiatan sosial,
pekerjaan, urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat
terbatas

Pedoman diagnostik untuk episode depresif berat dengan gejala psikotik


antara lain:6
a. Memenuhi kriteria episode depresif berat
b. Disertai waham, halusinasi atau stupor depresif. Waham biasanya
melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan, malapetaka yang
mengancam dan pasien merasa bertanggung jawab akan hal itu.
Adanya halusinasi auditorik atau olfaktori berupa suara yang
menghina, menuduh atau bau kotoran dan daging busuk. Retardasi
psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor.

Episode depresif lainnya merupakan gambaran yang tidak sesuai dengan


gejala episode depresif ringan, sedang, atau berat, meskipun kesan menunjukkan
sifat sebagai depresi. Contoh episode depresif lainnya seperti campuran gejala
depresif (khususnya jenis somatik) yang berfluktuasi dengan gejala non
diagnostik seperti ketegangan, keresahan dan penderitaan, dan campuran gejala
depresif somatik dengan nyeri atau keletihan menetap yang bukan dari penyebab
organik6.

Menurut DSM IV, kriteria untuk episode depresif mayor antara lain
adanya 5 (atau lebih) gejala berikut selama periode 2 minggu dan mewakili
perubahan dari fungsi sebelumnya, setidaknya salah satu gejala baik mood
depresi atau kehilangan minat atau kesenangan dengan catatan gejala yang
dimaksud bukan termasuk gejala yang jelas karena kondisi medis umum, atau
delusi mood kongruen atau halusinasi. Gejala-gejala tersebut antara lain :
a. Adanya mood depresi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari.
Pada anak-anak dan remaja, biasanya suasana hati mudah
tersinggung.

8
b. Kurang minat atau kesenangan yang nyata pada hampir semua
kegiatan yang berlangsung hampir sepanjang hari, hampir setiap
hari.
c. Penurunan berat badan yang signifikan (perubahan lebih dari 5%
dari berat badan dalam satu bulan), atau penurunan atau
peningkatan nafsu makan hampir setiap hari. Pada anak-anak,
biasanya peningkatan berat badan tidak sesuai yang diharapkan.
d. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari
e. Agitasi atau retardasi psikomotor yang terjadi hampir setiap hari
f. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi
hampir setiap hari
g. Adanya pikiran berulang tentang kematian, ide bunuh diri
berulang tanpa rencana khusus, atau usaha bunuh diri.
Gejala untuk episode depresif mayor ini tidak memenuhi kriteria untuk
episode campuran. Gejala tersebut menyebabkan penderitaan yang bermakna
secara klinis atau gangguan dalam bidang sosial, pekerjaan, atau fungsi penting.
Gejala tersebut tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat
(penyalahgunaan obat), obat atau kondisi medis umum (misalnya,
hipotiroidisme). Gejala depresif tersebut bukan disebabkan keadaan berkabung
(setelah kehilangan orang yang dicintai) dimana gejala menetap selama lebih dari
2 bulan atau ditandai oleh gangguan fungsional ditandai, yang bersamaan dengan
ide bunuh diri, gejala psikotik, atau retardasi psikomotor.8

Pada DSM IV kriteria diagnosis untuk menentukan tingkat keparahan


episode depresif mayor dengan psikotik/berulang/ antara lain:8
a. Depresif ringan bila adanya sedikit gejala dan gejala tersebut
hanya menyebabkan gangguan kecil dalam fungsi pekerjaan atau
dalam kegiatan sosial biasa atau hubungan dengan orang lain.
b. Depresif sedang bila gejala depresi menyebabkan gangguan
fungsional
c. Depresif berat tanpa psikotik adanya banyak gejala untuk
membuat diagnosis, dan gejala nyata mengganggu fungsi

9
pekerjaan atau dengan kegiatan sosial biasa atau hubungan dengan
orang lain.
d. Depresif berat dengan ciri psikotik yaitu depresif dengan adanya
delusi atau halusinasi. Perlu ditentukan juga apakah psikotik pada
mood sesuai atau mood yang tidak sesuai:
1. Mood sesuai dengan psikotik yaitu adanya delusi atau
halusinasi yang isinya sepenuhnya konsisten dengan tema
depresif tipikal ketidakmampuan pribadi, rasa bersalah,
penyakit, kematian, nihilisme, atau hukuman.
2. Mood yang tidak sesuai dengan psikotik yaitu delusi atau
halusinasi yang isinya tidak melibatkan tema depresi khas
ketidakmampuan pribadi, rasa bersalah, penyakit, kematian,
nihilisme, atau hukuman layak. Termasuk gejala seperti
thought insertion, thought broadcasting, dan delusions of
control..
e. Depresi remisi parsial adalah gejala episode depresi mayor tapi
kriteria tidak terpenuhi, atau ada periode tanpa gejala yang
signifikan dari episode depresi mayor berlangsung kurang dari 2
bulan setelah akhir episode depresi mayor.
f. Depresif remisi penuh adalah tidak adanya tanda-tanda signifikan
atau gejala gangguan depresif selama 2 bulan terakhir.

2.8. Penatalaksanaan

2.8.1. Farmakoterapi

Sindrom depresi disebabkan oleh defisiensi relatif salah satu atau beberapa
aminergic neurotransmitter (noradrenalie, serotonine, dopamine) pada sinaps
neuron di SSP (khususnya pada sistem limbik)9.

Mekanisme kerja obat anti-depresi adalah9 :

Menghambat re-uptake aminergic neurotransmitter


Menghambat penghancuran oleh enzim monoamine oksidase

10
Sehingga terjadi peningkatan jumlah aminergic neurotransmitter pada sinaps
neuron di SSP.

Efek samping obat anti depresi dapat berupa :

Sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor


menurun, kemampuan kognitif menurun, dll)
Efek antikolinergik (mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur,
konstipasi, sinus takikardia, dll)
Efek anti-adrenergik (perubahan EKG, hipotensi)
Efek neurotoksis (tremor halus, agitasi, insomnia)
Efek samping yang tidak berat (tergantung daya toleransi dari penderita),
biasanya berkurang setelah 2-3 minggu bila tetap diberikan dengan dosis yang
sama.

Pada dasarnya semua obat anti-depresi mempunyai efek primer (efek


klinis) yang sama pada dosis ekuivalen, perbedaan terutama pada efek sekunder
(efek samping). Pemilihan obat anti-depresi tergantung pada toleransi pasien
terhadap efek samping dan penyesuaia efek samping terhadap kondisi pasien
(usia, penyakit fisik tertentu, jenis depresi)

Berdasarkan kriteria PPDGJ III tersebut, semua kriteria yang ada


terpenuhi untuk pasien pada kasus ini sehingga dapat digolongkan sebagai
episode depresif sedang

Bila diagnosa depresi sudah dibuat, maka perlu dinilai taraf hebatnya
gejala depresi dan besarnya kemungkinan bunuh diri. Hal ini ditanyakan dengan
bijkasana dan penderita sering merasa lega bila ia dapat mengeluarkan pikiran-
pikiran bunuh diri kepada orang yang memahami masalahnya, tetapi pada
beberapa penderita ada yang tidak memberitahukan keinginan bunuh dirinya
kepada pemeriksa karena takut di cegah. Bila sering terdapat pikiran-pikiran atau
rancangan bunuh diri, maka sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit dengan
pemberian terapi elektrokonvulsi di samping psikoterapi dan obat anti depresan.
Sebagian besar klinisi dan peneliti percaya bahwa kombinasi psikoterapi dan

11
farmakoterapi adalah pengobatan yang paling efektif untuk gangguan depresi.
Tiga jenis psikoterapi jangka pendek yaitu terapi kognitif, terapi interpersonal
dan terapi perilaku, telah diteliti tentang manfaatnya di dalam pengobatan
gangguan depresi.

Pada farmakoterapi digunakan obat anti depresan, dimana anti depresan dibagi
dalam beberapa golongan yaitu:

1. Golongan trisiklik, seperti: amitryptylin, imipramine, clomipramine dan


opipramol.
2. Golongan tetrasiklik, seperti: maproptiline, mianserin dan amoxapine.
3. Golongan MAOI-Reversibel (RIMA, Reversibel Inhibitor of Mono
Amine Oxsidase-A), seperti: moclobemide.
4. Golongan atipikal, seperti: trazodone, tianeptine dan mirtazepine.
5. Golongan SSRI (Selective Serotonin Re-Uptake Inhibitor), seperti:
sertraline, paroxetine, fluvoxamine, fluxetine dan citalopram.

Jenis-jenis obat anti-depresi yang biasa digunakan adalah :

Trisiklik/Tricyclic Antidepressants (TCA)


Golongan obat : amitriptyline, imipramine, clomipramine, tianeptine,
opipramol

Obat-obatan ini memiliki efek samping berupa efek sedasi otonomik, dan
kardiologik yang relatif besar sehingga pemberiannya dianjurkan pada
pasien usia muda dimana toleransinya lebih besar terhadap efek samping
tersebut dan bermanfaat untuk meredakan agitated depressive

Tetrasiklik
Golongan obat : maprotiline, mianserin, amoxapine

Obat-obatan ini memiliki efek samping pada otonomik dan kardiologik


yang relatif kecil namun efek sedasinya lebih kuat. Pemberiannya
diberikan pada pasien yang kondisinya kurang tahan terhadap efek

12
otonomik dan kardiologik (pasien usia lanjut) dan juga pada pasien
dengan sindrom depresi yang disertai dengan gejala anxietas dan
insomnia yang menonjol.

Atypical
Golongan obat : trazodone, tianeptine, mirtazapine

Efek samping dan pemberian obat sama seperti pada obat golongan
tetrasiklik

SSRI (Selective Serotonine Reuptake Inhibitor)


Golongan obat : sertraline, fluvoxamine, fluoxetine, citalopram

Obat-obatan ini memiliki efek samping berupa efek sedasi, otonomik, dan
hipotensi yang sangat minimal dan biasanya digunakan pada pasien
dengan retarded deppresive pada usia dewasa atau lanjut, atau yang
memiliki riwayat penyakit jantung, berat badan berlebih dan keadaan lain
yang menarik manfaat dari efek samping yang minimal tersebut.

MAOI-Reversible (Reversible Inhibitor of Monoamine Oxydase A


(RIMA))
Golongan obat : moclobemide

Obat golongan ini memiliki efek samping berupa hipotensi orthostatik


(relatif sering) sehingga dalam penggunaannya harus dijelaskan pada
pasien atau keluarga pasien, terutama pada pasien usia lanjut.

Pertama-tama menggunakan golongan SSRI yang efek sampingnya sangat


minimal (meningkatkan kepatuhan minum obat, bisa digunakan pada berbagai
kondisi medik), spektrum efek anti-depresi luas, dan gejala putus obat sangat
minimal, serta lethal dose yang tinggi (>6000mg) sehingga relatif aman.

Bila telah diberikan dengan dosis yang adekuat dalam jangka waktu yang
cukup (sekitar 3 bulan) tidak efektif, dapat beralih ke pilihan kedua yaitu
golongan trisiklik, yang spektrum anti-depresinya juga luas tetapi efek
sampingnya relatif lebih berat. Bila pilihan kedua belum berhasil, dapat beralih

13
ketiga dengan spektrum anti-depresi yang lebih sempit, dan juga efek samping
lebih ringan dibandingkan trisiklik, yang teringan adalah golongan MAOI
reversibel. Disamping itu juga dipertimbangkan bahwa pergantian SSRI ke
MAOI membutuhkan waktu 2-4 minggu istirahat untuk washout period.

Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan onset efek primer (efek


klinis) sekitar 2-4 minggu, efek sekunder (efek samping) sekitar 12-24 jam serta
waktu paruh sekitar 12-48 jam (pemberian 1-2 kali perhari).

2.8.2.Terapi psikologis dengan Psikoterapi

Psikoterapi yaitu terapi yang digunakan untuk menghilangkan keluhan-


keluhan dan mencegah kambuhnya gangguan psikologik atau pola perilaku
maladaptif. Terapi ini dilakukan dengan jalan pembentukan hubungan
profesional antara terapis dengan pasien. Psikoterapi untuk pasien dengan depresi
dapat diberikan secara individu, kelompok, atau pasangan sesuai dengan
gangguan psikologik yang mendasarinya. Beberapa pasien dan klinisi sangat
meyakini manfaat intervensi psikoterapi tetapi ada pula yang sebaliknya yaitu
tidak percaya. Berdasarkan hal ini, keputusan untuk melakukan psikoterapi
sangat dipengaruhi oleh penilaian dokter atau pasiennya.

Psikoterapi suportif
Psikoterapi ini hampir selalu diindikasikan. Memberikan kehangatan,
empati, pengertian dan optimisme. Bantu pasien mengidentifikasi dan
mengekspresikan emosinya dan bantu untuk ventilasi. Mengidentifikasi
faktor-faktor presipitasi dan membantu mengoreksi. Bantu memecahkan
problem eksternal (misalnya masalah pekerjaan, rumah tangga). Latih
pasien untuk mengenal tanda-tanda dekompensasi yang akan datang.
Temui pasien sesering mungkin (mula-mula 1-3 kali per minggu) dan
secara teratur, tetapi jangan sampai tidak berakhir atau selamanya.
Kenalilah bahwa beberapa pasien depresi dapat memprovokasi
kemarahan terapis (melalui kemarahan, hostilitas, tuntutan yang tak
masuk akal, dan lain-lain).

14
Psikoterapi psikodinamik
Dasar terapi ini adalah teori psikodinamik yaitu kerentanan psikologik
terjadi akibat konflik perkembangan yang tak selesai. Terapi ini dilakukan
dalam periode jangka panjang. Perhatian pada terapi ini adalah defisit
psikologik yang menyeluruh yang diduga mendasari gangguan depresi.
Misal- nya, problem yang berkaitan dengan rasa bersalah, rasa rendah
diri, berkaitan dengan pengalaman yang memalukan, peng- aturan emosi
yang buruk, defisit interpersonal akibat tak adekuatnya hubungan dengan
keluarga.

Psikoterapi dinamik singkat (Brief Dynamic Psychotherapy)


Sesinya lebih pendek. Tujuannya menciptakan lingkungan yang aman
buat pasien. Pasien dapat mengenal materi konfliknya dan dapat
mengekspresikannya.

Terapi perkawinan
Problem perkawinan dan keluarga sering menyertai depresi dan dapat
mempengaruhi penyembuhan fisik. Oleh karena itu, perbaikan hubungan
perkawinan merupakan hal penting dalam terapi ini.

15
BAB III

LAPORAN KASUS

Pasien datang ke poliklinik psikiatri RSUD Solok pada hari Senin, 7


November 2016 pukul 09.30 WIB. Anamnesa dan Pemeriksaan dilakukan pada
hari Senin, 7 November 2016 pukul 09.30 WIB di poliklinik psikiatri RSUD
Solok, sumber autoanamnesis dan alloanamnesis.

IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. B
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status perkawinan : Belum menikah
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Tukang Tambal Ban
Suku : Minang
Alamat : Jl. Telaga Biruhun Simpang Rumbio

STATUS PRAESENS
a. Status Internus
Keadaan umum : Cukup baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda vital :
Tekanan darah : 140/80 mmHg
Frekuensi nadi : 90 x/ menit, reguler
Frekuensi nafas : 22 x/menit
Suhu : 36,5 0 C
Sistem kardiovaskular : Tidak didapatkan kelainan
Sistem respiratorik : Tidak didapatkan kelainan
Sistem gastrointestinal : Tidak didapatkan kelainan
Sistem urogenital : Tidak didapatkan kelainan

16
Kelainan khusus : Tidak didapatkan kelainan
b. Status Pskiatri
ANAMNESIS
Autoanamnesis ditambah dengan alloanamnesis dari ibu, ayah, dan
paman.
a. Keluhan Utama:
Pasien mengamuk sejak 1 jam SMRS
b. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang:
Pasien mengamuk sejak 1 jam SMRS. Pasien diantar oleh Polisi dan
Satpol PP beserta keluarga dimana tangan pasien tampak diborgol. Hal ini
disebabkan karena pasien mengamuk dan memecahkan kaca di rumah nya.
Pada malam sebelumnya pasien meminjam uang ibu nya sebesar Rp
50.000; namun hanya ada Rp 40.000; karena teman pasien ada hutang dengan
nya sebesar Rp50.000; maka pasien mengembalikan uang ibunya sebesar Rp
10.000; keesokan paginya. Namun ibu pasien bertanya uang tersebut untuk apa
dan memicu perkelahian antara pasien dan ibu nya, yang akhirnya menyebabkan
polisi dan satpol PP tiba.
Semenjak 6 bulan yang lalu pasien memang sudah sering mengamuk
tanpa sebab, terutama apabila bertemu dengan ibunya. Pasien pernah menuruh
ibunya melompat ke sumur. Sebelum Idul Adha tahun ini, pasien berkelahi
dengan orang tua laki-lakinya, dan keesokan harinya ibunya menasehati namun
pasien tidak terima dinasehati oleh ibunya. Pasien juga sering memberikan
ceramah atau nasehat kepada orang sekitar di bengkel nya, sehingga pengunjung
dan orang sekitar bengkel merasa risih. Ibu pasien sudah pernah mencoba
membawa pasien untuk berobat, namun pasien menolak, akhirnya ibu pasien
datang ke Dinas Sosial dan meminta bantuan untuk membawa pasien berobat.
Pasien pernah mencoba ikut tes masuk polisi sebanyak 3 kali tahun 2013,
2014, dan 2016, namun tidak ada yang lulus, karena terbentur di bagian
akademik. Pasien mengatakan bahwa dia bukan anak orang tua nya, melainkan
anak Siti Maryam dan pasien merasa pernah bertemu dengan Allah dan mengaku
mampu meruqyah orang. Pasien tampak mudah bosan dan jenuh. Pasien
memiliki keinginan untuk membunuh orang yang memiliki masalah dengan nya

17
dimasa lampau dan orang yang menantang pasien, pasien merasa berani
semenjak menjadi supir lintas provinsi.

c. Riwayat Gangguan Sebelumnya


1. Riwayat Gangguan Pskiatri
Pasien belum pernah ada gangguan psikiatri sebelumnya, pasien belum
pernah berobat ke rumah sakit jiwa ataupun ke psikiater.
2. Riwayat Gangguan Medik
a. Riwayat trauma (-)
b. Riwayat mengalami kejang demam (+), kejang tanpa demam (-)
3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif atau alkohol
a. Riwayat mengkonsumsi minuman alkohol (-)
b. Riwayat narkoba (-)
c. Riwayat merokok (+) ketika sekolah namun sudah berhenti 3 bulan ini
d. Riwayat minum kopi (-)
e. Riwayat menghirup lem (+) selama 1 bulan sebanyak 1 kaleng/hari.
d. Riwayat Kehidupan Pribadi
a. Riwayat Prenatal
Ibu pasien pernah menderita morbili saat mengandung pasien pada usia
kehamilan 1 bulan
b. Riwayat masa kanak-kanak awal (0-3 tahun)
Pernah mengalami kejang saat demam tinggi dan meracau
c. Riwayat masa kanak pertengahan (3-11 tahun)
Pertumbuhan dan perkembangan pada masa ini normal. Pasien
berkembang menjadi anak yang periang, dan mudah bergaul. Prestasi di
sekolah biasa.
d. Riwayat masa remaja
Saat remaja pasien tetap berkembang menjadi seseorang yang periang dan
mudah bergaul. Pasien dari kecil memang rajin beribadah.

e. Riwayat Pendidikan
Pasien sekolah SD, SMP, dan SMK. Prestasi di sekolah biasa.

18
f. Riwayat Pekerjaan
Pasien merupakan seorang tambal ban.
g. Riwayat Psikososial
Pasien belum menikah
h. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien tidak pernah melakukan pelanggaran hukum dan terlibat dalam
masalah hukum.
i. Aktivitas Sosial
Pasien merupakan pribadi yang periang dan mudah bergaul dan mudah
bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan tetangga.
e. Riwayat Keluarga
Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan serupa dengan pasien.
Pasien merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Pasien memiliki seorang
kakak perempuan dan seorang adik laki-laki.
GENOGRAM

f. Situasi Kehidupan Sekarang


Kedua orang tua pasien memiliki masalah semenjak ayah pasien berhenti
bekerja sebagai supir, dan selanjutnya bekerja di ladang namun uang hasil
ladang tidak tampak. Ibu pasien adalah seorang tukang ojek. Pasien cukup dekat
dengan tante nya.
g. Persepsi Pasien terhadap dirinya dan Lingkungan
Pasien menyangkal dirinya menderita gangguan jiwa.

c. Pemeriksaan Status Mental


Pemeriksaan dilakukan di poliklinik jiwa RSUD Solok pada tanggal 7
November 2016, hasil pemeriksaan ini menggambarkan situasi keadaan pertama
kali berobat.
A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pria 21 tahun paras sesuai umur dengan postur tubuh proporsional,
kesan gizi pasien baik. Rambut pasien berwarna hitam. Pasien

19
menggunakan baju kaos berwarna merah. Pasien tampak gelisah dan
mudah bosan, dan menyalahkan ibu nya.
2. Kesadaran
Komposmentis
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Keadaan pasien mudah bosan. Pasien tidak mempelihatkan gerak-
gerik yang tidak bertujuan, gerak berulang, maupun gerakan
abnormal ataupun involunter.
4. Pembicaraan
- Kuantitas: pasien dapat menjawab beberapa pertanyaan namun
sesudah itu tidak mau menjawab pertanyaan lagi.
- Kualitas: awalnya pasien dapat memahami dan memberikan
respon dengan baik, menjawab pertanyaan dengan spontan,
volume bicara sedikit besar. Intonasi pasien berbicara jelas,
pengucapan kata jelas dan pembicaraan dapat dimengerti.
- Tidak ada hendaya berbahasa
5. Sikap terhadap pemeriksa:
Awalnya pasien kooperatif, kontak mata adekuat. Pasien dapat
menjawab pertanyaan dengan baik. Namun sesudah itu tidak
cooperatif.
B. Keadaan Afektif
1. Mood : disforia
2. Afek : terbatas
C. Gangguan Persepsi
- Halusinasi: visual
- Depersonalisasi: (-)
- Derealisasi: (-)
- Ilusi: (-)
D. Proses Pikir
1. Proses pikir: asosiasi longgar
2. Arus pikir:

20
- Produktivitas: pasien dapat menjawab spontan saat diajukan
pertanyaan
- Kontinuitas: koheren, mampu memberikan jawaban sesuai
pertanyaan
- Hendaya berbahasa: tidak terdapat hendaya berbahasa
3. Isi pikiran: waham kebesaran
E. Fungsi Intelektual atau kognitif
1. Taraf pendidikan, pengetahuan umum dan kecerdasan
- Taraf pendidikan: pasien lulusan sekolah menengah kejuruan
(SMK)
- Pengetahuan umum: baik
2. Daya konsentrasi dan perhatian: konsentrasi pasien kurang baik
3. Orientasi
- Waktu: baik, pasien mengetahui saat wawancara saat sore
hari
- Tempat: baik, pasien mengetahui sekarang sedang berada di
RS
- Orang: baik, pasien mengetahui siapa saja yang tinggal di
rumahnya
- Situasi: kurang baik, karena pasien menolak untuk
diwawancarai.
4. Daya ingat
- Daya ingat jangka panjang: baik
- Daya ingat jangka sedang: baik
- Daya ingat jangka pendek: baik
- Daya ingat segera: baik
5. Kemampuan membaca dan menulis: tidak dilakukan
6. Kemampuan visuospasial: tidak dilakukan
7. Berpikir abstrak: tidak dilakukan
F. Daya Nilai
Daya nilai social pasien terganggu. Uji daya nilai realita pasien terganggu
G. Pengendalian Impuls

21
Pengendalian impuls pasien terganggu, selama wawancara tidak dapat
mengontrol emosinya dengan baik.
H. Tilikan
Tilikan derajat 1, pasien menyangkal dirinya sakit
I. Taraf Dapat dipercaya
Kemampuan pasien dapat dipercaya cukup baik dengan jujur mengenai
peristiwa yang terjadi.

d. Diagnosis Multiaksial
Aksis I : F20.0. Skizofrenia Paranoid
Aksis II : Belum ada diagnosa
Aksis III : Hipertensi stage 1
Aksis IV : Masalah berkaitan dengan primary group support
Aksis V : GAF scale 50-41

e. Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Qou ad sanationam : malam

f. Terapi
Farmakologi:
- Risperidon 2 mg 2x1
- Lodomer injeksi 3x1
- Diazepam injeksi k/p
- Triheksilpenidil 2 mg 2x1
- Clozapin 25 mg 1x1
- Clobazam 10 mg 1x1
Psikoterapi dan edukasi:
Psikoterapi:
- Psikoterapi suportif: bertujuan untuk memperkuat mekanisme defens
(pertahanan) pasien terhadap stress. Perlu diadakan terapi untuk

22
meningkatkan kemampuan pengendalian diri dan memberikan motivasi
hidup.
- Psikoterapi reedukatif: bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
keluarga untuk mendukung kesembuhan pasien dengan mengawasi pasien
untuk minum obat teratur.
- Psikoterapi rekonstruktif: bertujuan membangun kembali kepercayaan diri
pasien, menolak semua fikiran negative
Edukasi:
- Menyarankan kepada keluarga untuk selalu memberikan dukungan
kepada pasien, ajak pasien berkomunikasi, kurangi hal-hal yang dapat
meningkatkan stressor
- Ibu pasien di minta untuk bersabar dan tidak melakukan hal-hal yang
dapat memancing emosi pasien.
- Berdiskusi terhadap pentingnya pasien untuk minum obat teratur dan
control teratur.

23
BAB IV
ANALISA KASUS

24
BAB V
Penutup

4.1. Kesimpulan
Seorang pasien bernama Tn.B berumur 21 tahun datang ke poliklinik
psikiatri RSUD Solok. Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik diagnose aksis
I yaitu F20.0. skizofrenia paranoid. Diagnosa ini ditegakkan berdasarkan
diagnosis menurut PPDGJ-III dimana untuk pedoman diagnosis antara lain:
_______________________. Untuk diagnosis aksis II yaitu belum ada diagnosis.
Diagnosis aksis III yaitu hipertensi stage 1. Diagnosis aksis IV yaitu masalah
primary group support. Dan untuk aksis V nya adalah GAF 50-41.

Diagnosis Multiaksial
Aksis I : F20.0. Skizofrenia Paranoid
Aksis II : Belum ada diagnosa
Aksis III : Hipertensi stage 1
Aksis IV : Masalah berkaitan dengan primary group support
Aksis V : GAF scale 50-41
Skizofrenia paranoid adalah

25
DAFTAR PUSTAKA

1. Elvira, Sylvia D, dkk. 2015. Buku Ajar Pskiatri Edisi Kedua. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Departemen Kesehatan R.I. 2007. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III cetakan pertama. Direktorat Jenderal
Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI : Jakarta
3. Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 29. Jakarta: Medical Publisher EGC;
2002
4. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Ed. Lippincott Williams &
Wilkins:2007
5. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock's Comprehensive Textbook of
Pschyiatry. 8th Ed. Lippincott Williams & Wilkins:2005
6. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik. Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta :
1993
7. Nunn KP. Psychotic in Young People. Child & Adolescent Mental Health
Statewide Network (CAMHSNET) : p 19-25
8. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry. 10th Ed. Lippincott Williams &
Wilkins:2007
9. Maslim, R. 2002. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik
Edisi Ketiga. Jakarta : PT Nuh Jaya.
10. Baldwin DS, Birtwistle J. The Encyclopedia of Visual Medicine Series:
An Atlas of Depression. The Parthenon Publishing Group: 2002
11. Halverson JL. Depression. [terhubung berkala]. Medscape: 2014
http://emedicine.medscape.com/article/286759-overview [ 01 Maretl
2014]

26
12. Ruzik K, Knez R, Grahovac T, Hero ED, Graovac M. Integrative
Approch to Treatment of Patient With Psychotic Depression. Psychiatria
Danubina, 2010; 22 (2) : 370372.

27