Anda di halaman 1dari 64

TUGAS AKHIR

PERANCANGAN PORTABLE
MESIN CRIMPPING HOSE CONNECTION

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Meraih Gelar Sarjana Strata Satu (S-1)
Pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri
Universitas Mercu Buana

Disusing oleh:
Riko Meidiya Putra
NIM: 41306110033

JURUSAN TEKNIK MESIN


FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI
UNIVERSITAS MERCUBUANA
2008
Lembar Pengasahan

LEMBAR PENGESAHAN

PERANCANGAN PORTABLE
MESIN CRIMPPING HOSE CONNECTION

Telah diteliti & disetujui oleh:


Dosen Pembimbing

( Ir. Rully Nutranta M.Eng)

- ii -
Lembar Pengasahan

LEMBAR PENGESAHAN

PERANCANGAN PORTABLE
MESIN CRIMPPING HOSE CONNECTION

Telah diteliti & disetujui oleh:


Mengetahui:

Koordinator Tugas Akhir

( Nanang Rukyat ST.MT)

- iii -
Lembar Pernyataan

LEMBAR PERNYATAAN

PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

NAMA : RIKO MEIDIYA PUTRA


NIM : 41306110033
JURUSAN : TEKNIK MESIN
FAKULTAS : TEKNIK INDUSTRI

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tuigas akhir ini adalah hasil karya
saya sendiri dan bukan salinan atau duplikat dari orang lain, kecuali pada bagian yang
telah disebutkan pada bagian yang telah disebutkan sumberbya dalam daftar referensi.

Jakarta, Agustus 2008

RIKO MEIDIYA PUTRA

i
Abstrak

ABSTRAK

Riko Meidiya Putra,2008 Proposal Perancangan Mesin Crimping Hose


Connection
Skripsi ini bertujuan untuk membuat Mesin Crimpping Hose Connection
guna menekan waktu unproductive yang berpengaruh pada penekanan biaya
operasi, meyakinkan proses jenis pekerjaan beresiko tinggi (Cementing dan
Drilling) dapat dikerjakan dengan baik dan mengurangi jumlah stock yang harus
disediakan di lokasi.
Pada skripsi ini dirancang system Hydraulic Crimper dengan posisi
sudut kemiringan 45 agar diperoleh kemudahan dalam pengoperasian alat dan
kemudahan dalam penempatan alat di lingkungan kerja. Selain itu juga dianalisa
keuntungan-keuntungan mekanis yang akan diperoleh dengan design sudut
kemiringan 45.
Dari perencanaan tersebut diharapkan dapat memperoleh design
Hydraulic Crimper yang lebih praktis dalam penggunaan,lebih mudah dalam
pengoperasian,mudah dibawa dan tetap mempertimbangkan kwalitas hasil
Crimping (Connection hose).

- iv -
Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat ALLAH SWT atas segala rahmat dan
hidayah serta bimbinganNya sehingga penulis berhasil menyelesaikan tugas akhir ini
dengan sebaik-baiknya.

Tugas akhir ini merupakan mata kuliah wajib yang harus ditempuh dalam rangka
menyelesaikan pendidikan kesarjanaan strata satu ( S-1 ) di Fakultas Teknologi Industri
Jurusan Teknik Mesin Universitas Mercu Buana.

Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari sempurna, hal ini dikarenakan
keterbatasan ilmu pengetahuan dan waktu yang tersedia. Dengan keterbatasan ini penulis
berusaha semampunya untuk menerapkan teori yang didapat di bangku kuliah, juga
mengumpulkan informasi dan pengetahuan dari berbagai referensi dan sumber-sumber
lain yang berhubungan dengan tugas akhir ini.

Penyelesaian tugas akhir ini tak lepas dari dukungan dan bimbingan berbagai pihak.
Untuk itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1. Istriku Hema, anak-anakku Hayfa dan Radif atas segala doa, dukungan dan
tentu kebahagiaan yang selalu papa rasakan. Semoga keberhasilan ini
menambah kebanggaan kalian kepada papa.
2. Orangtuaku atas doa-doanya untuk keberhasilanku.
3. Bapak Ir. Rully Nutranta, M.Eng selaku pembimbing tugas akhir yang selalu
membantu dengan berbagai cara dalam proses penyelesaian tugas akhir ini.
4. Bapak Nanang Rukhyat SE.MT selaku koordinator tugas akhir.
5. Seluruh staf dan dosen Jurusan Teknik Mesin Universitas Mercu Buana yang
telah memberi bimbingan dan pengajaran selama masa perkuliahan
berlangsung.
6. Teman-teman Jurusan Teknik Mesin atas kebersamaan dan bantuannya
selama ini.
7. Dan kepada semua pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

-v-
Kata Pengantar

Didalam penyusunan tugas akhir ini penulis menyadari masih terdapat banyak
kekurangan baik dari segi materi maupun penyajiannya. Oleh karena itu diharapkan kritik
serta saran yang membangun.

Akhirnya penulis berharap semoga tugas akhir ini dapat berguna bagi pembaca
khususnya, serta Jurusan Teknik Mesin Universitas Mercu Buana dan ilmu pengetahuan
pada umumnya.

Jakarta, Agustus 2008

Penulis

- vi -
Daftar Isi

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ............................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................... ii
ABSTRAK ........................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ........................................................................................ iv
DAFTAR ISI ....................................................................................................... vii
DAFTAR SIMBOL DAN SATUAN ix
BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1
I.2. Permasalahan ................................................................................ 2
I.3. Pembatasan Masalah ..................................................................... 2
I.4. Tujuan Pembahasan ...................................................................... 2
I.5. Metode Penulisan .......................................................................... 2
I.6. Sistematika Penulisan .................................................................... 3
BAB II LANDASAN TEORI
II.1. Hydraulic System .......................................................................... 4
II.1.1. Hydraulic Cylinder ....................................................................... 5
II.1.2. Hydraulic Pump ........................................................................... 7
II.2. Hydraulic Jacket ........................................................................... 9
II.3. Crimping Jack hydraulic hose ...................................................... 12
II.4. Beban Kerja .................................................................................. 15
II.4.1. Teganagn tekan pada compress ring ............................................. 15
II.4.2. Kekuatan baut pada hydraulic cylinder ........................................ 17
II.4.3. Gaya Gesek ................................................................................... 20
II.5. Pemilihan Bahan ........................................................................... 22
BAB III METODOLOGI PERANCANGAN
III.1. Data Perencanaan ......................................................................... 24
III.2. Permasalahan yang dianalisa ......................................................... 25
III.3. Diagram Alir ................................................................................. 25

- vii -
Daftar Isi

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN


IV.1. Gaya-gaya pada hydraulic pump ................................................. 32
IV.1.1. Moment-moment pada hand pump .............................................. 33
IV.2. Beban kerja dan konstruksi .......................................................... 34
IV.2.1. Tegangan tekan pada compress ring ............................................. 34
IV.2.2. Kekuatan baut pada hydraulic cylinder ......................................... 36
IV.3. Gaya Gesek ................................................................................... 38
IV.3.1. Gaya gesek pada hydraulic cylinder ............................................. 38
IV.3.2. Gaya gesek pada dies dan compress ring ..................................... 39
IV.3.3. Gaya gesek pada design perencanaan ........................................... 41
IV.4. Analisa kekuatan Material ............................................................ 42
IV.4.1. Analisa pusher .............................................................................. 42
IV.4.2. Analisa compress ring .................................................................. 45
IV.4.3. Analisa dies ................................................................................... 47
IV.4.4. Analisa support frame ................................................................... 49
IV.4.5. Pembahasan ................................................................................... 51
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
V.1. Kesimpulan ................................................................................... 52
V.2. Saran .............................................................................................. 52
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 53
LAMPIRAN

- viii -
Daftar Simbol dan Satuan

DAFTAR SIMBOL DAN SATUAN

Simbol Besaran Satuan

As Luasan penampang luar bagian bawah pusher cm2


Ac Luasan penampang lubang bagian bawah pusher cm2
Aoc Luasan penampang compress ring bagian luar cm2
Aic Luasan penampang lubang compress ring cm2
Aod Luasan penampang luar dies cm2
Aid Luasan penampang dalam dies cm2
Ab Luasan penampang bagian bawah piston m2
dp Diameter pompa mm
dk Diameter kaki baut mm
Dr Diameter ram mm
Dmin Diameter kepala baut cm
Ds Diameter penampang luar bagian bawah pusher mm
Dc Diameter penampang luar bagian atas pusher mm
Doc Diameter luar compress ring mm
Dic Diameter lubang compress ring mm
Dod Diameter luar dies mm
Did Diameter dalam dies mm
E Modulus elastisitas bahan Kg/cm2
Es Modulus geser Kg/cm2
fk Gaya gesek pada material dies dan compress ring N
F Gaya N
Ff Coulomb friction Kg/cm2
Fact Gaya output actual hydraulic silinder Kg/cm2
FIHS Tekanan input pompa piston Kg/cm2
FOHS Tekanan output piston Kg/cm2, kpsi
FILA Tekanan input hand pump Kg/cm2
FOLA Tekanan pada penumpu hand pump Kg/cm2

- xi -
Daftar Simbol dan Satuan

h Tinggi kepala baut mm


i Jari-jari kelembaman cm
M Moment torsi Kg.mm
N Gaya normal pada permukaan logam/material N
PPusher Tekanan yang dialami pusher Kg/cm2
Pkr Beban tekan kritis Kg
Po1 Gaya tarik yang dialami oleh tiap baut Kg
Po Gaya tarik dengan penambahan gaya pengencangan Kg
P Pressure N/m2, psi
V Volume material compress ring dm3
Vstroke Langkah volume silinder m3
W Gaya berat benda karena gravitasi N
k Koefisien gaya gesek -
hydraulic pump Effisiensi hydraulic pump %
o Tegangan geser bidng silinder Kg/mm2
t Tegangan tarik material Kg/mm2
g Tegangan geser yang diijinkan dari baut Kg/mm2
lu Tegangan lumer bahan Kg/mm2
Deformasi material cm
Regangan Kg/mm2
vol Volumetric efficiency %
p Pressure difference over pump N/m2

- xii -
BAB I Pendahuluan

BAB 1
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah


Mesin Crimpping Hose Connection ini di gunakan untuk membantu kelancaran dari
pengoperasian Workover Unit yang di operasikan untuk melakukan perbaikan-perbaikan
pada sumur minyak, Work over unit terdiri dari beberapa mesin Compresor dan
Hydraulic Power Pack dengan menggunakan hose bertekanan kerja mulai dari 100 - 250
psi untuk pneumatic dan 500 - 3000 psi untuk hydraulic dengan ukuran yang bervariasi
hose ini berfungsi untuk mentransfer tenaga hydraulic untuk alat angkat seperti Crane,
Air hoist dan Hydraulic Jack. Pada setiap Workover unit selalu di lengkapi dengan
peralatan atau perlengkapan cadangan dalam jumlah yang terbatas, dalam hal ini
tersedianya stok berupa fitting connection dan hose dengan berbagai ukuran yang
dipersiapkan bila ada kerusakan hose yang tidak terencana selama pengoperasian unit ini
bisa langsung diperbaiki ditempat dengan cara mengganti hose tersebut atau pun hanya
membuang bagian yang rusak dan membuat connection baru pada salah satu ujungnya
sehingga dapat diselesaikan pada waktu yang singkat dan aman tidak perlu menunggu
cadangan dari kota atau menyimpan hose pabrikan siap pakai yang membutuhkan tempat
yang cukup luas dan diperlukan perawan khusus selama penyimpanan. Dengan
tersedianya mesin ini dilokasi kerja sangan berperan dalam menekan waktu tidak
productiveserendah mungkin selama pada operasi.

Dengan berpedoman kepada TRI DARMA PERGURUAN TINGGI yaitu


pendidikan, penelitian dan pengabdian, mahasiswa Universitas Mercu Buana dengan
Jurusan Teknik Mesin diharapkan untuk dapat ambil bagian dalam pada proyek industri.

Menyelesaikan Tugas Akhir merupakan syarat kelulusan dan merupakan suatu


penerapan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama perkuliahan dan suatu bentuk
tugan yang memiliki nilai tambah untuk diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
Maka dengan harapan tersebut Tugas akhir ini di jabarkan dalam bentuk design atau
konstruksi sebuah mesin dengan object utama MESIN CRIMPPING HOSE
CONNECTION.

1
BAB I Pendahuluan

I.2. Permasalahan
Pada proses perancangan Mesin Crimpping hose connection ini yang menjadi
pokok permasalahan adalah bagaimana mengatur sedemikian rupa sehingga mesin ini
sesuai dengan situasi kondisi lapangan antara lain kekuatan dan kemampuan sesuai
dengan ukuran hose yang dipakai sesuai dengan yang dioperasikan, Mudah di bawa dan
di tempatkan pada tempat yang terbatas dengan tujuan mesim bisa di bawa ketempat hose
yang harus di perbaiki tanpa melepaskan sebagian instalasi yang terkait sehingga cepat
dalam pemasangannya kembali dan mengahasilkan ikatan sambungan yang berkwalitas
baik.

I.3. Pembatasan Masalah


Dalam penyusunan tugas akhir ini penulis hanya menitikberatkan perhitungan pada
komponen-komponen yang penting saja, agar pembuatan tugas akhir ini tetap terarah dan
jelas.
Adapun batasan-batasan perhitungan komponen-komponen meliputi:
- Beban benda kerja
- Beban Konstruksi
- Penentuan jenis material
- Hydraulic piston
- Ukuran dies
- Hydraulic pump

I.4. Tujuan Pembahasan


Tujuan Utama penulis membuat Mesin Crimpping Hose Connection ini untuk
menekan waktu tidak productive yang berpengaruh pada penekanan biaya operasi,
meyakinkan proses jenis pekerjaan beresiko tinggi (Cementing dan Drilling) dapat
dikerjakan dengan baik dan mengurangi jumlah stock yang harus disediakan di lokasi.

I.5 Metode Penulisan


Metode yang dipakai dalam menyusun tugas akhir ini menggunakan tiga metode, yaitu :
1. Penelitian Kepustakaan (Data sekunder).
Metode ini di gunakan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan sebagai
referensi yang berhubungan dengan tugas akhir ini.

2
BAB I Pendahuluan

2. Penelitian Lapangan (Data Primer)


Metode ini digunakan untuk mendapatkan data-data utama dengan cara
mengadakan pengamatan langsung pada lokasi pengoprasiannya.
3. Diskusi
Metode ini digunakan untuk menggabungkan data-data primer dan data-data
sekunder dengan melakukan diskusi dengan teman-teman dan orang-orang yang
memiliki wawasan tentang pembuatan mesin ini.

I.6 Sistematika Penulisan


Adapun sistematika pembahasannya dapat di jelaskan sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN
Berisi latar belakang perancangan, permasalahan, tujuan pembahasan, pembatasan
masalah, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

BAB II: LANDASAN TEORI


Berisi tentang teori yang digunakan dalam perancangan mesin crimping hose.

BAB III: METODOLOGI PERANCANGAN


Berisi tentang metodologi perancangan yang di gunakan pada mesin crimping hose.

BAB IV: ANALISA DAN PERHITUNGAN


Berisi tentang perhitungan komponent-komponent rancangan yang di gunakan pada
mesin crimping hose.

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN


Berisikan tentang kesimpulan dan saran tentang perancangan mesin crimping hose
ini, berdasarkan atas apa yang di peroleh dari data-data yang didapat dilapangan.

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

3
Bab. II Landasan Teori

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. HYDRAULIC SYSTEM

System Hydraulic bekerja berdasarkan hukum Pascal Pressure in a fluid

acts equally in all directions (Tekanan pada fluida besarnya akan sama ke segala

arah).System Hydraulic mempunyai beberapa keuntungan antara lain merupakan

metode yang praktis untuk power transmission dengan jarak yang cukup panjang,

Fleksibilitas besar,kecepatan kendali yang variable,mempunyai tingkat

keselamatan dan keandalan yang cukup tinggi.

System ini dapat digunakan untuk suatu transmisi dengan suatu

perbandingan tertentu. Sistem penggerak hidrolik menggunakan silinder hidrolik.

Di sini prinsip yang sama digunakan- untuk suatu tenaga putaran yang kecil dapat

menghasilkan suatu kekuatan besar.

Dengan (Throttle) mencekik aliran cairan antara bagian generator dan

bagian motor, atau dengan penggunaan pompa hidrolik atau motor dengan

volume besar dapat disetel, perbandingan transmisi dapat diubah dengan mudah.

Jika Throttle digunakan, efisiensi transmisi terbatas,pada kondisi tertentu jika

motor dan pompa adjustable digunakan, efisiensi yang dihasilkan akan sangat

besar.Sistem penggerakan elektris yang menggunakan elektris servo-motors

dapat dikendalikan dengan sistem penggerak hidrolik yang berputar. Dasar

peralatan hydraulic adalah actuator dan cylinder sebagaimana gambar 2.1.

-4-
Bab. II Landasan Teori

Gambar 2.1

Besarnya tekanan hidrolis yang dihasilkan adalah perbandingan gaya

dengan satuan luas:

P= F ....................(Zears,Zemansky,Fisika untuk Universitas,hal:155).


A

Di mana : P = Tekanan (Kg/m2)

F = Gaya ( Kg)

A = Luasan penampang piston ( m2)

Sehingga dari gambar di atas karena P1 = P2, maka F2 = F1 . ( A2/A1 ).

2.1.1. HYDRAULIC CYLINDER

Hydraulic Cylinder adalah komponen system hydraulic yang terdiri dari

Hydraulic Piston (Piston Rod) dan Cylinder Barrel di mana permukaan Piston dan

dinding Cylinder mempunyai koefisien gesek yang sangat rendah yang

memungkinkan pergerakan Piston dan Seal berjalan tanpa hambatan.

-5-
Bab. II Landasan Teori

Gambar 2.2

Sedangkan gaya yang hilang akibat gesekan tersebut disebut Coulomb Friction

yang diformulasikan:

Ff = k . Fn ..(Wikipedia,Friction).

Dimana: Ff = Gaya yang digunakan karena gesekan (N)

k = Koefisient gesek yang nilainya tergantung dari jenis material

Fn = Gaya normal pada permukaan logam/material

Gaya dorong atau kekuatan menarik suatu suatu Hydraulic Cylinder

adalah :

F=Ab . pb - Ah . ph......(Wikipedia,Hydraulic Cylinder).

di mana: F = Gaya dorong ( N )

Ab = Luasan penampang bagian bawah piston [ m2]

Ah = Ab luasan penampang Piston[ m2]

pb = Tekanan di bagian bawah Piston [N/m2]

ph = Tekanan di bagian Cylinder head [N/m2]

-6-
Bab. II Landasan Teori

2.1.2. HYDRAULIC PUMP

Hydraulic Pump adalah pompa yang digunakan sebagai penggerak system

Hydraulic.Hydraulic Pump bisa berupa Hydrostatic Pump atau Hydrodynamic

Pump. Hydrostatic Pump adalah positive displacement pumps di mana aliran

melewati pompa untuk setiap putaran pompa.

Untuk suatu pompa hidrolik,hal yang perlu diketahui adalah tekanan dan

ukuran dibutuhkan. Pompa roda gigi yang paling kecil ( kecuali ukuran miniatur)

mempunyai suatu volume sapuan 1 cm dan pompa pengisap di sekitar axis yang

paling besar yang ada tersedia dari stock akan mempunyai suatu volume

sapuan1000 cm ( 2000 cm boleh jadi mungkin untuk pengantaran

khusus).Pompa lain berada diantara dua figur pompa ini.

Untuk penggerak hidrolik berlanjut, tekanan-kerja yang maksimum akan

mencapai sekitar 200 bar. Pompa mungkin dapat digunakan hingga 450 Bar,tatapi

pada tekanan ini komponen khusus diperlukan dan umur pompa terbatas.Beberapa

type contoh Hydraulic Pump antara lain:

1. External dan Internal Gear Pump

Gambar :2.3

-7-
Bab. II Landasan Teori

2. Fixed displacement vane pump

Gambar :2.4

3. Axial dan Radial Piston Pump

Gambar:2.5

Besarnya Flow (aliran) fluida pada Hydraulic Pump dapat diformulasikan :

Q = n . Vstroke . vol ....(Wikipedia,Hydraulic pump).

di mana: Q = Flow in m3/s

n = revs per second

Vstroke = swept volume in m3

vol = volumetric efficiency

-8-
Bab. II Landasan Teori

Sedangkan besarnya Power Hydraulic Pump yang dihasilkan

diformulasikan:

P = n . Vstroke . p ...(Wikipedia,Hydraulic pump).


mech,hydr

di mana : P = Power dalam Watt (N.m/s)

n = rpm motor

Vstroke = swept volume in m3

p = pressure difference over pump in N/m2

mech,hydr = mechanical/hydraulic efficiency

2.2. HYDRAULIC JACKET

Salah satu contoh aplikasi sederhana System Hydraulic adalah Hydraulic

Jacket. Dongkrak hidrolik bekerja atas dasar Prinsip Pascal, pada dasarnya prinsip

menyatakan bahwa tekanan di dalam suatu kontainer tertutup adalah sama

dimana-mana. Tekanan diuraikan secara mathematis oleh suatu kekuatan yang

dibagi oleh Area. Oleh karena itu jika dua silinder menghubungkan bersama-

sama, yang kecil dan yang besar,maka kekuatan kecil pada silinder yang kecil,

akan mengakibatkan tekanan pada silinder besar.

Dengan Prinsip Pascal, tekanan akan sama besarnya dengan silinder yang

lebih besar, tetapi silinder yang lebih besar mempunyai area yang lebih besar,

kekuatan yang dipancarkan oleh silinder yang kedua akan bersifat lebih besar.

Sebagaimana terlihat pada gambar 2.1 di atas.

-9-
Bab. II Landasan Teori

Untuk system kerja Mesin Crimping analogi dengan system kerja Hydraulic

jacket di mana pada bahasan ini menggunakan engkol (tuas) penggerak yang

digambarkan:

Moment yang terjadi pada titik A :

S MA = 0 = (FOLA . l1) (FILA . l2)

atau

(FOLA . l1) = (FILA . l2)

atau

FOLA / FILA = l2 / l1.

Keuntungan mekanis dalam kaitan dengan lengan-tuas adalah perbandingan di

atas, atau

MAlever arm = FOLA / FILA = l2 / l1..(Wikipedia,Hydraulic jack

experiment)

Biasanya lebih sulit untuk menentukan FOLA tetapi lebih mudah mengukur l2

atau l1,sehingga memungkinkan untuk menghitung MAlever arm.

Keuntungan mekanis yang lain dalam kaitannya dengan perbandingan

diameter ram dengan diameter Cylinder pompa dikembangkan dengan penelitian

prinsip cairan dasar dongkrak.Suatu dongkrak hidrolik disederhanakan

ditunjukkan Gambar di bawah (System Hydraulic Jack sederhana).

- 10 -
Bab. II Landasan Teori

Pada titik A dimana gaya yang bekerja pada system adalah FILA dan pada titik B

di mana gaya yang dihasilkan adalah FOHS (gaya keluaran hydraulic system)

untuk mengangkat beban.Pada kasus dongkrak (hydraulic jack) gaya yang keluar

dari lengan tuas sama dengan gaya hydraulic yang bekerja pada pompa (FIHS).

Definisi tekanan fluida adalah gaya per satuan luas yang dirumuskan:

P = F / A (Wikipedia,Hydraulic jack experiment)

Di mana : P = pressure (N/m2, psi),

F = force (N, lbf), and

A = area (m2, in2).

Tekanan yang melewati fluida hidrolis diasumsikan konstan, sehingga dari

gambar di atas dapat diapli9kasikan:

P = FOHS / AD = FIHS / Ad

Di mana : P = Tekanan fluida hidrolis dalam dongkrak (N/m2, psi)

AD = Luasan dari ram piston (m2, in2) and

Ad = Luasan dari pump piston (m2, in2).

Dengan penyusunan kembali perumusan di atas :

FOHS / FIHS = AD / Ad = (p D2/4) / (p d2/4) = D2 / d2.

- 11 -
Bab. II Landasan Teori

Keuntungan mekanis dari perbandingan di atas adalah:

MAhydraulic system = FOHS / FIHS = AD / Ad = D2 / d2.

...(Wikipedia,Hydraulic jack experiment)

Sesuai topik yang ada, total keuntungan mekanis dongkrak hidrolik akan

ditentukan dengan perkalian MA lengan-tuas dengan MA sistem hidrolik, atau

MA total = MAlever arm . MAhydraulic system ......(Wikipedia,Hydraulic jack experiment)

Effisiensi Hydraulic Jack ( ) dapat ditentukan sebagai berikut:

= (Output / Input) . 100 %

= (Output Force / (Input Force . MAtotal)) . 100 %

=( FOHS ) x 100 %
(FILA . MAtotal)

2.3. Crimping Jack Hydraulic Hose (Fitting )

Mesin Crimper digunakan untuk pemasangan Fitting Hydraulic Hose

dengan cara pemberian tekanan (Press) pada dies sesuai ukuran yang

digunakan.Secara garis besar komponen utama mesin Crimper adalah :

1. Penggerak Hydraulic,yang terdiri dari:

- Adjustable piston

- Compress Cylinder

- Support adjustable piston

- 12 -
Bab. II Landasan Teori

Gambar 2.6

Keterangan gambar:

1.Base Frame 12.(Detent Screw)

2.Die Ring 13.Flate head cap screw

3.Cylinder cap 14.Flate head cap screw

4.T Ring Seal 15.Split roll Pin

5.Piston 16.Hex Head Bolt

6.Spring 17.Spring retainer

7. Spring 18. Flate head cap screw

8.Slide Plate 19.Slide pull rod

9.Flange Slide Plate 20.Slide pull knob

10.Bushing Side Plate 21.grease gauge

11.Pusher

- 13 -
Bab. II Landasan Teori

2. Tool Holder, terdiri dari:

- Compress Cone Ring

Gambar :2.7

- Cone die assembly

Gambar :2.8

- 14 -
Bab. II Landasan Teori

Salah Contoh Fitting hydraulic hose hasil crimper ditunjukkan seperti

gambar di bawah ini.

Gambar:2.9

2.4. Beban Kerja

2.4.1. Tegangan Tekan Pada Compress Ring

Jika ujung bawah batang di tahan dan ujung atasnya ditekan oleh gaya

axial P maka penampang normal batang akan mengalami tegangan tekan.

Gaya P yang bekerja tidak diperbolehkan sampai menyebabkan batang

tidak stabil kedudukannya.Kalau gaya P terlalu besar yang dapat menyebabkan

terjadinya lekukan pada batang.Agar jangan sampai terjadi lekukan,gaya tekan P

- 15 -
Bab. II Landasan Teori

harus lebih kecil dari gaya kritis ( P kr ) atau gaya yang dapat menyebabkan

lekukan yang dirumuskan sebagai berikut:

a. Rumus Euler

P kr = C . 2 . E . l (Kg)
l2

.(Boy Isma P,Elemen Mesin untuk Teknik

Industri.hal:15).

b. Rumus JB. Johnson

P k = F lu ( 1- lu )
4 . c . 2 .E . i 2

... (Boy Isma P,Elemen Mesin untuk Teknik

Industri.hal:15).

di mana :

E = Luas penempang ( cm2 )

I = Momen kelembaman penampang minimum ( cm2 )

l = panjang batang ( cm )

i = Jari-jari kelembaman = I/F ( cm )

C = Koefisien pemasangan,jika satu ujung dibenam dan satunya

bebas maka nilai C = 0,25

E = Modulus elastisitas bahan ( Kg/cm2 )

lu = Tegangan pada batas lumer bahan ( Kg/cm2 )

Jika dari duatu bahan diketahui nilai kelansingan bahan = l/i :

Nilai < 2.C . 2 . E dipakai rumus J.B. Johnson


lu

Nilai > 2.C . 2 . E dipakai rumus Euler


lu

- 16 -
Bab. II Landasan Teori

2.4.2. Kekuatan Baut Pada Hydraulic Cylinder

Pada gambar di bawah diperlihatkan suatu tutup silinder yang di pasang

baut dan mur dengan tekanan p kg/cm2.

Jika diameter dalam silinder adalah = D cm, maka pada bidang tutup

silinder bekerja gaya tekan:

P = (p . . D2) / 4 ( Kg )

Jika tutup silinder dipasang dengan n buah baut,pada tiap baut bekerja gaya:

Po = P / n

= P. /4 . D2 ,merupakan gaya luar


n

untuk mencegah agar sambungan tidak bocor jika tekanan dalam p bekerja

,baut harus dikencangkan sedemikian rupa hingga tekanan tutup pada flange

silinder lebih besar dari gaya tekan P.

Akibat pengencangan ini, baut mendapat gaya tekan mula arah aksial,misalnya

sebesar V kg.Gaya V menyebabkan baut dan mur mendapat tegangan mula :

Po = Po + V (Kg)

- 17 -
Bab. II Landasan Teori

Jika tekanan dalam p bekerja,pada tiap baut bekerja gaya jumlah.Setelah tekanan

dalam p bekerja,gaya tarik yang bekerja pada tiap baut bertambah sebesar

Po = p. P. /4 . D2 (Kg)
n

Dan gaya tekan oleh tutup silinder menjadi berkurang.Jika gaya tekan tutup

menjadi V kg, maka penurunan gaya tersebut tiap baut:

V = V V ( Kg)

V = gaya tekan tutup tiap baut (Kg)

V = gaya tekan tutup mula tiap baut (Kg)

Besar gaya tekan/gaya tegang V biasanya dinyatakan suatu factor perbandingan

terhadap gaya luar Po,jadi

V = Po

= factor perbandingan empiris ~ 1,2 1,8,sedangkan untuk sambungan flange

pipa ~ 1,5 1,8.

Dengan demikian gaya yang bekerja pada tiap baut setelah tekanan p bekerja:

P o = Po + V

= Po + Po

= Po ( 1 + )

di mana : = factor tambahan gaya pengencangan

Untuk factor keamanan dalam perhitungan gaya Po sebagai gaya tarik pada baut

diambil 1,3 Po. Jadi berdasarkan kemungkinan putus tarik baut diameter kaki dk

minimum dapat dihitung dari persamaan :

1,3 Po . . dk2 . t atau

dk 4 . 1,3. Po
. t

- 18 -
Bab. II Landasan Teori

.(Boy Isma P,Elemen Mesin untuk Teknik Industri.hal:151).

di mana :

Po = gaya jumlah pada tiap baut ( Kg )

. t = Tegangan tarik yang diijinkan dari bahan baut (Kg/cm2)

Tegangan yang terjadi karena pengencangan baut ,harus dalam batas berlakunya

hokum Hooke dan biasanya 60 % dari batas lumer baut.

Kemungkinan putus geser bidang silinder kepala baut dengan diameter d

dan tinggi h,diperiksa dengan rumus:

P . d. h. g

Atau g P .

. d. h.

h P . ..

. d.. g

....(Boy Isma P,Elemen Mesin untuk Teknik Industri.hal:144).

di mana: g = Tegangan geser yang diijinkan dari baut

h = Tinggi kepala baut 0,9 dk 0,7 d

Sedangkan tekanan bidang pada telapak kepala baut dinyatakan dengan

persamaan:

P Fo . o

Maka

o P .
Fo

di mana: o = Tekanan bidang yang diijinkan dari baut

= 1,5 2 ,untuk baja

- 19 -
Bab. II Landasan Teori

Fo = luas bidang telapak kepala baut

= 2 (ad + d) d 3 _ . d2 1,76 d
2 4

jadi : o P . ..
1,76 d2

.....(Boy Isma P,Elemen Mesin untuk Teknik

Industri.hal:144).

Untuk baut dengan kepala bulat dan berbentuk silinder,tekanan bidang pada

kepala baut :

o P . ..
2
/4 (D2 - d )

.(Boy Isma P,Elemen Mesin untuk Teknik

Industri.hal:144).

di mana : D = Diameter luar kepala baut (cm)

d = Diameter batang baut (cm)

2.4.3. Gaya Gesek

Pada Compress Cone ring dan Die Cone terjadi gaya gesek akibat tekanan

yang diberikan oleh Pusher. Jika gaya tekan yang diberikan Pusher adalah F,maka

besarnya gaya gesek fk sesuai hokum Newton I:

Fx=0

= N cos fk sin

N cos = fk sin

N = fk sin
Cos

N = fk tg

- 20 -
Bab. II Landasan Teori

Fy=0

= fk cos ( F + W )

fk cos = F + W

Sedangkan fk = k . N

sehingga : k = cotg

Tabel: 1.1 Koefisien gesek bahan

Bahan s k

Baja di atas baja 0.74 0,57

Aluminium di atas baja 0,61 0,47

Tembaga di atas baja 0,53 0,36

Kuningan di atas baja 0,51 0,44

Seng di atas Besi tuang 0,85 0,21

Tembaga di atas Besi tuang 1,05 0,29

Gelas di atas gelas 0,94 0,40

Tembaga di atas gelas 0,68 0,53

Sumber : Sears Zemansky,Fisika Universitas,Hal:43

- 21 -
Bab. II Landasan Teori

2.5. Pemilihan Bahan

Baja sebagai material yang paling umum dipergunakan untuk design

konstruksi berdasarkan komposisi Carbon dibedakan menurut

penggunaannya.Carbon pada Baja memegang peranan penting ,kadar Carbon

berkisar antara 0,05 % sampai 1,5 %.

Tabel:1.2 Penggunaan Baja sesuai kadar Carbon

% Carbon Penggunaan Baja

0,05 0,10 Kawat tali,paku keling,Kawat las

0,10 0,20 Baja profil,pelat,baut-baut,kawat las.

0,20 0,30 Poros penghubung,Roda gigi,tabung sambung las

0,30 0,40 Poros penggerak,roda gigi,pasak,kait pipa atau atau

pipa tanpa sambungan.

0,40 0,50 Cetakan (dies),poros engkol,batang penggerak roda

gigi.

0,60 0,70 Cetakan untuk kempa,baut-baut khusus,rail kereta api.

Keran-keran (Travelling Crane),pegas kawat.

0,70 0,80 Palu, lapisan atas paron,daun gergaji pita,pisau bajak

tanah.

0,80 -0,90 Punch,pahat,alat-alat perkakas,pegas daun, sekrop,

pacul, garpu,dawai alat musik.

1,00 1,20 Mata bor,pisau/alat potong mesin perkakas,pisau

meja/pisau dapur.

1,25 1,40 Kikir, mata gergaji untuk logam/baja, alat potong

logam/baja, pisau cukur.

- 22 -
Bab. II Landasan Teori

Sumber : (Boy Isma P,Elemen Mesin untuk Teknik Industri.hal:40).

Sedangkan berdasarkan komposisi unsur kimia yang dikandung Baja

konstruksi untuk mesin menurut standart JIS:

Tabel 1.3 Baja Carbon untuk konstruksi Mesin

Unsur Kimia ( % )
Lambang
C Si Mn P S

S 30 C 0,27 0,33
S 35 C 0,32 0,38
S 40 C 0,37 0,43 0,15-0,35 0,6-0,9 0,03 0,035
S 45 C 0,42 0,48
S 50 C 0,47 0,53
S 55 C 0,52 0,58
S 15 CK 0,13 0,18 0,15-0,35 0,30-0,60 0,025 0,025

Sumber: Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin

- 23 -
Bab. III Metodologi Perencanaan

BAB III

METODOLOGI PERANCANGAN

Penulisan ini didasarkan atas survey literatur, serta didukung dengan data
perencanaan dengan berdasarkan pertimbangan effisiensi waktu,praktis dalam
penggunaan ,mudah di bawa, dengan tahapan kegiatan sebagai berikut:
1. Observasi lapangan dengan mengumpulkan data-data yang berhubungan
dengan perencanaan alat.
2. Perhitungan data-data perencanaan alat sesuai design gambar yang
direncanakan.
3. Studi kepustakaan untuk memperoleh data-data pendukung dan dasar teori
penunjang yang berhubungan dengan perencanaan tersebut.

3.1. Data Perencanaan


Data-data yang diambil merupakan data perencanaan yang antara lain
meliputi:
1. Hydraulic pump
- Dimensi tuas hydraulic pump manual
- Moment-moment yang terjadi
- Dimensi hydraulic hose yang digunakan
- Debit aliran fluida dalam hydraulic pump
- Power hydraulic pump/jack
- Effisiensi hydraulic jack
2. Hydraulic Cylinder
- Gaya-gaya yang terjadi pada hydraulic Cylinder
- Dimensi piston rod
- Dimensi barrel cylinder
3. Penentuan jenis material
- Material support frame
- Material Crimper (Pusher/compress cylinder,Compresser
ring,Ring support hydraulic)

- 24 -
Bab. III Metodologi Perencanaan

- Material Dies

4. Beban Konstruksi
- Tegangan tekan pada Compress ring
- Kekuatan baut cylinder dan baut support frame
- Gaya gesek yang terjadi pada cone ring dan Dies
5. Beban benda kerja
- Analisa gaya tekan maksimum yang diijinkan
6. Ukuran dies

3.2. Permasalahan yang dianalisa


Secara garis besar perencanaan alat yang akan dianalisa dalam skripsi ini
antara lain:
1. Pada skripsi ini dirancang system Hydraulic Crimper dengan posisi sudut
kemiringan 45 agar diperoleh kemudahan dalam pengoperasian alat dan
kemudahan dalam penempatan alat di lingkungan kerja.
2. keuntungan-keuntungan mekanis yang akan diperoleh dengan design
sudut kemiringan 45.
Dari perencanaan tersebut diharapkan dapat memperoleh design Hydraulic
Crimper yang lebih praktis dalam penggunaan,lebih mudah dalam
pengoperasian,mudah dibawa dan tetap mempertimbangkan kwalitas hasil
Crimping (Connection hose).

3.3. Diagram Alir


Perhitungan-perhitungan yang akan dilakukan untuk proses pengolahan
data-data perencanaan yang mengacu pada gambar design alat guna memperoleh
dimensi yang sesuai dan kekuatan alat serta hasil Crimping yang berkwalitas
antara lain:
1. Dimensi tuas hydraulic pump manual
2. Moment-moment yang terjadi
3. Dimensi hydraulic hose yang digunakan
4. Debit aliran fluida dalam hydraulic pump

- 25 -
Bab. III Metodologi Perencanaan

5. Power hydraulic pump/jack


6. Effisiensi hydraulic jack
7. Gaya-gaya yang terjadi pada hydraulic Cylinder
8. Kerugian gesekan dalam cylinder hydraulic
9. Dimensi piston rod
10. Dimensi barrel cylinder
11. Analisa gaya tekan maksimum yang diijinkan
12. Tegangan tekan pada Compress ring
13. Kekuatan baut cylinder dan baut support frame
14. Gaya gesek yang terjadi pada cone ring dan Dies
Agar penulisan skripsi ini lebih terarah dan mudah dimengerti dibuat diagram alur
sebagai berikut:

- 26 -
Bab. III Metodologi Perencanaan

Untuk memudahkan proses perencanaan dan perhitungan dibuat juga diagram


alir perencanaan mesin Crimper Hydraulic sebagai berikut:
1. Diagram alir perhitungan kekuatan material

- 27 -
Bab. III Metodologi Perencanaan

- 28 -
Bab. III Metodologi Perencanaan

2. Diagram alir perhitungan dimensi baut dan gaya-gaya yang bekerja

- 29 -
Bab. III Metodologi Perencanaan

3. Diagram alir pembuatan design gambar

- 30 -
Bab. III Metodologi Perencanaan

- 31 -
BAB IV Analisa Perhitungan

BAB IV

ANALISA DAN PERHITUNGAN

4.1. Gaya-gaya Pada Hydraulic Pump


Dengan tetap menggunakan analogi system hydraulic jack sederhana dan
asumsi tekanan yang melewati fluida adalah konstan,dilakukan perhitungan
gaya-gaya yang terjadi:

Gambar 4.1: Schematic system hydraulic jack sederhana

Dimensi yang direncanakan:


- Daya keluaran hydraulic FOHS = 500 Kg/cm2 ~ 5 Kpsi
- Diameter Ram = 60 mm
- Diameter Pump = 25 mm
dari persamaan (2-7) keuntungan mekanis yang diperoleh:
FOHS D2
MA hydraulic system = = 2
FI HS d

- 32 -
BAB IV Analisa Perhitungan

d2
FIHS = . FOHS
D2
(25) 2
= . 500
(60) 2
625
= . 500
3600
= 86 Kg/cm2
3600
MA hydraulic system =
625
= 5,76

4.1.1 Moment-Moment Pada Hand Pump


FIHS = FOLA

Gambar 4.2: Moment gaya pada lengan hydraulic pump

Panjang lengan yang direncanakan:


- 1 = 60 mm
- 2 = 400 mm
Moment pada titik A :
FOLA . 1 = FILA . 2
FILA = ( 2 /1 ) . FOLA
400
= . 86 Kg/cm2
60
= 573,3 Kg/cm2

- 33 -
BAB IV Analisa Perhitungan

dari persamaan (2-6) keuntungan mekanis yang diperoleh:


l2
MA lever arm =
l1
400
=
60
= 6,7
Dari persamaan ( 2 8 ):
MA total = MA lever arm . MA hydraulic system
= 6,7 . 5,76
= 38,4
Dari persamaan ( 2- 9 ) dapat ditentukan hydraulic pump :
FOHS
hydraulic pump = . 100 %
FI LA .MAtotal
500
= .100 %
573,3 X 0,0864
= 1009 %
artinya daya output yang dihasilkan oleh hydraulic 10 kali daya input yang
dibutuhkan.

4.2. Beban Kerja dan Konstruksi


4.2.1. Tegangan Tekan pada Compress Ring
Gaya tekan yang dibebankan pada compress ring ekwivalent dengan
gaya tekan yang dibebankan oleh piston ke Pusher:
Ppusher = FOHS .
= 500 kg/cm2
Agar tidak terjadi lekukan pada Pusher dipersyaratkan :
P < Pkr
Dari tabel 1.2 dan 1.3 direncanakan menggunakan material baja karbon
medium S 45 C,sebelum ditentukan penggunaan formula untuk perhitungan
terlebih dahulu ditentukan nilai dari persamaan berikut:

- 34 -
BAB IV Analisa Perhitungan

2.C. 2 .E
=
l u

Beberapa parameter di atas ditentukan dari tabel berikut:


Modulus
Berat Modulus Modulus
Nama tegangan
Jenis Elastis Geser G
Bahan Tarik
(Kg/cm3) (Kg/cm2) (Kg/cm2)
(Kg/cm2)
Baja Karbon rendah 7,8 2,1 .106 8-8,5 . 105 4000
6 5
Baja Karbon sedang 7,8 2,1 .10 9 . 10 6000
Baja Campuran 7,8 2,1 .106 8 . 105 10000-16000
Besi Tuang kelabu 7,2 106 2100
Keras ( Kuat ) 7,2 1,5-1,8.106 4000
Kuningan 9,1 1,1 . 106 7,5 . 105 -
Bronze 9,8 1,2 . 106 7,7 . 105 -
5 5
Alluminium 9,8 7,8 . 10 3 . 10 -
5
Duralium 2,8 7,5 . 10 - 4200
5 5
Magnesium 1,9 4,3 . 10 1,9 . 10 2400
Plastic 1,3 1 . 105 - 850
Kayu 0,5 1,1 . 105 - 830
Sumber: V.Dobrovolsky,Machine Element,halaman 69,Moskwa
C = 0,25 (Jika satu ujung dibenam dan ujung lain bebas).......... (Boy
Isma P,Elemen Mesin untuk Teknik Industri.hal:16).
E = 2,1 . 106 Kg/cm2
lu = 6000 Kg/cm2

2.0,25(3,14) 2 .2,1.10 6
=
6000

= 549,5
= 23,44

- 35 -
BAB IV Analisa Perhitungan

l
= ,untuk baja S 45 C ~ 35
i
sehingga digunakan rumus Euler dari persamaan ( 2-10 )
C. 2 .E.
Pkr =
l2
0,25 x(3,14) 2 x 2,1.10 6.
= Kg
(12,7) 2
= 32.093,06 Kg
jika gaya tekan yang dibebankan pada Pusher lebih dari 32.093,06 Kg maka
akan terjadi lendutan atau bengkok.

4.2.2. Kekuatan Baut Hydraulic Cylinder


Gaya tarik yang dialami oleh tiap baut pada tutup hydraulic cylinder dari
persamaan ( 2 12 ):

1 FO HS .( / 4).D 2
Po = Kg
n
500(3,14 / 4).6 2
=
4
= 3.532,5 Kg
Jumlah gaya yang bekerja pada tiap baut dan dengan factor tambahan
gaya pengencangan ( ) = 1,5 dari persamaan ( 2 13 ) :
Po = Po1. ( 1 + )
= 3.532,5 ( 1 + 1,5 )
= 3.532,5. 2,5
= 8.831,25 Kg
untuk penggunaan sebanyak 4 pcs baut dengan factor keamanan gaya
pengencangan diperoleh:
Po = 8.831,25Kg

- 36 -
BAB IV Analisa Perhitungan

Akibat adanya gaya tarik diambil sebagai factor keamanan sebesar 1,3
Po dan berdasarkan kemungkinan putus tarik penampang kaki ulir baut yang
dimensinya ditentukan dari persamaan ( 2 14 ):

4.1.3.Po
dk
. t
Dari tabel bahan untuk Flange dan baut :
Kekuatan
Elemen

Perlakuan
Type Standart Lambang Tarik Keterangan
Panas
(Kg/mm2)
Besi Cor Kelabu FC 20 Pelunakan 20
FC 25 25
( JIS G 5501 ) temperatur -
FC 30 30
FC 35 rendah 35
Baja karbon Cor SC 37 Pelunakan 37 Penormalan,di
Flange

SC 42 42 lanjut dengan
( JIS G 5101 )
SC 46 46 ditemper
SC 49 49
Baja karbon SF 50 Pelunakan Perlakuan
50 - 60 panas yang
Tempa SF 55 55 - 65 lain juga
( JIS G 3201 )
SF 60 60 - 70 dilakukan
Baja karbon S 20 C 40
untuk Konstruksi S 35 C - 50 -
Mesin S 40 C 60
( JIS G 3102 ) S 45 C 70
Baut dan mur

Baja karbon SS 41 B 40
untuk Konstruksi SS 50 B - 50 -
biasa
( JIS G 3101 )
Baja batang di S 20 C-D 50
S 35 C-D 60
finish dingin - -
( JIS G 3123 )
Sumber: Zainun.achmad,Elemen Mesin I, hal:145
Dari tabel di atas untuk bahan baut dan mur dipilih S 45 C, t = 70Kg/mm2

4.1.3.8831,25
dk
3,14.70
dk 8,85 mm

- 37 -
BAB IV Analisa Perhitungan

Tinggi mur yang digunakan agar tidak terjadi putus geser pada bidang kepala
baut dapat ditentukan dari persamaan ( 2-15 ):
h = 0,9 . dk
= 0,9 . 8,85 mm
= 7,965 mm
Sedangkan diameter min kepala baut tersebut agar mampu menahan
beban geser terhadap bidang silinder ditentukan dengan menggunakan
persamaan (2-17 ):
Po
o =

.( D 2 d 2 )
4
Po
D= .+d2

. o
4
Nilai o untuk baja 1,5 ~ 2,

8831,31
D= + (6,87) 2
3,14
.650
4
= 195,646 + 101,8
= 17,24 mm

4.3. Gaya Gesek


4.3.1. Gaya Gesek Pada Hydraulic Cylinder
Kerugian tenaga (Coulomb Friction) yang terjadi dalam Hydraulic Cylinder
dapat diestimasikan dari persamaan ( 2-2 ) :

FO HS .( D d ) 3
Ff =
2. 2 . k .D 2 .L

- 38 -
BAB IV Analisa Perhitungan

Gambar 4.3: Dimensi hydraulic cylinder

Dari tabel koefisien gesek sesuai material yang digunakan, k = 0,57


500.(60 25) 3
=
2.(3,14) 2 .0,57.(60) 2 .150
= 5,27 Kg/cm2
sehingga gaya output actual hydraulic cylinder:
Fact = FOHS - Ff
= ( 500 5,27 ) Kg/cm2
= 494,73 Kg/cm2

4.3.2. Gaya Gesek Pada Dies dan Compress Ring


Gaya gesek yang terjadi pada Dies dan Compress Ring dari gambar di
bawah dari persamaan (2-18) dan (2-19):
N = fk . tg
Dimensi dari Compress Ring yang direncanakan seperti pada gambar
dengan sudut kemiringan (cone) 15 dan dari tabel koefisien gesek dengan
material baja di atas baja di dapat k = 0,57,sehingga:
N = fk . tg 15
= fk . 0,2679
= 0,2679 fk

- 39 -
BAB IV Analisa Perhitungan

Gambar 4.4: Resultan gaya gesek pada Dies dan Compress ring

Dimensi Compress Ring dengan = 7,9 Kg/dm3 dari dimensi yang


direncanakan diperoleh V = 4,05 dm3,sehingga:
m = 4,05 dm3 .7,9 Kg/dm3
= 31,99 Kg
sementara itu gaya berat benda berat benda W:
W=m.a
= 31,99 Kg . 10 m/s2
= 319,9 Newton
Dari resultan gaya yang bekerja:
fk . cos = F + W
F +W
fk =
cos
3532,5 + 319,9
=
0,965
= 39.921,2 Newton
jadi gaya normal yang terjadi:
N = 0,2679. fk
= 0,2679 . 39.921,2 Newton
= 10.694,9 Newton

- 40 -
BAB IV Analisa Perhitungan

Sedangkan gaya maksimal yang dipergunakan untuk crimping :


fk . sin = 9.463,64. sin 15
= 9.463,64. 0,2588
= 2.449,19 Newton

4.3.3 Gaya Gesek Pada Design Perencanaan


Gaya gesek yang terjadi pada Dies dan Compress Ring dari design
gambar yang direncanakan dari tabel koefisien gesek dengan material baja di
atas baja: k = 0,57

Gambar 4.5: Resultan gaya gesk pada Dies dan Compress ring dengan sudut
kemiringan Pusher 45
Resultan gaya-gaya yang terjadi:
Fx = 0
F Cos 45 = fk Cos 60

- 41 -
BAB IV Analisa Perhitungan

F cos 45
fk =
Cos 60
39921,2.0,707
=
0,5
= 56.448,57 Newton
sedangkan besarnya gaya normal
fk
N=
k
56448,57
=
0,57
= 99.032,59 Newton
gaya maksimal yang dipergunakan untuk press Crimping:
fk Sin 60 = 99.032,59. 0,866
= 85.762,22 Newton

4.4. Analisa Kekuatan Material


4.4.1. Analisa Pusher
Dari penjelasan di atas telah dipilih untuk penggunaan baja konstruksi
mesin S 45 C,agar memudahkan perhitungan di asumsikan Pusher berbentuk
Hollow shaft yang akan dihitung tekanan kompresi dan penyusutan yang
terjadi pada material karena adanya gaya dan tekanan yang bekerja .

Gambar 4.6: Tekanan kompresi yang dialami Pusher

- 42 -
BAB IV Analisa Perhitungan

Dari diagram body bebas untuk bagian atas silinder (pusher) yang
ditunjukkan oleh gambar di atas resultan gaya yang terjadi:
s. As + c. Ac = P
untuk penggunaan material yang sama antara compress ring dan
pusher maka penyusutan yang akan terjadi juga akan sama,regangan kompresi
yang terjadipun akan sama,sehingga:
s c
=
Es Ec
Dari tabel untuk baja S 45 C, Es = 2,1.106 Kg/cm2 dan Ec = 6000 Kg/cm2
maka ratio modulusitasnya:
ES
= 350
EC
sehingga
P 350 P
s = 350 c , c = dan s =
350. As + Ac 350. As + Ac

Gambar 4.7: Dimensi Pusher yang digunakan dalam perencanaan

- 43 -
BAB IV Analisa Perhitungan

dari gambar di atas diketahui:


- = 127 mm
- DS = 122,5 mm
- Dc = 86 mm
luasan yang dihitung:
As = 0,25 . 3,14 . 15006,25
= 117,79 cm2
Ac = 0,25 . 3,14 . 7396
= 58,06 cm2
sehingga
500
c =
350.117,79 + 58,06
500
=
41284,26
= 0,012 Kg/cm2

350.500
s =
350.117,79 + 58,06
175.000
=
41.284,56
= 4,24 Kg/cm2

Total penyusutan yang terjadi pada material pusher adalah:


= .
c
= .l
Ec
0,012
= .12,7
6000
= 0,0000254 cm

- 44 -
BAB IV Analisa Perhitungan

4.4.2. Analisa Compress Ring


untuk penggunaan material yang sama antara compress ring dan
pusher maka penyusutan yang akan terjadi juga akan sama,regangan kompresi
yang terjadipun akan sama,sehingga:
s c
=
Es Ec
Dari tabel untuk baja S 45 C, Es = 2,1.106 Kg/cm2 dan Ec = 6000 Kg/cm2
maka ratio modulusitasnya:
ES
= 350
EC
sehingga
s = 350 c
P 350 P
c = dan s =
350. As + Ac 350. As + Ac

Gambar 4.8: Dimensi Compress ring yang digunakan dalam perencanaan

- 45 -
BAB IV Analisa Perhitungan

dari gambar diketahui:


- = 37,5 mm
- DS = 142,5 mm
- Dc = 99,56 mm
luasan yang dihitung:
As = 0,25 . 3,14 . 20306,25
= 159,440 cm2
Ac = 0,25 . 3,14 . 9912,19
= 77,81 cm2
sehingga
500
c =
350.159,44 + 778,1
500
=
55881,81
= 0,00894 Kg/cm2

350.500
s =
350.159,44 + 77,81
175.000
=
55.881,81
= 3,13 Kg/cm2

Total penyusutan yang terjadi pada material Compress ring adalah:


= .
c
= .l
Ec
0,00894
= .37,5
6000
= 0,000055875 cm

- 46 -
BAB IV Analisa Perhitungan

4.4.3. Analisa Dies


Pada perhitungan kali ini untuk menyederhanakan perhitungan hanya diambil
satu contoh ukuran dies saja.Untuk penggunaan material yang sama antara
Compress ring dan Dies maka penyusutan yang akan terjadi juga akan
sama,regangan kompresi yang terjadipun akan sama,sehingga:
P 350 P
c = dan s =
350. As + Ac 350. As + Ac
ukuran hose yang umum digunakan adalah sebagai berikut:

ID

-4 (1/4*)

-5 (5/16*)
-6 (3/8*)
-8 (1/2*)

-10 (5/8*)

-12 (3/4*)

-16 (1*)

-20 (1 1/4*)

-24 (1 1/2*)
-32 ( 2*)

Namun dalam contoh perhitungan ini digunakan dimensi dari gambar yang
didesign, diketahui:
- = 57,5 mm
- DS = 99,56 mm
- Dc = 50 mm
luasan yang dihitung:
As = 0,25 . 3,14 . 9912,1936
= 778,10 cm2

- 47 -
BAB IV Analisa Perhitungan

Ac = 0,25 . 3,14 .
= 196,25 cm2

Gambar 4.9: Dimensi Dies yang digunakan dalam perencanaan

sehingga
500
c =
350.778,10 + 196,25
500
=
272531,25
= 0,00183 Kg/cm2

350.500
s =
350.778,10 + 196,25
175.000
=
272531,25
= 0,642 Kg/cm2

- 48 -
BAB IV Analisa Perhitungan

Total penyusutan yang terjadi pada material Compress ring adalah:


= .
c
= .l
Ec
0,00183
= .57,5 = 0,00001753 cm
6000

4.4.4 Analisa Support Frame


Support frame sesuai design yang direncanakan dengan sudut kemiringan 45
dengan beban gaya eksentrik P = 500 Kg yang bekerja untuk menahan
tekanan piston.
Deret baut kepala bulat yang bekerja pada garis kerja P,mendapat beban
eksentrik langsung
500
Po =
3
= 166,6 Kg
dari resultan gaya yang bekerja
Px = P Cos 45
= 500 . 0,707
= 353,55 Kg
Py = P . Sin 45
= 500 . 0,707
= 353,55 Kg
M = Py . 60
= 353,55 . 60 Kg
= 21.213 Kg.mm
M = k ( n1 . r1+ n2 . r2 )
21.213 = k ( 2 . 602 + 2 . 1202 )
21213
k = = 0,58925 Kg/mm
36000

- 49 -
BAB IV Analisa Perhitungan

Gambar 4.10: Resultan gaya dan dimensi pada support frame

Baut yang mendapat beban terbesar akibat momen M, yaitu baut ke-3 (P3)
yang besarnya:
P3 = k . 180
= 0,58925 . 180 Kg
= 106 Kg
Besar minimum diameter baut menurut garis kerja P,dengan g = 70 Kg/mm2:

.d 2 . g
Po
4

4.166,6
d
3,14.700
d 11,7 mm

- 50 -
BAB IV Analisa Perhitungan

4.5. Pembahasan
1. Dari panjang lengan tuas Hand pump yang direncanakan dengan panjang
lengan 400 mm dan jarak penumpu tuas 60 mm diperoleh keuntungan
mekanis MA lever arm sebesar 6,7 yang menunjukkan setiap gaya input yang
diberikan kepada tuas akan menghasilkan gaya output sebesar 6,7 kali gaya
input.
2. Untuk daya output Hydraulic sebesar 500 Kg/cm2 dengan perbandingan
diameter Ram 60 mm dan diameter Pump 25 mm diperoleh MA hydraulic system

sebesar 5,76 yang menunjukkan bahwa setiap satu satuan daya input yang
diberikan kepada pompa akan dihasilkan 5,76 kali gaya input.
3. Jika gaya tekan yang dibebankan pada Pusher lebih dari 32.093,06 Kg maka
akan terjadi lendutan atau bengkok karena profil penampang Pusher yang
berbentuk Hollow shaft.
4. Dimensi minimal baut yang diperguakan agar mampu menahan gaya tekan
yang bekerja pada tutup hidrolis yaitu diameter kaki 6,87 mm, diamter
minimal kepala baut dan mur 17,24 mm,dan tinggi mur 6,2 mm.
5. Kerugian gaya yang terjadi dalam silinder akibat gesekan piston seal dan
dinding silinder sebesar 5,27 Kg/cm2 sehingga gaya aktual keluaran hidrolis
yang dipergunakan adalah 494,73 Kg/cm2.
6. Akibat gaya dan tekanan kerja pada benda kerja akan terjadi penyusutan
material ( ) yaitu Pusher 0,0000254 cm, Compress ring 0,000055875 cm,
dan Dies 0,00001753 cm.
7. Dari perhitungan untuk design Crimper Hydraulic dengan sudut posisi
kemiringan sebesar 45 didapat gaya maksimal untuk press Crimping lebih
besar dari pada posisi verikal sehingga dengan gaya yang sama akan
dihasilkan crimping press yang lebih besar.

- 51 -
BAB V Kesimpulan Dan Saran

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Akibat gaya dan tekanan kerja pada benda kerja akan terjadi
penyusutan/Shortening material ( ) yaitu Pusher 0,0000254 cm,
Compress ring 0,000055875 cm, dan Dies 0,00001753 cm.Penyusutan
(shortening) ini berkaitan dengan lifetime dan keausan material.
2. Dari perhitungan untuk design Crimper Hydraulic dengan sudut posisi
kemiringan sebesar 45 didapat gaya maksimal untuk press Crimping
lebih besar dari pada posisi verikal sehingga dengan gaya yang sama
akan dihasilkan crimping press yang lebih besar.
3. Keuntungan yang lain dari design yang direncanakan ini selain lebih
mudah dalam pengoperasian yaitu pada saat pemasangan Connection
Hose posisi Hydraulic Hose tetap lurus dan tidak tertekuk,selain itu
dari dimensi yang direncanakan dengan tujuan lebih mudah dalam
penempatan.

5.2. Saran
Untuk lebih memudahkan dalam pengerjaan Crimping Connection Hose di
lapangan perlu juga dibuat system penggerak dengan motor hydraulic atau
tenaga pneumatic.

- 52 -
Daftar Pustaka

DAFTAR PUSTAKA

1. Boy Isma Putra,Alfan Hidayat,Jaka Purnama, Elemen Mesin Untuk Teknik


Industry, Penerbit Graha Ilmu, Edisi pertama cetakan pertama, Yogyakarta,
2008.

2. Zainun Achmad, Elemen Mesin I, Penerbit PT.Refika Aditama,Cetakan


kedua,Bandung, 2006.

3. Tata Surdia, Shinroku Saito, Pengetahuan Bahan Teknik, Penerbit Pradnya


Paramita,Cetakan kedua,Bandung, 1992.

4. Sularso,Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin,Penerbit Pradnya


Paramita,Cetakan keempat,Bandung,1983.

5. Timoshenko Stephen, Element of Strength of Materials,D.Van Nostrand


Company,Inc,fourth edition,New York,London, 1962.

6. Drobovolsky,V, Machine Element,Troitsky,Second Printing,Peace


Publisher,Moskow, 1962.

- 53 -