Anda di halaman 1dari 7

55

Tyas, et al. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Analisis Nomografi Suhu, Laju Penguapan Dan Tekanan Udara Pada Alat
Desalinasi Tenaga Surya Dengan Pengaturan Vakum

The Nomographic Analysis Against Temperature, Evaporation Rate and Air


Pressure For A Solar Powered Desalination Device with Vacuum Control

Martina W Tyas1, A. Tunggul Sutan Haji Ruslan Wirosoedarmo2


1
Mahasiswa Keteknikan Pertanian, Universitas Brawijaya, Jl. Veteran, Malang 65145
2 Dosen Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Brawijaya , Jl. Veteran, Malang 65145

*Email Korespondensi: alexandersutan@ub.ac.id

ABSTRAK

Krisis air bersih pada beberapa tahun lalu melanda banyak daerah di Indonesia, sedangkan
penyaluran air bersih belum mampu memenuhi kebutuhan penduduk, sehingga masyarakat
kesulitan air terlebih pada musim kemarau panjang. Teknologi desalinasi air laut sangat
diharapkan untuk menghasilkan air tawar dengan produksi tinggi dan energi murah oleh
karena itu di buatlah alat desalinasi air laut menggunakan tenaga surya dengan energi
matahari sebagai sumber panas utama untuk penguapan.Tujuan dari penelitian ini adalah
mendapatkan hubungan antara intensitas radiasi matahari dan suhu air laut terhadap besarnya
laju penguapan air laut pada berbagai tekanan. Metode yang digunakan adalah dengan
deskriptif kuantitatif yaitu mendeskripsikan hubungan antara intensitas radiasi matahari, suhu,
energy kalor dan laju penguapan berdasarkan data pengamatan dan perhitungan. Dengan
mengetahui nilai suhu dan intensitas matahari dapat di ketahui nilai laju penguapan untuk
penggunaan alat desalinasi tenaga surya. Hasil pengamatan dan perhitungan didapatkan nilai
intensitas radiasi matahari antara 584 Watt/m2 sampai 680 Watt/m2, suhu bahan rata-rata
didalam alat desalinasi adalah 34.950C. Energi kalor matahari berada pada kisaran 353.41 Watt
454.46 Watt, laju penguapan tertinggi di dalam ruang vakum adalah 611.52 mLhari-1.
Hubungan radiasi matahari, suhu, tekanan vakum berbanding lurus terhadap laju penguapan

Kata kunci : Desalinasi, laju penguapan, intensitas radiasi matahari, energi kalor matahari

Abstract

Water clean crisis is quite prominent throughout previous years in many regions of Indonesia. The
distribution of clean water is not satisfying the demand of population for water, precisely during long dry
season. Seawater desalination technology is, therefore, a possible way to supply high production of
freshwater. However, cheaper energy is an important matter and thus, solar-based seawater desalination
device is manufactured to utilize solar energy as main heat source for evaporation. The purpose of this
research is to produce a relationship between solar radiation intensity and seawater temperature for
seawater evaporation rate in various air pressures. The method used is to combine the study of literature
deductive analysis quantitative descriptive describe evaporator success rate based an the calculation. By
knowing the valee of solary radiation, temberature and pressure, it can know the value of the rate
evaporation for desalination equipment design. Result of research indicates that solar radiation intensity
remains between 584 Wm-2 and 680 Wm-2 while solar heat energy develops between 353.41 Watt - 454.46
Watt. Average temperature in the desalination device is 34.950C. Average evaporation rate in the
desalination chamber is 611.52 ml/hour.Relationship intensity of solar radiation, temperature and
vacuum pressure is proportional to the rate of evaporation

Keywords : Desalination, evaporation rate, intensity of solar radiation, heat energy


56
Tyas, et al. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan

PENDAHULUAN tekanan didalam ruang (semakin tinggi


tekanan vakum) maka semakin tinggi
Indonesia merupakan negara kepulauan transfer panas yang terjadi. Semakin tinggi
terbesar di dunia. Indonesia memiliki luas derajad kevakuman akan memberikan
wilayah 5.193.252 km2, dua per tiga luas kerapatan jenis fluida dalam ruang akan
wilayahnya merupakan lautan, yaitu sekitar semakin rendah yang berarti pergerakan
3.288.683 km2 sehingga Indonesia memiliki fluida semakin cepat. Selama penguapan,
julukan sebagai negara maritim. Ironisnya, terjadi perubahan suhu yang disebabkan
di tengah kepungan air laut, ternyata masih oleh perubahan tekanan, Sehingga dapat
ada beberapa tempat yang mengalami disimpulkan bahwa perubahan tekanan
kekurangan air, terutama mengenai merupakan fungsi dari kenaikan suhu suhu
ketersediaan air bersih. Hal inilah yang (Rahayoe et al, 2008) .
menimpa masyarakat Kepulauan Seribu Pemisahan air tawar dengan air laut di
pada tahun 2006, untuk mendapatkan satu dapat dari adanya perbedaan tekanan yang
liter air bersih, masyarakat harus membayar menggunakan membran semi permeablenya
Rp. 50 sampai Rp. 75. Mengingat hal saja. Proses destilasi juga di sebut dengan
tersebut, maka sudah selayaknya upaya proses penguapan yang merupakan proses
untuk menanggulangi keterbatasan menghilangkan kandungan garam dengan
ketersediaan air bersih dengan menggunakan pemanasan, cara ini dapat di
menggunakan pemanfaatan energy lakukan dengan pemanasan api,
alternative matahari, sehingga kebutuhan menggunakan alat pemanas dan pemanasan
air bersih di berbagai daerah dapat matahari. Ketika sinar dipanaskan oleh sinar
terpenuhi (Walangare, 2013). matahari permukaan molekul-molekul air
Sebagian besar sumber air merupakan mempunyai cukup energi untuk
air laut sehingga perlu adanya pengolahan melepaskan ikatan molekul air tersebut dan
atau pemurnian air laut menjadi air tawar kemudian terlepas sehingga mengembang
dan air bersih. Pemurnian air laut ini dapat menjadi uap air. Desalinasi secara
dilakukan dengan beberapa cara seperti penguapan dapat menggunakan tenaga
distilasi, penyulingan, dan lain-lain. Namun surya pada sebuah evaporator (Juwana,
seiring dengan perkembangan ilmu 1985).
pengetahuan, telah lahir teknologi baru Tujuan dari penelitian ini yaitu
yaitu Reverse Osmosis (RO) dengan bantuan mendapatkan hubungan antara intensitas
membran. Prinsip dasar metode reserve radiasi matahari, suhu air laut dan enegi
osmosis ini yaitu memberikan tekanan kalor matahari pada berbagai tekanan untuk
hidrostatis melebihi tekanan osmosis larutan penggunaan alat desalinasi tenaga surya.
sehingga pelarut dalam hal ini air dapat
berpindah dari larutan yang berkonsentrasi BAHAN DAN METODE
zat terlarut tinggi ke larutan yang memiliki
zat konsentrasi rendah. Salah satu kelebihan Mekanisme Pengamatan
teknologi ini adalah penampilannya portable, Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
tidak memakan tempat yang luas. Secara antara lain air laut sebagai bahan yang di uji
prinsip, proses destilasi merupakan dan di ambil dari Laut Hindia sebanyak 30
perubahan fase cair menjadi fase uap.Pada dan 40 L, air tawar sebagai pendingin pada
tahap akhir, air laut akan mengalami kondensor dan sinar matahari sebagai
kondensasi menjadi air murni. Sementara, energi alternative tenaga surya. Data yang
pada proses RO, tidak terjadi perubahan digunakan pada penelitian ini yaitu
fase yang terjadi hanya fase cair saja pengamatan terhadap parameter
(Ariyanti, 2011). pengamatan meliputi intensitas radiasi
Penurunan tekanan digunakan untuk matahari diukur menggunakan solarymeter
menurunkan titik didih cairan agar lebih dan suhu air laut diukur menggunaan
rendah daripada titik didih air biasa pada thermometer pada jam 10.00, 11.00, 12.00,
tekanan normal yaitu 1 atm. Sehingga tanpa 13.00, beda tinggi ait laut yang berada di
memerlukan suhu yang tinggi, penguapan dalam ruang evaporator diukur pada jam
akan tetap berlangsung. Semakin rendah 10.00 sampai 11.00 menggunakan penggaris.
57
Tyas, et al. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Alat evaporator yang digunakan adalah selama proses penguapan berlangsung. Laju
berbentuk balok dengan panjang 100 cm penguapan dihitung menggunakan rumus
lebar 80 cm, tinggi 20 cm dan terbuat dari Toledo dimana W = laju penguapan(mL jam
kaca setebal 1 cm (Gambar 1). Pengamatan -1) m = luas evaporator dalam x selisih beda
w
ini dilakukan pada jam 10.00, 11.00, 12.00 , tinggi air laut (mm3), t = waktu (jam)
dan 13.00 selama 6 hari. (Burlian, 2011).

= (2)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Intensitas Radiasi Matahari


Intensitas radiasi matahari yang diamati
pada penelitian ini merupakan jumlah dari
intensitas matahari yang jatuh pada
permukaan kaca. Besarnya nilai intensitas
radiasi matahari pada setiap perlakuan
Gambar 1. Alat evaporator vakum dapat dilihat pada Tabel 1
Tabel 1 Nilai intensitas radiasi matahari
Pada penelitian ini dilakukan Jam Intensitas Radiasi Matahari ( Watt/m2 )
pengaturan tekanan dengan manometer (WIB) Volume 30 liter Volume 40 liter
sebanyak tiga kali yaitu rendah -5 cmHg P1 P2 P3 P1 P2 P3
(P1), sedang -7.5 cmHg (P2) dan tinggi -10 10.00 591.9 592.0 593.0 593.1 591.0 593.6
11.00 592.9 594.9 650.0 596.0 593.9 600.0
cmHg (P3) dengan cara membuka dan
12.00 594.0 599.1 680.0 599.5 595.0 665.0
menutup kran pengatur tekanan. Unit yang 13.00 590.0 593.1 598.5 584.4 594.0 610.0
digunakan untuk membangkitkan tekanan Sumber : Perhitungan
vakum adalah berasal dari pompa yang Keterangan : P 1= tekanan -5 (cmHg), P2=
dihidupkan dengan tenaga listrik. Berikut tekanan -7.5 (cmHg), P3= tekanan -10 (cmHg)
adalah spesifikasi pompa air listrik yang
Berdasarkan tabel di atas dapat
digunakan untuk pompa vakum:Merek
diketahui bahwa kenaikan intensitas radiasi
DAB buatan Italy Model: AQUA 401A, Max
maksimum volume 30 L pada P3 jam 11.00 -
cap: 340 L, Suct Head : 8 meter max, Disc
12.00 WIB yaitu sebesar 30 Watt/m2 dan
Head: 12.5 meter, Total Head: 20.5 meter,
nilai minimum terjadi pada P1 jam 10.00 -
Size: 2 1 , Out: 400 Watt, V/Hz/Ph:
11.00 WIB yaitu sebesar 2.1 Watt/m2.
220/50/1, Rpm: 2850
Sedangkan pada volume 40 L kenaikan
intensitas radiasi matahari makimum pada
Analisa Data
P3 sebesar 65 Watt/m2 jam 11.00 12.00
a) Perhitungan Energi Kalor Matahari
WIB dan nilai kenaikan intensitas radiasi
Perhitungan energi kalor matahari dapat
dicari setelah dilakukan pengambilan data minimum terjadi pada P2 jam 10.00 11.00
intensitas radiasi matahari untuk WIB sebesar 2.9 Watt/m2. Nilai kenaikan
intensitas radiasi tinggi saat cuaca cerah dan
mendapatkan suhu air laut pada saat proses
sinar matahari tidak tertutup oleh awan
penguapan. Besarnya energi kalor matahari
dihitung berdasarkan persamaan Stefan sedangkan nilai kenaikan intensitas radiasi
minimum terjadi karena cuaca mendung.
Bolzman (persamaan 1), dimana Q = kalor
Nilai intensitas radiasi matahari
matahari, = tetapan boltzman (5,67x10-8
berfluktuasi setiap satu jam pengamatan,
Watt/m2k4), A= luas permukaan benda dan
semakin siang nilainya semakin tinggi
T = suhu
hingga mencapai puncaknya ketika jam
Q=AT (1) 11.00 atau 12.00, kemudian nilai intensitas
radiasi matahari ini mengalami penurunan
b) Perhitungan Laju Penguapan pada jam-jam berikutnya. Hal ini
Perhitungan laju penguapan dapat di hitung disebabkan sudut jatuh sinar matahari pada
setelah diketahui selisih beda tinggi air laut permukaan kaca tergantung pada posisi
58
Tyas, et al. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan

sinar matahari terhadap zenit, semakin jauh 50 (b)


dari zenit maka semakin kecil sudut jatuh P1
sehingga intensitas radiasi matahari yang 40

suhuC
P2
diterima pun semakin kecil. Kondisi seperti
ini terjadi pada pagi dan sore hari. Hal 30 P3
tersebut sama dengan penelitian (Mulyanef,
2012) yaitu desalinasi dengan menggunakan 20
bahan penyimpan panas menghasilkan 10 11 12 13
produksi air paling banyak pada pukul Jam
13.00 intensitas radiasi matahari 757,37 Gambar 2 Grafik kenaikan suhu terhadap waktu
Watt/m2 dengan produksi kondensatnya pada (a) volume 30 L (b) volume 40 L
255 mLjam-1 dan paling sedikit jam 08.00
intensitas radiasi matahari 428,7 Watt/m2 Pada gambar 2 volume 30 liter peningkatan
hasil kondensatnya 50 mLjam-1 sedangkan suhu tertinggi yaitu P3 jam 10.00 - 13.00
Nilai tekanan vakum pada penelitian sebesar 180C dan kenaikan suhu minimum
terahulu dengan menggunakan plat tipe pada P1 jam 10.00- 13.00 sebesar 80C
kaca miring satu mencapai tekanan -0.3 bar sedangkan volume 40 liter nilai kenaikan
dengan intensitas radiasi matahari 359.18 suhu maksimal yaitu pada P3 sebesar 180C
Watt/m2 temperature 49.940C (Riana, 2012) dan kenaikan suhu minimum terjadi pada
Intensitas radiasi matahari sangat P2 sebesar 70C. Perbedaan tingkat kenaikan
berpengaruh terhadap kenaikan suhu air suhu maksimal dan minimal pada volume
laut karena semakin besar intensitas radiasi 30 L maupun 40 L tidak terjadi perbedaan
matahari maka semakin tinggi suhu air laut yang jauh. Hal tersebut karena
yang diperoleh. Hal ini terjadi karena pada menggunakan intensitas radiasi matahari
dasarnya pada penelitian ini intensitas dan kondisi cuaca sebagai faktor utamanya.
radiasi matahari merupakan faktor utama Penelitian ini menggunakan alat evaporator
yang digunakan untuk menentukan nilai vakum dari bahan kaca sehingga panas
suhu air laut dan besarnya penguapan. matahari akan langsung mengenai kaca
Radiasi surya yang mengenai absorber yang akan mengalirkan panas ke dalam
melalui penutup kaca akan langsung di bahan kemudian panas tersebut akan
absorber ke plat yang berwarna hitam merata keseluruh permukaan bahan dan
kemudian kalor yang dihasilkan di transfer sistem. Jika intensitas radiasi matahari yang
ke fluida kerja (Syahri, M 2011) diterima besar maka suhu yang mengenai
kaca juga besar yang secara tidak langsung
Suhu akan mempengaruhi suhu pada ruang
Suhu pada tiga tekanan dan volume yang evaporator dan suhu pada air laut.
berbeda dalam waktu pengamatan mulai (Maxwell, 2011)
jam 10.00 sampai 13.00 mengalami Suhu dalam ruang vakum tergantung
peningkatan Pada awal evaporasi pada intensitas panas matahari dan
berlangsung suhu bahan cenderung banyaknya air, semakin tinggi panas
meningkat, hal ini terjadi karena adanya matahari dan semakin sedikit air yang di
transfer energi panas dari matahari ke desalinasi maka suhu dalam ruang vakum
bahan yang terus menerus sampai tercapai semakin tinggi. Besarnya suhu juga
suhu maksimal air laut selama proses dipengaruhi oleh lamanya waktu
evaporasi. penguapan dan tekanan, dimana pada saat
50 (a) suhu terus meningkat tekanan cenderung
P1 fluktuatif (Metty, 2010)
P2 Pada mesin penguap vakum ini suhu
40
suhuC

P3 yang digunakan tidak dapat dikendalikan


karena menggunakan energi alternative
30 matahari yang langsung di suplai dari
matahari tanpa kolektor hal tersebut lain
20 halnya dengan menggunakan gas LPG atau
menggunakan aliran listrik yang dapat di
59
Tyas, et al. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan

atur dengan mengatur besar kecilnya gas penurunan yang signifikan energi kalor
yang di gunakan sehingga suhu yang di matahari terjadi pada P2 ketika volumenya
dapatkan bisa di tentukan. Berdasarkan ditambah dari 30 L menjadi 40 L. Hal
rumus perpindahan panas yang tersebut terjadi karena pengaruh dari
berpengaruh terhadap luas benda yang kondisi cuaca.
tegak lurus dengan arah datangnya panas Nilai energi panas matahari maksimum
matahari maka pada saat pukul 12.00 atau ini terjadi saat cuaca cerah sedangkan nilai
disaat matahari tegak lurus dengan kepala minimum terjadi pada saat cuaca mendung.
kita nilai kenaikan suhu air laut didalam Energi panas matahari setiap harinya
evaporator plat datar berkisar antara 46- berubah-ubah dengan suhu yang berubah
500C namun kembali turun pada pukul ubah pula bergantung pada keadaan cuaca.
14.00 berkisar antara 40-430C (Mukaddim, Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa jika
2013) suhu naik maka energi kalor matahari akan
naik. Nilai energi panas matahari mencapai
Energi Kalor Matahari maksimum pada jam 13.00 WIB kemudian
Besarnya energi panas matahari pada mengalami penurunan pada jam berikutnya,
tempat ruang pengujian selama penelitian hal ini di sebabkan karena penelitian di
dari jam 10.00-13.00 WIB terus terjadi laksanakan pada musim penghujan
peningkatan. Besarnya nilai energi panas sehingga di atas jam 13.00 sering terjadi
matahari pada setiap perlakuan dapat hujan.
dilihat pada Gambar 3. Perpindahan panas pada evaporator
500 (a) meliputi radiasi, konveksi dan konduksi.
Perpindahan panas dipengaruhi oleh suhu
kalor mathari (Watt)

P1
450 setiap komponen di alat desalinasi meliputi
P2 air, kaca dan ruangan. Pada perpindahan
400 panas dalam plat datar terjadi secara
P3 konduksi ,pepindahan secara konveksi dari
350 air keruang desalinasi dan radiasi dari
absorber ke air laut. Dari seluruh
300 perpindahan panas tersebut menurut
penelitian terdahulu dengan menggunakan
solar reflector dapat menghasilkan panas
500 radiasi maksimal sebesar 515.514Watt
kalor matahari (Watt)

(b) (Chadarisman, 2012).


P1
450
P2 Laju Penguapan
400
P3 Besarnya laju penguapan tidak berbeda
350 signifikan atau hampir sama. Hal ini terjadi
karena proses berlangsung pada suhu yang
300 tidak berbeda jauh dan tekanan vakum yang
10 11 12 13 telah ditentukan serta luas permukaan
evaporasi yang sama.
Jam 700
Gambar 3 Grafik kenaikan energi kalor matahari
terhadap waktu pada (a) volume 30 L (b) volume 600
Laju penguapan

40 L
(ml/jam)

500
Nilai kenaikan maksimal energy kalor
400
matahari volume 30 L yaitu pada P3 sebesar
volume 30
94.04 Watt dan kenaikan minimal energi 300
volume 40
kalor matahari pada P1 sebesar 47.98 Watt,
200
sedangkan untuk nilai kenaikan energi kalor
matahari volume 40 L yaitu pada P3 sebesar P1 P2 P3
Tekanan
88.4 Watt dan kenaikan energi kalor
matahari minimal pada P2 sebesar 33.61 Gambar 4 Grafik hubungan antara laju
Watt. Pada grafik di atas dapat dilihat penguapan dengan tekanan
60
Tyas, et al. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Grafik diatas dapat diketahui bahwa Grade Solar Heat Solar Energy And
laju penguapan pada P1 volume 30 dan 40 L Conversian Laboratory. Vol.126:774-780.
tidak terjadi kenaikan laju penguapan, hal University of Florida
tersebut terjadi karena proses vakum baru Jamaluddin, 2011. Pengaruh Suhu Dan
di mulai dan intensitas radiasi matahari Tekanan Vakum Terhadap Penguapan
yang belum maksimal, untuk kenaikan laju Air, Perubahan Volume Dan Rasio
penguapan pada P2 volume 30 dan 40 L Densitas Keripik Buah Selama Dalam
terjadi kenaikan laju penguapan sebesar Penggorengan Vakum. Jurnal Teknologi
76.44 mLjam-1. Sedangkan kenaikan laju Pertanian Vol 12 No 2. Universitas 45
penguapan pada P3 volume 30 dan 40 L Makassar
terjadi kenaikan sebesar 38.22 mLjam-1. Laju Juwana, S. 1985. Air Tawar Dari Air Laut.
penguapan tergantung pada suhu dan Pusat Penelitian Ekologi Laut. Lembaga
tekanan vakum sehingga laju penguapan Oseanologi Nasional. LIPI. Vol 10 No 3.
meningkat seiring dengan meningkatnya Jakarta
suhu bahan akibat panas yang terus Metty,K. 2010. Analisa Performansi Sistem
menerus diberikan dari matahari dan Pendingin Ruangan Dan Efisiensi Energi
tekanan vakum yang semakin rendah. Listrik Pada Sistem Water Chiller dengan
Selain suhu dan tekanan laju penguapan Penerapan Metode Cooled Energy
dipengaruhi oleh kadar air larutan dimana Storage. Jurnal Ilmiah Teknik Mesin.
semakin rendah kadar air maka larutan Vol 4 No 1 (43-50). Fakultas Teknik
menjadi semakin pekat sehingga laju Universitas Udayana.
penguapan semakin turun karena semakin Mukaddim, A. 2013. Analisa Pengaruh Variasi
sukar terbentuk uap. Faktor lain yang Bentuk Absorber Pada Alat Destilasi Air
mempengaruhi laju penguapan adalah luas Laut Terhadap Kenaikan Suhu Air Dalam
permukaan, lama evaporasi, dan panas jenis Ruang Pemanas Dan Jumlah Penguapan
bahan.(Jamaluddin, 2011) Air Yang Dihasilkan. Jurnal Teknik
Hubungan antara intensitas radiasi Mesin Vol 3 No 2. Fakultas Teknik
matahari terhadap kenaikan suhu air laut Universitas Mataram.
berbanding lurus begitu juga dengan energy Mulyanef. 2012. Kaji Eksperimental Untuk
kalor matahari sedangkan hubungan antara Meningkatkan Performasi Destilasi
tekanan vakum terhadap laju penguapan Surya Basin Tiga Tingkat Menggunakan
Beberapa Bahan Penyimpan Panas.
juga berbanding lurus semakin tinggi
tekanan vakum maka laju penguapan nya Jurnal Teknik Mesin Vol 2 No 1.
semakin besar. Universitas Bung Hattta.
Rahayoe, S. Rahardja, Kusumandari .2008.
DAFTAR PUSTAKA Konstanta Laju Pengeringan Daun
Sambiloto Menggunakan Pengering
Tekanan Rendah. Jurnal Rekayasa
Ariyanti, D. 2011. Apikasi Teknoogi Reserve Proses. Vol 2 No 1. Fakultas
Osmosis Untuk Pemurnian Air Skala Teknologi Pertanian. Universitas
Rumah Tangga. Jurnal Teknik Kimia Gajah Mada Bulaksumur. Yogyakarta.
Vol 32 No 3 Universitas Diponegoro. Riana. 2012. Desalinasi Air Asin Dengan
Burlian, F. 2011. Kajian Eksperimental Alat Proses Destilasi Menggunakan Energi
Pengering Kerupuk Tenaga Surya Tipe Matahari Dalam Kondisi Vakum. Jurnal
Box Menggunakan Konsentrator Cermin
Teknik Lingkungan. Institut
Datar. Jurnal Fakultas Teknik.
Teknologi Bandung.
Universitas Sriwijaya. Sumual, H. 2011. Pengaruh Kecepatan Angin
Chadarisman, A. 2012. Studi Eksperimental Terhadap Produktifitas Air Kondensat
Rancang Bangun Sistem Desalinasi Pada Peralatan Destilasi. Jurnal
Tenaga Surya Menggunakan Solar Pendidikan Teknologi Dan Kejuruan. Vol
Reflector Untuk Produksi Brine ada 250 2 No 2. Fakultas Teknik Universitas
Be. Jurnal Teknik Fisika Vol 1 No
Negeri Manado.
1.ITS. Syahri, M. 2011. Rancang Bangun Sistem
Goswami, 2004. Theoretical Analysis of a
Desalinasi Energi Surya Menggunakan
Water Desalination System Using Low
Absorber Bentuk Separo Elip Melintang.
61
Tyas, et al. Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Jurnal Teknik Kimia issn 163-4393 FTI


UPN.Yogyakarta
Walangare, K. 2013. Rancang Bangun Alat
Konversi Air Laut Menjadi Air Minum
Dengan Proses Destilasi Sederhana
Menggunakan Pemanas Elektrik. Jurnal
Teknik Elektro. FT.UNSRAT.
Manado.