Anda di halaman 1dari 3

Kurikulum 2013, kita ketahui telah diberlakukan sejak Juli 2013 lalu.

Terkait segala hal, pasti


memiliki kelebihan dan kekurangan. Meski awalnya kita selalu menerima kelebihan, lama
kelamaan pasti akan mengetahui kekurangannya pula. Ya selayaknya manusia tak ada yang
sempurna, begitu juga dengan ciptaannya pun tak ada yang sempurna. Waktu kewaktu berlalu
membuat manusia berpikir bagaimana bisa memperbaiki kurikulum yang masih memiliki
kelemahan, meski tak bisa sepenuhnya namun setidaknya meminimalisir tingkat kelemahan
hingga tingkat terkecil. Salah satunya dengan membandingkan dengan kurikulum
sebelumnya.

Mengingat banyak masalah tentang kehidupan. Jika kita amati bagaimana dunia pendidikan
kita, tentu kita dapat melihat banyak fenomena nyata terkhusus mengenai Kurikulum
Pendidikan Indonesia. Melihat Kurikulum Pendidikan Indonesia yang terus diperbarui sampai
terakhir yaitu Kurikulum 2013 dan Kurikulum KTSP 2006, jika keduanya dibandingkan
maka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Hal itu tentu tak lepas dari
ketersangkutan dengan siswa dan guru. Pengubahan Kurikulum Pendidikan Indonesia harus
disertai dengan evaluasi Kurikulum sebelumnya.

Berbicara tentang Kurikulum KTSP 2006, tentu perhatian kita akan mengarah pada definisi,
isi, manfaat, lebih, dan kurangnya. KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah
sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-
masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada
Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan
menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan
Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP. Pada prinsipnya, KTSP merupakan
bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah
agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan) terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan
kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP
mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.

Kurikulum KTSP 2006 jika dijabarkan secara singkat saja kelebihan dan kekurangannya
meliputi : 1) Mendorong terwujudnya otonomi sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan.
2) KTSP sangat memungkinkan bagi setiap sekolah untuk menitikberatkan dan
mengembangkan mata pelajaran tertentu yang akseptabel bagi kebutuhan siswa. 3) KTSP
akan mengurangi beban belajar siswa yang sangat padat. 4) Berbasis kompetensi sehingga
peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek
kepribadian. 5)Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.
Sedangkan kelemahannya : 1) Kurangnnya SDM yang diharapkan mampu menjabarkan
KTSP pada kebanyakan satuan pendidikan yang ada. Minimnya kualitas guru dan sekolah. 2)
Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana pendukung sebagai kelengkapan dari
pelaksanaan KTSP. 3) Masih banyak guru yang belum memahami KTSP secara komprehensif
baik kosepnya, penyusunannya, maupun praktiknya di lapangan. 4) Penerapan KTSP yang
merekomendasikan pengurangan jam pelajaran akan berdampak berkurangnya pendapatan
guru. Sulit untuk memenuhi kewajiban mengajar 24 jam, sebagai syarat sertifikasi guru untuk
mendapatkan tunjangan profesi.

Kurikulum terbaru, Kurikulum 2013, juga memiliki penjabaran. Diklaim oleh Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Mohammad Nuh, seperti dikutip kompas.com
(11/3/2013), menjelaskan, memiliki tiga keunggulan dibandingkan dengan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 : Pertama, jika menurut kurikulum KTSP
mata pelajaran ditentukan dulu untuk menetapkan standar kompetensi lulusan, maka pada
Kurikulum 2013 pola pikir tersebut dibalik. Kedua, kurikulum baru 2013 memiliki
pendekatan yang lebih utuh dengan berbasis pada kreativitas siswa. Kurikulum baru
memenuhi tiga komponen utama pendidikan, yaitu pengetahuan, keterampilan dan sikap. "Ke
depan, kreativitas yang menjadi andalan. Di Kurikulum 2013 ditekankan pada penguatan
karakter," katanya. Ketiga, pada kurikulum baru didisain berkesinambungan antara
kompetensi yang ada di SD, SMP hingga SMA.

Selain memiliki kelebihan tentu punya kelemahan. Dewan Pendidikan Daerah Istimewa
Yogyakarta menilai bahwa draf kurikulum 2013 memiliki banyak kelemahan. Ketua Dewan
Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Wuryadi, mencatat sejumlah kelemahan dari
isi kurikulum. Kelemahan pertama, kurikulum 2013 bertentangan dengan Undang-Undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional karena penekanan pengembangan
kurikulum hanya didasarkan pada orientasi pragmatis. Selain itu, kurikulum 2013 tidak
didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
2006 sehingga dalam pelaksanaannya bisa membingungkan guru dan pemangku pendidikan.
Kelemahan lainnya, lanjut Wuryadi, pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa
memiliki kapasitas yang sama dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan
langsung dalam proses pengembangan kurikulum 2013. Wuryadi juga menilai tak adanya
keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam kurikulum 2013.
Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih diberlakukan. UN
hanya mendorong orientasi pendidikan pada hasil dan sama sekali tidak memperhatikan
proses pembelajaran. Hal ini berdampak pada dikesampingkannya mata pelajaran yang tidak
diujikan dalam UN. Padahal, mata pelajaran non-UN juga memberikan kontribusi besar
untuk mewujudkan tujuan pendidikan," tambahnya. (YOGYAKARTA, KOMPAS.com).
Tak lepas dari kedua kurikulum di atas, tentu kita tidak dapat menafikan jika kondisi
Pendidikan Indonesia belum baik salah satunya karena pengaruh penerapan kurikulum
pendidikan sebagai dasar dan tolok ukur dalam menjalankan kegiatan pendidikan. Pembaruan
Kurikulum KTSP 2006 dengan pembenahan hal yang belum sempurna, namun dengan
menganggap Kurikulum KTSP 2006 belum maksimal, dibuat peubahan Kurikulum yang
cukup berbeda jalan dengan Kurikulum KTSP 2006 tapi tanpa mengevalusinya terlebih
dahulu. Ibarat menginginkan pulang kerumah melalui jalan yang sedekat mungkin dengan
memilih jalan baru yang jarajnya sama, maka itu tak ada bedanya. Memang banyak masalah
yang dialami negeri ini, namun jika difokuskan satu persatu dengan mempertimbangkan baik
buruknya sebelum menentukan keputusan tanpa ada tindak kriminal, Indonesia akan bisa
maju dan terkhusus dibidang pendidikan. Selain pemerintah, seluruh rakyat hendaknya ikut
andil meski dalam wewenang yang berbeda.

Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa kondisi pendidikan yang baik sudah selayaknya semua
pihak yang bertanggung jawab akan hal tersebut bahu-membahu bekerja sama dengan penuh
kesadaran agar kenyamanan pelaksanaan pendidikan dan target kemajuan bangsa dapat
tercapai. Tindakkan preventif baik berupa evaluasi kurikulum sebelumnya, penilaian
penyelenggaraan dan hasil kegiatan belajar maupun penyuluhan yang merata ke seluruh
negeri kepada penyelenggara pendidikan agar paham dan maksimal menjalankan kegiatan
pendidikan demi kesuksesan bersama harus segera dilakukan dengan serius. Sanksi tegas
terhadap pihak terkait jika ada yang membelot pun sudah selayaknya segera dilakukan demi
kemajuan bersama.