Anda di halaman 1dari 187

COVER DEPAN

ii
Akuntansi Syariah 2013 B IS...

iii
Ilmu itu bagaikan binatang buruan, dan menulis adalah pengikatnya.
Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat, sebab diantara bentuk kebodohan,
engkau memburu seekor rusa, lalu kau biarkan rusa itu bebas begitu saja
(Imam Syafii)

iv
Edisi Cetakan ke-1, Desember 2016

Penulis:
AS 2013 B Research Team

Editor:
Halimatussadiah
Rio Martin Ade Putra

Desain Cover & Layout:


Nasiha Sakina Ramadhanikar
Ria Ananda Ariana

Penerbit:
Kelas AS 2013 B

Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI


Jl. Raya Bojongsari, Pondok Rangga, Curug, Bojongsari,
16517, Depok, Jawa Barat.
Telp: (0251) 861 6655
Email: sebi.as13b@gmail.com
Media sosial: facebook.com/AS 2013 B
Web: www.as2013bsteisebi.wordpress.com

v
........................................................................................ vi

............................................................................ ix

............................................................................................. xi

AUDIT SYARIAH DAN PERKEMBAGANNYA ....................................... 1


A. Landasan Teori & Dasar Hukum Audit Syariah ..................... 2
a. Sejarah Auditing................................................................... 2
b. Pengertian Auditing ............................................................. 3
c. Sejarah Auditing Syariah...................................................... 4
d. Definisi Auditing Syariah.................................................... 7
e. Dalil-Dalil Auditing Syariah................................................ 8
a) Al-Quran .......................................................................... 8
b) Hadits ............................................................................. 12
B. Sejarah Perkembangan Audit Syariah dan Audit Konvensional
15
a. Perkembangan Pengauditan di Indonesia ........................ 15
b. Sejarah Audit Syariah Umum............................................. 20
c. Sejarah Audit Syariah di Indonesia .................................... 24
C. Persamaan dan Perbedaan Audit Syariah dan Audit
Konvensional ................................................................................. 30
a. Standar ............................................................................... 30
b. Ruang Lingkup .................................................................. 34
c. Karakteristik Auditing Syariah ........................................... 37
vi
PENGAWASAN SYARIAH DAN DPS ................................................. 42
A. Pengawasan ........................................................................... 43
a. Pengertian Pengawasan Menurut Para Ahli ...................... 43
1) Sarwoto ........................................................................... 44
2) S.P. Siagian..................................................................... 45
3) Soekarno K. .................................................................... 45
4) M. Manullang ................................................................. 46
5) George R. Terry.............................................................. 46
6) Henry Fayol.................................................................... 46
b. Pengertian Pengawasan Menurut Islam............................ 52
c. Pengawasan Dalam Konteks Ekonomi (Lembaga
Keuangan Syariah)..................................................................... 57
B. Dewan Pengawas Syariah (DPS) ........................................... 65
a. DPS Dalam Pandangan Para Ahli ..................................... 65
b. Hubungan Pengawasan Syariah dan DPS......................... 68
1) Pengawasan Syariah Secara Umum ............................... 68
2) Pengawasan Syariah dan Dewan Pengawas Syariah ..... 70
c. Model DPS di Indonesia .................................................... 72
1) Perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia 72
2) Model Pengawasan Syariah Level Mikro ....................... 74
3) Model Pengawasan Syariah Level Makro ...................... 78
d. Fungsi DPS ........................................................................ 80
e. Tugas dan Wewenang DPS Secara Umum ....................... 85
f. Laporan Audit DPS ............................................................ 92

vii
g. Masalah dan Tantangan DPS di Indonesia ....................... 97
MODEL PENGAWASAN SYARIAH DI MALAYSIA ............................ 104
MODEL PENGAWASAN SYARIAH DI BEBERAPA NEGARA ............ 113
A. Model Pengawasan Syariah di Mesir................................... 114
B. Model Pengawasan Syariah di Inggris ................................ 117
C. Model Pengawasan Syariah di Qatar ................................... 122
a. Model Pengawasan Syariah Level Makro di Qatar.......... 124
D. Model Pengawasan Syariah di Iran ................................. 128
a. Market Share Perbankan Syariah Iran ............................. 129
b. Legalitas Hukum Perbankan Di Iran .............................. 130
c. Model Pengawasan Syariah Iran ..................................... 132
E. Model Pengawasan Syariah di Yaman ................................ 139
a. Struktur Organisasi SSBs di Yaman ................................ 140
b. Proses dan Prosedur Pengawasan Syariah ...................... 141
F. Model Pengawasan Syariah di Pakistan .............................. 142
a. Level Makro ..................................................................... 142
b. Level Mikro ...................................................................... 144
REVIEW ARTIKEL ......................................................................... 147
DPS dan Audit Bank Syariah ...................................................... 148
Standar Kompetensi Auditor Syariah .......................................... 153
Analisis Praktek Audit di Malaysia ............................................. 159
........................................................................................... 165

.......................................................................... 171

viii
Bismillahirrahmanirrahiim
Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah SWT yang telah
memberikan nikmat dan inayah-Nya sehingga buku Gak Paham
Audit Syariah ini dapat ditulis.
Buku ini ditulis sebagai penambah khazanah keilmuan
tentang audit syariah. Buku ini mengupas lebih jauh tentang apa itu
audit syariah, bagaimana sejarah dan perkembangannya, teori dan
literatur tentang pengawasan syariah dan Dewan Pengawas Syariah
(DPS) dan mekasnisme model pengawasan di Indonesia maupun
di beberapa negara terpilih.
Buku ini cocok untuk dijadikan sebagai panduan oleh
mahasiswa maupun masyarakat luas yang memang
membutuhkannya. Di antara refrensi yang juga masih sulit
ditemukan, khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan
dalam mengakses informasi mengenai audit syariah, maka buku ini
Insya Allah dapat menjadi referensi. Oleh karena itu, buku ini
dibuat untuk mendukung kajian tentang audit syariah di Indonesia
yang masih belum banyak dilakukan penelitiannya. Semoga buku
ini dapat bermanfaat terkhusus untuk mahasiswa.

ix
Berbagai kekurangan mungkin akan ditemukan dalam buku
ini. Kritik dan saran sangat diharapkan bagi penyempurnaan buku
ini di masa depan. Kepada seluruh pihak yang mendukung
penulisan buku ini, diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Depok, 20 Desember 2016

AS 2013 B Research Team

x
Konsep keuangan berbasis syariat Islam (Islamic Finance)
dewasa ini telah tumbuh secara pesat, diterima secara universal dan
diadopsi tidak hanya oleh negara-negara Islam di kawasan Timur
Tengah saja, melainkan juga oleh berbagai negara di kawasan Asia,
Eropa, dan Amerika. Perkembangan industri keuangan syariah
yang cukup pesat ini, tidak menjamin tumbuhnya kepercayaan dari
masyarakat secara instan bahwa institusi yang mencantumkan brand
syariah telah terjamin kesyariahannya. Perlu dilakukan sebuah audit
atau evaluasi secara menyeluruh untuk memastikan apakah institusi
terkait telah memenuhi shariah compliance (kepatuhan syariah) atau
malah dapat dikatakan mirip dengan perusahaan konvensional
pada umumnya. Hasil dari evaluasi secara menyeluruh tentunya
akan membantu membangun kepercayaan dari masyarakat dan
para stakeholder serta meningkatkan nilai perusahaannya.
Seiring dengan kebutuhan audit shariah compliance di industri
keuangan syariah, maka muncul fungsi audit baru yaitu audit
syariah. Idealnya audit syariah dilakukan oleh auditor syariah yakni
seseorang dengan kompetensi yang integratif antara syariah dan
bisnis industri kontemporer secara mendalam. Karena pada
dasarnya, proses audit syariah tidak hanya dilakukan berdasarkan
standar regulasi tetapi juga standar dan prinsip syariah. Audit
syariah tidak hanya mengungkapkan akuntabilitas kepada para
xi
pemangku kepentingan saja, tapi juga kepada Sang Khaliq, Allah
s.w.t.
Buku yang disusun oleh rekan-rekan AS 2013 B ini secara
komprehensif berusaha memberikan gambaran tentang auditor
syariah di berbagai belahan dunia. Buku ini diharapkan menjadi
pelengkap kajian-kajian keuangan Islam yang sedang menjadi topik
utama di kalangan para ekonom, selain itu semoga buku ini
menjadi referensi pengetahuan perkembangan dan isu aktual
auditor syariah dalam perspektif regional maupun global.
Selamat membaca. Semoga bermanfaat!

xii
AUDIT SYARIAH DAN
PERKEMBAGANNYA

1
A. Landasan Teori & Dasar Hukum Audit Syariah
a. Sejarah Auditing
Sebelumnya audit sudah ada dan dilakukan pada zaman
metropolitan dengan adanya bukti yaitu berupa simbol-simbol
pada angka-angka transaksi keuangan. Penguasa Mesir purba
melakukan pememeriksaan independen atas catatan penerimaan
pajak. Orang-orang Yunani kuno melakukan pemeriksaan atas
rekening pejabat publik. Dan orang-orang Romawi
membandingkan antara pengeluaran dengan otoritas pembayaran,
sementara para bangsawan di Inggris menunjuk auditor untuk
melakukan review atas catatan akuntansi dan laporan yang telah
disiapkan oleh pelayan mereka. Pada abad ke-19 audit
diperkelankan ke Amerika Utara oleh Inggris. Pada abad ke-19 ini
terjadi keragaman dalam penerapan dan pelaksanaan audit. Di
Inggris ada undang-undang yang harus dipatuhi oleh perusahaan
publik yaitu kewajiban perusahaan publik untuk di audit, undang-
undang tersebut dinamakan Companiest Act. Sedangkan di Amerika
tidak ada aturan yang mewajibkan perusahaan publik untuk di
audit. Hingga ke abad-20 jumlah perusahaan industri berkembang
dengan pesat dan para pemegang saham mulai menyadari manfaat

2
dari audit. Sehingga mereka beranggapan bahwa audit report
adalah jaminan keakuratan laporan keuangan 1.
b. Pengertian Auditing
Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian
bahwa bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu
entitas ekonomi yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan
independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian
informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.
Auditing seharusnya dilakukan oleh orang yang independen dan
kompeten2. Proses auditing sangat penting karena dengan proses
audit tersebut seorang akuntan publik dapat memberikan
pernyataan pendapat tentang kewajaran atau kelayakan laporan
keuangan berdasarkan standar audit yang berlaku. Berikut
beberapa pendapat tentang pengertian auditing:
Definisi Auditing menurut A Statement of Basic Auditing Concept
(ASOBAC) yaitu suatu proses sistematis untuk menghimpun dan
mengevaluasi bukti-bukti secara obyektif mengenai asersi tentang
berbagai tindakan dan kejadian ekonomi untuk memutuskan
tingkat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang

1
Karo-karo Surbakti, Rizal Hasibuan. 2011. Pemerikaan Akuntansi Di Indonesia.
Medan: Universitas Medan
2
Arens, Loebbecke. 1996. Auditing Pedekatan Terpadu. Jakarta: Salemba Empat
3
telah ditentukan dan menyampaikan hasilnya kepada para pemakai
yang berkepentingan3.
Pengertian Auditing menurut Mulyadi (2013:9) yaitu suatu
proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti
secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan
dan keterjadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat
kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria
yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada
pemakai yang berkepentingan4.
Berdasarkan definisi-definisi diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa auditing adalah suatu proses sistematis dengan cara
memperoleh dan mengevaluasi pernyataan-pernyataan informasi
tentang kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh orang yang
kompeten dan independen, kemudian pernyataan-pernyataan
tersebut dilaporkan sesuai dengan kewajaran dan kelayakannya.
c. Sejarah Auditing Syariah
Auditing syariah adalah, sesuatu yang muncul seiring dengan
lahirnya Sistem Akuntansi Syariah. Dinyatakan dalam akuntansi
syariah itu sendiri lahir akibat dari sebuah pandangan bahwa,
sistem akuntansi konvensional tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Dimana akuntansi konvensional, hanya memiliki satu tujuan, yaitu

3http://e-journal.uajy.ac.id/2607/3/2EA15023.pdf
4
http://eprints.polsri.ac.id/2611/2/BAB_II.pdf
4
mengabdikan diri pada kepentingan pemilik modal. Yang
menjadikan tugas moral dari perusahaan terbatas pada mencari
laba, tanpa harus memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan,
masyarakat, moralitas dan sebagainya. Atas dasar tersebut, lahirlah
akuntansi syariah yang menjunjung tinggi nilai moral, keadilan,
dan kesejahteraan umat. Bukan saja dari aspek material, tetapi juga
moral. Bukan saja di dunia, tetapi juga di akhirat. 5
Namun, jauh sebelum adanya istilah auditing syariah, sudah
ada sebuah lembaga yang mempunyai fungsi pengawasan terhadap
kepatuhan syariah, yang ruang lingkup pengawasannya lebih luas
dan kaffah, sistem tersebut adalah Hisbah. hisbah itu sendiri adalah
sebuah tugas keagamaan yang masuk ke dalam cakupan sistem
amar maruf nahi munkar sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu
Khaldun. Seseorang yang menjalankan tugas keagamaan tersbut
(yang kemudian disebut muhtasib), bertugas mempelajari dan
menangani berbagai perselisihan yang munculyang membutuhkan
petunjuk-petunjuk pembuktian, seperti kasus-kasus penipuan,
Tadlis (menyembunyikan cacat, kurangnya informasi), dan
kecurangan pada penimbangan atau takaran. Seorang muhtasib juga

5Sofyan Syafri Harahap, Auditing dalam Perspektif Islam, (Jakarta:PT Quantum


Press, 2002), 4.
5
bertanggung jawab terhadap ketertiban umum, etika dan tata
krama, serta keamanan dijalanan, dan di pasar-pasar.6
Tugas dan kewajiban muhtasib dalam ruang lingkup amar maruf
nahi munkar hampir mencakup setiap aspek dalam kehidupan,
diantaranya adalah, penanganan terhadap perkara-perkara yang
berkaitandengan masyarakat banyak atau individu, seperti
penanganan terhadap perilaku meninggalkan kewajiban-kewajiban
umum agama, perilaku meninggalkan syiar-syiar agama dan yang
lainnya, menangani kondisi terbengkalainya fasilitas dan prasarana
umum berupa masjid dan jalan. Menangani perilaku mengulur dan
menunda-nunda penunaian hak dan utang, menangani dan
mengasuh anak-anak terlantar, serta memerintahkan untuk
menikahkan pemuda dan pemudi7.
Dapat disimpulkan bahwa, sistem pengawasan kepatuhan
syariah bagi lembaga keuangan syariah saat ini, yang kita kenal
dengan auditing syariah, adalah cikal-bakal dari lembaga
pengawasan yang sudah ada pada masa permulaan Islam, yaitu
hisbah. Dimana hisbah memiliki cakupan pengawasan yang lebih
luas dan menyuluruh.

6
Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu : Jilid 7, (Jakarta: Gema Insani,
2011), 255.
7Ibid.

6
d. Definisi Auditing Syariah
Secara mendasar, definisi audit syariah memiliki pengertian
yang hampir sama dengan audit konvensional, namun, audit
syariah memiliki makna yang lebih spesifik yaitu, pengawasan
terhadapa kepatuhan syariah yang harus dipenuhi oleh lembaga
keuangan syariah.
Menurut Syarikah al-Rajhi al-Masrafiyyah lil
Istismar dalam alrajhibank.com, mendefinisikan audit syariah
sebagai, Pihak yang memastikan sejauh mana sesebuah institusi
kewangan Islam mematuhi syariah Islam, berdasarkan
keputusanyang dibuat oleh Majlis Pengawasan Syariah institusi. 8
Di dalam Islam sendiri pengertian audit berdasarkan
AAOIFI-GSIFI, bahwa audit syariah adalah, laporan internal
syariah yang bersifat independen atau bagian dari audit internal
yang melakukan pengujian dan pengevaluasian melalui pendekatan
aturan syariah, fatwa-fatwa, instruksidan lain sebagainya yang
diterbitkan fatwa IFI dan lembaga supervise syariah.

8http://www.alrajhibank.com.sa/AR/SideNav/Shariah+Group/Shariah+Contr

ol+Dept/Shariah+Control+Dept.htm, dirujuk pada 1/11/2007. Dalam Mohd


Zamerey bin abdul razak, dan Nurmaezah binti Omar, Audit Syariah dalam
Institusi Kewangan Islam di Malaysia).

7
e. Dalil-Dalil Auditing Syariah
a) Al-Quran
1) Surat Ali Imran Ayat 104
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang
munkar; merekalah orang-orang yang beruntung
Dalam kitab (Sayyid, 2003, hal. 347-348) dijelaskan bahwa,
maksud dari ayat diatas adalah, keharusan atas adanya kekuasaan di
muka bumi, yang menyeru kepada yang maruf dan mencegah
kemunkaran. Hal yang menegaskan keharusan adanya kekuasaan
adalah, makna yang terkandung terkandung didalam nash al-
Quran itu sendiri. Disana ada kata menyeru kepada kebaikan.
Tetapi, disana juga ada kata memerintahkan yang maruf dan
melarang kemunkaran. Jika seruan bisa dilakukan oleh orang
yang tidak memiliki kekuasaan, tetapi memerintah dan melarang,
tidak mungkin bisa dilakukan kecuali oleh orang yang memiliki
kekuasaan.
Maka dapat diketahui bahwa, sebuah lembaga, aturan, atau
sebuah sistem yang berfungsi dalam pelaksanaan memerintahkan
yang maruf dan melarang yang munkar sangat diperlukan. Seperti
hal nya sistem pengawasan, atau pengendalian kepatuhan syariah,
dalam lembaga keuangan syariah. Sistem tersebut, hari ini biasa
kita sebut dengan auditing/pengawasan syariah, dimana terdapat
8
orang-orang yang memiliki wewenang khusus terhadap hal
tersebut.
2) Surat Al-Hujurat Ayat 6
Wahai orang-orang yang beriman jika ada seorang fasiq datang
keapdamu dengan membawa berita, maka carilah kebenaran berita itu
supaya kamu (tidak) menimpakan (tuduhan) kepada suatu kaum dengan
kebodohan, akibatnya kamu akan menyesal terhadap apa yang kamu
perbuat.
Dalam tafsir (Ash-Shabuni, 2003, hal. 108) dijelasakan bahwa
salah satu makna dari ayat tersbut yaitu keharusan mengecek
kebenaran berita, sekaligus larangan berpegang pada omongan
orang-orang yang fasiq yang justru banyak menimbulkan
kerusakan.
Dapat disimpulkan bahwa, dalam konteks audit syariah,
pemeriksaan, dan peninjauan kembali terhadap laporan keuangan,
dan sumber informasi lembaga keuangan syariah lainnya menjadi
sangat penting. Mengingat keduanya adalah laporan primer dari
kegiatan sebuah lembaga keuangan.
3) Surat Al-Insyiqaq Ayat 6-9
Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-
sungguh menuju tuhanmu, maka kamu pasti akan menemui-Nya. Adapun
orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan

9
diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Dia akan kembali kepada
kaumnya (yang sama-sama beriman) dengan gembira.
Dari ayat diatas dengan melihat arti zhahir nya, dapat
disimpulkan bahwa, Allah akan menghisab manusia dihari akhir.
bagi orang-orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya,
maka ia akan dihisab dengan mudah, dan akan diberikan
kebahagiaan. Hal ini sejalan dengan sebuah proses audit.
4) Surat al-Infithar ayat 10-12
Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang
mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia di sisi allah, dan yang mencatat
pekerjaan-pekerjaanmu itu. mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dalam (sayyid, 2011, hal. 202) dijelaskan bahwa, setiap dari
manusia memiliki pengawasnya, yaitu ruh-ruh yang ditugaskan
untuk selalu menyertai dan mengawasi manusia, serta menghitung
segala sesuatu yang timbul dari manusia. Ruh-ruh tersebut adalah
malaikat. Beranjak dari makna ayat tersebut, sejatinya segala
sesuatu membutuhkan sebuah pengawasan. Termasuk pengawasan
terhadap kepatuhan syariah dalam lembaga keuangan syariah.
5) Surat An-Naml Ayat 20-21
Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata, mengapa aku tidak
melihat Hudhud, apakah ia termasuk yang tidak hadir? Sungguh aku
benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar

10
menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan
alasan yang terang.
Dijelaskan bahwa, ketika itu Nabi Sulaiman a.s menginspeksi
pasukan, dan ia tidak menemukan burung hud-hud. Dimana
ketidakhadiran hud-hud dapat dikenakan sanksi oleh Nabi
Sulaiman a.s berupa hukuman berat (Quthb, 2004, hal. 395).
Konsep pengawasan dan pengecekan dalam ayat ini juga menjadi
landasan lahrinya audit syariah.
6) Surat Al-Hasyr Ayat 18
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada allah dan
hendaklah setipa orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk
hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada allah. Sungguh, allah
mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Dijelaskan bahwa, kalimat ini hanya dengan sekedar terlintas
dalam hati saja, terbukalah dihadapan manusia lembaran amal-
amalnya bahkan lembaran seluruh kehidupannya. Manusia pasti
akan mengarahkan pandangannya kepada segala kata katanya
untuk merenungkan dan membayangkan hisab amalnya beserta
perincian-perinciannya satu persatu, guna menlihat dan mengecek
apakah yang telah dia persiapkan untuk menghadapi hari esok
(Quthb, 2004, hal. 221). Dari ayat diatas dapat kita ketahui

11
bersama bahwa dalam Islam adanya suatu perintah terhadap
sebuah pengecekan yang terperinci untuk kebaikan.
7) Surat Yusuf Ayat 76
Maka mulailah dia memeriksa karung-karung saudaranya sendiri,
kemudian dia mengeluarkan (piala raja) itu dari karung saudara-
saudaranya. Demikianlah kami mengatur (rencana) untuk yusuf. Dia tidak
dapat menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali allah
menghendakinya. Kami angkat derajat orang yang kehendaki; dan diatas
setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.
Arti zhahir dari ayat diatas, dapat diketahui bersama bahwa
adanya sebuah pemeriksaan dan pengecekan yang dilakukan oleh
Nabi Yusuf Alaihi salam.

b) Hadits
Ali radiyallahu anhu berkata : Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam memerintahkan kami agar memeriksa mata dan telinga, dan agar
kami tidak mengurbankan hewan yang buta, yang terpotong telinga bagian
depannya atau belakangnya, yang robek telinganya, dan tidak pula yang
ompong gigi depannya. (Riwayat Ahmad dan Imam empat, Hadits
shahih menurut Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) Hadits No.
1380 (al-Asqalany, 2008).
Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, hendaklah ia
merubah dengan tangannya; bila ia tidak mampu, maka dengan lisannya;

12
dan kalau tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah
selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim)9
Hadis riwayat Abdurrahman bin Auf ra., ia berkata: Ketika aku
tengah berdiri dalam barisan pada hari perang Badar, aku menoleh ke kiri
dan ke kanan, ternyata aku diapit oleh dua orang anak muda Ansar yang
masih belia. Lalu aku berangan-angan mengharap agar aku berada di tengah
prajurit yang lebih kuat dari mereka. Kemudian salah seorang dari mereka
mengisyaratkan dengan kedipan mata kepadaku dan bertanya: Wahai
paman, apakah kamu mengenali Abu Jahal? Aku menjawab: Ya, tapi
apakah urusan mu dengan dia, wahai anak muda? Dia menjawab: Aku
diberitahu bahwa ia pernah menghina Rasulullah saw. Demi Tuhan Yang
jiwaku berada di tangan-Nya, bila aku melihatnya, maka aku tidak akan
melepaskannya sehingga salah seorang di antara kami ada yang mati terlebih
dahulu. Aku kagum sekali dengan keberanian anak muda itu. Lalu
pemuda yang satu lagi mengedipkan mata juga kepadaku dan mengatakan
hal yang serupa. Tidak lama kemudian aku telah melihat Abu Jahal
bergerak di tengah-tengah kecamuk perang, lalu aku bertanya: Tidakkah
kalian berdua telah melihat musuh yang kalian tanyakan tadi? Lalu mereka
berdua segera berlomba-lomba kearah Abu Jahal, lalu menikam dengan
pedang sehingga mereka berdua berhasil membunuhnya. Mereka berdua
kemudian balik menemui Rasulullah saw. Untuk memberitahukan beliau.

9HaditsTerjemah Arbain Nawawi Bahasa Indonesia:pdf (Surabaya: AW


Publisher,2005),h.39
13
Rasulullah saw. lalubertanya: Siapakah di antarakamuberdua yang telah
membunuhnya? Keduanya menjawab: Akulah yang telah membunuhnya!
Rasulullah saw. Bertanya lagi: Apakah kalian berdua telah membersihkan
pedang? Mereka menjawab: Tidak! Rasulullah pun segera memeriksa pedang
mereka, lalu bersabda: Kamu berdua telah membunuhnya. Namun
Rasulullah saw. Memutuskan harta rampasan dari Abu Jahal untuk
Mu`adz bin Amru bin Jamuh. Dan dua orang pemuda itu adalah Mu`adz
bin Amru bin Jamuh dan Mu`adz bin Afra'. (Shahih Muslim
No.3296)10

10
Shahih Muslim : Pdf, (Dawah Rights:2010),h.1716-1717
14
B. Sejarah Perkembangan Audit Syariah dan Audit
Konvensional
a. Perkembangan Pengauditan di Indonesia
Profesi Auditor di Indonesia masih tergolong baru. Pada masa
penjajahan Belanda, jumlah perusahaan di Indonesia belum begitu
banyak, sehingga Auditor dengan sendirinya hampir tidak dikenal.
Perusahaan-perusahaan milik Belanda yang beroperasi di
Indonesia pada waktu itu, mengikuti model pembukuan seperti
yang berlaku di negaranya. Situasi seperti itu berlangsung hingga
Indonesia merdeka. Auditor baru mulai dikenal di Indonesia
setelah tahun 1950-an, yaitu ketika semakin banyak perusahaan
didirikan dan auditor sistem Amerika mulai dikenal, terutama
melalui pendidikan di perguruan tinggi.
Perkembangan auditor di Indonesia terjadi pada tahun 1973,
yaitu ketika Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menetapkan Prinsip-
prinsip Akuntan Indonesia (PAI) dan Norma Pemeriksaan Auditor
(NPA). Selain itu perkembangan yang terjadi dalam dunia
perbankan sejak tahun 1988 semakin menuntut dilakukannya audit
atas laporan keuangan bagi perusahaan-perusahaan yang akan
mengajukan permohonan kredit ke bank. Pada tahun 1995 lahir
Undang-undang Perseroan Terbatas yang mewajibkan suatu
perseroan terbatas menyusun laporan keuangan dan jika perseroan

15
merupakan perusahaan publik, maka laporan keuangannya wajib
diaudit oleh auditor publik. Pada tahun yang sama Undang
Undang Pasar modal pun lahir juga.
Seiring perkembangan perusahaan di Indonesia, IAI telah
banyak melakukan penyempurnaan peraturan yang berlaku di
Indonesia. Yang mana Indonesia saat itu berkibalat pada peraturan
yang dibuat oleh Amerika Serikat. Pada tahun 1994 IAI melakukan
penyusunan ulang prinsip audit dan standar audit yang disebut
Standar Akuntan Keuangan (SAK) dan Standar Profesional
Auditor Publik (SPAP). Sejalan dengan itu Dewan Standar
Akuntan yang dibentuk IAI secara terus menerus menerbitkan
Pernyataan Standar Akuntan Keuangan (PSAK).
Seperti terjadi di Amerika Serikat seratus tahun lalu, fungsi
pengauditan di Indonesia memasuki abad ke-21 ini masih belum
dipahami masyarakat. Banyak kesalah pahaman yang terjadi atas
laporan auditor, karena fungsi audit tidak dipahami dengan benar.
Maka dari itu Pemerintah mulai memperkenalakan Auditor mulai
dari SMA dan pengenalan Audit dilakukan di Perguruan Tinggi.
a) Sejarah Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)
Akuntan Publik Indonesia (IAPI) atau Indonesian Institute of
Certified Public Accountants (IICPA), mempunyai latar belakang
sejarah yang cukup panjang, dimulai dari didirikannya Ikatan

16
Akuntan Indonesia di tahun 1957 yang merupakan perkumpulan
akuntan Indonesia yang pertama. Perkembangan profesi dan
organisasi Akuntan Publik di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari
perkembangan perekonomian, dunia usaha dan investasi baik asing
maupun domestik, pasar modal serta pengaruh global. Secara garis
besar tonggak sejarah perkembangan profesi dan organisasi
akuntan publik di Indonesia memang sangat dipengaruhi oleh
perubahan perekonomian negara pada khususnya dan
perekonomian dunia pada umumnya.
b) Ikatan Akuntan Indonesia Seksi Akuntan Publik (IAI-
SAP): 7 April 1977
Di masa pemerintahan orde baru, terjadi banyak perubahan
signifikan dalam perekonomian Indonesia, antara lain seperti
terbitnya Undang-Undang Penanaman Modal Asing (PMA) dan
Penanaman Modal Dalam negeri (PMDN) serta berdirinya pasar
modal. Perubahan perekonomian ini membawa dampak terhadap
kebutuhan akan profesi akuntan publik, dimana pada masa itu
telah berdiri banyak kantor akuntan Indonesia dan masuknya
kantor akuntan asing yang bekerja sama dengan kantor akuntan
Indonesia. 30 tahun setelah berdirinya IAI, atas gagasan Drs.
Theodorus M. Tuanakotta, pada tanggal 7 April 1977 IAI
membentuk Seksi Akuntan Publik sebagai wadah para akuntan

17
publik di Indonesia untuk melaksanakan program-program
pengembangan akuntan publik.
c) Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan
Publik (IAI-KAP): 1994
Dalam kurun waktu 17 tahun sejak dibentuknya Seksi
Akuntan Publik, profesi akuntan publik berkembang dengan
pesat. Seiring dengan perkembangan pasar modal dan perbankan
di Indonesia, diperlukan perubahan standar akuntansi keuangan
dan standar profesional akuntan publik yang setara dengan
standar internasional. Dalam Kongres IAI ke VII tahun 1994,
anggota IAI sepakat untuk memberikan hak otonomi kepada
akuntan publik dengan merubah Seksi Akuntan Publik menjadi
Kompartemen Akuntan Publik.
d) Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI): 24 Mei 2007
Setelah hampir 50 tahun sejak berdirinya perkumpulan
akuntan Indonesia, tepatnya pada tanggal 24 Mei 2007 berdirilah
Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI) sebagai organisasi
akuntan publik yang independen dan mandiri dengan berbadan
hukum yang diputuskan melalui Rapat Umum Anggota Luar Biasa
IAI Kompartemen Akuntan Publik.
Berdirinya InstitutAkuntan Publik Indonesia adalah respons
terhadap dampak globalisasi, dimana Drs. Ahmadi Hadibroto

18
sebagai Ketua Dewan Pengurus Nasional IAI mengusulkan
perluasan keanggotaan IAI selain individu. Hal ini telah diputuskan
dalam Kongres IAI X pada tanggal 23 Nopember 2006.
Keputusan inilah yang menjadi dasar untuk merubah IAI
Kompartemen Akuntan Publik menjadi asosiasi yang independen
yang mampu secara mandiri mengembangkan profesi akuntan
publik. IAPI diharapkan dapat memenuhi seluruh persyaratan
International Federation of Accountans (IFAC) yang berhubungan
dengan profesi dan etika akuntan publik, sekaligus untuk
memenuhi persyaratan yang diminta oleh IFAC sebagaimana
tercantum dalam Statement of Member Obligation (SMO).
Pada tanggal 4 Juni 2007, secara resmi IAPI diterima sebagai
anggota asosiasi yang pertama oleh IAI. Pada tanggal 5 Pebruari
2008, Pemerintah Republik Indonesia melalui Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 17/PMK.01/2008 mengakui IAPI sebagai
organisasi profesi akuntan publik yang berwenang melaksanakan
ujian sertifikasi akuntan publik, penyusunan dan penerbitan
standar profesional dan etika akuntan publik, serta
menyelenggarakan program pendidikan berkelanjutan bagi seluruh
akuntan publik di Indonesia.

19
b. Sejarah Audit Syariah Umum
Audit dalam Islam bukanlah hal yang baru. Audit sudah
muncul setelah munculnya lembaga keuangan syariah sekitar 1980
yang membutuhkan fungsi audit berdasarkan pada prinsip Islam,
dalam sejarah Islam, pada masa nabi Muhammad SAW dan
Khulafah rasyidin terdapat sebuah lembaga yang berfungsi seperti
auditor, yaitu lembaga hisbah yang bertujuan untuk membantu
umat manusia dalam beribadah kepada Allah dengan memastikan
bahwa hak Allah maupun hak asasi manusia lainnya telah
diperhatikan dan dilaksanakan dengan benar. Hisbah dimulai sejak
adanya negara Islam di Madinah (Mardiyah & Mardian, 2015).
Ketika itu Rasulullah sebagai kepala negara sekaligus Muhtasib.
Beliau sering mengadakan inspeksi pasar dan mengontrol perilaku
ekonomi masyarakat. Tugas itu diteruskan oleh para khalifah
sesudahnya dan lembaga tersebut masih menyatu dengan lembaga
kekhilafahan. pada masa Abu Jafar al-Mansur pada tahun 57 H,
lembaga hisbah dipisahkan dalam departemen tersendiri (Abul
Khair, 1991:109).
Jadi, audit sudah ada dalam Islam pada zaman Khulafa
rasyidin. Setelah zaman Khulafa rasyidin mulailah timbul beberapa
lembaga Audit syariah di Negara-negara di dunia. Diantaranya:
1) AAOIFI (Accounting & Auiditing Organization for Islamic
Financial Institutions )
20
AAOFI adalah organisasi Islam non badan hukum nirlaba
yang menyiapkan standar akuntansi, audit, pemerintahan, etika
dan standar syariat Islam lembaga keuangan dan industry,
AAOIFI didirikan sesuai dengan perjanjian asosiasi yang
ditandatangani oleh lembaga-lembaga keuangan Islam pada 1
safar, 1410 H berkorespondensi dengan 26 februari 1990 di
Aljazair. Kemudian terdaftar pada tanggal 27 maret 1991 di
Negara bagian Bahrain. Sebagai organisasi internasional yang
independen, AAOIFI didukung oleh kelembagaan anggota
(200 anggota dari 45 negara) termasuk bank sentral, lembaga
keuangan Islam, dan peserta lain dari industri perbankan Islam
internasional dan keuangan, di seluruh dunia.
AAOIFI telah memperoleh dukungan untuk memastikan
pelaksanaan standar, yang sekarang diadopsi di kerajaan
Bahrain, Dubai International Financial Centre, Yordania, Lebanon,
Qatar, Sudan dan Suriah. Sedangkan negara Australia,
Indonesia, Malaysia, Pakistan, kerajaan Arab Saudi, dan Afrika
Selatan telah mengeluarkan penduan yang didasarkan pada
standar AAOIFI dan peryataan-peryataan, dengan kata lain ini
seperti Fatwa Internasional.
2) IFSB (Islamic Financial Services Board )

21
Di sela-sela sidang tahunan IMF di Washington DC,
Amerika Serikat, 21 April 2002, telah disepakati akan dibentuk
satu institusi keuangan Islam internasional. Sebagai tindak
lanjut dari rencana tersebut, pada tanggal 4 November 2002,
delapan Gubernur Bank Sentral dari delapan negara Islam,
ditambah dengan Presiden IDB, telah menandatangani
pendirian Islamic Financial Services Board (IFSB) di Kuala
Lumpur, Malaysia. Lembaga itu langsung dipimpin oleh
seorang bankir senior yang berasal dari Sudan, Prof. Rifaat
Ahmed Abdel Kari, Ph.D.
Lembaga multilateral yang akan menaungi lembaga
keuangan syariah di dunia itu, didirikan oleh Bank Sentral dan
otoritas moneter dari Indonesia, Bahrain, Iran, Kuwait,
Malaysia, Pakistan, Saudi Arabia, Sudan, dan Islamic Development
Bank (IDB).
Kelahiran IFSB bukan gagasan liar yang muncul secara
spontan dalam sidang tahunan IMF tersebut. Tapi, gagasan ini
sudah dirintis sejak lama dan embrionya tumbuh pada
Consultative Meeting for Islamic Financial Products, di Praha, Ceko,
23 September 2000. Dari situlah komitmen negara-negara
pendiri semakin kuat hingga dibentuk Technical Committee untuk

22
mewujudkan lembaga tersebut. Setelah melalui sejumlah
pertemuan penting, akhirnya terwujud juga pada tahun 2002.
Bagi dunia perbankan dan lembaga keuangan syariah
dunia, kehadiran IFSB ini memiliki arti sangat penting. Karena
kini terdapat sekitar 200 lembaga perbankan Islam yang sedang
tumbuh di 48 negara, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan
Asia Barat. Bank-bank tersebut mengelola aset sekitar $170
miliar.
IFSB akan menyusun standar dan prinsip pokok
pengawasan, pengaturan, dan penerapan syariah Islam oleh
lembaga keuangan syariah di seluruh Indonesia. IFSB juga
akan menjadi penguhubung sekaligus menjalin kerjasama
dengan lembaga penetapan standar di bidang moneter dan
stabilitas ekonomi. Diantara hal yang akan dilakukan yaitu
penyusunan standar operasional yang selaras dengan Basel
Accord II. Basel Accord II sendiri masih dalam tahap persiapan
akhir bagi pengimplementasian pada akhir tahun 2006, yang
dikendalikan secara eksklusif oleh Bank for International
Settlements (BIS) di Basel, Swiss. Intinya, fungsi IFSB seperti
Bank for International Settlement (BIS).
Bagi Indonesia, keberadaan IFSB sangat strategis. Ini
untuk menstandarisasi perbankan syariah dan lembaga

23
keuangan syariah di negeri ini sehingga standar operasi dan
produknya sama secara internasional. Selain itu, melalui
lembaga tersebut akan dapat dijalin kerja sama antar lembaga
keuangan syariah di dunia.
c. Sejarah Audit Syariah di Indonesia
Audit merupakan dampak dari perkembangan aktivitas
keuangan. Adanya audit sangat mempengaruhi keberlangsungan
usaha, dimana auditor sebagai pelaku audit berkewajiban
memberikan arahan-arahan yang tepat terkait solusi atas
permasalahan yang terjadi di suatu perusahaan.
Apakah selalu ada hubungan antara audit dengan akuntansi?
Jawabannya adalah Tidak. Audit ada berbagai macam, dan tidak
semua tipe audit berhubungan dengan Akuntansi, namun jika
lingkupnya audit laporan keuangan pastilah korelasi dengan
akuntansi sangat erat. Maka dari itu perkembangan terkait regulasi
akuntansi juga mempengaruhi perkembangan audit itu sendiri.
a) Regulasi terkait Akuntansi Syariah.
Awal adanya PSAK Syariah yaitu pada tanggal 1 Mei 2002
telah disahkan PSAK No. 59 yang diterbitkan khusus untuk
kegiatan atas transaksi syariah sektor perbankan syariah dan mulai
berlaku pada 1 Januari 2003 11 dan pada bulan Juli 2003 Bank

11 PSAK 59
24
Indonesia dan Ikatan Akuntan Indonesia menerbitkan Pedoman
Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia (PAPSI) yang berfungsi
sebagai petunjuk yang mengatur secara teknis dan detail
penjabaran PSAK No. 59 tentang Perbankan Syariah, agar lebih
mudah menyusun laporan keuangan yang baik.
Namun seiring berkembangnya praktek syariah, entitas syariah
akan menuntut kebutuhan akuntansi, pada 18 Oktober tahun 2005
IAI merumuskan SAK Syariah yang berlaku umum dan disetujui
pada tanggal 19 September 2006, lalu disahkanlah 6 PSAK Syariah
bagi seluruh LKS pada tanggal 27 Juni 2007 dan mulai berlaku
pada tanggal 1 Januari 2008. Ke-enam PSAK Syariah tersebut
yaitu12 :
1. Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan
Keuangan Syariah (2001)
2. PSAK No. 101 : Penyajian Laporan Keuangan Syariah
3. PSAK No 102 : Akuntansi Murabahah (Jual beli)
4. PSAK No 103 : Akuntansi Salam
5. PSAK No 104 : Akuntansi Isthisna
6. PSAK No 105 : Akuntansi Mudarabah (Bagi hasil)
7. PSAK No 106 :Akuntansi Musyarakah (Kemitraan)

12https://goo.gl/9cuS4T

25
Langkah selanjutnya IAI mengeluarkan juga 3 Exposure Draft
PSAK tambahan pada tanggal 26 Februari 2008 yaitu :
1. ED PSAK 107 tentang Akuntansi Ijarah
2. ED PSAK 108 tentang Akuntansi Penyelesaian Piutang
Murabahah
3. ED PSAK 109 tentang Akuntansi Zakat dan Infaq/ Sedekah
Dan sampai saat ini setelah mengalami restrukturisasi terdapat
10 PSAK Syariah yaitu13 :
1. PSAK No 101: Penyajian Laporan Keuangan Syariah
2. PSAK No 102 : Akuntansi Murabahah (Jual beli)
3. PSAK No 103 : Akuntansi Salam.
4. PSAK No 104 : Akuntansi Isthisna
5. PSAK No 105 : Akuntansi Mudarabah (Bagi hasil).
6. PSAK No 106 : Akuntansi Musyarakah (Kemitraan).
7. PSAK No 107 : Akuntansi Ijarah
8. PSAK No 108 : Akuntansi Asuransi Syariah
9. PSAK No 109 : Akuntansi Zakat
10. PSAK No 110 : Akuntansi Sukuk
b) Kompetensi Pendidikan Audit
Pendidikan juga menjadi salah satu faktor peningkatan Audit
Syariah, dikarenakan tantangan yang menghambat perkembangan

13
Sri Nurhayati, Akuntansi Syariah di Indonesia
26
perbankan syariah yaitu dalam pemenuhan SDM, sama halnya
dengan Malaysia, negara kita kekurangan SDM yang memadai, hal
ini dikarenakan masih minimnya lembaga pendidikan yang
menyediakan studi keuangan syariah. Untuk itu perlu dukungan
dari kalangan akademisi untuk memfasilitasi hal tersebut agar
menjadi solusi atas gap yang terjadi.
Kendala yang perlu mendapat perhatian serius adalah upaya
untuk memenuhi gap SDM dari tenaga kerja domestik agar tidak
diisi oleh tenaga kerja asing. Perlu disaari bahwa salah satu butir
kesepakatan dalam MEA 2015 adalah freedom of movement for
skilled and talented labours. Hal ini merupakan tantangan yang
serius, mengingat pusat-pusat pendidikan dan pelatihan keuangan
dan perbankan syariah berada di luar negeri seperti Bahrain, Uni
Emirat Arab, dan Malaysia. Pelaku industri perbankan syariah
dapat bekerjasama mendirikan pusat pendidikan dan pelatihan
perbankan syariah untuk mencetak tenaga ahli guna memenuhi
gap tersebut daripada saling bersaing dan melakukan pembajakan
pegawai.14 Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) tentunya dapat
berperan dalam menyediakan tenaga ahli untuk mengajar di pusat
pendidikan dan pelatihan tersebut. Agar lebih terarah dan tepat
guna, IAEI juga dapat membantu melakukan penelitian untuk

14Dr.Halim Alamsyah, Perkembangan dan Prospek Perbankan Syariah


Indonesia : Tantangan Dalam Menyongsong MEA 2015
27
mengidentifikasi jenis-jenis keahlian yang dibutuhkan oleh industri
perbankan syariah sehingga strategi link and match dapat
dijalankan.
Berikut ini adalah universitas-universitas yang diketahui oleh
penulis menyediakan program studi akuntansi syariah yaitu UNY
tidak ada matkul pendukung, seperti Fiqh Muamalah, UIN-
Walisongo Semarang15, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri
(STAIN) Surakarta, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Syari`ah
Bengkalis, STEI SEBI, STEI Tazkia. Namun hanya sedikit dari
sekian banyak universitas penyedia program studi akuntansi
syariah yang memberikan materi kuliah pendukung akuntansi
syariah tersebut seperti Ushul Fiqh, Fiqh Muamalah dan
sebagainya. Padahal dasar dari akuntansi yaitu kita perlu paham
teori dasar dari transaksi itu sendiri, dimana setiap transaksi syariah
memiliki perlakuan yang berbeda-beda.
Penyusunan laporan keuangan yang kredibel dan akuntabel
tidak cukup dengan adanya standar akuntansi saja, namun variabel
pendukung seperti akuntan yang kompeten sangat dibutuhkan.
Seperti yang materi yang dijabarkan sebelumnya SDM yang
mumpuni sangat dibutuhkan, dan SDM tersebut langka.

15Uin-suka.ac.id

28
Salah satu cara meningkatkan kualifikasi dari akuntan yaitu
dengan adanya sertifikasi profesional. Sertifikasi profesional yaitu
suatu bentuk pengakuan atas ke-profesional-an seseorang terhadap
bidang yang digelutinya. Sertifikasi akan menjadi daya jual, karena
hal ini yang membedakan tingkat kualitas seseorang atas keahlian
tertentu.16
IAI mengambil peluang tersebut dengan mengadakan Ujian
Sertifikasi Akuntansi Syariah (USAS) dalam rangka meningkatkan
konpetensi para profesional yang berkiprah di bidang Akuntansi
syariah. Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah dilaksanakan pertama
kali pada tahun 2008 merupakan ujian pertama dan satu-satunya
diselenggarakan di Indonesia. Dalam tahun-tahun berikutnya
direncanakan akan dilakukan ujian dalam 2 (dua) periode per
tahun. Dengan adanya USAS, Indonesia telah mempunyai suatu
ujian sebagai suatu sistem pembelajaran yang baku bagi mereka
yang akan berpraktik di bidang Akuntansi Syariah. Ujian Sertifikasi
Akuntansi Syariah merupakan suatu strategi pengembangan
keilmuan dan keahlian Akuntansi Syariah dalam rangka
penyesuaian dengan perkembangan ekonomi syariah di
Indonesia.17

16Nilna Sabrina, Determinan Minat karyawan Bank Umum Syariah Untuk


mengikuti Ujian Sertifikasi Akuntansi
17Iaiglobal.or.id

29
Dalam penelitian Nilna Sabrina dalam Determinan Minat
Karyawan Bank Umum Syariah Untuk mengikuti Ujian Sertifikasi
Akuntansi, dihasilkan bahwa mayoritas karyawan yang mengambil
USAS memiliki background pendidikan dari jurusan
ekonomi/akuntansi umum dan syariah. Hal ini disebabkan karena
pengalaman belajar akan membentuk minat tersendiri untuk
mengikuti USAS.

C. Persamaan dan Perbedaan Audit Syariah dan


Audit Konvensional
Audit syariah memiliki beberapa perbedaan dengan audit
konvensional. Perbedaan yang secara umum diketahui adalah
terkait objek, keberadaan DPS dan pelaku auditnya. Lebih dari itu,
semuanya dianggap sama dengan audit secara umum. Oleh
karenanya dalam buku ini akan dijelaskan perbedaan mendasar dari
audit konvensional dengan audit syariah yang melingkupi beberapa
aspek diantaranya adalah standar, ruang lingkup dan karakteristik.
a. Standar
Standar yang digunakan untuk audit konvensional adalah
standar yang dikeluaran oleh Ikatan Akuntan Indonesia, yang
melingkupi18:
1) Persyaratan Kemampuan atau Keahlian

18IAI, Standar Profesional Akuntan Publik, hlm. 210.1


30
Staf yang ditugasi untuk melaksanakan audit harus secara kolektif
memiliki kecakapan professional yang memadai untuk tugas yang
disyaratkan.
Dengan standar ini, semua organisasi atau lembaga audit
bertanggung jawab setiap audit dilaksanakan oleh staf yang secara
kolektif memilki pengetahuan dan keterampilan yang memadai
untuk tugas audit tersebut. Staf tersebut harus memiliki
pengetahuan yang mendalam tentang audit pemerintahan, tentang
keadaan khas yang diaudit, serta kaitannya dengan sifat dari jenis
yang dilaksanakan.
a) Indepedensi
Dalam semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan audit, organisasi
atau lemabaga audit dan auditor baik pemerintah maupun akuntan
public, harus independen (secara organisasi maupun secara pribadi),
bebas dari gangguan indepedensi yang bersifat pribadi dan yang dari luar
pribadinya ekstern, yang dapat mempengaruhi independensinya, serta
harus dapat mempertahankan sikap dan penampilan yang independen
Dengan standar umum kedua ini, organisasi atau lembaga
audit dan para auditornya bertanggung jawab untuk dapat
mempertahankan independensinya sedemikian rupa, sehingga
pendapat, kesimpulan, pertimbangan atau rekomendasi dari

31
audit dipandang tidak memihak oleh pihak ketiga yang
memiliki pengetahuan mengenai hal itu.
b) Penggunaan Kemahiran Secara Cermat dan Seksama
Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor
wajib menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat
dan seksama.
c) Pengendalian Mutu
Setiap organisasi atau lembaga audit yang melaksanakan audit
berdasarkan SAP ini harus memiliki sistem pengendalian
intern yang memadai, dan sistem pengendalian mutu tersebut
harus direview oleh pihak yang kompeten (pengendalian mutu
ekstren).
Sedangkan audit syariah mengacu pada standar yang
dikeluarkan oleh AAOIFI yang mencakup lima standar, yaitu:
a) Tujuan dan Prinsip (Objective and Principles of Auditing)
Tujuan audit konvensional pada umumnya adalah untuk
menyatakan pendapat tentang kewajaran laporan keuangan
dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip
akuntansi yang berlaku.19
Berbeda dengan tujuan audit konvensional, tujuan dari sebuah
audit laporan keuangan entitas syariah yaitu untuk

19Ibid, hlm. 110.1


32
memungkinkan auditor menyampaikan opini atas laporan
keuangan tertentu dalam semua hal yang material dan sesuai
dengan aturan dan prinsip Islam, AAOIFI, standar akuntansi
nasional yang relevan, serta praktek di negeri yang
mengoperasikan lembaga keuangan.20
Menurut Rahman, tujuan audit syariah sebagaimana
konsepnya adalah untuk mengukur sejauh mana organisasi
mematuhi aturan dan regulasi yang diberikan oleh Allah dan
bukan sekedar untuk memastikan keadilan dan kebenaran
laporan keuangan yang disiapkan manajemen.21
Adapun prinsip etika profesi meliputi, kebenaran, integritas,
dapat dipercaya, keadilan dan kewajaran, kejujuran,
independen, objekivitas, kemampuan professional, bekerja
hati-hati, menjaga kerahasiaan, perilaku professional dan
menguasai standar teknis22.
d) Laporan Auditor (Auditors Report)
Menjelaskan terkait laporan auditor, mulai dari elemen dasar
penyusun laporan auditor, acuan ASIFI dan standar nasional

20 AAOIFI, Accounting, Auditing and Governance StandardsFor Islamic Financial


Institution: Auditing, hlm. 4
21 Qonita Mardiyah & Sepky Mardian, Praktik Audit Syariah di Lembaga Keuangan

Syariah Indonesia, hlm. 4


22 Akuntansi Syariah 2012 A, Jendela Auditing Syariah, hlm. 10

33
yang relevan atau praktik hingga uraian pekerjaan yang
dilakukan auditor.
1) Ketentuan Keterlibatan Audit (terms of audit engagement)
Standar ini menguraikan bahwa perjanjian antara auditor
dengan klien telah disetujui, adanya surat penugasan audit,
serta dokumen kontrak dan tanggung jawab auditor.
2) Lembaga Pengawas Syariah (Sharia Supervisory Board)
Berisi penunjukkan, komposisi dan laporan DPS
3) Tinjauan Syariah (Sharia Review)
Shari'ah review merupakan sebuah pengujian yang luas dari
kepatuhan Syariah sebuah LKS, dalam seluruh kegiatannya.
Pengujian ini meliputi penunjukan, persetujuan, kebijakan,
produk, transaksi, memorandum (surat peringatan), dan
anggaran dasar dari perserikatan, laporan keuangan,
laporan (khususnya audit internal danpengawasan bank
central), sirkulasi dan lain-lain.23

b. Ruang Lingkup
Menurut Kasim dkk, ruang lingkup audit syariah bukan hanya
terkait aktivitas ekonomi dan laporan keuangan manajemen namun
juga mengaitkanpengaruh sosial dan lingkungan dalam proses
pengauditannya hal ini tidak lepas dari hukum Islam yang memang

23 Ibid, hlm. 11
34
secara luas mengatur setiap sendi kehidupan manusia dantujuan
besarnya adalah mempertemukan antara konsep audit dengan
maqosid syariah.24
Rahman (2012) menjelaskan bahwa, ruang lingkup dari audit syariah
yaitu25:
a) Aspek syariah yang mempengaruhi laporan keuangan IFI
b) Kepatuhan audit pada struktur organisasi, SDM dan sistem
informasi
c) Kepatuhan syariah pada fungsi manajemen risiko
d) Efektivitas sistem pengendalian internal syariah
e) Ketidakpatuhan syariah pada manajemen risiko
f) Kecukupan proses tata kelola audit syariah
Sedangkan ruang lingkup audit konvensional adalah 26:
a) Proses Sistematik
Frasa sistematik menyiratkan bahwa wajib ada pendekatan
yang terencana dengan baik untuk melakukan audit.
Perencanaan tersebut melibatkan pengumpulan dan
pengevaluasian bukti secara objektif.
b) Mencari dan Mengevaluasi Bukti Secara Objektif

24Qonita Mardiyah & Sepky Mardian, Praktik Audit Syariah di Lembaga Keuangan
Syariah Indonesia, hlm. 5
25Akuntansi Syariah 2012 A, Jendela Auditing Syariah, hlm. 17
26https://googleweblight.com. Diakses pada 21 November 2016 pada 14.30

WIB
35
Frasa mencari dan mengevaluasi bukti secara objektif
menegaskan bahwa auditing merupakan informasi yang
akan dipakai oleh auditor untuk menentukan apakah asersi-
asersi yang sedang diaudit disajikan sesuai dengan standar
yang ditetapkan.
c) Asersi Tentang Tindakan dan Peristiwa Ekonomik
Kata asersi memilki makna khusus dalam auditing, asersi
adalah representasi atau pernyataan manajemen tentang
peristiwa atau tindakan ekonomi entitas. Asersi tersebut
berwujud catatan atau laporan keuangan.
d) Taraf Hubungan Antara Asersi Dengan Kriteria yang
Ditetapkan
Dalam melaksanakan audit, haruslah ada informasi dalam
format yang dapat diverifikasidan standar, sehingga auditor
dapat mengevaluasi informasi tersebut.
e) Mengkomunikasikan Hasil kepada Pemakai yang
Bersangkutan.
Audit tidak hanya banyak gunanya hasil audit tersebut tidak
disampaikan kepada pemakai yang bersangkutan, sehingga
auditor perlu mengkomunikasikan hasil auditnya kepada
pemakai yang bersangkutan.

36
c. Karakteristik Auditing Syariah27
Audit syariah memiliki karakteristik khusus, yakni keberadaan
pemain utama atau pelaku inti yang melakukan perannya masing-
masing, yaitu:
a) Dewan Pengawas Syariah (DPS)
Peran DPS dalam kerangka kerja audit dan governance secara
keseluruhan termasuk ex-ante dan ex-post audit. Peran ex-ante
yaitu untuk menyusun kebijakan dan pedoman yang harus
diikuti manajemen dalam setiap kegiatannya, termasuk
menyetujui produk. Peran ex-post yaitu untuk melakukan
review syariah dengan pemeriksaan untuk memastikan bahwa
aktifitas yang dilakukan LKS tidak berlawanan dengan prinsip
syariah.
Review syariah melibatkan 3 tahap: perencanaan dan
perancangan prosedur review; eksekusi prosedur review dan
menyiapkan serta menelaah kertas kerja; dan terakhir,
pendokumentasian kesimpulan dan menghasilkan Laporan
DPS. Ketika mengeksekusi prosedur review syariah, draft
laporan dari auditor eksternal mengenai kepatuhan syariah
diuji, dan laporan syariah internal dari auditor internal akan
membantu DPS dalam pendokumentasian kesimpulan dan

27Akuntansi Syariah 2012 A, Jendela Auditing Syariah, hlm. 13


37
mengungkapkan opini syariah dalam laporan yang
menyeluruh. Secara ringkas, review syariah adalah review
menyeluruh yang tidak hanya berupa laporan keuangan tetapi
juga termasuk kontrak, perjanjian dan tranksaksi untuk
memastikan kepatuhan syariah dan menambah kredibilitas
terhadap aktifitas manajemen.
b) Auditor Eksternal
Auditor eksternal dalam melakukan audit syariah memiliki
peran khusus, yakni melakukan uji kepatuhan syariah. Proses
audit yang dilakukan melibatkan struktur, dokumen terencana
yang melibatkan beberapa tahapan perencanaan audit dan
diakhiri dengan pengungkapan opini dalam bentuk laporan
audit eksternal terkait apakah laporan keuangan telah disajikan
sesuai dengan fatwa, aturan dan pedoman yang dikeluarkan
DPS di LKS tersebut, standar akuntansi AAOIFI, dan standar
akuntansi yang relevan serta praktik di negara bersangkutan.
Dalam hal menyiapkan jaminan yang beralasan bahwa LKS
telah sesuai dengan aturan dan prinsip syariah yang ditetapkan
DPS, auditor harus mengumpulkan bukti audit yang tepat dan
cukup. Dalam hal pedoman auditor ketika
membuatjudgement apakah laporan keuangan LKS telah
disajikan sesuai dengan prinsip dan aturan syariah, auditor

38
harus merujuk pada fatwa, aturan serta pedoman yang
ditetapkan DPS. Meskipun begitu, auditor tidak diharapkan
menentukan interpretasi aturan dan pedoman yang sudah ada.
Oleh sebab itu, ketika melakukan audit seorang auditor akan
memasukkan prosedur ke dalam pemeriksaannya untuk
memastikan bahwa seluruh fatwa, aturan dan pedoman serta
modifikasi yang memungkinkan untuk memunculkan fatwa,
aturan dan pedoman telah diidentifikasi dan direview setiap
periode dibawah pemeriksaan. Auditor akan mereview
laporan yang diterbitkan DPS kepada LKS mengenai
kepatuhan syariah maupun pertemuan DPS untuk
memastikan bahwa keseluruhan produk yang ditawarkan
sudah direview oleh DPS. Auditor juga harus memeriksa
temuan dari semua reviewinternal yang dilakukan manajemen
LKS, auditor internal, dan laporan atas review syariah internal.
Auditor akan mengirimkan draft laporan dan kesimpulan yang
berhubungan dengan kepatuhan syariah kepada DPS, dan bila
draft laporan DPS mengindikasikan bahwa terdapat
ketidaksesuaian dalam kepatuhan maka auditor akan
menyesuaikan draftnya, memberikan penjelasan yang cukup
terkait keadaan dan alasan terkait penyesuaian tersebut.
c) Review Syariah Internal

39
Merujuk pada AAOIFI Governance Standards for IFI No. 3
(GSIFI 3), pekerjaan review syariah internal bisa dilakukan
oleh departemen audit internal, yang berwenang menyediakan
SDM yang independen dan berkualifikasi. Sebelum proses
review dilakukan, manajemen menyiapkan berkas yang berisi
tujuan, wewenang dan tanggung jawab lalu mengirimkannya
kepada DPS untuk disetujui. Setelah berkas disetujui, Dewan
Direktur akan memberikan berkastersebut kepada ketua
review syariah internal yang akan menunjuk tim yang
berkompeten dalam menjalankan tugas ini.
Tim tersebut akan merencanakan setiap penugasan review dan
dokumentasinya. Kemudian mereka akan mengumpulkan,
menganalisa, dan menginterpretasikan semua hal yang
berhubungan dengan tujuan dan ruang lingkup kerja,
termasuk pemeriksaan dokumentasi, review analitis, nilai-
nilai,diskusi dengan pihak manajemen dan observasi untuk
mendukung hasil reviewnya. Kertas kerja dokumen akan
disiapkan oleh tim dan akan dilihat oleh ketua tim, kemudian
akan didiskusikan kesimpulan dan rekomendasinya bersama
manajemen sebelum menerbitkan laporan tertulis akhir.
d) Komite Audit dan Governance

40
Peran komite audit dan governance, yang diisi oleh direktur non-
eksekutif, dijelaskan secara detail dalam GSIFI No. 4
Bertanggungjawab atas pengecekan struktur dan proses
pengendalian internal serta memastikan bahwa aktifitas LKS
telah patuh terhadap syariah. Tugas komite ini juga termasuk
review atas laporan yang dibuat oleh tim syariah internal dan
DPS dalam memastikan tindakan yang patut sudah diambil.

41
PENGAWASAN SYARIAH
DAN DPS

42
A. Pengawasan
Istilah pengawasan dalam bahasa Indonesia berasal dari kata
awas, sehingga pengawasan merupakan suatu kegiatan mengawasi,
yaitu meihat sesuatu dengan cermat dan seksama. Sedangkan
istilah pengawasan dalam bahasa Inggris disebut controling yang
diterjemahkan dengan istilah pengawasan dan pengendalian. 28
Pengawasan adalah suatu usaha sistematis menetapkan
standar-standar dengan tujuan perencanaan, merancang bangun
sistem, umpan balik informasi, membandingkan kinerja
sebenarnya dengan standar-standar yang telah ditentukan terlebih
dahulu. Dengan menentukan apakah ada penyimpangan dan
mengukur kemudaratannya, serta mengambil tindakan yang
diperlukan yang menjamin pemanfaatan penuh sumber daya yang
digunakan secara efisien dan efektif dalam rangka pencapaian
tujuan organisasi. 29
a. Pengertian Pengawasan Menurut Para Ahli
Baik dalam lingkungan masyarakat maupun lingkungan kerja,
istilah pengawasan tidak terlalu sulit untuk dimengerti. Akan tetapi
untuk memberikan sebuah definisi, ternyata masing- masing dari
ahli memiliki definisi yang berbeda. Hal tersebut dapat dilihat dari

28
legalstudies71.blogspot.com diakses pada 18 November 2016
29
www.seputarpengetahuan.com diakses pada 18 November 2016
43
definisi pengawasan yang diutarakan oleh banyak ahli manajemen,
meskipun pada prinsipnya secara umum definisi tersebut memili
subtstansi yang sama. Berikut pengertian pengawasan menurut
para ahli manajemen30 :
1) Sarwoto
Dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Organisasi dan
Management, Sarwoto memberikan definisinya tentang
pengawasan yaitu sebagai berikut:
Pengawasan adalah kegiatan manajer yang mengusahakan agar
pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang
ditetapkan dan atau hasil yang dikehendaki.
Dalam definisi tersebut, Sarwoto menyatakan secara eksplisit
subyek yang melaksanakan pengawasan atau memiliki fungsi
pengawasan yaitu manajer, sebagai standar atau tolak ukur adalah
rencana yang ditetapkan dan atau hasil yang
dikehendaki. Sedangkan secara implisit, definisi pengawasan
menurut Sarwoto tersebut menyatakan bahwa tujuan dari
pengawasan yaitu mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan
terlaksana sesuai rencana. Jadi seluruh pekerjaan yang dimaksud
adalah jenis sedang dalam pelaksanaan, bukan pekerjaan-pekerjaan
yang telah selesai dilaksanakan.

30
legalstudies71.blogspot.com diakses pada 18 November 2016
44
2) S.P. Siagian
Dalam bukunya yang berjudul Filsafat Administrasi, S.P.
Siagian menguraikan bahwa :
Pengawasan adalah proses pengamatan dari pelaksanaan
seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar supaya semua
pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana
yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam definisi pengawasan menurut S.P. Siagian tersebut
mempunyai ciri yang penting yaitu bahwa definisi pengawasan ini
hanya dapat diterapkan bagi pengawasan terhadap pekerjaan-
pekerjaan yang sedang berjalan, tidak dapat diterapkan untuk
pekerjaan-pekerjaan yang sudah selesai dilaksanakan.
3) Soekarno K.
Dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Management,
Soekarno K memberikan definisi pengawasan sebagai berikut :
Pengawasan adalah suatu proses yang menentukan tentang
apa yang harus dikerjakan, agar apa yang harus dikerjakan, agar apa
yang diselenggarakan sejalan dengan rencana.
Soekarno K dalam memberikan definisi pengawasan lebih
menekankan pengawasan sebagai proses yang menentukan tentang
apa yang harus dikerjakan.

45
4) M. Manullang
Dalam bukunya yang berjudul Dasar-Dasar Management, M.
Manullang mendefinisikan pengawasan sebagai berikut:
Pengawasan adalah suatu proses untuk menetapkan pekerjakan
apa yang sudah dilaksanakan, menilainya, dan mengoreksi bila
perlu dengan maksud supaya pelaksanaan pekerjaan sesuai denagn
rencana semula.
5) George R. Terry
Menurut George R. Terry yang dimaksud dengan pengawasan
adalah, untuk menentukan apa yang telah dicapai, mengadakan
evaluasi atasnya, dan untuk menjamin agar hasilnya sesuai dengan
rencana.
6) Henry Fayol
Henry Fayol mengatakan bahwa yang dimaksud dengan
pengawasan adalah: Pengawasan terdiri dari pengujian apakah
segala sesuatu berlangsung sesuai dengan rencana yang telah
ditentukan dengan instruksi telah digariskan.
Hal tersebut bertujuan untuk menunjukkan atau menentukan
kelemahan-kelemahan dan kesalahan-kesalahan dengan maksud
untuk memperbaikinya dan mencegah terulangnya kembali
kesalahan-kesalahan tersebut.
7) Newman

46
Newman menyebutkan bahwa pengawasan adalah sesuai
dengan rencana. Dari definisi pengawasan tersebut, dapatlah
disimpulkan bahwa dalam definisi pengawasan terdapat dua
bagian, yaitu :
1. Berupa inti atau wujud perbuatan dalam pengawasan.
2. Mengganbarkan tujuan yang hendak dicapai oleh
pengawasan.
Sedangkan definisi pengawasan yang lain diutarakan oleh
Victor M. Situmorang, SH dan Jusuf Juhir, SH dalam bukunya
yang berhudul Aspek Hukum Pengawasan Melekat, mereka
mengatakan bahwa: Pengawasan adalah setiap usaha dan tindakan
dalam rangka untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tugas
yang dilaksanakan menurut ketentuan dan sasaran yang hendak
dicapai.Selain pengertian pengawasan di atas, para ahli lain juga
mengemukakan pendapat mereka tentang pengawasan syariah,
diantaranya yaitu:31
a) Pengertian pengawasan menurut Rahman Lubis adalah
proses kegiatan untuk mengetahui hasil pelaksanaan,
kesalahan, kegagalan, untuk memperbaiki kemudian

31
http://bayuberbagiilmu21.blogspot.co.id diakses pada 18 November 2016

47
mencegah sehingga pelaksanaannya tidak berbeda dengan
rencana yang telah ditetapkan.
b) Pengertian Pengawasan menurut Sondang Siagian adalah
proses pengamatan keseluruhan kegiatan organisasi untuk
menjamin agar semua pekerjaan yang dilaksanakan sesuai
dengan rencana yang sebelumnya direncanakan.
c) Pengertian Pengawasan menurut Stephen Robein adalah
memberikan sebagai proses mengikuti perkembangan kegiatan
untuk menjamin jalannya pekerjaan, dengan demikian dapat
selesai secara sempurna sebagaimana yang direncanakan
sebelumnya dengan pengoreksian beberapa pemikiran yang
saling berhubungan.
d) Pengertian pengawasan menurut Suyamto adalah segala
kegiatan atau usaha untuk mengetahui dan menilai kenyataan
yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas atau kegiatan
apakah sudah terlaksana dengan semestinya atau tidak.
e) George R. Tery (2006:395) mengartikan pengawasan sebagai
mendeterminasi apa yang telah dilaksanakan, maksudnya
mengevaluasi prestasi kerja dan apabila perlu, menerapkan
tidankan-tindakan korektif sehingga hasil pekerjaan sesuai
dengan rencana yang telah ditetapkan.

48
f) Robbin (dalam Sugandha, 1999:150) menyatakan
pengawasan itu merupakan suatu proses aktivitas yang sangat
mendasar, sehingga membutuhkan seorang manajer untuk
menjalankan tugas dan pekerjaan organisasi.
g) Kertonegoro (1998:163) menyatakan pengawasan itu adalah
proses melaui manajer berusaha memperoleh keyakinan
bahwa kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
perencanaannya.
h) Terry (dalam Sujamto, 1986:17) menyatakan Pengawasan
adalah untuk menentukan apa yang telah dicapai, mengadakan
evaluasi atasannya, dan mengambil tindakan-tidakan korektif
bila diperlukan untuk menjamin agar hasilnya sesuai dengan
rencana.
i) Dale (dalam Winardi, 2000:224) dikatakan bahwa
pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan
melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga
mengandung arti memperbaiki dan meluruskannya sehingga
mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan.
j) Admosudirdjo (dalam Febriani, 2005:11) mengatakan
bahwa pada pokoknya pengawasan adalah keseluruhan
daripada kegiatan yang membandingkan atau mengukur apa
yang sedang atau sudah dilaksanakan dengan kriteria, norma-

49
norma, standar atau rencana-rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya.
k) Siagian (1990:107) menyebutkan bahwa yang dimaksud
dengan pengawasan adalah proses pengamatan daripada
pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar
supaya semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai
dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
l) Schermerhorn menyatakan bahwa Pengawasan adalah
merupakan proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan
pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian
hasil yang di harapkan sesuai dengan kinerja yang telah
ditetapkan tersebut.
m) Stoner, Freeman dan Gilbert menyatakan bahwa
Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala
aktivitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah
direncanakan.
n) Prayudi (Hukum Administrasi Negara, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 1981, hal 80) menyatakan Pengawasan
adalah suatu proses untuk menetapkan pekerjaan apa yang di
jalankan, dilaksanakan, atau diselenggarakan itu dengan apa
yang dikehendaki, direncanakan atau diperhatikan.

50
o) Saiful Anwar (Sendi-Sendi Hukum Administrasi Negara,
Glora Madani Press, 2004, hal.127) menyatakan
pengawasan atau control terhadap tindakan aparatur
pemerintah diperlukan agar pelaksanaan tugas yang telah
ditetapkan dapat mencapai tujuan dan terhindar dari
penyimpangan-penyimpangan.
p) M. Manullang (Dasar-Dasar Manajemen, Ghalia
Indonesia, Jakarta, 1995, hal.18) mengatakan bahwa
Pengawasan adalah suatu proses untuk menetapkan suatu
pekerjaan apa yang sudah dilaksanakan, menilainya dan
mengoreksi bila perlu dengan maksud supaya pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan rencana semula.
Berdasarkan beberapa pengertian pengawasan menurut para
ahli diatas, dapat dikatakan bahwa pengawasan pada dasarnya
dilaksanakan selama proses pelaksanaan kegiatan tersebut sampai
berakhirnya suatu kegiatan. Pengawasan pada dasarnya bertujuan
untuk memastikan proses administrasi dan manajemen dapat
tercapai secara efisien, efektif, ekonomis, dan produktif.
Demikianlah penjelasan mengenai pengertian pengawasan dan
pengertian pengawasan menurut para ahli.

51
b. Pengertian Pengawasan Menurut Islam
Secara bahasa, kata pengawasan dalam bahasa Arab dapat
diambil dari kata muraaqabah, qiyaadah, qabidhah, taujih,
siitharah. Masing-masing kata secara bahasa mengandung arti
pengawasan, tetapi ada yang mengandung tambahan makna
pengendalian, perintah, pengarahan, penelitian, dan monitoring.
Kata yang lebih dekat maknanya kepada pengawasan dalam arti
supervision adalah muraaqabah (Al-Munawwir, 1984: 557).
Secara istilah, makna pengawasan dalam litelatur Islam
terdapat dalam kata hisbah yang bermakna ihtisab yaitu meneliti,
mentadbir, melihat, mencegah atau menahan seperti mencegah
seseorang dari melakukan kemungkaran atau mendapat balasan
seperti seseorang melakukan kebaikan untuk mendapat balasan
dari Allah. Al-Hisbah secara etimologis berarti menghitung,
berfikir, memberikan opini, pandangan dan lain-lain. Dari segi
istilah, AlMawardi (2000: 398) menjelaskan bahwa hisbah adalah
melaksanakan tugas keagamaan yaitu menyeru melakukan maaruf
(kebaikan) yang jelas ditinggalkan dan mencegah melakukan
kemungkaran yang jelas dilakukan.
Praktik hisbah sudah dilaksanakan sejak zaman Nabi dan
diikuti di masa khulafaur rasyidin dan pemerintahan Islam
selanjutnya. Rasulullah saw sendiri telah menjalankan fungsi
sebagai market supervisor atau al-Hisbah, yang kemudian dijadikan
52
acuan generasi selanjutnya, sebagai acuan tentang adanya peran
negara dalam mengatur pasar. Rasulullah sering melakukan
inspeksi ke pasar untuk mengecek harga dan mekanisme pasar.
Seringkali dalam inspeksinya beliau menemukan praktik bisnis
yang tidak jujur sehingga beliau menegurnya. Rasulullah bersabda,
Bukan termasuk golongan kami, orang yang menipu (Al-
Mawardi, 2000: 422). Hal itu mengindikasikan bahwa hisbah telah
ada sejak masa Rasulullah Saw., meskipun menurut Tim Pusat
Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (2008: 342), nama
al-Hisbah baru datang di masa kemudian.
Pelaksanaan hisbah dalam sistem pemerintahan dan
masyarakat dapat meningkatkan efisiensi dalam sistem
pemerintahan dan mampu menggambarkan transparansi
pemerintah terhadap penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi, di
samping itu berhasil menghapuskan penipuan dan bentuk
penyelewengan apapun dalam masyarakat (Razali, 2012)
Jika dilihat dari pengertian diatas, maka AlHisbah tidak hanya
berfungsi sebagai institusi yang mengawasi pasar saja (ekonomi)
tetapi juga untuk bidang hukum. Berdasarkan kajian Furqani
(2002:) beberapa fungsi al-Hisbah, adalah (1) Mengawasi
timbangan, ukuran, dan harga; (2) Mengawasi jualbeli terlarang,
praktek riba, maisir, gharar dan penipuan; (3) Mengawasi

53
kehalalan, kesehatan, dan kebersihan suatu komoditas; (4)
Pengaturan (tata letak) pasar; (5) Mengatasi persengketaan dan
ketidakadilan; (6) Melakukan intervensi pasar; (7) Memberikan
hukuman terhadap pelanggaran.
Landasan Al-Hisbah terdapat dalam Surat Ali Imran ayat 104;
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan
mencegah dari yang mungkar, merekalah orangorang yang
beruntung. Pengawasan dalam pandangan Islam dilakukan untuk
meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah, dan
membenarkan yang hak. Menurut Hafifudhin dan Tanjung (2003:
152) pengawasan dalam ajaran Islam terbagi dalam dua hal, yaitu:
Pertama, control yang berasal dari diri sendiri yang bersumber dari
tauhid dan keimanan kepada Allah SWT.
Seseorang yang yakin bahwa Allah mengawasi hambaNya,
maka ia akan bertindak hati-hati. Seperti yang dijelaskan dalam QS.
Al-Mujadalah ayat 7 Tidaklah engkau perhatikan bahwa Allah
mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada
pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya.
Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak
ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada
bersama mereka dimanapun mereka berada. Kemudian Dia akan

54
memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka
kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Kedua, sebuah pengawasan akan lebih efektif jika sistem
pengawasan tersebut juga dilakukan dari luar diri sendiri. Bisa
berasal dari pimpinan, yang menyangkut tugas yang didelegasikan,
kesesuaian penyelesaian dan perencanaannya, dan lain-lain. Hal ini
sesuai dengan Firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 105,
....Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya
serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada Allah yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.
Berdasarkan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa
pengawasan dapat dilakukan oleh diri sendiri dengan keimanan
akan kehadiran Allah yang Maha Mengawasi, oleh pemimpin/
penguasa dan oleh kaum muslimin baik secara langsung berupa
pengawasan oleh masyarakat, maupun tidak langsung dalam
bentuk peraturan dan ketentuan-ketentuan yang membatasi. Oleh
karena itu, menjaga moralitas, termasuk dalam kehidupan ekonomi
juga menjadi tanggung jawab negara.
Pembentukan lembaga hisbah dalam Islam dimaksudkan
untuk membantu orang supaya patuh mengikuti standar moralitas.
Dalam kegiatan ekonomi seperti di lembaga keuangan syariah atau

55
perusahaan bisnis, peran lembaga ini sangat penting karena melalui
fungsi pengawasan yang dilandasi oleh iman dan adanya sanksi,
akan terpelihara ekonomi yang jujur, adil dan berujung pada
perolehan keuntungan yang berkah.
Untuk menjalankan peran hisbah negara harus menunjuk
seseorang atau sekelompok orang untuk menjalankan hisbah
tersebut. Seseorang yang ditunjuk untuk mengelola hisbah disebut
al-muhtasib. Dia harus memiliki kualifikasi tertentu untuk
memastikan bahwa ia dapat memenuhi tugasnya sesuai dengan
hukum Islam. Kriteria yang paling penting untuk muhtasib adalah:
keihlasan dan ketidak berpihakan, ilmu pengetahuan dan
kebijaksanaan, di samping itu syarat adil, tegas, hati-hati dan tidak
cepat marah, Imam Al-Gazali mengatakan, Semua etika pengawas
bersumber pada tiga sifat dalam diri pengawas, yaitu ilmu, wara,
dan ahlak yang bagus. (Aliyah, 2004: 71) karena tujuan dari hisbah
adalah untuk melindungi anggota masyarakat dari penyimpangan,
melindungi iman mereka dan memastikan kesejahteraan
masyarakat di dunia sesuai ketentuan Allah. Oleh karena itu
domain hisbah pada dasarnya berhubungan dengan menjaga
hukum-hukum Allah terhadap pelanggaran, melindungi,
menghormati rakyat, dan memastikan keamanan masyarakat.
Selain itu, mencakup juga pemantauan pasar, dan lainnya. Dengan

56
kata lain, hisbah adalah mekanisme kontrol yang ditetapkan oleh
Islam untuk menjaga tatanan kehidupan sosial, sehingga setiap
orang terjamin keamanan dan pemenuhan kebutuhan dasarnya.
c. Pengawasan Dalam Konteks Ekonomi (Lembaga
Keuangan Syariah)
Jenis-jenis Lembaga Keuangan Syariah (LKS) terdiri dari LKS
berbentuk Bank dan LKS non Bank. Adapun LKS berbentuk
Bank yaitu:
1) Bank Umum Syariah/Perbankan Syariah
Pengaturan dan pengawasan bank diarahkan untuk
mengoptimalkan fungsi perbankan Indonesia agar tercipta sistem
perbankan yang sehat secara menyeluruh maupun individual, dan
mampu memelihara kepentingan masyarakat dengan baik,
berkembang secara wajar dan bermanfaat bagi perekonomian
nasional. 32
Secara umum bentuk pengawasan antara bank syariah dengan
bank umum konvensional hampir sama. Namun karena dalam
kegiatan usaha bank syariah harus berdasarkan prinsip syariah,
sehingga di bentuklah satu tim pengawas yang dapat memastikan
tingkat kepatuhan bank terhadap prinsip atau aturan syariah yang
dalam hal ini di lakukan oleh DPS. Dalam operasional bank

32http://fai.umsida.ac.id/tinymcpuk/gambar/file/Pengawasan%20Bank%20Sya

riah%20dan%20Perlindungan%20Konsumen.pdf
57
syariah terdapat 2 (dua) bentuk pengawasan. Pertama, pengawasan
dari sisi internal yang langsung di awasi oleh Komisaris, Direksi
perusahan dan Dewan Pengawas Syariah. Kedua, pengawasan
eksternal oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Pengawasan Internal. Sebagaimana yang disebutkan diatas,
pengawasan internal terhadap kegiatan usaha bank syariah
dilakukan oleh Komisaris, Direksi dan DPS. Berdasarkan UU No.
21 tahun 2008 Bab 5 Pasal 32 mengenai Dewan Pengawas Syariah,
di sebutkan bahwa :
a) Dewan Pengawas Syariah wajib dibentuk di Bank Syariahdan
Bank Umum Konvensional yang memiliki UUS.
b) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat
1 diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas
rekomendasi Majelis Ulama Indonesia.
c) Dewan Pengawas Syariah sebagaimana dimaksud pada ayat 1
bertugas memberikan nasihat dan saran kepada direksiserta
mengawasi kegiatan Bank agar sesuai dengan Prinsip
Syariah.
Tiga butir isi undang-undang diatas menyimpulkan bahwa
DPS sebagai bagian dari struktur organisasi bank syariah, diangkat
oleh RUPS berdasarkan rekomendasi dari Majelis Ulama
Indonesia. Hal ini berarti DPS memiliki kedudukan yang sama

58
dengan Komisaris dan Direksi karena proses pengangkata ketiga
nya berdasarkan RUPS. komisaris dan direksi melakukan
pengawasan secara umum terkait pengadaan kegiatan usaha bank
syariah. Adapun DPS dalam melakukan pengawasan memiliki
fungsi sebagai33 :
a) Mengawasi kegiatasn bank syariah agar sesuai dengan prinsip
syariah dalam hal pengembangan produk, pembuatan dan
pelaksanaan operasional bank, dan terkait penghimpunan dan
penyaluran dana nasabah.
b) Memberi nasihat dan saran kepada direksi terkait pengelolaan
bank syariah agar sesuai dengan prinsip syariah.
c) Menjadi wakil bank syariah dengan MUI dan meminta fatwa
atas produk serta wakil atas penyampaian laporan hasil
pengawasan DPS tehadap bank syariah setiap semester kepada
OJK.
Pengawasan Eksternal, dalam pengawasan eksternal Bank
Syariah di awasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Otoritas jasa
keuangan ini pada awalnya dibentuk untuk menggantikan peran
dan fungsi Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan
(Bapepam-LK) sebagai badan yang mengawasi Pasar Modal dan

33https://www.researchgate.net/profile/Reza_Perdana_Putra_Rachmat/publica

tion/258696933_Pertanggungjawaban_Dewan_Pengawas_Syariah_DPS/links/
02e7e528ced6a8219d000000.pdf?origin=publication_detail
59
Lembaga Keuangan Non Bank. Setelah resmi di dirikan maka
secara langsung tanggung jawab Bapepam-LK beralih ke OJK.
Pada akhir tahun 2013 OJK kembali menerima pengalihan
tanggung jawab dari Bank Indonesia dalam bentuk pengalihan
fungsi sebagai pengawas Perbankan Indonesia. Sebelumnya,
pengaturan dan pengawasan Perbankan Indonesia di lakukan
sepenuhnya oleh BI. Salah satu alasan di lakukan nya pengalihan
tugas ini karena BI diangggap belum maksimal dalam melakukan
pengawasan. Selain itu BI masih rentan terhadap intervensi dari
pihak luar baik pemerintah maupun pengusaha sehingga di
butuhkan lembaga yang independen yang diharapkan dapat
menjalankan fungsinya secara maksimaldan profesional serta
bebas dari intervensi pihak luar. Dalam melakukan pengawasan
bank, saat ini OJK melaksanakan sistem pengawasannya melalui
dua pendekatan34 :
a) Pengawasan berdasarkan kepatuhan (Compliance Based
Supervision), yaitu pemantauan kepatuhan bank terhadap
ketentuan yang tekait dengan operasi dan pengelolaan bank
dimasa lalu untuk memastikan bahwa bank di operasikan
dan di kelola sesuai dengan prinsip kehati-hatian.

34http://www.bi.go.id/id/publikasi/perbankan-dan-stabilitas/booklet-

bi/Documents/BPI%20Tahun%202014.pdf
60
b) Pengawasan Berdasarkan Risiko (Risk Based Supervision), yaitu
pengawasan bank yang menggunakan strategi dan
metodologi berdasarkan risiko yang memungkinkan
pengawas bank dapat mendeteksi risiko yang signifikan
secara dini dan mengambil tindakan pengawasan yang sesuai
dan tepat waktu.
c) Alih pengawasan yang diterima OJK ini sebatas pada hal
yang bersifat micro (micro prudential supervision) seperti
melakukan pengawasan terhadap kelembagaan, kesehatan,
aspek kehati-hatian dan juga melakukan pemeriksaan bank.
Adapun lingkup pengawasan secara macro (macro
prudential) seperti kebijakan moneter dan penanganan krisis
masih menjadi fungsi dan tanggung jawab Bank Indonesia.
Lembaga Keuangan Syariah Non Bank dirinci sebagai berikut:
1) Baitul Mal wa Tamwil
Baitul Mal wa Tamwil merupakan slah satu bentuk lembaga
keuangan syariah yang kegiatan usaha hampir sama dengan Bank
yakni melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat
kemudian menyalurkanya dalam bentuk pembiayaan. Sebagai
lembaga yang menghimpun dana maka BMT berkewajiban untuk
di awasi oleh Regulator resmi agar tidak melakukan pelanggaran
baik pelanggaran terhadap regulasi pemerintah ataupun

61
pelanggaran dalam pelaksanaan prinsip-prinsip syariah.
berdasarkan UU No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian, dalam
pasal 1 butir 6 dijelaskan bahwa pengawas merupakan perangkat
organisasi koperasi yang bertugas mengawasi dan memberikan
nasihat kepada pengurus. Selanjutnya dalam pasal 48 mengenai
pengangkatan, Pengawas dipilih dari dan oleh Rapat Anggota.
Adapun tugas dari pengawas ini di atur dalam pasal 50 yaitu
melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan
pengawasan kegiatan pengelolaan koperasi yang dilakukan oleh
pengurus serta berkewajiban membuat laporan tertulis mengenai
hasil pengawasannya yang nanti akan dipertanggung jawabkan di
Rapat Anggota. Sebagaimana lembaga keuangan syariah lainnya,
dalam memenuhi kepatuhan terhadap syariah, BMT di awasi oleh
DPS. Pengawas syariah ini di bentuk untuk dapat memastikan
sejauh mana proses kegiatan usaha organisasi, aktivitas keuangan
dan manajemen orgasasi patuh dalam penerapan sturan atau
prinsip syariah yang menjdai subtansi atas kegiatan usaha nya.
Dalam skala yang lebih tinggi, sebagai lembaga yang berbadan
hukum koperasi BMT harus taat pada aturan hukum yang termuat
dalam UU No 17 tahun 2012 tentang Perkoperasian. Karena setiap
pendirian koperasi harus berdasarkan ijin dari kementrian
Koperasi dan UKM maka secara tidak langsung BMT mendapat

62
Pengawasan dan Pembinaan pula dari kementrian terkait. Selain
itu, OJK yang berperan sebagai lembaga regulasi juga memiliki
peran yang tidak bisa lepas dari kegiatan usaha BMT sebab secara
hukum OJK bertanggung jawab atas pengaturan dan pengawasan
lembaga Keuangan di Indonesia.
2) Asuransi Syariah
Pengaturan dan pengawasan kegiatan usaha perasuransian
pada umumnya dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Mengenai sistem pengawasan asuransi syariah, dalam Peraturan
OJK no 2 tahun 2014 yang terdapat dalam pasal 40 di sebutkan
bahwa perusahaan asuransi yang menjalankan kegiataan usahanya
berdasarkan prinsip syariah wajib memiliki Dewan pengawas
syariah. diamana DPS tersebut di angkat oleh Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) atas rekomendasi dari Majelis Ulama
Indonesia (MUI). Pengangkatan DPS ini dimaksudkan sebagai
pengawas internal yang keberadaannya di harapkan mampu
mengontrol sistem perasuransian berprinsip syariah dalam hal
manajemen serta jenis produk asuransi agar tetap dalam koridor
syariah.
3) Pegadaian Syariah
Perusahaan Perseroan pegadaian syariah merupakan
perusahaan yang bergerak dalam bidang keuangan dengan bentuk

63
Badan Usaha Milik Negara. Sebagai perusahaan yang dimiliki oleh
negara ia harus tunduk terhadap peraturan yang mengatur tentang
PERUM. Dalam menjalankan kegiatan usahanya yang berdasarkan
syariah, pegadaian harus mengangkat pengawas yang dapat
memastikan tercapainya prinsip-prinsip syariah, dalam hal ini
Dewan Pengawas Syariah. dewan pengawas yang di angkat
minimal satu. Bagi perusahaan pegadaian yang bentuk badan
hukumnya koperasi, pengangkatan DPS selain di angkat melalui
RUPS juga dapat dilakukan setelah memperoleh sertifikasi
pelatihan DPS dari Dewan SyariahNsional Majelis Ulama
Indonesia35. Dewan syariah yang diangkat boleh merangkap
jabatan, artinya dewan syariah yang ditunjuk tidak hanya sebagai
DPS di lembaga pegadaian tersebut namun juga menjabat sebagai
pengawas syariah di lembaga keuangan syariah lainnya. Selain itu
DPS mempunyai tugas mengawasi dan memberikan nasihat
kepada direksi agar kegiatan usaha nya tetap memegang prinsip
syariah misalnya mengawasi produk yang dibuat oleh pegadaian,
memantau aktivitas manajemen dan juga usaha pegadaian dalam
memasarkan produknya.

35Salinan
Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 31/POJK.05/2016 tentang
Usaha Pergadaian pasal 29.
64
B. Dewan Pengawas Syariah (DPS)
a. DPS Dalam Pandangan Para Ahli
Dalam konsideran Keputusan Mahkamah Agung Republik
Indonesia Nomor KMA/080/SK/VII/2006 huruf (a) disebutkan
bahwa pengawasan merupakan salah satu fungsi pokok
manajemen untuk menjaga dan mengendalikan agar tugas-tugas
yang harus dilaksanakan dapat berjalan sebagaimana mestinya
sesuai dengan rencana dan aturan yang berlaku, maka terbitlah
surat keputusan tersebut dimaksudkan sebagai Pedoman
Pelaksanaan Pengawasan di Lingkungan Lembaga Peradilan.
Lahirnya Pedoman Pelaksanaan Pengawasan tersebut
dimaksudkan untuk:
a) Memperoleh informasi apakah penyelenggaraan teknis
peradilan pengelolaan administrasi peradilan, dan
pelaksanaan tugas umum peradilan telah dilaksanakan telah
sesuai dengan rencanaa dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
b) Memperoleh umpan balik bagi kebijaksanaan, perencanaan
dan pelaksanaan tugas-tugas peradilaan.
c) Mencegah terjadinya penyimpangan, masalah administrasi,
dan tidak keefisienan penyelenggaraan peradilan.
d) Menilai kinerja.

65
Pengawasan dalam pandangan Islam dilakukan untuk
meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah, dan
membenarkan yang hak. Pengawasan (control) dalam ajaran Islam
(hukum syariah), paling tidak terbagi menjadi dua hal. Pertama,
kontrol yang bersasal dari diri sendiri yang bersumber dari tauhid
dan keimanan kepada Allah SWT. Kedua sebuah pengawasan
akan lebih efektif jika sistem pengawasan itu dapat terdiri atas
mekanisme pengawasan dari pemimpin yang berkaitan dengan
penyelesaian tugas yang telah didelegasikan, kesesuaian antara
penyelesaian tugas dan perencanaan tugas, dan lain-lain. Takwa
tidak mengenal tempat. Takwa bukan sekedar di masjid, bukan
sekedar diatas sajadah, namun juga ketika beraktivitas, ketika di
kantor, ketika di meja perundingan, dan ketika melakukan
berbagai aktivitas. Takwa semacam inilah yang mampu menjadi
kontrol yang paling efektif. Takwa seperti ini hanya mungkin
tercapai jika para manajer bersama-sama dengan karyawan
melakukan kegiatan-kegiatan ibadah secara intensif. Agar
peraturan perudang-undangan yang mengadopsi prinsip-prinsip
dapat dijalankan dengan baik, maka DSN-MUI perlu membentuk
DPS di setiap lembaga keuangan syariah.
Peran ulama melalui fatwa-fatwanya diperlukan dalam
melaksanakan prinsip- prinsip Islam di bidang ekonomi. Dalam

66
kegiatan ekonomi, khususnya di Lembaga Keuangan Syariah
keberadaan Dewan Pengawas Syariah adalah representasi dari
peran ulama dalam mengawasi pelaksanaan nilai-nilai syariah di
masyarakat.
Sejarah mengenal ulama bukan semata sebagai sosok
berilmu, melainkan juga sebagai penggerak dan motivator
masyarakat. Kualitas keilmuan para ulama telah mendorong
mereka untuk aktif membimbing masyarakat dalam menjalani
kehidupan sehari-hari. Terumuskannya system ekonomi Islam
secara konseptual, termasuk system perbankan syariah adalah
buah kerja keras para ulama.1
Para ulama yang berkompeten terhadap hukum syariah
memiliki fungsi dan peran yang besar dalam mengembangkan
perbankan syariah. Sebagai komitmennya dibentuklah Dewan
Pengawas Nasional (DSN) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS).
Lembaga ini dibentuk pada tahun 1999 secara resmi yang
merupakan hasil rekomendasi Lokakarya Reksadana Syariah
pada bulan juli tahun yang sama. Lembaga ini merupakan
lembaga otonom di bawah MUI dipimpin oleh Ketua Umum
MUI dan Sekretaris (ex-officio).2
Pengertian DPS menurut Abu Moamer 3 adalah Lembaga
yang digunakan untuk memastikan bahwa bank syariah bekerja

67
dalam batas-batas hukum Islam, mengetahui kerangka dan
batasan syariah, dan menginvestasikan atau meningkatkan
kapasitas di dalam batas-batas ini. Sementara itu, AAOIFI
Governance Standard (Organisasi Akuntansi dan Audit Untuk
Institusi Keuangan Syariah) mendefinisikan DPS sebagai
lembaga independen yang terdiri dari ahli fiqh muamalah.
Namun DPS bisa memasukkan anggota selain ahli fiqh
muamalah, tapi ia harus ahli dalam bidang IFI (Islamic Financial
Institution) dan memiliki pengetahuan tentang fiqh muamalah.
DPS dipercaya untuk memastikan agar bank syariah patuh pada
aturan dan prinsip Islam.
b. Hubungan Pengawasan Syariah dan DPS
1) Pengawasan Syariah Secara Umum
Pada dasarnya perbankan syariah memiliki fungsi yang sama
seperti perbankan konvensional, yaitu menghasilkan keuntungan
dengan cara meminjamkan modal, menyimpan dana, membiayai
kegiatan usaha, atau kegiatan lain yang sesuai36. Namun yang
menjadi pembeda dari perbankan syariah dan konvensional yaitu
prinsip yang dianut oleh sistem masing-masing bank.

36Hidayati,M 2008, DewanPengawasSyariahdalamSistemHukumPerbankan:


StudiTentangPengawasan Bank BerlandaskanPadaprinsip-Prinsip Islam, LexJurnalica
Vol.6, No.1, hal.64
68
Perbankan syariah berlandaskan hukum Islam yaitu Al-quran
dan Al Hadits37. Sistem perbankan konvensional yang bertumpu
pada sistem hutang piutang, memiliki perbedaan yang sangat
kentara dengan perbankan syariah yang beroperasi berdasarkan
prinsip bagi hasil. Prinsip bagi hasil ini dapat memberikan
keuntungan dengan adil bagi masyarakat dan bank, serta
menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang
beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan
dalam berproduksi, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam
bertransaksi keuangan.
Pada kegiatan operasionalnya, bank syariah harus mengikuti
ketentuan-ketentuan hukum Islam atau yang biasa disebut dengan
sharia compliance (kepatuhan syariah). Maka, bank syariah
membutuhkan pengawasan yang efektif dan komprehensif agar
terwujudnya sistem perbankan syariah yang berfungsi lebih efisien,
sehat, berkembang, dan mampu bersaing secara global.
Pengawasan syariah menurut Shehata (1991) yaitu proses
untuk meninjau, memeriksa, serta menganalisis kerja dan kegiatan
operasional suatu institusi, individu atau kelompok mengenai
kepatuhannya pada ketentuan syariah.

37Rochaeli,
I 2011, FungsidanPerananDewanPengawasSyariah di Unit Usaha Syariah
PT. Bank X DikaitkandenganPelaksanaan Good Corporate Governance (GCG)
69
Keberadaan pengawas pada bank syariah yang berguna untuk
memeriksa tingkat kepatuhan bank pada hukum syariah juga
berwenang untuk meluruskan apabila terjadi penyimpangan pada
kegiatan operasional. Ketentuan dari pengawasan syariah diatur
pada UU No. 10 tahun 1998 dimana disebutkan bahwa bank
syariah harus memiliki pengawas syariah berupa DPS.
Seiring dengan adanya pengawasan pada bank syariah, diyakini
kepercayaan masyarakat kepada bank syariah juga akan meningkat.
Masyarakat akan percaya karena keterlibatan DPS pada aktivitas
perbankan.
2) Pengawasan Syariah dan Dewan Pengawas Syariah
Dalam UU No. 10 tahun 1998 telah dijelaskan bahwa setiap
perbankan syariah harus menunjuk DPS sebagai pengawas.
Adanya ketentuan hukum ini membuat DPS menjadi pengawas
utama pada sektor keuangan perbankan, walaupun banyak
alternative pengawas lainnya seperti pengawas syariah (sharia
advisor) dan perusahaan konsultan syariah (sharia consulting firm)38.
DPS sebagai pengawas, atau dapat disebut dengan auditor
syariah, tentu harus bersifat independen dan bebas untuk

38Garas, S. dan C. Pierce 2010, Sharia Supervision on Islamic Financial


Institutions, Journal of Financial Regulation and Compliance Vol. 18, No.4, hal.
390
70
beropini.39Dalam praktiknya DPS ditunjuk atas keputusan Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS) dan berada pada satu tingkat
dengan dewan direksi. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir
adanya intervensi dari dewan direksi atas opini yang dikeluarkan
oleh DPS.
Luasnya ruang lingkup pengawasan yang harus dilakukan oleh
DPS, menyebabkan kebutuhan akan skala prioritas. Draft
kontrak, fatwa DSN dan pelaksanaan kontrak merupakan
beberapa contoh aspek yang memerlukan pengawasan, namun hal
yang bersifat penyimpangan pada hukum syariah tentunya
menjadi perhatian utama DPS.
Untuk mendapatkan hasil maksimal atas pemeriksaan
kepatuhan syariah pada perbankan, DPS tentu tidak dapat
bekerja sendiri. Fungsi internal audit, fungsi kepatuhan dan fungsi
legal dapat membantu DPS untuk menentukan standar
operasional pengawasan.
DPS tidak hanya memiliki hubungan dengan pengawasan
syariah pada perbankan, namun juga bertanggung jawab untuk
mengembang-tumbuhkan institusi yang mereka awasi.

39 Islamic-banking.com
71
c. Model DPS di Indonesia
1) Perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia
Perkembangan industri keuangan syariah yang saat ini tengah
berkembang. Diketahui dengan telah banyaknya berdiri indutri
keuangan syariah seperti perbankan syariah, asuransi syariah,
pegadaian syariah dan industri keuangan lainnya. Menurut data
Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bank umum syariah hingga
Agustus 2016 berjumlah 12 bank. Sedangkan Unit Usaha Syariah
(UUS) berjumlah 22 dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS)
berjumlah 165. Menurut data OJK, pada Juli 2016 jumlah
perusahaan asuransi, unit asuransi dan reasuransi syariah 56
perusahaan. Berikut ini adalah grafik jumlah perusahaan asuransi
syariah di Indonesia :
Diagram Pertumbuhan Perusahaan Asuransi Syariah
24 23 23 24
25 20 20 20
18 18 19
20 17 17 17 17
15
10 5 54
32 3 32 3 32 3 32 3 32 3 3 3
5 0 0 0 0 0 0 12
0
2010 2011 2012 2013 2014 2015 Jul-16

Asuransi Jiwa Syariah Asuransi Umum Syariah


Asuransi Jiwa- Unit Syariah Asuransi Umum- Unit Syariah
Reasuransi Syariah Reasuransi Syariah-Unit Syariah

72
Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa sampai Juli
2016 jumlah asuransi jiwa syariah 5 perusahaan. Asuransi umum
syariah bertambah 1 menjadi 4 perusahaan. Perusahaan Asuransi
jiwa unit syariah bertambah 1 dari 19 perusahaan menjadi 20
perusahaan. Begitu pula dengan Asuransi umum unit syariah
menjadi 24 perusahaan. Sedangkan 1 perusahaan reasuransi unit
syariah meningkat menjadi full syariah.
Sedangkan perusahaan modal ventura berjumlah 6 yang terdiri
dari 4 modal ventura syariah dan 2 dalam bentuk unit usaha
syariah. Sedangkan Jumlah Dana Pensiun pada Agustus 2016
berjumlah 253 yang terdiri dari Dana Pensiun Pemberi Kerja
Program Pensiun Manfaat Pasti (DPPK PPMP) berjumlah 185,
Dana Pensiun Pemberi Kerja Program Pensiun Iuran Pasti
(DPPK PPIP) berjumlah 43 dan Dana Pensiun Lembaga
Keuangan (DPLK) berjumlah 25.
Semakin berkembangnya industri keuangan syariah di
Indonesia, mengharuskan adanya pengawasan terhadap industri
syariah tersebut. Tujuan dilakukan pengawasan untuk memastikan
bahwa industri keuangan syariah telah menjalankan usahanya
sesuai dengan prinsip syarih yang ditetapkan. Sehingga model
pengawas syariah di Indonesia perlu di bentuk.

73
2) Model Pengawasan Syariah Level Mikro
Menurut Algould dan Lewis (2001) dalam Baehaqi (2014)
menjelaskan bahwa corporate governance memiliki peran penting pada
industri perbankan syariah untuk mewujudkan kepatuhan terhadap
prinsip syariah. Pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG)
dalam industri keuangan syariah berbeda dengan pelaksanaan
GCG pada industri keuangan konvensional. Perbedaan tersebut
terletak pada keharusan industri keuangan syariah untuk mematuhi
prinsip-prinsip syariah (sharia compliance) (Baehaqi, 2014).
Pelaksanaan pengawasan tersebut perlu dilakukan oleh badan
independen. Sehingga tidak ada pihak yang dapat mengintervensi
pengawasan tersebut.
Perbedaan yang sangat identik antara lembaga keuangan
syariah dan konvensional adalah keberadaan Dewan Pengawas
Syariah (DPS). DPS merupakan pengawas syariah tingkat mikro.
DPS merupakan lembaga independen yang diberi amanah oleh
DSN untuk mengawasi kesesuaian operasional dan praktik
lembaga keuangan syariah terhadap kepatuhan syariah (Umam,
2015). DPS memiliki fungsi dalam menjamin pemenuhan prinsip
syariah pada kegiatan usaha lembaga keuangan syariah (Baehaqi,
2014). Berdasarkan hasil penelitian Baehaqi (2014) fungsi
pengawasan yang dijalan oleh DPS melalui pendekatan
kelembagaan dilihat dari 6 aspek yaitu:
74
a) Rangkap Jabatan
Menurut penelitian Baehaqi (2014) DPS pada perbankan
syariah dapat rangkap jabatan pada LKS lainnya. Sedangkan
jumlah anggota DPS minimal 2 anggota dan maksimal 5
anggota(Grassa, 2015). Semakin banyak DPS yang rangkap jabatan
maka kemungkinan besar dapat terjadi penurunan kinerja. Hal
tersebut disebabkan tidak fokusnya DPS pada industri keuangan
tersebut.
Selain itu banyak pula anggota DSN dan Majelis Ulama
Indonesia (MUI) yang merangkap sebagai DPS (Baehaqi, 2014).
Hal tesebut seharusnya tidak terjadi, sebab DSN dan MUI
merupakan lembaga yang membuat regulasi sedangkan DPS
merupakan pelaksana. Hal ini dapat menyebabkan tidak
kecurangan dan tidak independen.

b) Lama Jabatan
Menurut penelitian Grassa (2015) masa jabatan DPS selama 2
tahun dan dapat diangkat lagi. Namun dalam penelitian Baehaqi
(2014) menjelaskan bahwa masih banyak DPS yang menjabat di
perbankan syariah lebih dari ketentuan 5 tahun berturut-turut. Hal
tersebut dapat menimbulkan konflik kepentingan.
c) Independensi

75
DPS adalah badan independen pada bank (Anwar, 2010).
DPS di Indonesia bertindak sebagai pengawas bukan hanya
sebagai penasihat. Pengawasan yang dilakukan oleh DPS
mengharuskan DPS untuk memberikan pendapat mengenai
kepatuhan LKS dalam menjalankan prinsip-prinsip syariah. DPS
sebagai pemberi jasa belum ditunjang dengan adanya kode etik
profesi yang tetap menjaganya agar dapat bertindak secara objektif
dan independen (Baehaqi, 2014). Menurut Baehaqi, DPS termasuk
dalam pihak terafiliasi dimana pemberi remunerasi dalam hal ini
bank syariah memiliki kekuatan untuk mempengaruhi pendapat
dan keputusan yang diambil oleh DPS sebagai pihak penerima
remunerasi.
d) Kompetensi
Menurut Baehaqi pemilihan anggota DPS di Indonesia masih
dipengaruhi oleh ketokohan atau figuritas dari calon bukan
berdasarkan kompetensi.Sehingga masih banyak calon DPS yang
lolos dalam proses penyeleksian meskipun calon DPS belum
berkompeten. DPS yang menguasai prosedur dan mekanisme
pengawasan dan pemeriksaan secara teknis masih sedikit terutama
terkait data-data kuantitatif (Baehaqi, 2014). Kualifikasi
kompetensi yang diperlukan DPS antara lain pemahaman fiqh
muamalah, perbankan dan keuangan (Grassa, 2015). Sehingga

76
seorang DPS harus memiliki sertifkasi guna menunjukkan bahwa
DPS tersebut berkompeten menguasai pemahaman mengenai
hukum-hukum Islam, fiqh muamalah, pengetahuan industri
keuangan dan keuangan.
e) Kehadiran dan Keaktifan
Masih banyak DPS yang tidak memenuhi kehadiran minimal
dalam rapat rutin selama setahun dengan berbagai alasan. Anggota
DPS yang aktif dalam suatu bank syariah jumlahnya sedikit dan
umumnya masih berusia muda sedangkan sisanya memiliki
kesibukan yang padat atau karena faktor usia dan kesehatan
(Baehaqi, 2014). Sehingga perlu dibuatkan sanksi bagi DPS yang
tidak memenuhi kehadiran minimal dalam rapat rutin. Selain itu
perlu dibuatkan laporan dokumentasi atas kegiatan yang DPS
lakukan. Hal tersebut dapat dijadikan sebagai internal control dan
tolak ukur kinerja DPS.
f) Praktek Pengawasan DPS
Menurut Baehaqi (2014) komunikasi dan koordinasi antara
DPS dengan divisi kepatuhan dan audit intern serta audit eksternal
masih lemah sebatas keikutsertaan dalam rapat. Hal tersebut dapat
berpeluang menimbukan kecurangan dalam pembuatan suatu
produk. Sehingga internal controll terhadap pengawasan DPS perlu
ditingkatkan lagi.

77
3) Model Pengawasan Syariah Level Makro
Perkembangan lembaga keuangan syariah dan adanya DPS
disetiap lembaga keuangan memerlukan adanya DSN. Tujuan
didirikannya DSN adalah untuk membuat fatwa guna menyatukan
persepsi dalam penanganan dari masing-masing DPS yang ada
dilembaga keuangan syariah. DSN merupakan pengawas syariah di
tingkat makro. DSN diangkat oleh Majelis Ulama Indonesia
(MUI).
Menurut Baehaqi (2014) banyak anggota DSN dan MUI
yang merangkap jabatan sebagai DPS. Namun DPS merupakan
lembaga yang berada dibawah DSN dan sebagai pihak pelaksana
atas fatwa yang telah dibuat oleh DSN. DPS juga harus
memberikan laporan kepada DSN mengenai lembaga keuangan
yang diawasi.
Lama jabatan seorang DSN menurut Grassa (2015) selama
2 tahun dan dapat diangkat kembali dala 2 periode. Seorang yang
terpilih menjadi DSN harus memenuhi kompetensi yang
ditetapkan. Kualifikasi kompetensi yang harus dimiliki oleh
seorang DSN antara lain pemahaman syariah, perbankan syariah,
fiqh muamalah, dan hukum (Grassa, 2015).
Mekanisme kerja DSN antara lain DPS mengesahkan
rancangan fatwa yang diusulkan oleh Badan Pelaksana Harian
DSN. DSN melakukan rapat pleno paling tidak satu kali dalam tiga
78
bulan, serta bila diperlukan. Selain itu setiap tahun DSN harus
membuat suatu pernyataan yang dimuat dalam laporan tahunan
bahwa lembaga keuangan syariah yang bersangkutan memenuhi
ketentuan syariah sesuai dengan fatwa yang dikeluarkan oleh
Dewan Syariah Nasional.
Tugas Dewan Syariah Nasional yaitu :
a) Menumbuh kembangkan penerapan nilai-nilai syariah
dalam kegiatan perekonomian pada umumnya dan
keuangan pada khususnya.
b) Mengeluarkan fatwa atas jenis-jenis kegiatan keuangan.
c) Mengeluarkan fatwa atas produk dan jasa keuangan
syariah.
d) Mengawasi penerapan fatwa yang telah dikeluarkan.
Sedangkan wewenang Dewan Syariah Nasional yaitu :
1) Mengeluarkan fatwa yang mengikat DPS dimasing-masing
lembaga keuangan syariah dan menjadi dasar tindakan
hukum pihak terkait.
2) Mengeluarkan fatwa yang menjadi landasan bagi
ketentuan/peraturan yang dikeluarkan oleh instansi yang
berwenang, seperti Departemen Keuangan dan Bank
Indonesia.

79
3) Memberikan rekomendasi dan/atau mencabut rekomendasi
nama-nama yang akan duduk sebagai Dewan Pengawas
Syariah pada suatu lembaga keuangan syariah.
4) Mengundang para ahli untuk menjelaskan suatu masalah
yang diperlukan dalam pembahasan ekonomi syariah,
termasuk otoritas moneter/lembaga keuangan dalam
maupun luar negeri.
5) Memberikan peringatan kepada lembaga keuangan syariah
untuk menghentikan penyimpangan dari fatwa yang telah
dikeluarkan oleh DSN.
6) Mengusulkan kepada instansi yang berwenang untuk
mengambil tindakan apabila peringatan tidak diindahkan.
d. Fungsi DPS
DPS adalah suatu badan yang diberi wewenang untuk
melakukan pengawasan atau melihat secara dekat aktivitas lembaga
keuangan syariah, tujuannya agar lembaga tersebut senantiasa
mengikuti aturan dan prinsip-prinsip syariah. Menurut (Gharas,
2010) fungsi DPS dapat di klasifikasikan ke dalam fungsi
pengawasan dan fungsi konsultasi. Adapun fungsi pengawasan
terdiri dari40:

40Samy Nathan Garas, Sharia supervision of Islamic financial institutions, Journal of


Financial Regulatioan and Compliance, Volume 18 No. 4, 2010, hal. 394
80
a. Menerbitkan fatwa dan keputusan sebelum pelaksanaan
transaksi.
b. Menyetujui produk maupun kontrak baru.
c. Melakukan audit atas pelaksanaan prosedur produk baru
serta bekerjasama dengan auditor internal syariah.
d. Melakukan audit atas laporan keuangan pada akhir tahun.
e. Memeriksa serta memastikan pembagian laba bersih antara
pemegang saham dan investasi nasabah berasal dari
investasi halal.
Sedangkan fungsi konsultasi meliputi:
a. Memberikan solusi kepatuhan syariat selama pelaksanaan
kontrak.
b. Menjelaskan cara perhitungan zakat yang mana 2,5% dari
kekayaan tahunan individu yang disumbangkan untuk
amal.
c. Memberikan bimbingan kepada manajemen dalam
mengalokasikan pendapatan non-halal untuk tujuan amal.
d. Melakukan workshop untuk manajemen dan klien.

Dalam Keputusan Dewan Pengawas Syariah Nasional Mejelis


Ulama Indonesia No. 01 Tahun 2000 tentang Pedoman Dasar
Dewan Pengawas-Majelis Ulama Indonesia (PD DSN-MUI)
tercantum tugas dan fungsi DPS. Tugas DPS adalah untuk
81
mengawasi kegiatan usaha lembaga keuangan syariah agar sesuai
dengan ketentuan dan prinsip syariah yang telah difatwakan oleh
DSN, sementara fungsi DPS adalah sebagai berikut:
a. Sebagai penasihat dan pemberi saran keapada direksi,
pimpinan unit usaha syariah dan pimpinan kantor cabang
syariah mengenai hal-hal yang terkait dengan aspek syariah.
b. Sebagai mediator antara lembaga keuangan syariah dengan
Dewan Syariah Nasional (DSN) dalam mengkomunikasikan
usul dan saran pengembangan produk dan jasa dari LKS yang
memerlukan kajian dan fatwa dari DSN.
Di Indonesia, DPS mempunyai peranan yang sangat penting
dalam LKS yaitu:
a. Membuat persetujuan garis panduan operasional produk LKS
tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah disusun oleh
DSN.
b. Membuat pernyataan secara berkala pada setiap tahun tentang
LKS yang berada di pengawasannya bahwa LKS yang
diawasinya berjalan sesuai dengan ketentuan syariah. Dalam
laporan tahunan (annual report) institusi syariah, maka laporan
dari DPS harus dibuat dengan jelas.
c. DPS wajib membuat laporan tentang perkembangan dan
aplikasi sistem keuangan syariah (Islam) di institusi keuangan

82
syariah khususnya bank syariah yang berada dalam
pengawasannya, sekurang-kurangnnya enam bulan sekali.
d. DPS juga berkewajiban meneliti dan membuat rekomendasi
jika ada inovasi produk-produk baru dari LKS yang
diawasinya. Dewan inilah yang melakukan pengkajian awal
sebelum produk yang baru dari LKS tersebut diusulkan,
diteliti kembali dan difatwakan oleh DSN.
e. Membantu sosialisasi perbankan/institusi keuangan syariah
kepada masyarakat.
f. Memberikan masukan (input) bagi pengembangan dan
kemajuan institusi kewangan syariah.41
DPS merupakan perpanjangan tangan dari DSN yang secara
langsung mengawasi institusi keuangan syariah dari dekat serta
merealisasikan fatwa-fatwa yang telah diputuskan oleh DSN.42
DPS berkewajiban untuk melaporkan hasil pengawasan setiap
tahunnya (annual report). Apabila LKS tersebut telah berjalan sesuai
dengan syariah, maka akan dinyatakan demikian dalam annual
report, demikian juga sebaliknya, DPS juga harus melaporkan

41 Nikmah Rahmawati, Peran dan Fungsi Dewan Pengawas Syariah (Sharia


Supervisory Board) dalam Perbankan Syariah Di Indonesia, ditulis dalam jurnal
Eksyar, Vol. 01 No. 01, Maret 2014.
42 Ibid

83
secara konkrit apabila LKS telah melanggar aturan dan prinsip
syariah Islam atau fatwa-fatwa yang telah dibuat oleh DSN.
Mengingat tugas, peran dan fungsi dari DPS sangat penting
maka orang yang menjadi anggota DPS seharusnya memiliki
kompetensi di bidang akademik yaitu dalam bidang syariah (Islam)
khususnya fiqh muamalah dan juga memahami dasar ilmu
ekonomi dan keuangan. Hal ini masukkan agar fungsi dan peran
DPS dapat ditingkatkan pada masa yang akan datang.
DPS tidak terlibat secara langsung dalam pelaksanaan
manajemen LKS, karena hal ini sudah menjadi tanggungjawab
langsung di bawah wewenang direksi suatu LKS, namun DPS
berhak memberikan masukan (in-put) kepada pelaksana lembaga
tersebut. Masih banyak lembaga-lembaga keuangan syariah,
misalkan bank syariah yang belum memanfaatkan secara maksimal
peran dan fungsi DPS di lembaganya, namun disisi lain
peningkatan profesioanalisme anggota DPS dalam mengemban
amanah ummat masih dirasakan belum maksimal. Diharapkan
dimasa yang akan datang DPS benar-benar menjadi suatu badan
yang benar-benar dapat dioptimalkan peran dan fungsinya bagi
pengembangan lembaga keuangan syariah.

84
e. Tugas dan Wewenang DPS Secara Umum
Institusi keuangan syariah hendaknya memiliki Dewan
Pengawas Syariah (DPS) untuk mengevaluasi pemenuhan shariah
compliance dalam aktivitasnya. Grais dan Pallegrini (2006)43
mengatakan, idealnya seorang DPS memiliki kemampuan yang
integratif antara syariah dan bisnis industri kontemporer.
Realitanya, sampai saat ini di Indonesia, DPS masih terdiri dari
para ulama yang memiliki kompetensi dalam bidang syariah saja.
Kedudukan dan fungsi DPS secara sederhana hanya diatur dalam
salah satu bagian dalam surat keputusan yang dikeluarkan oleh
Majelis Ulama Indonesia (MUI) berkenaan tentang susunan
pengurus DSN-MUI.
Dalam lembaga formal seperti DPS dan DSN peran ulama
dituntut lebih dinamis dan proaktif dengan mengacu kepada
peraturan yang sudah ada. Peran DPS dan DSN bukan hanya
mengawasi operasional lembaga keuangan syariah saja, tetapi
memiliki peran yang lebih besar lagi yaitu turut mendorong
tumbuh kembangnya ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.
Selain sebagai pengawas, DPS juga berperan sebagai Advisor, yaitu

43
Sepky Mardian, Auditor Syariah: Lulusan Syariah atau Lulusan Akuntansi, Koordinat
Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta, Volume XIII, No. 1,
April 2013, hlm. 179-198, ISSN 1411-6154

85
pemberi nasehat, inspirasi, pemikiran, saran serta konsultasi untuk
pengembangan produk dan jasa yang inovatif untuk persaingan
global. Sebagai Marketer, yaitu menjadi mitra strategis untuk
peningkatan kuantitas dan kualitas industri LKS melalui
komunikasi massa untuk memberikan motivasi, penjelasan dan
edukasi publik sebagai penyiapan SDM, sosialisasi, community and
networking building dan peran strategis lainnya dalam bentuk
hubungan kemasyarakatan (public relationship). Sebagai Supporter,
yaitu pemberi berbagai dudungan baik networking, pemikiran,
motivasi, doa dan lain-lain untuk pengembangan perbankan dan
ekonomi syariah. Sebagai Player, yaitu sebagai pemain dan pelaku
ekonomi syariah baik sebagai pemilik, pengelola, nasabah
penyimpan/investor maupun mitra/nasabah penyaluran dan
pembiayaan.44
Menurut Dubai Islamic Banking, tugas penting anggota DPS
ialah sebagaimana dipaparkan dibawah ini :45
a. DPS adalah seorang ahli (pakar) yang menjadi sumber dan
rujukan dalam penerapan prinsip-prinsip syariah termasuk
sumber rujukan fatwa.

44
Neneng Nurhasanah, Optimalisasi Peran Dewan Pengawas Syariah (DPS) di Lembaga
Keuangan Syariah, Jurnal Syiar Hukum, Vol. XIII No. 3, November 2011, hlm. 223
45Moh. Jatim, S.Ag., M.H.I., Tugas Dan Fungsi Dewan Pengawas Syariah (DPS) Pada
Perbankan Syariah (Dalam Meneliti Bentuk-Bentuk Akad)
86
b. DPS mengawasi pengembangan semua produk untuk
memastikan tidak adanya fitur yang melanggar syariah
c. DPS menganalisa segala situasi yang belum pernah terjadi
sebelumnya yang tidak didasari fatwa ditransaksi perbankan
untuk memastikan kepatuhan dan kesesuaiannya kepada
syariah.
d. DPS menganalisa segala kontrak dan perjanjian mengenai
transaksi-transaksi di bank syariah untuk memastikan
kepatuhan kepada syariah.
e. DPS memastikan koreksi pelanggaran dengan segera (jika ada)
untuk mematuhi syariah. Jika ada pelanggaran, anggota DPS
harus mengkoreksi penyimpangan itu dengan segera agar
disesuaikan dengan prinsip syariah.
f. DPS memberikan supervisi untuk program pelatihan syariah
bagi staf bank Islam.
g. DPS menyusun sebuah laporan tahunan tentang neraca bank
syariah tentang kepatuhannya kepada syariah. Dengan
pernyataan ini seorang DPS memastikan kesyariahan laporan
keuangan perbankan syariah.
h. DPS melakukan supervisi dalam pengembangan dan
penciptaan investasi yang sesuai syariah dan produk
pembiayaan yang inovatif.

87
Berdasarkan Keputusan DSN Nomor 02 Tahun 2000
Tentang Pedoman Rumah Tangga Dewan Syariah Nasional
Majelis Ulama Indonesia (PRT DSN MUI) pada pasal 4 mengenai
fungsi dan tugas DPS diantaranya, DPS pada setiap LKS
mempunyai tugas pokok sebagai berikut:46
a. Memberikan nasehat dan saran kepada direksi, pimpinan
unit usaha syariah dan pimpinan kantor cabang lembaga
keuangan syariah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
aspek syariah.
b. Melakukan pengawasan, baik secara aktif maupun secara
pasif, terutama dalam pelaksanaan fatwa DSN serta
memberikan pengarahan pengawasan atas produk/jasa dan
kegiatan usaha agar sesuai dengan prinsip syariah.
c. Sebagai mediator antara lembaga keuangan syariah dengan
DSN dalam mengkomunikasikan usul dan saran
pengembangan produk dan jasa dari lembaga keuangan
syariah yang memerlukan kajian dan fatwa dari DSN.
Tugas dan wewenang DPS di Bank Syariah secara lebih rinci
dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Sebagai penasehat dan pemberi saran kepada Direksi,
pimpinan Unit Usaha Syariah (UUS) dan pimpinan Kantor
46
Tim Penulis Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia Himpunan Fatwa Dewan
Syariah Nasional, Cetakan ke 2, (Jakarta: Pointermasa, 2003), h. 279.
88
Cabang Syariah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan
aspek syariah.
b. Sebagai mediator antara bank dengan DSN dalam
mengkomunikasikan usul dan saran pengembangan produk
dan jasa dari bank yang memerlukan kajian dan fatwa dari
DSN.
c. Sebagai perwakilan DSN yang ditempatkan pada bank. DPS
wajib melaporkan kegiatan usaha serta perkembangan bank
syariah yang diawasi kepada DSN sekurang-kurangnya satu
tahun.
d. DPS memeriksa buku laporan tahunan dan memberikan
pernyataan tentang kesesuaian syariah semua produk dan
operasional selama satu tahun berjalan.
Posisi DPS pada lembaga keuangan syariah dinilai sangat
strategis dalam menilai kebijakan operasional lebih dalam. Selaku
pengawas dan pemberi saran kepada manajemen bank (direksi)
DPS dapat mengarahkan agar produk yang dikeluarkan tidak
berorientasi terhadap motif meraup nasabah sebanyak-banyaknya
akan tetapi memikirkan kemaslahatan bagi para nasabah terkait
juga.
Dalam penyelesaian perselisihan yang sering ada dalam isi
akad lembaga keuangan syariah, DPS harus merekomendasikan

89
Pengadilan Agama sebagai lembaga peradilan untuk alternatif
penyelesaiaan perselisihan manakala tidak tercapai musyawarah
mufakat, namun hingga saat ini sebagian LKS tidak memasukkan
lembaga Peradilan Agama sebagai lembaga peradilan yang
menyelesaikan perselisihan, padahal menurut UU. No. 3 Tahun
2006 perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989
Tentang Peradilan Agama dan Undang-undang Nomor 21 Tahun
2008 Tentang Perbankan Syariah. Pengadilan Agama berwenang
menangani sengketa di perbankan syariah.
Dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang
Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang
Peradilan Agama memberikan kewenangan baru kepada
Pengadilan Agama, salah satunya yaitu menyelesaikan sengketa di
bidang perbankan syariah. Kewenangan menyelesaikan sengketa
ekonomi syariah sebelum diundangkan Undang-Undang Nomor 3
Tahun 2006 menjadi kewenangan dari Pengadilan Umum karena
perbankan syariah masih dianggap sebagai kegiatan bisnis/perdata
umum. Namun setelah diundangkan Undang-undang Nomor 3
Tahun 2006 kewenangan menyelesaikan sengketa di perbankan
syariah berpindah menjadi kewenangan Pengadilan Agama karena
perbankan syariah menjadi tertentu sebagaimana hal ini tertuang

90
dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang
Peradilan Agama47, berbunyi:
Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan
menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama
Islam di bidang: a. Perkawinan; b. Waris; c. Wasiat; d. Hibah; e. Wakaf; f.
Zakat; g. Infaq; h. Shadaqah dan i. Ekonomi Syariah.
Secara implisit, dalam Pasal 49 yang mengatur tentang
kewenangan absolut Pengadilan Agama (PA) tidak menyebutkan
perbankan syariah, namun hal ini tertuang dalam penjelasan Pasal
49 huruf i yang menyebutkan: yang dimaksud dengan ekonomi
syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan
menurut prinsip syariah: a. Bank Syariah; b. Lembaga keuangan
mikro syariah; c. Asuransi syariah; d. Reasuransi Syariah; e.
Reksadana Syariah; f. Obligasi Syariah dan surat berharga
berjangka menengah syariah; g. Sekuritas Syariah; h. Pembiayaan
Syariah; i. Pegadaian Syariah; j. Dana Pensiun lembaga keuangan
syariah; dan k. Bisnis Syariah.
Pada penjelasan Pasal tersebut telah disebutkan bahwa
ekonomi syariah merupakan salah satu bagian menjadi
kewenangan absolut Pengadilan Agama meliputi 11 bidang yang
salah satunya yaitu perbankan syariah. Oleh karena itu, jika terjadi

47Pasal 49 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Peradilan Agama beserta


penjelasannya
91
sengketa dalam perbankan syariah maka yang berhak untuk
menyelesaikan bukan lagi Pengadilan Umum melainkan Pengadilan
Agama. Hal ini berdasarkan asas Lex Specialis Derogat Lex Generalis.
Namun demikian dalam sengketa yang berkaitan dengan hak milik
atau sengketa keperdataan lain antara orang-orang yang beragama
Islam dan non Islam mengenai sengketa sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 49 undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 sangat
terkait dengan peradilan umum.48
Dengan demikian para pihak memang hendaknya secara tegas
mencantumkan dalam perjanjian yang dibuatnya mengenai
menyelesaikan sengketa ini. Akan lebih baik jika dalam hal
penyelesaian perselisihan/sengketa diselesaikan secara musyawarah
mufakat dan apabila hal itu mengalami kegagalan maka dapat
ditempuh melalui upaya mediasi perbankan, arbitrase syariah dan
melalui lembaga peradilan, khususnya lembaga Peradilan Agama
yang mempunyai kewenangan mutlak sebagaimana amanat
Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-undang
Nomor 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah.
f. Laporan Audit DPS
Setelah memahami penjelasan tentang tugas dan wewenang
DPS secara umum, maka kita perlu mengetahui bagaimana DPS

48
Abdul Ghofur Anshori, Pokok-Pokok Hukum Perjanjian Islam di Indonesia,
(Yogyakarta: Citra Media, 2006), h. 145.
92
melakukan pelaporan dari hasil pengawasannya. Adakalanya
sebelum masuk kedalam penjelasan mengenai laporan DPS, perlu
diketahui bahwa pedoman pengawasan maupun tata cara
penyampaian laporan hasil pengawasan telah diatur dalam Surat
Edaran No. 8/19/DPBS tanggal 24 Agustus 2006 Perihal
Pedoman Pengawasan Syariah dan Tata Cara Pelaporan Hasil
Pengawasan bagi DPS.
Laporan hasil pengawasan Syariah itu sendiri, setidaknya harus
memuat beberapa hal49, secara umum dirinci sebagai berikut:
a. Hasil pengawasan atas kesesuaian kegiatan operasional bank
terhadap fatwa yang dikeluarkan oleh DSN-MUI.
b. Opini syariah atas pedoman operasional dan produk yang
dikeluarkan oleh bank.
c. Hasil kajian atas produk dan jasa baru yang belum ada fatwa
untuk dimintakan fatwa kepada DSN MUI.
d. Opini syariah atas pelaksanaan operasional bank secara
keseluruhan dalam laporan publikasi bank.
Sedangkan dalam konteks entitas perbankan, laporan DPS
pada dasarnya mencakup informasi yang diberikan oleh anggota-
anggota dewan mengenai praktik perbankan yang tidak bertolak
belakang dengan ajaran agama Islam. Laporan DPS ini
49
Minarni, Konsep Pengawasan, Kerangka Audit Syariah dan Tatakelola Lembaga Keuangan
Syariah. Jurnal Ekonomi Islam, La-Riba, Vol. VII, No. 1, Juli 2013.
93
disampaikan bersamaan dengan laporan tahunan bank. Bentuk dari
laporan DPS ini tidak sama antara satu bank dengan bank lainnya
walaupun masih dalam cakupan negara yang sama karena
mempunyai mekanisme yang berbeda beda50.
Abdallah (1994) menyatakan bahwa DPS harus melakukan
empat pemeriksaan laporan keuangan bank Islam. Empat laporan
pemeriksaan tersebut dirinci sebagai berikut:
a. DPS memastikan bahwa formula yang digunakan untuk
mengalokasikan profit antara shareholder dan pemegang akun
investasi adalah adil dan sejalan dengan rekomendasi yang
diberikan oleh DPS.
b. DPS mengonfirmasikan bahwa semua penerimaan bank Islam
berasal dari transaksi yang sah sesuai hukum. Jika bank Islam
mendapat penerimaan ini tidak sesuai hukum Islam, DPS
akan menyatakan bahwa penerimaan ini tidak sesuai hukum
Islam, DPS akan menyatakan bahwa penerimaan ini tidak
boleh dimasukan dalam profit yang dialokasikan untuk
shareholder dan pemegang akun investasi.

50http://muhammad-iwad.blogspot.co.id/2013/11/makalah-dewan-pengawas-
syariah.html diakses tanggal 18 Nopember 2011 pukul 21.11

94
c. DPS memastikan agar zakat dihitung dengan benar,
dilaporkan secara transparan dan didistribusikan secara merata
kepada penerima zakat.
d. DPS bertanggung jawab menyatakan opini bank Islam dalam
menjalankan peran sosialnya di lingkungan masyarakat.
Sedangkan menurut penelitian Puad et.al (2015), perlu adanya
dalam sebuah laporan hasil audit syariah berupa prosedur yang
memang mengandung unsur-unsur atau elemen-elemen pelaporan
khusus agar laporan hasil audit tersebut dapat menjadi informasi
yang berguna bagi stakehoder. Puad et.al (2015) menjelaskan bahwa
elemen mendasar yang harus ada dalam laporan audit syariah
dijelaskan sebagai berikut 51:
a. Judul laporan, menurut standar AAOIFI, setiap laporan audit
syariah harus memiliki judul yang tepat dalam laporan
tahunan.
b. Penerima laporan audit syariah, hal ini dilakukan supaya dapat
diketahui kepada siapa laporan ini dibuat dan ditujukan.
c. Pembuka atau paragraf pengantar, hal ini diperlukan karena
harus ada pernyataan yang jelas bahwa manajemen entitas

51
Noor Aimi Mohamad Puad, Nurauliani Jamlus Rafdi, Siti Norwahida Shukeri &
Nurul Jaliah Ramino Rashid. Analisis Syariah Audit/ Review Report: Malaysia, Pakistan
& Bahrain. Proceeding of the 2nd International Conference on Management and Muamalah 2015
(2ndICoMM). 2015

95
syariah bertanggung jawab untuk melakukan audit syariah
dengan benar sesuai aturan dan prinsip syariah Islam.
d. Deskripsi tentang sifat pekerjaan yang dilakukan, audit syariah
harus mengungkapkan pekerjaan audit yang dilakukan dalam
memeriksa transaksi dan kegiatan bank seperti tes yang tepat,
prosedur dan proses peninjauan kerja.
e. Opini paragraf yang berisi ekspresi tentang kepatuhan syariah
terhadap prinsip syariah.
f. Tanggal laporan dan tanda tangan DPS.
Selain dari elemen-elemen mendasar laporan hasil audit
syariah, lingkup laporan hasil audit syariah pun perlu dimasukan
kedalam laporan hasil audit yang mencakup beberapa hal tentang:
a. Kebijakan bisnis produk, apakah entitas syariah menjalankan
bisnisnya sesuai prinsip syariah atau tidak.
b. Proses dan prosedur, berisikan tentang penjelasan kontrak,
transaksi, dan hubungan kepatuhan apakah sudah sesuai
aturan dengan prinsip-prinsip syariah.
c. Perhitungan dan pembayaran zakat, apakah entitas syariah
telah memenuhi kewajibannya untuk membayar zakat atas
bisnis untuk menyatakan otoritas zakat.
d. Kontrak dan perjanjian, manajemen pelatihan sumber daya
dan kontribusi sosial entitas syariah juga perlu dilaporkan

96
supaya hasil laporan memberikan informasi yang mendetail
bagi stakehoder.
Unsur atau elemen yang dijelaskan ini sebenarnya masih bisa
ditambahkan lagi. Perlu diketahui, setiap laporan hasil audit di
setiap negara masih berbeda, karena belum memiliki standar
khusus sebagai acuan. Adapun AAOIFI tidak sepenuhnya dipakai
oleh semua negara, hanya negara-negara tertentu saja yang
memakainacuan AAOIFI secara ketat, termasuk Indonesia belum
sepenuhnya memakai apa yang ada dalam AAOIFI.
g. Masalah dan Tantangan DPS di Indonesia
Dilansir dari berita Vivanews, Badan Riset Kriminal Mabes
Polri membeberkan kronologi serta modus korupsi dan pencucian
uang kredit fiktif sejumlah Rp102 miliar di Bank Syariah Mandiri
(BSM) cabang Bogor tahun 2013 lalu. Kasus ini bermula dari
pengajuan kredit seorang pengusaha properti tahun 2011 52. Selain
itu, dari berita Kontan, bahwa kasus money game berkedok investasi
emas turut menyeret Bank Mega Syariah tahun 2014 53. Dua konflik
ini membuktikan dapat menurunkan kredibilitas institusi keuangan
syariah di mata publik. Di samping itu, kasus tersebut juga
menimbulkan pertanyaan terkait kinerja pengawasan yang ada di

52 http://nasional.news.viva.co.id/news/read/453908-kronologi-kasus-kredit-fiktif-
rp102-m-di-bank-syariah-mandiri-bogor
53 http://keuangan.kontan.co.id/news/ojk-selidiki-kasus-gadai-emas-bank-mega-syariah

97
lembaga keuangan syariah, yang bertugas memastikan bahwa
kinerja, produk dan semua hal yang ada di lembaga tersebut sesuai
dengan prinsip dan nilai ke-Islaman.
Praktik pengawasan syariah merupakan hal yang penting
untuk diperhatikan di lembaga keuangan syariah. Tatakelola dan
pengawasan syariah yang baik dan efisien menjadi kebutuhan
dalam menunjang perkembangan dan stabilitas di industri
keuangan syariah.54 Sesuai dengan kaidah fiqih, maa laa yatim al
wajib illa bih fa huwa wajib (suatu perkara wajib yang tidak bisa
sempurna kecuali dengan adanya perkara lain, maka perkara lain
tersebut menjadi wajib). Seperti halnya sholat yang tidak sah tanpa
wudhu, maka hukum wudhu untuk sholat menjadi wajib. Begitu
pula halnya dengan sebuah entitas yang menjalankan pengawasan
syariah juga dianggap wajib bagi setiap entitas keuangan syariah.
Dalam hal ini entitas independen tersebut dikenal dengan istilah
DPS.
Namun kewajiban tersebut tidak hanya digugurkan melalui
eksistensi DPS, tapi juga kualifikasi dan ketentuan penunjang
lainnya agar berjalan sebaik mungkin. Hal ini lah yang kemudian
penting untuk dirumuskan, baik oleh regulator tertinggi nasional
maupun institusi yang bersangkutan apabila tidak diatur dalam

54Rihab Grassa, Sharia Supervisory Systems in Islamic Finance Institution Across the OIC Member
Countries dalam Jurnal Emerald Insight Vol. 23, Januari 2016
98
regulasi Negara. Sebab hal tersebut menjadi pengaruh dalam
berjalannya kinerja DPS yang pada akhirnya berdampak pada
manajemen risiko. Jenis manajemen risiko yang terkait erat dengan
peran DPS adalah risiko reputasi yang selanjutnya berdampak pada
displaced commercial risk, seperti risiko likuiditas dan lainnya.55
Hal ini dikuatkan oleh penelitian Agustianto, 2008 dalam
Ahmad Baehaqi, 2014 yang menyebutkan, berdasarkan penelitian
yang diadakan oleh BI bekerjasama dengan Ernst & Young bahwa
salah satu masalah utama dalam implementasi manajemen risiko
perbankan syariah adalah peran DPS yang belum optimal56. Hal ini
lah sebab dari kasus yang dipaparkan di atas. Dan dari beberapa
penelitian dapat dirumuskan beberapa alasan yang menyebabkan
kurang optimal nya kinerja DPS.
Pertama perihal rangkap jabatan. DPS pada perbankan syariah
masih menjabat sebagai DPS pada LKS lain lebih dari ketentuan
yang berlaku (Laporan GCG 9 BUS tahun 2011 dan 2012). Serta
banyak anggota DSN dan MUI yang merangkap sebagai DPS
padahal DPS harus memberikan laporan kepada DSN (hasil
wawancara dengan DPS BMI, 2013). Hal ini dapat mengurangi

55
Dani El Qori, Mekanisme Pengawasan Dewan Pengawas Syariah Terhadap BPD Daerah
Istimewa Yogyakarta dalam jurnal Maraji: Jurnal Studi KeIslaman Vol. 1, No. 1, September
2014
56 Ahmad Baehaqi, Usulan Model Sistem Pengawasan Syariah Pada Perbankan Syariah di

Indonesia dalam jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. 1, No. 2, September 2014
99
kefokusan dan keseriusan terhadap pengawasan suatu institusi.
Ibaratkan saja seperti seorang dosen yang akan mengajar 2 mata
kuliah berbeda dalam satu hari dengan waktu persiapan mengajar
24 jam sebelumnya. Maka sang dosen akan membagi waktunya 12
jam untuk satu mata kuliah. Lain halnya jika sang dosen hanya
akan mengajar satu mata kuliah dengan persiapan waktu yang
sama, maka 24 jam akan dihabiskan untuk mempersiapkan bahan
kuliah. Semakin banyak waktu yang dicurahkan untuk persiapan,
maka semakin banyak bahan yang dimiliki sang dosen.
Selain masalah rangkap jabatan, ternyata DPS pada perbankan
syariah masih banyak yang menjabat lebih dari 5 tahun berturut-
turut. Konflik kepentingan dapat terjadi jika hal ini terus berjalan.
Masalah remunerasi atau penggajian yang belum ada standar
aturannya juga menimbulkan kecemburuan sosial antar anggota
DPS. DPS sebagai pemberi jasa belum ditunjang dengan adanya
kode etik profesi yang tetap menjaganya agar dapat bertindak
secara objektif dan independen. Bank syariah sebagai pemberi gaji
masih dapat memengaruhi pendapat dan keputusan DPS selaku
penerima gaji.
Masalah yang tidak asing lagi seputar DPS adalah bahwa
pemilihan anggota DPS masih dipengaruhi oleh kecenderungan
berdasarkan ketokohan atau figuritas di mata publik dan bukan

100
karena kapabilitas. Masih terdapat DPS yang lolos dalam proses
penyeleksian sekalipun secara kompetensi belum memadai.
Sedangkan sedikit jumlah DPS yang menguasai prosedur,
mekanisme pengawasan dan pemeriksaan secara teknis terutama
terkait data-data kuantitatif. Keterbatasan jumlah anggota DPS di
suatu institusi keuangan syariah menambah tidak efektifnya kinerja
mereka sehingga butuh yang namanya staff pembantu.
Selanjutnya perihal kehadiran dan keaktifan anggota DPS.
Masih banyak DPS yang tidak memenuhi kehadiran minimal
dalam rapat rutin selama setahun dengan berbagai alasan. Anggota
DPS yang aktif dalam suatu bank syariah juga jumlahnya sedikit
dan umumnya masih berusia muda. Sedangkan sisanya memiliki
kesibukan yang padat atau karena faktor usia dan kesehatan
(Laporan GCG 9 BUS tahun 2011 dan 2012). Beberapa DPS
bahkan akan bertindak hanya jika ada panggilan dan cenderung
memposisikan diri sebagai konsultan atau penasihat, bukan sebagai
pengawas. Tindakan pasif dari DPS ini dapat memperluas
terjadinya pelanggaran terhadap kepatuhan syariah di institusi
keuangan syariah.
Hal-hal di atas merupakan beberapa tantangan yang perlu
dibenahi industri keuangan syariah di Indonesia. Terutama oleh
otoritas tertinggi negara, DSN untuk membuat standar tatakelola

101
pengawasan syariah lebih insentif. Sebab terjadinya isu-isu tersebut
karena belum adanya regulasi kuat yang mengatur perihal DPS ini.
Atau bila regulasi belum ada pada DSN, setidaknya inisiatif
lembaga keuangan syariah yang harus menentukan ketentuan DPS
yang professional dan independen dalam Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS) nya.
Meskipun memang tidak hanya di Indonesia terdapat isu-isu
seputar pengawasan di lembaga keuangan syariah. Di beberapa
negara OKI seperti Arab Saudi, Mesir dan Turki adalah negara
yang bahkan tidak memiliki otoritas tertinggi tingkat negara atau
yang setara dengan DSN di Indonesia. Padahal di negara tersebut
mengeluarkan banyak lisensi bagi berdirinya sebuah institusi
keuangan syariah, namun perihal pengawasannya diserahkan
kepada institusi yang bersangkutan. Jika regulasi hanya berdasarkan
pendekatan inisiatif semata, maka efektivitas pengawasan syariah
nya pun akan sangat minim.
Namun ada juga beberapa negara OKI yang bahkan sampai
mengatur susunan entitas pengawas syariahnya dengan kualifikasi
tertentu. Brunei Darussalam misalnya, yang menentukan dewan
syariahnya tidak boleh kurang dari 8 orang. Satu orang sebagai
ketua, yang berasal dari sekretaris permanen dari Kementrian
Keuangan, seorang mufti dan 6 orang anggota. Sedangkan anggota

102
nya harus tersusun dari 4 muslim yang ahli dalam keuangan syariah
dan sisanya adalah sarjana atau ahli di bidang perbankan, ekonomi,
keuangan, hukum atau keahlian lain yang sejenis. Sedangkan di
Malaysia menentukan anggota dewan syariah institusinya tidak
boleh menjabat di institusi keuangan syariah yang lain.
Oleh karena itu tidak dapat dikesampingkan pula perihal
keyakinan individu, baik dari anggota DPS maupun otoritas
berwenang di institusi keuangan syariah yang bersangkutan. Meski
belum ada standar pengaturannya, dengan kesadaran pribadi maka
DPS akan bertindak professional dan independen serta objektif.
Seperti yang dikatakan oleh Shanin A. Shayan CEO dan anggota
dewan Barakat Foundation dalam Dani El Qori, 2014, the biggest risk
facing the global financial system is not a fall in its earning power but most
importantly a loss of faith and credibility on how it works. Jadi, risiko
terbesar dalam menghadapi sistem keuangan global bukanlah soal
kesalahan dalam menghasilkan laba, tapi kehilangan kepercayaan
dan kredibilitas tentang operasional kerjanya.

103
MODEL PENGAWASAN
SYARIAH DI MALAYSIA

104
A. Model Pengawasan Syariah di Malaysia
Malaysia dipilih karena dikatakan maju dalam dibidang
industri keuangan syariah dengan sistem dual hukum dan
peraturan yang komprehensif, yang dimana fungsi keuangan
konvensional sejajar dengan keuangan syariah.
Malaysia menjadi pusat global keuangan syariah yang memiliki
kerangka tatakelola syariah terstruktur untuk mendukung industri
keuangan syariah yang berkembang. Salah satu persyaratan dalam
kerangka kerja adalah wajib bagi Lembaga Keuangan Syariah
(LKS) untuk mendirikan Komite Syariah atau Dewan Pengawas
Syariah (DPS). Hal tersebut berguna untuk memberikan
pengawasan independen diseluruh kegiatan LKS serta memastikan
bahwa semua operasi yang dilakukan berdasarkan prinsip syariah.57
Pengawasan syariah di Malaysia berada dalam naungan Bank
Sentral, artinya berada di tingkat makro (tingkat negara) dan juga
tingkat mikro (tingkat institusi). Pada tingkat makro, pengawasan
syariah dilakukan oleh negara atau Sharia Supreme Council (SSC) atau
Dewan Syariah Nasional (DSN), sedangkan pada tingkat mikro,
pengawasan syariah dapat dilakukan oleh Sharia Supervisory Board
(SSB) atau DPS. Melalui SSB dan SSC tatakelola syariah dapat

57
Shamsher Mohamad dan Zulkarnain Muhamad Sori, Effectiveness of Shariah Committees
in The Malaysian, MEI Insight IFS 2, 2016. Hlm. 2
105
dipastikan menerapkan prinsip syariah dalam LKS dengan sistem
yang memadai.

B. Pengawasan Syariah Level Mikro


Pengawasan syariah di level mikro dilakukan oleh Sharia
Supervisory Board (SSB) yang berada pada setiap intitusi lembaga
keuangan syariah. SSB didefinisikan oleh Accounting and Auditing
Organization in Islamic Financial Institutions (AAOIFI) sebagai sebuah
badan independen dari ahli dibidang lembaga keuangan syariah
dan fiqih muamalah.
SSB bertugas mengarahkan, meninjau dan mengawasi kegiatan
LKS dalam rangka memastikan bahwa produk LKS sesuai dengan
syariat Islam dan prinsipprinsip syariah. Fatwa dan keputusan
SSB harus mengikat lembaga keuangan syariah. 58 Peran SSB dalam
mengatur ketentuan dan cara beroperasi harus independen, demi
mencapai hal tersebut, maka hal yang perlu diperhatikan sebagai
berikut:
a. Pengangkatan dan Remunerasi
Direksi wajib mencalonkan pengangkatan anggota SSB atas
rekomendasi dari SSC. Pengangkatan dan pengangkatan kembali

58
AAOIFI, Akuntansi, Auditing & Standar Governance (untuk Lembaga Keuangan
Islam) (Bahrain: AAOIFI, 2010), Tata Standard No 1.

106
anggota SSB tunduk kepada persetujuan tertulis dari Bank Sentral
dan SSC. Sharia Governance Framework (SGF) juga menyebutkan
bahwa dalam hal ini Bank Sentral mungkin memaksakan kondisi
yang diperlukan yang dianggap cocok selain persyaratan dalam
SGF tersebut. Lebih lanjut, menurut SGF anggota SSB tidak bisa
menjadi seorang karyawan dari lembaga keuangan syariah atau
perusahaan terkait untuk saat ini atau tahun keuangan terakhir.
Setiap pengawas syariah hanya diperbolehkan untuk duduk di
salah satu SSB di industri, hal ini diartikan bahwa setiap anggota
SSB hanya bisa duduk di SSB dari satu bank syariah dan pada saat
yang sama dapat duduk di SSB atau perusahaan takaful (asuransi)
dan SSB dari lembaga non-perbankan. Berdasarkan penjelasan
diatas, dapat diindikasiakan bahwa ketentuan tersebut dapat
mencegah insiden konflik kepentingan, menjaga kerahasiaan dan
memungkinkan bakat baru untuk memasuki pasar.
Durasi pengangkatan anggota untuk SSB biasanya untuk
jangka waktu dua tahun dan dapat diperpanjang oleh rekomendasi
dari bank syariah dan atas persetujuan dari Bank Sentral.
Remunerasi bagi anggota SSB ditentukan oleh Direksi seperti
yang disarankan oleh Komite Remunerasinya. SGF menyatakan
bahwa imbalan tersebut hanya akan mencerminkan, akuntabilitas,
tugas dan tanggung jawab SSB.

107
b. Kualifikasi
Mayoritas anggota SSB setidaknya harus memenuhi syarat
dalam bidang hukum Islam (ushul fiqih) atau transaksi / hukum
dagang Islam (fiqh Muamalat), namun minoritas anggota SSB
dapat terdiri para ahli dari latar belakang lain yang terkait seperti
keuangan dan hukum ini memungkinkan penasihat berasal dari
berbagai latar belakang.59
c. Jumlah Minimum Ditunjuk
Sharia Supervisory Board (SSB) terdiri dari minimal tiga
anggota, namun menurut SGF minimal lima anggota diperlukan
yang mayoritas harus memiliki latar belakang syariah. Jumlah
minimum anggota telah meningkat karena jumlah yang lebih besar
dari individu dalam industri yang memiliki keahlian yang
diperlukan. Jumlah yang lebih besar dari anggota SSB juga
memungkinkan lebih banyak orang-orang yang memiliki latar
belakang yang beragam seperti di bidang keuangan dan hukum
menjadi anggota SSB.
d. Tugas, Tanggung Jawab dan Pelaporan
Tanggung jawab SSB sesuai dengan SGF termasuk
memberikan saran kepada direksi mengenai hal-hal syariah di

59
Nor Aishah Mohd Ali, dkk, Competency of Shariah Auditor In Malaysia : Issues and
Challenges, Journal of Islamic Finance, Vol. 4 No. 1 (2015) 022 - 030. IIUM Institute of
Islamic Banking and Finance ISSN 2289-2117 hlm.2
108
operasi bisnis bank untuk memastikan bahwa mereka mematuhi
prinsip syariah setiap saat, untuk mendukung sharia compliance
manual atau kepatuhan syariah, untuk mendukung dan
memvalidasi dokumen yang relevan serta untuk memastikan
laporan apakah tepat atau tidak sebagai kemudahan referensi. SSB
juga diperlukan untuk memberikan opini syariah tertulis atau
keputusan.
Dalam menjalankan tugasnya, SSB diharapkan dapat
mengungkapkan informasi yang memadai dalam laporan keuangan
tahunan lembaga keuangan syariah tentang keadaan kepatuhan
syariah di lembaga keuangan syariah.
e. Rujukan dari Pertanyaan ke Sharia Supreme Council
Perbankan syariah dapat mencari saran dari Sharia Supreme
Council (SSC) pada hal syariah yang berhubungan dengan bisnis
perbankan, dan bank syariah harus memenuhi saran dari SSC.
Perlu dicatat bahwa dengan UU Bank Sentral Malaysia 2009,
di mana ada konflik dalam putusan yang diberikan oleh SSB dan
SSC, putusan yang diberikan oleh SSC akan menang. Hal ini
untuk memastikan bahwa ada kepastian keputusan oleh semua
lembaga keuangan syariah dalam kaitannya dengan hal-hal Syariah
di Malaysia.

109
C. Pengawasan Syariah Level Makro
Malaysia juga memiliki model pengawasan audit syariah dalam
level makro, yang dimana pengawasan tersebut langsung dibawah
naungan Bank Negara Malaysia (BNM) sebagai bank sentral.
Lembaga pengawas audit syariah yang dimaksud dalam naungan
BNM tersebut dikenal dengan Shariah Advisory Council (SAC).
Secara umum, SAC bertugas menetapkan, merumuskan
kebijakan dan peraturan untuk kegiatan keuangan dan perbankan.
SAC sebagai otoritas tertinggi juga berperan dalam
menstandarisasikan penetapan fatwa yang berlaku untuk lembaga
keuangan syariah. Meskipun pengawasan langsung dibawah BNM
dan keputusan yang dikeluarkan oleh SAC bersifat mengikat dalam
undang-undang, namun Malaysia belum memiliki standar
pedoman audit syariah yang resmi. Oleh karena itu, sebagian besar
lembaga keuangan syariah menerapkan fungsi audit syariah dengan
persepsi masing-masing dan ada beberapa lembaga keuangan
syariah lainnya tetap mengadopsi kerangka audit internal
konvensional dengan sedikit modifikasi.
International Shariah Research Academy (ISRA) sebagai lembaga
riset Malaysia yang dibawahi oleh BNM telah membuat kerangka
dasar yang dinamakan Internal Shariah Audit Framework (ISAF). Hal
ini dilakukan sebagai bentuk upaya dalam penetapan standar

110
pedoman audit syariah. Kerangka ini akan menjelaskan apa saja
yang harus dilakukan oleh auditor internal syariah. Kerangka yang
tertera dalam ISAF meliputi tujuh aspek, antara lain:
1. Lingkup audit
Memastikan proses transaksi maupun sistem informasi
akuntansi di lembaga keuangan syariah telah diakui, diukur,
dan dilaporkan secara akurat.
2. Tujuan audit
Memberikan penilaian atas hasil audit secara independen dan
memastikan bahwa manajemen lembaga keuangan syariah
telah melakukan fungsi dan tanggung jawabnya sesuai dengan
ketentuan syariah.
3. Audit dan tatakelola
Memastikan kegiatan dan tatakelola di lembaga keuangan
syariah terbentuk dan terstruktur secara efektif.
4. Piagam audit
Meliputi sifat audit internal syariah, tujuan audit internal,
lingkup pekerjaan audit syariah, tanggung jawab internal,
otoritas dan independensi auditor internal syariah.
Komponen-komponen yang disebutkan ini bertujuan agar
terbentuknya persamaan visi dan misi lembaga keuangan
syariah antara para auditor internal syariah.

111
5. Kompetensi audit
Memastikan auditor internal syariah memiliki kecakapan yang
memadai dalam pengetahuan dan pemahaman tentang syariah,
akuntansi, dan manajemen.
6. Proses audit
Merumuskan rencana audit yang akan dilakukan mencakup
area yang dapat diaudit, audit atas perencanaan, pemeriksaan
dan pelaporan yang didapatkan dengan bukti yang efektif dan
akurat untuk tujuan audit syariah.
7. Persyaratan pelaporan
Melaporkan temuan audit dengan sikap independen agar
menarik perhatian para stakeholder bahwa kegiatan dan
operasi lembaga keuangan syariah sesuai dengan kepatuhan
syariah.

112
MODEL PENGAWASAN
SYARIAH DI BEBERAPA
NEGARA

113
A. Model Pengawasan Syariah di Mesir
Bisnis keuangan dan philantropi Islam tidak dapat berjalan
dengan baik kecuali memiliki pengawasan yang kompeten di
bidang fiqih muamalah. Itulah fungsi DPS sebagai suatu entitas
independen yang mutlak ada di setiap institusi keuangan syariah
agar dapat memastikan tatakelola lembaga keuangan syariah
berjalan dengan baik dan tetap berada dalam koridor syariah.
Sejalan dengan perkembangan keuangan Islam yang
mendunia, tatakelola syariah yang baik dan efisien di institusi
keuangan Islam menjadi kebutuhan yang krusial dalam
menentukan perkembangan dan stabilitas industri keuangan
syariah. Tatakelola perusahaan yang baik juga tidak hanya
meningkatkan kinerja institusi, tapi juga meningkatkan stabilitas
sistem keuangan dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat
sekitar.
Setiap entitas keuangan syariah perlu mengikuti legalisasi yang
ada di negaranya dalam menjalankan operasional bisnis, juga harus
mempertimbangkan aspek syariah pada produknya. Negara Mesir
tidak mengembangkan kerangka regulasi, sebab tidak ada entitas
pengawas syariah nasional yang mengawasi tatakelola institusi
keuangan Islam. Padahal Mesir telah mengeluarkan beragam
lisensi terhadap pendirian institute keuangan Islam. Oleh sebab

114
itulah maka institusi keuangan syariah di negara yang tidak
memiliki regulasi pengawasan syariah ini berinisiatif membuat
sendiri sistem pengawasannya.
Praktik pengawasan syariah di Mesir menjadi salah satu negara
yang tidak memiliki kerangka pengawasan syariah. Tatakelola
syariah di serahkan kepada lembaga keuangan syariahnya. Negara
tidak ikut campur dalam pembentukan tatakelola lembaga
keuangan syariah, namun setiap lembaga keuangan syariah harus
menjalankan fungsinya sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Otoritas syariah pada tingkat institusi dengan tujuan utama
praktek tatakelola syariah mempromosikan efektivitas sistem
pengawasan syariah pada lembaga keuangan syariah. Banyak pihak
berwenang di Mesir menetapkan bahwa setiap lembaga keuangan
syariah harus memiliki dewan pengawas syariah independen yang
terdiri dari para sarjana lulusan syariah untuk memberikan saran
yang berkaitan dengan hal-hal syariah.
Rihab Grassa (2015) yang meneliti tentang sistem tatakelola
syariah dari 25 negara yang tergabung dalam anggota OKI. Rihab
Grassa (2015) menyebutkan bahwa sebagian besar negara-negara
yang tergabung dalam organisasi OKI telah mengembangkan
kerangka kerja sistem tatakelola syariah sendiri. Beberapa negara
sudah mengembangkan kerangka regulasi yang komprehensif,

115
mengatur tentang praktek pengawasan syariah baik ditingkat
nasional maupun institusional. Namun tidak semua negara
memiliki regulasi tentang pengawasasn syariah, ada juga negara-
negara OKI yang tidak memiliki kerangka pengawasan syariah.
Dilihat dari sudut makro, Mesir tidak memiliki kerangka
pengawasan syariah. Seperti negara yang otoritas syariah lebih
tinggi di tingkat nasional misalkan negara Malaysia, Qatar,
Palestina, Bahrain, UAE, Kuwait, Jordan Pakistan, Nigeria,
Brunei, Bangladesh dan Indonesia. Dalam kasus Malaysia, Bank
Negara Malaysia (BNM) bertanggung jawab untuk memberikan
nasihat tentang hal yang berkaitan dengan perbankan syariah,
asuransi syariah atau area keuangan Islam lainnya yang diawasi
dan diatur oleh BNM. Sedangkan di Indonesia sendiri
Pengawasan syariah untuk tingkat nasional dilakukan oleh Dewan
Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) yang
bertanggung jawab untuk mengeluarkan putusan Syariah pada
produk yang ditawarkan oleh Lembaga keuangan syariah.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa sudut pandang
makro di negara Mesir apabila dipandang dari sudut global, Mesir
berbeda dengan negara-negara yang sudah ada kerangka
pengawasan syariah di tingkat nasional, contoh seperti Indonesia
yang memiliki (DSN-MUI) yang bertanggung jawab untuk

116
mengeluarkan keputusan hasil audit syariah pada produk yang
ditawarkan oleh lembaga keuangan syariah.

B. Model Pengawasan Syariah di Inggris


Islam adalah agama yang komprehensif dan universal.
Dikatakan komprehensif karena mengatur interaksi manusia
(muamalah) dan ibadah sedangkan universal (syumuliah) esensinya
dapat dilakukan oleh, dengan, dan untuk semua pihak yang
berkepentingan (stakeholder) tanpa membedakan suku, agama, ras,
dan golongan sesuai dengan semangat kerahmatan semesta
(rahmatan lil alamin) (IAI, 2014). Maka dari itu, pemenuhan aturan
Islam secara kaffah harus dilakukan oleh setiap entitas yang
mendasari bisnisnya dengan berlandaskan aturan Islam.
Salah satu produk dari aturan tersebut adalah industri
keuangan syariah baik berupa perbankan syariah, asuransi syariah,
pegadaian syariah dan industri keuangan lainnya. Pertumbuhan
dan perkembangan industri keuangan syariah di negara-negara
dengan mayoritas penduduk beragama Islam tentu tidak
mengherankan. Namun perkembangan industri keuangan syariah
tumbuh dan berkembang pula di negara-negara mayoritas non-
muslim. Negara Denmark (Machmud, 2010), Filipina (Saeed,
1996), Thailand (Hamzah, 2015), Amerika, Australia, dan Inggris

117
(Saeed, 1996) adalah beberapa negara minoritas muslim yang kini
mengembangkan industri keuangan syariah.
Khusus untuk perkembangan industri keuangan syariah di
Inggris terbilang sangat mengesankan. Data The Banker pada tahun
2015 menjelaskan bahwa industri keuangan syariah di Inggris
mencatat total asset US$3.811 miliyar. Perkembangan industri
keuangan syariah di Inggris dilatar belakangi oleh krisis ekonomi
yang melanda Amerika Serikat pada tahun 2007. Krisis ekonomi
tersebut berpengaruh kepada ekonomi dunia termasuk Inggris.
Namun ternyata industri keuangan syariah memberikan bukti
ketahanan terhadap krisis ekonomi, sehingga pemerintah Inggris
merespon baik dan turut ikut andil dalam mengembangkan
industri keuangan syariah.
Alistair Darling mantan menteri keuangan Inggris menyatakan
pemerintah berkomitmen untuk mengembangkan perbankan dan
keuangan Islam di Inggris (Ismal, 2012). Senada dengan hal
tersebut, pemerintah Inggris telah memberikan dukungan bahkan
ikut mempromosikan ekonomi syariah. Beberapa peran
pemerintah Inggris dalam perkembangan perbankan dan keuangan
syariah yang lain adalah telah menyelesaikan masalah pengenaan
pajak ganda pada transaksi syariah tahun 2003, menerima kontrak
murabahah dan mudharabah dalam sistem keuangan dan peraturan

118
keuangan tahun 2005, menerima kontrak wakalah dan diminishing
musharakah untuk melengkapi instrumen-instrumen keuangan
syariah, serta setiap pekannya di London senantiasa
menyelenggarakan pelatihan, seminar dan konfrerensi bertemakan
Islamic Banking atau Finance oleh sejumlah lembaga pelatihan.
Sebagai suatu sistem yang bisa dibilang relatif baru dan tidak
biasa dikalangan negara barat, tentunya perkembangan dan
pertumbuhan industri keuangan syariah menghadapi beberapa
rintangan dan hambatan. Apalagi peraturan di negara Inggris
mengenai perbankan syariah diatur dalam Financial Stability
Authority (FSA) sama dengan perbankan konvensional. Scott
Morrison, Ph.d dalam jurnal penelitian yang berjudul Shariah
Boards and the Corporate Governance of Islamic Banks in the United
Kingdom menjelaskan bahwa secara struktural sistem perbankan
dan keuangan Islam ini mirip dengan bank konvensional dalam
hukum, sehingga dewan syariah dari perbankan dan lembaga
keuangan syariah memiliki berbagai tantangan unik pada tatakelola
perusahaannya (Morrison, 2014).
Misalnya masalah pembatasan investasi perbankan dan
keuangan syariah. Investasi perbankan dan keuangan Islam hanya
bisa diberikan kepada transaksi yang bebas bunga dan bukan untuk
barang terlarang (seperti pornografi, peternakan babi, alkohol, dll).

119
Pada praktek perbankan syariah di Inggris, larangan tersebut
memberikan konsekuensi yang buruk karena tidak sesuai dengan
hukum investasi di Inggris. Ini terjadi karena norma-norma, aturan
dan tatakelola perbankan syariah masih sama dengan bank
konvensional. Padahal untuk perbankan syariah yang dipakai
merupakan prinsip dan aturan syariah Islam.
Maka peran dewan pengawas syariah harus benar-benar
optimal, karena fungsi dewan pengawas syariah adalah untuk
mengevaluasi, menyetujui atau menolak suatu transaksi, serta
untuk mengawasi semua operasi bank syariah dan memastikan
operasinya telah sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Pengoptimalan peran dewan pengawas syariah ini akan
menunjukkan kepatuhan terhadap prinsip syariah, sehingga
memberikan kepercayaan kepada stakeholder dalam menitipkan
investasinya. Namun hingga saat ini, dewan syariah di Inggris
sendiri masih bersifat otonom dan tanpa pengawasan.
Dalam pengawasannya yang unik, dewan pengawas syariah di
Inggris mendapatkan kesulitan yang berarti seperti, salah satunya
berkenaan dengan sumber daya manusia yang berkompeten
(Ainsley, 2007). Hal ini menambah kesulitan jajaran direksi untuk
memilih dewan pengawas syariah, sehingga wajar jika orang yang
sama berada di dewan pengawas syariah di lembaga keuangan

120
syariah yang berbeda. Penentuan dewan pengawas syariah di
Inggris pun harus atas seizin dari anggota legislatif dan wajib
mengikut fit and propertest.
Tatakelola perusahaan yang diatur dalam hukum perbankan
menyatakan bahwa perbankan syariah dan konvensional
diwajibkan mempunyai minimal dua direksi. Tidak di sebutkan dua
direksi tersebut bertindak sebagai dewan pengawas syariah atau
tidak. Akibatnya peran dewan pengawas syariah dikembalikan
kepada kebijakan masing-masing perbankan. Persoalan ini
tentunya memberikan kekhawatiran sendiri pasalnya Financial
Supervisory Advisitory (FSA) sebagai lembaga yang menaungi
perbankan di Inggris dibubarkan pada tahun 2010 (Ismal, 2012).
Meskipun permasalahan dewan pengawas syariah di Inggris
cukup rumit, namun masa depan keuangan syariah beserta
pengawasan syariahnya semakin membaik. Pasalnya, Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM), Organisasi Konferensi Islam (OKI),
Accounting and Auditing Organization in Islamic Financial Institutions
(AAOIFI) memberikan dukungan pengembangan dewan
pengawasan syariah di Inggris. Terlebih pemerintahan Inggris
mendukung pengembangan industri keuangan syariah sehingga
bukan tidak mungkin dimasa depan Inggris akan menjadi pusat
keuangan Islam di Eropa.

121
C. Model Pengawasan Syariah di Qatar
Lembaga Keuangan Syariah di negara Qatar menjadi lembaga
terkuat dalam satu tahun ini, melebihi pertumbuhan lembaga
keuangan konvensional. Mengapa demikian? Karena sektor Islamic
Financial Services (IFS) di Qatar menjadi salah satu kawasan yang
paling dinamis, terdiri dari beberapa perkembangan seperti sektor
perbankan syariah, berbagai perusahaan pembiayaan syariah, pasar
asuransi syariah dan sektor investasi syariah. Rregulator dari neraga
Qatar juga bertekad untuk membangun bangsa sebagai pusat
keuangan Islam dunia. Ditambah lagi dengan adanya proyek pipa
besar yang berkaitan dengan Qatar National Vision 2030 and the
2022 FIFA World Cup memiliki harapan besar untuk meningkatkan
kinerja yang lebih baik.
Pada tahun 1980-an negara Qatar membuka bank syariah
pertamanya untuk tujuan bisnis dan saat itu pula telah mengalami
perkembangan pada sektor perbankan Islam. Tahun 2009 peserta
pasar barulah berdatangan hingga pada tahun 2015, total 4 bank
syariah beroperasi di negara ini yaitu Barwa Bank, Masraf Al-Rayan,
Qatar International Islamic Bank (QIIB) dan Qatar Islamic Bank (QIB).
Beberapa bank tersebut telah menyumbang sekitar 24% dari total
aset perbankan di negara ini. Sektor perbankan syariah di negara
Qatar dinilai memiliki wilayah paling dinamis meskipun bergerak
disektor bisnis, kemudian angka tersebut meningkat menjadi 26%
122
di bulan Maret 2015 yang tercatat pada QIB. Awal tahun 2015
tercatat 18 bank telah di lisensi oleh QIB. ada lebih dari 20 bank
yang beroperasi yang berbeda dari peraturan Qatar Financial Centre
(QFC). Umumnya aktivitas mereka dilakukan oleh smaller
representative offices-one exception being QInvest. Lembaga Keuangan
Syariah yang mencakup 3 perusahaan sharia-compliant diantaranya
Al Jazeera Finance, First Finance and Qatar Finance House. Lembaga
keuangan syariah tersebut bersaing dengan bank-bank syariah di
segmen ritel dengan menyedikan pembiayaan untuk pembelian
mobil, penawaran tiket dan lain-lain.
Beberapa tahun terakhir terfokus pada tingkat keuntungan
dan biaya pada pembiayaan ritel telah mengalihkan perhatian
mereka ke Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Mengapa
demikian? menurut Eslah Assem, CEO First Finance, pendapatan
terbaik bersumber dari pasar kecil dan UKM. Kemudian dapat
dilihat bahwa sebagian besar bank meminjamkan dana untuk
UKM QR10m ($ 2.7m) sementara banyak usaha kecil mencari
pinjaman QR1m-2m ($274,100-548,200) which a bank most probably
would not consider. This is a prime area being targeted by finance houses that
banks cannot compete with.
Dalam hal pengawasan, bank syariah diatur oleh Qatar Central
Bank (QCB) dan taat pada peraturan yang sama dengan bank

123
konvensional. Setiap lembaga keuangan syariah mempunyai dewan
penasehat syariah. Sementara QCB berusaha untuk menunjuk
ulama yang sesuai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah
ketika suatu waktu timbul. QCB perlu adanya penetapan syariah
dalam hal tersebut Bank Syariah Qatar meminta bantuan kepada
the Ministry of Awqaf and Islamic Affairs. Praktenya perbankan syariah
di Qatar sebagian besar diatur dalam hal kepatuhan syariah melalui
batas-batas syariah mereka sendiri yang biasanya terdapat dalam of
five scholars of international repute. Kurangnya Dewan Penasehat
Terpusat terkadang menjadi tantangan dalam perkembangan
sektor perbankan syariah itu sendiri. Namun pada umumnya
keputusan bahwa penasihat syariah biasanya bisa miliki lebih dari
satu bank seperti yang terjadi saat ini. Negara Qatar juga sangat
memegang erat serta mengikuti standar akuntansi, audit, tatakelola
dan prinsip prinsip etika yang ditetapkan oleh Accounting and
Auditing Organization for Islamic Financial Institutions (AAOIFI).
a. Model Pengawasan Syariah Level Makro di Qatar
Bentuk Pengawasan Syariah dalam LKS di masing-masing
negara berbedabeda bentuknya, ada yang menempatkan di dalam
Bank Sentral maupun di luar Bank Sentral. Dewan Kerjasama
Negara Teluk misalnya, atau yang biasa disebut dengan Gulf
Cooperational Council (GCC). Qatar termasuk negara di dalam GCC.

124
Mereka menempatkan Dewan Pengawas Syariah pada level mikro
dan juga makro.
Pada level makro, pengawasan syariah dilakukan oleh nasional
yaitu dengan membuat Sharia Supreme Council (SSC) yang mana
mayoritas di dalamnya adalah negara dalam wilayah GCC yang
melakukan operasi nya diluar Bank Sentral kecuali Uni Emirat
Arab (UEA).
Dalam pengawasan syariah, DPS merupakan badan yang
dibentuk pada Bank untuk melakukan kegiatan usaha berdasarkan
prinsip syariah serta memastikan bahwa operasional bank tidak
menyimpang dari prinsip-prinsip syariah tersebut.
Terdapat dua model pengawasan syariah dalam wilayah
hukum bank syariah maupun konvensional. Pada model pertama,
bank syariah maupun konvensional tunduk pada pengawasan
otoritas pengawas tunggal (Arab Saudi, Ethiopia, Kazakhstan,
Kenya, Kuwait, Qatar, Tunisia, Turki, U.A.E., dan Inggris).
Kemudian pada model kedua pengawasan pada bank syariah
adalah dipisahkan (Bahrain,Indonesia, Yordania, Lebanon,
Pakistan, dan Suriah). Pengawasan syariah di negara Qatar di
dalam Qatar International Islamic Bank misalnya, istilah yang biasanya
digunakan adalah Religious Suprevisory Commite dimana jumlah
anggotanya hanya dibatasi hanya tiga orang.

125
Terdapat pula tanggung jawab utama DPS yang sudah diatur
di negara Qatar adalah untuk memantau kepatuhan operasional
bank agar sesuai dengan prinsip-prinsip syariah serta meninjau
proses dan produk yang disajikan oleh bank. Bertindak sebagai
badan independen dari ahli hukum spesialis dalam fiqih muamalat.
DPS bertanggung jawab untuk hal berikut.
Seperti pada umumnya pada Bank Syariah di negara lain,
Dewan Pengawas Syariah Memberikan saran serta bimbingan
berdasarkan permintaan manajemen Qatar Islamic Bank (QIB).
Memeriksa Laporan ulasan Auditor apakah sesuai dengan syariat
dan melaporkan kepada anggota tentang subjek tersebut.
Menentukan terkait apakah kontrak dan juga transaksi yang
disajikan kepada dewan sesuai dengan syariat. Dalam hal
pemasaran produk, Dewan Pengwas Syariah berhak Menyetujui
materi pemasaran QIB yang disajikan kepada dewan. Memastikan
bahwa semua penghasilan di dapatkan dari sumber atau dengan
cara yang tidak dilarang oleh syariat.
Dalam hal model pengawasan syariah yang dibagi antara
mikro dan makro sendiri tidak begitu banyak penjelasan terkait
spesifikasi pemisahan nya antara level mikro dan makro. Model
pengawasan ini merupakan pengawasan syariah secara umum atau
menyeluruh di Negara Qatar. Namun sudah jelas bagaimana

126
model pengawasan yang dianut oleh Negara Qatar yang dapat di
lihat pada wewenang Dewan Pengawas Syariah pada QIB diatas.

127
D. Model Pengawasan Syariah di Iran
Iran adalah salah satu negara yang aktif dalam
mengembangkan perbankan syariah. Iran memiliki sekitar 98%
aset perbankan syariah dengan jumlah sebesar 162,2 (USD Bil) dan
memiliki market share hampir mencapai 100% (Grand Strategy, Bank
Indonesia, 2008). Data tersebut memperlihatkan bahwa perbankan
syariah di Republik Islam Iran merupakan yang terbesar didunia
dengan aset lebih dari 162 miliar dolar 60. Kemudian data pada
tahun 2009 yang dirilis oleh The Banker menunjukan bahwa aset
perbankan syariah dunia terus meningkat. Negara Iran menempati
ranking pertama dengan total aset sebesar 154.616.28 miliar dollar
assets61.
Iran News menyebutkan, berdasarkan ranking yang
dikeluarkan The Banker di tahun 2015 menunjukkan nilai aset total
dari perputaran modal yang dikelola secara syariah senilai 1.273
miliar dolar. Jumlah tersebut memberikan arti bahwa total aset
sebesar 946 miliar dolar sepenuhnya telah dikelola secara syariah.
Berdasarkan peringkat, Iran berada di urutan pertama dari sisi
jumlah aset di antara 20 negara dunia. Menyusul peringkat
selanjutnya yaitu Arab Saudi, Malaysia, Uni Emirat Arab dan

60
Ali Reza, 2010. Skripsi : Perbandingan Kondisi Perbankan Syariah Di Republik
Islam Iran dan Indonesia
61
Ali Reza, 2010. mengutip dari situs website The Banker 2009
128
Kuwait. Ranking yang dilakukan terhadap institusi finansial Islam
dunia menunjukkan Bank Melli Iran adalah sebagai bank tertinggi
di antara bank-bank Islam dari sisi aset yang dikelola secara
syariah.
Tahun 2008 hingga 2015 menjelaskan bahwa Iran memiliki
market share hingga 100%, kemudian mengalami peningkatan aset
perbankan syariah dan tidak mengalami perubahan pada peringkat
yaitu posisi perbankan syariah menempati peringkat pertama pada
sisi aset yang dimiliki. Hal tersebut menunjukan dengan jelas
bahwa perbankan syariah di Iran telah 100% menerapkan sistem
tanpa bank konvensional serta mengelola aset sesuai syariah.
a. Market Share Perbankan Syariah Iran
Islamic Financial Standard Board (IFSB) merilis data
perkembangan keuangan syariah global dalam laporan "Islamic
Financial Services Industry Stability Report 2016". Salah satu data yang
dimuat adalah data market share perbankan syariah di 31 negara.
Terdapat dua negara yang memiliki market share perbankan syariah
yang mencapai 100%, artinya ke dua negara tersebut telah 100%
menerapkan sistem perbankan syariah tanpa bank konvensional.
Sebanyak 11 negara yang memiliki market share perbankan syariah

129
di atas 10%, sedang 20 negara sisanya dibawah 10%. Berikut ini
daftar market share perbankan syariah di 31 Negara di dunia62.

Sumber: IFSB, 2016

Dilihat dari data tersebut, Iran memiliki market share


perbankan syariah mencapai 100%. Iran terus menjadi domisili
terbesar untuk aset perbankan syariah, terhitung lebih dari 37%
dari industri perbankan syariah global diantara negara-negara Gulf
Cooperation Council (GCC)63. Uraian data di atas menunjukkan
bahwa negara Iran masih menguasai market share untuk perbankan
syariah dunia
b. Legalitas Hukum Perbankan Di Iran
Kerangka hukum bagi berfungsinya perbankan syariah di Iran
diatur oleh Undang-Undang Perbankan Bebas Riba tahun 1983
yang diratifikasi oleh Majelis Syura Islam, dengan UU ini Iran
berusaha untuk mengurangi tingkat bunga hingga mencapai nol.

62
IFSB, Islamic Financial Services Industry. May,2016.
63 IFSB, Islamic Financial Services Industry. Hlm, 9-10, May,2016.
130
UU Perbankan Bebas Riba menyebutkan beberapa jenis akad dasar
yang digunakan dalam sistem perbankan syariah di Iran, baik
untuk proses penghimpunan maupun proses penyaluran. Ba
nkdibolehkan menerima simpanan dalam bentuk simpanan qardhul
hasan dan simpanan investasi berjangka.64.
Undang-undang tersebut diundangkan pada Agustus 1983
sebagai The Law for Usury-Free Banking (Haron & Wan Azmi,
2009:81). Undang-undang tersebut mewajibkan bank-bank di Iran
untuk dalam tempo tiga tahun mengubah secara menyeluruh
kegiatan usaha mereka sesuai dengan prinsip-prinsip syariah serta
mengubah simpanan nasabah yang berdasarkan bunga menjadi
simpanan yang bebas bunga dalam kurun waktu satu tahun sejak
tanggal undang-undang tersebut dikeluarkan. Dalam penilaian
Global Islamic Financial Report (GIFR) tahun 2011, Iran menduduki
urutan teratas diikuti Malaysia dan Arab Saudi diposisi kedua dan
ketiga dari 42 negara yang memiliki potensi dan kondusif dalam
pengembangan industri keuangan syariah. Selain memiliki bank
Islam terbesar di dunia, Iran juga piawai dalam berperan secara

64
Ali Reza, 2010. Skripsi: Perbandingan Kondisi Perbankan Syariah Di Republik Islam Iran dan
Indonesia. hlm 62-64.
131
efektif di kawasan Teluk dan Asia Tengah, sehingga mampu
menarik investasi dari kawasan Teluk seperti UEA dan Bahrain.65
c. Model Pengawasan Syariah Iran
Iran juga memiliki Dewan Syura Perekonomian Islam yang
terdiri dari para ulama dan para ahli ekonomi. Dewan tersebut
berada dibawah Majelis Syura Islami yang mengesahkan undang-
undang, termasuk UU. Perbankan Bebas Riba. Bank yang
beroperasi di Iran bertanggung jawab langsung kepada Majelis
Umum Bank Markazi Iran yang beranggotakan Menteri Urusan
Ekonomi dan Keuangan, Menteri Perdagangan, Kepala Organisasi
Manajemen dan Perencanaan serta menteri yang dipilih oleh
Dewan Kementerian negara Iran66. Standarisasi fatwa berperan
sebagai otoritas tertinggi negara untuk institusi keuangan syariah,
banyak pula anggota OKI yang memiliki kerangka regulasi
pengawasan di tingkat nasional, yakni dengan mendirikan dewan
syariah nasional.
Dewan syariah didirikan di bank pusat, komisi sekuritas atau
juga di kementrian agama Iran. Dewan syariah ini bertindak
sebagai otoritas syariah tertinggi dan memiliki kemampuan untuk
membentuk regulasi tatakelola syariah serta merumuskan kebijakan

65 Ali Syukron, 2013. Dinamika Perkembangan Perbankan Syariah di Indonesia, Jurnal


Ekonomi dan Hukum Islam, Vol. 3, No. 2. Hlm 44.
66
Ali Reza, 2010. Skripsi: Perbandingan Kondisi Perbankan Syariah Di Republik Islam Iran dan
Indonesia. hlm 64.
132
nasional dan mengatur industri. Contoh negara yang memiliki
dewan syariah nasional adalah Malaysia, Indonesia, Brunei,
Bahrain, Pakistan, Iran, Sudan, Nigeria, Palestina. Namun, antara
satu negara dengan lainnya memiliki perbedaan terkait komposisi
dewan syariah ini67.
Setelah perubahan manajemen di bank sentral atau pusat pada
awal 2010, dewan yang disebut sebagai dewan yuridis bank sentral
di Republik Islam Iran dibentuk di Bank Sentral. Dewan ini terdiri
dari ahli hukum, ekonomi dan perbankan. Dewan yang disebutkan
itu meskipun tidak memiliki formal dan posisi hukum, telah
menyiapkan berbagai persetujuan untuk berbagai masalah yang
meliputi perumusan intruksi syariah untuk menerbitkan surat
berharga, perumusan petunjuk syariah dalam mengeluarkan
sertifikat mata uang deposit, merumuskan petunjuk syariah untuk
menggunakan mata uang transaksi masa depan untuk menutupi
risiko, merancang alat transaksi antar bank dalam perbankan bebas
riba, merumuskan instruksi syariah untuk repurchase agreement atau

67Rihab Grassa, 2015. Sharia Supervisory system in Islamic Finance Intitution s Across
the OIC Member Countries An Investigation of regulatory frameworks. Journal of
Financial Regulation and Compliance. Vol 23 No. 2
133
repo di perbankan bebas riba dan merumuskan petunjuk syariah
untuk aplikasi yang berbeda dari pembelian kredit 68.
Jadi, pengalaman pengawasan syariah dalam melaksanakan
prinsip Islam pada perbankan syariah di Iran dapat memiliki aspek
khusus. Pertama, bank dan lembaga keuangan tidak berkomitmen
untuk membentuk komite yuridis. Kedua, panitia yuridis dari bank
sentral sebagai tertinggi otoritas yuridis di bidang perbankan
syariah tidak menikmati posisi hukum dan hanya memiliki
kewenangan sebagai penasehat. Ketiga, tidak ada undang-undang
tentang pengawasan syariah.
Bank sentral dan lembaga keuangan di Iran berkomitmen
untuk mempertimbangkan kontrak yang digunakan dalam lembaga
syariah. kedua belah pihak menandatangani kontrak di bank yang
memiliki pemahaman yang penting tentang kontrak yang akan
mereka tandatangani. Model pengawasan syariah di negara tersebut
akan ditempatkan dalam kelompok pendekatan minimal untuk
pengawasan syariah.
Republik Islam Iran adalah negara yang telah lulus hukum
perbankan riba diantara beberapa negara lainnya. Model
pengawasan di Iran berada dibawah kelompok negara yang

68
Mousavian, Seyed Abbas: the role of specialized juridical Council in promoting the
legitimacy and efficiency of Islamic banks, Islamic Economic Quarterly, Number 36,
2009. pp 12-13.
134
memiliki minimal pengawasan syariah di lembaga keuangannya.
Model yang komprehensif dalam memberikan tugas pengawasan
syariah di sistem perbankan bebas riba diperlukan untuk
selanjutnya dipresentasikan didalam negeri dengan melihat
pengalaman negara lain yang sistem pengawasan syariahnya lebih
kuat dari Iran. Model operasional pengawasan syariah Iran harus
dirancang secara bertahap melalui trial and error test dalam interaksi
kondisi hukum yang ada di Iran. Kita tidak bisa berharap bahwa
model pengawasan syariah dibuat secara mendadak di sistem
perbankan Iran, namun dalam prosesnya membutuhkan
perencanaan yang tepat dan upaya yang serius oleh bank sentral
dan kerjasama lembaga keuangan69.
Model untuk mengembangkan sistem pengawasan syariah di
Iran dapat dilakukan dengan pendekatan jangka pendek, jangka
menengah, dan jangka panjang.
a. Jangka Pendek: Pengawasan kerja tim syariah (pengawasan
terhadap penerapan hukum perbankan Islam) dibentuk dalam
jangka pendek atau satu tahun di bagian pengawasan bank dan
lembaga keuangan dari bank sentral dan dewan yuridis. Hal ini
diperlukan untuk memastikan posisi hukum dari kerja tim ini
dilakukan dengan tepat. Untuk mempertimbangkan tanggung
69
Mohsen Zanganeh, 2015. Supervising Islamic Financial Institutions: Islamic Banking in The
Countries Compared. Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Vol.5, No. 1 hlm 60
135
jawab penasehat,tanggung jawab pengawasan institusi yang
dianggap sebagai otoritas yuridis tertinggi di bidang
perbankan.
b. Jangka Menengah (2-4 tahun): dalam jangka menengah
pengawasan administrasi diserahkan kepada tim kerja
pengawas syariah di Bank Sentral. Jadi, diperlukan unit tim
kerja dibawah pengawasan syariah yang akan bekerja dan
dibentuk sebagai tangan administrasi kerjasama tim ini. Semua
bank aktif dan lembaga keuangan didalam negreri berwenang
utnuk membentuk sebuah komite yuridis dalam institusi
mereka sendiri. Selain itu Bank Sentral perlu untuk
merumuskan tentang pembentukan dan aktivitas komite
yuruid dan hati-hati dalam mengidentifikasikan kriteria yang
berkaitan dengan pembentukan. Aktivitas komite ini
memberikan otoritras bagi lembaga untuk membentuk komite
yuridis dan menyampaikan kepada semua bank dan lembaga
keuangan secara bersamaan. Bank Sentral dapat memberikan
beberapa langkah intensif untuk lembaga yang mencoba
membentuk komite yuridis.
c. Jangka Panjang (4-6 tahun): semua bank dan lembaga
keuangan berkomitmen untuk komite yuridis dalam
pembentukan dibawah bank sentral tim kerja pengawasan

136
syariah dalam jangka panjang. Tugas-tugas administratif
dipertimbangkan untuk komite aktif dicabang pusat berbagai
bank. Mereka berwenang dalam praktek untuk mencegah
proses, kontrak, dan hubungan yang bermasalah dalam
syariah. Sudah selayaknya tim kerja pengawasan syariah bank
snetral berusaha untuk merumuskan indikator perbankan
syariah dalam beberapa elemen khusus dan terukur (misalnya
kontrak yang digunakan di lembaga yang benar) pada setiap
tahun untuk semua bank di Negara itu dan lembaga
perbankan70.
Iran menduduki urutan teratas dari 42 negara yang memiliki
potensi dalam pengembangan industri keuangan syariah. Selain itu
Iran memiliki bank Islam terbesar di dunia, Ditandai dengan
perbankan syariah di Iran masih terus menguasai market share
perbankan syariah di dunia, serta memliki asset terbesar yang
pengelolaannya 100% syariah. Di sistem perbankan Iran, model
operasional pengawasan syariah Iran harus dirancang secara
bertahap melalui dalam kondisi hukum yang ada di Iran. Tidak
bisa dibuat secara mendadak, karena dalam prosesnya
membutuhkan perencanaan yang tepat dan upaya yang serius oleh
bank sentral dan kerjasama lembaga keuangan. Dalam
70
Mohsen Zanganeh, 2015. Supervising Islamic Financial Institutions: Islamic Banking in The
Countries Compared. Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Vol.5, No. 1 hlm 60-61.
137
pengembangan model pengawasan syariah dapat dilakukan
dengan pendekatan jangka pendek, jangka menengah (2-4), dan
jangka panjang (4-6).

138
E. Model Pengawasan Syariah di Yaman
Al-Walidi dan Al-Sarhi (2013) menjelaskan tentang model
pengawasan syariah di Yaman. Menurutnya, ada dua utama studi
konseptual yang telah dilakukan sejauh ini untuk memeriksa
operasi SSBs. Al-Walidi membahas aspek praktis dan teoritis dari
syariat pengawasan di Bank Syariah Yaman, meliputi hukum dan
peraturan SSBs dan hubungan dengan berbagai depertemen. Disisi
lain, Al-Sarhi secara singkat menekankan praktik kontemporer
SSBs di Yaman dalam fitur pengalaman global SSBs dan
mengusulkan beberapa rekomendasi untuk pengembangan dan
peningkatan operasi SSBs di Yaman.
Perbankan syariah muncul di Yaman kembali pada tahun
1996, dimana bank Islam pertama adalah Islamic Bank of Yemen.
Keuangan dan investasi (YSC) didirikan oleh kebijakan dari
Undang-Undang nomor 21 dari hukum komersial Yaman, dengan
modal awal USD 10 juta. Pada tahun yang sama Tadhamon
International Islamic Bank (TIIB) didirikan dengan modal USD93
juta. Saat ini TIIB dianggap salah satu bank syariah terbesar di
Yaman dengan lebih dari 50 cabang di seluruh negara.
Hukum perbankan Islam di Yaman telah mendefenisikan
audit syariah sebagai badan yang bertanggung jawab untuk
berpartisipasi dalam menyetujui dan memastikan apakah produk

139
bank syariah dan semua transaksi bank syarah sudah sesuai dengan
sharia compliance.
Hukum perbankan syariah Yaman menyebutkan bahwa jika
ingin mendirikan bank syariah, disyaratkan harus dibentuknya
dewan pengawas syariah yang beranggotakan 3-7 anggota dari para
ulama yang ahli dalam bidang fiqih muamalah. Ada beberapa poin
yang akan menjadi fokus dalam pengawasan syariah di perbankan
syariah di Yaman yaitu:
a. Struktur Organisasi SSBs di Yaman
Pada awal di dirikan Bank Syariah Yaman, dikatakan dalam
sebuah jurnal bahwa bank Yaman membentuk SSB yang
beranggotakan dari SSBs eksternal seperti di Sudan. Ini disebabkan
masih kurangnya pengalaman dan pengetahuan resort internal
dalam pengawasan syariah. Namun belakangan ini tidak ada lagi
SSBs yang didatangkan dari luar karena dalam negeri sudah banyak
yang mempunyai pengalaman serta keahlian dalam bidang
pengawasan syariah.
Para anggota SBBs berusaha untuk menghindari pihak
manajemen bank syariah turut campur dalam mengeluarkan fatwa
atau pendapat. Independensi anggota SBBs ya berasal dari diri
mereka sendiri. Independensi itu didorong oleh kesalehan dan
takut kepada Allah SWT. (Ayedh & Echchabi, 2013).

140
Bank-bank syariah di Yaman mengikuti persyaratan minimum
hukum perbankan syariah Yaman dalam hal menentukan anggota
SSB yaitu dengan mempertimbangkan; dapat menunjuk eksternal
auditor, keahlian keanggotaan SSB dan merangkap menjadi
anggota SSB di beberapa bank syariah. Praktik-praktik ini pada
dasarnya mirip dengan praktik perbankan syariah di negara lain
seperti Malaysia, Indonesia, Bahrain, Qatar, dll. (Ayedh &
Echchabi, 2013)
b. Proses dan Prosedur Pengawasan Syariah
Dalam hal standar dan acuan yang sesuai syariat Islam, bank-
bank syariah di Yaman menerapkan prinsip-prinsip yang sama
dalam hal penerbitan fatwa dan kepastian sharia compliance. Operasi
SSBs Internal Department Sharia membuat tahapan sebagai berikut:
Pertama, Membentuk dan menyetujui kontrak baru, produk,
prosedur dan peraturan perbankan syariah. Kedua, Turut
berpartisipasi menjadi anggota Komite Fasilitas Kredit Pelanggan
bank syariah itu sendiri. Ketiga, meninjau kembali transaksi
sebelumnya untuk memastikan apakah sesuai dengan akad awal.
Prosedur yang dilakukan oleh SSBs berupa pelaporan kasus yang
memiliki keraguan dalam kepatuhan syariah, kemudian dilkukan
rapat antar anggota SSBs sehingga akan muncul opini apakah
berupa penolakan, amandemen atau menyetujui.

141
Di Yaman, standar AAOIFI tidak dijadikan kebijakan
langsung oleh bank sentral. Namun, sebagian besar SSBs
menggunakan AAOIFI sebagai pedoman dalam beberapa kasus
tetapi tidak mengikat. Dalam hal ini SSBs mengandalkan
fatwa dan ijtihad dari anggota SSB, sedangkan standar AAOIFI
digunakan sebagai pedoman pendukung dan secara umum tidak
ada kontradiksi antara standar AAOIFI dengan ijtihad SSBs.

F. Model Pengawasan Syariah di Pakistan


a. Level Makro
Asad Khan (2015) mengatakan dalam penelitiannya yang
membandingkan empat negara yaitu Pakistan, Malaysia, Inggris
dan Bahrain, bahwa sektor keuangan Pakistan dan Malaysia diatur
oleh badan pengawas yang berbeda dengan Inggris dan Bahrain.
Sistem peraturan masing-masing negara sebagian besar karena
evolusi dan direncanakan terkecuali Pakistan. Hal ini disebabkan
karena sistem pemerintahannya yang unik dan konstitusional serta
mengikat untuk membawa keuangan negara di bawah syariah.
Sedangkan Malaysia memiliki ketentuan yang berbeda untuk
mengoperasionalkan bank syariah, sementara yang lainnya hanya
mengubah undang-undang yang ada saat ini. Selain itu, karena
evolusi pula sebagian besar sistem peraturan negara mengubah
arah prinsip regulasi dimana Inggris memiliki sepenuhnya basis

142
prinsip sistem, sementara Pakistan masih didominasi dengan
ketentuan yang berbasis.
Perbandingan empat negara dalam pelaksanaan struktur
syariah yaitu Pakistan, Malaysia, Bahrain dan Inggris tersebut,
dalam pelaksanaan struktur syariah di Pakistan serupa dengan
Malaysia dengan Dewan Pengawas Syariah yang pertama didirikan
di tingkat Bank Negara Islam (State Bank of Pakistan) yang disingkat
dengan SBP, dengan kekuasaan yang terbatas dibandingkan
dengan Malaysia SAC, dan juga pada tingkat kelembagaan. Di
Bahrain dewan syariah hanya ada di tingkat kelembagaan dan tidak
ada Dewan Pengawas Syariah pusat di CBB.
Garas dan Pierce (2010) dalam Grassa (2016) mengungkapkan
Bank Negara Pakistan telah membentuk dewan syariah yang
teridiri dari lima anggota dan memiliki dua ulama syariah. Semua
anggota dewan, termasuk para anggota ex-office harus memiliki
jangka waktu dua tahun dan memenuhi syarat untuk pengangkatan
kembali.
Tujuan utama keseimbangan yaitu standarisasi fatwa dan
bertindak sebagai negara otoritas yang tertinggi untuk IFI, anggota
di negara OKI yang praktiknya telah di atur oleh pengawas syariah
ditingkat nasional dengan membentuk dewan syariah nasional di

143
bank sentral atau komisi sekuritas dan salah satu negara termasuk
di sini yaitu negara Pakistan.
Pengawas Syariah Nasional bertindak sebagai otoritas syariah
yang tertinggi dan memiliki kemampuan untuk membangun
kerangka kerja tatakelola syariah dan merumuskan kebijakan
nasional dan peraturan untuk industri. Namun dengan demikian
dari yurisdiksi yang lain ada perbedaan dalam susunan, peran dan
tanggung jawab Pengawas Syariah nasional.
Pengawas syariah di tingkat nasional tidak memiliki
kewenangan apapun pada tingkat kelembagaan. Tujuan utama
adalah untuk menyarankan bank sentral atau komisi keamanan
pada hal-hal yang berkaitan dengan kepatuhan syariah dan dalam
kasus-kasus konflik yang mengenai keputusan syariah untuk
menyelesaikan masalah antara anggota lembaga Pengawas Syariah.
b. Level Mikro
Sistem pengawasan syariah di Negara Pakistan di atur oleh
SBP. SBP adalah bank sentral di Pakistan. Sementara konstitusi,
sebagai awalnya ditetapkan dalam Orde Bank Negara Pakistan
1948, tetap tidak berubah sampai 1 Januari 1974, ketika bank
dinasionalisasi, ruang lingkup fungsinya yang jauh diperbesar.
Peran utama SBP adalah memberikan nasihat pada saat
keputusan syariah dalam kasus audit syariah. Selain itu, peran SBP

144
adalah menyetujui kriteria yang tepat untuk pengangkatan
penasehat Lembaga Keuangan Syariah. Anggota pengawas syariah
harus ditunjuk oleh direksi atas rekomendasinya komite nominasi
dan di setujui oleh BNM. Dalam cara yang sama, yang di lakukan
SBP harus ditunjuk oleh direksi dan di setujui oleh SBP. Hukum
keuangan Islam di Negara Pakistan di atur oleh State Bank of
Pakistan, Perbankan Perusahaan Ordonansi 1962 dan Kebijakan
Perbankan Islam pada tahun 2001 & 2003. 71
Di Negara Pakistan, perbankan Islam belum menyaksikan
pertumbuhan di dalam negeri tetapi juga telah bertahap
memperluas ke seluruh wilayah menyediakan lingkungan yang
kondusif sebagai model alternatif ekonomi dunia. SBP
merencanakan untuk mengintensifkan upaya menciptakan
kesadaran dan mempromosikan perbankan syariah di seluruh
negeri.
SBP juga secara aktif berusaha untuk menyelesaikan masalah
yang dihadapi oleh bank-bank Islam, termasuk kesulitan keuangan,
masalah dengan regulasi Badan Pengawas Pasar Modal Pakistan
dan kesulitan perpajakan dengan Dewan Federasi Pendapatan.

71
Rihab Grassa , (2015),"Shariah supervisory systems in Islamic finance
institutions across the OIC member countries", Journal of Financial
Regulation and Compliance, Vol. 23 Iss 2 pp. 135 160.
145
Bank sentral sedang bekerja untuk meningkatkan kapasitas bank-
bank Islam dan divisi perbankan syariah bank konvensional
melalui jalur penasehat dan konsultasi.
Komunitas Syariah tersebar di seluruh wilayah Pakistan dan
tantangan besar bagi perluasan Industri Perbankan Syariah (Islamic
Banking Industry/IBI) di dalam negeri itu. Namun, anggota
komunitas perlu dibawa pada satu pemahaman untuk
memenangkan tingkat kepercayaan dan kenyamanan masa.
Penasihat Syariah Pakistan dianggap kompeten dan ketat
dibandingkan dengan negara-negara Muslim lainnya tetapi peran
mereka dalam mempromosikan bank syariah sangat penting dan
terpuji.
Komunitas bisnis di negara itu tidak menerima kepemilikan
perbankan syariah sejauh mengalami hambatan dalam
pertumbuhan komunitas keuangan berbasis syariah karena industri
tidak bisa berkembang dengan kecepatan lebih cepat tanpa
kerjasama dan keterlibatan mereka dalam sistem perbankan bebas
bunga.

146
REVIEW ARTIKEL

147
DPS dan Audit Bank Syariah
Oleh : Dewi Setiya Ningrum

Industri keuangan syariah merupakan industri yang sedang


mengalami perkembangan. Menurut penilaian Globat Islamic
Financial Report (GIFR) tahun 2011, Indonesia menduduki urutan
keempat negara yang memiliki potensi dan kondusif dalam
pengembangan industri keuangan syariah. Urutan tersebut setelah
Iran, Malaysia, dan Saudi Arabia. Penilain tersebut berdasarkan
perhitungan index seperti bank syariah, lembaga keuangan non
bank syariah, serta ukuran aset keuangan syariah yang memiliki
bobot terbesar. Selain Indonesia, banyak negara yang telah
memiliki industri keuangan syariah khususnya perbankan syariah.
Bukan hanya negara dengan dominan penduduk muslim yang
sudah memiliki bank-bank syariah. Namun negara yang mayoritas
non muslim juga telah banyak memiliki bank-bank syariah, seperti
negara Filipina, Jerman, Rusia, Inggris, Cina dan negara lainnya.
Perkembangan tersebut perlu didukung dengan peningkatan
laporan keuangan sebagai sumber informasi dalam pengambilan
keputusan. Laporan tersebut juga dapat digunakan untuk
mengetahui kinerja perbankan syariah. Laporan keuangan yang
disajikan haruslah memiliki standar agar dapat dibandingkan
dengan bank di negara lain.
148
Accounting and Auditing Organization for Islamic Financial Institution
(AAOIFI) yang merupakan organisasi internasional telah membuat
standar syariah untuk lembaga keuangan syariah. Standar yang
dikeluarkan oleh AAOIFI berupa 48 standar syariah, 26 standar
akuntansi, 5 standar auditing, 7 standar tata kelola, dan 2 standar
kode etik. Standar tersebut telah diadopsi oleh beberapa negara
antara lain Bahrain, Jordan, Qatar, Qatar Financial Centre, Sudan,
dan Syria. Indonesia dan Pakistan juga merupakan negara yang
mengadopsi standar AAOIFI sebagai dasar dari standar akuntansi
nasional.
Bagi negara yang telah mengadopsi standar AAOIFI
pembuatan laporan keuangan yang dijadikan sumber informasi
bagi pemilik kepentingan harus patuh terhadap standar yang telah
ditetapkan. Menurut Sherif El-Halaby Khaled Hussainey (2016)
dalam penelitiannya yang berjudul Determinants of compliance with
AAOIFI standards by Islamic banks menjelaskan bahwa tingkat
kepatuhan terhadap governance standards AAOIFI No. 7 sebesar
27%. Tingkat pengungkapan laporan keuangan yang berorientasi
umum sebesar 89%. Sedangkan tingkat pengungkapan yang
berorientasi syariah sebesar 36%.
Meskipun tingkat pengungkapan bank syariah yang
berorientasi umum menunjukkan persentase yang tinggi, namun

149
pengungkapan informasi yang berorientasi syariah masih tergolong
kurang. Hal tersebut dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap bank syariah. Sehingga peningkatan
kepatuhan terhadap pengungkapan yang berorientasi syariah
sangat perlu dilakukan.
Model tata kelola dalam bank syariah harus berdasarkan
prinsip syariah. Perbedaan yang sangat identik antara bank syariah
dan konvensional adalah keberadaan Dewan Pengawas Syariah
(DPS). DPS hanya terdapat pada industri keuangan syariah yang
memiliki tugas untuk mengawasi kegiatan usaha dilembaga
tersebut. Peningkatan tata kelola perusahaan di bank syariah dapat
menggunakan peran DPS.
Jumlah DPS dalam bank syariah dapat mempengaruhi tingkat
pengungkapan. Berdasarkan standar governance AAOIFI no. 7
jumlah DPS dalam bank syariah antara tiga dan lima anggota.
Jumlah DPS dalam bank syariah kemungkinan akan
mempengaruhi kemampuan untuk mengontrol dan meninjau
semua transaksi untuk menjamin kesyariahan operasional bank
syariah.
DPS yang terdiri dari para ulama memiliki pengetahuan yang
luas mengenai hukum transaksi Islam. Namun pengalaman
mengenai pengetahuan umum masih perlu ditingkatkan.

150
Pengetahuan mengenai bisnis, laporan keuangan, risiko
manajemen, dan lain lainnya merupakan pengetahuan yang harus
dimiliki juga oleh seorang DPS. DPS yang berasal dari sarjana
syariah diperkirakan memiliki reputasi baik dalam pengetahuan
mengenai hukum transaksi dan pengetahuan umum. DPS harus
mampu memahami pengetahuan mengenai bisnis sehingga dapat
lebih baik dalam memahami transaksi kontemporer yang terjadi di
bank syariah. Pengetahuan agama dan umum akan mempengaruhi
pengungkapan informasi dalam bank syariah.
Pertukaran DPS antar bank syariah juga dapat mempengaruhi
pengungkapan perusahaan bank syariah. Pertukaran keanggotaan
DPS dapat menambah khazanah keilmuan DPS sehingga dapat
membandingkan antar bank. Peningkatan pengetahuan tersebut
dapat berpengaruh dalam meningkatkan informasi transparansi di
bank syariah. Semakin banyak pengetahuan yang didapat dari
pertukaran DPS tersebut dapat dijadikan pembelajaran untuk DPS
agar lebih baik. Selain itu DPS dapat mengadopsi sistem kebijakan
yang diterapkan dalam bank syariah agar menjadi lebih baik.
Kepatuhan terhadap standar AAOIFI merupakan hal yang
wajib dipatuhi oleh bank syariah yang telah mengadopsi standar
AAOIFI. Pengukuran tingkat kepatuhan tersebut dapat dijadikan
bahan evaluasi sejauh mana kepatuhan terhadap standar AAOIFI

151
telah dijalankan. Sehingga bank syariah dapat melakukan
peningkatan pengungkapan standar. Dewan Pengawas Syariah
(DPS) merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
tingkat kepatuhan bank syariah. Salah satu tingkat kepatuhan
tersebut adalah kepatuhan terhadap standar AAOIFI yang telah
diadopsi oleh masing-masing negara. Sehingga peran DPS perlu
ditingkatkan lagi demi terwujudnya kepatuhan terhadap
pengungkapan standar yang berorientasi syariah. Hal tersebut akan
meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap bank syariah.
Peningkatan kepercayaan masyarakat tersebut akan mempengaruhi
tingkat market share perbankan syariah secara global.

Rujukan: Sherif El-Halaby Khaled Hussainey. (2016). Determinants


of compliance with AAOIFI standards by Islamic banks. International
Journal of Islamic and Middle Eastern Finance and Management. Vol. 9.

152
Standar Kompetensi Auditor Syariah
Oleh: Fatimah Eka Putri

Perkembangan industri keuangan syariah yang cukup pesat


tidak menjamin tumbuhnya kepercayaan dari masyarakat secara
instan bahwa institusi yang mencantumkan brand syariah telah
terjamin kesyariahannya. Perlu dilakukan sebuah audit atau evaluasi
secara menyeluruh untuk memastikan apakah institusi terkait telah
memenuhi shariah compliance (kepatuhan syariah) atau malah dapat
dikatakan mirip dengan perusahaan konvensional pada umumnya.
Hasil dari evaluasi secara menyeluruh tentunya akan membantu
membangun kepercayaan dari masyarakat dan para stakeholder
serta meningkatkan nilai perusahaannya.
Seiring dengan kebutuhan audit shariah compliance di industri
keuangan syariah, maka muncul fungsi audit baru yaitu audit
syariah. Idealnya audit syariah dilakukan oleh auditor syariah yakni
seseorang yang telah memiliki kompetensi dalam bidang syariah
dan akuntansi secara mendalam. Karena pada dasarnya proses
audit tidak hanya dilakukan berdasarkan standar regulasi tetapi juga
standar dan prinsip syariah.
Sementara kebutuhan akan tenaga kerja auditor syariah yang
kompeten di industri keuangan Islam sangat dibutuhkan,
Indonesia dan Malaysia menghadapi permasalahan tentang
153
kompetensi auditor syariah yang relatif sama. Sampai saat ini,
permasalahan utama yang dihadapi yaitu mismatch antara apa yang
diperlukan institusi syariah dengan apa yang ditawarkan di pasar.
Karena pada kenyataannya, mayoritas auditor syariah yang
memiliki pengetahuan akuntansi cenderung tidak memiliki
pengetahuan syariah yang memadai dan sebaliknya.
Masalah kompetensi auditor syariah telah diperdebatkan sejak
awal pembentukan keuangan Islam modern di tahun 1970-an.
Diketahui salah satu penyebab utama timbulnya masalah tersebut
adalah belum terdapatnya standar kompetensi auditor syariah yang
dapat dijadikan acuan.
Disamping itu, minimnya lembaga pendidikan dan pelatihan
yang menunjang kompetensi auditor juga menjadi penyebab
minimnya auditor syariah yang kompeten. Masih sangat sedikit
lembaga pendidikan yang mengajarkan syariah dan akuntansi
secara bersamaan.
Di Malaysia, hanya terdapat satu universitas lokal yang
mempunyai kurikulum khusus auditor syariah yaitu di Universitas
Sains Islam Malaysia (USIM), bahkan IIUM pun yang dikenal
sangat mendukung kurikulum terkait Keuangan Islam hanya
mengadakan kurikulum Akuntansi Islam dan Fiqh Muamalat saja.

154
Beruntungnya, di Malaysia telah ada lembaga pelatihan untuk
mengembangkan auditor yang kompeten seperti Institute of Banking
and Finance Institution (IBFIM), International Centre for Education
Islamic Finance (INCEIF) Centre for Research and Training (CERT) dan
REDmoney. IBFIM contohnya, telah mengembangkan sertifikasi
kualifikasi di lembaga keuangan syariah atau disebut dengan
Certified Qualification in Islamic Finance (CQIF) yang terdiri dari tiga
level, yaitu level inti, menengah dan level lanjutan (Nor Aishah
Mohd Ali, Zakiah Muhammadun Mohamed, Shahida Shahimi, &
Zurina Shafii, 2015).
Demikian pula di Indonesia hanya terdapat enam perguruan
tinggi yang menyediakan program studi akuntansi syariah, tiga dari
perguruan tinggi swasta yaitu STEI SEBI, STEI TAZKIA, dan
STEI Bina Cipta Madani, serta tiga dari perguruan tinggi negeri
yaitu IAIN Surakarta, UIN Sunan Kalijaga dan UIN Walisongo
Semarang. Dan lembaga pelatihan seperti IAI Knowledge Centre yang
menyediakan pelatihan akuntansi syariah juga tergolong masih
jarang.
Beberapa peneliti asal Malaysia mengusulkan model KSOC
(Knowledge, Skill, and Other Characteristic) sebagai dasar bentuk
baru kompetensi auditor syariah yang bisa menguatkan fungsi
efektif dan memenuhi kebutuhan institusi syariah.

155
Knowledge (Pengetahuan) yang diperoleh untuk auditor
syariah di Malaysia dapat dikategorikan menjadi dua jenis yaitu
jenis pengetahuan umum dan khusus. Adapun pengetahuan umum
yaitu yang diperoleh melalui pendidikan di universitas dan
Pengetahuan yang khusus didapatkan dari lembaga yang
menyediakan pelatihan. Pengetahuan yang dimaksud adalah
pengetahuan yang seimbang antara pengetahuan dalam bidangnya
serta pengetahuan agama.
Seorang auditor dapat dikatakan telah memiliki knowledge yang
baik hanya ketika telah memiliki keduanya dengan seimbang.
Adapun 5 bidang umum utama dari pengetahuan yang berkaitan
dengan kompetensi untuk melakukan pekerjaan audit dari hasil
penelitian diseluruh dunia oleh Institute of Internal Auditor Research
Foundation (IIARF) yang dituangkan dalam Common Body of
Knowledge (CBOK) yaitu etika, kesadaran fraud, standar audit
internal, dan pengetahuan tekhnik dari industri terkait.
Skill (Keterampilan) yang dimiliki auditor syariah mengacu
pada kemampuan individu untuk menerapkan pengetahuan-
bagaimana untuk mengerjakan tugasnya dan memecahkan masalah
yang ada.
Adapun skill yang penting untuk auditor syariah sebagai audit
internal dalam Islamic Banking, yaitu mampu menerapkan

156
pengetahuan syariah dalam bentuk pengetahuan tentang produk,
transaksi, dan aktifitas Islamic Banking sehingga mampu mendeteksi
setiap ketidakpatuhan syariah dalam pelaksanaannya. Skill ini juga
diklasifikasikan menjadi dua kategori oleh IIARF yaitu
keterampilan teknis dan perilaku masing-masing. Lima
keterampilan teknis utama yang diidentifikasi yaitu 1. Memahami
bisnis, 2. Menganalisis risiko dan teknik penilaian kontrol, 3.
Mengidentifikasi jenis pengendalian internal, 4. Memahami risiko
dan alat kontrol yang tepat 5. Memahami teknik lain terkait proses
bisnis. Di sisi lain, lima keterampilan perilaku utama yang
diidentifikasi oleh IIARF adalah 1. Kerahasiaan, 2. Objektivitas, 3.
Komunikasi, 4. Judgement penilaian dari suatu kasus yang telah
diobservasi 5. dan etika sensitivitas.
Other Characteristic (Karakteristik lain) - mengacu pada
sifat seseorang dan tentu saja berbeda antar individu. Sifat dapat
dilihat dari tes psikologi yang idealnya dilakukan saat awal
pemilihan kandidat auditor syariah. Hasil dari tes psikologi
dianggap penting karena membantu memilih kandidat terbaik pada
tahap awal penyeleksian calon auditor syariah.
Integrasi dari ketiga unsur ini merupakan framework ideal
yang dapat dipertimbangkan untuk diadopsi ke dalam kurikulum
lembaga pendidikan untuk gelar sarjana sebagai sarana

157
mempersiapkan lulusan-lulusannya menjadi auditor syariah di masa
depan dan dijadikan modul untuk acuan lembaga-lembaga yang
mengadakan pelatihan auditor syariah. Ketika standar kompetensi
auditor syariah telah terbentuk, pasar akan memiliki pemahaman
yang jelas tentang auditor syariah yang kompeten sehingga profesi
auditor syariah dapat tinggi (nilainya) di pasar.
Referensi:
Nor Aishah Mohd Ali, Zakiah Muhammadun Mohamed, Shahida
Shahimi, & Zurina Shafii. (2015). Competency of Shariah
Auditors in Malaysia: Issues and Challenges. Journal of Islamic
Finance, 4 (1), 2230.

158
Analisis Praktek Audit di Malaysia
Oleh: Hilman Wijayanto

Industri keuangan syariah saat ini sedang berkembang pesat di


berbagai belahan dunia. Perkembangan industri keuangan syariah
ini juga tumbuh dan berkembang di Indonesia yang dimana
industri ini mulai bergeliat pada akhitr tahun 1991 yang ditandai
dengan berdirinya bank syariah pertama yaitu Bank Mualamat.
Seiring dengan berjalannya waktu mulai banyak bank bank
syariah yang bermunculan, hal ini bukan tanpa sebab karna bila di
lihat populasi penduduk Indonesia yang rata-rata memeluk agama
islam dan menjadi populasi muslim terbesar di dunia. Bank syariah
dinilai bukan hanya dari sudut bisnis saja melainkan sebuah
jawaban dari kebutuhan masyarakat muslim yang membutuhkan
transaksi perbankan yang sesuai dengan syariat islam dan terhindar
dari praktek-praktek ribawi.
Kondisi yang sama dialami oleh negara tetangga Malaysia
dimana perbankan syariah juga tumbuh berkembang. Namun
Malaysia memulai jauh lebih awal dari Indonesia, yang bermula
dari Tabungan Haji pada tahun 1969 yang menerapkan simpanan
dengan akad-akad syariah. Selanjutnya, pada tahun 1983 barulah

159
bank syariah pertama di Malaysia didirikan Bank Islam Malaysia
Berhad (BIMB).
BIMB dalam praktiknya menggunakan sistem yang sesuai
dengan syariat islam. sehingga para stakeholder tidak perlu
khawatir dan yakin akan transaksi yang mereka lakukan dan
pendapatan yang mereka terima merupakan uang dari hasil
praktek ribawi.seiring berjalannya waktu mulai bermunculan bank-
bank islam lain yang beroprasi dan beberapa diantaranya adalah
unit usaha syariah (UUS).
Bank sendiri memiliki fungsi sebagai penghubung antara
investor yang surpus modal dan para emiten yang kekurangan
sumber daya modal. Fungsi tersebutlah yang menjadi dasar
penilaian baik atau buruknya performa bank dengan meraih
kepercayaan masyarakat untuk menghimpun dana masyarakat dari
deposito dan utamanya investor. Fungsi di atas juga mengharuskan
bank untuk menyalurkan dananya ke sektor yang kekurangan dana
tetapi memiliki prospek yang baik.
IBs tidak hanya berfungsi sebagai media penghubung,
melainkan harus menjamin agar sumber-sumber dana yang di
dapat dalam investasi yang dilakukan bebas dari unsur-unsur yang
dilarang syariat Islam. Selain itu perlunya pengawasan yang bukan
hanya dari sisi keuangan saja melainkan dari sistem yang

160
digunakan, sumber daya manusia dan hal lain yang berkaitan
dengan oprasional BI. Oleh karna itu perlunya suatu standar audit
internal yang dapat mencakup seluruh aspek-aspek yang
berpengaruh pada oprasional BI.
BNM sebagai bank sentral mengambil langkah utnuk mulai
membentuk standar audit internal bank syariah bekerja sama
dengan International Syariah Research Academy (ISRA). Hasil dari
pengodokan standart tersebut disebut Sharia Governance Framework
(SGF). Terbentuknya SGF diharapkan akan membantu praktik
audit internal yang di lakukan IBs dan menjadi acuan agar dapat
diperbandingkan antara satu entitas syariah dengan entitas syariah
lain dalam hal ini BI.
Praktik audit internal syariah yang di jalankan di berbagai
Islamic Bank (IB) di Malaysia mengalami berbagai kendala karena
tidak adanya standart yang menjadi acuan. Kondisi ini membuat
rumitnya melakukan perbandingan karna antara IB yang satu dan
yang lain menggunakan framework yang berbeda beda. Oleh karena
itu dilakukanlah sebuah penelitian pada tahun 2015 tentang
pelaksanaan audit internal pada 3 badan usaha syariah dan 6 unit
usaha syariah dengan dua set kuisioner yang pertama di tujuan
kepada 9 kepala audit syariah, dan set kedua di tujuan untuk 32

161
auditor internal syariah, 38 eksekutif syariah, dan 18 anggota
komite syariah.
Dalam penelitian ini di mendapatkan hasil bahwa 40,2%
reponden mempunyai kerangka audit sendiri dengan menggunakan
perspektif islam, diikuti dengan 38,1% menggunakan kerangka
audit konvensional namun dengan penyesuaian. Sebanyak 5,3%
masih menggunakan krangka audit konvensional dan sisanya yaitu
9,3% tidak mengetahui krangka audit apa yang mereka gunakan
dalam audit syariah. Hasil ini mengindikasikan bahwa tidak
terstandartnya kerangka audit karena beragamnya kerangka yang di
gunakan. Sedangkan dilihat dari segi waktu menjalankan audit
syariah sebagian besar reponden yaitu 68% melakukan audit
sepanjang tahun dan ini mengindikasikan mulai tingginya
kesadaran akan pentingnya audit syariah di lakukan.
Sedangkan dari pelaksanaan audit atau praktek audit yang di
terapkan oleh 3 badan usaha syariah dan 6 unit usaha syariah.
Dalam penelitian ini acuan standart audit yang di gunakan adalah
ISAF, dalam standar ini memiliki faktor yaitu lingkup audit
meliputi laporan keuangan, kepatuhan sistem & organisasi,
membentuk bagian yang menilai personalia karyawan dan penilaian
pada proses menejemen, tujuan audit, audit dan governance, audit
charter (piagam audit), kompetensi dari internal audit, pelaporan.

162
Dengan tujuh poin tersebut ingin di ketahui apakah BUS dan UUS
sudah menerapkannya dalam praktek audit interal syariah yang
mereka jalankan.
Dari pratek yang selama ini di jalankan oleh BUS menunjukan
bahwa telah memasukan hampir seluruh faktor kedalam audit
internal yang mereka jalankan, namun terdapat kekurangan yaitu
tidak memasukan audit terhadap sumber daya manusia (SDM)
dalam audit mereka. Padahal karyawan merupakan gambaran atau
representasi masyarakat terhadap perusahaan dimana ia bekerja,
terlebih BUS maka karyawannya juga harus megambarkan prilaku
yang baik pula. Hal senada juga di temukan pada UUS yang tidak
memasukan audit terhadap sumber daya manusia atau karyawan.
Pada UUS juga di temukan hanya tiga atau 50% UUS yang
memasukan audit charter dalam cakupan audit mereka. Ini
mengindikasikan kurangnya perancangan dan perencanaan audit
internal syariah yang mereka lakukan. Namun sebagian besar telah
dimasukan kedalam praktek audit mereka.
Kita dapat menarik kesimpulan dalam penelitian ini bahwa
sebagian besar para responden merespon positif dan setuju akan
ketujuh factor tersebut dimasukan dalam cakupan audit. Ini
mengindikasikan cukup baiknya adopsiyang dilakukan oleh bagian-
bagian yang terlibat langsung dalam melakukan audit internal

163
syariah dari ISAF. Dengan audit internal yang berjalan dengan baik
dan efisien dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan juga
jalan untuk menuju Good Corporate Governance (GCG).
Malaysia dapat menjalankan audit internal syariah mereka
dengan cukup baik dengan berbagai kendala yaitu tidak adanya
standart yang ditetapkan. Hal serupa juga terjadi di Indonesia tidak
adanya standar membuat perbandingan antara kinerja IBs tidak
dapat di perbandingkan. Sebagai nasabah juga dapat mendorong
agar audit syariah agar belangsung dengan menerapkan pemikiran
yang kritis terhadap performa IBs.

164
Setelah mempelajari bahasan diatas, beberapa kesimpulan
terkait bahasan pada bab 1- 5 adalah sebagai berikut:
Bab 1, membahas mengenai audit syariah dan
perkembangannya, ada tiga bagian utama pada bab ini. Pada bagian
pertama membahas landasan teori dan dasar hukum audit syariah.
Audit syariah adalah pengawasan terhadap kepatuhan
syariah yang harus dipenuhi oleh lembaga keuangan syariah. Dasar
hukum audit syariah adalah Al-Quran dan Hadits, dimana dalam
konteks audit syariah, pemeriksaan, dan peninjauan kembali
terhadap laporan keuangan dan sumber informasi LKS lainnya
menjadi sangat penting. Pada bagian kedua membahas sejarah
perkembangan audit syariah dan audit konvensional. Pada bagian
ini dijelaskan beberapa lembaga internasional yang mempunyai
standar praktik audit syariah, sementara itu praktek audit syariah di
lembaga keuangan syariah dipraktikkan oleh DPS dan DSN. Pada
bagian ketiga dijelaskan persamaan dan perbedaan audit syariah
dan audit konvensional, bagian ini secara spesifik menjelaskan
bahwasanya pandangan hukum (Al-Quran dan Hadits) pada
praktik audit syariah merupakan perbedaan yang cukup signifikan.
Bab 2, membahas megenai pengawasan syariah dan DPS,
dalam bab ini ada dua bagian utama. Pada bagian pertama
165
membahas mengenai pengawasan menurut para ahli, pengawasan
dalam islam dan pengawasan pada lembaga keuangan syariah.
Bagian pertama menguraikan penjelasan pengawasan menurut para
ahli, dari beberapa pengertian pengawasan dapat dikatakan bahwa
pengawasan pada dasarnya dilaksanakan selama proses
pelaksanaan kegiatan tersebut sampai berakhirnya suatu kegiatan.
Pengawasan pada dasarnya bertujuan untuk memastikan proses
administrasi dan manajemen dapat tercapai secara efisien, efektif,
ekonomis, dan produktif. Sementara pengawasan dalam islam
identik dengan kata hisbah yang bermakna ihtisab yaitu meneliti,
mentadbir, melihat, mencegah atau menahan seperti mencegah
seseorang dari melakukan kemungkaran atau mendapat balasan
seperti seseorang melakukan kebaikan untuk mendapat balasan
dari Allah. Al-Hisbah secara etimologis berarti menghitung,
berfikir, memberikan opini, pandangan dan lain-lain. Dari segi
istilah, AlMawardi (2000: 398) menjelaskan bahwa hisbah adalah
melaksanakan tugas keagamaan yaitu menyeru melakukan maaruf
(kebaikan) yang jelas ditinggalkan dan mencegah melakukan
kemungkaran yang jelas dilakukan. Pada bagian pengawasan pada
lembaga keuangan terdapat beberapa perkembangan peraturan
yang berlaku di Indonesia. Bagian kedua membahas mengenai
DPS menurut para ahli, hubungan pengawasan dan DPS, model

166
pengawasan di Indonesia, fungsi, tugas, wewenang dan laporan
DPS, serta masalah dan tantangan DPS. Pemahaman yang
dijelaskan memberikan gambaran bahwasannya pada praktik
pengawasan yang ada sudah cukup baik, bahkan di Indonesia
peraturan yang diberikan oleh otoritas tertinggi pengawasan
syariah (DSN) membuat lembaga keuangan syariah harus
memenuhi konsekwensi yang ada, namun pada akhirnya proses
pengawasan yang terbaik apabila pada setiap individu yang
memaknai setiap aktivitasnya di awasi oleh Allah swt adalah
merupakan pengawasan yang terbaik.
Bab 3, pada bagian ini dijelaskan model pengawasan syariah
di negara Malaysia, ada dua bagian utama yang dibahas pada bab 3
ini, yang pertama pengawasan pada level mikro dan yang kedua
pengawasan pada level makro. Malaysia dipilih karena dikatakan
maju dalam dibidang industri keuangan syariah dengan sistem dual
hukum dan peraturan yang komprehensif, yang dimana fungsi
keuangan konvensional sejajar dengan keuangan syariah. pada
bagian pengawasan pada level mikro dilakukan oleh Sharia
Supervisory Board (SSB) yang berada pada setiap intitusi lembaga
keuangan syariah. SSB bertugas mengarahkan, meninjau dan
mengawasi kegiatan LKS dalam rangka memastikan bahwa produk
LKS sesuai dengan syariat Islam dan prinsipprinsip syariah.

167
Fatwa dan keputusan SSB harus mengikat lembaga keuangan
syariah. sementara pada bagian fungsi level makro dijelaskan
bahwa pengawasan tersebut langsung dibawah naungan Bank
Negara Malaysia (BNM) sebagai bank sentral. Lembaga pengawas
audit syariah yang dimaksud dalam naungan BNM tersebut dikenal
dengan Shariah Advisory Council (SAC). Secara umum, SAC bertugas
menetapkan, merumuskan kebijakan dan peraturan untuk kegiatan
keuangan dan perbankan. SAC sebagai otoritas tertinggi juga
berperan dalam menstandarisasikan penetapan fatwa yang berlaku
untuk lembaga keuangan syariah. Meskipun pengawasan langsung
dibawah BNM dan keputusan yang dikeluarkan oleh SAC bersifat
mengikat dalam undang-undang, namun Malaysia belum memiliki
standar pedoman audit syariah yang resmi.
Bab 4, membahas mengenai model pengawasan di beberapa
negara. yang pertama dipilih model pengawasan di negara
Mesir, praktik pengawasan syariah di Mesir menjadi salah satu
negara yang tidak memiliki kerangka pengawasan syariah. Proses
pengawasan syariah di serahkan pada lembaga masing-masing,
namun pemenuhan terhadap prinsip syariah ditekankan oleh
pemerintah Mesir. Yang kedua dipilih model pengawasan di
negara Inggris, negara dengan perkembangan industry keuangan
syariah yang pesat ini memiliki beberapa ke-unikan dalam praktik

168
pengawasan syariah. Hal ini karena mayoritas penduduk yang non-
muslim belum terbiasa dengan aturan syariah sehingga masih
dianggap hal aneh. Model hukum perbankan syariah sama dengan
perbankan konvensional, dewan direksi pengawas syariah di
perbankan tidak juga di sebutkan pada aturan tertinggi perbankan
nasional. Namun perbaikan-perbaikan model pengawasan syariah
terus dilakukan terutama oleh LSM, AAOIFI, dll. Yang ketiga
model pengawasan di negara Qatar, pada praktek pengawasan
level makro di negara Qatar dilakukan oleh Sharia Supreme Council
(SSC). Pada level mikronya diserahkan kepada lembaga perbankan
syariah sendiri jika mengambil contoh Qatar International Islamic
Bank misalnya, istilah yang biasanya digunakan adalah Religious
Suprevisory Commite dimana jumlah anggotanya hanya dibatasi hanya
tiga orang. Sebenarnya dalam hal model pengawasan syariah yang
dibagi antara mikro dan makro sendiri tidak begitu banyak
penjelasan terkait spesifikasi pemisahannya antara level mikro dan
makro. Model pengawasan ini merupakan pengawasan syariah
secara umum atau menyeluruh di Negara Qatar. Yang keempat
model pengawasan syariah dinegara Iran. Model pengawasan
makro di negara Iran dilakukan oleh Dewan Syura Perekonomian
Islam, dimana Dewan syariah ini bertindak sebagai otoritas syariah
tertinggi dan memiliki kemampuan untuk membentuk regulasi

169
tatakelola syariah serta merumuskan kebijakan nasional dan
mengatur industri. Yang kelima model pengawasan di negara
Yaman. Model pengawasan syariah di lakukan oleh SSB, dimana
dalam praktiknya setiap perbankan syariah memiliki model
pengawasan yang berbeda, ada SSB yang menerapkan standar
AAOIFI pada praktiknya namun ada juga yang hanya mengikuti
beberapa fatwa saja. Yang keenam model pengawasan syariah
di negara Pakistan, pada level makro ada Bank Negara Islam
(State Bank of Pakistan) yang disingkat dengan SBP sebagai
pengawas nasional. Pengawas Syariah Nasional bertindak sebagai
otoritas syariah yang tertinggi dan memiliki kemampuan untuk
membangun kerangka kerja tatakelola syariah dan merumuskan
kebijakan nasional dan peraturan untuk industri.

170
Kusumadewi, Anggi.,Erick Tanjung. (2013, 25 Oktober). Kronologi
Kasus Kredit Fiktif Rp. 102 M di Bank Syariah Mandiri Bogor.
Diperoleh dari http://nasional.news.viva.co.id/news/read/453908-
kronologi-kasus-kredit-fiktif-rp102-m-di-bank-syariah-mandiri-bogor

Dwiantika, Nina. (2014, 9 Mei). OJK Selidiki Kasus Gadai Emas Bank
Mega Syariah. Diperoleh dari
http://keuangan.kontan.co.id/news/ojk-selidiki-kasus-gadai-emas-bank-
mega-syariah

Song, Inwon., Carel Oosthuizen. (2014). Islamic Banking Regulation


and Supervision: Survey Results and Challenges. IMF Working Paper.
Diperoleh dari
https://www.imf.org/external/pubs/ft/wp/2014/wp14220.pdf

Sharia Supervisory Board. (2016). Diperoleh dari


http://www.qib.com.qa/en/islamic-banking/sharia-board.aspx diakses
pada tanggal 14 Desember 2016 pada pukul 20.30

Daridin. (2015). Auditing dalam Perspektif Islam. Diperoleh dari


http://www.bpkp.go.id/polsoskam/konten/368/Auditing-Dalam-
Perspektif-Islam.bpkp. Diakses pada 19 Oktober 2016

171
Iwad, Muhammad. (November 2013). Dewan Pengawasan Syariah.
Diperoleh dari http://muhammad-
iwad.blogspot.co.id/2013/11/makalah-dewan-pengawas-syariah.html
diakses tanggal 18 Nopember 2011 pukul 21.11
Oxford Business Group. Qatar a regional leader and major global
competitor in Islamic financial services. Diperoleh dari
https://www.oxfordbusinessgroup.com/overview/qatar-regional-
leader-and-major-global-competitor-islamic-financial-services di akses
pada tanggal 10 Des 2016 jam 21:05)
Oxford Business Group. (September 2016). Qatars banking sector
shows resilience. Diperoleh dari
https://www.oxfordbusinessgroup.com/news/qatar%E2%80%99s-
banking-sector-shows-resilience diakses pada tanggal 13 des 2016 jam
6:10)
Marlina, Mirna Siti.(2016). Praktik Pengawasan Syariah di Negara
Anggota OKI. Diperoleh dari
http://www.dakwatuna.com/2016/11/07/83370/praktik-pengawasan-
syariah-negara-anggota-oki/#ixzz4QNFzV024

Rihab Grassa, Sharia Supervisory Systems in Islamic Finance Institution Across


the OIC Member Countries dalam Jurnal Emerald Insight Vol. 23, Januari
2016

Dani El Qori, Mekanisme Pengawasan Dewan Pengawas Syariah Terhadap


BPD Daerah Istimewa Yogyakarta dalam jurnal Maraji: Jurnal Studi
Keislaman Vol. 1, No. 1, September 2014

172
Ahmad Baehaqi, Usulan Model Sistem Pengawasan Syariah Pada Perbankan
Syariah di Indonesia dalam jurnal Dinamika Akuntansi dan Bisnis Vol. 1,
No. 2, September 2014
Sepky Mardian, Auditor Syariah: Lulusan Syariah atau
Lulusan Akuntansi, Koordinat Jurnal Komunikasi Antar Perguruan
Tinggi Agama Islam Swasta, Volume XIII, No. 1, April 2013, hlm. 179-
198, ISSN 1411-6154
Neneng Nurhasanah, Optimalisasi Peran Dewan Pengawas Syariah
(DPS) di Lembaga Keuangan Syariah, Jurnal Syiar Hukum, Vol. XIII
No. 3, November 2011, hlm. 223
Moh. Jatim, S.Ag., M.H.I., Tugas Dan Fungsi Dewan Pengawas Syariah
(Dps) Pada Perbankan Syariah (Dalam Meneliti Bentuk-Bentuk Akad)

Lale Sagbansua, Kursat Yalciner (2016). Model Proposal for Islamic


Supervisory Boards in Financial Institutions. Vol. 6, No. 1

Ayedh, A. M., & Echchabi, A. (2013). Shariah Supervision in the Yemeni


Islamic banks: a qualitative survey. Qualitative Research in Financial Markets
Article,Vol. 7 Iss(2015), 159 172.
Minarni, Konsep Pengawasan, Kerangka Audit Syariah dan Tata Kelola Lembaga
Keuangan Syariah. Jurnal Ekonomi Islam, La-Riba, Vol. VII, No. 1, Juli
2013.

Noor Aimi Mohamad Puad, Nurauliani Jamlus Rafdi, Siti Norwahida


Shukeri & Nurul Jaliah Ramino Rashid. Analisis Syariah Audit/ Review
Report: Malaysia, Pakistan & Bahrain.

173
Proceeding of the 2nd International Conference on Management and Muamalah
2015 (2ndICoMM). 2015
The Banker Top Islamic Financial Institution, Special Report November
2015
IFSB, Islamic Financial Services Industry. May,2016.
Ali Reza, 2010. Skripsi : Perbandingan Kondisi Perbankan Syariah Di Republik
Islam Iran dan Indonesia.Uin Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ali Syukron, 2013. Dinamika Perkembangan Perbankan Syariah di
Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam, Vol. 3, No. 2. Hlm 44.
Mohsen Zanganeh, 2015. Supervising Islamic Financial Institutions: Islamic
Banking in The Countries Compared. Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam,
Vol.5, No. 1

174
175