Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

PENDOKUMENTASIAN

1. Kegiatan Surveilans Malaria

Kegiatan surveilans malaria terbagi menjadi 3 periode, yaitu:

a. Surveilans periode kewaspadaan sebelum Kejadian Luar Biasa (KLB) atau


surveilans Periode Peringatan Dini (PPD): Suatu kegiatan untuk memantau
secara terartur perkembangan penyakit malaria di suatu wilayah dan
mengambil tindakan pendahuluan untuk mencegah timbulnya KLB.
b. Surveilans Periode KLB: Kegiatan yang dilakukan dalam periode dimana
kasus malaria menunjukan proporsi kenaikan dua kali atau lebih dari
biasanya/sebelumnya dan terjadi peningkatan yang bermakna baik penderita
malaria klinis maupun penderita malaria positif atau dijumpai keadaan
penderita plasmodium falciparum dominan atau ada kasus bayi positif baik
disertai ada kematian karena atau diduga malaria dan adanya keresahan
masyarakat karena malaria.
c. Surveilans Paska KLB: Kegiatannya sama seperti pada periode peringatan
dini. Monitoring dilakukan dengan cara pengamatan rutin atau melakukan
survei secara periodik pada lokasi KLB (MFSatau MS) juga melakukan survei
vektor dan lingkungan.

Kegiatan Surveilans PPD adalah sebagai berikut :

1. Pengumpulan Data
Jenis data kasus malaria yang dikumpulkan di setiap jenjang baik di tingkat
Puskesmas, Kabupaten, Propinsi dan Pusat merupakan data situasi malaria
yang secara umum dapat di bagi menjadi beberapa periode, yaitu: periode
peringatan dini dan penanggulangan KLB. Data yang dikumpulkan adalah:
A. Data Kasus
- Data kematian per desa/dusun per minggu
- Pengamatan kasus malaria klinis per desa per minggu
- Pengamatan kasus malaria positif dan spesiesnya per desa per minggu
- Kelompok umur penderita (bayi, balita, anak sekolah dan dewasa) per
desa per minggu.
- Penyelidikan epidemiologi pada semua penderita malaria positif
- Penderita malaria diobati klinis dan radikal
- Penderita yang masih positif setelah diberi pengobatan
B. Data Upaya Pemberantasan Vektor
- Penyemprotan rumah
- Larvaciding, dengan sasaran luas tempat perindukan yang akan diaplikasi
- Biological Control, atau penebaran ikan pemakan jentik
- Pemolesan Kelambu
- Survei Pendahuluan Source Reduction
C. Data Vektor
- Pengamatan jentik per bulan
- Kepadatan nyamuk dewasa
D. Data Logistik
- Stok obat malaria
- Bahan laboratorium
- Peralatan
E. Data Demografi
- Jumlah penduduk per desa/dusun
- Jumlah penduduk menurut golongan umur, pekerjaan dan lain-lain
F. Data Lingkungan
- Data stratifikasi daerah, seperti: daerah persawahan, hutan, pantai dan
lain- lain
- Data curah hujan.

2. Pengolahan dan Analisa Data


Pengolahan dan analisa data dilakukan dengan cara memindahkan data dari
formulir yang satu ke formulir yang lain. Pengolah data tersebut dapat dilakukan
dengan cara menjumlahkan, mengurangi, mengalikan dan membagi sesuai
dengan kebutuhan Pedoman Pengumpulan, Pengolahan dan Penyajian Data
yang telah ditetapkan dan berlaku bagi setiap tingkat/jenjang unit organisasi.
Pengolahan data dalam rangka pemberantasan malaria mencakup beberapa hal,
antara lain:
a. Kasus Malaria Positif atau Malaria Klinis

Laporan kasus malaria positif dan klinis dapat diolah dengan menggunakan

Rumus :

Rata-rata per bulan = Jumlah satu tahun selama kasus

12 bulan
b. Data Daerah Malaria
1) Puskesmas dengan Pemeriksaan Klinis diperiksa Laboratorium
Data malaria positif diolah untuk mendapatkan Annual Parasite Insidence
(API) masing-masing desa didapat dari Active Case Detection(ACD),
Passive Case Detection (PCD) dan dari kegiatan lainnya, dicari dengan
rumus sebagai berikut:

API = Jumlah kasus selama satu tahun x 1000

Jumlah Penduduk satu tahun

2) Puskesmas dengan Pemeriksaan Laboratorium


Data malaria klinis diolah untuk menetapkan Annual Malaria Incidence
(AMI) per desa berdasarkan catatan laporan selama setahun dari
puskesmas. AMI didapatkan dengan cara rumus sebagai berikut:

AMI = Jumlah kasus selama satu tahun x 1000

Jumlah Penduduk

Setelah diketahui angka AMI dari setiap desa/puskesmas, kemudian


tentukan desa-desa dengan API>50, dan selanjutnya dibuat juga table
desa yang melakukan pemberantasan vektor yang mencakup: jumlah jiwa,
jenis pemberantasan vektor, demikian juga dengan Parasite Rate (PR)
dari hasil malariometrik survei evaluasi.

3) Pemetaan
Hasil pengolahan data yang ada selanjutnya dibuat data stratifikasi
wilayah puskesmas dengan batas desa, kemudian daerah itu dibagi
berdasarkan reseptivitas, infrastrukur, data entomologi, pemberantasan
vektor dan API per desa. API dikelompokkan sebagai berikut:
- HCI (High Case Incidence) , API> 5 penduduk
- MCI (Moderate Case Incidence) , API< 5 penduduk
- LCI(Low Case Incidence) , API< 1 penduduk
4) Pola Musim Penularan
a) Menentukan pola musim penularan, pola penularan penyakit yang
bersifat musiman dapat dihitung dengan menghimpun data dengan unit
waktu bulanan selama minimal lima tahun.
b) Langkah-langkah menentukan pola musim penularan perlu dilakukan
pengumpulan, pengolahan dan penyajian data secara tertib, teratur
dan terus menerus selama lima tahun terakhir.
5) Indeks Curah Hujan
Data yang dibutuhkan adalah jumlah curah hujan dari hari hujan setiap
bulan. Data diambil dari beberapatahun terakhir, minimal 3 tahun.
6) Catatan Serial Penyemprotan
Hasil penyemprotan rumah diolah dengan cara menata data sebagai
berikut: nama desa yang disemprot, tahun mulai disemprot, nama racun
serangga yang digunakan, jumlah rumah yang disemprot dan yang tidak
disemprot, jumlah jiwa yang dilindungi. Hasil evaluasi malariometrik survei,
penderita positif, PRnya dihitung masing-masing desa yang disemprot,
waktu survei dilakukan.

3. Pelaporan Data
Pelaporan data surveilans malaria dilakukan dengan alur sebagai berikut:
a. Data awal diperoleh dari Puskesmas Pembantu, bidan dan kader
b. Data dari ketiga elemen tersebut diperoleh oleh Puskesmas
c. Kemudian data dari Puskesmas dan rumah sakit dilaporkan kepada Dinas
Kesehatan Kabupaten.
d. Dari Dinas Kesehatan Kabupaten dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi
bersama data dari rumah sakit di wilayah kerja Dinas Kesehatan Provinsi dan
Balai Labkesda Provinsi.
e. Dari Dinas Kesehatan Propinsi kemudian dilaporkan ke Ditjen PPM&PLP
Subdit Malaria.

4. Tindak Lanjut
Bila terjadi kecenderungan peningkatan penderita malaria, dilakukan upaya
penanggulangan sebagai berikut:
a. Mass Fever Survey (MFS)
1) Pemeriksaan spesimen darah tersangka malaria pada semua penderita
demam dan dilakukan pengobatan klinis atau pengobatan radikal terhadap
semua penderita malaria positif.
2) Penyelidikan Epidemiologi (PE) dilakukan untuk mengetahui apakah
kasus yang terjadi indigenous atau import serta untuk mengetahui sampai
sejauh mana penyebaran kasus. PE dilakukan pada semua kasus malaria
positif.
b. Pengamatan Vektor
Dilakukan pengamatan vektor untuk mengetahui jenis vektor yang sudah
dikonfirmasi maupun suspek vektor, dan perilaku vektor.
c. Pemberantasan Vektor
Untuk menekan penularan malaria, dilakukan upaya pemberantasan vektor
dengan berbagai metode yang disesuaikan dengan kondisi setempat.

5. Jejaring
a. Tingkat Kabupaten: Puskesmas, Rumah Sakit, Laboratorium, Kesehatan
Lingkungan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/NGO), Bappeda, DPRD,
SLPV dan DEST.
b. Tingkat Propinsi: Rumah Sakit, Labkesda, Kesehatan Lingkungan, Dinas
Kabupaten/Kota, DPRD, Bappeda,Universitas, SLPV, DEST,
Surveilans/pengamatan.
c. Tingkat Pusat, Subdit Malaria, Kesehatan Lingkunga, Subdit Pengamatan
Epidemiologi Penyakit, Pusdakes, BPP, Subdit Pengendalian vektor,
Ditlabkes, Dit Promosi Kesehatan, NEST

Anda mungkin juga menyukai