Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anemia pada remaja akan berdampak pada penurunan konsentrasi belajar,
penurunan kesegarana jasmani, dan gangguan pertumbuhan sehingga tinggi badan
dan berat badan tidak mencapai normal.1 Kehamilan pada usia remaja juga
memberi efek yang panjang yaitu menyebabkan kematian ibu, bayi, atau resiko
melahirkan bayi dengan BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah). Pada siklus hidup
manusia, remaja wanita (10-19 tahun) merupakan salah satu kelompok yang rawan
terhadap anemia. Di Indonesia prevalensi anemia yaitu sekitar 21,7% dengan
penderita anemia berumur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan penderita anemia
berumur 15-24 tahun sebanyak 18,4%. Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga
(SKRT) menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja putri pada usia 10-18
tahun sebanyak 57,1%.1 Wanita usia subur cenderung mengalami anemia
dikarenakan wanita mengalami menstruasi setiap bulan, dan hal ini akan diperberat
jika asupan zat besi dari makanan sehari-hari rendah. Wanita usia subur yang
mengalami anemia gizi akan mudah sakit karena daya tahan tubuh yang rendah
sehingga produktivitas kerja rendah.
Remaja putri beresiko lebih tinggi terkena anemia dibandingkan dengan
remaja laki-laki karena alasan pertama remaja perempuan setiap bulan mengalami
siklus menstruasi dan alasan kedua yaitu karena memiliki kebiasaan makan yang
salah, hal ini terjadi karena para remaja putri ingin langsing untuk menjaga
penampilannya sehingga mereka melakukan diet, akan tetapi diet yang dijalankan
merupakan diet yang tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh sehingga dapat
menyebabkan tubuh kekurangan zat-zat penting, seperti salah satunya zat besi (Fe).
Atas dasar hal yang sudah dibahas sebelumnya, maka Pemerintah
mengeluarkan suatu program terkait hal menanggulangi anemia pada ibu hamil dan
wanita usia subur, dengan Permenkes No. 88 Tahun 2014 yaitu tentang wanita usia
subur dan ibu hamil yang disarankan untuk mongonsumsi tablet tambah darah
untuk untuk menurunkan angka kekurangan gizi besi dan terjadinya anemia gizi
besi.2
Riskesdas menyatakan bahwa prevalensi terjadinya anemia pada wanita
hamil di Indonesia pada tahun 2013 adalah sebesar 37,1%. Sedangkan prevalensi
anemia pada wanita usia subur sendiri belum di dapatkan data. Maka dari itu,
Puskesmas Pondok Labu melaksanakan program sesuai Permenkes No. 88 tahun
2014 dengan memberikan tablet tambah darah pada wanita usia subur dengan
target usia 16 tahun sampai 49 tahun, dengan rincian memberikan satu tablet Fe
setiap satu minggu ketika tidak dating bulan, dan 1 tablet perhari ketika dating
bulan, dengan maksud setiap wanita mendapatkan 13 (tiga belas) tablet Fe setiap
bulannya.
Pada Puskesmas Kelurahan Pondok Labu, program tersebut telah
dilaksanakan mulai bulan Oktober pada tahun 2016. Dengan target sasaran remaja
putri usia sekolah, tepatnya sekolah menengah pertama dan setingkatnya, dan juga
diberikan pada sekolah menengah atas dan setingkatnya. Dengan total populasi
dari data yang didapatkan sebanyak 7.605 siswi SMP, SMA dan sederajat yang
dalam program Puskesmas mendapatkan tablet tambah darah tersebut.
Pada program ini, tertera bahwa target Puskesmas adalah sebesar 20%
pertahun. Pertama kali program dijalankan pada bulan Oktober 2016, dari 18
sekolah (SMP, SMA dan sederajat) terdapat 1 sekolah yang tidak berkenan untuk
mengikuti program pemerintah tersebut. Lalu pada bulan berikutnya yaitu
November dan Desember, terdapat 2 sekolah dari 18 sekolah yang tidka
mengambil tablet Fe.
Lalu terhitung sejak Januari, hanya 8 sekolah dari 18 sekolah yang
mengambil tablet Fe, dan jumlah sekolah yang mengambil tablet tersebut semakin
sedikit pada bulan Februari, hanya 3 sekolah. Pada bulan Maret, 2 sekolah yang
mengambil tablet Fe, dan bertambah 1 sekolah pada bulan selanjutnya, yang berarti
pada bulan April terdapat 3 sekolah yang mengambil tablet Fe ke Puskesmas.
Namun setelah itu, pada bulan Mei dan Juni tidak ada 1 sekolah pun yang
mengambil tablet tambah darah tersebut.
Oleh sebab dasar itulah, penulis membuat evaluasi program tentang
program pemerintah tentang tablet tambah darah yang telah ditetapkan oleh
Kementrian Kesehatan.

1.2 Perumusan Masalah


Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dirumuskan permasalahan,
yaitu: Target program pemberian tablet tambah darah yaitu sebesar 20% selama 3
bulan terakhir tidak tercapai sama sekali di Kelurahan Pondok Labu. Oleh karena
itu, Apa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesenjangan tersebut?

1.3 Tujuan Diagnostik Komunitas


1.3.1 Tujuan Umum
Mengetahui alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan konsumsi Tablet tambah darah pada remaja putri di Kelurahan
Pondok Labu

1.3.2 Tujuan Khusus


a. Menilai faktor input (man, money, material, method) mengenai konsumsi
tablet tambah darah pada remaja putri di Kelurahan Pondok Labu.
b. Menilai proses penyelenggaraan (perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, pengawasan) kegiatan peningkatan konsumsi tablet tambah
darah pada remaja putri di Kelurahan Pondok Labu.
d. Menemukan alternatif pemecahan masalah untuk meningkatkan
konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri di Kelurahan Pondok
Labu.
e. Membuat dan mengaplikasikan plan of action untuk meningkatkan
konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri Kelurahan Pondok Labu

1.4. Manfaat Evaluasi Program


1.4.1 Manfaat untuk Mahasiswa
a. Mengetahui manajemen puskesmas secara holistik.
b. Mengetahui upaya kesehatan wajib dan pengembangan di Puskesmas.
c. Melatih kemampuan analisis dan pemecahan terhadap masalah yang
ditemukan di dalam program puskesmas.
d. Menambah pengetahuan mengenai bahaya merokok di dalam rumah

1.4.2 Manfaat untuk Puskesmas Kelurahan Pondok Labu


a. Mengetahui pencapaian upaya kesehatan wajib di Puskesmas.
b. Membantu puskesmas untuk mengidentifikasi masalah rendahnya angka
konsumsi tablet tambah darah pada remaja putri di Kelurahan Pondok
Labu
c. Mendapatkan data mengenai pengetahuan para remaja putri Kelurahan
Pondok Labu mengenai pentingnya manfaat konsumsi Fe di usia remaja,
dan dampak kurangnya kadar Fe dalam tubuh, sehingga dapat dijadikan
pertimbangan untuk menaikkan angka pemberian tablet tambah darah
pada remaja putri.
d. Membantu puskesmas untuk memberikan alternatif penyelesaian terhadap
masalah tersebut