Anda di halaman 1dari 5

DISCHARGE PLANNING MENINGKATKAN KEPATUHAN PENGOBATAN PASIEN

(Discharge Palnning Increase Therapy Obedient of Patients)

Nursalam*, Sumiatun**, Amirul Musrini**

*Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo Surabaya. Telp/Fax: (031)


5913257 E-mail: nursalam_psik@yahoo.com
**: RSUD Dr. Soetomo Surabaya

ABSTRACT

Introduction: Discharge planning is a nurses learning process of patients hospitalized in the


hospital. Discharge planning includes all treatments given to the patients from the time of
admission, during hospitalization, until the time of discharge. The aimed of this study was to
evaluate the patients compliance for therapy (oral and injection medicine, nutrition and
activities). Method: A quasy experimental purposive sampling design was used in this study. There
were 14 respondents with DHF and GE who met to the inclusion criteria. The independent variable
was Discharge planning and the dependent variable was patients compliance for therapy. Data
were collected by using questionaire of medicine, nutrition and activity then analyzed by using
Wilcoxon Signed Rank Test and Mann Whitney U Test with significance level 0.05. Result: The
result showed that discharge planning had significance influence to patients compliance for
therapy (p= 0.028). Discussion: It can be concluded that discharge planning has an effect to
increase patients compliance for therapy (oral and injection medicine, nutrition and activities).

Keywords: discharge planning, medicine, nutrition and activities, patients compliance

PENDAHULUAN perawat yang mempunyai pengetahuan baik


menunjukkan peningkatan discharge
Perencanaan pulang merupakan planning pada pasien yang dirawat, serta
suatu proses yang dinamis dan sistimatis dari sikap yang positip ditunjukkan perawat akan
penilaian, persiapan, serta koordinasi yang berdampak terhadap pelaksanaan penerapan
dilakukan untuk memberikan kemudahan discharge planning dalam memberi asuhan
pengawasan pelayanan kesehatan dan keperawatan, sehingga bukti layanan
pelayanan sosial sebelum dan sesudah pulang keperawatan akan memberikan citra yang
(Carpenito,1999). Perencanaan pulang baik pada rumah sakit di masa yang akan
didapatkan dari proses interaksi perawat datang, serta terpenuhi kebutuhan perawatan
profesional, pasien dan keluarga berkesinambungan yang berdampak
berkolaborasi untuk memberikan dan meminimalkan komplikasi yang terjadi.
mengatur kontinuitas keperawatan. Penyakit di ruang Tropik Infeksi
Perencanaan harus berpusat pada masalah Wanita sebagian besar akut dan tingkat rata-
pasien, yaitu pencegahan, terapeutik, rata ketaatan minum obat dengan obat jangka
rehabilitatif, serta perawatan rutin yang pendek adalah 78% (Sarafino,1990). Taylor
sebenarnya (Swenberg, 2000). (1990) menyebut ketidaktaatan ini sebagai
Komunikasi merupakan inti masalah medis yang berat, dan oleh karena
Discharge planning kepada pasien, dan itu sejak tahun 1960-an sudah mulai diteliti
merupakan kewajiban perawat bagi pasien di berbagai negara industri. La Greca dan
terutama karena dengan perilaku caring dari Stone (1985) menyatakan bahwa mentaati
perawat bisa menurunkan stress rekomendasi pengobatan merupakan masalah
hospitalisasi pada pasien selama di rawat yang sangat penting (Smet, 1994). Pada
(Putra, 2005). Menurut Supriyo(2006) kinerja kasus di ruangan dengan penyakit yang
kadang dianggap remeh ini, pasien menjadi digunakan dalam penelitian ini adalah
malas minum obat ketika dirasa badan sudah kuesioner kepatuhan pengobatan selama
mulai enak, misalnya pasien kadang jadi MRS pada kelompok perlakuan dan
enggan minum obat ketika sudah tidak GE. informasi lisan kepada kelompok kontrol
Kejadian pada waktu peneliti dinas sore meliputi penyakit DHF dan GE tentang
ditemukan obat vitamin yang seharusnya nutrisi, aktivitas, data yang diperoleh
diminum jam 6 pagi tidak minum oleh pasien ditabulasi kemudian dianalisis dengan
dan itu terjadi dua hari berturut-turut. Hal ini menggunakan uji statistik wilcoxon signed
terjadi karena pasien merasa sudah sembuh rank test dan uji mann whitney u test dengan
sehingga tidak perlu minum obat. Peranan derajat kemaknaan <0,05.
perawat di dalam perilaku kepatuhan sering
diremehkan sehingga harus diperbaiki HASIL
komunikasi antar petugas kesehatan yang
disertai dukungan sosial dari keluarga Berikut ini akan disajikan data yang
sebagai pendukung mutlak diperlukan berkaitan dengan penerapan discharge
(Taylor, 1990, Sarafino, 1990), (Ley, 1992 planning terhadap kepatuhan pada
yang dikutip oleh Smet, 1994). pengobatan pada pasien DHF dan GE
selama dirawat di ruang tropik infeksi
BAHAN DAN METODE wanita. Pada kelompok kontrol sebelum dan
sesudah diberikan uji kuesioner dengan tanpa
Desain penelitian yang digunakan informasi tertulis hanya lisan seperti yang
dalam penelitian ini adalah Quasy sudah diterapkan di ruangan. Kelompok
Experiment post test only control group perlakuan sebelum dan sesudah diadakan uji
design yaitu satu kelompok dilakukan kuesioner dengan diberikan intervensi
intervensi sesuai dengan metode yang berupa informasi tertulis mulai awal MRS
dikehendaki ,sedangkan kelompok lain dengan pemberian penerimaan pasien baru
dilakukan intervensi seperti biasa (Patricia secara tertulis kemudian diberikan penjelasan
Ann D, Arthur D.D, 2002). Populasi pada tentang pemberian obat, nutrisi dan aktivitas
penelitian ini adalah pasien dan keluarga selama dirawat di ruangan kemudian di beri
pasien yang rawat inap di ruang tropik leafleat tentang masing-masing penyakit
infeksi wanita RSU Dr. Soetomo Surabaya DHF atau GE kemudian dilakukan
sebanyak 15 orang. Sampel yang digunakan pengukuran tentang kepatuhan pada
dalam penelitian ini adalah 14 responden pengobatan dari kelompok kontrol dan
pasien dan keluarga pasien yang rawat inap perlakuan yang telah berikan discharge
di ruang tropik infeksi wanita RSU Dr. planning selama perawatan dibandingkan
Soetomo Surabaya yang memenuhi klriteria dengan kelompok tanpa discharge planning
inklusi yaitu pasien baru yang masuk diruang selama perawatan.
tropik infeksi wanita, pasien dengan usia 20 Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa terdapat
tahun sampai dengan 60 tahun, tidak ada pengaruh discharge planning terhadap
gangguan jiwa atau gangguan kesadaran, kepatuhan pengobatan (obat, nutrisi dan
bersedia menjadi responden, pasien aktivitas) selama dirawat di ruang Tropik
kooperatif, pasien DHF Gr I dan II, pasien Infeksi Wanita dengan nilai p=0.028 pada
GE tanpa komplikasi. Penelitian ini DHF kontrol dan p=0.025 pada DHF
dilakukan pada 15 Januari - 5 Februari 2009. perlakuan yang berarti p0.05. Pada tabel 2
Variabel independen dalam dapat dilihat bahwa terdapat pengaruh
penelitian ini adalah pelaksanaan discharge discharge planning terhadap kepatuhan
planning mulai awal MRS, selama dirawat di pengobatan (meliputi obat, nutrisi dan
ruangan dan sebelum KRS, sedangkan aktivitas) pada pasien GE selama di rawat di
variabel dependen adalah kepatuhan ruang Tropik Infeksi Wanita, yaitu nilai
pengobatan selama pasien rawat inap di p=0.012 pada kelompok kontrol dan p=0.027
ruang tropik infeksi wanita. Instrumen yang pada kelompok perlakuan.
Tabel 1. Pengaruh discharge planning terhadap kepatuhan pengobatan (meliputi obat, nutrisi dan
aktifitas) pada DHF selama dirawat di Ruang Tropik Infeksi Wanita 15 Januari 5
Pebruari 2009

Kontrol Perlakuan Post


Pre Post Pre Post Post Post
Mean 51.11 77.79 37.50 50.00 77.79 50.00
SD 24.91 33.33 47.87 57.74 33.33 57.74
Uji Wilcoxon signed ranks Wilcoxon signed ranks Mann whitney U test
p= 0,028 p=0,025 p=0,028

Tabel 2. Pengaruh discharge planning terhadap kepatuhan pengobatan (meliputi obat, nutrisi dan
aktifitas) pada GE selama dirawat di Ruang Tropik Infeksi Wanita 15 Januari 5 Pebruari
2009.
Kontrol Perlakuan Post

Pre Post Pre Post Pos Post


Mean 41.25 74.584 77.79 50.00 74.584 50.00
SD 34.45 18.15 33.33 57.74 18.15 57.74
Uji Wilcoxon Signed Ranks Wilcoxon Signed Ranks Mann Whitney U test
p=0,012 p=0,027 p=0,046

Keterangan:
Mean = Rerata
SD = Standar Deviasi
p = signifikansi

PEMBAHASAN rehidrasi dengan cairan infus merupakan inti


perawatan DHF. Tingkat kepatuhan terhadap
Tingkat kepatuhan pada pengobatan aktifitas yang disarankan pada pasien DHF
pasien setelah diberikan discharge planning sangat baik yaitu mau menggunakan kursi
mengalami peningkatan yang signifikan. roda ketika mau BAB/BAK saat kadar
Pada kelompok perlakuan hampir seluruh trombosit kurang dari 70.000 karena jika
responden mengalami peningkatan kepatuhan banyak aktifitas ditakutkan terjadi
terhadap pengobatan setelah diberikan perdarahan.
discharge planning meliputi kepatuhan pada Pengobatan merupakan suatu
pemberian obat oral dan injeksi, nutrisi dan kegiatan yang dilaksanakan oleh kedokteran
aktifitas yang disarankan selama dirawat. dan keperawatan berdasarkan UU No. 23
Kepatuhan pada obat yang dikonsumsi pasien tahun 1992. Kegiatan tersebut meliputi obat
mutlak diperlukan dalam terapi terutama yang diterapi oleh dokter dan dilaksanakan
antibiotika untuk mencegah resistensi obat oleh perawat dalam hal distribusi sampai
pada pasien sehingga peran perawat sebagai terminum oleh pasien. Upaya penyembuhan
edukator diperlukan agar tidak terjadi dengan cara apapun, baik dengan terapi
kekambuhan pada pasien yang dirawat. pengobatan, operasi, penyinaran maupun
Pasien DHF yang menjadi kriteria inklusi terapi kombinasi, selalu memerlukan
dalam penelitian ini adalah grade I dan II dukungan nutrisi karena kebutuhan pasien
tanpa komplikasi, sehingga hanya mendapat akan makanan harus terpenuhi. Dukungan
vitamin baik oral maupun injeksi, dan infus nutrisi hasil pengobatan lebih efisien, pasien
dengan RL dan obat penurun panas karena lebih cepat sembuh sehingga lama perawatan
bisa berkurang dan biaya bisa dihemat, waktu sehinga mereka bisa BAB dan BAK ke
penyembuhan lebih cepat dan pasien dapat kamar mandi. Ketidak nyamanan ditempat
segera masuk kerja yang berarti produktifitas tidur lubang disebabkan oleh bau, rasa sakit
kerja bisa dicapai (Tirtawinata, 2006). Tetapi pada daerah pinggang biasanya dirasakan
kepatuhan pada nutrisi yang disarankan oleh pasien yang lama di tempat tidur lubang,
petugas kadang sangat dipengaruhi oleh tetapi bagi yang GE masih profus tempat
selera dan kebiasaan tata nilai yang ada pada tidur ini merupakan tempat yang aman
diri pasien sendiri (otonomi), sehingga karena pasien tidak usah sering ke kamar
kesadaran merupakan hal yang harus mandi karena dapat langsung buang air besar
dimunculkan oleh pasien dengan bantuan kita di lubang tersebut.
sebagai perawat. Pemberian nutrisi yang Proses pembentukan atau perubahan
adekuat merupakan jaminan yang paling baik perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor
pada penderita untuk mengatasi penyakitnya. yang berasal dari dalam individu. Berbagai
Jadi jelas bahwa nutrisi merupakan bagian aspek komunikasi mempengaruhi tingkat
integral dari pengobatan (Tandra, H., 1993). ketidaktaatan pada diri pasien antara lain
Kesukarelaan tentu harus pula dipicu oleh adalah komunikasi antara pasien dan dokter,
adanya motivasi yang harus dibangun oleh juga antara pasien dan perawat. Perawat
tenaga kesehatan misal pada pasien GE mempunyai waktu 24 jam untuk bersama
disarankan untuk makan bubur karena masih pasien sehingga perawat harus memfasilitasi
diare tetapi pada sebagian orang ada yang kepatuhan pasien pada pengobatan selama
jika makan bubur malah muntah ,perawat dirawat, terutama dengan discharge
hendaknya bisa menyelaraskan antara planning. Informasi tertulis dalam bentuk
kesembuhan pasien dengan selera pasien. brosur atau leaflet dapat membantu
Pasien dengan Penyakit GE menguatkan informasi yang telah diberikan
diberikan penyuluhan dalam bentuk pada pasien, sehingga dapat mengingatkan
pemberian leafleat Terapi dengan oralit ini sikap dan tindakan mereka tentang apa yang
diberikan dengan rincian isi: air matang 200 seharusnya dilakukan di rumah dan apa yang
cc ditambah 1 sendok teh gula pasir ditambah harus dihindari. Dokumentasi sangat
sendok teh garam. Oralit ini akan sangat dibutuhkan dalam menghadapi keluhan
membantu ketika pasien masih di rumah pasien, juga tuntutan yang mungkin terjadi
belum mendapat pertolongan medis. Nutrisi jika sewaktu-waktu terjadi hal-hal yang tidak
yang harus dimonitor oleh perawat dalam kita inginkan.
pelaksanaan kepatuhan akan diit misal pada Penerapan discharge planning sangat
pasien GE diberitahu untuk tidak minum susu diperlukan bagi pasien di Rumah Sakit Dr.
dahulu selama diare dan menghindari Soetomo karena merupakan rumah sakit
makanan yang berserat tinggi. Meskipun rujukan terbesar di Indonesia bagian timur
tugas tersebut telah ditangani oleh ahli gizi sehingga manajemen dan sumber daya yang
tetapi dalam observasi 24 jam tetap menjadi ada merupakan aset terbesar dari rumah sakit
tugas perawat. Aktifitas yang disarankan tersebut. Diharapkan pasien setelah pulang
untuk GE ini adalah kesediaan untuk tidur dari rumah sakit ini punya kesan yang baik
ditempat tidur lubang karena melakukan terhadap pelayanan rumah sakit. Informasi
monitor jumlah, warna dan juga konsistensi dan komunikasi merupakan ujung tombak
dari faeces yang dikeluarkan. Sehingga untuk pelayanan, dengan semboyan katakan pada
memudahkan pengukuran volume faeces orang lain kalau anda puas dan katakan
yang dikeluarkan, juga untuk observasi tipe kepada kami jika anda tidak puas.
diare berdasarkan kuman penyebab. Pasien Semboyan tersebut sebagai pedoman dalam
GE dengan dehidrasi berat mudah taat pada memperbaiki kualitas pelayanan sehari-hari
aturan karena mereka datang dalam kondisi demi tercipta hubungan yang harmonis antara
lemas dan kadang dirsertai syok pasien, perawat beserta keluarga yang terlibat
hipovolemik. Sedangkan pada pasien GE dalam perawatan. Pada akhirnya misi rumah
ketaatan untuk mau tidur di tempat tidur sakit sebagai terdepan dalam pelayanan dan
lubang mengalami penurunan pada post test senantiasa mengutamakan kesehatan
karena pasien sudah bisa menahan GE penderita dapat tercapai.
SIMPULAN DAN SARAN Putra.S. T. 2005. Psikoneuroimunologi
Kedokteran. Surabaya:Gideon Offset,
Simpulan hlm. 5-11.
Smet. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta:
Discharge planning yang diberikan Grasindo, hlm. 251-257.
selama perawatan pasien dapat meningkatkan Swansburg, Russel C. 2000. Pengantar
kepatuhan pasien DHF dan GE yang Kepemimpinan Dan Manajemen
meliputi obat oral dan injeksi, nutrisi dan Keperawatan. Jakarta: EGC, hlm.
aktifitas selama pasien dirawat. 282-284.
Supriyo. 2006. Hubungan Pengetahuan dan
Saran Sikap Perawat Dalam Penerapan
Discharge Planning di Ruang Graha
Peneliti menyarankan supaya Nuur Afiah RS Haji Surabaya.
Discharge Planning yang dilakukan mulai Skripsi tidak dipublikasikan.
awal MRS, selama dirawat dan ketika mau Surabaya: Program Studi Ilmu
KRS, dapat dijadikan suatu acuan atau protap Keperawatan Fakultas Kedokteran
dalam memberikan asuhan keperawatan yang Universitas Airlangga, hlm. 25-27,
paripurna untuk meningkatkan kualitas 56.
pelayanan kepada masyarakat, bagi rumah Tirtawinata, CT. 2006. Makanan Dalam
sakit discharge planning ini merupakan alat Perspektif Al- Quran dan Ilmu Gizi,
untuk memberikan pelayanan yang prima Jakarta: FKUI, hlm. 12.
sehingga mutu pelayanan bisa ditingkatkan, Taylor, et al. 1997. Fundamentals of Nursing
perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh The Art and Science of Nursing
disharge planning terhadap mutu asuhan Care. Philadelphia: Lippincott, pp.
keperawatan dan pasien safety. 70-75.
Tandra, H. 1994. Gizi Klinik. Surabaya:Tim
KEPUSTAKAAN Gizi Klinik RSU Dr. Soetomo,
hlm.75.