Anda di halaman 1dari 7

PERILAKU HOMOSEKSUAL YANG BAIK MENURUNKAN PREVALENSI

PENYAKIT MENULAR SEKSUAL


(Good Homosexual Behaviour Decrease Prevalence of Sexual Transmitted Dissease)

Purwaningsih*, Ika Yuni Widyawati*, Mohammad Nur Firdaus*

* Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Kampus C Mulyorejo Surabaya. Telp/Fax: (031)


5913257 . E-mail: purwaningsih_ners@unair.ac.id

ABSTRACT

Introduction: The homosexual behaviour were become indicators of sexually transmitted


diseasess (STDs) prevalencies. Prevalence of sexually transmitted diseases in homosexual
community was very high but until recently study it was conducted sporadically. The objective of
this study was to analyze the correlation of homosexual behaviour with prevalence of sexually
transmitted diseases (STDs) in Mobile Clinic Community Centre of IGAMA collaborating with
Public Health Centre Sumberpucung of Malang Regency. Method: Analytic design with cross
sectional methode was used in this study. The population were all visitors of Mobile Clinic
Community Centre of IGAMA collaborating with Public Health Centre Sumberpucung of Malang
Regency (353 people). Sample were 40 people who met to the inclusion criteria. The independent
variable was homosexual behaviour and the dependent variable was prevalence of sexually
transmitted diseases (STDs). Data for homosexual behaviour were collected by using questionnaire
and indhept interview with content analyze and data for prevalence of sexually transmitted
diseases (STDs) were collected by using laboratorium test for STDs. Result: The research result
was presented in the form diagram, table of cross tabulation and analyzed by using Spearman Rho
with significance level =0.005. The result showed that there was correlation of homosexual
knowledge (=0.001), attitude (=0.000) and practice (=0.000) with prevalence of STDs.
Dsicussion: It can be concluded that the better knowledge, attitude and practice of homosexual
could be decrease prevalence of STDs. Futher studies are recomended to analyze the correlation
between homosexual behaviour and prevalence of STDs with Health Believe approach.

Keywords: homosexual behaviour, prevalence of sexually transmitted diseases

PENDAHULUAN yang merupakan indikator penularan


HIV/AIDS (Thaczuk, 2007), namun
Peningkatan perilaku seksual prevalensi IMS pada komunitas gay di
berisiko di Indonesia, khususnya Jawa Indonesia baru diukur secara sporadis
Timur, tidak hanya terbatas pada kelompok (Raharjo, 2003). Prevalensi IMS di kalangan
heteroseksual, tetapi juga pada kelompok gay termasuk tinggi (0,5; artinya terdapat 5
lelaki yang menyukai hubungan seksual orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di antara
sesama jenis. Perilaku seksual lelaki suka 10.000 homoseksual dan transeksual (Jalu,
lelaki (LSL) ternyata jauh lebih kompleks 2007). Laporan dari beberapa lokasi pada
karena tidak hanya berasal dari berbagai tahun 1999-2001 menunjukkan prevalensi
strata sosial ekonomi dan budaya tetapi juga infeksi gonore dan chlamydia yang tinggi
berbagai ragam identitas seksual (Kepedulian antara 20-35% dan prevalensi serologi sifilis
untuk Mencegah IMS dan HIV/AIDS, 2004). positif sebesar 12,9%. Bagian tubuh yang
Perilaku seksual gay yang tidak terinfeksi antara lain dubur 2,2%,
aman dan berisiko tinggi inilah yang tenggorokan 2,2% dan uretra 9,5% (Raharjo,
merupakan faktor penyebab peningkatan 2003). Prevalensi pengidap IMS pada tahun
prevalensi Infeksi Menular Seksual (IMS) 2003 mencapai 22%, sedangkan pada tahun
2006 prevaiensi pengidap IMS 23%, serta mengindikasikan bahwa perilaku seks pada
pada Juli 2007 mencapai 56% pada subpopulasi LSL jauh lebih kompleks, tidak
kelompok MSM yang mempunyai perilaku hanya terbatas perilaku tertentu saja dan
berisiko tinggi di Kabupaten Malang (Gozali, rendahnya pemakaian kondom ketika
2007). melakukan seks anal sehingga meningkatkan
Berdasarkan estimasi pada risiko terkena IMS.
Lokakarya Peta Respons Propinsi Jawa Program pencegahan dan pengobatan
Timur September 2005 di Tretes jumlah gay IMS sesuai Rencana Strategi
di Kabupaten Malang sebesar 1430 orang. Penanggulangan HIV/AIDS 2003-2007
Data di klinik kespro IGAMA menunjukkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia
bahwa prevalensi dan insidensi IMS semakin terdiri dari melakukan advokasi kepada para
lama semakin meningkat. Persentase seluruh pengambil keputusan untuk mendukung
IMS yang ditemukan dibandingkan seluruh upaya penanggulangan IMS, meningkatkan
pengunjung yang diperiksa semakin Komunikasi-Informasi-Edukasi (KIE)
meningkat pada Juni sampai dengan pencegahan IMS, pemeriksaan IMS dan
November 2007 (gambar 1). Infeksi Menular pengobatan IMS secara dini, pendidikan dan
Seksual (IMS) merupakan indikator adanya pelatihan bagi petugas kesehatan dalam
perilaku seksual berisiko. Prevalensi IMS penatalaksanaan penderita IMS berdasarkan
yang tinggi pada suatu populasi di suatu pendekatan sindrom dan etiologi,
tempat merupakan pertanda awal akan risiko mengembangkan klinik IMS di lokalisasi,
penyebaran HIV/AIDS. Di lain pihak, bar, karaoke dan panti pijat. Sejalan dengan
peningkatan penggunaan kondom akan lebih strategi nasional tersebut sangat diharapkan
cepat tergambar melalui penurunan para gay melakukan perilaku seksual yang
prevalensi IMS daripada prevalensi aman dan sehat (memakai kondom) dengan
HIV/AIDS. harapan prevalensi IMS dapat diturunkan.
Data di klinik kespro IGAMA Berdasarkan fenomena tersebut
menunjukkan tingkat penggunaan kondom peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
pada komunitas gay rendah. Sebanyak yang terkait dengan perilaku gay terhadap
61,39% gay yang terdaftar di klinik kespro prevalensi IMS khususnya di Mobile Clinic
IGAMA tidak menggunakan kondom saat Community Center IGAMA kerjasama
berhubungan seksual dengan pasangannya. dengan Puskesmas Sumberpucung
Perilaku seksual yang tidak aman ini tidak Kabupaten Malang.
sesuai dengan tingkat pendidikan gay yang
relatif tinggi, dari 353 gay yang tercatat BAHAN DAN METODE
berpendidikan SMU dan sederajat 53,41%;
21,66% berpendidikan SMP; 12,17% Desain yang digunakan dalam
mahasiswa; 7,12% berpendidikan SD; 4,15% penelitian ini adalah desain non eksperimen
berpendidikan diploma; 1,48% berpendidikan yaitu deskriptif-analitik-korelasional dengan
sarjana dan 0,01% berpendidikan magister. pendekatan cross sectional. Populasi dalam
Penurunan prevalensi IMS selain penelitian ini adalah komunitas gay di
menggambarkan perubahan perilaku dapat Malang yang memeriksakan diri di klinik
memberikan gambaran perluasan cakupan kespro IGAMA sejumlah 353 orang. Dari
dan peningkatan kualitas program populasi tersebut terpilih 40 orang sebagai
penanggulangan IMS. Data prevalensi IMS sampel penelitian dengan menggunakan
yang diamati secara periodik berperan tehnik purposive sampling yaitu sampel yang
penting untuk melihat kecenderungan sesuai dengan kriteria inklusi. Adapun
perilaku seksual, potensi penyebaran kriteria inklusi yang ditetapkan dalam
HIV/AIDS dan untuk memonitor, penelitian ini sebagai berikut: gay yang
mengevaluasi serta merencanakan upaya berkunjung secara rutin 3 dan 6 bulan
penanggulangan IMS/HIV/AIDS (Jazan, terakhir di klinik kespro IGAMA wilayah
2003). Pada tahun 2002 telah dilakukan kerja Puskesmas Sumberpucung Kabupaten
survei perilaku berisiko yang dilakukan pada Malang dan gay yang berkunjung di klinik
subpopulasi LSL di tiga kota, yakni Jakarta, kespro IGAMA pada saat penelitian dan
Surabaya dan Batam. Hasil survei bersedia dengan sukarela menjadi responden.
Penelitian ini dilakukan pada selama Januari- sejumlah 40 orang (100%) mempunyai
Februari 2008. pengetahuan yang baik tentang IMS dan
Variabel independen dalam Kondom (gambar 2). Pada gambar 3 dapat
penelitian ini adalah perilaku (pengetahuan, dilihat bahwa sikap responden dalam
sikap dan tindakan) gay sedangkan variabel berperilaku seksual yaitu sebanyak 21 orang
dependen adalah prevalensi infeksi menular responden (52%) mempunyai sikap yang
seksual. Pada penelitian ini data diperoleh positif dan 19 orang responden (48%)
dengan menggunakan kuesioner, melakukan mempunyai sikap negatif.
pengamatan langsung, wawancara (indepht Sebagian besar responden yaitu 33
interview dengan content analyze) dan orang (82%) mempunyai tindakan yang
pemeriksaan laboratorium. Kuesioner yang cukup dalam berperilaku menjaga kesehatan
dipergunakan memuat berbagai pertanyaan organ reproduksi, mencegah penularan
tentang pengetahuan IMS dan kondom, sikap infeksi menular seksual dan mencari
gay terhadap hubungan seksual yang aman pengobatan, 4 orang (10%) responden
dan berisiko dan tindakan gay untuk mempunyai tindakan yang baik dan 3 orang
mendapatkan pelayanan kesehatan pada (8%) mempunyai tindakan yang kurang. Hal
sarana dan fasilitas kesehatan. Kuesioner ini mengindikasikan bahwa perilaku
disusun dan dikembangkan oleh peneliti responden dalam menjaga kesehatan organ
dengan mengacu pada definisi variabel, reproduksi, mencegah penularan infeksi
tujuan penelitian dan memodifikasi kuesioner menular seksual dan mencari pengobatan
pengetahuan dan sikap terhadap IMS dari sudah cukup (gambar 4). Gambar 5
Family Health International (FHI) (2005). menunjukkan bahwa 25 responden (62%)
Data yang diperoleh kemudian diketahui berstatus IMS negatif.
ditabulasi dan dianalisis dengan Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa terdapat
menggunakan uji statistik Spearmans Rho hubungan yang bermakna antara variabel
dengan derajat kemaknaan 0,05. pengetahuan dan prevalensi IMS (=0,001);
variabel sikap dan prevalensi IMS (=0,000)
HASIL dan antara variabel tindakan dan prevalensi
IMS (=0,000).
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa seluruh responden yang diteliti

Tabel 1 Hasil analisis statistik pengetahuan, sikap dan tindakan terhadap prevalensi IMS di
Mobile Clinic Community Centre IGAMA kerjasama dengan PKM Sumberpucung
Kabupaten Malang, Februari 2008
Pengetahuan Tindakan Sikap
Prevalensi Cuku Kuran
Baik Baik Cukup Kurang Positif Negatif
IMS p g
N % N % N % N % N % N % N % N %
IMS
15 38 0 0 0 0 1 7 13 86 2 7 4 27 11 73
Positif
IMS
25 62 0 0 0 0 3 12 20 84 1 4 17 68 8 32
Negatif
Total 40 100 0 0 0 0 4 10 33 82 3 8 21 53 19 47
Hasil
Spearman Rho Spearman Rho Spearman Rho
Analisis
(p=0,001) (p=0,000) (p=0,000)
Statistik

Keterangan :

N = Jumlah responden
p = signifikansi
PEMBAHASAN sebelum seseorang mengadopsi perilaku
(berperilaku baru) maka dia harus tahu
Penelitian ini dilakukan hanya satu terlebih dahulu apa arti atau manfaat perilaku
kali dalam satu waktu yaitu pada saat tersebut bagi diri atau keluarga. Indikator
berlangsungnya pemeriksaan klinik oleh yang dapat digunakan untuk mengetahui
Mobile Clinic Community Centre IGAMA tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap
yang bekerjasama dengan PKM kesehatan dapat dikelompokkan menjadi
Sumberpucung Kabupaten Malang. Hasil pengetahuan tentang sehat dan penyakit,
penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengetahuan tentang cara pemeliharaan
hubungan yang signifikan antara pendidikan, kesehatan dan cara hidup sehat dan
sikap dan tindakan responden dengan pengetahuan tentang kesehatan lingkungan.
prevalensi IMS. Hasil lain yang diperoleh Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan
yaitu diketahui bahwa usia responden merupakan faktor predisposisi penting untuk
merupakan usia produktif dimana sangat menghasilkan suatu bentuk perilaku
rawan terhadap perilaku seksual baik kesehatan baru. Faktor predisposisi ini
perilaku seksual aman atau berisiko (Dan, memberikan alasan yang rasional dan
2007). Tingkat pendidikan formal rerata memotivasi terjadinya suatu bentuk perilaku,
responden merupakan lulusan SMU dan faktor ini mendukung maupun menghambat
sederajat yang menunjukkan bahwa terjadinya suatu perilaku yang berkaitan
responden mempunyai pengetahuan yang dengan timbulnya tindakan kesehatan. Faktor
cukup baik untuk menerima informasi predisposisi memberikan dukungan bahwa
tentang IMS dan kondom (Faugier, 2006). perilaku akan menetap lama bila ada isyarat
Sebagian besar responden mempunyai yang cukup kuat untuk memotivasi seseorang
pekerjaan tetap dan sebagian besar lagi tidak untuk bertindak atau berubah atas dasar
mempunyai pekerjaan, hal ini dapat pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan
menciptakan banyak perilaku yang negatif yang baik dari responden tentang IMS dan
seperti membenarkan diri untuk menjual diri Kondom dapat mengurangi atau mencegah
sebagai alasan ekonomi (Jalu, 2007). penularan Infeksi Menular Seksual sehingga
Pengetahuan mempunyai hubungan prevalensi IMS menjadi rendah.
terhadap prevalensi IMS yang signifikan, hal Sikap responden dalam penelitian ini
ini sangat dimungkinkan karena pengetahuan mempunyai hubungan signifikan terhadap
bisa menjadikan seseorang berbuat lebih baik prevalensi IMS. Sikap positif responden
atau sebaliknya. Hal ini didukung dengan sangat mendukung terjadinya perubahan
latar belakang tingkat pendidikan responden perilaku baru yang positif karena dengan
yang mayoritas merupakan lulusan SMU dan adanya sikap positif responden terhadap
sederajat dan responden merupakan perilaku seksual dapat diartikan bahwa
pengunjung klinik rutin selama 3 atau 6 responden sangat berhati-hati dalam
bulan terakhir sehingga responden sudah mengambil sikap terutama dalam berperilaku
mendapatkan informasi dan pengetahuan seksual yang berisiko menularkan IMS. Hal
yang cukup tentang IMS dan Kondom ini didukung pernyataan responden berikut:
melalui berbagai program dari IGAMA Selalu mas, untuk menghindari IMS.
misalnya penyuluhan dan pembagian materi Saya dapat kondom dari kantor IGAMA,
KIE (seperti leaflet, booklet, stiker dan lain- cara menggunakan kondom yang benar
lain). dengan melihat tanggal kadaluwarsa
Benyamin Blomm (dalam kemudian rusak apa tidak
Notoatmodjo, 2003) mendefinisikan Sikap positif responden mendorong perilaku
pengetahuan sebagai hasil dari tahu dan ini seksual yang sehat serta dapat mengurangi
terjadi setelah orang melakukan atau mencegah penularan IMS seperti
penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. pernyataan beberapa responden berikut:
Penginderaan terjadi melalui indera Saya menggunakan kondom karena takut
penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa tertular IMS
dan raba. Sebagian besar pengetahuan Tetap setia pada satu pasangan
manusia diperoleh melalui mata dan hidung. Sikap responden yang lain yang
Notoatmodjo 2003 berpendapat bahwa mendukung antara lain kemauan menjaga
kebersihan organ reproduksi atau sama sekali Sebaya yaitu Kelompok dukungan yang
tidak melakukan hubungan seksual. Sikap disebut "ASTAGA"; Hotline Service;
positif responden terhadap perilaku seksual Layanan Info melalui Website; Distribusi
sangat didukung oleh adanya faktor Materi KIE (leaflet, stiker, poster, booklet,
predisposisi antara lain pengetahuan kalender, bloknote dan lainnya); Distribusi
responden yang baik dan sikap responden Kondom dan Pelicin (Safer Pack); Outlet
terhadap kesehatan, tradisi, kepercayaan, Kondom; Kegiatan Koordinasi Jaringan
tingkat pendidikan, motivasi, tingkat sosial Peduli AIDS Malang Raya. Jaringan LSM
ekonomi dan sebagainya yang sudah cukup yang terdiri atas beberapa lembaga seperti
memadai sehingga responden mengetahui IGAMA, KK WAMARAPA, SADAR
apa yang harus dilakukan untuk mencegah HATI, PARAMITRA serta beberapa
terjadinya penularan IMS. lembaga atau organisasi lain juga turut
Faktor pendukung sikap positif berpartisipasi (GERMAN, SMART,
responden antara lain ketersediaan sarana Paguyuban Kakang Bakyu Malang dan
dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi lainnya).
masyarakat misalnya puskesmas, rumah sakit Sikap negatif responden dalam
dan klinik sebagai tempat untuk melakukan berperilaku seksual dapat dipengaruhi oleh
pemeriksaan (seperti Mobile Clinic beberapa faktor antara lain kurangnya
Community Centre IGAMA yang pengetahuan responden terhadap perilaku
bekerjasama dengan PKM Sumberpucung seksual yang aman, adanya keterbatasan
Kabupaten Malang), apotik atau toko sebagai sarana dan prasarana serta fasilitas yang
tempat membeli kondom. Fasilitas ini pada diperoleh responden, belum pernah
hakekatnya mendukung atau memungkinkan mendapatkan pelayanan atau penyuluhan
terwujudnya perilaku kesehatan. kesehatan oleh petugas kesehatan atau
Faktor penguat sikap positif responden sangat sulit merubah sikapnya
responden meliputi faktor peran lembaga seperti pernyataan beberapa responden
swadaya masyarakat (LSM), perilaku tenaga berikut:
kesehatan, termasuk undang-undang yang Saya tergantung lawan maen mas, dia
terkait dengan kesehatan. Masyarakat bukan mau pake kondom apa enggak karena
hanya memerlukan pengetahuan, sikap saya tidak mau memaksa
positif dan dukungan fasilitas kesehatan saja Gak pernah mas, make kondom iku gak
untuk berperilaku sehat, namun diperlukan enak
juga perilaku contoh (acuan) dari para tokoh Gak pernah buat apa mas karena kita
agama, petugas kesehatan dan peran lembaga sama-sama bersih jadi ngak perlu pake
swadaya masyarakat (LSM) terkait dalam kondom
menanggulangi dan mengurangi penyebaran Perilaku negatif responden
IMS di komunitas gay di Malang. mempunyai potensial untuk meningkatkan
IGAMA dalam hal ini mempunyai penularan IMS melalui hubungan seksual
banyak kegiatan program kesehatan yang yang tidak aman karena menurut responden
bertujuan membentuk sikap positif dari bahwa sikap yang selama ini dianutnya
responden misalnya Penjangkauan dan adalah benar sehingga bisa berpengaruh
Pendampingan; Community Outreach; terhadap peningkatan prevalensi IMS.
Pelatihan dan Pembinaan Peer Educater; Tindakan responden dalam menjaga
Penyuluhan dan Focus Groups Discussion kesehatan organ reproduksi, mencegah
yang dilakukan secara aktif dan pasif; penularan infeksi menular seksual dan
Kampanye atau Penyiaran Radio Terarah; mencari pengobatan bila sakit mempunyai
Rujukan Klinik IMS yaitu suatu program hubungan yang signifikan terhadap
yang menyediakan layanan Mobile Clinic prevalensi IMS. Hal ini mengindikasikan
Community Centre IGAMA yang bahwa perilaku responden dalam menjaga
diselenggarakan atas kerjasama dengan PKM kesehatan organ reproduksi dengan mencari
Sumberpucung dengan dukungan dana dari pengobatan mampu mencegah penularan
FHI (Family Health International); IMS. Beberapa faktor yang mempengaruhi
Konseling dan Rujukan VCT; Layanan antara lain kesadaran responden untuk
Manager Kasus; Kelompok Dukungan berperilaku sehat sangat tinggi, dimana
responden menganggap bahwa kesehatan Tindakan responden di Mobile Clinic
adalah yang terpenting. Community Centre IGAMA kerjasama
Becker (dalam Notoatmodjo, 2003) dengan PKM Sumberpucung Kabupaten
membuat klasifikasi tentang perilaku Malang dalam menjaga kesehatan organ
kesehatan antara lain perilaku hidup sehat reproduksi, mencegah penularan IMS dan
yang mencakup perilaku atau gaya hidup mencari pengobatan sebagian besar adalah
yang positif bagi kesehatan; perilaku sakit cukup. Hal ini disebabkan karena responden
(Illness Behaviour) mencakup respons sudah mempunyai kesadaran yang cukup
seseorang terhadap sakit dan penyakit, tinggi dalam menggunakan layanan atau
persepsinya tehadap sakit, pengetahuan fasilitas kesehatan.
tentang penyebab dan gejala penyakit,
pengobatan penyakit dan lain sebagainya; Saran
perilaku peran sakit (The Sick Role
Behaviour) meliputi tindakan memperoleh Peneliti menyarankan agar:
kesembuhan, mengenal/ mengetahui fasilitas pengetahuan, sikap dan tindakan bisa
pelayanan atau penyembuhan penyakit yang membentuk perilaku baru baik perilaku yang
layak, mengetahui hak dan kewajiban orang positif atau perilaku yang negatif dibuktikan
sakit. Berbagai perilaku tersebut tergambar dengan menggunakan pendekatan Health
dari pernyataan reponden berikut: Believe sehingga perilaku gay dapat dirubah
Saya selalu memeriksakan diri secara dan prevalensi IMS dapat dikendalikan.
rutin ke klinik IGAMA, rutin check up,
tidak ngeseks, rutin minum obat, ke KEPUSTAKAAN
IGAMA karena tempatnya nyaman dan
rahasia dijamin Dan, J. 2007. Sains Bicara Homoseksual,
(Online), (http://www.north.com/,
diakses tanggal 17 November 2007,
SIMPULAN DAN SARAN jam 01.25 WIB).
Family Health Intenational. 2005. Kuesioner
Simpulan Pengetahuan dan Sikap terhadap
Infeksi Menular Seksual dan
Pengetahuan, sikap dan tindakan HIV/AIDS, (Online),
responden menunjukkan hubungan yang (http://www.certi.org/cma/training/mo
signifikan dengan prevalensi IMS. Semakin dule1-5-indonesian/ Modul2HIV.htm.,
rendah pengetahuan, semakin negatif sikap diakses tanggal 17 November 2007,
dan semakin kurang tindakan maka potensial jam 02.15 WIB).
tertular IMS semakin meningkat. Faugier, J. 2006. AIDS and HIV the Nursing
Pengetahuan dari seluruh responden tentang Respons. London: Chapman and Hall.
IMS dan kondom di Mobile Clinic Jalu. 2007. Kepedulian Mencegah IMS dan
Community Centre IGAMA kerjasama HIV/AIDS, (Online),
dengan PKM Sumberpucung Kabupaten (http://www.kompas.com/kompas-
Malang adalah baik. Pengetahuan merupakan cetak/0611/17/jogja/1030831.htm.,
salah satu faktor predisposisi yang penting diakses tanggal 17 November 2007,
untuk membentuk perilaku kesehatan baru. jam 00.55 WIB).
Sikap merupakan salah satu indikator Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan
yang penting selain pengetahuan dalam Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka
membentuk suatu perilaku baru, apakah Cipta.
perilaku tersebut negatif maupun positif. Thaczuck, D. 2007. IMS Meningkatkan
Pada penelitian ini didapatkan sebagian besar Risiko Penularan HIV yang Resisten,
dari responden di Mobile Clinic Community (Online), (http://www.aidsmap.com.,
Centre IGAMA kerjasama dengan PKM diakses tanggal 17 November 2007,
Sumberpucung Kabupaten Malang jam 02.30 WIB).
mempunyai sikap positif.