Anda di halaman 1dari 10

BAB V

PEMBAHASAN

Sumur yang diproduksikan untuk pertama kali, memiliki kemampuan untuk


mengalirkan fluida dari reservoir menuju ke permukaan dengan bantuan tenaga
pendorong yang berasal dari reservoir. Namun seiring lamanya waktu produksi,
tekanan dari tenaga pendorong ini berkurang dan pada suatu saat tidak mampu
mengalirkan fluida hidrokarbon ke permukaan sehingga diperlukan suatu metode
pengangkatan buatan. Dalam tahap produksi, menurunnya laju produksi karena
penurunan tekanan alir dasar sumur dari suatu sumur produksi merupakan suatu
keadaan yang tidak dapat dihindarkan sehingga untuk memperoleh jumlah minyak
semaksimal mungkin, sumur harus tetap dijaga agar tetap berproduksi dengan laju
produksi yang optimum. Oleh karena itu apabila pada suatu sumur terjadi
penurunan laju produksi, maka perlu adanya metode produksi buatan dengan kata
lain perlu adanya pengangkatan buatan (artificial lift) untuk mengangkat fluida dari
reservoir kepermukaan. Artificial lift buatan yang dibahas adalah sucker rod pump
(SRP), electrical submersible pump (ESP), jet pump, gas lift dan Progressive Cavity
Pump (PCP).
Metode produksi artificial lift juga terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam penentuan metode yang digunakan, diantaranya : kondisi
reservoir (GOR, produktifitas sumur, water cut, Pwf dan mekanisme pendorong
reservoirnya), kondisi fluida (viskositas, kandungan pasir), kondisi lubang sumur
(temperatur, kedalaman sumur, kemiringan lubang sumur), penyediaan sumber
tenaga, masalah produksi, faktor ekonomi, lokasi produksi di darat (onshore) atau
lepas pantai (offshore), kelebihan dan kekurangan masing-masing metode artificial
lift.
Lokasi lapangan adalah apakah lapangan tersebut lapangan di onshore atau
di offshore. Ketersediaan tenaga penggerak seperti listrik atau gas yang digunakan
sebagai sumber tenaga pada SRP, ESP, PCP, jet pump dan gas lift sangat penting
dipertimbangkan karena apabila tidak terserdia listrik cukup untuk di lapangan
maka pompa tidak dapat digunakan. Besarnya jumlah gas bebas yang terproduksi

229
230

dapat mengurangi efisiensi pengakatan cairan pada pompa. Berbeda pada gas lift
yang semakin besarnya jumlah gas bebas terproduksi justru sangat menguntungkan
karena dapat mengurangi jumlah gas yang harus diinjeksikan. Produktivitas sumur
merupakan faktor yang penting untuk dipertimbangkan dalam proses pemilihan
metoda pengangkatan buatan karena berkaitan erat dengan kapasitas pengangkatan
cairan yang dimiliki oleh metoda pengangkatan buatan tersebut. Sumur dengan
produktivitas tinggi membutuhkan metoda pengangkatan buatan dengan kapasitas
pengangkatan cairan yang besar. Water cut merupakan salah satu faktor yang harus
dipertimbangkan dalam proses pemilihan metoda pengangkatan buatan, karena
berkaitan erat dengan volume dan gradien fluida dan kapasitas pengangkatan cairan
yang dimiliki oleh suatu metoda pengangkatan buatan. Tekanan alir dasar sumur
(Pwf) merupakan salah satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam proses
pemilihan metoda pengangkatan buatan karena berkaitan erat dengan tekanan
intake pompa, oleh karena tekanan alir dasar sumur rendah, maka tekanan intake
pada pompa juga akan rendah. Reservoir drive merupakan faktor yang menentukan
apakah cocok untuk digunakan pompa apabila adanya water influx atau digunakan
kompersor apabila tercukupinya gas untuk diinjeksikan sebagai gas lift. Kondisi
fluida yang diangkat menggunakan metode pengangkatan buatan juga
dipertimbangkan dalam proses pemilihan untuk pengoptimasian metode
pengangkatan buatan karena dapat mempengaruhi efisiensi dari masing-masing
metode pengangkatan. Dalam hal ini kondisi yang dimaksud adalah viskositas dan
kandungan pasir. Kondisi lubang sumur seperti temperatur lubang, kedalaman
lubang dan inklinasi lubang menjadi pertimbangan untuk pemakaian metode
pengakatan buatan. Temperatur lubang sumur yang terlalu tinggi dapat mengurangi
operating life dari beberapa peralatan metoda pengangkatan buatan, sehingga
penggunaan metoda tersebut menjadi tidak efektif.
Metode Sucker Rod Pump optimasi produksinya membutuhkan Parameter
perencanaan yang meliputi Setting Depth Pompa, Pump displacement, panjang
langkah (stroke), penentuan diameter plunger, tubing, Rod SPM, Acceleration
factor, panjang langkah plunger efektif, estimasi displacement pompa, berat rod
string dan berat fluida, beban polished rod dan Rod stress, counterbalance, torque
231

dan tenaga motor. Kemudian untuk kondisi optimumnya penggunaan SRP tidak
dapat dilakukan di offshore disebabkan sumur-sumur pada lepas pantai umumnya
adalah sumur deviasi. Sebagai sumber tenaga dapat digunakan listrik. Metode SRP
mampu digunakan untuk sumur dengan nilai GOR 500 scf/STB sampai 2000
scf/STB meskipun dapat mengurangi efisiensi volumetrik pompa SRP. Namun
masalah ini dapat diatasi dengan downhole gas separato, gas separator, dan
lainnya. Lebih dari 2000 scf/STB tidak direkomendasikan.Untuk sumur dengan
produktivitas kurang dari 1000 bpd, SRP direkomendasikan karena pada keadaan
operasi terdapat jeda waktu antara upstroke dengan downstroke, sehingga terjadi
akumulasi cairan di lubang sumur sebelum fluida diangkat pada waktu upstroke.
Produktivitas lebih dari 1000 bpd SRP tidak direkomendasikan karena kinerjanya
akan terbatas oleh luas plunger yang tersedia dan beban yang ditanggung oleh
polished rod. Toleransi water cut yang tinggi sering membuat SRP tidak
dipertimbangkan untuk dipakai karena menimbulkan kelebihan beban pada
polished rod juga keterbatasan luas plunger. Tekanan alir dasar sumur yang lebih
tinggi dari tekanan buble point maka SRP direkomendasikan namun bila lebih
rendah maka diperlukan downhole gas separator karena gas yang terbebaskan
dapat mengurangi efisiensi volumetrik SRP. Reservoir dengan tenaga pendorong
yang optimum bagi SRP adalah reservoir water drive. Kondisi fluida yang dapat
diangkat dengan metode SRP sehingga dapat mencapai optimum adalah fluida
dengan viskositas kurang dari 100 cp. Kemudian fluida dengan viskositas 100 cp
sampai 500 cp, SRP masih dapat digunakan tapi membutuhkan tenaga yang lebih
besar. Fluida dengan viskositas diatas 500 cp tidak direkomendasikan memakai
SRP. Pompa SRP sangat tidak direkomendasikan untuk sumur dengan kandungan
pasir yang tinggi karena menimbulkan masalah mekanis seperti pengikisan pada
peralatan pompa. Kemudian SRP dapat digunakan pada kondisi sumur dengan
temperatur lebih dari 350 oF, dengan kedalaman mencapai 16000 ft. Tapi tidak
dapat dipakai pada sumur deviated.
Metode Electrical Submersible Pump (ESP) optimasi produksinya
membutuhkan parameter perencanaan yang meliputi data (terdiri data sumur,
reservoir, fluida), menghitung berat jenis rata-rata dan gradien tekanan fluida
232

produksi, menentukan kedudukan pompa, menentukan laju produksi yang


diinginkan, menghitung pump intake serta memilih jenis dan ukuran pompa,
menghitung jumlah stages dan horse power, menghitung kecepatan aliran di
annulus. Penggunaan metode ESP dapat pada onshore maupun offshore dengan
menggunakan tenaga penggerak motor listrik. ESP hanya direkomendasikan pada
sumur dengan nilai GOR kurang dari 500 scf/STB. Hingga nilai GOR mencapai
2000scf/STB metode ESP masih dapat digunakan namun diatasi oleh downhole gas
separator agar tidak mengurangi efisiensi volumetrik pompa ESP, diatas nilai 2000
scf/STB tidak direkomendasikan karena menimbulkan gas lock. Sumur dengan
nilai produktivitas kurang dari 1000 bpd tidak direkomendasikan karena
membutuhkan aliran fluida yang kontinyu, namun masih dapat dipakai. Produktivas
dengan nilai diatas 10000 bpd sangat direkomendasikan. Dengan nilai produktivitas
yang tinggi maka SRP direkomendasikan bagi sumur yang memiliki nilai water cut
yang tinggi pula. Sehingga sumur dengan reservoir tenaga pendorong air sangat
sesuai pada ESP. Kemudian tekanan alir dasar sumur yang lebih tinggi dari tekanan
buble point maka ESP direkomendasikan namun bila lebih rendah maka diperlukan
downhole gas separator karena gas yang terbebaskan dapat mengurangi efisiensi
volumetrik pompa. Untuk kondisi fluida dengan viskositas 100 cp sampai 500 cp
masih dapat digunakan metode ESP, tetapi membutuhkan tenaga yang lebih besar.
Kondisi fluida dengan viskositas kurang dari 100 cp yang direkomendasikan pada
metode ESP. Fluida dengan kandungan pasir yang tinggi sangat tidak
direkomendasikan menggunakan metode ESP karena dapat terjadi pengikisan pada
alat pompa, ESP hanya dapat dipakai pada kondisi fluida yang kandungan pasirnya
rendah. ESP direkomendasikan untuk sumur dengan temperatur 250 oF sampai 350
o
F. Sumur dengan temperatur lebih dari 350 oF, Electric submersible pump tidak
begitu disarankan sebagai metoda pengangkatan buatan. Kalaupun akan dipilih,
maka perlu disiapkan peralatan khusus, yang tahan temperatur tinggi, dengan harga
yang mahal. Electric submersible pump, kinerjanya terhadap kedalaman dibatasi
oleh temperatur dimana semakin dalam sumur maka semakin tinggi temperatur di
dalam sumur. Jadi electric submersible pump dapat digunakan pada kedalaman
lebih dari 15000 ft asalkan berada pada batasan temperatur yang diizinkan. Metode
233

ESP dapat digunakan sebagai metoda pengangkatan buatan baik pada deviated hole
maupun pada undeviated hole.
Metode gas lift optimasi produksinya membutuhkan parameter perencanaan
sebagai berikut :
Untuk continuous gas lift meliputi penentuan titik injeksi, penentuan jumlah
gas injeksi, penentuan letak kedalaman katup-katup injeksi.
Untuk intermittent gas lift meliputi, perencanaan spacing balance valve,
penentuan spacing unbalanced valve, perhitungan horse power kompresor.
Penggunaan gas lift sendiri dapat dipakai pada lapangan onshore maupun
offshore tapi diperlukan ketersediaan gas yang memadai di lapangan sehingga tidak
direkomendasikan pada sumur dengan nilai GOR kurang dari 500 scf/STB. Metode
gas lift dapat dipakai dengan sumur dengan nilai GOR 500 scf/STB sampai 2000
scf/STB dan sangat direkomendasikan pada sumur dengan nilai GOR lebih dari
2000 scf/STB. Harga GOR yang tinggi sangat menguntungkan sekali bagi
continous gas lift karena dapat mengurangi jumlah gas yang harus diinjeksikan.
Sedangkan nilai Pwf yang lebih tinggi dari bubble point ataupun lebih rendah dari
bubble point metode GL dapat direkomendasikan. Kemudian untuk produktivitas
sumur kurang dari 1000 bpd maka digunakan intermittent gas lift karena continous
gas lift membutuhkan, sedangkan produktivitas sumur diantara 1000 bpd sampai
10000 bpd atau lebih dipakai metode continous gas lift. Sedangkan untuk nilai Pwf
lebih dari Pb atau kurang dari Pb, metode gas lift dapat digunakan. Metode gas lift
dapat menoleransi nilai water cut sehingga dapat dipakai pada sumur dengan nilai
water cut rendah ataupun tinggi. Karena pertimbangan ketersediaan tenaga untuk
gas lift, maka reservoir dengan tenaga pendorong air tidak direkomendasikan
karena minimnya sumber gas untuk diinjeksikan ke dalam sumur. Metode produksi
gas lift sangat cocok untuk reservoir gas cap drive yang mempunyai fasa gas yang
berasal dari gas cap dan reservoir solution gas drive yang mempunyai perbandingan
produksi gas-minyak (GOR) yang relatif tinggi. Kondisi fluida dengan viskositas
tinggi sangat direkomendasikan menggunakan metode gas lift. Metode gas lift
dapat digunakan pada fluida dengan viskositas mencapai 1000 cp. gas lift dapat
digunakan pada fluida dengan viskositas yang besar karena penginjeksian gas pada
234

kedalaman tertentu pada metoda gas lift dapat mengurangi viskositas fluida
produksi. Pasir yang terproduksi mengalir ke permukaan bersama-sama dengan
fluida produksi dan tidak melewati katup sehingga tidak menimbulkan
permasalahan yang serius terhadap katup-katup tersebut. Kondisi fluida yang
memiliki kandungan pasir tinggi maka gas lift merupakan satu-satunya metode
pengangkatan buatan yang disarankan. Temperatur sumur lebih dari 350 oF masih
dapat digunakan metode gas lift. Pada gas lift, besarnya kedalaman lubang sumur
dapat meningkatkan performance kerja gas lift karena semakin dalam sumur
semakin dalam kedalaman titik injeksi sehingga semakin besar kolom fluida yang
mengalami pengurangan gradien tekanan. Operasi maksimum gas lift dapat
mencapai 18000 ft. Tetapi dari sisi lain, diperlukan kompresor yang mampu
menginjeksikan gas dengan tekanan yang lebih tinggi. Metode gas lift dapat
digunakan sebagai metoda pengangkatan buatan baik pada deviated hole maupun
pada undeviated hole.
Metode Progressive Cavity Pump (PCP) optimasi produksinya
membutuhkan parameter perencanaan yang meliputi, mempersiapkan data sumur,
data produksi, data pompa, dan data lainnya dan mempersiapkan pembuatan kurva
IPR. Kemudian menentukan Pump Setting Depth, menentukan Pump Intake
Pressure (PIP) dan Lifting Capacity (TNL), menentukan tipe pompa yang
digunakan, menentukan Pump Displacement (V), menentukan RPM pompa,
menghitung torque, menghitung horse power motor, menentukan jenis drive head,
penentuan efisiensi volumetrik pompa Progressing Cavity. Penggunaan PCP dapat
di onshore ataupun di offshore dengan tenaga penggerak listrik atau gas. PCP masih
dapat digunakan pada sumur yang memiliki nilai GOR 500 scf/STB sampai 2000
scf/STB dengan penggunaan downhole gas separator. Namun yang
direkomendasikan adalah pada sumur dengan nilai GOR kurang dari 500 scf/STB
agar efisiensi volumetrik pompa terjaga. Untuk produktivitas sumur yang
direkomendasikan apabila menggunakan cavity pump adalah antara 1000 bpd
sampai 10000 bpd atau kurang dari 1000 bpd. Pada sumur yang memiliki water cut
tinggi, maka PCP direkomendasikan. Sehingga sumur dengan reservoir tenaga
pendorong air sangat sesuai pada PCP. Kemudian tekanan alir dasar sumur yang
235

lebih tinggi dari tekanan buble point maka PCP direkomendasikan namun bila lebih
rendah maka diperlukan downhole gas separator karena gas yang terbebaskan
dapat mengurangi efisiensi volumetrik pompa. Kondisi fluida yang mampu
diterapkan untuk PCP adalah fluida yang memiliki viskositas kurang dari 100 cp
atau 100 cp sampai 500 cp, namun yang direkomendasikan adalah fluida yang
memilik viskositas kurang dari 100 cp. Kemudian apabila kandungan pasir fluida
hidrokarbon tinggi maka metode PCP tidak direkomendasikan karena
menimbulkan pengikisan pada peralatan pompa. Kemudian PCP dapat digunakan
pada kondisi sumur dengan temperatur lebih dari 350 oF karena temperatur yang
tinggi dapat merusak kabel dan motor serta stator dari cavity pump. PCP hanya
dapat diterapkan mencapai 12000 ft karena semakin dalam kedalaman maka beban
yang diterima oleh polished rod semakin besar ditambah dengan gaya puntiran yang
dapat menyebabkan putusnya rod. PCP dapat digunakan sebagai metoda
pengangkatan buatan baik pada deviated hole maupun pada undeviated hole.
Metode jet pump untuk optimasinya perlu dicari terlebih dahulu laju
produksi optimum atau laju produksi yang diinginkan. Laju produksi tersebut dapat
ditentukan dari kurva IPR sumur. Data penunjang untuk optimasi terdiri dari Laju
aliran yang diharapkan (qs), Pump intake pressure (PIP), Gas-Oil Ratio (GOR),
Water cut (WC), Gradien Pump intake fluid (Gs), Panjang tubing (L), Viskositas
(d, o, w), Gradien fluida (Gn, Go, Gd, Gw), Tekanan injeksi power fluid (Pinj),
Pump setting Depth (D). Dari data tersebut dilakukan optimasi dengan merubah
tekanan pompa dipermukaan dan merubah diameter ukuran nozzle dan throat yang
berhubungan langsung dengan laju alir power fluid dan hasil pencampuran power
fluid dengan fluida produksi. Lokasi penggunaan jet pump dapat di offshore
maupun onshore dengan ketersediaan tenaga penggerak listrik. Adanya gas bebas
yang terproduksi mempengaruhi efisiensi jet pump sehingga nilai GOR yang
direkomendasikan untuk jet pump adalah kurang dari 500 scf/STB. Untuk nilai
GOR 500 scf/STB sampai 2000 scf/STB penggunaan metode jet pump masih dapat
dipakai dengan ditambahkan downhole gas separator atau gas anchor. Untuk nilai
GOR lebih dari 2000 scf/STB maka tidak direkomendasikan. Produktivitas sumur
antara 1000 bpd sampai 10000 bpd jet pump direkomendasikan. Nilai water cut
236

yang tinggi ataupun rendah, jet pump masih dapat diterapkan. Kemudian tekanan
alir dasar sumur yang lebih tinggi dari tekanan buble point maka jet pump
direkomendasikan namun bila lebih rendah maka diperlukan downhole gas
separator karena gas yang terbebaskan dapat mengurangi efisiensi volumetrik
pompa. Reservoir dengan tenaga pendorong yang optimum bagi jet pump adalah
reservoir water drive. Kondisi fluida yang optimum bagi jet pump adalah fluida
dengan viskositas kurang dari 100 cp. Namun jet pump masih dapat digunakan pada
kondisi fluida dengan viskositas mencapai 800 cp, Besarnya viskositas fluida dapat
diatasi dengan menggunakan fluida kerja yang encer dengan viskositas kurang dari
50 cp. Apabila kandungan pasir pada fluida bernilai tinggi maka tidak
direkomendasikan menggunakan jet pump. Untuk temperatur sumur yang melebihi
350 oF jet pump masih dapat direkomendasikan. Operasi maksimum dari jet pump
adalah 15000 ft, sehingga dapat digunakan untuk sumur yang memiliki kedalaman
lebih dari 14000 ft. Juga jet pump dapat digunakan sebagai metoda pengangkatan
buatan baik pada deviated hole maupun pada undeviated hole.
Dari penggunaan metode pengangkatan buatan diinginkan laju produksi
optimum sehingga memperoleh produksi yang optimum pula sehingga biaya-biaya
yang dikeluarkan dapat tertutup. Maka, faktor ekonomi capital cost dan operating
cost merupakan parameter ekonomi yang harus dipertimbangkan dalam proses
pemilihan metoda pengangkatan buatan yang akan diaplikasikan pada suatu sumur
atau lapangan. Besarnya harga capital cost dan operating cost dapat mengeliminasi
suatu metoda sebagai alternatif metoda pengangkatan buatan yang akan
diaplikasikan pada sumur atau lapangan tersebut karena tidak ekonomis. Besarnya
harga capital cost dan operating cost sangat tergantung kepada kondisi lapangan.
Dalam proses pemilihan metoda pengangkatan buatan yang tepat,
parameter-parameter tersebut dibandingkan antara suatu metoda dengan metoda
yang lainnya. Metoda pengangkatan buatan yang tepat adalah metoda yang
memberikan laju produksi yang besar dengan harga capital cost dan operating cost
yang rendah. Setelah mendapatkan nilai investasi capital cost dan operating cost
seperti biaya peralatan, biaya instalasi, biaya maintenance, biaya lifting dan biaya
sumber daya dari suatu artificial lift. Maka perhitungan keekonomian dari artificial
237

lift yang dipertimbangkan adalah lifting cost, lost production dan nilai tukar rupiah
yang berubah terhadap dollar.
Prinsip dasar yang harus diterapkan dalam melakukan analisa keekonomian
adalah nilai waktu dari uang (time value of money present value concept) karena
waktu adalah faktor yang paling penting dalam daya pendapatan dari suatu investasi
termasuk. Satu dollar yang diterima hari ini adalah jauh akan lebih berguna daripada
satu dollar yang diterima suatu saat dimasa yang akan datang, karena satu dollar
hari ini bisa digunakan untuk membeli (untuk mendapatkan harga yang lebih murah
daripada harga yang akan datang) atau uang tersebut diinvestasikan di bank atau
jenis usaha yang lain (untuk menghasilkan keuntungan), jadi waktu adalah uang
(time is equal to money). Sehingga, dapat dilakukan pertimbangan penggunaan
metode artificial lift atau melakukan tahap produksi lainnya.
Parameter keekonomian POT atau pay out time atau pay back period adalah
indikator ekonomi yang menunjukkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk
menghasilkan nilai kumulatif net cash flow sama dengan nol. Dengan kata lain, pay
out time adalah waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan investasi yang
ditanamkan kembali, termasuk dari penggunaan suatu artificial lift. Kelemahan dari
metode payback period ini mengabaikan nilai waktu dari uang (time value of
money) dan juga tidak dapat menunjukkan besarnya keuntungan yang akan
diperoleh tapi juga mempunyai keunggulan yaitu dapat memperkirakan kecepatan
kembalinya dana.
Internal Rate of Return (IRR/ROR), atau discounted rate of return, atau rate
of return adalah besarnya discount rate (i) yang menyebabkan harga net present
value (NPV) sama dengan nol. Dalam perhitungan, harga rate of return dihitung
dengan cara trial and error untuk berbagai harga i sampai diperoleh harga yang
mengakibatkan harga NPV = 0. Kriteria pengambilan keputusan adalah mengambil
harga IRR yang besar, karena dengan IRR yang besar akan dapat mengantisipasi
kenaikan bunga bank. Biasanya setiap perusahaan mempunyai batasan nilai
minimum dari IRR yang diinginkan yang dinyatakan dengan Minimum Attractive
rate of return (MARR). Harga IRR harus lebih besar dari MARR.
238

Profit to investment ratio (PIR) sering juga disebut sebagai return on


investment (ROI) adalah perbandingan antara total undiscounted net cash flow
dengan total investasi. Hal ini merupakan ukuran dari seberapa banyak project cash
flow dapat menutupi investasi. Dengan kata lain, PIR menggambarkan setiap US$
1 investasi akan menghasilkan X*US$ 1, jadi harga PIR yang harus dipilih adalah
yang paling besar.
Discounted profit to investment ratio (DPR) atau disebut juga dengan
Discounted Return on Investment (DROI), hampir sama dengan profit to investment
ratio, yang berbeda adalah pada PIR atau ROI yang belum didiscounted atau belum
dibawa ke nilai yang akan datang/sekarang, sedangkan DPR sudah didiscounted
atau sudah dibawa ke nilai datang/sekarang.
Dari hasil peramalan produksi dan dilanjutkan dengan analisa indikator
ekonomi haruslah memberikan suatu gambaran bahwa suatu proyek jika
dilanjutkan akan memberikan suatu keuntungan kepada investor, dimana
keuntungan tersebut harus lebih besar daripada keuntungan investasi lain yang
paling kecil faktor resikonya (misalnya menanamkan modal di bank).