Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH FARMAKOTERAPI

OSTEOPOROSIS

KELOMPOK 9

ANGGOTA :

Deden Munandar 2404112053

Devy Ratna S 2404112009

Elin Niawati 2404112011

Nisa S Karomah 2404112068

Poppy Endarti 2404112033

Sopi Rahmawati 2404112078

PROGRAM STUDI S1 FARMASI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS GARUT

2016
OSTEOPOROSIS

Pendahuluan

Tulang secara konstant mengalami peremajaan, jaringan tulang lama

dirombak dan tulang baru dibentuk untuk menggantikannya. Kedua proses ini

dikenal sebagai remodelling atau regenerasi tulang, dan disebabkan oleh aksi dua

jenis sel yang berbeda dalam tulang.

Osteoklast, merombak tulang dengan menggunakan asam dan enzim (suatu proses

yang secara teknis dikenal sebagai resorpsi tulang). Enzim merupakan protein

yang mempercepat reaksi kimia.

Osteoblast menghasilkan tulang baru untuk menggantikan tulang lama yang

dirombak oleh osteoklast (pembentukn tulang).

Saat mencapai usia 35 tahun, kepadatan tulang anda mulai menurun karena

kecepatan resorpsi tulang melampaui kecepatan pembentukan tulang, selanjutnya

jelaslah jika usia semakin bertambah maka kepadatan tulang secara alamiah akan

menurun dibawah tingkat kepadatan tulang dengan orang orang yang masih muda

dan sehat. Apabila perbedaan ini bertambah besar (yaitu epadatan tualng anda

lebih rendah lagi), maka disebut mengalami osteopenia atau kepadatan tulang

rendah. Bila perbedaan ini menjadi bertambah besar, maka mengalami

osteoporosis.

Matriks tulang sebagian besar disusun oleh serabut kolagen dan

hidroksiapalit, suatu garam tulang yang terdiri dari kalsium dan fosfat.
1. Definisi

Osteoporosis adalah penyakit tulang metabolik yang ditandai oleh

penurunan densitas tulang yang parah sehingga mudah terjadi fraktur tulang.

Osteoporosis terjadi apabila kecepatan resorpsi tulang sangan melebihi

kecepatan pembentukan tulang. Tulang yang dibntuk normal, akan tetapi

karena jumlah tulang terlalu sedikit, tulang menjadi lemah. Semua tulang

dapat mengalami osteoporosis walaupun osteoporosis biasanya terjadi di

tulang pangkal paha, panggul, pergelangan tangan, dan kolumna vertebralis.

2. Prevalensi

Perkiraan menunjukkan bahwa pada tahun 2005, lebih dari dua juta orang

Amerika mengalamai frektur terkait oeteoporosis, yang menghabiskan biaya

16,9 miliar dolar. Meskipun saat ini paling sering dijumpai pada wanita

kaukasi, diprediksikan bahwa pada 20 tahun berikutnya, jumlah pria dan

minoritas yang mengalami osteoporosis akan meningkat secara signifikan

akibat perubahan demografis.

Di inggris lebih dari 5 juta wanita dan hampir 2 juta pria mengalami patah

tulang, sebagian besar disebabkan oleh osteoporosis, dan sebagian besar pula

tidak dapat diobati. Osteoporosis sering terjadi di negara barat seperti inggris

daripada dibeberapa negara berkembang. Hal ini agak mengejutkan karena

telah diketahui bahwa orang-orang di daerah maju cendrung memiliki lebih

banyak kalsium dalam pola makannya. Akan tetapi faktor lainnya seperti

harapan hidup yang lebih lama, kurangnya berolahraga, konsumsi alkohol


secara berlebihan, dan merokok mungkin berperan dalam peningkatan risiko

osteoorosis di inggris dibandingkan dengan daerah yang lebih miskin di dunia.

Lebih dari 50.000 patah tulang pergelangan tangan, lebih dari 120.000

patah tulang punggung, dan lebih dari 70.000 patah tulang panggul.

Pada tahun 2006 prevalensi osteoporosis wanita di Indonesia 23% pada

usia 50 hingga 80 tahun dan 53% pada usia 70 hingga 80 tahun. Tahun 2010

menyatakan angka insiden patah tulang paha yang diakibatkan osteoporosis

sekitar 200/100 ribu kasus pada wanita dan pria di atas usia 40 tahun.

3. Remodeling Tulang

Siklus remodeling tulang dimulai dengan perekrutan sel-sel precursor

osteoklas. Sel-sel ini berdiferensiasi menjadi osteoklas ketika mereka

menerima sinyal dari osteoblas. Osteoklas yang matur kemudian mensintesis

enzim proteolitik yang mencerna matriks kolagen. Resopsi tulang ini adalah

tahap pertama dari siklus renovasi. Fase yang panjang ini diatur oleh apoptosis

osteoklas. Fase selanjutnya dari siklus remodeling preosteoblas ditarik dari

stem sel mesenkimal dalam sumsum tulang. Osteoblas matur mensintesis

matriks tulang, terutama kolagen tipe I dan mengatur mineralisasi tulang yang

baru terbentuk. Beberapa osteoblas matur mungkin terjebak dalam

mineralisasi tulang dan menjadi osteosit.


Proses remodeling tulang

4. Etiologi

Osteoporosis di definisikan sebagai penurunan masa tulang. Tulang

memiliki komposisi normal tetapi jumlahnya berkurang. Masa tulang tumbuh

cepat pada masa anak-anak dan sangat cepat pada masa remaja. Separuh

kepadatan tulang pada masa dewasa tercapai selama perkembangan masa

remaja. Masa tulang puncak dicapai pada usia sekitar 25 tahun. Masa tulang

kemudian relatif stabil sepanjang masa dewasa diikuti oleh pengurangan cepat

masa tulang pada wanita saat menopause. Pada tahap kehidupan selanjutnya,

baik pria maupun wanita terus kehilangan tulang, meskipun dengan kecepatan

yang lebih lambat daripada kecepatan yang berlangsung pada masa

menopause.

Pencapaian masa tulang puncak bergantung pada nutrisi yang optimal,

aktifitas fisik, dan faktor hormonal selama masa anak dan remaja. Kurangnya

nutrisi dan beban fisik menyebabkan berkurangnya masa tulang puncak.

Setelah pertumbuhan tulang selesai, masa tulang ditentukan oleh tingkat masa

tulang puncak yang telah dicapai dan laju penurunan selanjutnya. Faktor
genetik sangat penting dalam menentukan masa tulang. Telah lama diketahui

bahwa orang kulit hitam memiliki masa tulang puncak yang lebih besar

daripada orang kulit putih atau asia dan relatif terlindung dari osteoporosis.

Diantara orang-orang Kaukasus, lebih ari separuh variasi massa tulang

ditentukan oleh faktor genetik. Namun, sejumlah faktor hormonal dan

lingkungan dapat mengurangi masa tulang puncak yang telah ditentukan

secara genetik atau mempercepat kehilangan mineral tulang sehingga menjadi

faktor resiko osteoporosis yang lebih penting.

Faktor etiologi terpenting dalam osteoporosis adalah defisiensi steroid

seks. Defisiensi estrogen yang terjadi seelah menopause mempercepat

pengurangan masa tulang. Wanita pasca menopause selalu memiliki masa

tulag yang lebih rendah ketimbang pada pria dan insidens yang lebih tinggi

untuk fraktur osteoporosis. Dalam kaitannya dengan tulang, testosteron

memiliki fungsi yang sama pada pria seperti estrogen pada wanita, dan pria

dengan hipogonadisme juga mengalami percepatan pengurangan masa tulang.

Karena itu, pria dengan kanker prostat yag mendapat terapi yang mengurangi

androgen dapat mengalami percepatan pengurangan tulang dan mungkin

beresiko mengalami fraktur. Faktor penting lain adalah pemakaian

kortikosteroid atau kelebihan kortisol endogen pada sindrom Cushing.

Osteoporosis adalah salah satu peyulit terparah pada terapi kortikosteroid

jangka panjang. Obat tertentu lainnya, termasuk hormon tiroid, antikonvulsan

dan pemberian heparin jangka panjang, imobilisasi, penyalahgunaan alkohol,

dan merokok juga merupakan faktor resiko untuk osteoporosis. Asupan

kalsium dan vitamin D yang adekuat penting untuk mencapai masa tulang
puncak dan untuk memperkecil laju pengurangan tulang. Osteoporosis paling

sering terjadi pada masyarakat Barat, dan diperkirakan bahwa asupan natrium

klorida dan protein yang tinggi atau faktor terkait lain dalam makanan

mempermudah osteoporosis

5. Faktor Resiko

Terdapat dua macam faktor resiko terjadinya osteoporosis yaitu faktor

resiko yang dapat dikendalikan (dalam hal ini adalah jumlah kalsium yang kita

konsumsi untuk membentuk tulang) dan faktor resiko yang tidak dapat

dikendalikan (berkurangnya massa tulang seiring dengan bertambahnya usia).

Lokasi fraktur yang paling sering terjadi adalah pada pinggul dan tulang

belakang.

Beberapa faktor resiko antara lain :

1. Faktor genetik : Apabila ada sejarah osteoporosis dalam keluarga, 60-

80% kemungkinan akan menderita osteoporosis.

2. Jenis kelamin wanita : 80% penderita osteoporosis adalah wanita.

3. Masalah medis kronis: Individu dengan asma, diabetes, hipertiroidisme,

penyakit liver, atau reumatoid artritis akan meningkat resiko terjadinya

osteoporosis.

4. Defisiensi hormon : Menopause pada wanita dan penanganan medis

tertentu pada pria dapat mengakibatkan defisiensi hormon estrogen dan


androgen yang merupakan penyebab utama osteoporosis pada pria dan

wanita.

5. Alkohol : Konsumsi alkohol yang berlebihan merupakan salah satu faktor

resiko terjadinya osteoporosis.

6. Merokok : Dari beberapa penelitian, merokok dapat meningkatkan resiko

terjadinya fraktur tulang betakang pada pria dua sampai tiga kali lipat

dibandingkan dengan pria yang tidak merokok.

7. Kurangnya olahraga : Tulang memerlukan stimulasi latihan untuk

mempertahankan kekuatannya. Tanpa latihan tulang akan kehilangan

densitas dan menjadi lemah.

8. Faktor lain : Seperti kelainan makanan, berat badan yang rendah, jumlah

kalsium yang rendah dalam makanan, menopause dini, absennya periode

menstruasi (amenorea) dan penggunaan obat-obat seperti steroid dan

antikonvulsan yang juga merupakan faktor osteoporosis. Glukokortikoid

juga mempengaruhi kuantitas dan kualitas tulang.

Fakto resiko lainnya:

1. Hormon Paratiroid (Parathyroid Hormone)

Hormon paratiroid merupakan suatu polipeptida asam amino, yang

diproduksi oleh kelenjar paratiroid. Kelenjar paratiroid terdiri 4 struktur

kecil yang terletak di belakang kelenjar tiroid. Hormon paratiroid

merangsang resorpsi tulang sehingga terjadi peningkatan kadar kalsium

darah. Hormon paratiroid tidak dapat berikatan erat dengan reseptor pada
osteoklas, sehingga tidak dapat mempengaruhi secara langsung perilaku

osteoklas. Tetapi hormon ini dapat berikatan dengan reseptor pada sel

osteoblas, yang dapat menstimulasi pembentukan tulang. Telah dipercaya

bahwa ikatan antara hormon paratiroid dengan sel osteoblas menghasilkan

peningkatan ekspresi RANKL, sehingga secara tidak langsung terjadi

peningkatan aktivitas osteoklas.

2. Estrogen

Pada wanita menopause terjadi penurunan kadar hormon estrogen

sehingga terjadi peningkatan resorpsi tulang. Kadar estrogen yang menurun

pada wanita yang telah menopause, menghasilkan peningkatan resorpsi

tulang. Keadaan ini disebabkan adanya peningkatan dalam jumlah osteoklas.

Estrogen secara langsung atau pun tidak langsung dalam pengaturan jumlah

molekul yang memiliki efek pada osteoklas.

3. Kalsium

Untuk membentuk tulang dibutuhkan kalsium dalam jumlah yang

besar. Jumlah kalsium yang besar digunakan untuk membentuk tulang.

Bahkan 99 % kalsium dalam tubuh terdapat dalam bentuk tulang yang

disimpan dalam bentuk Ca3(POa)2. Walaupun suplemen, kalsium

dianjurkan untuk mencegah atau memperlambat. terjadinya osteoporosis,

tetapi kegunaannya terbatas. Kalsium tidak diserap dengan mudah, ketika

diberikan dalam bentuk kalsium karbonat, yang merupakan bentuk paling

sering digunakan dalam suplemen. Kalsium dalam susu mungkin merupakan

cara yang paling efekif dalam meningkatkan kadar kalsium. Tetapi pilihan
ini akan sulit dilakukan pada orang-orang dengan intoleransi laktosa.

Kalsium karbonat tidak larut dalam air, tetapi dalam cairan asam mungkin

dapat diserap lebih baik. Juga kalsium glukonat dan kalsium laktat dapat

diserap lebih baik.

4. Kalsitonin

Kalsitonin merupakan hormon polipeptida asam amino 32 yang

dapat menghambat resorpsi dengan cara menghalangi aktivitas osteoklas.

Kalsitonin diproduksi oleh sel tiroid. Sel-sel ini melepaskan kalsitonin

ketika kadar kalsium darah meningkat. Sel-sel tulang merespon kalsitonin

dengan cara memindahkan kalsium dalam darah dan menyimpannya dalam

tulang, sementara sel ginjal akan membantu meningkatkan ekskresi.

5. Vitamin D / Kalsitrol

Bentuk aktif vitamin D dikenal sebagai kalsitrol. Vitamin D bekerja

meningkatkan jumlah kalsium yang diserap oleh usus. Vitamin D

merangsang menginduksi osteoblas untuk memproduksi RANKL. Salah satu

prekursor vitamin D adalah kalsitrol, yang dibentuk oleh kulit ketika

terpapar matahari. Hormon paratiroid diperlukan sebagai langkah terakhir

dalam pembentukan vitamin D. Defisiensi vitamin D dapat menyebabkan

kelainan bentuk tulang pada anak-anak yang dikenal sebagai Ricket. Pada

orang dewasa kekurangan vitamin D akan menyebabkan kelemahan pada

tulang sehingga terjadi osteomalasia. Dosis harian vitamin D yang diberikan

adalah 700 hingga 800 IU.

6. Leptin
Leptin adalah hormon yang dibentuk oleh sel lemak yang dilepaskan

dalam darah, jumlah leptin yang dilepaskan dalam darah tergantung dari

jumlah lemak tubuh yang ada. Leptin kemudian dibawa ke otak kemudian

berikatan dengan neuron hipotalamus. Salah satu efek dari leptin adalah

kekurangan nafsu makan dan meningkatkan kegunaan energi tubuh.

Obesitas kadang-kadang disebabkan adanya resistensi terhadap efek

penurunan nafsu makan dari leptin. Orang yang kelebihan berat badan

cenderung tidak banyak mengalami osteoporosis untuk jangka waktu yang

lama dan tidak diketahui sebabnya. Akhir-akhir ini ditemukan adanya

hubungan antara leptin dan penurunan masa tulang.

7. Interferon beta

Pada april 2002 kelompok Tadatsugu taniguchi dari Universitas

Tokyo menyajikan bukti keterlibatan interferon beta pada diferensiasi

osteoklas. Mereka mengajukan bukti bahwa osteoklas dapat berpengaruh

terhadap diferensiasi sendiri dan fungsi pada mekanisme umpan balik

negatif. Trankripsi faktor c-Fos yang diaktifkan oleh RANKL telah lama

diketahui. Kelompok Taniguchi percaya bahwa c--Fos dapat secara langsung

mengaktifkan ekspresi dari gen. Interferon beta dapat menyebabkan

penurunan kadar c-Fos sehingga mendesak fungsi osteoklas.

8. Vitamin K

Osteokalsin memerlukan tambahan kelompok karboksil agar dapat

menjadi aktif dan vitamin K diperlukan agar karboksil dapat ditambahkan.

Osteokalsin adalah protein yang disekresikan dari sel osteoblas dan dapat
memiliki efek pada fungsi osteoblas. Secara umum, vitamin K membantu

pembentukan tulang dan dapat menurunkan resorpsi lemak.

9. Faktor pertumbuhan ( Growth Factor)

Faktor pertumbuhan merupakan protein yang terlibat dalam replikasi,

diferensiasi dan fungsi sel. Banyak dari mereka yang memiliki peran penting

dalam tulang. Di bawah ini adalah yang paling penting:

Insulin -Like Growth Faktor-I (IGF-I)dan II(IGF-II)- keduanya terlibat

dalam pembentukan tulang.

Transforming Growth Faktor Beta (TGF-B)-terlibat dalam pembentukan

tulang dan resorbsi.

10. Apoliprotein E

Apoliprotein E adalah protein yang diperlukan dalam pertumbuhan

lipoprotein dengan kepadatan sangat rendah (Very Low-Density

Lipoprotein [VLDL]) dan lipoprotein dengan kepadatan tinggi (High

Density Lipoprotein [HDL]). Salah satu variasi gen Apoliprotein E

(Apoliprotein E4) yang telah diketahui, memiliki kaitan untuk

meningkatkan resiko terjadinya osteoporosis. Hal ini belum diketahui

mengapa, tetapi hal itu mungkin berkaitan dengan kadar vitamin K.

6. Klasifikasi

a. Osteopororsis primer, yaitu osteoporosis yang bukan disebabkan oleh

penyakit( proses alamiah). Terjadi pada wanita pascamenopause dan pada

wanita usia lanjut. Pada wanita biasanya disebabkan oleh pengaruh hormonal
yang tidak seefektif biasanya. Hormon estrogen yang berfungsi melindungi

tulang dalam tubuh malah berkurang jumlahnya. Osteoporosis primer pada

wanita biasanya disebut sebagai osteoporosis postmenopausal. Sementara itu,

pada pria osteoporosis primer yang terjadi adalah osteoporosis senilis.

Osteoporosis ini terjadi karena berkurangnya kalsium akibat penuaan usia.

Osteoporosis senilis juga bisa terjadi pada wanita. Jadi, wanita yang sudah

lanjut usia bisa terkena osteoporosis senilis dan postmenopausal. Pada

kenyataannya, jumlah penderita osteoporosis wanita lebih banyak daripada

jumlah penderita pria.

Faktor-faktor terjadinya:

Umur (banyak terjadi pada usia lanjut)

Jenis kelamin (lebih sering wanita dibandingkan pada pria)

Ras (lebih banyak terjadi pada orang timur dan kulit putih

dibandingkan dengan orang kulit hitam atau negro)

Kehamilan (lebih banyak terjadi pada wanita yang mempunyai banyak

anak)

Postur tubuh (lebih berisiko pada postur tubuh gemuk daripada tubuh

kurus)

Keluarga (seseorang lebih berisiko mendapat osteoporosis bila ada

kaitan keluarga yang menderita osteoporosis

Makanan (mereka yang makanan sehari-harinya kurang zat kapur

lebih berisiko mendapat osteoporosis dibandingkan dengan yang diet

sehari cukup Ca).


Pola hidup sehat (mereka yang pola hidup sehat lebih kurang berisiko

menderita osteoporosis dibandingkan dengan yang menerapkan pola

hidup sehari-hari yang sembarangan)

b. Osteoporosis Sekunder, yaitu osteoporosis yang disebabkan oleh berbagai

kondisi klinis/penyakit,seperti infeksi tulang, tumor tulang, pemakaian obat-

obatan tertentu seperti steroid (misalnya yang digunakn untuk asma) dan

imunosupresan (digunakan setelah transplantasi organ dan selama pengobatan

kanker) dan imobilitas yang lama dan kesalahan pada gaya hidup seperti

konsumsi alkohol secara berlebihan, rokok, kafein, dan kurangnya aktivitas

fisik berbeda dengan osteoporosis primer yang terjadi karena faktor usia,

osteoporosis sekunder bisa saja terjadi pada orang yang masih berusia muda.

Jadi, perhatian terhadap penyakit ini sebaiknya tidak hanya difokuskan pada

orang tua saja. Orang yang masih muda pun bisa terkena osteoporosis.

Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut dan malah

melakukan gaya hidup yang bisa meningkatkan faktor risiko terkena

osteoporosis. Bukan hanya ia bisa lebih rentan terkena osteoporosis di saat tua,

ada kemungkinan pula ia terserang di usia muda. Osteoporosis sekunder yang

berkaitan dengan penyakit juga ditemukan pada orang yang mengidap

penyakit.

Hipogonadisme, meskipun hal ini dapat mengacu pada kadar estrogen

yang rendah pada wanita, namun lebih sering menggambarkan kadar

estrogen yang rendah pada wanita, namun lebih sering

menggambarkan kadar testosteron yang abnormal rendah pada pria.


Hiperparatiroidisme, kadar hormon paratiroid(hormon yang membantu

pengaturan konsentrasi kalsium dalam darah)

Hipertiroidisme, kadar hormon tiroid (hormon yang dihasilkan dalam

tubuh atau sebagai akibat penggunaan tablet tiroksin secara berlebihan)

Sindrom cushing, tubuh terpapar oleh kadar hormon kortisol yang

tinggi, kortisol merupakan seteroid alami, dan sindrum cushing dapat

menyebabkan osteoporosis dengan cara yang sama seperti obat steroid

pada pengobatan jangka panjang.

Arthritis reumatoid, suatu kondisi jangka panjang yang dapat sangat

nyeri, ditandai oleh peradangan pada lapisan sendi di antara tulang,

artritis dapat membatasi tingkat aktivitas, yang kemudian dapat

berperan dalam terjadinya osteoporosis.

Fibrosis kistik, suatu penyakit keturunan yang terjadi pada organ

seperti paru, diamana paru terisis lendir lengket sehingga membut paru

tidak bisa bekerja dengan baik, akibatnya berefek langsung pada

regenerasi tulang, hipogonadisme, masalah dengan absorpsi zat gizi

dari makanan, mobilitas yang rendah, dan penggunaan obat steroid.

Penyakit radang usus, suatu kondisi dimana usus menjadi merah dan

membengkak, sehingga mempengaruhi cara tubuh dalam menyerap zat

gizi seperti kalsium dan vitamin D dari makanan.

Penyakit seliaka, disebabkan oelh ketidakmampuan untuk mencerna

gluten, penyakit ini menghalangi kemampuan penyerapan zat gizi

seperti kalsium dan vitamin D.


Gangguan makan, misalnya anoreksia dan bulimia, sehingga

membatasi jumlah kalsium dan vitamin D yang tersedia untuk

memperkuat tulang.

Masalah pencernaan, dapat mempengaruhi penyerapan zat gizi dari

makanan

Penyakit ginjal, masalh dengan ginjal mempengaruhi cara tubuh dalam

mengontrol kadar zat gizi seperti kalsium dan fosfat hal inni dapat

menyebabkan hilangnya kekuatan tulang.

Penyakit hati, hati berperan untuk membuat zat baru dalam tubuh,

mengubah zat dari satu jenis ke jenis lainnya, dan mengontrol

bagaimana energi didistribusikan tidak mengejutkan bahwa bila hati

tidak bekerja dengan baik akan mempengaruhi semua proses dalam

tubuh, termasuk mempertahankan tulang yang sehat.

Penyakit paru obstruktif kronik(PPOK) berat, kondisi paru jangka

panjang dan tidak dapat disembuhkan yang seringkali dialami oleh

orang yang merokok.

Cedera pada sumsum tulang belakang, mengurangi kepadatan tulang

terutama akibat kurangnya olahraga menahan beban.

c. Osteoporosis pada anak Ada kalanya osteoporosis terjadi pada anak-anak atau

orang dewasa yang usianya masih muda. Biasanya penyebab osteoporosis

jenis ini berkaitan dengan osteoporosis sekunder. Meskipun begitu, ada pula

osteoporosis pada anak dan remaja yang belum diketahui penyebabnya.

Osteoporosis ini disebut sebagai osteoporosis juvenile idiopatik. Kadar nutrisi

dalam tubuh penderitanya juga normal dan baik-baik saja. Selain itu, kadar
hormonal mereka termasuk kadar normal. Jumlah penderita osteoporosis

juvenile idiopatik termasuk sedikit dan jarang ditemukan. Sampai sekarang

belum diketahui apa yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Obat-obatan dan

terapi yang diberikan biasanya cocok untuk orang dewasa atau sudah tua.

Selain itu, mereka pun harus menghindari aktivitas fisik yang mampu

membuat tulang mereka retak. Bantuan seperti tongkat penyangga kadang

dibutuhkan oleh anak-anak ini.

d. Osteoporosis pada laki-laki, seringkali kurang diperhatikan dibandingkan

dengan osteoporsis pada wanita. Pada dewasa muda, insidens fraktur ternyata

lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita; hal ini dihubungkan dengan

insidens trauma yang lebih tinggi pada laki-laki daripada wanita. Dengan

bertambahnya umur, insidens fraktur pada panggul makin meningkat, tetapi

peningkatan insidens fraktur pada laki-laki lebih lambat 5-10 tahun

dibandingkan wanita. Pada laki-laki, dengan bertambahnya umur, maka tulang

kortikal akan makin menipis, tetapi penipisan ini tidak secepat pada wanita,

karena laki-laki tidak pernah mengalami menopause. Selain itu, pada laki-laki

kehilangan massa tulang lebih bersifat penipisan, sedangkan pada wanita lebih

diakibatkan oleh kehilangan elemen trabekula dari tulang pada laki-laki juga

lebih besar daripada wanita.

e. Osteoporosis selama kehamilan bukan merupakan masalah kesehatan utama,

namun bila terdapat riwayat gangguan makan atau penyakit seliaka (kondisi

yang disebabkan oleh ketidakmampuan mencerna gluten), osteoporosis dapat

terjadi selama kehamilan. Osteoporosis yang terkait dengan kehamilan

biasanya terjadi selama tahap akhir kehamilan (minggu ke 28-40) atau sesaat
setelah melahirkan. Osteoporosis ini umumnya hanya kondisi sementara dan

terutama terjadi pada kehamilan pertama. Menyusui dapat juga menyebabkan

pngurangan kepadatan tulang, namun hal ini cenderung pulih kembali setelah

berhenti menyusui.

7. Patofisiologi

Penyebab utama osteoporosis adalah gangguan dalam remodeling tulang

sehingga mengakibatkan kerapuhan tulang. Terjadinya osteoporosis secara

seluler disebabkan karena jumlah dan aktivitas sel osteoklas melebihi dari

jumlah dan aktivitas sel osteoblas (sel pembentukan tulang), keadaan ini

mengakibatkan penurunan massa tulang. Selama pertumbuhan, rangka tubuh

meningkat dalam ukuran dengan pertumbuhan linier dan dengan aposisi dari

jaringan tulang baru pada permukaan luar korteks.

Remodeling tulang mempunyai dua fungsi utama :

1) untuk memperbaiki kerusakan mikro di dalam tulang rangka untuk

mempertahankan kekuatan tulang rangka

2) untuk mensuplai kalsium dari tulang rangka untuk mempertahankan

kalsium serum.

Remodeling dapat diaktifkan oleh kerusakan mikro pada tulang sebagai

hasil dari kelebihan atau akumulasi stress. Kebutuhan akut kalsium melibatkan

resorpsi yang dimediasi-osteoklas sebagaimana juga transpor kalsium oleh

osteosit. Kebutuhan kronik kalsium menyebabkan hiperparatiroidisme

sekunder, peningkatan remodeling tulang, dan kehilangan jaringan tulang

secara keseluruhan.
Remodeling tulang juga diatur oleh beberapa hormon yang bersirkulasi,

termasuk estrogen, androgen, vitamin D, dan hormon paratiroid (PTH),

demikian juga faktor pertumbuhan yang diproduksi lokal seperti IGF-I dan

IGFII, transforming growth factor (TGF), parathyroid hormone-related

peptide(PTHrP), ILs, prostaglandin, dan anggota superfamili tumor necrosis

factor (TNF). Faktor-faktor ini secara primer memodulasi kecepatan dimana

tempat remodeling baru teraktivasi, suatu proses yang menghasilkan resorpsi

tulang oleh osteoklas, diikuti oleh suatu periode perbaikan selama jaringan

tulang baru disintesis oleh osteoblas. Sitokin bertanggung jawab untuk

komunikasi di antara osteoblas, sel-sel sumsum tulang lain, dan osteoklas telah

diidentifikasi sebagai RANK ligan (reseptor aktivator dari NF-kappa-B;

RANKL). RANKL, anggota dari keluarga TNF, disekresikan oleh oesteoblas

dan sel-sel tertentu dari sistem imun. Reseptor osteoklas untuk protein ini

disebut sebagai RANK. Aktivasi RANK oleh RANKL merupakan suatu jalur

final umum dalam perkembangan dan aktivasi osteoklas. Umpan humoral

untuk RANKL, juga disekresikan oleh osteoblas, disebut sebagai

osteoprotegerin. Modulasi perekrutan dan aktivitas osteoklas tampaknya

berkaitan dengan interaksi antara tiga faktor ini. Pengaruh tambahan termasuk

gizi (khususnya asupan kalsium) dan tingkat aktivitas fisik.

Ekspresi RANKL diinduksi di osteoblas, sel-T teraktivasi, fibroblas

sinovial, dan sel-sel stroma sumsum tulang. Ia terikat ke reseptor ikatan-

membran RANK untuk memicu diferensiasi, aktivasi, dan survival osteoklas.

Sebaliknya ekspresi osteoproteregin (OPG) diinduksi oleh faktor-faktor yang

menghambat katabolisme tulang dan memicu efek anabolik. OPG mengikat


dan menetralisir RANKL, memicu hambatan osteoklastogenesis dan

menurunkan survival osteoklas yang sebelumnya sudah ada. RANKL,

aktivator reseptor faktor inti NBF; PTH, hormon paratiroid; PGE2,

prostaglandin E2; TNF, tumor necrosis factor; LIF, leukemia inhibitory factor;

TP, thrombospondin; PDGF, platelet-derived growth factor; OPG-L,

osteoprotegerin-ligand; IL, interleukin; TGF-, transforming growth factor.

Pada dewasa muda tulang yang diresorpsi digantikan oleh jumlah yang

seimbang jaringan tulang baru. Massa tulang rangka tetap konstan setelah

massa puncak tulang sudah tercapai pada masa dewasa. Setelah usia 30- 45

tahun, proses resorpsi dan formasi menjadi tidak seimbang, dan resorpsi

melebihi formasi. Ketidakseimbangan ini dapat dimulai pada usia yang

berbeda dan bervariasi pada lokasi tulang rangka yang berbeda;

ketidakseimbangan ini terlebih-lebih pada wanita setelah menopause.

Kehilangan massa tulang yang berlebih dapat disebabkan peningkatan

aktivitas osteoklas dan atau suatu penurunan aktivitas osteoblas. Peningkatan

rekrutmen lokasi remodeling tulang membuat pengurangan reversibel pada

jaringan tulang tetapi dapat juga menghasilkan kehilangan jaringan tulang dan

kekuatan biomekanik tulang panjang.

8. Patogenesis

Karena remodeling tulang berkaitan dengan resorpsi tulang oleh osteoklas

dan pengendapan tulang oleh osteblas, pengurangan tulang dapat terjadi akibat

peningkatan resorpsi tulang, penurunan pembentukan tulang, atau

kombinasinya. Osteoporosis pada pascamenopause adalah konsekuensi


percepatan resorpsi tulang. Ekskresi kalium dan metabolit kolagen tulang

seprti ikatan silang piridinolin melalui urin meningkat, kadar PTH serum agak

menurun, dan jika tulang dibiopsi, luas permukaan resorpsi terbukti

meningkat.

Laju pembentukan tulang juga meningkat, dengan peningkatan posfatase

alkali dan kadar protein matriks tulang osteokalsin dalam serum; keduanya

mencerminkan peningkatan aktivitas osteoblas. Keadaan pergntian (turn-over)

yang tinggi ini merupakan akibat langsung dari defisiensi estrogen dan dapat

dipulihkan dengan terapi sulih estrogen. Fase cepat pengurangan tulang pda

defisiensi estrogen dimulai segera setelah menopause (alamiah atau

pascabedah). Proses ini paling nyata ditulang trabekular, yaitu kompartemen

yang paling cepat mengalami remodeling. Pada wanita pascamenopause, 5-

20% mineral tulang trabekular spinal lenyap pertahun, dan fraktur

osteoporosis pada wanita pascamenopause dini sering terjadi di tulang

belakang, tempat tulang trabekular. Setelah 5-15 tahun, laju pengurangan

tulang melambat sehingga setelah usia 65 tahun, laju tersebut pada kedua jenis

kelamin menjadi setara.

Dasar selular pengaktifan resorpsi tulang pada keadaan defisiensi estrogen

atau androgen masih belum sepenuhnya dipahami. Osteoklas memiliki

reseptor estrogen dan dapat berespon secara langsung terhadap defisiensi

estrogen, tetapi juga terdapat bukti bahwa pelepasan sitokin perangsang

osteoklas dari sel-sel tulang lain terjadi pada keadaan defisiensi estrogen,

misalnya interleukin-6.
Patogenesis pengurangan tulang terkait usia masih belum diketahui belum

jelas. Proses ini dimulai setelah usia 30 tahun, relatif lambat, dan terjadi mula-

mula dengan kecepatan yang setara tanpa memandang jenis kelamin atau ras.

Dahulu diperkirakan bahwa pasien lansia dan osteoporosis, berkisar dari

keadaan dengan tingkat pergantian rendah, yang ditandai oleh penurunan

mencolok aktifitas osteoblas hingga keadaan dengan tingkat pergantian tinggi

yang mirip dengan fase akselerasi pada pengurangan tulang pascamenopause.

Kini tampaknya bahwa hanya sedikit orang yang benar-benar dalam keadaan

pergantian rendah. Contohnya, kadar osteokalsin serum tetap tinggi sepanjang

dekade-dekade terakhir kehidupan yang mengisyaratkan bahwa aktivitas

osteoblas tidak lenyap sama sekali. Namun, terdapat kemungkinan bahwa

keseimbangan aktivitas sel berubah, dengan penurunan respon osteoblas

terhadap resorpsi tulang yang kontinu sehingga rongga-rongga resorpsi tidak

terisi secara sempurna oleh pembentukan tulang baru selama siklus

remodeling.

Anjuran asupan kalsium dan vitamin D

Usia Kalsium (mg/hari) Vitamin D (IU/hari)

0-6 bulan 210 200

7-12 bulan 270 200

1-3 tahun 500 200

4-8 tahun 800 200


9-18 tahun 1300 200

19-50 1000 200

51-70 1200-1500 400

70 + tahun 1200-1500 600

Salah satu faktor penting dalam patogenesis pengurangan tulang terkait

usia adalah defisiensi relatif kalsium dan 1,25-(OH)2D dalam makanan.

Kapasitas usus untuk menyerap kalsium menurun seiring dengan pertambahan

usia. Karena pengeluaran kalsium oleh ginjal merupakan suatu keharusan,

penurunan efisiensi absorpsi kalsium berarti bahwa asupan kalsium makanan

harus ditingkatkan untuk mencegah keseimbangan kalsium yang negatif.

Diperkirakan bahwa sekitar 1200 mg/hari kalsium elemental diperlukan untuk

mempertahankan keseimbangan kalsium pada orang berusia lebih dari 65

tahun. Wanita Amerika dalam kelompok usia ini mengkonsumsi 500-600 mg

kalsium setiap hari; asupan kalsium pada pria agak lebih banyak. Selain itu,

sebagian individu yang lebih tua mungkin mengalami defisiensi vitamin D

yang semakin menghambat kemampuan mereka menyerap kalsium. Terutama

dibelahan bumi utara dengan panjang sinar matahari yang berkurang selama

musim dingin, kadar 25-(OH)D yang rendah borderline dan

hiperparatiroidisme sekunder ringan sering dijumpai hingga akhir musim

dingin.

Kadar PTH meningkat seiring pertambahan usia. Hal ini mungkin

merupakan contoh hiperparatiroidisme sekunder yang terjadi karena rangkaian


kejadian berikut : penurunan masa jaringan ginjal fungsional seiring

pertambahan usia dapat menyebabkan penurunan sintesis 1,25-(OH)2D oleh

ginjal, yang akan secara langsung membebaskan sekresi PTH dari inhibisi

normalnya oleh 1,25-(OH)2D. Penurunan kadar 1,25-(OH)2D juga akan

mengurangi penyerapan kalsium, yang memperparah ketidakmampuan

intrinsik usus yang sudah tua untuk menyerap kalsium secara normal.

Kemudian akan terjadi hiperparatiroidisme sekunder akibat efek ganda

defisiensi 1,25-(OH)2D pada kelenjar paratiroid dan usus. Selain itu,

responsipitas kelenjar paratiroid terhadap inhibisi oleh kalsium berkurang

seiring penuaan. Karena itu, hiperparatiroidisme pada proses penuaan terjadi

akibat efek gabungan usia pada ginjal, usus, dan kelenjar paratiroid.

Penyediaan suplemen diet dengan vitamin D yang memadai menurunkan

laju pengurangan tulang terkait usia dan melindungi tubuh dari fraktur. Hal ini

mengisyaratkan bahwa penurunan penyerapan kalsium dan

hiperparatiroidisme sekunder berperan penting dalam patogenesis osteoporosis

pada usia lanjut. Namun, pengurangan tulang terus berlangsung setelah

suplementasi kalsium, meskipun dengan laju yang lebih rendah sehingga

perubahan-perubahan intrinsik dalam remodeling tulang yang mungkin

berkaitan dengan penurunan respon osteoblas terhadap resorpsi osteoklas yang

terus berlangsung. Sangat mungkin juga berperan dalam osteoporosis senilis.

Pada osteoporosis sekunder yang berkaitan dengan pemberian

glukokortikoid atau alkoholisme, terjadi penurunan mencolok laju

pembentukan tulang dan kadar osteokalsin serum. Terdapat kemungkinan

bahwa glukokortikoid menimbulkan sindrom osteoporotik yang parah akibat


pengurangan tulang secara cepat yang disebabkan oleh penurunan nyata

pembentukan tulang sedangkan absorpsi tulang tetap normal atau bahkan

meningkat.

Untuk osteoporosis sekunder yang berkaitan imobilisasi adalah contoh lain

keadaan resorptip disertai pemisahan proses resorpsi dan pembentukan tulang

serta ditandai oleh hiperkalsiuria dan penurunan kadar PTH. Ketika orang

dengan tingkat remodeling tulang yang tinggi (misalnya remaja dan pasien

dengan hipertiroidisme atau penyakit paget) diimobilisasi resorpsi tulang dapat

mengalami percepatan sehingga timbul hiperkalsemia.

9. Penyebab

Kecepatan pembentukan tulang berkurang secara rogresif sejalan dengan

usia, yang dimulai pada usia sekitar 30 atau 40 tahun. Semakin padat tulang

sebelum usia tersebut, semakin kecil kemungkinan terjadinya osteoporosis.

Pada individu yang berusia 70-an dan 80-an, osteoporosis menjadi penyakit

yang sering ditemukan.

Meskipun resorpsi tulang mulai melebihi pembentukan tulang pada usia

dekade keempat atau elima, pada wanita penipisan tulang yang paling

signifikan terjadi selama dan setelah monopause. Penurunan estrogen

pascamenopause tampak sangat berperan dalam perkembangan ini pada

populasi wanita lansia. Meskipun mekanisme estrogen bekerja untuk

mempertahankan densitas tulang belum jelas, diperkirakan bahwa estrogen

menstimulasi aktivitas osteoblas dan membatasi efek stimulasi osteoklas pada

hormon paratiroid. Dengan demikian, penurunan estrogen menyebabkan


perubahan besar pada aktivitas osteoklas. Wanita kurus, wanita berambut

terang, dan wanita yang merokok sangat rentan terhadap osteoporosis karena

tulang mereka kurang padat sebelum menopause dibandingkan dengan tulang

wanita gemuk, berambut gelap, dan tidak merokok. Pria lansia kurang rentan

mengalami osteoorosis karena merekan biasanya memilik tulang yang lebih

padat daripada wanita (sekitar 30%), dan kadar hormon reproduktif tetap

tinggi ampai pria mencapai usia 80-an. Akan tetapi, pria lansia memiliki

tulang yang kurang padat dari pada pria yang lbih muda.

Untuk pria dan wanita, penyebab lain osteoporosis adalah penurunan

aktiviitas fisik dan ingesti obat tertentu, termasuk kortikosteroid dan beberapa

antasid yang mengandung aluminium yang meningkatkan eliminasi kalsium.

Terbukti bahwa bahkan pria dan wanita yang sangat tua dapat secara

signifikan meningkatkan densitas tulang dengan melakukan aktivitas menahan

beban tingkat sedang. Riwayat keluarga juga berperan dalam menentukan

resiko masa depan individu. Densitas tulang terbukti menurun pada wanita

menyusui walaupun kembalinya ke densitas yang mendekati normal terjadi

seelah penyaihan.

10. Gejala Klinik

Osteoporosis dapat muncul tanpa sengaja selama beberpa dekade karena

osteoporosis tidak menyebabkan gejala sampai terjadi patah tulang. Selain itu,

beberapa fraktur osteoporosis dapat lolos deteksi selama bertahun-tahun karena

tidak memperlihatkan gejala. Gejala yang berhubungan dengan patah tulang

osteoporosis biasanya adalah nyeri. Lokasi nyeri tergantung pada lokasi fraktur.
Gejala osteoporosis pada pria mirip dengan gejala osteoporosis pada wanita.8

Kepadatan tulang berkurang secara perlahan, sehingga pada awalnya osteo-porosis

tidak menimbulkan gejala. Beberapa penderita tidak memiliki gejala. Biasanya

gejala timbul pada wanita berusia 51-75 tahun, meski bisa lebih cepat ataupun

lambat. Jika kepadatan berkurang sehingga tulang menjadi kolaps atau hancur,

maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Beberapa kasus yang sering

terjadi adalah:

1. Kolaps tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Kolaps

secara spontan karena cedera ringan ini biasanya menimbulkan nyeri

secara tiba-tiba di bagian tertentu punggung. Nyeri makin beratjika

penderita berdiri, berjalan, atau disentuh. Nyeri ini perlahan-lahan

menghilang dalam waktu beberapa minggu atau bulan. Jika ada beberapa

tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan abnormal dari

tulang belakang, yang menyebabkan ketegangan otot sakit.

2. Patah tulang lain yang serius adalah patah tulang panggul. Ini bisa diakibat-

kan oleh benturan ringan atau jatuh. Risiko kematian akibat patah tulang

pinggul sama dengan kanker payudara.

3. Yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan di sambungkan dengan

pergelangan tangan, yang disebut fraktur colles.

Manifestasi umum osteoporosis meliputi peurunan tinggi badan

,kifosis,lordosis,nyeri pada tulang,fraktur,biasanya pada

vertebrata,pinggul,atau lengan bagian bawah. Fraktur dapat terjadi karena

pembengkokan,pengangkatan,atau jatuh atau tidak tergantung dari aktifitas

apapun. Fraktur pada vertebrata merupakan hal yang paling sering


terjadi,dan fraktur multipel dapat berakibat pada kifosis dorsal dan lordosi

(menunjuk pada dowagers atau windows hump). Kolaps atau kerapuhan

vertebrata jarang mengakibatkan kompresi ikatan spinal. Perubahan pada

dada dapat mengakibatkan komplikasi pulomonari dan kardiovaskular.

Nyeri fraktur akut biasanya dapat diatasi dalam 2 hingga 3 bulan. Nyeri fraktur

kronis di manifesfasikan sebagai rasa nyeri yang dalam dan dekat dengan tempat

patahan.

11. Diagnosis

a) Anamnesis

Anamnesis mempunyai peranan penting dalam evauasi penderita osteoporosis.

Keluhan-keluhan utama yang dapat mengarahkepada diagnosis, seperti misalnya

bowing leg dapat mengarah pada diagnosis riket, kesemutan dan rasa kebal di

sekitar mulut dan ujung jari yang terjadi pada hipokalsemia. Pada anak-anak,

gangguan pertumbuhan atau tubuh pendek, nyeri tulang, dan kelemahan otot,

waddling gait,dan kalsifikasi ekstraskeletal dapat mengarah pada penyakit tulang

metabolik. Selain dengan anamnesis keluhan utama, pendekatan menuju diagnosis

juga dapat dibantu dengan adanya riwayat fraktur yang terjadi karena trauma

minimal, adanya faktor imobilisasi lama, penurunan tinggi

badan pada orang tua, kurangnya paparan sinar matahari, asupan kalsium, fosfor

dan vitamin D, dan faktor-faktor risiko lainnya.Obat-

obatan yang dikonsumsi dalam jangka panjang juga dapat digunakan untuk

menunjang anamnesis, yaitu misalnya konsumsi kortikosteroid, hormon tiroid,

antikonvulsan, heparin. Selain konsumsi obat-22 obatan, juga konsumsi alkohol


jangka panjang dan merokok. Tidak kalah pentingnya, yaitu adanya riwayat

keluarga yang pernah menderita osteoporosis.

b) Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik yang harus diukur adalah tinggi badan dan

berat badan, demikian juga dengan gaya jalan penderita,deformitas tulang, leg-

lenght inequality , dan nyeri spinal. Hipokalsemia yang terjadi dapat ditandai oleh

adanya iritasi muskuloskeletal, yaitu berupa tetani. Adduksi jempol tangan juga

dapat dijumpai, fleksi sendi metacarpophalangeal, dan ekstensi sendi

interphalang.Penderita dengan osteoporosis sering menunjukkan kifosis dorsal

atau gibbus (Dowagers hump) dan penurunan tinggi badan. Selain itu juga

didapatkan protuberansia abdomen, spasme otot paravertebral, dan kulit yang tipis

(tanda McConkey).

c) Pemeriksaan laboratorium

Manfaat dari adanya pemeriksaan petanda biokimia tulang adalah

dapat memprediksi adanya kehilangan massa tulang dan adanya risiko fraktur,

untuk menyeleksi pasien yang membutuhkan terapi antiresorpstif, dan untuk

mengevaluasi efektifitas terapi. Pemeriksaan ini digunakan untuk menunjang

diagnosis osteoporosis yaitu dengan menggunakan berbagai petanda biokimiawi

untuk menentukan boneturnover kalsium, dan fosfatase alkali serum yang semula

dianggap merupakan petanda turnovertulang yang baik, ternyata kadarnya dalam

darah normal. Pemeriksaan biokimiawi tulang lainnya yaitu kalsium total dalam

serum, ion kalsium, kadar fosfor dalam serum, kalsium urin, osteokalsin serum,

fosfat serum, piridinolin urin, dan bila perlu hormon paratiroid dan vitamin D.
Dengan penelitian yang ada, saat ini yang dianggap sebagai petanda

turnovertulang yang baik adalah:

Sebagai penanda pembentukan tulang:

-Osteokalsin (= bone GLA protein) serum.

-Isoenzim fosfatase alkali.

Sedangkan sebagai penanda reabsorpsi tulang adalah :

-Piridinolin dan deoksi

-piridinolin cross

-link urin.

-Hidroksiprolin urin.

Walaupun aspek dinamik tulang dan dari segi deteksi dini pemeriksaan ini

memenuhi syarat, akan tetapi mengingat biaya pemeriksaan yang cukup mahal,

pemeriksaan ini tidak begitu banyak dilakukan.Kalsium serum terdiri dari 3 fraksi,

yaitu kalsium yang terikat pada albumin (40%), kalsium ion (48%), dan kalsium

kompleks (12%). Kalsium yang terikat pada albumin tidak dapat difiltrasi oleh

glomerulus. Keadaan yang dapat mempengaruhi kadar albumin serum, seperti

sirosis hepatik dan sindrom nefrotik akan mempengaruhi kadar kalsium total

serum. Ikatan kalsium pada albumin sangat baik terjadi pada pH 7-8. Peningkatan

dan penurunan pH 0,1 secara akut akan menurunkan ikatan kalsium pada 24

albuminsekitar 0,12 mg/dl. Pada penderita hipokalsemia dengan asidosis

metabolik yang berat, misalnya pada penderita gagal ginjal, koreksi asidemia yang

cepat dengan natrium bikarbonat akan dapat menyebabkan tetani karena kadar

kalsium akan menurun dengan drastis.Pemeriksaan ion kalsium lebih bermakna

dibandingkan dengan pemeriksaan kadar kalsium total. Ion kalsium merupakan


fraksi kalsium plasma yang penting pada proses-proses fisiologik, seperti pada

kontraksi otot, pembekuan darah, sekresi hormon paratiroid, dan mineralisasi

tulang Osteokalsin merupakan salah satu tanda dari aktifitas osteoblas dan formasi

tulang. Selain sebagai petanda aktifitas formasi, osteokalsin juga dilepaskan pada

saat proses resorpsi tulang, sehingga kadarnya dalam serum tidak hanya

menunjukkan aktifitas formasi, namun juga aktifitas resorpsi. Kadar osteokalsin

dalam matriks akan meningkat bersamaan dengan peningkatan hidroksiapatit

selama pertumbuhan tulang.Carboxy-terminal propeptide of type I collagen dan

amino-terminal propeptide of type I collagen merupakan bagian dari petanda

adanya proses formasi tulang karena sebagian besar protein yang dihasilkan oleh

osteoblas adalah kolagen tipe I, namun kolagen tipe I juga dihasilkan oleh kulit,

sehingga penggunaannya di klinik tidak sebaik alkali fosfatase tulang ataupun

osteokalsin.Produk degradasi kolagen yaitu hidroksilisil-piridinolin (piridinolin),

dan lisil-piridinolin (deoksipiridinolin). Pada saat tulang di resorpsi, produk

degradasi kolagen akan dilepaskan ke dalam darah, dan akhirnya akan diekskresi

lewat ginjal. Piridinolin lebih banyak ditemukan di dalam ginjal daripada

deoksipiridinolin, akan tetapi deoksipiridinolin lebih

spesifik karena piridinolin juga ditemukan dalam kolagen tipe IIpada sendi dan

jaringan ikat lainnya.Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam

pemeriksaan petanda biokimia tulang, yaitu:

Petanda biokimia tulang diukur dalam urin, sehingga perlu memperhatikan kadar

kreatinin dalam darah dan urin karena akan

mempengaruhi hasil pemeriksaan.


Petanda biokimia tulang dipengaruhi umur, karena pada usia muda terjadi

peningkatan bone-turnover

Terdapat perbedaan hasil pada penyakit-penyakit tertentu, misalnya penyakit

paget hasil alkali fosfatase tulang akan lebih tinggi dibandingkan osteokalsin,

terapi bifosfonat akan menurunkan kadar piridinolin dan deoksipiridinolin yang

terikat protein tanpa perubahan ekskresi, terapi estrogen akan menurunkan

ekskresi piridinolin dan deoksipiridinolin urin bebas maupun yang terikat protein.

d) Pemeriksaan Radiologik

Gambaran radiologik yang khas pada osteoporosis adalah adanya

penipisan korteks dan daerah trabekular yang lebih lusen. Hal ini akan tampak

jelas pada tulang-tulang vertebra yang memberikan gambaran picture-frame

vertebra. Pada pemeriksaan radiologik tul ang vertebra sangat baik untuk

menemukan adanya fraktur kompresi, fraktur baji atau fraktur bikonkaf. Pada

anak-anak, fraktur kompresi dapat timbul spontan dan berhubungan dengan

osteoporosis yang berat, misalnya pada osteogenesis imperfekta, riketsia, artritis

rheumatoid juvenil, penyakit Crohn atau penggunaan steroid jangka panjang.

Bowing deformity pada tulang panjang sering didapatkan pada anak-anak dengan

osteogenesis imperfekta, riketsia, dan displasia fibrosa. Selain dengan memeriksa

foto polos, dapat dilakukan juga skintigrafi tulang dengan menggunakan

Technetium-99m yang dilabel pada metilen difosfonat atau hidroksi metilen

difosfonat. Diagnosis ditegakkan dengan mencari uptake yang meningkat, baik

secara umum maupun fokal.

e) Pemeriksaan densitas tulang


Massa tulang yang rendah merupakan faktor utama terjadinya osteoporosis.

Terdapat hubungan berkebalikan antara BMD dengan kecenderungan patah

tulang. BMD merupakan indikator utama risiko patah tulang pada pasien tanpa

riwayat patah tulang sebelumnya.Terdapat berbagai cara pemeriksaan densitas

tulang, yaitu : Foto rontgen tulang absorpsiometri foton tunggal (SPA), absorpsi

foton Ganda (DPA), tomografi komputer kuantitatif (CT SCAN) DPA dengan

energi sinar X ganda (DEXA) atau dengan ultrasound. Saat ini yang terbanyak

dipakai, walaupun harganya cukup mahal adalah DPA dan DEXA, (DEXA

merupakan gold standard sesuai rekomendasi WHO). Kekurangan cara

pemeriksaan ini adalah tidak dapat menggambarkan keadaan dinamik tulang,

walaupun dapat diatasi dengan mengadakan pemeriksaan serial. Ukuran dual-

energy x-ray absorptiometry (DEXA) dari tulang pinggul dan tulang belakang

merupakan teknologi yang dipakai untuk menetapkan atau mengkonfirmasi

diagnosis osteoporosis, prediksi risiko fraktur yang akan datang dan monitoring

pasien yang untuk menilai performa serial. Hasil pengukuran DEXA berupa

densitas mineral tulang yang dinilai satuan bentuk gram per cm, kandungan

mineral dalam satuan gram, perbandingan densitas tulang dengan nilai normal

rata-rata densitas tulang pada orang seusia dan dewasa muda yang dinyatakan

dalam persentase, atau perbandingan hasil densitas mineral tulang dengan nilai

normal rata-rata densitas tulang pada orang seusia dan dewasa muda yang

dinyatakan dalam skor standar deviasi(Z-score atauT-score).Pengukuran BMD

sering dilakukan dengan T-score yaitu angka deviasi antara BMD pasien dengan

puncak BMD rata-rata pada subjek yang normal dengan jenis kelamin sama.

Ukuran BMD lain yaitu Z-score, dimana ukuranstandar deviasi pada BMD pasien
dengan BMD pada usia yang sama. Perbedaaan antara skor pasien dan normal

menunjukkan standar deviasi (SD) dibawah atau diatas rata-rata. Biasanya, 1

standar deviasi antara dengan 10-15% ukuran BMD dalam g/cm. Tergantung pada

bagian tulang, penurunan BMD dalam massa absolut tulang atau standar deviasi

(T-score atau Z-score) yang berlangsung selama dewasa muda, mempercepat pada

wanita menopause dan berlanjut secara progresif pada wanita pasca menopause

atau pria usia 50 tahun atau lebih. Diagnosis BMD normal, massa tulang rendah,

osteoporosis dan osteoporosis berat didasarkan berdasarkan klasifikasi diagnostik

WHO.

Kriteria Osteoporosis Menurut WHO

-Normal :BMD lebih dari -1 Standar Deviations (SD) dari dewasa muda normal

(T-score above-1).

-Low bone mass (osteopenia):BMD -1 sampai - 2,5 SD dibawah dari dewasa

muda normal (T-score between -1.0 and -2.5).

Osteoporosis:

BMD >2,5 SD dibawah dari dewasa muda normal (T-score below -2.5). Pasien di

grup ini yang mempunyai riwayat 1 fraktur atau lebih dianggap sebagai

osteoporosis berat atau osteoporosis yang tidak bisa disan.

6) Biopsi Tulang
Cara ini dapat menunjukkan adanya osteoporosis serta proses dinamik tulang,

akan tetapi karena bersifat invasif sehingga tidak dapat dipakai sebagai prosedur

rutin, baik untuk uji saring (penentuan risiko) atau untuk pemantauan pengobatan.

Biopsi tulang dapat digunakan untuk menilai kelainan metabolik tulang. Biopsi

biasanya dilakukan di transiliakal

12. Komplikasi

Faktur pangkal paha, pergelangan tangan, kolumna vertebralis, dan

panggul.

Hospitalisasi, penempatan di nursing home, dan penurunan kemampuan

untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari dapat terjadi setelah fraktur

osteoporosis.
13. Terapi Non-Farmakologi dan Farmakologi

Pendekatan Umum

Pengobatan tanpa pengukuran BMD Populasi yang tepat untuk uji BMD

Pria dan wanita dengan resiko Semua wanita yang berusia lebih dari 65
tinggi dan patah tulang tahun
Pria dan wanita yang Wanita beruisa 60-64 tahun, dengan resiko
mengkonsumsi kortikosteroid patah tulang osteoporosis
sistemik kronik Pria dengan resiko tinggi

Osteoporosis panggul skor T< -2,5 Skor T < -20

Workup untuk Hanya osteoporosis tulang

osteoporosis sekunder belakang skor T of 1 to

-2,5
PTH

TSH
Osteoporosis skor
Pilihan pengobatan T -1 hingga -2,5
25-OH vitamin D

Bifosfonat
BMD normal
CBC Raloxifene
kalcitonin skor T > -1
Panel Kimia

Tes spesifik-kondisi

Pengobatan dengan bifosfonat


Monitor DXA setiap 1-5

tahun data ang mendukung


Intoleransi bifosfonat
pengobatan dengan

medikasi tidak meyakinkan


Pilihan pengobatan Pengobatan penyebab yang

Bifosfonat, parenteral, Teriparatide mendasar, jika ada.

Raloxifene, kalsitonin
a) Terapi Non-farmakologi

Semua individu harus memiliki menu yang seimbang dengan asupan

kalsium dan vitamin D yang mencukupi. Jika asupan makana tidak

mencukupi, diperlukan suplemen kalsium.

Walaupun 2 hingga 5 cangkir kopi menghasilkan peningkatan kecil dalam

ekresi kalsium, tetapi efek ini dapat diimbangi oleh peningkatan asupan

kalsium

Berhenti merokok meningkatkan BMD, sedangkan jika meroko terus

dilakukan akan menurunkan BMD dan meningkatkan resiko faktur

Aerobik latihan beban dan olahraga yang memperkuat dapat mencegah

hilangnya massa tulang dan mengurangi jatuh dan fraktur.

Pencegahan osteoporosis dimulai sejak masa kanak-kanak dan remaja

dengan pembentukan kebiasaan berolahraga dan nutrisi yang baik sepanjang

hidup untuk memperkuat tulang.

Olahraga menahan beban, bahka pada usia yang sangat tua (.85 tahun),

terbukti meningkatkan denisitas tulang dan massa otot, dan memperbaiki daya

tahan fisik an keseimbangan. Efek olahraga dengan kekuatan tinggi, seperti

melompat dan berlari, untuk mempertahanan kesehatan tulang pada anak

sedang diteliti dengan lebih ketat. Penggunaan fibrasi untuk mempertahankan

kesehatan tulang pada anak dan lansia dengan mobilitas yang terbatas juga

sedang diteliti.

Suplemen vitamin D dan kalsium melalui makanan mengurangi

perkembangan osteoporosis pada lansia da merupakan komponen esensial

dalam pencegahan. Merokok dan alkohol harus dihindari, Terapi


penggantian esrtogen-progesteron atau modulator reseptor estrogen

selektif 9selective receptor modulator, SERM) yang dilaukan selama dan

setelah menopause daoat mengurangi perkembangan osteoporosis pada

wanita. Kontraindikasi terapi penggantian estrogen adalah riwayat kanker

payudara pada individu (personal) atau keluarga atau riwayat individu

(personal) mengalami pembentukan bekuan darah.

b) Terapi Farmakologi

Ada dua mekanisme kerja obat yang digunakan untuk mencegah kejadian

patah tulang, yaitu: obat-obat yang mencegah terjadinya resorpsi kalsium

tulang (obat golongan bisfosfonat, terapi hormon, kalsitonin, denosumab) dan

obat yang membentuk tulang (teripa ratide belum beredar di Indonesia).

Obat-obat yang disetujui oleh FDA untuk digunakan dalam pengobatan

osteoporosis adalah: golongan bisfosfonat, kalsitonin, estrogen, raloksifen dan

hormon paratiroid . Obat golongan bisfosfonat (alendronat, risedronat dan

zoledronat) merupakan obat pilihan pertama. Satu kajian sistematis terhadap

24 meta-analisis dan 35 uji klinis acak terkendali menunjukkan bahwa

alendronat dan risedronat mencegah patah tulang belakang (vertebra), tulang

selain tulang belakang (non vertebra) dan tulang panggul (hip fracture).

Zoledronat dan estrogen mencegah kejadian patah tulang belakang (vertebra),

tulang selain tulang belakang (non vertebra) pada kelompok yang berisiko

tinggi dan mengurangi risiko patah tulang panggul (hipfracture) ; perbedaan

kejadian patah tulang pada pemakaian ibandronat dan pramidronat

dibandingkan dengan plasebo tidak bermakna secara statistik. Raloksifen

mencegah patah tulang belakang (vertebra) namun tidak memiliki efek


mencegah patah tulang panggul (hip fracture). Alendronat, risedronat

digunakan sebagai pencegahan dan terapi osteoporosis sedangkan zoledronat

dan estrogen digunakan hanya untuk pencegahan osteoporosis. Tidak ada

bukti yang menunjukkan perbandingan efektivitas dengan lama terapi

bisfosfonat, namun lama uji klinis yang menggunakan bisfosfonat pada

kelompok intervensi berkisar antara 3 60 bulan.

Beberapa obat yang belum terbukti efektivitasnya dalam mencegah patah

tulang namun sering digunakan antara lain: kalsitriol (analog vitamin D),

golongan bisfosfonat lainnya (etidronat, pamidronat, tiludronat), hormon

paratiroid lainnya [hPTH(1-84)], strontium ranelat, dan tibolon (agen mirip

estrogen).Belum ada pengobatan yang efektif dengan efek sa mping ya ng

minimal (bisfosfona t da pat menyebabkan osteonekrosis tulang rahang yang

sulit disembuhkan) sehingga penelitian tentang obat-obat osteoporosis masih

terus berlangsung.
c) Penanganan umum osteoporosis

Penanganan umum osteoporosis meliputi pengurangan rasa sakit,

pemulihan mobilitas, bantuan menghadapi dampak psikososial terhadap penyakit,

dan pencegahan berlanjutnya penurunan massa tulang sehingga mengurangi risiko

patah tulang. Kebanyakan pengidap osteoporosis merasa lega setelah tahu banyak

yang dapat dilakukan untuk mencegah tulang maupun mengatasi gejala yang ada,

seperti olahraga, mengubah pola makan, dan mencegah jatuh. Mengetahui bahwa

mereka tidak sendirian menderita osteoporosis dan bisa berkomunikasi dengan

penderita khusus bagi penderita osteoporosis bisa menjadi sumber informasi

mengenai semua aspek penyakit ini, selain sarana untuk bertemu dengan penderita

lain atau petugas kesehatan yang menangani osteoporosis.

14. Pertanyaan

Pertanyaan Ke-1

1. Bagaimana proses alami osteoporosis primer dapat di sembuhkan dan

apakah obat-obatan osteoporosis anak khusus atau disamakan dengan

orang dewasa?

Jawaban : dengan cara mengkonsusmsi vitamin D dan kalsium yang

cukup sesuai dengan kebutuhan, gaya hidup yang sehat, berolahraga,

hindari konsoumsi alcohol dan rokok.

obat-obatan untuk anak sama dengan orang dewasa.


2. Kenapa wanita rentang terkena osteoporosis?

Jawaban: karena kurangnya tabungan hormon pada wanita di masa

muda dapat jga menyebabkan osteoporosis

3. Apakah Asma dapat menyebabkan osteoporosis,bagai mana posesnya?

Jawaban: bukan karena penyakit asmanya yang menyebabkan

osteoporosis tapi efek dari obat osteoporosi tersebut yang

menyebabkannya, karena kebanyakan dari obat-obat asma adalah

kortikosteroid.

Pertanyaan ke-2

1. Semakin bertambah usia, pada usia lanjut apakah kalsium yang

terdapat pada susu tercerna dengan sempurna atau tidak?

Jawaban: karena kalsium yang di minum tidak akan di absorbsi

sempurna tanpa vitamin-D, jadi kita harus memperhatikan kapan kita

mengkonsumsi dan kapan kita tidak mengkonsumsi susu yang

mengandung suplemen tersebut.

2. Penangan osteoporosis secara umum ?

Jawaban : harus tercukupi asupan kalsium dalam darah supaya kalsium

dari tulang tidak tertarik

Pertnyaan -3

1. Hubungannya desposis liper dengan osteoporosis

Jawaban : -liper sitokrom p-4, karena bila liper rusak maka osteoklas

tidak bisa memetabolisme asupan kalsium

2. Bagaimana roko dapat menyebabkan osteoporosis?


Jawaban :karena di dalam rokok terdapat nikotin, karena itu lah

kalsium menjadi banyak di tubuh

3. Hiperparatiroidisme dapat menyebabkan osteoporosis?

Jawaban : sebenarnya hormone paratiroid dibutuhkan untuk menjaga

ambang batas normal kalsium didalam tubuh dalam jumlah sedikit,

tapi karena hiperparatiroidisme hormone paratiroidnya berlebih, tidak

sesuai dengan kebutuhan.

Pertanyaan 4

1. Apakah osteoporosis bisa disembuhkan, terapi farmakologinya berapa

lama?

Jawaban: osteoporosis tidak dapat disembuhkan, dan kita harus bisa

menjaga agar kalsium tetap stabil dan cukup dalam tubuh.

2. Konsumsi kalsium kenapa dapat menyebabkan struk dan serangan

jantung?

Jawaban: kalsium dibutuhkan dalam tubuh, tapi dalam jumlah normal.

Jika kita mengkonsusmsi kalsium berlebih atau biasa disebut

hiperkalsemia bisa menyebabkan ritme jantung meningkat.

3. Apa pengobatan utama osteoporosis pada anak?

jawaban : pengobatan pada anak yaitu dengan posponat, dan

diminumnya seminggu sekali


DAFTAR PUSTAKA

Association AM. athophisiology of Osteoporosis.

from:http://www.stg.centrax.com/ama/osteo/part4/module03/pdf/osteo_mg

mt_o3.pdf.23. (Di akses pada tangga 31-Mei-2016).

Fox-Spencer Rebecca, Brown Pam, 2006, Osteoporosis, Erlangga,

Jakarta.

Guyton, A.C., 1990, Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit, Alih

bahasa: Petrus Andrianto, EGC: Jakarta.

Hermawati f..,farmakoterapi osteoporosis buletin rasional vol 10(4). Hal

30-32.

Huldani, 2012, Biomarker remodeling Tulang , Universitas Lambung

Mangkurat, Banjarmasin.

L S. Kontrol Endokrin terhadap pertumbuhan. In: BI S, editor.

Fisiologi manusia dari sel ke sistem. 2 ed. Jakarta: EGC; 2001. p. 632-88.

Syam, Noersasongko, Sunaryo. 2014. Jurnal e-CliniC (eCl), Volume 2,

Nomor 2 Fraktur Akibat Osteoporosis Fakultas Kedokteran Universitas

Sam Ratulangi :Manado

Yulinah elin, dkk. 2013. Iso Farmakoterapi . PT. ISFI : Jakarta.