Anda di halaman 1dari 28

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT

1. DEFINISI/ PENGERTIAN

- Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue sejenis virus yang tergolong arbovirus ( arthro podborn virus ) dan
masuk kedalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypty
(Christantie Efendy,1995 ).
- Dengue adalah penyakit virus didaerah tropis yang ditularkan oleh nyamuk dan
ditandai dengan demam, nyeri kepala, nyeri pada tungkai, dan ruam (Brooker,
2001).
- Demam dengue/dengue fever adalah penyakit yang terutama pada anak, remaja,
atau orang dewasa, dengan tanda-tanda klinis demam, nyeri otot, atau sendi yang
disertai leukopenia, dengan/tanpa ruam (rash) dan limfadenophati, demam
bifasik, sakit kepala yang hebat, nyeri pada pergerakkan bola mata, rasa
menyecap yang terganggu, trombositopenia ringan, dan bintik-bintik perdarahan
(ptekie) spontan (Noer, dkk, 1999).
- DHF adalah demam khusus yang dibawa oleh aedes aegypty dan beberapa
nyamuk lain yang menyebabkan terjadinya demam. Biasanya dengan cepat
menyebar secara efidemik. (Sir,Patrick manson,2001).
- Dengue haemorhagic fever (DHF) adalah suatu penyakit akut yang disebabkan
oleh virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty (Seoparman, 1996).

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa dengue


haemorhagic fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue
sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk kedalam tubuh penderita
melalui gigitan nyamuk aedes aegypty yang terdapat pada anak dan orang dewasa
dengan gejala utama demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai ruam atau
tanpa ruam.

2. EPIDEMIOLOGI/ INSIDEN KASUS

Wabah Dengue pertama kali ditemukan di dunia tahun 1635 di Kepulauan


Karibia dan selama abad 18, 19 dan awal abad 20, wabah penyakit yang menyerupai
Dengue telah digambarkan secara global di daerah tropis dan beriklim sedang. Vektor
penyakit ini berpindah dan memindahkan penyakit dan virus Dengue melalui transportasi
laut. Seorang pakar bernama Rush telah menulis tentang Dengue berkaitan dengan break
bone fever yang terjadi di Philadelphia tahun 1780. Kebanyakan wabah ini secara klinis
adalah demam Dengue walaupun ada beberapa kasus berbentuk haemorrhargia. Penyakit
DBD di Asia Tenggara ditemukan pertama kali di Manila tahun 1954 dan Bangkok tahun
1958 (Soegijanto S., Sustini F, 2004) dan dilaporkan menjadi epidemi di Hanoi (1958),
Malaysia (1962-1964), Saigon (1965), dan Calcutta (1963) (Soedarmo, 2002).
DBD di Indonesia pertama kali ditemukan di Surabaya tahun 1968, tetapi
konfirmasi virologis baru diperoleh tahun 1970. Kasus pertama di Jakarta dilaporkan
tahun 1968, diikuti laporan dari Bandung (1972) dan Yogyakarta (1972) (Soedarmo,
2002). Epidemi pertama di luar Jawa dilaporkan tahun 1972 di Sumatera Barat dan
Lampung, disusul Riau, Sulawesi Utara, dan Bali (1973), serta Kalimantan Selatan dan
Nusa Tenggara Barat (1974). DBD telah menyebar ke seluruh provinsi di Indonesia sejak
tahun 1997 dan telah terjangkit di daerah pedesaan (Suroso T, 1999). Angka kesakitan

1
rata-rata DBD di Indonesia terus meningkat dari 0,05 (1968) menjadi 8,14 (1983), dan
mencapai angka tertinggi tahun 1998 yaitu 35,19 per 100.000 penduduk dengan jumlah
penderita sebanyak 72.133 orang (Soegijanto S., 2004). Selama awal tahun epidemi di
setiap negara, penyakit DBD ini kebanyakan menyerang anak-anak dan 95% kasus yang
dilaporkan berumur kurang dari 15 tahun. Walaupun demikian, berbagai negara
melaporkan bahwa kasus-kasus dewasa meningkat selama terjadi kejadian luar biasa
(Soegijanto S., 2004). Jumlah kasus dan kematian Demam Berdarah Dengue di Jawa
Timur selama 5 tahun terakhir menunjukkan angka yang fluktuatif, namun secara umum
cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2001 dan 2004 terjadi lonjakan kasus
yang cukup drastis karena adanya KLB, yaitu tahun 2001 sebanyak 8246 penderita
(angka insiden: 23,50 per-100 ribu penduduk), dan tahun 2004 (sampai dengan Mei)
sebanyak 7180 penderita (angka insidens: 20,34 per 100 ribu penduduk). Sasaran
penderita DBD juga merata, mengena pada semua kelompok umur baik anak-anak
maupun orang dewasa, baik masyarakat pedesaan maupun perkotaan, baik orang kaya
maupun orang miskin, baik yang tinggal di perkampungan maupun di perumahan elite,
semuanya bisa terkena Demam Berdarah (Huda AH., 2004).
Case Fatality Rate penderita DBD pada tahun 2004 sebesar 0,7 dan insidence rate
sebesar 45. Morbiditas dan mortalitas DBD yang dilaporkan berbagai negara bervariasi
disebabkan beberapa faktor antara lain status umur penduduk, kepadatan vektor, tingkat
penyebaran virus, prevalensi serotipe virus Dengue, dan kondisi metereologis. DBD
secara keseluruhan tidak berbeda antara laki-laki dan perempuan, tetapi kematian
ditemukan lebih banyak pada anak perempuan daripada anak laki-laki (Soegijanto S.,
2003; Soegijanto S., Sustini F., 2004). Distribusi umur pada mulanya memperlihatkan
proporsi kasus terbanyak adalah anak berumur <15 tahun (86-95%), namun pada wabah
selanjutnya jumlah kasus dewasa muda meningkat (Soedarmo, 2002)

3. PENYEBAB/ ETIOLOGI

- Virus dengue sejenis arbovirus yang dibawa oleh gigitan nyamuk aedes aegypti
- Virus dengue tergolong dalam family Flavividae dan dikenal ada 4 serotif,
Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya perang dunia ke II,
sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di Filipina tahun 1953-
1954. Virus dengue berbentuk batang, bersifat termoragil, sensitif terhadap
inaktivitas oleh diatiter dan natrium diaksikolat, stabil pada suhu 70 oC. Keempat
serotif tersebut telah di temukan pula di Indonesia dengan serotif ke 3 merupakan
serotif yang paling banyak. Infeksi dengan salah satu tipe serotype akan
menimbulkan antibody seumur hidup terhadap serotype bersangkutan tetapi tidak
ada perlindungan terhadap serotype lain.

4. FAKTOR PREDISPOSISI

- Lingkungan tempat tinggal yang kurang bersih(banyak ada genangan air)


- Kurangnya informasi mengenai DHF
- Ada anggota keluarga atau tetangga sekitar terkena DHF

2
5. PATOFISIOLOGI

Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya


permeabilitas dindingkapileryang mengakibatkan terjadinyaperembesanplasmake
ruangekstraseluler.
Halpertamayangterjadistelahvirusmasukkedalamtubuhadalahviremiayang
mengakibatkanpenderitamengalamidemam,sakitkepala,mual,nyeriotot,pegalpegal
diseluruh tubuh, ruam atau bintikbintik merah pada kulit (petekie), hyperemia
tenggorokan dan hal lain yang mungkin terjadi seperti pembesaran kelenjar getah
bening, pembesaran hati (Hepatomegali) dan pembesaran limpa (Splenomegali).
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume
plasma,terjadihipotensi,hemokonsentrasi,danhipoproteinemiasertaefusidanrenjatan
(syok).
Hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit > 20 %) menunjukkan atau
menggambarkan adanya kebocoran (perembesan) plasma sehingga nilai hematokrit
menjadipentinguntukpatokanpemberiancairanintravena.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler dibuktikan dengan
ditemukannya cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu rongga peritoneum,
pleura,danpericardyangpadaotopsiternyatamelebihicairanyangdiberikanmelalui
infus.
Setelahpemberiancairanintravena,peningkatanjumlahtrombositmenunjukkan
kebocoranplasmatelahteratasi,sehinggapemberiancairanintravenaharusdikurangi
kecepatandanjumlahnyauntukmencegahterjadinyaedemaparudangagaljantung,
sebaliknya jika tidak mendapatkan cairan yang cukup, penderita akan mengalami
kekurangan cairan yang dapat mengakibatkan kondisi yang buruk bahkan bisa
mengalamirenjatan.
Jikarenjatanatauhipovolemikberlangsunglamaakantimbulanoksiajaringan,
metabolikasidosisdankematianapabilatidaksegeradiatasidenganbaik.Gangguan
hemostasispadaDHFmenyangkut3faktoryaitu:perubahanvaskuler,trombositopenia
dangangguankoagulasi.
PadaotopsipenderitaDHF,ditemukantandatandaperdarahanhampirdiseluruh
tubuh,sepertidikulit,paru,saluranpencernaandanjaringanadrenal.

3
PATHWAYS

Virus Dengue

Viremia

Permeabilitas kapiler Nyeri otot, pegal-


Hiperthermi pegal seluruh tubuh
Hepatomegali meningkat
ru

Manifestasi
- Anoreksi
perdarahan
- Muntah

Ggn rasa
Kehilangan plasma nyaman
Perubahan
Nutrisi Risiko Risiko tjd
Kekurangan perdarahan
kurang
Volume cairan
Risiko syok
hipovolemia

Kurang Syok
pengetahu
an Kematian

Cemas
Cemas

4
6. KLASIFIKASI

WHO, 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4


golongan, yaitu :
a. Derajat I :
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7 hari, Uji
tourniquet positif, trombositipenia, dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II :
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti
petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.
c. Derajat III
Manifestasi klinik pada derajat II ditambah dengan ditemukan manifestasi kegagalan
system sirkulasi berupa nadi yang cepat dan lemah, hipotensi dengan kulit yang
lembab, dingin dan penderita gelisah.
d. Derajat IV :
Manifestasi klinik pada penderita derajat III ditambah dengan ditemukan manifestasi
renjatan yang berat dengan ditandai tensi tak terukur dan nadi tak teraba.

7. GEJALA KLINIS

a. Demam tinggi selama 5 7 hari


b. Mual, muntah, tidak ada nafsu makan, diare, konstipasi.
c. Perdarahan terutama perdarahan bawah kulit, ptechie, echymosis, hematoma.
d. Epistaksis, hematemisis, melena, hematuri.
e. Nyeri otot, tulang sendi, abdomen, dan ulu hati.
f. Sakit kepala.
g. Pembengkakan sekitar mata.
h. Pembesaran hati, limpa, dan kelenjar getah bening.
i. Tanda-tanda renjatan (sianosis, kulit lembab dan dingin, tekanan darah menurun,
gelisah, capillary refill lebih dari dua detik, nadi cepat dan lemah).

8. PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan umum dan tanda-tanda vital : Adanya penurunan kesadaran, kejang dan
kelemahan; suhu tinggi; nadi cepat,lemah,kecil
sampai tidak teraba; tekanan darah menurun
(sistole menurun sampai 80 mmHg atau
kurang.

2. Body system :
A. Pernapasan

Anamnesa : Pada derajat 1 dan 2 awal jarang terdapat gangguan pada sistem
pernapasan kecuali bila pada derajat 3 dan 4 sering disertai keluhan
sesak napas sehingga memerlukan pemasangan O2.

5
Pemeriksaan fisik :
Pada derajat 1 dan 2 kadang terdapat batuk dan pharingitis karena demam yang
tinggi,suara napas tambahan (ronchi; wheezing), pada derajat 3 dan 4 napas dangkal
dan cepat disertai penurunan kesadaran.

B. Cardiovaskuler

Anamnesa : Pada derajat 1dan 2 keluhan memdadak demam tinggi 2 7 hari badan
lemah, pusing, mual muntah, derajat 3 dan 4 orang tua/keluarga
melaporkan pasien mengalami penurunan kesadaran gelisah dan kejang.
Pemeriksaan fisik :
- Derajat 1 Uji torniquet positif, merupakan satu-satunya manifestasi
perdarahan.
- Derajat 2 ptekie,purpura,echymosis dan perdarahan konjungtiva
- Derajat 3 kulit dingin pada daerah akral,nadi cepat,hipotensi,sakit kepala
,menurunnya volome plasma,meningginya permeabilitas dinding pembuluh
darah,trombositopenia dan diatesis hemoragic.
- Derajat 4 nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.

C. Persarafan

Anamnesa : Pasien gelisah, cengeng dan rewel karena demam tinggi derajat 1dan 2
serta penurunan tingkat kesadaran pada derajat 3 dan 4.
Pemeriksaan fisik :
Pada derajat 2 konjungtiva mengalami perdarahan, sedang penurunan tingkat
kesadaran ( composmentis, ke-apatis, ke-somnolent,kesopor kekoma ) atau
gelisah,GCS menurun,pupil miosis atau midriasis,reflek fisiologis atau patologis
sering terjadi pada derajat 3 dan 4.

D. Perkemihan ( Eliminasi urin )

Anamnesa : Derajat 3 dan 4 kencing sedikit bahkan tidak ada kencing.


Pemeriksaan fisik :
Produksi urin menurun(oliguria sampai anuria),warna berubah pakat dan berwana
coklat tua pada derajat 3 dan 4.

E. Pencernaan ( Eliminasi fekal )

Anamnesa : Pada derajat 1 dan 2 mual dan muntah/tidak ada nafsu makan,haus,sakit
menelan,derajat 3 terdapat nyeri tekan pada ulu hati.
Pemeriksaan fisik :
Derajat 1 dan 2 Mukosa mulut kering,hiperemia tenggorokan
Derajat 3 dan 4 terdapat pembesaran hati dan nyeri tekan, sakit menelan, pembesaran
limfe,nyeri tekan epigastrik, hematemisis dan melena.

F. Tulang otot integumen

Anamnesa : Pasien mengeluh otot, persendian dan punggung,kepanas-an,wajah


tampak merah pada derajat 1 dan 2, derajat 3 dan 4 terdapat kekakuan
otot/kelemahan otot dan tulang akibat kejang atau tirah baring lama.

6
Pemeriksaan fisik :
Nyeri pada sendi, otot, punggung dan kepala, kulit terasa panas, wajah tampak merah
dapat disertai tanda kesakitan, pegal seluruh tubuh derajat 1 dan 2 sedangkan derajat
3 dan 4 pasien mengalami parese atau kekakuan bahkan kelumpuhan.

9. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/ PENUNJANG

Pemeriksaan Laboratorium

a. Darah
1. Trombosit menurun.
2. HB meningkat lebih 20 %
3. HT meningkat lebih 20 %
4. Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
5. Protein darah rendah
6. Ureum PH bisa meningkat
7. NA dan CL rendah

b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).


1. Rontgen thorax : Efusi pleura.
2. Uji test tourniket (+)

10. PROGNOSIS

Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik, DF dan DHF tidak ada
yang mati. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang tidak
teratasi, efusi pleura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga disebabkan oleh
sepsis karena tindakan dan lingkungan bangsal RS yang kurang bersih. Kematian terjadi
pada kasus berat yaitu pada waktu muncul komplikasi pada sistem syaraf, kardiovaskuler,
pernapasan, darah, dan organ lain.

Kematian disebabkan oleh banyak faktor, antara lain :


1. Keterlambatan diagnosis
2. Keterlambatan diagnosis shock
3. Keterlambatan penanganan shock
4. Shock yang tidak teratasi
5. Kelebihan cairan
6. Kebocoran yang hebat
7. Pendarahan masif
8. Kegagalan banyak organ
9. Ensefalopati
10. Sepsis
11. Kegawatan karena tindakan

7
11. THERAPY/ TINDAKAN PENANGANAN

A. Medik
Pengganti cairan (volume plasma)

1. DBD tanpa renjatan :


a. Minum banyak 1,5 2 Liter / hari, berupa air gula, susu teh dengan gula atau air
buah.

b. Pemberian caira intravena, bila :


1. Penderita muntah-muntah terus
2. Intake tidak terjamin
3. Pemeriksaan berkala hematokrit cenderung meningkat terus. Jenis cairan RL
atau asering 5 10 ml / kg bb / hari. IVFD dalam 24 jam, bila diperlukan
infuse lanjutan diberi dengan hanya memperhitungkan NWL dan CWL atau
5-7 ml / kg bb / hari

2. DBD dengan renjatan


a. Derajat IV
Infus asering 5 / RL diguyur atau dibolus 100-200 ml sampai nadi teraba serta
tensi terukur. Biasanya sudah tercapai dalam 15-30 menit.

b. Derajat III
Infus asering 5 / RL dengan kecepatan 20 tetes permenit / kg bb/ jam. Setelah
renjatan teratasi :
- Tekanan Sistol >80 mmHg
- Nadi jelas teraba
- Amplitudo nadi cukup besar

c. Kecepatan tetesan diubah jadi 10 ml / kg bb / jam selam 4 8 jam. Bila


keadaan umum tetap baik, jumlah caoiran dibatasi sekitar 5 7 ml / kg bb /
jam dengan larutan RL / Dextrose 5 % 1:1 atau asering 5. Infus dipertahankan
48 jam setelah renjatan

d.Pada renjatan berat dapat diberikan cairan plasma atau pengganti plasma
(expander plasma / dextran L) denga kecapatan 10 20 ml / kg bb / jam dan
maksimal 20 30 ml / kg bb / hari. Dalam hal ini dipasang 2 infus 1 untuk
larutan RL dan 1 untuk cairan plasma atau pengganti plasma.

Tindakan Lain
1. Transfusi darah dengan indikasi :
a. Perdarahan gastrointestinal berat: melena, hematemesis.
b. Dengan pemeriksaan hb, hct secara periodic terus terjadi penurunan, sedang
penderita masih dalam renjatan atau kea adan akut semakain menurun. Jumlah
yang diberikan 20 ml / kg bb / hari dapat diulangi bila perlu

2. Anti konvulsan, bila disertai kejang maka diberi :


a. Diasepam 10 mg secara rectal atau intra vena
b. Phenobarbital 75 mg secara IM sesuai penatlaksanaan kejang pada anak

8
3. Antipiretik dan kompres pada penderita dengan hiperpireksi. Obat yang diberikan
ialah paracetamol 10 mg / kg bb / hari
4. Oksigen diberikan pada pendertita renjatan dengan cianosis 2 4 L / menit
5. Antibiotika pada penderita dengan renjatan lama atau terjadi infeksi infeksi
sekunder
6. Korticosteroid diberikan pada pasien dengan ensefalopati

B. Keperawatan

1. Pengawasan tanda tanda Vital secara kontinue tiap jam


- Pemeriksaan Hb, Ht, Trombocyt tiap 4 Jam
- Observasi intik output
- Pada pasienDHF derajat I : Pasien diistirahatkan, observasi tanda vital tiap 3
jam , periksa Hb, Ht, Thrombosit tiap 4 jam beri minum 1 liter 2 liter per
hari, beri kompres
- Pada pasien DHF derajat II : pengawasan tanda vital, pemeriksaan Hb, Ht,
Thrombocyt, perhatikan gejala seperti nadi lemah, kecil dan cepat, tekanan darah
menurun, anuria dan sakit perut, beri infus.
- Pada pasien DHF derajat III : Infus guyur, posisi semi fowler, beri o2
pengawasan tanda tanda vital tiap 15 menit, pasang cateter, obsrvasi productie
urin tiap jam, periksa Hb, Ht dan thrombocyt.

2. Resiko Perdarahan
- Obsevasi perdarahan : Pteckie, Epistaksis, Hematomesis dan melena
- Catat banyak, warna dari perdarahan
- Pasang NGT pada pasien dengan perdarahan tractus Gastro Intestinal

3. Peningkatan suhu tubuh


- Observasi / Ukur suhu tubuh secara periodik
- Beri minum banyak
- Berikan kompres

12. PENATALAKSANAAN

a. Tirah baring
b. Pemberian makanan lunak .
c. Pemberian cairan melalui infus.
Pemberian cairan intra vena (biasanya ringer lactat, nacl) ringer lactate merupakan
cairan intra vena yang paling sering digunakan , mengandung Na + 130 mEq/liter , K+
4 mEq/liter, korekter basa 28 mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.
d. Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik,
e. Anti konvulsi jika terjadi kejang
f. Monitor tanda-tanda vital ( T,S,N,RR).
g. Monitor adanya tanda-tanda renjatan
h. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
i. Periksa HB, HT, dan Trombosit setiap hari.

9
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Identitas
DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak,
remaja dan dewasa (Effendy, 1995).

2. Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu makan
menurun.

3. Riwayat penyakit sekarang


Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal seluruh tubuh,
sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu makan menurun.

4. Riwayat penyakit terdahulu


Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.

5. Riwayat penyakit keluarga


Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan,
karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk
aides aigepty.

6. Riwayat Kesehatan Lingkungan


Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas,
ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti airnya, bak mandi jarang
dibersihkan.

7. Pengkajian Per Sistem


- Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epistaksis, pergerakan
dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar ronchi, krakles.

- Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV
dapat terjadi DSS.

- Sistem Cardiovaskuler
Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif, trombositipeni,
pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi cepat, lemah, hipotensi,
cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari, pada grade IV nadi tidak teraba dan
tekanan darah tak dapat diukur.

- Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada epigastrik,
pembesarn limpa, pembesaran hati, abdomen teregang, penurunan nafsu makan,
mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis, melena.

10
- Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan mengungkapkan
nyeri sat kencing, kencing berwarna merah.

- Sistem Integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat positif pada
uji tourniquet, terjadi pethike, pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan
pada kulit.

C. Diagnosa Keperawatan

1. Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi virus dengue(viremia).


2. Kekurangan volume cairan b.d peningkatan permeabilitas dinding plasma.
3. Nyeri b.d proses patologis penyakit.
4. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi yang
tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.
5. Risiko Syok hipovolemik b.d kurangnya volume cairan tubuh.
6. Risiko terjadi perdarahan b.d trombositopenia.
7. Risiko infeksi b.d tindakan invasif (pemasangan infus).
8. Kecemasan orangtua berhubungan dengan kondisi anak..
9. Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit, prognosis, efek prosedur, dan
perawatan anggota keluarga yang sakit b.d kurang terpapar informasi.

11
C. Rencana Asuhan Keperawatan.

Dx. 1 Hipertermie b.d proses infeksi virus dengue(viremia)

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan suhu tubuh dalam rentang normal
Kriteria :
- Suhu tubuh antara 36 370 C
- Kulit tidak panas , kemerahan

Intervensi :

a. Kaji suhu tubuh pasien


Rasional : mengetahui peningkatan suhu tubuh, memudahkan intervensi

b. Beri kompres air hangat


Rasional : mengurangi panas dengan pemindahan panas secara evaporasi. Air hangat
mengontrol pemindahan panas secara perlahan tanpa menyebabkan
hipotermi atau menggigil.

c. Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari (sesuai toleransi)


Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.

d. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap
keringat
Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat
dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh.

e. Observasi intake dan output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap 3 jam sekali
atau sesuai indikasi
Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan
dan elektrolit dalam tubuh. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui
keadaan umum pasien.

f. Kolaborasi pemberian cairan intravena dan pemberian antipiretik.


Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi.
Antipiretik menurunkan panas tubuh pasien.

12
Dx. 2 Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
dinding plasma

Tujuan : Selama diberikan asuhan keperawatan tidak terjadi kekurangan volume cairan
Kriteria :
- Input dan output seimbang
- Vital sign dalam batas normal
- Akral hangat
- Capilarry refill < 2 detik

Intervensi :
a. Awasi vital sign tiap 3 jam/sesuai indikasi
Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler

b. Observasi capillary refill


Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer

c. Observasi intake dan output. Catat warna urine / konsentrasi, BJ


Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi.

d. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi )


Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh peroral.

e. Kolaborasi pemberian cairan intravena


Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh, untuk mencegah terjadinya
hipovolemic syok.

Dx. 3 Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan nyeri terkontrol


Kriteria hasil :
- Pasien melaporkan nyeri berkurang
- Pasien tampak tenang

Intervensi:
a. Kaji tingkat nyeri yang dialami pasien
Rasional : untuk mengetahui berapa berat nyeri yang dialami pasien.

b. Berikan posisi yang nyaman, usahakan situasi ruangan yang tenang.


Rasional : Untuk mengurangi rasa nyeri

c. Alihkan perhatian pasien dari rasa nyeri.


Rasional : Dengan melakukan aktivitas lain pasien dapat melupakan perhatiannya terhadap
nyeri yang dialami.

d. Berikan obat-obat analgetik


Rasional : Analgetik dapat menekan atau mengurangi nyeri pasien.

13
Dx. 4 Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi
yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan kebutuhan nutrisi terpenuhi


Kriteria :
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
- Menunjukkan berat badan yang seimbang.
- Intake nutrisi adekuat

Intervensi :
a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
Rasional : Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi

b. Observasi dan catat masukan makanan pasien


Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan

c. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan)


Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi.

d. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan
Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan
juga mencegah distensi gaster.

e. Berikan dan Bantu oral hygiene.


Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral

f. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.


Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster.

Dx. 5 Risiko Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan,


pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan tidak terjadi syok hipovolemik


Kriteria :

- Tanda vital dalam batas normal


- Keadaan umum baik.

Intervensi :
a. Monitor keadaan umum pasien
Rasional : Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terjadi
perdarahan. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok /syok.

b. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih

14
Rasional : Perawat perlu terus mengobservasi vital sign untuk memastikan tidak
terjadi presyok / syok.

c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera laporkan jika terjadi
perdarahan
Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat
segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan.

d. Kolaborasi pemberian cairan intravena


Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh
secara hebat.

e. Kolaborasi pemeriksaan : HB, PCV, trombosit


Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien
dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut.

Dx. 6 Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor


pembekuan darah (trombositopeni)

Tujuan : Tidak terjadi perdarahan


Kriteria :
- TD 100/60 mmHg, N: 80-100x/menit reguler, pulsasi kuat
- Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat.

Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis.
Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah
yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti
epistaksis, ptekie.

b. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )


Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya
perdarahan.

c. Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda
perdarahan seperti : hematemesis, melena, epistaksis.
Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini
bila terjadi perdarahan.

d. Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara kebersihan
mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah.
Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.

e. Kolaborasi, monitor trombosit setiap hari


Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui tingkat
kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami
pasien.

15
Dx. 7 Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (pemasangan infus).

Tujuan : Selama diberikan asuhan keperawatan tidak terjadi infeksi


Kriteria hasil :
- Tidak terjadi infeksi pada pasien.
- Tidak ada tanda-tanda infeksi( kalor, dolor, rubor, tumor, fungsiolaesa )

Intervensi :
a. Lakukan teknik aseptik saat melakukan tindakan pemasangan infus.
Rasional : Tindakan aseptik merupakan tindakan preventif terhadap kemungkinan
terjadi infeksi.

b. Observasi tanda-tanda vital.


Rasional : Menetapkan data dasar pasien, terjadi peradangan dapat diketahui dari
penyimpangan nilai tanda vital.

c. Observasi daerah pemasangan infus.


Rasional : Mengetahui tanda infeksi pada pemasangan infus.

d. Segera cabut infus bila tampak adanya pembengkakan atau plebitis.


Rasional : Untuk menghindari kondisi yang lebih buruk atau penyulit lebih lanjut.

Dx. 8 Kecemasan orangtua berhubungan dengan kondisi anak.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan ansietas berkurang/terkontrol.


Kriteria hasil :
- klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.
- tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.

Intervensi:

a. Kaji tingkat kecemasan pasien.


Rasional : memudahkan intervensi.

b. Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu.
Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan
mengontrol ansietas.

c. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan


pikiran dan perasaan.
Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan
kecemasan yang dirasakan.

d. Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-

16
harapan yang positif terhadap terapy yang di jalani.
Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk
mengurangi kecemasan.

e. Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun


dalam keadaan cemas.
Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu
mengatasi masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang
dibuktikan dengan pengakuan orang lain atas kemampuannya.

f. Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.


Rasional : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.

g. Sediakan informasi factual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut
diagnosis, perawatan dan prognosis.
Rasional : meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.

Dx. 9 Kurang pengetahuan keluarga tentang penyakit, prognosis, efek prosedur,


dan perawatan anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang
terpapar informasi.

Tujuan : orang tua mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses
pengobatan.
Kriteria hasil :
- melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan dari suatu tindakan.
- memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut serta dalam regimen
perawatan.

Intervensi:

a. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.


Rasional : mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan keluarga
tentang penyakitnya.

b. Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyakitnya dan kondisinya
sekarang.
Rasional : dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan
keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.

c. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanannya.


Rasional : diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.

d. Anjurkan keluarga untuk memperhatikan perawatan diri dan lingkungan bagi anggota
keluarga yang sakit. Lakukan/demonstrasikan teknik perawatan diri dan lingkungan
klien.
Rasional : perawatan diri (mandi, toileting, berpakaian/berdandan) dan kebersihan
lingkungan penting untuk menciptakan perasaan nyaman/rileks klien sakit.

e. Minta klien/keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah diberikan.

17
Rasional : mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai
keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.

D. Evaluasi

Dx. 1 Suhu tubuh normal


Dx. 2 Tidak terjadi devisit volume cairan
Dx. 3 Nyeri terkontrol
Dx. 4 Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Dx. 5 Tidak terjadi syok hipovolemik
Dx. 6 Tidak terjadi perdarahan
Dx. 7 Tidak terjadi infeksi
Dx. 8 Ansietas berkurang/terkontrol
Dx. 9 Orang tua memahami tentang kondisi, efek prosedur dan proses pengobatan.

18
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN An. DN dengan DIAGNOSA DHF di
RUANG BAKUNG BARAT

A. PENGKAJIAN

1. Identitas Pasien
Nama : An. DN
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 12 tahun
Status : Belum kawin
Alamat : Kuta
Pekerjaan : Pelajar
Pendidikan : SMP
Suku bangsa : Indonesia
Tanggal MRS : 2 Februari 2009

2. Identitas Penanggung
Nama : Tn. SP
Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 35 th
Status : Sudah Kawin
Alamat : Kuta
Pekerjaan : PNS
Pendidikan : S1 Ekonomi
Suku bangsa : Indonesia
Hubungan penanggung dengan pasien adalah ayah pasien.

B. STATUS KESEHATAN
a. Status Kesehatan Saat Ini
- Keluhan utama : Panas Badan
- Alasan masuk RS dan perjalanan penyakit saat ini :
Orang tua pasien mengatakan bahwa suhu badan pasien tinggi dan tubuh
anaknya teraba panas sejak 3 hari sebelum MRS. Panas mendadak tinggi,
panas bisa turun dengan obat penurun panas kemudian naik lagi. Pasien
mengeluh sakit kepala sejak 3 hari. Sakit kepalanya tidak begitu berat. Pasien
mengeluh nyeri sendi dan tidak ada gusi berdarah, tidak ada nyeri telan,
Pasien mual, muntah-muntah setiap makan dan pasien sudah muntah 2x sejak
tadi pagi, volume gelas tiap hari, isi muntahan makanan dan minuman
yang dikonsumsi. Eliminasinya ( BAB ) bagus dengan konsistensi padat,
warna kuning kecoklatan dengan frekuensi 1 x sehari. Eliminasi urinenya
normal dengan warna kuningan dan tidak keruh bau amoniak.

- Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya : pasien diberikan parasetamol untuk


menurunkan panas dan diberi kompres dingin tapi karena panasnya tidak kunjung
turun, keluarga mengajak pasien berobat ke RSUP Sanglah.

19
b. Status Kesehatan Masa Lalu
- Penyakit yang pernah dialami : Tifus
- Pernah dirawat : di RSUP Sanglah dengan penyakit tifus th 2007
- Alergi Obat/Makanan (catatan agen dan reaksi spesifik) : klien tidak mempunyai
alergi makanan atau alergi obat-obatan.
- Kebiasaan : Pasien mengatakan tidak memiliki kebiasaan merokok, minum minuman
alcohol atau kopi

c. Riwayat Penyakit Keluarga : Pasien mengatakan tidak ada penyakit genetic seperti DM,
asma, hipertensi,atau jantung.

d. Diagnosa Medis : DHF

e. Therapy :
- IVFD, RL 20 tetes/menit
- Minum 1-2 liter/hari
- Paracetamol 3 x 500 mg
- ROB 1x1

3. Pola Kebutuhan Dasar Manusia Menurut Virginia Anderson


1. Pola nafas (Oksigenasi)
Di rumah : Pola oksigenasi pasien normal tidak mengalami gangguan pernafasan atau
sesak nafas.
Di RS : Pola oksigenasi pasien normal. Klien tidak sesak, suara nafas vesikuler, RR
20x/mnt.

2. Pola nutrisi
Program diet RS : BB
Intake makanan :
Di rumah : pola makan pasien baik 3 x sehari dengan 1 porsi habis
Di RS : Orang tua pasien mengatakan bahwa nafsu makan anaknya menurun.Pasien makan
3x sehari hanya habis porsi. Pasien merasa mual dan tampak lemas

Intake cairan :
Di rumah : Pasien mengatakan saat di rumah minum air putih 4-5 gelas sehari.
Di RS : saat di RS pasien hanya minum 750 cc/hari dengan jenis air
putih. Pasien terpasang IVFD RL 500ml.

3. Pola eliminasi
a. Buang air besar : pasien mengatakan dirumah BAB 1x/hari dan setelah di RS BAB
1x/hari(normal) dengan konsistensi padat, warna kuning kecoklatan,bau khas feces.
b. Buang air kecil :
Di rumah : pasien mengatakan saat di rumah buang air kecil + 4-5x/hari.
Di RS : BAK pasien 400ml, warna kuning jernih, bau amoniak

4.. Pola aktivitas dan latihan:


Di rumah: pasien mengatakan hanya melakukan kegiatan rumah saja.
Di RS: pasien mengatakan saat di RS ia tidak dapat melakukan kegiatan. Hanya mengobrol
dengan penunggunya dan pasien disebelahnya.

20
Kemampuan
0 1 2 3 4
klien
Mobilisasi di

tempat tidur
Berpindah
Ambulasi/ROM

5. Pola kebersihan diri


Di rumah: pasien mengatakan saat di rumah dapat melakukan kegiatan personal hygiene
secara mandiri.
Di RS: pasien mengatakan saat di RS tidak bisa membersihkan dirinya sendiri(dibantu oleh
keluarga). Pasien di lap oleh keluarga pagi dan sore hari.

Kemampuan
0 1 2 3 4
klien
Mandi
Toileting

6. Pola tidur dan istirahat :


Lama tidur
- Di rumah: pasien mengatakan saat di rumah ia tidur selama 8 jam semalam. Tidur
malam pukul 20.00-06.00 Wita
- Di RS: pasien mengatakan bisa tidur dengan nyenyak dari jam 20.00-06.00 Wita.
- Gangguan tidur : pasien mengatakan tidak ada keluhan dalam pola istirahat dan
tidurnya.
- Perasaan saat bangun tidur : pasien mengatakan merasa masih lemas saat bangun
tidur.

7. Pola berpakaian :Sebelum masuk RS pasien dapat menggunakan pakaian


sendiri. Setelah masuk RS pasien dibantu oleh keluarga atau perawat karena
pada tangan kanannya terpasang infuse RL .

8. Pola rasa nyaman :Pasien terlihat gelisah dan mengatakan merasa tidak nyaman karena
merasa nyeri pada sendi-sendinya dan badannya terasa pegal.

9. Pola rasa aman :Pasien merasa aman di RS karena selalu dituggui oleh keluarganya, pasien
memiliki risiko infeksi karena terpasang IVFD RL pada tangan kanannya.

10. Pola komunikasi / hubungan dengan orang lain : pasien mengatakan tidak
ada hambatan dalam berkomunikasi baik sebelum dan sesudah masuk RS.

11. Pola beribadah :


Di rumah: pasien beragama islam pasien berdoa sebanyak 5x sehari .
Di rs : pasien berdoa hanya dari tempat tidur
.
12.Pola produktifitas : Pasien masih ditanggung keluarganya karena masih pelajar.

13. Pola rekreasi :

21
Selama di RS pasien menghibur diri dengan bermain hand phone dan bercanda
dengan pasien disebelahnya dan keluarga yang menunggu.

13. Kebutuhan belajar :Keluarga pasien mengatakan sudah paham mengenai penyakit DHF .

4. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan Umum: lemah
Tingkat kesadaran composmentis
- Tanda-tanda vital : N = 102 x/mnt , t = 37,8 0, RR = 20 x/mnt ,
TD = 100/80 mmHg
- Keadaan fisik
Rambut : Bergelombang dan kering
Mata : Konjungtiva dan pucat
Kulit : Teraba panas, tampak kemerahan
Kuku : Pendek dan bersih
Lidah : Berwarna merah
Bibir : Pecah pecah pada sudut bibir
Gusi : Merah muda dan lembab
Sistem kardiovaskuler : nadi dan tekanan darah normal
Sistem pencernaan : nafsu makannya menurun dan agak mual
Sistem persarafan : refleks normal , emosi tidak stabil
Leher : JVP = ( - )
Thoraks : Simetris
* COR : normal / reguler
murmur :(-)
* Pulmo --- suara nafas +/+
ronchi -/-
wheezing -/-
* Abdomen --- distensi (-)
peristaltik : normal
nyeri tekan : (-)

5. Pemeriksaan Penunjang
Data laboratorium : pemeriksaan darah
WBC : 2,6
Ne : 2.0
Ly : 0,4
Mo : 0,2
Ba : 0,0
KBC : 1,25
AEB : 0,8

22
6. Analisa Data

No Data Interpretasi Masalah

1. S: Orang tua pasien Infeksi virus dengue Hipertermi


mengatakan badan ( peningkatan suhu
anaknya teraba panas tubuh )
O: viremia
- Suhu tubuh tinggi
(37,80 C) hipertermi
- Kulit wajah tampak
kemerahan
- kulit teraba panas
2. S :- Viremia Kekurangan volume
O : cairan
- Mukosa bibir Permeabilitas dinding
kapiler darah
kering
- Bibir pecah-pecah
Perembesan plasma ke
ruang ekstraseluler

Kekurangan volume cairan

3. S : Pasien mengatakan Infeksi virus dengue Ggn rasa nyaman


merasa tidak nyaman (nyeri)
karena merasa nyeri viremia
pada sendi dan
tubuhnya pegal-pegal.
O: Pasien tampak gelisah nyeri sendi

4. S: Orang tua pasien Viremia Ketidakseimbangan


mengatakan nafsu nutrisi < dari
makan anaknya kebutuhan
menurun Anoreksia
O:
- pasien hanya
Mual
menghabiskan
porsi makanannya
- pasien tampak Muntah
lemas

23
Asupan nutrisi tdk adekuat

Ketidakseimbangan nutrisi

5. S :- DHF Risiko infeksi


O :
Terpasang IVFD RL pd
tangan kanan pasien Tindakan invasive
(pemasangan infuse)

Risiko infeksi

7. Diagnosa keperawatan

No Tgl Dx Dx keperawatan Tgl TTd


Teratasi
1. Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi virus
dengue(viremia).
Dd:
- Suhu tubuh tinggi (37,80 C)
- Kulit wajah tampak kemerahan
- Kulit teraba panas

2. Kekurangan volume cairan b.d peningkatan


permeabilitas dinding plasma.
Dd:
- Mukosa bibir kering
- Bibir pecah-pecah

3. Nyeri b.d proses patologis penyakit


Dd:
Pasien tampak gelisah dan tidak nyaman

4. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari


kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi yang
tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan
yang menurun.
Dd:
- pasien hanya menghabiskan porsi
makanannya
- pasien tampak lemas

24
5. Risiko infeksi b.d tindakan invasif (pemasangan
infus)
Dd:
Terpasang IVFD RL pd tangan kanan
pasien

8. Perencanaan

Hari No Tujuan dan Intervensi Rasional


/Tgl Dx criteria hasil
1 Setelah -Kaji suhu tubuh pasien -Mengetahui peningkatan suhu
diberikan tubuh, memudahkan intervensi
Askep selama -Beri kompres air mengurangi panas dengan
3x24 jam hangat pemindahan panas secara evaporasi.
diharapkan
suhu tubuh -Berikan/anjurkan -Air hangat mengontrol
pasien normal pasien untuk banyak pemindahan panas secara perlahan
dengan kriteria minum 1500-2000 tanpa menyebabkan hipotermi atau
hasil: cc/hari (sesuai menggigil.
- suhu tubuh
toleransi)
pasien 36 -Untuk mengganti cairan tubuh yang
37 0 C) -Anjurkan pasien untuk hilang akibat evaporasi.
- kulit tidak menggunakan pakaian
kemerahan, yang tipis dan mudah -Memberikan rasa nyaman dan
- kulit tidak menyerap keringat pakaian yang tipis mudah menyerap
teraba panas kering dan tidak merangsang
-Observasi intake dan peningkatan suhu tubuh.
output, tanda vital
(suhu, nadi, tekanan -Mendeteksi dini kekurangan cairan
darah) tiap 3 jam serta mengetahui keseimbangan
sekali atau sesuai cairan dan elektrolit dalam tubuh.
indikasi Tanda vital merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan umum pasien.
-Kolaborasi pemberian
cairan intravena dan -Pemberian cairan sangat penting
pemberian antipiretik. bagi pasien dengan suhu tubuh yang
tinggi.

-Antipiretik menurunkan panas


tubuh pasien.

25
2 Selama -Awasi vital sign tiap 3 -Vital sign membantu
diberikan jam/sesuai indikasi mengidentifikasi fluktuasi cairan
asuhan intravaskuler
keperawatan -Observasi capillary
selama 3x24 refill -Indikasi keadekuatan sirkulasi
jam tidak perifer
terjadi -Observasi intake dan
kekurangan output. Catat warna -Penurunan haluaran urine pekat
volume cairan urine / konsentrasi, BJ dengan peningkatan BJ diduga
Dengan dehidrasi.
kriteria hasil: -Anjurkan untuk
-Input dan minum 1500-2000 -Untuk memenuhi kebutuhan cairan
output ml /hari (sesuai tubuh peroral.
seimbang toleransi )
-Vital sign -Dapat meningkatkan jumlah cairan
normal -Kolaborasi pemberian tubuh, untuk mencegah terjadinya
-Akral hangat cairan intravena Hipovolemic syok.
-Capilarry
refill < 2 detik

3 Setelah -Kaji tingkat nyeri yang -Untuk mengetahui berapa berat


diberikan dialami pasien nyeri yang dialami pasien.
asuhan
keperawatan -Berikan posisi yang -Untuk mengurangi rasa nyeri
selama 2x24 nyaman, usahakan
jam nyeri situasi ruangan yang -Dengan melakukan aktivitas lain
terkontrol tenang. pasien dapat melupakan
Dengan perhatiannya terhadap nyeri yang
Kriteria hasil : -Alihkan perhatian dialami.
-Pasien pasien dari rasa nyeri.
melaporkan -Analgetik dapat menekan atau
nyeri -Berikan obat-obat mengurangi nyeri pasien.
berkurang analgetik
-Pasien tampak
tenang

4 Setelah -Kaji riwayat nutrisi, -Mengidentifikasi defisiensi,


diberikan termasuk makanan menduga kemungkinan intervensi
asuhan yang disukai
keperawatan -Mengawasi masukan kalori/kualitas
selama 3x 24 -Observasi dan catat kekurangan konsumsi makanan

26
jam kebutuhan masukan makanan
nutrisi pasien -Mengawasi penurunan BB /
terpenuhi dg mengawasi efektifitas intervensi.
Kriteria hasil : -Timbang BB tiap hari
-Tidak ada (bila memungkinkan) -Makanan sedikit dapat menurunkan
tanda-tanda kelemahan dan meningkatkan
malnutrisi -Berikan makanan masukan juga mencegah distensi
- Menunjukkan sedikit namun sering gaster.
berat badan dan atau makan
yang
diantara waktu makan
seimbang.
- Intake nutrisi -Berikan dan Bantu -Meningkatkan nafsu makan dan
adekuat masukan peroral
oral hygiene

-Hindari makanan yang -Menurunkan distensi dan iritasi


gaster.
merangsang dan
mengandung gas.

5 Setelah -Lakukan teknik -Tindakan aseptik merupakan


diberikan aseptik saat melakukan tindakan preventif terhadap
asuhan tindakan pemasangan kemungkinan terjadi infeksi.
keperawatan
infus.
selama 3x24 -Menetapkan data dasar pasien,
jam tidak -Observasi tanda-tanda terjadi peradangan dapat diketahui
terjadi infeksi dari penyimpangan nilai tanda vital.
vital.
dengan
Kriteria hasil : -Mengetahui tanda infeksi pada
-Observasi daerah pemasangan infus.
-Tidak terjadi pemasangan infus.
infeksi pada -Untuk menghindari kondisi yang
pasien. -Segera cabut infus bila lebih buruk atau penyulit lebih
-Tidak ada lanjut.
tampak adanya
tanda-tanda
infeksi( kalor, pembengkakan atau
dolor, rubor, plebitis.
tumor,
fungsiolaesa )

27
28