Anda di halaman 1dari 20

CASE REPORT

PTERIGIUM

OLEH :
Ilonna Putri Pertiwi 1102012120

Pembimbing
dr. Diantinia. Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK
ILMU KESEHATAN MATA RSUD SOREANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

FEBRUARI 2017

1
BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. N
Umur : 41 tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Alamat : Komplek BBK Tasikmalaya 4/13 Margahayu
Agama : Islam
Suku : Sunda
Status : Menikah
Tanggal Pemeriksaan : 16 Februari 2017

II. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis di Poli Mata RSUD Soreang
Keluhan utama
Mata merah

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke polikinik mata RSUD Soreang dengan keluhan mata kiri terasa merah
sejak 1 minggu lalu. Keluhan awalnya diawali dengan mata kiri terasa ada yang mengganjal sejak
6 bulan lalu, keluhan dirasakan bertambah saat beraktivitas diluar. Pasien tidak merasakan adanya
gatal. Adanya sekret dan rasa gatal disangkal oleh pasien. Pandangan kabur maupun silau
disangkal pasien. Rasa nyeri dan bengkak pada mata disangkal oleh pasien. Mata kanan pasien
tidak ada keluhan. Pasien menyangkal adanya riwayat trauma dan kemasukan benda asing
sebelumnya.

Riwayat Penyakit Dahulu

2
Pasien belum pernah mengalami keadaan seperti ini sebelumnya. Tidak terdapat riwayat
alergi sebelumnya. Pasien menyangkal adanya riwayat penggunaan kacamata. Pasien menyangkal
adanya riwayat penyakit hipertensi dan diabetes mellitus

Riwayat Penyakit Keluarga


Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami hal yang sama dengan pasien

STATUS OFTALMIKUS

Pemeriksaan visus OD OS

Visus dasar 6/7,5 PH 6/6 6/6

Pemeriksaan Muscle Balance Orthophoria

Pergerakan bola mata Normal kesegala arah

Palpebra superior Tenang

Palpebra inferior Tenang

Cilia Tenang

3
App lacrimalis Sumbatan (-)

Konjungtiva tarsalis superior Tenang

Konjungtiva tarsalis inferior Tenang

Konjungtiva bulbi Tenang Pterigium (+)

Cornea Selaput berbentuk


segitiga dibagian limbus
kornea, tetapi tidak lebih
2mm melewati kornea

COA Sedang

Pupil Bulat, isokhor

Diameter 3mm

RC direk/indirek +/+

Iris Sinekia (-)

Lensa Jernih

RESUME
Pasien datang ke polikinik mata RSUD Soreang dengan keluhan mata kiri terasa merah
sejak 1 minggu lalu. Awalnya keluhan diawali mata kiri terasa mengganjal sejak 6 bulan lalu,
keluhan dirasakan bertambah saat beraktivitas diluar. Pasien tidak merasakan adanya gatal.
Adanya sekret dan rasa gatal disangkal oleh pasien. Pandangan kabur maupun silau disangkal
pasien. Mata kanan pasien tidak ada keluhan. Tidak ada riwayat trauma pada kedua mata. Pasien
menyangkal kedua mata kemasukan benda asing.
Pada pemeriksaan visus didapatkan visus 6/7,5 OD dengan PH 6/6 dan 6/6 OS. Pada
pemeriksaan fisik mata ditemukan konjungtiva bulbi OS terdapat pterigium. Pada kornea
ditemukan selaput berbentuk segitiga dibagian limbus kornea, tetapi tidak lebih 2mm melewati
kornea

DIAGNOSIS BANDING

4
Pterigium Grade II OS
Pinguekula OS
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Slit Lamp

DIAGNOSA
Pterigium Grade II OS

PENATALAKSANAAN

Medikamentosa:
Cendo xytrol 3x sehari OS, 5-7 hari
Vasacon 3x sehari OS
Non medikamentosa :
Jangan menggosok-gosok mata
Menggunakan topi atau kacamata saat beraktivitas diluar

PROGNOSIS
Quo ad Vitam : ad bonam
Quo ad fungtionam : ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Anatomi Konjungtiva

Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus
permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior

6
sklera (konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak
(persambungan mukokutan) dan dengan epitel kornea di limbus.
Konjungtiva palpebralis melapisi permukaan posterior kelopak mata dan melekat
erat ke tarsus. Di tepi superior dan inferior tarsus, konjungtiva melipat keposterior (pada
fornices superior dan inferior) dan membungkus jaringan episklera menjadi konjungtiva
bulbaris.
Konjungtiva bulbaris melekat longgar ke septum orbitale di fornices dan melipat
berkali-kali. Pelipatan ini memungkinkan bola mata bergerak dan memperbesar
permukaan konjungtiva sekretorik. Duktus-duktus kelenjar lakrimalis bermuara ke forniks
temporal superior) kecuali di limbus (tempat kapsul Tenon dan konjungtiva menyatu sejauh
3 mm), konjungtiva bulbaris melekat longgar ke kapsul tenon dan sklera di bawahnya.
Lipatan konjungtiva bulbaris yang tebal, mudah bergerak dan lunak (plika semilunaris)
terletak di kanthus internus dan membentuk kelopak mata ketiga pada beberapa binatang.
Struktur epidermoid kecil semacam daging (karunkula) menempel superfisial ke bagian
dalam plika semilunaris dan merupakan zona transisi yang mengandung elemen kulit dan
membran mukosa. Lapisan epitel konjungtiva terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel
silinder bertingkat, superfisial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, diatas
karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-
sel epitel skuamosa. Sel-sel epitel superfisial mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang
mensekresi mukus. Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi
lapisan air mata secara merata di seluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih
pekat daripada sel-sel superfisial dan didekat limbus dapat mengandung pigmen.
Stroma konjungtiva dibagi menjadi satu lapisan adenoid (superfisial) dan satu lapisan
fibrosa (profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan di beberapa tempat
dapat mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan
adenoid tidak berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan
mengapa konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa
kemudian menjadi folikuler. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang
melekat pada lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reaksi papiler pada radang
konjungtiva. Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata. Kelenjar air mata asesori
(kelenjar Krause dan Wolfring), yang struktur dan fungsinya mirip kelenjar lakrimal,

7
terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar krause berada di forniks atas, dan sedikit
ada di forniks bawah. Kelenjar Wolfring terletak di tepi atas tarsus atas.
Arteri-arteri konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri pelpebralis.
Kedua arteri ini beranastomosis bebas dan bersama dengan banyak vena konjungtiva yang
umumnya mengikuti pola arterinya membentuk jaring-jaring vaskuler konjungtiva yang
banyak sekali. Pembuluh limfe konjungtiva tersusun dalam lapisan superfisial dan lapisan
profundus dan bersambung dengan pembuluh limfe kelopak mata hingga membentuk
pleksus limfatikus yang kaya. Konjungtiva menerima persyarafan dari percabangan
(oftalmik) pertama nervus V, saraf ini hanya relatif sedikit mempunyai serat nyeri.
Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan
konjungtiva tarsal dengan konjungtiva bulbi. Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan
sangat longgar dengan jaringan di bawahnya sehingga bola mata mudah bergerak.

II. Definisi

Menurut kamus kedokteran Dorland, pterygium adalah bangunan mirip sayap, khususnya
untuk lipatan selaput berbentuk segitiga yang abnormal dalam fisura interpalpebralis, yang
membentang dari konjungtiva ke kornea, bagian puncak (apeks) lipatan ini menyatu dengan kornea
sehingga tidak dapat digerakkan sementara bagian tengahnya melekat erat pada sclera, dan
kemudian bagian dasarnya menyatu dengan konjungtiva.
Menurut American Academy of Ophthalmology, pterygium adalah poliferasi jaringan
subconjunctiva berupa granulasi fibrovaskular dari (sebelah) nasal konjuntiva bulbar yang
berkembang menuju kornea hingga akhirnya menutupi permukaannya.

8
Pterigium adalah suatu penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga, mirip daging
yang menjalar ke kornea, pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat degeneratif dan
invasif

III. Epidemiologi
Di Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi
geografisnya. Prevalensinya berkisar 5-15%. Terdapat hubungan antara peningkatan prevalensi
dan daerah yang terkena paparan ultraviolet lebih tinggi di bawah garis lintang.
Faktor yang mempengaruhi pterigium diantaranya.mPterigium dilaporkan bisa terjadi pada
golongan laki-laki dua kali lebih banyak dibandingkan wanita. Usia dilaporkan berpengaruh,
prevalensi tertinggi pada usia diatas 40 tahun

IV. Etiologi
Pterigium diduga disebabkan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara
panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma, radang,
dan degenerasi. Pterygium diduga merupakan fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet,
pengeringan dan lingkungan dengan angin banyak. Faktor lain yang menyebabkan pertumbuhan
pterygium antara lain uap kimia, asap, debu dan benda-benda lain yang terbang masuk ke dalam
mata. Beberapa studi menunjukkan adanya predisposisi genetik untuk kondisi ini.

V. Patofisiologi
Konjungtiva bulbi selalu berhubungan dengan dunia luar. Kontak dengan ultraviolet, debu,
kekeringan mengakibatkan terjadinya penebalan dan pertumbuhan konjungtiva bulbi yang
menjalar ke kornea.
Pterigium biasanya bilateral karena kedua mata mempunyai kemungkinan yang sama
untuk kontak dengan sinar ultraviolet, debu dan kekeringan. Semua kotoran pada konjungtiva akan
menuju ke bagian nasal, kemudian melalui pungtum lakrimalis dialirkan ke meatus nasi inferior.
Daerah nasal konjungtiva juga relatif mendapat sinar ultraviolet yang lebih banyak dibandingkan
dengan bagian konjungtiva yang lain, karena di samping kontak langsung, bagian nasal
konjungtiva juga mendapat sinar ultra violet secara tidak langsung akibat pantulan dari hidung,

9
karena itu pada bagian nasal konjungtiva lebih sering didapatkan pterigium dibandingkan dengan
bagian temporal.
Patofisiologi pterigium ditandai dengan degenerasi elastotik kolagen dan proliferasi
fibrovaskular, dengan permukaan yang menutupi epithelium, Histopatologi kolagen
abnormal pada daerah degenerasi elastotik menunjukkan basofilia bila dicat dengan hematoksin
dan eosin. Jaringan ini juga bisa dicat dengan cat untuk jaringan elastic akan tetapi bukan jaringan
elastic yang sebenarnya, oleh karena jaringan ini tidak bisa dihancurkan oleh elastase.
Histologi pterigium merupakan akumulasi dari jaringan degenerasi subepitel
yang basofilik dengan karakteristik keabu-abuan di pewarnaan H & E . Berbentuk ulat atau
degenerasi elastotic dengan penampilan seperti cacing bergelombang dari jaringan yang
degenerasi. Pemusnahan lapisan Bowman oleh jaringan fibrovascular sangat khas. Epitel diatasnya
biasanya normal, tetapi mungkin acanthotic, hiperkeratotik, atau bahkan displastik dan sering
menunjukkan area hiperplasia dari sel goblet.

VI. Gejala Klinis

10
Gejala klinis pterigium pada tahap awal biasanya ringan bahkan sering tanpa keluhan sama sekali
(asimptomatik). Beberapa keluhan yang sering dialami pasien antara lain:
Mata sering berair dan tampak merah
Merasa seperti ada benda asing
Timbul astigmatisme akibat kornea tertarik oleh pertumbuhan pterigium tersebut, biasanya
astigmatisme with the rule ataupun astigmatisme irreguler sehingga mengganggu penglihatan
Pada pterigium yang lanjut (derajat 3 dan 4) dapat menutupi pupil dan aksis visual sehingga
tajam penglihatan menurun.

VII. Pemeriksaan Fisik


Terdapat massa jaringan kekuningan akan terlihat pada lapisan luar mata (sclera) pada
limbus, berkembang menuju ke arah kornea dan pada permukaan kornea. Sklera dan konjungtiva
dapat merah akibat dari iritasi dan peradangan.

A. Cap: Biasanya datar, terdiri atas zona abu-abu pada kornea yang kebanyakan terdiri
atas fibroblast, menginvasi dan menghancurkan lapisan bowman pada kornea
B. Whitish: Setelah cap, lapisan vaskuler tipis yang menginvasi kornea
C. Badan: Bagian yang mobile dan lembut, area yang vesikuler pada konjunctiva bulbi,
area paling ujung

11
Derajat pertumbuhan pterigium ditentukan berdasarkan bagian kornea yang tertutup

oleh pertumbuhan pterigium, dan dapat dibagi menjadi 4 (Gradasi klinis menurut Youngson )

Derajat 1 : Terbatas pada limbus kornea


Derajat 2 : Sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2 mm melewati kornea
Derajat 3 : Melebihi derajat dua tetapi tidak melebihi pinggiran pupil mata dalam keadaan
cahaya normal (diameter pupil sekitar 3-4 mm)
Derajat 4 : Sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan.

VIII. Diagnosa
Diagnosis pterigium dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. Melalui anamnesis akan kita dapatkan keluhan-keluhan pasien seperti adanya ganjalan
pada mata yang semula dirasakan didekat kelopak namun lama-kelamaan semakin ke tengah
(kornea), mata merah dan tidak disertai belek (sekret). Dari anamnesis ini kita juga akan dapatkan
informasi mengenai pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, dan kebiasaan hidupnya karena hal ini
berhubungan dengan besarnya paparan sinar ultraviolet yang mengenainya.
Pemeriksaan fisik pada pasien pterigium akan didapatkan adanya suatu lipatan berbentuk
segitiga yang tumbuh dari kelopak baik bagian nasal maupun temporal yang menjalar ke kornea,
umumnya berwarna putih, namun apabila terkena suatu iritasi maka bagian pterigium ini akan
berwarna merah.
Pemeriksaan penunjang dalam menentukan diagnosis pterigium tidak harus dilakukan,
karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisik kadang sudah dapat digunakan untuk menegakkan
diagnosis pterigium. Pemeriksaan histopatologi dilakukan pada jaringan pterigium yang telah

12
diekstirpasi. Gambaran pterigium yang didapat adalah berupa epitel yang irreguler dan tampak
adanya degenerasi hialin pada stromanya.

IX. Diagnosa Banding


Pinguekula

Penebalan terbatas pada konjungtiva bulbi,


berbentuk nodul yang berwarna kekuningan.
Pseudopterigium

Pterigium umumnya didiagnosis banding dengan pseudopterigium yang merupakan suatu reaksi
dari konjungtiva oleh karena ulkus kornea. Pada pengecekan dengan sonde, sonde dapat masuk di
antara konjungtiva dan kornea. Pseudopterigium merupakan perlekatan konjungtiva dengan
kornea yang cacat akibat ulkus. Sering terjadi saat proses penyembuhan dari ulkus kornea, dimana
konjungtiva tertarik dan menutupi kornea. Pseudopterigium dapat ditemukan dimana saja bukan
hanya pada fissura palpebra seperti halnya pada pterigium. Pada pseudopterigium juga dapat
diselipkan sonde di bawahnya sedangkan pada pterigium tidak. Pada pseudopterigium melalui
anamnesa selalu didapatkan riwayat adanya kelainan kornea sebelumnya, seperti ulkus kornea.

13
Selain pseudopterigium, pterigium dapat pula didiagnosis banding dengan pannus dan kista
dermoid.

Beda pterigium dengan pseudopterigium

Pterigium Pseudopterigium

Sebab Proses degeneratif Reaksi tubuh penyembuhan dari


luka bakar, GO, difteri, dll.

Sonde Tak dapat dimasukkan di bawahnya Dapat dimasukkan dibawahnya

Kekambuhan Residif Tidak

Usia Dewasa Anak

X. Terapi
Konservatif
Pada pterigium yang ringan tidak perlu di obati. Untuk pterigium derajat 1-2 yang mengalami
inflamasi, pasien dapat diberikan obat tetes mata kombinasi antibiotik dan steroid 3 kali sehari
selama 5-7 hari. Diperhatikan juga bahwa penggunaan kortikosteroid tidak dibenarkan
pada penderita dengan tekanan intraokular tinggi atau mengalami kelainan pada kornea.
Bedah
Pada pterigium derajat 3-4 dilakukan tindakan bedah berupa avulsi pterigium. Sedapat mungkin
setelah avulsi pterigium maka bagian konjungtiva bekas pterigium tersebut ditutupi dengan
cangkok konjungtiva yang diambil dari konjugntiva bagian superior untuk menurunkan angka
kekambuhan. Tujuan utama pengangkatan pterigium yaitu memberikan hasil yang baik secara
kosmetik, mengupayakan komplikasi seminimal mungkin, angka kekambuhan yang rendah.
Penggunaan Mitomycin C (MMC) sebaiknya hanya pada kasus pterigium yang rekuren,
mengingat komplikasi dari pemakaian MMC juga cukup berat.
A. Indikasi Operasi

14
1. Pterigium yang menjalar ke kornea sampai lebih 3 mm dari limbus
2. Pterigium mencapai jarak lebih dari separuh antara limbus dan tepi pupil
3. Pterigium yang sering memberikan keluhan mata merah, berair dan silau karena
astigmatismus
4. Kosmetik, terutama untuk penderita wanita
B. Teknik Pembedahan
Tantangan utama dari terapi pembedahan pterigium adalah kekambuhan, dibuktikan dengan
pertumbuhan fibrovascular di limbus ke kornea. Banyak teknik bedah telah digunakan, meskipun
tidak ada yang diterima secara universal karena tingkat kekambuhan yang variabel. Terlepas dari
teknik yang digunakan, eksisi pterigium adalah langkah pertama untuk perbaikan. Banyak dokter
mata lebih memilih untuk memisahkan ujung pterigium dari kornea yang mendasarinya.
Keuntungan termasuk epithelisasi yang lebih cepat, jaringan parut yang minimal dan halus dari
permukaan kornea.

1. Teknik Bare Sclera


Melibatkan eksisi kepala dan tubuh pterygium, sementara memungkinkan sclera untuk epitelisasi.
Tingkat kekambuhan tinggi, antara 24 persen dan 89 persen, telah didokumentasikan dalam
berbagai laporan
2. Teknik Autograft Konjungtiva
Memiliki tingkat kekambuhan dilaporkan serendah 2 persen dan setinggi 40 persen pada beberapa
studi prospektif. Prosedur ini melibatkan pengambilan autograft, biasanya dari konjungtiva bulbar
superotemporal, dan dijahit di atas sclera yang telah di eksisi pterygium tersebut. Komplikasi
jarang terjadi, dan untuk hasil yang optimal ditekankan pentingnya pembedahan secara hati-hati
jaringan Tenon's dari graft konjungtiva dan penerima, manipulasi minimal jaringan dan orientasi
akurat dari grafttersebut. LawrenceW. Hirst, MBBS, dari Australia merekomendasikan
menggunakan sayatan besar untuk eksisi pterygium dan telah dilaporkan angka kekambuhan
sangat rendah dengan teknik ini.
3. Cangkok Membran Amnion
Mencangkok membran amnion juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan pterigium.
Meskipun keuntungkan dari penggunaan membran amnion ini belum teridentifikasi, sebagian
besar peneliti telah menyatakan bahwa itu adalah membran amnion berisi faktor penting untuk

15
menghambat peradangan dan fibrosis dan epithelialisai. Sayangnya, tingkat kekambuhan sangat
beragam pada studi yang ada,diantara 2,6 persen dan 10,7 persen untuk pterygia primer dan
setinggi 37,5 persen untuk kekambuhan pterygia. Sebuah keuntungan dari teknik ini selama
autograft konjungtiva adalah pelestarian bulbar konjungtiva. Membran Amnion biasanya
ditempatkan di atas sklera , dengan membran basal menghadap ke atas dan stroma menghadap
ke bawah. Beberapa studi terbaru telah menganjurkan penggunaan lem fibrin untuk membantu
cangkok membran amnion menempel jaringan episcleral dibawahnya. Lemfibrin juga telah
digunakan dalam autografts konjungtiva

Terapi Tambahan
Tingkat kekambuhan tinggi yang terkait dengan operasi terus menjadi masalah, dan terapi
medis demikian terapi tambahan telah dimasukkan ke dalam pengelolaan pterygia. Studi telah
menunjukkan bahwa tingkat rekurensi telah jatuh cukup dengan penambahan terapi ini, namun ada
komplikasi dari terapi tersebut.
MMC telah digunakan sebagai pengobatan tambahan karena kemampuannya
untuk menghambat fibroblas. Efeknya mirip dengan iradiasi beta. Namun, dosis minimal yang
aman dan efektif belum ditentukan. Dua bentuk MMC saat ini digunakan: aplikasi intraoperative
MMC langsung ke sklera setelah eksisi pterygium, dan penggunaan obat tetes mata MMC topikal
setelah operasi. Beberapa penelitian sekarang menganjurkan penggunaan MMC hanya
intraoperatif untuk mengurangi toksisitas.
Beta iradiasi juga telah digunakan untuk mencegah kekambuhan, karena menghambat
mitosis pada sel-sel dengan cepat dari pterygium, meskipun tidak ada data yang jelas dari angka
kekambuhan yang tersedia. Namun, efek buruk dari radiasi termasuk nekrosis scleral ,
endophthalmitis dan pembentukan katarak, dan ini telah mendorong dokter untuk
tidak merekomendasikan terhadap penggunaannya.

Untuk mencegah terjadi kekambuhan setelah operasi, dikombinasikan dengan pemberian:


1. Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) 2x1 tetes/hari selama 5 hari, bersamaan dengan
pemberian dexamethasone 0,1% : 4x1 tetes/hari kemudian tappering off sampai 6 minggu.
2. Mitomycin C 0,04% (0,4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari, diberikan bersamaan dengan
salep mata dexamethasone.

16
3. Sinar Beta.
4. Topikal Thiotepa (triethylene thiophosphasmide) tetes mata : 1 tetes/ 3 jam selama 6minggu,
diberikan bersamaan dengan salep antibiotik Chloramphenicol, dan steroidselama 1 minggu.

XI. Komplikasi
Komplikasi dari pterigium meliputi sebagai berikut
Gangguan penglihatan-Mata kemerahan
Iritasi
Gangguan pergerakan bola mata.
Timbul jaringan parut kronis dari konjungtiva dan kornea
Dry Eye sindrom.

Komplikasi post-operatif bisa sebagai berikut:


Infeksi
Ulkus kornea
Graft konjungtiva yang terbuka
Diplopia
Adanya jaringan parut di kornea.

Yang paling sering dari komplikasi bedah pterigium adalah kekambuhan. Eksisi bedah memiliki
angka kekambuhan yang tinggi, sekitar 50-80%. Angka ini bisa dikurangi sekitar 5-15%
dengan penggunaan autograft dari konjungtiva atau transplant membran amnion pada saat eksisi.

XII. Pencegahan
Secara teoritis, memperkecil terpapar radiasi ultraviolet untuk mengurangi resiko
berkembangnya pterygia pada individu yang mempunyai resiko lebih tinggi. Pasien di sarankan
untuk menggunakan topi yang memiliki pinggiran, sebagai tambahan terhadap radiasi ultraviolet
sebaiknya menggunakan kacamata pelindung dari cahaya matahari. Tindakan pencegahan ini
bahkan lebih penting untuk pasien yang tinggal di daerah subtropis atau tropis, atau pada pasien
yang memiliki aktifitas di luar, dengan suatu resiko tinggi terhadap cahaya ultraviolet (misalnya,

17
memancing, ski, berkebun, pekerja bangunan). Untuk mencegah berulangnya pterigium,
sebaiknya para pekerja lapangan menggunakan kacamata atau topi pelindung.

XIII. Prognosis
Pterigium adalah suatu neoplasma yang benigna. Umumnya prognosis baik. Kekambuhan
dapat dicegah dengan kombinasi operasi dan sitotastik tetes mata atau beta radiasi. Eksisi pada
pterigium pada penglihatan dan kosmetik adalah baik. Prosedur yang baik dapat ditolerir pasien
dan disamping itu pada beberapa hari post operasi pasien akan merasa tidak nyaman, kebanyakan
setelah 48 jam pasca operasi pasien bisa memulai aktivitasnya. Pasien dengan pterygia yang
kambuh lagi dapat mengulangi pembedahan eksisi dan grafting dengan konjungtiva / limbal
autografts atau transplantasi membran amnion pada pasien tertentu.

18
BAB III
PEMBAHASAN

Apakah diagnosa pada pasien ini sudah benar?


Pada pasien ini saya tegakkan diagnosa Pterigium grade II OS, berdasarkan :
Usia pasien diatas 40 tahun ( prevalensi pterigium tinggi pada usia >40 tahun)
Autoanamnesa didapatkan keluhan mata merah sejak 1 minggu lalu diikuti perasaan mengganjal
pada mata sejak 6 bulan lalu yang tidak diikuti penurunan visus
Pemeriksaan fisik didapatkan massa jaringan kekuningan berbentuk segitiga pada limbus
mengarah ke kornea namun tidak lebih 2 mm melewati kornea

Apakah terapi pada pasien ini sudah tepat?


Pengobatan pasien dengan diagnosis pterigium dilakukan sesuai dengan derajat pterigium
pada pasien tersebut. Pada pterigium yang ringan, tidak perlu diobati. Pada pterigium grade 1-2
dengan inflamasi, obat tetes mata kombinasi antibiotic dan steroid digunakan. Sedangkan pada
pterigium grade 3-4 dilakukan pembedahan.
Pada pasien ini diberikan obat tetes mata cendoxytrol yang didalamnya mengandung
antibiotic + kortikosteroid karena pasien ini merupakan pterigium grade 2 dengan inflamasi

Bagaimana prognosis pada pasien ini?


Ad vitam : Ad bonam
Karena pterigium tidak mengancam jiwa penderita
Ad functionam : Ad bonam
Karena pterigium grade II tidak lebih 2mm kornea, jadi tidak membuat visus turun

19
Ad sanationam : Dubia ad bonam
Pembedahan pada pterigium mempunyai angka rekurensi yang cukup tinggi

DAFTAR PUSTAKA

American Academy of Ofthalmology. 2012. www.AAO.org


Anderson, Dauglas M., et all. 2000. Dorlands Illistrated Medical Dictionary. 29th.
Philadelphia: W.B. Saunders Company.
Ardalan Aminlari, MD, Ravi Singh, MD, and David Liang, MD. 2012. Management of
Pterygium. http://www.aao.org/aao/publications/eyenet/201011/pearls.cfm
Ardalan Aminlari, MD, Ravi Singh, MD, and David Liang, MD. Management of Pterygium
http://www.aao.org/aao/publications/eyenet/201011/pearls.cfm?
Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 2007. hal:2-6, 116 117
Kanski JJ. Clinical Ophthalmology: A Systematic Approach; Edisi 6. Philadelphia:Butterworth
Heinemann Elsevier. 2006 :242-244.
Vaugan, Daniel, Taylor Asbury, Paul Riordan-Eva; alih bahasa : Jan Tamboyang, Braham U.
Pendit; editor Y. Joko Suyono. Oftalmologi Umum, edisi 14. Jakarta: 2000. Hal 95. Widya
Medika

20