Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM KE IV

PRAKTIKUM 5
PENGAMBILAN CAIRAN OBAT DARI WADAH VIAL DAN PROSES
REKONSTITUSI SEDIAAN INJEKSI

Disusun oleh :

Villa Noorlita Marianna


13/346143/FA/09620
Kelompok B
Golongan II

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
PENGAMBILAN CAIRAN OBAT DARI WADAH VIAL DAN PROSES
REKONSTITUSI SEDIAAN INJEKSI

Tset aseptic processing


A. Tujuan
Mahasiswa dapat menjelaskan dan melakukan pengambilan cairan obat dari
wadah vial secara aseptis dan melakukan rekonstitusi sediaan injeksi secara
aseptik dan benar
B. Alat dan Bahan
Alat : Bahan :
1. Karton sebagai LAF cabinet 1. Serbuk injeksi amoxicillin 1 gram
2. Glassware 2. Serbuk injeksi streptomisin 1,5 gram
3. Syringe 3. Aqua p.i
4. Needles 4. Alkohol 70% sebagai desinfektan
5. Botol semprot
6. Kasa
7. Pinset
8. Baju steril dan gloves

C. Cara Kerja
1. Rekonstitusi serbuk sediaan injeksi
Disiapkan ruangan steril dengan laminar air flow hood, karena rekonstitusi
sediaan injeksi dilakukan di bawah alat LAF

diambil satu spuit steril, usap bagian kemasan spuit dengan alkohol 70%
lalu buka kemasan di bawah alat LAF, kemasan yang terbuka diletakkan
pada daerah 6 inchi dari luar LAF

diambil vial berisi serbuk injeksi sediaan obat dan bersihkan vial dengan
kasa steril yang telah dibasahi dengan alkohol 70%. Buka alumunium
penutup vial dengan pinset. Buang alumunium penutup vial, usap kembali
karet penutupnya dengan alkohol 70% dan letakkan vial di atas daerah
kerja

diambil spuit, buka penutup jarumnya dan letakkan di atas meja dengan
bagian yang terbuka menghadap HEPA filter

diambil larutan aqua pi sejumlah yang dibutuhkan untuk melakukan


rekonstitusi

masukkan aqua pi ke dalam vial berisi bahan obat secara aseptis dan
benar. Untuk menghindari terjadinya core formation masukkan jarum ke
dalam karet penutup vial dengan kemiringan sudut 45o

kocoklah sediaan hingga homogen

apabila jarum tidak digunakan, jangan lupa untuk memasang penutup


jarumnya

2. Pengambilan sediaan injeksi dari wadah vial


Ambillah udara sejumlah cairan yang akan diambil dengan menggunakan
spuit yang telah tersedia

Dimasukkan spuit ke dalam vial berisi sediaan obat yang telah


direkonstitusi, untuk mneghindari terjadinya core formation, masukkan
jarum ke dalam karet penutup vial dengan kemiringan sudut 45o

Ambillah cairan sejumlah yang diperlukan dari dalam vial dengan cara
memasukkan udara yang ada dalam spuit tadi, diikuti dengan pengambilan
cairan dari dalam vial
Sediaan injeksi dalam spuit harus bebas dari gelembung udara. Apabila
terdapat gelembung udara dalam spuit maka gelmbung udara tersebut
harus dikeluarkan dengan cara menarik 0,5 ml udara ke dalam spuit
kemudian putar putar spuit tersebut sehingga gelembung kecil dalam
spuit hilang. Terakhir adjusment jumlah cairan yang dikehendaki dalam
spuit

Dimasukkan spuit ke dalam wadah steril dan berilah etiket

Dievaluasi volume cairan, partikel dalam sediaan, dan labelling

D. Data dan Pembahasan


1. Data
a. Amoxicillin 1 gram
Cairan rekonstitusi : aqua p.i
Volume rekonstitusi : 5 ml
Volume akhir : 5,5 ml
Hasil evaluasi
Uji pH : 10
Uji kejernihan : jernih
Uji partikel asing : tidak terdapat partikel asing
Uji sterilitas : pada H+1 dan H+7 tidak terdapat perubahan
terhadap kontrol
b. Streptomisin 1,5 gram
Cairan rekonstitusi : aqua p.i
Volume rekonstitusi : 5 ml
Volume akhir : 5,6 ml
Hasil evaluasi
Uji pH :5
Uji kejernihan : jernih
Uji partikel asing : tidak terdapat partikel asing
Uji sterilitas : pada H+1 dan H+7 tidak terdapat perubahan
terhadap kontrol

2. Pembahasan
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat menjelaskan dan
melakukan pengambilan cairan obat dari wadah vial secara aseptis dan
melakukan rekonstitusi sediaan injeksi secara aseptik dan benar. Pengambilan
cairan obat dari wadah vial dan proses rekonstitusi sediaan harus dilakukan di
dalam LAF untuk menjamin sterilitas sediaan yang dihasilkan. Pada
praktikum ini disediakan 2 obat dalam vial yaitu serbuk injeksi amoxicillin 1
gram dan serbuk injeksi streptomisin 1,5 gram.
Vial merupakan salah satu pengemas primer yang digunakan dalam
produk steril, paling banyak digunakan untuk cairan dan serbuk kering
injeksi. Vial biasanya terbuat dari bahan gelas dan plastik. Vial plastik terbuat
dari cyclic olefin polymer (COP) atau cyclic olefin copolymer (COC). Vial
plastik tidak sering digunakan bila dibandingkan dnegan vial gelas karena
berhubungan dengan kemudahan pengemas yang diklasifikasikan ke dalam
lingkungan aseptik. Vial gelas disterilisasi dan didepirogenasi dengan panas
kering yang membawa vial secara langsung ke lingkungan aseptik tanpa
membutuhkan transfer manual. Vial plastik dilakukan presterilisasi
(irraadiasi) saat pembuatan vial dan produk akhirnya perlu memikirkan
bagaimana cara mentransfer vial secara aseptik ke lingkungan yang aseptik.
Hal ini bukan merupakan solusi yang mudah terutama bila dibandingkan
dengan kemudahan pada vial gelas. Kerugian lain dari vial plastik adalah
berpotensi terjadinya interaksi dengan produk obat terutama bila lebih dari 2
atau 3 tahun t 12 serta dalam handling dan pergerakan pada kemasan yang
beratnya lebih ringan dibanding bahan gelas saat pengisian dengan kecepatan
tinggi biasanya akan sulit untuk memprosesnya (Akers, 2010).
Serbuk injeksi steril dalam vial termasuk salah satu bentuk sediaan
injeksi volume kecil (small volume injectables). Bentuk serbuk ini telah
melalui proses liofilisasi setelah pengisian cairan dengan preparasi sekunder
melalui kristalisasi secara steril dan pengisian serbuk. Alasan kebanyakan
serbuk steril dipreparasi secara liofilisasi yaitu pengisian cairan lebih sedikit
masalah yang ditimbulkan bila dibandingkan pengisian serbuk dan pengisian
serbuk perlu dikristalisasi pada keadaan karakter solid. Amorphous solid
sangat sulit untuk dilakukan pengisian secara akurat karena densitasnya yang
kecil. Beberapa protein dipreparasi dengan spray drying dan pengisiannya
dalam bentuk serbuk steril. Padatan steril perlu direkonstitusi terlebih dahulu
sebelum digunakan dengan pengencer yang sesuai (Akers, 2010).
Bentuk sediaan steril sangat banyak jumlahnya yang harus dimanipulasi
terlebih dahulu oleh tenaga kesehatan sebelum digunakan. Contohnya serbuk
kering seperti pada praktikum ini harus direkonstitusi dengan pengencer steril
lalu diambil dan dipindahkan menggunakan syringe, kadang dikombinasikan
dengan cairan lain seperti larutan infus volume besar untuk kemudian dapat
digunakan. Alasan diperlukan bentuk sediaan serbuk kering steril yaitu
stabilitasnya kurang bila dalam bentuk larutan, artinya obat akan cepat
terdegradasi dalam larutan (Akers, 2010).
Praktikum ini seharusnya dilakukan di LAF, namun dalam hal ini
dipakai karton yang dianggap sebagai LAF, sama seperti praktikum
sebelumnya. Karton tersebut terdapat garis batas yang menunjukkan area
area yang ada pada LAF, sehingga dengan mengetahui area area tersebut
diharapkan bila menggunakan LAF yang sesungguhnya dapat dipraktikkan
dengan benar. Area tersebut yaitu area 6 inci bagian dalam LAF disebut
dengan daerah aseptis (area A), 6 inci ke depan adalah area kerja dimana
dilakukan berbagai pencampuran maupun penyiapan sediaan juga disebut
dengan manipulation area (area B), dan area terakhir yaitu area 6 inci yang
dekat dengan bagian luar LAF atau dekat dengan personil yang sedang
bekerja (area C). Sebelum melakukan manipulasi di dalam LAF dianjurkan
menyalakan lampu UV minimal 30 menit. Setelah itu lampu UV dapat
dimatikan dan blower dinyalakan. Langkah pertama yang dilakukan adalah
menyiapkan ruangan steril LAF dengan membersihkan terlebih dahulu area
LAF menggunakan kain kasa yang telah dibasahi dengan alkohol 70%. Kain
kasa yang digunakan telah dilipat membentuk seperti kipas, hal ini bertujuan
agar digunakan lebih efektif yaitu ketika salah satu sisinya telah digunakan
dapat digunakan sisi sisi lainnya. Cara membersihkan LAF adalah satu
arah, dari dalam ke luar LAF. Selanjutnya dapat menyiapkan bahan bahan
serta peralatan yang dibutuhkan, setiap akan memasukkan bahan maupun
peralatan akan dibersihkan terlebih dahulu dengan alkohol 70%
menggunakan kain kasa. Pemerian bahan bahan yang digunakan adalah
sebagai berikut :
1. Amoxicillin
a. Indikasi : Amoxicillin digunakan untuk mengatasi infeksi yang
disebabkan oleh bakteri gram negatif seperti Haemophilus influenzae,
Escherichia coli, Proteus mirabilis, Salmonella dan juga bakteri gram
positif seperti Streptococcus pneumoniae, enterococci, non-
penicillinase-producing staphylococci, Listeria. Dosis standar : 500
mg
b. Penggunaan : injeksi IM atau IV atau infus IV setiap 8 jam, jangan
diberikan secara intratekal karena dilaporkan berpotensi menyebabkan
encephalopathy fatal.
c. pH : 8 10
d. Kompatibel dengan larutan NaCl 0,9%
e. Penyimpanan : disimpan dibawah 25oC dalam kemasan asli.
f. Stabilitas amoxicillin setelah preparasi : setelah direkonstitusi harus
segera digunakan. Apabila tidak, disimpan pada suhu 2 - 8 oC dan
infus pada suhu ruangan dalam waktu 24 jam (Gray, 2011).

2. Streptomisin
a. Indikasi : merupakan antibiotik aminoglikosida, dapat digunakan
sebagai antimikobakterial pada fase inisial pengobatan tuberkulosis.
b. Dosis : Tuberculosis (>50 kg dan <40 tahun): 15 mg/kg sehari
(maksimal 1 g sehari).
Tuberculosis (<50 kg atau >40 tahun): 10 mg/kg sehari (maksimal 750
mg sehari).
c. Penggunaan : injeksi IM
d. pH : 4,5 7
e. Kompatibel dengan WFI
f. Penyimpanan : disimpan dibawah 30oC dalam kemasan asli.
g. Stabilitas amoxicillin setelah preparasi : setelah direkonstitusi harus
segera digunakan, karena setelah direkonstitusi stabil pada suhu
ruangan dalam waktu 24 jam (Gray, 2011).

3. Aqua p.i
Merupakan air untuk injeksi yang telah disterilkan terlebih dahulu
sehingga tidak terdapat mikroorganisme hidup maupun mati dan dikemas
sesuai dengan yang diperlukan. Aqua pro injeksi ini tidak dilakukan
penambahan bahan bahan antimikroba dan bahan tambahan lain.
Pemerian : merupakan cairan yang jernih, tidak berwarna, dan tidak
berbau (Departemen Kesehatan RI, 1995).

Selanjutnya ambil satu spuit steril dan usapkan dengan kain kasa yang
telah dibasahi dengan alkohol 70%, buka pembungkus spuit serta letakkan di
area A. Pembungkus spuit dibuang pada tempat sampah yang diletakkan pada
area C, dalam praktikum ini digunakan Beaker glass sebagai tempat sampah.
Ambil vial yang berisi serbuk injeksi streptomisin yang telah dibasahi dengan
alkohol 70%, kemudian buka vial dengan menarik penutup alumunium pada
vial dengan menggunakan pinset dan ratakan bagian tajam pada tutup vial
agar tidak melukai atau mengganggu. Sebelum merekonstitusi, usap karet
penutup vial dengan alkohol 70% dan letakkan vial pada area kerja (area B).
Ambil spuit dan buka penutup jarum, penutup jarum diletakkan di area A
dengan bagian yang terbuka menghadap HEPA filter. Jagalah agar jarum
tidak tersentuh apapun karena semua bagian jarum adalah daerah kritis.
Sterilitas jarum dijamin selama penutup jarum tidak rusak dan jarum tidak
tersentuh apapun. Pengambilan jumlah aqua p.i sesuai dengan kebutuhan,
dalam praktikum ini diambil 5 ml menggunakan spuit. Apabila terdapat
gelembung udara maka dapat dihilangkan dengan mengetuk spuit atau
membuat gelembung udara yang lebih besar untuk dapat menjerap atau
menyatukannya dengan gelembung udara yang lebih kecil sehingga dapat
dikeluarkan gelembung tersebut. Spuit yang berisi aqua p.i diinjeksikan pada
karet penutup vial secara aseptis dan benar, dorong plunger sehingga seluruh
isi spuit masuk ke dalam vial, jangan menyentuh badan plunger karena
merupakan daerah kritis. Setelah semua cairan keluar dari spuit maka secara
otomatis plunger akan naik, mengambil udara dalam vial minimal sama
dengan cairan yang diinjeksikan untuk mempertahankan tekanan udara dalam
vial. Memasukkan jarum ke dalam karet penutup vial dapat menimbulkan
terjadinya coring, untuk menghidarinya dapat dilakukan dengan memasukkan
jarum pada kemiringan sudut 45o. Coring merupakan lepasnya fragmen atau
serpihan karet karena penggunaan jarum yang tidak sesuai saat penetrasi
karet (Akers, 2010). Setelah selesai, tutup kembali jarum dengan penutupnya
dan kocoklah sediaan hingga homogen.
Pengambilan sediaan injeksi dari wadah vial dilakukan dengan cara
mengambil udara sejumlah cairan yang akan diambil dengan menggunakan
spuit. Spuit dimasukkan ke dalam vial yang berisi obat yang telah
direkonstitusi dengan kemiringan sudut 45o untuk menghindari core
formation seperti sebelumnya. Udara yang ada di dalam spuit dimasukkan ke
dalam vial, hal ini untuk menciptakan tekanan positif, larutan akan mengalir
kembali ke dalam syringe. Tarik plunger untuk mengambil cairan, amati
apakah terdapat gelembung udara dalam spuit. Apabila ada gelembung maka
hilangkan dengan cara menjebak atau menyatukan gelembung kecil dengan
gelembung yang lebih besar lalu ketuklah gelembung. Jika perlu masukkan
udara dari vial untuk membentuk gelmbung, kemudian dikeluarkan dari spuit.
Sesuaikan jumlah cairan dalam spuit sesuai dengan yang diinginkan, dalam
praktikum ini diambil seluruh larutan pada vial ke dalam spuit. Proses
rekonstitusi pada amoxicillin juga sama langkah langkahnya dengan
rekonstitusi streptomisin. Volume akhir yang didapatkan untuk amoxicillin
adalah 5,5 ml sedangkan streptomisin sebanyak 5,6 ml.
Langkah terakhir yaitu memberi label pada sediaan tesebut, hal ini
sangat penting karena akan meminimalkan kesalahan. Label ini diaplikasikan
pada sediaan yang sudah disiapkan namun belum segera digunakan, sama
seperti yang dilakukan pada praktikum ini. Label yang diberikan pada spuit
tertulis tanggal pembuatan, nomor urut, nama dan identitas pasien, nama dan
jumlah obat yang ditambahkan per volume total yang akan digunakan, waktu
kadaluarsa, tanda tangan petugas yang menyiapkan. Selain itu juga dapat
diberi keterangan cara penyimpanan, rute dan volume penggunaan serta
petunjuk lain untuk penggunaan.
Evaluasi sediaan hasil rekonstitusi yang dilakukan meliputi
pemeriksaan pH, volume cairan, partikel asing, kejernihan, labelling, dan uji
sterilitas.
1. Pemeriksaan pH dilakukan dengan mencelupkan indikator pH
selama kurang lebih 2 detik. Hasil yang diperoleh larutan berpH 10
untuk amoxicillin dan pH 5 untuk streptomisin. pH ini masih berada
pada rentang pH amoxicillin dan streptomisin. Namun sediaan hasil
rekonstitusi ini tidak bersifat isohidris, sehingga nantinya dalam
penggunaan diinjeksikan perlahan lahan agar tidak terlalu
menimbulkan rasa sakit.
2. Volume cairan
Hasil akhir rekonstitusi pada amoxicillin adalah 5,5 ml dan untuk
streptomisin adalah 5,6 ml.
3. Uji partikel asing dan kejernihan dilakukan secara visibel dengan
cara meletakkan sediaan hasil rekonstitusi pada baground hitam dan
putih dengan sumber cahaya lampu. Kemudian dilihat apakah
terdapat partikel partikel asing di dalamnya. Pada praktikum ini
didapatkan larutan yang jernih dan bebas partikel asing. Apabila
terdapat partikel asing terutama yang berukuran besar akan dapat
menyumbat pembuluh darah bila diberikan secara intravena.
4. Uji sterilitas perlu dilakukan untuk menjamin tidak adanya mikroba
dalam sediaan yang dibuat, dengan tidak adanya mikroba maka
sediaan ini memenuhi salah satu persyaratan sediaan steril. Uji ini
dilakukan dengan memasukkan 1 ml sediaan hasil rekonstitusi ke
dalam media tioglikolat cair. Untuk melakukan uji ini perlu di
tempat yang dapat menjaga sterilitas yaitu di dalam Laminair Air
Flow (LAF). Media tersebut diletakkan di dalam inkubator untuk
diinkubasi selama satu minggu dengan suhu 37C, diharapkan dapat
menciptakan kondisi yang optimal bagi pertumbuhan bakteri. Selain
media tioglikolat cair yang telah dimasukkan sediaan hasil
rekonstitusi juga terdapat kontrol negatif yang berfungsi sebagai
pembanding dimana nantinya tidak akan ditumbuhi oleh
mikroorganisme. Pada H+1 dilakukan pengamatan apakah terdapat
mikroorganisme yang tumbuh pada media. Hasilnya tidak
terjadinya perubahan warna pada hasil uji jika dibandingkan dengan
kontrol. Pada H+7 juga dilakukan pengamatan, hasilnya juga tidak
terjadinya perubahan warna pada hasil uji jika dibandingkan dengan
kontrol. Tidak terjadinya perbedaan warna antara larutan uji dengan
kontrol berarti sediaan tidak ada pertumbuhan koloni
mikroorganisme (steril). Namun apabila dilihat dari proses
rekonstitusi yang tidak memenuhi prosedur kerja yang aseptik serta
serbuk obat yang digunakan juga sudah melewati waktu kadaluarsa,
maka hasil tersebut diragukan. Ketidaksesuaian ini dapat
disebabkan karena media yang digunakan sudah tidak memiliki
kualitas yang baik sehingga tidak dapat dijadikan acuan steril atau
tidaknya hasil sediaan.
5. Labelling
Label yang diberikan untuk sediaan hasil rekonstitusi adalah
berwarna biru karena untuk penggunaan luar. Label beserta tulisan
yang digunakan dalam praktikum terlampir pada laporan sementara.
E. Kesimpulan
1. Hasil sediaan rekonstitusi jernih dan bebas partikel asing, sehingga
memenuhi salah satu syarat sediaan parenteral
2. Larutan amoxicillin dan streptomisin tidak bersifat isohidris namun
masih dalam rentang stabilitas pH zat aktif
3. Hasil sediaan rekonstitusi belum tentu bebas mikroorganisme karena
kemungkinan media sudah tidak memenuhi standar walaupun tidak
ditemukan mikroorganisme pada media tioglikolat cair dalam uji
sterilitas

F. Daftar Pustaka
Akers, M.J., 2010, Steril Drug Products : Formulation, Packaging,
Manufacturing, and Quality, 30 31, 21 22, Informa Healthcare, New
York.
Departemen Kesehatan RI, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Gray A., Jane W., Vincent G., and Lynn B, 2011, Injectable Drugs Guide,
Pharmaceutical Press, London.

Yogyakarta, 7 November 2016


Asisten Koreksi, Praktikan,

Villa Noorlita Marianna


13/346143/FA/09620
Foto

Simulasi penggunaan Melipat kain Membersihkan usap bagian Membersihkan


LAF kassa seperti LAF kemasan spuit vial dengan
kipas dengan alkohol alkohol 70%
70%

Membersihkan botol Membuka Membersihkan Memasukkan Menggojog


infus berisi aqua p.i kemasan spuit pinset dengan aqua p.i ke sediaan
dengan alkohol 70% pada area kerja alkohol 70% dalam vial

Pengambilan larutan Pelabelan spuit Hasil uji sterilitas Hasil uji


obat dari vial H+1 sterilitas H+7
menggunakan spuit