Anda di halaman 1dari 6

Apakah Earnings Management sama dengan Fraud?

Manajemen laba atau earnings management merupakan salah satu bidang yang
kontroversial sebagai suatu prilaku yang dapat diterima (acceptable) atau tidak diterima
(unacceptable). Sebagian besar manajer nampak melakukan manajemen laba dan yakin bahwa
praktik tersebut secara eksplisit tidak dilarang. Namun beberapa praktisi berpendapat manajemen
laba tidak bermoral atau tidak etis, apabila praktik tersebut tidak mempertimbangkan dampak
buruk yang mungkin timbul dari praktik tersebut (Assih 2000).

Earnings management merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan (mengurangi)


laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer bertanggung jawab, tanpa
mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas ekonomis jangka panjang unit tersebut
Sugiri (1998). Jika Sugiri (1998) memberikan definisi earnings management secara teknis, maka
Surifah (1999) memberikan pendapatnya mengenai dampak earnings management terhadap
kredibilitas laporan keuangan. Menurut Surifah (1999) earnings management dapat mengurangi
kredibilitas laporan keuangan apabila digunakan untuk pengambilan keputusan karena earnings
management merupakan suatu bentuk manipulasi atas laporan keuangan yang menjadi sasaran
komunikasi antara manajer dan pihak eksternal perusahaan.
Manajer merupakan subjek utama dalam praktik earnings management. Manajer bertugas
untuk memutuskan setiap kebijakan yang diambil oleh perusahaan dalam rangka penyelamatan
perusahaan dari suatu masalah yang sedang maupun yang akan dihadapi, sehingga apabila seorang
manajer tidak berhati-hati maka tidak menutup kemungkinan terjerumus dalam praktik earnings
management.

Praktik earnings management dapat dilihat dari dua perspektif (Scott, 1997). Perspektif
pertama, praktik earnings management dianggap sebagai tindakan oportunistik manajer yaitu
dimotivasi oleh tindakan yang menguntungkan dirinya sendiri, akibat dimungkinkannya untuk
menggunakan metode pengukuran yang berbeda. Perspektif kedua, earnings management bisa
dilihat dari perspektif kontra efisien (efficient contacting perspective), yaitu merupakan bentuk
tindakan yang positif dengan memilih metode akuntansi untuk tujuan kepentingan perusahaan,
bukan untuk kepentingan pribadinnya.

Tindakan manajer melakukan earnings management dapat berakibat buruk karena bisa
menyesatkan pemakai informasi laporan keuangan dan dapat dikatagorikan sebagai suatu tindakan
penipuan yang tidak etis, siapapun yang menggunakan laporan keuangan yang mengandung unsur
earnings management rawan terhadap misinterpretasi, manipulasi ataupun penipuan yang
disengaja (Burns & Merchant, 1990).

Ada dua cara memahami earnings management (Sari, 2005), yaitu sebagai berikut :

1. Memandang earnings management sebagai perilaku oportunistik manajer untuk


memaksimalkan utilitasnya dalam menghadapi kontrak kompensasi, utang, dan kos
politik.
2. Memandang earnings management dari perspektif kontrak efisien, artinya earnings
management memberi fleksibilitas bagi manajer untuk melindungi diri dan perusahaan
dalam mengantisipasi kejadian-kejadian tak terduga untuk keuntungan pihak-pihak yang
terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer mungkin dapat mempengaruhi nilai
pasar perusahaannya melalui earning management.
Terdapat beberapa motivasi yang mendorong manajemen melakukan earnings management
(Scott, 1997), yakni:

1. Bonus Scheme
Manajer mempunyai informasi laba bersih sebelum dilaporkan dalam laporan keuangan,
sementara pihak luar tidak bisa mengetahuinya sampai mereka membaca laporan
keuangan. Karenanya manajer akan berusaha untuk mengatur laba bersih tersebut sehingga
dapat memaksimalkan bonus mereka berdasarkan compensation plans perusahaan. Dalam
kontrak bonus dikenal dua istilah, yakni bogey (tingkat laba minimum untuk memperoleh
bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Bogey akan selalu ada dalam setiap kontrak bonus,
sedangkan cap tidak. Jika laba berada di bawah bogey, maka tidak ada bonus yang
diperoleh manajer. Sedangkan jika laba di atas cap, ada tidaknya bonus tergantung pada
kontrak yang dibuat. Jika laba bersih berada di antara bogey dan cap, maka jumlah bonus
yang diperoleh sama dengan laba berada di atas cap. Jika laba di bawah bogey, maka
manajer cenderung akan memperkecil laba dengan harapan kemungkinan akan
memperoleh bonus yang lebih besar pada periode berikutnya. Inilah yang disebut dengan
taking bath. Begitu pula bila laba bersih berada di atas cap, maka manajer akan cenderung
memilih kebijakan dan prosedur akuntansi yang memperkecil laba. Jadi, hanya jika laba
bersih berada di antara bogey dan cap manajer akan menaikkan laba bersih perusahaan..
2. Debt Covenant
Kontrak hutang panjang (debt covenant) merupakan perjanjian untuk melindungi
pemberian pinjaman (lender atau kreditur) dari tindakan-tindakan manajer terhadap
kepentingan kreditur, seperti deviden yang berlebihan, pinjaman tambahan, atau
membiarkan modal kerja dan kekayaan pemilik berada di bawah tingkat yang telah
ditentukan, yang mana semuanya menurunkan keamanan (atau menaikkan risiko) bagi
kreditur yang telah ada. Kontrak ini juga didasarkan pada teori akuntansi positif, yakni
hipotesis debt covenant, yang menyatakan bahwa semakin dekat suatu perusahaan ke
pelanggaran perjanjian hutang, manajer akan cenderung memilih prosedur akuntansi yang
dapat memindahkan laba periode mendatang ke periode berjalan. Alasannya adalah,
dengan menaikkan laba bersih akan mengurangi kemungkinan perusahaan mengalami
technical default.
3. Political Motivation
Aspek politik tidak akan dapat dilepaskan dari perusahaan, khususnya perusahaan besar
dan industri strategis, karena aktivitasnya melibatkan hajat hidup orang banyak.
Perusahaan yang berkecimpung dalam bidang minyak bumi dan gas, telepon, listrik, dan
air bersih, secara politis akan mendapatkan perhatian daari pemerintah dan masyarakat.
Perusahaan seperti ini cenderung menurunkan labanya untuk mengurangi visibilitasnya,
misalnya dengan menggunakan praktik dan prosedur akuntansi, khususnya selama periode
kemakmuran tinggi (high prosperity).
4. Taxation Motivation
Perpajakan merupakan salah satu alasan utama mengapa perusahaan mengurangi laba bersih
yang dilaporkan. Sebagai contoh, untuk persediaan, perusahaan akan memilih metode LIFO
(terakhir masuk, pertama keluar) yang menghasilkan laba bersih paling rendah dibanding
metode lainnya (catatan: peraturan perpajakan di Indonesia dan beberapa negara lain tidak
memperbolehkan penggunaan metode selain FIFO dan rata-rata untuk tujuan perpajakan.
5. Pergantian CEO
Beragam motivasi timbul di sekitar waktu pergantian CEO. Sebagai contoh, CEO yang
mendekati masa akhir penugasan atau pensiun akan melakukan strategi memaksimalkan
laba untuk meningkatkan bonusnya. Demikian juga dengan CEO yang kurang berhasil
memperbaiki kinerja perusahaan akan cenderung memaksimalkan laba untuk mencegah
atau membatalkan pemecatannya. Karenanya, CEO kemungkinan akan melakukan take a
bath untuk memperbesar kemungkinan memperoleh laba yang tinggi pada periode
berikutnya. Motivasi ini juga sering dilakukan oleh CEO baru, di mana write-offs yang
tinggi dapat diartikan sebagai kesalahan dari CEO sebelumnya.
6. Initial Public Offering (IPO)
Pada hakikatnya, perusahaan yang baru pertama kali menawarkan sahamnya di pasar
modal belum mempunyai harga pasar sehingga menjadi masalah bagaimana menetapkan
nilai saham yang akan ditawarkan. Oleh sebab itu, untuk tawar menawar, informasi
keuangan yang terdapat dalam prospektus merupakan sumber informasi yang sangat
berguna. Secara analitikal, informasi seperti laba bersih dapat dipakai sebagai sinyal
kepada investor tentang nilai perusahaan (Hughes,1986 dalam Abdullah,1999). Clarkson
Dontoh, Richardson, dan Sefeik (1992) dalam Abdullah (1999) menemukan bukti empiris
adanya respon pasar yang positif terhadap earning forecast sebagai sinyal dari nilai
perusahaan. Jadi, ini memunculkan kemungkinan bahwa manajer perusahaan yang going
public melakukan earning management untuk memperoleh harga yang lebih tinggi atas
sahamnya.
Berbagai pola yang sering dilakukan manajer dalam earnings manajemen menurut Scott
(1997) adalah :

1. Taking a Bath

Disebut juga big baths; bisa terjadi selama periode adanya tekanan organisasional atau
reorganisasi seperti pemilihan CEO baru. Teknik ini mengakui adanya biaya-biaya pada periode
yang akan datang dan kerugian periode berjalan ketika keadaan buruk yang tidak menguntungkan
tidak bisa dihindari pada periode berjalan. Konsekuensinya, manajemen menghapus beberapa
aktiva, membebankan perkiraan-perkiraan yang mendatang, dan melakukan clear the decks.

2. Income Minimization

Cara ini dilakukan pada saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi dengan maksud agar
tidak mendapat perhatian secara politis. Kebijakan yang diambil dapat berupa penghapusan (write
offs) atas barang modal dan aktiva tak berwujud, pembebanan pengeluaran iklan, riset dan
pengembangan yang cepat, memilih metode succesful-effort untuk biaya eksplorasi gas dan
minyak bumi, dan sebagainya. Penghapusan tersebut dilakukan bila dengan teknik yang lain masih
menunjukkan hasil operasi yang jelek dengan pertimbangan bahwa ekonomi berjalan tidak
mendukung nilai aktiva yang dilaporkan. Tujuan penghapusan aktiva operasi ini adalah mencapai
suatu tingkat return on asset atau return on invested capital tertentu.

3. Income Maximization

Maksimalisasi laba dimaksudkan untuk memperoleh bonus yang lebih besar, dimana laba
yang dilaporkan tetap dibawah cap. Juga untuk menghindar dari pelanggaran atas kontrak hutang
jangka panjang (debt covenant). Cara ini dapat ditempuh dengan merubah metode atau asumsi
akuntansi ke yang lebih liberal.

4. Income Smoothing

Perataan laba merupakan cara yang paling populer dan sering dilakukan. Dari penelitian
Healy (1985) dalam Abdullah (1999) dapat dilihat bahwa manajer terdorong untuk melakukan
income smoothing sehingga selalu ada di antara bogey dan cap. Di sisi lain, laba bisa jadi tidak
dimaksudkan untuk tujuan memperoleh bonus. Lebih jauh lagi, jika manajer bersikap risk averse,
ia akan lebih menyukai aliran bonus yang tidak berubah-ubah (variable). Dalam debt covenant
semakin berfluktuasi laba bersih yang dilaporkan, semakin besar kemungkinan terjadi pelanggaran
atas kontrak pinjaman. Untuk mengurangi volatilitas laba bersih, manajemen lebih menyukai
meratakan (smooth) rasio-rasio hutangnya. Perusahaan juga mungkin meratakan laba bersihnya
untuk pelaporan eksternal dengan maksud sebagai penyampaian informasi internal perusahaan
kepada pasar dalam meramalkan pertumbuhan laba jangka panjang perusahaan, yang dapat
menurunkan cost of capital perusahaan.

Bila manajemen tidak mempengaruhi atau memanipulasi laporan keuangan, maka


dapat disimpulkaa bahwa earning quality telah berilai positif. Data-data yang dilaporkan
berarti dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Tanpa campur tangan earnings
management, erarti laporan keuangan telah benar-benar merefleksikan kondisi sebenarnya
suatu perusahaan dan akan membantu stakeholder dalam memprediksi performa ekonomi
perusahaan di masa yang akan datang. Earnings managemen merupakan suatu tindakan
immoral. Walaupun earnings management dibuat berdsarkan standar akuntansi yang
berlaku, tetapi tidak berarti earnings management merupakan tindakan cerdas untuk
melegimitasi fraud. Didalam beberapa literature disebutkan bahwa ada regulasi yang
mengatur seberapa jauh boleh dilakukannya judgement terhadap laporan keuangan
melalui earnings management.

Dikutip dari:

Bagus, Denny. Teori earnings management (2009). http://jurnal-sdm.blogspot.com

Tidano, Dimas. Earning management (2007). http://dimastidano.wordpress.com