Anda di halaman 1dari 14

MUHAMMAD FAISAL - 7F- 22

IKLIM DAN AKTIVITAS PERTANIAN


Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca berdasarkan waktu yang panjang untuk suatu
lokasi di bumi atau planet lain. Studi tentang iklim dipelajari dalam klimatologi. Iklim di
suatu tempat di bumi dipengaruhi oleh letak geografis (garis lintang) dan topografi
(ketinggian) tempat tersebut. Pengaruh posisi relatif matahari terhadap suatu tempat di bumi
menimbulkan musim, suatu penciri yang membedakan iklim satu dari yang lain. Perbedaan
iklim menghasilkan beberapa sistem klasifikasi iklim.

Pembagian Iklim Menurut Wilayah


A.Iklim Matahari
Pembagian iklim matahari didasarkan pada banyak sedikitnya sinar
matahari atau berdasarkan letak dan kedudukan matahari terhadap
permukaan bumi.
Kedudukan matahari dalam setahun adalah :

1. Matahari beredar pada garis khatulistiwa (garis lintang 0) tanggal


21 Maret

2. Matahari beredar pada garis balik utara (23,5 LU) tanggal 21 Juni

3. Matahari beredar pada garis khatulistiwa (garis lintang 0) tanggal


23 September

4. Matahari beredar pada garis balik selatan (23,5 LS) tanggal 22


Desember

1
Pembagian daerah iklim matahari berdasarkan letak lintang adalah

sebagai berikut.

1. Daerah iklim tropis

Iklim Tropis terletak antara 0 - 23 LU dan 0 - 23 LS. Ciri ciri


iklim tropis adalah sebagai berikut :

o Suhu udara rata rata tinggi, karena matahari selalu vertikal.


Umumnya suhu udara antara 20 - 23 C. Bahkan dibeberapa
tempat suhu tahunannya mencapai 30C.

o Amplitudo suhu rata rata tahunan kecil. Di khatulistiwa


antara 1 - 5 C, sedangkan amplitudo hariannya besar.

o Tekanan udara lebih rendah dan perubahannya secara


perlahan dan beraturan.

o Hujan banyak dan umumnya lebih banyak dari daerah lain di


dunia.

2. Daerah iklim subtropis

2
Iklim subtropis terletak antara 23 - 40 LU dan 23 - 40 LS.
Daerah ini merupakan peralihan antara iklim tropis dan iklim sedang. Ciri
ciri iklim subtropis adalah sebagai berikut:
o Batas yang tegas tidak dapat ditentukan dan merupakan
daerah peralihan dari daerah iklim tropis dan iklim sedang.

o Terdapat empat musim, yaitu musim semi, musim panas,


musim gugur, dan musin dingin. Tetapi pada iklim ini musim
panas tidak terlalu panas dan musim dingin tidak terlalu
dingin.

o Suhu sepanjang tahun tidak terlalu panas dan tidak terlalu


dingin.

o Daerah subtropis yang musim hujannya jatuh pada musim


dingin dan musim panasnya kering disebut daerah Iklim
Mediterania. Jika hujan jatuh pada musim panas dan musim
dinginnya kering disebut Daerah Iklim Tiongkok.

3. Daerah iklim sedang

Iklim sedang terletak antara 40 - 66 LU dan 40 - 66 LS. Ciri


ciri iklim sedang adalah sebagai berikut :
Banyak terdapat gerakan gerakan udara siklonal, tekanan
udara yang sering berubah ubah, arah angin yang bertiup
berubah ubah tidak menentu, dan sering terjadi badai secara
tiba tiba.

Amplitudo suhu tahunan lebih besar dan amplitudo suhu harian


lebih kecil dibandingkan dengan yang terdapat pada daerah iklim
tropis.

4. Daerah iklim dingin

Iklim dingin terdapat di daerah kutub. Oleh sebab itu iklim ini
disebut pula sebagai iklim kutub. Iklim dingin dapat dibagi dua, yaitu iklim
tundra dan iklim es.
Ciri ciri iklim tundra adalah sebagai berikut :
Musim dingin berlangsung lama

3
Musim panas yang sejuk berlangsung singkat.

Udaranya kering.

Tanahnya selalu membeku sepanjang tahun.

Di musim dingin tanah ditutupi es dan salju.

Di musim panas banyak terbentuk rawa yang luas akibat


mencairnya es di permukaan tanah.

Vegetasinya jenis lumut-lumutan dan semak-semak.

Wilayahnya meliputi: Amerika utara, pulau-pulau di utara


Kanada, pantai selatan Greenland, dan pantai utara Siberia.

Ciri ciri iklim es adalah sebagai berikut :


Suhu terus-menerus rendah sekali sehingga terdapat salju abadi.

Wilayahnya meliputi: kutub utara, yaitu Greenland (tanah hijau)


dan Antartika di kutub selatan.

B. Iklim Fisis

Iklim fisis adalah berdasarkan fakta sesungguhnya di suatu wilayah


muka bumi sebagai hasil pengaruh lingkungan alam yang terdapat di
wilayah tersebut. Misalnya, pengaruh lautan, daratan yang luas, relief
muka bumi, angin, dan curah hujan.
Iklim fisis terdiri dari :
1. Iklim laut (Maritim)

4
Iklim laut berada di daerah tropis dan subtropis; dan daerah sedang.
Keadaan iklim kedua daerah berbeda. Ciri iklim laut di daerah tropis dan
sub tropis sampai garis lintang 40, adalah sebagai berikut:
Suhu rata-rata tahunan rendah

Amplitudo suhu harian rendah/kecil

Banyak awan

Sering hujan lebat disertai badai.

Ciri-ciri iklim laut di daerah sedang, yaitu sebagai berikut:


Amplitudo suhu harian dan tahunan kecil

Banyak awan

Banyak hujan di musim dingin dan umumnya hujan rintik-rintik

Pergantian antara musim panas dan dingin terjadi tidak


mendadak dan tiba-tiba.

2. Iklim Darat (Kontinen)

Iklim darat dibedakan di daerah tropis dan sub tropis, dan di daerah
sedang. Ciri-ciri iklim darat di daerah tropis dan sub tropis sampai lintang
40 , yaitu sebagai berikut :
Amplitudo suhu harian sangat besar sedang tahunannya kecil

Curah hujan sedikit dengan waktu hujan sebentar disertai


taufan.

Ciri iklim darat di daerah sedang, yaitu sebagai berikut:


Amplitudo suhu tahunan besar

Suhu rata-rata pada musim panas cukup tinggi dan pada musim
dingin rendah

Curah hujan sangat sedikit dan jatuh pada musim panas.

3. Iklim Dataran Tinggi

Iklim ini terdapat di dataran tinggi dengan ciri-ciri, adalah sebagai


berikut:
Amplitudo suhu harian dan tahunan besar

5
Udara kering

Lengas (kelembaban udara) nisbi sangat rendah

Jarang turun hujan.

4. Ikllim Gunung

Iklim gunung terdapat di dataran tinggi, seperti di Tibet dan Dekan.


Ciri-cirinya, yaitu sebagai berikut:
Amplitudo suhu lebih kecil dibandingkan iklim dataran tinggi

Terdapat di daerah sedang

Amplitudo suhu harian dan tahunan kecil

Hujan banyak jatuh di lereng bagian depan dan sedikit di daerah


bayangan hujan

Kadang banyak turun salju

5. Iklim Musim (Muson)

Iklim ini terdapat di daerah yang dilalui iklim musim yang berganti
setiap setengah tahun. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
Setengah tahun bertiup angin laut yang basah dan menimbulkan
hujan

Setengah tahun berikutnya bertiup angin barat yang kering dan


akan menimbulkan musim kemarau.

C.Iklim Junghuhn

F. Junghuhn seorang berkebangsaan Belanda mengadakan


penelitian di Sumatra Selatan dan Dataran Tinggi Bandung. Berdasarkan

6
hasil penelitiannya F. Junghuhn membagi iklim di Indonesia berdasarkan
ketinggian tempat.

Empat daerah iklim menurut F. Junghuhn adalah sebagai berikut.

1. Zona Iklim Panas

Zona iklim panas terletak pada daerah dengan ketinggian


antara 0 650
meter dan temperatur antara 26,3 C 22 C.

2. Zona Iklim Sedang

Zona iklim sedang terletak pada daerah dengan ketinggian


antara 650 1500
meter dan temperatur antara 22 C 17,1 C.

3. Zona Iklim Sejuk

Zona iklim sejuk terletak pada daerah dengan ketinggian


antara 1500 2500
meter dan temperatur antara 17,1 C 11,1 C.

4. Zona Iklim Dingin

Zona iklim dingin terletak pada daerah dengan ketinggian di


atas 2500 meter dan temperatur kurang dari 11,1 C.

D.Iklim Koppen

7
Pada tahun 1918 Dr Wladimir Koppen (ahli ilmu iklim dari Jerman)
membuat klasifikasi iklim seluruh dunia berdasarkan suhu dan
kelembaban udara. Kedua unsur iklim tersebut sangat besar pengaruhnya
terhadap permukaan bumi dan kehidupan di atasnya. Berdasarkan

ketentuan itu Koppen membagi iklim dalam lima daerah iklim pokok.
Masing-masing daerah iklim diberi simbol A, B, C, D, dan E.
1. Iklim A atau iklim tropis. Cirinya adalah sebagai berikut:
suhu rata-rata bulanan tidak kurang dari 18C,
suhu rata-rata tahunan 20C-25C,
curah hujan rata-rata lebih dari 70 cm/tahun, dan
tumbuhan yang tumbuh beraneka ragam.
2. Iklim B atau iklim gurun tropis atau iklim kering, dengan ciri sebagai
berikut:
Terdapat di daerah gurun dan daerah semiarid (steppa);
Curah hujan terendah kurang dari 25,4/tahun, dan penguapan
besar;
3. Iklim C atau iklim sedang.
Ciri-cirinya adalah suhu rata-rata bulan terdingin antara 18 sampai
-3C.
4. Iklim D atau iklim salju atau microthermal.

8
Ciri-cirinya adalah sebagai berikut: Rata-rata bulan terpanas lebih
dari 10C, sedangkan suhu rata-rata bulan terdingin kurang dari 3C.
5. Iklim E atau iklim kutub .
Cirinya yaitu terdapat di daerah Artik dan Antartika, suhu tidak
pernah lebih dari 10C, sedangkan suhu rata-rata bulan terdingin kurang
dari 3C.
Dari kelima daerah iklim tersebut sebagai variasinya diperinci lagi
menjadi beberapa macam iklim, yaitu:
1. Daerah iklim A, terbagi menjadi empat macam iklim, yaitu sebagai
berikut:
Af = Iklim panas hujan tropis.
As = Iklim savana dengan musim panas kering.
Aw = Iklim savana dengan musim dingin kering.
Am = Iklim antaranya, musim kering hanya sebentar.
2. Daerah iklim B, terbagi menjadi dua macam iklim, yaitu:
Bs = Iklim steppa, merupakan peralihan dari iklim gurun
(BW) dan iklim lembab dari iklim A, C, dan D.
BW = Iklim gurun.
3. Daerah iklim C, terbagi menjadi tiga macam iklim, yaitu:
Cs = Iklim sedang (laut) dengan musim panas yang kering
atau iklim lembab agak panas kering.
Cw = Iklim sedang (laut) dengan musim dingin yang kering
atau iklim lembab dan sejuk.
Cf = Iklim sedang (darat) dengan hujan pada semua bulan.
4. Daerah iklim D, terbagi dua macam iklim, yaitu:
Dw = Iklim sedang (darat) dengan musim dingin yang
kering.
Df = Iklim sedang (darat) dengan musim dingin yang
lembab.

5. Daerah iklim E, terbagi menjadi 2 macam iklim, yaitu:


ET = Iklim tundra, temperatur bulan terpanas antara
0( sampai 10(C.

9
Ef = Iklim salju , iklim dimana terdapat es abadi.

Perlu Anda ketahui bahwa menurut Koppen di Indonesia terdapat


tipe-tipe iklim Af, Aw, Am, C, dan D yaitu:
Af dan Am = terdapat di daerah Indonesia bagian barat, tengah,
dan utara, seperti Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan dan
Sulawesi Utara.
Aw = terdapat di Indonesia yang letaknya dekat dengan benua
Australia seperti daerah-daerah di Nusa Tenggara, Kepulauan
Aru, dan Irian Jaya pantai selatan.
C = terdapat di hutan-hutan daerah pegunungan.
D = terdapat di pegunungan salju Irian Jaya.
E. Iklim Thornthwaite
C.W.Thornthwaite (1993) membuat klasifikasi iklim berdasarkan
pada curah hujan yang sangat penting untuk tanaman,sehingga selain
jumlah curah hujan yang dipakai oleh tanaman akan lebih kecil dari pada
penguapannya kecil,pada jumlah curah hujan yang sama. Thornthwaite
menghitung ratio keefektifan curah hujan (precipatation effectiveness)
atau ratio P-E sebagai jumlah curah hujan (P=presipitasi) bulanan dibagi
dengan jumlah penguapan (E=evaporasi) bulanan,yaitu ratio P-E=P/E
jumlah 12 bulan ratio P-E disebutkan indeks P/E.
Masing-masing golongan kelembapan dan golongan suhu di
komfermasikan dengan penyebaran curah hujan musiman.penyebaran
curah hujan musiman dibedakan:
r = curah hujan banyak pada setiap musim.
s = defisit curah hujan pada musim panas
w = defisit curah hujan pada musim dingin
d = defisit curah hujan pada setiap musim
F.Iklim schimdt dan ferguson

Sistem klasifikasi iklim ini banyak digunakan dalam bidang


kehutanan dan perkebunan serta sudah sangat dikenal di Indonesia.
Kriteria yang digunakan adalah dengan penentuan nilai Q, yaitu

10
perbandingan antara bulan kering (BK) dan bulan basah (BB) dikalikan
10% (Q = BK / BB x 100%).

Klasifikasi ini merupakan modifikasi atau perbaikan dari sistem


klasifikasi Mohr (Mohr menentukan berdasarkan nilai rata-rata curah hujan
bulanan selama periode pengamatan). BB dan BK pada klasifikasi
Schmidt-Ferguson ditentukan tahun demi tahun selama periode
pengamatan yang kemudian dijumlahkan dan dihitung rata-ratanya.

Kriteria bulan basah dan bulan kering (sesuai dengan kriteria Mohr)
adalah :

1) Bulan Basah (BB) Bulan dengan curah hujan > 100 mm


2) Bulan Lembab (BL) Bulan dengan curah hujan antara 60 100 mm
3) Bulan Kering (BK) Bulan dengan curah hujan < 60 mm
Klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson ditentukan dari nilai Q yang
dikelompokkan menjadi 8 tipe iklim, yaitu :

G. Iklim oldeman
Klasifikasi iklim Oldeman tergolong klasifikasi yang baru di Indonesia
dan pada beberapa hal masih mengundang diskusi mengenai batasan
atau kriteria yang digunakan. Namun demikian untuk keperluan praktis
klasifikasi ini cukup berguna terutama dalam klasifikasi lahan pertanian
tanaman pangan di Indonesia.
Klasifikasi iklim ini diarahkan kepada tanaman pangan seperti padi
dan palawija. Dibandingkan dengan metode lain, metode ini sudah lebih

11
maju karena sekaligus memperhitungkan unsur cuaca lain seperti radiasi
matahari dikaitkan dengan kebutuhan air tanaman.
Oldeman membuat sistem baru dalam klasifikasi iklim yang
dihubungkan dengan pertanian menggunakan unsur iklim hujan. Ia
membuat dan menggolongkan tipe-tipe iklim di Indonesia berdasarkan
pada kriteria bulan-bulan basah dan bulan-bulan kering secara berturut-
turut. Kriteria dalam klasifikasi iklim didasarkan pada perhitungan bulan
basah (BB), bulan lembab (BL) dan bulan kering (BK) dengan batasan
memperhatikan peluang hujan, hujan efektif dan kebutuhan air pada
tanaman
Konsepnya adalah:

1. Padi sawah membutuhkan air rata-rata per bulan 145 mm dalam


musim hujan.

2. Palawija membutuhkan air rata-rata per bulan 50 mm dalam musim


kemarau.

3. Hujan bulanan yang diharapkan mempunyai peluang kejadian 75%


sama dengan 0,82 kali hujan rata-rata bulanan dikurangi 30.

4. Hujan efektif untuk sawah adalah 100%.

5. Hujan efektif untuk palawija dengan tajuk tanaman tertutup rapat


adalah 75%.

Dapat dihitung hujan bulanan yang diperlukan untuk padi atau


palawija (X) dengan menggunakan data jangka panjang yaitu:
Padi sawah:
145 = 1,0 (0,82 X -30)
X = 213 mm/bulan
Palawija:
50 = 0,75 (0,82 X - 30)
X = 118 mm/ bulan.
213 dan 118 dibulatkan menjadi 200 dan 100 mm/bulan yang digunakan

12
sebagai batas penentuan bulan basah dan kering.
Bulan Basah (BB) : Bulan dengan rata-rata curah hujan lebih dari 200 mm
Bulan Lembab (BL) : Bulan dengan rata-rata curah hujan 100-200 mm
Bulan Kering (BK) : Bulan dengan rata-rata curah hujan kurang dari 100
mm
Selanjutnya dalam penentuan klasifikasi iklim Oldeman menggunakan
ketentuan panjang periode bulan basah dan bulan kering berturut-turut.
Tipe utama klasifikasi Oldeman dibagi menjadi 5 tipe yang
didasarkan pada jumlah pada jumlah bulan basah berturut-turut.
Sedangkan sub divisinya dibagi menjadi 4 yang didasarkan pada jumlah
bulan kering berturut-turut.
Oldeman membagi tipe iklim menjadi 5 katagori yaitu A, B, C, D dan E.
Tipe A : Bulan-bulan basah secara berturut-turut lebih dari 9 bulan.
Tipe B : Bulan-bulan basah secara berturut-turut antara 7 sampai 9 bulan.
Tipe C : Bulan-bulan basah secara berturut-turut antara 5 sampai 6 bulan.
Tipe D : Bulan-bulan basah secara berturut-turut antara 3 sampai 4 bulan.
Tipe E : Bulan-bulan basah secara berturut-turut kurang dari 3 bulan

H. Klasifikasi Iklim Menurut Mohr

Klasifikasi Mohr didasarkan pada hubungan antara penguapan dan besarnya


curah hujan, dari hubungan ini didapatkan tiga jenis pembagian bulan dalam kurun
waktu satu tahun dimana keadaan yang disebut bulan basah apabila curah hujan
>100 mm per bulan, bulan lembab bila curah hujan bulan berkisar antara 100 60
mm dan bulan kering bila curah hujan < 60 mm per bulan

Mohr membagi iklim berdasarkan curah hujan yang sampai ke permukaan bumi,
yaitu menjadi tiga golongan sebagai berikut:

1. Bulan kering (BK), yaitu jumlah rata-rata curah hujan dalam bulan tersebut
kurang dari 60 mm.

2. Bulan sedang (BS, yaitu jumlah rata-rata curah hujan dalam bulan tersebut
berkisar antara 60 90 mm.

3. Bulan basah (BB), yaitu jumlah rata-rata curah hujan dalam bulan tersebut 100
mm ke atas.

13
14