Anda di halaman 1dari 365

AIi.\AN

P,{\

"il\ltiR

TEKNOLOGI BAHAN

Oleh: Ir. Syamsul Hadi, M.T., Ph.D.

Hak Cipta O201 6 pada Penulis.

Editor

Aditya Ari C

Setting

Rendrasta Duta A

Desain Cover

Dany

Korektor

Putri Christian

!l

ti ri \

oeb{} \ !\\\"lrq

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam

bentuk apa pun, baik secara elektronis maupun mekanis, termasuk memfotokopi, merekam

atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari penulis.

Penerbit CV. ANDI OFFSET fPenerbit ANDI, Anggota IKAPI) Jl. Beo 38-40, telp (0274)

561881, Fax{0274) 5BB2B2 Yogyakarta 55281

Percetakan CV. ANDI OFFSET [Penerbit ANDI, Anggota IKAPIJ Jl. Beo 38-40, telp (0274)

561881, Fax(0274) 5BB2BZ Yogyakarta 55281

Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan

Hadi, Syamsul TEKNOLOGI BAHAN / Syamsul Hadi - Ed.I. - Yogyakarta: ANDI;

25-24-23-22-21-20- 19-18 -17 -16

hlm viii + 364; L9 x23 Cm.

10. 9

B

7

6

5

4

3

2

1,

ISBN:978 -979 -29 -5586- 6

I. Judul

1. Materials Engineering

DDC'23:620.11

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karunianya, sehingga penulisan buku Teknologi Bahan ini dapat selesai untuk

dihadirkan kepada pembaca di tanah air. Buku ini ditulis mengingat masih terbatasnya

buku teks dan bahan ajar di bidang tersebut, yang kebanyakan dibutuhkan oleh

mahasiswa politeknik dan mahasiswa lainnya. Kehadiran buku ini diharapkan juga dapat membantu para mahasiswa yang cukup terkendala dengan padatnya kegiatan

kuliah, praktik, praktikum, dan menyelesaikan tugas-tugas/pekerjaan rumah,

sehingga menghimpun, mengartikan, dan menyimpulkan dari berbagai text book,

hand book, artikel jurnal, maupun sumber dari websife menghadapi kendala waktu.

Buku Teknologi Bahan ditulis mengacu pada perkembangan kurikulum dan

silabus furusan Teknik Mesin Politeknik, sehingga diharapkan sangat relevan

digunakan di kalangan mahasiswa Teknik Mesin politeknik se-lndonesia dan mahasiswa Jurusan Teknik Mesin D3-D4-S1, |urusan Teknik Material S1, Jurusan Teknik Aeronautika dan Astronoutika fPenerbangan) S1, mahasiswa dan dosen Jurusan Teknik Sipil, yang berkaitan dengan teknik bahan atau konstruksi baja

untuk bangunan dan jembatan, serta para peneliti juga dapat memanfaatkan buku

ini, karena di dalamnya juga disampaikan beberapa hasil studi kasus.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada: [1) para kolega dosen furusan

Teknik Mesin Polinema Bapak/lbu: Ir. Subagiyo, M.T., Ir. Bambang Sulistiyono, M,T.,

Dr. R. Edy Purwanto, MSc., Dr. Eng. Anggit Murdani, M. Eng., Lisa Agustriyana, M.T., Samsul Hadi, M.T. yang telah membantu memberi masukan, diskusi, berinteraksi dengan para mahasiswa dalam penyempurnaan penyajian buku ?"ekn ologi Bahan

ini, [2J Ketua furusan Teknik Mesin Polinema, Ir. Kasijanto, M.T. atas masukan- masukannya, dan (3) Direktur Polinema, Dr. Ir. Tundung Subali Patma, M.T. atas

motivasi yang diberikan agar para dosen semakin giat mengajar agar alumni

Polinema dapat unggul dalam persaingan global, serta keluarga yang kondusif dalam mendukung penulisannya.

Tiada gading yang tak retak, kekurangan di sana-sini mungkin saja terjadi. Oleh karena itu, penulis berharap para pembaca dapat berbagi atau memberikan

sumbang saran demi penyempurnaan selanjutnya.

Selamat bagi para pembaca atas atensi pada buku Tekn ologi Bahal? yang saya

tulis ini, semoga dapat terinspirasi dan dapat memetik manfaat optimal serta dapat

melakukan studi maupun penelitian berkelanjutan hingga memperoleh hasil yang

memadai dan memuaskan, sebagaimana disarikan dalam ISO: apayang dikeriakan

ditulis dan apa yang ditulis dilaksanakan, iika perlu perubahan direvisi, sehingga terwujud motto hidup: continuous quality improvement, perbaikan mutu berkelaniutan.

Malang kota BERMARTABAT [BERsih, Makmurl Adil, Religius-toleran,

Terkemuka, Aman, Berbudaya, Asri, dan TerdidikJ, September 201,6.

tv

Penulis, Ir. Syamsul Hadi, M.T., Ph. D.

Teknologi Bahan

DAFTAR ISI

PRAKATA -- iii

DAFTAR ISI -- v

BAB I PENAMBANGAN, PENGOLAHAN, DAN PELEBURAN BIJIH LOGAM - I

I.I PENAMBANCAN BIJIH LOCAM _ I

r.z PENCOLAHAN BIJIH LOCAM -- 5

r.3 PELEBURAN BIJIH LOGAM -- 8

r.4 HASIL PELEBURAN LOCAM -- 14

I.5 PERTANYAAN PENAMBANCAN, PENCOLAHAN, DAN PELEBURAN BIJIH LOCAM - 16

BAB IISTRUKTUR KRISTAL LOGAM, LOGAM SINTER, DAN LOGAM PADUAN - tg

z.r STRUKTUR KRISTAL LOGAM - r9

2.2 BIDANG SLIP -- zz

2.3 DlsLoKASl - z5

2.4 LOGAM SINTER - z8

2.5 LOGAM PADUAN FERRO -- jl

2.6 LOGAM PADUAN NONFERRO - 4r

2.7 PERTANYAAN STRUKTUR KRISTAL LOCAM, LOGAM SINTER, DAN LOGAM PADUAN - 48

BAB lll SIFAT-SIFAT MEKANIK LOGAM - 5r

3.t UJITARIK - 5r

3.2 UJI TEKAN -- 68

38 U)t LENTUR - 7z

3.4 uJt GESER - 74

3.5 UJI PUKUL - 79

j.6 UJI PUNTIR -- 88

3.7 U)l KERAS - 9r

3.8 UJI LELAH -- 97

3.9 METALOGRAFI - rro

3.1o PERTANYAAN STFAT-S|FAT MEKANTK LOCAM - r3g

BAB lV DIAGRAM FASA DAN TTT - r43 4.r DIACRAM FASA - r++

4.2 ASAS TUAS -- r48

4.3 DIACRAM TIME-TEMPERATURE TRANSFORMATTON - r55

4.4 DIAGRAM FASA BESI-BESI KARBON - r6z

4.5 PERTANYAAN DIAGRAM FASA DAN TTT - 168

BAB V PERLAKUAN PANAS - 169

5.r ANNEALINC - 169

5.2 HARDENING - 175

5.3 u)l JoMINY -- r78

5.4 METODE PENGERASAN LAINNYA -- t84

5.5 TEMPERING - r99

5.6 PERTANYAAN PERLAKUAN PANAS - 2o4

BAB VI STANDARISASI LOGAM - zo7

6.1 MACAM-MACAM STANDAR LOCAM -2o7

6.2 KODE DAN ARTI STANDAR LOGAM -- zo8

6.3 LOGAM STANDAR DAN KEGUNAANNYA - zr9

6.4 PERTANYAAN STANDARISASI LOGAM -- 248

BAB Vll PENGECORAN LOGAM -- 251

7.r PEMBUATAN POLA - 253

7.2 PEMBUATAN CETAKAN PASIR - 255

7.j PENGECORAN LOGAM -- z7o

7.4 PEMERIKSAAN CORAN - 277

7.5 PERTANYAAN PENGECORAN LOGAM - z8r

BAB Vtil PENGERJAAN LOGAM - 283 8.r PENEMPAAN - 283

8.2 PENCERJAAN PELAT - z9r

8.3 PEMESINAN -- 3o7

8.3.t Pembubutan - )o7

8.3.2 Pengefraisan - 3to

8.3.3 Penyekrapan - 3tz

8.3.4 Pelubangan -- j14

8.3.5 Penggerindaan - 316

8.3.6 Penggergajian - 32o

8.3.7 Perbesaran lubang -- 323

8.+ PERTANYAAN PENCERJAAN LOCAM -T4 DAFTAR PUSTAKA -- 337

GLOSARIUM - l+l

INDEKS - 357

LAMPIRAN - 359

TENTANG PENULIS - )6j

Daftar lsi

vll

BAB I

PEIIAMBANGAN, PElrlGOtAHAN, DAill PELEBURAI'I

BIJIH TOGAM

1.1 PENAMBANGAN BIJIH LOGAM

Bijih adalah batuan/pasir berupa logam atau bukan logam yang mengandung

mineral penting. Bijih dimurnikan melalui penambangan untuk memperoleh

unsur-unsur yang bernilai ekonomis. Kadar mineral/logam memengaruhi ongkos penambangan bijih. Bijih merupakan senyawa oksida, sulfida, silikat, atau logam yang cukup murni seperti tembaga; logam yang tidak berupa senyawa, misalnya

emas, dan perak. Bentuk batuan bijih besi sebagaimana yang ditunjukkan Gambar

1.L [Anonim,201,6a).

Gambar 1,1 Batuan Bijih Besi [An,tnim, '2A16 a]

Keberadaan batuan atau pasir besi tersebar di

berbagai tempat di Indonesia

dengan jumlah dan sebaran yang berbeda. Penyebaran cadangan pasir besi di

Gambar L.Z tersebar paling banyak Kalimantan, papua, Nusa Tenggara

Indonesia sebagaimana yang ditunjukkan pada di Pulau Sumatera, diikuti oleh Sulawesi, Jawa, Barat-Timuc Maluku Utara, dan Kepulauan Riau.

Pasir besi yang ada di sepanjang pesisir selatan Kulon progo-yogyakarta

ternyata mengandung Titanium (TiJ dan Vanadium

[V).

Di dunia,

hanya di Meksiko

pasir besinya yang mengandung V secara baik. Vanadium sering digunakan untuk

memproduksi logam tahan karat dan peralatan berkecepatan tinggi. Foil vanadium

digunakan sebagai zat pengikat dalam melapisi ri pada

baja, seperti dalam

temperatur

pembuatan tank antiroket atau pembuatan pesawat ulang alik, karena

cairnya 1890"C. Prediksi pasir besi di pesisir selatan Kulon progo harganya bisa

hingga 1000 kali besi biasa fAnonim, 2O16aas).lnfo tersebut perlu diteliti

seberapa

banyak jumlahnya? Apakah layak untuk segera dieksploitasi untuk kemakmuran bangsa? Penelitian lebih lanjut perlu diperdalam.

l*g*uclx r !

Iixsirtrl*{

Gambar 1.2 Penyebaran cadangan pasir Besi clilndonesia [Anonim, 201.6b)

Teknologi Bahan

Penambangan adalah pengambilan bahan dari alam berupa mineral atau bijih

Iogam ataupun minyak bumi. Pengambilan dari batuan tidak mudah atau tidak dapat

langsung diambil, melainkan perlu proses pendahuluan, jika keadaannya berupa

batuan utuh, maka pemecahan ukuran besar dilakukan dengan cara peledakan

dengan bahan peledak, setelah batuan dibor; diisi bahan peledak, diselamatkan areal

sekitar; dan dilakukan peledakan. Setelah diperoleh bongkahan besar diperlukan

proses penghancuran menjadi ukuran yang lebih kecil dengan mesin pemecah batu, diikuti dengan pengayakan, dan pembersihan atas ikutan yang menyertainya. Suatu areal penambangan dapat berupa penambangan terbuka atau tertutup. Satu contoh areal penambangan terbuka sebagaimana Gambar 1.3a (Anonim,201,6c).

Gambar 1. 3a Contoh Suatu Areal Penambangan Terbuka [Anonim, 201,6c)

Areal penambangan tertutup berupa tambang di bawah permukaan tanah (under

ground) yang memiliki terowongan dengan kereta pembawa hasil tambang yang berpotensi terjadi longsor. Contoh penambangan tertutup sebagaimana Gambar 1.3b (Anonim,2016dJ.

Penambangan, Pengolahan, dan Peleburan Brlih Logam

3

Gambar 1. 3b Contoh Suatu Areal Penambangan Tertutup [Anonim, 2016d)

Transportasi dari tempat penambangan bijih ke tempat pemisahan bijih dan

kotorannyabisaberjarakbeberapa ratus metersampai beberapakilometer. Peralatan

angkut untuk penambangan tertutup dilakukan dengan menggunakan kereta

tambang atau sejenis lori yang khusus dibangun untuknya. Untuk tambang terbuka,

misal dari pusat peledakan tambang bijih batuan diperlukan peralatan berat untuk

meratakan sebaran batuan bijih-bijih logam berupa bulldozer falat berat untuk

meratakan tumpukan bongkahan /pasir bijih logam), excavator, backhoe, dan dump

truck. Ekskavator untuk menaikkan muatan ke dalam truk, backhoe untuk menggali,

dan dump truck adalah truk pengangkut yang dilengkapi peralatan hidrolik untuk menuangkan muatan bijih logam sebagaimana Gambar 1,.4 [Anonim, 20l6aaa). Excavator sedang mengambil batuan tambang bijih logam yang pada roda bagian

depannya diselimuti dengan rantai agar roda tidak cepat aus tergesek batuan bijih logam sebagaimana Gambar L.4a. Backhoe mempunyai kemampuan untuk menggali

4

Teknologi Bahan

bijih logam, disebut backhoe karena bucket atau embernya [ember khusus, sebagai pengganti cangkul yang dapat mencangkul sekaligus membawa hasil cangkulannya)

terletak pada bagian belakang dan pada bagian depannya berfungsi sebagai

ekskavatorl sebagaimana Gambar 1.4b, dan sebuah dump truck sedang mengangkut muatan bijih tambang logam sebagaimana Gambar 1.4c.

(;r)

mr a '*'}"i

tu ,

.fi

'h)

Le&r

(cl

Gambar 1.4 Peralatan Berat untuk Transportasi Bijih Logam: [a) Ekskavator; (b) Backhoe,

dan (cJ Dump Truck fAnonim, 201,6aaa)

1.2 PENGOLAHAN BIJIH LOGAM

Proses pemecahan batuan diawali dengan batuan bijih besi sebagai bahan baku (raw materiaf dimasukkan ke jaw crusher melalui alat penggetar (vibrating feeder),

dilanjutkan masuk ke impact crusher, hasilnya dimasukkan ke dalam ayakan getar (vibrating screen), dan bijih yang ukurannya masih perlu diperkecil dimasukkan

kembali ke dalam impact crusher untuk memperoleh ukuran yang dikehendaki

sebagai hasil akhir (finished material) sebagaimana Gambar 1.5a (Anonim,20L6e).

Penambangan, Pengolahan, dan Peleburan Bijih Logam

5

**s" $*1rr ,i ;* l

V ifu.rat i rr$

$tone

f,**e3,e*r

'i,;rw {.r**.her

Crushing Process

B*rp**.i [i,,!.;lr,]:er

rdihrxti*g

&:;r**r,

fljr:iairyrJ

#;*te,r i a I

Gambar 1.5a Proses Pemecahan Batuan Bijih Besi [Anonim, 2016e)

fiS* Tp!*-ff** TFt"{ *i*n*r frii$*er pi**.i

ffi*n**. i-^**--^--**^-:

L.J

H-sr:

't:#r

+

1!Pe'g$0rt20C

,r***rn.r,O

i zgsr-4eort3o

,j

ffi

ffi

rj_

Ft&

sie{s t

.

-- ffi

"'#

i

:

:

#g

*

i u

i

;

--

,,:r&w.4r0'ri&{W :J-WI

m

I

I t_

ii

*$r*'

l

,;"*

-*"*'-,

I

I

,

l

i,fi

:

n CBS?40 * et'&.

\resB?4o * u*,ai*t

-"-'--".

.r -f

.

',j,

:

!'] 3Y&:*6**rr{r i -

r**r-*-:

i:.r:, rc

liE

-.,

-.

ii:,*

.:

S"Srnrs f-!gm

36"1gr*

Gambar 1.5b Pemecahan Batuan Bijih Besi (Anonim,2016f)

6

Teknologi Bahan

Suatu rangkaian fasilitas pemecah batuan bijih besi sebagaimana Gambar 1.5b yang terdiri dari Ayakan getar dan pemecah batuan yang akhirnya menghasilkan

tiga tingkatan ukuran batuan [0-5 mm, 5-20 mm, dan 20-40 mm).

Pemisahan bijih besi dengan media air yang menggunakan pemisah magnetik

sebagaimana Gambar 1.6 [Anonim,201.69). Umpar-r pasir besi [Fe) berkadar 370/o

dimasukkan ke dalam Pemisah Magnetik (Magnetic Separator) L bersama media airl

diperoleh Konsentrat L berkadar 5L0/o yang teridiri dari unsur besi 90% dan kotoran (tailing) 1 senilai 10,70/o. Lanjutan proses melalui Pemisah Magnetik 2, diperoleh Konsentrat 1 berkad ar 560/o yang terdiri dari unsur besi sekitar B0o/o dan kotoran 2

sekitar 37,60/o.

ffi

h@rclie

@srxerr"I

Thil*r$.1

f*, l#,7 &

ffilfn*-?. ru, 346 %,

t$lps!!,

f*" 3f 5&

tllas{wt E

Soparer-*

dr

Hffiffi.9

Fe, Sl %

Fffirffy F* - 9s B&

alr

,

MatE

Fe" 5S Ea

mrsfk*S$b

Gambar 1.6 Pemisahan Bijih Besi Menggunakan Penrisah Magnetik [Atronim, 20169)

Penambangan, Pengolahan, dan Peleburan Bijih Logam

Prinsip kerja Pemisah Magnetik meliputi aliran air dan serbuk

bijih besi masuk

melalui inlet slurry menuju tangki pemisah (magnetic tank). Bijih besi yang bersifat

fseparator

magnetik tertarik oleh medan magnet lalu diangkat oleh drum pemisah

drum) menuju outlet magnetic concentrate, sedangkan bijih lain yang tidak bersifat

magnetik mengalir menuju discharge launder dan

tailings) sebagaimana Gambar 1.7 fAnoni m, ZO1.6h).

keluar sebagai sampah (outlet

{r*Bt

Se$?r

FEnd

bffi

Ssprys&er ier*k

0rdM

*r.trxt

-{ffirg*

Maginrtfu

Cenc*nrm Gambar 1.7 prinsip kerja pemisah Magnetik [Anonim, 2016h)

1.3 PELEBURAN BIJIH LOGAM

Bijih besi setelah ditambang, dihancurkan, dan dipisahkan, kemudian dilebur

untuk menjadikan sebagai bahan baku besi atau baja. Peleburan untuk memproduksi

baja cair sebagaimana Gambar 1.8 fAnoni m,20l6i).

Pada Gambar 1.8, bahan-bahan berupa kokas (coal) dikeringkan ke dalam

suatu oven kokas untuk menguapkan kadar air yang terkandung di

kemudian batu kapur (time stone), bijih besi (iron ore), dan kokas dibawa ke

(sinter plant). Hasil sinter batu kapuc bijih

dalamnya,

tempat penggabungan dari ketiganya

besi, dan kokas dibawa ke dapur tinggi (blast

furnace) bersama sebagian bijih besi

dan sebagian kokas kering untuk menghasilkan besi kasar cair. Dari besi kasar

Teknologi Bahan

cair dibawa ke suatu converter untuk mengubah besi kasar cair menjadi baja. Baja

bekas (steel scrap) setelah dibersihkan disertakan masuk ke dalam suatu tempat vang disebut sebagai Basic oxygen vessel bersama besi kasar cair dari dapur tinggi. Converter oksigen adalah converter yang mengubah besi kasar cair menjadi baja dengan cara mengikat sebagian kadar karbon dengan oksigen yang dihembuskan ke dalam cairan besi kasar agar sebagian karbonnya terikat dengannya, sehingga

besi kasar cair yang banyak mengandung karbon jumlahnya menjadi berkurang dan

dengan suatu pengontrolan prosesnya akhirnya menjadi baja dengan kadar karbon 1,ang lebih rendah. Baja-baja bekas dari berbagai sumbeq, dipotongi menjadi ukuran

vang dapat dimuatkan ke dalam converter oksigen dan dapur pemanas listrik untuk dicampurkan ke dalam converter dan dicairkan dalam dapur pemanas listrik untuk

dibawa ke pembuatan baja tahap kedua (secondary steelmakingJ. Pengangkatan baja

bekas berisiko melukai dan bercampur dengan berbagai kotoran berupa tanah dan bahan selain besi dan baja, maka digunakan pengangkat magnetik agar kedua hal tersebut tidak terbawa dan baja bekas menjadi lebih bersih.

iltlslte{x

SY{*rF}fi

.E-_-N"'

m

,rcrsrr E

dffi.

@--'---'-t'----L-

ir

t

,

L>

4.lE

i

Fs*rt*d

S,txl'&*raF

frn**rffi*

fr.{}

Fredn*fies Ef Klt&n &tc*!

;r;#Lrjlk

8{ts*tt}

ilttit

ff:::*' ffi

BktFwl*r*.

***,*rllfdr

Srf*rf *,re

fffi*N

renambangan,

Pengolahan, dan Peleburan Bijih Logam

Batu kapul bijih besi, dan kokas disatukan dan dibentuk menjadi besi spon

(sponge iron) dengan proses sinter sebagaimana Gambar 1.9a fAnonim, Z0l6j).

Pemakaian besi spon ke dalanr Dapur Tinggi adalah untuk mempermudah proses

peleburan supaya lebih efisien dalam proses pencairan logam. Bijih besi, batu bara, dan kapur bakar dimasukkan ke dalam tempat pembakaran

berputar (rotary krln), kemudian besi sponnya dimasukkan ke dalam pendingin

berputar (rotary cooler), besi spon yang telah mendingin dilewatkan pemisah

magnetik (magnetic separator) untuk memisahkan antara besi spon dan batu bara dan kapur bakarnya. Gas panas dari tempat pembakaran berputar dialirkan melalui ruang setelah pembakaran (after combustion chamber), electrostatic precipitator,

diisap oleh kipas (fan) dan didorong keluar untuk ditumpuk (stack) sebagaimana

Gambar 1.9b.

Produksi paduan besi Indonesia dengan proses electric furnace sebagaimana

Tabel 1.1 fAnonim, 2016k) menunjukkan peningkatan dari tahun 2009 sampai

dengan 2011 dan sedikit menurun sampai dengan 2013.

Ia)

B$h &8, Brtr&a{* f.Ess

&.^& &

r,*-i-.-**J

-r;i:]l:'l&-.,

ld:lli.r}

,.6,',

i

r',

64qs"*' t

t&-dir

,----.--*;J*

+-* I

*t*

t &.

-

&a{L$trs r{&l{ig

tb)

!

I

!

.t

I

Gambar 1.9 Besi Spon fSponge lron) [a), dan Proses Pembuatan Besi Spon [b) [Anonim

201,6j)

Tabel 1.1 Produksi Paduan Besi lndonesia dengan Proses Electric Furnace (Ribu Ton) (Anonim,

2016k)

Tahun

2009

20to

2071

2012

2013

Ferromanganese

1,2.000

12.000

12.000

13.000

13.000

Ferronickel

62.700

93.300

98.200

91.600

91.000

Silicomanganese

7.000

8.000

8.000

9.000

9.000

Total

81.700

113.000

118.000

114.000

113.000

Bijih-bijih selain besi juga ditambang, dihancurkan, dipisahkan dan dibersihkan

dengan cara serupa dengan bijih besi, namun tidak menggunakan pemisah magnetik. Hal ini disebabkan karena logam selain besi/baja (ferro) tidak bersifat magnetik.

Sebuah "dapur tinggi" modern sebagaimana Gambar 1.10 (Smith, 2006:360). Kebanyakan besi diekstrak dari bijih-bijih besi dalam suatu Dapur Tinggi (Blast

Furnace). Dalam dapur tinggi, kokas (karbon) bertindak sebagai zat pereduksi

Denambangan, Pengolahan, dan Peleburan Bijih Logam

11

oksida-oksida besi (terutama Feror) untuk menghasilkan besi kasar

(raw pig iron)

yang

sebagai:

berkadar sekitar 4o/okarbontermasuk bahan ikutan (impurities) d"ngun reaksi

Fe.O.,+3CO)2Fe+3CO.

Besi kasar dari dapur tinggi biasanya

ditransfer dalam keadaan cair ke suatu

bagian

bawah dapur tinggi [ruang

[3000"FJ. Bijih besi

dapur tinggi dengan

(hopper). Tampak

kokas. Di bagian

(slag), dan

tungku pembuatan baja. Temperatur tertinggi di

pembakaranfcombustion zone) mencapai sekitar 1650"c

(ore), batu kapur (rimestoneJ, dan kokas (coke) diisikan ke

alat pemindah bahan (skip car) ke atas menuju saluran masuk

susunan dari

bagian bawah: besi cair; batu kapur, bijih-bijih besi, dan

bawah dapur tinggi

terdapat dua saluran yang menuju: kendaraan terak

kendaraan besi panas

(hot iron car).Tuyere adalah saluran udara panas masuk ke

dipanaskan terlebih dahulu sebelum masuk dapur tinggi

dapur tinggi, udara dingin

melalui heated open brick chamber,

ukuran suatu dapur

tinggi, yakni berdiameter sekitar 7 m dengan tinggi sekitar

30-35 m fAnonim, ZOt6l).

,SX,"f T

Xa*&tlqn

ffi.

q&F Sit*, *;

wr jL*r;ar;,ixri**

3&13.&' i

fk*B*ed"Fsi

Fsi.ar;*

w

!4$ee das

*&*k* wv

H.xirery

Gambar 1.10 Sebuah Dapur Tinggi Modern fSmith, 2006:360)

12

Teknologi Bahan

Besi kasar (pig iron) adalah produk antara pleburan bjih besi yang dilebur dari dapur tinggi dengan tungku bentuk silinder yang besar yang dibuat dengan bijih

besi, kokas, dan batu kapur arang dan antrasit juga telah digunakan sebagai bahan

bakar. Beberapa bentuk besi kasar sebagaimana Gambar 1,11- (Anonim, 2016aam).

Gambar 1.11 Beberapa Bentuk Besi Kasar (Anonim, 20\6aam)

Proses pemurnian diawali dengan tungku Bessemer dari besi kasar ke baja

dengan hembusan udara ke dalam lelehan besi. Kini pemurnian besi kasar ke baja

diselesaikan dengan proses dasal di antaranya: basic oxygen furnace, open heart furnace, dan electric furnace. Basic oxygen furnace pembuatan baja yang melibatkan

25o/obaja bekas dan75o/o besi kasar cair dengan penghembusan oksigen bertekanan

ke dalam lelehan untuk mengurangi kadar karbon, dengan waktu proses yang

singkat, 25 menit untuk 300 ton fHarpeq, 2001.: 1.7). Open heartfurnace juga dengan

penghembusan oksigen bertekanan ke dalam lelehan untuk mengurangi kadar

karbon ke dalam besi kasar cair yang diangkut dengan kendaraan logam panas dan baja bekas [yang jumlahnya dapat sama dengan besi kasar cairJ, lalu lelehan

logam dalam ladel dituang ke dalam cetakan ingot untuk muatan 300 ton tiap B

jam. Pemurnian dengan tungku listrik (electric furnace) lebih cepat dan lebih bersih

(Harpe4 2001,: L.7).

Sejak dilarangnya perusahaan pertambangan mengekspor mineral mentah

(berdasarkan pada UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu

Bara yang disahkan 5 tahun kemudian, yaitu pada 12 Januari 201-4), maka semua

perusahaan pertambangan wajib membangun pabrik pengolahan (smelter). Dengan

Penambangan, Pengolahan, dan Peleburan Bijih Logam

13

demikian usaha pengolahan mineral /tambang semakin banyak bermunculan di tanah air. Tujuan pelarangan perusahaan pertambangan mengekspor mineral

mentah adalah untuk menaikkan nilai tambah bagi kepentingan bangsa dan negara Indonesia termasuk mengurangi pengangguran di dalam negeri dan mengundang

investasi asing.

1.4 HASIL PELEBURAN LOGAM

Beberapa contoh produk Iogam setelah dilebur di antaranya baja canai/rol panas billet persegi 60 x 90 mm dan Ingot Seng dari Skorpion Mine, Namibia yang tumbuh cepat untuk Galvanis baja badan kendaraan sebagaimana Gambar l-.12 [Anonim, 2016m) (Anonim, 2016n),Aluminium dan Tembaga sebagaimana Gambar

L.L3 fAnonim, 2016oJ (Anonim, 20L6p), Emas dan Kuningan sebagaimana Gambar 1.14 (Anonim,2016q) fAnonim, 201,6r), dan Titanium sebagaimana Gambar 1.15

fAnonim,2016sJ.

(a)

tb)

Gambar t.tZ (a) Baja Canai/Rol Panas Billet Persegi 60 x 90 mm [Anonim, 2016mJ, dan

[b) Ingot Seng, Namibia [Anonim,201,6n)

14

Teknologi Bahan

Gambar 1.13 Produk Aluminium [Anonim,20L6o) dan Tembaga [Anonim,201,6p)

Gambar 1.14 Produli iimas rlan llrodr-rk Kuningan (A:tonim, 201,6q) (Anonim, 2015rJ

Gambar 1.15 Produk Titanium [Anonim, 201.6s)

,enambangan, Pengolahan, dan Peleburan Bijih Logam

15

Bahan teknik diklasifikasikan sebagaimana Gambar

Ruang lingkup bahan teknik meliputi terutama untuk:

fplastik), dan komposit.

;rffill

:

I*r.It

1.16 fPurwanto, 20L2: 1). logam, keramik, polimer

Gambar 1.16 Klasifikasi Bahan Teknik fpurwanto, 201,2: I)

1.5 PERTANYAAN PENAMBANGAN, PENGOLAHAN, DAN PELEBURAN BIJIH LOGAM

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut sebagai pengukuran pemahamam

Anda setelah mempelajari Subbab sebelumnya.

1 Apa yang dimaksud dengan bijih logam?

2. Apa bedanya antara bijih logam dan bijih besi?

3. Di mana saja pasir besi banyak terdapat di Indonesia?

4. Mengapa"a.{eg! tambang terbuka dibuat berjenjang dalam suatu bentuk

kontur yang melingkar?

5.

Apa saja risiko atas penambangan tertutup (under ground)?

6. f elaskan proses pemecahan batuan logam sampai menjadi bijih logam hingga berukuran yang dikehendaki?

7. Apa perbedaan antara ekskavator dan backhoe?

8. Apa fungsinya sebuah peralatan berat dump truck?

9. Jelaskan hubungan antara umpan bijih besi dan tailing-nya?

10. Bagaimana prinsip kerja pemisah magnetik bijih logam?

11. Jelaskan urutan pembuatan cairan baja dari bahan-bahan dasarnya?

1.2. Apa tujuan dibuat besi spon dalam pemakaiannya di dalam "dapur tinggi"?

L3. Jelaskan cara pembuatan besi spon disertai dengan ilustrasi gambar?

1.4. Apa prinsip kerja proses oksigen yang mengubah besi kasar menjadi baja?

15. Melalui peralatan apa baja bekas (scrap) bisa didaur ulang untuk membuat

baja cair?

16. Berapa ukuran dapur tinggi yang Anda ketahui?

17. Sket bentuk dari suatu besi kasar dan jelaskan mengapa bentuknya didesain demikian?

18. Berapa kapasitas basic oxygen furnace, dan open heart furnace?

19. Kunjungi, amati, diskusikan, ambil foto-video, dan buatlah laporan hasil dari

produksi rumahan (home industry) untuk produk Besi cor di Desa Ceper;

Klaten, fawa Tengah, Desa Ngingas Sidoarjo, fawa Timur; produk Aluminium cor di Desa Bumiayu, Gadang, Malang, fawa Timur; dan Produk cor Kuningan

di Desa Mayangan, Pasuruan, lawa Timuf, atau tempat pengecoran yang

berada di dekat tempat tinggal Anda/wilayah terdekat.

20. Beri tiga contoh penggunaan bahan Titanium dalam industri dan kehidupan sehari-hari?

21.Apa bedanya antara bahan alam dan bahan sintetis? Berikan contohnya

masing-masing.

'enambangan, Pengolahan, dan Peleburan Bijih Logam

ii

i:

t,

t'

i!

17

BAB II

STRUKTUR KRISTAT IOGAM, LOGAM SIiITER, DAiI

LOGAM PADUAI{

2.1 STRUKTUR KRISTAL LOGAM

Suatu kristal bahan adalah suatu atom-atom yang tersusun secara periodik selama pembekuan yang berulang dalam pola tiga dimensi, sehingga tiap atom

terikat dengan tetangga atom terdekat. Semua logam, kebanyakan bahan keramik,

dan polimer tertentu membentuk struktur kristal dalam kondisi pembekuan normal

iCallisteq, 2007t 39). Kristal logam umumnya berbentuk kubus: kubus berpusat

nuka/face centered cubic/FCC, kubus berpusat badan/body centered cubic/BCC, dan :eksagonal tumpukan rapatf hexagonal closed-packed/HCP [Callister; 2007: 41).

ffiffiffiffir

PC

scs

Gambar 2.1 Empat Kristal Logam dengan Primitive crystal/PC selain BCC, FCC dan HCP

(Dowling, 2007:30)

Sel satuan (unit cell) kristal logam sebagaimana Gambar 2.1 (Dowling,2007: 30). Kategori sel satuan untuk berbagai logam sebagaimana Tabel 2.1 (Smith,2006,78)

(Callister, 2007: 4l).

Hubungan antarakonstanta kisi, a dari sel satuan BCC dan jari-jari atom sebagaimana

Gambar 2.2 (Smith, 2006,79).Dari Gambar 2.2 diperoleh hasil diagonal sel satuan adalah

4R sama dengan ar/3.

Tabel 2.1 Kategori Sel Satuan untuk Berbagai Logam (Smith, 2006,78)

No.

BCC

FCC

HCP

1

Khrom

Aluminium

Kadmium

2

Besi

Tembaga

Seng

3

Molibdenum

Emas

Magnesium

4

Potasium

Timah hitam

Kobalt

5

Natrium

Nikel

Zirkonium

6

Tantalum

Platina

Titanium

7

Wolfram

Perak

Berilium

B

Vanadium

ffiw

Gatnbar 2.2 Sel Satuan BCC: {a) i,okasi Atorn Sr:l Aatuan, [bJ Bola Sel Satuan, (c] Isolasi

Sel Satuan, dan [garnbar kananl Ilubungan antara Konstanta Klsi Sel Satuan dan Jari-Jari

,\tom [Srnith, 2$A6, 7 9 ]

20

Teknologi Bahan

Hubungan antara konstanta kisi, a dari sel satuan FCC dan jari-jari atom sebagaimana Gambar 2.3 (Smith, 2006,81). Dari Gambar 2.3 diperoleh hasil diagonal sel satuan adalah

.:[R sama dengan ar/2.

f-'!-^"-

_;,

**6J

;

_s-1-

\

ffi-

.q , *.->j

'-' irtffi[-

li*

rI"-

.-

gF

i

Gambar 2.3 Sel Satuan FCC: {a) Lokasi Atom Sel Satuan, [b) Bola Sel Satuan, [c) Isolasi Sei Satuan, dan fgambar kanan) Hubungan antara Konstanta Kisi Sel Satuan dan Jari-]ari Atom

(Smirh, 2006,81)

Hubungan antara konstanta kisi, a dari sel satuan HCP dan jari-jari atom

sebagaimana Gambar 2.4 fSmith,Z006, BZJ. Dari Garnbar 2.4 konstanta panjang sisi sel satuan HCP, a adalah jarak antar 2 atom sebelahnya dalam susunan 7 atom.

p*,e .-*{

T

I

1

':

i

Gambar 2.4'Sei Satuan HCP: [a) Lokasi Atom sel Satu,in, {b] Boia Sel Satuan, rlan [c]

lsolasi Sel Saruan [Smirh, 2A{,6, 82)

Logam adalah bahan krista.lin yang mernbeku ciari suatu cairan yang tumbuh

banyak kristalyang secara geometris berbentuk tera[ur sampai pada batasnya yang disebut butir-butir (grains) sebagaimana Gambar 2.li (Bolton, 1998: 104-105J.

Struktur Kristal Logam, Logam Sinter, dan Logam paduan

21

Gambar 2.5 Kristal Logam: [a) Butir-Buti4 (b) Dendrit, [c] Dendrit Tumbuh ke luar dari

Permukaan Dingin, dan [dJ Batas-Batas Butir [Bolton, 1998: 104-105)

2.2 BIDANG SLIP

Bila terjadi deformasi plastis pada logam kristat tunggal, maka pergerakan terjadi

pada bidang-bidang slip (slip planes) sebagaimana Gambar 2.6 (Bolton, i998: 106). pergeseran akibat gaya geser dan akibat gaya tarik sebagaimana Gambar 2.7 (Bolton,

1998; 106). Gaya geser (shearingforces) bekerja pada arah mendatar pada luas area pada

sebelah atas, Gambar 2.7a, dan gaya tarik bekerja k<